Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

Skizofrenia merupakan gangguan jiwa berat yang bisa didapatkan di seluruh dunia
dengan prevalensi sekitar 1% dari populasi. Gangguan skizofrenia biasanya berlangsung
kronis dan cenderung menjadi berat dan menetap serta disertai eksaserbasi akut dan
penurunan fungsi peran penderita. Onset gangguan skizofrenia biasanya pada usia akhir masa
remaja atau awal dewasa (Desjarlais et al, 1995, Sadock & Sadock 2007).

Gangguan skizofrenia merupakan suatu neurodevelopmental brain disorder dengan


ditandai adanya gangguan interaksi neurotransmiter pada susuanan saraf pusat. Dengan
demikian gangguan skizofrenia memerlukan pengobatan yang ditujukan untuk mengatasi
gangguan interaksi neurotransmitter pada susunan saraf pusat tersebut. (Stahl, 2000 ; Sadock
& Sadock 2007).

Dalam hal perjalanan gangguan skizofrenia, penatalaksaan gangguan skizofrenia


merupakan salah satu bagian yang penting dan kompleks. Hal ini dikarenakan
penatalaksanaan gangguan skizofrenia tidak hanya meliputi satu aspek, tetapi harus meliputi
unsur biopsikososial dan spiritual. (cit Khan 2008, Stahl, 2000 ; Sadock & Sadock 2007 ;
Sudiyanto, Aris 2008). Oleh karena permasalahan yang kompleks tersebut maka mengatasi
skizofrenia tidak cukup hanya salah satu aspek saja. Faktor psikososial yang melibatkan
pasien dan keluarganya merupakan hal yang penting dalam penatalaksanaan jangka panjang
dan pencegahan agar tidak terjadi kekambuhan. (Sudiyanto, Aris 2008).

Mengingat adanya faktor keluarga yang turut berperan dalam pengobatan pasien
skizofrenia, dimana masih banyaknya kendala seperti penolakan keluarga untuk merawat
pasien, ekspresi emosi yang tinggi pada pasien skizofrenia, tentu akan mempengaruhi
outcome pengobatan, maka peran psikoedukasi sebagai salah satu terapi psikososial untuk
keluarga pasien dan juga pasien akan sangat dibutuhkan, dengan harapan dapat menurunkan
angka kekambuhan.

1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1. Skizofrenia

Definisi Skizofrenia

Skizofrenia menurut Eugen Bleuler merupakan istilah yang menandakan adanya


perpecahan (schism) antara pikiran, emosi dan perilaku pada pasien yang terkena. Meyer
berpendapat bahwa skizofrenia dan gangguan mental lainnya adalah reaksi terhadap berbagai
stres kehidupan, yang dinamakan sindrom suatu reaksi skizofrenik. (Kaplan & Sadock, 2010)

Skizofrenia adalah suatu deskripsi sindrom dengan variasi penyebab (banyak belum
diketahui) dan perjalanan penyakit yang luas, serta sejumlah akibat yang tergantung pada
pertimbangan pengaruh genetik, fisik, sosial dan budaya. Pada umumnya ditandai oleh
penyimpangan yang fundamental dan karakteristik dari pemikiran dan persepsi, serta oleh
efek yang tidak wajar (inappropriate) atau tumpul (blunted).

Kesadaran yang jernih (clear conciousness) dan kemampuan intelektual biasanya


tetap terpelihara, walaupun kemunduran kognitif tertentu dapat berkembang kemudian.
(Maslim, Rusdi, 2003). Belum ada kesepakatan tentang definisi baku kekambuhan
skizofrenia. Sedangkan kekambuhan diartikan kembalinya suatu penyakit setelah nampaknya
mereda, kekambuhan menunjukan gejala-gejala sebelumnya yang pernah timbul, cukup
parah, dan mengganggu aktivitas sehari-hari. (Dorland, 2002)

Epidemiologi
Hampir 1% penduduk di dunia menderita skizofrenia selama hidup mereka.
Gejala skizofrenia biasanya muncul pada usia remaja akhir atau dewasa muda. Awitan pada
laki-laki biasanya antara 15 25 tahun dan pada perempuan antara 25 35 tahun. (Elvira,
2003).
Etiologi
Etiologi skizofrenia belum pasti, namun secara umum sebab-sebab gangguan iwa
dibedakan atas beberapa faktor berikut :

a. Sebab biologik

2
Tidak ada gangguan fungsional dan struktur yang patognomonik ditemukan pada
skizofrenia. Meskipun demikian beberapa gangguan organik dapat terlihat (telah direplika
dan dibandingkan) pada subpopulasi pasien. Gangguan yang paling banyak dijumpai yaitu
pelebaran ventrikel tiga dan lateral, yang stabil yang kadang kadang sudah terlihat sebelum
awitan penyakit, atropi bilateral lobus temporalis medial dan lebih spesifik yaitu girus
parahipokampus, hipokampus, dan amigdala, disorientasi spasial sel pyramid hipokampus,
dan penurunan volume korteks prefrontal dorsolateral. (Elvira, 2003)

b. Genetik

Dapat dipastikan bahwa ada faktor keturunan yang juga menentukan timbulnya
skizofrenia. Hal ini telah dibuktikan berdasarkan penelitian tentang keluarga keluarga
penderita skizofrenia dan terutama anak anak kembar satu telur. Angka kesakitan bagi
saudara tiri ialah 0,9 1,8%, sedangkan bagi saudara kandung 7 15%, bagi anak dengan
salah satu orang tua yang menderita skizofrenia 7 16%, bila kedua orang tua menderita
skizofrenia 40 68%, bagi kembar dua telur (heterozigot) 2 15%, dan bagi kembar satu
telur (monozigot) 61 86%. Tetapi pengaruh genetik tidak sesederhana seperti hukum
Mendel. Diduga bahwa potensi untuk mendapatkan skizofrenia diturunkan melalui gen
resesif. Potensi ini mungkin kuat, mungkin juga lemah, tetapi selanjutnya tergantung pada
lingkungan individu itu apakah akan terjadi skizofrenia atau tidak. (Maramis, WF. 2005)

Beberapa gen yang dijumpai pada penderita skizofrenia, antara lain 1q, 5q, 6p, 6q,
8p, 10p,13q, 15q,dan 22q. Adanya mutasi gen dystrobrevin DTNBP 1 dan Neureglin 1
berhubungan dengan munculnya gejala negatif pada pasien skizofrenia. Selain itu
kepribadian skizoid, skizotipal, dan paranoid memiliki kemungkinan besar dalam timbulnya
skizofrenia. Pendekatan sekarang ini pada genetika diarahkan pada mengidentifikasi silsialah
besar dari orang yang terkena dan meneliti keluarga untuk RFLP (restriction fragment lenght
polymorphisme) yang memisah dengan fenotip penyakit. Banyak hubungan antara tempat
kromosom tertentu dengan skizofrenia. Lebih dari setengah kromosom telah dihubungkan
dengan skizofrenia dalam berbagai laporan tersebut, tetapi lengan panjang kromosom 5, 11
dan 18. Lengan pendek pada kromosom 19 dan kromosom X adalah yang paling sering
dilaporkan.

c. Faktor Keluarga

3
Kekacauan dan dinamika keluarga memegang peranan penting dalam menimbulkan
kekambuhan dan mempertahankan remisi. Pasien yang pulang ke rumah sering relaps pada
tahun berikutnya bila dibandingkan dengan pasien yang ditempatkan dipanti penitipan
(Elvira, 2003). Ekspresi emosi yang tinggi (seperti pasien yang tinggal bersama keluarga
hostil, memperlihatkan kecemasan yang berlebihan, sangat protektif terhadap pasien, sangat
pengeritik) dari keluarga diperkirakan menyebabkan kekambuhan yang tinggi pada pasien.
Hal lain adalah pasien mudah dipengaruhi oleh stress yang menyenangkan maupun yang
menyedihkan. Keluarga mempunyai tanggung jawab yang penting dalam proses perawatan di
rumah sakit jiwa, persiapan pulang dan perawatan di rumah agar adaptasi klien berjalan
dengan baik. Kualitas dan efektifitas perilaku keluarga akan membantu proses pemulihan
kesehatan pasien sehingga status kesehatan pasien meningkat. (Mahar, 2009)

d. Biokimia

Etiologi biokimia skizofrenia belum diketahui. Hipotesis yang paling banyak yaitu
gangguan neurotransmitter sentral yaitu terjadinya peningkatan aktivitas dopamin sentral
(hipotesis dopamin). (Elvira,2003).

Hipotesis dibuat berdasarkan tiga penemuan utama, yaitu :

Efektivitas obat obat neuroleptik (misalnya fenotiazin) pada skizofrenia, ia


bekerja memblok reseptor dopamin pasca sinaps (tipe D2)
Terjadinya psikosis akibat penggunaan amfetamin. Psikosis yang terjadi sukar
dibedakan, secara klinis, dengan psikosis skizofrenia paranoid akut.
Amfetamin melepaskan dopamine sentral. Selain itu, amfetamin juga
memperburuk skizofrenia.
Adanya peningkatan jumlah reseptor D2 di nukleus kaudatus, nukleus
akumben, dan putamen pada skizofrenia.

e. Metode Diatesis-Stress

Satu model untuk intergrasi faktor biologis, faktor psikososial dan lingkungan adalah
model diathesis-stress. Model ini menggambarkan bahwa seseorang mungkin memiliki suatu
kerentanan spesifik (diathesis) yang bila dikenai pengaruh lingkungan yang menimbulkan
stress memungkinkan perkembangan gejala skizofrenia. Pada model diathesis stress yang
paling umum dapat biologis atau lingkungan atau keduanya.

4
Penatalaksanaan

Penatalaksanaan skizofrenia harus meliputi aspek organobiologis, psikologis, dan


sosial. Terapi organobiologis meliputi pemberian antipsikotik baik untuk fase akut maupun
rumatan. Intervensi psikoterapi meliputi psikoterapi individu, psikoedukasi individu,
keterampilan koping, Cognitive Behavior therapy (CBT), dukungan keluarga, dan
psikoedukasi pada keluarga. Intervensi psikososial meliputi dukungan psikososial jangka
panjang, program rehabilitasi, penyesuaian kepada kebutuhan dan kapasitas individu (cit
Khan 2008, Stahl 2000; Sadock & Sadock 2007).

Penatalaksanaan pada pasien skizofrenia perlu mempertimbangkan tiga hal berikut ini :

1. Pasien skizofrenia mempunyai profil psikologik individual, familial dan sosial yang
unik. Penentuan bentuk pengobatan yang akan diberikan memperhatikan bagaimana
skizofrenia mempengaruhi pasien dan bagaimana pengobatan akan membantu pasien.
2. Berbagai penelitian menyatakan bahwa 50% kejadian pada kembar monozigotik
menunjukkan kemungkinan faktor lingkungan dan psikologik yang berperan.
Sehingga penatalaksanaan farmakologik hanya ditujukan pada ketidakseimbangan
kimiawi sedangkan masalah nonbiologi membutuhkan strategi nonfarmakologik.
3. Skizofrenia merupakan kelainan yang kompleks sehingga pendekatan terapi tunggal
tidak memadai untuk menghadapi berbagai masalah yang ada.

2. Psikoedukasi

Psikoedukasi

Psikoedukasi sebenarnya sudah cukup populer dalam praktek klinis selama 30


tahun terakhir di Amerika dan seluruh dunia. Namun, untuk Indonesia sendiri bentuk
intervensi ini belum banyak diterapkan untuk setiap seting.

Beberapa tokoh dan organisasi psikologi mendefinisikan Psikoedukasi secara


berbeda, yaitu:

Psikoedukasi adalah suatu bentuk pendidikan ataupun pelatihan terhadap


seseorang dengan gangguan psikiatri yang bertujuan untuk proses

5
treatment dan rehabilitasi. Sasaran dari psikoedukasi adalah untuk
mengembangkan dan meningkatkan penerimaan pasien terhadap penyakit
ataupun gangguan yang ia alami, meningkatkan partisipasi pasien dalam
terapi, dan pengembangan coping mechanism ketika pasien menghadapi
masalah yang berkaitan dengan penyakit tersebut. (Goldman, 1998
dikutip dari Bordbar & Faridhosseini, 2010)
Psikoedukasi adalah suatu intervensi yang dapat dilakukan pada individu,
keluarga, dan kelompok yang fokus pada mendidik partisipannya
mengenai tantangan signifikan dalam hidup, membantu partisipan
mengembangkan sumber-sumber dukungan dan dukungan sosial dalam
menghadapi tantangan tersebut, dan mengembangkan keterampilan
coping untuk menghadapi tantangan tersebut. (Griffith, 2006 dikutip dari
Walsh, 2010)
Psikoeduakasi adalah sebuah tindakan modalitas yang disampaikan oleh
professional, yang mengintegerasikan dan mesinergiskan antara
psikoterapi dan intervensi edukasi (Lukens & McFarlane, 2004)
Psikoedukasi adalah suatu bentuk intervensi psikologi, baik individual
ataupun kelompok, yang bertujuan tidak hanya membantu proses
penyembuhan klien (rehabilitasi) tetapi juga sebagai suatu bentuk
pencegahan agar klien tidak mengalami masalah yang sama ketika harus
menghadapi penyakit atau gangguan yang sama, ataupun agar individu
dapat menyelesaikan tantangan yang mereka hadapi sebelum menjadi
gangguan.

Berdasarkan definisi-definisi di atas, Psikoedukasi (PE) dapat diterapkan tidak hanya


kepada individu tetapi juga dapat diterapkan pada keluarga dan kelompok. PE dapat
digunakan sebagai bagian dari proses treatment dan sebagai bagian dari rehabilitasi bagi
pasien yang mengalami penyakit ataupun gangguan tertentu, bahkan dapat pula digunakan
sebagai media dalam mencegah kekambuhan. PE banyak diberikan kepada pasien dengan
gangguan psikiatri termasuk anggota keluarga dan orang yang berkepentingan untuk merawat
pasien tersebut.

Tujuan Psikoedukasi

6
Di dalam Walsh (2010), menjelaskan mengenai pengertian psikoedukasi dari Griffiths
(2006). Berdasarkan pengertian tersebut, ditarik kesimpulan bahwa fokus dari psikoedukasi
adalah sebagai berikut :

Mendidik partisipan mengenai tantangan dalam hidup


Membantu partisipan mengembangkan sumber-sumber dukungan dan
dukungan sosial dalam menghadapi tantangan hidup
Mengembangkan keterampilan coping untuk menghadapi tantangan hidup
Mengembangkan dukungan emosional
Mengubah sikap dan belief dari partisipan terhadap suatu gangguan (disorder)
Mengidentifikasi dan mengeksplorasi perasaan terhadap suatu isu
Mengembangkan keterampilan penyelesaian masalah

Menurut Walsh (2010), PE dapat menjadi intervensi tunggal, tetapi juga sering
digunakan bersamaan dengan beberapa intervensi lainnya untuk membantu partisipan
menghadapi tantangan kehidupan tertentu. Salah satu kombinasi intervensi psikoedukasi
seperti yang dilakukan Aguglia E, Elisabetta PF (2007) yang menilai efektivitas kombinasi
terapi obat jangka panjang dan intervensi psikoedukasi pada pasien skizofrenia dalam
mengurangi kekambuhan.

Psikoedukasi tidak sama dengan psikoterapi walaupun kadang terjadi tumpang tindih
antara kedua intervensi tersebut. Psikoedukasi kadang ikut menjadi bagian dari sebuah
psikoterapi. Walsh (2010) menjelaskan bahwa psikoterapi dapat dipahami sebagai proses
interaksi antara seorang profesional dan kliennya (individu, keluarga, atau kelompok) yang
bertujuan untuk mengurangi distres, disabiliti, malfungsi dari sistem klien pada fungsi
kognisi, afeksi, dan perilaku. Psikoterapi juga lebih fokus pada diri individu yang
mendapatkan intervensi, sedangkan psikoedukasi fokus pada sistem yang lebih besar dan
mencoba untuk tidak mempatologikan pasien.

Media Psikoedukasi

Psikoedukasi bukanlah merupakan suatu pengobatan, namun hal ini dirancang untuk
menjadi bagian dari rencana pengobatan secara keseluruhan. Misalnya, pengetahuan tentang
penyakit seseorang sangat penting bagi individu dan keluarga mereka untuk dapat merancang
rencana perawatan dan pengobatan yang optimal. Seringkali sulit bagi pasien dan anggota
keluarga untuk menerima diagnosis pasien, sehingga intervensi psikoedukasi ini memiliki

7
fungsi memberikan kontribusi bagi destigmatisasi gangguan psikologis dan untuk
mengurangi hambatan dalam pengobatan. Dengan berkembangnya penggunaan internet,
maka program edukasi dalam hal pemberian informasi menjadi lebih mudah. Karenanya,
selain menerbitkan brosur, pamflet, booklet, maupun poster pusat pelayanan kesehatan jiwa
juga dapat membuat website yang memberikan berbagai informasi umum tentang masalah
kesehatan jiwa, khususnya skizofrenia.

Dalam penelitian Aguglia (2007), digunakan psikoedukasi dengan metode pendidikan


interaktif yang melibatkan pasien dan keluarga pasien, pertemuan berlangsung dalam delapan
sesi dengan materi yang menjelaskan mulai dari definisi skizofrenia, penyebab skizofrenia,
pengobatan, strategi pengobatan psikososial, mencegah kekambuhan, dan peran keluarga
dalam membantu proses pengobatan pasien skizofrenia.

Model model program psikoedukasi

Model model program psikoedukasi ini memiliki bentuk yang bervariasi. Dapat
sebagai psikoedukasi keluarga atau kelompok multipel, tunggal atau sesi campuran, sesuai
dengan situasi dan kondisi yang ada. Berdasarkan survei yang dilakukan pada seluruh
institusi psikiatri di Jerman, Austria dan Swiss, jumlah peserta tiap kelompok program
psikoedukasi berkisar 6 15 peserta yang bertemu 1 -2 minggu sekali, selama kurang lebih 1
1,5 jam. Program tersebut memiliki 8 12 sesi, dan dipandu oleh 2 orang moderator.
(Sukmarini, 2008).

Psikoedukasi sesi campuran dengan melibatkan pasien dan keluarga pasien


skizofrenia sebanyak 150 orang, dengan metode pendidikan interaktif berlangsung dalam 8
sesi pertemuan selama 60 90 menit sekali pertemuan dilakukan pada Italian community
psychiatric network, menunjukkan hasil adanya penurunan yang bermakna angka
kekambuhan skizofrenia. (Aguglia, 2007).

Dari hasil meta-analisis terhadap 16 penelitian diketahui bahwa program dengan


jumlah sesi kurang dari 10, tidak memiliki efek terhadap beban perawatan. Kemudian
terdapat juga beberapa penelitian yang menemukan bahwa psikoedukasi tunggal lebih
membawa manfaat daripada psikoedukasi kelompok. Namun demikian diperlukan penelitian
lebih lanjut mengenai hal ini, dan hingga saat ini, belum banyak studi yang meneliti tentang
dosis efektif terkecil psikoedukasi yang perlu dilaksanakan. (Sukmarini, 2008).

Tempat dan Waktu Psikoedukasi

8
Program psikoedukasi ini dapat berlangsung di rumah sakit, di rumah, maupun tempat
tertentu di komunitas, tergantung sumber daya dan fasilitas yang dimiliki. Apabila dilakukan
di rumah sakit, tentu memudahkan tenaga kesehatan yang bekerja di rumah sakit tersebut
untuk melakukan psikoedukasi. Namun demikian, terkadang pada beberapa hal (contoh
stigma, transportasi) membuat keluarga lebih memilih psikoedukasi dilakukan di rumah
maupun di tempat tertentu di komunitas. Hal ini membuat mereka lebih akrab dan nyaman
sehingga berpengaruh terhadap compliance program psikoedukasi. Pemilihan waktu yang
tepat juga dipertimban kan dan lebih fleksibel. (Sukmarini, 2008).

Materi Psikoedukasi

Hal hal yang dianggap penting adalah pengetahuan mengenai skizofrenia dan
penatalaksanaannya, memperbaiki pola pola komunikasi dalam keluarga , keterampilan
dalam intervensi krisis, meningkatkan problem solving skills, memperbaiki daya adaptasi
keluarga, serta mendorong keikutsertaan keluarga maupun caregiver dalam aktivitas
aktivitas sosial. Berdasarkan survei yang dilakukan di Eropa, topik utama yang diberikan
adalah gejala awal kekambuhan, farmakoterapi dan efek samping, rencana darurat saat
emergensi/ krisis, serta aspek aspek emosional yang berhubungan dengan stigmatisasi,
isolasi, perasaan bersalah dan rasa malu. (Sukmarini, 2008).

3. Peran Psikoedukasi dalam mencegah kekambuhan skizofrenia

Penatalaksanaan skizofrenia masih merupakan tantangan besar walaupun


perkembangan antipsikotik dan intervensi keluarga serta sosial telah mengalami kemajuan
pesat. Meskipun secara relatif hasil yang diperoleh dapat menurunkan lama perawatan di
rumah sakit melalui pembinaan masyarakat dan penggunaan psikofarmaka, namun ternyata
angka kekambuhan pasien dengan skizofrenia masih tetap tinggi (Fleischacker, 2003).

Suatu variasi modalitas pengobatan dibutuhkan untuk perawatan yang menyeluruh


pada pasien skizofrenia. Obat-obat antipsikotik merupakan dasar pengobatan, penggunaannya
untuk meminimalkan beratnya gejala skizofrenia. Untuk mencapai dan mempertahankan
pemulihan fungsi dan hilangnya gejala skizofrenia dibutuhkan pula intervensi lain termasuk
psikoterapi individual dan kelompok, terapi keluarga, case management, perawatan di rumah
sakit, kunjungan rumah dan pelayanan rehabilitasi sosial dan vokasional (Sadock, 2003).
Dalam penatalaksanaan pasien skizofrenia digunakan pendekatan eklektik holistik, bahwa

9
manusia harus dipandang sebagai suatu keseluruhan yang paripurna, termasuk adanya faktor
lingkungan yang terdekat yaitu keluarga. Keluarga berperan dalam pemeliharaan dan
rehabilitasi anggota keluarga yang menderita skizofrenia (Durand, 2007).

Pasien gangguan jiwa sering menjadi beban bagi keluarga karena perawatan dan
pengobatan yang lama dan adanya kecenderungan untuk kambuh. Keluarga kadang menjadi
jenuh sehingga mereka tidak lagi memperhatikan pasien. Pasien memerlukan bantuan orang
lain yang mendorong dan memotivasi agar dapat mandiri. Oleh karena itu, dukungan sosial
dari keluarga sangat diperlukan. Sebuah tinjauan studi diterbitkan dalam bidang terapi
skizofrenia, sejak awal tahun 1980-an, menegaskan bahwa terapi psikososial yang
dikombinasikan dengan tepat dalam terapi antipsikotik jangka panjang, dapat mengurangi
persentase kekambuhan dalam satu tahun menjadi sekitar 54%. Jika intervensi psikoedukasi
dilakukan dengan pasien dan keluarga mereka, kekambuhan pada tahun berikutnya turun
menjadi 27%. Di antara intervensi psikososial, psikoedukasi bagi pasien dan keluarga pasien,
telah dianggap paling menjanjikan dan sukses dalam tiga puluh tahun terakhir. (Aguglia E,
Elisabetta PF, 2007).

Perubahan terbaru dalam pengobatan gangguan skizofrenia memungkinkan kita untuk


mengkombinasikan terapi tradisional dengan menggunakan antipsikotik atipikal dan
intervensi psikososial tampaknya dapat dihandalkan dalam mengatasi gejala positif dan gejala
negatif skizofrenia. Mengingat tujuan yang jelas tentang pengobatan gangguan skizofrenia
tidak hanya untuk mengontrol gejala, tetapi juga untuk mencegah kekambuhan, mengajak
pasien untuk mematuhi rencana pengobatan yang diresepkan, mengembalikan fungsi sosial
dan bekerja dan untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik. (Aguglia E, Elisabetta PF,
2007)
Sejak 1970-an, banyak penelitian telah menegaskan bahwa partisipasi dalam jangka panjang
dan terapi obat yang stabil dapat lebih baik mencegah kekambuhan dibandingkan dengan
terapi obat yang terputus-putus. Namun, sayangnya, hanya 50% orang yang terkena
skizofrenia menjalani terapi obat yang memadai untuk jangka waktu yang lama. Di sisi lain,
bahwa tidak semua pasien merespon sama terhadap terapi obat dan bahwa perlakuan tersebut
tidak menunjukkan hasil yang sama dengan setiap pasien karena itu tidak semua pasien dan
keluarga mereka menyukainya. Beberapa studi telah menunjukkan bahwa sekitar sepertiga
pasien yang patuh pada awalnya, berkurang menjadi sepertiga bagian yang patuh sampai
pada separuh perjalanan terapi, dan tinggal sepertiga yang patuh hingga akhir pengobatan.
(Aguglia E, Elisabetta PF, 2007)

10
Terkait pengobatan yang lama pada pasien skizofrenia, tentu memiliki beberapa
penyebab yang dapat menyebabkan diskontinuasi dalam pengobatan. Salah satu penyebab
tersebut datangnya dari pihak keluarga seperti karena alasan ekonomi (cit Prawirohusodo,
1991 ; Sadock dan Sadock 2007). Selain itu, beberapa penyebab kekambuhan pasien
gangguan jiwa salah satunya fungsi keluarga yang berkaitan dengan kesehatan yaitu fungsi
perawatan kesehatan. Keluarga merupakan suatu sistem yang kompleks. Sistem keluarga
dapat berfungsi dengan baik dan memelihara taraf kesehatan anggota-anggotanya, serta
mendukung perkembangan setiap anggota dan menerima serta melakukan perubahan-
perubahan. Namun, sistem keluarga juga dapat menimbulkan disfungsional, meskipun hanya
pada satu atau beberapa anggota keluarga saja, akan mempengaruhi anggota keluarga yang
lain.

Melalui psikoedukasi keluarga, diharapkan pengetahuan keluarga terkait penyakit


pasien meningkat dan penerimaan keluarga terhadap kondisi pasien menjadi lebih baik,
sehingga pengobatan pasien dapat mencapai outcome yang baik pula termasuk menurunnya
angka kekambuhan pasien. Didalam keluarga diharapkan adanya anggota keluarga yang
dapat berperan khusus sebagai seseorang yang memberikan bantuan kepada pasien
(caregiver) yang dalam hal ini mengalami ketidakmampuan dan keterbatasan terkait
penyakitnya. Bantuan tersebut mulai dari mencari pengobatan atau terapi yang dibutuhkan
pasien, memastikan kepatuhan minum obat untuk mencegah kekambuhan, mengenali gejala
gejala kekambuhan dan tindakan yang dilakukan selanjutnya, mengenali gejala gejala
munculnya efek samping. (Mahar, Agusno. 2009)

Melalui psikoedukasi pula, keluarga dibekali pengetahuan bagaimana peran keluarga


dalam membantu pasien skizofrenia menjalani pengobatan, termasuk juga peran dalam
memberikan dukungan emosinal, kasih sayang, dan perhatian. Greenberg menemukan bahwa
kualitas hidup pasien skizofrenia terlihat lebih tinggi pada caregiver keluarga yang
mengekspresikan kehangatan, hubungan yang erat dan suportif. Dalam penelitian Aguglia
2007, juga menunjukkan adanya hasil yang bermakna terkait peran psikoedukasi dalam
menurunkan angka kekambuhan pasien skizofrenia, yang dinilai dengan beberapa skala
penilaian psikiatri ditinjau dari beberapa aspek antara lain, penurunan gejala positif,
penurunan gejala negative, peningkatan kualitas hidup, yang ditunjukkan dengan adanya
penurunan jumlah rehospitalisasi dan jumlah hari rawat.
Psikoedukasi merupakan informasi yang sistematis dan terstruktur mengenai penyakit atau
gangguan serta penanganannya, termasuk aspek aspek emosional, yang bertujuan agar

11
keluarga dapat beradaptasi dengan penyakit atau gangguan tersebut secara adekuat.
Psikoedukasi terbukti dapat menurunkan angka kekambuhan, memperbaiki kepatuhan minum
obat, berpengaruh positif terhadap perjalanan penyakit, menurunkan beban perawatan,
memiliki pengaruh positif pada situasi dalam keluarga, serta membantu daya adaptasi yang
lebih baik.

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Skizofrenia merupakan gangguan jiwa berat yang bisa didapatkan di seluruh dunia
dengan prevalensi sekitar 1% dari populasi. Gangguan skizofrenia biasanya berlangsung
kronis dan cenderung menjadi berat dan menetap serta disertai eksaserbasi akut dan

12
penurunan fungsi peran penderita. Dalam hal perjalanan gangguan skizofrenia, penatalaksaan
gangguan skizofrenia merupakan salah satu bagian yang penting dan kompleks. Hal ini
dikarenakan penatalaksanaan gangguan skizofrenia tidak hanya meliputi satu aspek, tetapi
harus meliputi unsur biopsikososial dan spiritual. Faktor psikososial yang melibatkan pasien
dan keluarganya merupakan hal yang penting dalam penatalaksanaan jangka panjang dan
pencegahan agar tidak terjadi kekambuhan.

Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa terapi psikososial yang


dikombinasikan dengan tepat dalam terapi antipsikotik jangka panjang, dapat mengurangi
persentase kekambuhan dalam satu tahun menjadi sekitar 54%. Jika intervensi psikoedukasi
dilakukan dengan pasien dan keluarga mereka, kekambuhan pada tahun berikutnya turun
menjadi 27%. Di antara intervensi psikososial, psikoedukasi bagi pasien dan keluarga pasien,
telah dianggap paling menjanjikan dan sukses dalam tiga puluh tahun terakhir. Dengan kata
lain, berdasarkan penelitian tersebut menunjukkan adanya efek psikoedukasi dalam
menurunkan angka kekambuhan skizofrenia.

Saran

Intervensi psikoedukasi di Indonesia masih belum banyak diterapkan, berkaca dari


hasil penelitian di Negara lain, yang menunjukkan hasil adanya pengaruh psikoedukasi dalam
menurunkan angka kekambuhan skizofrenia, maka perlu dipertimbangkan untuk menerapkan
intervensi psikoedukasi ini yang dapat dikombinasi dengan farmakoterapi, dengan harapan
dapat semakin menekan angka kekambuhan skizofrenia sehingga jumlah hospitalisasi dan
jumlah hari rawat semakin berkurang.

DAFTAR PUSTAKA

Aguglia E, Elisabetta PF, Francesca B, and Mariano B. 2007. Psychoeducational intervention


and prevention of relapse among schizophrenic disorders in the Italian community psychiatric
network. In Clinical Practice and Epidemiology in Mental Health 2007, 3:7
doi:10.1186/1745-0179-3-7

Bordbar, Mohammad. Faridhosseini, Farhad. 2010. Psychoeducation for Bipolar Mood


Disorder. Jurnal: Clinical, Research, Treatment Approaches to Affective Disorders.

Dorland.2002. Kamus Saku Kedokteran Dorland. EGC : Jakarta

13
Elvira D, Sylvia, Hadisukanto, Giyanti.2003. Buku Ajar Psikiatri. FKUI. Jakarta: Penerbit
FKUI

Harold l. Kaplan, Benjamin J. Sadock, Jack A. Grebb. 2010. Sinopsis Psikiatri jilid satu.
Jakarta : Binarupa Aksara, . Hal : 699-744.

Mahar, Agusno. 2009. Peranan Falsafah Hidup Keluarga Dalam Mendukung Kelangsungan
Pengobatan Penderita Skizofrenia, studi kualitatif dalam Jiwa, Indon Psychiat Quart 2009 :
XLII : 1

Maramis, WF. 2005. Catatan : Ilmu Kedokteran Jiwa cetakan kesembilan. Airlangga
University Press.Surabaya

Maslim, Rusdi.2003. Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas PPDGJ-III. PT.Nuh Jaya.
Jakarta.

Prawirohusodo, S. 1978. Rehabilitasi Tridimensional Sebagai Terapi Alternatif Tatalaksana


Terapi Penderita Psikosis Kronis. Konseptualisasi Operasional. Pidato Pengukuhan Guru
Besar dalam Ilmu Kedokteran Jiwa pada Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada.
Yogyakarta.

Sadock B.J, & Sadock V.A (2007). Kaplan and Sadocks Synopsis of Psychiatry: Behavioural
Sciences/Clinical Psychiatry [ebook]. 10th ed. Wolters Kluwer / Lippincott Williams and
Wilkins Health. Philladelphia

Stahl, S.M. 2000. Essential Psychopharmacology. Neuroscientific Basis and Practical


Applications. 2nd ed. Cambrige University Press. New York dalam Agusno, Mahar. 2009.
Peranan Falsafah Hidup Keluarga Dalam Mendukung Kelangsungan Pengobatan Penderita
Skizofrenia, studi kualitatif dalam Jiwa, Indon Psychiat Quart 2009 : XLII : 1

Sudiyanto, Aris. 2008. Hambatan Terapi Pasien Skizofrenia dan Penyelesaiannya Ditinjau
dari Sudut Pandang Pasien dan Keluarga. Bagian Psikiatri FK Universitas Sebelas Maret ;
Surakarta

Sukmarini, Natalingrum. 2008. Optimalisasi Peran Caregiver Dalam Penatalaksanaan


Skizofrenia. Bagian Psikiatri FK UNPAD; Bandung

Walsh, Joseph. 2010. Psycheducation In Mental Health. Chicago: Lyceum Books, Inc.

14