Anda di halaman 1dari 26

BAB I

Pendahuluan
Alam perasaan seseorang dapat berubah-ubah sesuai situasi dan kondisi tertentu yang dialaminya.
Suasana alam perasaan seseorang mungkin normal, meninggi atau bahkan terdepresi. Orang normal dapat
mengalami berbagai macam suasana perasaan dan memiliki ekspresi afektif yang sama luasnya; mereka
mampu mengendalikan suasana perasaan dan afeknya. Lain halnya dengan seseorang yang mengalami
gangguan pada alam perasaannya.
Gangguan alam perasaan adalah suatu kondisi klinis yang ditandai oleh hilangnya kendali perasaan akibat
pengalaman subjektif yang berhubungan dengan penderitaan berat. Pasien dengan suasana perasaan yang
meninggi (elevated) yaitu mania, menunjukkan sikap meluap-luap, gagasan yang meloncat-loncat (flight
of ideas), penurunan kebutuhan tidur, peninggian harga diri, dan gagasan kebesaran. Pasien dengan
suasana perasaan terdepresi (yaitu depresi) merasakan hilangnya energi dan minat, perasaan bersalah,
kesulitan berkonsentrasi, hilangnya nafsu makan dan fikiran tentang kematian atau bunuh diri.
Tanda dan gejala lain dari gangguan susana perasaan adalah perubahan tingkat aktivitas, kemampuan
kognitif, pembicaraan dan fungsi vegetatif (seperti tidur, nafsu makan, aktivitas seksual dan irama
biologis lainnya). Perubahan tersebut hampir selalu menyebabkan gangguan fungsi interpersonal, sosial,
dan pekerjaan.
Sekelompok penyakit yang bervariasi antara berat dan gejala utamanya adalah perubahan mood yang
secara periodic berganti-ganti antara mania dan depresi, biasanya diikuti oleh gejala-gejala lain yang
khas. Gangguan ini dikenal sebagai gangguan afektif bipolar.

Gangguan Bipolar
Gangguan bipolar dikenal juga dengan gangguan manik depresi, yaitu gangguan pada fungsi otak yang
menyebabkan perubahan yang tidak biasa pada suasana perasaan, dan proses berfikir1. Disebut bipolar
karena penyakit kejiwaan ini didominasi adanya fluktuasi periodik dua kutub, yakni kondisi manik
(bergairah tinggi yang tidak terkendali) dan depresi.
Episode Depresif pada Gangguan Bipolar
Depresi bipolar sama pada kelompok pria dan wanita dengan angka kejadian sekitar 5 per 1000 orang.
Penderita depresi bipolar dapat mengalami bunuh diri 15 kali lebih banyak dibandingkan dengan orang
awam. Bunuh diri pertama-tama sering terjadi ketika tekanan pada pekerjaan, studi, tekanan emosional
dalam keluarga terjadi pada tingkat yang paling berat. Risiko bunuh diri dapat meningkat selama
menopause2.
BAB II
Etiopatofisiologi
Dahulu virus sempat dianggap sebagai penyebab penyakit ini. Dianggap serangan virus pada otak
berlangsung pada masa janin dalam kandungan atau tahun pertama sesudah kelahiran. Namun, gangguan
bipolar bermanifestasi 15-20 tahun kemudian. Telatnya manifestasi itu timbul karena diduga pada usia 15
tahun kelenjar timus dan pineal yang memproduksi hormon yang mampu mencegah gangguan psikiatrik
sudah berkurang 50%3.
Sekarang, penyebab gangguan bipolar diketahui multifaktor. Mencakup aspek bio-psikososial. Secara
biologis dikaitkan dengan faktor genetik dan gangguan neurotransmitter di otak. Secara psikososial
dikaitkan dengan pola asuh masa kana-kanak, stres yang menyakitkan, stres kehidupan yang berat dan
berkepanjangan, dan banyak lagi faktor lainnya4.
Faktor Biologi
Herediter
Didapatkan fakta bahwa gangguan alam perasaan (mood) tipe bipolar (adanya episode manik dan depresi)
memiliki kecenderungan menurun kepada generasinya, berdasar etiologi biologik. 50% pasien bipolar
memiliki satu orangtua dengan gangguan alam perasaan/gangguan afektif, yang tersering unipolar
(depresi saja). Jika seorang orang tua mengidap gangguan bipolar maka 27% anaknya memiliki resiko
mengidap gangguan alam perasaan. Bila kedua orangtua mengidap gangguan bipolar maka 75% anaknya
memiliki resiko mengidap gangguan alam perasaan. Keturunan pertama dari seseorang yang menderita
gangguan bipolar berisiko menderita gangguan serupa sebesar 7 kali. Bahkan risiko pada anak kembar
sangat tinggi terutama pada kembar monozigot (40-80%), sedangkan kembar dizigot lebih rendah, yakni
10-20%2.
Genetik
Beberapa studi berhasil membuktikan keterkaitan antara gangguan bipolar dengan kromosom 18 dan 22,
namun masih belum dapat diselidiki lokus mana dari kromosom tersebut yang benar-benar terlibat.
Beberapa diantaranya yang telah diselidiki adalah 4p16, 12q23-q24, 18 sentromer, 18q22, 18q22-q23, dan
21q22. Yang menarik dari studi kromosom ini, ternyata penderita sindrom Down (trisomi 21) berisiko
rendah menderita gangguan bipolar2.
Penelitian terbaru menemukan gen lain yang berhubungan dengan penyakit ini yaitu gen yang
mengekspresi brain derived neurotrophic factor (BDNF). BDNF adalah neurotropin yang berperan dalam
regulasi plastisitas sinaps, neurogenesis dan perlindungan neuron otak. BDNF diduga ikut terlibat dalam
pengaturan mood. Gen yang mengatur BDNF terletak pada kromosom 11p13. Terdapat 3 penelitian yang
mencari tahu hubungan antara BDNF dengan gangguan bipolar dan hasilnya positif2.
Neurotransmitter
Sejak ditemukannya beberapa obat yang berhasil meringankan gejala bipolar, peneliti mulai menduga
adanya hubungan neurotransmiter dengan gangguan bipolar. Neurotransmiter tersebut adalah dopamine,
serotonin, dan noradrenalin. Gen-gen yang berhubungan dengan neurotransmiter tersebut pun mulai
diteliti seperti gen yang mengkode monoamine oksidase A (MAOA), tirosin hidroksilase, catechol-
Ometiltransferase (COMT), dan serotonin transporter (5HTT)2.
Kelainan otak
Kelainan pada otak juga dianggap dapat menjadi penyebab penyakit ini. Terdapat perbedaan gambaran
otak antara kelompok sehat dengan penderita bipolar. Melalui pencitraan magnetic resonance imaging
(MRI) dan positron-emission tomography (PET), didapatkan jumlah substansia nigra dan aliran darah
yang berkurang pada korteks prefrontal subgenual. Tak hanya itu, Blumberg dkk dalam Arch Gen
Psychiatry 2003 pun menemukan volume yang kecil pada amygdala dan hipokampus. Korteks prefrontal,
amygdala dan hipokampus merupakan bagian dari otak yang terlibat dalam respon emosi (mood dan
afek)2.
Penelitian lain menunjukkan ekspresi oligodendrosit-myelin berkurang pada otak penderita bipolar.
Seperti diketahui, oligodendrosit menghasilkan membran myelin yang membungkus akson sehingga
mampu mempercepat hantaran konduksi antar saraf. Bila jumlah oligodendrosit berkurang, maka dapat
dipastikan komunikasi antar saraf tidak berjalan lancar2.

Faktor Psikososial
Peristiwa kehidupan dan stress lingkungan
Satu pengamatan klinis yang telah lama yang telah direplikasi adalah bahwa peristiwa kehidupan yang
menyebabkan stress lebih sering mendahului episode pertama gangguan suasana perasaan daripada
episode selanjutnya. Hubungan tersebut telah dilaporkan untuk pasien gangguan depresif berat dan
gangguan bipolar I5.
Faktor psikoanalitik dan psikodinamika
Dalam upaya untuk mengerti depresi, Sigmund Freud mendalilkan suatu hubungan antara kehilangan
suatu objek dan melankolia. Ia menyatakan bahwa kekerasan yang dilakukan pasien depresi diarahkan
secara internal karena identifikasi dengan objek yang hilang. Freud percaya bahwa introjeksi mungkin
merupakan satu-satunya cara bagi ego untuk melepaskan suatu objek. Ia membedakan melankolia atau
depresi dari duka cita atas dasar bahwa pasien terdepresi merasakan penurunan harga diri yang melanda
dalam hubungan dengan perasaan bersalah dan mencela diri sendiri, sedangkan orang yang berkabung
tidak demikian5.
Melanie Klein selanjutnya menghubungkan depresi dengan posisi depresif. Ia mengerti siklus manik-
depresif sebagai pencerminan kegagalan pada masa anak-anak untuk mendapatkan introjeksi mencintai.
Di dalam pandangannya, pasien depresi menderita akibat permasalahan bahwa mereka mungkin memilki
objek cinta yang dihancurkan melalui destruktivitas dan ketamakan mereka sendiri. Sebagai akibat dari
destruksi yang dikhayalkan tersebut, mereka berguna yang karakteristik untuk pasien depresi melebihi
perasaan bahwa orang tua internal mereka yang baik telah ditransformasikan menjadi penyiksa karena
khayalan dan impuls destruktif pasien5.
Klien memandang mania sebagai kumpulan operasi defensif yang disusun untuk mengidealisasikan orang
lain, menyangkal adanya agresi atau destruktivitas terhadap orang lain, dan mengembalikan objek cinta
yang hilang5.
Bibring memandang depresi sebagai suatu keadaan afektif primer yang tidak dapat melakukan apa-apa
terhadap agresi yang dihadapkan ke dalam. Selain itu, ia memandang depresi sebagai suatu afek yang
berasal dari ketegangan di dalam ego antara aspirasi seseorang dan kenyataan seseorang. Jika pasien
terdepresi menyadari bahwa mereka tidak hidup sesuai dengan idealnya, sebagai akibatnya mereka putus
asa dan sebagai akibatnya mereka merasa putus asa dan tidak berdaya. Pada intinya, depresi dapat
disimpulkan sebagai keruntuhan parsial atau lengkap dari harga diri di dalam ego5.
Heinz Kohut mendefinisikan kembali depresi di dalam istilah psikologi diri. Jika objek diri yang
diperlukan untuk bercermin, kekembaran, atau idealisasi tidak datang dari orang yang bermakna, orang
yang terdepresi merasakan suatu ketidaklengkapan dan putus asa karena tidak menerima respon yang
diinginkan. Di dalam pengertian tersebut, respon tertentu di dalam lingkungan adalah diperlukan untuk
mempertahankan harga diri dan perasaan kelengkapan5.
Ketidakberdayaan yang dipelajari (learned helplessness)
Di dalam percobaan dimana binatang secara berulang dipaparkan dengan kejutan listrik yang tidak dapat
dihindarinya, binatang akhirnya menyerah dan tidak melakukan usaha sama sekali untuk menghindari
kejutan selanjutnya. Mereka belajar bahwa mereka tidak berdaya. Pada manusia yang terdepresi, kita
dapat menemukan keadaan ketidakberdayaan yang mirip. Menurut teori ketidakberdayaan yang
dipelajari, depresi dapat membaik jika klinisi mengisi pada pasien yang terdepresi suatu rasa
pengendalian dan penguasaan lingkungan. Klinisi menggunakan teknik perilaku berupa dorongan yang
menyenangkan dan positif di dalam usaha tersebut5.
Teori kognitif
Menurut teori kognitif, interpretasi yang keliru (misinterpretation) kognitif yang sering adalah melibatkan
distorsi negatif, pengalaman hidup, penilaian diri yang negatif, pesimisme, dan keputusasaan. Pandangan
negatif yang dipelajari tersebut selanjutnya menyebabkan perasaan depresi. Seorang ahli terapi kognitif
berusaha untuk mengidentifikasi hal yang negatif dengan menggunakan tugas perilaku, seperti mencatat
dan secara sadar memodifikasi pikiran pasien5.

BAB III
Kriteria Diagnostik dan Pemeriksaan
Berdasarkan Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) III, gangguan afektif
bipolar ini bersifat episode berulang yang menunjukkan suasana perasaan pasien dan tingkat aktivitasnya
jelas terganggu, dan gangguan ini pada waktu tertentu terdiri dari peninggian suasana perasaan serta
peningkatan energi dan aktivitas (mania atau hipomania), dan pada waktu lain berupa penurunan suasana
perasaan serta pengurangan energi dan aktivitas (depresi). Yang khas adalah terdapat penyembuhan
sempurna antar episode. Episode manik biasanya mulai dengan tiba-tiba dan berlangsung antara 2 minggu
sampai 4-5 bulan, sedangkan depresi cenderung berlangsung lebih lama6.
Episode pertama bisa timbul pada setiap usia dari masa kanak-kanak sampai tua. Kebanyakan kasus
terjadi pada dewasa muda berusia 20-30 tahun. Semakin dini seseorang menderita bipolar maka risiko
penyakit akan lebih berat, kronik bahkan refrakter.
Kriteria Diagnostik2,3
Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual (DSM) IV, gangguan bipolar dibedakan menjadi 2 yaitu
gangguan bipolar I dan II. Gangguan bipolar I atau tipe klasik ditandai dengan adanya 2 episode yaitu
manik dan depresi, sedangkan gangguan bipolar II ditandai dengan hipomanik dan depresi. PPDGJ III
membaginya dalam klasifikasi yang berbeda yaitu menurut episode kini yang dialami penderita6.
F31 Gangguan Afektif Bipolar
Gangguan ini tersifat oleh episode berulang (yaitu sekurang-kurangnya dua) yang menunjukkan suasana
perasaan (mood) pasien dan tingkat aktivitasnya jelas terganggu, dan gangguan ini pada waktu tertentu
terdiri dari peninggian suasana perasaan (mood) serta peningkatan enersi dan aktivitas (mania atau
hipomania), dan pada waktu lain berupa penurunan suasana perasaan (mood) serta pengurangan energi
dan aktivitas (depresi).

Yang khas adalah bahwa biasanya ada penyembuhan sempurna antar episode. Episode manik biasanya
mulai dengan tiba-tiba dan berlangsung antara 2 minggu sampai 4-5 bulan, episode depresi cenderung
berlangsung lebih lama (rata-rata sekitar 6 bulan) meskipun jarang melebihi 1 tahun kecuali pada orang
usia lanjut. Kedua macam episode itu seringkali terjadi setelah peristiwa hidup yang penuh stres atau
trauma mental lain (adanya stres tidak esensial untuk penegakkan diagnosis).

F31.3 Gangguan Afektif Bipolar, episode kini Depresif Ringan atau Sedang
a) Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif ringan (F32.0) ataupun sedang
(F32.1), dan
b) Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik atau campuran di masa lampau.
Karakter kelima dapat digunakan untuk menentukan ada atau tidaknya gejala somatic dalam episode
depresif yang sedang berlangsung.
F31.30 Tanpa gejala somatik
F31.31 Dengan gejala somatik
F31.4 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Depresif Berat tanpa Gejala Psikotik
a) Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif berat tanpa gejala psikotik
(F32.2), dan
b) Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik atau campuran di masa lampau.
F31.5 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Depresif Berat dengan Gejala Psikotik
a) Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif berat dengan gejala psikotik
(F32.3), dan
b) Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik atau campuran di masa lampau.
Jika dikehendaki, waham atau halusinasi dapat ditentukan sebagai serasi atau tidak serasi dengan afeknya.
Episode Depresif
Walaupun banyak penelitian telah berusaha untuk menemukan perbedaan yang dapat dipercaya antara
episode depresif gangguan bipolar dan episode gangguan depresif, perbedaan tersebut sulit ditemukan. Di
dalam situasi klinis, hanya riwayat penyakit pasien, riwayat keluarga, dan perjalanan penyakit di masa
mendatang dapat membantu membedakan kedua kondisi tersebut5.
F32 Episode Depresif
Pada semua tiga variasi dari episode depresif khas yang tercantum di bawah ini, ringan (F32.0), sedang
(F32.1), dan berat (F32.2 dan F32.3), gejala utama yang ditemukan adalah :
- Afek depresif
- Kehilangan minat dan kegembiraan
- Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah

Gejala lainnya adalah :


a) Konsentrasi dan perhatian berkurang
b) Harga diri dan kepercayaan diri berkurang
c) Gagasan tentang perasaan bersalah dan tidak berguna (bahkan pada episode tipe ringan sekali pun)
d) Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis
e) Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri
f) Tidur terganggu
g) Nafsu makan berkurang
F32.0 Episode Depresif Ringan
Suasana perasaan (mood) yang depresif, kehilangan minat dan kesenangan, dan mudah menjadi lelah
biasanya dipandang sebagai gejala dari depresi yang paling khas, dan sekurang-kurangnya dua gejala dari
ini, ditambah sekurang-kurangnya dua gejala lain (untuk F32.-) harus ada untuk menegakkan diagnosis
pasti.
Tidak boleh ada gejala yang berat diantaranya.
Lamanya episode berlangsung ialah sekurangkurangnya sekitar 2 minggu.
Individu yang mengalami episode depresif ringan biasanya resah tentang gejalanya dan agak sukar
baginya untuk meneruskan pekerjaan biasa dan kegiatan sosial, namun mungkin ia tidak akan berhenti
berfungsi sama sekali.
Karakter kelima dapat digunakan untuk menentukan adanya sindrom somatik :
F32.00 Tanpa gejala somatik
Kriteria untuk episode depresif ringan telah dipenuhi, dan tidak ada atau hanya sedikit sekali gejala
somatik
F32.01 Dengan gejala somatik
Kriteria untuk episode depresif ringan telah dipenuhi, dan empat atau lebih gejala somatik juga
ditemukan. (jika hanya dua atau tiga gejala somatik ditemukan tetapi luar biasa beratnya, maka
penggunaan kategori ini mungkin dapat dibenarkan)
F32.1 Episode Depresif Sedang
Sekurang-kurangnya harus ada dua dari tiga gejala paling khas yang ditentukan untuk episode depresif
ringan (F32.0), ditambah sekurang-kurangnya tiga (dan sebaiknya empat) gejala lainnya. Beberapa gejala
mungkin amat menyolok, namun tidak esensial apabila secara keseluruhan ada cukup banyak variasi
gejalanya.
Lamanya keseluruhan episode berlangsung ialah sekurang-kurangnya sekitar 2 minggu.
Individu yang mengalami episode depresif taraf sedang biasanya menghadapi kesulitan nyata untuk
meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan, dan urusan rumah tangga.
Karakter kelima dapat digunakan untuk menentukan adanya sindrom somatik :
F32.10 Tanpa gejala somatik
Kriteria untuk episode depresif sedang telah dipenuhi, dan tidak ada atau hanya sedikit sekali gejala
somatik
F32.11 Dengan gejala somatik
Kriteria untuk episode depresif sedang telah dipenuhi, dan ada empat atau lebih gejala somatik juga
ditemukan. (jika hanya dua atau tiga gejala somatik ditemukan tetapi luar biasa beratnya, maka
penggunaan kategori ini mungkin dapat dibenarkan)
F32.2 Episode Depresif Berat tanpa Gejala Psikotik
Pada episode depresif berat, penderita biasanya menunjukkan ketegangan atau kegelisahan yang amat
nyata, kecuali apabila retardasi mental merupakan ciri terkemuka. Kehilangan harga diri dan perasaan
dirinya tak berguna mungkin mencolok, dan bunuh diri merupakan bahaya nyata terutama pada beberapa
kasus berat. Anggapan disini ialah bahwa sindrom somatik hampir selalu ada pada episode depresif berat.
Semua ketiga gejala khas yang ditentukan untuk episode depresof ringan dan sedang harus ada, ditambah
sekurang-kurangnya empat gejala lainnya, dan beberapa di antaranya harus berintensitas berat. Namun,
apabila gejala penting (misalnya agitasi atau retardasi) menyolok, maka pasien mungkin tidak mau atau
tidak mampu untuk melaporkan banyak gejalanya secara terinci. Dalam hal demikian, penentuan
menyeluruh dalam subkategori episode berat masih dapat dibenarkan.
Episode depresif biasanya seharusnya berlangsung sekurang-kurangnya 2 minggu, akan tetapi jika gejala
amat berat dan beronset sangat cepat, maka mungkin dibenarkan untuk menegakkan diagnosis dalam
waktu kurang dari 2 minggu.
Selama episode depresif berat, sangat tidak mungkinpenderita akan mampu meneruskan kegiatan sosial,
pekerjaan atau urusan rumah tangga, kecuali pada taraf yang sangat terbatas.
Kategori ini hendaknya digunakan untuk episode depresif berat tunggal tanpa gejala psikotik, untuk
episode selanjutnya harus digunakan subkategori dari gangguan depresif berulang.
F32.3 Episode Depresif Berat dengan Gejala Psikotik
Episode depresif berat yang memenuhi kriteria menurut F32.2 tersebut diatas, disertai waham, halusinasi
atau stupor depresif. Wahamnya biasanya melibatkan ide tentang dosa, kemiskinan atau malapetaka yang
mengancam, dan pasien dapat merasa bertanggung jawab atas hal itu. Halusinasi auditorik atau olfaktorik
biasanya berupa suara yang menghina atau bau kotoran atau daging membusuk. Retardasi psikomotor
yang berat dapat menuju pada stupor. Jika diperlukan, waham atau halusinasi dapat ditentukan sebagai
serasi atau tidak serasi dengan suasana perasaan (mood).
Pemeriksaan Status Mental
Penampilan
Orang yang menunjukkan suatu periode depresi mungkin menunjukkan sedikit sampai tidak ada kontak
mata. Pakaian mereka mungkin tidak terawat, kotor, berlubang, kumal, serta tidak cocok dengan ukuran
badan. Bila seseorang kehilangan berat badan secara signifikan, ukuran pakaiannya tidak akan cocok.
Kebersihan diri tercermin dari mood mereka yang rendah, yang ditunjukkan dengan badan yang kurus,
tidak bercukur, dan tidak membersihkan diri. Pada wanita, kuku jari tangannya mungkin terdapat lapisan
warna yang berbeda atau sebagian warna yang rusak pada kuku mereka, bahkan cenderung kotor juga
pada tangannya. Rambut mereka juga tidak terurus. Bila orang ini bergerak, afek depresi jelas terlihat.
Mereka bergerak dengan lambat dan sangat sedikit yang menunjukkan retardasi psikomotor. Mereka juga
berbicara dengan suara yang pelan atau suara yang monoton.
Afek/Suasana Perasaan
Afek depresi. Kesedihan mendominasi suasana hati seseorang dalam episode depresi. Penderita merasa
sedih, tertekan, kehilangan, kosong dan terisolasi.
Pikiran
Penderita mempunyai pemikiran yang mencerminkan kesedihan mereka. Gagasan yang negatif, perhatian
nihilistik, dan mereka mempunyai suatu istilah bahwa mereka bagaikan gelas yang separuh kosong.
Pemikiran mereka lebih berfokus tentang kematian dan tentang bunuh diri.
Persepsi
Terdapat 2 format dari tipe depresi yang dijelaskan. Dengan psikotik dan tanpa psikotik. Dengan psikotik,
penderita mempunyai khayalan dan halusinasi yang sesuai atau tidak dengan suasana hati. Penderita
merasa telah berdosa, bersalah, dan merasakan penyesalan yang sangat dalam.
Bunuh Diri
Angka kejadian bunuh diri banyak terjadi pada penderita depresi. Mereka adalah individu yang mencoba
dan berhasil dalam usaha bunuh diri.
Pembunuhan/Kekerasan
Pembunuhan yang dilakukan oleh penderita biasanya diikuti dengan bunuh diri. Pada beberapa penderita
depresi biasanya merasa dunia sudah tidak berguna lagi untuknya dan untuk orang terdekatnya/orang lain.
Tilikan/Insight
Depresi dapat mempengaruhi penilaian seseorang mengenai dirinya sendiri. Penderita biasanya gagal
dalam melakukan tindakan yang penting sebab mereka sangat jatuh dan menurun dalam mengenali diri
mereka sendiri. Meraka memiliki sedikit pengertian terhadap diri mereka sendiri.
Kognitif
Pada depresi dan manik yang berat, penderita dapat mengalami kesulitan dalam berkonsentrasi dan
memusatkan perhatiannya.
BAB IV
Penatalaksanaan
1. Penentuan Kegawatdaruratan1,2
Pengobatan dari gangguan bipolar secara langsung terkait pada fase dari episodenya, seperti depresi atau
manik, dan derajat keparahan fase tersebut. Contoh, seseorang dengan depresi yang ekstrim dan
menunjukkan perilaku bunuh diri memerlukan/mengindikasikan pengobatan rawat inap. Sebaliknya,
seseorang dengan depresi moderat yang masih dapat bekerja, diobati sebagai pasien rawat jalan.
a) Rawat Inap
i. Berbahaya untuk diri sendiri
Pasien yang terutama dengan episode depresif, dapat terlihat dengan resiko yang signifikan untuk bunuh
diri. Percobaan bunuh diri yang serius dan idea spesifik dengan rencana menghilangkan bukti,
memerlukan observasi yang ketat dan perlindungan pencegahan. Namun, bahaya bagi penderita bisa
datang dari aspek lain dari penyakit, contohnya seorang penderita depresi yang tidak cukup makan
beresiko kematian.
ii. Berbahaya bagi orang lain
Penderita gangguan bipolar dapat mengancam nyawa orang lain, contohnya seorang penderita yang
mengalami depresi yang berat meyakini bahwa dunia itu sangat suram/gelap, sehingga ia berencana untuk
membunuh anaknya untuk membebaskan mereka dari kesengsaraan dunia.
iii. Hendaya Berat
Adakalanya depresi yang dialami terlalu dalam, sehingga orang tidak dapat melakukan fungsinya sama
sekali, meninggalkan orang seperti ini sendirian sangat berbahaya dan tidak menyembuhkannya.
iv. Kondisi medis yang harus dimonitor
Contohnya penderita gangguan jiwa yang disertai gangguan jantung harus berada di lingkungan medis,
dimana obat psikotropik dapat dimonitor dan diobservasi.
b) Rawat inap parsial atau program perawatan sehari
Secara umum, penderita ini memiliki gejala yang berat namun memiliki tingkat pengendalian dan
lingkungan hidup yang stabil.
Contohnya, penderita dengan depresi berat yang berpikir akan bunuh diri tapi tidak berencana untuk
melakukannya dan dapat memiliki tingkat motivasi yang tinggi bila diberi banyak dukungan
interpersonal, terutama sepanjang hari dan dengan bantuan dan keterlibatan dari keluarga. Keluarga harus
selalu berada di rumah setiap malam dan harus peduli terhadap penderita. Rawat inap parsial juga
menjembatani untuk bisa segera kembali bekerja. Kembali secara langsung ke pekerjaan seringkali sulit
bagi penderita dengan gejala yang berat, dan rawat inap parsial memberi dukungan dan hubungan
interpersonal.
c) Rawat jalan
Pengobatan rawat jalan memiliki 4 tujuan utama.
i. Mencari stressornya dan mencari cara untuk menanganinya. Stressor ini dapat berasal dari keluarga atau
pekerjaan, dan bila terkumpul dapat mendorong penderita menjadi depresi. Hal ini merupakan bagian dari
psikoterapi.
ii. Memonitor dan mendukung pemberian obat. Pengobatan membuat perubahan yang luar biasa.
Kuncinya adalah mendapatkan keuntungan dan mencegah efek samping. Penderita memiliki rasa yang
bertentangan dengan pengobatan mereka. Mereka mengetahui bahwa obat membantu dan mencegah
mereka untuk dirawat inap, namun mereka juga menyangkal memerlukannya. Oleh karena itu, harus
dibantu untuk mengarahkan perasaan mereka dan membantu mereka untuk mau melanjutkan pengobatan.
iii. Membangun sekumpulan orang yang peduli. Hal ini merupakan satu dari banyak alasan bagi para
praktisi setuju dengan ambivalensi penderita tentang pengobatan. Seiring perjalanan waktu, kekuatan
sekumpulan orang yang peduli membantu mempertahankan gejala penderita dalam keadaan minimum
dan membantu penderita tinggal dan diterima di masyarakat.
iv. Edukasi. Klinisi harus membantu edukasi bagi penderita dan keluarga tentang penyakit bipolar.
Mereka harus sadar dan waspada terhadap bahaya penyalahgunaan zat, situasi yang mungkin memicu
kekambuhan, dan peran pengobatan yang penting. Dukungan kelompok bagi penderita dan keluarga
memiliki arti penting yang sangat luar biasa.

Keadaan kesehatan tubuh penderita gangguan bipolar juga harus diperhatikan oleh para praktisi, termasuk
keadaan kardiovaskular, diabetes, masalah endokrin, infeksi, komplikasi sistem urinari, dan gangguan
keseimbangan elektrolit.
2. Terapi
a) Terapi Farmakologi2,4
Pengobatan yang tepat tergantung pada stadium gangguan bipolar yang dialami penderita. Pilihan obat
tergantung pada gejala yang tampak, seperti gejala psikotik, agitasi, agresi, dan gangguan tidur.
Antipsikosis atipikal semakin sering digunakan untuk episode manik akut dan sebagai mood stabilizer.
Antidepresan dan ECT juga dapat digunakan untuk episode depresi akut (contoh, depresi berat).
Selanjutnya, terapi pemeliharaan/maintenance dan pencegahan juga harus diberikan.
Pengalaman klinis menunjukkan bahwa jika diterapi dengan obat mood stabilizer, penderita gangguan
bipolar akan mengalami lebih sedikit periode manik dan depresi. Obat ini bekerja dengan cara
menstabilkan mood penderita (sesuai namanya), juga dapat menstabilakn manik dan depresi yang
ekstrim. Antipsikosis atipikal seperti ziprasidone, quetiapine, risperidone, aripiprazole dan olanzapine,
kini juga sering digunakan untuk menstabilkan manik akut, bahkan untuk menstabilkan mood pada
depresi bipolar.

Table 1 FDA-Approved Bipolar Treatment Regimens2,5


Nama Generik Nama Dagang Manik Mixed Maintenance Depresi
Valproate Depakote X
Carbamazepine extended release Equestro X X
Lamotrigine Lamictal X
Lithium X X
Aripiprazole Abilify X X X
Ziprasidone Geodon X X
Risperidone Risperdal X X
Quetiapine Seroquel X X
Chlorpromazine Thorazine X
Olanzapine Zyprexa X X X
Olanzapine/fluoxetine Combination Symbyax X
b) Terapi Non Farmakologi
Konsultasi
Suatu konsultasi dengan seorang psikiater atau psikofarmakologis selalu sesuai bila penderita tidak
menunjukkan respon terhadap terapi konvensional dan medikasi.
Diet
Terkecuali pada penderita dengan monoamine oxidase inhibitors (MAOIs), tidak ada diet khusus yang
dianjurkan. Penderita dianjurkan untuk tidak merubah asupan garam, karena peningkatan asupan garam
membuat kadar litium serum menurun dan menurunkan efikasinya, sedangkan mengurangi asupan garam
dapat meningkatkan kadar litium serum dan menyebabkan toksisitas.
Aktivitas
Penderita dengan fase depresi harus didukung untuk melakukan olahraga/aktivitas fisik. Jadwal aktivitas
fisik yang reguler harus dibuat. Baik aktivitas fisik dan jadwal yang reguler meupakan kunci untuk
bertahan dari penyakit ini. Namun, bila aktivitas fisik ini berlebihan dengan peningkatan respirasi dapat
meningkatkan kadar litium serum dan menyebabkan toksisitas litium.
Edukasi
Terapi pada penderita gangguan bipolar melibatkan edukasi awal dan lanjutan. Tujuan edukasi harus
diarahkan tidak hanya langsung pada penderita, namun juga melalui keluarga dan sistem disekitarnya.
Fakta menunjukkan edukasi tidak hanya meningkatkan ketahanan dan pengetahuan mereka tentang
penyakit, namun juga kualitas hidupnya.
o Penjelasan biologis tentang penyakit harus jelas dan benar. Hal ini mengurangi perasaan bersalah dan
mempromosikan pengobatan yang adekuat.
o Memberi informasi tentang bagaimana cara memonitor penyakit terutama tanda awal, pemunculan
kembali, dan gejala. Pengenalan terhadap adanya perubahan memudahkan langkah-langkah pencegahan
yang baik.
o Membantu penderita mengidentifikasi dan mengatasi stressor di dalam kehidupannya.
o Informasi tentang kemungkinan kekambuhan penyakitnya.
BAB V
Prognosis
Prognosis pada penderita dengan gangguan bipolar I lebih buruk daripada penderita dengan depresi berat.
Dalam 2 tahun pertama setelah episode awal, 40 50 % penderita mengalami serangan manik lain.5
Hanya 50 60 % penderita gangguan bipolar I dapat dikontrol dengan litium terhadap gejalanya.
Pada 7 % penderita, gejala tidak kembali/mengalami penyembuhan, 45 % penderita mengalami episode
berulang, dan 40 % mengalami gangguan yang menetap.
Seringkali perputaran episode depresif dan manik berhubungan dengan usia.
Faktor-faktor yang membuat prognosis menjadi lebih buruk antara lain :
i. Riwayat pekerjaan yang buruk
ii. Penggunaan alkohol
iii. Gambaran psikotik
iv. Gambaran depresif diantara episode manik dan depresi
v. Adanya bukti keadaan depresif
vi. Jenis kelamin laki-laki
Indikator prognosis yang baik adalah sebagai berikut :
i. Fase manik (dalam durasi pendek)
ii. Onset terjadi pada usia yang lanjut
iii. Pemikiran untuk bunuh diri yang sedikit
iv. Gambaran psikotik yang sedikit
v. Masalah kesehatan (organik) yang sedikit

BAB VI
Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan
Gangguan alam perasaan adalah suatu kondisi klinis yang ditandai oleh hilangnya kendali perasaan akibat
pengalaman subjektif yang berhubungan dengan penderitaan berat. Gangguan bipolar adalah gangguan
pada fungsi otak yang menyebabkan perubahan yang tidak biasa pada suasana perasaan, dan proses
berfikir.
Penyebab gangguan bipolar multifaktor dan menncakup aspek bio-psikososial yaitu :
Faktor biologi
o Herediter
o Genetik
o Neurotransmitter
o Kelainan otak
Faktor Psikososial
o Peristiwa kehidupan dan stress lingkungan
o Faktor psikoanalitik dan psikodinamika
o Ketidakberdayaan yang dipelajari (learned helplessness)
o Teori kognitif
Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual (DSM) IV, gangguan bipolar dibedakan menjadi 2 yaitu
gangguan bipolar I dan II. Gangguan bipolar I atau tipe klasik ditandai dengan adanya 2 episode yaitu
manik dan depresi, sedangkan gangguan bipolar II ditandai dengan hipomanik dan depresi. PPDGJ III
membaginya dalam klasifikasi yang berbeda yaitu menurut episode kini yang dialami penderita.
Walaupun banyak penelitian telah berusaha untuk menemukan perbedaan yang dapat dipercaya antara
episode depresif gangguan bipolar dan episode gangguan depresif, perbedaan tersebut sulit ditemukan. Di
dalam situasi klinis, hanya riwayat penyakit pasien, riwayat keluarga, dan perjalanan penyakit di masa
mendatang dapat membantu membedakan kedua kondisi tersebut.Pengobatan dari gangguan bipolar
secara langsung terkait pada fase dari episodenya, seperti depresi atau manik, dan derajat keparahan fase
tersebut. Pengobatan yang tepat tergantung pada stadium gangguan bipolar yang dialami penderita.
Pilihan obat tergantung pada gejala yang tampak, seperti gejala psikotik, agitasi, agresi, dan gangguan
tidur. Antipsikosis atipikal semakin sering digunakan untuk episode manik akut dan sebagai mood
stabilizer. Antidepresan dan ECT juga dapat digunakan untuk episode depresi akut (contoh, depresi berat).
Selanjutnya, terapi pemeliharaan/maintenance dan pencegahan juga harus diberikan. Prognosis pada
penderita dengan gangguan bipolar I lebih buruk daripada penderita dengan depresi berat.
Saran
1. Dalam mendiagnosis pasien dengan gangguan bipolar episode depresif harus diperhatikan dengan teliti
kecendrungan kegawatdaruratan psikiatri
2. Gejala gejala yang timbul pada pasien sangat bervariasi, untuk itu bagi para pemeriksa harus paham
dan mnegerti kriteria diagnosis untuk menegakkan diagnosis yang tepat terhadap pasien.
3. Keberhasilan terapi tidak hanya bergantung pada satu jenis terpai namun terapi yang adekuat haruslah
bersifat holistik dan komprehensif, oleh karena itu dukungan keluarga, orang terdekat sangatlah penting
4. Dalam penggunaan terapi farmakoterpai harus memperhatikan aspek penting dalam terapi, mulai dari
langkah pemilihan obat yang memperhatikan efikasi, harga, efek samping dan ketersediaannya, kemudian
pengaturan dosis yang tepat bagi pasien agar efek samping yang ditimbulkan oleh obat obatan dapat
dikurangi sehingga kepatuhan pasien dalam minum obat dapat dikontrol dengan baik.

Daftar Pustaka
1. NIMH. Bipolar disorder [Internet]. 2010 [diunduh 30 Maret 2011]. Diunduh dari:
http://www.nimh.nih.gov/health/publications/bipolar-disorder/complete-index.shtml
2. Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA. Sinopsis psikiatri [Widjaja K, alih bahasa]. edisi 7 jilid 1. Jakarta:
Binarupa Aksara; 1997. Bab 15, Gangguan Mood; hlm.777-833.
3. Rusdi M. Diagnosis gangguan jiwa, rujukan ringkas PPDGJ-III. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa
FK-Unika Atmajaya; 2001.
4. Roxanne DE. Bipolar disorder (mania) [Internet]. 2011 [diunduh 18 Februari 2015]. Diunduh dari:
http://www.medicinenet.com/bipolar_disorder/article.htm
5. Soreff S. Bipolar affective disorder treatment & management [Internet]. 2011. [diperbarui 11 Jan 2011;
diunduh 18 Februari 2015]. Diunduh dari; http://emedicine.medscape.com/article/286342-treatment

Gangguan Afektif Bipolar

1. DEFINISI
Mood adalah suatu emosi yang meresap dan mempertahankan, yang dialami secara
subyektif dan dilaporkan oleh pasien dan terlihat oleh orang lain. Sedangkan afek adalah ekspresi
eksternal dari mood saat itu.
2. ETIOLOGI
2.1 Faktor Biologis
Dari penelitian yang ada didapatkan hipotesis bahwa gangguan mood adalah
berhubungan dengan disregulasi heterogen pada amin biogenik. Norepinefrin dan serotonin dari
amin biogenik merupakan dua transmitter yang paling berperan dalam patofisiologi mood.
Penuruan serotonin merupakan salah satu pencetus depresi, seperti penelitian yang dilakukan
pada orang yang bunuh diri, didalam cairan serebrospinal mereka ditemukan kadar serotonin
yang rendah.
2.2 Faktor Genetika
Dari data penelitian pada faktor genetic dinyatakan bahwa perkembangan gangguan
mood sangat dipengaruhi oleh genetik. Peran dari faktor genetik pada bipolar lebih besar dari
depresi. Penelitian yang dilakukan dalam keluarga, apabila satu orang dari orang tua penderita
gangguan mood memiliki gangguan mood maka anak mereka memiliki faktor resiko 50%.
Contoh lain pada anak kembar monozigotik, presentasi untuk bipolar sekitar 33%-90%
sedangkan pada depresi memiliki presentasi sekitar 50%, tetapi untuk anak kembar dizigotik
memiliki presentasi hanya 25%.
2.3 Faktor Psikosisoal
Dari pengamatan klinis yang diamati, peristiwa kehidupan sangatlah memainkan
peran dalam gangguan mood terutama depresi. Seperti adanya penelitian anak yang kehilangan
orang tuanya pada saat mereka berusia kurang dari 11 tahun atau kehilangan pasangan
merupakan stressor terbesar pada gangguan mood terutama depresi.

3. MANIFESTASI KLINIK DAN DIAGNOSIS


Untuk menegakkan diagnosa depresi seseorang, maka harus ada gejala utama dan gejala penyerta
lainnya, lama gejala yang muncul, dan ada tidaknya episode depresi ulang. Sebagaimana tersebut berikut
ini :
3.1 Gangguan Depresi :
3.1.1. Episode Depresi
- Gejala
- Gejala utama ( pada derajat ringan, sedang, dan berat ) :
- Afek depresif
- Kehilangan minat dan kegebiraan.
- Rasa cepat lelah dan menurunnya aktivitas.
- Gejala lain :
- Konsentrasi berkurang
- Kepercayaan berkurang
- Merasa bersalah dan tidak berguna
- Pesimistik
- Memiliki ide membahayakan diri sendiri (bunuh diri)
- Tidak ada nafsu makan
- Gangguan tidur
- Derajat :
- Episode depresif ringan
- Minimal harus ada 2-3 gejala utama depresi dan 2 gejala lain.
- Lamanya episode minimal berlangsung selama 2 minggu
- Tidak terlalu mengganggu aktivitas sehari-harinya
- Episode depresif sedang
- Minimal harus ada 2-3 gejala utama dan 3 gejala lain
- Lamanya episode minimal berlangsung 2 minggu.
- Mulai mengganggu aktivitas
- Episode depresi berat tanpa gejala psikotik :
- Semua gejala utama dan disertai 4 gejala tambahan.
- ketidak mampuan pasien untuk menceritakan secara rinci, misalnya adanya agitasi atau
retardari psikomotor yang mencolok.
- Lamanya berlangsung harus minimal 2 minggu tetapi apabila onsetnya sangat cepat maka dapat
dilakukan diagnosis sebelum 2 minggu.
- Pasien sudah tidak mungkin melakukan aktivitas.
- Episode depresif dengan gejala psikotik :
- Memenuhi criteria episode berat.
- waham dan halusinasi positif. Waham berupa kemiskinan, malapetaka yang mengancam dan
pasien merasa bertanggung jawab akan hal tsb. Halusinasi berupa auditorik atau olfatorik,
halusinasi auditorik berupa suara yang menghina atau menuduh, sedangkan halusinasi olfaktorik
berupa pasien mencium bau kotoran atau daging busuk.
- Retardasi psikomotor yang berat dapat menuju stupor.
3.1.2. Gangguan depresif berulang
Gangguan ini tersifat dengan episode berulang dari :
- Gangguan depresif berulang episode kini ringan
kriteria untuk gangguan depresif berulang harus dipenuhi dena episode sekarang harus
memenuhi kriteria untuk episode depresif ringan.
- Gangguan depresif berulang episode kini sedang
Kriteria untuk gangguan depresif berulang harus dipenuhi dan episode sekarang harus memenuhi
kriteria untuk episode depresif sedang.
- Gangguan depresif berulang episode kini berat tanpa gejala psikotik
Kriteria untuk gangguan depresif berulang harus dipenuhi dan episode sekarang harus memenuhi
kriteria untuk episode depresif berat tanpa gejala psikotik
- Gangguan depresif berulang episode kini berat dengan gejala psikotik
Kriteria untuk gangguan depresif berulang harus dipenuhi dan episode sekarang harus memenuhi
kriteria untuk episode depresif berat dengan gejala psikotik.
- Gangguan depresif berulang kini dalam remisi
Kriteria untuk gangguan depresif berulang harus pernah dipenuhi masa lampau tetapi keadaan
sekarang seharusnya tidak memenuhi kriteria untuk episode depresif dengan derajat keparahan
apapun atau gangguan lain apapun.
Episode rata-rata berlangsung sekitar 6 bulan, akan tetapi frekuensinya lebih jarang
daripada gangguan afektif bipolar. Tanpa riwayat adanya episode tersendiri dari peningkatan afek
dan hieraktivitas yang memenuhi kriteria mania. Namun kategori ini tetep harus digunakan jika
ternyata ada episode singkat dari peninggian afek dan hipersensitivitas ringan yang memenuhi
kriteria hipomania segera sesudah suatu periide depresif (kadang-kadang tampaknya dicetuskan
oleh pengobatan depresi ).
Tingkat pemuliahan pada gangguan depresi sangat sempurna, namun sebagian kecil
pasien pemulihan tidak terjadi secara sempurna dan akhirnya menetap biasanya terutama terjadi
pada usia lanjut ( untuk keadaan ini, kategori harus tetap digunakan).
Masing- masing episode dalam berbagai tingkat keparahannya, sering kali dicetuskan
oleh peristiwa kehidupan, misalnya stress atau trauma mental lainnya ( adanya stress bukan
menjadi alasan untuk penegakan diagnosis).
Pada semua episode, sekurang-kurangnya ada dua episode yang telah berlangsung
masing-masing selama 2 minggu dengan ada waktu beberapa bulan tanpa gangguan afektif yang
bermakna.
3.2. Gangguan Bipolar 1
Gangguan ini ditandai oleh adanya episode depresif dan episode manik yang berlangsung
secara berulang, dan pada keadaan tersebut afek dan aktivitas dari pasien sangat terganggu,
sebagai contoh pasien dalam waktu tertentu mengalami peningkatan afek disertai dengan
penambahan energi serta aktivitas yaitu mania atau hipomania, dan dalam keadaan lain pasien
bisa mengalami penurunan afek disertai dengan pengurangan energi dan aktivitas yaitu depresi.
Yang khas dari bipolar adalah adanya waktu dimana dia sembuh atau tanpa gejala apa-apa di
antara dua episode.
Kita lihat dari waktunya, episode depresi cenderung berlangsung lebih lama yaitu kurang
lebih selama 6 bulan dan jarang sampai terjadi selama 1 tahun, kecuali apabila terjadi pada orang
yang lanjut usia. Sedangkan pada episode mania, waktu terjadinya tiba-tiba dan berlangsung
antara 2 bulan hingga 4-5 bulan. Dua macam episode tersebut diatas biasanya terjadi setelah
pasien mengalami stressor yang berat atau adanya trauma mental lainnya.
3.2.1. Macam-macam gangguan afek bipolar :
- Gangguan afektif bipolar, episode kini hipomanik, episode kini harus memenuhi kriteria
hipomania.
- Gangguan afektif bipolar, episode kini manic tanpa gejala psikotik, episode sekarang harus
memenuhi kriteria episode kini tanpa gejala psikotik.
- Gangguan afektif bipolar, episode kini manic dengan gejala psikotik, episode sekarang harus
memenuhi kriteria episode kini dengan gejala manic.
- Gangguan afektif bipolar, episode kini depresif ringan atau sedang, episode yang sekarang harus
memenuhi kriteria untuk episode depresif ringan atau sedang.
- Gangguan afektif bipolar, episode kini depresif berat tanpa gejala psikotik atau dengan gejala
psikotik, episode kini harus memenuhi kriteria depresif berat dengan atau tanpa gejala psikotik.
- Gangguan afektif bipolar, episode kini campuran, episode yang sekarang menunjukkan gejala-
gejala campuran ( mania, hipomania, depresif) yang terjadi bergantian secara cepat dan terjadi
sekurang-kurangnya 2 minggu.
- Gangguan afektif bipolar, episode kini dalam remisi, pasien sekarang tidak menderita gangguan
afektif apapun tetapi pada masa lalu pernah mengalami minimal 1 episode afektif.
Pada semua episode harus ada sekurang-kurangnya 1 episode lain, yaitu hipomanik,
manic, depresif atau campuran, yang semua itu terjadi di masa lampau.
3.3. Gangguan Afektif menetap
3.3.1. Siklotimia
Siklotiamia merupakan ketidakstabilan yang menetap dari afek, dimana meliputi
banyanya episode depresi ringan dan hipomania ringan serta tidak adanya episode yang berat
atau yang terjadi dalam waktu cukup lama, sehingga tidak dapat dikatagorikan dalam gangguan
depresi berulang atau gangguan afektif bipolar.
3.3.2. Distimia
Distimia memiliki ciri yaitu dimana terjadi afek depresif yang berlangsung dalam waktu
yang sangat lama tetapi jarang atau tidak pernah mencapai episode berat. Oleh karena itu
Distimia tidak dapat dikatagorikan dalam gangguan depresif berulang ringan atau sedang.
3.4. Episode Manik
Manik adalah dimana keadaan afek yang meningkat, serta diikuti
oleh peningkatan dalam jumlah dan kecepatan aktivitas fisik dan mental, dalam berbagai macam
derajat keparahan. Adapun kategorinya yaitu :
- Hipomania
o Hipomania memiliki derajat gangguan yang lebih ringan dibandingkan mania, afek yan meninggi
atau berubah-ubah disertai dengan peningkatan aktivitas, dan menetap selama minimal beberapa
hari berturut-turut dalam suatu derajat, serta melebihi apa yang ada pada siklotimia, dan perlu
diingat pada hipomania tidak disertai halusinasi atau waham.
o Pada Hipomania gangguan mulai terlihat dengan adanya kekacauan dalam pekerjaan dan aktivitas
sosial. Perlu diingat apabila kekacauan berat atau sudah menyeluruh maka diagnosis mania harus
ditegakkan.
- Mania tanpa gejala psikotik
o Episode harus berlangsung sekurang-kurangnya selama 1 minggu, dan episode cukup berat
sehingga mengacaukan pekerjaan dan aktivitas sosial yang biasa dilakukan.
o Perubahan afek yang terjadi harus diikuti oleh peningkatan energi sehingga dapat terjadi aktivitas
yang berlebih, serta percepatan dari berbicara dan kebutuhan tidur yang berkuran, lalu adanya
ide-ide yang berhubungan dengan kebesaran dan pasien terlalu optimistic.
- Mania dengan gejala psikotik
o Gambaran klinisnya lebih berat dari mania tanpa gejala psikotik
o Pada mania dengan gejala psikotik waham mulai muncul. Seperti pada keadaan pasien yang
memiliki harga diri yang tinggi dan gagasan kebesaran dapat berkembang menjadi waham kejar,
contoh lain pasien dengan kecurigaan juga akan muncul waham kejar. Waham dan halusinasi
yang muncul sesuai dengan keadaan afek pasien.

4. PEMERIKSAAN STATUS MENTAL EPISODE DEPRESIF


4.1.1. Episode depresif
- Deskripsi umum
Psikomotor merupakan gajala yang paling umum. Menggenggamkan tangan dan menarik
rambut merupakan gejala agitasi yang paling sering. Postur orang depresi yaitu membungkuk ,
tidak terdapat pergerakan yang sponta, dan pandangan mata yang putus asa serta memalingkan
pandangan. Pada pemeriksaan fisik tampak pasien seperti pasien skizofrenia katatonik.
- Mood ,afek, dan perasaan
Stengah dari pasien yang memiliki gangguan depresi selalu menyangkal penyakitnya.
Pasien sering kali dibawa oleh anggota keluarganya atau teman kerjanya oleh karena penarikan
sosal dan penurunan aktivitas secara menyeluruh.
- Bicara
Banyak pasien terdepresi menunjukkan suatu kecepatan dan volume bicara yang
menurun, berespon terhadap pertanyaan dengan kata tunggal dan menunjukkan respon yang
melambat terhadap pertanyaan.
- Gangguan persepsi
Pasien terdepresi dengan waham atau halusinasi dikatakan menderita episode depresi
berat dengan cirri psikotik. Waham sesuai mood pada pasien terdepresi adalah waham
bersalah,memalukan, kegagalan, kemiskinan, tidak berguna, penyakit somatic terminal (sebagai
contoh penyakit kanker dan otak yang membusuk). Halusinasi relative jarang terjadi.
- Pikiran

Pasien terdepresi biasanya memiliki pandangan negative tentang dunia dan dirinya
sendiri. Isi pikiran mereka sering kali melibatkan perenungan tentang kehilangan, bersalah,
bunuh diri dan kematian. Kira-kira 10% dari pasien memiliki gejala jelas gangguan berpikir,
biasanya penghambatan pikiran dan kemiskinan isi pikiran.

- Daya ingat
Kira-kira 50%-70% dari semua pasien terdepresi memiliki suatu gangguan kognitif yang
sering kali dinamakan pseudodemensia depresif, dengan keluhan gangguan konsentrasi dan
mudah lupa.
- Pengendalian impuls
Kira-kira 10-15% pasien terdepresi melakukan bunuh diri dan kira-kira dua pertiga
memiliki gagasan bunuh diri. Resiko meninggi untuk melakukan bunuh diri saat mereka mulai
mebaik dan mendapat kembali energy yang diperlukan untuk merencanakan dan melakukan
suatu bunuh diri.
- Reliabilitas
Semua informasi yang didapat dari pasien selalu menonjolkan hal yang buruk dan
menekankan yang baik
4.1.2. Episode manic
- Deskripsi umum
Pasien yang sedang dalam episode manic akan banyak bicara, hiperaktif, dan tereksitasi. Pada
waktu tertentu mereka jelas sekali menunjukkan gejala psikotik dan terdisorganisasi, sampai
mereka memerlukan pengikatan fisik dan penyuntikan intramuscular obat sedatif agar mereka
dapat tenang dan terkontrol.
- Mood, afek dan perasaan
Pasien yang sedang dalam episode manic biasanya euphoria dan lekas marah. Secara emosional
mereka sangatlah labil, mereka bisa sangat gampang berubah dari tertawa menjadi marah dan
bisa menjadi depresi dalam waktu yang singkat.
- Bicara
Pasien dalam episode manic sangatlah susah untuk dipotong saat mereka sedang berbicara dan
sering kali menjadi pengganggu badi orang-orang disekitarnya. Apabila mereka sedang dalam
keadaan aktifitas yang meningkat, maka mereka akan berbicara penuh kelucuan, dan banyaknya
hal- hal yang tidak relefan. Dan apabila aktifitas lebih meningkat lagi maka kemampuan
konsentrasi mereka mulai hilang sehingga akan muncul gagasan yang meloncat-loncat.
- Gangguan persepsi
Waham ditemukan 75% dari semua pasien manic.
- Pikiran
Isi pikirannya hanyalah kepercayaan dan kebesaran diri, pasien dengan episode manic sering
sekali perhatiannya mudah dialihkan. Sedangkan fungsi kognitifnya tidak dapat dikendalikan,
oleh sebab ide mereka begitu cepat dan tidak terkendali.
- Sensorium dan kognisi
pada pasien dengan episode manic mereka masih bisa orientasi dengan baik dan daya ingat
mereka juga cukup baik, meskipun pada beberapa pasien yang sangat euforik, mereka sering kali
menjawab secara tidak tepat(mania delirium).
- Pengendalian impuls
Pasien dengan episode manic rata-rata senang menyerang dan senang mengancam.
- Pertimbangan dan Tilikan
Tanda dari pasien manic adalah gangguan pertimbangan, dan mereka senang melanggar
peraturan.
- Reliabilitas
Pasien manic sudah sangat dikenal tidak dapat dipercaya informasinya.

5. PERJALANAN PENYAKIT DAN PROGNOSIS PADA GANGGUAN DEPRESI


5.1. Perjalanan penyakit
Dari banyak penelitian didapatkan hasil bagwa gangguan mood cenderung memiliki
perjalanan penyakit yang panjang dan pasien cenderung mengalami kekambuhan. Stressor
psikososial sebagai penyebab awal dari timbulnya gangguan mood.
Kira-kira 50% dari pasien di dalam episode pertama gangguan depresi berat mengalami
gejala depresi yang bermakna sebelum episode pertama yang diidentifikasi.
Episode depresif yang tidak diobati berlangsung 6 sampai 13 bulan, sebagian besar episode
yang diobati berlangsung kira-kira 3 bulan. Menghentikan obat anti depresan sebelum 3 bulan
hampir selalu menyebabkan kembalinya gejala.
Kira-kira 5-10% pasien dengan diagnosis awal gangguan depresif berat menderita suatu
episode manic 6-10 tahun setelah episode depresif awal. Sedangkan pada gangguan Bipolar 1,
paling sering dimulai oleh episode depresi dan merupkan gangguan yang rekuren. Sebagian
besar pasien dengan gangguan bipolar 1 mengalami episode depresi dan manic, meskipun ada
yang hanya manic saja. Episode manic biasanya memiliki onset yang cepat ( dalam beberapa jam
atau hari), tetapi dapat berkembang lebih dari 1 minggu.
Pada episode manic yang tidak diobati dapat berlangsung hinggal 3 bulan atau lebih,oleh
sebab itu, dokter tidak boleh menghentikan obat sebelum waktu tersebut.

5.2 . Prognosis
- Prognosis baik apabila :
- Episodenya ringan, tidak ada gejala psikotik.
- Perawatan dirumah sakit hanya singkat.
- Selama masa remaja, pasien memiliki riwayat psikososial yang baik.
- Tidak ada gangguan psikiatrik komorbiditas.
- Tidak ada gangguan kepribadian.
- prognosis buruk apabila :
- Adanya penyerta gangguan distimik
- Penyalah gunaan zat
- Gejala gangguan cemas
- riwayat lebih dari satu episode depresi
- laki-laki lebih sering menjadi kronis dan mengganggu dibandingkan perempuan.
Gangguan depresif berat bukan merupakan gangguan yang ringan. Keadaan ini
cenderung merupakan gangguan kronis, dan pasien cenderung akan meengalami relaps. Pasien
dengan gangguan bipolar lebih buruk prognosisnya dibadingkan dengan pasien dengan gangguan
depresif berat.
6. TERAPI
6.1. Tujuan
- Menjamin keamanan pasien
- Pemeriksaan diagnostic yang lengkap pada pasien
- Suatu rencana pengobatan bukan hanya untuk mengobati gejala saja melainkan untuk kesehatan
pasien selanjutnya.
6.2. Indikasi untuk perawatan dirumah sakit
- Perlu prosedur diagnostic
- Resiko bunuh diri atau membunuh
- Penurunan jelas kemampuan pasien untuk mendapatkan makanan atau tampat berlindung.
- Riwayat gejala yang berkembang dengan cepat
- Hancurnya sistem pendukung pasien.
6.3. Terapi psikososial
- Terapi kognitif
Tujuannya adalah menghilangkan episode depresi dan mencegah rekurennya dengan membantu
pasien mengidentifikasi dan uji kognitif negative. Mengembangkan cara berpikir alternative,
fleksibel, dan positif, serta melatih kembali respon kognitif dan perilaku yang baru.
- Terapi interpersonal
Terapi interpersonal efektif didalam pengobatan gangguan depresif berat. Program tersebut
terdiri dari 12-16 sesi mingguan. Terapi ditandai dengan pendekatan terapeutik aktif.
- Terapi perilaku
Terapi didasarkan pada hipotesis bahwa pola perilaku maladaptive menyebabkan seseorang
mendapatkan sedikit umpan balik positif dari masyarakat dan kemungkinan penolakan yang
palsu. Dengan demikian pasien belajar untuk berfungsi di dunia dengan cara tertentu dimana
mereka mendapatkan dorongan positif.

6.4. Farmakoterapi
Obat anti depresi digolonkan dalam :
1. Obat anti depresi trisiklik = Amitriptylin, Imipramine, Clomipramine, Tianeptin.
2. Obat anti depresi tetrasiklik = Maprotilin, Mianserin, Amoxapine.
3. Obat anti depresi MAOI-reversible = Moclobemide
4. Obat anti depresi SSRI ( Selective Serotonin Reuptake Inhibitors ) = Sertraline, Paroxetine,
Fluvoxamine, Fluoxetine, Duloxetine, Citalopram.
5. Obat anti depresiAtypical = Trazodone, Mirtazapine, Venlafaxine

Mekanisme dari obat anti depresi pada dasarnya adalah untuk menghambat reuptake
aminergic neurotransmitter dan menghambat penghancuran oleh enzim monoamine oxidase.
Sehingga terjadi peningkatan jumlah aminergic neurotransmitter pada celah sinaps neuron
tersebut yang dapat meningkatkan aktivitas reseptor serotonin.

Pemilihan obat anti depresi tergantung pada toleransi pasien terhadap efek samping dan
penyesuaian efek samping terhadap kondisi pasien. Urutan pemilihan obat anti depresi :
Step 1 = Golongan SSRI
Step 2 = Golongan Trisiklik
Step 3 = Golongan tetrasiklik,Atypical, MAOI reversible.

Pertimbangkan juga bahwa pergantian SSRI ke MAOI atau sebaliknya membutuhkan


waktu 2-4 minggu istirahat untuk wash out period guna mencegah timbulnya serotonin
malignant syndrome. Yaitu suatu gejala yang timbul akibat dari interaksi obat SSRI+MAOI
dengan gejala : gastrointestinal distress ( mual,muntah,diare), agitasi (mudah marah, ganas),
gelisah, gerakan kedutan otot,dll.

Pengaturan dosis perlu pertimbangan :


o Onset efek primer : Sekitar 2-4 minggu
o Onset efek sekunder : Sekitar 12-24 jam
o Waktu paruh : 12-48 jam (pemberian 1-2x perhari)
Proses dalam pengaturan dosis :
1. Test dosis, untuk mencapai dosis anjuran selama 1 minggu
2. Optimal dosis, mulai dari dosis anjuran sampai dosis efektif
3. Dosis yang stabil, dosis optimal yang dipertahankan 2-3 bulan.
4. Dosis maintenance, selama 3-6 bulan. Dosis pemeliharaan biasanya dosis optimal.
5. Penurunan dosis,selama 1 bulan. Kebalikan dari test dosis.
Dengan demikian obat anti depresi dapat diberhentikan total. Apabila sindrom depresi
kambuh lagi, maka proses dimulai dari awal dan seterusnya.

Refarat Gangguan Bipolar


BIPOLAR I

I. PENDAHULUAN
Gangguan Bipolar atau manic-depressive illness (MDI) merupakan salah satu gangguan jiwa tersering
yang berat dan persisten. Gangguan Bipolar ditandai dengan suatu periode depresi yang dalam dan
lama, serta dapat beruabah menjadi suatu periode yang meningkat secara cepat dan/atau dapat
menumbulkan amarah yang dikela sebagai mania. Gejala-gejala mania meliputi kurang tidur, nada
suara tinggi, peningkatan libido, perilaku yang cenderung kacau tanpa memertimbangkan
konsekuensinya, dan gangguan pikiran berat yang mungkin/tidak termasuk psikosis. Diantara kedua
periode tersebut, penderita gangguan Bipolar memasuki yang baik dan dapat hidup secara produktif.
Gangguan Bipolar merupakan gangguan yang lama dan jangka panjang. Gangguan Bipolar mendasari
suatu spectrum dari gangguan mood/suasana perasaan meliputi Bipolar I (BP I), Bipolar II (BP II),
Siklotimia (periode manic dan depressif yang bergantian /naik-turun), dan depresi yang hebat.(1)

Gangguan Bipolar dikenal juga dengan gangguan manic depresi yaitu gangguan pada fungsi otak yang
menyebabkan perubahan yang tidak biasa pada suasana perasaan dan proses berpikir. Disebut Bipolar
karena penyakit kejiwaan ini didominasi adanya fluktuasi periodic dua kutub, yakni kondisi manic
(bergairah tinggi yang tak terkendali) dan depresi.(2)

Pada gangguan mood Bipolar I, penderita tidak hanya mengalami depresi , tetapi pada suatu saat akan
mengalami episode manic, sedangkan pada Bipolar II, tidak ada episode manic, hanya hipomanik (tidak
separah manik) dan yang selalu ada adalah episode depresi. Cukup sulit untuk membedakan antara
manik dan hipomanik, tetapi dapat dikatakan situasi manik jauh lebih parah dibanding hipomanik.(3)
Penyakit manik depresi biasanya diawali oleh depresi yang meliputi setidaknya 1 episode manik dalam
perjalanan penyakitnya. Episode depresi berlangsung selama 3-6 bulan. Pada bentuk penyakit yang
paling berat (kelainan Bipolar I), depresi diselingi oleh mania yang berat. Pada bentuk yang tidak
terlalu berat (kelainan Bipolar II), episode depresi yang singkat diselingi hipomanik.(4)

II. INSIDEN DAN EPIDEMIOLOGI

Di dunia, tingkat prevalensi gangguan Bipolar sebagai gangguan yang lama dan menetap sebesar 0,3
1,5 %. Di Amerika Serikat tingkat prevalensi ini dapat mencapai 1 6 %, dimana dua jenis gangguan
Bipolar ini berbeda pada populasi dewasa, yaitu sekitar 0,8 % populasi mengalami BP I dan 0,5 %
populasi mengalami BP II. Morbiditas dan mortalitas dari gangguan Bipolar sangat signifikan. Banyaknya
angka kehilangan pekerjaan, kerugian yang ditimbulan sebagai akibat dari gangguan tingkat
produktivitas yang disebabkan gangguan ini di Amerika Serikat sepanjang periode awal tahun 1990an
diperkirakan sebesar US$ 15,5 milyar. Perkiraan lainnnya sekitar 25-50 % individu dengan gangguan
Bipolar melakukan percobaan bunuh diri dan 11 % benar-benar tewas karena bunuh diri.(1)

Sedangkan jumlah yang menderita gangguan ini di Indonesia, tidak diketahui dengan pasti. Sekitar 10%,
individu dengan gangguan depresi mayor biasanya akan mengalami episode manik atau hipomanik pada
perkembangan penyakitnya. Onset usia yang muda, ditemukannya gejala-gejala psikotik (menyerupai
skizofrenia), dan ditemukannya episode depresi berulang merupakan faktor risiko munculnya gangguan
Bipolar.

Menurut perkiraan, rata-rata angka morbiditas dari pasien yang tidak diterapi adalah 14 tahun dimana
akan muncul kondisi hilangnya produktifitas dan gangguan dalam fungsi hidup sehari-hari. Dijumpai
perilaku bunuh diri pada 10 hingga 20 persen pasien. Gangguan ini umumnya muncul pada awal usia 20
tahunan walaupun variasinya luas.(5)

ETIOLOGI
Penyakit ini diyakini sebagai penyakit keturunan, meskipu kelainan genetik pasti masih belum
diketahui.(4)
Faktor Resiko
1. Ras
Tidak ada kelompok ras tertentu yang memilik predileksi kecenreungan terjadinya gangguan ini.
Namun, berdasarkan sejarah kejadian yang ada, para klinisi menyatakan bahwa kecenderungan
tersering dari gangguan ini terjadi pada populasi Afrika-Amerika.

2. Jenis kelamin
Angka kejadian dari BP I, asma pada kedua jenis kelamin, namun Rapidcycling Bipolar Disorder
(gangguan dengan 4 atau lebih episode dalam setahun) lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan
pria. Insiden BP II lebih sering pada wanita daripada pria.

3. Usia
Usia individu yang mengalami gangguan Bipolar ini bervariasi cukup besar. Rentang usia dari keduanya,
BP I dan BP II adalah antara anak-anak hingga 50 tahun, dengan perkiraan rata-rata usia 21 tahun.
Kasus ini terbanyak pada usia 15-19 tahun dan rentang usia terbanyak kedua adalah pada usia 20-24
tahun. Sebagian penderita yang didiagnosa dengan depresi hebat berulang mungkin saja juga
mengalami gangguan Bipolar dan baru berkembang mengalami episode manik yang pertama saat usia
mereka lebih dari 50 tahun. Mereka mungkin memiliki riwayat keluarga yang juga menderita gangguan
Bipolar. Sebagian besar menderita dengan onset manik pada usia lebih dari 50 6tahun harus dilakukan
penelusuran terhadap adanya gangguan neurologis seperti penyakit serebrovaskuler. Gangguan Bipolar
juga dipengaruh oleh beberapa faktor meliputi genetik dan lingkungan.

4. Genetik
Gangguan Bipolar terutama BP I, memiliki komponen genetik utama. Bukti yang mengindikasikan
adanya peran dari faktor genetik dari gangguan Bipolar terdapat beberapa bentuk, antara lain:
- Perlu digaris bawahi keturunan dari orang tua yang menderita gangguan Bipolar memiliki
kemungkinan 50 % menderita gangguan psikiatrik lain. Secara genetik, diketahui bahwa pasien dengan
gangguan Bipolar tipe I, 80-90% di antaranya memiliki keluarga dengan gangguan depresi atau gangguan
Bipolar juga (yang mana 10-20 kali lebih tinggi dibandingkan dengan yang ditemukan pada populasi
umum).
- Penelitian pada orang yang kembar menunjukkan adanya hubungan 33-90 % menderita BP I dari
saudara kembar yang identik. Anak kembar yang berasal dari satu telur memiliki kemungkinan lebih
besar untuk menderita gangguan yang serupa dibandingkan anak kembar yang berasal dari dua telur,
jika anak kembar tersebut dibesarkan di lingkungan yang berbeda. Rata-rata tingkat kemungkinan
pasangan kembar menderita gangguan yang sama berkisar 60-70%.
- Penelitian pada keluarga adopsi, membuktikan bahwa lingkungan umum bukan satu-satunya faktor
yang membuat gangguan Bipolar terjadi dalam keluarga. Anak dengan hubungan bilogis pada orang tua
yang menderita BP I atau gangguan depresif hebat memiliki resiko lebih tinggi dari perkembangan
gangguan afektif, bahkan meskipun mereka bertempat tinggal dan dibesarkan oleh orangtua yang
mengadopsi dan tidak menderita gangguan.(5)

5. Lingkungan
- Faktor psikososial yang diketahui sering memicu timbulnya gangguan mood ini, di antaranya tekanan
lingkungan sosial, gangguan tidur, atau kejadian traumatis lainnya.
- Pada beberapa kejadian, suatu siklus hidup mungkin berkaitan langsung dengan stress eksternal dan
tekanan eksternal yang dapat memperburuk berulangnya gangguan pada beberapa kasus yang memang
sudah memiliki predisposisi genetik atau kimiawi.
- Kehamilan merupakan stres tertentu bagi wanita dengan riwayat MDI dan meningkatkan
kemungkinan psikosis postpartum. Contoh lain, oleh karena sifat pekerjaan, beberapa orang memiliki
periode permintaan yang tinggi diikuti periode kebutuhan yang sedikit. Hal ini didapat pada seorang
petani, dimana ia akan sangat sibuk pada musim semi, panas, dan gugur, namun selama musim dingin
akan relative inaktif kecuali membersihkan salju, sehingga akan nampak manik pda hampir sepanjang
tahun dan tenang selama musim dingin. Hal ini menunjukkan lingkungan juga dapat berpengaruh
terhadap keadaan psikiatri seseorang.(1,5)
III. DIAGNOSIS
Gangguan Bipolar memiliki dua kutub yaitu manik dan depresi. Dari situ pulalah nama Bipolar
berasal. Berdasarkan pedoman penggolongan dan diagnosis gangguan jiwa (PPDGJ) III, gangguan ini
bersifat episode berulang yang menunjukkan suasana perasaan pasien dan tingkat aktivitasnya jelas
terganggu, dan gangguan ini pada waktu tertentu terdiri dari peningguan suasana perasaan dan tingkat
aktivitasnya jelas terganggu, dan gangguan ini pada waktu tertentu terdiri dari peninggian suasana
perasaan serta peningkatan energy dan aktivitas (mania atau hipomania), dan pada waktu lain beruap
penurunan suasana perasaan serta pengurangan energi dan aktivitas (depresi).yang khas adalah
terdapat penyembuah sempurna antar episode. Episode manik biasanya mulai dengan tiba-ttiba dan
berlangsung antara 2 minggu sampai 4-5 bulan, sedangkan depresi cenderung berlangsung lebih lama.

Episode pertama bisa imbul pada setiap usia dari masa kanak kanaksampai tua. Kebanyakan kasus
terjadi pada usia dewasa muda berusia 20-30 tahun. Semakin dini seseorang menderita Bipolar, maka
resiko penyakit akan lebih berat, kronik bahkan refrakter.

Gangguan bipolar adalah suatu jenis gangguan jiwa yang sulit ditegakan diagnosisnya secara tepat.
Ketika pasien datang untuk pertama kalinya, umumnya pasien didiagnosa dengan gangguan lain yang
gejalanya bertumpang tindih dengan gangguan bipolar. Sekitar 19% pasien, mendapatkan diagnosis lain
ketika datang untuk pertama kalinya. Sekitar sepertiga pasien mengalami kekambuhan gejala dalam
rentang waktu sepuluh tahun paska mencari pertolongan untuk pertama kalinya hingga mendapatkan
tatalaksana yang tepat. Kemungkinan kekambuhan gejala sangat tinggi sehingga diperlukan pengobatan
maintenance yang ditujukan untuk pencegahan kekambuhan gejala.

Pasien biasanya tidak mencari pertolongan ke psikiater atau dokter ketika mengalami episode manik
atau hipomanik. Episode manik dan hipomanik sering kali disangkal atau dilupakan oleh pasien. Pada
kondisi hipomanik terutama, pasien umumnya mengalami kondisi kepercayaan diri yang meningkat,
lebih mudah bergaul dengan orang lain, produktifitas yang meningkat. Hal-hal tersebut akan
menyebabkan pasien mengesampingkan gejala-gejala yang lebih berat dan mengganggu dari gangguan
ini, seperti emosi yang tidak stabil, argumentatif, insomnia, penilaian situasi yang buruk, dan
melakukan perilaku berisiko tanpa memikirkannya dengan baik hingga pasien dapat terlibat dalam
perilaku free sex atau munculnya perilaku-perilaku impulsif lainnya.

Pada kondisi depresi sendiri, juga terkadang pasien tidak datang untuk mencari pertolongan karena
gejala-gejala yang muncul umumnya berupa keluhan fisik yang serupa dengan sakit fisik yang
sesungguhnya seperti pusing, sesak nafas, rasa sakit di badan, dan sebagainya.(5)
Tabel 1. Pembagian Gangguan Afektif Bipolar Berdasarkan PPDGJ III (F.31)
F31.0 Gangguan afektif bipolar, episode kini hipomanik
F31.1 Gangguan afektif bipolar, episode kini manik tanpa gejala psikotik
F31.2 Gangguan afektif bipolar, episode kini manik dengan geejala psikotik
F31.3 Gangguan afektif bipolar, episode kini depresi ringan atau sedang
F31.4 Gangguan afektif bipolar, episode kini depresi berat tanpa gejal psikotik
F31.5 Gangguan afektif bipolar, episode kini depresi berat dengan gejala psikotik
F31.6 Gangguan afektif bipolar, episode kini depresif campuran
F31.7 Gangguan afektif bipolar, episode kini remisi
F31.8 Gangguan afektif bipolar lainnya
F31.9 Gangguan afektif bipolar yang tak tergolongkan

Berdasarkan diagnosis and statistical manual (DSM) IV, gangguan Bipolar dibedakan menjadi dua yaitu
Bipolar I dan II. Bipolar I atau tipe klasik ditandai dengan adanya 2 episode yaitu manik dan depresi,
sedangkan gangguan Bipolar II ditandai dengan hipomanik dan depresi. PPDGJ III membaginya dalam
klasifikasi yang berbeda yaitu menurut episode kini yang dialami penderita (tabel 1). (11)

Dari tabel 1, dapat terlihat bahwa episode manik dibagi menjadi 3 menurut derajat keparahannya yaitu
hipomanik, manik tnpa gejala psikotik dan manik dengan gejala psikotik. Hipomanik dapat diidentikkan
dengan seorang permempuan yang sedang mengalami masa ovulasi (estrus) atau seorang laki-laki yang
dimabuk cinta. Perasaan senang, sangat bersemangat untuk berkativitas, doronga seksual yang
meningkat adalah beberapa contoh gejala hipomanik. Derajat hipomanik lebih ringan daripada manik
dengan gejala-gejala tersebu tidak mengakibatkan disfungsi sosial.

Pada manik, gejala-gejalanya sudah cukup berat hingga emngacaukan hampir seluruh pekerjaan dan
aktivitas sosial. Harga diri membumbung tinggi dan terlalu optimis. Perasaan mudah tersinggung dan
curiga lebih banyak daripada elasi. Bila gejala tersebut sudah berkembang menjadi waham maka
diagnosis mania dengan gejala psikotik perlu ditegakkan.

Bertolak belakang dengan hipomanik/manik, gejala pada depresi menjadi sebaliknya. Suasana hati
diliputi perasan depresif, tiada minat dan semangat, aktivitas berkutang, cemas, pesimis, dan timbul
perasaan bersalah dan tidak berguna. Episode depresi tersebut harus berlangsungminimal selama 2
minggu baru diagnosisdapat ditegakkan. Bila perasaan depresi sudah menimbulkan keinginan bunuh diri
berarti sudah masuk dalam depresi derajat berat.(6)

Gambaran Klinis
Terdapat dua pola dasar pada gangguan mood, satu untuk depresi dan satu untuk mania.
1. Episode depresif
Suatu mood depesi dan hilangnya minat atau kesenangan merupakan gejala utama dari deprsi. Pasien
mengatakan bahwa mereka merasa murung, putus asa, dalam kesedihan, atau tidak berguna. Bagi
pasien mood depresi seringkali memiliki kualitas yang terpisah yang membedakannya dari emosi normal
dan kesedihan atau dukacita. Pasien sering kali menggambarkan gejala depresi sebagai suatu rasa nyeri
emosional yang menderita sekali. Pasien terdepresi kadang-kadang mengeluh tidak dapat menangis,
suatu gejala yang hilang saat mereka membaik.

Hampir semua pasien terdepresi (97%) mengeluh adanya penurunan energi yang menyebabkan kesulitan
dalam menyelesaikan tugas, sekolah dan pekerjaan, dan penurunan motivasi untuk mengambil proyek
baru. Pasien juga mengeluh susah tidur, terbangun pad amalam hari, selama mereka merenungkan
masalahnya.(7)
Fase depresi:
- Perasaan murung atau sedih
- Mudah menangis
- Minat dan kegembiraan hilang
- Kelelahan
- Nafsu makan terganggu
- Gangguan tidur (insomnia/hipersomnia)
- Putus asa
- Pesimis
- Sulit konsentrasi
- Berat badan naik/turun secara bermakna
- Merasa bersalah
- Sering berpikir untuk bunuh diri.(9)

2. Episode manik
Suatu mood yang meningkat, meluap-luap, atau lekas marah merupakan tanda dari episode manik.
Selain itu mood pasien mudah tersinggung , khususnya jika rencana pasien yang sangat ambisisus
terancam. Sering kali seorang pasien menunjukkan perubahan mood yang utama dari euphoria awal
pada sebuah perjalanan penyakit menjadi lekas marah dikemudian waktu.(7)
Fase manik:
- Rasa haraga diri yang tinggi secara berlebihan. Ia merasa dirinya paling hebat dan dapat melakukan
apa saja.
- Selalu gembira secara berlebihan
- Gangguan tidur. Pasien biasanaya hanya butuk waktu 3-4 jam untuk tidur tapi tidak merasa
kelelahan.
- Bicara cepat, kata-kata dan idenya banyak secara berlebihan.
- Perhatian gampang teralih
- Aktivitasnya berlebihan
- Nafsu seksual yang meninggi.(7)

Pemeriksaan Tambahan
Dari penelitian pada penderita gangguan bipolar berusia dewasa, diketahui bahwa pada pemeriksaan
MRI didapatkan pembesaran ventrikel ke-3. Pemeriksaan PET (Positron Emission Tomographic)
menunjukan penurunan aktivitas metabolisme pada bagian otak depan (lobus frontalis). Hingga saat ini
dikatakan bahwa abnormalitas yang terjadi pada bagian-bagian otak tersebut akan menyebabkan
gangguan dalam pengaturan mood dan fungsi kognitif.(5,6)

IV. TERAPI
Farmakoterapi
a. Penatalaksanaan Kedaruratan Agitasi Akut Pada Gangguan Bipolar
Lini I:
- Injkesi IM Aripiprazol efektif untuk pengobatan agitasi pada pasien dengan episode mania atau
campuran akut. Dosis adalah 9,75mg/injeksi. Dosis maksimum adalah 29,25mg/hari (tiga kali injeksi
per hari dengan interval dua jam). Berespons dalam 45-60 menit.
- Injeksi IM Olanzapin efektif untuk agitasi pada pasien dengan episode mania atau campuran akut.
Dosis 10mg/ injeksi. Dosis maksimum adalah 30mg/hari. Berespons dalam 15-30 menit. Interval
pengulangan injeksi adalah dua jam. Sebanyak 90% pasien menerima hanya satu kali injeksi dalam 24
jam pertama. Injeksi lorazepam 2 mg/injeksi. Dosis maksimum lorazepam 4mg/hari. Dapat diberikan
bersamaan dengan injeksi IM Aripiprazol atau Olanzapin. Jangan dicampur dalam satu jarum suntik
karena mengganggu stabilitas antipsikotika.
Lini II:
- Injeksi IM Haloperidol yaitu 5 mg/kali injeksi. Dapat diulang setelah 30 menit. Dosis maksimum
adalah 15 mg/hari.
- Injeksi IM Diazepam yaitu 10 mg/kali injeksi. Dapat diberikan bersamaan dengan injeksi haloperidol
IM. Jangan dicampur dalam satu jarum suntik.(8)

b. Penatalaksanaan Gangguan Bipolar


Sudah lebih dari 50 tahun Lithium digunakan sebagai terapi gangguan Bipolar. Keefektifitasananya telah
terbukti dalam mengobati 60-80 % psie. Pamornya semakin berkibar kaeran dapat menekan ongkos
perawtan dan angka kematian akibat bunuh diri.
Tapi bukan tanpa cela. Teradapat segelintir orang yang kurang memberi respon terhadap Lithium di
antaranya penderita dengan riwayat cidera kepala, mania derajat berat (dengan gejala psikotik), dan
yang disertai dengan komorbid. Bila penggunaannya dientikan tiba-tiba, penderita cepat mengalami
relaps. Selain itu indeks terapinya sempit dan perlu monitor ketat kadar Lithium dalam darah.
Gangguan ginjal menjadi kontraindikasi pengguanaan lithium karena akan menghambat proses eliminasi
sehingga menghasilkan kadar toksik. Disamping itu, pernah juga dilaporkan lithium dapat merusak
ginjal bila digunakan dalam jangka lama. Karena itulah,penggunaan Lithium mulai ditinggalkkn.
Antipsikotik mulai digunakan sebagai anti manik sejak tahun 1950-an. Antipsikotik lebih baik daripada
lithium pada penderita Bipolar dengan agitasi psikomotor. Perhatian ekstra harus dilakukan bila hendak
merencanakan pemberian antipsikotik jangka panjang terutama generasi pertama (golonga tipikal)
sebab dpat menimbulkan beberapa efek samping seperti ekstrapiramidal, sindrom neurotik malingna,
dan tardive dyskinesia.
Valproat menjadi pilihan ketika pasien Bipolar tidak member respon terhadap Lithium. Bahkan Valproat
mulai menggeser domniasi Lithium sebagai regimen lini pertama. Salah satu kelebihan Valproat adalah
memberikan respon yang baik pada kelompok rapid cycler. Penderita Bipolar digolongkan rapid cycler
bila dalam 1 tahun mengalami 4 atau lebih episode manik atau depresi. Efek terapeutik tercapai pada
kadar optimal dalam darah yaitu 60-90 mg/L. Efek samping dapat timbul ketika kadar melebihi 125
mg/L, diantaranay mual, berat badan meningkat, gangguan fungsi hati, tremor, sedasi, dan rambut
rontok. Dosis akselerasi Valproat yang dianjurkan adalah loading dose 30 mg/kg pada 2 hari pertama
dilanjutkan dengan 20 mg/kg pada 7 hari selanjutnya.
Pencarian obat alternative terus diupayakan. Salah satunya adalah Lamotrigine. Lamotrigine
merupakan antikonvulsan yang digunakan untuk mengobati epilepsy. Beberapa studi acak double-blind
telah menyimpulkan, Lamotrigine efektif sebagai terapi akut pada gangguan Bipolar episode kini
depresi dan kelompik dapid cycler. Sayangnya Laotrigine kurang baik pada episode manik.
Panduan Obat-Obatan Bipolar berdasarkan British Association of Psychopharmacology (Journal of
Psychopharmacology 2003):
Lithium
Dosis : dosis tunggal 800 mg, malam hari. Dosis direndahkan pada pasien diatas 65 tahun dan yang
mempunyai gangguan ginjal.
Valproat (Divalproate Semisoodium)
Dosis : - rawat inap : dosis inisial 20-30 mg/kg/hari.
- rawat jalan dosis inisial 500 mg, titrasi 250 mg/hari.
- dosis maksimum 60 mg/kg/hari.
Karbamazepin
Dosis : - Dosis inisial 400 mg.
- Dosis maintenance 200-1600 mg/hari
Lamotrigine
Dosis : dosis inisial 25 mg/hari pada 2 minggu pertama, lalu 50 mg pada minggu kedua dan ketiga. Dosis
juga diturunkan setengahnya bila pasien juga mendapat Valproate.
Gangguan Bipolar harus diobati secara kontinyu, tidak boleh putus. Bila putus, fase normal akan
memendek sehingga kekambuhan akan semakin sering. Adanya fase normal pada gangguan Bipolar
sering menngakibatkan buruknya compliance untuk berobat karena dikira sudah sembuh. Oleh karena
itu edukasi sangat penting agar penderita dapat ditangani lebih dini.(6)

Non Farmakoterapi
1. Konsultasi
Konsultasi dengan seorang psikiater atau psikoffarmakologi selalu sesuai bila penderita tidak
menunjukkan respon terhadap terapi konvensional dan medikasi.
2. Aktivitas
Pendeita dengan fase depresi harus didukung untuk melakukan olahraga/aktivitas fisik. Jadwal aktivitas
fisik yang regular harus dibuat. Baik aktivitas fisik dan jadwal yang regular merupakan kunci untuk
bertahan dari penyakit ini.(1,10)

V. KOMPLIKASI
Komplikasi dari gangguan ini antara lain bunuh diri, pembunuhan dan adiksi.(1)

VI. PROGNOSIS
- Penderita dengan BP I lebih buruk daripada depresi berat. Dalam 2 tahun pertama setelah episode
awal, 40 50% penderita mengalami serangan manik lain.
- Hanya 50-60% penderita BP I dapat dikontrol dengan Lithium terhadp gejalanya. Pada 7% penderita,
gejala tidak kembali/mengalami penyembuhan, 45% penderita mengalami episode berulang, dan 40%
mengalami gangguan yang menetap.
- Sering kali perputaran episode depresif dan manik berhubungan dengan usia.
- Faktor-faktor yang membuat prognosis menjadi lebih buruk antara lain; riwayat kerja yang buruk;
penyalahgunaan alkohol; gambaran psikotik; gambaran depresif diantara episode manik dan depresi;
adanya bukti keadaan depresif, jenis kelamin laki-laki.
- Indikator prognosis yang baik adalah: fase manik(dalam durasi pendek); onset terjadi pada usia yang
lanjut; pemikiran untuk bunuh diri yang rendah; gambaran psikotik yang rendah; masalah kesehatan
(organik) yang sedikit.(1,10)

VII. KESIMPULAN
Gangguan bipolar (GB) merupakan gangguan jiwa yang bersifat episodik dan ditandai oleh gejala-
gejala manik, hipomanik, depresi, dan campuran, biasanya rekuren serta dapat berlangsung seumur
hidup.
Episode depresif dari gangguan bipolar memiliki kriteria diagnostik yang sama dengan gangguan depresi
mayor episode tunggal. Sedangkan pada gangguan bipolar episode campuran terdapat gejala-gejala
manik atau hipomanik dan depresi yang berganti-ganti secara cepat pada suatu periode waktu yang
berlangsung sekurangnya satu minggu. Pada tampilan klinis, seorang yang menderita gangguan bipolar
episode campuran biasanya mengalami kondisi mood yang sangat tidak stabil. Secara umum, terdapat
dua jenis gangguan bipolar, pada gangguan bipolar tipe satu, ditemukan sekurangnya satu episode
manik. Sedangkan pada gangguan bipolar tipe dua ditemukan sekurangnya satu episode hipomanik.
Hingga saat ini, tatalaksana untuk gangguan bipolar masih difokuskan dalam pemberian terapi
farmakologi. Obat-obat golongan mood stabilizer diberikan (seperti Lithium dan Valproate) baik untuk
kondisi akut maupun untuk terapi maintenance yang bertujuan mencegah kekambuhan. Terapi
farmakologis biasanya dikombinasi dengan terapi non farmakologis berupa psikoterapi.

DAFTAR PUSTAKA
1. Marlyn, E.S, Gangguan Afektif Bipolar, available from URL:http://www.atwordpress.com, Last
update 2008.
2. Anonym, Gangguan Mental dan Bunuh Diri, Available from URL:http://www.suaramerdeka.com,
Last update January 2009
3. Maddock L, Pschyatry Clerckship Gude. 2003, Chapter 29 Figure 2, Manley; MRS, United State of
America. page:180
4. Anonym, Penyakit Manik-Depresif (Kelainan Bipolar), Available form
URL:http://www.medicastore.com, Last update April 2009
5. Irma, Fransisca. Mengenal Gangguan Bipolar. Available from URL:http://www.medicalera.com. Last
update January 2010
6. Anonym, Memahami Kepribadian Dua Kutub, Available from
URL:http://www.majalah_farmacia.com, Last update Oktober 2009
7. Kaplan I. H, Sinopsis Psikiatri Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis, Edisi Ketujuh, Wiguna M.
S; Jakarta, 1997. Hal:799-806.
8. Anonyim, Pedoman Tatalaksana GB PDSKJI. 2010
9. Anonym, Global Missing, Available from URL:http://www.spirit of tiger.com, Last update 2009
10. Marionate, Gangguan Bipolar: Manik Depresif, Available from
URL:http://www.miracle_Health.com, Last update January 2008
11. American Psychiatric Association. Mood Disorders. Dalam: Diagnostic and Statistical Manual of
Mental Disorders, 4th Ed, Text Revision, DSM-IV-TR, Washington DC, 2005: hal. 345-429.