Anda di halaman 1dari 7

Saat kekurangan oksigen, baik sebelumnya maupun setelahnya , bayi tersebut menunjukkan

gejala-gejala yang menyebabkan apnea. Kekurangan oksigen menyebabkan periode sementara


pernapasan cepat. Jika kekurangan tersebut terus berlangsung, pernapasan berhenti dan bayi
memasuki tahap apnea primer. Tahap ini disertai oleh penurunan denyut jantung dan hilangnya
tonus neuromuskuler. Stimulasi sederhana dan pajanan terhadap oksigen biasanya akan
memulihkan apnea primer. Namun jika kekurangan oksigen dan asfiksia berkelanjutan, bayi baru
lahir tersebut mengalami pernapasan mengap-mengap yang dalam, diikuti apnea sekunder.
Tahap terakhir ini berkaitan dengan penurunan denyut jantung lebih lanjut, penurunan tekanan
darah, dan hilangnya tonus otot neuromuscular. Neonatus yang mengalami apnea sekunder tidak
berespon terhadap rangsangan dan tidak mampu melanjutkan usaha bernapas secara spontan.
Jika tidak dibantu dengan alat ventilasi maka dapat menyebabkan kematian.

Sumber: Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Hauth JC, Rouse DJ, Spong CY.Obstetri
Williams.Volume I.Edisi 23.Jakarta:EGC,2012.h.616-29

Perawatan Rutin Neonatus

1. Suhu Tubuh
Bayi baru lahir memiliki kemungkinan besar kehilangan sejumlah besar panas badannya
setelah lahir Bayi kehilangan panas badan melalui evaporasi, radiasi, dan konveksi.Bayi
berespon terhadap keadaan dingin melalui perangsangan metabolisme simpatis yang
meningkatkan produksi panas. Panas juga dipertahankan dengan mengurangi aliran darah
kulit. Kebutuhan metabolic respons ini dapat menggandakan konsumsi oksigen bayi. Bayi
hipoksik tidak mampu berespon melalui peningkatan produksi panas. Respon termogenik juga
dapat dihambat dengan menghangatkan kulit meskipun suhu sentral tetap normal.
Jika tidak diambil tindakan untuk mecegah kehilangan panas, suhu tubuh dapat turun
dengan cepat. Pengeringan dengan menggunakan handuk yang memiliki daya serap baik
segera setelah lahir dan menjaga bayi tetap terbungkus di dalam handuk atau selimut yang
hangat dan kering diantara pemeriksaan diruang persalinan akan mengurangi kehilangan
panas. Pemeriksaan dan resusitasi di kamar bersalin harus dilakukan dibawah lampu
penghangat. Namun lampu penghangat juga dapat memberikan panas yang berlebihan pada
bayi dan menghasilkan luka bakar berat. Selain itu hipertermia juga akan meningkatkan
kebutuhan metabolic bayi dan konsumsi oksigennya.

1
Bayi yang harus terus menerus atau sering diobservasi dapat dirawat tanpa pakaian dalam
incubator untuk mempertahankan lingkungan termal yang netral. Lingkungan termal netral ini
adalah rentang suhu dan kelembaban sekeliling yang kehilangan panasnya minimal dan
kebutuhan metabolic serta konsumsi oksigennya paling rendah. Untuk bayi baru lahir cukup
bulan normal yang tidak berpakaian, lingkungan termal yang netral adalah 31-34 0C pada
kelembapan 50%. Sebuah lampu penghangat, yang juga dapat digunakan untuk
mempertahankan suhu bayi akan meningkatkan kehilangan evaporative yang tidak kentara
(insensible water loss).
Selama beberapa jam, suhu tubuh bayi harus berulang kali diukur dan dicatat. Suhu yang
relevan adalah suhu pusat dan suhu inti. Suhu kulit dapat jauh lebih rendah daripada suhu inti
tersebut, terutama pada bayi yang kedinginan, yang aliran darah ke kulitnya berkurang. Suhu
rectal adalah indicator suhu pusat yang baik, tetapi sebuah alat pengukur suhu yang keras
yang ditinggalkan dalam rektum tanpa pengawasan konstan dapat menyebabkan perforasi
usus besar. Pengukuran suhu aksilla biasanya merupakan alternative yang aman. Rentang
suhu aksilla yang normal adalah 36,5-37,40C. Bila bayi diletakkan dalam incubator, suhu
tubuh bayi sekaligus suhu lingkungan harus dipantau dan dicatat. Peningkatan suhu tubuh
dapat disebabkan oleh peningkatan suhu incubator. Namun jika suhu incubator tetap konstan
namun terjadi peningkatan suhu diatas normal maka mengesankan adanya demam.
Bayi hipotermik harus dihangatkan di dalam incubator atau penghangat radian (radiant
warmer). Umumnya bayi paling baik dihangatkan kembali pada kecepatan sedang, biasanya 2
sampai 4 jam agar suhu inti mencapai 37 0C. Upaya menghangatkan tubuh bayi secara cepat
membutuhkan lebih banyak panas eksternal, yang dapat menimbulkan apnea. Penghangatan
yang terlalu lamabt akan disertai hipoglikemia dan asidosis metabolic persisten.
Begitu bayi cukup bulan yang baru lahir mampu mempertahankan suhu yang stabil,
mereka dapat dirawat di ranjang terbuka, asalkan berpakaian dan dibungkus dengan selimut.
Sebuah ruangan bebas-angin dengan suhu 24-260C akan member kondisi termal netral yang
adekuat.
2. Fungsi kardiopulmonal
Frekuensi denyut jantung bayi, tekanan darah, frekuensi pernapasan, kualitas pernapasan,
serta warna kulit dan membrane mukosa harus diperiksa setiap 6 jam pertama setelah lahir ,
dan hasil pemeriksaan dicatat. Periode ini merupakan periode munculnya sebagian besar
penyakit kardiopulmonal yang mengancam jiwa.

2
Dalam 10 menit pertama setelah lahir, rata-rata frekuensi jantung adalah 160 denyut per
menit, tetapi beragam antara 120 hingga 200. Setelah itu rata-rata adalah 120-130 denyut
(rentang antara 90 hingga 175). Menetapnya frekuensi denyut jantung yang rendah atau
tinggi menunjukkan kondisi patologik. Takikardi dapat terjadi deplesi volume, penyakit
kardiorespiratorik, penghentian obat-obatan dan hipertiroidisme. Bradikardi ditemukan
setelah asfiksia perinatal dan berhubungan dengan apnea.Rentang normal bagi
pengukuran darah indirek pada bayi cukup bulan adalah sistolik 65-95 mm Hg dan
diastolic 30-60 mm Hg. Tekanan darah beragam menurut berat badan lahir dan cenderung
rendah pada bayi-bayi kecil. Rerata tekanan darah pada bayi dengan berat diatas 3 kg
adalah 50-55 mm Hg, sedangkan rerata tekanan darah pada bayi dengan berat 2 hingga 3
kg adalah 41-45 mm Hg.
3. Fungsi Gastrointestinal
Selama menyusui, anomaly seperti fistula trakeoesofageal dapat ditemukan. Neonatus
sering meregurgitasi beberapa mL susu yang diberikan terutama saat bersendawa. Jumlah
muntahan yang lebih banyak atau isi muntahan yang terwarna dengan cairan empedu
menunjukkan kelainan. Selama hari pertama, bayi yang menelan mucus atau darah ke
lambungnya dapat berulang kali meregurgitasi sejumlah kecil bahan atau kesulitan menyusu.
Pembilasan orogastrik dengan larutan salin akan mengeluarkan bahan ini dan memperbaiki
penyusuan. Jika muntah terus berlangsung meskipun telah dilakukan pembilasan maka
penyebab muntah lain perlu dipertimbangkan.
Neonatus cukup bulan yang sehat tidak harus ditimbang setiap kali menyusui. Namun
perilaku bayi saat menyusu, frekuensi menyusu dan permulaan produksi ASI harus dicatat. Jika
terdapat keraguan akan kecukupan asupan susu, pengukuran perubahan berat badan setelah
menyusu penting dilakukan.
Adapun normalnya 70% neonatus mengeluarkan mekonium dalam 12 jam pertama
sedangkan 25% yang lain antara 12 dan 24 jam, dan sisa 5% pada kira-kira 48 jam. Saat
defekasi pertama harus dicatat. Pengeluaran mekonium dapat terlambat pada obstruksi
intestinal distal, sindrom sumbatan mekonium, penyakit Hirschsprung, sepsis, prematuritas,
hipotiroidisme dan pajanan narkotik.
Bayi dengan obstruksi gastrointestinal letak tinggi biasny datang dengan muntah tanpa
distensi abdomen dan sering kali dengan pola defekasi yang normal selama hari pertama.
Sedangkan pada obstruksi letak rendah, defekasi berlangsung abnormal dengan adanya distensi,
sedangkan muntah muncul belakangan.

3
Selama seminggu pertama, bayi baru lahir biasanya mengeluarkan feses 3-5 kali per hari,
tetapi juga dapat sampai 10 kali per hari. Warna feses bayi yang minum ASI cenderung lebih
kuning tua atau kehijauan dibanding bayi yang meminum formula susu sapi. Darah tua
menyerupai tar pada feses bayi berasal dari darah ibu yang tertelan saat kelahiran. Untuk
membedakan darah bayi atau darah ibu maka dapat dilakukan uji untuk membedakan
hemoglobin. Bercak kecil darah segar pada feses mengindikasikan suatu fissure rektum. Feses
diare biasanya disebabkan oleh infeksi, malabsorpsi, atau penghentian pengobatan.

4. Fungsi Berkemih
5. Ukuran Badan
6. Perkiraan Usia Kehamilan
Perkiraan usia kehamilan pada bayi baru lahir segera setelah pelahiran. Hubungan antara
umur kehamilan dan berat lahir digunakan untuk mengidentifikasi resiko komplikasi pada
neonatus.
7. Perawatan kulit
Setelah kelahiran, kelebihan verniks , darah dan mekonium harus dibersihkan dengan lembut.
Mandi pertama harus ditunda hingga suhu neonatus stabil.
8. Tali Pusat
Kehilangan air dari Wharton jelly menyebabkan mumifikasi tali pusat segera setelah lahir.
Dalam waktu 24 jam, tunggul tali pusat kehilangan cirri khasnya-putih kebiruan, tampak
lembab dan segera menjadi kering dan hitam. Dalam beberapa hari ke minggu, tunggul
mengelupas dan meninggalkan luka granulasi kecil, yang setelah proses penyembuhan
membentuk umbilicus. Pemisahan biasanya terjadi dalam 2 minggu pertama, dengan kisaran
antara 3 sampai 45 hari. Tali pusat mongering lebih cepat dan lebih mudah terpisah ketika
terkena udara. Dengan demikian penutupan tali pusat tidak dianjurkan.
Infeksi tali pusat serus kadang terjadi. Organisme penyababnya adalah Staphylococcus
aereus, Escherichia coli, dan Streptococcus grup B. Karena tunggul tali pusat pada beberapa
kasus seperti itu kemungkinan tidak menunjukkan tanda infeksi luar maka diagnose akan sulit
ditegakkan. Tindakan pencegahan aseptik yang ketat harus diamati dalam perawatan langsung
tali pusat. Berdasarkan hasil penelitian, perlakuan triple-dye lebih unggul daripada
penggunaan sabun dan air dalam mencegah kolonisasi dan pembentukan eksudat. Penelitian
lain menunjukkan pembersihan tali pusat dengan klorheksidin 4% mampu mengurangi
omfalitis berat hingga 75% dibandingkan membersihkan dengan sabun.
9. Pemberian Makanan

4
Pemberian ASI disarankan hingga usia bayi 6 bulan. Disebagian besar rumah sakit bayi
mulai menyusu di kamar bersalin. Sebagian besar bayi baru tumbuh baik jika diberi makanan
pada interval tiap 2 hingga 4 jam. Secara umum dianjurkan bayi menyusu selama 5 menit
pada setiap payudara selama 4 hari pertama, atau hingga ibu memiliki persediaan susu.
Setelah hari keempat, lama waktu menyusui meningkat menjadi 10 menit pada setiap
payudara. Pada bayi prematur atau dengan hambatan pertumbuhan memerlukan pemberian
makanan dengan interval yang lebih pendek, namun dalam banyak contoh interval 3 jam
sudah cukup memuaskan.Adapun jeda pada setiap pemberian makanan yang tepat bergantung
pada faktor-faktor berikut, yakni kuantitas susu, kesiapan payudara untuk mengeluarkan ASI,
dan keinginan kuat untuk menyusui bayi.
Karena sebagian besar neonatus sebenarnya hanya menerima sedikit nutrisi pada 3 atau 4
hari pertama kehidupan, neonatus akan sering kehilangan berat badan hingga air susu ibu
lancar atau diberikan makanan lain. Bayi kurang bulan relative lebih banyak kehilangan berat
badan dibandingkan bayi lahir cukup bulan dan proses pemulihan berat badannya lebih
lambat. Bayi yang kecil untuk usia kehamilan namun sehat mendapatkan berat badan kembali
lebih cepat ketika disusui dibandingkan dengan yang lahir kurang bulan.
Jika bayi baru lahir normal cukup mendapat asupan zat gizi, berat lahir biasanya akan pulih
pada hari ke-10. Setelah itu beratnya meningkat terus dengan laju sekitar 25 gram/hari selama
beberapa bulan pertama. Berat bayi menjadi dua kali lipat pada usia 5 bulan dan menjadi tiga
kali lipat pada akhir tahun pertama.
Selama 2 hingga 3 hari pertama setelah lahir, kolon berisi mekonium lunak berwarna
hijau kecoklatan. Mekonium terdiri dari epitel sel deskuamasi dari traktus intestinal, mucus,
sel-sel epidermis, dan lanugo (rambut janin) yang tertelan bersama cairan amnion. Adapun
warna mekonium yang khas berasal dari pigmen empedu. Selama janin hidup dan beberapa
jam setelah lahir, isi usus steril, tetapi bakteri dengan cepat berkolonisasi di usus besar.
Sebagian besar neonatus mengeluarkan tinja mekonium dalam waktu 24 jam pertama
sedangkan sisanya dalam waktu 36 jam. Pengeluaran tinja pertama kali pada bayi baru lahir
biasanya terjadi segera setelah lahir, tetapi tidak mungkin sampai hari kedua. Keluarnya urin
dan mekonium menunjukkan patensi saluran cerna dan kemih. Setelah hari ketiga atau
keempat, mekonium diganti oleh feses homogeny kuning terang dengan konsistensi mirip
selai kacang.
10. Ikterus Neonatorum

5
Antara hari ke-2 dan ke-5 kehidupan, sekitar sepertiga dari neonatus mengalami ikterus
fisiologik. Tingkat bilirubin serum biasanya 1,8-2,8 mg/dL. Angka ini semakin
meningkatpada beberapa hari berikutnya namun sangat bervariasi pada tiap individu. Diantara
hari ke-3 dan ke-4 bilirubin bayi umumnya mencapa 5 mg/dL, yakni kadar dimana ikterus
fisiologik pada bayi baru lahir terlihat.
Sebagian besar bilirubin merupakan bilirubin bebas, yaitu bilirubin yang tak terkinjugasi.
Dalam hati, bilirubin terikat atau terkonjugasi dengan asam glukoronik menjadi lebih sedikit
sehingga ekskresi kedalam empedu berkurang. Dengan metode alternatif, reabsorpsi bilirubin
bebas dapat dihasilkan dari pemecahan bilirubin glukorida secara enzimatik melalui aktivitas
konjugase usus dalam usus bayi baru lahir. Efek ini juga tampaknya memberikan kontribusi
yang signifikan untuk hiperbilirubinemia sementara. Pada neonatus yang kurang bulan, ikterik
lebih sering terjadi dan biasanya lebih parah dan berkepanjangan daripada bayi baru lahir
yang cukup bulan, karena konjugasi hepatic yang lebih rendah. Peningkatan penghancuran
eritrosit oleh semua sebab juga mungkin menyebabkan hiperbilirubinemia.
Tatalaksanan standar non invasive pada bayi penderita adalah dengan fototerapi, dimana
bayi menghadap cahaya dengan panjang gelombang tertentu yang dapat diserap molekul
bilirubin. Akibatnya bilirubin tak terkonjugasi pada kulit diubah menjadi stereoisomer larut
air yang kemudian diekskresikan ke dalam empedu.
11. Sirkumsisi
Sirkumsisi bertujuan untuk menghilangkan kulit batang dan epitel preputium bagian
dalam sehingga glans penis cukup terbuka untuk mencegah fimosis. Adapun sirkumsisi perlu
anestesi. Anestesi yang disarankan adalah dengan blok saraf dorsal penis untuk mengurangi
behavioral distress dan memodifikasi respon stress adrenokortikal pada bayi yang sedang
disirkumsisi.atau dapat juga pemberian analgesia dengan teknik blok cincin. Adapun manfaat
dari sirkumsis berdasarkan penelitian adalah mencegah fimosis,balanopostitis, menurunkan
kejadian kanker penis, menurunkan infeksi human papilomavirus pada penis dan kanker leher
rahim, dan menurunkan insiden HIV.
Sedangkan komplikasi adalah adanya resiko pendarahan, infeksi, pembentukkan
hematoma, amputasi glans distal, infeksi HIV-1 dan penyakit menular seksual lainnya, penile
denudation, destruksi penis dengan koagulasi electrosurgical, kista inklusi epidermal dan
fistula uretrokutaneus lanjutan, dan iskemia akibat penggunaan lidocaine dengan epinephrine.
12. Rawat Gabung

6
Pada model perawatan ini menempatkan bayi-bayi yang baru lahir di ruangan yang sama
dengan ibu, bukan di tempat perawatan khusus bayi pada umumnya. Secara khusus , rawat
gabung ini berasal dari kecenderungan untuk membuat semua fase pengasuhan anak sealami
mungkin dan untuk memperkuat hubungan ibu dan anak sejak hari-hari pertama. Dalam 24
jam, pada umumnya sudah mulai mampu berjalan.Setelah itu dengan rawat gabung ibu dapat
memberikan perawatan rutin untuk dirinya sendiri dan bayinya. Keuntungannya adalah
peningkatan kemampuan untuk melakukan perawatan penuh terhadap bayinya saat tiba di
rumah. Saat ini yang dianjurkan bahwa orangtua harus membuat pilihan setelah diberikan
informasi yang akurat dan tidak bias.
13. Keluar Rumah Sakit
Umumnya bayi keluar dari rumah sakit dengan ibu dalam waktu kurang dari 48 jam.
Penyebab bayi masuk kembali ke rumah sakit adalah dehidrasi dan penyakit kuning (ikterus
fisiologis). Berdasarkan data kelahiran negara bagian Washington oleh Malking (2000)
didapatkan bahwa tingkat kematian pada usia 28 hari meningkat empat kali lipat dan tingkat
kematian pada 1 tahun meningkat dua kali lipat pada bayi baru lahir yang keluar dari rumah
sakit dalam waktu 30 jam setelah lahir.
Setelah adanya undang-undang federal pada tahun 1996 menetapkan untuk melarang
perusahaan asuransi untuk membatasi rawat inap untuk ibu dan bayi yang baru lahir, Hal ini
meningkatkan angka rawat inap namun jumlah bayi yang kembali lagi ke rumah sakit
menurun hingga setengahnya.