Anda di halaman 1dari 17

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Herpes simpleks adalah infeksi akut yang disebabkan oleh virus herpes
simpleks (virus herpes hominis) tipe I atau tipe II yang ditandai oleh adanya
vesikel yang berkelompok di atas kulit yang sembab dan eritemosa pada daerah
dekat mukokutan, sedangkan infeksi dapat berlangsung baik primer maupun
rekurens.1

2.2 Epidemiologi
Penyakit ini tersebar kosmopolit dan menyerang baik pria maupun wanita
dengan frekuensi yang tidak berbeda. Infeksi primer oleh virus herpes simpleks
(HSV) tipe I biasanya dimulai pada usia anak-anak, sedangkan infeksi HSV tipe
II biasanya terjadi pada decade II atau III dan berhubungan dengan peningkatan
aktivitas sosial.1
Infeksi genital HSV-2 pada anak-anak dapat diperoleh dari transmisi ibu
yang terinfeksi. Penelitian kesehatan nasional terbaru menunjukkan antobodi
terhadap HSV-2 di Amerika Serikat sebanyak 45% pada kulit hitam, 22% pada
Meksiko-Amerika, dan 17% pada kulit putih.3
Sekitar 30% - 95% orang dewasa ditemukan seropositif terhadap virus herpes
simpleks tipe 1, pada usia 20-25 tahun, 80% orang dewasa di Amerika Serikat
adalah seropositif, dan banyak negara lain Eropa, Afrika, prevalensi antibodi
terhadap HSV-1 meningkat 95% di usia 20-40 tahun. Seroprevalensi untuk virus
herpes simpleks tipe 2 adalah rendah, dan terjadi pada usia dengan aktivitas
seksual. Di Skandinavia, laju infeksi oleh HSV-2 meningkat dari 2% pada usia
15 menjadi 25% di pada usia 30 tahun. 2,4% orang dewasa terinfeksi HSV-2
pada masa decade III mereka. Di Amerika Serikat, 25% orang dewasa terinfeksi
dengan HSV-2. Pada pasien penyakit transmisi seksual, laju kasus infeksi sekitar
30% dan 50%. Di Sahara, Afrika, laju infeksi antara 60% dan 95%.

3
4

Seroprevalensi lebih tinggi pada orang dengan infeksi HIV.5,6 Di Amerika


Serikat,HSV-1 merupakan penyebab penting pada herpes genital, dan kasusnya
meningkat pada usia pelajar.7
Pada infeksi HSV-1, sekitar 50% penderita yang terinfeksi memberikan
riwayat lesi pada orolabial.5 Herpes orolabial yang rekurens juga meningkat 20%
pada usia dewasa.8 Sedangkan pada HSV-2, 20% penderita yang terinfeksi
adalah asimptomatis (infeksi laten), 20% terkena herpes genital yang rekurens,
dan 60% memiliki lesi klinis. Sebagian besar penderita dengan infeksi HSV-2
adalah asimtomatis, yaitu sekitar 80%.5

2.3 Etiologi
HSV tipe I dan II merupakan virus herpes hominis yang merupakan virus
DNA. Pembagian tipe I dan II berdasarkan karakteristik pertumbuhan pada
media kultur, antigen marker dan lokasi klinis (tempat predileksi).1
Kelompok virus herpes sebagian besar terdiri dari virus DNA. Melakukan
replikasi secara intranuklear dan menghasilkan inklusi intranuklear khas yang
terdeteksi dalam preparat pewarnaan. HSV-1 dan HSV-2 adalah virus double-
stranded DNA yang termasuk dalam Alphaherpesvirinae, subfamily dari Herpes
viridae. Kedua virus, bertransmisi melalui sel epitel mukosa, serta melalui
gangguan kulit, bermigrasi ke jaringan saraf, di mana mereka tetap dalam
keadaan laten. HSV-1 lebih dominan pada lesi orofacial dan biasanya ditemukan
di ganglia trigeminal, sedangkan HSV-2 lebih dominan pada lesi genital dan
paling sering ditemukan di ganglia lumbosakral. Namun virus ini dapat
menginfeksi kedua daerah orofacial dan saluran genital melalui infeksi silang
HSV-1 dan HSV-2 melalui kontak oral-genital.1
Transmisi dapat terjadi tidak hanya saat gejala manifestasi HSV aktif, tetapi
juga dari pengeluaran virus dari kulit dalam keadaan asimptomatis. Puncak
beban DNA virus telah dilaporkan terjadi setelah 48 jam, dengan tidak ada virus
terdeteksi di luar 96 jam setelah permulaan gejala. Secara umum, gejala muncul
3-6 hari setelah kontak dengan virus, namun mungkin tidak muncul sampai
untuk satu bulan atau lebih setelah infeksi.8
5

Manusia adalah reservoir alami dan tidak ada vektor yang terlibat dalam
transmisi. HSV ditularkan melalui kontak pribadi yang erat dan infeksi terjadi
melalui inokulasi virus ke permukaan mukosa yang rentan (misalnya,
oropharynx, serviks, konjungtiva) atau melalui luka kecil di kulit. Virus ini
mudah dilemahkan pada suhu kamar dan pengeringan.4

2.4 Cara Penularan


Seorang individu dapat terkena infeksi HSV karena adanya transmisi dari
seorang individu yang seropositif di mana transmisi tersebut dapat berlangsung
horisontal atau vertikal. Perbedaan nya adalah :9

2.4.1 Horisontal

Transmisi secara horisontal terjadi ketika seorang individu yang


seronegatif berkontak dengan individu yang seropositif melalui vesikel
yang berisi virus aktif (81%-88%), ulkus atau lesi HSV yang telah
mengering (36%) dan dari sekresi cairan tubuh yang lain seperti salivi,
semen, cairan genital (3,6%-25%). Adanya kontak bahan-bahan tersebut
dengan kulit dan mukosa yang luka atau pada beberapa kasus kulit atau
mukosa tersebut intak maka virus dapat masuk ke dalam tubuh host yang
baru dan mengadakan multiplikasi pada inti sel yang baru saja di
masukinya untuk selanjut nya menetap seumur hidup dan sewaktu-waktu
dapat menimbulkan gejala khas yaitu timbulnya lesi vesikel berkelompok
dengan dasar eritem.

2.4.2 Vertikal
6

Transmisi HSV secara vertikal terjadi pada neonatus baik itu pada
periode antenatal, intrapartum dan postnatal.Periode antenatal
bertanggungjawab terhadap 5% dari kasus HSV pada neonatal. Transmisi
ini terjadi pada saat ibu mengalami infeksi primer dan virus berada dalam
fase viremia sehingga secara hematogen virus tersebut masuk ke dalam
plasenta mengikuti sirkulasi uteroplasenta akhirnya menginfeksi fetus.
Periode infeksi primer ibu juga berpengaruh terhadap prognosis bayi,
apabila infeksi terjadi pada trimester pertama, biasanya akan terjadi
abortus. Pada trimester kedua terjadi kelahiran prematuritas. Bayi dengan
infeksi HSV antenatal mempunyai angka mortalitas 60% dan separoh dari
yang hidup tersebut mengalami gangguan SSP dan mata. Infeksi primer
yang terjadi pada trimester ketiga akan memberikan prognosis yang lebih
buruk karena tubuh belum membentuk antibodi (terbentuk 3-4 minggu
setelah virus masuk tubuh host) untuk selanjutnya disalurkan kepada fetus
sebagai suatu antibodi neutralisasi transplasental dan hal ini akan
mengakibatkan 30%-57% bayi yang dilahirkan terinfeksi HSV dengan
berbagai komplikasi (mikrosefali, hidrosefalus, Kalsifikasi intrakranial,
chorioretinis dan ensefalitis). 90% infeksi HSV neonatal terjadi saat
intrapartum yaitu ketika bayi melalui jalan lahir dan berkontak dengan lesi
maupun cairan genital ibu. Ibu dengan infeksi primer mampu menularkan
HSV pada neonatus 50% dan infeksi laten 35% dan infeksi rekurren 0-4%.
Periode postnatal bertanggungjawab terhadap 5-10% kasus infeksi HSV
pada neonatal. Infeksi ini terjadi karena adanya kontak antara neonatus
dengan ibu yang terinfeksi HSV dan juga kontak neonatus dengan tenaga
kesehatan yang terinfeksi HSV.

2.5 Patogenesis
7

Infeksi virus Herpes simpleks ditularkan oleh dua spesies virus, yaitu virus
Herpes simpleks-I (HSV-1) dan virus Herpes simpleks II (HSV-2). Virus ini
merupakan kelompok virus DNA rantai ganda. Infeksi terjadi melalui kontak
kulit secara langsung dengan orang yang terinfeksi virus tersebut. Transmisi tidak
hanya terjadi pada saat gejala manifestasi HSV muncul, akan tetapi dapat juga
berasal dari virus shedding dari kulit dalam keadaan asimptomatis. 1
Pada infeksi primer, kedua virus Herpeks simpleks , HSV 1 dan HSV-2
bertahan di ganglia saraf sensoris . Virus kemudian akan mengalami masa laten,
dimana pada masa ini virus Herpes simpleks ini tidak menghasilkan protein virus,
oleh karena itu virus tidak dapat terdeteksi oleh mekanisme pertahanan tubuh
host. Setelah masa laten, virus bereplikasi disepanjang serabut saraf perifer dan
dapat menyebabkan infeksi berulang pada kulit atau mukosa. 1
Virus Herpes simpleks ini dapat ditularkan melalui sekret kelenjar dan secret
genital dari individu yang asimptomatik, terutama di bulan-bulan setelah episode
pertama penyakit, meskipun jumlah dari lesi aktif 100-1000 kali lebih besar.8

Gambar 1: Herpes labialis.9


A. Infeksi virus herpes simpleks primer, virus bereplikasi di orofaringeal dan naik dari saraf
sensoris perifer ke ganglion trigeminal.
B. Herpes simplex virus dalam fase latent dalam ganglion trigeminal
C. Berbagai rangsangan memicu reaktivasi virus laten, yang kemudian turun dari saraf
sensorik ke daerah bibir atau perioral menyebabkan herpes labialis rekuren.
8

Herpes simplex virus sangat menular dan disebarkan langsung oleh kontak
dengan individu yang terinfeksi virus tersebut. Virus Herpes simpleks ini dapat
menembus epidermis atau mukosa dan bereplikasi di dalam sel epitel.4
Virus Herpes simpleks 1 (HSV-1) biasanya menyerang daerah wajah (non
genitalia) dan virus Herpes simpleks 2 (HSV-2) biasanya menyerang alat kelamin.
perubahan patologis sel epidermis merupakan hasil invasi virus herpes dalam
vesikel intraepidermal dan multinukleat sel raksasa. Sel yang terinfeksi mungkin
menunjukkan inklusi intranuklear.8

2.6 Gejala klinis


Anamnesis yang perlu ditanyakan dalam menegakkan diagnosis herpes
simpleks virus ada beberapa hal yang harus diketahui dari pasien, seperti umur,
kapan keluhan tersebut mulai muncul, dimana lokasi awalnya, apakah mengalami
penyebaran atau tidak, apakah disertai rasa nyeri, panas atau terbakar, apakah ada
riwayat kontak seksual (kissing dan oral sex) dengan penderita yang memiliki
penyakit seperti ini sebelumnya, apakah ada riwayat keluhan yang sama
sebelumnya dan apakah telah mendapat terapi sebelumnya. Semua hal tersebut
dibutuhkan untuk menyingkirkan dignosis banding dari herpes simpleks.2

Infeksi HSV ini berlangsung dalam 3 tingkat :1

a. Infeksi primer
Tempat predileksi HSV tipe I didaerah pingang ke atas terutama di
daerah mulut dan hidung, biasanya dimulai pada usia anak-anak. Inokulasi
dapat terjadi secara kebetulan, misalnya kontak kulit pada perawat, dokter gigi
atau pada orang yang sering menggigit jari (herpetic White low). Virus ini
juga sebagai penyebab herpes sefalitis. Infeksi primer oleh HSV tipe II
mempunyai tempat predileksi didaerah pinggang ke bawah, terutama didaerah
genital, juga dapat menyebabkan herpes meningitis dan infeksi neonates.
Daerah predileksi ini sering kacau karena adanya cara hubungan seksual
seperti oro-genital, sehingga herpes yang terdapat di daerah genital kadang-
9

kadang disebabkan oleh HSV tipe I sedangkan di daerah mulut dan rongga
mulut dapat disebabkan oleh HSV tipe II.
Infeksi primer berlangsung lebih lama dan lebih berat, kira-kira 3 minggu
dan sering disertai gejala sistemik, misalnya demam, malese dan anoreksia
dan dapat ditemukan pembengkakan kelenjar getah bening regional.
Kelainan klinis yang dijumpai berupa vesikel yang berkelompok diatas
kulit yng sembab dan eritematosa, berisi cairan jernh dan kemudian menjadi
seropurulen, dapat menjadi krusta dan kadang-kadang mengalami ulserasi
yang dangkal, biasanya sembuh tanpa sikatrik. Pada perabaan tidak terdapat
indurasi. Kadang-kadng dapat timbul infeksi sekunder sehingga member
gambaran yang tidak jelas. Umumnya didapati pada orang yang kekurangan
antibody virus herpes simpleks. Pada wanita ada laporan yang mengatakan
bahwa 80% infeksi HSV pada genitalia eksterna disertai infeksi pada serviks.
b. Fase laten
Fase ini berarti pada penderita tidak ditemukan gejala klinis, tetapi HSV
dapat ditemukan dalam keadaan tidak aktif pada ganglion dorsalis.
c. Infeksi rekurens
Infeksi ini berarti HSV pada ganglion dorsalis yang dalam keadaan tidak
aktif, dengan mekanisme pacu menjadi aktif dan mencapai kulit sehingga
menimbulkan gejala klinis. Mekanisme pacu itu dapat beupa trauma psikis
(gangguan emosional, menstruasi) dan dapat pula timbul akibat jenis makanan
dan minuman yang merangsang.
Gejala klinis yang timbul lebih ringan daripada infeksi primer dan
berlangsung kira-kira 7 sampai 10 hari. Sering ditemukan gejala prodormal
local sebelum timbul vesikel berupa rasa panas, gatal dan nyeri. Infeksi
rekurens ini dapat timbul pada tempat yang sama (loco) atau tempat
lain/tempat sekitarnya.
1) Herpes orolabial: labialis herpes (misalnya, cold sores, fever blisters)
paling sering dikaitkan dengan infeksi HSV-1. Lesi oral disebabkan oleh
HSV-2 telah di identifikasi, biasanya sekunder dari kontak orogenital.
10

Infeksi HSV-1 primer seringkali terjadi pada masa kanak-kanak dan


biasanya tanpa gejala.

Gambar 2. Orolabial Herpes simpleks.3


a) Infeksi primer: Gejala-gejala herpes labialis mungkin termasuk demam
prodrom, diikuti dengan sakit tenggorokan dan mulut dan
submandibular atau limfadenopati servikal. Pada anak-anak,
gingivostomatitis dan odynophagia juga diamati. Vesikel yang nyeri
terbentuk pada bibir, gingiva, langit-langit mulut, atau lidah dan sering
dikaitkan dengan eritema dan edema. Lesi memborok dan
menyembuhkan dalam 2-3 minggu.
b) Rekurensi: Penyakit ini masih aktif .Reaktivasi HSV-1 di ganglia
sensoris trigeminal menyebabkan kekambuhan di wajah dan mukosa
oral, bibir, dan okular. Nyeri, rasa terbakar, gatal, atau paresthesia
biasanya mendahului lesi vesikuler berulang yang akhirnya memborok
atau membentuk krusta. Lesi yang paling sering terjadi di perbatasan
Vermillion, dan gejala berulang yang tidak diobati berlangsung sekitar
1 minggu. Lesi eritema multiforme berulang berhubungan dengan
orolabial-1 recurrences HSV. Sebuah studi baru-baru ini melaporkan
bahwa shedding virus HSV-1 memiliki durasi rata-rata 48-60 jam dari
onset gejala herpes labialis. Mereka tidak mendeteksi virus lebih dari
96 jam dari timbulnya gejala.
11

2) Herpes genitalis: HSV-2 telah diidentifikasi sebagai penyebab paling


umum dari herpes genital. Namun, HSV-1 telah diidentifikasi semakin
meningkat sebagai agen penyebab pada 30% kasus infeksi herpes genital
primer dari dua kemungkinan kontak orogenital. Infeksi herpes genital
berulang hampir secara eksklusif disebabkan oleh HSV-2.

Gambar 3. Herpes Genital.3

Infeksi primer: herpes genital primer terjadi dalam waktu 2 hari


sampai 2 minggu setelah terpapar virus dan memiliki manifestasi klinis
yang paling parah. Gejala dari episode primer biasanya berlangsung 2-3
minggu.

Pada pria, lesi vesikuler yang nyeri, erythematous, yang membentuk


ulkus paling sering terjadi pada penis, tetapi mereka juga dapat terjadi di
anus dan perineum. Pada wanita, herpes genital primer terlihat sebagai
vesikular /ulkus lesi pada serviks dan vesikel yang nyeri pada genitalia
eksternal bilateral. Ia juga dapat terjadi pada vagina, perineum, bokong,
dan kaki pada distribusi saraf sakral. Gejala yang menyertai termasuk
12

demam, malaise, edema, limfadenopati inguinal, disuria, dan cairan


vagina, atau penis.

Gambar 4. Primary herpetic vulvitis.3

Wanita juga bias mendapat radikulopati lumbosakral, dan sebanyak


25% dari wanita dengan infeksi primer HSV-2 mungkin terkena
associated aseptik meningitis.
Rekurensi: Setelah infeksi primer, virus akan laten selama berbulan-
bulan sampai bertahun-tahun sampai rekurensinya kembali dipicu.
Reaktivasi HSV-2 di ganglia lumbosakral menyebabkan kekambuhan di
bawah pinggang. Outbreak klinis, biasanya lebih ringan dan sering
didahului oleh rasa sakit, gatal, kesemutan terbakar, atau paresthesia yang
prodormal.
Orang yang terkena HSV dan infeksi primer asimtomatik dapat
mengalami sebuah episode klinis awal herpes genital dapat bulan hingga
13

tahunan setelah infeksi. Episode tidak begitu separah seperti wabah utama
sejati.

Lebih dari setengah individu yang seropositif HSV-2 tidak memiliki


wabah klinis yang jelas. Namun, orang-orang ini masih memiliki episode
shedding virus dan dapat menularkan virus ke pasangan seks mereka.

3) Herpes whitlow, wabah vesikel di tangan dan digiti, paling sering


disebabkan oleh infeksi HSV-1. Ini biasanya terjadi pada anak-anak yang
menghisap jempol dan, sebelum meluasnya penggunaan sarung tangan,
terhadap pekerja kesehatan gigi dan perawatan medis. Terjadinya herpes
whitlow karena HSV-2 semakin dikenal, mungkin karena kontak yang
digiti-genital.

Gambar 5. Herpetic Whitlow, classic group blister.3

4) Herpes gladiatorum disebabkan oleh HSV-1 dan dilihat sebagai erupsi


papular atau vesikel pada torsos atlet dalam olahraga yang melibatkan
kontak fisik dekat (gulat klasik). Infeksi HSV disseminasi (yang
menyebar) dapat terjadi pada wanita yang sedang hamil dan individu
immunocompromised. Pasien-pasien ini mungkin diketemukan dengan
14

tanda-tanda dan gejala HSV atipikal, dan kondisi yang mungkin sulit
untuk mendiagnosa.

Gambar 6. Herpes gladiatorum , lesi HSV tipe 1 di leher.3


5) HSV Neonatus
Infeksi HSV-2 pada kehamilan dapat memiliki pengaruh yang sangat
buruk pada janin. HSV neonatal biasanya bermanifestasi dalam 2 minggu
pertama kehidupan dari batasan klinis lokal kulit, mukosa, atau infeksi
mata sehingga ensefalitis, pneumonitis, penyebaran infeksi, dan kematian.
Kebanyakan wanita yang melahirkan bayi dengan HSV neonatal tidak
memiliki riwayat, tanda, atau gejala infeksi HSV sebelumnya. Risiko
penularan tertinggi pada wanita hamil yang seronegatif untuk kedua HSV
1 dan HSV-2 dan mendapatkan infeksi HSV baru pada trimester ketiga
kehamilan.
Faktor-faktor yang meningkatkan risiko penularan dari ibu ke bayi
termasuk jenis infeksi kelamin pada saat kelahiran (risiko lebih tinggi
dengan infeksi primer aktif), lesi aktif, ketuban pecah lama, kelahiran
pervaginam, dan kurangnya antibodi transplasenta. Angka kematian
neonatal sangat tinggi (> 80%) jika tidak diobati.
15

Gambar 7. Herpes Neonatus. 8

2.7 Pemeriksaan Pembantu Diagnosis

Virus herpes ini dapat ditemukan pada vesikel dan dapat dibiak. Pada
keadaan tidak ada lesi dapat diperiksa antibody HSV. Pada percobaan Tzanck
dengan pewarnaan giemsa dapat ditemukan sel datia berinti banyak dan badan
inklusi intranuklear.

a. Tes Tzanck
Tes positif akan menunjukkan virus herpes keratinosit dengan
inti baloon dan sel raksasa berinti dengan perubahan serupa.

Gambar 8. Tes Tzanck Positif untuk Herpes Simpleks Virus.2


b. Biopsy
16

Biopsi lesi herpes menunjukkan fitur patognomonik , tetapi


biasanya dilakukan hanya untuk menyelidiki lesi yang secara klinis
atipikal . Biopsi tidak membedakan HSV - 1 dari HSV - 2 atau herpes
5
virus zooster ( HZV )
2.8 Diagnosis banding

Herpes simpleks didaerah sekitar mulut dan hidung harus dibedakan dengan
impetigo vesiko bulosa. Pada daerah genetalia harus dibedakan dengan ulkus
durum, ulkus mole dan ulkus mikstum, maupun ulkus yang mendahului penyakit
limfogranuloma venerum.

2.8.1 Impetigo Vesikobulosa


Kelainan kulit pada impetigo vesikobulosa berupa eritem, bula, dan
bula hipopion. Keadaan umum tidak dipengaruhi, kadang-kadang waktu
penderita datang berobat, vesikel/bula telah memecah sehingga yang
tampak hanya koleret dan dasarnya masih eritematosa.10

Gambar 9 : Staphylococcus aureus: Impetigo Bulosa.


Bulla Superfisial dan Erosi di Daerah Hidung.10
2.8.2 Ulkus durum
Chancre (ulkus durum) sifilis biasanya muncul sebagai lesi tunggal
yang tidak menyakitkan dan tidak berulang. Ulkus tersebut biasanya bulat,
dasarnya ialah jaringan granulasi berwarna merah dan bersih, diatasnya
hanya tampak serum. Yang khas ialah ulkus tersebut indolen dan teraba
indurasi.10
17

Gambar 10 : Chancre pada sifilis primer.10


2.8.3 Chancroid (Ulkus Mole)
Chancroid adalah penyakit infeksi menular ulseratif akut yang
disebabkan oleh organisme Haemophilus ducreyi, sering bermanifestasi
sebagai ulkus dengan eksudat abu-abu kekuningan diatas dasar jaringan
granulasi. Ulkus kecil, lunak pada perabaan, tidak terdapat indurasi,
berbentuk cawan, pinggir tidak rata, sering bergaung dan dikelilingi halo
yang eritematosa.1,10

Gambar 11 : Pembesaran chancroid dengan eksudat abu-abu yang


telah merusak frenulum (kissing ulcer). 10
2.9. Penatalaksanaan

Sampai saat ini belum ada terapi yang membrikan penyembuhan radikal,
artinya tidak ada pengobatan yang dapat mencegah episode rekurens secara
tuntas. Pada lesi yang dini dapat digunakan obat topical berupa salap/krim yang
mengandung preparat idokduridin (stoxil, viruguent, virunguent-P) dengan cara
aplikasi yang sering dengan interval beberapa jam. Preparat asikllovir (zovirax)
18

yang dipakai secara topical tampaknya memberikan masa depan yang lebih
cerah. Asiklovir ini cara kerjanya menganggu replikasi DNA virus. Klinis hanya
bermanfaat bila penyakit sedang aktif. Jika timbul ulserasi dapat dilakukan
kompres. Pengobatan oral berupa preparat asiklovir tampaknya memberikan
hasil yang lebih baik, penyakit berlangsung lebih singkat dan masa rekurensnya
lebih panjang. Dosisnya 5 x 200 mg sehari selama 5 hari. Pengobatan parenteral
dengan asiklovir terutama ditujukan kepada penyakit yang lebih berta atau jika
timbul komplikasi pada alat dalam. Begitu pula dengan preparat adenine
arabinosid (vitarabin). Interferon sebuah preparat adenine arabinosid (vitarabin).
Interferon sebuah preparat glikoprotein yang dapat menghambat reproduksi virus
juga dapat dipakai secara parenteral.1

Untuk mencegah rekurens macam-macam usaha yang dilakukan dengan


tujuan meningkatkan imunitas selular, misalnya pemberian preparat lupidon H
(untuk HSV tipe I) dan lupidon G (untuk HSV tipe II) dalam satu seri
pengobatan. Pemberian levamisol dan isoprinosin ialah sebagai imunostimulator.
Pemberian vaksinasi cacar sekarang tidak dianut lagi.1

2.10 Komplikasi
2.10.1 Infeksi bakteri dan fungi
a. Balanitis dapat terjadi sebagai hasil dari infeksi bakteri pada ulkus
herpes. 4
b. Kandidiasis vaginitis, ditemukan sebanyak 10 % pada wanita dengan
herpes genital primer, sebagian ditemukan pada wanita dengan
riwayat diabetes. 4
2.10.2 Infeksi okular. Jarang terjadi pada anak-anak sebagai hasil dari
autoinokulasI selama infeksi HSV orofangial asimptomatis. 4
2.10.3 Infeksi viseral, biasanya terjadi karena viremia .Hal ini dapat terjadi saat
infeksi primer yang asimptomatis. Hal ini berhubungan dengan
leukopenia, trombositopenia dan DIC.4
2.10.4 Komplikasi sistem syaraf pusat
a. Aseptic meningitis. Kondisi akut biasanya dengan limfositik jinak. 4
19

b. Ganglionitis dan myelitis. Infeksi HSV pada genital dan anorektal


bisa berkomplikasi kepada retensi urin, neuralgia sakral dan anastesi
sakral4
2.11 Prognosis
Selama pencegahan rekurens masih merupakan problem, hal tersebut secara
psikologik akan memberatkan penderita. Pengobatan secara dini dan tepat
member prognosis yang lebih baik,yakni masa penyakit berlangsung lebih
singkat dan rekurens lebih jarang.1
Pada orang dengan gangguan imunitas, misalnya pada penyakit-penyakit
dengan tumor retikuloendotelial, pengobatam dengan imunosupresan yang lama
atau fisik yang sangat lemah, menyebabkan infeksi ini dapat menyebar ke alat-
alat dalam dan dapat fatal. Prognosis akan lebih baik seiring dengan
meningkatnya usia seperti pada orang dewasa.1