Anda di halaman 1dari 19

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang,
Kami panjatkan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah,
dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas mata kuliah
manajemen industri otomotif

Tugas ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai
pihak sehingga dapat memperlancar tugas kami. Untuk itu kami menyampaikan banyak
terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan tugas ini.

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan
baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan
terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat
memperbaikinya.

Yogyakarta , Maret 2017

Sadida Fahmi

1
Daftar Isi

Bab I Pendahuluan
Latar belakang........................................................................................................................3
rumusan masalah....................................................................................................................4
Tujuan ...................................................................................................................................4

Bab II Landasan teori.............................................................................................................5


Bab III Pembahasan...............................................................................................................7
a. Perjanjian sewa menyewa..................................................................................................7
b. Prosedur IMB.....................................................................................................................8
c. Perizinan kegiatan usaha....................................................................................................9
1. TDP..............................................................................................................................9
2. SIUP.............................................................................................................................11
3. NPWP...........................................................................................................................13
4. HO................................................................................................................................15

Bab IV Penutup......................................................................................................................17
a. Kesimpulan ........................................................................................................................17
b. Saran ..................................................................................................................................17
c. Daftar pustaka....................................................................................................................18

Lampiran hasil observasi

2
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Badan Penanaman Modal Pelayanan Perizinan Terpadu atau disebut BPMPPT. BPMPPT
mempunyai tugas melaksanakan penyelenggaraan pemerintahan daerah di bidang penanaman
modal dan pelayanan perizinan secara terpadu. BPMPPT ini merupakan unsur pendukung
Pemerintah Daerah yang dipimpin oleh Kepala Badan yang berkedudukan di bawah dan
bertanggung jawab kepada Bupati melalui Sekretaris Daerah.

Struktur organisasi pada BPMPPT yaitu meliputi : kepala dinas, unsur pembantu
pimpinan, unsur pelaksana. Kewenangan Penyelenggaraan perizinan oleh BPMPPT
meliputi :Izin Peruntukan Penggunaan Tanah/IPR, Keterangan Persyaratan Tata Bangunan
dan Lingkungan (SKTBL) selain yang dilimpahkan kepada Camat, Dokumen Keterangan
Rencana Tata Letak Bangunan dan Lingkungan (RTB), Izin Mendirikan Bangunan selain
yang dilimpahkan kepada Camat, Izin Gangguan selain yang dilimpahkan kepada Camat,
Tanda Daftar Usaha Pariwisata, Izin Usaha Industri, Tanda Daftar Industri,Izin Perluasan
Industri, Surat Izin Usaha Perdagangan,Tanda Daftar Perusahaan, Tanda Daftar Gudang,
Surat Izin Usaha Perdagangan Minuman Beralkohol, Izin Usaha Toko Modern, Izin Usaha
Pusat Perbelanjaan, Izin Penyelenggaraan Pemondokan, Izin Prinsip Penanaman Modal, Izin
Prinsip Perluasan Penanaman Modal, Izin Prinsip Perubahan Penanaman Modal, Izin Usaha
Penanaman Modal, Izin Usaha Perluasan Penanaman Modal,Izin Usaha Penggabungan
Perusahaan Penanaman Modal (Merger),Izin Usaha Perubahan Penanaman Modal, Izin
Pembukaan Kantor Cabang Perusahaan Penanaman Modal

BPMPPT dalam menyelenggarakan 24 jenis perizinan dalam pelaksanaanya tidak seluruh


izin dapat dilaksanakan, ada 4 jenis izin yang tidak dapat dilaksanakan meliputi : Izin Usaha
Penanaman Modal, Izin Usaha Perluasan Penanaman Modal, Izin Usaha Perubahan
Penanaman Modal, Izin Pembukaan Kantor Cabang Perusahaan Penanaman Modal.Izin
Usaha Penanaman Modal, Izin Usaha Perluasan Penanaman Modal, dan Izin Usaha
Perubahan Penanaman Modal tidak dilaksanakan karena secara teknis telah terakomodasi
dalam jenis izin usaha yang sudah ada sebelumnya yaitu: Surat Izin Usaha Perdagangan
(SIUP), Tanda Daftar Perusahaan (TDP), Tanda Daftar Industri (TDI), Izin Usaha Industri
(IUI). Apabila keempat jenis izin usaha penanaman modal dilaksanakan akan terjadi duplikasi
izin yang diberikan.Izin Pembukaan Kantor Cabang Perusahaan Penanaman Modal tidak
dapat dilaksanakan karena berdasarkan Peraturan Kepala Badan Koordinasi Penanaman
Modal Nomor 14 Tahun 2015 tentang Pedoman dan Tata Cara Izin Prinsip Penanaman Modal
menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi.

Direktorat Jenderal Pajak atau disebut DJP adalah salah satu direktorat jenderal di
bawah Kementerian Keuangan Indonesia yang mempunyai tugas yang melaksanakan
kebijakan dan standardisasi teknis di bidang perpajakan. Tugas DJP sesuai amanat Peraturan
Menteri Keuangan Nomor 184/ PMK.01/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja

3
Kementerian Keuangan adalah merumuskan dan melaksanakan kebijakan dan standardisasi
teknis di bidang perpajakan. Dalam mengemban tugas tersebut, DJP menyelenggarakan
yaitu : perumusan kebijakan di bidang perpajakan, pelaksanaan kebijakan di bidang
perpajakan, penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang perpajakan,
pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang perpajakan dan pelaksanaan administrasi
DJP. Organisasi DJP terbagi atas unit kantor pusat dan unit kantor operasional. Kantor pusat
terdiri atas Sekretariat Direktorat Jenderal, direktorat, dan jabatan tenaga pengkaji. Unit
kantor operasional terdiri atas Kantor Wilayah DJP (Kanwil DJP), Kantor Pelayanan Pajak
(KPP), Kantor Pelayanan, Penyuluhan, dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP), dan Pusat
Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan (PPDDP).

Kecamatan merupakan wilayah kerja camat sebagai perangkat daerah yang dipimpin oleh
camat yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Bupati melalui Sekretaris
Daerah.Kecamatan mempunyai tugas melaksanakan kewenangan pemerintah yang
dilimpahkan oleh Bupati untuk menangani sebagian urusan otonomi daerah dan
menyelenggarakan tugas umum pemerintahan.

Dalam menyelenggarakan tugas kecamatan mempunyai fungsi : perumusan kebijakan


teknis sebagian urusan otonomi daerah dan tugas umum pemerintahan, pelaksanaan tugas
sebagian urusan otonomi daerah dan tugas umum pemerintahan, penyelenggaraan pelayanan
umum, pembinaan dan pengoordinasian wilayah dan, pelaksanaan tugas lain yang diberikan
oleh Bupati sesuai dengan tugas dan fungsinya

Definisi usaha menengah menurut instruksi presiden nomor 10 tahun 1999 adalah
kegiatan ekonomi rakyat yang memiliki kekayaan bersih tidak termasuk tanah dan bangunan
tempat usaha lebih besar dari Rp 200 juta sampai paling banyak Rp. 10 miliar(Suhardjono,
2003 : 33)

B. Rumusan masalah

1. Bagaimana proses-proses dalam proses perizinan mendirikan usaha?

2. Apa saja syarat yang perlu disiapkan dalam pengurusan mendirikan usaha?

3. Bagaimana hasil observasi terkait hal mendirikan usaha?

C. Tujuan

kami ingin menjelaskan kepada pembaca tentang dunia usaha dan tahap-tahap
membuka usaha, supaya bagi pembaca yang ingin membuat usaha baru tidak salah dalam
mengambil tindakan. Serta bertujuan memberi wawasan dan pengetahuan yang lebih tentang
tahap-tahap membuat usaha baru yang ingin dijalankan.

4
BAB II
LANDASAN TEORI

1. Undang-undang no.40 tahun 2007 tentang perseroan terbatas


2. Undang-undang no.8 tahun 1997 tentang dokumen perusahaan
3. Undang-undang no.8 tahun 1995 tentang pasar modal berkaitan dengan pembentukan
PT Terbuka
4. Peraturan pemerintah no. 26 tahun 1998 tentang pemakaian nama perseroan terbatas
5. Peraturan pemerintah nomor 27 tahun 1998 tentang pemakaian nama perseroan
terbatas
6. Keputusan menkumham republik indonesia no. M-01.HT.01.01 tahun 2000 tanggal 4
oktober 2000 tentang pemberlakuan sistem administrasi badan hukum dan hak asasi
manusia republik Indonesia.
7. Keputusan Jenderal Administrasi Hukum Umum No. C-1.HT.01.01 Tahun 2001
tentang Dokumen Pendukung Format Isian Akta Notaris (FIAN) model 1 dan
Dokumen Pendukung Format Isian Akta Notaris (FIAN)model 11 untuk perseroan
terbatas tertentu.
8. Surat edaran Direktur Jenderal Administrasi Hukum Umum Departemen Hukum dan
Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. C-1.HT.01.10-03 pada tanggal 8 maret
2004 tentang berakhirnya sistem manual terhadap permohonan pengesahan akta
pendirian, persetujuan dan pelaporan akta perubahan anggaran dasar perseroan
terbatas.
9. Keputusan Jenderal Administrasi Hukum Umum Departemen Hukum dan Hak Asasi
Manusia Republik Indonesia No. C-1.HT.01.01 pada tahun 2003 tanggal 22 januari
2003 tentang tata cara pengajuan permohonan dan pengesahan akta pendirian dan
persetujuan akta perubahan anggaran dasar perseroan terbatas.
10. Berdasarkan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan
No.289/MPP/Kep/10/2001 tentang Ketentuan Standar Pemberian SIUP, setiap
Perusahaan yang melakukan kegiatan usaha perdagangan wajib memperoleh Surat
Izin Usaha Perdagangan (SIUP).

5
11. Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia No. 46/M-Dag/Per/9/2009tentang
Perubahan atas Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia No. 36/M-
Dag/Per/9/2007 Tahun 2007 tentang Penerbitan Surat Izin Usaha
Perdagangan ("Permendag 46/2009")

12. Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia No. 36/M-Dag/Per/9/2007


tentang Penerbitan Surat Izin Usaha Perdagangan ("Permendag 36/2007")
13. Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2009 tentang
Pedoman Penetapan Izin Gangguan Daerah ("Permendagri 27/2009")
14. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 228/M Tahun 2001.
15. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 101 Tahun 2001 tentang Kedudukan,
Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Menteri Negara.
16. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 103 Tahun 2001 tentang Kedudukan,
Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga
Pemerintah Non Departemen.
17. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 108 Tahun 2001 tentang Unit
Organisasi dan Tugas Eselon I Menteri Negara.
18. Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Tata
Kerja, dan Susunan Organisasi Kementerian Negara Koperasi dan UKM.
19. Peraturan Presiden Nomor 62 Tahun 2005 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden
Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi dan
Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia.

20. Inpres No. 10 Tahun 1999 tentang Pemberdayaan Usaha Menengah

21. Keppres No. 127 Tahun 2001 tentang Bidang/Jenis Usaha Yang Dicadangkan Untuk
Usaha Kecil dan Bidang/Jenis Usaha Yang Terbuka Untuk Usaha Menengah atau
Besar Dengan Syarat Kemitraan

22. Keppres No. 56 Tahun 2002 tentang Restrukturisasi Kredit Usaha Kecil dan
Menengah

23. Permenneg BUMN Per-05/MBU/2007 tentang Program Kemitraan Badan Usaha


Milik Negara dengan Usaha Kecil dan Program Bina Lingkungan

24. Permenneg BUMN Per-05/MBU/2007 tentang Program Kemitraan Badan Usaha


Milik Negara

6
25. PP No. 32 Tahun 1998 tentang Pembinaan dan Pengembangan Usaha Kecil

26. PP No. 44 Tahun 1997 tentang Kemitraan

27. Undang-undang No. 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah

28. UU No. 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil menengah

BAB III
PEMBAHASAN
Dalam prosedur yang harus ditempuh seorang yang akan mendirikan usaha kecil menengah
ada langkah yang harus ditempuh orang tersebut untuk memenuhi syarat sesuai badan hukum
yang pada negara indonesia ini baik peraturan daerah maupun peraturan nasional.

Sebelum melakukan pendaftaran tempat usaha, hal-hal yang perlu diperhatikan:

a. Perjanjian Sewa Menyewa

Perjanjian yang dilakukan oleh pemilik tanah dan Anda, baik berupa perjanjian tertulis
maupun perjanjian lisan harus diperhatikan bahwa objek dari perjanjian tersebut
digunakan sebagai kegiatan usaha. Berdasarkan Pasal 1554 jo Pasal 1560 KUHPer,
Anda sebagai penyewa wajib untuk menggunakan objek sewa sebagaimana tujuan
sewa yang diberikan oleh si pemberi sewa dan tidak diperkenankan untuk mengubah
wujud maupun tataan objek yang disewa. Apabila Anda sebagai penyewa tidak
menggunakan objek sewa sesuai dengan perjanjian sewa hingga menerbitkan suatu
kerugian kepada pihak pemberi sewa, maka pemberi sewa dapat meminta pembatalan
perjanjian sewa kepada Anda.

b. Izin Mendirikan Bangunan ( IMB )


Sebelum dilakukan proses pembangunan rumah atau bangunan, terlebih dahulu diperlukan
memenuhi kewajiban memiliki IMB (Izin Mendirikan Bangunan). Surat IMB diproleh dari
instansi beberbentuk dinas yang berada di wilayah pemerintah tingkat kota untuk setiap
rencana pembangunan rumah baru, rehabilitasi ataupun renovasi. Bangunan yang dimaksud

7
termasuk dalam IMB meliputi rumah tinggal, rumah susun, rumah ibadah hingga gedung
perkantoran.

Dalam mengurus surat IMB, sebaiknya dilakukan jauh hari sebelum dilakukan
pelaksanaan pembangunan sehingga di masa mendatang tidak bermasalah atau melanggar
peraturan daerah yang berlaku. Ketidak lengkapan dokumen properti akan menyulitkan
pemilik rumah kedepannya saat ingin melakukan renovasi atau melakukan jual-beli rumah
yang bersangkutan.

Persyaratan IMB

Untuk membuat IMB Bangunan Umum Non Rumah Tinggal (s/d 8 lantai) pemohon harus
melengkapi beberapa syarat mengurus IMB berupa :

Formulir permohonan IMB


Surat pernyataan tidak sengketa (bermaterai)
Surat Kuasa (jika dikuasakan)
KTP dan NPWP ( pemohon dan/yang dikuasakan)
Surat Pernyataan Keabsahan dan Kebenaran Dokumen
Bukti Pembayaran PBB
Akta Pendirian (Jika pemohon atas nama perusahaan/badan/yayasan)
Bukti kepemilikan tanah (surat tanah)
Ketetapan Rencana Kota (KRK)/RTLB
SIPPT (untuk luas tanah > 5.000 m2)
Gambar rancangan arsitektur (terdiri atas gambar situasi, denah, tampak, potongan,
sumur resapan) direncanakan oleh arsitek yang memiliki IPTB, diberi notasi GSB,
GSJ dan batas tanah)
Gambar konstruksi serta perhitungan konstruksi dan laporan penyelidikan tanah
(direncanakan oleh perencana konstruksi yang memiliki IPTB)
Gambar Instalasi (LAK/LAL/SDP/TDP/TUG)
IPTB (Izin Pelaku Teknis Bangunan) arsitektur, konstruksi dan instalasi ( legalisir
asli )
IMB lama dan lampirannya (untuk permohonan merubah/menambah bangunan)

Prosedur Pembuatan IMB

Pemohon ke bapeda
membuat IPPT
Membuat siteplan
Ke BPT mengurus
IMB

8
Menunggu proses selama
waktu 14 hari dan pihak
Pemohon menerima BPT melakukan evaluasi Mengisi Formulir
surat IMB

c. Perizinan Kegiatan Usaha

Dengan asumsi bahwa bentuk usaha yang dilakukan adalah Perusahaan Perorangan, maka
berdasarkan Pasal 1624 KUHPer, persekutuan berlaku sejak adanya perjanjian, jika
dalam perjanjian ini tidak disyaratkan syarat lain. Adapun perjanjian yang dimaksud di sini
dapat berupa perjanjian tertulis maupun perjanjian secara lisan. Sehingga, untuk
Perusahaan Peorangan tidak diperlukan adanya akta perusahaan.

Lebih lanjut terkait perizinan kegiatan usaha, dapat dilengkapi dokumen sebagai berikut :

1. Tanda Daftar Perusahaan ("TDP")


Berdasarkan Pasal 1 angka 1 UU 3/1982 yang dimaksud dengan Daftar Perusahaan
adalah daftar catatan resmi yang diadakan menurut atau berdasarkan ketentuan undang-
undang ini dan atau peraturan-peraturan pelaksanaannya, dan memuat hal-hal yang
wajib didaftarkan oleh setiap perusahaan serta disahkan oleh pejabat yang berwenang
dari kantor pendaftaran perusahaan
Adapun yang dimaksud dengan Perusahaan adalah setiap bentuk usaha yang
menjalankan setiap jenis usaha yang bersifat tetap dan terus-menerus dan yang
didirikan, bekerja serta berkedudukan dalam wilayah Negara Republik Indonesia, untuk
tujuan memperoleh keuntungan dan atau laba

Berdasarkan Pasal 2 ayat (1) Permendag 36/2007, diatur bahwa setiap Perusahaan
yang berbentuk :
a. Perseroan Terbatas;
b. Koperasi;
c. Persekutuan Komanditer (CV);
d. Firma (Fa);

9
e. Perorangan;
f. Bentuk Lainnya; dan
g. Perusahaan Asing dengan status Kantor Pusat, Kantor Tunggal, Kantor Cabang,
Kantor Pembantu, Anak Perusahaan, dan Perwakilan Perusahaan yang
berkedudukan dan menjalankan usahanya di wilyah Republik Indonesia

Sebagai asumsi apabila bentuk perusahaan yang ingin dibentuk adalah salah satu dari
bentuk usaha yang diatur dalam Pasal 2 ayat (1) Permendag 37/07, maka daftar
perusahaan wajib untuk dilaksanakan. Apabila bentuk perusahaan yang akan dibentuk
adalah perusahaan kecil, maka berdasarkan Pasal 6 UU 3/1982 jo Pasal 4 Permendag
36/2007 terdapat pengecualian kewajiban untuk mendaftarkan daftar perusahaan bagi
perusahaan kecil, namun apabila perusahaan kecil tetap dapat memperoleh TDP untuk
kepentingan tertentu, apabila perusahaan kecil tersebut menghendaki.

Lebih lanjut yang dimaksud dengan perusahanan kecil adalah:


1. Perusahaan yang dijalankan perusahaan yang diurus, dijalankan, atau dikelola oleh
pribadi, pemiliknya sendiri, atau yang mempekerjakan hanya anggota keluarganya
sendiri;
2. Perusahaan yang tidak diwajibkan memiliki izin usaha atau surat keterangan yang
dipersamakan dengan itu yang diterbitkan oleh instansi yang berwenang; atau
3. Perusahaan yang benar-benar hanya sekedar untuk memenuhi keperluan nafkah
sehari-hari pemiliknya.

Apabila perusahaan yang akan dibentuk merupakan perusahaan kecil pada dasarnya
tidak diwajibkan untuk melakukan pendaftaran perusahaan, namun apabila dihendaki
untuk kepentingan tertentu, tetap dapat mengajukan permohonan pendaftaran
perusahaan tersebut.

Hal-hal yang perlu di daftarkan

1) Akta pendirian perusahaan


2) Akta perubahan anggaran dasar dan laporan kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi
Manusia Republik Indonesia
3) Akta perubahan anggaran dasar dan surat persetujuan Mentri Hukum dan hak Asasi
Manusia Republik Indinesia.

Prosedur permohonan Tanda Daftar Perusahaan (TDP)

1) PERHONAN Tanda Daftar Perusahaan (TDP) yang berupa PT dan yayasan harus
mendapatkn pengesahaan dan persetujuan akta pendirian perusahaan dari Menteri Hukum
dan hak Asai Manusia terlebih dahulu.
2) Perusahaan mengambil formulir permihonan permohonan TDP
3) Perusahaan membayar biaya administrasi pendaftaran TDP sesuai dangan Surat Keputusan
Menteri Perdagangan No.286/Kep/II/85.
4) Petugas kantor pendaftaran perusahaan

10
Dokumen-dokmen yang diperlukan untuk pengurusan Tanda Daftar
Perusahaan (TDP)

Dokumen yang diperlukan untuk pengurusan Tanda Daftar Perusahaan (TDP), antara lain :
1) Untuk Perseroan Terbatas (PT), Persekutuan Komanditer (CV)/ Firma (Fa) dan Koperasi
adalah sebagai berikut.

1. Formulir Isian

2. Fotocopy Akta Pendirian Perusahaan

3. Fotocopy Pengesahaan Akta

4. Asli dan Fotocopy Pengesahaan Akta Pendirian

5. Fotocopy Surat Keterangan Domisili Perusahaan

6. Fotocopy Surat Izin Tempat Usaha

7. Nomor Pokok Wajib Pajak

8. Fotocopy SIUP

9. Fotocopy KTP

10. Fotocopy akta Pendirian dan Pengesahan

11. Fotocopy KTP penanggung jawab koperasi

12. Bukti setor biaya administrasi

13. Fotocopy paspor jika pemilik WNA

2. Surat Izin Usaha Perdagangan ("SIUP")


surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) adalah surat izin untuk dapat melaksanakan
kegiatan usaha perdagangan. Setiap perusahaan, koperasi, persekutuan maupun
perusahaan perseorangan, yang melakukan kegiatan usaha perdagangan wajib
memperoleh SIUP yang diterbitkan berdasarkan domisili perusahaan dan berlaku di
seluruh wilayah Republik Indonesia.

SIUP terdiri atas kategori sebagai berikut :

(1) SIUP Kecil wajib dimiliki oleh perusahaan perdagangan yang kekayaan bersihnya
lebih dari Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp.
500.000.000,- (lima ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.

11
(2) SIUP Menengah wajib dimiliki oleh perusahaan perdagangan yang kekayaan
bersihnya lebih dari Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling
banyak Rp. 10.000.000.000,- (sepuluh milyar rupiah) tidak termasuk tanah dan
bangunan tempat usaha

(3) SIUP Besar wajib dimiliki oleh perusahaan perdagangan yang kekayaan bersihnya
lebih dari Rp. 10.000.000.000,- (sepuluh milyar rupiah) tidak termasuk tanah dan
bangunan tempat usaha.

Setiap Perusahaan yang melakukan usaha perdangangan wajib untuk memilki SIUP.
Berdasarkan Pasal 4 ayat (1) huruf c Permendag 46/2009, terdapat pengecualian
kewajiban memiliki SIUP terhadap Perusahaan Perdagangan Mikro dengan kriteria:
a. Usaha Perseorangan atau persekutuan;
b. Kegiatan usaha diurus, dijalankan, atau dikelola oleh pemiliknya atau anggota
keluarga terdekat; dan
c. Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp50.000.000,- tidak termasuk tanah dan
bangunan.

Namun, Perusahaan Perdagangan Mikro tetap dapat memperoleh SIUP apabila


dikehendaki oleh Perusahaan tersebut.Permohonan SIUP ini diajukan kepada Pejabat
Penerbit SIUP dengan melampirkan surat permohonan yang ditandatangani oleh
Pemilik/Pengurus Perusahaan di atas materai yang cukup serta dokumen-dokumen yang
disyaratkan dalam Lampiran II Permendag 36/2007.

Dokumen-dokumen yang diperlukan untuk pengurusan Surat Izin Usaha Perdagangan


(SIUP)

Perusahaan baik PT, CV, koperasai maupun perseorangan harus membawa dokumen yang
lengkap beserta copynya untuk pengurusan SIUP ke Dinas Perindustriandan Perdagangan
kota/ kabupaten. Dokumen yang diperlukan antara lain :
1. Fotocopy akta notaris pendirian perusahaan
2. Fotocopy SK Pengesahan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia
3. Fotocopy NPWP
4. Fotocopy KTP pemilik
5. Fotocopy Surat Izin Tempat Usaha (SITU)
6. Fotocopy KK

12
7. Fotocopy surat keterangan domisili perusahaan
8. Fotocopy surat kontrak/ sewa
9. Foto direktur utama/ pimpinan perusahaan ukuran 3 x 4
10. Neraca perusahaan

SKTBL ( Surat Keterangan Tata Bangunan dan Lingkungan )

Syarat untuk melengkapi permohonan, SKTBL antara lain:


1. Fotocopy sertifikat tanah
2. Fotocopy KTP pemilik
3. Bukti hubungan pemilik tanah & bangunan
4. Surat tugas/kuasa (bermaterai Rp. 6000,-)
5. Fotocopy KTP pemegang surat tugas/kuasa
6. Gambar site plan ( rencana tapak bangunan ) dengan skala minimal 1:250
7. Denah lokasi
8. Rangkap 2 (dua)
9. Foto lokasi

Prosedur Pembuatan SIUP

Pemohon Pengambilan
formulir
Melengkapi
berkas

Berkas lengkap

Setuju Tanda terima


Pemohon Cek surat izin dan
menerima surat pembayaran berkas
izin

13
3. Nomor Pokok Wajib Pajak ( NPWP )

NPWP yaitu nomor yang diberikan pada seseorang Wajib Pajak sebagai sarana
dalam administrasi perpajakan yang digunakan sebagai tanda pengenal diri atau
identitas Wajib Pajak dalam melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya.

Memiliki NPWP (Nomor Wajib Pajak) adalah tanda bahwa seseorang tersebut
merupakan orang yang taat pajak.Nomor wajib Pajak (NPWP) terdiiri dari 15 digit
angka. Dalam deretan angka tersebut terdapat kode yang menyatakan jenis pajak,
nomor pajak yang dikeluarkan oleh kantor pajak, kantor yang melayani pembayaran
pajak tersebut, serta terdapat kode cabang pajak yang dibayarkan oleh seseorang
tersebut.

Sudah menjadi ketetapam pemerintah bahwa setiap wajib pajak baik individu
maupun pemilik perusahaan harus mempunyai Nomor Induk Wajib Pajak (NPWP).
Apabila omset penjualan mulai berkembang dan terus meningkat dalam jumlah tertentu
diwajibkan mendaftarkan perusahaan sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP) dan akan
diberikan Nomor Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak (NPPKP). Wajib pajak yang tidak
mendaftarkan diri ke Kantor Pelayanan Pajak akan dikenakan sanksi pidana sesuai
pasal 39 Undang-Undang No. 16 Tahun 2000 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-
Undang No.6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajaknnya.

Syarat-syarat yang harus dipenuhi saat akan pendaftaran NPWP (Nomor Pokok
Wajib Pajak)

14
1) Untuk Wajib Pajak Orang Pribadi (khusus Non Usahawan)
a. bagi penduduk asli Indonesia : Fotokopi KTP atau SIM
b. bagi Orang Asing : Fotokopi Paspor dan surat keteranngan domisili (Tempat Tinggal)
c. khusus bagi Usahawan : Surat keterangan tempat kegiatan usaha atau pekerjaan
bebas dari instansi yang berwenang

2) Untuk Wajib Pajak Badan


a. Fotokopi akta pendirian dan perubahan terakhir atau surat keterangan penunjukan
dari kantor pusat bagi BUT
b. Fotokopi KTP bagi penduduk Indonesia salah seorang pengurus;
c. Fotokopi paspor bagi orang asing dan surat keterangan tempat tinggal
d. Surat keterangan tempat kegiatan usaha dri instansi yang berwenang

3) Untuk seorang bendaharawan sebagai pemotong/pemungut :


a. Fotokopi KTP bendaharawan;
b. Fotokopi surat penunjukan sebagai bendaharawan.

4) Untuk seorang Joint operation sebagai wajib pajak pemotong/pemungut:


a. Fotokopi perjanjian kerja sama sebagai joint operation;
b. Fotokopi NPWP masing-masing anggota joint operation;
c. Fotokopi KTP bagi penduduk Indonesia dari salah seorang pengurus

Prosedur pembuatan NPWP

Pemohon Menyerahkan Surat keterangan Fotokopi akte


fotokopi domisili usaha pendirian badan
KTP/KK usaha

Mengisi formulir

Tanda terima Penyerahan berkas


pendataran wajib
15 pajak
4. Izin Gangguan (HO)
Surat Izin Gangguan (HO) merupakan surat keterangan izin kegiatan usaha kepada
orang pribadi atau badan di suatu lokasi tertentu yang berpotensi menimbulkan bahaya
kerugian dan gangguan, ketentraman, dan ketertiban umum tidak termasuk kegiatan
maupun tempat usaha yang lokasinya telah ditunjuk oleh Pemerintah Pusat atau
Daerah. SedangkanRetribusi Izin Gangguan merupakan pungutan atau retribusi sebagai
pembayaran atas pemberian izin tempat usaha atau kegiatan kepada orang pribadi atau
Badan yang dapat menimbulkan ancaman bahaya, kerugian atau gangguan.

Berdasarkan Pasal 1 angka 3 Permendagri 27/2009, yang dimaksud dengan Izin


Gangguan adalah pemberian izin tempat usaha/kegiatan kepada orang pribadi/badan di
lokasi tertentu yang dapat menimbulkan bahaya, kerugian, dan gangguan, tidak
termasuk tempat/kegiatan yang telah ditentukan oleh Pemerintah Pusat atau Pemerintah
Daerah.

Berdasarkan Pasal 5 Permendagri 27/2009 dokumen persyaratan Izin Gangguan yaitu


sebagai berikut :
a. Formulir Permohonan, yang sedikitnya memuat :
1. Nama Penanggung Jawab Usaha/Kegiatan;
2. Nama Perusahaan;
3. Alamat Perusahaan;
4. Bidang usaha/kegiatan;
5. Lokasi Kegiatan;
6. Nomor Telepon perusahaan;
7. Wakil Perusahaan yang dapat dihubungi;
8. Ketersediaan sarana dan prasarana teknis yang diperlukan dalam menjalankan
usaha;
9. (ix) Pernyataan pemohon izin tentang kesanggupan memenuhi ketentuan
perundang-undangan
b. Foto copy KTP Pemohon;

16
c. Foto copy Surat Izin Lokasi/Domisili;
d. Foto copy NPWP;
e. Apabila pemohon adalah pemilik tempat usaha, maka dokumen yang wajib
dilampirkan adalah:
(i) Foto copy Akta Perusahaan (apabila merupakan badan usaha atau badan
hukum);
(ii) Foto copy PBB terakhir
(iii) Foto copy Surat Kepemilikan tanah;
(iv) Foto copy IMB/IPB/KRK.
f. Apabila pemohon adalah penyewa tempat usaha, maka dokumen yang diwajibkan
adalah surat perjanjian sewa dengan pemilik tempat usaha.
g. Surat Persetujuan Tetangga yang diketahui RT/RW setempat.

Izin Gangguan ini diberikan oleh Bupati/Walikota, khusus untuk DKI Jakarta
pemberian izin gangguan merupakan kewenangan Gubernur.
Alur Mengurus HO
Alur mengurus Surat Izin Gangguan (HO) adalah sebagai berikut :
1. Fotokopi Surat Izin Lokasi/klarifikasi tanah
2. Fotokopi KTP yang masih berlaku
3. Gambar denah lokasi dilengkapi tata letak mesin peralatan
4. Fotokopi Akta Pendirian Perusahaan jika Berbadan Hukum
5. Fotokopi Bukti Kepemilikan / Penguasaan Tanah dan Bangunan
6. Surat Pernyataan tidak keberatan dari tetangga

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari hasil observasi kami terkait dengan perizinan dalam hal mendirikan usaha kecil
menengah seorang pemohon harus mempersiapkan syarat syaratnya yang meliputi ke kantor
kecamatan dalam mengurus izin gangguan atau HO. Dari situ pemohon akan diberikan
formulir permohonan izin gangguan baru dan juga surat prnyataan kesanggupan pengelolaan
dan pemantauan lingkungan hidup (SPPL). Selanjutnya pemohon juga ke badan penanaman
modal dan pelayanan terpadu atau BPMPPT. Disini penulis mengunjungi BPMPPT kab.

17
Sleman. Dari sini pemohon akan surat izin gangguan atau HO, surat izin usaha perdagangan
(SIUP), permohonan surat keterangan tata bangunan lingkungan (SKTBL), permohonan surat
izin mendirikan bangunan (IMB). Dan selanjutnya untuk memenuhi prosedur dalam hal
memenuhi syarat pemohon juga ke direktorat jenderal pajak misalnya untuk memenuhi
NPWP dan lainnya.

B Saran
Penulis menyarankan kepada calon pengusaha untuk memahami materi sebelumnya untuk
proses ini sebelum mendirikan usaha. Sehingga ketika calon pengusaha tidak kebingungan
dalam proses perizinan usaha kecil menengah ini.

DAFTAR PUSTAKA
http://www.depkop.go.id/regulasi-dan-dasar-hukum/
http://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt4ec1e7d00cf43/prosedur-perizinan-
usaha-kecil

Badan penanaman modal pelayanan perizinan terpadu kab. Sleman


Direktorat jenderal pajak Yogyakarta
Kantor kecamatan depok sleman Yogyakarta

18
19