Anda di halaman 1dari 13

TUGAS MATA KULIHAH MIKRO EKONOMI ISLAM

FAKTOR, NILAI DAN MORAL PRODUKSI DALAM ISLAM

DISUSUN OLEH:

SAFARINDA IMANI 091614553014

MOH ARIFIN 091614553017

PASCA SARJANA SAINS EKONOMI ISLAM

UNIVERSITAS AIRLANGGA

2017
Faktor-faktor produksi dalam islam
Faktor produksi menurut konvensional dapat dibedakan ke dalam
empat golongan yaitu, tanah, tenaga kerja, modal dan keahlian.1
1. Modal
Modal menduduki tepat yang spesifik, dalam masalah
modal, ekonomi islam memandang harus bebas dari
bunga. Modal adalah barang-barang atau peralatan yang
dapat digunakan untuk melakukan proses produksi. Modal
menurut pengertian ekonomi adalah barang atau hasil
produksi yang digunakan untuk menghasilkan produk lebih
lanjut.
Modal dapat digolongkan berdasrkan suber,
bentuk,berdasarkan kepemilikan dan sifatnya:
a) Berdasarkan sumbernya, modal dapat dibagi menjadi
dua: modal sendiri dan modal asing. Modal sendiri
seperti setoran dari pemilik prusahaan, sementara
modal asing seperti modal yang berupa pinjaman
bank.
b) Berdasarkan bentuknya, modal dibagi menjadi modal
kongkrit dan modal abstrak. Modal kongkret adalah
rumah pribadi yang disewakan, sedangkan modal
abstrak adalah nama baik daan hak merk.
c) Berdasarkan kepemilikikannya, modal dibagi menjadi
modal indvidu dan modal masyarakat. Modal individu
adalah rumah pribadi yag disewakan dan modal
masyarakat seperti rumah sakit umum milik
pemerintah
d) Modal dibagi berdasarkan sifatnya, modal tetap dan
modal lancar. Contoh dari modal tetap yaitu mesin

1Rozalinda, Ekonomi Islam, Teori Dan Aplikasinya Pada Aktivitas Ekonomi


(Jakarta: Rajawali Pers, 2014), hlm. 112.
dan bangunan pabrik. Sedangkan contoh dari modal
lancar adalah bahan-bahan baku.
2. Tenaga kerja
Tenaga kerja manusia adalah segala kegiatan manusia baik
jasmani maupun rohani yang dicurahkan dalam proses
produksi untuk menghasilkan barang dan jasa maupun
faedah suatu barang. Tenaga kerja manusia dapat
diklasifikasikan menurut tingkatannya (kualitasnya) yang
terbagi atas:
a) Tenaga kerja terdidik (skilled labour) adalah tenaga
kerja yag memperoleh pendidikan formal maupun
non formal.
b) Tenaga kerja terlatih adalah tenaga kerja yang
memperoleh keahlia, berdasarkan latihan dan
pengalaman.
c) Tenaga kerja terdidik dan terlatih adalah tenaga kerja
yang mengandalkan kekuatan jasmani dari pada
rohani.
3. Tanah
Tanah adalah faktor produksi yang penting karena
mencankup semua sumber daya alam yang digunakan
dalam proses produksi. Ekonomi islam mengakui tanah
sebagai faktor ekonomi untuk dimanfaatkan secara
maksimal demi mencapat kesejaheraan ekonomi
masyarakat dengan memperhatikan prinsip-prinsipekonomi
islam. Al Quran dan as Sunnah dalam hal ini banyak
menekankan pada pemberdayaan tanah secara baik,
dalam pemanfaatan sumberdaya alam yang dapat habis
islam menekan agar generasi hari ini dapat
menyeimbangkan pemanfaatannya untuk generasi yang
akan datang.
4. Kewirausahaan
Faktor kewirausahaan adalah keahlian atau keterampilan
yang digunakan seseorang dalam mengkoordinir faktor-
faktor produk. Sumber daya pengusaha yang disebut juga
kewirausahaan berperan mengetur dan mengkombinasikan
faktor-faktor produksi dalam rangka meningkatkan
kegunaan barang atau jasa secara efektif dan efisien.
Pengusaha berkaitan dengan manajemen.
Sebagai pemicu proses produksi, pengusaha perlu memiliki
kemampuan yang dapat diandalkan untuk mengatur dan
mengkombinasikan faktor-faktor produksi. Pengusaha
harus mempunyai kemampuan merencanakan,
mengrgaisasikan, mengarahkan, dan mengendalikan
usaha.
Di dalam kerangka islam, faktor produksi dapat didefinisikan
menurut salah satu dari fungsi-fungsi berikut:2
1. Faktor produksi itu memberi jasa produktif yang tertentu
dan untuk itu ia berhak menerima imbalan yang tertentu
pula (yakni upah atau sewa). Kita sebut faktor produksi ini
sebagai hired factors of produktion atau HFP.
2. Atau faktor produksi itu dipakai untuk menanggung resiko
kewirausahaan dalam sebuah proyek, sehingga tidak
menerima upah atau sewa yang fixed. Kita sebut faktor
produksi ini sebagai entrepreneurial factors of
production.
Dalam islam, sumberdaya apa saja yang habis dalam proses
produksi hanya dapat dijual dipasar komoditas, tetapi islam
melarang uang diperlakukan sebagai komoditas yng dapat dijual.
Teori konvensional tidak melihat uang sebagai faktor produksi
melainkan memperlakukan sebagai barang dagangan.
Faktor produksi dalam islam dalam Entrepreneur Factors of
productions (EFP) diasumsikan sebagai pengusaha yang
melaksanakkan fungsinya sebagai berikut:

2M fahim khan diterjemahkan oleh suherman rosyidi, esai-esai


ekonomi islam (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2014), hlm. 153.
1. Mengambil keputusan tentang apakah berpartisipasi di
dalam atau memulai kegiatan produktif atau tidak.
2. Bersedia memikul resiko yang berhubungan dengannya.
Dengan kata lain, pengusaha tidak harus orang yang berbakat
khusus. Jika, seseorang mampu menjalankan suatu usaha yang
produktif dan menguntungkan, maka dia dapat mengambil
keputusan untuk memulainya dan siap menanggung resiko yang
timbul dari keputusan tersebut. Dengan demikian disebutlah dia
seorang pegusaha, walaupun dia tidak mempunyai kemampuan
dalam berorganisasi yang khusus seperti yang dinyatakan dalam
leteratur ekonomi. Kemampuan tersebut dapat dilakukan dengan
menawarkan ujrah kepada manajer atau eksekutif yang
berkopeten.
Fungsi kedua dalam pengambilan keputusan dan pemikulan
resiko dapat dikategorikan kedalam sumber daya manusia atau
sumber daya fisik dan sumber daya non fisik atau sumber daya
moneter. Penawaran EFP adalah kesediaan atau ketersediaaan
sumber-sumber ekonomi untuk memulai usaha produktif atau
memikul resiko yang timbul darinya. Permintaan FEP adalah
keterlibatan aktual sumber-sumber kewirausahaan di dalam
pekerjaan-pekerjaan kewirausahaan. Dengan kata lain,
perminaan dalam FEP mencerminkan tersedianya kesempatan
kewirausahaan untuk menggunakan FEP.
Hired Factors of Produktion (HFP) merupakan semua sumber
daya yang menwarkan jasa produkif tertentu untuk mendapatkan
imbalan tertentu. Semua sumberdaya modal fisik dapat masuk
dapat masuk dalam kategori ini selama hal tersebut tidak habis
dipakai dalam proses produksi, bahkan organisasi dan manager
dapan dimasukkan kepada kategri ini jika mereka jika mereka
bersedia memikul resiko kewirausahaan.
HEP dipekerjakan oleh EFP yang meliputi tanah, tenaga kerja,
barang modal fisik dan modal insani, namun tidak mencangkup
sumber-sumber moneter. HFP diperoleh dari sumber-sumber
yang juga dapat menjadi sumber daya kewirausahaan. Dengan
demikian, penawaran dan permintaan HFP berssaing dengan
penawaran dan permintaan EFP. Semua sumber daya harus
memilih HFP dan ujrah atau EFP dan laba.
Prilaku produksi dalam islam.
Muhammad berpendapat bahwa sistem ekonomi islam
digambarkan seperti bangunan dengan atap akhlak. Akhlak akan
mendasari bagi seluruh aktivitas ekonomi, termasuk aktivitas
ekonomi produksi. Akhlak merupakan item utama yang harus
diperhatikan bagi seorang muslim baik secara individu maupun
kelompok agar selalu berada pada bidang yang dihalalkan oleh
Allah dan tidak melampui batasan yang diharamkan.
Meskipun ruang lingkup yang halal sangat luas, akan tetapi
sebagian besar manusia sering dikalahkan oleh ketamakan dan
kerakusan . mereka tidak merasa cukup dengan apa yang
mereka dapatkan sehingga seringkali mengikuti hawa nafsu
tanpa melihat adanya suatu akibat yang akan meruska dan
merugikan orang lain. Tergiur dengan kenikmatan sesaat. Hal
inilah yang disebut sebagai perbuatan yang melampui batas,
yang demikian termasuk kategori orang-orang yang dhalim.
Seperti yang disebutkan dalam al Quran:

Barangsiapa yang melangar hukum-hukum allah mereka itulah


orang-orang yang dhalim. (Al Baqarah:229)
Seorang produsen muslim harus berbeda dari prdusen non
muslim yang tidak memperdulikan batasan halal haram dan
hanya mementingkan keuntungan semata, mereka tidak peduli
apakah produk yang diproduksi memberikan manfaat atau tidak,
memiliki nilai kebaikan atau tidak dan lain sebagainya. Berbeda
dengan seorang muslim yang selalu memperhatikan maslahah
dari produk tersebut, artinya tidak merugikan diri sendiri dan
masyarakat, tetap dalam norma dan etika serta akhlak yang
mulia.
Seorang muslim tidak boleh memuudharatkan dirinya sendiri dan
orang lain, seperti disebutkan dalam hadist: barangsiapa dalam
islam yang memprakarsai suatu perbuatan yang buruk, maka
baginya dosa dan dosa yang mengerjakannya sesudahnya,
tanpa menurangi dosa mereka sedikitpun. (HR. Ahmad, Muslim,
Tirmidzi, Nasai, dan Ibnu Majah dari jarir).
Sangat diharmkan memproduksi segala sesuatu yang meruska
akidah dan akhlak serta segala sesuatu yang menghilangkan
identitas umat, merusak nilai-nilai agama, menyibukkan pada
hal-hal yang sia-sia dan menjauhkan kebenaran, mendekatkan
kepada kebatilan, mendekatkan dunia dan menjauhkan akhirat.
Merusak kesejahteraan individu dan kesejahteraan umum.
Janganlan seorang produsen mementikan dirinya sendiri dan
memaksimumkan keuntungan tanpa melihat hal dan haram
ssehingga bertolak belakang dengan agama.

Explorasi kekayaan alam dan kekayaan lainnya.


Islam telah menganjurkan masyarakat Muslim untuk membentuk
sistem ekonomi dengan apa yang telah diajarkan. Suatu
peningkatan kemakmuran produksi yang dihasilkan oleh alam
guna untuk pemanfaatan bukan semata-mata untuk mengejar
target usaha untuk mengeskploitasi alam. Dimana target seperti
ini masuk dalam kerangka religius seperti yang diungkapkan
dalam QS al-Maidah ayat 87 yang berbunyi :


Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-
apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan
janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang melampaui batas
Ayat di atas menjelaskan bahwa adanya kebolehan untuk
memanfaatkan sumberdaya tanpa harus mengeskploitasi.
Sesungguhnya larangan terhadap eksploitasi alam yang
melampaui batas merupakan cara al Quran dalam menjelaskan
produksi Islam secara umum. Karena pada prinsip Islam dalam
produksi tidak hanya memenuhi permintaan yang melakukan
produksi dengan menekan ongkos serendah-rendahnya untuk
membantu peningkatan keuntungan.3
Islam berusaha supaya sumber daya alam yang ada dapat
dimanfaatkan sebesar-besarnya agar bisa menghasilkan produksi
sebanyakbanyaknya dan sebaik-baiknya. Oleh karena itu,
pemberian kebebasan mutlak kepadahak milik, tanpa ada
pencegahan terhadap pelampauan batas yang dilakukan oleh
para pemilik maupun pencegahan terhadap keluarnya mereka
dari jalan yang benar dalam pemanfaatan alam, merupakan
aturan yang bertentangan dengan Islam. Islam dalam
pemanfaatan sumber daya alam memberikan petunjuk sebagai
berikut:4
1. Alquran dan Sunnah memberikan peringatan bahwa alam
telah ditundukan untuk umat manusia sebagai salah satu
sumber rezeki.
2. Manusia adalah khalifah Allah Swt yang bertugas untuk
mengatur, memanfaatkan, dan memberdayakan alam

3M. Umer Chapra, Islam dan Tantangan Ekonomi (Jakarta: Gema Insani,
2000), hlm. 18.

4AhmadMujahidin, Ekonomi Islam (Jakarta: Raja Grafindo


Persada, 2013). Hlm. 124.
dimuka bumi. Sedangkan pemilik yang hakiki adalah Allah
Swt.
3. Islam mengizinkan pemanfaatan sumberdaya alam baik
untuk kepentinganseseorang ataupun untuk orang banyak.
4. Manusia dalam memanfaatkan sumber daya alam harus
memerhatikan danhukum-hukum yang telah ditetapkan
Allah Swt yaitu menjaga, memilihara dan
memakmurkannya bukan merusak alam yang
mengakibatkan punahnya keasian dan keindahan alam
semesta.
Untuk itu ada tiga mekanisme yangditawarkan dalam
pemberdayaan sumberdaya alam yaitu: pertama, diberdayakan
olehpemiliknya sendiri dengan ditanami. Kedua,diserahkan pada
orang lain untuk digarap tanpa adanya kompensasi. Ketiga,
memberikan otoritas kepada pihak lain untuk diberdayakanyang
diikuti dengan adanya bagi hasil setengah,sepertiga atau
seperempat. Pertumbuhanekonomi sangat membutuhkan
sumber dayayang dapat digunakan dalam memproduksiaset-aset
fisik untuk menghasilkan pendapatan.Aspek fisik tersebut antara
lain tanaman,indutrsi, mesin, dan sebagainya. Pada sisilain,
peran modal juga sangat signifikanuntuk diperhatikan. Dengan
demikian, prosespertumbuhan ekonomi mencakup
mobilisasisumber daya, merubah sumber daya tersebut dalam
bentuk asset produktif, serta dapat digunakan secara optimal
dan efisien.
Nilai-nilai Islam dalam Produksi
Upaya produsen dalam memperoleh mashlahah yang
maksimum dapat terwujud jika produsen mengaplikasikan nilai-
nilai Islam, seluruh kegiatan produksi terikat pada tatanan nilai
moral dan teknikal yang Islami, sebagaimana kegiatan dalam
mengorganisasi faktor produksi, proses produksi, hingga
pemasaran dan pelayanan kepada konsumen yang mengikuti
moralitas dan aturan teknis yang dibenarkan oleh Islam5.
Nilai-nilai yang relevan dengan produksi dikembangkan nilai
utama dalam ekonomi islam , yaitu khilafah, adil dan takaful.
Nilai-nilai Islam dirincikan sebagai berikut:
1. Berwawasan jangka panjang, yaitu berorientasi kepada
tujuan akhirat;
2. Menepati janji dan kontrak, baik dalam lingkup internal
atau eksternal;
3. Sesuai dan memenuhi takaran, ketepatan, kelugasan, dan
kebenaran;
4. Berpegang teguh pada kedisiplinan dan dinamis;
5. Memuliakan prestasi/produktivitas;
6. Mendorong ukhuwah antar sesama pelaku ekonomi;
7. Menghormati hak milik individu;
8. Mengikuti syarat sah dan rukun akad/transaksi;
9. Adil dalam bertransaksi;
10. Memiliki wawasan sosial;
11. Pembayaran upah tepat waktu dan layak;
12. Menghindari jenis dan proses produksi yang
diharamkan dalm Islam
Penerapan nilai-nilai dalam produksi tidak mementingkan
keuntungan bagi produsen , tetapi mendatangkan berkah .
Kombinasi keuntungan dan berkah yang diperoleh oleh produsen
merupakan satu mashlahah yang akan memberikan kontribusi
bagi tercapainya falah. Dengan demikian, produsen memperoleh

5 Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam (P3EI), Ekonomi


Islam (Jakarta: Rajawali Pers, 2014), hlm. 252
kebahagiaan hakiki yaitu kemuliaan tidak didunia saja tetapi juga
di akhirat.
Dalam Qardhawi menjelaskan bahwasannya faktor yang
mempengaruhi aktivitas produksi, menjelaskan bahwa alam
adalah kekayaan yang diciptakan Allah untuk kepentingan
manusia, ditaklukkan-Nya untuk merealisasikan cita-cita dan
tujuan manusia. Kerja adalah segala kemampuan dan
kesungguhan yang dikerahkan manusia baik jasmani maupun
akal pikiran, untuk mengolah kekayaan alam bagi
kepentingannya. Qardhawi tidak memasukkan faktor modal
karena modal dalam bentuk alat dan prasarana adalah hasil dari
kerja. Modal adalah kerja yang disimpan. Atas dasar itu maka
unsur yang paling penting dan rukun yang paling besar dalam
proses produksi adalah amal (Kerja) usaha, dengannya bumi
diolah dan dikeluarkan kebaikan dan kemfaatannya sehingga
menghasilkan produksi yang baik. Jadi Nlai dan moral Islam
melekat dalam aktivitas produksi, akan menjadikan aktivitas
produksi yang efisien.6

Motivasi dan Moral Produsen dalam Berproduksi


Motivasi utama bagi produsen adalah mencari keuntungan
yang maksimal dalam konvensional. Karena keuntungan yang
besar secara material sangat dominan, meskipun terdapat
motivasi lainnya. Produen adalah profit seeker sekaligus profit
maximer baik dalam jangka panjang panjang maupun jangka
pendek,
Isu penting yang kemudian berkembang menyertai motivasi
produsen ini adalah masalah etika dan tanggung jawab sosial
produsen yang terkait dengan moral. Keuntungan maksimal

6 Yusuf Qardhawi, Peran dan Moral dalam perekonomian Islam Dalam


buku Muhammad, Ekonomi Mikro Perspektif Islam (BPFE-Yogyakarta:
2004), hlm 221
merupakan insentif dalam melaksanakan produksi. Motivasi
mencari keuntungan maksimal menyebabkan produsen
mengabaikan etika dan tanggung jawab sosial produsen.
Motivasi dalam mencari keuntungan yang maksimal seringkali
melakukan pelanggaran hukum formal. Skala internasional
adalah masalah negara-negara maju mengimpor kayu dalam
jumlah besar yang merupakan hasil curian dari hutan negara-
negara seperti Brazil dan Indonesia. Illegal logging telah banyak
memberikan support kepada perekonomian negara-negara maju
karena dengan menggunakan illegal logging mereka bisa
menekankan biaya produksi dalam jumlah yang signifikan yang
berarti memperingan beban perekonomian mereka. Tuntutan dan
sekaligus protes yang diajukan oleh negara penghasil kayu
terbesar di dunia (Brazil dan Indonesia) kepada negara-negara
yang tergabung dalam G-8 agar membuat legislasi yang
melarang warganya untuk tidak mengimpor kayu hasil illegal
logging tidak pernah direspon positif. Contoh tersebut terlihat
jlas bahwa ada usaha sistematis dari negara-negara maju yang
tergabung dalam kelompok G-8 untuk melakukan pencurian kayu
. Dengan tidak adanya legislasi mengenai hal ini, amka hukum
formal masyarakat di negara maju merasa sah dalam
mengonsumsi kayu haram tersebut.
Tindakan tersebut sangat sangat merugikan negaa-negara
penghasil kayu tersebut, oleh karenanya merupakan
pelanggaran etika. Pendapat Friedman yang mengatakan bahwa
jika dunia usaha ikut memikirkan dan mengambil tindakan dalam
usaha mengatasi masalah sosial dan etika akan bisa merusak
mekanisme alokasi yang dipunyai oleh pasar, yang tidak
berdasar. Justru sebaliknya, dalam kasus illegal logging yang
dipaparkan di atas akan menimbulkan misal lokasi dari sumber
daya yang dipakai dalam ekonomi, sebab input yang dipakai
dalam produksi tidak sepenuhnya diperhitungkan dalam biaya
produksi. Selain itu, hal ini akan meningkatkan jumlah
permintaan dalam taraf yang substansial terhadap kayu-kayu
hasil illegal logging yang seterusnya akan terjadi perusakan
terhadap hutan dengan tingkat yang semakin cepat sehingga
pada akhirnya akan menimbulkan kerusakan lingkungan global
yang sangat serius.
Motivasi produsen dalam memaksimalkan keuntungan sering
kali merugikan pihak lain, sekaligus dirinya sendiri. Dalam
pandangan ekonomi Islam, motivasi produsen semestinya sejalan
dengan tujuan produksi dan tujuan kehidupan produsen itu
sendiri. Jika dalam Islam menyediakan kebutuhan material dan
spiritual untuk menciptakan mashlahah, maka motivasi produsen
tentu saja juga mencari mashlahah, dimana tujuan tersebut
sesuai dan sejalan dengan tujuan kehidupan seorang muslim.
Dengan demikian, produsen dalam pandangan Ekonomi Islam
adalah mashlahah maximizer. Mencari keuntungan produksi dan
kegiatan bisnis lainnya tidak terlarang, sepanjang dalam bingkai
tujuan dan hukum Islam7.

7 Ibid, hlm 238

Anda mungkin juga menyukai