Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH MIKOLOGI

PEMBUDIYAAN JAMUR

DISUSUN OLEH

KELOMPOK 8 : 1. Citra Fajri


2. Maulina Hidayah
3. Ranika Ruslima Dewi
4. Sari Rahmawati

PROGRAM STUDI SARJANA BIOLOGI


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS RIAU
2017
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Jamur merupakan tanaman yang tidak mempunyai klorofil sehingga tidak


bisa melakukan proses fotosintesis untuk menghasilkan makanan sendiri.
Jamur digolongkan sebagai tanaman heterotrofik, karena jamur hidup dengan
cara mengambil zat zat makanan, seperti selulosa, glukosa, lignin, protein,
dan senyawa pati dari organisme lain. Jamur telah dikenal dan popular sebagai
bahan makanan lezat sejak abad XIV Masehi. Jamur dinilai mengandung
karbohidarat, berbagai mineral seperti kalsium, kalium, fosfor, dan besi serta
vitamin B, B12 dan C. Kandungan protein (10,5-30,4%) yang terdapat pada
jamur lebih tinggi dibandingkan dengan bahan makanan lain yang juga berasal
dari tanaman, yakni protein jamur dua kali lebih tinggi daripada asparagus dan
kentang, empat kali lebih tinggi daripada wortel dan tomat dan enam kali lebih
tinggi daripada jeruk (Riyanto, 2010).

Jamur sendiri merupakan salah satu komoditi yang mempunyai harapan di


masa depan, mengingat permintaan pasar cukup tinggi sedangkan produksi
rendah. Singapura misalnya, membutuhkan 100 ton jamur merang setiap bulan
dan Malaysia membutuhkan jamur merang sekitar 15 ton tiap minggunya.
Kebutuhan jamur merang di pasaran dalam negeri juga mempunyai prospek
yang sangat cerah (Mayun,2007 dalam Yuliani, 2010). Sebagai usaha untuk
meningkatkan produksi jamur yang rendah namun tidak seimbang dengan
permintaannya yang tinggi, untuk itu perlu dilakukan budidaya jamur yang
baik dengan memperhatikan faktor tumbuh yang optimal dan teknik budidaya
yang benar agar hasil yang didapatkan dapat maksimal.
1.2 Identifikasi Masalah

1. Apa pengertian jamur?

2. Bagaimana cara budidaya jamur?

3. Apa saja faktor yang mempengaruhi pertumbuhan jamur?

4. Apa manfaat dan nilai gizi pada jamur?

1.3 Tujuan

Makalah ini bertujuan untuk:

1. Mengetahui apa itu jamur

2. Mengetahui bagaimana cara pembudidayaan jamur

3. Mengetahui apa saja faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan


jamur

4. Mengetahui apa saja manfaat dan nilai gizi yang terdapat pada jamur
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Jamur (Cendawan)

Fungi atau jamur didefinisikan sebagai kelompok organisme eukariotik,


tidak berpindah tempat (nonmotile), bersifat uniselular atau multiselular, memiliki
dinding sel dari glukan, mannan, dan kitin, tidak berklorofil, memperoleh nutrien
dengan menyerap senyawa organik, serta berkembang biak secara seksual dan
aseksual. Jamur atau fungi memiliki beberapa sifat umum, yaitu hidup di tempat-
tempat yang lembab, sedikit asam, dan tidak begitu memerlukan cahaya matahari.
Jamur tidak berfotosintesis, sehingga hidupnya bersifat heterotrof. Jamur hidup
dari senyawa-senyawa organik yang diabsorbsi dari organisme lain. Jamur yang
prinsip nutrisinya adalah heterotrof menyebabkannya memiliki kemampuan hidup
sebagai pemakan sampah (saprofit) maupun sebagai penumpang yang mencuri
makanan dari inangnya (parasit).
Cendawan adalah jamur atau tubuh buah yang fungsi utamanya
menghasilka meneyebarluaskan berbylium-bylium spora ke lingkungan. Ada
cendawan yang dimasukkan kedalam ascomycota, akan tetapi sebagian besar
cendawan yang dikenal sampai sekarang dimasukkan kedalam basidiomycota.
Semua cendawan yang dapat dimakan adalah saprofit.
Menurut chang (1993) budidaya cendawan mulai mendapat perhatian
besar karena jumlah penggemar jamur pangan makin meningkat didunia. Selain
itu, pemanfaatna bahan limbah yang sebelumnya mencemari lingkungan dapat
dimanfaatkan untuk pembudidayaan cendawan sampai ke taraf industri.

2.2 Cara Budidaya Jamur (Cendawan)


Pembudidayaan cendawan atau di masyarakat lebih dikenal sebagai
pembudidayaan jamur, semula merupakan suatu bioteknologi sederhana dan
meliputi tiga jenis kegiatan:

1) pembuatan spawn atau inokulun,


2) pembuatan kompos, yaitu substarat yang akan ditumbuhi oleh jamur,
3) pengaturan lingkungan pertumbuhan agar diperoleh produksi jamur
yang maksimal.

1. Pembuatan Spawn
Chang (1982) dan Yong dan leong (1983) telah menerbitkan suatu cara
spawn yang sederhana untuk budidaya cendawan di lingkungan rumah, tetapi
memberikan hasil yang lebih baik. Caranya sederhana sebagai berikut:gunting
dibersihkan dengan alcohol 70%, kemudian sebagian dari hemanium cendawan
tempat basidiospora dibentuk, dipotong kecil-kecil. Potongan tersebut dicuci
dengan aqua destilata steril, dikeringkan dengan kertas saring steril kemudian
potongan tersebut langsung diletakkan di atas medium PDA dalam cawan petri
dan diinkubasikan dalam suhu kurang lebih 28-30 0C.
Koloni cendawan yang tumbuh kemudian dipotong di bagian pinggir
koloni, jadi agar dan miselium dipindahkan kecawan petri dengan PDA segar.
Perlakuan tersebut diulang beberapa kali sampai diperoleh miselium yang benar-
benar murni. Sementara sebuah botol steril bermulut lebar sudah disipkan dan
diisi dengan kompos yang sudah di uap kurang lebih 3 jam pada suhu 60 0C.
bagian tengah dari kompos yang sudah dingin ditekan ke dalam. Miselium yang
sudah dibiarkan tumbuh lebat didalam cawan petri diambil secara aseptic dengan
memutar-mutar jarum tanam sehingga miselium menggulung sekitar ujung jarum
kemudian dimasukkan ke dalam lubang kompos tersebut. Yong & Leong (1983)
memasukkan langsung potongan agar + miselium ke dalam kompos tersebut.
Apabila substratnya sekam padi atau saw dust kayu, maka agar+miselium tersebut
langsung dicampurkan secara diaduk-aduk dengan substratnya. Botol kemudian
ditutup dengan sumbat kapas steril yang dibungkus kain kasa dan diinkubasikan
pada suhu 30-32 0C selama 6-7 hari agar semua kompos sampai kedasar botol
tertutup oleh miselium. Kompos yang bermiselium tersebut yang disebut spawn.
Spawn harus diobservasi teratur agar tidak terkontaminasi oleh pertumbuhan
kapang pengganggu, seperti spesies dari genera Neurospora, Aspergillus,
Trichoderma, dan Penicillium (chang 1982; yong & leong, 1983). Kehadiran
kapang pengganggu dapat dikenali dari warna konidia pada kompos. Apabila
terjadi kontaminasi, maka seluruh Spawn dalam botol harus dimusnahkan segera.
2. Pembuatan Kompos
Salah satu persyaratan substrat tau kompos yang akan menjadi tempat
pertumbuhan cendawan adalah harus mengandung seluruh nutrisi yang diperlukan
atau yang mendukung pertumbuhan cendawan. Limbah alam yang masih banyak
mengandung bahan organic seperti selulosa, hemiselulosa, dan lignin yang masih
dapat dimanfaatkan sebagai sumber karbon dan energi untuk cendawan. Bagian
limbah yang berukuran besar biasanya dihancurkan terlebih dahulu menjadi
bagian yang lebih kecil. Limbah tersebut disusun menjadi bedeng-bedeng menurut
ukuran tertentu sesuai tempat yang tersedia dan ditutup dengan lembar plastik
untuk mencegah pengeringan. Dalam substrat akan terjadi suksesi pertumbuhan
beberapa beberapa generasi organisme meliputi bakteri, actinomycetes, kapang
dan juga protozoa yang secara bergantian mendominasi substrat pada tahap-tahap
tertentu.
Pada awalnya, mikroorganisme yang akan mengurai senyawa organic
dan nitrogen terlarut adalah mikroorganisme mesofil. Aktivitas metabolisme
mereka menghasilkan karbon dioksida, ammonia, dan meningkatkan suhu dalam
substrat. Suhu akan meningkat sampai 40-450C, dan sebagian besar
mikroorganisme mesofil akan mati.
Substrat sekarang dikuasai oleh kapang-kapang termofil seperti
Humicola fuscoatra, H. grisea, Aspergillus fumigates, Chaetomium thermophile,
dan cendawan Coprinus cinereus. Setelah aktivitas mikroorganisme termofil
selesai, suhu akan menurun dan kompos siap untuk diinokulasi dengan Spawn.

3. Pengaturan Lingkungan Pertumbuhan


Apabila kompos berupa bedeng sudah siap, maka substrat dalam botol
yang sudah penuh ditumbuhi miselium dikeluarkan, dihancurkan, dan ditabur di
atas bedeng kompos tersebut. Bedeng kemudian ditutup dengan plastik untuk
mencegah penguapan air dari kompos terutama bila proses tersebut berlangsung di
luar. Pengawasan factor lingkungan (terutama suhu) menjadi sangat penting.

4. Pemanenan Cendawan
a. Ciri jamur siap tanam:
Bila masih ada tonjolan, panen dilakukan keesokan harinya.
Bila bulat sudah merata, jamur siap panen.
b. Cara panen jamur:
Lebih baik tidak menggunakan kuku tangan, tetapi menggunakan
pisau yang telah disterilkan.
Tinggalkan / sisakan sedikit pangkal buah jamur yang di panen.
Media tidak boleh terangkat.
c. Penyebab menurunnya kualitas jamur merang (bercak-bercak:
Pasteurisasi tidak matang.
Dedak tidak matang.

2.3 Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Jamur (Cendawan)


Syarat lingkungan yang dibutuhkan pertumbuhan dan perkembangan
jamur tiram antara lain (Susilawati dan Raharjo, 2010) :

1. Air

Kandungan air dalam substrak berkisar 60-65%. Apabila kondisi kering maka
pertumbuhan akan terganggu atau berhenti begitu pula sebaliknya apabila kadar
air terlalu tinggi maka miselium akan membusuk dan mati. Penyemprotan air
dalam ruangan dapat dilakukan untuk mengatur suhu dan kelembaban.

2. Suhu

Suhu inkubasi atau saat jamur tiram membentuk miselium dipertahankan


antara 60-70%. Suhu pada pembentukan tubuh buah berkisar antara 16 22 C.

3. Kelembaban

Kelembaban udara selama masa pertumbuhan miselium dipertahankan antara


60-70%. Kelembaban udara pada pertumbuhan tubuh buah dipertahankan antara
80-90%.

4. Cahaya

Pertumbuhan jamur sangat peka terhadap cahaya matahari secara langsung.


Cahaya tidak langsung (cahaya pantul biasa 50-15000 lux) bermanfaat dalam
perangsangan awal terbentuknya tubuh buah. Pada pertumbuhan miselium tidak
diperlukan cahaya. Intensitas cahaya yang dibutuhkan untuk pertumbuhan Namur
sekitar 200 lux (10%).
5. Aerasi

Dua komponen penting dalam udara yang berpengaruh pada pertumbuhan


jamur yaitu oksigen (O2) dan karbondioksida (CO2). Oksigen merupakan unsur
penting dalam respirasi sel. Sumber energi dalam sel dioksida menjadi
karbondioksida. Konsentrasi karbondioksida (CO2) yang terelalu banyak dalam
kumbung menyebabkan pertumbuhan jamur tidak normal. Di dalam kumbung
jamur konsentrasi CO2 tidak boleh lebih dari 0,02%.

6. Tingkat Keasaman (pH)

Tingkat keasaman media tanam mempengaruhi pertumbuhan dan


perkembangan jamur. Pada pH yang terlalu tinggi atau terlalu rendah akan
mempengaruhi penyerapan air dan hara, bahkan kemungkinan akan tumbuh jamur
lain yang akan menganggu pertumbuhan jamur tiram itu sendiri, pH optimum
pada media tanam berkisar 6-7.

2.4 Manfaat dan Nilai Gizi Jamur (Cendawan)


Pemanfaatan cendawan oleh manusia bukan hanya karena lezat tetapi juga
mengandung gizi: mineral, serat, protein, serta beberapa asam amino esensial.
Cendawan tidak boleh digunakan sebagai pengganti daging, ikan, atau telur tetapi
hanya sebagai suplemen.
Li dan Chang (1982) melakukan studi mengenai gizi Volvariella volvaceae
dan melaporkan bahwa kisaran kandungan air cendawan segar adalah 88,68-
89,46%. Lemak kasar dihitung berdasarkan berat kering (%) adalah 1,14-3,65%,
karbohidrat bebas nitrogen, serat kasar (fiber), protein kasar, abu. Berikut juga
diuraikan beberapa manfaat cendawan:

1. Sebagai bahan pangan.


2. Sebagai bahan kosmetika.
3. Sebagai bahan obat-obatan.
4. Sebagai sumber penghasilan.
5. Sebagai pengurai atau dekomposer apabila bersifat saprofit.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Fungi atau jamur didefinisikan sebagai kelompok organisme eukariotik,
tidak berpindah tempat (nonmotile), bersifat uniselular atau multiselular, memiliki
dinding sel dari glukan, mannan, dan kitin, tidak berklorofil, memperoleh nutrien
dengan menyerap senyawa organik, serta berkembang biak secara seksual dan
aseksual. Faktor tumbuh yang mempengaruhi pertumbuhan jamur pada budidaya
jamur adalah kelembaban, kadar air, pH, aerasi dan suhu. Cara budidaya jamur
meliputi 3 kegiatan yaitu: 1) pembuatan spawn atau inokulun, 2) pembuatan
kompos, yaitu substarat yang akan ditumbuhi oleh jamur, 3) pengaturan
lingkungan pertumbuhan.

3.2 Saran
- Hendaknya kita sebagai generasi muda dan pelajar mau mengetahi proses
dalam pembudidayaan jamur .
- Pembudidayaan tanaman jamur harus ditingkatkan guna mewujudkan untuk
kebutuhan ekonomi masyarakat dan menggurangi pengangguran yang ada saat
ini.
- Kegiatan pembudidayaan harus di perkenalkan kepada generasi muda atau
pelajar, hal ini dapat dilakukan dengan adanya campur tangan dari orang tua,
pihak sekolah maupun masyarakat yang ada di sekitar lingkungan mereka
DAFTAR PUSTAKA

Alam, Rizqi. 2015. Jenis-jenis Jamur Konsumsi. http://rizqialam.net/site_jenis-


jenis-jamur-yang-dapat-dikonsumsi.xhtml diakses 3 Maret 2017 pukul
20.35
Angriawan, Teddy. 2006. Budi daya jamur kuping ( auricularia auricula judae).
Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret. Surakarta

Aryantha, I Nyoman. 2006. Pengantar Budidaya Jamur Shiitake (Lentinula


Edodes) & Jamur Kuping (Auricularia polytricha). PPAU Ilmu Hayati-LP-
ITB. Bandung

Riduwan, Muhammad., Didik Hariyono dan Moch. Nawawi. 2013. Pertumbuhan


Dan Hasil Jamur Merang (Volvariella Volvacea) Pada Berbagai Sistem
Penebaran Bibit Dan Ketebalan Media. Jurnal Produksi Tanaman Volume
1 No.1

Riyanto, Frendi. 2010. Pembibitan Jamur Tiram (Pleurotus Ostreatus) Di Balai


Pengembangan Dan Promosi Tanaman Pangan Dan Hortikultura
(Bpptph) Ngipiksari Sleman, Yogyakarta. Fakultas Pertanian Universitas
Sebelas Maret. Surakarta

Sunandar, Bambang. 2010. Budidaya Jamur Merang. Balai Pengkajian Teknologi


Pertanian Jawa Barat

Susilawati dan Budi Raharjo. 2010. Budidaya Jamur Tiram (Pleourotus ostreatus
var florida) yang ramah lingkungan. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian
(BPTP). Sumatera Selatan

Yuliani, Farida. 2010. Pertumbuhan Dan Produksi Jamur Merang (Volvariella


volvaceae) Yang Ditanam Pada Media Jerami, Blotong Dan Ampas Tebu
Dengan Berbagai Frekwensi Penyiraman. Fakultas Pertanian UMK.
Kudus