Anda di halaman 1dari 10

Tugas Mata Kuliah Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian

DIMENSI KAJIAN FILSAFAT ILMU


Annisa Kusumaningrum, Ayunda Nuradhisthana, Gregorius Rionugroho H.
Tugas Mata Kuliah Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian
Magister Teknik Kimia Universitas Diponegoro, Semarang
Pengampu: Prof. Dr. Ir. Bambang Pramudono, MS dan Dr. Ir. Budiyono, MSi

Abstrak: Filsafat dan ilmu adalah dua kata yang saling terkait, baik secara substansial maupun historis karena kelahiran
ilmu tidak lepas dari peranan filsafat, sebaliknya perkembangan ilmu memperkuat keberadaan filsafat. Pada
perkembangan selanjutnya, ilmu terbagi dalam beberapa disiplin, yang membutuhkan pendekatan, sifat, objek, tujuan dan
ukuran yang berbeda antara disiplin ilmu yang satu dengan yang lainnya. Pembahasan filsafat ilmu sangat penting karena
akan mendorong manusia untuk lebih kreatif dan inovatif. Filsafat ilmu memberikan spirit bagi perkembangan dan
kemajuan ilmu dan sekaligus nilai-nilai moral yang terkandung pada setiap ilmu baik pada tataran ontologis,
epistemologis maupun aksiologi. Ontologi adalah ilmu yang membahas tentang hakikat yang ada, yang merupakan
ultimate reality yang berbentuk jasmani / kongkret maupun rohani / abstrak. Epistemologi adalah cabang filsafat yang
membicarakan mengenai hakikat ilmu, dan ilmu sebagai proses adalah usaha yang sistematik dan metodik untuk
menemukan prinsip kebenaran yang terdapat pada suatu obyek kajian ilmu. Aksiologi berkaitan dengan kegunaan dari
suatu ilmu, hakekat ilmu sebagai suatu kumpulan pengetahuan yang didapat dan berguna untuk kita dalam menjelaskan,
meramalkan dan menganalisa gejala-gejala alam. Setiap jenis pengetahuan selalu mempunyai ciri-ciri yang spesifik
mengenai apa (ontologi), bagaimana (epistemologi) dan untuk apa (aksiologi) pengetahuan tersebut disusun. Ketiga
landasan ini saling berkaitan; ontologi ilmu terkait dengan epistemologi ilmu, epistemologi ilmu terkait dengan aksiologi
ilmu dan seterusnya. Pembahasan mengenai epistemologi harus dikatikan dengan ontologi dan aksiologi.

Kata Kunci: Filsafat Ilmu, Ontologi, Epistomologi, Aksiologi

1. Pendahuluan Tujuan makalah ini adalah membahas


tentang dimensi kajian filsafat ilmu yang terbagi
Filsafat dan ilmu adalah dua kata yang saling menjadi tiga poin utama, sehingga diharapkan
terkait, baik secara substansial maupun historis dapat memahami pentingnya ilmu dalam
karena kelahiran ilmu tidak lepas dari peranan kehidupan umat manusia.
filsafat, sebaliknya perkembangan ilmu
memperkuat keberadaan filsafat. Pada 2. Pembahasan
perkembangan selanjutnya, ilmu terbagi dalam
beberapa disiplin, yang membutuhkan Ketika kita membicarakan tahap-tahap
pendekatan, sifat, objek, tujuan dan ukuran yang perkembangan pengetahuan tercakup pula
berbeda antara disiplin ilmu yang satu dengan telaahan filsafat yang menyangkut pertanyaan
yang lainnya (Semiawan, 2005). mengenai hakikat ilmu. Pertama, dari segi
Filsafat ilmu adalah segenap pemikiran ontologis, yaitu tentang apa dan sampai di mana
reflektif terhadap persoalan mengenai segala hal yang hendak dicapai ilmu. Ini berarti sejak awal
yang menyangkut landasan ilmu maupun kita sudah ada pegangan dan gejala sosial. Dalam
hubungan ilmu dengan segala segi dari hal ini menyangkut yang mempunyai eksistensi
kehidupan manusia (The Liang Gie, 2004). dalam dimensi ruang dan waktu, dan terjangkau
Sedangkan menurut Lewis White Beck, filsafat oleh pengalaman inderawi. Dengan demikian,
ilmu bertujuan membahas dan mengevaluasi meliputi fenomena yang dapat diobservasi, dapat
metode-metode pemikiran ilmiah serta mencoba diukur, sehingga datanya dapat diolah,
menemukan nilai dan pentingnya upaya ilmiah diinterpretasi, diverifikasi, dan ditarik
sebagai suatu keseluruhan. kesimpulan. Telaah yang kedua adalah dari segi
Pembahasan filsafat ilmu sangat penting epistimologi, yaitu meliputi aspek normatif
karena akan mendorong manusia untuk lebih mencapai kesahihan perolehan pengetahuan
kreatif dan inovatif. Filsafat ilmu memberikan secara ilmiah, di samping aspek prosedural,
spirit bagi perkembangan dan kemajuan ilmu dan metode dan teknik memperoleh data empiris.
sekaligus nilai-nilai moral yang terkandung pada Kesemuanya itu lazim disebut metode ilmiah,
setiap ilmu baik pada tataran ontologis, meliputi langkah-langkah pokok dan urutannya,
epistemologis maupun aksiologi. termasuk proses logika berpikir yang
berlangsung di dalamnya dan sarana berpikir
ilmiah yang digunakannya. Telaah ketiga ialah yang membicarakan prinsip yang paling
dari segi aksiologi yaitu terkait dengan kaidah dasar atau paling dalam dari segala sesuatu
moral pengembangan penggunaan ilmu yang yang ada.
diperoleh. b. Metafisika Khusus : Kosmologi, Psikologi,
Teologi (Bakker, 1992).
Berikut ini digambarkan batasan ruang lingkup
atau bidang garapan tahapan Ontologi, 2.1.3. Pahampaham dalam Ontologi
Epistimologi, dan Aksiologi
Dalam pemahaman ontologi dapat diketemukan
2.1. Ontologi pandangan-pandangan pokok/aliran-aliran
pemikiran antara lain: Monoisme, Dualisme,
Ontologi merupakan salah satu kajian Pluralisme, Nihilisme, dan Agnotisisme.
kefilsafatan yang paling kuno dan berasal dari
a. Monoisme
Yunani. Studi tersebut membahas keberadaan
Paham ini menganggap bahwa hakikat yang
sesuatu yang bersifat konkret. Tokoh Yunani
asal dari seluruh kenyataan itu hanyalah satu
yang memiliki pandangan yang bersifat ontologis
saja, tidak mungkin dua, baik yang asal
yang terkenal diantaranya Thales, Plato, dan
berupa materi ataupun rohani. Paham ini
Aristoteles. Pada masanya, kebanyakan orang
kemudian terbagi kedalam 2 aliran :
belum mampu membedakan antara penampakan
dengan kenyataan. 1). Materialisme
Aliran materialisme ini menganggap bahwa
2.1.1. Pengertian Ontologi sumber yang asal itu adalah materi, bukan
a. Menurut Bahasa : rohani. Aliran pemikiran ini dipelopori oleh
Ontologi berasal dari Bahasa Yunani, yaitu Bapak Filsafat yaitu Thales (624-546 SM).
on / ontos = being atau ada, dan logos = Dia berpendapat bahwa sumber asal adalah
logic atau ilmu. air karena pentingnya bagi kehidupan.
Jadi, ontologi bisa diartikan : Aliran ini sering juga disebut naturalisme.
The theory of being qua being (teori tentang Menurutnya bahwa zat mati merupakan
keberadaan sebagai keberadaan), atau Ilmu kenyataan dan satu-satunya fakta. Yang ada
tentang yang ada. hanyalah materi/alam, sedangkan jiwa /ruh
tidak berdiri sendiri. Tokoh aliran ini adalah
b. Pengertian menurut istilah : Anaximander (585-525 SM). Dia
Ontologi adalah ilmu yang membahas berpendapat bahwa unsur asal itu adalah
tentang hakikat yang ada, yang merupakan udara dengan alasan bahwa udara
ultimate reality yang berbentuk jasmani / merupakan sumber dari segala kehidupan.
kongkret maupun rohani / abstrak (Bakhtiar, Dari segi dimensinya paham ini sering
2004). dikaitkan dengan teori Atomisme.
Menurutnya semua materi tersusun dari
sejumlah bahan yang disebut unsur. Unsur-
2.1.2. Term ontologi unsur itu bersifat tetap tak dapat dirusakkan.
Bagian-bagian yang terkecil dari itulah yang
Term ontologi pertama kali diperkenalkan oleh
dinamakan atom-atom. Tokoh aliran ini
Rudolf Goclenius pada tahun1636 M untuk
adalah Demokritos (460-370 SM). Ia
menamai teori tentang hakikat yang ada yang
berpendapat bahwa hakikat alam ini
bersifat metafisis. Dalam perkembangan
merupakan atom-atom yang banyak
selanjutnya Christian Wolf (1679 1754 M)
jumlahnya, tak dapat di hitung dan amat
membagi Metafisika menjadi 2 yaitu :
halus. Atom-atom inilah yang merupkan asal
kejadian alam.
2). Idealisme
a. Metafisika Umum : Ontologi
Idealisme diambil dari kata idea, yaitu
Metafisika umum dimaksudkan sebagai sesuatu yang hadir dalam jiwa. Idelisme
istilah lain dari ontologi. Jadi metafisika sebagai lawan materialisme, dinamakan juga
umum atau ontologi adalah cabang filsafat
spiritualisme. Idealisme berarti serbacita, seorang psikolog dan filosof Amerika.
spiritualisme berarti serba ruh. Dalam bukunya The Meaning of Truth,
Aliran idealisme beranggapan bahwa hakikat James mengemukakan bahwa tiada
kenyataan yang beraneka ragam itu semua kebenaran yang mutlak, yang berlaku umum,
berasal dari ruh (sukma) atau sejenis yang bersifat tetap, yang berdiri sendiri,
dengannya, yaitu sesuatu yang tidak lepas dari akal yang mengenal. Apa yang
berbentuk dan menempati ruang. kita anggap benar sebelumnya dapat
Tokoh aliran ini diantaranya : dikoreksi/diubah oleh pengalaman
- Plato (428 -348 SM) dengan teori ide-nya. berikutnya.
Menurutnya, tiap-tiap yang ada dialam mesti
ada idenya, yaitu konsep universal dari d. Nihilisme
setiap sesuatu. Nihilisme berasal dari bahasa Latin yang
- Aristoteles (384-322 SM), memberikan berarti nothing atau tidak ada. Doktrin
sifat keruhanian dengan ajarannya yang tentang nihilisme sudah ada semenjak zaman
menggambarkan alam ide itu sebagai Yunani Kuno, tokohnya yaitu Gorgias (483-
sesuatu tenaga yang berada dalam benda- 360 SM) yang memberikan 3 proposisi
benda itu sendiri dan menjalankan tentang realitas yaitu: Pertama, tidak ada
pengaruhnya dari dalam benda itu. sesuatupun yang eksis, Kedua, bila sesuatu
- Pada Filsafat modern padangan ini mula- itu ada ia tidak dapat diketahui, Ketiga,
mula kelihatan pada George Barkeley sekalipun realitas itu dapat kita ketahui ia
(1685-1753 M) yang menyatakan objek- tidak akan dapat kita beritahukan kepada
objek fisis adalah ide-ide. orang lain. Tokoh modern aliran ini
- Kemudian Immanuel Kant (1724-1804 diantaranya: Ivan Turgeniev (1862 M) dari
M), Fichte (1762-1814 M), Hegel (1770- Rusia dan Friedrich Nietzsche (1844-1900
1831 M), dan Schelling (1775-1854 M). M), ia dilahirkan di Rocken di Prusia dari
keluarga pendeta.
b. Dualisme
Aliran ini berpendapat bahwa benda terdiri e. Agnotisisme
dari 2 macam hakikat sebagai asal Paham ini mengingkari kesanggupan
sumbernya yaitu hakikat materi dan hakikat manusia untuk mengetahui hakikat benda.
ruhani, benda dan ruh, jasad dan spirit. Baik hakikat materi maupun ruhani. Kata
Tokoh paham ini adalah Descartes (1596- Agnoticisme berasal dari bahasa Greek yaitu
1650 M) yang dianggap sebagai bapak Agnostos yang berarti unknown A artinya
filsafat modern. Ia menamakan kedua not Gno artinya know. Aliran ini dapat kita
hakikat itu dengan istilah dunia kesadaran temui dalam filsafat eksistensi dengan
(ruhani) dan dunia ruang (kebendaan). tokoh-tokohnya seperti: Soren Kierkegaar
Tokoh yang lain : Benedictus De spinoza (1813-1855 M), yang terkenal dengan
(1632-1677 M), dan Gitifried Wilhelm Von julukan sebagai Bapak Filsafat
Leibniz (1646-1716 M). Eksistensialisme dan Martin Heidegger
(1889-1976 M) seorang filosof Jerman,
c. Pluralisme serta Jean Paul Sartre (1905-1980 M),
Paham ini berpandangan bahwa segenap seorang filosof dan sastrawan Prancis yang
macam bentuk merupakan kenyataan. Lebih atheis (Bagus, 1996).
jauh lagi paham ini menyatakan bahwa
kenyataan alam ini tersusun dari banyak
unsur. 2.2. Epistimologi
Tokoh aliran ini pada masa Yunani Kuno Masalah epistemologi bersangkutan dengan
adalah Anaxagoras dan Empedocles yang pertanyaan-pertanyaan tentang pengetahuan.
menyatakan bahwa substansi yang ada itu Dalam pembahasan filsafat, epistemologi dikenal
terbentuk dan terdiri dari 4 unsur, yaitu sebagai sub sistem dari filsafat. Epistemologi
tanah, air, api, dan udara. adalah teori pengetahuan, yaitu membahas
Tokoh modern aliran ini adalah William tentang bagaimana cara mendapatkan
James (1842-1910 M) yang terkenal sebagai pengetahuan dari objek yang ingin dipikirkan.
Keterkaitan antara ontologi, epistemologi, dan cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat
aksiologiseperti juga lazimnya keterkaitan dan lingkup pengetahuan, dasar dan
masing-masing sub sistem dalam suatu sistem-- pengendaian-pengendaiannya serta secara umum
membuktikan betapa sulit untuk menyatakan hal itu dapat diandalkannya sebagai penegasan
yang satu lebih pentng dari yang lain, sebab bahwa orang memiliki pengetahuan.
ketiga-tiganya memiliki fungsi sendiri-sendiri Selanjutnya, pengertian epistemologi
yang berurutan dalam mekanisme pemikiran. yang lebih jelas diungkapkan Dagobert D.Runes.
Ketika kita membicarakan epistemologi, berarti Dia menyatakan, bahwa epistemologi adalah
kita sedang menekankan bahasan tentang upaya, cabang filsafat yang membahas sumber, struktur,
cara, atau langkah-langkah untuk mendapatkan metode-metode dan validitas pengetahuan.
pengetahuan. Dari sini setidaknya didapatkan Sementara itu, Azyumardi Azra menambahkan,
perbedan yang cukup signifikan bahwa aktivitas bahwa epistemologi sebagai ilmu yang
berpikir dalam lingkup epistemologi adalah membahas tentang keaslian, pengertian, struktur,
aktivitas yang paling mampu mengembangkan metode dan validitas ilmu pengetahuan..
kreativitas keilmuan dibanding ontologi dan
aksiologi. 2.2.2. Ruang Lingkup Epistemologi

2.2.1. Pengertian Epistemologi M.Arifin merinci ruang lingkup


Ada beberapa pengertian epistemologi epistemologi, meliputi hakekat, sumber dan
yang diungkapkan para ahli yang dapat dijadikan validitas pengetahuan. Mudlor Achmad merinci
pijakan untuk memahami apa sebenarnya menjadi enam aspek, yaitu hakikat, unsur,
epistemologi itu. Epistemologi juga disebut teori macam, tumpuan, batas, dan sasaran
pengetahuan (theory of knowledge). pengetahuan. Bahkan, A.M Saefuddin
Secara etimologi, istilah epistemologi menyebutkan, bahwa epistemologi mencakup
berasal dari kata Yunani episteme berarti pertanyaan yang harus dijawab, apakah ilmu itu,
pengetahuan, dan logos berarti teori. dari mana asalnya, apa sumbernya, apa
Epistemologi dapat didefinisikan sebagai cabang hakikatnya, bagaimana membangun ilmu yang
filsafat yang mempelajari asal mula atau sumber, tepat dan benar, apa kebenaran itu, mungkinkah
struktur, metode dan sahnya (validitasnya) kita mencapai ilmu yang benar, apa yang dapat
pengetahuan. kita ketahui, dan sampai dimanakah batasannya.
Pengertian lain, menyatakan bahwa Semua pertanyaan itu dapat diringkat menjadi
epistemologi merupakan pembahasan mengenai dua masalah pokok; masalah sumber ilmu dan
bagaimana kita mendapatkan pengetahuan: masalah benarnya ilmu.
apakah sumber-sumber pengetahuan ? apakah M. Amin Abdullah menilai, bahwa
hakikat, jangkauan dan ruang lingkup seringkali kajian epistemologi lebih banyak
pengetahuan? Sampai tahap mana pengetahuan terbatas pada dataran konsepsi asal-usul atau
yang mungkin untuk ditangkap manuasia sumber ilmu pengetahuan secara konseptual-
(William S.Sahakian dan Mabel Lewis Sahakian, filosofis. Sedangkan Paul Suparno menilai
1965, dalam Jujun S.Suriasumantri, 2005). epistemologi banyak membicarakan mengenai
Menurut Musa Asyarie, epistemologi apa yang membentuk pengetahuan ilmiah.
adalah cabang filsafat yang membicarakan Sementara itu, aspek-aspek lainnya justru
mengenai hakikat ilmu, dan ilmu sebagai proses diabaikan dalam pembahasan epistemologi, atau
adalah usaha yang sistematik dan metodik untuk setidak-tidaknya kurang mendapat perhatian
menemukan prinsip kebenaran yang terdapat yang layak.
pada suatu obyek kajian ilmu. Sedangkan, Kecenderungan sepihak ini menimbulkan
P.Hardono Hadi menyatakan, bahwa kesan seolah-olah cakupan pembahasan
epistemologi adalah cabang filsafat yang epistemologi itu hanya terbatas pada sumber dan
mempelajari dan mencoba menentukan kodrat metode pengetahuan, bahkan epistemologi sering
dan skope pengetahuan, pengandaian- hanya diidentikkan dengan metode pengetahuan.
pengendaian dan dasarnya, serta Terlebih lagi ketika dikaitkan dengan ontologi
pertanggungjawaban atas pernyataan mengenai dan aksiologi secara sistemik, seserorang
pengetahuan yang dimiliki. Sedangkan D.W cenderung menyederhanakan pemahaman,
Hamlyn mendefinisikan epistemologi sebagai sehingga memaknai epistemologi sebagai metode
pemikiran, ontologi sebagai objek pemikiran, pengetahuan dan pengetahuan ilmiah, juga sering
sedangkan aksiologi sebagai hasil pemikiran, disebut ilmu dan sains. Sebutan-sebutan tersebut
sehingga senantiasa berkaitan dengan nilai, baik hanyalah pengayaan istilah, sedangkan
yang bercorak positif maupun negatif. Padahal substansisnya relatif sama, kendatipun ada juga
sebenarnya metode pengetahuan itu hanya salah yang menajamkan perbedaan, misalnya antar
satu bagian dari cakupan wilayah epistemologi. sains dengan ilmu melalui pelacakan akar sejarah
dari dua kata tersebut, sumber-sumbernya, batas-
2.2.3. Objek Dan Tujuan Epistemologi batasanya, dan sebagainya.
Metode ilmiah berperan dalam tataran
Dalam filsafat terdapat objek material dan transformasi dari wujud pengetahuan menuju
objek formal. Objek material adalah sarwa-yang- ilmu pengetahuan. Bisa tidaknya pengetahuan
ada, yang secara garis besar meliputi hakikat menjadi ilmu pengetahuan yang bergantung pada
Tuhan, hakikat alam dan hakikat manusia. metode ilmiah, karena metode ilmiah menjadi
Sedangkan objek formal ialah usaha mencari standar untuk menilai dan mengukur kelayakan
keterangan secara radikal (sedalam-dalamnya, suatu ilmu pengetahuan. Sesuatu fenomena
sampai ke akarnya) tentang objek material pengetahuan logis, tetapi tidak empiris, juga
filsafat (sarwa-yang-ada). tidak termasuk dalam ilmu pengetahuan,
Objek epistemologi ini menurut Jujun melaikan termasuk wilayah filsafat. Dengan
S.Suriasumatri berupa segenap proses yang demikian metode ilmiah selalu disokong oleh
terlibat dalam usaha kita untuk memperoleh dua pilar pengetahuan, yaitu rasio dan fakta
pengetahuan. Proses untuk memperoleh secara integratif.
pengetahuan inilah yang menjadi sasaran teori
pengetahuan dan sekaligus berfungsi 2.2.5. Hubungan Epistemologi, Metode dan
mengantarkan tercapainya tujuan, sebab sasaran Metodologi
itu merupakan suatu tahap pengantara yang harus
dilalui dalam mewujudkan tujuan. Tanpa suatu Lebih jauh lagi Peter R.Senn
sasaran, mustahil tujuan bisa terealisir, mengemukakan, metode merupakan suatu
sebaliknya tanpa suatu tujuan, maka sasaran prosedur atau cara mengetahui sesuatu yang
menjadi tidak terarah sama sekali. mempunyai langkah-langkah yang sistematis.
Tujuan epistemologi menurut Jacques Sedangkan metodologi merupakan suatu
Martain mengatakan: Tujuan epistemologi pengkajian dalam mempelajari peraturan dalam
bukanlah hal yang utama untuk menjawab metode tersebut. Secara sederhana dapat
pertanyaan, apakah saya dapat tahu, tetapi untuk dikatakan, bahwa metodologi adalah ilmu
menemukan syarat-syarat yang memungkinkan tentang metode atau ilmu yang mempelajari
saya dapat tahu. Hal ini menunjukkan, bahwa prosedur atau cara-cara mengetahui sesuatu. Jika
epistemologi bukan untuk memperoleh metode merupakan prosedur atau cara
pengetahuan kendatipun keadaan ini tak bisa mengetahui sesuatu, maka metodologilah yang
dihindari, akan tetapi yang menjadi pusat mengkerangkai secara konseptual prosedur
perhatian dari tujuan epistemologi adalah lebih tersebut. Implikasinya, dalam metodologi dapat
penting dari itu, yaitu ingin memiliki potensi ditemukan upaya membahas permasalahan-
untuk memperoleh pengetahuan. permasalahan yang berkaitan dengan metode.
Metodologi membahas konsep teoritik
2.2.4. Landasan Epistemologi dari berbagai metode, kelemahan dan
kelebihannya dalam karya ilmiah dilanjutkan
Kholil Yasin menyebut pengetahuan dengan pemilihan metode yang digunakan,
dengan sebutan pengetahuan biasa (ordinary sedangkan metode penelitian mengemukakan
knowledge), sedangkan ilmu pengetahuan secara teknis metode-metode yang digunakan
dengan istilah pengetahuan ilmiah (scientific dalam penelitian. Penggunaan metode penelitian
knowledge). Hal ini sebenarnya hanya sebutan tanpa memahami metode logisnya
lain. Disamping istilah pengetahuan dan mengakibatkan seseorang buta terhadap filsafat
pengetahuan biasa, juga bisa disebut ilmu yang dianutnya. Banyak peneliti pemula
pengetahuan sehari-hari, atau pengalaman sehari- yang tidak bisa membedakan paradigma
hari. Pada bagian lain, disamping disebut ilmu penelitian ketika dia mengadakan penelitian
kuantitatif dan kualitatif. Padahal mestinya dia pendayagunaan pikiran. Kemudian jika diingat,
harus benar-benar memahami, bahwa penelitian bahwa filsafat adalah landasan dalam
kuantitatif menggunakan paradigma positivisme, menumbuhkan disiplin ilmu, maka seluruh
sehingga ditentukan oleh sebab akibat (mengikuti disiplin ilmu selalu berhubungan dengan
paham determinsime, sesuatu yang ditentukan pekerjaan pikiran manusia, terutama pada saat
oleh yang lain), sedangkan penelitian kualitatif proses aplikasi metode deduktif yang penuh
menggunakan paradigma naturalisme penjelasan dari hasil pemikiran yang dapat
(fenomenologis). Dengan demikian, metodologi diterima akal sehat. Ini berarti tidak ada disiplin
juga menyentuh bahasan tantang aspek filosofis ilmu lain, kecuali psikologi, padahal realitasnya
yang menjadi pijakan penerapan suatu metode. banyak sekali.
Aspek filosofis yang menjadi pijakan metode Oleh karena itu, epistemologi lebih
tersebut terdapat dalam wilayah epistemologi. berkaitan dengan filsafat, walaupun objeknya
Oleh karena itu, dapat dijelaskan urutan- tidak merupakan ilmu yang empirik, justru
urutan secara struktural-teoritis antara karena epistemologi menjadi ilmu dan filsafat
epistemologi, metodologi dan metode sebagai sebagai objek penyelidikannya. Dalam
berikut: Dari epistemologi, dilanjutkan dengan epistemologi terdapat upaya-upaya untuk
merinci pada metodologi, yang biasanya terfokus mendapatkan pengetahuan dan
pada metode atau tehnik. Epistemologi itu sendiri mengembangkannya. Aktivitas-aktivitas ini
adalah sub sistem dari filsafat, maka metode ditempuh melalui perenungan-perenungan secara
sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari filsafat. filosofis dan analitis.
Filsafat mencakup bahasan epistemologi, Perbedaaan padangan tentang eksistensi
epistemologi mencakup bahasan metodologis, epistemologi ini agaknya bisa dijadikan
dan dari metodologi itulah akhirnya diperoleh pertimbangan untuk membenarkan Stanley M.
metode. Jadi, metode merupakan perwujudan Honer dan Thomas C.Hunt yang menilai,
dari metodologi, sedangkan metodologi epistemologi keilmuan adalah rumit dan penuh
merupakan salah satu aspek yang tercakup dalam kontroversi. Sejak semula, epistemologi
epistemologi. Adapun epistemologi merupakan merupakan salah satu bagian dari filsafat
bagian dari filsafat. sistematik yang paling sulit, sebab epistemologi
menjangkau permasalahan-permasalahan yang
2.2.6. Hakikat Epsitemologi membentang seluas jangkauan metafisika sendiri,
Epistemologi berusaha memberi definisi sehingga tidak ada sesuatu pun yang boleh
ilmu pengetahuan, membedakan cabang- disingkirkan darinya. Selain itu, pengetahaun
cabangnya yang pokok, mengidentifikasikan merupakan hal yang sangat abstrak dan jarang
sumber-sumbernya dan menetapkan batas- dijadikan permasalahan ilmiah di dalam
batasnya. Apa yang bisa kita ketahui dan kehidupan sehari-hari. Pengetahuan biasanya
bagaimana kita mengetahui adalah masalah- diandaikan begitu saja, maka minat untuk
masalah sentral epistemologi, tetapi masalah- membicarakan dasar-dasar pertanggungjawaban
masalah ini bukanlah semata-mata masalah- terhadap pengetahuan dirasakan sebagai upaya
masalah filsafat. Pandangan yang lebih ekstrim untuk melebihi takaran minat kita.
lagi menurut Kelompok Wina, bidang Epistemologi atau teori mengenai ilmu
epistemologi bukanlah lapangan filsafat, pengetahuan itu adalah inti sentral setiap
melainkan termasuk dalam kajian psikologi. pandangan dunia. Ia merupakan parameter yang
Sebab epistemologi itu berkenaan dengan bisa memetakan, apa yang mungkin dan apa
pekerjaan pikiran manusia, the workings of yang tidak mungkin menurut bidang-bidangnya;
human mind. Tampaknya Kelompok Wina apa yang mungkin diketahui dan harus diketahui;
melihat sepintas terhadap cara kerja ilmiah dalam apa yang mungkin diketahui tetapi lebih baik
epistemologi yang memang berkaitan dengan tidak usah diketahui; dan apa yang sama sekali
pekerjaan pikiran manusia. Cara pandang tidak mungkin diketahui. Epistemologi dengan
demikian akan berimplikasi secara luas dalam demikian bisa dijadikan sebagai penyaring atau
menghilangkan spesifikasi-spesifikasi keilmuan. filter terhadap objek-objek pengetahuan. Tidak
Tidak ada satu pun aspek filsafat yang tidak semua objek mesti dijelajahi oleh pengetahuan
berhubungan dengan pekerjaan pikiran manusia, manusia. Ada objek-objek tertentu yang
karena filsafat mengedepankan upaya manfaatnya kecil dan madaratnya lebih besar,
sehingga tidak perlu diketahui, meskipun sama-sama berupa metode ilmiah (gabungan
memungkinkan untuk diketahui. Ada juga objek rasionalisme dengan empirisme, atau deduktif
yang benar-benar merupakan misteri, sehingga dengan induktif), dan di sisi lain berarti hakikat
tidak mungkin bisa diketahui. epistemologi itu bertumpu pada landasannya,
Epistemologi ini juga bisa menentukan karena lebih mencerminkan esensi dari
cara dan arah berpikir manusia. Seseorang yang epistemologi. Dua macam pemahaman ini
senantiasa condong menjelaskan sesuatu dengan merupakan sinyalemen bahwa epistemologi itu
bertolak dari teori yang bersifat umum menuju memang rumit sekali, sehingga selalu
detail-detailnya, berarti dia menggunakan membutuhkan kajian-kajian yang dilakukan
pendekatan deduktif. Sebaliknya, ada yang secara berkesinambungan dan serius.
cenderung bertolak dari gejala-gejala yang sama,
baruk ditarik kesimpulan secara umum, berarti 2.2.7. Pengaruh Epistemologi
dia menggunakan pendekatan induktif.
Adakalanya seseorang selalu mengarahkan Secara global epistemologi berpengaruh
pemikirannya ke masa depan yang masih jauh, terhadap peradaban manusia. Suatu peradaban,
ada yang hanya berpikir berdasarkan sudah tentu dibentuk oleh teori pengetahuannya.
pertimbangan jangka pendek sekarang dan ada Epistemologi mengatur semua aspek studi
pula seseorang yang berpikir dengan manusia, dari filsafat dan ilmu murni sampai
kencenderungan melihat ke belakang, yaitu masa ilmu sosial. Epistemologi dari masyarakatlah
lampau yang telah dilalui. Pola-pola berpikir ini yang memberikan kesatuan dan koherensi pada
akan berimplikasi terhadap corak sikap tubuh, ilmu-ilmu mereka itusuatu kesatuan
seseorang. Kita terkadang menemukan seseorang yang merupakan hasil pengamatan kritis dari
beraktivitas dengan serba strategis, sebab ilmu-ilmudipandang dari keyakinan,
jangkauan berpikirnya adalah masa depan. Tetapi kepercayaan dan sistem nilai mereka.
terkadang kita jumpai seseorang dalam Epistemologilah yang menentukan kemajuan
melakukan sesuatu sesungguhnya sia-sia, karena sains dan teknologi. Wujud sains dan teknologi
jangkauan berpikirnya yang amat pendek, jika yang maju disuatu negara, karena didukung oleh
dilihat dari kepentingan jangka panjang, maka penguasaan dan bahkan pengembangan
tindakannya itu justru merugikan. epistemologi. Tidak ada bangsa yang pandai
Pada bagian lain dikatakan, bahwa merekayasa fenomena alam, sehingga kemajuan
epistemologi keilmuan pada hakikatnya sains dan teknologi tanpa didukung oleh
merupakan gabungan antara berpikir secara kemajuan epistemologi. Epistemologi menjadi
rasional dan berpikir secara empiris. Kedua cara modal dasar dan alat yang strategis dalam
berpikir tersebut digabungan dalam mempelajari merekayasa pengembangan-pengembangan alam
gejala alam untuk menemukan kebenaran, sebab menjadi sebuah produk sains yang bermanfaat
secara epistemologi ilmu memanfaatkan dua bagi kehidupan manusia. Demikian halnya yang
kemampuan manusia dalam mempelajari alam, terjadi pada teknologi. Meskipun teknologi
yakni pikiran dan indera. Oleh sebab itu, sebagai penerapan sains, tetapi jika dilacak lebih
epistemologi adalah usaha untuk menafsir dan jauh lagi ternyata teknologi sebagai akibat dari
membuktikan keyakinan bahwa kita pemanfaatan dan pengembangan epistemologi.
mengetahuan kenyataan yang lain dari diri Epistemologi senantiasa mendorong manusia
sendiri. Usaha menafsirkan adalah aplikasi untuk selalu berfikir dan berkreasi menemukan
berpikir rasional, sedangkan usaha untuk dan menciptakan sesuatu yang baru. Semua
membuktikan adalah aplikasi berpikir empiris. bentuk teknologi yang canggih adalah hasil
Hal ini juga bisa dikatakan, bahwa usaha pemikiran-pemikiran secara epistemologis, yaitu
menafsirkan berkaitan dengan deduksi, pemikiran dan perenungan yang berkisar tentang
sedangkan usaha membuktikan berkaitan dengan bagaimana cara mewujudkan sesuatu, perangkat-
induksi. Gabungan kedua macaram cara berpikir perangkat apa yang harus disediakan untuk
tersebut disebut metode ilmiah. mewujudkan sesuatu itu, dan sebagainya.
Jika metode ilmiah sebagai hakikat
epistemologi, maka menimbulkan pemahaman, 2.3 . Aksiologi
bahwa di satu sisi terjadi kerancuan antara
2.3.1. Pengertian Aksiologi
hakikat dan landasan dari epistemologi yang
Menurut Kamus Filsafat, Aksiologi selalu mengarah pada suka atau tidak suka,
Berasal dari bahasa Yunani Axios (layak, pantas) senang atau tidak senang.
dan Logos (Ilmu). Jadi aksiologi merupakan Selanjutnya nilai itu akan objektif, jika
cabang filsafat yang mempelajari nilai. Jujun tidak tergantung pada subjek atau kesadaran yang
S.Suriasumantri mengartikan aksiologi sebagai menilai. Nilai objektif muncul karena adanya
teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pandangan dalam filsafat tentang objektivisme.
pengetahuan yang diperoleh. Objektivisme ini beranggapan pada tolak ukur
Aksiologi berkaitan dengan kegunaan suatu gagasan berada pada objeknya, sesuatu
dari suatu ilmu, hakekat ilmu sebagai suatu yang memiliki kadar secara realitas benar-benar
kumpulan pengetahuan yang didapat dan berguna ada (Bakhtiar Amsal, 2004).
untuk kita dalam menjelaskan, meramalkan dan Bagian ketiga dari Aksiologi adalah ,
menganalisa gejala-gejala alam. (Cece Rakhmat, sosio-political life, yaitu kehidupan social politik
2010) yang akan melahirkan filsafat sosiopolitik.
Dari pendapat diatas dapat dikatakan Manfaat dari ilmu adalah sudah tidak terhitung
bahwa Aksiologi merupakan ilmu yang banyaknya manfaat dari ilmu bagi manusia dan
mempelajari hakikat dan manfaat yang makhluk hidup secara keseluruhan. Mulai dari
sebenarnya dari pengetahuan. zamannya Copernicus sampai Mark Elliot
Zuckerberg , ilmu terus berkembang dan
2.3.2. Penilaian Aksiologi memberikan banyak manfaat bagi manusia.
Bramel (Jalaluddin dan Abdullah,1997) Dengan ilmu manusia bisa sampai ke bulan,
membagi aksiologi dalam tiga bagian. Pertama, dengan ilmu manusia dapat mengetahui bagian-
moral conduct, yaitu tindakan moral. Bidang ini bagian tersembunyi dan terkecil dari sel tubuh
melahirkan disiplin khusus yakni etika. Kajian manusia. Ilmu telah memberikan kontribusi yang
etika lebih fokus pada prilaku, norma dan adat sangat besar bagi peradaban manusia, tapi
istiadat manusia. Tujuan dari etika adalah agar dengan ilmu juga manusia dapat menghancurkan
manusia mengetahui dan mampu peradaban manusia yang lain.
mempertanggungjawabkan apa yang ia lakukan. Mengutip pendapatnya Francis Bacon
Didalam etika, nilai kebaikan dari tingkah laku dalam Suriasumantri (1999) yang mengatakan
manusia menjadi sentral persoalan. Maksudnya bahwa Pengetahuan adalah kekuasaan. Apakah
adalah tingkah laku yang penuh dengan tanggung kekuasaan itu akan merupakan berkat atau
jawab, baik tanggung jawab terhadap diri sendiri, malapetaka bagi umat manusia, semua itu
masyarakat, alam maupun terhadap Tuhan terletak pada system nilai dari orang yang
sebagai sang pencipta. menggunakan kekuasaan tersebut. Ilmu itu
Bagian kedua dari aksiologi adalah bersifat netral, ilmu tidak mengenal sifat baik
esthetic expression, yaitu ekspresi keindahan. atau buruk, dan si pemilik pengetahuan itulah
Bidang ini melahirkan keindahan. Estetika yang harus mempunyai sikap.
berkaitan dengan nilai tentang pengalaman Selanjutnya Suriasumantri juga
keindahan yang dimiliki oleh manusia terhadap mengatakan bahwa kekuasaan ilmu yang besar
lingkungan dan fenomena disekelilingnya. ini mengharuskan seorang ilmuwan mempunyai
Mengutip pendapatnya Risieri Frondiz landasan moral yang kuat.
(Bakhtiar Amsal, 2004), nilai itu objektif ataukah Untuk merumuskan aksiologi dari ilmu, Jujun S
subjektif adalah sangat tergantung dari hasil Sumantri merumuskan kedalam 4 tahapan yaitu:
pandangannya yang muncul dari filsafat. Nilai - Untuk apa ilmu tersebut digunakan?
akan menjadi subjektif, apabila subjek sangat - Bagaimana kaitan antara cara penggunaan
berperan dalam segala hal, kesadaran manusia tersebut dengan kaidah-kaidah moral?
menjadi tolak ukur segalanya; atau eksistensinya, - Bagaimana penentuan objek yang ditelaah
maknanya dan validitasnya tergantung pada berdasarkan pilihan-pilihan moral?
reaksi subjek yang melakukan penilaian tanpa - Bagaimana kaitan antara teknik procedural
mempertimbangkan apakah ini bersifat psikis yang merupakan operasionalisasi metode
ataupun fisik. Dengan demikian nilai subjekif ilmiah dengan norma-norma moral /
akan selalu memperhatikan berbagai pandangan professional.
yang dimiliki akal budi manusia seperti perasaan, Dari apa yang dirumuskan diatas dapat
intelektualitas dan hasil nilai subjektif akan dikatakan bahwa apapun jenis ilmu yang ada,
kesemuanya harus disesuaikan dengan nilai-nilai DAFTAR PUSTAKA
moral yang ada di masyarakat, sehingga nilai
kegunaan ilmu tersebut dapat dirasakan oleh A.M. Saefuddin, et.al. 1991. Desekularisasi
masyarakat dalam usahanya meningkatkan Pemikiran: Landasan Islamisasi. Bandung:
kesejahteraan bersama, bukan sebaliknya Mizan, hal. 35.
malahan menimbulkan bencana. Bagi seorang
ilmuwan, nilai dan norma moral yang Abdullah , Muhammad Husein, 1990. Ad-
dimilikinya akan menjadi penentu apakah ia Dirosah fi al-fikry-al Islamy. Aman: Dar al-
sudah menjadi ilmuwan yang baik atau belum. Bayariq haal. 74.

Abdullah, Am i n . 2005. Desain


3. Kesimpulan
Pengembangan Akademik IAIN
Setiap jenis pengetahuan selalu
M e n u j u U I N S u n a n Kalijaga dari
mempunyai ciri-ciri yang spesifik mengenai apa
Pendekatan Pola Dikotonomis-Akademik ke
(ontologi), bagaimana (epistemologi) dan untuk
Arah Integratif-Interdisciplinary dalam
apa (aksiologi) pengetahuan tersebut disusun.
Zainal Abidin Bagir, et.al, I n t e g r a s i
Ketiga landasan ini saling berkaitan; ontologi
I l m u d a n Agama Interpretasi dan Aksi.
ilmu terkait dengan epistemologi ilmu,
Bandung: Mizan.
epistemologi ilmu terkait dengan aksiologi ilmu
dan seterusnya. Kalau kita ingin membicarakan
Amin Abdullah. 2006.P e n d e k a t a n
epistemologi ilmu, maka hal ini harus dikatikan
I n t e g r a t i f - Interkonektif. Yogyakarta:
dengan ontologi dan aksiologi ilmu. Secara
Pustaka Pelajar.
detail, tidak mungkin bahasan epistemologi
terlepas sama sekali dari ontologi dan aksiologi.
Amsal, Bakhtiar. 2004. Filsafat Ilmu. Jakarta:
Apalagi bahasan yang didasarkan model berpikir
Raja Grafindo Persada.
sistemik, justru ketiganya harus senantiasa
dikaitkan. Asyari, H. M dkk. 1992.Filsafat. Yogyakarta:
Keterkaitan antara ontologi, epistemologi, RSFI.
dan aksiologiseperti juga lazimnya keterkaitan
masing-masing sub sistem dalam suatu sistem-- Azra, Azyumardi. 1993. Tradisionalisme Nasr:
membuktikan betapa sulit untuk menyatakan Eksposisi dan Refleksi. Ulumul Quran, no.
yang satu lebih pentng dari yang lain, sebab 4, vol. IV.
ketiga-tiganya memiliki fungsi sendiri-sendiri
yang berurutan dalam mekanisme pemikiran. Bagus Lorens. 2005. Kamus Filsafat. Jakarta:
Demikian juga, setiap jenis pengetahuan selalu Gramedia Pustaka Utama.
mempunyai ciri-ciri yang spesifik mengenai apa
(ontologi), bagaimana (epistemologi) dan untuk Bakhtiar , Amsal. 2006. Filsafat Ilmu. Jakarta:PT
apa (aksiologi) pengetahuan tersebut disusun. Raja Grafindo Persada.
Ketiga landasan ini saling berkaitan; ontologi
ilmu terkait dengan epistemologi ilmu, Bakker, Anton.1992. Ontologi Metafisika Umum.
epistemologi ilmu terkait dengan aksiologi ilmu Yogyakarta: Pustaka Kanisius
dan seterusnya. Pembahasan mengenai
epistemologi harus dikatikan dengan ontologi D.W. Hamlyn. History of Epistemology. in Pauld
dan aksiologi. Secara jelas, tidak mungkin Edwards, editor in chief, The Encyclopedia
bahasan epistemologi terlepas sama sekali dari of Philosophy, vol. 3 (New York and
ontologi dan aksiologi. Dalam membahas London, Macmillan Publishing Co., 1972)
dimensi kajian filsafat ilmu didasarkan model hal. 8-38.
berpikir sistemik, sehingga harus senantiasa
dikaitkan. Gruber, T. 2008.Ontology. Springer-Verlag.
ISBN 978-0-387-49616-0.

Hadi, P. Hardono. 1994. Epistemologi: Filsafat


Pengetahuan. Yogyakarta: Penerbit
Kanisius.
H o n e r, S t a n l e y M . d a n H u n t , T h o m a s
C . 1987. M e t o d e d a l a m M e n c a r i
Ilmu dalam Perspektif. Jakarta:
Gramedia,

Jalaluddin dan Abdullah Idi. 1997. Filsafat


Pendidikan. Jakarta: Gaya Media Pratama.

Jujun S. Suriasumantri. 2005 Filsafat Ilmu :


Sebuah Pengantar Populer. Jakarta : Sinar
Harapan.

M. Arifin. 1991. Psikologi Dakwah: Suatu


Pengantar Studi. Jakarta: Bumi Aksara, hal.
6.

Maritain, Jacques. 1959. The Degrees of


Knowledge. New York: Scribner
Pengetahuan:R a s i o n a l i s m e ,
Empirisme, dan Metode
Keilmuan, dalam Jujun
S . Suryasumantri [penerjemah].

Peter R. Senn, Struktur Ilmu, dikutip dari buku


Social Science and its Methods (Holbrook,
1971), hal, 9-35.

Rakhmat Cece. 2010. Membidik Filsafat Ilmu.


Bandung.

Runes, Dagobert D. 1971. Dictionary of


Philosophy. New Jersey: Adams and Co.

Sahakian, W.S dan Mabel Lewis Sahakian. 1965.


Realms of Philosophy. Schenkman Pub Co.

Semiawan, C. dkk. 2005. Panorama Filsafat


Ilmu Landasan Perkembangan Ilmu
Sepanjang Zaman. Jakarta : Mizan Publika.

Surasumantri, Jujun, S. 1999. Ilmu Dalam


Perspektif. Jakarta : Yayasan Obor
Indonesia.

The Liang Gie. 2004. Pengantar Filsafat Ilmu.


Yogyakarta : Liberty.