Anda di halaman 1dari 6

BAB V

PEMBAHASAN

5. 1 Pengetahuan Lansia Tentang Posyandu Lansia

Berdasarkan hasil penelitian sebelum dilakukan intervensi, didapatkan


sejumlah besar responden sudah berpengetahuan baik yaitu 37,77% dan
berpengetahuan rendah 56,67%, rata-rata nilai pengetahuan sebelum dilakukan
intervensi 62,22%. Hal ini menandakan pengetahuan lansia tentang Posyandu
lansia masih rendah, sehingga hal ini perlu ditingkatkan lagi mengingat hanya
sebagian kecil yang masih memiliki pengetahuan baik tentang Posyandu lansia.
Pengetahuan yang rendah tentang manfaat posyandu lansia
dapat menjadi kendala bagi lansia dalam mengikuti kegiatan
posyandu lansia. Pengetahuan yang salah tentang tujuan dan
manfaat posyandu dapat menimbulkan salah persepsi yang
akhirnya kunjungan ke posyandu rendah. Pengetahuan lansia akan manfaat
posyandu ini dapat diperoleh dari pengalaman pribadi dalam kehidupan sehari-
harinya. Dengan menghadiri kegiatan posyandu, lansia akan mendapatkan
penyuluhan tentang bagaimana cara hidup sehat dengan segala keterbatasan atau
masalah kesehatan yang melekat pada mereka. Dengan pengalaman ini,
pengetahuan lansia menjadi meningkat, yang menjadi dasar pembentukan sikap
dan dapat mendorong minat atau motivasi mereka untuk selalu mengikuti kegiatan
posyandu lansia.27
Sebagian besar lansia yang tidak aktif ke posyandu mempunyai tingkat
pengetahuan kurang. Lansia umumnya mempunyai kemampuan daya ingat yang
menurun, sehingga mudah melupakan apa yang baru disampaikan dan ini
berdampak pada tingkat pengetahuan para lansia yang masih kurang terutama
mengenai manfaat dan tujuan dari adanya posyandu lansia. Lansia memiliki
kemunduran kemampuan kognitif, seperti ingatan pada hal-hal dari masa muda
lebih baik daripada hal-hal yang baru terjadi.42
Setelah dilakukan penyuluhan tentang posyandu lansia, pengetahuan lansia
mengalami peningkatan. Lansia yang memiliki pengetahuan baik meningkat

33
34

menjadi 84,44% dan berpengetahuan rendah menjadi 15,55%. Nilai rata-rata


pengetahuan Lansia juga mengalami peningkatan menjadi 16,26%.
Penelitian yang mendukung atau hampir sama dengan penelitian ini adalah
penelitian yang dilakukan oleh Lestari dan Mulyadi pada dalam penelitiannya
menyatakan bahwa ada hubungan bermakna antara pengetahuan dengan
pemanfaatan posyandu lansia.28,29 Penelitian Ariyani juga menunjukkan secara
statistic adanya hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan
pemanfaatan posyandu lansia.30 Selain itu Andayani dalam penelitiannya juga
mengatakan bahwa responden yang memiliki pengetahuan yang baik tentang
posyandu lansia berpeluang 2,78 kali untuk memanfaatkan pelayanan posyandu
lansia secara optimal dibandingkan yang berpengetahuan rendah. 31

5. 2 Sikap Lansia Tentang Posyandu Lansia


Berdasarkan hasil penelitian sebelum dilakukan intervensi, sikap lansia
sebelum dilakukan intervensi menunjukkan bahwa sikap baik tentang Posyandu
lansia sebesar 33,33% dan sikap kurang baik sebesar 77,77%. Nilai rata-rata sikap
lansia sebelum dilakukan intervensi yaitu 13,26%. Hasil ini menunjukkan bahwa
sikap lansia pada umumnya kurang baik terhadap posyandu lansia.
Rendahnya sikap lansia yang baik tentang pemanfaatan posyandu lansia bisa
dipengaruhi karena berbagai hal. Dalam pengamatan di lapangan
masyarakat umumnya beranggapan bahwa posyandu hanya
untuk orang yang sudah tua (umur 60 tahun ke atas) sehingga
mereka enggan untuk melakukan mengikuti posyandu dan
adanya persepsi di masyarakat yang menyatakan bahwa
pelayanan kesehatan di posyandu tidak mencukupi kebutuhan
kesehatannya karena masyarakat beranggapan bahwa
memdapatkan pelayanan kesehatan itu harus dalam bentuk
kuratif atau pengobatan seperti harus disuntik8.
Setelah dilakukan penyuluhan tentang posyandu lansia, sikap lansia
mengalami peningkatan. Lansia yang memiliki sikap positif meningkat menjadi
66,67% dan sikap kurang baik menjadi 75,55%. Nilai rata-rata sikap lansia juga
mengalami peningkatan menjadi 10,28%.
35

Hal ini sesuai dengan penelitian Abimanyu hubungan antara


pengetahuan dan sikap lansia terhadap pemanfaatan posyandu
lansia di Kelurahan Garung Kecamatan Garung Kabupaten
Wonosobo, hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan
yang signifikan antara pengetahuan dan sikap lansia terhadap
pemanfaatan posyandu lansia. Pada hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa mayoritas lansia memiliki sikap yang
kurang baik terhadap pemanfaatan posyandu lansia sebanyak 76
orang (87,4%). Lansia yang sedari awal memiliki sikap kurang
baik terhadap posyandu lansia cenderung tidak memanfaatkan
posyandu lansia.43
Azwar mengemukakan bahwa sikap dapat diubah dengan
strategi persuasi yaitu memberi ide, pikiran, pendapat, bahkan
fakta baru lewat pesan komunikatif. Berdasarkan hasil penelitian
tersebut maka peneliti menyarankan sebaiknya perlu dilakukan
upaya-upaya untuk meningkatkan pemanfaatan posyandu lansia
melalui promosi dan penyebarluasan informasi tentang sasaran
posyandu lansia dan manfaat mengikuti posyandu lansia serta
perlu diupayakan peningkatan peran dari petugas
kesehatan/kader posyandu dalam memberikan pelayanan
kesehatan di posyandu.44

5. 3 Dukungan Keluarga Lansia Tentang Posyandu Lansia


Berdasarkan hasil penelitian sebelum dilakukan intervensi, didapatkan
dukungan keluarga dari sejumlah besar lansia yang sudah baik yaitu 22,22% dan
lansia yang mempunyai dukungan kurang baik 77,77%, rata-rata nilai dukungan
keluarga sebelum dilakukan intervensi 8,53%. Hal ini menandakan dukungan
keluarga para lansia tentang posyandu lansia masih rendah, sehingga hal ini perlu
ditingkatkan lagi mengingat hanya sebagian kecil yang masih memiliki dukungan
keluarga yang baik.
Data ini juga menunjukkan bahwa minimnya dukungan keluarga lansia
tentang posyandu lansia. Dukungan sosial dari masyarakat sekitar
36

akan mempengaruhi seseorang dalam berperilaku terhadap


kesehatan, demikian juga dengan lajut usia, mereka memerlukan
dukungan dari keluarga untuk berkunjung ke pelayanan
kesehatan atau posyandu. Dukungan keluarga dapat diwujudkan
dalam bentuk menghormati dan menghargai orang tua,
mengajaknya dalam acara keluarga, serta memeriksakan
kesehatannya.25
Setelah dilakukan penyuluhan tentang posyandu lansia, dukungan keluarga
lansia mengalami peningkatan. Lansia yang memiliki dukungan keluarga baik
meningkat menjadi 62,22% dan dukungan keluarga yang kurang baik menjadi
37,77%..
Keluarga merupakan support system utama bagi lansia
dalam memperhatikan kesehatannya. Sehingga dukungan
keluarga bisa menjadi motivator kuat bagi lansia apabila
keluarga selalu menyediakan diri untuk mendampingi atau
mengantar lansia ke posyandu, mengingatkan lansia jika lupa
jadwal posyandu lansia. Hal ini juga didukung oleh hasil
penelitian Sutanto dalam penelitiannya menunjukkan bahwa
adanya hubungan yang bermakna antara dukungan yang
diperoleh dari keluarga dengan pemanfaatan pelayanan di
posyandu lansia.28
Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, keluarga baru
akan membawa lansia mendapatkan pelayanan kesehatan
seperti ke puskesmas atau klinik bidan/mantri bila lansia sudah
sakit karena keluarga atau anak dari para lansia sibuk mengurus
pekerjaan dan keluarganya sendiri. Kurangnya perhatian
keluarga terhadap kondisi kesehatan lansia menjadi salah satu
penyebab keluarga tidak menyarankan lansia mengikuti
posyandu lansia, karena keluarga sibuk dengan urusannya
sendiri.
Menurut Ismawati keluarga bisa menjadi motivator kuat
bagi lansia apabila selalu menyediakan diri untuk mendampingi
37

atau mengantar lansia ke posyandu, mengingatkan lansia jika


lupa jadwal posyandu, dan berusaha membantu mengatasi
segala permasalahan bersama lansia.36

5. 4 Peran Tenaga Kesehatan/ Kader Posyandu Lansia


Berdasarkan hasil penelitian sebelum dilakukan intervensi, peran tenaga
kesehatan/ kader Posyandu lansia sebelum dilakukan intervensi menunjukkan
bahwa tenaga kesehatan/ kader yang berperan baik pada Posyandu lansia adalah
sebesar 24,44% dan tenaga kesehatan/ kader yang berperan kurang baik sebesar
75,55%. Nilai rata-rata peran tenaga kesehatan/ kader posyandu lansia sebelum
dilakukan intervensi yaitu 9,24%. Hasil ini menunjukkan petugas kesehatan/
kader posyandu lansia pada umumnya berperan kurang baik.
Rendahnya sikap lansia yang baik tentang pemanfaatan posyandu lansia bisa
dipengaruhi karena berbagai hal. Dalam pengamatan di lapangan
masyarakat umumnya beranggapan bahwa posyandu hanya
untuk orang yang sudah tua (umur 60 tahun ke atas) sehingga
mereka enggan untuk melakukan mengikuti posyandu dan
adanya persepsi di masyarakat yang menyatakan bahwa
pelayanan kesehatan di posyandu tidak mencukupi kebutuhan
kesehatannya karena masyarakat beranggapan bahwa
memdapatkan pelayanan kesehatan itu harus dalam bentuk
kuratif atau pengobatan seperti harus disuntik.8
Setelah dilakukan penyuluhan tentang posyandu lansia, peran tenaga
kesehatan/ kader posyandu lansia mengalami peningkatan. Peran tenaga
kesehatan/ kader Posyandu lansia yang berperan baik meningkat menjadi 80% dan
tenaga kesehatan/ kader yang berperan kurang baik menjadi 20%.
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Edyana
yang menyatakan bahwa peran petugas kesehatan mempunyai
hubungan yang kuat terhadap perilaku masyarakat dalam
pemanfaatan pelayanan kesehatan dan penelitian dan penelitian
Fitriasih dalam penelitiannya yang menemukan bahwa sebagian
38

besar responden yang datang ke posyandu lansia karena adanya


dukungan dari petugas kesehatan/kader.26, 45
Pelayanan kader dan petugas kesehatan yang baik terbukti
sebagai faktor yang mempengaruhi keaktifan lansia ke posyandu
lansia. Sejalan dengan penelitian Ariyani menyatakan dukungan
petugas kesehatan mempunyai kecenderungan 29,33 kali untuk
memanfaatkan posyandu lansia dibandingkan dengan yang
menyatakan tidak ada dukungan petugas kesehatan, ada
hubungan peran petugas dengan pemanfaatan posyandu
lansia.30 Handayani ada hubungan bermakna antara peran
petugas kesehatan dengan pemanfaatan posyandu lansia di
Kecamatan Ciomas.46
Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan banyak lansia
yang tidak tau siapa kader dari posyandu lansia di lingkungan
tempat tinggalnya, hal ini disebabkan kader berperan kurang
aktif dalam mengajak lansia datang ke posyandu. Kurang
aktifnya kader dapat disebabkan karena kader dari setiap
posyandu sangat sedikit yaitu 1-2 orang per posyandu, sehingga
kader tidak dapat menjangkau seluruh lansia di lingkungan
tempat tinggalnya.