Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN KASUS PSIKIATRI

Nama : Tn.F

Umur : 27 tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki

Alamat : Jl.Tadulako

Agama : Islam

Status Perkawinan : Belum Menikah

Pendidikan terakhir : SMA

Tanggal Pemeriksaan : 4 Januari 2016

Tempat Pemeriksaan : Poli Jiwa RSUD Undata Palu

LAPORAN PSIKIATRIK

I. RIWAYAT PENYAKIT
A. Keluhan utama
Cemas
B. Riwayat Gangguan Sekarang
Seorang laki-laki umur 27 tahun, belum menikah, datang sendiri ke
RSUD Undata tanggal 4 Januari 2016, keluhan cemas. Keluhan cemas
ini sudah dirasakan sejak 1 tahun yang lalu.
Pasien pernah mengkonsumsi minuman beralkohol yakni cap tikus
yang dimulai sejak tahun 2005 sampai 2014, serta merokok sejak SMP
sampai sekarang.
Pasien merupakan anak ke-5 dari 6 bersaudara. Menurut
pengakuan pasien, ia lahir normal di RS Budi Agung dan tidak
mengalami masalah saat lahir. Hubungan pasien dengan orang tua serta
saudara baik. Ayah pasien meninggal saat pasien berumur 4 tahun, dan
selanjutnya pasien dibesarkan oleh ibunya seorang diri sampai dewasa.

1
Menurut pengakuan pasien, di dalam keluarga tidak ada yang
mengalami keluhan yang sama dengan pasien, maupun yang pernah
berobat di poli jiwa.
Pasien merupakan pasien yang rajin kontrol di poli, menurutnya 2
minggu sebelumnya ia datang, dan kontrol kembali sebab obatnya
sudah habis. Pasien mulai berobat di Poli Jiwa awal tahun lalu, di salah
satu rumah sakit di Balikpapan dengan keluhan yang sama yakni
kecemasan, kemudian pasien pindah ke Palu, lalu melanjutkan
pengobatan di RSUD Undata sampai sekarang.

Hendaya Disfungsi
Hendaya Sosial (-)
Hendaya Pekerjaan (-)
Hendaya Penggunaan Waktu Senggang (-)

Faktor Stressor Psikososial (-)

Hubungan gangguan sekarang dengan riwayat penyakit


sebelumnya.
Pasien adalah pasien kontrol di poli jiwa, mulai dari awal tahun
2014 pasien sudah berobat di poli jiwa dengan keluhan yang sama.

C. Riwayat Gangguan Sebelumnya.


Tidak ada riwayat kejang, infeksi berat, penggunaan NAPZA,
pasien pernah mengkonsumsi minuman beralkohol yakni cap tikus
yang dimulai sejak tahun 2005 sampai 2014, serta merokok sejak SMP
sampai sekarang.

Ada riwayat trauma jatuh dari motor menyebabkan luka robek pada
daerah sekitar samping mata kiri dan sempat dijahit.

D. Riwayat Kehidupan Peribadi


Riwayat Prenatal dan Perinatal
Menurut pengakuannya, pasien lahir normal di RS Budi Agung,
tidak ada masalah selama kehamilan dan saat melahirkan. Pasien
anak kelima dari enam bersaudara (L,L,P,L,L,P)

2
Riwayat Masa Kanak Awal (1-3 tahun)
Pasien mendapatkan ASI dari ibunya hingga 2 tahun, pertumbuhan
dan perkembangan sesuai umur, tidak ada riwayat kejang, trauma
atau infeksi pada masa ini. Pasien mendapatkan kasih sayang dari
orang tua.

Riwayat Masa Pertengahan (4-11 tahun)


Pasien diasuh oleh ibunya mulai umur 4 tahun. Ayah pasien
meninggal saat pasien umur 4 tahun. Pertumbuhan dan
perkembangan baik. Pasien masuk sekolah dasar di kampungnya
pada umur 6 tahun. Pertumbuhan dan perkembangan sama dengan
anak seusianya.

Riwayat Masa Kanak Akhir dan Remaja. ( 12-18 tahun)


Pasien melanjutkan pendidikan ke SMP dan SMA. Saat SMP
pasien mulai merokok dan mengkonsumsi minuman beralkohol
cap tikus. Pasien bergaul baik dengan teman-teman seusinya, dan
tidak ada permasalahan. Saat tahun 2006, pasien pernah tenggelam
di laut, saat itu pasien tidak bias berenang. Kemudian, pasien
ditolong oleh orang dan akhirnya selamat. Sejak saat itu, sampai
tahun 2014 pasien mengaku tidak takut akan air. Namun, di tahun
2015, pasien kembali takut akan air laut karena teringat peristiwa
yang pernah ia alami.

Riwayat Kehidupan Keluarga


Pasien anak ke-5 dari 6 bersaudara. Pasien sangat mencitai
keluarga dan keluarga pun sangat mencitai pasien. Hubungan
pasien dengan ibu, almarhum bapak serta ke 5 saudaranya baik.

E. Situasi Sekarang
Pasien tinggal bersama pamannya sekeluarga.

F. Persepsi pasien tentang diri dan kehidupan.

3
Pasien sadar kalau dirinya sakit dan perlu pengobatan

II. STATUS MENTAL


A. Deskripsi Umum
Penampilan:
Tampak seorang laki-laki menggunakan baju kaos dan jaket
serta celana panjang, Postur tinggi badan sekitar 170 cm,
tampakan wajah pasien sesuai dengan umur, perawakan
biasa, perawatan diri cukup.
Kesadaran: compos mentis, tidak berubah
Perilaku dan aktivitas psikomotor : tidak melakukan gerakan-gerakan
aneh
Pembicaraan : spontan, intonasi cukup, dapat dipahami,
Sikap terhadap pemeriksa : kooperatif

B. Keadaan afektif
Mood : eutimia
Afek : luas
Keserasian : serasi
Empati : dapat dirabarasakan

C. Fungsi Intelektual (Kognitif)


Taraf pendidikan, pengetahuan umum dan kecerdasan
Pengetahuan dan kecerdasan sesuai taraf pendidikannya.
Daya konsentrasi : baik
Orientasi : baik
Daya ingat
Jangka Pendek : baik
Jangka sedang : Baik
Jangka Panjang : Baik
Pikiran abstrak : Tidak baik
Bakat kreatif : Tidak ditemukan
Kemampuan menolong diri sendiri : baik

D. Gangguan persepsi
Halusinasi : Tidak ada
Ilusi : Tidak ada
Depersonalisasi : Tidak ada
Derealisasi : Tidak ada

4
E. Proses berpikir
Arus pikiran :
A.Produktivitas : Cukup
B. Kontinuitas : Relevan
C. Hendaya berbahasa : Tidak ada
Isi Pikiran
A. Preokupasi : tidak ada
B. Gangguan isi pikiran : waham (-),
Obsesif (+) :ingin jatuh ke air tiap dekat
jembatan
F. Pengendalian impuls
Baik

G. Daya nilai
Norma sosial : Baik
Uji daya nilai : Baik
Penilaian Realitas : Baik

H. Tilikan (insight)
Derajat 6 : Sadar kalau dirinya sakit dan perlu pengobatan

Taraf dapat dipercaya


Dapat dipercaya

III. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK LEBIH LANJUT


Pemeriksaan fisik :
Status internus: T : 120/70 mmHg, N:74x/menit, S: 36.5 C, P : 20 x/menit,
kongjungtiva tidak pucat, sclera tidak icterus, jantung dan paru dalam
batas normal,fungsi motorik dan sensorik ke empat ekstremitas dalam
batas normal.

Status neurologis : pemeriksaan kaku kuduk : (-), reflex fisiologis (+),


reflex patologis (-)GCS : E4M6V5, fungsi kortikal luhur dalam batas normal
, pupil bundar isokor , reflex cahaya (+)/(+)

IV. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA

5
Seorang laki-laki umur 27 tahun, belum menikah, datang sendiri ke
RSUD Undata tanggal 4 Januari 2016, keluhan cemas. Keluhan cemas ini
sudah dirasakan sejak 1 tahun yang lalu. Keluhan cemas ini dirasakan tiap
hari, saat pikiran ingin jatuh ke air tiap kali melewati jembatan. Pasien
pernah mengkonsumsi minuman beralkohol yakni cap tikus yang dimulai
sejak tahun 2005 sampai 2014, serta merokok sejak SMP sampai sekarang.
Pasien merupakan anak ke-5 dari 6 bersaudara. Menurut pengakuan
pasien, ia lahir normal di RS Budi Agung dan tidak mengalami masalah
saat lahir. Hubungan pasien dengan orang tua serta saudara baik. Ayah
pasien meninggal saat pasien berumur 4 tahun, dan selanjutnya pasien
dibesarkan oleh ibunya seorang diri sampai dewasa.
Menurut pengakuan pasien, di dalam keluarga tidak ada yang
mengalami keluhan yang sama dengan pasien, maupun yang pernah
berobat di poli jiwa.
Pasien merupakan pasien yang rajin kontrol di poli, menurutnya 2
minggu sebelumnya ia datang, dan kontrol kembali sebab obatnya sudah
habis. Pasien mulai berobat di Poli Jiwa awal tahun lalu, di salah satu
rumah sakit di Balikpapan dengan keluhan yang sama, kemudian pasien
pindah ke Palu, lalu melanjutkan pengobatan di poli jiwa RSUD Undata
sampai sekarang.
Awalnya pasien tenggelam di air laut tahun 2006 saat hendak
memancing. Saat itu, pasien tidak tahu berenang, dan kemudian tertolong.
Dari tahun 2007 2014 pasien masih sering memancing ikan di tempat
kejadian, namun tidak takut akan air laut. Tahun 2015, pasien berlibur di
Balikpapan, dan melewati jembatan, pasien kemudian cemas lalu
mempunyai pikiran untuk menjatuhkan diri ke air di bawah jembatan,
namun pikiran tersebut tidak diikuti oleh tindakan.untuk menjatuhkan diri
ke air. Pikiran-pikiran ini sering kali muncul setiap kali pasien melintasi
jembatan tersebut.
Pada pemeriksaan status mental, tampak seorang laki-laki
menggunakan baju kaos dan jaket serta celana panjang, Tampak
Postur tinggi badan pasien sekitar 170 cm, tampakan wajah pasien sesuai
dengan umurnya. Perawakan biasa. Perawatan diri cukup. Kesadaran

6
compos mentis, tidak berubah, perilaku dan aktivitas psikomotor : tidak
melakukan gerakan-gerakan aneh, pembicaraan : spontan, intonasi cukup,
dapat dipahami, sikap terhadap pemeriksa : kooperatif.
Perilaku dan aktivitas psikomotor pasien tenang, tidak melakukan
gerakan aneh, pembicaraan kadang tidak sesuai dengan yang sedang
dibicarakan, mood euforia, afek luas, keserasian: tidak serasi
(inappropriate), empati tidak dapat dirabarasakan. Gangguan proses
berfikir didapatkan produktivitas banyak; kontinuitas: relevan,
halusinasi (-) dan waham (-), obsesif (+) ingin jatuh ke air tiap dekat
jembatan. Tilikan derajat 6.

V. EVALUASI MULTIAKSIAL
Aksis I:
Pada pasien merasa cemas tiap kali terpikir masalah tenggelamnya
di laut, untuk mengatasi perasaan cemasnya pasien berdoa
berulang-ulang (gangguan fisik berulang). sehingga pada pasien ini
merupakan penderita gangguan neurotik, gangguan
somatoform, dan gangguan terkait stress.
Sejak 1 tahun yang lalu, pasien memiliki pikiran cemas sifatnya
datang tiap hari, yang tidak menyenangkan dan melakukan
kegiatan berulang yaitu berdoa berulang-ulang disaat pikiran
cemas itu datang. Karena itu pada pasien ini terdapat gagasan,
bayangan pikiran atau impuls untuk melakukan kegiatan berulang-
ualng yang sifatnya menggangu dan menyebabkan distress (pikiran
obsesif). Pasien sering kali melakukan kegiatan berulang yakni,
berdoa berulang-ulang sampai menghabiskan waktu berjam-jam
saat pikiran cemas itu datang (tindakan kompulsif), hal ini telah
terjadi selama lebih dari 2 minggu berturut-turut, maka pasien ini
merupakan penderita Gangguan Obsesif Kompulsif (F.42)
Aksis II
Tumbuh kembang masa kanak-kanak baik, dapat bersosialisasi
maka itu pasien tidak ada gangguan keprbiadian. Pasien dapat
menyelesaikan pendidikan dasar SD sampai SMA. Fungsi kognitif

7
baik, tidak terdapat retardasi mental. Karena tidak ditemukan
gangguan kepribadian dan retardasi mental, maka tidak ada
diagnosis aksis II.
Aksis III
Pada anamnesis, pemeriksaan fisik pada pasien ditemukan tekanan
darah 120/70 mmHg dan tidak terdapat gangguan organik. Maka
tidak ada diagnosis aksis III.

Aksis IV
Pasien merupakan anak ke5 dari 6 bersaudara, hubungan pasien
dengan keluarga baik, tidak ada masalah dalam berinteraksi dan
bersosialisasi di dalam lingkungannya. Maka tidak ada diagnosis
aksis IV.

Aksis V
Pada aksis V, ditemukan beberapa gejala minimal, menetap,
disabilitas ringan dalam fungsi, secara umum masih baik, maka
aksis V didapat GAF Scale 70-61

VI. DAFTAR MASALAH


Organobiologik
Terdapat ketidakseimbangan neurotransmitter sehingga pasien
memerlukan psikofarmaka.
Psikologis : terdapat gangguan obsesif kompulsif

VII. PROGNOSIS
Dubia ad bonam

Faktor yang mempengaruhi :


- Pasien patuh minum obat dan kontrol secara rutin
- Respon terhadap pengobatan baik
- Pasien dapat bersosialisasi baik dengan teman kerja
- Pasien berusaha melawan gagasannya untuk melakukan kegiatan secara berulang

8
- Keluarga pasien mendukung pasien untuk sembuh dengan memberikan dorongan
dan semangat, yakni mengingatkan untuk minum obat dan kontrol secara rutin di Poli
Jiwa.

VIII. RENCANA TERAPI


Farmakoterapi :

- Terapi yang paling sering digunakan untuk gangguan obsesif


kompulsif adalah Clomirpramin dan SSRI.
Clomipramin adalah antidepresan trisiklik yang bekerja selain
meningkatkan serotonin, juga memblok ambilan kembali reseptor
kolinergik, histamine H1, adrenergic -1, kanal Natrium pada jantung
dan otak. Sehingga efek antikolinergik seperti mulut kering,
takikardi,konstipasi, penglihatan kabur. Berdasarkan efek sampingnya
ini, psikiatri lebih sering menggunakan SSRI. Dosis awal ynag bias
diberikan adalah 25 mg/hari atau kurang dan akan meningkatkan
toleransi pada awal penggunaan.
- SSRI
Obat SSRI menghambat reuptake serotonin pada membrane
prasinaptik. Dengan demikian, SSRI meningkatkan neurotransmisi
serotonin dalam otak. Efek samping paling umum untuk SSRI ialah
mual muntah umumnya pada minggu pertama terapi, agitasi, insomnia
atau somnolen, meningkatkan keringat, dan efek menurunkan libido
sehingga sulit ereksi serta orgasme.
Contoh obat yang bisa diberikan Fluoxetin (2 x 10 mg) per hari.

9
Terapi perilaku kognitif

Komponen pertama terapi ini adalah secara sengaja memaparkan diri


pasien ke sumber obsesi. Kemudian pasien akan diminta untuk menahan
diri dari perilaku kompulsif yang biasanya Anda akan lakukan untuk
mengurangi kecemasan. omponen kedua adalah terapi kognitif yatitu
dengan melatih diri mengatasi pikiran obsesif dan belajar merespon
pikiran tersebut bukan dengan melakukan tindakan kompulsif.

10
Psikoterapi suportif

Ventilasi : Memberikan kesempatan kepada pasien untuk


mengungkapkan isi hati dan keinginannya sehingga pasien merasa
lega.
Persuasi: Membujuk pasien agar memastikan diri untuk selalu kontrol
dan minum obat dengan rutin.
Sugesti: Membangkitkan kepercayaan diri pasien bahwa dia dapat
sembuh (penyakit terkontrol).
Desensitisasi: Pasien dilatih bekerja dan terbiasa berada di dalam
lingkungan kerja untuk meningkatkan kepercayaan diri.

Sosioterapi
Memberikan penjelasan kepada keluarga dan orang-orang sekitarnya
sehingga tercipta dukungan sosial dengan lingkungan yang kondusif
untuk membantu proses penyembuhan pasien serta melakukan
kunjungan berkala.

IX. FOLLOW UP
Memantau keadaan umum pasien dan perkembangan penyakit serta
menilai efektifitas pengobatan yang diberikan dan kemungkinan
munculnya efek samping obat yang diberikan.

X. PEMBAHASAN/ TINJAUAN PUSTAKA


Obsesi adalah aktivitas mental seperti pikiran, perasaan, ide, impuls
yang berulang dan intrusif. Kompulsi adalah pola perilaku tertentu yang
berulang dan disadari seperti menghitung, memeriksa dan menghindar.
Tindakan kompulsi merupakan usaha untuk meredakan kecemasan yang
berhubungan dengan obsesi namun tidak selalu berhasil meredakan
ketegangan. Pasien dengan gangguan ini menyadari bahwa pengalaman
obsesi dan kompulsi tidak beralasan sehingga bersifat egodistonik.

11
Prevalensi gangguan ini 2-2,4 %, dengan perbandingan sama antara
laki-laki dan perempuan. Penyebabnya bersifat multifaktor antara lain
faktor biologik, genetik, faktor psikososial.
Pada penelitian Mancebo,dkk (2009) yang berjudul Substance Use
Disorders in an Obsessive Compulsive Disorder Clinical Sample,
didapatkan, 70%subjek yang komorbid penyalahgunaan zat, obsesisf
kompulsif didahului gangguan penggunaan zat setidaknya satu tahun.

Menurut PPDGJ III, kriteria Gangguan obsesif kompulsif :


- Untuk menegakkan diagnosis pasti, gejala-gejala atau tindakan
kompulsif atau kedua-duanya harus ada hampir setiap hari selama
sedikitnya dua minggu berturut-turut.
- Hal tersebut merupakan sumber penderitaan (distress) atau menggangu
aktivitas penderita.
- Gejala obsesif harus mencakup :
a. Harus disadari sebagai pikiran atau impuls diri sendiri
b. Sedikitinya ada satu pikiran atau tindakan yang tidak berhasil
dilawan, meskipun ada lainnya yang tidak lagi dilawan oleh
penderita;
c. Pikiran untuk melakukan tindakan tersebut diatas bukan
merupakan hal yang memberi kepuasan atas kesenangan (sekedar
perasan lega dari ketegangan atau anxietas, tidak dianggap sebagai
kesenagnan seperti dimaksud diatas)
d. Gagasan, bayangan, pikiran, atau impuls tersebut harus merupakan
pengulangan yang tidak menyenangkan (unpleasant repetitive)
- Adanya kaitan erat antara gejala obsesif, terutama pikiran obsesif
dengan depresi. Penderita gangguan obsesif kompulsif sering kali juga
menunjukkan gejala depresif dan sebaliknya penderita gangguan
depresi berulang dapat menunjukkan pikiran obsesif selama episode
depresinya. Dalam berbagai situasi dari kedua hal tersebut, meningkat
atau menurunnya gejala depresif umumnya dibarengi secara parallel
dengan perubahan gejala obsesif. Bila terjadi episode akut dari
gangguan tersebut, maka diagnosis diutamakan dari gejala-gejala yang

12
timbul lebih dahulu. Diagnosis gangguan obsesif kompulsif ditegakkan
hanya bila tidak ada gangguan depresi pada saat gejala obsesif
kompulsif tersebut timbul. Bila dari keduanya tidak menonjol, maka
lebih baik menganggap depresi sebagai diagnosis primer. Pada
gangguan menahun, maka priortias diberikan pada gejala yang paling
bertahan saat gejala lain menghilang.
- Gejala obsesif sekunder yang terjadi pada gangguan skizofrenia,
sindrom Tourette, atau gangguan mental organic harus dianggap
sebagai bagian dari kondisi tersebut.

Pada kasus ini, diagnosis banding yang bisa diangkat adalah :


1. Fobia khas
Pedoman diagnostik Fobia khas menurut PPDGJ III,
- Semua kriteria dibawah ini harus dipenuhi untuk diagnosis pasti :

13
a. Gejala psikologis, perilaku atau otonomik yang timbul harus
merupakan manifestasi primer dari anxietasnya dan bukan
sekunder dari gejala-gejala lain seperti misalnya waham atau
pikiran obsesif;
b. Anxietas harus terbatas pada adanya objek atau situasi fobik
tertentu (highly specific situations); dan
c. Situasi fobik tersebut sedapat mungkin dihindarinya.
- Pada fobia khas ini umumnya tidak ada gejala psikiatrik lain, tidak
seperti halnya agoraphobia dan fobia sosial.
Fobia khas tidak bisa dijadikan diagnosis banding sebab
ketakutannya terhadap air malah membuat pikiran obsesifnya untuk
jatuh ke air saat berada di dekat jembatan serta pasien setelah kejadian
tenggalam di air laut tetap ke tempat dimana ia tenggalam untuk
kembali memancing ikan bukan menghindarinya.
2. Gangguan cemas menyeluruh
Pedoman diagnostik Fobia khas menurut PPDGJ III :
- Penderita harus menunjukkan anxietas sebagai gejala primer yang
berlangsung hampir setiap hari untuk beberapa minggu sampai
beberapa bulan, yang terbatas atau hanya menonjol pada keadaan
situasi khusus tertentu saja (sifatnya free floating atau
mengambang)
- Gejala-gejala tersebut biasanya mencakup unsur-unsur berikut:
a. Kecemasan (khawatir akan nasib buruk, merasa seperti di ujung
tanduk, sulit konsentrasi,dsb);
b. Ketegangan motorik (gelisah, sakit kepala, gemetar, tidak dapat
santai); dan
c. Overaktivitas otonomik (kepala terasa ringan, berkeringat, jantung
berdebar-debar, sesak napas, keluhan lambung, pusing kepala,
mulut kering,dsb)
- Pada anak-anak sering terlihat adanya kebutuhan berlebihan untuk
ditenangkan (reassurance) serta keluhan-keluhan somatik berulang
yang menonjol
- Adanya gejala-gejala lain yang sifatnya sementara (untuk beberapa
hari), khususnya depresi, tidak membatalkan diagnosis utama
Gangguan Anxietas Menyeluruh, selama hal tersebut tidak memenuhi

14
kriteria lengkap dari episode depresif (F.32.-), gangguan anxietas fobik
(F40.-), gangguan panic(F41.0), atau gangguan obsesif kompulsif
(F.42.-)
Gangguan kecemasan menyeluruh tidak bisa ditegakkan sebagai
diagnosis karena kecemasan tidak berlangsung hampir setiap hari
melainkan saat melihat jembatan saja muncul kecemasan terhadap air
laut.
3. Gangguan Stress Pasca Trauma
Pedoman diagnostik Fobia khas menurut PPDGJ III :
- Diagnosis baru ditegakkan bilamana gangguan ini timbul dalam kurun
waktu 6 bulan setelah kejadian traumatik berat (masa laten yang
berkisar antara beberapa minggu sampai beberapa bulan, jarang sampai
melampaui 6 bulan)
Kemungkinan diagnosis masih dapat ditegakkan apabila tertundanya
waktu mulai saat kejadian dan onset gangguan melebihi waktu 6 bulan,
asal saja manifestasi klinisnya adalah khas dan tidak didapat alternatif
kategori gangguan lainnya
- Sebagai bukti tambahan selain trauma, harus didapatkan bayang-
bayang atau mimpi-mimpi dari kejadian traumatik tersebut secara
berulang-ulang kembali (flashback).
- Gangguan otonomik, gangguan afek dan kelainan tingkah laku
semuanya dapat mewarnai diagnosis tetapi tidak khas.
- Suatu sequel menahun yang terjadi lambat setelah stress yang luar
biasa, misalnya saja beberapa puluh tahun setelah trauma,
diklasifikasikan dalam kategori F62.0 (perubahan kepribadian yang
berlangsung lama setelah mengalami katastrofa).
Gangguan stress pasca trauma tidak bisa ditegakkan sebagai
diagnosis karena dari segi onsetnya pasien baru merasakan takut air 9
tahun setelah kejadian, tidak ada disertai bayang-bayang atau mimpi
dari kejadian melainkan pikiran obsesif untuk jatuh ke air.

15
DAFTAR PUSTAKA

1. Maslim R, 2001. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas


dari PPDGJ-III. Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya,
Jakarta.
2. Elvira S, Hadisukanto G, 2013. Buku Ajar Psikiatri Edisi Kedua. Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.
3. Arozal & Gan, 2012. Farmakologi dan Terapi FK UI,Edisi 5,Badan
Penerbit FK UI, Jakarta.
4. Sadock B.J. & Sadock V.A., 2010. Buku Ajar Psikiatri Klinis, Edisi 2.
EGC, Jakarta.
5. Mancebo,et all, 2009. Substance Use Disorder in an Obsessive
Compulsive Disorder Clinical Sample, Journal Anxiety Disroder,
Mineesota, page : 1.
6. Koran L.,M et all, 2006. Practice Guideline Treatment of Patient with
Obsessive Compulsive Disorder, American Psychiatric Association,
America, page 11.
7. Bandelow B., et all, 2012. Guidelines for the pharmacological treatment of
anxiety disorder, obsessive-compulsive disorder and posttraumatic stress
disorder in primary care, International Journal of Psychiatry in Clnical
Practice, America, page 80.

16
17

Anda mungkin juga menyukai