Anda di halaman 1dari 42

1

BAB I

PENDAHULUAN

A Latar Belakang

Penggunaan tumbuhan obat selalu menjadi bagian penting sistem

medis di dunia, termasuk Eropa. Tradisi populer dalam abad pertengahan

dan modern awal Eropa sedikit diketahui dan pengetahuan kita berawal

dari tersedianya catatan tertulis tentang penggunaan tumbuhan obat oleh

orang umum (Heinrich dkk., 2009).

Obat tradisional telah lama dikenal dan digunakan oleh semua

lapisan masyarakat di Indonesia untuk tujuan pengobatan maupun

perawatan kesehatan. Jika ada anggota keluarga atau masyarakat yang

sedang menderita suatu penyakit, sebagian masyarakat berinisiatif untuk

memanfaatkan tanaman obat yang terdapat di sekitar lingkungannya

untuk mereka gunakan dalam pengobatan. Pemanfaatan tanaman

berkhasiat obat di masyarakat terus berkembang dan diwariskan ke

generasi selanjutnya. Perkembangan obat tradisional ini dimulai dari

ramu-ramuan tradisional yang berkembang di tengah masyarakat, yang

kemudian berkembang menjadi satu ramuan yang diyakini memiliki

khasiat tertentu bagi tubuh manusia (Wasito, 2011). Rasulullah shallallahu


1
alaihi wa sallam bersabda,

Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, melainkan akan menurunkan


pula obat untuk penyakit tersebut. (H.R. Bukhari)

Penggunaan tanaman sudah diketahui efeknya dan khasiatnya

tetapi belum diketahui komponen senyawa kimianya. Jika kita menyadari

bahwa tumbuh-tumbuhan dapat mengandung beribu-ribu kandungan

senyawa kimia, maka dari itu diperlukan metode pemisahan, pemurnian

dan identifikasi kandungan yang terdapat dalam tumbuhan yang sifatnya

berbeda-beda dan dalam jumlah yang banyak itu (Harborne, 1987).

Antioksidan merupakan senyawa yang dapat menghambat reaksi

oksidasi dengan mengikat radikal bebas dan molekul yang sangat reaktif.

Akibatnya, kerusakan sel akan dihambat (Winarsih, 2007).

Kayu secang merupakan sumber antioksidan alami. Sudah banyak

penelitian tentang khasiat tanaman secang, baik sebagai antimikroba,

antioksidan maupun zat pewarna alami (Rina dkk., 2012).

Kayu secang memiliki potensi yang cukup baik karena kayu secang

dapat dimanfaatkan sebagai pewarna alami maupun sebagai obat yang

aman. Kayu secang termasuk tanaman obat tradisional dan dibeberapa

tempat di Indonesia memanfaatkan kayu secang sebagai pewarna

maupun sebagai obat (Rina dkk., 2012).

Secang merupakan tanaman yang sudah lama banyak digunakan

sebagai obat tradisional. Komponen antioksidan yang terdapat dalam

kayu secang merupakan tanda bahwa bahan alam ini cukup baik

digunakan sebagai sumber zat antioksidan (Rina dkk., 2012).


3

Sehubungan dengan hal tersebut, maka dalam penelitian ini akan

dilakukan isolasi dan identifikasi untuk mengetahui senyawa aktif

antioksidan dari ekstrak metanol kayu secang (Caesalpinia sappan L.).

B Perumusan Masalah
1 Apakah senyawa aktif antioksidan dapat diisolasi dari ekstrak metanol

kayu secang (C. sappan)?


2 Senyawa aktif apakah yang terdapat dalam ekstrak metanol kayu

secang (C. sappan) sehingga berkhasiat sebagai antioksidan?


C Maksud dan Tujuan Penelitian
1 Maksud
Maksud dari penelitian ini yaitu untuk melakukan isolasi dan

mengidentifikasi senyawa aktif antioksidan dari ekstrak metanol kayu

secang (C. sappan).


2 Tujuan umum

Tujuan umum penelitian ini adalah menentukan senyawa aktif

antioksidan dari ekstrak metanol kayu secang (C. sappan).

3 Tujuan khusus

Tujuan khusus dari penelitian ini adalah memperoleh data

senyawa aktif antioksidan dari ekstrak metanol kayu secang

(C. sappan).

D. Manfaat Penelitian

1 Manfaat teoritis/akademis
4

Manfaat teoritis diharapkan dapat digunakan sebagai sumber

data ilmiah, sebagai rujukan untuk penelitian lanjutan, dan informasi

tentang pengembangan pemanfaatan tanaman kayu secang

(C. sappan) sebagai antioksidan sehingga dapat

dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

2. Manfaat praktis/fagmatis

Manfaat praktis dari penelitian ini diharapkan dapat menambah

sumber informasi kepada masyarakat tentang senyawa aktif

antioksidan dari ekstrak metanol kayu secang (C. sappan).

E. Kerangka Pikir

Kayu secang Ekstrak metanol


(Caesalpinia sappan L.) Kayu secang
Hasil penelitian kayu secang
digunakan sebagai antmikroba, Isolasi dan Identifikasi
antioksidan dan zat pewarna alami senyawa antioksidan
Pada masyarakat, kayu secang Data Ilmiah
digunakan untuk berbagai macam
F. Hipotesis
penyakit, seperti diare, disentri,
Kayu secang
tetanus, (C. dan
malaria, sappan)
batuk diduga mengandung senyawa yang

berpotensi sebagai antioksidan.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A Uraian Tumbuhan
1. Klasifikasi kayu secang (Caesalpinia sappan L.) (Heyne, 1987)

Divisi : Spermatophyta

Sub divisi : Angiospermae

Kelas : Dicotyledone
5

Sub kelas : Aympetalae

Bangsa : Rosales

Suku : Leguminosae

Marga : Caesalpinia

Jenis : Caesalpinia sappan Linn


2. Morfologi tumbuhan

Secang tumbuh liar dan kadang ditanam sebagai tanaman pagar

atau pembatas kebun. Perdu atau pohon kecil, tinggi 5-10 m, batang

dan percabangannya berduri tempel yang bentuknya bengkok dan

letaknya tersebar. Batang bulat, warnanya hijau kecoklatan. Daun

majemuk menyirip ganda, panjang 25-40 cm, jumlah anak daun 10-20

pasang yang letaknya berhadapan. Anak daun tidak bertangkai,

bentuknya lonkong, pangkal rompang, ujung bulat, tepi rata dan hampir

sejajar, panjang 10-25 mm, lebar 3-11 mm, warnanya hijau. Bunganya

bunga majemuk berbentuk malai, keluar dari ujung tangkai, dengan

panjang 10-40 cm, mahkota bentuk tabung, warnanya kuning. Buahnya

buah polong, panjang 8-10 cm, lebar 3-4 cm, ujung seperti paruh berisi

5
3-4 biji, bila masak warnanya hitam. Biji bulat memanjang, panjang

15-18 mm, lebar 8-11 mm, tebal 5-7 mm, warnanya kuning kecoklatan

(Arisandi, 2006).

3. Kandungan kimia
Kayu secang mengandung pigmen, tanin, brazilin, asam tanat,

resin, resorsin, brazielin, sappanin dan asam galat (Lemmens, 1992).

Menurut Rina dkk. (2012), komponen senyawa bioaktif yang


6

terkandung dalam kayu secang, yaitu brazilin, brazilein,

3-O-metilbrazilin, sappanone, chalcone, sappancalchone dan

komponen umum lainnya, seperti asam amino, karbohidrat dan asam

palmitat yang jumlahnya relatif sangat kecil. Komponen brazilin

merupakan spesifik dari kayu secang yang dapat memberikan warna

merah kecoklatan jika teroksidasi atau dalam suasana basa. Selain itu,

brazilin ini diduga juga dapat melindungi tubuh dari keracunan akibat

radikal kimia.
4. Kegunaan

Komponen brazilin merupakan spesifik dari kayu secang yang

dapat memberikan warna merah kecoklatan jika teroksidasi atau dalam

suasana basa. Selain itu, brazilin ini diduga juga dapat melindungi

tubuh dari keracunan akibat radikal kimia (Rina dkk., 2012).

Kayu secang memiliki rasa sedikit manis dan hampir tidak

berbau dan sering juga digunakan sebagai obat untuk berbagai macam

penyakit seperti luka, batuk berdarah (muntah darah), berak darah,

darah kotor, penawar racun, sipilis, penghenti pendarahan, pengobatan

pasca bersalin, demam berdarah dan katarak mata

(Sundari dkk., 1998).

B Radikal Bebas

Radikal bebas adalah senyawa atau molekul yang mengandung

satu atau lebih elektron tidak berpasangan pada orbital luarnya. Adanya

elektron yang tidak berpasangan menyebabkan senyawa tersebut sangat


7

reaktif mencari pasangan, dengan cara menyerang dan mengikat elektron

molekul yang berada disekitarnya (Winarsi, 2007).

Radikal bebas dapat didefinisikan sebagai molekul atau senyawa

yang keadaannya bebas dan mempunyai satu atau lebih elektron bebas

yang tidak berpasangan (Hernani dan Rahardjo, 2005). Hal ini disebabkan

karena terjadi perampasan elektron oksigen sehingga menjadi tidak

berpasangan dan atom oksigen akan menjadi radikal bebas yang

berusaha mengambil elektron dari senyawa lain sehingga terjadilah reaksi

berantai. Proses terbentuknya radikal bebas tidak diketahui secara pasti

(Yuliarti, 2008). Oleh karena sangat reaktif, radikal bebas sangat mudah

menyerang sel-sel yang sehat didalam tubuh

(Hernani dan Rahardjo, 2005).

Radikal bebas dapat masuk ke dalam tubuh melalui pernapasan,

kondisi lingkungan yang tidak sehat seperti banyaknya polusi udara akibat

asap rokok. Selain itu, makanan berlemak juga akan memacu

terbentuknya radikal bebas. Saat kita melakukan pernapasan, oksigen

akan masuk ke dalam tubuh. Oksigen tersebut akan sangat kita butuhkan

untuk melakukan pembakaran gula menjadi CO 2 dan H2O serta energi.

Apabila bernapas dengan oksigen yang berlebihan seperti saat olahraga

maka akan terjadi reaksi yang kompleks dalam tubuh dan menghasilkan

produk-produk sampingan yang disebut radikal bebas. Radikal bebas ini

berpotensi untuk merusak sel sehingga berbahaya bagi kesehatan.

Oksigen juga berpotensi memasukkan radikal bebas ke dalam tubuh


8

apabila kita bernapas dengan udara yang terpolusi, asap rokok maupun

asap kendaraan bermotor, juga terkena bahan pencemar ataupun radiasi

sinar matahari (Yuliarti, 2008).

Senyawa radikal bebas dalam tubuh dapat merusak asam lemah

tak jenuh ganda pada membran sel. Akibatnya, dinding sel menjadi rapuh.

Senyawa oksigen reaktif ini juga mampu menyerang bagian dalam

pembuluh darah sehingga meningkatkan pengendapan kolesterol dan

menimbulkan aterosklerosis (Winarsi, 2007).

Senyawa radikal bebas sangat aktif menyerang molekul penting

yang berada di sekelilingnya, baik itu senyawa lipid, protein, lipoprotein,

maupun karbohidrat. Meskipun demikian, keberadaan radikal bebas juga

bermanfaat bagi tubuh, misal dalam proses sintesis organik kompleks,

polimerisasi komponen dinding sel, detoksifikasi bahan kimia xenobiotik,

dan sistem pertahanan tubuh terhadap patogen. Oleh sebab itu, yang

perlu dilakukan adalah mengontrol dan mengatur potensi radikal bebas

tersebut, dan bukan mengeliminasi radikal bebas (Winarsi, 2007).

C Antioksidan

Antioksidan adalah senyawa yang mempunyai struktur molekul

yang dapat memberikan elektronnya dengan cuma-cuma kepada molekul

radikal bebas tanpa terganggu sama sekali dan dapat memutus reaksi

berantai dari radikal bebas (Kumalaningsih, 2006).

Antioksidan merupakan senyawa pemberi elektron (donor elektron)

atau reduktan. Senyawa ini memiliki sifat molekul kecil, tetapi mampu
9

menginaktivasi berkembangnya reaksi oksidasi dengan cara mencegah

terbentuknya radikal (Winarsi, 2007).

Fungsi utama antioksidan digunakan sebagai upaya untuk

memperkecil terjadinya proses oksidasi dari lemak dan minyak,

memperkecil terjadinya proses kerusakan dalam makanan,

memperpanjang masa pemakaian dalam industri makanan, meningkatkan

stabilitas lemak yang terkandung dalam makanan serta mencegah

hilangnya kualitas sensori dan nutrisi. Lipid peroksidasi merupakan salah

satu faktor yang cukup berperan dalam kerusakan selama dalam

penyimpanan dan pengolahan makanan (Hernani, 2005).

Terdapat tiga macam antioksidan, yaitu (Winarsi, 2007):

1. Antioksidan yang berasal dari dalam tubuh


Antioksidan ini biasanya berupa enzim seperti enzim katalase,

glutation peroksidase (GSH, Prx), superoksida dismutase (SOD), asam

urat dan ubiquinol.


2. Antioksidan alami
Antioksidan alami dapat diperoleh dari tanaman atau hewan,

contohnya tokoferol, vitamin C, poliphenol, indol, monoterpen, katekin,

enzim, flavonoida dan karotenoida.


3. Antioksidan sintetik
Antioksidan sintetik dibuat dari bahan-bahan kimia yaitu

butylated hydroxyanisole (BHA), butylated hydroxytoluena (BHT),


10

TBHQ, PG dan NDGA yang ditambahkan dalam makanan untuk

mencegah kerusakan lemak.


Antioksidan yang sering digunakan dalam industri pangan yang

berfungsi menghambat proses ketengikan pada produk pangan

berminyak, seperti BHA (Butylated hydroxyanisole) dan BHT

(Butylated hydroxytoluena) juga bersifat karsinogenik. BHT dan BHA ini

jenis antioksidan yang sering digunakan pada industri makanan

(Mardiah, 2006).

Menurut Hernani dan Rahardjo (2005), senyawa sintesis

antioksidan yang cukup dikenal adalah BHA dan BHT. Namun, beberapa

hasil penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan telah membuktikan

bahwa antioksidan tersebut mempunyai efek samping yang tidak

diinginkan, yaitu berpotensi sebagai karsinogenik terhadap efek

reproduksi dan metabolisme, bahkan dalam jangka waktu lama tidak

terjamin keamanannya.

Berdasarkan mekanisme kerjanya, antioksidan digolongkan

menjadi tiga kelompok, yaitu antioksidan primer, sekunder dan tersier.

Antioksidan primer disebut juga antioksidan endogenus atau enzimatis.

Suatu senyawa dikatakan sebagai antioksidan primer apabila dapat

memberikan atom hidrogen secara cepat kepada senyawa radikal,

kemudian radikal antioksidan yang terbentuk segera berubah menjadi

senyawa yang lebih stabil. Antioksidan primer meliputi enzim superoksida

dismutase (SOD), katalase dan glutation peroksidase. Sebagai

antioksidan, enzim-enzim tersebut menghambat pembentukan radikal


11

bebas dengan cara memutus reaksi berantai (polimerisasi), kemudian

mengubahnya menjadi produk yang lebih stabil (Winarsi, 2007).


Antioksidan sekunder disebut juga antioksidan eksogenus atau

non enzimatis. Antioksidan ini juga disebut sistem pertahanan preventif

dimana terbentuknya senyawa oksigen reaktif yang dihambat dengan cara

pengkelatan metal, atau dirusak pembentukannya. Kerja dari antioksidan

sekunder yaitu dengan cara menangkapnya. Antioksidan sekunder

meliputi vitamin E, vitamin C, -karoten, flavonoid, asam urat, bilirubin dan

albumin (Winarsi, 2007).


Kelompok antioksidan tersier meliputi sistem enzim DNA-repair dan

metionin sulfoksida reduktase. Enzim-enzim ini berfungsi dalam perbaikan

biomolekuler yang rusak akibat reaktivitas radikal bebas. Kerusakan DNA

yang terinduksi senyawa radikal bebas dapat dicirikan oleh rusaknya

single dan double stand, baik gugus basa maupun non-basa

(Winarsi, 2007).
D Pengujian Antioksidan

Pengujian antioksidan dapat dilakukan dengan pengujian pada

lempeng KLT dan dielusi. Hasil pengelusian disemprot dengan DPPH

(Auterhoff & Kovar, 2002).

DPPH merupakan molekul radikal bebas yang stabil dimana

ditandai oleh delokalisasi cadangan elektron disekeliling molekulnya

secara keseluruhan dengan baik sehingga tidak akan membentuk dimer

seperti yang terjadi pada kebanyakan radikal bebas lainnya

(Sarker dkk., 2006).


12

Pengujian efek antioksidan dengan menggunakan radikal bebas

1,1-difenil-2-pikrilhidrazil (DPPH), pada prinsipnya reaksi penangkapan

hydrogen dan antioksidan oleh radikal bebas (DPPH) (warna ungu) dan

diubah menjadi 1,1-difenil-2-pikrilhidrazil (warna kuning)

(Sarker dkk., 2006).

E Ekstraksi

Ekstrak adalah sediaan kering, kental, atau cair dibuat dengan

mengekstraksi simplisia nabati atau hewani menurut cara yang cocok

diluar pengaruh cahaya matahari langsung (Ditjen POM, 1979).

Ekstraksi merupakan suatu proses pemisahan campuran beberapa

zat menjadi komponen-komponen yang terpisah. Ekstraksi juga dapat

diartikan sebagai proses penarikan komponen atau zat aktif dengan

menggunakan pelarut tertentu. Proses ekstraksi bertujuan untuk

mendapatkan bagian-bagian tertentu dari bahan yang mengandung

komponen bioaktif (Harborne, 1987).

Berbagai macam metode penyiapan sampel seperti ekstraksi

cair-cair, ekstraksi fase padat, ekstraksi cair super kritik, ekstraksi fase

padat dan metode-metode yang lain baru-baru ini telah digunakan untuk

analisis senyawa obat (Rohman, 2009).


13

Tujuan ekstraksi bahan alam adalah untuk menarik komponen

kimia yang terdapat pada bahan alam, baik dari tumbuhan, hewan dan

biota laut dengan pelarut organik tertentu. Proses ekstraksi ini

berdasarkan kemampuan pelarut organik untuk menembus dinding sel

dan masuk dalam rongga sel yang mengandung zat aktif. Zat aktif akan

larut dalam pelarut organik dan karena adanya perbedaan antara

konsentrasi di dalam dan konsentrasi di luar sel, mengakibatkan terjadinya

difusi pelarut organik yang mengandung zat aktif keluar sel. proses ini

berlangsung terus menerus sampai terjadi keseimbangan zat aktif di

dalam sel (Ditjen POM, 1986).

Metode ekstraksi yang digunakan tergantung dari beberapa faktor,

antara lain tujuan ekstraksi, skala ekstraksi, sifat-sifat komponen yang

akan diekstrak dan sifat-sifat pelarut yang digunakan. Ekstraksi

menggunakan pelarut dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu

aqueous phase dan organic phase. Ekstraksi aqueous phase dilakukan

dengan menggunakan pelarut air, sedangkan organic phase

menggunakan pelarut organik (Winarno, 2008).

Umumnya zat aktif yang terkandung dalam tanaman maupun

hewan larut dalam pelarut organik. Proses terekstraksinya zat aktif dalam

tanaman adalah pelarut organik akan menembus dinding sel dan masuk

ke dalam rongga sel tanaman atau hewan yang mengandung zat aktif. Zat

aktif tersebut akan terlarut sehingga akan terjadi perbedaan konsentrasi


14

antara larutan zat aktif yang ada di dalam sel dengan pelarut organik di

luar sel (Dirjen POM, 1986).

F Metode Penguapan

Penguapan merupakan proses terbentuknya uap dari permukaan

cairan, kecepatan terbentuknya uap tergantung atas terjadinya difusi uap

melalui lapisan batas di atas cairan yang bersangkutan

(Dirjen POM, 1979).

Penguapan ekstrak dimaksudkan untuk mendapatkan konsistensi

ekstrak yang lebih pekat, menurut Farmakope Indonesia edisi III dikenal

dengan tiga macam ekstrak yaitu ekstrak cair, ekstrak kental dan ekstrak

kering (Dirjen POM, 1979).

Terlepas dari teknik ekstraksinya, ekstrak dipekatkan pada kondisi

vakum dengan menggunakan evaporator berputar untuk pelarut

bervolume besar (>5 ml) atau ditiup dengan nitrogen untuk pelarut

bervolume kecil (1-5 ml), agar memastikan bahwa komponen mudah

menguap tidak hilang. Pelarut harus segera dihilangkan setelah ekstraksi

karena bahan alam mungkin tidak stabil dalam pelarut tersebut. Ekstrak

kering harus disimpan pada suhu -20 oC sebelum dilakukan skrining untuk

aktivitas biologisnya karena hal ini akan mengurangi kemungkinan

terurainya bahan alam bioaktif (Heinrich dkk., 2009).

Faktor-faktor yang mempengaruhi penguapan adalah

(Dirjen POM, 1979):

1. Suhu
15

Suhu berpengaruh pada kecepatan penguapan, semakin tinggi suhu

maka semakin cepat penguapan.

2. Waktu

Penerapan suhu yang relatif tinggi untuk waktu yang singkat kurang

menimbulkan kerusakan bila dibandingkan pada suhu rendah tetapi

memerlukan waktu yang lama.

3. Kelembaban

Beberapa senyawa kimia mudah terurai bila kelembabannya tinggi,

terutama pada kenaikan suhu.

4. Cara penguapan

Bentuk hasil akhir seringkali menentukan cara penguapan yang tepat.

5. Konsentrasi

Pada penguapan cairan akan menjadi lebih pekat, sehingga kadar

bentuk padatnya makin bertambah, hal ini akan mengakibatkan

kenaikan titik didih larutan tersebut. Dengan kenaikan suhu dan kadar

zat akan memperbesar resiko kerusakan zat yang tidak tahan

pemanasan dan mengurangi perbedaan suhu yang merupakan daya

dorong.

G Isolasi
Isolasi adalah proses pemisahan komponen kimia yang terdapat

dalam suatu ekstrak. Pemisahan ini didasarkan pada sifat adsorbsi dan

partisi dari senyawa yang dipisahkan terhadap adsorben dan cairan

pengelusi yang digunakan, proses isolasi biasanya dilakukan dengan cara

kromatografi. Pemisahan terjadi karena komponen cuplikan bergerak


16

dengan jarak yang berbeda akibat adanya perbedaan partisi dari

komponen yang dipisahkan. Pemisahan dan pemurnian terjadi karena

adanya perbedaan distribusi di antara dua fase, fase diam dan fase gerak

(Sudjadi, 1988).
Kromatografi kolom dikemas kering dalam keadaan vakum agar

diperoleh kerapatan kemasan maksimum. Vakum dihentikan, pelarut yang

kepolarannya rendah dituangkan kepermukaan penyerap lalu divakumkan

lagi dan siap dipakai. Cuplikan dilarutkan dalam pelarut yang cocok,

dimasukkan langsung pada bagian atas kolom atau pada lapisan

prapenyerap dan dihisap perlahan-lahan ke dalam kemasan dengan

memvakumkannya. Kolom dielusi dengan campuran pelarut yang cocok,

kolom dihisap pada setiap pengumpulan fraksi (Sudjadi, 1988).


H Identifikasi

Pada identifikasi suatu kandungan tumbuhan setelah kandungan itu

diisolasi dan dimurnikan. Pertama-tama harus kita tentukan dahulu

golongannya, kemudian barulah ditentukan jenis senyawa dalam

golongan tersebut. Sebelum itu, kesamaan senyawa tersebut haruslah

diperiksa dengan cermat artinya senyawa harus membentuk bercak

tunggal dalam beberapa sistem KLT atau KKt (Harborne, 1987).

1. Identifikasi senyawa dengan Kromatografi Lapis Tipis (KLT)


Kromatografi lapis tipis (KLT) adalah suatu metode analisis yang

digunakan untuk memisahkan suatu campuran senyawa secara cepat

dan sederhana. Prinsipnya didasarkan atas partisi dan adsorpsi. Zat

penjerap merupakan fase stasioner, berupa bubuk halus dibuat serba

rata dan tipis diatas lempeng kaca. Fase diam yang umum digunakan
17

adalah silica gel, baik yang normal fase maupun reversed fase. Pada

KLT, komponen bergerak dengan kecepatan yang berbeda-beda

mengikuti naiknya eluen, karena daya serap adsorben pada

komponen-komponen tidak sama, maka komponen bergerak dengan

kecepatan berbeda dan hal inilah yang menyebabkan terjadinya

pemisahan (Roth dkk., 1994).


Kromatografi lapis tipis merupakan kromatografi serapan, tetapi

dapat juga merupakan kromatografi partisi karena bahan penyerap

telah dilapisi air dan udara. Sistem ini segera popular karena

memberikan banyak keuntungan misalnya peralatan yang diperlukan

sedikit, murah, sederhana, waktu analisis cepat dan daya pisah cukup

baik (Dirjen POM, 1986).


KLT merupakan bentuk kromatografi planar, selain kromatografi

kertas dan elektroforesis. Berbeda dengan kromatografi kolom yang

mana fase diamnya diisikan atau dikemas di dalamnya, pada

kromatografi lapis tipis, fase diamnya berupa lapisan yang seragam

(uniform) pada permukaan bidang datar yang didukung oleh lempeng

kaca, pelat aluminium, atau pelat plastik. Meskipun demikian,

kromatografi planar ini dapat dikatakan sebagai bentuk terbuka dari

kromatografi kolom (Sudjadi, 2007).


Beberapa keuntungan lain kromatografi planar adalah

(Sudjadi, 2007):
- Kromatografi lapis tipis banyak digunakan untuk tujuan analisis.
- Identifikasi pemisahan komponen dapat dilakukan dengan pereaksi

warna, fluoresensi, atau dengan radiasi menggunakan sinar ultra

violet.
18

- Dapat dilakukan elusi secara menaik (ascending), menurun

(descending), atau dengan cara elusi 2 dimensi.


- Ketepatan penentuan kadar akan lebih baik karena komponen yang

akan ditentukan merupakan bercak yang tidak bergerak.

Teknik ini dikembangkan tahun 1938 oleh Ismailoff dan

Schraiber. Adsorben dilapiskan pada lempeng kaca yang bertindak

sebagai penunjang fase diam. Fase bergerak akan menyerap

sepanjang fase diam dan terbentuklah kromatogram. Ini dikenal juga

sebagai kromatografi kolom terbuka. Metode ini sederhana, cepat

dalam pemisahan dan sensitif. Kecepatan pemisahan tinggi dan mudah

untuk memperoleh kembali senyawa-senyawa yang terpisahkan

(Khopkar, 2007).

Lempeng silika gel dapat dimodifikasi untuk membentuk

penjerap fase terbalik dengan cara membacemnya menggunakan

paraffin cair, minyak silicon, atau dengan lemak. Lempeng fase terbalik

jenis ini digunakan untuk identifikasi hormon-hormon steroid

(Rohman, 2009).

Pemisahan pada kromatografi lapis tipis yang optimal akan

diperoleh hanya jika menotolkan sampel dengan ukuran bercak sekecil

dan sesempit mingkin. Sebagaimana dalam prosedur kromatografi

yang lain, jika sampel yang digunakan terlalu banyak maka akan

menurunkan resolusi (Rohman, 2009).

Aplikasi KLT sangatlah luas. Senyawa-senyawa yang tidak

mudah menguap serta terlalu labil untuk kromatografi cair dapat


19

dianalisis dengan KLT. Dapat pula untuk memeriksa adanya zat

pengotor dalam pelarut. Ahli kimia forensik menggunakan KLT untuk

bermacam pemisahan. Formulasi zat warna dapat ditentukan dengan

KLT. Pemisahannya juga meluas dalam pemisahan anorganik

(Khopkar, 2007).

2. Spektroskopi Ultraviolet-Visibel

Spektrofotometri UV-Vis adalah salah satu metode analisis kimia

secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis secara kualitatif berdasarkan

pada panjang gelombang yang ditunjukkan oleh puncak spektrum

sedangkan analisis secara kuatitatif berdasarkan pada penurunan

intensitas cahaya yang diserap oleh suatu media. Intensitas ini

tergantung pada tebal tipisnya media dan konsentrasi warna spesies

yang ada pada media tersebut. Pembentukan warna dilakukan dengan

cara menambahkan bahan pengompleks yang selektif terhadap unsur

yang ditentukan (Perkin, 1992).

Penyerapan sinar ultra violet oleh suatu molekul akan

menghasilkan transisi diantara tingkat energi elektronik molekul

tersebut, oleh karena itu sering dinamakan spektrofotometri elektronik.

Transisi tersebut pada umumnya antara inti ikatan atau orbital bukan

ikatan. Panjang gelombang serapan merupakan ukuran perbedaan

tingkat tinggi dari orbital yang bersangkutan. Supaya elektron dalam

ikatan sigmatereksitasi maka diperlukan energi paling tinggi dan akan


20

memberikan serapan pada panjang gelombang 120200 nm. Daerah

ini dikenal sebagai daerah ultra violet hampa (Sastrohamidjoyo, 1985).

Spektroskopi dilakukan dengan cara ujung bawah ultraviolet

terdiri dari sumber radiasi. Monokromator yang berfungsi untuk

mendapatkan radiasi yang memancarkan radiasi polikromatis, wadah

untuk sampel yang akan dianalisa, dan detektor yang berfungsi

mengubah signal radiasi yang diterima menjadi signal elektronik

(Sastrohamidjoyo, 1985).

Spektrofotometri UV-Vis dapat melakukan penentuan terhadap

sampel yang berupa larutan, gas dan uap. Untuk sampel yang berupa

larutan perlu diperhatikan beberapa persyaratan pelarut yang dipakai,

antara lain (Mulja, 1995):

a) Pelarut yang dipakai tidak mengandung sistem ikatan rangkap

terkonjugasi pada struktur molekulnya dan tidak berwarna.


b) Tidak terjadi interaksi antara molekul senyawa yang dianalisis.
c) Kemurniannya harus tinggi atau derajat untuk analisis.

Penyerapan sinar ultra violet-visible oleh suatu molekul akan

menghasilkan transisi diantara tingkat energi elektronik molekul

tersebut. Oleh karena itu, sering dinamakan spektrofotometri elektronik.

Transisi tersebut pada umumnya antara inti ikatan atau orbital bukan

ikatan. Panjang gelombang serapan merupakan ukuran perbedaan

tingkat tiggi dari orbital yang bersangkutan. Supaya electron dalam

ikatan sigma tereksitasi maka diperlukan energi paling tinggi dan akan

memberikan serapan pada panjang gelombang 120-200 nm. Daerah ini


21

dikenal sebagai daerah ultra violet hampa. Spektrofotometri dilakukan

dengan cara ujung bawah ultra violet terdiri dari sumber radiasi.

Monokromator yang berfungsi untuk mendapatkan radiasi yang

memancarkan radiasi polikromatis, wadah untuk sampel yang akan

dianalisis, dan detector yang berfungsi mengubah signal radiasi yang

diterima menjadi signa elektronik (Sastrohamidjoyo, 1985).

Menurut Anderson dan Markham (2006), dalam penerapan

standarisasi spektro UV-Vis dalam analisis senyawa flavonoid memiliki

puncak dengan range maksimum 240-285 nm dan 300-550 nm.

3. Spektroskopi Infra Merah

Spetroskopi infra merah adalah spektroskopi yang memberikan

informasi tentang gugus fungsi suatu senyawa yaitu gugus yang

menentukan senyawa tersebut. Bila sinar infra merah dilewatkan

melalui cuplikan senyawa organik, maka frekuensi diserap sedangkan

frekuensi yang lain diteruskan tanpa diserap. Jika digambarkan antara

adsorbsi dengan frekuensi, maka akan dihasilkan spektrum infra merah

(Sastrohamidjoyo, 1985).

Penggunaan spektroskopi infra merah pada bidang kimia organik

hampir menggunakan daerah dari 650-4000 cm -1. Daerah dengan

frekuensi lebih rendah 650 cm-1 disebut infra merah jauh, dan daerah

dengan frekuensi lebih tinggi dari 4000 cm -1 disebut infra merah dekat

(Sastrohamidjoyo, 1985).
22

Atom-atom di dalam suatu molekul tidak diam melainkan

bervibrasi. Bila radiasi dilewatkan melalui suatu cuplikan, maka

molekul-molekulnya dapat menyerap energi. Penyerapan energi pada

berbagai frekuensi dapat dideteksi oleh spektrofotometer inframerah

yang memplot jumlah radiasi inframerah yang diteruskan melalui

cuplikan sebagai fungsi frekuensi radiasi (Hendayana, 1994).

Spektrofotometer inframerah merupakan salah satu metode

analisis untuk mengetahui gugus fungsi apa saja yang terdapat dalam

suatu molekul organik (Harmita, 2006).

Identifikasi pita absorpsi khas yang disebabkan oleh berbagai

gugus fungsi merupakan dasar penafsiran spektrum infra merah. Jadi

frekuensi regang O-H menimbulkan pita absorpsi kuat di daerah

3350 cm-1. Adanya pita kuat di daerah 3350 cm -1 pada spektrum infra

merah suatu senyawa merupakan petunjuk kuat bahwa molekul itu

mengandung gugus fungsi O-H (Creswell dkk., 1982).

Gugus-gugus yang biasanya teranalisis pada senyawa tanin

adalah OH (sedang) pada bilangan gelombang 3500-3200 cm -1, C=O

(tajam) pada bilangan gelombang 1640-1650 cm -1, C=C (aromatik)

pada bilangan gelombang 1675-1500 cm -1, dan -C-H (aromatik, tajam)

pada bilangan gelombang 3700-3050 cm -1 (Harborne, 1996).


23

BAB III

METODE PENELITIAN

A Waktu dan Tempat Penelitian

Pelaksanaan penelitian pada bulan Maret 2015 di Laboratorium

Farmakognosi-Fitokimia Fakultas Farmasi Universitas Muslim Indonesia,

Makassar.

B Populasi dan Sampel

Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah simplisia dari

tanaman kayu secang (C. sappan) yang diperoleh dari kabupaten Luwu

Utara, Sulawesi Selatan.

C Metode Kerja
Penelitian yang dilakukan termasuk jenis penelitian eksperimental

laboratorium.
D Alat dan Bahan
1 Bahan yang digunakan
Bahan-bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah

aluminium foil, aquadest, aseton, besi (III) klorida, kalium hidroksida,

kayu secang (C. sappan), diklorometan, DPPH

(1,1-Diphenyl-2-Picryl Hydrazil), etanol 96%, etil asetat, kalium

hidroksida, kertas saring, kloroform, kuersetin, lempeng KLT, lempeng

KLTP, metanol, natrium hidroksida, n-heksan, silika gel GF254, silika

gel 60 (0,2-0,5 mm), timbal (II) asetat dan sitroborat.

2 Alat yang digunakan

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian adalah blender, botol

24
penyemprot penampak bercak, chamber KLT, chamber KLTP, gelas
24

kaca, rotavapor (rotary evaporator), lampu UV 254 nm dan 366 nm,

neraca analitik, oven, seperangkat alat maserasi, seperangkat alat

kolom vakum cair, seperangkat alat kromatografi lapis tipis,

seperangkat alat sentrifuge, spektrofotometer IR dan spektrofotometer

UV-Vis.

E Prosedur Kerja
1 Penyiapan bahan dan alat

Bahan dan alat disiapkan sesuai dengan kebutuhan penelitian

yang akan dilaksanakan.

2 Pengambilan sampel

Batang secang dikumpulkan pada hari yang sama sebanyak 2 kg

dari kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan pada bulan Maret 2015

dalam keadaan utuh dan masih segar.

3 Pengolahan sampel

Batang secang yang telah dikumpulkan disortasi basah, yaitu

dipisahkan dari bahan lainnya seperti daun dan bahan asing lainnya.

Batang secang kemudian dicuci dengan air bersih yang mengalir

sampai kotoran yang melekat hilang. Batang secang yang telah bersih

dibuang kulitnya dan diserut tipis dengan ketebalan 3-5 mm.

Pengeringan dilakukan menggunakan oven pada suhu 60 0C. Selama

pengeringan kayu secang dibolak-balik posisinya supaya pemanasan

merata. Akhir pengeringan ditandai dengan mudah dipatahkannya

simplisia dan menimbulkan bunyi gemerisik jika diremas

(Yalapuspa, 2010).
25

Pembuatan serbuk dilakukan dengan cara menghaluskan

simplisia dengan menggunakan blender selama 5 menit atau serbuk

telah memenuhi 2/3 blender. Serbuk yang dihasilkan kemudian diayak

dengan ayakan 20/50 mesh (Yalapuspa, 2010).

4 Ekstraksi sampel
Penelitian diawali dengan maserasi menggunakan metanol,

serbuk kayu secang (C. sappan) ditimbang sebanyak 200 gram,

dimasukkan kedalam wadah maserasi ditambahkan pelarut metanol

sebanyak 2000 mL hingga simplisia tersebut terendam, dibiarkan

selama 12 jam dalam bejana tertutup sambil sesekali diaduk. Proses

ekstraksi ini dilakukan sebanyak 2 kali. Kemudian dilakukan

penyaringan dan diperoleh ekstrak metanol cair. Hasil penyarian yang

diperoleh kemudian diuapkan dengan menggunakan rotavapor hingga

diperoleh ekstrak kental. Berat ekstrak yang diperoleh dari tiap

percobaan dicatat dan dihitung rendamennya (Hangoluan, 2011).


5 Partisi
Ekstrak hasil maserasi dipartisi dengan menggunakan pelarut

n-heksan teknis sebanyak 5 L (Hangoluan, 2011).

6 Isolasi dan pemurnian senyawa kimia


a Isolasi dengan metode kromatografi kolom vakum cair
1 Penyiapan kolom
Kromatografi kolom vakum cair (yang berdiameter 3 cm

dan tinggi 20 cm) diisi dengan silica gel 60 GF 254 hingga mencapai

ketinggian lebih kurang 5 cm. Pengisian kolom dilakukan dalam

keadaan vakum, agar diperoleh kerapatan kemasan maksimum

(Amalia dkk., 2013).


2 Isolasi sampel
26

Ekstrak yang akan difraksinasi dilakukan preadsorpsi dan

dimasukkan kedalam kolom. Selanjutnya dielusi secara

bergradien menggunakan pelarut n-heksan, perbandingan

n-heksan : diklorometan, sampai perbandingan

diklorometan : metanol (1:1). Hasil pemisahan ditampung dalam

gelas kaca yang telah diberi nomor (Amalia dkk., 2013).


3 Identifikasi dengan kromatografi lapis tipis
Fraksi-Fraksi hasil pemisahan secara kromatografi vakum cair

diuji dengan KLT. Plat KLT diberikan batas atas dan bawah,

masing-masing fraksi ditotolkan pada plat KLT sesuai dengan

nomor yang telah diberikan. Selanjutnya dielusi sampai pada

batas atas plat yang telah ditandai, kemudian plat diangkat. Tandai

noda yang dihasilkan dengan pensil yang dibantu melihatnya

dengan lampu UV atau pereaksi penampak noda (Amalia dkk.,

2013).
4 Uji kualitatif antioksidan
Lempeng hasil identifikasi dengan Kromatografi Lapis Tipis

disemprot dengan menggunakan 1,1-Dipenyl-2-Picryl Hydrazil

(DPPH) dan diamati perubahan yang terjadi dari warna ungu ke

kuning (Nafidatunnisa, 2014).


b Isolasi senyawa aktif antioksidan dengan metode Kromatografi Lapis

Tipis Preparatif
Plat KLT preparatif yang berukuran 20x20 cm diberikan batas

atas dan bawah, masing-masing 1 cm. Selanjutnya dielusi sampai

pada batas atas plat yang telah ditandai, kemudian plat diangkat.

Tandai noda yang dihasilkan dengan pensil yang dibantu melihatnya


27

dengan lampu UV 254 nm dan UV 366 nm. Setelah terbentuk pita,

pita tersebut dimasukkan kedalam tabung sentrifuge dan

ditambahkan metanol p.a kemudian disentrifuge selama 10 menit.

Filtrat yang dihasilkan ditampung dalam wadah vial, kemudian

diuapkan hingga diperoleh isolat (Yalapuspa, 2010).


7 Uji kemurnian isolat aktif
a KLT dua dimensi
Isolat yang diperoleh ditotolkan pada lempeng KLT (Merck

Germany) yang berukuran 10x10 cm, kemudian dielusi dengan eluen

n-heksan : aseton (6:4). Proses elusi yang kedua dengan

menggunakan fase gerak diklorometan : etil asetat (6:4), dilakukan

dengan cara memutar lempeng 90 derajat, sehingga hasil elusi yang

pertama menjadi titik awal pengelusian yang kedua. Dari proses elusi

yang dilakukan terdapat satu bercak tunggal, maka dapat diduga

bahwa isolat tersebut adalah komponen kimia yang tunggal

(Nafidatunnisa, 2014).
b Kromatografi Lapis Tipis multi eluen
Uji kemurnian isolat dilakukan dengan menggunakan variasi

eluen n-heksan : aseton (6:4) dan diklorometan : etil esetat (8:2).

Kemudian diamati pada sinar tampak, UV 254 nm dan UV 366 nm.

Penampakan bercak tunggal menandakan bahwa golongan senyawa

dari bercak yang diperoleh merupakan golongan senyawa kimia yang

tunggal (Nafidatunnisa, 2014).


8 Identifikasi sampel
a Identifikasi dengan pereaksi kimia
28

Serbuk kayu sebanyak 100 mg dikocok dengan 5 mL metanol

P selama 5 menit menghasilkan filtrat berwarna kuning kejinggaan

kemudian dilakukan percobaan sebagai berikut:


i. Tiga tetes filtrat diteteskan ke pelat tetes dan ditambah 1 tetes

larutan kalium hidroksida P 5% b/v kemudian diamati warnanya


ii. Tiga tetes filtrat diteteskan ke pelat tetes dan ditambah 1 tetes

larutan natrium hidroksida P 5% b/v kemudian diamati

warnanya
iii. Tiga tetes filtrat diteteskan ke pelat tetes dan ditambah 1 tetes

larutan timbal (II) asetat P 5% b/v kemudian diamati warnanya


iv. Tiga tetes filtrat diteteskan ke pelat tetes dan ditambah 1 tetes

larutan besi (III) klorida P 5% b/v kemudian diamati warnanya

Hasil identifikasi secara kimia yang menunjukkan warna ungu

kemerahan dan ungu kecoklatan merupakan reaksi positif bahwa

kayu secang mengandung senyawa brazilein (Depkes RI, 1977).

b Identifikasi spektroskopi UV-VIS

Isolat murni yang diperoleh diidentifikasi dengan spektroskopi

UV-VIS. Senyawa dilarutkan dengan metanol p.a kemudian cuplikan

ditempatkan antara monokromator dan detektor. Spektrum yang

dihasilkan direkam pada alat pencatat (Nafidatunnisa,2014).

c Identifikasi spektroskopi infra merah

Kristal murni yang diperoleh diidentifikasi dengan spektroskopi

infra merah dengan cara menempatkan cuplikan sebagai film yang

tipis diantara dua lapisan natrium klorida yang transparan, kemudian


29

ditempatkan pada celah sinar infra merah. Hasil direkam pada alat

pencatat (Nafidatunnisa, 2014).


30

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A Hasil Penelitian
B Pembahasan
31

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
B. Saran
32
33

DAFTAR PUSTAKA

Adrian, M., 2000,Teknik Kromatograf, Penerbit Andi, Yogyakarta.

Amalia, R., Teruna, H.Y., dan Balatif, N., 2013, Isolasi dan Uji Aktivitas
Antioksidan Ekstrak Metanol Dari Daun Tanaman Annona
squamosa L., Pekanbaru: Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam Universitas Riau. (Online)
(http://103.10.169.96/handle/123456789/2498) Diakses tanggal 31
Oktober 2014.

Arisandi, Y., Adriani, Y., 2006, Khasiat Tanaman Obat, Pustaka Buku
Murah, Jakarta.

Auterhoff, H., dan Kovar, K.A., 2002, Identifikasi Obat, Edisi V,


diterjemahkan oleh Sugiarso, N.C., Penerbit ITB, Bandung.

Creswell, C.J., Runquist, O.A., dan Campbell, M.M., 1982, Spectrum


analysis of organiccompound an introductory programmedtext,
diterjemahkan oleh Kosasih, P., dan Ny. Iwang, S., Penerbit ITB,
Bandung.

Dirjen POM, 1979, Farmakope Indonesia, Edisi III, Depkes RI, Jakarta.

Dirjen POM, 1977, Materia Medika Indonesia, Edisi I, Depkes RI, Jakarta.

Dirjen POM, 1986, Sediaan Galenik, Depkes RI, Jakarta.

Hangoluan, B.Y.M., 2011, Pengembangan Metode Isolasi Brazilin dari


Kayu Secang (Caesalpinia sappan L.), Bogor: Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Pertanian Bogor.
(Online) (http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/51450)
Diakses tanggal 28 November 2014.

Harborne, J.B., 1987, Metode Fitokimia: Penuntun Cara Modern


Mengekstraksi Tumbuhan, Terbitan kedua, Penerbit ITB,
Bandung.

Harborne, J.B., 1996, Metode Fitokimia: Penuntun Cara Modern


Menganalisa Tumbuhan, Terbitan kedua. Penerbit ITB, Bandung.

Harmita, 2006, Buku Ajar Analisis Fisikokimia, Departemen Farmasi


Universitas Indonesia, Depok.

Hendayana, S., 1994, Kimia Pemisahan, PT. Remaja Rosdakarya,


Bandung.

31
34

Heinrich, M., Barnes, J., Gibbons, S., dan Williamson, E.M., 2009,
Farmakognosi dan Fitokimia, EGC, Jakarta.

Hernani, R.M., 2005, Tanaman Berkhasiat Antioksidan, Penebar Swadya,


Jakarta.

Heyne, K., 1987, Tumbuhan Berguna Indonesia, Edisi II, Terjemahan


Badan Litbang Kehutanan Jakarta, Dep-Hut, Jakarta.

Khopkar, S.M., 2007, Konsep Dasar Kimia Analitik, Universitas Indonesia


Press, Jakarta.

Kumalaningsih, S., 2006, Antioksidan Alami, Trubus Agrisarana,


Surabaya.

Lemmens, R.H.M.J., dan Soetjipto, N.W., 1992, Dye and Tannin


Producing Plants, Prosea, Bogor.

Gritter, R.J., Bobbit, J.M., 1991, Pengantar Kromatografi, Penerbit ITB,


Bandung.

Mardiah, 2006, Makanan Antikanker, Kawan Pustaka, Jakarta.

Markham, R., Andersen, M., 2006, Flavanoids Chemistry, Biochemistry


and Applications, London, New York.

Mulja, M., dan Suharman, A., 1995, Analisis Instrumen, Universitas


Airlangga Press, Surabaya.

Nafidatunnisa, 2014, Isolasi dan Identifikasi Senyawa Aktif Antioksidan


Ekstrak Etanol Daun Srikaya (Annona squamosa L.), Skripsi,
S.Farm., Fakultas Farmasi, Universitas Muslim Indonesia,
Makassar.

Perkin, E., dan Co, G., 1992, Manual Operation Uv-Vis Spektrometer,
Lamda.

Rina, O., dkk., 2012, Efektifitas Ekstrak Kayu Secang


(Caesalpinia Sappan L.) Sebagai Bahan Pengawet Daging, Jurnal
Penelitian Pertanian Terapan, ISSN 1410-5020, Volume 12 (3):
181-186. (http://download.portalgaruda.org/article.php) Diakses
tanggal 31 Oktober 2014.
Rohman, A., 2009, Kromatografi Untuk Analisis Obat, Graha Ilmu,
Yogyakarta.
35

Roth, H.J., dan Blaschke, G., 1994, Analisis Farmasi, Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta.

Sastrohamidjoyo, H., 1985a, Kromatografi, Edisi Pertama, Liberty, UGM,


Yogyakarta.

Sastrohamidjoyo, H., 1985b, Spektroskopi, Edisi Pertama, Liberty, UGM,


Yogyakarta.

Sarker, L.Z., dan Gray, A., 2006, Natural Product Isolation 2 nd Humana
Press Inc, Totowa, NJ.

Sudjadi, 2007, Kimia Farmasi Analisis, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Sundari, D.W.L., dan Winarno, M.W., 1998, Informasi Khasiat, keamanan


dan Fitokimia Tanaman Secang (Caesalpinia sappan L), Warta
Tumbuhan Obat Indonesia Vol. 4 No. 3.

Wasito, H., 2011, Obat Tradisional Kekayaan Indonesia, Graha Ilmu,


Yogyakarta.

Winarno, F.G., 2008, Kimia Pangan dan Gizi, M-Brio Press, Bogor.

Winarsi, H.M.S., 2007, Antioksidan Alami dan Radikal Bebas, Kanisius,


Yogyakarta.
Yalapuspa, D.S., 2010, Optimasi Pembuatan Ekstrak Etanolik Kayu
Secang (Caesalpinia sappan L.) Secara Soxhletasi: Aplikasi
Metode Desain Faktorial, Skripsi, Fakultas Farmasi Universitas
Sanata Dharma, Yogyakarta.

Yuliarti, N., 2008, Racun di Sekitar Kita, Penerbit Andi, Yogyakarta.


36

LAMPIRAN

Kayu secang
(Caesalpinia sappan L.)
yang telah kering dan halus sebanyak 200 g

Dimaserasi dengan Metanol (MeOH) sebanyak 2 L


selama 12 jam (Diulangi sebanyak 2x)

Didapatkan ekstrak metanol cair

Diuapkan dengan menggunakan

Ekstrak metanol kental

Uji antioksidan dengan DPPH

Dipartisi dengan n-heksan sebanyak 5 L

Kromatografi kolom vakum cair


menggunakan fase gerak dan fase diam yang sesuai

Fraksi-fraksi

Uji antioksidan dengan DPPH

Kromatografi lapis tipis menggunakan fase gerak dan


fase diam yang sesuai

Uji kualitatif antioksidan


dengan metode DPPH

Isolasi senyawa aktif antioksidan


dengan metode KLT Preparatif

Isola
37

Lanjutan
Isola

Uji antioksidan dengan DPPH

Uji kemurnian Identifikasi

KLT KLT Pereaksi UV-VIS IR


2 Dimensi Multi Eluen Kimia

Analisis Data

Pembahasan

Kesimpulan

Gambar 1. Skema kerja isolasi dan identifikasi senyawa aktif antioksidan


ekstrak metanol kayu secang (Caesalpinia sappan L.)
38
39

Gambar. Sampel Penelitian

Keterangan:

a Tumbuhan Kayu Secang (Caesalpinia sappan L.)

(Sumber : Dokumentasi pribadi)


40

Gambar. Hasil Kromatografi Penampak Bercak Isolat

Gambar. Alat identifikasi isolate

Keterangan:

a Spektrofotometer UV-VIS
b Spektrofotometer IR

Gambar. Hasil spektrofotometri Infra Merah

Gambar. Hasil determinasi tumbuhan


41
42

SKRIPSI

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI SENYAWA AKTIF ANTIOKSIDAN


EKSTRAK METANOL KAYU SECANG (Caesalpinia sappan L.)

SAFINATUNNAJAH AL RASYID
150 2011 0295

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2014