Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN KIMIA ORGANIK II

ESTER
Dosen Pengampu : Tania Avianda Gusman, M.Sc

Disusun Oleh Shofiana

(140621008)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH CIREBON

PERCOBAAN III
ESTER
I. TUJUAN
Untuk mengidentifikasi secara kualitatif senyawa gugus fungsional ester
Untuk mempelajari sifat fisika dan kimia senyawa ester
Untuk mempelajari cara pembuatan esterifikasi

II. DASAR TEORI


Senyawa ester juga termasuk dari turunan asam karboksilat, dimana atom H pada
karboksil digantikan oleh alkil dari senyawa lain. Senyawa ini terbentuk dari reaksi antara
asam karboksilat dengan alcohol dengan katalis asam sulfat. Reaksi ini dikenal dengan
reaksi esterifikasi. Senyawa ester ini sering kita temui dalam berbagai tanaman yang
dikenal dengan minyak aitsiri. Senyawa ini mengeluarkan aroma yang harum dan berbau
sedap.

Berdasarkan contoh tersebut, dapat disimpulkan bahwa rumus umum ester


adalah :

Gugus OH dari gugus karboksil diganti oleh gugus OR'. Dalam ester, R dan R'
dapat sama atau berbeda. Ester juga mempunyai rumus umum CnH2nO2.
Penamaan ester hampir menyerupai dengan penamaan basa; walaupun tidak
benar-benar mempunyai kation dan anion, namun memiliki kemiripan dalam sifat
lebih elektropositif dan keelektronegatifan. Suatu ester dapat dibuat sebagai
produk dari suatu reaksi pemadatan pada suatu asam (pada umumnya suatu asam
organik) dan suatu alkohol ( atau campuran zat asam karbol), walaupun ada cara-
cara lain untuk membentuk ester. Pemadatan adalah suatu jenis reaksi kimia di
mana dua molekul bekerja sama dan menghapuskan suatu molekul yang kecil,
dalam hal ini dua gugus OH yang merupakan hasil eliminasi suatu molekul air
(Clark, 2002).
Suatu reaksi pemadatan untuk membentuk suatu ester disebut esterifikasi.
Esterifikasi dapat dikatalis oleh kehadiran ion H+. Asam belerang sering
digunakan sebagai sebagai suatu katalisator untuk reaksi ini. Nama ester berasal
dari Essig-ther Jerman, sebuah nama kuno untuk menyebut etil asam cuka ester
(asam cuka etil). (Anshory,2003)
Ester dapat dibuat oleh suatu reaksi keseimbangan antara suatu alkohol dan
suatu asam karbon. Ester dinamai menurut kelompok alkil dari alkohol dan
kemudian alkanoat (bagian dari asam karbon). Sebagai contoh, reaksi antara
metanol dan asam butir menghasilkan ester metil butir C3H7-COO-CH3 seperti
halnya air. Yang paling sederhana adalah H-COO-CH3,metil metanoat. Karena
ester dari asam yang lebih tinggi, alkana menyebut dengan - oat pada akhiran.
Secara umum Ester dari asam berbau harum meliputi benzoat seperti metil
benzoat (Anonim, 1995). Reaksi esterifikasi merupakan reaksi pembentukan ester
dengan reaksi langsung antara suatu asam karboksilat dengan suatu
alkohol (Fessenden, 1982).
Sifat sifat ester secara fisika yaitu :
A. Senyawa cair yang tidak berwarna
B. Sedikit larut dalam air
C. Bau semerbak
D. Mudah menguap

Sifat sifat kimia yang dimiliki oleh ester adalah :


Pada umumnya mempunyai bau yang harum, menyerupai bau buah-
buahan
Senyawa ester pada umumnya sedikit larut dalam air
Ester lebih mudah menguap dibandingkan dengan asam atau alkohol
pembentuknya
Ester merupakan senyawa karbon yang netral
Ester dapat mengalami reaksi hidrolisis
Contoh : RCOOR + H2O R COOH + ROH
EsterAs.Alkanoat Alkohol
Hidrolisis Ester (Fessenden,1982)
Ester dapat direduksi dengan H2 menggunakan katalisator Ni dan
dihasilkan dua buah senyawa alkohol
Contoh :
RCOOR + 2H2 R CH2 OH + R OH
Ester Alkohol Alkohol
Reduksi Ester (Fessenden,1982)
Ester khususnya minyak atau lemak bereaksi dengan basa membentuk
garam sabun) dan gliserol. Reaksi ini dikenal dengan reaksi
safonifikasi/penyabunan.
Hidrolisis Ester dapat terhidolisis dengan pengaruh asam membentuk
alkohol dan asam karboksilat. Reaksi hidrolisis merupakan kebalikan dan
pengesteran. Hidrolisis lemak atau minyak menghasilkan gliserol dan
asam-asam lemak. Contoh hidrolisis gliseril tristearat menghasilkan
gliserol dan asam stearat. (Fessenden, 1982)

Ester yang terdiri dari asam-asam yang berat molekul rendah dan alkohol
merupakan senyawa-senyawa cair yang tidak berwarna, sedikit larut dalam air
dengan bau semerbak, dan mudah menguap. Ester dari beberapa asam karboksilat
dengan rantai panjang terdapat secara alamiah di dalam lemak, lilin, dan minyak.
Senyawa ester juga termasuk dari turunan asam karboksilat, dimana atom
H pada karboksil digantikan oleh alkil dari senyawa lain. Senyawa ini terbentuk
adri reaksi antara asam karboksilat dengan alkohol dengan bantuan asam sulfat.
Reaksi ini dikenal dengan reaksi esterifikasi. Senyawa ester ini sering kita temui
dalam berbagai tanaman yang dikenal dengan minyak atsiri. Senyawa ini
mengeluarkan aroma harum dan berbau sedap. (Tania, 2016)
Reaksi esterifikasi adalah reaksi pembuatan ester. Ester dihasilkan
apabila asam karboksilat dipanaskan bersama alcohol dengan bantuan katalis
asam. Biasanya asam sulfat (H2SO4) pekat. Reaksinya reversible (dapat bolak-
balik).
Reaksi esterifikasi adalah suatu reaksi antara asam karboksilat dan
alkohol membentuk ester. Turunan asam karboksilat membentuk ester asam
karboksilat. Ester asam karboksilat ialah suatu senyawa yang mengandung gugus
-CO2 R dengan R dapat berupa alkil maupun aril. Esterifikasi dikatalisis asam dan
bersifat dapat balik (Fessenden, 1981).
Laju esterifikaasi asam karboksilat tergantung pada halangan sterik dalam
alkohol dan asam karboksilat. Kekuatan asam dari asam karboksilat hanya
mempunyai pengaruh yang kecil dalam laju pembentukan ester. (Fessenden,
1981).
Contoh :
Pembuatan etil etanoat dari asam etanoat dan etanol.

Reaksi saponifikasi disebut reaksi penyabunan. Bila lemak atau


minyak dihidrolisis dengan basa akan didapat gliserol dan garam dari asam lemak
yang dikenal dengan sabun.
Contoh :

Basis Hidrolisis Ester

Ketika sebuah ester mengalami hidrolisis dengan basa kuat seperti NaOH atau
KOH, produk adalah garam karboksilat dan alkohol yang sesuai. Basis hidrolisis
juga disebut saponifikasi, yang mengacu pada reaksi ester dari asam lemak rantai
panjang dengan NaOH untuk membuat sabun.

Sabun merupakan garam logam alkali (umumnya garam natrium) dan


asam lemak yang terbentuk dari proses saponifikasi. Sabun mengandung garam
C16dan C18 dan beberapa karboksilat dengan bobot aom lebih rendah (Fessenden,
1999). Sabun juga merupakan campuran antara garam natrium atau kalium dan
asam lemak yang dapat diturunkan dari minyak atau lemak dengan direaksikan
terhadap alkali dengan proses saponifikasi. Lemak akan terhidrolisis oleh basa
menghasilkan gliserol dan sabun mentah (Fessenden, 1982).
Sabun terbagi menjadi dua jenis, yaitu sabun kalium dan sabun natrium.
Sabun kalium (ROOCK) terbuat dari lemak dengan KOH. Sifat sabun kalium
lunak dan umumnya digunakan untk sabun mandi cair, sabun cuci pakaian, dan
perlengkapan rumah tangga. Struktur dari sabun kalium adalah C17H35-C-K(O)-O.
Sedangkan sabun natrium (RCOONa) terbuat dari lemak dengan NaOH. Sifat
sabun yang terbentuk yaitu keras dan biasanya digunakan untuk sabun cuci, dalam
industri logam dan untuk mengatur kekerasan sabung kalium. Struktur dari sabun
natrium adalah C17H35-C-Na(O)-O (Salomon and Michael, 2004).
Deterjen berbeda dengan sabun. Deterjen adalah campuran zat kimia dari
sintetik maupun alam yang memiliki sifat dapat menarik zat pengotor dari media,
memiliki sifat daya pembersih seperti sabun, akan tetapi tidak terbuat dari lemak
atau minyak. Struktur dari deterjen adalah R-SO 3Na dengan R=CH3(CH2)16.
Molekul deterjen dapat berupa molekul deterjen rantai lurus dan deterjen rantai
bercabang.
Lemak adalah suatu golongan senyawa heterogeneus yang larut dalam
pelarut organik (Winarno, 1991). Pada umumnya lemak tidak larut dalam air,
tetapi larut sempurna dalam pelarut organik. Lemak mempunyai titik lebur tinggi
disebut asam lemak jenuh, sedangkan lemak cair atau yang biasa disebut minyak
mengandung asam lemak tidak jenuh (Poedjiadi, 2007).
Secara teknis, hidrolisis adalah sebuah reaksi dengan air. Reaksi inilah
yang sebenarnya terjadi ketika ester dihirolisis dengan air atau dengan asam encer
seperti asam hidroklorat encer. Hidrolisis ester dengan basa melibatkan reaksi
dengan ion-ion hidroksida, tetapi hasil keseluruhannya sangat mirip sehingga
dikategorikan dalam hidrolisis dengan air atau asam encer.
Reaksi dengan air murni sangat lambat sehingga tidak pernah digunakan.
Reaksi ini dikatalisis oleh asam encer, sehingga ester dipanaskan di bawah refluks
dengan sebuah asam encer seperti asam hidroklorat encer atau asam sulfat encer.
Berikut dua contoh sederhana dari hidrolisis menggunakan sebuah katalis asam:

Hidrolisis Etil Etanoat


CH3COOCH2CH3+H2O CH3COOH + CH3CH2OH

Hidrolisis Metil Propanoat


CH3CH2COOCH3+H2O CH3CH2COOH +CH3OH
Perhatikan bahwa kedua reaksi di atas dapat balik (reversibel). Untuk
melangsungkan hidrolisis sesempurna mungkin, harus digunakan air yang
berlebih. Air diperoleh dari asam encer, sehingga ester perlu dicampur dengan
asam encer yang berlebih.

Asam Hidrolisis Ester

Ketika ester dipanaskan dengan air dengan adanya asam kuat, biasanya H2SO4
atau HCl, hidrolisis terjadi. Dalam hidrolisis, air bereaksi dengan ester untuk
membentuk asam karboksilat dan alkohol. Oleh karena itu, hidrolisis adalah
kebalikan dari reaksi esterifikasi. Selama hidrolisis asam, molekul air
menyediakan kelompok OH untuk mengubah gugus karbonil dari ester untuk
kelompok karboksil. Sebuah jumlah besar air digunakan untuk mendukung
pembentukan asam karboksilat dan alkohol produk. Ketika hidrolisis ester
biologis terjadi dalam sel, enzim menggantikan asam sebagai katalis.

Etanol
Etanol disebut juga etil alkohol, alkohol murni, alkohol absolut atau
alkohol saja adalah sejenis cairan yang mudah menguap, mudah terbakar, tidak
berwarna dan merupakan alkohol yang paling sering digunakan dalam kehidupan
sehari hari. Etanol adalah suatu obat rekreasi yang paling tua. Etanol banyak
digunakan sebagai pelarut sebagai bahan bahan kimia yang di tunjukan untuk
konsumsi dan kegunaan manusia. Contohnya adalah pada parfum, perasa,
pewarna makanan, dan obatobatan. Dalam kimia etanol adalah pelarut yang
penting sekaligus sebagai stok umpan untuk sintesis senyawa kimia lainnya.
Dalam sejarahnya ethanol telah lama di gunakan sebagai bahan bakar. Sifat fisika
dan kimia etanol sebagai berikut. Etil asetat juga mempunyai Rumus molekul
etanol C2H5OH atau rumus empiris C2H6O. Sifat-sifat fisik Etanolantara lain :
1. Massa molekul relatif : 46,07 gr/mol.
2. Titik beku : -114,1oC.
3. Titik didih normal : 78,32oC.
Etanol termasuk dalam alkohol primer, yang berarti bahwa karbon yang berikatan
dengan gugus Hidroksil paling tidak memiliki 2 Hidrogen atom yang terikat
dengannya juga. Reaksi kimia yang dijalankan oleh ethanol kebanyakan pada
fungsi gugus Hidroksil.
Asam Sulfat ( H2SO4 )
Asam Sulfat ( H2SO4 ) merupakan asam mineral ( Anorganik ) yang kuat.
Zat ini larut dalam air pada semua perbandingan, asam sulfat mempunyai
kegunaan dan merupakan salah satu produk utama industri kimia. Walaupun asam
sulfat yang mendekati 100% dapat dibuat, ia akan melepaskan SO3 pada titik
didihnya dan menghasilkan asam 98,3%. Asam sulfat 98% lebih stabil untuk
disimpan dan merupakan bentuk asam sulfat yang paling umum. Asam sulfat 98%
pada umumnya disebut sebagai asam sulfat pekat. Berikut adalah sifat-sifat asam
sulfat.Sifat sifat Asam Sulfat ialah :
1. Nama sintesis : Asam sulfat
2. Rumus molekul : H2SO4
3. Massa molar : 98,078 gr/mol
4. Penampilan : Bening, tidak berwarna, tidak berbau
5. Densitas : 1,84 gr/cm3 , cairan
6. Titik leleh : 10oC, 283 K, 50o F
7. Titik didih : 290o C, 563oK, 554oF
8. Kelarutan dalam air : Bercampur penuh
9. Viskositas : 26,7 CP pada 20oC
10. Klasifikasi : Sangat korosif
11. Titik nyala : Tak ternyalakan

Asam Asetat
Asam asetat, asam etanoat atau asam cuka adalah senyawa kimia asam
organik yang dikenal sebagai pemberi rasa asam dan aroma dalam makanan.
Asam cuka memiliki rumus empiris C2H4O2. Rumus ini seringkali ditulis dalam
bentuk CH3-COOH, CH3COOH, atau CH3CO2H. Asam asetat murni ( asam asetat
glasial) adalah cairan higroskopis tak berwarna, dan memiliki titik beku 16.7C.
Asam asetat merupakan salah satu asam karboksilat paling sederhana, setelah
asam format. Larutan asam asetat yang larut dalam air merupakan sebuah asam
lemah, artinya hanya terdisosiasi sebagian menjadi ion H + dan CH3COO-. Asam
asetat merupakan pereaksi kimia dan bahan baku industri yang penting. Asam
asetat digunakan dalam produksi polimer seperti polietilena tereftalat, selulosa
asetat, dan polivinil asetat, maupun berbagai macam serat dan kain.
Dalam industri makanan, asam asetat digunakan sebagai pengatur keasaman. Di
rumah tangga, asam asetat encer juga sering digunakan sebagai pelunak air.
Dalam setahun, kebutuhan dunia akan asam asetat mencapai 6,5 juta ton per
tahun. 1.5 juta ton per tahun diperoleh dari hasil daur ulang, sisanya diperoleh dari
industri petrokimia maupun dari sumber hayati.
Sifat-sifat dari Asam Asetat ialah :
a. Nama Sistematis : Asam etanoat, asam asetat
b. Nama Alternatif : Asam metanakarboksilat, hidrogenasetat, asam cuka
c. Rumus Molekul : CH3COOH
d. Massa Molar : 60,05 gr/mol
e. Titik lebur : 16,5 C

III.ALAT DAN BAHAN


E. ALAT

Tabung reaksi 10 buah Thermometer


Rak tabung reaksi 1 buah Pengaduk
Pipet tetes 10 buah Lakmus biru dan lakmus merah
Penangas air pH meter

F. BAHAN

Ethanol alcohol H2SO4 Pekat Isoprpyl


Asam asetat HCl 6M Asam salisilat
NaOH 6M KOH 1M Asam benzoate
NaHCO3 5% Hidroksil amin HCl NaOH 6 N
ETanol 0,5N FeCl3 5%
Methanol

IV. PROSEDUR KERJA


A. Pembentukan Ester

larutkan dalam
3 ml sampel

1ml Asam
asetat
+

5 tetes
H2SO4 pekat

diaduk

Dipanaskan selama
15 menit pada suhu
60-70oC
Amati

Ket Sampel* : ethanol, methanol, dan isopropyl

B. Saponifikasi
10 tetes metil + NaOH 6M
salisilat

Dipanaskan selama
30 dalam air
mendidih
Amati lapisan
ester

dinginkan

Amati
baunya
+

HCl 6M

Uji dengan
lakmus

Amati

C. Identifikasi Ester

1 gr asam 3 ml 20 tetes H2SO4


v + +
benzoat pelarut pekat

Dipanaskan

dinginkan
+

NaHCO3

Amati

Ket Pelarut*: Methanol dan pelarut lain


D. Hidrolisis Ester
0,25 ml H2SO4 pekat 0,5 ml Sampel
+

Tutup dengan
sumbat karet

Ket Sampel* : Etil asetat (asam asetat), asam oksalat dan asam format

V. DATA PENGAMATAN
A. Pembentukan Ester

Sampel Perubahan
Dituangkan dalam air
Pelarut + H2SO4 Dipanaskan
panas
Asam asetat +
Larutan berwarna bening dan
Etanol Larut Tidak tercium aroma
volume larutan berkurang.
Asam asetat + Larut sedikit tercium aroma
Volume larutan berkurang
Metanol ballons tiup
Asam asetat + Volume larutan berkurang dan
Larut tercium aroma ballons
Isopropil sedikit tercium aroma ballons
tiup
tiup
B. Saponifikasi

Perubahan + NaOH 6 M Dipanaskan Uji Lakmus (+ HCl)


Sampel Lakmus Lakmus Biru
10 ml 20 ml 10 ml 20 ml
Merah
Metil Terpenu Terdapat 2 Larut dan Larutan a. 1 tetes a. 1 tetes
Salisilat hi oleh lapisan dibawah berwarna berwarna pertama: pertama:
endapan terdapat kuning bening dan tetap tetap
Tercium endapan putih endapan berwarna berwarna
aroma dan diatas terpisah merah biru
balsam larutan bening berada b. 1 tetes b. 1 tetes
Tercium aroma dibagian atas kedua: kedua:beru
balsam permukaan berubah bah
larutan menjadi menjadi
warna warna
biru merah

C. Identifikasi Ester

Perubahan
Sampel + 0,1 gr asam
+ 20 tetes H2SO4 Pekat + NaHCO3
benzoat
Larut dan Larut dan berwarna bening Larut dan berwarna bening
Metanol
berwarna bening Terdapat gelembung / gas Terdapat gelembung / gas
Larut dan Larut dan berwarna bening Larut dan berwarna bening
Etanol berwarna bening Terdapat gelembung / gas Terdapat gelembung / gas
Larut dan Larut dan berwarna bening
Larut dan berwarna bening
Isopropyl berwarna bening Terdapat gelembung / gas
Terdapat gelembung / gas
Terdapat sedikit endapan

D. Hidrolisis Ester

Perubahan
Sampel
+ H2SO4 Pekat Tabung ditutup
Larut dan berwarna bening
Asam Asetat Tidak terdapat gas
Larutan sedikit kental
Asam Format Larut dan berwarna bening Tidak terdapat gas
Asam Oksalat Larut dan berwarna bening Tidak terdapat gas

Reaksi :
1) Pembentukan Ester
- Asam asetat + Etanol
- Asam Asetat + Metanol

- Asam Asetat + Isopropil alkohol


CH3CH(CH3)OH + CH3COOH CH3COOCH(CH3)2 + H2O

2) Saponifikasi

C8H8O3 + 2 NaOH C7H4O3Na2 + CH3OH


metil salisilat natrim hidroksida dinatrium heptanoat metanol

3) Identifikasi Ester
- Asam benzoate + Metanol

- Asam benzoate + Etanol

- Asam benzoate + Isopropil alkohol


C6H5COOH + C3H7OH C10H12O2 + H2O

4) Hidrolisis Ester
Tidak terjadi reaksi karena percobaan gagal.
VI. PEMBAHASAN
Senyawa ester juga termasuk dari turunan asam karboksilat, dimana atom H pada
karboksil digantikan oleh alkil dari senyawa lain. Senyawa ini terbentuk dari reaksi antara
asam karboksilat dengan alcohol dengan katalis asam sulfat. Reaksi ini dikenal dengan
reaksi esterifikasi. Senyawa ester ini sering kita temui dalam berbagai tanaman yang
dikenal dengan minyak aitsiri. Senyawa ini mengeluarkan aroma yang harum dan berbau
sedap. (Tania, 2017)
Pada percobaan ester ini kami melakukan 4 percobaan yaitu pembentukan ester,
saponifikasi, identifikasi ester, dan hidrolisis ester.
1. Pembentukan Ester
Pada pembentukan ester kami mereaksikan asam asetat dengan etanol ketika
ditambahkan H2SO4 larut kemudian dipanaskan volume larutannya berkurang dan setelah
dipanaskan tuangkan kedalam air panas, dan ketika dituangkankan kedalam air panas
larutan tersebut tidak tercium aroma ballons tiup, yang seharusnya reaksi antara asam
asetat dengan etanol akan menghasilkan aroma ballons tiup. Hal ini dapat dipengaruhi
oleh beberapa factor diantaranya kurang telitinya praktikan dalam melakukan percobaan
tersebut. jadi pada reaksi antara asam asetat dengan etanol ini pembentukan esternya tidak
berhasil karena tidak tercium aroma ballons tiup.
Pada reaksi kedua yaitu asam asetat dengan metanol ketika ditambahkan H 2SO4 larut
kemudian dipanaskan volume larutannya berkurang dan setelah dipanaskan tuangkan
kedalam air panas, dan ketika dituangkankan kedalam air panas larutan tersebut sedikit
tercium aroma ballons tiup. Jadi dapat disimpulkan proses pembentukan ester pada asam
asetat dan methanol ini berhasil dilakukan karena selama proses berlangsung tetap
tercium aroma disetiap prosesnya, adapun reaksinya yaitu sebagai berikut:

Pada reaksi ketiga yaitu asam asetat dan isopropyl alcohol ketika ditambahkan H 2SO4
larut kemudian dipanaskan volume larutannya berkurang dansedikit tercium aroma
ballons tiup dan setelah dipanaskan tuangkan kedalam air panas, dan ketika
dituangkankan kedalam air panas larutan tersebut tercium aroma ballons tiup Jadi dapat
disimpulkan proses pembentukan ester pada asam asetat dan isopropyl alcohol ini
berhasil dilakukan karena selama proses berlangsung tetap tercium aroma disetiap
prosesnya, adapun reaksinya yaitu sebagai berikut:
CH3CH(CH3)OH + CH3COOH CH3COOCH(CH3)2 + H2O

2. Saponifikasi
Pada percobaan kedua yaitu saponifikasi kami meraksikan metal salisilat dan NaOH,
setelah ditambahkan 10 mL NaOH terdapat endapan putih seperti sabun yang menutupi
larutannya, setelah dipanaskan endapannya larut dan berwarna kuning. Kemudian
tambahkan HCl untuk uji lakmusnya yang pertama menggunakan lakmus merah, pada 1
tetes pertama tetap berwarna merah dan 1 tetes kedua berubah menjadi warna biru,
bersifat basa. Dan pada saat menggunakan lakmus biru 1 tetes pertama tetap berwarna
biru dan 1 tetes kedua berubah menjadi warna merah, bersifat asam. Jadi pada percobaan
saponifikasi ini larutan tersebut bersifat amfoter, karena bersifat basa dan asam.
percobaan ini dikatakan berhasil karena muncul endapan putih seperti sabun pada saat
penambahan NaOH. Adapun reaksinya yaitu sebagai berikut:

C8H8O3 + 2 NaOH C7H4O3Na2 + CH3OH


metil salisilat natrim hidroksida dinatrium heptanoat methanol

3. Identifikasi Ester
Pada percobaan ketiga yaitu identifikasi ester, kami melakukan 3 reaksi yaitu dengan
mereksikan asam benzoate dengan methanol, asam benzoate dengan etanol dan asam
benzoate dengan isopropyl alkohol. Pada reaksi pertama yaitu asam benzoate dengan
methanol, setelah penambahan methanol larut dan berwarna bening setelah ditambahkan
H2SO4 larut dan berwarna bening dan terdapat gelembung / gas, setelah ditambahkan
NaHCO3 larut dan berwarna bening dan terdapat gelembung / gas. Pada percobaan ini
menandakan reaksi positif karena terdapat gelembung dan pada reaksi tersebut terdapat
ester. Adapun reaksinya yaitu sebagai berikut:

Pada reaksi kedua yaitu dengan mereaksikan asam benzoate dengan etanol, Setelah
ditambahkan etanol larut dan berwarna bening, setelah ditambahkan H2SO4 larut dan
berwarna bening dan terdapat gelembung / gas, setelah ditambahkan NaHCO3 larut dan
berwarna bening dan terdapat gelembung / gas. Pada percobaan ini menandakan reaksi
positif karena terdapat gelembung dan pada reaksi tersebut terdapat ester. Adapun
reaksinya yaitu sebagai berikut:

Pada reaksi ketiga yaitu dengan mereaksikan asam benzoate dengan isopropyl
alkohol, setelah ditambahkan isopropyl alcohol larut dan berwarna bening, setelah
ditambahkan H2SO4 larut dan berwarna bening dan terdapat gelembung / gas dan terdapat
sedikit endapan, setelah ditambahkan NaHCO3 larut dan berwarna bening dan terdapat
gelembung / gas. . Pada percobaan ini menandakan reaksi positif, karena terdapat
gelembung namun pada reaksi ini berbeda dengan reaksi lainnya, karena terdapat endapan
dan pada reaksi tersebut terdapat ester. Adapun reaksinya yaitu sebagai berikut:
C6H5COOH + C3H7OH C10H12O2 + H2O

4. Hidrolisis Ester
Pada percobaan hidrolisis ester ini telah mengalami kegagalan karena sampel yang
digunakan salah, yang seharusnya ester pada percobaan ini sampel yang dipakai adalah
asam karboksilat, jadi percobaan ini gagal.
Tidak terjadi reaksi karena percobaan gagal, seharusnya memakai sampel berupa ester
bukan asam karboksilat.

VII. KESIMPULAN
Senyawa ester juga termasuk dari turunan asam karboksilat, dimana atom H pada
karboksil digantikan oleh alkil dari senyawa lain dan rumus umumnya RCOOR.
Pada percobaan ester ini kami melakukan 4 percobaan yaitu pembentukan ester,
saponifikasi, identifikasi ester, dan hidrolisis ester.
Pada pembentukan ester reaksi positifnya ditandai dengan tercium aroma yang khas.
Pada percobaan saponifikasi reaksi positifnya ditandai dengan muncul endapan putih
seperti sabun pada saat penambahan NaOH. Pada identifikasi ester reaksi positifnya
ditandai dengan terdapatnya gelembung atau gas. Dan pada hidrolisis ester mengalami
kegagalan karena sampel yang kita gunakan bukan senyawa ester namun senyawa asam
karboksilat.

VIII. DAFTAR PUSTAKA


Gusman, Tania. A. 2017. Petunjuk Praktikum Kimia Organik 1. Cirebon. Universitas
Muhammadiyah Cirebon
Nahri, Nurazizah.F. 2016. Laporan Praktikum Uji Kualitatif Senyawa Aldehid Dan
Keton.Cirebon. Universitas Muhammadiyah Cirebon ( diunduh pada 04 April
2017, Pukul 06;47 )
https://www.ilmukimia.org/2013/03/reaksi-esterifikasi.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Amfoterisme
Cirebon, 04 April 2017

Disetujui Oleh, Dibuat Oleh,

Tania Avianda Gusman, M.Sc Shofiana

LAMPIRAN I

A. Pembentukan Ester

Asam asetat + Pelarut (Metanol, etanol, Asam asetat + Pelarut (Metanol, etanol,
isopropyl) isopropyl) + H2SO4 dipanaskan

B. Saponifikasi
Metil Salisilat + NaOH 6M
Sampel Metil Salisilat Metil Salisilat + NaOH 6M dipanaskan

Metil Salisilat + NaOH 6M


Uji Lakmus Biru Uji Lakmus Merah
setelah dipanaskan

C. Identifikasi Ester

Metanol, etanol, isopropyl Metanol, etanol, isopropyl + 0,1 gr asam benzoate

D. Hidrolisis Ester
Sampel ( Asam asetat, asam format, asam oksalat) + H2SO4

LAMPIRAN II
SOAL
1. Tuliskan pembentukan ester pada percobaan diatas ?
Jawab)
a. Asam asetat + etanol

b. Asam asetat + metanol


c. Asam Asetat + Isopropil alkohol
CH3CH(CH3)OH + CH3COOH CH3COOCH(CH3)2 + H2O

2. Wangi apa yang tercium dari ester tersebut ?

Jawab)

Tercium wangi atau aroma ballons tiup pada saat proses pembentukan ester,
ketika asam asetat ditambahkan dengan methanol dan isopropyl.