Anda di halaman 1dari 9

KAJIAN KANDUNGAN ZAT MAKANAN DAN PIGMEN ANTOSIANIN

TIGA JENIS KULIT BUAH NAGA (Hylocereus sp.)


SEBAGAI BAHAN PAKAN TERNAK

Daniel R. S.1), Osfar S.2) dan Irfan H. D.2)


1)
Mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Malang
2)
Dosen Bagian Nutrisi dan Makanan Ternak Universitas Brawijaya Malang
dr.simangunsong.spt@gmail.com

ABSTRAK

Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis kandungan nutrisi dan pigmen antosianin
dari tiga jenis tepung kulit buah naga. Materi yang diujikan adalah tepung kulit buah naga
putih (Hylocereus Undatus), tepung kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) dan
tepung kulit buah naga super merah (Hylocereus costaricensis). Metode yang digunakan
adalah metode percobaan eksploratif dan data yang diperoleh dianalisis dengan metode
deskripsi. Variable pengamatan adalah kerapatan jenis, kandungan zat makanan berdasarkan
analisis proksimat dan gross energy, analisis mineral (kalsium dan fosfor) serta kadar
antosianin. Hasil pengamatan menunjukkan tepung kulit buah naga putih, tepung kulit buah
merah dan tepung kulit buah naga super merah secara berurutan memiliki kandungan bahan
kering 86,930,08; 88,320,12 dan 86,660,19 %; abu 16,320,02; 18,760,10 dan
20,220,15 %; protein kasar 7,790,35; 8,980,01 dan 9,260,04 %; serat kasar 26,230,34;
25,560,07 dan 23,390,26 %; lemak kasar 2,260,21; 2,600,34 dan 2,380,06 %; gross
energy 3126,3448,1; 3195,952,4 dan 2906,6162,6 Kkal/Kg; kalsium 2,121,23;
1,820,10 dan 2,400,42 %; fosfor 0,002030,00018; 0,002080,00014 dan
0,002110,00009 %; antosianin 1,180,22; 1,270,31 dan 1,980,13 ppm. Kandungan
antosianin pada kulit buah naga putih, kulit buah naga merah dan kulit buah naga super
merah segar adalah 0,080,03; 0,560,43 dan 0,450,26 ppm. Tepung kulit buah naga super
merah memiliki kandungan terbaik berdasarkan kandungan nutrisinya karena protein kasar,
mineral, kalsium dan antosianinnya paling tinggi sedangkan kandungan serat kasarnya yang
paling rendah dibandingkan dengan tepung kulit buah naga putih dan tepung kulit buah naga
merah.
Kata kunci : kulit buah naga, antosianin, bahan pakan ternak

1
STUDY OF NUTRIENT AND ANTHOCYANINS PIGMENTS CONTENTS
ON THREE KINDS OF DRAGON FRUIT PEEL MEAL (Hylocereus Sp.)
AS FEEDSTUFF

Daniel R. S.1), Osfar S.2) dan Irfan H. D.2)


1)
Student at Faculty of Animal Husbandry, University of Brawijaya
2)
Lecturer in Animal Nutrient and Feed Animal Science Department,
Faculty of Animal Husbandry, University of Brawijaya
dr.simangunsong.spt@gmail.com

ABSTRACT

This experiment aimed to evaluate the nutrient and anthocyanins contents on three
kinds of dragon fruit peel meal. The materials used for this experiment were white dragon
fruit peel meal (Hylocereus undatus), red dragon fruit peel meal (Hylocereus polyrhizus) and
super red dragon fruit peel meal (Hylocereus costaricensis). This experiment used explorative
and analyzed by description method. Variables measured were density, nutrient contents
based on proximate analysis, gross energy, mineral contents (Ca and P) and anthocyanins
contents. The result showed white dragon fruit peel meal, red dragon fruit peel meal and
super red dragon fruit peel meal has a nutrients value: dry matter 86.930.08; 88.320.12 and
86.660.19 %; ash 16.320.02; 18.760.10 and 20.220.15 %; crude protein 7.790.35;
8.980.01 and 9.260.04 %; crude fiber 26.230.34; 25.560.07 and 23.390.26 %; crude fat
2.260.21; 2.600.34 and 2.380.06 %; gross energy 3126.3448.1; 3195.952.4 and
2906.6162.6 Kkal/Kg; Ca 2.121.23; 1.820.10 and 2.400.42 %; P 0.002030.00018;
0.002080.00014 and 0.002110.00009 %; anthocyanins 1.180.22; 1.270.31 and
1.980.13 ppm, respectively. Anthocyanin contents on white dragon fruit, red dragon fruit
and super red dragon fruit were 0.080.03; 0.560.43 and 0.450.26 ppm, respectively.
Keywords : dragon fruit peel, anthocyanin, feedstuff

PENDAHULUAN karena mempunyai kontribusi sebesar


70-80% terhadap keseluruhan biaya
Penyediaan pakan ternak unggas di produksi.
Indonesia saat ini masih mengalami Penyediaan bahan baku pakan saat
kendala, diantaranya adalah masih ini telah terjadi pergesaran pola pada
tingginya komponen penyusun pakan upaya penggantian bahan pakan
berupa pakan import dan ketersediaannya konvensional dengan bahan baku alternatif
pakan yang tidak kontinyu sepanjang yang bersumber dari limbah pertanian
tahun. Kondisi kualitas bahan pakan juga (crop residu), hasil sampingan agroindustri
masih memprihatinkan karena umumnya (agro-industry by-product) dan limbah
bahan pakan kurang berkualitas dan belum perikanan (fishery waste) (Murni, Suparjo,
ada standarisasi kualitas bahan pakan. Akmal dan Ginting, 2008). Sektor
Masum (2011) menjelaskan pakan ternak pertanian merupakan penghasil limbah
mempunyai pengaruh yang sangat besar terbesar terutama dari sub sektor
terhadap produksi dan produktifitas ternak, perkebunan. Salah satu komoditi yang

2
belum termanfaatkan limbahnya adalah lebih aman bagi kesehatan. Kulit buah
buah naga. naga masih jarang atau bahkan belum
Buah naga (dragon fruit) merupakan dimanfaatkan sepenuhnya karena masih
tanaman buah yang baru dibudidayakan di belum diketahui kandungan zat makanan
Indonesia mulai tahun 2000 dan banyak dan mineralnya meskipun pada beberapa
digemari oleh masyarakat karena memiliki penelitian telah dilaporkan bahwa kulit
khasiat dan manfaat serta nilai gizi cukup buah naga merah memiliki kandungan
tinggi. Tanaman ini memiliki potensi yang pigmen merah antosianin yang cukup
baik dilihat dari permintaan yang terus tinggi.
meningkat diikuti teknik budidaya yang Tujuan penelitian adalah untuk
mudah dilakukan. Swastika, Nurmili dan mengetahui kandungan zat makanan,
Suhendri (2012) menjelaskan di Indonesia mineral dan pigmen antosianin dari kulit
terdapat tiga jenis buah naga yaitu buah naga putih, kulit buah naga merah,
Hylocereus undatus (buah naga daging dan kulit buah naga super merah sebagai
putih), Hylocereus polyrhizus (buah naga bahan pakan ternak. Kandungan zat
daging merah) dan Hylocereus makanan yang diamati yaitu Bahan Kering
costaricensis (buah naga daging sangat (BK), Abu, Protein Kasar (PK), Serat
merah atau hitam). Kasar (SK), Lemak Kasar (LK) dan Gross
Pemasok buah naga merah di Pulau Energy (GE). Mineral yang dianalisis
Jawa salah satunya adalah perkebunan adalah kalsium (Ca) dan fosfor (P).
buah naga merah yang berada di
Kabupaten Banyuwangi dengan produksi MATERI DAN METODE
mencapai 12.936 ton pada tahun 2012 dan Penelitian menggunakan kulit buah
akan terus meningkat di tahun berikutnya naga dari tiga jenis yang berbeda dan telah
(BPS Kabupaten Banyuwangi, 2013). diolah menjadi bentuk tepung. Pengolahan
Beberapa daerah di Jawa Timur juga kulit buah naga menjadi tepung dimulai
membudidayakan buah naga putih dan dari pemisahan daging buah dengan kulit
buah naga super merah seperti di dilanjutkan dengan pemotongan kulit
Kabupaten Malang, Batu, Kediri dan menjadi bagian yang lebih kecil. Kulit
Mojokerto. Citramukti (2008) menjelaskan yang telah dipotong selanjutnya dioven
bagian dari buah naga 30-35% merupakan dengan suhu 60C selama 2-3 hari sampai
kulit buah, namun seringkali hanya benar-benar mengering. Proses selanjutnya
dibuang sebagai sampah. Produksi buah adalah penggilingan dengan menggunakan
naga secara nasional pada tahun 2012 blender hingga didapatkan tepung dengan
jumlahnya mencapai 6.696 ton ukuran 1 mm.
(Anonymous, 2013) dari jumlah sebanyak Alat yang digunakan untuk analisis
itu dapat diperoleh total kulit buah adalah gelas ukur 500 ml, neraca ohaus
sebanyak 2.008-2.343 ton yang sayangnya tiga lengan, cawan porselin, oven 105C,
hanya dibuang sebagai sampah. tanur 550-600C, labu kjeldhal, alat
Kulit buah naga mengandung zat destruksi, alat destrilasi, alat ekstraksi
warna alami antosianin cukup tinggi. goldfish, beaker glass khusus lemak,
Antosianin merupakan zat warna yang selongsong S, oven vacum 80C, beaker
berperan memberikan warna merah glass khusus serat kasar, alat pendidih,
berpotensi menjadi pewarna alami yang

3
cawan filtrasi, gelas ukur eksikator, data yang diperoleh dan ditafsirkan
penjepit, timbangan analitis, perangkat sehingga memberikan gambaran yang jelas
bombcalorimeter, kawat, benang wol, mengenai kandungan zat makanan,
erlenmeyer, pipet tetes, tabung reaksi, mineral dan pigmen antosianin dari ketiga
Spektrofotometri model spectronic 21, jenis kulit buah naga.
kertas saring halus, sentrifuse, Atomic Data analisis proksimat yaitu Abu,
Absorbation Spektrofotometer (AAS) dan Protein Kasar, Serat Kasar dan Lemak
Spektrofotometri model spectronic 21. Kasar dihitung berdasarkan persentase
Metode penelitian yang digunakan bahan keringnya.
adalah metode percobaan eksploratif
dimana metode ini bertujuan menggali dan HASIL DAN PEMBAHASAN
mengungkap kandungan zat makanan, Data hasil penelitian kerapatan jenis,
mineral dan antosianin tepung kulit buah kandungan zat makanan, mineral dan
naga sebagai bahan pakan. Data yang antosianin tiga jenis kulit buah naga
didapat selanjutnya dianalisis secara disajikan pada Tabel 1.
deskriptif yaitu metode dengan menyusun

Tabel 1. Kerapatan jenis, kandungan zat makanan (%BK), kandungan mineral kalsium dan
fosfor serta antosianin tepung kulit buah naga putih (TKBNP), buah naga merah
(TKBNM) dan super merah (TKBNSM)

Variabel TKBNP TKBNM TKBNSM


Kerapatan Jenis (g/l) 517,601,84 510,351,91 522,552,19
Gross Energy
3126,3448,1 3195,952,4 2906,6162,6
(Kkal/kg)
Protein Kasar (%) 7,790,35 8,980,01 9,260,04
Lemak Kasar (%) 2,260,21 2,600,34 2,380,06
Serat Kasar (%) 26,230,34 25,560,07 23,390,26
Abu (%) 16,320,01 18,760,10 20,210,15
Kalsium (%) 2,121,23 1,820,10 2,400,42
Fosfor (%) 0,002030,00018 0,002080,00014 0,002110,00009
Antosianin (Segar)
0,080,03 0,560,43 0,450,26
(ppm)
Antosianin (Tepung)
1,180,22 1,270,31 1,980,13
(ppm)

(Tillman, 1998). Pengukuran kerapatan


Kerapatan Jenis Tepung Kulit Buah jenis atau densitas ini diperlukan sebagai
Naga patokan kemurnian bahan pakan. Bahan
pakan yang dipalsukan akan mengalami
Kerapatan jenis tepung kulit buah
penurunan atau peningkatan nilai densitas
naga adalah sebesar 510-522g/l. Tepung
(Suparjo, 2008). Densitas bahan pakan
kulit buah naga memiliki nilai densitas
ditentukan oleh berat jenis bahan pakan
yang masih dalam kisaran bahan pakan
tersebut, dimana semakin tinggi berat jenis
sumber serat seperti jagung (626,2 g/l);
maka kerapatan tumpukan juga semakin
dedak halus (509 g/l) dan bekatul (546 g/l)
tinggi (Yatno, 2011). Ukuran partikel

4
bahan pakan juga menentukan kerapatan buah naga ditentukan oleh kandungan zat
jenis, semakin besar ukuran partikel maka makanan yang terkandung terutama
semakin rendah nilai densitasnya. protein dan lemak. Semakin tinggi nilai
Kerapatan jenis juga dibutuhkan untuk protein dan lemak suatu bahan pakan maka
memperhitungkan volume ruang yang gross energi-nya juga semakin tinggi.
akan terisi oleh suatu bahan pakan dalam Kandungan gross energy tepung kulit buah
alat pencampur ataupun silo. Pakan yang naga sendiri lebih rendah bila
memiliki densitas tinggi akan mengurangi dibandingkan dengan gross energy bahan
keambaan atau sifat bulky, dengan pakan sumber energi seperti jagung (4430
demikian akan meningkatkan konsumsi Kkal/Kg) dan dedak gandum (4540
pakan dan mengurangi pakan yang Kkal/Kg) (Anonymous, 2012).
tercecer (Stevent, 1981). Schaible (1979) menjelaskan energi
metabolis suatu bahan pakan merupakan
Kadar Bahan Kering Tepung Kulit 70% dari gross energi-nya, dengan
Buah Naga demikian nilai energi metabolis tepung
Tepung kulit buah naga mempunyai kulit buah naga adalah 2188,4 Kkal/Kg
kadar bahan kering yang tinggi untuk TKBNP 2237,1 Kkal/Kg untuk
dikarenakan bahan pakan tersebut sudah TKBNM dan 2034,6 Kkal/Kg untuk
dalam bentuk kering atau tepung, sehingga TKBNSM. Jumlah tersebut masih dibawah
kadar airnya sudah berkurang drastis. kebutuhan energi metabolis ternak unggas
Bahan pakan dalam bentuk tepung akan yaitu 2600-3100 Kkal/Kg. Kekurangan
mempunyai kandungan bahan kering yang energi pada ternak unggas akan membuat
lebih rendah dibandingkan dengan bahan ternak tidak bisa berproduksi secara
pakan yang masih dalam keadaan segar. optimal.
Proses pengolahan tepung kulit buah naga
Kandungan Protein Kasar Tepung
sendiri dimulai dari pengeringan kulit
Kulit Buah Naga
menggunakan oven 60C sampai kulit
menjadi benar-benar kering sehingga hasil Kadar protein tepung kulit buah naga
akhir yang didapat berupa tepung yang termasuk rendah berkisar 7-9%.
kering. Penghitungan bahan kering pakan Rendahnya protein tepung kulit buah naga
sendiri cukup penting sebab dalam analisis disebabkan karena umur pemanenan buah
proksimat kandungan bahan pakan lain naga pada masa pasca reproduktif. Hal ini
dihitung berdasarkan persentase bahan disebabkan menurut Marlina (2011)
keringnya (Anonymous, 2012). tanaman yang dipanen ketika fase pasca
reproduktif didapatkan kandungan serat
Kandungan Gross Energy Tepung Kulit kasar lebih tinggi daripada kadar protein
Buah Naga kasarnya. Semakin tua suatu tanaman
Tepung Kulit Buah Naga memiliki kadar protein akan semakin berkurang
kandungan gross energy sebagai berikut karena protein tanaman berhubungan erat
TKBNP sebesar 3126,3448,1 Kkal/Kg; dengan aktifitas jaringan. Kadar protein
TKBNM sebesar 3195,952,4 Kkal/Kg tepung kulit buah naga yang tidak
dan TKBNSM sebesar 2906,6162,6 mencapai 10% menjadikan tepung kulit
Kkal/Kg. Nilai gross energy tepung kulit buah naga bukan sebagai bahan pakan

5
sumber protein sebab menurut Widodo kesehatan manusia seperti obesitas dan
(2010) ternak unggas membutuhkan aterosklerosis.
protein sebesar 15-22% tergantung jenis
dan fase tumbuhnya. Kandungan Serat Kasar Tepung Kulit
Buah Naga
Kandungan Lemak Kasar Tepung Kulit
Kandungan serat kasar tepung kulit
Buah Naga
berkisar diantara 23-26%, nilai tersebut
Tepung kulit buah naga mempunyai lebih tinggi bila dibandingkan dengan
kandungan lemak kasar berkisar buahnya yang memiliki kandungan serat
2,26-2,60%, jumlah tersebut tidak jauh kasar 2,8-5,3% dalam keadaan kering.
berbeda dibandingkan dengan kandungan Tingginya kandungan serat kasar kulit
lemak daging buah naga merah dalam buah naga tersebut karena umur panen
keadaan kering yaitu sebesar 2,4% namun buah naga adalah 50-55 hari setelah
lebih tinggi dibandingkan kandungan muncul kuncup bunga. Kuncup bunga
lemak daging buah naga putih yang sendiri baru mulai muncul setelah 12-18
sebesar 0,9%. bulan pasca penanaman (Anonymous,
Widodo (2010) menjelaskan 2009). Semakin bertambahnya umur
kebutuhan ternak unggas bervariasi yaitu tanaman maka kandungan serat kasarnya
3-8% tergantung dari spesies dan umur akan semakin meningkat seperti yang
unggas. Kandungan lemak tepung kulit dijelaskan Marlina (2011) kadar lignin
buah naga sedikit dibawah kebutuhan tanaman bertambah seiring bertambahnya
ternak unggas sehingga masih layak umur tanaman, dan cenderung naik kadar
diberikan. Lemak mempunyai peranan serat kasarnya mencapai level tertinggi
sebagai sumber energi metabolik yang pada saat tanaman dewasa.
sangat penting dalam pembentukkan ATP Zakariah (2011) menyatakan ternak
(Adenosine Triphosphate) dan juga monograstik memiliki keterbatasan dalam
sebagai pengganti protein yang sangat memanfaatkan serat kasar yang sehingga
berharga untuk pertumbuhan, karena jumlah yang dimanfaatkan relatif sedikit.
dalam keadaan tertentu trigliserida dapat Manfaat serat kasar pada ternak unggas
diubah menjadi asam lemak bebas sebagai adalah dapat menurunkan kadar kolestrol,
bahan bakar untuk menghasilkan energi karena serat memiliki sifat mengikat asam
metabolik dalam otot ternak, khususnya empedu yang merupakan senyawa yang
unggas dan monogastrik (Abun, 2009). disintesis dari kolestrol. Widodo (2010)
Lemak sangat dibutuhkan tubuh menjelaskan ternak monogastrik terutama
ternak sebagai sumber energi, sayangnya unggas, kebutuhan akan serat kasar pada
energi yang terdapat dalam bahan pakan hanya 3-6%, sehingga bila tepung
makanan tidak semuanya dapat digunakan kulit buah naga menjadi salah satu bahan
dalam tubuh. Zakariah (2011) penyusun pakan unggas, pemberiannya
menambahkan kandungan energi dalam harus diimbangi dengan bahan lain yang
pakan yang berlebih akan disimpan rendah serat kasar agar kandungan serat
sebagai lemak dalam karkas sehingga kasar pakan tidak terlalu tinggi.
dapat menimbulkan masalah bagi

6
Kandungan Abu Tepung Kulit Buah aktivator untuk beberapa enzim seperti
Naga enzim lipase pankreatik dan asam
phosphatase sementara fosfor selain
Tepung kulit buah naga mempunyai memiliki peran sebagai komponen utama
kandungan abu yang cukup tinggi, antara pembentukan tulang rawan juga berfungsi
16-21%. Kandungan abu tersebut tidak sebagai buffer atau penyangga untuk
berbeda jauh dengan penelitian Saneto menormalkan keseimbangan asam basa
(2012) bahwa kandungan abu tepung kulit cairan tubuh (Abun, 2008). Unggas yang
buah naga merah sebesar 19,1-19,5%. kekurangan kalsium dan fosfor akan
Persentase abu dalam pakan yang tinggi menyebabkan penurunan pertumbuhan dan
akan menurunkan konsumsi pakan ternak konversi pakan, ketidaknormalan jaringan
seperti yang dilaporkan Haryanto (2008) skeletal serta mineralisasi tulang rendah.
salah satu faktor yang mengakibatkan
penurunan konsumsi pakan yaitu Kandungan Pigmen Antosianin Kulit
kandungan bahan anorganik atau mineral Buah Naga dan Tepung Kulit Buah
dalam bahan pakan yang tinggi sehingga Naga
menyebabkan terkonsumsinya mineral
secara berlebih yang mengakibatkan Kandungan antosianin pada kulit buah
penurunan nafsu makan karena gangguan naga putih sebesar 0,080,03 ppm; kulit
metabolisme. buah naga merah sebesar 0,560,43 ppm
dan kulit buah naga super merah sebesar
Kandungan Mineral Kalsium (Ca) dan 0,450,26 ppm. Kandungan antosianin
Fosfor (P) Tepung Kulit Buah Naga tersebut lebih rendah dibandingkan kadar
antosianin pada tepung kulit buah naga
Kandungan kalsium tepung kulit buah dimana TKBNP memiliki kandungan
naga adalah sebesar 1,82-2,40 % antosianin sebesar 1,180,22 ppm;
sedangkan kandungan fosfornya sangat TKBNM 1,270,31 ppm dan TKBNSM
rendah, yaitu berkisar 0,00203-0,00211 %. 1,980,13 ppm. Kulit buah naga putih
Penyusunan pakan juga perlu memiliki kadar antosianin yang paling
memperhatikan kandungan mineralnya rendah dibandingkan dengan kulit buah
terutama kalsium dan fosfor. Widodo naga putih dan kulit buah naga super
(2010) menjelaskan kebutuhan kalsium merah karena kulit buah naga merah
untuk ternak unggas pedaging berkisar memiliki warna merah yang tidak terlalu
0,9-1,1% dan untuk unggas petelur sebesar pekat. Citramukti (2008) menjelaskan
2,75-3,8%; sedangkan kebutuhan antosianin merupakan zat warna yang
fosfornya berkisar 0,4-0,9%. Kandungan berperan memberikan warna merah,
kalsium tepung kulit buah naga sudah sehingga semakin merah warna kulit buah
mencukupi kebutuhan unggas pedaging naga semakin tinggi kadar antosianinnya
tetapi masih kurang bila diberikan pada begitu juga sebaliknya.
unggas petelur. Kandungan fosfor tepung Kadar antosianin kulit buah naga
kulit buah naga berdasarkan hasil analisis segar lebih rendah bila dibandingkan
sangat rendah, jauh dari kebutuhan ternak dengan tepung kulit buah naga yang telah
unggas. Kalsium sendiri diperlukan oleh mengalami proses pengovenan dengan
unggas sebagai komponen esensial dalam suhu 60C dan penggilingan. Hal ini
pembentukan tulang dan juga sebagai

7
disebabkan kadar air pada kulit buah naga antosianinnya paling tinggi serta
segar masih sangat tinggi, bila kandungan serat kasarnya yang paling
dikonversikan dalam bentuk kering kadar rendah.
antosianin kulit buah naga putih, kulit
buah naga merah dan kulit buah naga SARAN
super merah secara berurutan adalah Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut
0,960,31; 6,965,43 dan 5,673,25. untuk mengetahui profil asam amino, asam
Kadar antosianin tersebut jauh lebih tinggi lemak, zat mineral lain, aktivitas
bila dibandingkan dengan kadar antosianin antioksidan dan kandungan antinutrisi dari
kulit buah naga dalam bentuk tepung. kulit buah naga sebagai bahan pakan.
Hayati, Budi dan Hermawan (2012)
menyatakan semakin meningkatnya suhu DAFTAR PUSTAKA
pemanasan dapat menyebabkan hilangnya
Abun. 2008. Nutrisi Mineral pada Unggas.
glikosil pada antosianin dengan hidrolisis
http://pustaka.unpad.ac.id/ Diakses 22
ikatan glikosidik sehingga aglikon yang Juni 2014
dihasilkan kurang stabil dan menyebabkan
hilangnya warna pada antosianin. ____. 2009. Lipid dan Asam Lemak pada
Antosianin sendiri selain sebagai Unggas dan Monogastrik.
http://pustaka.unpad.ac.id/ Diakses 17
antioksidan juga merupakan pigmen yang Juni 2014
larut dalam air dan berperan dalam
pemberian warna terhadap bunga atau Anonymous. 2009. Teknologi dan Prospek
bagian tanaman lain mulai dari warna Pengembangan Buah Naga
Hylocereus Sp. http://cybex.deptan.
merah, biru, ungu dan juga kuning
go.id/lokalita Diakses 14 Juni 2014
(Samsuddin dan Khoiruddin, 2008)
sehingga peran antosianin pada ternak __________. 2012. Pengetahuan Bahan
terutama pada ternak unggas adalah Makanan Ternak. CV. Nutri Sejahtera.
sebagai colouring agent. Bogor

KESIMPULAN __________. 2013. Budidaya buah naga


organik di pekarangan, berdasarkan
Tepung kulit buah naga memiliki pengalaman petani di Kabupaten
kandungan abu sebesar 16,32-20,21 %; Malang. http://hortikultura.litbang.
protein kasar 7,79-9,26 %; serat kasar deptan.go.id/ Diakses 21 Juli 2014
23,39-26,23 %; lemak kasar 2,26-2,60 %;
gross energy 2906,6-3195,9 Kkal/Kg; Biro Pusat Statistik Kabupaten
kalsium 1,82-2,40 %; fosfor Banyuwangi. 2013. Luas Panen dan
0,00203-0,00211 %; antosianin Produksi Tanaman Buah-buahan
Menurut Jenis Komoditas Tahun
1,18-1,98 ppm dalam bentuk tepung dan
2012. http://banyuwangikab.bps.
0,08-0,56 ppm dalam bentuk kulit segar. go.id/index.php?hal=tabel&id=21.
Tepung kulit buah naga super merah Diakses pada 21 Januari 2014
mempunyai kandungan nutrisi yang paling
baik dibandingkan dengan tepung kulit Citramukti, I. 2008. Ekstraksi dan Uji
Kualitas Pigmen Antosianin pada
buah naga putih dan merah karena
Kulit Buah Naga Merah (Hylocereus
kandungan protein, kalsium, fosfor dan costaricensis), (Kajian Masa Simpan

8
Buah dan Penggunaan Jenis Pelarut). Saneto, B. 2012. Karakteristik kulit buah
Skripsi. Jurusan THP Universitas naga merah (H. polyrhizus). Jurnal
Muhammadiyah Malang. Malang Agrika II (2) : 143-149
Haryanto, T.P. 2008. Pengaruh Schaible, P.J. 1979. Poultry Feed and
penggantian konsentrat dengan tepung Nutirient. 3rd Ed. Avi Publishing Co.
sampah organik dalam ransum Inc., Wesport. Connecticut
terhadap kecernaan bahan kering dan
bahan organik pada domba lokal Stevens, C. A. 1987. Starch gelatinization
jantan. Skripsi. Program Studi and the influence of particle size,
Teknologi Hasil Pertanian Fakultas steam pressure and die speed on the
Pertanian Universitas Sebelas Maret. pelleting process. Dissertation.
Surakarta Kansas State University, Manhattan,
KS
Hayati, E.K., U.S. Budi dan R. Hermawan.
2012. Konsentrasi total senyawa Suparjo. 2008. Analisis Pakan Secara
antosianin ekstrak kelopak bunga Fisik. Laboratorium Makanan Ternak
rosella (Hibiscus sabdariffa L.) : Fakultas Peternakan Universitas
Pengaruh temperatur dan pH. Jurnal Jambi. Jambi
Kimia (VI) 2 : 138-147 Swastika, S., Y. Nurmili dan S. Suhendri.
Masum, M. 2011. Pedoman Umum 2012. Hama dan Penyakit Buah Naga.
Pengembangan Unit Pengolahan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian
Pakan Unggas. Direktorat Jenderal Riau - Badan Penelitian dan
Peternakan dan Kesehatan Hewan Pengembangan Pertanian
Kementerian Pertanian. Jakarta Kementerian Pertanian. Pekanbaru

Marlina, B. 2011. Kadar Protein Kasar dan Tillman, A.D., H. Hartadi, S.


Kandungan Serat Kasar Hijauan Reksohadiprodjo, S. Prawiro Kusuma,
Glycine Max pada Budidaya dan S. Lebdosoekoekojo. 1998. Ilmu
Tumpangsari Rumput-Kedelai dengan Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada
Inokulasi Rhizobium. Skripsi. Program University Press. Yogyakarta Widodo.
Studi Pendidikan Biologi Fakultas E. 2010. Teori dan Aplikasi
Pendidikan Matematika dan Ilmu Pembuatan Pakan Ternak Ayam dan
Pengetahuan Alam. IKIP PGRI Itik. http://edoqs.org/download
Semarang Diakses 4 Juni 2014

Murni, R., Suparjo, Akmal dan BL. Widodo. E. 2010. Teori dan Aplikasi
Ginting. 2008. Buku Ajar Teknologi Pembuatan Pakan Ternak Ayam dan
Pemanfaatan Limbah untuk Pakan. Itik. http://edoqs.org/download
Laboratorium Makanan Ternak Diakses 4 Juni 2014
Fakultas Peternakan Universitas
Yatno. 2011. Fraksinasi dan sifat fisiko-
Jambi. Jambi
kimia bungkil inti sawit. Jurnal
Samsudin, A.M. dan Khoiruddin. 2008. Agrinak I (1) : 11-16
Ekstraksi, filtrasi membran dan uji
Zakariah. M.A. 2011. Pengaruh
stabilitas zat warna dari kulit manggis
penggunaan serat terhadap kadar
(Garcinia mangostana). Digilib
kolesterol unggas. Pascasarjana
Diponegoro University Fakultas Peternakan Universitas
Gadjah Mada Yogyakarta