Anda di halaman 1dari 439
) Edisi 3 Manajemen Perpajakar >>Mohammad Zain Penerbit Salemba Empat Manajemen Perpajakan, Edisi 3 Prof Dr. H.Mohammad Zain, Ors. Ak Mansjer Penerbitan dan Frodukst Edward Tanujays Koordinator Penerbitan dan Produksi: Ariyanto, Copy Editor: Kvistianto Gunanar Tata Letake Dec Juni Asinara Desain Sampul: nastergrais Hak Cipta ©2008, 2007, Penerbit Salemba Empat Cetakan pertama Mei 2007 Cetakan ledua Februari 2008 Way Grand Center Blok D7 J Wijaya 2, Jakarta 12160 Telp. (O21) 721-0238, 725-8259 Paks. (021) 721-0207 Website: htp:/fwwwpeneritsslemba.com Exmail + infowpeneritsaiembs.com Hak cipta dilindungi undang-undang, Dilirangmemperbanyok sebagian sta seluruly is bul ini dalam bentak ‘pt pu, balk secara cehtronik amupun uichanlk, termasuh menfotohopl, merekam atau dengan mengguakaa Sistem penyimparan leinnya, tanpa iin ertulis dari Penerbi, UNDANG-UNDANG NOMOR 19 TAHUN 2002 TENTANG HAK CIPTA, |. Barang Siapa dengan sengja dan tanpa hak mengomumkan atov memperbanyak soa cptaan atau i) taku danvaiau dena member ian untuk fu. elipdanadlengan picann peajara paling lama 7 (t pling banyak Rp $.000.000.000,00 (ima mitiarrupiah), 2 Darang siapa dengan sengyje menyiarkan, memamerlan, meagedirkan alee menjual kepada wom stale eiplaan alsw barang hasil pelasggaran Hale Cita stau Hal Terkail sehogaimana dinrabsid pada frat (1), dipidara dengan pica petra paling lama 5 (lima) tahun dan/aiats denda paling banyak Bp 309.000.000,00 (lima ratusjuta rupiah) Zain, Mokammad Manalemea Perpalakan/Moharimae Zain CCetakan Kedaa— Jakarta: Salemba Empat, 2008 il 21 x26 em, 412 hal ISBN 978 979.691.08-1 1. Perpajakan 2. Manajemen Perpajakan 1 judul H. Mohammad Zain SUSAMISHUMA Ae Addassagygaqgy 44 Daftar ie 187 EEEEEEEFEE 53.10 Fenyaiian Pajak Targgubaie di Laporn Labairagé ‘Rekonsliasi Laporan Keuangan Komersil ke Laporan Keuangan Fiskal 541 Pengertian Rekonsiisi 542 Ke jie Rekansiliasi Meinde Abantansi Pajake a 6.1.3 Yarisdilsi Hum Pajak Internasional G14 Keduduben Hubum Nasional dalam Linghungan Huleum atau ZEREEELEREEREEE Terencanaan Pajak Perusahaan Mubinasonal ae = = : a ‘Manajomen Perpajakan G42 Fakw-fabtor yng Mencntutan Pilihan Negara Tex Haven 369 6.5 Perjanjian Penghindaran Pajak Bergands (P3B—tax Treaty) 376 65.1 Pengertian dan Pergembangan 376 65.2 Model dan Bi P3B erta_Keduduban P3B Aras Undang-undang Nasional 377 G53 Hak Pemujakan (Tesing Rights) 381 G54 Ketentuan-Retontuan lain 392 “Mansjemen Perpajakan ab Pendekatan dari segi hukum, ekonomi, dan aplikasinya Definisi Pajak Jenis Pungutan di Indonesia Dasar hukum, hukum pajak materiil, hukum pajak formil Sistem perpajakan dan landesan idealnya Princip keadilan dan pemerataan Efisiensi ekonomik dan efisiensi fiskal Sederhana dan kepastian hukum Undang-undang eksekutif vs undang-undang legistatif. 1.1 PENDAHULUAN satu kategori skademis yang tradisional. Walaupun dapat dipastikan bahwe *hukum’ merupakan salah satu unsur yang penting dalam perpajekan tersebut akan tetap) apabila kita telusuri lebih lanjut, bahwa ternyata mempelajaii perpajeken akan membawa kita untuk mempelajart berbagai masalah yang berbeda davt lazimnya dalam ‘mempelajaii masalsh-masalsh hukum pajak) tidak melaksanakan pembayaran tersebut, maka wajib pajak yang bersangkutan dapat dikenakan tindakan hukum oleh Pemesintah berdasarken undang-undang atau dengan perkataan lain wa pajak tersebut dapat dipaksa oleh pemerintah untuk memenuhi kewalihan perpajakan- nya dengan menggunakan surat paksa den sta (b) Tanpa jasa timbal/kontra prestasi/imbalan langsung, yang dapat ditunjukkan mengandung arti bahwa wajib pajak yang membayar luran Kepacia negara tidak ditunjukkan secara langsung imbalan apa yang diperolehnya dari pemerintah atas pembayaran juran tersebut. Berbeda dengan pembayaran juran kebersihan, kita akan fangsung ditunjukkan atau diberikan imbaian betupa diangkutnya pada waktu-woltu tertentu sompol yang kite tempatkan pada tempet sampah di depan rumah kita atau ci tempat pembuangan sampah umum pada suatu kompleks perumahan. Contoh lain, misainya kita bersekolah, maka kita harus bayar uang sekolah, sedang mereka yang tidak bersekolah tidak harus bayar uang sekolah. Imbalan yang secara tidak langsung diperoleh wajib pajak adalah berupa pelay- anan pemerintah kepada seluruh anggota masyarakat, balk yang membayar pajak maupun yang dibebaskan dari pengenaen pajak, yaitu antara lain penyelenggaraan bidang keamenan, kesejahtetaan, pembuatan jalan, saluran itigasi, pencegahan penyakit mentiar 1 anajamen Perpajskan Dari berbagat definisi tersebut, baik pengertian secara ekonomis (pajak sebagai pen galihan sumber dari sektor swasta ke sektor pemerintah) atau pengertian secara yuridis (pojak adalah iuran yang dapat dipaksakan) dapat ditarik kesimpulan tentang ci cis) ‘yang terdapat pada pengertian pajak antan lain sebagai berikut (1) Pajak dipungut oleh negara baik oleh pemetintah pusat maupun pemerintah daerah berdasarkan atas undang-undang serta aturan pelaksaneannye. 2) Pemungutan pajak mengiyaratkan adanya_alih cana (sumber daya) dari sektor swasta (waylb pajak membayar pajak) ke sektor negara (pemungut pajak/admin- istrator pajak) (8) Pemungutan pajek diperuntukkan bagi keperluan pembiayaan umum pemerintah dalam rangke menjalankan fungsi pemerintahan, balk rutin maupun pembangu nan (@) Tidak dapat ditunjuklan edanya imbalan tkontiaprestasi) individual oleh pemer intah terhadap pembayaran pajak yang dilakukan oleh para wai pajak (6) Selain fungsi budgeter (anggaran) yeitu fungsi mengisi Kas Negera/Angearan Negara yang diperlukan untuk menutup pembiayaan penyelenggarsan pemerin tehen, pajak juga berfungst sebagei alot untuk mengaturatsu melaksanakan kebi Jakan negara dalam lapangan ekonomi can sosial (fungsi mengatur/requlat 1.6 JENIS PUNGUTAN DI INDONESIA Disamping pungutan, beberapa jenis pajak yang dikenal sebagai pajak negara seperti Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah, Pajak Eumi dan Bangunan serta Bea Materal, Pemerintah Pusat masih melakukan pula pungutan lainnya yang berupa bea dan cukai, sedang pemerintah daerah akan memungut pajak daerah dan retribusi. Penerimaan lainnya yang tidak dapat dikategorikan sebagai penerimaan pajak, disebut sebagal Peneriman Negara Butan Pajak, dengan pengertian nya masing-masing sebagai bevikut: (a) Bea jalah pungutan yang dikenakan atas suatu kejadian atau perbuatan yang berupa lalulintas barang dan perbuatan lainnya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan, bes dapat berupa bea masuk yang dipungut atas barang barang_ yang dimasukkan ke dalam daerah pabean berdasarkan harga atau nila) barang tersebut (tarif ad cuforent) atau berdasarkan tarif yang sudeh ditentuken (tarif spesifikl, Bea keluar dikenakan atas sejumlah barang yang dikeluarkan ke luar daersh pabean berdasarkan tarif yang sudah ditentukan bagi masing-masing golongan barang, Bea Balik Nama cikenakan atas perbuatan pemindahan hak pomilikan atas harta dan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan, (b) Cukai jalah pungutan yang dikenakan atas barang-barang tertentu, berdasarkan Kanaae Paraajalan ketentuan peraturan perundang-undangan dan biasanya barang konsumsi, Cukat dapat berupa cukai tembakau, cukei rokok, cukai gula, cukai alkohol, cukal minu- rman keras dan lain-laineya, Catatan: Bea dan Cukai dikategorikan sebagat pajak tidak langsung, (c} Pajak Daerah, yang selanjutnya disebut pajak, adalah iuran wajib yang dilaku- kan oleh orang pribadi atau badan kepada Daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang, yang dapat dipaksakan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang digunakan untuk membiayai penyelenggaraen pemerintahan daerah dan pembangunan daeran Jenis Pajak Daerah Tingkat I tore dari (1) Pajak Kendaraan Bermotor (2). Boa Balik Nama Kendaraan Bermotor )_ Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor Jenis Fajak Daerah Tingkat Il terdiri dari (1) Pajak Hotel dan Restoran (2). Pajak Hiburan (3) Pajak Rekleme (4) Pajak Penerangan Jalan (51 Pajak Pengambilan dan Pengolahan Bahan Gallan Golongan“C’ (6) Pajak Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Alt Permukaan Dengan Peraturan Pemerintah dapat ditetapkan jenis pajak selain yang ditetapkan diatas, (d)_ Retribusi Daerah, yang selanjutnya disebut retribusi adalah pungutan daerah se bagai pembayaran ata: jase atau pemberian icin tertentu yang khusus disediakan dan atau dibenkan oleh Pemerintah Daerah untuk Kepentingan orang pribadi atau bbadan. Retribusi dibagi atas tiga golongen: (1) Retribusi Jasa Umum (2). Retribust Jasa Usaha (3) Retribust Perizinan Tertentu 13 anajamen Perpajskan te) Jenis-jenis retribusi yang termasuk golongan Retribusi Jasa Umum, Retribusi Jasa Usaha dan Retribust Perizinan Tertentu, ditetapkan dengan Peraturan Pemerin: tah, Penerimaan Negara Bukan Pajak adalah seluruh penetimaan Pemerintah pusat yang tidak berasal dari penerimaan perpajakan Kelompok Penerimaan Negara Bukan Pajak meliputi (1). Penerimaan yang bersumber dari pengeluaran dana Pemerintah, antara Iain Penerimaan Jasa Giro, Sisa Anggaran Pembangunan, dan Sisa Anggaran atin. (2) Penerimean dari pemanfaatan sumber daya alam, antare lain royalti di bidang perikanan, royalti di bidang kehutanan dan royalti di bidang pertambangan, tidak termasuk penenimaan yang merupakan bagian pemerintah dari minyak dan gas bumi, 3) Penerimaan dari hasil-hasil pengelolaan kekayaan negara yang dipisahkan antara lain, dividen, baglan laba pemerintah, dana pembangunan semeste ddan hasil penjualan saham pemerintah. (@) Penerimaan dari kegiatan pelayanan yang dilaksanakan pemetintah, antara lain pelayanan pendicikan, pelayanan kesehatan, pelayanan pelatihan, pembe: Flan hak paten, merek, hek cipte, pemberian vise dan paspor, serta pengelolean kekayaan Negara yang tidak dipisahkan. (6) Penerimsan berdasarkan putusan pengadilan dan yang berasal deri pengenaan denda administras, antara lain lelang barang rampasan negara dan denda, (6) Penerimaan berupa hibah yang merupakan hak pemerintah, adalah penert maan negara berupa bantuan hibah dan atau sumbengan dari dalam dan luar negeri baik swasta maupun pemerintah yang menjadi hak pemerintah Hibah delam bentuk natura, antara lain, yang secara langsung untuk menga- tast keadaan darurat seperti bencena alam atau wabah penyaki tidak dicatat dalam APBN (7) Penerimean lainnya yang diatur dalam undang-undang tersendiri Secara lengkap skema pungutan di Indonesia dapat terlihat peda Tampilan 1-1 berikutini 1 a DASAR HUKUM Negara kita telah menempatkan landasan pemungutan pajaknya dalam pasal 23 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945, yang berbunyi sebagai bark: No Urut Joni Per oe Peroletan Hak ats Tanah daa) Rone: 8 an Ne Beracl 1. Retiby 2 Rectb EA DAN CUKAL ahyang Me (Dleksanskan Pemedntah ilan jan Hak Pemerintahy wrimaan Lainnya yang Diaturdalem Und: g-urdangTTersendini Bahan dengan hak clpta anajamen Perpajskan SSegala pajek untuk keperluan Negara berdasarkan undang-undang” Penjelasannya: Betapa caranya rakyat sebagai bangsa akan hidup dan dari mana didapatnya belanja buat hidup, harus ditetapkan oleh rakyat itu sendiri dengan perantaraan dewan per wakilannya, Rakyat menentukan nasibnya sendiri, dan juga cara hidupnya, Oleh kerena penetapan belanja mengenal hak rakyat untuk menentukan nasibnya sendlii, maka segala tindaken yang menempatkan beban kepada rakyat, seperti pajak dan lain-lainnya, harus ditztapkan dengan undang-undang dengan persetujuan Dewan Perwakilen Rekyal. “No taxation without representation” dan “Tasation without representation is robbery” merupakan ungkapan-ungkapan yang sangat populer berkenaan dengan pemungutan pajak, yang mencerminkan betapa eratnya kaitan antara rasa terwalil (epresentation| dan pengorbanan yang diberikan (Iaxution), sehingga apabila terjadi pungutan pajak tanpa mendapat persetujuan yang mewakil, maka hal int disamakan dengan perampokan. alam rangka pembaharuan perpajakan nasional, sejak akhir tahun 1983 hingga saat ini Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia telah mengesahkan sepuluh Undang: tundang Pajak dengan segala perubahannya, yaitu: (1) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajekan sebagaimana telah diubsh dengan Undang andeng Nomor § Tahun 1994 dan Undang-undang Republik indonesia Nomo: 16 Tahun 2000 tentang Perubahan Kedua atas Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (2) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Feng: hasilan sebegaimana telah beberapa ball diubah, terakhir dengan Undang-undang Nomor 19 Tahun 1994 dan Undang-undang Republik indonesia Nomor 17 Tahun 2000 tentang Perubahan Ketiga atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan (8) Undeng-undang Republik indonesia Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertam bahan Niai Barang dan lasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebagaimana telah diubah dengan Undang-undeng Nomor 11 Tahun 1996 dan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2600 tentang Perubahan Ketiga atas Undang sindong Nomor @ Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barong dan Jose dan Pajok Penjualen atas Barang Mewah, (4) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Burn) dan fangunan sebagaimana telah diubah dengan Undeng-undang Nomor 12 Tahun 1994 (5) Undang-unclang Republik Indonasia Nomor 12 Tahun 1985 tentang Bea Matera (6) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. (7) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 1997 tentang Penagihan Kanaae Paraajalan Pajak dengan Surat Paksa dan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 19 ‘Tahun 2000 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 19 Tahun 1997 tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa. (8) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajah (9) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 1997 tentang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan dan Undang-undang Republik indonesia Nomor 20 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomar 21 Tahun 1997 tentang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. (70) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak sebagai pengganti Undang-undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 1997 tentang Bacian Penyolesaian Sengkota Pajak Untuk melaksanakan kesepuluh undeng-undang tersebut di atas, untuk setiap un- dang-undang diterbitkan pula Peraturan Pemerintah/Keputusan Presiden, Keputusan ‘enteri Keuangen, Keputusan/Surat Edaren Oivektur Jenderal Pajak yang mengincerpre tasikan dan memperjelas lebih lanjut ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam undang- uundang pajak tersebut dan dalam hal tertentu dikeluarkan pula petunjuk pelaksanaannya {juldak) yang urutannya dapat terlihat pada Tampilan 1-2. Selanjutnya undang-undang tersebut di atas dalam pengaturan dan sistematikanya dipibalbkan pula antara kelompok hukum pajak materi dan hukum pajak formil 1.8 HUKUM PAJAK MATERIIL Yang memuat norma-norma yang menerangkan keadaan-keadaan, perbuatan-per- buatan dan peristiwa-peristiwa hukum yang dikenakan pajak. Umumnya, hukum pajek materi mempermasalahkan subjek, objek, tarif dan dasar pengenaan pajak. Yang termasuk dalam kelompok hukum pajak materiil adalah (1), Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagalmana telah diubah, terakhir dengan Undang-undana Nomor 17 Tahun 2000. (2) Undang-undang Nomor 8 Tahun 7983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan 4Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebagaimana telah diubah, terakhir dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2009. (3) Undang-undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Sumi dan Bangunan seb. agaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 12 Tahun 1994. (4) Undang-undang Nomor 13 Tahun 1985 tentang Bea Matera. (5) Undang-undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah sebagaimana telah diuban dengan Undang-undang Nomor 34 Tahun 2000, (@ Undang-undang Momor 20 Tahun 1997 tentang Pene jak an Negara Bukan Pa- 7 anajamen Perpajskan ‘Tampilan 1-2 ‘Unitan Dasar Hukum Perundang, langan Perpajakan Pasal 23ayat 2) Uncleng-Undang Oasar 1945 Undang-undang Porpajskan Peraturan Pemerintah/Kepu- tusan Presicien| Keputusan Memveri Keuangan Kenutusan/Sorat Fearan Direktur JendleralPaja (7) Undang-undang Nomor 21 Tahun 1997 tentang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2000 1.9 HUKUM PAJAK FORMIL ‘Yang momiat normarnorma atau ketontuan-ketontian yang beriai hagaimana melake sanakan hukum pajak materiil tersebut. Umumrya, hukum pajak formil mengatur tentang hak dan kewajiban, prosedut, dan sanksi. Yang termasuk dalam kelompok huhu pojak fornil adalah: (1) Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Porpajakan sabagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 16 Tahun 2000. 2) Undang-undang Nomor 19 Tahun 1997 tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2000, 3) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan aja Kanaae Paraajalan Begitu pula sebaliknya, dengan ditetaptannya kesepuluh undang-undang terse- but, maka beberapa undang-undang yang terkalt dengan ketetapan tersebut, dicabut, yaitu (1) Ordonansi Pajak Perseroan 1926 (Staatsblad Tahun 1925 Nomor 319) sebagaimana telah beberapa kall diubah, terekhir dengan Undang-undang Nomor & Tahun 1970 tentang Perubahan dan Tambahan Ordonansi Pajak Perseroan 1925 (Lembaran Negara Tahun 1970 Nomor 43, Tambehan Lembaran Negara Nomor 2940). (2) Ordonansi Pajak Pendapatan 1944 (Staatsblad Tahun 1944 Nomor 17} sebagaimana telah beberapa kali diubah, terekhir dengan Undang-undang Nomor 9 Tahun 1970 tentang Perubahan dan Tambahan Ordonansi Pajak Pendapatan 1948 (Lembaran Negara Tahun 1970 Nomor 4, tambahan Lembaran Negara Nomor 294). (3) Undang-undang Nomor 8 Tahun 1967 tentang Perubahan dan Penyempurnaan Tata Cara Pemungutan Pajak Pendapatan 1944, Pajak Kekayaan 1932, dan Pajak Perseroan 1925 (Lembaran Negara Tahun 1967 Nomor 18, Tambahan Lemberan Negara Nomor 2827); kecualt Ketentuan-ketentuan mengenal tata cara pemungutan Pajak Kokayaan, (4 Undang-undang Nomor 10 Tahun 1970 tentang Pajak atas Bunga, Dividen dan Royalti 1970 |Lembaran Negara Tahun 1970 Nomor 45, Tambahan Lemberan Negara Nomor 2942). (5) Pasal 15 ke 4 dan ke 5 dan Pasal 16 Undang-undang Nomor | Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing (Lembaran Negara Tahun 1967 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2818) sebagaimana telah diubah, dengan Undang-un- dang Nomor 11 Tahun 1970 tentang Perubahan dan Tambahan Undang-undang Nomer 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing (Lembaran Negara Tahun 1970 Nomor 46, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2943). (6 Pasal 9, Pasal 12 ke 4 dan ke 5, Pasal 13, dan Pasal 14 Undang-undang Nomor 6 Tahun 1968 tentang Penanamén Modal Dalam Negeri (Lembaran Negara Tahun 1968 Nomar 33, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2853) sebagaimana telab diubah dengan Undang-undang Nomor 12 Tahun 1970 tentang Perubahan dan Tambahan Undang-undang Nomor 6 Tahun 1968 tentang Penanaman Modal Dalam Negeri (Lembaran Negara Tahun 1970 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2944). (7 Undana-undang Nomor 35 Tahun 1953 tentang Penetapan Undang-undang Daru- rat Nomor 19 Tahun 1951 tentang Pemungutan Pajak Penjualan (Lembaran Negara Tahun 1951 Nomor 94) sebagai Undang-undang (Lembaran Negara Tahun 1953, Nomar 85, Tambahan Lembaran Negara Nomor 489) sebagaimana beberapa kali diubah dan ditambah, terakhir dengan Undang-undang Nomor 2 Tahun 1968 ten- tang Perubahan dan Tambahan Undang-undang Pajak Penjualan 1951 (Lembaran Negara Tahun 1968 Nomor 14, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2847). (8) Ordonansi Pajak Rumah Tangga 1998 (Personele Belasting Ordonantie 1908, Sta: atsblad Tahun 1908 Nomor 73) sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir 19 anajamen Perpajskan 20) dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 19 Tahun 1959 (Lembaran Negara Tahun 1959 Nomor 112, Tambahan Lembaran Negara Nomor 1868) yang dengan Undang-undang Nomer 1 Tahun 1961 [Lembaran Negata Ta hun 1961 Nomor 3, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2124) telah ditetapkan menjadi Undang-undang. Ordonansi Verponding Indonesia 1923 (Inlansche Verpondings Ordonnantie 1923, Staatsblad Tahun 1923 Nomor 425) sebagaimana telah beberapa kali diubah, tera Khir dengan Algemeene Verordeningen Binnenlandsche Bestuur Java en Madoera (Staatsblad Tahun 1931 Nomor 186} (10) Ordonansi Verponding 1928 (Verponding Ordonantia 1928, Staatsblad Tahun 1928 Nomor 342} sebagaimane telah beberape kali diubah, terakhir dengan Undang, undang Nomor 29Tahun 1959 (Lembaran NegaraTahun 1959 Nomor 1913). (11) Ordonansi Pajak Kekayaan 1932 (Ordonantie op de Vermogensbelasting 1932, Sta atsblad Tahun 1932 Nomor 405) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1967 (Lemberan Negare Tahun 1967 Nomor 16, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2827). (12) Ordonansi Pajak Jalan 1942 (Weggeld Ordonantie 1942, Staatsblad Tahun 1942 Nomor 97) sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Algemeene Yerordening Oorlogsmiselijven (Staatsblad Tahun 1946 Nomor 47), (13) Pasal 14 huruf j, ky dan | Undeng-undang Darurat Nomor 11 Tahun 1957 tentang Peraturan Umum Pajak Daerah (Lembaran Negara Tahun 1957 Nomor 56, Tam: bahan Lembaran Negara Nomor 1287) yang dengan Undang-undang Nomor * Tahun 1961 (Lembaran Negara Tahun 1961 Nomor 3, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2124) telah ditetapkan menjadi undang-undang, (14) Petaturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 11 Tahun 1959 tentang Pajak Hasil Bumi (Lembaran Negara Tahun 1959 Nomor 104, Tambahan Lem: aren Negara Nomor 1860) yang dengan Undang-undang Nomor | Tahun 1961 (Lembaran Negara Tahun 1961, Tambshan Lembaran Negara Nomer 2124) telah ditetapkan menjadi undang-undang. (15) Aturan Bea Meterai 1921 (Zegelverordening 1921) (Staatsblad Tahun 1921 Nomor 498), sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Undang-undang Nomor 2 Prp Tahun 1965 (Lembaran Nogara Tahun 1965 Nomor 121}, yang tolah ditetapkan menjadi Undang-undang dengan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1969 (Lembaran Negara Tahun 1969Nomor 38). (16) Regeling van het Beroep in Belastingzaken Tahun 1927 (Staateblad Tahun 1927 Nomor 29) sebagaimana telah diubah dan ditambah, terakhir dengan Undang-un dang Nomot 5 Tahun 1959 (Lembaran Negara Tahun 1959 Nomor 13, Tambahan Lembaran Negara Nomor 1748) termasuk Lembaga Pertimbangan Bea dan Cukai sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang kepabeanan dan Undang-undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukat (17) Ordonansi Pajak Kendaraan Bermotor 1934 (Staatsblad Tahun 1934 Nomot 718 0 Kanaae Paraajalan sebagaimana telah ditambah dan diubah dengan Staatsblad Tahun 1939 Nomor 226 dan Staatsblad Tahun 949 Nomor 376, Peraturan Pemerintah Pengganti Un- dang undang Nomor & Tahun 1959 dalam Lembaran Negara Tahun 1959 Nomor 101, Tambahan Lembaran Negara Nomor 1857) (18) Ordonansi Pajak Potong 1936 (Staatsblad Tahun 1936 Nomor 671) sebagaimana telah ditambah dan diubah, terakhir dengan Staatsblad Tahun 1949 Nomor 317. (19) Undang-undang Nomor 12 Tahun 1947 tentang Pajak Radio sebagaimana telah ditambah dan diubah, terakhir dengan Undang-undang Nomar 27 Drt. Tahun 1957, (lembaran Negara Tahun 1957 Nomor 84, Tambahan Lembaran Negara Tahun 1959 Nomar 1402). Undang-undang Nomor 14 Tahun 1947 tentang Pajak Pembangunan | sebagaimana telah ditambah dan diubah, terakhir dengan Undang-tindang Nomor 27 Ort. Ta hun 1957 (lembaran Negara Tahun 1957 Nomor 84, Tambahan Lembaran Negara Nomor 1402). (21) Pasat 3 ayat (1) huruf 2, huruf |, huruf g dan huruf h Undang-undang Nomor 32 Tahun 1956 tentang Porimbangan Kouangan antara Nogara dan Daorah-dacrah yang Berhak Mengurus Rumah Tangganya Sendiri (Lembaran Negara Tahun 1956 Nomor 77,Tambahan Lembaran Negara Nomor 1442) (22) Undang-undang Nomor 11 Drt. Tahun 1957 tentang Peraturan Umum Pajak Daerah (Lembaran Negara Tahun 195? Nomor 56, Tambahan Lembaran Negara Nomor 1287). (23) Undang-undang Nomor 12 Drt. Tahun 1957 tentang Peraturan Umum Retribusi Daerah (Lembaran Negara Tahun 1957 Nomor 57, Tambahan Lembaran Negara Nomer 1288). (20) (28) Undang-undang Nomor 74 Tahun 1958 tentang Pajak Bangsa Asing (Lembaran Negara tahun 1958 Nomor 128, Tambahan Lembaran Negara Nomor 1345) seb- agaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-undang Nomor 87 Tahun 1958 (Lembaran Negara Tahun 1958 Nomor 164, Tambahan Lembaran Negara Nomor 1962) (25) Undang-undang Nomor 27 Prp Tahun 1959 tentang Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (Lembaran Negara Tahun 1959 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara Nomer 1911), Undang-undang Nomer 10 Tahun 1968 tentang Penyerahan Pajak Pajak Negara, Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor, Pajak Bangsa Asing dan Pajak Radio kepada Daerah (Lembaran Negara Tahun 1968 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2861). (25) (27) Undang-undang Nomer 19 Tahun 1959 tentang Penagihan Pajak Negara dengan Surat Paksa (Lembaran Negara Tahun 1959 Nomor 63, Tambahan Lembaran Negara Nomor 1850), (28) Ordonansi Bea Balik Nama Staatsblad 1924 Nomor 291 dengan segala perubahan- nya sepanjang mengenai pungutan Bee Balk Nama ates pemindahan harta tetap 21 anajamen Perpajskan 2» yang berupa tanah dan atau bangunan. (29) Undang-undang Nomor 17 Tahun 1997 tentang Badan Penyelesaian Sengketa Pajak (Lemberan Negara Republik Indonesia Tahun 1607 Nomor 40, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2584). Undang-undang pajak tersebut yang merupakan sarana untuk dapat memungut pajak merupakan salah satu unsur sistem perpajakan yang akan diuraikan lebih lanjut, berikutini. 1,10 SISTEM PERPAJAKAN Secara historis, pembicaraan mengenai masalah perpajakan selalu didahului dengan menentukan terlebih dahulu kebijakan perpajakan (fax policy), kemudian kebijakan perpajakan tersebut diolah dan ditetaplan dalam bentuk undang-undang perpajakan (ux taw) dan barulah kemudian dibahas masalah yang menyangkut pemungutannye oleh aparat perpajekan yang termasuk dalam ruang lingkup administrasi perpajakan (tar administration) Hubungan antara ketiga unsur tersebut (lax policy, tax law dan tax administration) dapat diumpamakan dengan sebuah kursi yang mempunyal kaki, di mana kaki-kakinya adalah kebijakan perpajakan, undang-undang perpajakan dan administrasi perpajakan Tanpa kaki-kaki tersebut sama panjangnya dan sema kuatnya, maka kursinya tidak akan stabil dan apabila salah satu dari kakinya lebih pendek, biesanya administrasi perpajakan, hal ini bererti edanya kelemahan struktural. Apabila kaki-kaki terzebut semakin lemah, maka ini berarti bahwa seluruh sistem perpajakan akan menjurus pada keruntuhan, se- dang kita ketahui bahwa tujyan dari suatu sistem perpajakan yang terdiri dari kebijakan perpajekan, undang-undang perpajakan dan administrasi perpajakan tersebut, adalah untuk menjamin agar tetap dapat dilaksanakannya dalam jangka panjang kebijakan fiskal dan program-program pemerintah yang sudah merupakan rencana pemerintah, sedang tujuan utama administrasi pepajakan adalah agar sistem perpajakan yang sudah dipilih teisebut dapat dilaksanakan dengan sepenubinya, Di samping itu, ternyats pula bahwa ketiga unsur sistem perpajakan tersabut saling tergantung satu sama lainnya dan untuk mencapai suatu sistem perpajakan yang sehat secata menyeluruh, diperlukan kesadaran yang lebih tinggi akan saling ketergantungan tersebut. Behkan, mereka yang selama ini menganagap salah satu di antera fektor tersebut apakah kebijakan perpajakan ataupun undang-undang perpajakannya yang terpenting, dewasa ini menyadari pada akhirnya kualitas administrasi perpajakan merupakan fak tor yang sama pentingnya dengan kerangkanya sendiri. Seperti diketahui, kebijakan perpajekan dan undang-undang perpajekan metencanakan dan menyediakan struktur yang sah dan struktur yang sah tersebut merupakan kerangka, di mana administrasi perpajakan yang efektif harus dibangun, Kanaae Paraajalan Kewajiban untuk memperbaiki sistem perpajakan merupakan sesuatu yang harus dilaksanakan secara terus-menerus dan sistem tersebut hendaknya selalu disesuaikan dengan keadaan yang mutakhir (up te daic) yang sejalan dengan perubahan perubahan aktivitas dan struktur perdagangan, perubahan dalam pola hidup keluarga dan pemillkan kekayaan seita perubahan-perubahan dalam tujuan ekonomi dan sosial masarakat. Dari sudut pandangan yang lebih sempit, yaitu dari sudut pandangan penghasilan kena pajak (lasable incom, sistem perpajakan terbagi ats pajak penghasilan global (global inconte taxation) dan pajak penghasilan teritorial (territorial income faxes) 1.10.1 Pajak Penghasilan Global (Global Income Taxation) Undang unéang Pajak Penghasilan yang mengenakan Pajak Penghasilan atas seluruh penghaxilan yang diperoleh dati setiap negara di seluruh dunia (worldovide income) 1.10.2. Pajak Penghasilan Teritorial (Territorial Income Taxes) Undang-undang Pajak Penghasilan yang mengenakan Pajak Penghasilan hanya atas penghasilan yang diperoleh didalam daerah yursdliksinya (regional income) ‘Semua sistem perpajakan pada hakikataya tidak terlepas dari sasaran pemung- utan pajak itu senditi, sehingga kecenderungan untuk mencapai tingkat penerimaan, pajak yang paling maksimal tidak selalu berlaku, apabila diingat bahwa sasaran utama pemungutan pajak adalah pengelihan penguasaan sumber dana dari sektor swasta ke sektor pemerintsh dan/atau dari sektor swasta ke sektor svasta lainnya, dengan catatan bahwa pengalihan tersebut tidak akan membahayakan dan malahan herus memberikan, kemudahan-kemudahan untuk mencapai sasaran ekonomi lainnya, dan bila perlu pe- nerimaan pajak harus dikorbankan. Dalam masyarakat yang modern, perpajakan bersama-sama dengan instrumen kebijaken pemerintah lainnya, juga merupakan sarana untuk mencapai suatu standar ‘ekonomi seperti stabilitas harga, kesempatan kerja penuh, pertumbuhan ekonomi yang layak, pengendalian yang tepat alas aktivitas swasta terhadap pengaruh lingkungan dan ‘tngkat yang sesual bag! cadangan moneter internasional 1.11 LANDASAN IDEAL SISTEM PERPAJAKAN Dalam rangka mencapai sasaran perpajakan dimaksudl, hendaknya sistem perpajakan tersebut berlandaskan suatu prinsip atau norma-norma yang sudah mapan. Dus prinsip utama yang merupakan prinsip yang fundamental agar tercapai sasaran perpajakan tersebutadalah “prinsip keadilan (equity) dan cfisiensi chonomik (economic effivciency)”, sedang priniip lainnya yang merupakan karalteristik yang esensial bagi setap jenis pa- 23 anajamen Perpajskan jak yang sempurna,terlepas dari fungsi dan keperluannya adalah ¢fisiensi fiskal (fiscal efficiency), kesederhanaan (siuplicity) dan kepastiax hukum (certainty) yang mengacu keepada the fore sanois of taxation dari Adam Smith 1776), yaitr (2) Cqueity, menyangkut keadilan pendistribusian pajak dari berbagarbagai alan gan. 2) Certainty, tidak terdapatrya kesewenangan dan ketidakpastian berkenaan dengan tang pajak. 2) Convenience, menyangkut cara pembayaran pajak. (Economy, biaya pemungutan yang keall dibandingkan secara proporsional dengan peningkatan penerimaan dan menghindarkan afek distors| perlaku wajb pajak Sommerfeld Ray N. dan kawan-kavan, mengungkapkan bahwa dalam rangka mendesain suatu sistem perpajakan, kriterianya tidak lagi terbatas kepada “the catons of taxation" yoitu equity, certainty, convenience dan economy, yang dicetusken olel Adam Smith, tetapi saat ini perlu ditambab lagi dengan productivity, visibility, dan political considerations. (1). Productivity di sini dimaksudkan secera relatit, berapa besar jumlah pajak yang dapat dihasikan yang umumnya disorot oleh para politikus dalam rangka men: gevaluasi kinerja pemerintah tanpa mempersoalkan epakeh itu memenuhi per syaratan the canons of taxatiow atau tidak. 2) Visibility di sini lebih bersifat ukuran yang dipakai oleh para pembayar pajak berapa besar kenikmatan yang dapat diperolehnye dari jumlah pembayaran pa- Jaknya yeng sering kell dieksplomtir oleh para politikus untuk menabur janjtjanj) peningkatan kesejahteraan dibanding dengan bagaimana usaha meningkatkan penerimaan pajak. 8). Political considerations lebih mencerminkan bagaimana pare anggota perwakilan rakyat melobi dan melakukan pendekatan aga’ ketentuan peraturan peruncang: undangan perpajakan tersebut menguntungkan kelampoknya Pada dasamya, sistem perpajakan suatu negara merupakan refleksi dari kehidupan sosial, ekonomi dan kebijakan publik (public policy) yang telah ditetapkan pemerintah yang pada umumnya dalam bentuk perundang-undangan yang menentukan course of faction yang harus dilaksanakan yang tercermin dalam berbagai keputusan yang diter bitkan oleh instansi yang bersangkutan. Perluasan atau berubahnya sasaran ekonomi pemerintah, berkembangnya industri, terjadinya diversifikast dan bergesernya secara goografs sentra ckonomi, akan menysbabkan perubahan kebijakan publik dan soterusnya akan mengubah pula kebijaken perpajakan (tax policy). Dalam pelaksanaannya, di samping memodernisasi cara kerja, memelihara sistem perpajakan yang responsif dengan kondisi sekarang, juga bertugas mengoreksi kesala han-kesalahan yang lalu Usaha memperbaiki tersebut disebut revisi prjak (tax revision) atau reformasi pajak (tax reformation, padahal setiap kali ada revisi pajak atau reformasi Kanaae Paraajalan pajak, sistem perpajakan semakin lama semakin menjadi kompleks, sehingga menim= bulkan permasalahan baru, yaitu pilihan antara keinginan untuk simplfikast pajak (tax simplification) atau kompleksitas pajak (tax complexity) Revisi pajak biasanya digunakan oleh kelompok-kelompok yang menginginkan keuntungan pajak (tm feuefils) yang baru dengan mengatasnamakan modlernisasi, sedang revi pajak bertujuan mengakhini tax benefits yang selama ini dinikmati oleh kelompok wajib pajak tertentu. Dewasa ini, tax benefits tersebut oleh kelompok pembaharuan disng ‘gap sebagai celah-celah yang merugikan atau marupakan preferensi pajak. Victor L Urquidi mengungkapkan bahwa istilah "tax reform’, tidak saja menyang- kut penciptaan pajak baru yang lebih berat (pengertian umum menurat versi sejumlah pakar pajak dan pendapet masyarakat), tetapi hendakrya merupakan rekonstruks| nyata dari suatu sistem perpajakan, di mana mungkin menyangkut pajak-pajak baru dan pada waktu yang bersamaan secara tidak langsung menghapus atau mengurangi pajak-pajak lainaya, 1.11.1 Prinsip Keadilan dan Pemerataan Menurut Adam Smith, prinsip yang paling utama dalam rangka pemungutan pajak adalah keadilan dalam perpajakan yang dinyatakan dengan suatu pernyataan bahwa se~ tiap warga negara hendaknya berpartisipaci dalam pembiayaan pemerintah, sedapat mungkin secara proporsional sesuai dengan kemampuan masing-masing, yaitu dengan ‘cara membandingkan penghasilan yang ciperslehnya dengan perlindungan yang dinik- mauinya darinegare. Masalah yang muncul kemudian adalah keadilan bagi siapa dan tothadap apa. Apakah keadilan dimaksud ditinjau dari segi penghasilannya, seqi pengeluarannya, segi kebutuhannya atau segi fasilitas perpajakan atau kombinasi beberapa faktor tersebut. Beberapa waktu yang lalu para ekenom menyustin argumentasi notmauif yang Jelas mengenai keadilan dalam perpajakan, antara lain apa yang dikemukakan oleh John F Due, bahwa pada hakikatnya masalah keadilan dalam perpajakan adalah masalah per- timbangan nila (value judgement) dan tidaklah mungkin untuk melakukan pendekatan iImiah guna merumuskan konsep keadilan tersebut. Ukuran keadilan dalam perpajakan ditentukan semata-mata oleh pandangan atau konsensus yang terdapat dalam masyara~ kat itu sendirl, sehingga kecendeiungan untuk memberikan keabsahan ilmiah (scientific validity) terhadap ukuran keadilan merupakan hal yang dlragukan, Sistem yang adil bukanlah merupakan persoalan teknis ekonomis, melainkan falsafah pribadi, namun beberapa prinsip telah berhasil cikembangkan sehinaga memberikan beberapa kerangka acuan yang dapat digunakan seperti benefit principle dan ability to pay pinaple. ‘sistem perpajaken yang adil lelah adanya perlakuan yang sama terhadap oreng atau badan yang berada dalam situasi ekonomi yang sama (misalnya mempunyai penghasilan tahunan yang sama) dan membenkan perlakuan yang berbeda-beda terhadap orang atau aden yang berada dalam keadaan ekonomi yang berbeda-beda. Keadaan pertama yaitu 25 anajamen Perpajskan %) perlakuan yang sama tethadap penghasilan yang sama disebut sebagai keadilan secara horizon (liorizoutal equity), sedang yang kedua yang pada dasarnya berkenzan dengan distribusi beban pajak di antara masyarakat yang mempunyai penghasilan dan kekayaan yang berbeda-beda, lebih dikenal sebagai keadilan secara vertikal (vertical equity). Wa laupun kelihatannya sangat sederhana, namun prinsip ini tidaklah merupakan prinsip yang mudah dilaksanakan. Jalan menuju keadilan dalam perpajaksn dimulai dari penentuan objeknya serte ukuran yang cukup jelas mengenai apa yang disebut sebagai kemampunn membayar pajak aken tetapi di lain pihak pata abli petpajakan banyak berbeda pendapat mengenai care pengukuran yang akan dilakukan terhadap apa yang disebuinya sebagai kemampuan memmbayar pajak tersebut Memperbaiki prinsip keadilan dan pemerataan yang terdapat dalam sistem perpaja kan yang baru dibandingkan dengan keadaan sebelumnya, diharapkan akan memperbaiki dan mengembalikan kepercayaan masyarakat pembayar pajak akan adanya keadilan dalam porgajakan akibat perbaikan sistem torsebut, Banyak faktar yang menyobabkan hilangnya kepercayaan atau incikater yang menunjukkan hilangnya kepercayaan terse- but, antara kin: + disksiminasi pajak (tax discrimination), + pelalsanaan perundang-undangan ew enforcement) yang tidak tuntas, + tindskan yang tidak tegas terhadap ketidakpatuban (fax compliance) éan penyelun- dlupan pajak, baik penyelundupan bilateral maupun unilateral + pengisian Surat Pemberitahuan yang tidak jlas, telaklengkap dan tidak benar + penagthan yang tidak menghasilkan penerimaan atau pelunasan pajak Keadilan dalam perpajakan menghendaki penerapan suatu standar yang berpegang kepads kebebasan atau ketentuan khusts dan tidak meminak, misalnya standar atau kinesla apa yang digunakan untuk menetapkan besarrya pajak penghasilan, apakah akan clkenakan persentase yang sama terhadap semua tingkatan penghasilan (proportional Jax tion) atau persentasenya meningkat apabila penghasilannya bertambah tinggi (progressize tation atau persentasenya menurun apabila penghasllannya bertambah inggl (degres- sive faxation), Apakah akan diadakan perbedaan pengenaan beban pajak penghasilan antara wajib pajak badan dan wa)ib pajak orang pribadi untuk mengurangi beban oajak berganda, Menetapkan dasar yeng fundamental berbentuk standar tersebut, hanyalah merupakan longkah aval da koadilan dalam porpajakan, akan totapi begitu dilakrarakan dlasar yang fundamental tesebut akan muncul aula segudang permasalahan ‘Secara umum, keadilan juga ditafsirkan sebagai keharusan adanya pajak progresif dalam struktur pajak. Pade prektikaya, apsbila diadakan penyusunan kembali atau pevubohan suatu struktur pajak, maka muncullah berbagai maselah yang tidsk dapat dihindarkan seperti konflik mengenai ukuran atau standar apa yang akan diterapkan. Apabila masyarakat menginginkan suatu tingkat pajak progresif yang tinggi karen pertimoangan keadilan, maka mungkin sekall akibatnye akan muncul pengurangan pengurangan yang berarti dalam tingkat tabungan, investasi dan pertumbuhan ekonomi Kanaae Paraajalan Di samping itu, syarat-syarat untuk meningkatkan keadilan dalam perpajakan, dapat pula mengakibatkan administrasi dan pelaksaneannya semakin kompleks, sehingga meninggalkan unsur kesedethanaan, serta di lain pihak, kemungkinan meningkatnya penghindaran pajak (tax avwidence) dan penyelundupan pajak (tax evasion). 1.11.2 Efisiensi Ekonomik Sasaran utama dari setiap sektor ekonomi adalah bagaimana memperoleh hasil sebesar besarnya dari sumber-sumber yang terbatas, tidak saja menyangkut barang dan jasa yang marupakan unsur-unsur Produk Nasional Bruto, tetapi juge nilai-nilai yang tidak berwujud yang memengaruhi kualitas Kehicupan dan kepentingan orang banyak. Suatu sistem perpajakan yang baik tentunya harus dapat menyslaraskan dengan sasatan tersebut dan sedapat mungkin menghindarkan hal-hal yang akan mengham- batnya. Masalabnya di sini, bukanlah masalah diterimanya prinsip efisiensi ekonomik tersebut, tetap! lebih cenderung kepada permasalahan dapat tidaknya prinsip tersebut dilaksanakan Salah satu cara yang terbaik adalsh dengan menerapkan suatu set penerimaan pajak etal yang sempurna, yaitu suatu sistem pemajakan yang dapat mengumpulkan uang pajak tanpa menyebabkan seseorang mengubah perilaku ekonominya sebagai akibat cara pemungutan pajak yang dikenakan terhadap dirinya. Dengan parkataan lain, pajak yang netral tidak akan mengakibatkan seseorang harus bekerja lebih keras atau santal-santai saja, menabung lebih banyak atau mengurangi tabunganaya, menanamkan modalnya pada sahamrsaham tercentu saja dan tidak salam laianya, atau lebih banyak membell satu jenis barang saja dibandingkan dengan barang lainnya, Apabila selama ini pajak netral berlandaskan pada laisse-faire ekonomis yang klasik {suatu keyakinan balwa pasar akan berfungst dengan baik tanpa campur tangan pemer- Intah, akan tetapi saat inl pendekatannya sudah jauh berbeda. Seberapa penganut pajak netral dewasa ini berkeyakinan bahwa dalam rangka efisiensi dan optimalisasi suatu pasar, banyak didukung oleh berbagai ketentuan peraturan perundang-undangan yang ditecbitlan oleh pemerintah untuk mengembangkan pasar ke arah dimaksud. Para penga- nut konsep ini berkeyakinan bahwa ketentuan persturan perundang-undangan tersebut telah disusun dengan cermat oleh pate abil fiskal won-tar maupun oleh pata abli pembuat ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, yang didesain sedemikian rupa yang tidak diarahkan untuk tujuan peningkatan penerimaan. Apabia efisienst ekonomik dapat dicapai dengan cara-cara tersebut, maka sesungguhnya penerimaan pajak hanya diperlukan untuk pembelian barang dan jasa atau mengubah-ubah distribusi penghasilan pribadii dengan kekayaannya dan hal iniharus diaksanakan senetral mungkin. Kritk yang dilontarkan terhadap pajak netral sebagai basis pemajakan, terutama ditokankan pada kesulitan moncapai ofisionsi ekonomik dan kemungkinan yang sangat kecil bagi pemerintah untuk melaksanakannya karena penerimaan pajak tersebut akan digunakan oleh pemerintah untuk berbagai sasaran yang te’ah ditetapkannya, Apabila hal Int berhasil dilaksanakan, maka hal ini berarti bahwa akan digunakan semua instrumen yang teisedia teimasuk juga instrumen penerimaan pajak. Selain itu, tidak akan tersedia 27 anajamen Perpajskan 28) cukup dana bagi keperivan pembelanjaan yang netial dari program pemetintah yang bertujuan mengalokasi semua sumber untuk keperluan barang-barang publik. Aiasan Iain yang diajukan bahva suatu sistem perpajakan yang baik, apabila proses peningka tan peneriinaan pajak akan mendorong beralihnya sumber-sumber keperluan pribadi ke tujuan sosial yang sara Bag] para ahli, yang terpenting adalah pendekatan afisiensi ekonomik yang lebih umes dan bersfat jamak ai satu pihak, sedang di lain pihak insentif atau bantuan yang dikenal sebagal pengeluaran pajak (iax expenditure) yang terhinder dari penelitian yang cetmat anogota Dewan Perwakilan Rakyat, hendaknya merupaken subsial yang dapat dipertanyakan serta dihindan agar insenti atau bantuan terseburt tidak akan memperkaye para abli warisnya, ‘Tanpa memerhatikan apakah kecenderungan pendekatannya kepada cara netral yang pasif atau optimalisasi yang aktif sebagai care yang tepat untuk suatu sistem perpajakan yang baik, hendaknya diingat bahwa sifat dan luasrya pengaruh atas alokasi sumber torsabut moruipakan hal yang penting dalam pelaksanaannya, Bagi sotiap matalah yang muncul ke permukaan, hendaknya dengan segera dapat diambil keputusan setelah diadakan diskusi yang mendalam sebagai bahan pertimbangan dalam rangka menilai \suFusul revisi pajakatau reformasi paiak Prinsip lainnya yang merupakan karakteristik yang esonsial bagi perpajakan, adalah ens fisal (fiscal efficiency) kesederhanaan: (simplicity) dan kepastian hukum (certainty) 1.11.3. Efisiensi Fiskal Suatu sistom porpajakan dikatakan baik apabila administrasinya maupun pemenuhan kewajiban perpajakan oleh para wajib pajak, dilaksanakan dengan biaya yang sekecil mungkin di satu pihak, dan penerimaan pajak yang cukup besar di lain pihak. Hal int berarti bahwa hasil realisasi pungutan pajak pada setiap kemungkinan skala ekonomi baru dianggap efisien untuk dilaksanakan, apabila dapat meningkatkan penerimaan pajak paling tidak mencapai jumlah tertentu sesuai perkiraan yang diherapkan. Seb- agai contoh, di Amarika Serikat pernah dianjurkan oleh para ahi bahwa pelaksanaan peagenaan Pajak Pertambahan Nilai hanya bermanfeat apabila dapat mengumpulkan penerimaan sebesar US $10 miliat Pertimbangan kedua adalah sifat trade-off antara efisiensi fiskal dan keadilan dalam perpajakan. Sampai berape jauh keuntungan yang dapat diharapkan dibandingkan dengan biaya administiasi yang meningkat dalam tangka perbaikan keadilan dalam perpajakan, ditentukan oleh penilaian masyaraket pembayar pajak tethadap perbaikan keadilan dalam perpajakan tersebut, apabila dinilat sama saja atau lebih, merupakan hal- hal yang sulit diperkirakan, Administras! yang terbaik dari pembuatan konsep ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan yang sangat berhati-hati, dapat mombatas! ha-hal yang tidak diinginkan, akan tetapi kerapkali pula secara ekonomis tidak cocok dengan efek alokasi pemajakan. Secara singkat dapat disimpulkan bahwa suatu sistem perpajakan yang terbaik, apa- Kanaae Paraajalan bila dapat dilaksanakan dengan biaya administrasi dan pemenuhan kewajiban perpajekan secata optimal dan bukan yang minimal. Apabila hal ini dikaitkan dengan collection cost ratio, yang merupakan rasio antara biaya rutin dan realisasi penerimaan, akan terdapat kesulitan menentukan ukuran collection vost ratio yang paling efisien. Berdasarkan pengala- man Amerika Serikat, biaya administrasi pajak penghasilan tidak akan melebihi 1% dari jumiah pajak penghasilan yang dipungut. Eegitu pula dt Indonesia, besarnya collection cost ratio Ditektur Jenderal Pajak selama Polita Il dan Pelita Ill berada sekitar 2%, sedangkan, selama Pelita Ill memperlihatkan tencensi menurun sampai mencapai 1,16% pada akhir Pelita IV. Apakah tendensi menurun ini menunjukkan efisiensi ataukah kelemahan dalam sistem pembiayaan, masih agak sulit untuk menjadi ukuran, sebab apabila kemampuan memajaki cukup besar, maka persentase biayanya pun akan semakin kei 1.11.4 Kesederhanaan Traile-off lain yang harus dicskup dalam kebijakan perpajakan adalah pertimbangan ke sederhanaan yang bersama-sama dengan karekteristik lainnya membentuk suatu sister petpajakan yang balk. Sederhana tidaklah berarti bahwa barang siapa yang mengalami kesulitan ekonomi akan dikurangi beban pajaknye, akan tetapi yang jolas dalam keter tuan peraturan perundang-undangan perpajakan hendaknya dijaga agar perbedaan yang terjadi antara kepentingan sosial dan kepentingan ekonomi berada dalam posisi yang Baling miniena) Hendakaws Iormasi yong akan Saunaken drsub:Kepantioan mena) Suret Pemberitehuan (SPT) dapat dengen mudeh diperolehnya melalui pembukuan komersial dan sebacian besar Walib Pajak tidak memerlukan bantuan konsultan pajak dalam pengisian SPT- nya, Sederhana juga berkontribusi dalam mengembangkan keadilan dalam perpajakan, karena memungkinkan para Wajlb Pajak yang pendidikannys terbaias menghitung, pajaknya dengan benar seperti halnya yang dilakukan para ahli dan yang memiliki pengetahuan perpajakan. 1.11.5 Kepastian Hukum Pemerintah yang maju sudah sejak lama ingin Keluar dari keadlaan frustasi sebagai akibat ketidakpastian mengenal pemungutan pajak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangen yang lame, dengan cara melelang hak pemungutan pejak dan menyerahkannya pada penawar yang tertinggi. Hal Ini Kentuaya tidak semuidah yang, diperkirakan, akan tetapi banyak hal yang harus diselesaikan dan dipecahkan terlebih dahulu sebelum penyerahan tersebut dlakukan. Apabila ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan sangat kompieks dan tidok akurat, maka akan serdapat interpretasi yang berbeda-bedo, baik interpretast yang dilakuken oleh penuntut umum maupun oleh hakim pade pengacilan pajak, sehingga dapat saja mengakibatkan konsekuens! pajak otas aktivitas tertentu tidak dapat diketahul lebin danuluatauakan menimoulkan pending atas pengaturan yang definitt 29 anajamen Perpajskan 30.) Ketidakpastian semacam ini dapat dieleminasi dengan dikeluarkannya surat edaran (ruling) dati instansi pajak yang dapat berupa interpretasi resmi sesuai dengan yang di- maksud oleh undang-undang perpajakan atau dapat berupa petunjuk pelbksanaannya Apabila masih terdapat ketidakpastian lainnya yang helum teipecahkan atau ketidaksa: maan interpretasi antara pejabat instansi pajak, hal ini akan memengaruhi keputusan: keputusan bisnis yang cukup berart, Membiarkan beberapa penghasilan tertentu tidak dapat dipajaki atau dikecu alikan sebagai objek pajak, ketidakpastian mengenai penilaian persediaan atau metode penyusutan, ketidakpastian mengenai penilalan kurs mata uang asing, ketidakpastian mengenal blaya yang boleh atau tidak boleh dikurangkan dan seterusnya, selain meru: pakan ketidakpastian juga merupakan diskriminasi pajak yang dapat merusak keadilan dalam perpajakan. Selain itu, masalah tersebut menjadikan pula ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan sult citerapkan, baik oleh masyarakat pembayar pajak dalam rangka pemenuhan kewajiban peipajékennya maupun oleh para pemeriksa atau vetifikator yang melekukan pemeriksaan atau verifilas Masaleh lain yang juga merupakan kendala dan ketidakpastian adalah masalah “harga’ yang kemungkinan dapat saja dipecahkan melalui arbitrase, akan tetapi misalnya hhaiga sesuatu hasil karye seni, barangrbarang antik dan lein-lain yang sejents, administrasi petpajakan sangat tergantung kepada taksiran yang disiapkan oleh para ahi. 1.12 IKLIM PERPAJAKAN Welaupun organisasi perpajakan sudah dilengkapi dengan dua fungsi utamanya, yaity fungsi verifkasi /pemeriksaan (the audit fiction) dan fungsi pemungutan/penagihan pajak (the collection fuction), satu hal yang dapat cipastikan bahwa kesaclaran dan Kepatuhan memenuhi kewajiban perpajakan tidak hanya tergantung kepada masalh-masalah teknis sala yang menyangkut metode pemungutan, teknis pemeniksaan, penyidikan, penerapan sanksi sebagai pensujudan pelalsanaen ketentuan peraturan perundang-undangan per- pojakan, akan tetapi tergantung pada kemauan (williagness) wajib pajak, sampai sejauh mana walib paiak tersebut akan mematuhi ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Pada casamya tidak ada satu pun dari verifikasi atau metode teknis lainnya dapat dliperluas sampet mencapat jumleh wajtb pajak yang cukup, agar diperoleh efek langsung yang berpengaruh terhadap penerimaan pajak atau menjamin tercapainya kepatuhan membayar pajak yang cukup tinggi, Prosedur teknik tersebut memang berperan dalam mengurangi penyelundupan pajak, akan tetapi yang diharapkan adalah agar prosedur tersebut dapat membantu pembentukan akal sehat para wajib pajak yang pada akhirnya akan menghasilkan kepatuhan pemenuhan keviajiban perpaiakan para wejib pajak. Meskipun instansi pajak telah pula melibatkan penggunaan para abl perpajakan, keuangan negara, hukum, ekonomi, akuntan dan teknisi-teknisi lainaya dalam usaha memacukkan uang pajak, namun yang menjadi dasar dori semua fungsi tersebut, adalah terutama penciptaan “iklim perpajakan* (Fax climate) yang sehat. Iklim perpajakan itu Kanaae Paraajalan sendiri adalah suatu faktor yang tidak beracujud (intangible factor) dalam: keseimbangannya antara wsaha bertouan wytuk tidak mennbayar pajak (ax resistance) dan kesadaran sevtakepatuban rmemenuli kewajiban perpajakan (hax compliance) Menurut pengamatan Norman D.Nowak, peningkatan penerimaan pajak akibat verifikasi aparat perpajakan, aktivitas para ahli hukum, pare akuntan serta tekist lainnya dan keputusan peradilan pajek, biasanya hanya merupakan tiga sampat lima persen dari seluruh penerimaan pajak, sedang sisanya sebesar sembilan puluh lima persen adalah hasil dari pengembangan ikiim perpajakan. Misi utama dari instansi pajak adalah men- Bahan dengan hak cipta aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Manajanien Persajalinn Sebaliknya dari sudut pandangan perusahaan yang mengeluarkan biaya tersebut, secara komersial merupakan biaya yang dapat dikurangkan dari penghasian perusahaan, tetap! bberdasarkan pasal 9 ayat (1) huruf @ Undang undang Pajak Penghasilan merupakan biaya vyang tidak boleh dikurangkan, Apabila pemberian dalam bentuk natura dan kenikmatan, seperti dokter dan obat misalnya, dlubah menjadi tunjangan kesehatan, maka berdasarkan pasal 4 ayat (1) huruf Undang-undang Pajak Penghasilan, tunjangan Kesehatan yang diberikan dalam bentuk uuang tersebut merupakan penghasilan yang ekan dipajaki, dan di lain pihak berdasarkan pasal 6 ayat (1) huruf 2 bigya tunjangan kesehatan tersebut dapat dikurangkan dari penghaslan bruto perusahaan, sepert terihat pada tampilan benkut in: 76 ‘Tampilan 34 — — — —— — — — —— —— Sobagai ilustrasi, dalam rangka pemsliharaan kerehatan para pegawai harian lepas atau telap yang bekerja di pabrik yang berjumlah 1000 orang, Perusahaan A menyediakan dokter dan pemberian obat-obatan dengan cuma-cuma untuk seluruh pegawainya, termasuk ongkos melahitkan berjumlah Rp 180.000.000,00 setahun atau rata-tate biaya untuk pemeliharaan kesehatan setigp pegawai setiap bulannya berjumlah 1/72 x (180.000.006,00 : 1000) = Rp 15.000,00 atau sama dengan Rp 500,00 per orang per hac + Oleh karena biaye tersebut merupakan biaya fiskal yang tidak boleh dikurangkan, maka akibat koreksi fiskal yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajak, akan ada tambahan pajak sebesar 30% x Rp 180,000,000,00 = Rp 54.000.000,00 Untuk menghindarkan koreksi fiskal tersebut, penyediaan dokter dan pemberian obat dengan cuma-cuma tersebut, diganti dengan tunjangan kesehatan yang merupakan penghasilan pegawal yang hercangkutan yang akan dipajaki (axxble) serta di lain pihak, bagi Perusahaan A junlah Rp 180.000.000,00 tersebut merupakan biaya yang boleh dikurangkan (deductible) Perhitungan Pajak Penghasilan terutang setelah diubah menjadi tunjangan Kesehatan dapat terlihat pada Tampllan 2-5. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Manajamen Peroajalan 80 3, Sebarkan penghasilan menjadi penghasilan dari beberapa wajib pajak, seperti pembentukan grup-guup perusahaan, 4, Sebarkan penghasilan menjadi penghasilan beberapa tahun untuk mencegah penghasilan tersebut termasuk dalam kelas penghasilan yang tarifnya tinggi dan tunds pembayaran pajaknya, seperti penjualan cicilan,kredit, dan seterusnya, Transformasikan penghasilan biasa menjadi “capita! gain” jangka panjang, 6 Ambil keuntungan sebesar-besarnya dari ketentuan-ketentuan mengenal Pengecualian dan potengan-potongan. 2. Pargunakan uang dari hasil pembebasan pengenaan pajak untuk keperluan perluasan perusahaan yang mendapatkan kemucahan-kemudahan. 8, Pilihiah bentuk usaha yang terbaik untuk operasional usahanye. 9. _Dirikanlah perusahaan dalam satu jalur usaha sedemikian rupa, sehingga dapat diatur secara keseluruhan penggunaan taxi pajek, potenst menghiasilkan, keruglan- kerugian dan asetyang dapat dihapus, Petunjuk-petunjuk ini hanyalah merupakan pengantar saja tentang ide-ide dan tehnik-teknik perencanaan pajak, begitu juga interakst dengan undang-undang pajak yang menyangkut pokok-pokok umum pendekatan internal dan alternatif-alternatif ‘yang dapat mengarahkan pada peminimalan beban pajak Keahlian dalam bidang perencanaan pajak hanya akan didapat dengan cara berkesinambungan mendalami dan mempelajari masalah-masalahnya serta beikesinambungen melekukan peneltian-penelitien, kerene perencanaan pajak ie seni pada hakikatnya merupakan hasil penelitian yang didesain untuk suatu kejadian atau ‘ransaksi-transaksi yang akan terjaci. Perencanaan pajak meliputi penstrukturan fakta yang harus dilakukan secara berhati-hati sebelum peristiwanya terjadi ‘Oleh karena itu, lngkah pertama yang herus diambil adalah mempelgjari ape sesungguhnya yang menjadi permasalahannya. Mungkin saja ada keinginan untuk mencapai tujuan perusahaan dengan pengeluaran pajek yang paling minimal atau berupa keuntungan bebas pajak melalui tindakan-tindakan atau persyaratan tertentu. Sekali sudah ditentukan mazalahaya, hendaknya diusahakan agar diperoleh data sebanyak mungkin berkenaan dengan permasalahan tersebut untuk selanjutnya diteliti fakta-fakta yang relevan, kemudian fakta apa yang harus diperoleh lagi atau asumsi-asumsi yang harus disusun dan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan mana yang sesuai dengan situas’ yang semacam ita 35.5 Faktor Pajak Faktor pajak yang terlibat dalam setiap situast sangat terbatas sekali dan apabila misalnye diinginkan suatu beban pajak penghasilan yang efisien, maka harus: aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Dari tabel berikut ini, dapat diambil kesimpulan bahwa peitimbangan tarif marjinal merupakan hel yang penting dalam menentukan altematif-alternatit yang membawa dampak adanya kenaikan penghasilan kena pajak. Sebagai contoh kenaikan penghasilan melampaui Rp 50.000.000,00 akan menempetkan seorang wajib pajak dan tarif marjinal sebesar 10% menjadi 15%. Begitu juga kensikan penghasilan melampaui jumniah Rp 100.000.0000 akan menempatkan seoreng wajib pajak dari tarif mayjinal sebesar 15% menjadi 30% yang batas-batasnya terlihat dengan gatis horizontal pada Tampilan 3-10. ‘Tampilan 310 ‘Apabila beban pajek tersebut dilhat secara keseluruhan, maka pertimbangan tarif rata-rata akan lebih memuaskan daripada pertimbangan tarif marjinal. Dari tabel berikut ini ternyata bahwa lonjakan terif rata-rata hanya terjadi pada setiap kenaikan tarit marjinal dan semakin jauh dati batas kritis tersebut, kenaikan tarif rata-ratanya semakin menjadi kecil Hal ini menunjukkan bahwa di luar batas-batas krisis tersebut, sebaiknys memerhatikan taf rata-rata dan bukan tari merjinal. 5 Bahan dengan hak cipta aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Manajamen Peroajalan eB Pemahat, pelukis, dan seniman ainnya. Olahragawan. Penasihat, pengajar, pelatih, penceramah, penyuluh, dan moderator; Pengarang, peneit can penteremah, Pemberi jasa dalam segala bidang termasuk teknik, komputerdan sistem aplikasinya, telekomunikasl, elektronika, fotografi, ekonomi, dan sosia Agen iklan Pengawas, pengelola proyek, anggota dan pemberi jasa kepada statu kepanitaan, peserta sidang atau rapat, dan tenaga lepas lainnya dalam segala bidang kegiatan, 10. Pembawa pesanan ateu yang menemukan langganan 11. Peserta perlombaan. 12, Petugas penjaja barang dagangan. 15, Petugas dinas luar asurans. 14, Peserta pendidikan, pelatihan, dan pemagangan, bukan pegawai tetap bukan sebagai calon pegawai 15. Distibutor perusahaan maultileve! marketing atau direct sling dan kegiatan sejenis lainnya, { — gaii, gaj! kehormetan, dan tunjangan-tunjangan lain yang terkalt dengan gaj dan honorarium atau imbalan lain yang bersifat tidak tetap yang diterima oleh Pejabat Negara, Pegawai Negeri Sipil serta uang pensiun den tunjangan: tunjangan lain yang sifatnya terkait dengan uang pensiun yang diteima oleh pensiunan termasul janda atau duda dan atau anak anaknya. Soal Demenstrasi Dr. Dis Mozaza., Ak. Reg.Neg.D-239 adalah seorang Akuntan kelehiran Pulau Panggung (Padang Guci), Bengkulu Selatan yang menyelesaikan pendidikan Akuntannya pade Sekolah Tinggi llmu Keuangan Negara (STIKN), Departemen Keuangan, yang kemudian memperdaiam masalah perpajakan pada Institute for Tax Administration, University of Southern California, Los Angeles USA dan menyslesaikan pendicikan $3-ayadi UNPAD Bandung, saat ini adalah Direktur Keuangan pada PT ABUNIDAL. Dr Mozaza menikah dengan E.SAugustine di akhir tahun 200(X-5) dan pada tanggal 23 November 200(X: 3) kedua pasangan suamt istri tersebut dikarunia seorang puter) dan diberi nama tke Ellizaria. Pada tanggal 18 Januari 200X Dr Mozaza dikaruniai lagi seorang putera dan pada saat yang bersamaan istri tercintanya meninggal dunia. Anaknya kemudian diberi ama Mohammad Yatim. Selain itu, di rumahnya juga tinggal seorang keponakannya yang masih kuliah di Fakultas Ekonomi UNPAD yang menjadi tangguagannye sepenuhnya, aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. ‘Tampilan 348 (Lanjuten) Pemilinan Altematif Peibandingan antara gail dibawa pulang (tuke home puy), blaya komersial dan biaya fiskal atas pembayaran gaji Mozaza. merupatan faktor-faktor yang menjadi pertimbangan dalam rangka pemilihan altematiftersebut ‘Tampilan 319 > Bahan dengan hak cipta aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Manajamen Peroajalan a Akibat adanya penyesuaian besarnya PTKP tahun 2006, maka secara tidak langsung telah mengeliminir PPh Ditanggung Pemerintab. Berdasarkan hal tersebut, maka dalam menghitung PPh pasal 21 tahun 2006 “tidak diperlukan lagi’ pethitungan besarnya PPh Ditanggung Pemerintah, b Akibat adanya penyesuaian besarnya PTKP menjadi ip 13.200.000,00 setahun untuk diti Wajib Pajak maka orang pribadi yang memperoleh penghasilan sampai dengan Rp 1.100000,00 sebulan belum memiliki kewajiban untuk mendaftarkan iti cuna memperoieh NPWP © Akibat adanya penyesuaian besamya PTKP tersebut akan meringankan beban pajak bagi keryawan yang PPh-nya dipotong dari gaji, sehingga Take Home Pay yang diterima menjadilebih besar: 4 Bagi perusahaan yang memberikan tunjangan PPh pasal 21 kepada karyawannya, penyesuaian besarnya PTKP tersebut akan mengurangi beban perusahaan dan akan meningkatkan laba yang ciperoleh perusahaan. 3.5.10 Biaya Fiskal Pasal-pasal yang harus mendapet perhatian seorang perencana pajak dalam mendesain perencanaan pajaknya, sepanjang yang menyangkut biaya, adalah pasal 6 dan pasal 9 Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2000, yang berbunyi sebagai berikut Pasal 6 96 (1). Besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usahe tetap, ditentukan berdasarkan penghasilan brute dikuranai: a) biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan, termasuk biaya pembelian bahan, biaya berkenaan dengan pekerjaan atau jasa termasuk upah, gai, henorarium, bonus, gratifkast, dan tunjangan yang diberikan dalam bentuk wang, bunga, sew, royalti, biaya perjalanan, biaya pengolahan limbah, premi asuransi, biaya ecministrasi, dan pajak, kecuali Pajak Penghasilan; b) penyusutan atas pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud dan amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh hak dan atas bisya lain yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 dan Pasal 1A; © juran kepada Dana Pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menter Keuangan; @)_kerugian arena penjualan atau pengalihan harta yang dimiliki dan digueakan dalam perusahaan atau yang dimiliki untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan; aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. 2). Pengenaan pajak penghasian secara berganda, baik atas laba bruto usahe maupun penghasilan dari pembagian keuntungan (dividen) kepada para pemegang sahamaya. 3) Kesempatan untuk dapat menunde pengenaan pajak pada tarif pajak penghasilan lebih kecil/besar apabila dibandingkan clengan kesempatan yang terdapat pads ‘arif pajak penghasilan dan akumulasi penghasilan perusahaan, 4) Adanya ketentuan-ketentuan mengenai kerugian hasil usaha neto {kompensasi kerugian) dan kredit investasi yang berlaku bagi bentuk usaha tertentu. 5) Kemungkinan pengajuan perlakuan khusus tethadap pajak atas akumulast laba, pajak atas penghasilan personal folding company dan seterusnya. 6) Liberalisasi ketentuan-ketentuan yang mengatur fringe benefit dan/atau payment! in Kind. 3.6.1. Pilihan antata Wajib Pajak Badan atau Wajib Pajak Orang Pribadi Selanjutnye mengenal pengenaan pajak penghaslian secata bergancla, suatw keanggulan lain dari bentuk usaha wajib pajak orang pribadi bahwa selain adanya Penghasilan Tidak Kena Pajak maksimum Rp 13.000.000,00 setahun (kawin dengan tiga tanggungan), juga berkenaan dengan tidak dikenakannya pajak ganda atas penghasllan dari satu sumber, sepertiterlihat pada Tampilan 3-21. ‘Misalkan Penghasilan Neto setahun adalah sebesar Rp 258.640.000,00 (1) Apabila usaha tersebut berbentuk Viajib Pajak orang pribadi atou Wajib Pajak badan, maka besamnya PPh terutang beserta selisinnye adelah: ‘Fampilan 3-21 ———— 100 Bahan dengan hak cipta aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Manajamen Peroajalan laporan keuangan yang dipersiapkan untuk keperluan pasar modal atau keperluan instansi lainnya seperti bank dan lembaga kevangan lainnya. Hal ini mencakup pula laporan keuangan yang diperuntukkan untuk pengisian Surat Pemberitahuan Pajak Penghasilan, yang tentunya akan berbeda dengan laporan keuangan yang dipersiapkan untuk kepesluan para penanam modal atau pihak ketiga lainnya. Sesungguhnya, peibedaan tersebut tidak saja disebabkan olzh siapa pemakainya, ‘tetpi juga tergantung kepada metode apa yeng digunakannye, apakah metode akunting yang bersifat umum atau prosedur akunting yang bersifat spesifik untuk setiap keadaan Misalnya, laporan keuangan yang didasarkan pada stelsel kas (cnstt basis) akan berbeda dengan laporan keuangan yang disusun berdasarkan stelsel akrual (accrual basis), walaupun disusun dalam periode yang sama dengan komponen-komponen pethitungan taba rugi yang sama pula, Selain itu, walaupun laporan kevangan ‘ersebut telah disusun sama-sama berdasarkan stelsel kas/stelsel akrual, namun hasilnya tetap menunjukkan perbedearrperbedean, selama mesing-mesing laporan keuangen tersebut menggunakan, misalnya, prosedur penyusutan yang berbeda atau penllaian peisediaan yang berbeds dan seterusnya, sehingga dapatlah dlipastikan bahwa penghitungan laba menurut akuntansi ‘akan sanget berbeda dengan penghitungan penghasilan (laba) menurut fiskus yang menjadi dasar untukmenentukan besarnya pajak penghasilan yang terutang, 3.7.2 Metode Akunting Pada dasamya ada dua metode akunting yang prinsipil, yang disebut: 1) Prinsip penerimaan dan pengeluaran kas (the cash receipt and disbursement method atau disedut metode"casH basis 2) Prinsip atau metode akrual (hte «ecru! method) atau disebut metode “akiual basi Cara pembukuan dengan menggunakan metade aisit sis adalah cara membukukan penghasilan pada saat diterimanya penghasilan tersebut dan mengurangkan pengeluarannya pada saat pengekiaran tersebut dibayat Yang dimaksud dengan penghasilan di sini adalah semua penghasilan bruto yang diterima dalam tahun tersebut, baik yang kas maupun yang setare kas, sedangkan pengeluaran yang boleh dikurangkan adalah semua pengeluaran dalam tahun yang sama, baik kas maupun setara kas sepanjang pengeluaran tersebut secara fiskal dapat dikurangkan sebagai pengurangan, Sementara itu, yang dimaksud dengan setara kas (cash equivalent), pada dasarnya merupakan konsep tentang transaksi sion-rash asset yang menghendaki agar ion~ashe asset tersebut dinilai sebesar nilai pesar yang berlaku terhadap non-cush asset yeng dimeksud pada saat terjadinya tansaksi tersebut, atau dengan perkataan lain, atas transaksi pertukaran jasa yang bersifat ron-cash asset, pada saat transaksi tersebut terjadi, sudah dianggap sebagai penerimaan yang telah direalisit aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Manajamen Peroajalan 108) (2) Kerugan penggunaan natin business year, 38 a 2 4 5) 2.1. Of tahun-tahun pertama setelah perubahan periode akunting, akan terdapat kesulitan dalam angka-angka untuk keperluan studi perbandingan, 22. Apabila anggota industri jenis lainnya menggunakan_periode akunting yang betbeda-beda, maka akan terdapat kesulitan membandingkan hasiinys dengan industri sjenis tersebut, KESIMPULAN Beberapa cara dapat ditempuh dalam melakukan perencanaan pajak dalam rangke memanajemeni pajak. sebagai usaha untuk mengefsienkan beban pajak melalui pethindaran pajak (tax aecidance) dan penghematan pajak (tex saving), tetapt tidak melalui penyelundupan pajak (tx cnsion) yang tidak dapat dltolen oleh fiskus. Perencanaan pajak tidak akan dapat disusun tanpe didahului dengan penelitan yang mendalam mengenal masalahny untuk kemudian distruktur s2suai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, setelah mempertimbangkan faktor on-tox lainnya dan faktor keunggulan dan kekurangannya untuk jangke waktu yang relatif panjang, Faktor bentuk usaha, metode akunting, periode akunting, dan pemahaman yang dimeksud dengan penghasilan dan blaye sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, merupakan faktor yana sangat berperan dalam mendesain perencenaan pajak. Pemantauan sikap dan tindakan aparat perpajakan dalam melaksanskan undang undeng (law-enforcement) dan secare terus menerus mengikut perkembangan perubahan ketentuan peratuan perundang-undangan perpajakan, merupakan hal yang mutlak dilaksanakan dan dipelajari dengan tujuan agar dengan segera dapat diiakukan perubahan perencanaan pajak apabile desain yang lama sudah tidak sesuai lagi dengan ketentuan baru tersebut serta kemungkinan muneulnya keuntungan fskal akibat perubahan tersebut Suatu perencanaan pajak yang efestif tidak tergantung kepada seorang ahli pajak yang profesional, akan tetapi sangat tergantung kepada kesadaran dan keterlibatan pare pengambil keputusen tethadap adanya dampak pajak yang melekat pada setiap aktivitas perusahaannya, aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Manajemen Perpajakan ‘Tampilan 42 Inti peisoalan tersebut jelas memperihatkan bahwa pengetahvan dasar yang mutlak harus diketahui guna penghitungan pajak terutang adalah subjek pajak, objek pajak tarf, dan dasar pengenzan pajak dari masing-masing jenis pajak. Eahkan, sesungguhnya pengetahuan dasar tersebut tidak sebatas perundang-undangan saja, tetapl juga harus dipelajari ketentuan yang terdapat dalam Peraturan Pemerintah, Keputusan Presiden, Keputusan Menteri Kevangan, Keputusan atau Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak yang pada dasarnya merupakan petunjuk pelaksanaan, dan bahkan terkadang disertal pula dengan cara-cara menghitung pajak terutang, 4.3 SISTEM SELF-ASSESSMENT Sistem p assessment), yaitu ketctapen pajak yang ditetapkan olzh wajib paiak sendiri yang dilakukannys dalam Surat Pemberitaluan (SPT). Menurut Carl S. Shoup, sistemselfassessment merupakan tipe ke-6 dari tipe administrasi perpajakan yang selanjutnya mengungkapkan pula bahwa tipe administrasi perpajakan banyak ditantukan olch bontuk kerja sama atau tingkat partisipasi wajib pajak atau pemotong/pemungut pajak dan respons wajib pajak terhadap pengenaan pajak tersebut. Dalam tipe ke-6 in’ wajib pajak mendapat beban yang beat, Karena wajib pajak harus melaporkan semua informasl yang relevan dalam Surat Pemberitahuannya, menghitung dasar pengenaan pajaknya. mengalkulasi jumiah pajak yang terutang dan melunasi pajak yang terutang atau mengangsur jumlah pajak yang terutang. Bersamaan dengan itu wajib pajak memperoleh pula kesempatan yang luas untuk melakukan penyclundupan, baik secara unilateral yaitu dengan cara memberikan informasi yang palsu atau menunda pembayaran, maupun secara bilateral yaitu dengan caia kolusi dengan petugas penetapan, pemeriksa dan penagih pajak dail jajaran Instanst pajak. Sanggahan dapat terjadi sejek saat wajtb pajak tersebut mengis! Surat Pemberitahuannya, dan sudah merupakan kewajiban bagi mereka untuk menjelaskan ‘atau mempertahankan hal-hal yang ditetapkannya dalam Surat Pemberitahuannye nungutan yang dianut Indonesia saat ini, ialah sistem menetapkan senditi (self aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. Manajenven Perpajakan 122) 4) Akuntansi hanya melaporkan informasi yang material. Demikian pula panerapan prinsip akuntansi tethadap suatu fakta atau pos tertentu mungkin tidak dilalzanakan jika hal ini tidak menimbulkan pengatuh yang material terhadap kelayakan laporan keuangan, 5) Laporan keuangen bersifat konservatif dalam menghadapi ketidakpastian; bila terdapat beberapa kemungkinan kesimpulan yang tidak pasti mengenai penilaian suatu pos, maka lazimnya dlplih altematif yang menghasitkan laba bersth atau nila aktiva yang paling kecl 6 Laporan keuangan lebih menekankan pada makna ekonomis suatu peristiwa/ ‘ransaksidaripada bentuk hukumanya formalits) 7) Laporan keuangan disusun dengan menggunakan ‘stilat-istilah teknis, dan pemakai laporan keuiangan diasumsiken memahami bahasa teknis akuntansi lan sifatinformasiyang dilaporkan, 8) Adanya berbegai alternatif metode akuntansi yang dapat digunakan menimbulkan variasi dalam pengukuran sumber-sumber ekonomis dan tingkat kesuksesan antarperusahaan. 9) Informasi yang bersifat kualltatif dan fakta yang tidak dapat dikualifikasikan umumnya diabailan, b. Laporan Keuangan Versi Ketentuan Peraturan Perundang- undangan Perpajakan Pada dasarnya antara akuntansi keuangan dengan akuntansi pajek memiliki kesamaan tujuan, yaitu untuk menetapkan hasil operasi bisnis dengan pengukuran dan rekognis! penghasilan den biaya, Namun ada beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian, bahwa ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan tidak sekadar instrumen pentransfer sumber daya, akan tetapi sering kali pula digunakan untuk tujuan memengaruhi perilaku wajib pajak untuk investasi Kesejahteraan dan lain-lain yang terkadang merupakan alasan untuk membenarkan penyimpangan dan prinsip akuntansi Beberapa prinsip akuntansi yang menjadi fokus perbedaan ovientasi adalah: Pengakuan Penghasilan dan Biaya Welaupun rekognisi penghasilan dan biaya antara standar akuntansi dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan hampir sebagian besar tidak terdapat perbedaan, akan terapi beberapa hal seperti pemberian dalam bentuk nacuralbenst in kind, bantuan atau sumbangan. hibah, dividen antarperusahaan (intercompany) divicen norma penghitungan atau pungutan yang bersifat final, merupakan hal-hal yang tidak objek pajak atau merupekan biaya fistal yang tidak dapat dikuranglan, yang diatur dalam posal 4 ayat (2) dan ayat (3), pasal 9 ayat (1) dan (2}, posal 14 Uncong:undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa Kali dlubah terakhit, aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. ‘Topas Additonal Fajak Jelas terlihat bahwa ketentuan ini dimaksudkan untuk mencegah wajib pajak yang menggunakan stelsel kas sebagai dasar pembukuannya, dari penundaan penerimaan tunai yang berarti juga menunda pajak penghasilannya untuk mengambil keuntungan dari*present valuc” dari nilai uang tersebut dan mengambil manfaat dari pengenaan pajak vyang rendah akibat dituncanye pelaporan penghasilan tersebut. Doktrin "constructive receipt" yang dimaksud, sedikit banyak mirip dengan pelaksanaan pembukuan dengan dasar stelsel akrual yang membukukan penghasilan tersebut sebagai penghasilan pada saat diperolehnya (bukan diterima tunai) penghasilan tersebut Keunggulan Stelsel Kas \Walaupun penggunaan stelsel kas akan mengakibatkan terbatasnya penguasaan wajib pajek terhadap penghesilan yang merupakan haknya, namun sebaliknya dengan menggunakan stelcel kas, wajib pajak dapat mangawasi dengan hampir sempurna ata semua pengeluaran yang dapat cikurangkan dari penghasilannya, Wajib Pajak tidak akan membukukan penghastlannya sebagai penghasilan sampal saat penghasilan tersebut benar-benar diterimany. Oleh karena ity, apabila wajib pajak tidak menginginkan penghasilan tersebut diterima dalam sustu tahun tertentu, maka vwalib pak capat menunéa melakukan penagihan terhadap pelanggan atau kinnya Sebaliknya, pengeluaran-pengeluaran wajib pajak tidak akan dikurangkan dari penghasilannya sampai saat pengeluaran tersebut benar-benar dibayar. Wajib Pajak yang mengounakan stelsel kas akan dapat melakukan seleksi terhadap taghan-tagihan pengeluaran yang akan dibayar pada akhir tahun atau menundanye sampei tahun depan, Sebagai tambahan, apabiia pada akhir tahun terclapat pengeluaran-pengeluaran yang mash harus dibayat, wai pajek dapat pula melakukan pembayaran lebih dulu etas pengeluaran tersebut dengan tujwan 2gar terdapat pengeluaran yang cukup beser dalam tahun yeng terkait, dan dengan clemikian dapat pula mengurangi beban pajaknya Kendala yang Terdapat pada Stelsel Kas Jarang sekali terjadi bahwa penerimaan dan pengeluaran kas yang benar-benar telah diterima dan telah dibayar tersebut, mencerminkan penghasilan yang sesungguhnya dari usaha tahun yang terkait Bahkan, hal yang sering terjadi adatah bahwa penghasilan yang dihitung berdasarkan stelsel kas ini memperlihatkan penghasilan yang jauh berbeda dengan penghasilan yang benat-benar merupakan penghasilan tahun yang bersangiutan, Apebila kita huang berhati-hati mengamatinya, maka penggunaan stelsel kas ini akan dapat mengakibatkan distorsi penghasilan dari tahun ke tahun. Kadang-kadang terjadi bahwa pembayaran pajak yang dilakukan dalam tahun yang bersangkutan aaa aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. aa You have either reached a page that is unavailable for viewing or reached your viewing limit for this book. 8) _Kreditpajak diatur dalam Pasal 20 Pasal 21, Pasal 22, Pasal 23, asal 24, Pasal 25. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Undang-undang Nomer 17 Tahun 2000. Termasuk dalam engertian tersebut di atas, juga beberapa pengertian atau petunjuk pelaksanaan yang