Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN TUMOR OTAK

I Konsep Penyakit Tumor Otak


1 Definisi/deskripsi penyakit tumor otak
Tumor otak adalah neoplasma pada bagian intracranial SSP. Tumor otak
primer berasal dari otak, sedangkan tumor otak sekunder merupakan
pindahan dari tempat asal lain (Tucker, susan martin, dkk.2007).
Tumor otak merupakan salah satu tumor susunan saraf pusat, baik ganas
maupun tidak. Tumor ganas disusunan saraf pusat adalah semua proses
neoplastik yang terdapat dalam ruang intracranial atau dalam kanalis
spinalis, yang mempunyai sebagian atau seluruh sifat-sifat proses ganas
spesifik seperti yang berasal dari sel-sel saraf di meningen otak, termasuk
juga tumor yang berasal dari sel penunjang (neuroglia), sel epitel
pembuluh darah, dan selaput otak (Batticaca, Fransisca.B. 2008).
Tumor otak adalah terdapatnya lesi yang ditimbulkan karena ada desakan
ruang baik jinak maupun ganas yang tumbuh di otak, meningen, dan
tengkorak (Price, A. Sylvia, 1995: 1030).
Tumor otak adalah suatu lesi ekspansif yang bersifat jinak (benigna)
ataupun ganas (maligna) membentuk massa dalam ruang tengkorak
kepala (intra cranial) atau di sumsum tulang belakang (medulla spinalis).
Neoplasma pada jaringan otak dan selaputnya dapat berupa tumor primer
maupun metastase. Apabila sel-sel tumor berasal dari jaringan otak itu
sendiri disebut tumor otak primer dan bila berasal dari organ-organ lain
(metastase) seperti kanker paru, payudara, prostate, ginjal, dan lain-lain
disebut tumor otak sekunder (Mayer. SA,2002).

2 Etiologi tumor otak


Penyebab tumor otak belum diketahui. Namun ada bukti kuat yang
menunjukan bahwa beberapa agent bertanggung jawab untuk beberapa
tipe tumor-tumor tertentu. Agent tersebut meliputi faktor herediter,
kongenital, virus, toksin, dan defisiensi immunologi. Ada juga yang
mengatakan bahwa tumor otak dapat terjadi akibat sekunder dari trauma
cerebral dan penyakit peradangan. Metastase ke otak dari tumor bagian
tubuh lain juga dapat terjadi. Karsinoma metastase lebih sering menuju
ke otak daripada sarcoma. Lokasi utama dari tumor otak metastase
berasal dari paru-paru dan payudara (Muhamad Judha dan Nazwar
Hamdani Rahil: 2011 hal.97).

3 Tanda gejala tumor otak


1.3.1 Menurut Batticaca, Fransisca.B (2008) gejala tumor otak secara
umum:
Gejala klinis pada tumor otak secara umum dikenal dengan
istilah trias klosis tumor otak, yaitu:
1.3.1.1 Nyeri kepala
Nyeri kepala merupakan gejala tersering, dapat bersifat
dalam, terus-menerus, tumbuh, dan kadang-kadang
hebat sekali. Nyeri paling hebat pada pagi hari dan
lebih berat saat beraktivitas sehingga dapat
meningkatkan TIK pada saat membungkuk, batuk, dan
mengejan pada saat BAB. Nyeri kepala dapat
berkurang bila diberi aspirin dan kompres air dingin di
daerah yang sakit. Lokasi yang sering menimbulkan
nyeri terjadi di 1/3 daerah tumor dan 2/3 di dekat atau
di atas tumor.
1.3.1.2 Mual dan muntah
Mual (nausea) dan muntah (vomit) terjadi sebagai
akibat rangsangan pusat muntah pada medulla
oblongata. Sering terjadi pada anak-anak dan
berhubungan dengan peningkatan TIK yang disertai
pergeseran batang otak. Muntah dapat terjadi tanpa
didahului mual dan dapat proyektil.
1.3.1.3 Papil edema
Papil edema disebabkan oleh stress vena yang
menimbulkan pembengkakan papilla saraf optikus. Bila
terjadi pada pemeriksaan oftalmoskopi (funduskopi),
tanda ini mengisyaratkan terjadi tekanan TIK. Kadang
disertai gangguan penglihatan, termasuk pembesaran
bintik buta dan amaurosis fugaks (saat-saat di mana
penglihatan berkurang.
1.3.2 Menurut Bram Al Azri (2013) gejala spesifik tumor otak yang
berhubungan dengan lokasi:
1.3.2.1 Lobus frontal
a. Menimbulkan gejala perubahan kepribadian
b. Bila tumor menekan jaras motorik menimbulkan
hemiparese kontra lateral, kejang fokal
c. Bila menekan permukaan media dapat menyebabkan
inkontinentia
d. Bila tumor terletak pada basis frontal menimbulkan
sindrom foster kennedy
e. Pada lobus dominan menimbulkan gejala afasia
1.3.2.2 Lobus parietal
a. Dapat menimbulkan gejala modalitas sensori
kortikal hemianopsi homonym
b. Bila terletak dekat area motorik dapat timbul kejang
fokal dan pada girus angularis menimbulkan gejala
sindrom gerstmanns
1.3.2.3 Lobus temporal
a. Akan menimbulkan gejala hemianopsi, bangkitan
psikomotor, yang didahului dengan aura atau
halusinasi
b. Bila letak tumor lebih dalam menimbulkan gejala
afasia dan hemiparese
c. Pada tumor yang terletak sekitar basal ganglia dapat
diketemukan gejala choreoathetosis, parkinsonism.
1.3.2.4 Lobus oksipital
a. Menimbulkan bangkitan kejang yang dahului
dengan gangguan penglihatan
b. Gangguan penglihatan yang permulaan bersifat
quadranopia berkembang menjadi hemianopsia,
objeckagnosia
1.3.2.5 Tumor di ventrikel ke III
Tumor biasanya bertangkai sehingga pada pergerakan
kepala menimbulkan obstruksi dari cairan serebrospinal
dan terjadi peninggian tekanan intrakranial mendadak,
pasen tiba-tiba nyeri kepala, penglihatan kabur, dan
penurunan kesadaran
1.3.2.6 Tumor di cerebello pontin angie
a. Tersering berasal dari N VIII yaitu acustic
neurinoma
b. Dapat dibedakan dengan tumor jenis lain karena
gejala awalnya berupa gangguan fungsi pendengaran
c. Gejala lain timbul bila tumor telah membesar dan
keluar dari daerah pontin angel
1.3.2.7 Tumor hipotalamus
a. Menyebabkan gejala TTIK akibat oklusi dari
foramen Monroe
b. Gangguan fungsi hipotalamus menyebabkan gejala:
gangguan perkembangan seksuil pada anak-anak,
amenorrhoe,dwarfism, gangguan cairan dan
elektrolit, bangkitan
1.3.2.8 Tumor di cerebelum
a. Umumnya didapat gangguan berjalan dan gejala
TTIK akan cepat terjadi disertai dengan papil udem
b. Nyeri kepala khas didaerah oksipital yang menjalar
keleher dan spasme dari otot-otot servikal
1.3.2.9 Tumor fosa posterior
Diketemukan gangguan berjalan, nyeri kepala dan
muntah disertai dengan nystacmus, biasanya
merupakan gejala awal dari medulloblastoma.

1.4 Patofisiologi tumor otak


Tumor otak merupakan neoplasma yang tumbuh secara abnormal yang
menyebabkan gangguan fokal dan peningkatan TIK. Gangguan fokal
disebabkan karena adanya penekanan pada janringan otak, sedangkan
peningkatan TIK disebabkan karena udema serebral dan terjadi
perubahan sirkulasi CSS. Jika terjadi peningkatan TIK tubuh akan
melakukan kompensasi dengan menurunkan cairan intracranial,
menurunkan cairan CSS, menurunkan kandungan cairan intra sel dan
mengurangi sel-sel paremkim otak. Jika kompensasi tubuh gagal akan
terjadi rasa nyeri, kompresi sub kortikal dan batang otak, dan dapat
mengakibatkan bergesernya girus medialis lobus temporal ke inferior
melalui insisura territorial yang menyebabkan herniasi serebral yang
dapat berefek kematian. Selain itu juga menyebabkan statis vena serebral
yang mengakibatkan papil edema.
Gejala tumor intracranial dapat memberikan efek local ataupun efek
general. Pada lobus frontal terjadi gangguan kepribadian, gangguan afek,
disfungsi system motor, kejang, aphasia. Pada presentral gyrus dapat
ditemukan kejang jacksonian. Pada lobus oksipitalis terjadi gangguan
penglihatan, dan sakit kepala. Lobus temporal bias terjadi halusinasi
pendengaran, penglihatan atau gustatory dan kejang psikomotor, aphasia.
Pada lobus parietal dapat ditemukan ketidakmampuan membedakan kiri
dan kanan (Batticaca, Fransisca.B. 2008).
1.5 Pemeriksaan Penunjang
1.5.1 CT scan dan MRI
Memperlihatkan semua tumor intrakranial dan menjadi prosedur
investigasi awal ketika penderita menunjukkan gejala yang
progresif atau tanda-tanda penyakit otak yang difus atau fokal,
atau salah satu tanda spesifik dari sindrom atau gejala-gejala
tumor. Kadang sulit membedakan tumor dari abses ataupun
proses lainnya.
1.5.2 Foto polos dada
Dilakukan untuk mengetahui apakah tumornya berasal dari
suatu metastasis yang akan memberikan gambaran nodul
tunggal ataupun multiple pada otak.
1.5.3 Pemeriksaan cairan serebrospinal
Dilakukan untuk melihat adanya sel-sel tumor dan juga marker
tumor. Tetapi pemeriksaan ini tidak rutin dilakukan terutama
pada pasien dengan massa di otak yang besar. Umumnya
diagnosis histologik ditegakkan melalui pemeriksaan patologi
anatomi, sebagai cara yang tepat untuk membedakan tumor
dengan proses-proses infeksi (abses cerebri).
1.5.4 Biopsi stereotaktik
Dapat digunakan untuk mendiagnosis kedudukan tumor yang
dalam dan untuk memberikan dasar-dasar pengobatan dan
informasi prognosis.
1.5.5 Angiografi Serebral
Memberikan gambaran pembuluh darah serebral dan letak tumor
serebral.
1.5.6 Elektroensefalogram (EEG)
Mendeteksi gelombang otak abnormal pada daerah yang
ditempati tumor dan dapat memungkinkan untuk mengevaluasi
lobus temporal pada waktu kejang (Nn:2013).
1.6 Komplikasi tumor otak
1.6.1 Edema Serebral
Peningkatan cairan otak yang berlebih yang menumpuk disekitar
lesi sehingga menambah efek masa yang mendesak (space-
occupying). Edema Serebri dapat terjadi ekstrasel (vasogenik)
atau intrasel (sitotoksik).
1.6.2 Hidrosefalus
Peningkatan intracranial yang disebabkan oleh ekspansin massa
dalam rongga cranium yang tertutup dapat di eksaserbasi jika
terjadi obstruksi pada aliran cairan serebrospinal akibat massa.
1.6.3 Herniasi Otak
Peningkatan intracranial yang terdiri dari herniasi sentra, unkus,
dan singuli.
1.6.4 Epilepsi
1.6.5 Metastase ketempat lain (Febri : 2012).

1.7 Penatalaksanaan tumor otak


1.7.1 Surgery
Terapi pre-surgery:
1.7.1.1 Steroid adalah menghilangkan swelling, contoh
dexamethasone
1.7.1.2 Anticonvulsant adalah untuk mencegah dan mengontrol
kejang, seperti carbamazepine
1.7.1.3 Shunt adalah digunakan untuk mengalirkan cairan
cerebrospinal
Pembedahan merupakan pilihan utama untuk mengangkat
tumor. Pembedahan pada tumor otak bertujuan untuk melakukan
dekompresi dengan cara mereduksi efek massa sebagai upaya
menyelamatkan nyawa serta memperoleh efek paliasi. Dengan
pengambilan massa tumor sebanyak mungkin diharapkan pula
jaringan hipoksik akan terikut serta sehingga akan diperoleh
efek radiasi yang optimal. Diperolehnya banyak jaringan tumor
akan memudahkan evaluasi histopatologik, sehingga diagnosis
patologi anatomi diharapkan akan menjadi lebih sempurna.
Namun pada tindakan pengangkatan tumor jarang sekali
menghilangkan gejala-gelaja yang ada pada penderita.
1.7.2 Radiotherapy

Radioterapi merupakan salah satu modalitas penting dalam


penatalaksanaan proses keganasan. Berbagai penelitian klinis
telah membuktikan bahwa modalitas terapi pembedahan akan
memberikan hasil yang lebih optimal jika diberikan kombinasi
terapi dengan kemoterapi dan radioterapi.

Sebagian besar tumor otak bersifat radioresponsif (moderately


sensitive), sehingga pada tumor dengan ukuran terbatas
pemberian dosis tinggi radiasi diharapkan dapat mengeradikasi
semua sel tumor. Namun demikian pemberian dosis ini dibatasi
oleh toleransi jaringan sehat disekitarnya. Semakin sedikit
jaringan sehat yang terkena maka makin tinggi dosis yang
diberikan. Guna menyiasati hal ini maka diperlukan metode
serta teknik pemberian radiasi dengan tingkat presisi yang
tinggi.

Glioma dapat diterapi dengan radioterapi yang diarahkan pada


tumor sementara metastasis diterapi dengan radiasi seluruh otak.
Radioterapi juga digunakan dalam tata laksana beberapa tumor
jinak, misalnya adenoma hipofisis.

1.7.3 Chemotherapy

Pada kemoterapi dapat menggunakan powerfull drugs, bisa


menggunakan satu atau dikombinasikan. Tindakan ini dilakukan
dengan tujuan untuk membunuh sel tumor pada klien. Diberikan
secara oral, IV, atau bisa juga secara shunt. Tindakan ini
diberikan dalam siklus, satu siklus terdiri dari treatment intensif
dalam waktu yang singkat, diikuti waktu istirahat dan
pemulihan. Saat siklus dua sampai empat telah lengkap
dilakukan, pasien dianjurkan untuk istirahat dan dilihat apakah
tumor berespon terhadap terapi yang dilakukan ataukah tidak
(Febri : 2012).

1.7.4 Diet

Pengobatan tumor otak tidak hanya memerlukan dokter yang


ahli dan obat yang mujarak tetapi juga makanan yang sehat.
Berikut beberapa kandungan makanan yang disarankan beserta
alasannya:

1.7.4.1 Omega-3 yang dapat ditemukan di ikan (salmon, tuna


dan tenggiri) bermanfaat dalam menguransi resistensi
tumor pada terapi. Omega-3 juga membantu
mempertahankan dan menaikan daya tahan tubuh
dalam menghadapi proses pengobatan tumor otak
seperti kemotrapi.

1.7.4.2 Omega-9 yang ada di minyak zaitun pun dapat


meningkatkan sistem kekebalan tubuh sekaligus
mengurangi pembengkakan dan menguransi sakit saat
pengobatan tumor otak.

1.7.4.3 Serat dari roti gandum, sereal, buah segar, sayur dan
suku kacang-kacangan membantu Anda mengatur
tingkat gula. Sel kanker cenderung mengkonsumsi gula
10-15 kali lipat daripada sel normal sehingga semakin
meradang. Agar bisa mengatur gula dengan baik,
disarankan mengkonsumsi 4-5 porsi sayur dan 1-2 porsi
buah segar. Selain mengatur kadar gula, serat dapat
menurunkan peluang sembelit.
1.7.4.4 Folic acid yang dikenal sebagai vitamin B9 atau Bc
bisa mencegah menyebarnya sehinga bisa membantu
pengobatan tumor otak atau bagian lainnya. Vitamin B9
dapat ditemukan di sayuran dengan daun hijau tua
(bayam, asparagus dan daun selada), kacang polong,
kuning telur dan biji bunga matahari.

1.7.4.5 Antioksidan memang dikenal sebagai salah satu senjata


untuk membantu pengobatan tumor otak. Antioksidan
dapat di temukan di keluarga beri (strawberi, rasberi
dan blueberi), anggur, tomat, brokoli, jeruk, persik,
apricot, bawang putih, gandum, telur, ayam, kedelai
dan ikan.

1.7.4.6 Makanan yang harus dihindari penderita kanker dan


tumor otak adalah Gula dan karbohindrat harus
dihindari karena mereka merupakan makanan utama sel
kanker. Pada saat pengobatan brain tumor and cancer,
sel-sel kanker yang ada di dalam tubuh akan
mengkonsumsi 10-15 kali lipat gula. Gula yang
dikonsumsi akan menjadi energy para sel kanker yang
mempercepat perkembangan mereka (Nn:2012).
1.8 Pathway
1.9
1.10
1.11
1.12
1.13
1.14
1.15
1.16
1.17
1.18
1.19
1.20
1.21
1.22
1.23
1.24
1.25 II. Rencana Asuhan Klien Dengan Tumor Otak
2.1 Pengkajian
2.1.1 Riwayat keperawatan
2.1.1.1 Data klien : nama, umur, jenis kelamin, agama, suku
bangsa, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan,
golongan darah, penghasilan, alamat, penanggung
jawab, dll
2.1.1.2 Keluhan utama
2.1.1.3 Riwayat kesehatan sekarang
2.1.1.4 Riwayat kesehatan lalu
2.1.2 Pemeriksaan fisik: data focus
2.1.2.1 Saraf : kejang, tingkah laku aneh, disorientasi, afasia,
penurunan/kehilangan memori, afek tidak sesuai,
berdesis
2.1.2.2 Penglihatan : penurunan lapang pandang, penglihatan
kabur
2.1.2.3 Pendengaran : tinitus, penurunan pendengaran,
halusinasi
2.1.2.4 Jantung : bradikardi, hipertensi
2.1.2.5 Sistem pernafasan : irama nafas meningkat, dispnea,
potensial obstruksi jalan nafas, disfungsi
neuromuskuler
2.1.2.6 Sistem hormonal : amenorea, rambut rontok, diabetes
melitus
2.1.2.7 Motorik : hiperekstensi, kelemahan sendi
2.1.3 Pemeriksaan penunjang
1.26
2.2 Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul
1.27 Diagnosa 1: Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan TIK
(Wilkinson, ett. Buku Saku Diagnosis Keperwatan. 2012. Hal: 530-537)
1.28
2.2.1 Definisi
1.29 Pengalaman sensori dan emosi yang tidak menyenangkan
akibat adanya kerusakan jaringan yang actual atau potensial atau
digambarkan dengan istilah seperti, awitan yang tiba-tiba atau
perlahan dengan intensitas ringan sampai beratdengan akhir
yang dapat diantisipai atau dapat diramalkan dan durasinya
kurang dari 6 bulan.
2.2.2 Batasan karakteristik
2.2.2.1 Subjektif
1.30 Mengungkapkan secara verbal atau
melaporkan nyeri dengan isyarat
2.2.2.2 Objektif
a. Posisi untuk menghindari neyri
b. Perubahan tonus otot
c. Respons autonomic
d. Perubahan selera makan
e. Perilaku distraksi
f. Perilaku ekspresif
g. Wajah topeng
h. Perilaku menjaga atau melindungi
i. Fokus menyempit
j. Bukti nyeri yang dapat diamati
k. Befokus pada diri sendiri
l. Gangguan tidur
2.2.3 Faktor yang berhubungan
1.31 Agens-agens penyebab cidera (misalnya, biologis, kimia,
fisik dan psikologis).
1.32
1.33 Diagnosa 2: Ketidakefektifan perfusi serebral berhubungan dengan
gangguan aliran darah di otak (Wilkinson, ett. Buku Saku Diagnosis
Keperwatan. 2012. Hal: 806-820)
2.3.1 Definisi
1.34 Penurunan oksigen yang mengakibatkan kegagalan
pengiriman nutrisi ke jaringan pada tingkat kapiler.
2.3.2 Batasan karakteristik
1.35 Objektif
2.3.2.1 Perubahan status mental
2.3.2.2 Perubahan perilaku
2.3.2.3 Perubahan respons motorik
2.3.2.4 Perubahan reaksi pupil
2.3.2.5 Kesulitan menelan
2.3.2.6 Kelemahan atau parilisis ekstremitas
2.3.2.7 Paralisis
2.3.2.8 Ketidaknormalan dalam berbicara
2.3.3 Faktor yang berhubungan
2.2.3.1 Perubahan afinitas hemoglobin terhadap oksigen
2.2.3.2 Penurunan konsentrasi hemoglobin dalam darah
2.2.3.3 Keracunan enzim
2.2.3.4 Gangguan pertukaran
2.2.3.5 Hipervolemia
2.2.3.6 Hipoventilasi
2.2.3.7 Hipovolemia
2.2.3.8 Gangguan transport oksigen melalui alveoli dan
membrane kapiler
2.2.3.9 Gangguan aliran arteri atau vena
2.2.3.10 Ketidaksesuaian antara ventilasi dan aliran darah
1.36
1.37 Diagnosa 3: Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan
hiperventilasi (Wilkinson, ett. Buku Saku Diagnosis Keperwatan. 2012.
Hal: 99)
2.2.1 Definisi
1.38 Inspirasi dan atau ekspirasi yang tidak member ventilasi
yang adekuat.
2.2.2 Batasan karakteristik
2.2.2.1 Subjektif
a. Dispnea
b. Napas pendek
2.2.2.2 Objektif
a. Perubahan ekskursi dada
b. Mengambil posisi tiga titik tumpu (tripod)
c. Bradipnea
d. Penurunan tekanan inspirasi-ekspirasi
e. Penurunan ventilasi semenit
f. Penurunan kapasitas vital
g. Napas dalam
h. Peningkatan diameter anterior-posterior
i. Napas cuping hidung
j. Ortopnea
k. Fase ekspirasi memanjang
l. Pernapasan bibir mencucu
m. Takipnea
n. Penggunaan otot bantu asesorius untuk bernapas
2.2.3 Faktor yang berhubungan
2.2.3.1 Ansietas
2.2.3.2 Posisi tubuh
2.2.3.3 Deformitas tulang
2.2.3.4 Deformitas dinding dada
1.39
1.40 Diagnosa 4: Ketidakefektifan termoregulasi berhubungan dengan
peningkatan suhu tubuh (Wilkinson, ett. Buku Saku Diagnosis
Keperwatan. 2012. Hal: 796-798)
2.2.1 Definisi
1.41 Fluktuasi suhu tubuh pasien antara hipotermia dan
hipertermia.
2.2.2 Batasan karakteristik
1.42 Objektif
2.2.2.1 Kulit dingin
2.2.2.2 Dasar kuku sianosis
2.2.2.3 Fluktuasi suhu tubuh di atas atau di bawah rentang
normal
2.2.2.4 Kulit merah
2.2.2.5 Hipertensi
2.2.2.6 Peningkatan frekuensi pernapasan
2.2.2.7 Pucat
2.2.2.8 Piloereksi
2.2.2.9 Penurunan suhu tubuh di bawah rentang normal
2.2.2.10 Kejang atau konvulsi
2.2.2.11 Menggigil
2.2.2.12 Pengisian kembali japiler lambat
2.2.2.13 Takikardia
2.2.2.14 Kulit teraba hangat
2.2.3 Faktor yang berhubungan
2.2.3.1 Penuaan
2.2.3.2 Fluktuasi suhu lingkungan
2.2.3.3 Penyakit
2.2.3.4 Imaturitas
2.2.3.5 Trauma
1.43
1.44 Diagnosa 5: Gangguan persepsi sensori penglihatan berhubungan
dengan perubahan resepsi (Wilkinson, ett. Buku Saku Diagnosis
Keperwatan. 2012. Hal: 687-695)
2.2.1 Definisi
1.45 Perubahan pada jumlah atau pola stimulus yang diterima,
yang disertai respons terhadap stimulusyang diterima, yang
disertai respons terhadap stimulus tersebut yang dihilangkan,
dilebihkan, disimpangkan atau dirusakkan.
2.2.2 Batasan karakteristik
2.2.2.1 Subjektif
1.46 Distorsi sensori
2.2.2.2 Objektif
a. Perubahan pola perilaku
b. Perubahan kemampuan menyelesaikan masalah
c. Perubahan ketajaman sensori
d. Perubahan respons yang biasanya terhadap stimulus
e. Disorientasi
f. Halusinasi
g. Hambatan komunikasi
h. Iritabilitas
i. Konsentrasi buruk
j. Gelisah
2.2.3 Faktor yang berhubungan
2.2.3.1 Perubahan resepsi, transmisi, dan atau integrasi sensori
2.2.3.2 Ketidakseimbangan biokimia
2.2.3.3 Ketidakseimbangan elektrolit
2.2.3.4 Stimulus lingkungan yang berlebihan
2.2.3.5 Ketidakseimbangan stimulus lingkungan
2.2.3.6 Stress psikologis
1.47
1.48 Diagnosa 6: Kelebihan volume cairan berhubungan dengan
gangguan mekanisme pengaturan (Wilkinson, ett. Buku Saku Diagnosis
Keperwatan. 2012. Hal: 317-322)
2.2.1 Definisi
1.49 Peningkatan retensi cairan isotonic.
2.2.2 Batasan karakteristik
2.2.2.1 Subjektif
a. Ansietas
b. Dispnea atau pendek napas
c. Gelisah
2.2.2.2 Objektif
a. Suara napas tidak normal
b. Perubahan elektrolit
c. Edema
d. Ansietas
e. Penurunan hemoglobin dan hematokrit
f. Perubahan tekanan darah
g. Perubahan status mental
h. Perubahan tekanan arteri pulmunol
i. Perubahan berat jenis urin
2.2.3 Faktor yang berhubungan
2.2.3.1 Gangguan mekanisme pengaturan
2.2.3.2 Asupan cairan yang berlebihan
2.2.3.3 Asupan natrium yang berlebihan
1.50
1.51 Diagnosa 7: Risiko cedera berhubungan dengan disfungsi otot
(Wilkinson, ett. Buku Saku Diagnosis Keperwatan. 2012. Hal: 428-435)
2.2.1 Definisi
1.52 Berisiko mengalami cedera sebagai akibat dari kondisi
lingkungan yang berinteraksi dengan sumber-sumber adaftif dan
pertahan individu.
1.53
2.2.2 Batasan karakteristik
1.54 Setiap orang berisiko mengalami kecelakaan dan cedera,
tetapi diagnosis ini harus digunakan hanya untuk orang yang
memerlukan intervensi keperawatan guna mencegah cedera.
1.55
1.56
1.57
2.2.3 Faktor yang berhubungan
2.2.3.1 Internal
a. Profil darah yang tidak normal
b. Gangguan faktor pembekuan
c. Disfungsi biokimiawi
d. Penurunan kadar hemoglobin
e. Disfungsi efektor
f. Penyakit imun atau atoimun
g. Disfungsi integrative
h. Malnutrisi
i. Fisik seperti kulit rusak, hambatan
j. Psikologis (orientai afektif)
k. Sel sabit
l. Talasemia
m. Hipoksia jaringan
2.2.3.2 Eksternal
a. Biologis; tingkat imunisasi komunitas,
mikroorganisme
b. Kimia; obat-obatan, zat gizi, racun, polutan
c. Fisik; jenis kenderaan atau transportasi, rancangan
atau struktur dan penataan komunitas, bangunan atau
peralatan
1.58
1.59 Diagnosa 8: Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh berhubungan dengan mual dan muntah (Wilkinson, ett. Buku Saku
Diagnosis Keperwatan. 2012. Hal: 503-512)
2.2.1 Definisi
1.60 Asupan nutrisi tidak mencukupi untuk memnuhi kebutuhan
metabolik
2.2.2 Batasan karakteristik
2.2.2.1 Subjektif
a. Kram abdomen
b. Nyeri abdomen
c. Menolak makan
d. Persepsi ketidakmampuan untuk mencerna makan
e. Melaporkan perubahan sensasi rasa
f. Merasa cepat kenyang setelah mengkonsumsi
makanan
2.2.2.2 Objektif
a. Pembuluh kapiler rapuh
b. Diare atau steatore
c. Kekurangan makanan
d. Kehilangan rambut yang berlebihan
e. Bising usus hiperaktif
f. Kurang minat terhadap makanan
g. Membran mukosa pucat
h. Tonus otot buruk
i. Rongga mulut terluka
j. Kelemahan otot yang berfungsi untuk menelan atau
mengunyah
2.2.3 Faktor yang berhubungan
2.2.3.1 Ketergantungan zat kimia
2.2.3.2 Penyakit kronis
2.2.3.3 Kesulitan mengunyah atau menelan
2.2.3.4 Faktor ekonomi
2.2.3.5 Intoleransi makanan
2.2.3.6 Hilang nafsu makan
2.2.3.7 Mual dan muntah
1.61
3 Perencanaan
1.62 Diagnosa 1: Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan TIK
1 Tujuan dan Kriteria hasil (outcomes criteria): berdasarkan NOC
(lihat daftar rujukan)
1.63 Pasien akan memperlihatkan pengendalian nyeri yang
dibuktikan oleh :
2.3.1.1 Pasien mengenali awitan nyeri
2.3.1.2 Menggunakan tindakan pencegahan
2.3.1.3 Melaporkan nyeri dapat dikendalikan.
2 Intervensi keperawatan dan rasional: berdasarkan NIC (lihat
daftar rujukan)
1.64 Manajemen nyeri, antaralain:
2.3.2.1 Lakukan pengkajian nyeri yang komprehesif meliputi
lokasi, karakteristik, awitan dan durasi, frekuensi ,
kualitas, intensitas, keparahan nyeri dan factor
presipitasinya
2.3.2.2 Ajarkan teknik penggunaan non farkologis seperti
umpan-balik, distraksi, relaksasi, imajinasi terbimbing.
2.3.2.3 Berikan informasi tentang nyeri, seperti penyebab
nyeri, berapa lama akan berlangsung dan antisipasi
ketidaknyamanan akibat prosedur.
2.3.2.4 Kendalikan factor lingkungan yang dapat memengaruhi
respon pasien terhadap ketidaknyamanan.
2.3.2.5 Pastikan pemberian analgesi terapi
1.65

1.66 Diagnosa 2: Ketidakefektifan perfusi serebral berhubungan dengan


gangguan aliran darah di otak
2.3.1 Tujuan dan Kriteria hasil (outcomes criteria): berdasarkan NOC
(lihat daftar rujukan)
1.67 Pasien akan menunjukkan kognisi, yang dibuktikan dengan
indicator :
2.3.1.1 Pasien dapat berkomunikasi dengan jelas dan sesuai
dengan usia serta kemampuan
2.3.1.2 Dapat mengolah informasi
2.3.1.3 Mnunjukkan perhatian/konsentrasi
1.68
2.3.2 Intervensi keperawatan dan rasional: berdasarkan NIC (lihat
daftar rujukan)
1.69 Promosi perfusi serebral, antaralain:
2.3.2.1 Pantau tanda-tanda vital
2.3.2.2 Pantau TIK dan respons neurologis pasien terhadap
aktivitas keperawatan
2.3.2.3 Minimalkan stimulus lingkungan
2.3.2.4 Tinggikan bagian kepala tempat tidur
2.3.2.5 Berikan obat-obatan untuk meningkatkan volume
intravaskuler sesuai program
1.70
1.71 Diagnosa 3: Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan
hiperventilasi
2.3.1 Tujuan dan Kriteria hasil (outcomes criteria): berdasarkan NOC
(lihat daftar rujukan)
1.72 Pasien menunjukkan pola pernafasan efektif, yang
dibuktikan oleh status pernafasan, status ventilasi dan
pernafasan yang tidak terganggu : keoatenan jalan nafas dan
tidak ada penyimpangan tanda vital dari rentang normal.
2.3.2 Intervensi keperawatan dan rasional: berdasarkan NIC (lihat
daftar rujukan)
1.73 Manajemen jalan nafas, antaralain:
2.3.2.1 Pantau adanya pucat dan sianosis
2.3.2.2 Pantau peningkatan kegelisahan, ansietas, dan lapar
udara
2.3.2.3 Konsultasikan dengan ahli pernafasan untuk
memastikan keadekuatan fungsi ventilator mekanis
2.3.2.4 Atur posisi pasien untuk mengoptimalkan pernafasan
2.3.2.5 Anjurkan nafas dalam melui abdomen selama periode
gawat nafas
1.74
1.75 Diagnosa 4: Ketidakefektifan termoregulasi berhubungan dengan
peningkatan suhu tubuh
2.3.1 Tujuan dan Kriteria hasil (outcomes criteria): berdasarkan NOC
(lihat daftar rujukan)
1.76 Pasien akan menunjukkan termoregulasi yang dibuktikan
dengan :
2.3.1.1 Suhu tubuh normal
2.3.1.2 Tidak ada dehidrasi
2.3.2 Intervensi keperawatan dan rasional: berdasarkan NIC (lihat
daftar rujukan)
1.77 Terapi demam, antaralain:
2.3.2.1 Pantau dehidrasi
2.3.2.2 Pantau warna kulit dan suhu
2.3.2.3 Gunakan waslap dingin untuk mengompres
2.3.2.4 Anjurkan asupan cairan oral sedikitnya 2 liter/hari
2.3.2.5 Berikan obat antipiretik
1.78
1.79 Diagnosa 5: Gangguan persepsi sensori penglihatan berhubungan
dengan perubahan resepsi
2.3.1 Tujuan dan Kriteria hasil (outcomes criteria): berdasarkan NOC
(lihat daftar rujukan)
1.80 Pasien menunjukkan status neurologis : fungsi
motorik/sensorik yang dibuktikan oleh tidak ada gangguan
penglihatan.
2.3.2 Intervensi keperawatan dan rasional: berdasarkan NIC (lihat
daftar rujukan)
1.81 Peningkatan komunikasi, antaralain:
2.3.2.1 Pantau dan dokumentasikan perubahan status
neurologis pasien
2.3.2.2 Kaji lingkungan terhadap kemungkinan bahaya
terhadap keamanan
2.3.2.3 Tingkatkan penglihatan pasien yang masih tersisa
2.3.2.4 Jangan memindahkan barang-barang pasien di dalam
kamar pasien tanpa memberitahu pasien
2.3.2.5 Pastikan akses terhadap dan penggunaan alat bantu
sensori
1.82
1.83 Diagnosa 6: Kelebihan volume cairan berhubungan dengan
gangguan mekanisme pengaturan
2.3.1 Tujuan dan Kriteria hasil (outcomes criteria): berdasarkan NOC
(lihat daftar rujukan)
1.84 Pasien akan menunjukkan keseimbangan cairan tidak
terganggu dibuktikan dengan indikator:
2.3.1.1 Keseimbangan asupan dan haluaran dalam 24 jam
2.3.1.2 Berat badan stabil
2.3.1.3 Berat jenis urin dalam batas normal.
2.3.2 Intervensi keperawatan dan rasional: berdasarkan NIC (lihat
daftar rujukan)
1.85 Manajemen cairan, antaralain:
2.3.2.1 Timbang berat badan setiap hari dan pantau
kecenderungan
2.3.2.2 Pertahankan asupan asupan dan haluaran akurat
2.3.2.3 Ajarkan pasien tentang penyebab dan cara mengatasi
edema
2.3.2.4 Tinggikan ekstremitas untuk meningkatkan aliran darah
balik
2.3.2.5 Berikan diuretic jika perlu
1.86
1.87 Diagnosa 7: Risiko cedera berhubungan dengan disfungsi otot
2.3.1 Tujuan dan Kriteria hasil (outcomes criteria): berdasarkan NOC
(lihat daftar rujukan)
1.88 Risiko cedera akan menurun dibuktikan dengan:
2.3.1.1 Keamanan personal
2.3.1.2 Pengendalian risiko
2.3.2 Intervensi keperawatan dan rasional: berdasarkan NIC (lihat
daftar rujukan)
1.89 Manajemen lingkungan (keamanan), antaralain:
2.3.2.1 Identifikasi factor yang mempengaruhi kebutuhan
keamanan
2.3.2.2 Identifikasi factor lingkungan yang memungkinkan
risiko terjatuh
2.3.2.3 Berikan edukasi yang berhubungan dengan strategi dan
tindakan untuk mencegah cedera
2.3.2.4 Bantu ambulasi pasien
2.3.2.5 Orientasikan kembali pasien terhadap realitas dan
lingkungan saat ini bila dibutuhkan
1.90
1.91 Diagnosa 8: Risiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan mual dan muntah
2.3.1 Tujuan dan Kriteria hasil (outcomes criteria): berdasarkan NOC
(lihat daftar rujukan)
1.92 Pasien akan memperlihatkan status gizi : asupan mkanan
dan cairan yang dibuktikan oleh indicator sebagai berikut:
2.3.1.1 makanan oral
2.3.1.2 pemberian makanan lewat selang adekuat
2.3.1.3 asupan cairan oral adekuat
2.3.2 Intervensi keperawatan dan rasional: berdasarkan NIC (lihat
daftar rujukan)
1.93 Manajemen nutrisi, antaralain:
2.3.2.1 Timbang pasien pada interval yang tepat
2.3.2.2 Berikan informasi kepada pasien untuk memenuhi
kebutuhan nutrisi
2.3.2.3 Buat perencanaan makan dengan pasien yang masuk
dalam jadwal makan, lingkungan makan, kesukaan dan
ketidaksukaan pasien
2.3.2.4 Ciptakan lingkungan yang menyenangkan untuk makan
2.3.2.5 Berikan pasien minuman dan kudapan bergizi, tinggi
protein, tinggi kalori yang siap dikonsumsi
1.94
1.95
1.96
1.97
1.98
1.99
1.100
1.101
1.102
1.103
1.104
1.105
1.106
1.107
1.108
1.109
1.110
1.111
1.112
1.113
1.114
1.115
1.116
1.117
1.118
III. Daftar Pustaka
1.119 Azri, Bram Al. 2013. Askep Tumor Otak, (Online),
(http://nersbramalazri. blogspot.com/2013/01/askep-tumor-otak.html,
diakses pada 10 Mei 2013)
1.120 Batticaca, Fransisca B. 2008. Asuhan Keperawatan Pada Klien
Dengan System Persyarafan. Jakarta : Salemba Medika.
1.121 Febri.2012.Asuahan Keperawatan Tumor Otak, (Online),
(http://nersfebri. wordpress.com/2012/04/01/asuhan-keperawatan-
askep-tumor-otak.html, diakses pada 10 Mei 2013)
1.122 Judha, Mohamad. 2011. Sistem Persyarafan dalam Asuhan
Keperawatan. Yogyakarta : Gosyen Publising.
1.123 Nn.2012.Asuhan Keperawatan Klien dengan Tumor Otak,(Online),
(http://samoke2012.wordpress.com/2012/11/12/asuhan-keperawatan-
klien-dengan-tumor-otak/, diakses pada 10 Mei 2013)
1.124 Nn.2012.Makanan Sehat Babtu Pengobatan Tumor Otak, (Online),
(http://embundaunhijau.blogspot.com/2012/07/makan-sehat-bantu-
pengobatan-tumor-otak.html , diakses pada 10 Mei 2013)
1.125 Nn.2013.Klasifikasi Tumor Otak, (Online), (http://alisarjunipadang.
blogspot.com/2013/03/klasifikasi-tumor-otak.html, diakses pada 10
Mei 2013)
1.126 Pearce, Evelyn C. 2009. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis.
Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
1.127
1.128
1.129
1.130
1.131
1.132
1.133
1.134
1.135
1.136 Sylvia A. Price.1995.Patofisiologi, konsep klinik proses- proses
penyakit ed. 4. Jakarta : EGC.
1.137 Tucker, Susan Marti dkk. 2007. Standart Keperawatan Pasien
Perencanaan Kolaborasi & Intervensi Keperawatan. Jakarta : EGC.
1.138 Wilkinson, Judith M. 2012. Buku Saku Diagnosis Keperawatan :
diagnosis NANDA, intervensi NIC, criteria hasil NOC. Jakarta : EGC.
1.139
1.140
1.141 Banjarmasin Desember
2016
1.142 Preseptor akademik 1.146 Preseptor klinik
1.143 1.147
1.144 1.148
1.145 (...............................) 1.149 (...............................)
1.150