Anda di halaman 1dari 4

Bentang alam denudasional lahan bekas pertambangan daerah Sigar

Bencah
Muhammad Rizqy Gau
21100116120039
muhammadrizqygau@gmail.com
1
Teknik Geologi Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia
a
Proses denudasi adalah sekumpulan proses yang mana apabila dilanjutkan cukup jauh akan mengurangi
semua ketidaksamaan di permukaan bumi menjadi tigkat dasar seragam. Dalam hal ini, proses yang
utama adalah degradasi, pelapukan, dan pelepasan material, pelapukan material permukaan bumi yang
disebabkan oleh berbagai proses erosi dan gerakan tanah. Kebalikannya adalah agradasi yaitu berbagai
macam proses eksogenik yang menyebabkan bertambahnya elevasi permukaan bumi karena proses
pengendapan hasil proses degradasi
Pada lahan bekas pertambangan di sigar bencah semarang merupakan bentuk lahan denudasional yang
terbentuk akibat dari pertambangan dan juga setelah tidak digunakan lagi terjadi pelapukan dan erosi.

Kata kunci :bentang alam, bentang alam denudasional, bentang lahan daerah sigar bencah

Pendahuluan sehingga pelapukan batuan adalah proses yang


berhubungan dengan perubahan sifat (fisis dan kimia)
Denudasi berasal dari kata dasar nude yang berarti
batuan di permukaan bumi oleh pengaruh cuaca. Secara
telanjang, sehingga denudasi berarti proses penelanjangan
umum, pelapukan diartikan sebagai proses hancurnya
permukaan bumi. Bentuk lahan asal denudasional dapat
massa batuan oleh tenaga Eksogen, menurut Olliver(1963)
didefinisikan sebagai suatu bentuk lahan yang terjadi akibat
pelapukan adalah proses penyesaian kimia, mineral dan
proses-proses pelapukan, erosi, gerak masa batuan (mass
sifat fisik batuan terhadap kondisi lingkungan di sekitarnya.
wating) dan proses pengendapan yang terjadi karena
Akibat dari proses ini pada batuan terjadi perubahan warna,
agradasi atau degradasi (Herlambang, Sudarno. 2004:42).
misalnya kuning-coklat pada bagian luar dari suatu
Proses degradasi cenderung menyebabkan penurunan
bongkah batuan. Meskipun proses pelapukan ini
permukaan bumi, sedangkan agradasi menyebabkan
berlangsung lambat, karena telah berjalan dalam jangka
kenaikan permukaan bumi.
waktu yang sangat lama maka di beberapa tempat telah
Ciri-ciri dari bentuk lahan yang asal terjadi secara
terjadi pelapukan sangat tebal. Ada juga daerah-daerah
denudasioanal, yaitu:
yang hasil pelapukannya sangat tipis, bahkan tidak tampak
sama sekali, hal ini terjadi sebagai akibat dari pemindahan
1. Relief sangat jelas: lembah, lereng, pola aliran hasil pelapukan pada tempat yang bersangkutan ke tempat
sungai. lain. Tanah yang kita kenal ini adalah merupakan hasil
2. Tidak ada gejala struktural, batuan massif, pelapukan batuan.
dep/strike tertutup. 2. Gerakan massa batuan (mass wasting)
3. Dapat dibedakan dengan jelas terhadap bentuk lain Mass wasting yaitu perpindahan atau gerakan
4. Relief lokal, pola aliran dan kerapatan aliran massa batuan atau tanah yang ada di lereng oleh pengaruh
menjadi dasar utama untuk merinci satuan bentuk gaya berat atau gravitasi atau kejenuhan massa air. Ada
lahan yang menganggap masswasting itu sebagai bagian dari
5. Litologi menjadi dasar pembeda kedua untuk pada erosi dan ada pula yang memisahkannya. Hal ini
merinci satuan bentuk lahan. Litologi terasosiasi mudah difahami karena memang sukar untuk dipisahkan
dengan bukit, kerapatan aliran,dan tipe proses. secara tegas, karena dalam erosi juga gaya berat batuan itu
turut bekerja.
3. Erosi
Proses Terbentuknya Bentuk Lahan Asal Denudasional Erosi adalah suatu proses geomorfologi, yaitu
Denudasi meliputi proses pelapukan, erosi, gerak proses pelepasan dan terangkutnya material bumi oleh
masa batuan (mass wating) dan proses tenaga geomorfologis baik kekuatan air, angin, gletser atau
pengendapan/sedimentasi. gravitasi. Faktor yang mempengaruhi erosi tanah antara
1. Pelapukan lain sifat hujan, kemiringan lereng dari jaringan aliran air,
Pelapukan (weathering) dari tanaman penutup tanah, dan kemampuan tanah untuk
perkataan weather dalam bahasa Inggris yang berarti cuaca,

1
menahan dispersi dan untuk menghisap kemudian Wilayah Kotamadya Semarang sebagaimana daerah
merembeskan air kelapisan yang lebih dalam. lainnya di Indonesia beriklim tropis, terdiri dari musim
4. Sedimentasi atau Pengendapan kemarau dan musim hujan silih berganti sepanjang tahun.
Sedimentasi adalah proses penimbunan tempat- Besarnya rata-rata jumlah curah hujan tahunan wilayah
tempat yang lekuk dengan bahan-bahan hasil erosi yang Semarang utara 2000 2500 mm/tahun dan Semarang
terbawa oleh aliran air, angin, maupun gletser (Suhadi bagian selatan antara 2500 3000 mm/tahun. Sedangkan
Purwantara, 2005:74). Sedimentasi tidak hanya terjadi dari curah hujan rata-rata perbulan berdasarkan data dari tahun
pengendapan material hasil erosi saja, tetapi juga dari 1994 1998 berkisar antara 58 338 mm/bulan, curah
proses mass wasting. Namun kebanyakan terjadi dari hujan tertinggi di daerah pemetaan terjadi pada bulan
proses erosi. Sedimentasi terjadi karena kecepatan tenaga Oktober sampai bulan April dengan curah hujan antara
media pengangkutnya berkurang (melambat). Berdasarkan 176-338 mm/bulan, sedangkan curah hujan terendah terjadi
tenaga alam yang mengangkutnya sedimentasi dibagi atas : pada bulan Mei sampai bulan September dengan curah
Sedimentasi air sungai (floodplain dan delta), air laut, hujan antara 58 131 mm/bulan.
angin, dan geltsyer. 1. Morfologi Daerah
Morfologi daerah studi berdasarkan pada
Tinjauan Pustaka bentuk topografi dan kemiringan lerengnya
dapat dibagi menjadi 7 (tujuh) satuan morfologi
Kajian dari geomorfologi salah satunya adalah bentang yaitu:
alam, bentang alam terbagi menjadi 8 menurut van zuidam 1. Dataran
yaitu: bentang alam vulkanik, bentang alam struktural, Merupakan daerah dataran lluvium
bentang alam fluvial, bentang alam eolian, bentang alam pantai dan sungai dan setempat di bagian
karst, bentang alam delta dan pantai, bentang alam glasial baratdaya merupakan punggungan lereng
dan bentang alam denudasional. perbukitan, bentuk lereng umumnya datar
Judul paper kali ini yaitu bentang alam denudasional lahan hingga sangat landai dengan kemiringan
bekas pertambanngan sigar bencah. Bentang alam lereng medan antara 0 5% (0-3%),
denudasional adalah bentang alam yang dipengaruhi oleh ketinggian tempat di baruan utara antara 0
proses denudasi. Proses denudasi atau disebut proses 25 m dpl dan di baguan baratdaya
penelanjangan adalah merupakan proses yang cenderung ketinggiannya antara 225 275 m dpl. Luas
mengubah bentuk permukaan bumi menjadi bentuk lahan penyebaran sekitar 164,9 km2 (42,36%) dari
yang lebih rendah, dan proses tersebut akan berhenti seluruh daerah studi.
apabila permukaan bumi telah mencapai level dasar yang 2. Daerah Bergelombang
sama dengan permukaan disekitarnya Proses denudasional Satuan morfologi ini umumnya
sangat dipengaruhi oleh tipe material (mudah lapuk), merupakan punggungan, kaki bukit dan
kemiringan lereng, curah hujan dan suhu udara serta sinar lembah sungai, mempunyai bentuk
matahari, dan aliran-aliran yang relatif tidak kontinyu. permukaan bergelombang halus dengan
Umumnya bentuk lahan ini terdapat pada daerah dengan kemiringan lereng medan 5 10% (3-9%),
topografi perbukitan atau gunung dengan batuan yang ketinggian tempat antara 25 200 m dpl.
lunak (akibat proses pelapukan) dan beriklim basah, Luas penyebarannya sekitar 68,09 km2.
sehingga bentuk strukturnya tidak nampak lagi karena (17,36%) dari seluruh daerah studi.
adanya gerakan massa batuan. Satuan bentuk lahan 3. Pebukitan berlereng landai
denudasional antara lain: pegunungan denudasional Satuan morfologi ini merupakan kaki
perbukitan denudasional, dataran nyaris (Peneplain), dan punggungan perbukitan, mempunyai
perbukitan sisa terpisah (inselberg), kerucut talus (Talus bentuk permukaan bergelombang landai
cones) atau kipas koluvial (coluvial van), lereng kaki (Foot dengan kemiringan lereng 10 15 % dengan
slope), dan lahan rusak (Bad land). Proses denudasi yang ketinggian wilayah 25 435 m dpl. Luas
menjadi acuan pengamatan adalah pelapukan, pelapukan penyebaran sekitar 73,31 km2 (18,84%) dari
diartikan sebagai proses hancurnya massa batuan oleh seluruh daerah pemetaan.
tenaga eksogen. Menurut Oliver (1983) pelapukan adalah 4. Pebukitan belereng Agak Terjal
proses penyesuaian kimia, mineral dan sifat fisik batuan Satuan morfologi ini merupakan
terhadap kondisi lingkungan di sekitarnya. lereng dan puncak perbukitan dengan lereng
yang agak terjal, mempunyai kemiringan
Geologi Regional lereng antara 15 30%, ketinggian tempat
Lokasi studi secara alluviumative mencakup seluruh antara 25 445 m dpl. Luas penyebarannya
wilayah Kotamadya Semarang, Propinsi Jawa Tengah. sekitar 57,91Km2 (14,8%) dari seluruh
Secara geografis terletak pada koordinat 1101620 110 daerah studi.
3029 Bujur Timur dan 6 5534 7 0704 Lintang 5. Perbukitan Berlereng Terjal
Selatan dengan luas daerah sekitar 391,2 Km2 (lihat peta Satuan morfologi ini merupakan
lokasi). lereng dan puncak perbukitan dengan lereng
yang terjal, mempunyai kemiringan lereng

2
antara 30 50%, ketinggian tempat antara 40 Dalam pembuatan paper ini digunakan metode yaitu
325 m dpl. Luas penyebarannya sekitar mendatangi langsung lahan tersebut dan mengamati
17,47 Km2 (4,47%) dari seluruh daerah langsung kemudian mencatat keadaan geologi ditempat
studi. pengamatan, baik itu potensi positif dan potensi negatif
6. Perbukitan Berlereng Sangat Terjal serta tata guna lahan yang masih bisa diamati secara
Satuan morfologi ini merupakan langsung dari lokasi tersebut.
lereng bukit dan tebing sungai dengan lereng
yang sangat terjal, mempunyai kemiringan Deskripsi
lereng antara 50 70%, ketinggian tempat
Pada lahan yang dilakukan pengamatan terdapat bentuk
antara 45 165 m dpl. Luas penyebarannya
lahan denudasional yaitu bentuk lahan yang dipengaruhi
sekitar 2,26 Km2 (0,58%) dari seluruh
oleh proses denudasi, proses denudasi yang paling terlihat
daerah studi.
dilapangan adalah pelapukan, pelapukan adalah proses
7. Perbukitan Berlereng Curam
berubahnya sifat fisik dan kimia batuan di permukaan dan
Satuan morfologi ini umumnya
atau dekat permukaan bumi tanpa di sertai perpindahan
merupakan tebing sungai dengan lereng yang
material. Diluar proses alamiah seperti pelapukan,
curam, mempunyai kemiringan >70%,
pembentukan lahan ini juga dipengaruhi oleh adanya
ketinggian tempat antara 100 300 m dpl.
aktivitas penambangan yang dilakukan oleh masyarakat,
Luas penyebarannya sekitar 6,45 Km2
karena dulunya lahan ini adalah pertambangan yang
(1,65%) dari seluruh daerah studi.
kemudian berhenti pada tahun 2011. Morfologi yang ada
8. Jenis Tanah
pada bentuk lahan kali ini yaitu
Jenis Tanah di Kota Semarang
meliputi kelompok mediteran coklat tua,
latosol coklat tua kemerahan, asosiai alluvial Pembahasan
kelabu, Alluvial Hidromort, Grumosol Menjelaskan sesuai tema, judul dan menjawab tujuan
Kelabu Tua, Latosol Coklat dan Komplek penelitian, tidak disertai gambar maupun point.
Regosol Kelabu Tua dan Grumosol Kelabu
Tua. Kesimpulan
Berikut gambaran penyebaran jenis tanah beserta
lokasi dan kemampuannya : Kesimpulan tidak boleh mengulang kalimat yang sudah
dijelaskan, melainkan merupakan ringkasan dari kalimat-
JENIS TANAH LOKASI TERHADAP WILAYAH
POTENSI kalimat penting yang ada sehingga bisa menjelaskan
Mediteran Coklat Tua Kec. Tugu, Kec. tingkat signifikansinya.
Semarang Selatan, Kec. Gunungpati, Kec.Semarang
Timur 30 Tanaman tahunan / keras, Tanaman Referensi
Holtikultura, Tanaman Palawija Y. Yorozu, M. Hirano, K. Oka, and Y. Tagawa, Electron spectroscopy
Latosol Coklat Tua Kemerahan Kec. Mijen , studies on magneto-optical media and plastic substrate interface,
Kec. Gunungpati 26 Tanaman tahunan / keras, IEEE Transl. J. Magn. Japan, vol. 2, pp. 740741, August 1987
[Digests 9th Annual Conf. Magnetics Japan, p. 301, 1982
Tanaman Holtikultura, Tanaman Padi H.W. Kroto, J.E. Fischer, D.E. Cox, The Fullerenes, Pergamon, Oxford,
Asosiasi Aluvial Kelabu dan Coklat 1993.
kekelabuhan Kec. Genuk, Kec. Semarang Tengah, http://www.vsi.esdm.go.id/index.php/kegiatan-pvmbg/download
22 Tanaman tahunan tidak produktip center/search_result (Diakses pada Selasa 12 April 2015, pukul
17.45)
Alluvial Hidromort Brumusul kelabu tua JIKA TERDAPAT REFERENSI BUKU DIDAHULUKANURUTANNYA
Kec. Tugu, Kec. Semarang Utara, Kec. Kec. Genuk, SEBELUM BLOG ATAU WEBSITE. SEMUA REFERENSI YANG
Kec. Mijen, 22 Tanaman tahunan, Tanaman DIGUNAKAN DIMASUKKAN. TIDAK MEMASUKAN =
Holtikultura, Tanaman Padi PLAGIARISM = 0
2. Struktur Geologi
Struktur geologi yang terdapat di daerah
studi umumnya berupa sesar yang terdiri dari
sesar normal, sesar geser dan sesar naik. Sesar
normal lluvium berarah barat timur sebagian
agak cembung lluviu utara, sesar geser berarah
utara selatan hingga barat laut tenggara,
sedangkan sesar normal lluvium berarah barat
timur. Sesar-sesar tersebut umumnya terjadi pada
batuan Formasi Kerek, Formasi Kalibening dan
Formasi Damar yang berumur kuarter dan tersier

Metodologi

3
Lampiran
Semua gambar, tabel dan data-data pendukung dimasukan ke lampiran.

Gambar 1. Pantai Legian, Kuta, Bali

Sumber : google map

Tabel 1. Tensile properties of PA6/PP nanocomposites


Tensile Tensile Elongation
Sample designation modulus strength at break
(GPa) (MPa) (%)
PA6/PP 1.76 0.02 39.96 0.43 12.21 0.75
PA6/PP/D-MMT 2.01 0.03 38.67 0.46 2.72 0.14
PA6/PP/S/D-MMT 1.86 0.03 41.48 0.44 3.42 0.16
PA6/PP/S/S-MMT 2.02 0.04 46.33 0.61 3.27 0.12

Isi paper dengan lampiran


dilembar terpisah, minimum 3
maksimum 5 halaman tanpa
lampiran.