Anda di halaman 1dari 5

1

Pengaruh Feedwater Heater Terhadap Efisiensi Sistem


Pembangkit 410 MW dengan Pemodelan Gate Cycle
Adek Fathir Fajar, Ary Bachtiar K.P
Teknik Mesin, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111
E-mail: Arybach@me.its.ac.id

AbstrakSeiring dengan berkembangnya zaman dan


berkembangnya teknologi berbanding lurus dengan kebutuhan
energi listrik. Dan hampir seluruh aspek kehidupan di Indonesia
bergantung pada ketersediaan energi listrik. Untuk memenuhi
kebutuhan listrik yang besar di Indonesia maka dibangun
sebuahpembangkit listrik. Pembangkit listrik tenaga uap dengan
menggunakan feedwater heater merupakan penerapan dari
siklus rankine regeneratif. Siklus ini merupakan salah satu
metode untuk meningkatkan efisiensi thermal dari pembangkit
listrik tenaga uap (PLTU) yaitu dengan cara meningkatkan
temperatur fluida yang akan masuk ke dalam boiler dengan
menambah komponen yaitu feedwater heater.
Pemodelan powerplant dilakukan supaya dapat
mengetahui penambahan efisiensi jika menggunakan beberapa Gambar 1. Diagram alir uap dan air pada PLTU
feedwater heater. Pemodelan powerplant menggunakan software Pada PLTU Suralaya terdapat tujuh buah feedwater
Gate cycle, sedangkan perhitungan manual menggunakan
analisa thermodinamika. Adapun hasil perhitungan yang
heater yaitu tiga buah LPH, tiga buah HPH, dan sebuah
didapatkan (efisiensi siklus) dengan feedwater 6 yang di by deaerator.Pada PLTU Suralaya adanya kerusakan pada
pass. FWH 6 yang menyebabkan turunnya efisiensi dari siklus
Dengan melihat hasil pemodelan didapatkan adanya secara keseluruhan. Hal ini dapat terjadi karena temperature
kenaikan effisiensi pada sistem pembangkit pada keadaan FWH fluida kerja sebelum masuk ke boiler rendah sehingga kalor
6 off sebesar 0,7% dari keadaan FWH 5&6 off. Pada percobaan yang dibutuhkan didalam boilermeningkat. Oleh karena itu,
selanjutnya adanya kenaikan effisiensi sistem pembangkit pada tentu saja mengakibatkan kerugian yaitu kebutuhan batubara
keadaan FWH 6 off (fix temperature) sebesar 1,4 % dari pada saat pemanasan dalam boiler meningkat sehingga
keadaan FWH 5 &6 off, dengan penambahan beban kerja yang nantinya terjadi kenaikan biaya operasional harian dalam
dibutuhkan pada feedwater heater 7 adalah 193862 kg/h. Dapat
sistem pembangkit.
disimpulkan bahwa sistem pembangkit listrik tenaga uap dengan
salah satu feedwater heater yang di bypass akan mengurangi Pada hal ini membahas sebuah permasalahan yaitu
effisiensi sistem pembangkit dari keadaan normal. pengaruh feedwater heater terhadap efisiensi pembangkit
Kata KunciPowerplant, PLTU, Feedwater heater, 410 MW dengan pemodelan gate cycle. Permasalahan ini
Gate cycle. diambil berdasarkan keadaan di PLTU Suralaya, jika
feedwater heater 6 mengalami kerusakan maka dilakukan by
I. PENDAHULUAN pass dari dearator langsung menuju feedwater heater 7
sehingga feedwater heater 5 terpaksa dimatikan.Berdasarkan

S Seiring dengan berkembangnya zaman dan


berkembangnya teknologi berbanding lurus dengan
kebutuhan energi listrik. Dan hampir seluruh aspek
kehidupan di Indonesia bergantung pada ketersediaan energi
listrik. Selama tahun 2012, realisasi penambahan
pemaparan diatas jika feedwater heater 5 dapat digunakan
maka bisa meningkatkan efisiensi sistem pembangkit dari
keadaan aktual tersebut sehingga dapat mengetahui jumlah
kalor yang dibutuhkan oleh boiler. Hal ini menjadi suatu
pembangkit diindonesia cukup besar. Indonesia Power permasalahan yang penting dan harus segera dicari
sebagai salah satu perusahaan pembangkit listrik di solusinya.
Indonesia mempunyai beragam jenis pembangkit listrik,
dengan PLTU sebagai penyuplai listrik terbesar tahun 2012 II. Metode
di Indonesia.PLTU adalah suatu pembangkit listrik dimana A. Pengenalan Rankine Cycle
energi listrik dihasilkan oleh generator yang diputar oleh
Rankine Cycle merupakan salah satu siklus uap yang
turbin uap yang memanfaatkan tekanan uap hasil dari
memberikan gambaran secara umum dari sub sistem
penguapan air yang dipanaskan oleh bahan bakar di dalam
terpenting yang terdapat pada PLTU. Pada sub sistem terjadi
ruang bakar (boiler).PLTU berbahan bakar batubara sangat
suatu proses konversi energi yaitu dari energi panas menjadi
fital penggunaannya di Indonesia maupun di dunia. PLTU
energi kerja. Adapun komponen-komponen dasar penyusun
batubara merupakan sumber utama energi di dunia. Dimana
sub sistem tersebut antara lain boiler, turbin, kondensor, dan
60 % pasokan listrik dunia masih bertumpu pada PLTU
pompa. Hal ini dapat dijelaskan pada Gambar2
berbahan bakar batubara. PLTU merupakan suatu sistem
yang saling terkait antara satu komponen dengan komponen
lainnya.
2

a Open feedwater heater


Open feedwater heater merupakan heat exchanger
tipe direct contact akan membentuk suatu aliran yang
memiliki temperatur tersebut. Pada heat exchanger jenis ini
aliran yang berbeda temperatur akan bercampur secara
langsung tanpa adanya penyekat.

Gambar 2 Skema dan T-s Diagram Siklus Rankine pada PLTU


Gambar diatas adalah gambar dari siklus
Rankine ideal dan sub sistem pada PLTU. Terdapat 4 proses
prinsip kerja siklus Rankine, setiap siklus mengubah
keadaan fluida (tekanan dan/atau wujud). yaitu : Gambar 4. Siklus Regeneratif dengan satu open feedwater heater
Proses 1 2 :Air dipompa dari tekanan P 2 menjadi P1. Dari T-S diagram diatas kita dapat mengetahui heat
Langkah ini adalah langkah kompresi isentropis, dan addition ( ) pada boiler jika menggunakan siklus
proses ini terjadi pada pompa air pengisi. regeneratif terletak pada keadaan (3), tetapi jika tanpa
Proses 2 3 :Air bertekanan ini dinaikkan menggunakan siklus ini maka heat addiction ( ) akan
temperaturnya hingga mencapai titik cair jenuh. Lalu terletak pada keadaan (2). Hal ini menunjukkan bahwa
air berubah wujud menjadi uap jenuh, setelah itu uap sejumlah energi yang dibutuhkan dari pembakaran batu bara
dipanaskan lebih lanjut hingga uap mencapai untuk melakukan proses vaporisasi dan superheat pada uap
temperatur kerjanya menjadi uap panas lanjut. akan berkurang atau dengan kata lain efisiensi dari siklus
Langkah ini adalah isobar, dan terjadi didalam boiler. akan meningkat.
Proses 3 - 4 : Uap melakukan kerja sehingga tekanan b Closed Feedwater heater
dan temperaturnya turun. Langkah ini adalah langkah Closed feedwater heater merupakan heat
ekspansi isentropis, dan terjadi didalam turbin. exchanger tipe shell and tube. Pada feedwater heater ini
Proses 4 1 :Pembuangan panas laten uap sehingga feedwater yang mengalir di dalam tube temperaturnya akan
berubah menjadi air kondensat. Langkah ini adalah meningkat sedangkan ekstrasi uap akan terkondensasi di
isobar, dan terjadi didalam kondensor. luar tube. Karena kedua fluida tidak bercampur maka
Selain siklus Rankine ideal terdapat juga siklus keduanya dapat memiliki tekanan yang berbeda. Gambar 2.3
uap lain yaitu siklus regeneratif. Siklus ini merupakan salah merupakan siklus regeneratif dengan menggunakan closed
satu metode untuk meningkatkan efisiensi thermal dari feedwater heater dimana air kondensasi dilewatkan melalui
pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yaitu dengan cara steam trap menuju kondenser.
meningkatkan temperatur fluida yang akan masuk ke dalam
boiler. Peningkatan temperatur ini dapat dilakukan dengan
menggunakan suatu alat yang disebut dengan feedwater
heater.
feedwater heater merupakan alat penukar panas
(Heat exchanger) berupa Shell and Tube Heat exchanger
dengan Tipe U-Tube. FWH ini menggunakan fluida panas
(steam) berada di shell dan fluida dingin (water) yang
terletak di dalam tube yang terdiri dari 3 zona yaitu: Zona Gambar 4. Siklus Regeneratif dengan satu open feedwater heater
Desuperheating, Zona Condensing dan Zona Subcooling
Pada T - S diagram proses 7 8 adalah suatu
yang ditunjukkan pada Gambar 3
proses thortling yang terjadi pada steam trap. Pada proses
ini terjadi ekspansi tekanan yang cukup signifikan dengan
entalphy yang konstan atau dapat dikatakan entalphy pada
keadaan 7 memiliki nilai yang sama besar dengan entalphi
pada keadaan 8.
B. Analisa berdasarkan Termodinamika
Gambar 3. Zona pada Feedwater Heater Meskipun peralatan peralatan seperti turbin,
pada zona desuperheating dengan kondisi pompa, kompresor dan heat exchanger dapat dilakukan
superpanas lalu mengalami penurunan temperatur sampai analisa sistem tertutup terhadap laju aliran massa yang
dengan temperature uap jenuh. Pada zona condensing melewati peralatan peralatan tersebut. Namun hal tersebut
terjadi perubahan fase dari uap jenuh sampai dengan cair lebih mudah dilakukan dengan menggunakan sudut pandang
jenuh, sedangkan pada zona subcooling terjadi penurunan control volume. Control volume merupakan suatu daerah
temperatur cair jenuh sampai dengan temperatur cair. yang akan dilakukan analisa secara detail.
Terdapat dua jenis feedwater heater yaitu open Dalam sistem teknik keadaan steady state
feedwater heater dan closed feedwater heater. merupakan keadaan yang ideal yang berarti semua sifat
tidak berubah seiring dengan berubahnya waktu. Begitu juga
dengan laju aliran massa laju serta perpindahan energi oleh
3

kalor dan kerja juga konstan terhadap waktu, dengan



demikian = 0 . Hal ini dapat dilihat dari persamaan [2]:

Persamaan Energi dengan hukum Termodinamika:

Energy kinetic diabaikan


1 1
( + + 2 + ) ( + + 2 + ) + = 0
2 2

Energy potensial diabaikan Tidak ada kerja


Untuk enthalpy : = +
= ( )
Dimana: = kalor spesifik Gambar 5. Skema rangkaian sistem pembangkit tenaga

T = temperatur
Memasukkan data properties
Hal diatas dijelaskan bahwa energi kinetik dan Merupakan langkah selanjutnya dalam melakukan
energi potensial dapat diabaikan dikarenakan kecepatan proses pemodelan dengan menggunakan software gate
aliran fluida yang masuk sama dengan kecepatan aliran cycle. Hal ini dilakukan untuk mengetahui hasil efisiensi
fluida yang keluar. Sedangkan energi potensial diabaikan pada suatu sistem. Berikut ini data yang akan diinput dapat
karena tidak ada pengaruh ketinggian antara fluida di dalam dilihat pada tabel dibawah ini.
sistem karena masih dalam volume atur yang sama. Data Independent
Sedangkan didalam ruang bakar tidak ada proses kerja yang Tabel 1. Variable input pada data independent
dihasilkan.
Maka didapatkan:
= ( )
Dengan menggunakan penerapan kesetimbangan
laju massa dan energi pada volume atur dari tiap bagian
peralatan utama dapat dijelaskan sebagai berikut:
Rumus-rumus yang digunakan untuk sistem pembangkit
antara lain :
Kerja yang dihasilkan oleh steam turbin Data Dependent
= ( ) Tabel 2. Variable input pada data independent
Kalor yang dikeluarkan oleh kondenser
= ( )
Kerja yang dibutuhkan oleh pompa
= (0 )
Kalor yang dibutuhkan oleh boiler/reheat
= ( )
Mencari fraksi massa di setiap feedwater heater (closed
feed)

=

Mencari fraksi massa di setiap feedwater heater (open
Melakukan variasi pada FWH
feed)
Hal ini dilakukan untuk melihat pengaruh pada

" = feedwater heater terhadap temperature keluaran fluida kerja
_ yang akan berpengaruh terhadap daya dan efisiensi sistem
pembangkit yang dihasilkan. Pemodelan yang akan
C. Pengenalan software Gate Cycle
divariasikan sebagai berikut :
Pada penelitian kali ini efisiensi dari sistem dapat 1. Sistem powerplant dalam keadaan normal,
diketahui dari pemodelan. Langkah-langkah pemodelan 2. Terdapat masalah ekstraksi uap pada turbin 2 sehingga
sebagai berikut: laju aliran massanya dimatikan yang dialirkan ke FWH
Pembuatan rangkaian powerplant 6, pemodelan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh
Merupakan hal yang utama sekali dalam membuat FWH 6 terhadap efisiensi sistem apabila terdapat
pemodelan sistem pembangkit pada software gate cycle. masalah pada bagian tersebut.
Berikut ini adalah gambaran sebuah rangkaian sistem 3. kondisiaktual di lapangan, engineer disana melakukan by
pembangkit yang telah dibuat, terdiri dari beberapa turbin, pass keluaran dearator menuju feedwater heater 7
condensor, beberapa FWH, dearator, boiler serta sehingga di perlukan pemodelan dengan software gate
superheaternya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada cycle untuk mengetahui daya serta effisiensi dari sistem
gambar 5 sebagai berikut : pembangkit tersebut.
4. Langkah lain dari solusi permasalahan tersebut dengan
melakukan by pass keluaran fluida pada FWH 5 menuju
4

ke FWH 7 serta menambah performance pada FWH 7 dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang
sehingga temperature yang akan masuk sama ke dalam berpengaruh dan terjadi pada sistem pembangkit. Berikut
boiler sama keadaannya pada powerplant dalam keadaan ini adalah tabel perbedaan nilai antara hasil yang didapat
normal dari pemodelan gate cycle, dan perhitungan thermodinamika
Simulasi process & flow diagram pada software gate dari data PLTU Suralaya pada masing-masing komponen di
cycle sistem pembangkit.
Merupakan langkah akhir dalam melakukan Tabel 1 Perbedaan Sistem Pembangkit Secara Termodinamika dengan
Pemodelan Gate Cycle Pada Kondisi Normal
simulasi sistem pembangkit pada software gate cycle.
Pemodelan yang telah dibuat mengeluarkan hasil power
serta efisiensi ataukah pemberitahuan error pada sistem
pembangkit kita. Berikut ini hasil yang diharapkan setelah
melakukan simulasi hasil pemodelan dapat kita lihat pada
gambar 6.sebagai berikut :

Dari perbedaan nilai diatas dapat diketahui selisih


suatu sistem pembangkit dengan daya 410 MW antara
metode perhitungan secara termodinamika dengan
pemodelan menggunakan software gate cycle. Pada sistem
pembangkit selisih perhitungan tersebut terjadi dikarenakan
Gambar 6. Simulasi hasil pemodelan sistem pembangkit tenaga oleh beberapa hal yaitu pada software gate cycle, laju aliran
Hasil yang didapatkan pada pemodelan menggunakan massa yang tidak bisa disetting sesuai dengan keadaan
software gate cycle ini selanjutnya dapat dibandingkan lebih aktualnya dan penulis mengambil langkah dengan
lanjut berdasarkan analisis thermodinamika. menetapkan keluaran daya pada sistem pembangkit sama
dengan data aktual yaitu 410 MW.
II. HASIL DAN PEMBAHASAN Pada sistem pembangkit efisiensi yang didapatkan pada
perhitungan thermodinamika berdasarkan data yang
Data sistem pembangkit di suralaya didapatkan dari PLTU Suralaya adalah 40 %, sedangkan
Dalam perancangan sistem pembangkit perlu efisiensi dari hasil simulasi yang dilakukan pada gate cycle
diketahui data awal sistem pembangkit tersebut. Hal ini adalah 35,44 %. Dari hasil yang telah kita dapatkan diatas,
dilakukan agar mendapatkan efisiensi dan daya yang sesuai adanya selisih antara perhitungan thermodinamika dari data
sistem pembangkit.Berikut ini gambar heat and mass PLTU Suralaya dengan hasil simulasi pada software gate
balance yang penulis gambarkan dalam bentuk PFD yang cycle yang disebabkan oleh beberapa faktor antara lain:
akan digunakan pada termodinamika dan software gate 1. Penyettingan(adjustment) semua komponen di sistem
cycle. pembangkit pada pemodelan gate cycle tidak dapat
dilakukan dengan keadaan aktual yang ada dilapangan.
2. Laju aliran massa pada gate cycle tidak dapat disetting
sama dengan keadaan aktual di PLTU Suralaya.
3. Efisiensi pada masing-masing komponen di sistem
pembangkit yang tidak penulis ketahui. Hal ini
mempengaruhi hasil simulasi yang didapat pada gate
cycle.
Setelah melihat delta entalphy pada masing-masing
komponen di sistem pembangkit di software gate cycle dan
aktual di PLTU Suralaya terlihat bahwa perbedaan delta
entalphynya sangat kecil. Sehingga disimpulkan
penggunaan pemodelan sistem pembangkit menggunakan
software gate cycle dapat digunakan. Hal ini dilakukan
untuk mempermudah pengerjaan selanjutnya untuk
memodelkan sistem pembangkit tanpa feedwater heater 6,
sistem pembangkit tanpa feedwater heater 6 dan 5, sistem
pembangkit tanpa feedwater heater6 (fixtemperature)
Gambar 7. Process and Flow Diagram pada sistem Pembangkit
dengan beban kerja di feedwater selanjutnya.
Perbandingan sistem pembangkit antara
pemodelan Gate Cycle dan heat_balance PLTU Bar chart beda daya, serta effisiensi sistem pembangkit
suralaya pada kondisi normal di berbagai keadaan pada pemodelan gate cycle
Hal ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan Berikut ini adalah bar chart beda Q boiler dan
nilai antara data sistem pembangkit dari PLTU Suralaya, delta temperature pada boiler di setiap keadaan pada
dengan pemodelan sistem pembangkit pada software gate pemodelan gate cycle.
cycle. Dengan adanya perbedaan ini, kita dapat mengetahui
dan menganalisa sistem pembangkit yang terjadi. Hal ini
5

mempengaruhi beban kerja pada boiler di masing-masing


keadaan.

IV KESIMPULAN

Dari studi yang dilakukan serta pembahasan


terhadap data yang didapatkan, dapat diambil kesimpulan
sebagai berikut :
1. Pemodelan sistem pembangkit pada gate cycle adalah
convergent
2. Data hasil simulasi gate cycle di setiap komponen pada
semua keadaan sebagai berikut :
Tabel 3. Daya yang dihasilkan/dibutuhkan pada semua komponen di
setiap keadaan

Gambar 8.Bar chart beda daya dan eff. Sistem yang terjadi pada tiap-tiap
keadaan.
Dari bar chart diatas terlihat bahwa daya netto
sistem pembangkit mengalami penurunan yang cukup kecil
pada kondisi FWH 6 off dari keadaan FWH 5 & 6 off, dan
mengalami penurunan 8 MW pada keadaan FWH 6 off
(fixtemperature pada FWH 7) dari keadaan FWH 5 & 6 off.
Selanjutnya effisiensi pada sistem pembangkit pada keadaan 3. Adanya kenaikan effisiensi sistem pembangkit pada
FWH 6 off mengalami kenaikan 0,8 % dari keadaan feedwater heater 6 off sebesar 0,8 % serta mengalami
FWH 5 & 6 off, pada keadaan fwh 6 off (fixtemperature penurunan kebutuhan kalor di dalam boiler sebesar
pada FWH 7) efisiensi sistem pembangkit cenderung 22336263 Kcal/hr daripada keadaan sistem pembangkit
mengalami peningkatan yang signifikan sebesar 1,5 % dari pada keadaan 5 & 6 off.
keadaan FWH 5 & 6 off. 4. Adanya kenaikan effisiensi sistem pembangkit pada
Pada penjelasan bar chart daya dan efisiensi diatas feedwater heater 6 off (fix temperature) sebesar 1,4 %
adanya pengaruh jumlah Q yang masuk ke dalam sistem serta mengalami penurunan kebutuhan kalor yang
boiler sehingga mempengaruhi besarnya efisiensi yang signifikan di dalam boiler sebesar 58692521 Kcal/hr
keluar pada sistem pembangkit. Pada sub bab berikutnya daripada keadaan sistem pembangkit pada keadaan 5 &
dijelaskan serta memperlihatkan perbedaan Q yang masuk 6 off.
pada boiler dan besarnya temperatureinlet fluida kerja yang 5. Flowrate pada steam yang dibutuhkan pada feedwater
masuk pada boiler. heater 7 pada keadaan FWH 6 off (fixtemperature)
adalah 193862 kg/h. Karena sesuai dengan keadaan
Bar chart beda Q boiler dan besarnya temperature inlet thermal stress di FWH 7.
fluida kerja yang masuk pada boiler di berbagai 6. Dengan adanya kerusakan pada salah satu feedwater
keadaan pada pemodelan gate cycle. heaterakan menyebabkan temperature fluida kerja turun
Berikut ini adalah bar chart beda Q boiler dan atau tidak sesuai yang diharapkan sehingga kalor yang
besarnya temperatureinlet fluida kerja yang masuk pada dibutuhkan pada boiler semakin tinggi.
boiler di berbagai kondisi pada pemodelan gate cycle
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya
kepada laboratorium Termodinamika dan Perpindahan
Panas Jurusan Teknik Mesin Faklutas Teknologi Industri
ITS yang telah banyak mendukung kelancaran penelitian
kali ini.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Moran, Michael J and Shapiro, Howard N., Termodinamika Teknik
Jilid 1, edisi 4, Penerbit Erlangga, Jakarta, 1994
[2] Incropera, Frank P., Dewitt, David P., Bergman, Theodore L., Lavine,
Adrienne S., Fundamentals of Heat and Mass Transfer, sixth
edition, John Wiley & Sons (Asia) Pte Ltd, 2007
[3] Enginomix,Michael Erbes., GateCycle & CycleLink: Software for
Gambar 9.Bar chart beda Q boiler dan temperature inlet boiler yang terjadi Thermal System Design and Analysis,Florida Power & Light, 2010.
pada tiap-tiap keadaan. [4] R K Kapooria, S Kumar, K S Kasana.,An analysis of a thermal power
Dari bar chart diatas terlihat bahwa Q boiler pada plant working on a Rankine cycle: A theoretical investigation,
Journal of Energy in Southern Africa, Vol.19 No.1, 2008.
sistem pembangkit mengalami penurunan 22336263 [5] Junaidi,Dendi., I Made Suardjaja, dan Tri Agung
Kcal/hr pada kondisi FWH 6 off dari keadaan FWH 5&6 Rohmat.,Kesetimbangan Massa dan Kalor Serta Efisiensi
off, pada sistem pembangkit dengan keadaan FWH 6 off Pembangkit Listrik Tenaga Uap Pada Berbagai Perubahan Beban
(fixtemperature pada FWH 7) mengalami penurunan yang dengan Menvariasikan Jumlah Feedwater Heater, UGM, Yogyakarta,
sangat signifikan yaitu 58692521 Kcal/hr dari keadaan 2011.
[6] Anooj G,Sheth., Alkesh M, dan Mavani.,Determining Performance of
FWH 5 & 6 off. Hal ini dipengaruhi oleh besarnya nilai
Super Critical Power Plant with the help of GateCycleTM,IOSR Journal
temperatureinlet yang akan masuk ke boiler sehingga of Engineering Vol. 2(4), 2012.