Anda di halaman 1dari 13

1.

Memahami dan Menjelaskan Intususepsi

1.1 Definisi Intususepsi


Intususepsi disebut juga invaginasi merupakan prolaps atau masuknya satu segmen
usus (intususeptum) ke dalam segmen usus lain (intususipien) yang berdekatan.
Umumnya bagian yang proksimal (intususeptum) masuk ke bagian distal (intususepien).
Pada daerah usus yang mengalami intususepsi, akan terjadi pembengkakan,
penekanan pembuluh darah pada usus, dan iskemia. Hal ini menyebabkan perdarahan
pada mukosa dan pengeluaran mukus, yang tampak pada feses sebagai "red current jelly
stool".
Intususepsi merupakan penyebab obstruksi usus yang sering pada bayi dan anak,
terjadi pada 1,9/1000 kelahiran hidup. Perbandingan kejadian pada anak laki-laki:
perempuan 3:2, terbanyak terjadi pada bayi usia 4-10 bulan. Sekitar 60-65% kasus terjadi
pada anak usia <1 tahun dan 80% terjadi pada anak kurang dari 2 tahun.

1.2 Etiologi Intususepsi


Etiologi dari intususepsi terbagi menjadi 2, yaitu idiopatik dan kausal:
a. Idiopatik
Menurut kepustakaan, 90-95% intususepsi pada anak di bawah umur satu tahun
tidak dijumpai penyebab yang spesifik sehingga digolongkan sebagai infantile
idiophatic intussusceptions. Intususepsi idiopatik memiliki etiologi yang tidak
jelas. Salah satu teori untuk menjelaskan kemungkinan etiologi intususepsi
idiopatik adalah bahwa hal itu terjadi karena Peyer patch yang membesar,
hipotesis ini berasal dari 3 pengamatan: (1) penyakit ini sering didahului oleh
infeksi saluran pernapasan atas, (2) wilayah ileokolika memiliki konsentrasi
tertinggi dari kelenjar getah bening di mesenterium, dan (3) pembesaran
kelenjar getah bening sering dijumpai pada pasien yang memerlukan operasi.
Apakah Peyer patch yang membesar adalah reaksi terhadap intususepsi atau
sebagai penyebab intususepsi, masih tidak jelas.

b. Kausal
Pada penderita intususepsi yang lebih dari dua tahun, adanya kelainan usus
dapat menjadi penyebab intususepsi seperti: inverted Meckels diverticulum,
polip usus, leiomioma, leiosarkoma, hemangioma, blue rubber blep nevi,
lymphoma dan duplikasi usus. Divertikulum meckel adalah penyebab paling
utama, diikuti dengan polip seperti peutz-jeghers syndrom, dan duplikasi
intestinal. Lead point lain diantaranya lymphangiectasias, perdarahan
submukosa dengan Henoch-Schonlein purpura, trichobezoars dengan Rapunzel
syndrome, caseating granulomas yang berhubungan dengan tuberkulosis
abdominal.

Intususepsi dapat juga terjadi setelah laparotomi, yang biasanya timbul setelah dua
minggu pasca bedah, hal ini terjadi akibat gangguan peristaltik usus, disebabkan
manipulasi usus yang kasar dan lama, diseksi retroperitoneal yang luas dan hipoksia
lokal. Pada 30% anak, intususepsi didahului dengan infeksi virus gastrointestinal
atau saluran pernapasan akut.

1.3 Klasifikasi Intususepsi


Jenis intususepsi dapat dibagi menurut lokasinya pada bagian usus mana yang
terlibat, yaitu:

1
- Pada ileum dikenal sebagai jenis ileo-ileal
- Pada kolon dikenal dengan jenis colo-colica
- Pada ileo-caecal disebut ileocaecal

Jenis-jenis yang disebutkan di atas dikenal dengan intususepsi tunggal dimana


dindingnya terdiri dari tiga lapisan. Jika dijumpai dinding yang terdiri dari lima lapisan,
hal ini sering pada keadaan yang lebih lanjut disebut jenis intususepsi ganda, sebagai
contoh adalah jenis ileo-ileo-colica atau colo-colica.

1.4 Patofisiologi Intususepsi


Berbagai variasi etiologi yang mengakibatkan terjadinya intususepsi pada intinya
adalah gangguan motilitas usus terdiri dari dua komponen yaitu satu bagian usus yang
bergerak bebas dan satu bagian usus lainya yang terfiksir/atau kurang bebas
dibandingkan bagian lainnya, karena arah peristaltik adalah dari oral keanal sehingga
bagian yang masuk kelumen usus adalah yang arah oral atau proksimal, keadaan lainnya
karena suatu disritmik peristaltik usus, pada keadaan khusus dapat terjadi sebaliknya
yang disebut retrograd intususepsi pada pasien pasca gastrojejunostomi . Akibat adanya
segmen usus yang masuk kesegmen usus lainnya akan menyebabkan dinding usus yang
terjepit sehingga akan mengakibatkan aliran darah menurun dan keadaan akhir adalah
akan menyebabkan nekrosis dinding usus.
Perubahan patologik yang diakibatkan intususepsi terutama mengenai intususeptum.
Intususepien biasanya tidak mengalami kerusakan. Perubahan pada intususeptum
ditimbulkan oleh penekanan bagian ini oleh karena kontraksi dari intususepien, dan juga
karena terganggunya aliran darah sebagai akibat penekanan dan tertariknya mesenterium.
Apabila terjadi obstruksi sistem limfatik dan vena mesenterial, akibat penyakit berjalan

2
progresif dimana ileum dan mesenterium masuk ke dalam caecum dan colon, akan
dijumpai mukosa intussusseptum menjadi oedem dan kaku. Mengakibatkan obstruksi
yang pada akhirnya akan dijumpai keadaan strangulasi dan perforasi usus.
Pembuluh darah mesenterium dari bagian yang terjepit mengakibatkan
gangguan venous return sehingga terjadi kongesti, oedem, hiperfungsi goblet sel serta
laserasi mukosa usus. Hal inilah yang mendasari terjadinya salah satu manifestasi klinis
intususepsi yaitu BAB darah lendir yang disebut juga red currant jelly stool. Jika reduksi
intususepsi tidak dilakukan, terjadi insufisiensi arteri yang akan menyebabkan iskemik
dan nekrosis dinding usus yang akan menyebabkan pendarahan, perforasi, dan
peritonitis. Perjalanan penyakit yang terus berlanjut dapat semakin memburuk hingga
menyebabkan sepsis.
Invaginasi akan menimbulkan gangguan pasase usus (obstruksi) baik partiil maupun
total dan strangulasi. Hiperperistaltik usus bagian proksimal yang lebih mobile
menyebabkan usus tersebut masuk ke lumen usus distal. Usus bagian distal yang
menerima (intussucipient) ini kemudian berkontraksi, terjadi edema. Akibatnya terjadi
perlekatan yang tidak dapat kembali normal sehingga terjadi invaginasi.

1.5 Manifestasi klinis Intususepsi


Manifestasi klinis intususepsi berupa trias, yaitu:
- Anak mendadak kesakitan episodic, menangis dan mengangkat kaki (Craping
pain) atau menekuk kaki (drawing up the leg).
- Muntah warna hijau (cairan lambung)
- Defekasi feses campur lendir (kerusakan mukosa) atau darah (lapisan dalam)
yang disebut currant jelly stool.

Selain trias tersebut, ditemukan juga perut yang terlihat membuncit, terjadi
peningkatan suara usus, teraba massa berbentuk sosis.

Secara klasik perjalanan suatu intususepsi memperlihatkan gambaran sebagai berikut :

Anak atau bayi yang semula sehat dan biasanya dengan keadaan gizi yang baik, tiba-
tiba menangis kesakitan, terlihat kedua kakinya terangkat ke atas, penderita tampak
seperti kejang dan pucat menahan sakit, serangan nyeri perut seperti ini berlangsung
dalam beberapa menit. Di luar serangan, anak/bayi kelihatan seperti normal kembali.
Pada waktu itu sudah terjadi proses intususepsi. Serangan nyeri perut datangnya
berulang-ulang dengan jarak waktu 15-20 menit dengan lama serangan 2-3 menit. Pada
umumnya selama serangan nyeri perut itu diikuti dengan muntah berisi cairan dan
makanan yang ada di lambung.
Sesudah beberapa kali serangan dan setiap kalinya memerlukan tenaga, maka di luar
serangan si penderita terlihat lelah dan lesu dan tertidur sampai datang serangan kembali.
Proses intususepsi pada mulanya belum terjadi gangguan pasase isi usus secara total,
anak masih dapat defekasi berupa feses biasa, kemudian feses bercampur darah segar dan
lendir, kemudian defekasi hanya berupa darah segar bercampur lendir tanpa feses. BAB
darah dan lendir (red currant jelly stool) baru dijumpai sesudah 6-8 jam serangan sakit
yang pertama kali, kadang-kadang sesudah 12 jam. BAB darah lendir ini bervariasi
jumlahnya dari kasus per kasus, ada juga yang dijumpai hanya pada saat melakukan
colok dubur.

3
Red currant jelly stool

Karena sumbatan belum total, perut belum kembung dan tidak tegang, dengan
demikian mudah teraba gumpalan usus yang terlibat intususepsi sebagai suatu massa
tumor berbentuk curved sausage di dalam perut di bagian kanan atas, kanan bawah,
atas tengah atau kiri bawah. Tumor lebih mudah teraba pada waktu terdapat
peristaltik, sedangkan pada perut bagian kanan bawah teraba kosong yang
disebut dances sign. Hal ini akibat caecum dan kolon naik ke atas, ikut proses
intususepsi.
Sesudah 18-24 jam serangan sakit yang pertama, usus yang tadinya tersumbat
partial berubah menjadi sumbatan total, diikuti proses oedem yang semakin
bertambah, sehingga pada pasien dijumpai tanda-tanda obstruksi, seperti perut
kembung dengan gambaran peristaltik usus yang jelas, muntah warna hijau dan
dehidrasi.
Oleh karena perut kembung maka massa tumor tidak dapat diraba lagi dan
defekasi hanya berupa darah dan lendir. Apabila keadaan ini berlanjut terus akan
dijumpai muntah feses, dengan demam tinggi, asidosis, toksis dan terganggunya
aliran pembuluh darah arteri. Pada segmen yang terlibat menyebabkan nekrosis usus,
gangren, perforasi, peritonitis umum, shock dan kematian.
Perlu perhatian bahwa untuk penderita malnutrisi, gejala-gejala intususepsi tidak
khas. Tanda-tanda obstruksi usus baru timbul dalam beberapa hari. Pada penderita ini
tidak jelas tanda adanya sakit berat. Pada defekasi tidak ada darah. Intususepsi dapat
mengalami prolaps melewati anus. Hal ini mungkin disebabkan pada pasien
malnutrisi, memiliki tonus yang melemah, sehingga obstruksi tidak cepat timbul.

1.6 Diagnosis dan Diagnosis Banding Intususepsi


Untuk menegakkan diagnosis intususepsi didasarkan pada anamnesis, pemeriksaan
fisik, laboratorium dan radiologi.
Gejala klinis yang menonjol dari intususepsi adalah suatu trias gejala yang terdiri
dari:
- Nyeri perut yang datangnya secara tiba-tiba, nyeri bersifat hilang timbul. Nyeri
menghilang selama 10-20 menit, kemudian timbul lagi serangan baru.
- Teraba massa tumor di perut bentuk curved sausage pada bagian kanan atas, kanan
bawah, atas tengah, kiri bawah atau kiri atas.
- Buang air besar campur darah dan lendir yang disebut red currant jelly stool.

Bila penderita terlambat memeriksakan diri, maka sukar untuk meraba adanya
tumor, oleh karena itu untuk kepentingan diagnosis harus berpegang kepada gejala trias
intususepsi. Mengingat intususepsi sering terjadi pada anak berumur di bawah satu

4
tahun, sedangkan penyakit disentri umumnya terjadi pada anak-anak yang mulai berjalan
dan mulai bermain sendiri maka apabila ada pasien datang berumur di bawah satu tahun,
sakit perut yang bersifat kolik sehingga anak menjadi rewel sepanjang hari/malam, ada
muntah, buang air besar campur darah dan lendir maka pikirkanlah kemungkinan
intususepsi.
The Brighton Collaboration Intussuseption Working Group mendirikan sebuah
diagnosis klinis menggunakan campuran dari kriteria minor dan mayor. Strasifikasi ini
membantu untuk membuat keputusan berdasarkan tiga level dari pembuktian untuk
membuktikan apakah kasus tersebut adalah intususepsi.

Kriteria Mayor
1. Adanya bukti dari obstruksi usus berupa adanya riwayat muntah hijau, diikuti
dengan distensi abdomen dan bising usus yang abnormal atau tidak ada sama sekali.
2. Adanya gambaran dari invaginasi usus, dimana setidaknya tercakup hal-hal berikut
ini: massa abdomen, massa rectum atau prolaps rectum, terlihat pada gambaran foto
abdomen, USG maupun CT Scan.
3. Bukti adanya gangguan vaskularisasi usus dengan manifestasi perdarahan rectum
atau gambaran feses red currant jelly pada pemeriksaan Rectal Toucher.

Kriteria Minor
1. Bayi laki-laki kurang dari 1 tahun
2. Nyeri abdomen
3. Muntah
4. Lethargy
5. Pucat
6. Syok hipovolemi
7. Foto abdomen yang menunjukkan abnormalitas tidak spesifik.

Berikut ini adalah pengelompokkan berdasarkan tingkat pembuktian, yaitu :


a. Level 1 Definite ( pasti invaginasi)
Ditemukannya satu kriteria di bawah ini:
- Kriteria Pembedahan: Invaginasi usus yang ditemukan saat pembedahan
- Kriteria Radiologi: Air enema atau liquid contrast enema menunjukkan
invaginasi dengan manifestasi spesifik yang bisa dibuktikan dapat direduksi
oleh enema tersebut.
- Kriteria Autopsi: Invagination dari usus

b. Level 2 Probable (mungkin invaginasi)


Salah satu kriteria di bawah:
- Dua kriteria mayor
- Satu kriteria mayor dan tiga kriteria minor

c. Level 3 Possible
- Empat atau lebih kriteria minor

Pemeriksaan Fisik :
Teraba massa seperti sosis di daerah subcostal yang terjadi spontan
Nyeri tekan (+)
Dances sign (+): Sensasi kekosongan pada kuadran kanan bawah karena masuknya
sekum pada kolon ascenden

5
RT : pseudoportio(+): Sensasi seperti portio vagina akibat invaginasi usus yang lama
Pada feces lender darah (+)

Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Laboratorium
Meskipun hasil laboratorium tidak spesifik untuk menegakkan diagnosis intususepsi,
sebagai proses dari progresivitas, akan didapatkan abnormalitas elektrolit yang
berhubungan dengan dehidrasi, anemia dan atau peningkatan jumlah leukosit
(leukositosis >10.000/mm3).

2. Pemeriksaan Radiologi
a. Foto polos abdomen
- Melihat tanda obstruksi
- Menyingkirkan perforasi sebelum dilakukan pemeriksaan enema
- Tidak adanya gambaran usus di right lower quadrant (Dances sign)
- Terdapat gambaran soft tissue mass pada daerah invaginasi
Pada foto polos abdomen didapatkan distribusi udara di dalam usus tidak
merata, usus terdesak ke kiri atas, bila telah lanjut terlihat tanda-tanda obstruksi
usus dengan gambaran air fluid level, step ladder dan herring bone. Dapat
terlihat free air bila terjadi perforasi. Literatur lain menyebutkan bahwa foto
polos hanya memiliki akurasi diagnostik 45% untuk menegakkan diagnosis
intususepsi sehingga penggunaannya tidak diindikasikan jika ada fasilitas USG.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Hooker et al tahun 2008
dalam Radiographic Evaluation of Intussusception, tampilan foto polos
abdomen dengan posisi left side down decubitus meningkatkan kemampuan
untuk diagnosis atau menyingkirkan intususepsi.

Foto polos abdomen memperlihatkan massa jaringan lunak pada daerah


intususepsi.

b. Barium enema
Dikerjakan untuk tujuan diagnosis dan terapi, untuk diagnosis dikerjakan bila
gejala-gejala klinik meragukan. Pada barium enema akan tampak
gambaran cupping, coiled spring appearance.

6
Gambaran radiologi coiled spring
appearance pada intususepsi
c. Ultrasonografi (USG) Abdomen
Pilihan pertama pada kecurigaan invaginasi (menggantikan foto polos
abdomen) dan mereduksi invaginasi (menggantikan enema barium) karena
bebas radiasi
Memiliki sensitivitas serta spesifisitas tinggi jika dilakukan oleh tenaga
berpengalaman.
Potongan transversal: gambaran menyerupai donat (donuts sign atau target
sign) berupa lapisan-lapisan hiperekoik dan hipoekoik akibat overlapping
lapisan mukosa dan otot intussuscepiens dan intussusceptum dengan jaringan
lemak.
Potongan sagital: gambaran menyerupai ginjal (pseudo-kidney sign).
USG dapat memperlihatkan lead point sebagai peyebab invaginasi.
Tidak adanya aliran darah menandakan nekrosis yang memerlukan tindakan
bedah.

Pada USG, invaginasi terlihat sebagai lesi berbentuk donut (donuts sign) atau
menyerupai ginjal (pseudo kidney).

7
USG Color Doppler dapat memperlihatkan viabilitas vaskular usus (a) atau
menghilangnya aliran darah (b) yang menandakan sudah terjadi nekrosis pada
invaginasi sehingga merupakan kontraindikasi reduksi dengan enema.

d. CT Scan
Intususepsi yang digambarkan pada CT scan merupakan gambaran klasik seperti
pada USG yaitu target sign. Intususepsi temporer dari usus halus dapat terlihat
pada CT maupun USG, dimana sebagian besar kasus ini secara klinis tidak
signifikan.

Gambaran radiologi target sign pada CT scan

Diagnosis Banding
a. Gastroenteritis, bila diikuti dengan intususepsi dapat ditandai jika dijumpai
perubahan rasa sakit, muntah dan perdarahan.
b. Divertikulum Meckel, dengan perdarahan, biasanya tidak ada rasa nyeri.
c. Disentri amoeba, disini diare mengandung lendir dan darah, serta adanya obstipasi,
bila disentri berat disertai adanya nyeri di perut, tenesmus dan demam.
d. Enterokolitis, tidak dijumpai adanya nyeri di perut yang hebat.
e. Prolapsus recti atau Rectal prolaps, dimana biasanya terjadi berulang kali dan pada
colok dubur didapati hubungan antara mukosa dengan kulit perianal, sedangkan
pada intususepsi didapati adanya celah.

1.7 Tatalaksana Intususepsi


Dasar penatalaksanaan itususepsi adalah :
1. Koreksi keseimbangan cairan dan elektrolit.
2. Menghilangkan peregangan usus dan muntah dengan selang nasogastrik.
3. Antibiotika.
4. Laparotomi eksplorasi.
Keberhasilan penatalaksanaan invaginasi ditentukan oleh cepatnya pertolongan
diberikan, jika pertolongan kurang dari 24 jam dari serangan pertama, maka akan

8
memberikan prognosa yang lebih baik. Penatalaksanaan penanganan suatu kasus
invaginasi pada bayi dan anak mencakup tindakan :

TINDAKAN NON OPERATIF


a. Reduksi Hidrostatik
Metode ini dengan cara memasukkan barium melalui anus menggunakan kateter
dengan tekanan tertentu. Tingkat keberhasilan 50-78%. Kontra indikasi barium
enema adalah terdapatnya peritonitis, ruptur usus, sepsis dan terdapat gangren pada
usus. Oleh karena itu, kebanyakan pusat pediatrik menggunakan kontras cairan saline
(isootonik). Berikut ini adalah tahapan pelaksanaannya:
1. Masukkan kateter yang telah dilubrikasi ke dalam rectum dan difiksasi kuat
diantara pertengahan bokong.
2. Pengembangan balon kateter kebanyakan dihindari oleh para radiologis
sehubungan dengan risiko perforasi dan obstruksi loop tertutup.
3. Pelaksanaannya memperhatikan Rule of three yang terdiri atas: (1) reduksi
hidrostatik dilakukan setinggi 3 kaki di atas pasien; (2) tidak boleh lebih dari 3
kali percobaan; (3) tiap percobaan masing-masing tidak boleh lebih dari 3 menit.
4. Pengisian dari usus dipantau dengan fluoroskopi dan tekanan hidrostatik konstan
dipertahankan sepanjang reduksi berlangsung.
5. Reduksi hidrostatik telah sempurna jika media kontras mengalir bebas melalui
katup ileocaecal ke ileum terminal. Reduksi berhasil pada rentang 45-95%
dengan kasus tanpa komplikasi.

b. Reduksi Pneumostatik
Reposisi dengan tekanan udara makin sering digunakan karena lebih aman dan
hasilnya lebih baik dari pada reposisi dengan barium enema. Tekanan udara maksimal
110-120 mmHg untu anak, dan 80 mmHg untuk bayi. Tingkat keberhasilan 75-94%.
Reduksi dilakukan dengan bantuan ultra sonografi dan dimonitor secara fluroskopi
sejak udara dimasukkan ke dalam rectum. Berikut ini adalah langkah-langkah
pemeriksaannya:
1. Sebuah kateter yang telah dilubrikasi ditempatkan ke dalam rectum dan
direkatkan dengan kuat.
2. Sebuah manometer dan manset tekanan darah dihubungkan dengan kateter, dan
udara dinaikkan perlahan hingga mencapai tekanan 70-80 mmHg (maksimum
120 mmHg) dan diikuti dengan fluoroskopi. Kolum udara akan berhenti pada
bagian intususepsi, dan dilakukan sebuah foto polos.

9
3. Jika tidak terdapat intususepsi atau reduksinya berhasil, udara akan teramati
melewati usus kecil dengan cepat. Foto lain selanjutnya dibuat pada sesi ini, dan
udara akan dikeluarkan duluan sebelum kateter dilepas.
4. Untuk melengkapi prosedur ini, foto post reduksi (supine dan decubitus/upright
views) harus dilakukan untuk mengkonfirmasi ketiadaan udara bebas.
5. Reduksi yang sulit membutuhkan beberapa usaha lebih. Penggunaan glucagon
(0.5 mg/kg) untuk memfasilitasi relaksasi dari usus memiliki hasil yang beragam
dan tidak rutin dikerjakan.

TINDAKAN OPERATIF
Jika cara non operatif tidak berhasil, maka dilakukan penanganan bedah (operatif).
Penanganan bedah dilakukan dengan cara mengeksplorasi rongga abdomen melalui insisi
pada kuadran kanan bawah, lalu dicari segmen usus yang mengalami intususepsi.
Kemudian, dilakukan milking out pada intususeptum agar terlepas dari intususipien. Jika
kedua cara di atas tidak berhasil, maka dilakukan reseksi pada segmen yang mengalami
intususepsi.
Reduksi Manual (Milking) dan Reseksi Usus
Pasien dengan keadaan tidak stabil, didapatkan peningkatan suhu, angka lekosit,
mengalami gejala berkepanjangan atau ditemukan sudah lanjut yang ditandai dengan
distensi abdomen, feces berdarah, gangguan sistema usus yang berat sampai timbul
shock atau peritonitis, pasien segera dipersiapkan untuk suatu operasi. Laparotomi
dengan incisi transversal abdominal kuadran kanan bawah merupakan tindakan operasi
invaginasi. Tindakan selama operasi tergantung kepada penemuan keadaan usus, reposisi
manual dengan milking harus dilakukan dengan halus dan sabar, juga bergantung kepada
ketrampilan dan pengalaman operator. Reseksi usus dilakukan apabila pada kasus yang
tidak berhasil direduksi dengan cara manual, bila viabilitas usus diragukan atau
ditemukan kelainan patologis sebagai penyebab invaginasi. Setelah usus direseksi
dilakukan anastomose end to end apabila hal ini memungkinkan, bila tidak mungkin
maka dilakukan exteriorisasi atau enterostomi.

Terapi intususepsi pada orang dewasa adalah pembedahan. Diagnosis pada saat
pembedahan tidak sulit dibuat. Pada intususepsi yang mengenai kolon sangat besar
kemungkinan penyebabnya adalah suatu keganasan, oleh karena itu ahli bedah
dianjurkan untuk segera melakukan reseksi, dengan tidak usah melakukan usaha reduksi.

10
Pada intususepsi dari usus halus harus dilakukan usaha reduksi dengan hati-hati. Jika
ditemukan kelainan telah mengalami nekrose, reduksi tidak perlu dikerjakan dan reseksi
segera dilakukan. Pada kasus-kasus yang idiopatik, tidak ada yang perlu dilakukan selain
reduksi. Tumor benigna harus diangkat secara lokal, tapi jika ada keragu-raguan
mengenai keganasan, reseksi yang cukup harus dikerjakan.

1.8 Komplikasi Intususepsi


Intususepsi dapat menyebabkan terjadinya obstruksi usus. Komplikasi lain yang
dapat terjadi adalah dehidrasi dan aspirasi dari emesis yang terjadi. Iskemia dan nekrosis
usus dapat menyebabkan perforasi dan sepsis. Nekrosis yang signifikan pada usus dapat
menyebabkan komplikasi yang berhubungan dengan short bowel syndrome. Meskipun
diterapi dengan reduksi operatif maupun radiografik, striktur dapat muncul dalam 4-8
minggu pada usus yang terlibat.

Komplikasi post tindakan operatif intususepsi :


- Adynamis usus yang berkepanjangan
- Demam, infeksi pada luka operasi, urinary tract infection
- Enterostomy stenosis, subhepatic abses
- Gangguan keseimbangan elektrolit
- Sepsis

1.9 Pencegahan Intususepsi


- Pencegahan Primer
Upaya pencegahan dengan cara mempertahankan orang yang sehat agar tetap
sehat atau mencegah orang yang sehat menjadi sakit. Misalnya dengan
memberikan diet serat, untuk anak < 6 bulan lebih baik diberi ASI eksklusif, serta
sesuaikan pemberian makanan dengan usia anak.
- Pencegahan sekunder
Mendeteksi secara dini, mengadakan penatalaksaan medik untuk mengatasi
akibat fatal intususepsi.
- Pencegahan tersier
Tidakan perawatan post operasi serta melakukan mobilitas atau ambulasi sedini
mungkin untuk mencegah kecacatan dan menghindari komplikasi yang dapat
memperparah keadaan.

1.10Prognosis Intususepsi
Kematian disebabkan oleh intususepsi idiopatik akut pada bayi dan anak-anak
sekarang jarang di negara maju. Sebaliknya, kematian terkait dengan intususepsi tetap
tinggi di beberapa negara berkembang. Pasien di negara berkembang cenderung untuk
datang ke pusat kesehatan terlambat, yaitu lebih dari 24 jam setelah timbulnya gejala,
dan memiliki tingkat intervensi bedah, reseksi usus dan mortalitas lebih tinggi.
Mortalitas secara signifikan lebih tinggi (lebih dari sepuluh kali lipat dalam
kebanyakan studi) pada bayi yang ditangani 48 jam setelah timbulnya gejala daripada
bayi yang ditangani dalam waktu 24 jam setelah onset pertama. Angka rekurensi dari
intususepsi untuk reduksi nonoperatif dan operatif masing-masing rata-rata 5% dan 1-
4%.

11
DAFTAR PUSTAKA

Blanco FC. Intussusception. Medscape Reference [serial online] 2012 Jan 13 [disitasi tanggal
2016 Sep 28]; dapat diakses pada : URL: http://emedicine.medscape.com/article/930708-
overview#showall

Bines J, Ivanoff B. Acute Intussusception in Infants and Children: Incidence, Clinical


Presentation and Management: A Global Perspective. Geneva, Switzerland: World Health
Organization, 2002.

Chung DH. Intussusception. In: Atlas of General Surgical Techniques. Townsend CM &
Evers. Philadelphia, PA: Elsevier, 2010.

Ekenze SO, Mgbor SO. Childhood intussusception: The implications of delayed presentation.
Afr J Paediatr Surg 2011;8:15-8.

Fallan ME. Intussusception in Pediatric Surgery, Ashcraft KW, Holder TM (eds). 4th ed.
Philadelphia: WB Saunders Company, 2005.

Hooker RL, Schulman MH, Yu Chang, Kan JH. Radiographic evaluation of intussusception:
utility of left side down decubitus view. RSNA 2008;248:3.

IDAI. 2011. Pedoman Pelayanan MedisIkatan Dokter Anak Indonesia. Edisi II. Jakarta:
Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia.

Ignacio RC, Fallat ME. Intussusception. In: Holcomb GW. III, Murphy JM, eds. Ashcrafts
Pediatric Surgery. Philadelphia, PA: Elsevier, 2010.p.508.

Irish MS. Pediatric intussusception surgery. Medscape Reference [serial online] 2011 Apr 14
[disitasi pada 2016 Sep 28]; dapat diakses pada :
URL: http://emedicine.medscape.com/article/937730-overview#showall

Kartono D. Invaginasi dalam Kumpulan kuliah ilmu bedah. Reksoprodjo S, Pusponegoro AD,
et al. Binarupa Aksara: Tangerang. 2005.

Ramachandran P. Intussusception in pediatric surgery diagnosis and management. Puri P,


Hollwarth M editors. Spinger: Dordrecht Heidelberg. 2009.

Rasad, Syahriar. Radiologi Diagnostik edisi kedua. Jakarta : Balai penerbit FKUI.2008. p
245-253, p 256-258, p 415-416

Syamsuhidayat, R dan Wim De Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah. Ed.3. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC. 2010.

Santoso MIJ, Yosodiharjo A, Erfan F. Hubungan antara lama timbulnya gejala klinis awal
hingga tindakan operasi dengan lama rawatan pada penderita invaginasi yang dirawat di
RSUP. H. Adam Malik Medan. Universitas Sumatera Utara: Medan. 2011.

12
13