Anda di halaman 1dari 13

Asuhan Keperawatan Deep Vein Thrombosis (DVT)

Disusun Oleh
Ariwayati, Anik S, Emi Sara, Wahyudi

PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH


RSUD PROF. Dr. MARGONO SOEKARDJO PURWOKERTO
Asuhan Keperawatan Deep Vein Thrombosis (DVT)
A. Pengertian
Deep Vena Trombosis (DVT) adalah Suatu kondisi dimana terbentuk bekuan darah
dalam vena sekunder akibat inflamasi / trauma dinding vena atau karena obstruksi vena
sebagian, yang mengakibatkan penyumbatan parsial atau total sehingga aliran darah
terganggu (Doenges, 2000).
Deep Vein Thrombosis (DVT) adalah terbentuknya bekuan darah (trombus) pada salah satu
vena dalam yang menyalurkan darah kembali ke jantung. Cedera traumatik merupakan salah
satu faktor risiko penting untuk terbentuknya DVT. Pembentukan trombus melibatkan tiga
faktor penting meliputi aliran darah, komponen darah, dan pembuluh darah yang dikenal
sebagai Virchows Triad. Temuan klasik nyeri pada betis pada saat kaki dorsifleksi (Homans
sign) merupakan tanda yang spesifik tetapi tidaksensitif dan terjadi pada setengah pasien
dengan DVT.
B. Etiologi / Predisposisi
Pada dasarnya penyebab utama DVT belum jelas, namun ada 3 faktor yang dianggap
penting dalam pembentukan bekuan darah, hal ini dihubungkan dengan :
1. statis aliran darah
2. abnormalitas dinding pembuluh darah
3. gangguan mekanisme pembekuan
Statis vena terjadi bila aliran darah melambat, seperti pada gagal jantung dan syock,
ketika vena berdilatasi, sebagai akibat terapi obat, dan bila kontraksi otot skeletal berkurang,
seperti pada istirahat lama, paralysis ekstremitas atau anestesia. Tirah baring terbukti
memperlambat aliran darah tungkai sebesar 50%. Kerusakan lapisan intima pembuluh darah
menciptakan tempat pembentukan bekuan darah. Trauma langsung pada pembuluh darah,
seperti pada fraktur atau dislokasi, penyakit vena dan iritasi bahan kimia terhadap vena, baik
akibat obat atau larutan intra vena, semuanya dapat merusak vena. Kenaikan koagubilitas
terjadi paling sering pada pasien dengan penghentian obat antikoagulan secara mendadak.
Kontrasepsi oral dan sejumlah besar diskrasia dapat menyebabkan hiperkoagulabilitas
Faktor risiko:
1. Usia di atas 40 tahun
2. Imobilisasi
3. Obesitas
4. Keganasan
5. Sepsis
6. Trombofilia
7. Penyakit inflamasi usus
8. Trauma
9. Penyakit jantung
10. Kehamilan
C. Patofisiologi
Pembentukan trombus melibatkan tiga faktor penting meliputi aliran darah, komponen
darah, dan pembuluh darah yang dikenal sebagai Virchows Triad. Trauma mayor sering
mempengaruhi salah satu atau ketiga faktor ini yaitu hiperkoagulabilitas, cedera endotel dan
stasis vena. Pasien trauma dengan ketiga faktor tersebutsangat berisiko untuk mengalami
DVT. Cedera langsung pada pembuluh darah dapat menyebabkan kerusakan tunika intima
yang memicu trombosis sedangkan istirahat di tempat tidur dalam waktu yang cukup lama,
imobilisasi, hipoperfusi dan paralisis yang lama dapat memicu terjadinya stasis vena. Cedera
tunika intima vena nampaknya menjadi penyebab utama terbentuknya DVT. Respon alami
tubuh terhadap trauma vena adalah mengurangi pendarahan dari pembuluh darah yang rusak.
Paparan protein-protein pada endotelium yang rusak memulai aktivasi dan proses adesi dari
trombosit dan akhirnya memicu pembentukan trombin dan trombosis berikutnya.
Hiperkoagulabilitas merupakan fenomena yang diketahui terjadi sesudah trauma. Seyfer dan
rekan-rekannya memperlihatkan bahwa kadar Antithrombin-III (AT III) menurun dengan
cepat dalam beberapa jam sesudah terjadi trauma berat, yang mengindikasikan suatu keadaan
hiper koagulabilitas.
D. Manifestasi Klinik
DVT secara klasik menimbulkan nyeri dan edema pada ekstremitas. Gejala-gejala ini
dapat muncul ataupun tidak, unilateral atau bilateral, ringan atau berat bergantung pada
trombus yang terbentuk. Trombus yang tidak menyebabkan obstruksi aliran vena sering
asimptomatik. Edema merupakan gejala paling spesifik dari DVT. Trombus yang terdapat
pada iliac bifurcation, vena pelvis, vena kava menimbulkan edema kaki yang biasanya
bilateral. Temuan klasik nyeri pada betis pada saat kaki dorsifleksi (Homanssign) merupakan
tanda yang spesifik tetapi tidak sensitif dan terjadi pada setengahpasien dengan DVT.
E. Pemeriksaan Penunjang
1. Venografi atau flebografi
Venografi atau flebografi merupakan pemeriksaan standar untuk mendiagnosis DVT
baik pada betis,paha maupun ileofemoral. Pemeriksaan venografi dilakukan dengan
penyuntikan kontras pada distal kedua tungkai . Kemudian fluoroskopi akan menangkap
image bekuan darah yang akan terlihat sebagai filling defect dari kontras.
2. Venous Impedance Plethysmography (IPG)
3. Magnetic Resonance Imaging (MRI)
MRI umumnya digunakan untuk mendiagnosis DVT pada perempuan hamil atau
DVT pada daerah pelvis, iliaka dan vena kava dimana Duplex scanning pada ekstremitas
bawah menunjukkan hasil negatif.
4. Pemeriksaan laboratorium
Pada penderita dilakukan pemeriksaan D Dimer, D Dimer menandakan adanya
bekuan darah. Jika D Dimer negatif maka kemungkinan trombosis vena dalam dapat
disingkirkan.
5. Dupleks Ultra sonografi
Pemeriksaan ini sekarang banyak dilakukan untuk mencari trombosis vena dalam.
Keuntungan pemeriksaan ini adalah murah, tidak invasif, tidakmenggunakan
kontras,dapat dipindah pindahkan.
6. Pemeriksaan USG
Meliputi pemeriksaan kompressibilitas, echoe intra lumen, karakteristik aliran vena,
dan pengisian lumen. Diantar kriteria diatas yang paling menentukan adalah
kompressibilitas dari lumen vena. Jika ditemukan lumen vena yang tidak bisa kolaps
pada saat ditekan, maka hampir bisadipastikan bahwa lumennya terisi oleh trombus.
7. Pemeriksaan untuk trombofilia
Penderita yang jelas penyebabnya akibat trauma atau immobilisasi dan serangan
pertama tidak memerlukan pemeriksaan untuk mencari trombofilianya. Penderita diatas
50 tahun dengan serangan pertama dan tak ada riwayat keluarga dianggap kecil
kemungkinan menderita trombofilia dan pemeriksaan yang dilakukan terbatas. Pasien
dengan sebab idiopatik dan usia dibawah 50 tahun, trombosis berulang dan pasien
dengan riwayat keluarga harus dipertimbangkan sebagai penderita trombofilia dan harus
menjalani evaluasi untuk mencari penyebabnya.
F. PENATALAKSANAAN
Tujuan utama penatalaksanaan DVT adalah mengurangi keluhan, menghentikan
perluasan trombus, mencegah terbentuknya trombosis ulangan. Segera setelah diagnosis DVT
ditegakkan maka pengobatan antikoagulan harus segera diberikan dengan
mempertimbangkan apakah terdapat kontraindikasi seperti perdarahan yang aktif,
trombositopenia (platelet < 20.000/mm3) dan pasca operasi mayor. Pilihan rejimen
penggunaan awal pada orang dewasa antara lain :
(1) Unfractionated Heparin (UFH) intravena dengan dosis bolus awal 80 IU /kg diikuti oleh
infus intravena kontinyu, dosis awal adalah 18 IU/kg/jam dengan dosis maksimal 40.000
IU/hari. Dengan penyesuaian dosis untuk target activated parsial thromboplastin time(aPTT)
memanjang sesuai dengan tingkat plasma heparin 0,3-0,7 IU/mL aktivitas anti-faktor Xa
selama 5 sampai 7 hari atau dengan kata lain aPTT diperpanjang 1,5-2 kali dari kontrol. aPTT
harus diperiksa 4-6 jam setelah injeksi bolus awal dan 3 jam setelah penyesuaian dosis atau
satu kali sehari jika target dosis terapi telah tercapai. Jika target APTT sudah tercapai maka
penggunaanUnfractionated Heparin dapat dihentikan setelah 5 hari setelah penggunaannya
bersama warfarin. Untuk pengobatan trombosis masif penggunaan heparin dapat
diperpanjang sampai 7- 14 hari.
(2) Low Molecular Weight Heparins (LMWH) dengan injeksi subkutan, tanpa perlu
pemeriksaan rutin anti-faktor Xa (rejimen seperti enoxaparin dua kali sehari dengan dosis 1
mg / kg atau sekali sehari dengan 1,5 mg / kg, dalteparin sekali sehari dengan dosis 200 IU /
kg atau dua kali sehari pada 100 IU / kg, atau tinzaparin sekali sehari pada 175 anti-Xa IU /
kg). Pada pasien yang sudah terdignosa DVT maka LMWH merupakan antikoagulan pilihan
utama sebagai terapi awal DVT. Karena mempunyai farmakokinetik yang bisa diprediksi
maka LMWH dapat diberikan secara subkutan tanpa perlu monitoring laboratorium. Pada
kasus tertentu seperti adanya penyakit ginjal(kliren kreatinin < 30 ml/menit), obesitas dan
kehamilan dianjurkan pemeriksaan level anti-Xa empat jam setelah pemberian LMWH atau
diganti dengan UFH.
(3) Fondaparinux dengan injeksi subkutan sekali sehari dengan dosis 5 mg untuk pasien
dengan berat 50 kg, 7,5 mg untuk pasien beratnya 50 sampai 100 kg, atau 10 mg untuk pasien
dengan berat badan lebih dari 100 kg. Pada anak-anak, pemberian dosis berdasarkan berat
badan dari rejimen dan bervariasi sesuai dengan usia pasien. Untuk pasien yang dicurigai
mengalami heparin-induced thrombocytopenia, maka direkomendasikan untuk terapi
antikoagulan awal direct thrombin inhibitors intravena (seperti argatroban, lepirudin).
LMWH atau UFH harus diberikan selama minimal 5-7 hari atau lebih lama pada pasien yang
memiliki penyakit berat (misalnya, DVT iliofemoral atau emboli paru masif). Terapi
antikoagulan oral dapat dimulai pada hari pertama pengobatan dan LMWH / UFH tidak boleh
dihentikan sampai INR telah tercapai sedikitnya 2.0 selama 2 hari berturut-turut. Pemeriksaan
platelet dapat dilakukan pada 5 sampai 7 hari untuk memeriksa heparin-induced
trombositopenia jika pasien tersebut menerima UFH.

Terapi Antikoagulan Jangka Panjang


Untuk terapi anti koagulan jangka panjang pasien DVT biasanya diberikan warfarin
secara oral dimulai saat terapi antikoagulan awal diberikan. Pemberian warfarin dimulai
dengan dosis 5 -7,5 mg. Ada juga yang memulai dosis 10 mg untuk usia < 60 tahun atau
pasien rawat jalan dan 5 mg untuk pasien > 60 tahun atau dirawat inap. Target dosis warfarin
yang diberikan adalah International Normalized Ratio (INR) mencapai 2,0 selama
sedikitnya 24 jam kemudian dipertahankan antara 2,0-3,0. Terapi direct thrombin
inhibitor secara oral seperti dabigatran mempunyai keamanan dan efektivitas yang sama
dengan warfarin untuk tromboemboli vena akut dan tidak membutuhkan monitoring
laboratorium.
Lamanya pemberian antikoagulan terbagi menjadi tiga kelompok yaitu :
1. Secara umum antikoagulan aman dihentikan setelah 3 bulan pada pasien dengan episode
pertama DVT yang berhubungan dengan faktor risiko mayor yang reversibel (seperti
pembedahan atau trauma).
2. Pasien dengan DVT berulang atau DVT yang penyebabnya tidak diketahui harus
menjalani terapi dengan durasi tanpa batas dan secara periodik dinilai risiko dan
keuntungan dari terapi tersebut.
3. Pada pasien kanker dengan DVT, terapi awal harus dipertimbangkan LMWH sebagai
monoterapi selama paling sedikit 3 6 bulan atau selama kanker tersebut diterapi (seperti
pemberian kemotrapi). Tetapi jika ada halangan untuk pemberian LMWH, pemberian
warfarin dengan target INR 2,0-3,0 merupakan alternatif pilihan. Penggunaan direct
thrombin inhibitors untuk terapi awal dan terapi jangka panjang telah menunjukkan hal
yang menjanjikan.

Obat Antikoagulan Lainnya


Dabigatran merupakan direct thrombin inhibitor yang selektif dan dapat diberikan
secara per oral. Saat ini Dabigatran dapat digunakan sebagai pencegahan terjadinya venous
tromboemboli (VTE) setelah pembedahan arthroplasty lutut dan pinggul, terapi VTE,
mencegah stroke dan emboli sistemik pada pasien Atrial fibrilasi nonvalvular. Dosis yang
dapat diberikan 150-220 mg sekali sehari untuk mencegah terjadinya VTE dan 150 mg dua
kali sehari sebagai terapi VTE. Pada penelitian yang dilakukan oleh Schulman dkk
Dabigatran mempunyai effektifitas dan tingkat keamanan yang setara dengan warfarin serta
penggunaan Dabigatran tidak memerlukan monitoring laboratorium.
Rivaroxaban merupakan direct faktor Xa inhibitor yang sudah disetujui penggunaannya
di beberapa negara sebagai pencegahan VTE pada pasien yang menjalani pembedahan
pinggul dan lutut. Obat ini masih dikembangkan lagi sebagai terapi VTE dan
pencegahan acute ischemic attack pada pasien atrial fibrilasi. Pada penelitian klinis fase 3
Rivaroxaban terbukti lebih efektif dibandingkan enoxoparin dalam mencegah DVT pada
pasien pembedaan pinggul dan lutut dan lebih efektif dibandingkan plasebo untuk terapi DVT
dan emboli paru setelah pemberian 6-12 bulan. Dosis yang dianjurkan adalah 10 mg sekali
sehari pada pembedahan orthopedic major dan 20 mg sekali sehari sebagai pencegahan
sekunder VTE.

Penataksanaan Bedah
Pembedahan trombosis vena dalam (DVT) diperlukan bila : ada kontraindikasi terapi
antikoagulan atau trombolitik, ada bahaya emboli paru yang jelas dan aliran darah vena
sangat terganggu yang dapat mengakibatkan kerusakan permanen pada ekstremitas.
Trombektomi (pengangkatan trombosis) merupakan penanganan pilihan bila diperlukan
pembedahan. Filter vena kava harus dipasang pada saat dilakukan trombektomi, untuk
menangkap emboli besar dan mencegah emboli paru.

Penatalaksanaan Keperawatan
Tirah baring, peninggian ekstremitas yang terkena, stoking elastik dan analgesik untuk
mengurangi nyeri adalah tambahan terapi DVT. Biasanya diperlukan tirah baring 5 7 hari
setelah terjadi DVT. Waktu ini kurang lebih sama dengan waktu yang diperlukan thrombus
untuk melekat pada dinding vena, sehingga menghindari terjadinya emboli. Ketika pasien
mulai berjalan, harus dipakai stoking elastik. Berjalan-jalan akan lebih baik daripada berdiri
atau duduk lama-lama. Latihan ditempat tidur, seperti dorsofleksi kaki melawan papan kaki,
juga dianjurkan. Kompres hangat dan lembab pada ekstremitas yang terkena dapat
mengurangi ketidaknyamanan sehubungan dengan DVT. Analgesik ringan untuk mengontrol
nyeri, sesuai resep akan menambah rasa nyaman.

G. Pengkajian Fokus
1) Demografi
DVT sebagai salah satu manifestasi dari Venous Thromboembolism (VTE) memiliki
beberapa faktor risiko antara lain faktor demografi/lingkungan (usia tua, imobilitas yang
lama), kelainan patologi (trauma, hiperkoagulabilitas kongenital, antiphospholipid
syndrome, vena varikosa ekstremitas bawah, obesitas, riwayat tromboemboli vena,
keganasan), kehamilan, tindakan bedah, obat-obatan (kontrasepsi hormonal,
kortikosteroid). Meskipun DVT umumnya timbul karena adanya faktor risiko tertentu,
DVT juga dapat timbul tanpa etiologi yang jelas ( idiopathic DVT).
2) Riwayat Kesehatan
Risiko terjadinya DVT akan meningkat dengan bertambahnya usia, riwayat keluarga
menderita DVT, perokok, dehidrasi, kanker, vena varikosa, operasi, penyakit jantung dan
pernafasan, obesitas dan kehamilan. Studi tentang riwayat keluarga dan anak kembar
menunjukkan faktor genetika berpengaruh sekitar 60% risiko DVT. Defisiensi anti
thrombin, protein C dan protein S merupakan faktor risiko yang kuat pada DVT.
3) Data Fokus Terkait Perubahan Pola Fungsi dan Pemeriksaan Fisik
Anamnesis dan pemeriksaan fisik merupakan hal yang sangat penting dalam
pendekatanpasien dengan kecurigaan mengalami DVT. Keluhan utama DVT biasanya
adalah kakibengkak dan nyeri. Pada pemeriksaan fisik tanda-tanda klasik seperti edema
kakiunilateral, eritema, hangat, nyeri, pembuluh darah superfisial teraba, dan Homans
signpositif tidak selalu ditemukan. Pemeriksaan laboratorium didapatkan peningkatan D-
dimer dan penurunan Antithrombin (AT). Peningkatan D-dimer merupakan
indikatoradanya trombosis aktif. Pemeriksaan laboratorium lain umumnya tidak terlalu
bermaknauntuk mendiagnosis adanya DVT, tetapi membantu menentukan faktor resiko.

H. Diagnosa Keperawatan
1) Gangguan perfusi jaringan perifer b.d penurunan aliran darah / statis vena (obstruksi
vena sebagian / penuh)
2) Nyeri berhubungan dengan gangguan aliran balik vena.
3) Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungandengan immobilitas fisik.

I. Fokus intervensi dan rasional


NO
Tgl/ DIAGNOSA TUJUAN (NOC) INTERVENSI (NIC)
jam KEPERAWA
TAN
Ketidakefektif Setelah dilakukan tindakan
Intervensi NIC
an perfusi selama ...................... pasien akan
Pengkajian
jaringan mencapai :
perifer Kaji ulkus statis dan
Tujuan dan criteria hasil
Factor yang gejala selulitis
Menunjukkan keseimbangan cairan,
berubungan Perawatan sirkulasi
Perubahan integritas jaringan: kulit dan (NIC):
afinitas membrane mukosa dan perfusi 1. Lakukan pengkajian
hemoglob jaringan perifer yang dibuktikan oleh komprehensif
in indicator sebagai berikut: terhadap sirkulasi
terhadap 1. gangguan eksterm perifer
oksigen 2. berat 2. Pantau tingkat
Penuruna 3. sedang ketidaknyamanan
n 4. ringan atau nyeri saat
konsentra 5. tidak ada gangguan
si melakukan latihan
hemoglob Indikator fisik
in dalam 3. Pantau status cairan
Tekanan darah termasuk asupan
darah
Keracuna Nadi perifer dan haluaran
n enzim Manajemen sensasi
Gangguan Turgor kulit perifer (NIC):
pertukara Suhu, sensasi, elastisitas, hidrasi, keutuhan, dan1.ketebalan
Pantau kulit
perbedaan
n ketajaman atau
Hipervole Pengisian ulang kapiler ketumpulan, panas
mia atau dingin
Hipoventi Warna kulit
2. Pantau parestesia,
lasi Integritas kulit kebas, kesemutan,
Hipovole hiperestesia dan
mia hipoestesia
Gangguan 3. Pantau
transport tromboflebitis dan
oksigen
thrombosis vena
melalui
alveoli profunda
dan 4. Pantau kesesuaian
membrane alat penyangga,
kapiler prosthesis, sepatu
Gangguan dan pakaian
aliran Penuluhan untuk pasien
arteri atau
vena dan keluarga
Ketidak Ajarkan pasien dan
sesuaian keluarga tentang:
antara Menghindari suhu yang
ventilasi eksterm pada
dan aliran ekstremitas
darah
pasien akan mendeskripsikan rencana Pentingnya mematuhi
perawatan dirumah program diet dan
ekstremitas bebas dari lesi program pengobatan
Tanda dan gejala yang
dapat dilaporkan pada
dokter
Perawatan sirkulasi
(NIC): ajarkan pasien
untuk melakukan
perawatan kaki yang
tepat
Pentingnya pencegahan
ststis vena
Manajemen sensasi
perifer (NIC):
1. Anjurkan pasien
atau keluarga untuk
memantau posisi
bagian tubuh saat
pasien mandi,
duduk, berbaring
atau mengubah
posisi
2. Ajarkan pasien atau
keluarga untuk
memeriksa kulit
setiap hari untuk
mengetahui
perubahan integritas
kulit
Aktivitas kolaboratif
Beri obat nyeri,
beritahu dokter jika neri
tidak kunjung reda
Perawatan sirkulasi
(NIC): beri obat
antitrombosit atau
antikoagulan, jika perlu
Aktivitas lain
Hindari trauma kimia,
mekanik, atau panas
yang melibatkan
ekstremitas
Kurangi rokok dan
penggunaan stimulan
Perawatan sirkulasi:
insufisiensi arteri
(NIC): letakkan
ekstremitas pada posisi
NO
Tgl/ DIAGNOSA TUJUAN (NOC) INTERVENSI (NIC)
jam KEPERAWA
TAN
Nyeri akut Tujuan Pain management
Faktor yang - Pain level Lakukan pengkajian
berhubugan - Pain control nyeri secara
dengan - Convort level komperhensif termasuk
Agen injury
Skala : lokasi, karakteristik,
(biologi,
kimia, fisik,
1. ...................... (skala nyeri 10) durasi, frekuensi,
psikologis) 2. ...................... (skala nyeri 7 - 9) kualitas dan faktor
ditandai 3. ...................... (skala nyeri 4-6) presipitasi
dengan 4. ...................... (skala nyeri 1-3) Observasi reaksi non
- Laporan 5. ...................... (skala nyeri 0) verbal dari
secara ketidaknyamanan
Indikato Tujuan
verbal
Gunakan komunikasi
- Fakta dari
observasi Awal terapiutik untuk
- Gerakan 1 2 3 4 mengetahui
melindun pengalaman nyeri
gi pasien
- Tingkah Kaji kultur yang
laku mempengaruhi respon
berhati- nyeri pasien.
hati
Evaluasi pengalaman
- Muka
topeng nyeri masa lampau
- Gangguan Evaluasi bersama
tidur pasien dan tim
(mata kesehatan lain tentang
sayu, ketidak efektifan
tampak kontrol nyeri dimasa
capai, lampau
sulit atau
Bantu pasien dan
gerakan
kacau, keluarga untuk mencari
menyerin dan menemukan
gai) dukungan
- Terfokus Kontrol lingkungan
pada diri yang dapat
sendiri mempengaruhi nyeri
seperti suhu ruangan,
pencahayaan dan
kebisingan
Kurangi faktor
resipitasi nyeri
- Fokus Pilih dan lakukan
menyempi pengalaman nyeri
t (farmakologi, non
(penuruna
farmakologi dan
n persepsi
waktu, interpersonal)
kerusakan Ajarkan tentang teknik
proses non farmakologi
berfikir, Berikan analgetik untuk
penurunan mengurangi nyeri
interaksi Tingkatkan istirahat
dengan
orang dan
lingkunga
n)
- Tingkah
laku
distraksi
contoh
jalan-
jalan,
menemui
orang lain
dan
aktivitas
berulang-
ulang.
- Respon
autonom
(seperti
diaporesis
,
perubahan
tekanan
darah,
perubahan
nafas,
nadi dan
dilatasi
pupil)
- Perubahan
autonomi
k dalam
tonus otot
(mungkin
dalam
rentang
lemas ke
kaku)
- Tingkah
laku
ekspresif
(contoh
gelisah,
merintih,
J. DAFTAR PUSTAKA
Nandiwardhana, A. 2014. Asuhan Keperawatan Deep Vein Thrombosis (DVT).
http://nandiwardhana95.blogspot.co.id/2014/10/asuhan-keperawatan-deep-vein-
thrombosis.html. Diunduh 27 Oktober 2015.
Prasetyo, R. 2008. Deep Vein Thrombosis (DVT).
http://databasedemokrasi.blogspot.co.id/2011/04/deep-vein-thrombosis-dvt-varises-
dan.html. Diunduh 27 Oktober 2015