Anda di halaman 1dari 6

RESUME PBM I ke 8

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah PBM I

Nama : Haqqi Anajili S


NIM : 140341807410
Kelas :C
Topik : Resume kelompok 7
Tanggal : 8 Oktober 2014

CARA BELAJAR SISWA AKTIF (CBSA) DAN PENDEKATAN KETERAMPILAN


PROSES

A. RELEVANSI TOPIK BAHASAN YANG DIPAPARKAN PADA RPS


Kelompok VIII akan menyajikan materi/pembahasan melalui diskusi presentasi sebagai
berikut.
- CBSA dan pendekatan ketrampilan proses

B. POINT-POINT PENTING YANG BERKAITAN DENGAN TOPIK


- CBSA dan pendekatan ketrampilan proses

C. EKSPLORASI KONSEP

Cara belajar siswa aktif (CBSA) atau dapat disebut dengan SAL (Student Active
Learning) merupakan suatu upaya dalam pembaruan pendidikan dan pembelajaran. Meskipun
cara ini tergolong baru, namun sesungguhnya konsep ini telah lama dikembangkan, hanya
perwujudannya yang masih baru dalam sistem pembelajaran di sekolah-sekolah kita. Karena itu,
ada baiknya guru-guru mengenal dan memahaminya lebih seksama agar mampu menerapkan
secara efektif.

Titik fokus kajian dalam Pendekatan CBSA adalah kadar keterlibatan siswa secara fisik,
mental, intelektual dan emosional untuk mencapaitujuan pembelajaran (Hartati,Tanpa Tahun)
dalam proses pembelajaran, namun bukan berarti bahwa pihak lain yang terlibat dalam proses
pembelajaran tersebut, utamanya guru, tidak perlu aktif. Dengan demikian, Pendekatan CBSA
menekankan keaktifan semua pihak yang terlibat dalam proses pembelajaran tersebut (Joni,
1985: 1 dalam Sulo, Tanpa Tahun). Kadar CBSA dapat dilihat dari aktivitas belajar siswa tinggi,
aktivitas guru sebagai fasilitator, desain pembelajaran berfokus pada keterlibatan siswa, suasana
belajar kondusif (Hartati, Tanpa Tahun).

Siswa pada hakekatnya memiliki potensi atau kemampuan yang belum terbentuk secara
jelas, maka kewajiban gurulah untuk merangsang agar mereka mampu menampilkan potensi itu.
Para guru dapat menumbuhkan keterampilan-keterampilan pada siswa sesuai dengan taraf
perkembangannya, sehingga mereka memperoleh konsep. Dengan mengembangkan
keterampilan-keterampilan memproses perolehan, siswa akan mampu menemukan dan
mengembangkan sendiri fakta dan konsep serta mengembangkan sikap dan nilai yang dituntut.
Proses belajar-mengajar seperti inilah yang dapat menciptakan siswa belajar aktif. Menurut
Yuniarto (2011).

D. KONSEP YANG RELEVAN DENGAN KONSEP YANG DIPELAJARI

1. Prinsip-prinsip dan penerapan CBSA

Dalam pendekatan CBSA terdapat sejumlah prinsip belajar yang harus diperhatikan agar
proses belajar itu dapat berhasil dengan efektif dan efisien. Prinsip-prinsip tersebut dilandasi
penelitian dalam psikologi belajar dan diujicobakan dalam pembelajaran. Prinsip-prinsip belajar
tersebut dapat dijadikan titik tolak untuk meningkatkan derajat keterlibatan murid dalam
pembelajaran. Prinsip-prinsip tersebut (Conny Semiawan, dkk, 1985: 9-13; Sulo Lipu La Sulo,
dkk, 2002: 11) adalah sebagai berikut:

a. Prinsip motivasi yakni penumbuhan motivasi belajar, baik motivasi intrinsik (motif yang
menjadi bagian dari prilaku belajar: rasa ingin tahu) maupun motivasi ekstrinsik (diluar
prilaku belajar: ingin hadiah dari orang tua). Guru hendaknya menjadi motivator yakni
berusaha menumbuhkan motivasi belajar, utamanya motivasi intrinsik dalam belajar.

b. Prinsip latar atau konteks yakni memposisikan pengalaman belajar baru yang akan/sedang
dilakukan diantara pengalaman belajar yang telah menjadi miliknya
(pengetahuan/pemahaman, nilai/sikap, dan atau ketrampilan yang telah dikuasai). Dengan
pemberian kaitan (termasuk apersepsi), pengalaman belajar yang baru akan manjadi bagian
dari struktur kognitif, baik melalui asimilasi (pembauran) maupun akomodasi (penempatan).

c. Prinsip fokus yakni keterarahan kepada suatu titik pusat perhatian yang dapat dilakukan
dengan cara merumuskan masalah yang hendak dipecahkan, pertanyaan yang hendak
dijawab, konsep yang akan ditemukan, dsbnya. Titik fokus ini hendaknya menjadi pusat
perhatian murid dan dapat mengaitkan atau menghubungkan seluruh bahan yang sedang
dipelajari dengan khasanah kognitif yang telah ada.

d. Prinsip sosialisasi (hubungan sosial) yakni belajar dalam kelompok agar dapat bekerjasama
dengan teman sebaya dalam proses pembelajaran itu, seperti diskusi kelompok, kerja
kelompok, dsb

e. Prinsip belajar sambil bekerja, bermain, atau kegiatan lainnya yang sesuai dengan keinginan
murid untuk melakukan kegiatan manipulatif.

f. Prinsip individualisasi yakni penyesuaian kegiatan pembelajaran dengan perbedaan


individual murid.

g. Prinsip menemukan yakni dengan pemberian informasi pancingan agar murid terdorong
untuk menemukan informasi selanjutnya.

h. Prinsip pemecahan masalah yakni murid peka untuk menemukan dan atau merumuskan
masalah, dan mencari cara pemecahannya

Untuk mengetahui apakah penerapan Pendekatan CBSA dalam pembelajaran yang


sedang berlangsung telah optimal, perlu diamati indikator-indikatornya. Indikator itu adalah
gejala-gejala yang nampak dalam prilaku guru dan murid selama pembelajaran berlangsung,
serta organisasi kegiatan, iklim, dan alat di dalam pembelajaran itu. Berbagai indikator
penerapan Pendekatan CBSA itu (Joni, 1983: 22-24; dan 1985: 19-20; Sulo, dkk, 2002:12-13
dalam Sulo, Tanpa Tahun) adalah:

a. Keterlibatan murid dalam pembelajaran, baik keterlibatan fisik maupun yang utama
keterlibatan mental, seperti pengikatan diri (tersitanya perhatian dan pikiran) kepada tugas
yang dihadapi, penyelesaian tugas secara tuntas yang melebihi dari apa yang diharapkan,
tergugahnya emosi oleh suasana yang tersirat dalam pembelajaran, dsb.
b. Prakarsa murid dalam pembelajaran, seperti keberanian mengemukakan pendapat tanpa
diminta, mengemukakan usul dalam penetapan tujuan dan atau cara kerja , kesediaan mencari
alat serta sumber belajar tambahan, dan sebagainya.
c. Peranan guru lebih ditekankan sebagai fasilitator (penyedia dan pengelola fasilitas
pembelajaran), pemantau kegiatan pembelajaran, dan selalu siap memberi balikan yang
diperlukan murid (siap ulur tangan dan bukannya campur tangan, sesuai prinsip tut wuri
handayani). .
d. Belajar dengan pengalaman langsung (belajar eksperiensial, experiential learning). Belajar
eksperiensial dalam ranah kognitif, seperti pengenalan konsep atau prinsip dilakukan dengan
peragaan langsung konsep atau prinsip itu, seperti 3X2 diragakan dengan mengambil 3 kali
setiap kali 2 biji.
e. Variasi penggunaan multi metode dan multi media dalam setiap pembelajaran yang diikuti
dengan keragaman bentuk dan alat dalam kegiatan pembelajaran.
f. Kualitas interaksi antar murid dalam pembelajaran, baik aspek intelektual maupun aspek
sosio-emosional, yang akan mengembangkan kompetensi sosial, utamanya kemauan dan
kemampuan bekerja sama.

2. Ketrampilan proses

Keterampilan proses merupakan kemampuan siswa untuk mengelola (memperoleh) yang


didapat dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) yang memberikan kesempatan seluas-luasnya
pada siswa untuk mengamati, menggolongkan, menafsirkan, meramalkan, menerapkan,
merencanakan penelitian, mengkomunikasikan hasil perolehan tersebut (Azhar, 1993: 7).
Sedangkan menurut Conny (1990 : 23) pendekatan keterampilan proses adalah pengembangan
sistem belajar yang mengefektifkan siswa (CBSA) dengan cara mengembangkan keterampilan
memproses perolehan pengetahuan sehingga peserta didik akan menemukan, mengembangkan
sendiri fakta dan konsep serta menumbuhkan sikap dan nilai yang dituntut dalam tujuan
pembelajaran khusus. Menurut Semiawan, dkk (Nasution, 2007 : 1.9-1.10) menyatakan bahwa
keterampilan proses adalah keterampilan fisik dan mental terkait dengan kemampuan-
kemampuan yang mendasar yang dimiliki, dikuasai dan diaplikasikan dalam suatu kegiatan
ilmiah, sehingga para ilmuan berhasil menemukan sesuatu yang baru.

Keterampilan proses terdiri dari beberapa keterampilan diantaranya yaitu: mengamati,


mengklasifikasikan, menginterprestasikan, meramalkan, menerapkan, merencanakan penelitian,
dan mengkomunikasikan.
Peranan Guru Dalam Penerapan PKP
a. Guru membimbing dan mendidik siswa untuk lebih terampil dalam menggunakan
pengalaman, pendapat, dan hasil temuannya. Dengan cara menjelaskan bahan pelajaran yang
diikuti dengan alat peragakan, demonstrasi, gambar, modal, bangan yang sesuai dengan
keperluan. Tujuan kegiatan ini adalah untuk mengembangkan kemampuan mengamati dengan
cepat, cermat dan tepat.
b. Guna menghidupkan suasana belajar yang kondusif sehingga mendorong siswa untuk
berpartisipasi aktif. Dengan merumuskan hasil pengamatan dengan merinci, mengelompokkan
atau mengklasifikasikan materi pelajaran yang diserap dari kegiatan pengamatan terhadap
bahan pelajaran tersebut.
c. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menantang sehingga siswa terdorong untuk
meneliti dan mencari jawaban atas pertanyaan tersebut.
d. Guru memancing keterlibatan siswa dalam belajar. Seperti meramalkan sebab akibat
kejadian perihal atau peristiwa lain yang mungkin terjadi di waktu lain atau mendapat suatu
perlakuan yang berbeda.
e. Guru harus memberikan semangat yang tinggi kepada siswa dalam mengajar.
f. Guru melakukan komunikasi yang efektif dan memberikan informasi yang jelas, tepat,
dan tidak samar-samar pada siswa. Seperti mengkomunikasikan hasil kegiatan kepada siswa
dengan diskusi, ceramah mengarang dan lain-lain.

E. PERTANYAAN-PERTANYAAN PENTING
1. Dengan mengetahui prinsip-prinsip CBSA kita mengetahui bagaimana enerapkan CBSA
dalam proses mengajar. Namun kita ketahui cara mengajar guru paling banyak adalah
dengann metode ceramah. Bagaimana teknik CSBA dapat tercapai dengan baik pada
metode ceramah jika dalam prosesnya guru yang mendominasi pembelajaran?

g.