Anda di halaman 1dari 17

AKHLAK TERHADAP LINGKUNGAN

Oleh:

KELOMPOK 6

DESI SAPRIANTI

NUR HIKMAH

TRINARTI SENOLANGI

PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

1 |A k h l a k K e p a d a L i n g k u n g a n
Desember, 2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur mari kita panjatkan atas kehadirat Allah SWT


karena rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul Akhlak kepada Lingkungan. Dimana makalah ini
diajukan untuk memenuhi tugas AIK II.

Dalam penyusunan makalah ini, tidak sedikit hambatan


yang kami hadapi, namun dalam penyusunan makalah ini tidak
lain berkat bantuan dan pertolongan dari Allah SWT, Sehingga
semua kendala dapat teratasi.

Kami menyadari bahwa keterbatasan pengetahuan dan


pemahaman kami tentang Akhlak kepada Lingkungan masih
kurang, untuk itu kami meminta masukan kritik dan saran dari
semua pihak yang bersifat membangun.

Akhir kata kami sampaikan terima kasih dan semoga


makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Fastabiqul Khaerat.

Makassar, Desember 2016

Kelompok 6

2 |A k h l a k K e p a d a L i n g k u n g a n
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .. ii

DAFTAR ISI iii

BAB I PENDAHULUAN . 1

A. Latar Belakang . 1
B. Rumusan Masalah . 2
C. Tujuan .. 2
D. Manfaat .. 2
BAB II PEMBAHASAN . 3
A. Pengertian Akhlak terhadap lingkungan .

3
B. Prinsip dalam pengelolaan lingkungan . 4
C. Kewajiban manusia terhadap lingkungan .

8
BAB III SIMPULAN DAN SARAN 12
A. Simpulan .. 12
B. Saran 12
Daftar Pustaka .. 13

3 |A k h l a k K e p a d a L i n g k u n g a n
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Manusia sebagaimana makhluk lainnya memiliki
keterkaitan dan ketergantungan terhadap alam dan
lingkungannya. Namun demikian manusia justru semakin
aktif mengambil langkah-langkah yang merusak, atau
bahkan menghancurkan lingkungan hidup. Sehinga terjadi
bencana seperti banjir, longsor dan bencana lainnya.
Pemanfaatan alam lingkungan telah dimulai sejak
manusia memiliki kemampuan lebih besar dalam
menguasai alam lingkungan. Dengan mengeksploitasi
alam, manusia menikmati kemakmuran hidup yang lebih
banyak. Namun sayangnya, seiring dengan kemajuan ilmu
dan teknologi, alam lingkungan malah di eksploitasi
sedemikian rupa sehingga menimbulkan kerusakan yang
dahsyat.
Kerusakan alam yang ditimbulkan oleh manusia
bersumber dari cara pandang manusia terhadap alam
lingkungannya. Dalam pandangan manusia yang
memandang alam sebagai barang dagangan yang
menguntungkan dan bebas untuk melakukan apa saja
terhadap lingkungan. Menurutnya, alam dapat
dimanfaatkan semaksimal mungkin bagi kesenangan
manusia. Sebaliknya, pandangan manusia yang religius
(paham akhlak, mengenai alam lingkungan) menyadari
adanya keterkaitan antara dirinya dengan alam lingkungan.
Manusia religius seperti ini akan memandang alam sebagai
sahabatnya yang tidak bisa di eksploitasi secara
sewenang-wenang.

4 |A k h l a k K e p a d a L i n g k u n g a n
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan permasalahan dalam makalah ini yaitu:
A. Apa pengertian akhlak terhadap lingkungan?
B. Bagaiman prinsip-prinsip dalam pengelolaan
lingkungan?
C. Apa saja kewajiban manusia terhadap lingkungan?
C. Tujuan
Selain bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas Al-islam
kemuhammadiyaan makalah ini juga bertujuan untuk
memeberikan pengetahuan kepada pembaca mengenai:
A. Apa itu akhlak tehadap lingkungan.
B. Prinsip dalam pengelolaan lingkungan.
C. Kewajiban manusia terhadap lingkungan.
D. Manfaat
Secara ringkas dapat dikatakan bahwa Ilmu Akhlak
terhadap Lingkungan bermanfaat untuk memberikan
pedoman atau penerangan bagi manusia dalam
mengetahui perbuatan yang baik atau yang buruk
terhadap lingkungannya. Terhadap perbuatan yang baik ia
beruasaha melakukannya, dan terhadap yang buruk ia
berusaha untuk menghindarinya.

5 |A k h l a k K e p a d a L i n g k u n g a n
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian akhlak terhadap lingkungan


1. Pengertian akhlak
Akhlak menurut Bahasa adalah tingkah laku,
perangai atau tabiat. Sementara menurut Istilah
Hal yang tidak jauh berbeda juga diberikan oleh
Imam Al- Ghazali dalam mengartikan akhlak. Menurutnya,
akhlak adalah suatu sikap yang mengakar dalam jiwa
yang darinya lahir berbagai perbuatan dengan mudah dan
gampang tanpa perlu kepada pemikiran dan
pertimbangan.
Iman Al-Ghazali menyebutkan bahwa jika sikap
mental tersebut lahir perbuatan yang baik dan terpuji
maka ia disebut sebagai akhlak yang baik. Dan jika yang
lahir darinya perbuatan tercela, maka sikap tersebut
disebut dengan akhlak yang tercela.
2. Pengertian lingkungan
Yang dimaksud lingkungan di sini adalah segala
sesuatu yang berada di sekitar manusia, baik binatang,
tumbuh-tumbuhan, maupun benda-benda tak bernyawa.
Pada dasarnya, akhlak yang diajarkan Al-Quran
terhadap lingkungan bersumber dari fungsi manusia
sebagai khalifah. Kekhalifahan menuntut adanya interaksi
antara manusia dengan sesamanya dan manusia
terhadap alam lingkungan. Kekhalifahan mengandung arti
pengayom, pemeliharaan, dan pembimbingan agar setiap
makhluk mencapai tujuan penciptanya.
Dalam pandangan akhlak islam, seseorang tidak
dibenarkan mengambil buah sebelum matang atau
memetik bunga sebelum mekar. Karena hal ini berati tidak
memberi kesempatan kepada makhluk untuk mencapai

6 |A k h l a k K e p a d a L i n g k u n g a n
tujuan penciptaannya. Ini berarti manusia dituntut untuk
mampu menghormati proses-proses yang sedang
berjalan, dan terhadap semua proses yang sedang terjadi,
sehingga ia tidak melakukan pengrusakan atau bahkan
dengan kata lain, setiap perusakan terhadap lingkungan
harus dinilai sebagai perusakan pada diri manusia sendiri.
Akhlak yang baik terhadap lingkungan adalah
menciptakan suasana yang baik, serta pemeliharaan
lingkungan agar tetap membawa kesegaran, kenyamanan
hidup, tanpa membuat kerusakan dan polusi sehingga
pada akhirnya akan berpengaruh terhadap manusia itu
sendiri.
Agama islam adalah agama sempurna yang
mengatur seluruh dimensi hubungan manusia dengan
alam lingkungan. Islam mengajarkan dan menetapkan
prinsip-prinsip atau konsep dasar akhlak bagi manusia
tentang bagaimana bersikap terhadap alam
lingkungannya. Ini merupakan wujud kesempunaan Islam
dan salah satu bentuk nikmat dan kasih sayang Allah
yang tidak terbatas. Allah berfirman: pada hari ini Aku
sempurnakan untukmu agamamu, aku limpahkan atas
kamu nikmat-Ku, dan aku ridhoi Islam sebagai
agamamu(Q.S Al-Maidah:3).
B. Prinsip dalam pengelolaan lingkungan
1. Prinsip kepemilikan
Bahwa seluruh isi alam semesta adalah milik Tuhan
dan ciptaan-Nya. Prinsip ini merupakan bagian dari
keyakinan tauhid seorang Muslim sehingga
mengingkarinya berimplikasi kufur. Kalimat
tauhid/syahadat (pengakuan akan keesaan Allah)
diibaratkan oleh al-Quran sebagai satu pohon yang
akarnya teguh, cabangnya menjulang ke langit dan

7 |A k h l a k K e p a d a L i n g k u n g a n
menghasilkan setiap saat buah yang banyak lagi lezat
(Q.S. Ibrahim, 14 : 24-25). Pengakuan akan keesaan Allah
melahirkan sekian banyak buah. Salah satunya adalah
keyakinan, bahwa segala sesuatu adalah ciptaan Allah
dan milik-Nya. Kepemilikan Tuhan atas alam seluruhnya
ini ditegaskan pada ayat (Q.S. al-Baqarah, 2 : 284)
Terjemahnya:
Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan
apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa
yang ada di dalam hatimu atau kamu
menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat
perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu.
Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan
menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha
Kuasa atas segala sesuatu. (Q.S. al-Baqarah, 2 : 284)
Kata li-Allah( ) , yang memulai ayat ini biasa
diterjemahkan dengan milik-Nya. Oleh banyak pakar tafsir
kata tersebut tidak hanya dipahami dalam arti milik-Nya,
tetapi juga hasil ciptaan-Nya serta Pengelola dan
Pengatur-Nya. Memang seluruh jagat raya adalah ciptaan
Allah, milik-Nya dan disamping itu Dia Pengelola dan
Pengatur-Nya, sehingga semua tunduk kepada-Nya suka
atau tidak.
2. Prinsip Istikhlaf
Prinsip istikhlaf, yaitu manusia dititipi amanah untuk
mengurus bumi (lingkungan hidup). Hal ini didasarkan
pada firman Allah:
Terjemahnya:
Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan
nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah
menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang
beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari

8 |A k h l a k K e p a d a L i n g k u n g a n
hartanya memperoleh pahala yang besar. (Q.S. al-Hadid,
57 : 7).
Istikhlaf menyiratkan makna bahwa pemilik mutlak
dari segala sesuatu adalah Allah, manusia hanya
mendapat titipan amanah untuk mengurusnya atau
mengelolanya. Itulah sebabnya prinsip istikhlaf ini harus
dibaca bersamaan dengan pemberian amanah oleh Allah
kepada manusia dan karena itu pula harus disertai
dengan tanggung jawab.
3. Prinsip Penundukan
Bahwa seluruh jagat raya ditundukkan, oleh Allah,
untuk manusia. Prinsip ini didasarkan pada ayat al-Quran
surat Ibrahim (14: 32-33).
Terjemahnya:
Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan
menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia
mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan
menjadi rezki untukmu, dan Dia telah menundukkan
bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan
dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula)
bagimu sungai-sungai. Dan Dia telah menundukkan (pula)
bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar
(dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam
dan siang.
Ayat inilah yang mendasari kemestian manusia untuk
hidup bersahabat dengan alam. Dalam Islam tidak dikenal
istilah penundukan alam, karena istilah ini dapat
mengantarkan manusia kepada sikap sewenang-wenang,
penumpukan tanpa batas, tanpa pertimbangan pada asas
kebutuhan yang diperlukan. Istilah yang digunakan oleh
al-Quran adalah Tuhan menundukkan alam untuk

9 |A k h l a k K e p a d a L i n g k u n g a n
dikelola manusia. Pengelolaan ini disertai pesan untuk
tidak merusaknya
Dalam banyak ayat Tuhan menggunakan
katasakhkhara (menundukkan atau memudahkan) alam
raya dengan segala isinya untuk dimanfaatkan oleh
manusia. Tuhan menundukkan matahari dan bulan, Tuhan
menundukkan fauna dan flora, Tuhan menundukkan bumi,
air, angin, dan lain-lain unsur alam lingkungan. Berulang
kali Tuhan menyebut, bahwa unsur-unsur lingkungan atau
sumberdaya alam lingkungan tersebut dapat
dimanfaatkan oleh manusia setelah ditundukkan (oleh
Tuhan). Dengan demikian, Tuhan ingin menegaskan
bahwa manusia tidak akan dapat memanfaatkan sumber
daya alam tersebut kecuali setelah ditundukkan oleh
Tuhan. Di sini jelas terlihat intervensi Tuhan dalam hal
penundukan alam.
4. Prinsip al-Adlu wa al-Ihsan.
Prinsip kedelapan, al-adlu wa al-ihsan. Bahwa
perintah berlaku adil dan ihsan, juga berlaku terhadap
alam lingkungan. Dalam al-Quran surat al-Nahl, 16 : 90
Tuhan berfirman:
Terjemahnya:
Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan
berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan
Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan
permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar
kamu dapat mengambil pelajaran.
Berlaku adil dan ihsan yang diperintahkan dalam
ayat ini, selama ini difahami, sebagai berlaku adil dan
ihsan hanya kepada manusia. Tetapi dari berbagai hadis
dan praktek amaliah Rasulullah SAW diketahui, bahwa
berlaku adil dan ihsan itu tidak hanya terbatas terhadap

10 |A k h l a k K e p a d a L i n g k u n g a n
manusia tetapi juga kepada makhluk lain seperti binatang
dan tumbuhan, bahkan terhadap benda mati sekali pun.
Adil dapat diartikan memberi sebanyak yang diambil
dari lingkungan. Sedangkan ihsan dapat diartikan
memberi lebih banyak dari yang diambil dari lingkungan.
Ketika seorang pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH)
menebang 100 pohon, kemudian menanam 100 pohon,
maka ia telah berlaku adil terhadap alam lingkungan.
Akan tetapi ia dituntut bukan hanya berlaku adil tetapi
juga berbuat ihsan. Dalam hal ini tidak cukup dengan
menanam 100 pohon yaitu sebanyak yang ia tebang,
tetapi ia harus menanam 150 pohon, yaitu lebih banyak
dari yang ia tebang. Tentu saja tidak berhenti pada
kegiatan tanam-menanam semata, tetapi juga
menyiapkan seluruh sarana perawatan dan perlindungan
agar pohon yang ditanam itu benar-benar dapat tumbuh
sebesar yang ia tebang.
5. Prinsip Peruntukan
Bahwa segala isi alam diperuntukkan bagi manusia.
Prinsip ini didasarkan pada firman Tuhan, (artinya) : Dia-
lah Allah yang menciptakan untuk kamu segala apa yang
ada di bumi (Q. S. al-Baqarah, 2 : 29).
Terjemahnya:
Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi
untuk kamu dan Dia berkehendak menuju langit, lalu
dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui
segala sesuatu.
Bagaimana kalian kafir, padahal Allah bukan hanya
menghidupkan kamu di dunia, tetapi juga menyiapkan
sarana kehidupan di dunia, Dia menciptakan untuk kamu
apa yang ada di bumi semua, sehingga semua yang kamu
butuhkan untuk kelangsungan dan kenyamanan hidup

11 |A k h l a k K e p a d a L i n g k u n g a n
kamu terhampar, dan itu adalah bukti kemahakuasaan-
Nya.
C. Kewajiban manusia terhadap lingkungan
Nabi Muhammad SAW mengimbau kepada umat Islam agar
senang menanan tanaman atau pohon untuk berbagai
kepentingan: baik untuk kepentingan konsumsi (pangan),
kepentingan penanggulangan lahan kritis ( ) ,
maupun untuk kepentingan lainnya.
Mari kita baca hadis-hadis Nabi SAW berikut ini.
Hadis Nabi SAWyang Artinya :
Rasulullah SAW bersabda, tiadalah seseorang dari
kalangan orang Islam yang menanam tanaman atau
menanam (menabur) benih tanaman, kemudian burung
ataupun binatang ternak memakan (buah) tanaman itu,
kecuali baginya memperoleh pahala sedekah (H.R. Bukhari,
Muslim dan Tirmidzi, dari Anas).

Pada hadis lain disebutkan.















( )

Artinya :

Rasulullah SAW bersabda, tiadalah seseorang dari kalangan


orang Islam yang menanam tanaman, kecuali dia mendapat
pahala sedekah atas hasil tanaman yang telah dimakannya.
Apa yang telah dicuri (oleh orang) dari tanaman itu, maka dia
(si penanam) mendapat pahala sedekah. Apa yang dimakan
oleh binatang buas dari tanaman itu, maka dia (si penanam)
juga mendapat pahala sedekah, dan apa yang dimakan oleh
burung dari tanaman itu, maka dia (si penanam) mendapat
pahala sedekah. Dan tidaklah seseorang dapat

12 |A k h l a k K e p a d a L i n g k u n g a n
mengambilnya, terkecuali bahwa si penanam tetap mendapat
pahala sedekah (H. R. Muslim, dari Jabir).

Berkenaan dengan kewajiban menanam ini, kiranya perlu


dikemukakan sebuah hadis yang selama ini banyak disebut,
yaitu bahwa kewajiban menanam itu bukan hanya anjuran,
tetapi tuntutan, yang memfaedahkan hukum wajib. Nabi SAW
bersabda.












( )

Artinya :

Rasulullah SAW bersabda, sekiranya kiamat datang, sedang


di tanganmu ada anak pohon kurma, maka jika dapat (terjadi)
untuk tidak berlangsung kiamat itu sehingga selesai
menanam tanaman, maka hendaklah dikerjakan (pekerjaan
menanam itu) (H. R. Ahmad, dari Anas bin Malik).

Hadis tersebut memberi petunjuk, bahwa sekiranya akan


terjadi kiamat, dan masih sempat menanam tanaman, maka
Nabi menyuruh agar tanaman itu segera ditanam. Ini
menunjukkan betapa pentingnya kegiatan tanam menanam
pepohonan atau tetumbuhan. Dalam hubungan ini menarik
untuk dikemukakan komentar Muhammad Quthb terhadap
hadis ini, seperti yang dikutip Zainal Abidin Ahmad, bahwa
sangatlah mengesankan perintah menanam bibit kurma yang
umurnya memakan waktu tahunan, padahal kiamat sudah
berada di ambang pintu. Dikatakannya : Ya Tuhan ! Harus
ditanamkannya? Dan apakah yang mesti ditanam itu? Bibit
kurma yang baru menghasilkan buah setelah bertahun
lamanya, padahal kehancuran dunia (kiamat) sudah pasti

13 |A k h l a k K e p a d a L i n g k u n g a n
dengan yakin akan terjadi. Ya Allah ! Hanya Nabi Islam,
penutup dari segala Nabi, yang akan berhak mengatakan ini.
Islam satu-satunya agama yang mungkin menggerakkan hati
manusia untuk berbuat ini, dan hanyalah Nabi Islam satu-
satunya yang mungkin membawa petunjuk demikian dan
akan memimpin manusia lainnya. Inilah sejarah dunia
seluruhnya. Tiada contoh bandingan inti ajaran sebagai
ajaran Rasulullah SAW ini.

Adapun larangan menebang/menghanguskan tanaman


atau pepohonan dapat terlihat dari kisah di mana
diriwayatkan bahwa Abu Bakar, ketika ia menjadi khalifah,
mengirim pasukan ke Syam, dia berpesan agar pasukan
dalam melakukan peperangan (sedapat mungkin) tidak
memotong atau menebang pohon di daerah peperangan itu.
Riwayat tentang pesan/wasiat Khalifah Abu Bakar tersebut
telah dikemukakan oleh Malik bin Anas dalam al-
Muwaththasebagai berikut.

Saya berwasiat kepada anda sepuluh macam : 1) Janganlah


membunuh perempuan; 2) Janganlah membunuh anak-anak;
3) Janganlah membunuh orang-orang yang sudah tua; 4)
Janganlah memotong pohon yang sedang berbuah; 5)
Janganlah meruntuhkan bangunan; 6) Janganlah memotong
domba; 7) Janganlah memotong unta, kecuali bila domba dan
unta itu untuk dimakan; 8) Janganlah membakar pohon
kurma dan jangan pula menenggelamkannya
(memusnahkannya); 9) Janganlah berlaku khianat; dan 10)
Janganlah menakut-nakuti (rakyat) (H. R. Malik, dari Yahya bin
Said).

14 |A k h l a k K e p a d a L i n g k u n g a n
Dari sepuluh wasiat Abu Bakar ini, dua diantaranya adalah:
jangan memotong pohon yang sedang berbuah, dan jangan
membakar pohon kurma dan jangan pula
menenggelamkannya (memusnahkannya). Dari wasiat
tersebut dapat difahami, bahwa dalam keadaan perang pun
sedapat mungkin dihindari pembabatan pohon-pohon,
terutama yang sedang berbuah, karena pohon-pohon
tersebut sangat bermanfaat bagi manusia dan makhluk
lainnya. Dalam kerangka ini pulalah, buah yang belum
mencapai kematangannya, dianjurkan untuk tidak dipetik
karena hal ini berarti tidak memberi kesempatan kepada
makhluk itu untuk mencapai tujuan penciptaannya.

BAB III

PENUTUP

15 |A k h l a k K e p a d a L i n g k u n g a n
A. Simpulan
Manusia diciptakan sebagai khalifah di bumi. Semua yang
ada di bumi termasuk alam semesta diciptakan untuk
manusia. Seharusnya kita menyadari bahwa Allah
manciptakan flora & fauna untuk kemanfaatan manusia,
seperti halnya, dengan mengambil manfaat dari buah-
buahan. Karena itu kita harus menjaga dan melestarikannya.
Jangan sampai kita membuat kerusakan terhadap flora &
fauna.
Oleh karena itu marilah kita berakhlak baik kepada
lingkungan yaitu dengan menjaga, merawat dan
melestarikannya sehingga akan terwujud kehidupan yang
aman damai sejahtera dan hal itu tentunya menjadi tujuan
adanya etika di dalam masyarakat baik berbangsa maupun
bernegara.
B. Saran
Saran kami kepada pembaca agar tak henti-hentinya
menambah pengetahuan mengenai akhlak khususnya
akhlak terhadap lingkungan mengingat begitu terbatasnya
materi yang kami sediakan dalam maklah ini.

DAFTAR PUSTAKA

16 |A k h l a k K e p a d a L i n g k u n g a n
Amin, Ahmad, Prof.,Dr.1955. Ethika (ilmu akhlak). Jakarta: Bulan
Bintang.

Drs. H. Ambo Asse, M.Ag. 2003. Al-Akhlak al-Karimah Dar al-


Hikmah wa al-Ulum.Makassar: Berkah Utami.

Muhammad Al-Ghazali, Akhlak seorang muslim,Penerbit:Pt. Al-


maarif Bandung : Pustaka Beta.

Rasyid, Hamdan, Drs.KH. 2007. Bimbingan Ulama Kepada Umara


dan Umat.

17 |A k h l a k K e p a d a L i n g k u n g a n

Anda mungkin juga menyukai