Anda di halaman 1dari 6

Komunikasi Masa dalam Pelayanan Kesehatan

1. Pengertian Komunikasi Masa

Menurut Bittner (Rakhmat, 2003:188), komunikasi massa adalah penyampaian


suatu pesan dengan perantara media massa kepada sejumlah besar orang. Berbeda
dengan komunikasi kelompok dan publik, komunikasi disebut massal apabila jumlah
penerima pesan melebihi 30 orang, yang tidak saling mengenal namun mempunyai
tujuan yang sama, yaitu mendapatkan informasi tertentu. Komunikasi massa dalam
bidang kesehatan penting karena dampak kesalahan dalam menyampaikan suatu
informasi kesehatan kepada masyarakat akan jauh lebih besar daripada dampak
komunikasi antara dua orang, misalnya dokter-pasien. Selain itu, kesehatan suatu
masyarakat bergantung pada usaha bersama, bukan usaha perorangan. Maka, promosi
dan edukasi kesehatan kepada masyarakat perlu dilakukan dengan benar, tepat
sasaran, dan efektif sehingga dapat tercipta entuk masyarakat yang sehat.

2. Tujuan Komunikasi Masa

Tujuan komunikasi massa adalah mengurangi kesenjangan informasi di kalangan


masyarakat. Dalam praktiknya, komunikasi massa tidak luput dari ketidaksempurnaan
korespondensi pesan, yaitu pengurangan substansi pesan pada setiap penyampaian
berikutnya. Hal ini dapat memicu mispersepsi karena bisa terjadi perbedaan makna
dari pengirim pesan sampai ke penerima pesan. Oleh karena itu, Lasswell mengajukan
formula dalam komunikasi massa yang dapat membantu meringankan akibat ini:
Who, says what, in which channel, to whom, with what
effect. Yang terpenting adalah bahwa perubahan makna suatu pesan akan terlihat
dari efeknya, maka pesan yang disampaikan tidak boleh berganti esensi walaupun
kata-katanya berbeda.

3. Alat Komunikasi Masa

Komunikasi massa dapat dilakukan melalui berbagai media, yaitu media cetak
(misalnya berita/artikel kesehatan, opini para ahli kesehatan, iklan perusahaan obat,
program kesehatan, pendidikan, kampanye kesehatan, dan info tentang tenaga medis
dan penyedia layanan kesehatan), media elektronik, annual reports, pertemuan,
pameran dagang kesehatan, presentasi, diskusi, dan penyuluhan.
Sekolah, di mana individu pertama kali mengenal nilai-nilai yang baik yang
akan ia bawa sampai dewasa, merupakan target komunikasi kesehatan massa yang
amat baik. Menurut Tones (1999), komunikasi massa di sekolah dapat dijalankan
dengan mengintegrasikan dan memperbaiki kurikulum formal dalam bidang
kesehatan, memperbaiki kondisi lingkungan sosial dan fisik bagi mendukung aktivitas
pembelajaran (termasuk memantau kinerja organisasi sekolah dalam mempromosikan
hidup sehat), dan membangun koneksi untuk sekolah tersebut agar kerjasama untuk
merealisasikan suatu program kesehatan dapat terjalin.

Selain di sekolah, promosi kesehatan mempunyai peluang besar untuk berhasil


apabila dilaksanakan di wilayah perkantoran, di mana 63% penduduk Indonesia
bekerja (World Bank, 2014). European Network for Workplace Health Promotion
(Federal Institute for Occupational Safety and Health, 1996) menyebutkan, prioritas
promosi kesehatan terletak pada pembangunan kesadaran akan pentingnya promosi
kesehatan di komunitas kerja dan penekanan tanggung jawab semua pemegang
saham. Selain disosialisasikan secara langsung ke semua karyawan dan staf
perusahaan, informasi kesehatan juga dapat disampaikan melalui pembentukan
kebijakan-kebijakan perusahaan yang menggunakan prinsip kesehatan, misalnya
kebijakan perusahaan farmasi yang mewajibkan karyawan sektor packagingnya untuk
mencuci tangan dan menggunakan hand-sanitizer sebelum bekerja. Dengan demikian,
diharapkan pesan di balik kebijakan itu dapat ditangkap dan dimengerti oleh
karyawan dan staf kantor.

Satu kelemahan promosi dan edukasi kesehatan di sekolah dan di tempat kerja
adalah bahwa kebiasaan-kebiasaan adiktif (seperti merokok, mencandu narkoba)
sangat sulit diubah hanya dengan memberikan penyuluhan atau mengintegrasikan
pengetahuan tentang bahayanya pada kesehatan ke dalam kurikulum sekolah. Namun,
setidaknya strategi ini dapat meningkatkan pengetahuan dan mencegah keinginan
orang-orang yang belum merokok atau mencandu untuk tidak memulainya.

Strategi komunikasi yang tepat adalah salah satu kunci keberhasilan


komunikasi massa dalam bidang kesehatan. Behavioural-change approach, self-
empowerment approach, dan collective-action approach adalah tiga strategi
komunikasi massa yang sering digunakan. The Behavioural-Change approach
bertujuan memampukan individu untuk membuat keputusan rasional, yaitu
menentukan kebiasaan hidup yang benar dengan cara meningkatkan pengetahuan
individu tentang bahaya-bahaya kesehatan melalui penyuluhan, pelajaran modul ilmu
kesehatan, dan lain-lain. The Self-Empowerment approach juga menekankan fokusnya
pada individu sebagai agen perubahan, yaitu dengan mengajak mereka mengambil
bagian dalam kegiatan-kegiatan konseling, kerja kelompok, dan pelatihan
keterampilan sosial, sehingga mereka mempunyai kontrol yang lebih besar atas
lingkungan luar dan dalamnya. Berbeda dari dua metode yang sebelumnya, The
Collective Action approach mengalihkan fokusnya pada usaha kolektif/bersama untuk
memperjuangkan kesehatan masyarakat. Langkah-langkah yang dilakukan misalnya
mendorong masyarakat bekerja bakti membersihkan saluran air dan membuang
sampah pada tempatnya.

Hal-hal lain seperti pamflet informasi pasien, label produk pangan, label obat,
dan klaim kesehatan juga turut berkontribusi dalam menyukseskan suatu komunikasi
kesehatan massal. Pamflet bertujuan untuk memberikan informasi mengenai suatu
tindakan/perawatan medis yang mungkin masih terdengar asing bagi masyarakat
awam, memberikan estimasi biaya pelayanan kesehatan, dan mengurangi pemakaian
jasa kesehatan yang tidak berakreditasi. (Coulter et al., 1998) Sedangkan pelabelan
produk pangan juga penting agar masyarakat waspada akan bahaya yang ditimbulkan
apabila konsumsi melebihi batas-batas tertentu. Komunikasi ini dilakukan dengan
memperbaiki sistem pengkodean (misalnya pelabelan Genetically Modified Foods)
yang harus dapat dimengerti dengan sekilas melihat oleh masyarakat yang sibuk
(Department of Health, 2004). Selain itu, iklan promosi makanan berlemak, bergula,
dan bergaram tinggi kepada anak-anak harus dibatasi, termasuk iklan rokok. Hal-hal
lain seperti label obat dan klaim kesehatan harus dipantau dengan baik karena
pembelian obat dengan atau tidak berdasarkan klaim kesehatan tertentu tidak menutup
kemungkinan terjadi kesalahan konsumsi obat yang dapat berakibat fatal.

Sarana media massa mempunyai potensi yang besar untuk menyebarluaskan


suatu informasi tentang kesehatan. Namun, kebiasaan media massa yang seringkali
menyoroti kebiasaan-kebiasaan karakter fiksi yang tidak menyehatkan, seperti
mengonsumsi makanan berkalori, bersodium, dan berlemak tinggi, serta memakan
camilan sambil berjalan (Signorelli, 1993) sebaiknya dikurangi. Reliabilitas artikel
hasil penelitian ilmiah juga perlu ditingkatkan, misalnya dalam penelitian kanker
payudara dan mamografi (Carlson et al., 1997).

Untuk menarik minat penonton, pesan kesehatan harus dibsuat dan


disampaikan dengan efektif. Penggunaan kalimat pesan, latar tempat, dan media yang
belum pernah digunakan sebelumnya, bahkan yang tidak mudah ditebak, akan sangat
menolong (Maibach dan Parrot, 1995). Selain itu, Hale dan Dillard (1995)
mengusulkan penggunaan elemen rasa takut (terhadap risiko berat kebiasaan-
kebiasaan buruk dalam kesehatan) yang dapat meningkatkan keberhasilan
penyampaian pesan. Namun, perlu ditambahkan bukti yang menunjukkan bahwa
target audience termasuk dalam kelompok yang rentan, disertai dengan solusi yang
mudah dijalankan dan efektif. Bagaimanapun juga, hanya dengan pemanfaatan
dengan kadar yang sesuai dan dengan memperhatikan siapa target audience-nya,
teknik ini bisa berhasil. Elemen ancaman dapat digunakan tetapi jangan berlebihan
apalagi kalau target audience-nya orang dewasa. Terakhir, komunikasi massa tentang
kesehatan akan lebih mudah diterima apabila lebih berorientasi kepada perbaikan dan
penambahan hal baru ke dalam kepercayaan masyarakat yang sudah ada daripada
kepada usaha mengubahnya. (Witte, 1995)
BAB III PENUTUP
Komunikasi menjadi hal yang sangat penting dalam kehidupan mmausia, sejatinya
dalam menjalani kehidupan bermasyarakat setiap orang pasti melakukan komunikasi dengan
orang lain. Komuikasi dapat diilakukan oleh siapa saja, termasuk oleh ahli kesehatan. Dalam
menyampaikan seputar infomasi kesehatan kepada masyarakat, ahli kesehatan pasti
memerlukan komunikasi. Selain itu dalam hal pelayanan kesehatan, komunikasi menjadi hal
yang sangat dibutuhkan, utamanya untuk menyampaikan informasi kesehatan, selebihnya
penerapan komunikasi bisa dilakukan pada saat menentukan tindakan dalam pelayanan
kesehatan.

Dalam menyampaikan informasi kesehatan dalm hal pelayanan kesehatan bisa juga
dilakukan dengan metode Komunikasi Masyarakat maupun Komunikasi Masa. Namun ada
beberapa hal yang harus dijadikan bahan pertimbangan ketika ahli kesehatan memakai dua
metode terseebut, sepert hambatan hambatan yang mungkin terjadi ketika proses komunikasi
sedang berlangsung. Jika hambatan yang ada dalam komunikasi bisa diatasi dan dihindari
dengan sebaik mungkin, bisa meminimalisir terjadinya salah persepsi dalam menangkap
informasi kesehatan yang disampaikan, sehiingga bisa berakibat fatal nantinya.

Sebagai ahli kesehatan, kita dituntut untuk bisa melakukan komunikasi dngan baik,
baik dengan masyarakat, pasien, maupun teman sesama ahli kesehatan. Peran sebagai ahli
kesehatan, tentu sangat diharapkan oleh banyak orang dalam penyampaian seputar informasi
kesehatan, hal inilah yang menjadi alasan pentingnya ahli kesehatan utuk memahami betul
apa saja yang harus dierhatikan saat melakukan proses komunikasi itu sendiri.
DAFTAR PUSTAKA

Berry D. Health Communication Theory and Practice. Berkshire: Open


University Press; 2007. p. 87,89,90-101,103-111.
Bor R, Lloyd M. Communication Skills for Medicine, 2 nd ed. New York:
Churchill Livingstone; 1996.
Darwis Y. Meningkatkan Kesadaran dan Peran Aktif Masyarakat dalam
Pencapaian Target Millenium Development Goals (MDGs) 4 dan 5 di
Indonesia Melalui Strategi Komunikasi dan Branding. Indonesia:
Universitas Andalas; 2013.
Suprapto, Tommy. 2006. Pengantar Teori Komunikasi. Yogyakarta :
Media Pressindo.
Cangara, Havied. 2002. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta : Raja
Grafindo Persada.