Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH INFORMED CONSENT DALAM TRANSAKSI TERAPEUTIK

MAKALAH INFORMED CONSENT


DALAM TRANSAKSI TERAPEUTIK

Dosen pengampuh: Sayektiningsih,SST,.MM

Disusun oleh:
Agung purnama p. (14.401.14.002)
Aris budiono (14.401.14.009)
Dannis syaifuddin (14.401.14.015)
Dewi irmayanti (14.401.14.021)
Evi komalasari (14.401.14.027)
Hidayatun aulia (14.401.14.034)
Kristinawati (14.401.14.040)

AKADEMI KESEHATAN RUSTIDA


PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN
KRIKILAN-GLENMORE-BANYUWANGI
2015/2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang informed
consent ini dengan baik meskipun banyak kurangan didalamnya. Dan juga kami berterima kasih
pada ibu sayektiningsih,SST,.MM. Dosen mata kuliah etika keperawatan akes rustida yang telah
memberikan tugas ini kepada kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta
pengetahuan kita Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat
kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan
usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak
ada sesuatu yang sempurna.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.
Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang
membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang
berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di masa depan.

Krikilan,25 Mei 2015

Penyusun
DAFTAR ISI

Halaman judul
Kata pengantar i
Daftar isi ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 latar belakang 1
1.2 rumusan masalah 1
1.3 tujuan 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Informed consent 3
2.2 Transaksi Terapeutik 5
2.3 Hubungan informed consent dan transaksi terapeutik 5
2.4 Peranan perawat dan Fungsi informed consent 8
2.5 Permaslahan yang mungkin muncul pada informed
consent dan transaksi terapeutik 10
2.6 Syarat-syarat Informed Consent 10
2.7 Bentuk-bentuk informed consent 11
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan. 13
3.2 Saran 14
DAFTAR PUSTAKA
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang


Sebagian besar keluhan ketidakpuasan pasien disebabkan komunikasi yang kurang
terjalin baik antara tim medis dengan pasien dan keluarga pasien.
Apakah para pasien perlu sepenuhnya dilibatkan dalam pengambilan keputusan
mengenai apa yang akan diperbuat dalam rangka pemeriksaan, pengobatan, dan perawatan
mereka? Apakah mereka harus selalu dimintai persetujuan atas apa yang akan dilakukan oleh
tenaga medis kepada mereka? Bukankan pelibatan dan permintaan persetujuan macam itu
malah akan menghambat rencana kerja? Apalagi, bukankah dengan datang kepada dokter
atau rumah sakit mereka telah mempercayakan diri mereka terhadap dokter dan tim
medisnya? Seberapa jauh pasien perlu diberitahu mengenai resiko dan keuntungan dari
langkah-langkah pengobatan dan tindakan-tindakan lain yang harus diambil demi pemulihan
kesehatannya?
Bagaimana dengan pasien yang kalau diberitahu toch tidak mengerti apa yang
dimaksud, atau pasien yang sengaja tidak mau tahu tentang keadaan dirinya yang sebenarnya
dan pokoknya dibuat enak badan, masih perlukah mereka diberitahu? Apakah dokter dan tim
medis lainnya wajib memberitahukan kemungkinann resiko yang akan terjadi dan alternatif
pengobatan yang bisa diambil terhadap pasien, atau hal itu hanya dapat diharapkan
berdasarkan kebaikan sang dokter? Itulah beberapa pertanyaan yang kadang muncul dalam
praktek pelayanan medis. Pertanyaan-pertanyaan tersebut erat kaitannya dengan apa yang
lazim disebut dengan informed consent. Oleh karena itu perlu kiranya kita mengetahui apa
itu informen consent.

1.2 Rumusan masalah


1. Apa pengertian informed consent?
2. Hubungan informed consent dengan transaksi terapeutik?
3. Bentuk-bentuk informed consent?

1.3 Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini untuk memenuhi tugas yang diberikan pada mata
kuliah Etika Dalam keperawatan, adapun tujuan lainnya yaitu:
1. Untuk mengetahui pengertian informed consent
2. Peranan informed consend
3. Informed consent dan transaksi terapeutik

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Informed consent


Informed consent adalah persetujuan individu terhadap pelaksanaan suatu tindakan,
seperti operasi atau prosedur diagnostik invasif, berdasarkan pemberitahuan lengkap tentang
risiko, manfaat, alternatif, dan akibat penolakan. Informed consent merupakan kewajiban
hukum bagi penyelengara pelayanan kesehatan untuk memberikan informasi dalam istilah
yang dimengerti oleh klien sehingga klien dapat membuat pilihan. Persetujuan ini harus
diperoleh pada saat klien tidak berada dalam pengaruh obat seperti narkotika.
Secara harfiah informed consent adalah persetujuan bebas yang didasarkan atas
informasi yang diperlukan untuk membuat persetujuan tersebut. Dilihat dari pihak-pihak
yang terlibat , dalam praktek dan penelitian medis, pengertian informed consent memuat
dua unsur pokok, yakni:
1. Hak pasien (atau subjek manusiawi yang akan dijadikan kelinci percobaanmedis) untuk
dimintai persetujuannya bebasnya oleh dokter (tenaga medis) dalam melakukan kegiatan
medis pada pasien tersebut, khususnya apabila kegiiatan ini memuat kemungkinan resiko
yang akan ditanggung oleh pasien.
2. Kewajiban dokter (tenaga riset medis) untuk menghormati hak tersebut dan untuk
memberikan informasi seperlunya, sehingga persetujuan bebas dan rasional dapat diberikan
kapada pasien.
Dalam pengertian persetujuan bebas terkandung kemungkinan bagi pasien untuk
menerima atau menolak apa yang ditawarkan dengan disertai penjelasan atau pemberian
informasi seperlunya oleh tenaga medis (Sudarminta, J. 2001).
Dilihat dari hal-hal yang perlu ada agar informed consent dapat diberikan oleh pasien
maka, seperti yang dikemukakan oleh Tom L. Beauchamp dan James F. Childress, dalam
pengertian informed consent terkandung empat unsur, dua menyangkut pengertian informasi
yang perlu diberikan dan dua lainnya menyangkut perngertian persetujuan yang perlu
diminta. Empat unsur itu adalah: pembeberan informasi, pemahaman informasi, persetujuan
bebas, dan kompetensi untuk membuat perjanjian. Mengenai unsur pertama, pertanyaan
pokok yang biasanya muncul adalah seberapa jauh pembeberan informasi itu perlu
dilakukan. Dengan kata lain, seberapa jauh seorang dokter atau tenaga kesehata lainnya
memberikan informasi yang diperlukan agar persetujuan yang diberikan oleh pasien atau
subyek riset medis dapat disebut suatu persetujuan informed. Dalam menjawab pertanyaan
ini dikemukakan beberapa standar pembeberan, yakni:
a. Standar praktek profesional (the professional practice standard)
b. Standar pertimbangan akal sehat (the reasonable person standard)
c. Standar subyektif atau orang perorang (the subjective standard)
Munurut Permenkes No.585/Menkes/Per/IX/1989, PTM berarti persetujuanyang
diberikan pasien atau keluarganya atas dasar penjelasan mengenai tindakanmedik
yang akan dilakukan terhadap pasien tersebut. Dari pengertian diatas PTM
adalah persetujuan yang diperoleh sebelum melakukan pemeriksaan , pengobatan
atau tindakan medik apapun yang akan dilakukan.
Persetujuan tersebut disebut dengan Informed Consent Informed. Consent hakikatnya
adalah hukum perikatan, ketentuan perdata akan berlaku dan ini sangat berhubungan dengan
tanggung jawab profesional menyangkut perjanjian perawatan dan perjanjian terapeutik.
Aspek perdata Informed Consent bila dikaitkan dengan Hukum Perikatan yang di dalam
KUH Perdata BW Pasal 1320 memuat 4 syarat sahnya suatu perjanjian yaitu:
a. Adanya kesepakatan antar pihak, bebas dari paksaan, kekeliruan dan penipuan.
b. Para pihak cakap untuk membuat perikatan
c. Adanya suatu sebab yang halal, yang dibenarkan, dan tidak dilarang oleh peraturan
perundang undangan serta merupakan sebab yang masuk akal untuk dipenuhi.
2.2 Transaksi Terapeutik
Transaksi berarti perjanjian atau persetujuan yaitu hubungan timbal balik antara dua
pihak yang bersepakat dalam satu hal. Terapeutik adalah terjemahan dari therapeutic yang
berarti dalam bidang pengobatan. Ini tidak sama dengan therapy atau terapi yang berarti
pengobatan. Persetujuan yang terjadi di antara dokter dengan pasien bukan di bidang
pengobatan saja tetapi lebih luas, mencakup bidang diagnostic, preventif, rehabilitasi maupun
promotif, maka persetujuan ini disebut persetujuan terapeutik atau transaksi terapeutik.
Dalam bidang pengobatan, para tenaga kesehatan dan masyarakat menyadari bahwa
tidak mungkin tim medis menjamin upaya pengobatan akan selalu berhasil sesuai yang
diinginkan pasien / keluarga. Tim medis hanya dapat memberikan upaya maksimal.
Hubungan tim medis dengn pasien ini dalam perjanjian hukum perdata termasuk kategori
perikatan berdasarkan daya upaya / usaha maksimal (inspanningsverbintenis). Ini berbeda
dengan ikatan yang termasuk kategori perikatan yang berdasarkan hasil kerja
(resultaatsverbintenis). Yang terakhir ini terlihat dalam urusan kontrak bangunan, dimana bila
pemborong tidak membuat rumah sesuai jadwal dan bestek yang disepakati, maka pemesan
dapat menuntut pemborong.
2.3 Hubungan informed consent dan transaksi terapeutik
Hubungan yang terjadi antara tim medis dengan pasien secara umum dianggap
sebagai suatu jenis kontrak. Sebuah kontrak adalah kesepakatan antara dua orang atau lebih,
dimana kedua belah pihak membuat perjanjian untuk masing-masing pihak, menurut istilah
hukum, memberikan prestasinya. Masalah perjanjian diatur dalam Hukum Perdata.
Hukum perdata yang termuat di dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUH
Perdata) yang merupakan terjemahan dari Burgerlijk Wetboek yang telah mulai diberlakukan
sejak Tahun 1847. Walaupun falsafah dan materinya sudah banyak yang tidak sesuai lagi
dengan zaman, namun masih juga ada dasar-dasar pokok yang terdapat di bidang Hukum
Perjanjian yang masih dapat dipergunakan.
Sebagaimana diketahui Burgerlijk Wetboek memperoleh akarnya dari code civil. Dan
kalau kita melihat di luar negeri, ternyata dasar-dasar pokok perjanjian dari code civil masih
tetap dipergunakan terus. Dapat dikatakan bahwa dasar-dasar pokok code civil masih berlaku
secara universal, baik di Negara continental maupun Negara Anglo Saxon ada juga
pengaruhnya, sehingga ada kesamaannya.
Subyek-Subyek Kontrak Terapeutik
Subyek-subyek kontrak terapeutik adalah masalah yang terletak di bidang Hukum
Perdata. Kontrak terapeutik dapat digolongkan ke dalam kelompok kontrak atau perjanjian.
Namun hal ini tidaklah berarti bahwa kontrak terapeutik ini sama sekali tidak ada
hubungannya dengan Hukum Pidana. Karena bisa saja pasien atau keluarga yang merasa
dirugikan oleh suatu tindakan medik (gross negligence), menuntut dokternya berdasarkan
KUHP pasal 359 tentang kelalaian yang menyebabkan kematian. Atau berdasarkan KUHP
pasal 360 karena menyebabkan pasien sampai cacat tubuh berat (Zwaarlichamelijk letse).
Dalam konteks ini hanya dibahas segi perdatanya, yaitu yang ada sangkut pautnya dengan
informed consent yang merupakan syarat diambilnya suatu tindakan medik.
Pengaturan subyek-subyek dari suatu perjanjian pada umumnya, kontrak teraupetik
khususnya, diatur di dalam KUH Perdata. Hal ini membawa akibat, bahwa sah tidaknya suatu
perjanjian (kontrak terapeutik) harus diuji dan memenuhi syarat-syarat yang ditentukan di
dalam KUH Perdata pasal 1320 dan seterusnya. Namun jika ditinjau secara yuridis, maka
yang dapat menjadi subyek hukum dalam lalu lintas hukum termasuk juga mengadakan
kontrak terapeutik, hanya ada 2 dua bentuk yaitu :
Perorangan ( naturlijk persoon)
Setiap orang yang sudah dewasa (21) tahun, atau yang sudah menikah sebelunya, berhak
untuk membuat perjanjian, termasuk suatu kontrak terapeutik. Mereka yang di bawah
pengampunan (onder curatele) harus diwakili oleh walinya (curator)
Badan Hukum (rechtspersoon)
Badan-badan yang sudah diberikan izin untuk menyelenggarakan pemberian pelayanan
kesehatan dengan mendirikan rumah sakit, seperti : pemerintah, ABRI, yayasan yang sudah
ada pengakuan sebagai badan hukum, PT, atau badan hukum lainnya. Selain harus dipenuhi
persyaratan formal dan menyediakan peralatan tertentu, kepada badan-badan hukum yang
hendak mendirikan rumah sakit pun diharuskan mengadakan suatu Unit gawat darurat.
Di dalam suatu kontrak terapeutik secara yuridis terdapat 2 (dua) kelompok subyek-
subyek yang dinamakan :
1. Pemberi pelayanan kesehatan (health provider):
Umumnya yang diartikan sebagai pemberi pelayanan kesehatan adalah semua tenaga
kesehatan (tenaga medis, paramedis perawatan dan tenaga kesehatan lainnya) yang terlibat
secara langsung dalam pemberian jasa perawatan dan pengobatan (cure and care). Termasuk
juga sarana-sarana kesehatan, seperti rumah sakit, rumah bersalin, klinik-klinik serta badan
atau kelompok lain yang memberi jasa tersebut.
2. Penerima pelayanan kesehatan (health receiver):
Setiap orang yang datang ke rumah sakit untuk menjalani prosedur tindakan medik
tertentu, lazim disebut sebagai pasien, walaupun ia sebenarnya atau mungkin tidak sakit
dalam arti umum. Atas dasar penafsiran itu, maka dapat dibedakan antara :
3.Pasien dalam arti yang benar-benar sakit, sehingga secara yuridis ada perjanjian terpeutik
dengan tim medis/ rumah sakit.
Kesehatan merupakan salah satu modal untuk berlangsungnya kehidupan manusia.
Produktivitas dan aktivitas seseorang dipengaruhi oleh kondisi kesehatan orang tersebut.
Kesehatan memberikan pengaruh dalam semua sektor kehidupan. Sebagai contoh dalam
suatu kegiatan ekonomi jika seorang pegawai pabrik rokok dalam kondisi kesehatan yang
baik, maka dia akan dapat memberikan hasil sebanyak 500 linting rokok, namun jika dalam
kondisi kesehatan yang tidak baik, maka produktivitas orang tersebut akan menurun.
Demikian juga dalam sektor pendidikan seseorang dengan kondisi kesehatan yang baik dapat
menerima pelajaran jauh lebih baik, daripada dia berada dalam kondisi sakit. Contoh-contoh
tersebut menunjukkan bahwa kesehatan memberikan pengaruh yang besar sekaligus
penunjang dalam sektor-sektor kehidupan manusia.
Kesehatan yang dimiliki seseorang tidak hanya ditinjau dari kesehatan fisik semata.
Kesehatan seseorang bersifat menyeluruh, yaitu kesehatan jasmani dan rohani. Kesehatan
juga merupakan salah satu faktor penentu tingkat kesejahteraan seseorang. Hal tersebut di
atas dapat kita lihat pada Undang-undang Dasar 1945 amandemen Pasal 28H ayat (1) yang
berbunyi:setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin bertempat tinggal, dan
mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan
kesehatan..
2.4 Peranan perawat dan Fungsi informed consent
Perawat sangat berperan dalam pelaksanaan informed consent yaitu berfungsi sebagai
advocator pasien dan sumber informasi (communicator ) bagi pasien selama fase perawatan
di rumah sakit, tetapi pada kenyataanya, pelaksanaan informed consent di indonesia sampai
saat ini belum terkoordinasi, karena terdapat kesenjangan dalam pelaksanaanya, Fenomena
yang terlihat sekarang ini adalah bahwa perawat belum melaksanakan informed consent
secara optimal sesuai dengan standar praktik keperawatan, seolah-olah perawat tidak
mempunyai wewenang dalam pelaksanaan informed consent (Suhaemi,2004)
A.Hal-hal yang harus dijelaskan oleh dokter dan perawat terkait informed consent:
1. Tentang tujuan dan prospek keberhasilan tindakan medis yang ada dilakukan (purhate of
medical procedure)
2. Tentang tata cara tindakan medis yang akan dilakukan (consenpleated medical procedure)
3. Tentang risiko (risk inherene in sual medical procedures)
4. Tentang risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi
5. Tentang alternatif tindakan medis lain yang tersedia dan risiko risikonya (alternative
medical procedure and risk)
6. Tentang prognosis penyakit, bila tindakan dilakukan
7. Diagnosis
B.contoh Informed Consent secara Tulis dan Lisan
l Contoh Informed Consent secara Tertulis
Persetujuan Tertulis, biasanya diperlukan untuk tindakan medis yang mengandung risiko
besar, sebagaimana ditegaskan dalam PERMENKES No. 585/Men.Kes/Per/IX/1989 Pasal 3
ayat (1) dan SK PB-IDI No. 319/PB/A.4/88 butir 3, yaitu intinya setiap tindakan medis yang
mengandung risiko cukup besar, mengharuskan adanya persetujuan tertulis, setelah
sebelumnya pihak pasien memperoleh informasi adekuat tentang perlunya tindakan medis
serta risiko yang berkaitan dengannya (telah terjadi informed consent).
Menurut Katz & Capran, fungsi informed Consent :
promosi otonomi individu.
Proteksi terhadap pasien dan subjek.
Menghindari kecurangan, penipuan dan paksaan.
Mendorong adanya penelitian yang cermat.
Promosi keputusan yang rasional
Menyertakan publik.

Semua tindakan medik/keperawatan yang akan dilakukan terhadap pasien harus


mendapat persetujuan.
Persetujuan :
Persetujuan ; Tertulis maupun lisan.
Persetujuan diberikan setelah pasien mendapat informasi yang adekuat.
Cara penyampaian informasi disesuaikan dengan tingkat pendidikan serta kondisi dan
situasi pasien.
Setiap tindakan yang mengandung risiko tinggi harus dengan persetujuan, selain itu
dengan lisan.
C.Dasar Hukum dan Informed Consent Keperawatan
1. Dasar hukum informed consent
UU No. 32 Tahun 1992 tentang Kesehatan
Peraturan Pemerintah No. 32 Tahun 1998 Tentang tenaga Kesehatan
Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 159 b/Menkes/SK/Per/II/1998 Tentang RS
Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 749A/Menkes/Per/IX/1989 tentang Rekam medis/
Medical record
Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 585/Menkes/Per/IX/1989 Tentang Persetujuan
Tindakan Medis
Kep Menkes RI No. 466/Menkes/SK dan standar Pelayanan Medis di RS
Fatwa pengurus IDI Nomor: 139/PB/A.4/88/Tertanggal 22 Februari 1988 Tentang
Informed Consent
Peraturan Pemerintah RI Nomor 18 Tahun 1981 Tertanggal 16 juni 1981Tentang Bedah
Mayat Klinik dan Bedah Mayat Anatomis serta Transplantasi Alat dan/atau Jaringan Tubuh
Manusia.

2.5 Permaslahan yang mungkin muncul pada informed consent dan transaksi terapeutik
1. Penolakan tindakan dapat dilakukan dan atau keluarga terdekat setelah mendapat penjelasan
pernyataan.
2. Persetujuan yang di batalkan.
3. Pemberian persetujuan tindakan tidak menghapus tanggung gugat.
4. Kelalailan dalam melakukan tindakan yang mengakibatkan kerugian.

2.6 Syarat-syarat Informed Consent


Hakim Cardozo (King, 1977) menyatakan bahwa setiap manusia dewasa dan
berpikiran sehat mempunyai hak untuk menetukan hal yang dapat dilakukan terhadap
tubuhnya
Menurut Beauchamp bahwa informed consent dilandasi oleh prinsip etik dan moral
serta otonomi pasien.
Suatu informed consent baru sah diberikan oleh pasien jika memenuhi minimal 3 (tiga)
unsur sebagai berikut :
1. Keterbukaan informasi yang cukup diberikan oleh dokter
2. Kompetensi pasien dalam memberikan persetujuan
3. Kesukarelaan (tanpa paksaan atau tekanan) dalam memberikan persetujuan.
2.7 Bentuk Informed Consent
Ada dua bentuk informed consent (Febiyanti Rizky, 2011)
1. Implied constructive Consent (Keadaan Biasa)
Tindakan yang biasa dilakukan , telah diketahui, telah dimengerti oleh masyara umum,
sehingga tidak perlu lagi di buat tertulis misalnya pengambilan darah untuk laboratorium,
suntikan, atau hecting luka terbuka.
2. Implied Emergency Consent (keadaan Gawat Darurat)
Secara umum bentuk persetujuan yang diberikan pengguna jasa tindakan medis (pasien)
kepada pihak pelaksana jasa tindakan medis (dokter) untuk melakukan tindakan medis dapat
dibedakan menjadi tiga bentuk, yaitu :
a) Persetujuan Tertulis, biasanya diperlukan untuk tindakan medis yang mengandung resiko
besar, sebagaimana ditegaskan dalam PerMenKes No. 585/Men.Kes/Per/IX/1989 Pasal 3 ayat
(1) dan SK PB-IDI No. 319/PB/A.4/88 butir 3, yaitu intinya setiap tindakan medis yang
mengandung resiko cukup besar, mengharuskan adanya persetujuan tertulis, setelah
sebelumnya pihak pasien memperoleh informasi yang adekuat tentang perlunya tindakan
medis serta resiko yang berkaitan dengannya (telah terjadi informed consent)
b) Persetujuan Lisan, biasanya diperlukan untuk tindakan medis yang bersifat non-invasif dan
tidak mengandung resiko tinggi, yang diberikan oleh pihak pasien
c) Persetujuan dengan isyarat, dilakukan pasien melalui isyarat, misalnya pasien yang akan
disuntik atau diperiksa tekanan darahnya, langsung menyodorkan lengannya sebagai tanda
menyetujui tindakan yang akan dilakukan terhadap dirinya. Tujuan Informed Consent:
1. Memberikan perlindungan kepada pasien terhadap tindakan dokter yang sebenarnya tidak
diperlukan dan secara medik tidak ada dasar pembenarannya yang dilakukan tanpa
sepengetahuan pasiennya.
2. Memberi perlindungan hukum kepada dokter terhadap suatu kegagalan dan bersifat negatif,
karena prosedur medik modern bukan tanpa resiko, dan pada setiap tindakan medik ada
melekat suatu resiko ( Permenkes No. 290/Menkes/Per/III/2008 Pasal 3 ).
Perlindungan Pasien:
Perlindungan pasien tentang hak memperoleh Informed Consent dan Rekam Medis dapat
dijabarkan seperti dibawah ini: UU N0 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan Pasal 56
(1) Setiap orang berhak menerima atau menolak sebagian atau seluruh tindakan pertolongan
yang akan diberikan kepadanya setelah menerima dan memahami informasi mengenai
tindakan tersebut secara lengkap
(2) Hak menerima atau menolak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku pada:
a. penderita penyakit yang penyakitnya dapat secara
cepat menular ke dalam masyarakat yang lebih luas
b. keadaan seseorang yang tidak sadarkan diri; atau
c. gangguan mental berat

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Hak pasien yang pertama adalah hak atas informasi. Dalam UU No 23 Tahun
1992 tentang Kesehatan, pasal 53 dengan jelas dikatakan bahwa hak pasien adalah hak atas
informasi dan hak memberikan persetujuan tindakan medik atas dasar informasi (informed
consent). Jadi, informed consent merupakan implementasi dari kedua hak pasien tersebut.
Hak pasien tersebut merupakan bagian dari hak asasi manusia yang dilindungi Undang-
Undang.
Informed consent adalah suatu proses yang menunjukkan komunikasi yang
efektif antara dokter dengan pasien, dan bertemunya pemikiran tentang apa yang akan dan
apa yang tidak akan dilakukan terhadap pasien. Informed consent dilihat dari aspek hukum
bukanlah sebagai perjanjian antara dua pihak, melainkan lebih ke arah persetujuan sepihak
atas layanan yang ditawarkan pihak lain.
Peran perawat dalam informed consent terutama adalah membantu pasien
untuk mengambil keputusan pada tindakan pelayanan kesehatan sesuai dengan lingkup
kewenangannya setelah diberikan informasi yang cukup oleh tenaga kesehatan. Dasar filosofi
tersebut bertujuan untuk dapat memberikan pelayanan kesehatan yang terintegrasi sehingga
dapat mewujudkan keadaan sejahtera.
Definisi operasionalnya adalah suatu pernyataan sepihak dari orang yang
berhak (yaitu pasien, keluarga atau walinya) yang isinya berupa izin atau persetujuan kepada
dokter untuk melakukan tindakan medik sesudah orang yang berhak tersebut diberi informasi
secukupnya.
Secara umum, seorang tim medis diharuskan memperoleh suatu informed
consent (persetujuan medik) dari pasien sebelum melakukan pengobatan. Bahwa seorang
anak terlalu muda atau imatur untuk memberi persetujuannya sendiri tidak membebaskan
seorang dokter dari kewajibannya memperoleh suatu persetujuan medik.

3.2 Saran
1.Bagi Mahasiswa
Diharapkan mampu memahami tentang bagaimana pemberian informed
consent pada pasien agar dapat meningkatkan kesehatan di masyarakat.
2.Bagi Institusi
Diharapkan dapat memberikan penjelasan yang lebih luas tentang pemberian
informed consent pada pasien dan dapat lebih banyak menyediakan referensi-referensi buku
tentang etika dan hukum kesehatan.
3.Bagi Masyarakat
Diharapkan lebih mengerti dan memahami tentang pemberian informed
consent pada pasien untuk meningkatkan mutu kesehatan masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Muttaqin, Arif. 2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Pernapasan.
Jakarta: Salemba Medika
Manurung, Santa dkk. 2008. Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem
Pernapasan. Jakarta : Salemba Medika
Doenges, Marilyn.dkk. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC
Price, Sylvia Anderson. 2005. Petofisiologi: Konsep KLinis Proses-proses Penyakit. Jakarta:
EGC
Smeltzer, Suzanne C. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC
Kowalak, Jenifer P. 2011. Buku Ajar Patofisiologi. Jakarta: EGC
https://gadarbima.wordpress.com/2013/01/31/informed-consent-dalam-keperawatan/
http://hasyimsoska.blogspot.com/2013/12/informed-consent-dalam-transaksi.htmla