Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH PRODUKSI KAMBING DAN KERBAU PERAH

ANALISIS ATAS TERJADINYA DIARE


PADA PEMELIHARAAN KAMBING PERAH

Disusun oleh:
Kelompok 1
Jajat Rohmana 200110110030
Dwi Prima Utama 200110110052
Harika Apriana 200110130093

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
SUMEDANG
2017
i

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, atas rahmat dan

karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan Makalah Produksi Kambing dan Kerbau

Perah ini. Shalawat serta salam selalu terlimpah kepada Nabi Muhammad SAW,

kepada keluarganya, para sahabatnya, serta para pengikut setianya hingga akhir

zaman. Kami juga berterima kasih kepada Bapak Willjan Djaja selaku pengampu

mata kuliah Produksi Kambing dan Kerbau perah atas penugasan makalah Analisis

atas Terjadinya Diare pada Peternakan Kambing Perah.

Diare adalah salahsatu gejala penyakit yang umum menyerang peternakan

kambing perah, sehingga menurunkan produktivitas ternak. Analisis atas terjadinya

diare sangat penting agar dapat menangani diare dengan baik.

Kami memohon maaf atas kekurangan yang terdapat dalam karya tulis ini,

sehingga kritik dan saran konstruktif akan kami terima. Semoga karya tulis kami

bermanfaat dan dapat menjadi sumbangan bagi perkembangan ilmu pengetahuan

khususnya di bidang peternakan.

Sumedang, Maret 2017

Penulis
ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................................


PENDAHULUAN .................................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang ...................................................................................... 1
1.2 Masalah .................................................................................................. 2
1.3 Tujuan .................................................................................................... 2
1.4 Kegunaan ............................................................................................... 2
TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................................ 3
2.1 Pemeliharaan Kambing Perah ............................................................. 3
2.2 Diare ....................................................................................................... 4
2.3 Penyebab Diare ..................................................................................... 5
2.3.1 Diare Non Infeksi .............................................................................. 5
2.3.2 Diare Infeksi ...................................................................................... 6
A. Infeksi Bakteri ................................................................................... 7
1. Escherichia coli ................................................................................... 7
2. Salmonella ........................................................................................... 8
3. Clostridium perfringens ...................................................................... 9
B. Infeksi Virus .................................................................................... 10
1. Rotavirus ........................................................................................... 10
2. Coronavirus ....................................................................................... 10
C. Infeksi Parasit .................................................................................. 11
1. Eimeria .............................................................................................. 11
2. Giardia ............................................................................................... 13
3. Cacing ............................................................................................... 13

HASIL DAN PEMBAHASAN ........................................................................... 14

4.1 Hasil ...................................................................................................... 14

4.2 Pembahasan ......................................................................................... 15

KESIMPULAN .................................................................................................... 18

5.1 Kesimpulan .......................................................................................... 18

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 19


1

I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kambing perah merupakan komiditi ternak yang memiliki potensi untuk
membantu mengurangi gizi buruk masyarakat Indonesia. Semua rumpun kambing
pada dasarnya dapat diperah dengan jumlah produksi susu yang beragam. Beberapa
jenis kambing yang dianggap benar-benar sebagai kambing perah diantaranya
adalah Saanen, Jamnapari, Toggenberg, Anglo, Nubian, British Alpin dan Etawah.
(Sutama, 2007).

Pemeliharaan ternak memiliki tiga komponen utama yaitu Breeding,


Feeding dan Manajemen. Salahsatu fokus utama manajemen ternak adalah
pengendalian penyakit, karena penyakit dapat mengurangi produktivitas ternak.
Salahsatu penyakit yang sering terjadi pada ternak kambing perah adalah diare atau
mencret.

Penyakit menular adalah sebuah penyakit yang menular dari hewan ke


hewan, hewan ke manusia atau dari peralatan ke hewan. Penyakit menular bisa
sangat sulit diberantas serta banyak termasuk dalam penyakit zoonosis, yaitu
penyakit yang berbahaya bagi manusia. Penyebab munculnya sebuah penyakit
hingga berulang kali, 75% adalah akibat penyakit zoonosis, oleh karena itu dampak
penyakit zoonosis harus selalu dipertimbangkan dalam kesehatan masyarakat.
Hewan ternak yang sakit, dalam banyak kasus, adalah penyebab infeksi bagi
manusia sehingga hewan dan manusia bisa menjadi sakit karena sebab yang sama.
Hewan maupun manusia dapat dicegah atau dikurangi gejala penyakitnya melalui
cara intervensi yang menargetkan transfer penyakit dari hewan ke manusia.

Selain penularan penyakit secara alami ada pula penularan penyakit melalui
cara mekanik, sehingga sangat penting kesadaran mengenai bagaimana kita
melindungi diri kita, peternakan dan hewan ternak dari kontaminasi. Praktik ini
2

disebut sebagai bio-risk management atau umum dikenal sebagai biosecurity


(Charlotte, 2008)

1.2 Masalah
Iklim tropis seperti di Indonesia membuka peluang lebih besar untuk
perkembangan penyakit yang diakibatkan faktor biologis, seperti bakteri, parasit
dan virus. Mayoritas pemeliharaan kambing perah di Indonesia masih menerapkan
pola pemeliharaan tradisional, yang berarti persebaran (prevalence) agen penyakit
lebih banyak terdapat di sekitar lingkungan peternakan.
Faktor kesehatan ternak sangat menentukan keberhasilan usaha peternakan
kambing. Menjaga kesehatan ternak harus menjadi salah satu prioritas utama
disamping kualitas makanan dan tata laksana yang memadai.
Diare merupakan penyakit yang sangat umum terjadi pada sebuah
peternakan kambing perah. Diare atau biasa disebut mencret sangat umum terjadi
pada peternakan kambing perah, serta berakibat pada penurunan produktivitas yang
pada ujungnya menimbulkan kerugian ekonomi bagi peternak..

1.3 Tujuan
Menganalisis penyebab diare pada peternakan kambing perah

1.4 Kegunaan
Mengetahui penyebab diare pada peternakan kambing perah
3

II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pemeliharaan Kambing Perah


Kambing termasuk ternak yang memiliki daya adaptasi tinggi, khususnya
dari sisi toleransinya terhadap berbagai jenis hijauan, mulai dari jenis rumput-
rumputan, leguminosa, rambanan, daun-daunan, sampai dengan semak belukar
yang biasanya tidak disukai oleh jenis ruminansia lain, seperti sapi perah, sapi
potong, kerbau, dan domba (Heriyadi, 2002).

Klasifikasi kambing menurut Myers, 2004 adalah sebagai berikut.


Kingdom: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mamalia
Ordo: Artiodactyla
Famili: Bovidae
Subfamili: Caprinae
Genus: Capra
Spesies: C. aegagrus
Subspesies: C. a. Hircus

Bangsa kambing dapat dikelompokkan berdasarkan kegunaannya, yaitu


kambing penghasil daging, susu, dan bulu (mohair). Ada pula beberapa bangsa
kambing yang tergolong tipe dwiguna (dual purpose), seperti bangsa kambing PE
(Pernakan Ettawa) yang tergolong tipe daging dan susu (Heriyadi, 2002). Kambing
perah merupakan jenis kambing yang secara genetik dapat memproduksi susu
dengan jumlah melebihi kebutuhan anaknya. Kambing perah yang biasa dipelihara
adalah kambing lokal seperti kambing Etawah, Peranakan Etawah (PE) dan
Jawarandu yang merupakan bangsa kambing perah tropis. Kambing Etawah
4

merupakan keturunan dari kambing Jamnapari. Sifat perah kambing Jamnapari


sangat baik dan juga sering dipelihara sebagai penghasil daging.
Peternakan kambing seperti semua usaha peternakan lainnya, sangat
dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu Breeding, Feeding dan Management.
Menurut Williamson dan Payne (1993), sistem pemeliharaan secara ekstensif
umumnya dilakukan di daerah yang padang pengembalaannya luas, kondisi iklim
yang menguntungkan, dan untuk daya tampung kira-kira tiga sampai dua belas ekor
kambing per hektar. Sistem pemeliharaan secara intensif memerlukan
pengandangan terus menerus atau tanpa pengembalaan dan lebih terkontrol. Sistem
pemeliharaan semi intensif merupakan gabungan dari ekstensif dan intensif yaitu
dengan pengembalaan terkontrol dan pemberian konsentrat tambahan.

2.2 Diare
Penyakit merupakan salah satu hambatan yang perlu diatasi dalam usaha
ternak kambing. Melalui penerapan manajemen kesehatan ternak yang dilakukan
secara berkelanjutan, diharapkan dampak negatif dari penyakit ternak dapat
diminimalkan. Empat tahapan manajemen kesehatan ternak yang perlu diperhatikan
dalam membangun usaha ternak kambing, yaitu tahap pemilihan lokasi, tahap
persiapan dan pengadaan ternak, tahap adaptasi, dan tahap pemeliharaan. (Sjamsul,
2004).
Penyakit-penyakit yang dijadikan prioritas untuk diatasi adalah penyakit
parasiter, terutama skabies dan parasit saluran pencernaan (nematodiasis).
Sementara itu, untuk penyakit bakterial terutama anthrax, pink eye, dan pneumonia.
Penyakit viral yang penting adalah orf, serta penyakit non infeksius yang perlu
diperhatikan adalah penyakit diare pada anak kambing, timpani (kembung rumen)
dan keracunan sianida dari tanaman. (Sjamsul, 2004).
Diare atau mencret adalah masalah gangguan kesehatan pencernaan yang
sering dialami oleh kambing. Tanda-tandanya adalah kotoran kambing yang
menggumpal seperti kotoran sapi dan kalau diarenya parah kotoran kambing bisa
berbentuk cair. Feses kambing diare biasanya juga disertai darah, lendir dan bau.
5

Akan tetapi penyebab dari diare pada kambing tidak bisa ditentukan hanya dari
warna dan bau feses dari kambing. Gejala atau ciri-ciri diare adalah kotoran ternak
menjadi lebih lembut, berair, dan berwarna kuning-hijau serta berbau menyengat.
Kambing juga ditemukan tidak bersuara seperti biasa, makan berkurang dan
kotoran (feces) menggumpal seperti kotoran sapi.
Menurut Ahmad Shantosi (2015), diare pada ternak bukan merupakan
sebuah penyakit, tapi lebih merupakan tanda atau gejala klinis dari sebuah penyakit
yang lebih komplek yang bisa disebabkan oleh berbagai hal. Diare pada ternak,
seperti pada manusia, dapat terjadi ketika pergerakan cairan tubuh dalam sistem
pencernaan mengalami gangguan. Biasanya selalu berakibat kehilangan cairan atau
dehidrasi. Cairan tubuh yang keluar ini juga membawa serta garam garam mineral
atau elektrolit. Sayangnya, kehilangan ini akan merubah keseimbangan kimiawi
tubuh yang pada akhirnya akan menimbulkan stress dan depresi, serta dapat
berujung pada kematian. Rehidrasi, sebuah terapi pada ternak dengan memberikan
air dan suplemen elektrolit dapat membantu meredakan efek diare dan memulihkan
keseimbangan tersebut.

2.3 Penyebab Diare


Masih menurut Ahmad Shantosie (2015) secara umum, diare dibagi dua
kategori, diare yang dibebabkan oleh ketidakseimbangan nutrisi (non-infeksius)
dan diare yang disebabkan oleh infeksi mikroorganisme. Diare adalah gejala
abnormalitas sistem pencernaan dan sering terjadi pada anak kambing. Gejala ini
tidak hanya menyebabkan kekurangan penyerapan sari-sari makanan, tetapi ternak
juga akan mengalami kehilangan cairan dalan jumlah banyak. Diare yang terjadi
pada anak kambing (minggu-minggu pertama kelahiran) dapat menyebabkan
dehidrasi dan kematian (Thompson, 2004).

2.3.1 Diare Non Infeksi


Perubahan mendadak dari program pemberian pakan dapat
menyebabkan diare. Biasa terjadi ketika cempe yang asalnya
6

mengkonsumsi susu sebagai satu satunya sumber nutrisi, tumbuh dewasa


dan mulai makan serat kasar atau hijauan sebagai suplemen. Bisa juga
terjadi ketika pemberian susu buatan tidak sesuai takaran, terlalu dingin atau
bahkan basi.
Perubahan cuaca mendadak serta perpindahan ternak ke lokasi baru juga
dapat menyebabkan ternak mengalami stress, sehingga memicu terjadinya
penurunan nafsu makan dan memperparah gejala diare. Defisiensi atau kekurangan
mineral tembaga (copper) dan keracunan aflatoxin pakan akibat pemberian jagung
dan dedak padi yang berjamur akibat penyimpanan bahan pakan yang buruk dapat
menyebabkan diare. Bahan-bahan pakan yang mengandung lemak kasar cukup
tinggi seperti bekatul mudah ditumbuhi jamur.
Acidosis Rumen (kelebihan asam pada rumen) pada kambing disebabkan
oleh terlalu banyak pemberian biji-bijian atau konsentrat. Kondisi ini bisa
menyebabkan keasaman rumen kambing berubah dan juga mempengaruhi jumlah
populasi bakteri pada rumen kambing. Peningkatan asam dalam rumen kambing
menyebabkan peradangan pada dinding rumen dan kemampuan bakteri untuk
mencerna serat menjadi berkurang. Gejala acidosis pada kambing biasanya depresi,
kambing tidak mau makan, kembung, diare dan kadang-kadang mati. Untuk
pencegahan pemberian konsentrat seharusnya diberikan secara perlahan untuk
memberikan waktu rumen menyesuaikan.
Meskipun seringkali tidak sangat berbahaya dan tidak sampai menyebabkan
kematian, diare non-infeksi ini dapat dengan cepat melemahkan tubuh yang pada
gilirannya dapat menyebabkan ternak rentan terkena diare infeksi atau penyakit lain
yang lebih parah.

2.3.2 Diare Infeksi


Diare jenis ini merupakan masalah terbesar terutama pada cempe. Bisa
disebabkan oleh infeksi virus, bakteri atau protozoa. Oleh sebab itu, identifikasi
terhadap sumber penyebab diare merupakan sebuah langkah penting dalam
membuat program pencegahan diare.
7

A. Infeksi Bakteri
Bakteri ini menghasilkan semacam protein yang bersifat racun yang dapat
menganggu dinding usus. Ternak memberi reaksi terhadap racun ini dengan
memompa air dalam jumlah banyak ke sistem usus dengan tujuan untuk membilas
atau menyiram racun ini. Beberapa bakteri yang bertanggung jawab terhadap
infeksi ini adalah berasal dari jenis E. coli, Salmonella, dan Clostridium.

1. Escherichia coli
E. coli sebetulnya merupakan jenis mikroorganisma yang biasa dari terdapat
dalam sistem pencernaan ternak. Banyak dari strain E. coli sama sekali tidak
berbahaya, tapi beberapa jenis dapat menyebabkan diare parah dan bahkan
kematian. Biasanya E. coli akan menyebabkan jaringan epitel dalam usus berubah
fungsi, dari mode penyerapan (nutrisi) menjadi mode pengeluaran.
Colibacillosis (E. coli) biasanya terjadi pada minggu pertama, terutama pada
anak kambing yang tidak cukup menerima kolustrum. Cryptosporidiasis dapat
menyebabkan diare pada anak kambing umur 2-3 minggu. Beberapa penyebab
kasus diare yang menyebutkan bahwa cryptosporidia, E. coli dan virus mampu
menyerang secara bersama-sama sehingga menyebabkan diare yang hebat.
(Thompson, 2004)

Sekurangnya ada 3 jenis E. coli yang dapat dikemukakan.


1. Enteric - Ini jenis yang paling umum. Tanda klinis utama adalah diare hebat.
Cempe dengan cepat menjadi lemas dan mengalami dehidrasi. Biasanya diawali
dulu dengan demam yang kemudian dengan cepat kembali normal, atau mendekati
normal, dapat menyebabkan kematian.

2. Enterotoxigenic - Disebabkan oleh bakteri E. coli dari jenis K-99. Infeksi


dari strain ini berakibat fatal. Racun menyebabkan cairan yang dipompa ke dalam
usus sedemikian banyak sehingga cempe biasanya mati bahkan sebelum gejala
diare (mencret) muncul. Diare seperti ini adalah salah satu yang diare yang dapat
muncul pada umur cempe dibawah 3 hari.
8

3. Septicemic - Jenis ini bekerja mirip bakteri Salmonella. Metodanya adalah


dengan menginfeksi aliran darah dan masuk kedalam jaringan tubuh sehingga
menyebabkan infeksi global. Luka dan jejak dari infeksi bakteri jenis ini biasanya
tidak tampak secara jelas. Ini merupakan jenis E. coli yang ganas, seringkali
menyebabkan kematian tanpa gejala klinis diare terlebih dahulu. Cempe yang tidak
mendapat atau dihentikan pemberian kolostrum, biasanya mati karena jenis
septisemik ini. E. coli biasanya menjangkiti cempe yang baru berusia dibawah 14
hari, banyak kasus terjadi pada usia kurang dari 1 minggu. E. coli sering ditemukan
sebagai infeksi lanjutan dari infeksi rotavirus dan coronavirus.
Di pasaran sudah tersedia vaksin untuk E. coli. Vaksin ini mengandung
antigen K99 yang dapat memberikan kekebalan terhadap berbagai jenis E. coli.
Vaksin diberikan pada induk pada 6 minggu dan 3 minggu sebelum melahirkan.
Tersedia juga vaksin yang merupakan kombinasi vaksin E. coli, rota dan
coronavirus. Vaksin ini membantu pembentukan tingkat antibodi yang tinggi di
kolostrum, tapi cempe harus mendapat kolostrum sesegera mungkin setelah
dilahirkan agar vaksin dapat bekerja efektif.

2. Salmonella
Menyerang lapisan lendir dalam usus kecil, menyebabkan peradangan dan
pengikisan pada lapisan usus. Bakteri ini dapat menyerang aliran darah, persendian,
otak, paru paru dan hati. Lebih jauh, ternak yang terinfeksi dapat menyebarkan
bakteri ini dalam kotoran/faeces, urine, saliva dan cairan hidung. Bakteri yang
tinggal dalam media media tersebut dapat hidup sampai berbulan-bulan.
Sumber infeksi Salmonella pada cempe dapat berasal dari sesama ternak,
burung, binatang pengerat, air terkontaminasi, manusia dan air susu terinfeksi dan
manusia. Infeksi yang paling umum adalah berasal dari bakteri Salmonella
typhimurium.
Diare yang timbul biasanya cukup parah, ternak tidak mau minum susu atau
CMR, dehidrasi berat dan demam tinggi. Kotoran berair dan seringkali terdapat
9

bercak darah. Tingkat kematian pada cempe yang terinfeksi salmonella sangat
tinggi, biasanya terjadi pada 12 - 48 jam setelah tanda tanda pertama muncul.
Infeksi salmonella pada cempe dapat terjadi pada semua tingkat usia, tapi
biasanya terjadi pada usia diatas 6 hari. Mengingat ada lebih dari 1000 jenis bakter
Salmonella, selain itu banyak isolat yang ditemukan merupakan jenis yang sangat
tahan terhadap pola pola antimikroba. Oleh sebab itu tes khusus (bacteriologic
sensitivity test) sangat kritis untuk menentukan jenis antibiotik yang diberikan.

3. Clostridium perfringens
Bakteri Clostridium dari tipe B, C dan D ini dapat menyebabkan
enterotoxemia, sebuah infeksi usus yang akut. Clostridium perfringens secara
normal ditemukan pada usus sapi dewasa dan dapat bertahan hidup cukup lama di
tanah. Kondisi perubahan program pakan yang secara mendadak yang dimakan
berlebih dapat mengakibatkan proses pencernaan makanan yang kurang sempurna,
memperlambat pergerakan usus, menproduksi gula, protein dan konsentrasi
oksigen yang rendah yang berujung pada lingkungan yang cocok untuk
mempercepat pertumbuhan bakteri Clostridium. Kondisi basah dan lembab juga
terlihat diinginkan oleh bakteri ini.
Cempe yang terinfeksi menunjukkan gejala gelisah. Seringkali disertai
ketegangan pada bagian perut. Cempe seringkali ditemukan telah mati tanpa gejala
apa-apa. Biasanya terjadi pada usia kurang dari 10 - 14 hari. Infeksi Clostridial ini
tidak terlalu umum dijumpai pada cempe. Pun demikian, penyakit ini dapat
dikendalikan dengan memvaksinasi induk dengan Clostridium perfringens toxoid
pada 60 sampai 30 hari sebelum melahirkan. Selanjutnya satu dosis booster harus
diberikan setiap tahun sebelum melahirkan. Apabila masalah ini di diagnosa pada
cempe yang dilahirkan dari induk yang belum di imunisasi, antitoxin dapat
langsung diberikan pada cempe. Pemberian antitoxin dan antibiotik secara oral
dipandang sebagai satu satunya pengobatan yang efektif.
10

B. Infeksi Virus
Infeksi yang disebabkan virus menyebabkan cempe menjadi lebih rentan
terhadap serangan infeksi bakteri lain. Virus menyerang lapisan sel usus kecil yang
mengganggu proses penyerapan nutrien. Virus masuk kedalam sel dan
menggunakan bahan bahan sel tersebut untuk reproduksi virus. Ketika sel yang
menjadi tempat berkembang biak penuh oleh virus, sel tersebut pecah dan
mengeluarkan lebih banyak kloning virus untuk menyerang lebih banyak sel sehat
lainnya.

1. Rotavirus
Mengakibatkan diare pada cempe berumur 24 jam serta dapat menular
hingga ternak berusia 30 hari. Memiliki gejala sering mengejan, mencret parah,
feces berwarna kuning sampai hijau, kehilangan nafsu makan, pengeluaran air liur
(saliva), hampir tidak ada demam, depresi dan tingkat kematian mencapai 50 %
tergantung adanya infeksi sekunder dari bakteri lain.
Rotavirus biasanya menyerang cempe berusia 10 - 14 hari. Seringkali
terdapat komplikasi serangan lain dari bakteri seperti E. coli. Pada kasus ini
antibiotik tidak efektif terhadap virus, tapi dapat membantu melawan infeksi
bakterinya.

2. Coronavirus
Terjadi pada cempe usia 5 hari atau lebih. Dapat menulari cempe yang
berusia 6 minggu atau lebih. Tingkat depresi tidak setinggi infeksi oleh rotavirus.
Pada awalnya, feces ternak akan menunjukkan bentuk dan warna yang sama dengan
infeksi rotavirus. Setelah beberapa jam, feces dapat mengandung lendir bening
yang menyerupai putih telur. Diare dapat terus berlangsung selama beberapa hari.
Tingkat kematian akibat coronavirus berkisar antara 1 sampai 25 persen.
Tanda luka seringkali tidak jelas. Biasanya usus penuh oleh feces cair.
Apabila tanda luka terlihat di dalam usus, itu biasanya diakibatkan oleh infeksi
11

bakteri lanjutan. Diagnosis yang akurat hanya dapat ditentukan melalui


pemeriksaan laboratorium.
Vaksinasi yang spesifik untuk rotavirus dan coronavirus sudah tersedia.
Dapat diberikan dengan dua cara, oral segera setelah cempe dilahirkan, atau
vaksinasi induk bunting.
Program vaksinasi pada kambing perah dapat menyesuaikan dengan
program vaksinasi yang dilakukan beberapa kali pada induk sapi. Pada tahun
pertama program, vaksin pertama diberikan pada 6 - 12 minggu sebelum kelahiran,
dan yang kedua sedekat mungkin dengan waktu kelahiran. Kemudian pada tahun
selanjutnya, si induk diberikan booster vaksin sebelum melahirkan. Apabila periode
melahirkan terlambat lebih dari 6 - 8 minggu, induk yang belum melahirkan di akhir
minggu ke-enam diberikan booster vaksin kedua. Dengan mengikuti prosedur ini,
dapat dipastikan bahwa cempe yang dilahirkan mendapat kolostrum yang memiliki
antibodi tinggi terhadap rotavirus dan coronavirus.

C. Infeksi Parasit
Gejala infeksi subklinis kronis tidak begitu jelas, biasanya ternak menderita
dan mengurangi konsumsi pakan sehingga pertumbuhan terhambat. Infeksi akut
menyebabkan diare (terkadang disertai darah), depresi, kehilangan berat badan dan
dehidrasi tapi biasanya ternak tetap makan.

1. Eimeria
Coccidiosis (koksidiosis) disebabkan protozoa mikroskopis yang disebut
coccidia (Eimeria spp). Coccidia memiliki siklus hidup yang kompleks dalam sel-
sel usus kambing. Dalam proses pertumbuhan dan multiplikasi dalam sel epitel usus
kambing, coccidia dapat menghancurkan banyak sel-sel usus serta menghasilkan
sejumlah besar telur (ookista) yang ikut keluar bersama kotoran. Hal ini dapat
menyebabkan diare dan merupakan tanda-tanda lain dari koksidiosis.

Koksidiosis atau berak kapur adalah penyebab paling umum dari diare pada
kambing berusia antara 3 minggu sampai 5 bulan. Hal ini terutama berlaku ketika
12

kambing ditempatkan dalam kandang. Koksidiosis umumnya menyerang kambing


muda tak lama setelah penyapihan karena stres yang tiba-tiba terpisah dari
kumpulan mereka.
Hampir semua atau sebagian besar kambing dewasa membawa coccidia
dalam usus mereka. Telur sangat kecil atau ookista keluar bersama kotoran dari
kambing dewasa menetas dalam lingkungan dan kambing melalui tahap infektif
dari koksidia baik secara langsung dari kotoran atau dalam pakan dan air yang
terkontaminasi. Ketika hadir dalam jumlah kecil, coccidia biasanya tidak masalah.
Oleh karena itu, jumlah coccidia yang menyerang usus akan menentukan keparahan
infeksi. Ada banyak spesies yang berbeda dari coccidia, beberapa yang non-
patogenik, dan dikategorikan patogen ringan, sedang, atau berat. Kotoran ternak
pad umumnya mengandung sejumlah telur coccidia nonpathogenic, atau sedikit
telur coccidiapatogen. Secara umum, jika hewan tidak menunjukkan tanda-tanda
klinis seperti diare, infeksi mungkin tidak signifikan.
Suhu yang sesuai, kelembaban dan oksigen, coccidia telur (ookista) dalam
kotoran "menetas" (secara teknis disebut sebagai sporulasi) dan menjadi infektif
dalam dua sampai beberapa hari dan dapat dengan mudah mencemari pakan dan
air. Setelah ditelan oleh kambing, bentuk-bentuk infektif coccidia (sporokista)
melewati lambung dan masuk ke usus. Kemudian sporokista menyerang sel-sel
usus dan mengalami beberapa perubahan. Sakit, muda dan menekankan kambing
(penyapihan sangat stres pada anak-anak) lebih rentan dan dalam kasus ini coccidia
dapat berkembang biak. Ini adalah kerusakan ini, rusaknya sel-sel yang melapisi
usus dan kerusakan jaringan, yang menimbulkan tanda-tanda koksidiosis.
Ketika wabah koksidiosis terjadi, hanya sanitasi yang baik dan isolasi
hewan sakit dapat mencegah penyebarannya. Telur coccidia tahan terhadap
berbagai desinfektan dan dapat bertahan hidup lebih dari satu tahun di lingkungan.
Mereka bisa tetap hidup di padang rumput selama mereka berada di lingkungan
yang lembab dan gelap, tapi akan mati ketika suhu turun di bawah titik beku.
Kambing yang bertahan dari koksidiosis mengembangkan tingkat kekebalan untuk
masalah koksidia masa depan. (Anderson, 2015)
13

2. Giardia
Giardia intestinalis dan Giardia lamblia adalah protozoa yang
menyebabkan giardosis atau lambliasis. Menular melalui konsumsi rumput yang
terkontaminasi oleh okista yang tahan lingkungan panas. Menyebabkan diare akibat
malabsorpsi nutrisi dan penurunan berat badan. Kambing yang terinfeksi
mengeluarkan feces berlendir yang diakibatkan oleh produksi mucin oleh sel goblet
dari protozoa. Diare yang diakibatkan giardia tidak mempan oleh antibiotik dan
coccidiostat. Infeksi banyak ditemukan terutama pada cempe usia 3 sampai 5
minggu.

3. Cacing
Nematodiasis adalah penyakit parasit internal atau penyakit cacingan
saluran pencernaan pada kambing dan domba yang disebabkan oleh cacing gilig.
Frekuensi kejadian pada domba/kambing dapat mencapai 80%, terutama pada
daerah dengan curah hujan tinggi. Pada musim hujan frekuensi dan intensitas
penyakit ini meningkat. Angka prevalensi di daerah Jawa Barat dilaporkan
bervariasi, yaitu 87,5-100% (Soepeno dkk., 1993).
Pada kambing dan domba, Haemonchosis disebabkan oleh spesies
Haemonchus contortus. Penyebaran penyakit ini biasanya secara langsung melalui
padang penggembalaan, yaitu melalui rumput yang terkontaminasi larva infektif.
Parasit ini mampu mengeluarkan suatu zat anti pembekuan darah ke dalam luka
yang ditimbulkannya. Oleh karena itu, mukosa menjadi sangat teriritasi dan cacing
tersebut akan menghisap darah dalam jumlah yang cukup banyak. Beberapa
penelitian menunjukkan bahwa domba yang terinfestasi berat oleh Haemonchus
contortus akan kehilangan darah 0,6 liter tiap minggunya akibat diare berdarah.
Pada kambing dan domba akan mengakibatkan penurunan abosorbsi sari-sari
makanan, protein, kalsium dan fosfor (Subekti dkk., 1996).
14

III
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Diare disebabkan oleh banyak faktor, namun perlu ditekankan bahwa diare
bukanlah sebuah penyakit tunggal, namun lebih menyerupai gejala penyakit lainnya
atau merupakan tanda tubuh mengalami kelainan. Pada dasarnya perubahan
fisiologis dan patologis yang terjadi pada saluran pencernaan kambing dapat
menyebabkan diare. Penyebab diare bermacam-macam, namun dapat dibagi
kedalam dua kelompok utama, yaitu:

A. Diare Non Infeksi


Disebabkan oleh perubahan pola pakan yang mendadak pada cempe, rumen
acidosis akibat terlalu banyak pakan berprotein, perubahan cuaca mendadak,
kekurangan mineral tembaga serta keracunan jamur (aflatoxin) akibat pakan yang
disimpan kurang baik.

B. Diare Infeksi
1. Bakteri
1. E. Coli
2. Salmonella
3. Clostridium
2. Virus
1. Rotavirus
2. Coronavirus
3. Parasit
1. Eimeria
2. Giardia
3. Cacing
15

4.2 Pembahasan
Diare adalah gejala penyakit yang sangat umum, seringkali muncul sebagai
tanda dari penyakit lainnya. Diare atau gerusan lokal adalah penyebab paling umum
dari penyakit dan kematian pada cempe usia 1 sampai 30 hari. Diare biasanya
berhubungan dengan pemeliharaan kambing intensif dalam kondisi kepadatan
kandang dan sanitasi yang buruk. Kondisi cuaca ekstrim dapat memudahkan diare
terjadi pada cempe. Diare menyebabkan hilangnya cairan tubuh dan elektrolit dan
dapat mengakibatkan kematian jika tidak ditangani dengan cepat.
Cryptosporidia tampaknya menjadi penyebab paling umum dari diare pada
cempe berusia kurang dari satu bulan. Cryptosporidiosis dapat terjadi sendiri atau
bersama dengan bakteri patogen lainnya, virus, dan protozoa. Cryptosporidia sulit
diobati karena tidak ada obat yang tersedia untuk mengontrolnya. Infeksi biasanya
dari mengkonsumsi pakan yang terkontaminasi kotoran hewan yang terinfeksi,
bahkan dari spesies ternak yang berbeda.
Diare seringkali tidak disebabkan oleh hanya satu faktor saja. Faktor non
infeksi, seperti kelebihan pemberian pakan, pemberian pengganti susu yang tidak
cocok juga berkontribusi dalam berbagai faktor penyebab diare yang disebut
dengan Neonatal Diarrhea Complex (NDC).
Diare atau mencret pada kambing adalah sebuah gejala klinis yang
menunjukkan adanya perubahan fisiologis dan patologis di saluran pencernaan
kambing mulai dari rumen sampai ke usus. Gejala yang bisa kita perhatikan dari
mencret meliputi perubahan bentuk material kotoran kambing termasuk keras
lembeknya feses, warna dan bau feses, serta ada tidaknya bahan yang ikut terbawa
di dalam feses pada waktu kotoran kambing tersebut keluar (misalnya darah atau
segmen tubuh cacing), sehingga harus dapat membedakan gejala yang terjadi
karena pengobatannya pun akan berbeda.
Langkah pengobatan yang dapat diambil bila kambing perah terkena diare
parah adalah dengan memberikan obat yang memiliki kandunga sulfa, misalnya
injeksi intramuskuler obat merek Sulfa Strong dengan dosis 3-10 ml atau sesuai
petunjuk dokter hewan. Namun perlu diperhatikan bahwa susu kambing yang diberi
16

obat sulfa tidak boleh dikonsumsi, kecuali air susu yang diperah setelah 60 jam
pemberian terakhir obat sulfa.
Obat tradisional yang dapat diberikan adalah daun jambu bersama pakan,
karena secara insting kambing akan memilih makanan yang dibutuhkannya.
Sedangkan bila diare telah mengakibatkan dehidrasi pada kambing perah, kita
memerlukan cairan elektrolit untuk mengembalikan pengeluaran cairan berlebihan.
Selain kehilangan cairan, kondisi diare menyebabkan sistem pencernaan menjadi
asam. Oleh karenanya terapi cairan elektrolit perlu diberikan larutan suspense
alkali. Salahsatu resep yang mudah diikuti adalah dengan resep berikut.
1 sachet agar-agar bubuk bening
2 sendok garam
2 sendok soda kue/baking soda/Sodium bicarbonate/NaHCO3

Campurkan bahan diatas dengan air hangat hingga mencapai 2 liter. Berikan
perlahan lahan, 1 liter larutan elektrolit ini setiap 3 - 4 jam. Jangan dulu berikan
susu, minimal 24 jam setelah pemberian elektrolit, karena susu merupakan medium
yang baik bagi pertumbuhan bakteri E. coli. Apabila cempe sudah bisa minum dari
dalam ember (sebaiknya diajarkan sedini mungkin), awasi jangan sampai terlalu
cepat. Bila tidak, buatlah semacam botol dot dengan cara membuat dari botol air
mineral kemasan 1 liter. Beri selang yang dimampatkan di ujungnya. Beri lubang
sedikit agar cairan dapat keluar perlahan lahan.
Praktek peternakan yang baik adalah pencegahan terbaik terhadap diare dan
berbagai penyakit pada umumnya. Pembuangan kotoran, pupuk dan pakan yang
terbuang secara teratur, mengurangi ternak agar tidak makan di tanah
terkontaminasi, merancang sistem air yang meminimalkan kontaminasi kotoran,
menyediakan sumber air bersih, membersihkan tangki air, dan memastikan sinar
matahari yang cukup memasuki bangunan adalah contoh dari praktik manajemen
peternakan yang baik.
Kambing yang dipelihara di lantai padat, gunakan bedding atau alas yang
bersih. Sanitasi kandang kambing perlu diperbaiki dengan menjaga kebersihan
17

secara rutin. Kambing yang sedang diare dipisahkan dengan koloni kambing
lainnya untuk mencegah penularan. Waspadai pula feses kambing yang menempel
di badan kambing biasanya disekitar anus dan ekor, bisa mengundang datangnya
lalat yang bisa menjadi perantara/vektor penyakit.
Program pemberian nutrisi yang cukup, sanitasi kandang dan manajemen
serta perawatan kesehatan yang baik dibutuhkan untuk meminimalisasi impak dan
kerugian. Diagnosis dini dan tindakan yang cepat akan sangat membantu. Selain itu
recording dan pencatatan merupakan hal yang mutlak diperlukan. Sebisa mungkin
catatlah kejadian dan tindakan yang telah diberikan pada ternak, untuk
memudahkan diagnosa dan tindakan di kemudian hari.
18

IV
KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan
Diare pada kambing perah umumnya bukan merupakan penyakit khusus
namun merupakan gejala atau simptom penyakit yang terjadi pada ternak sehingga
manajemen pemeliharaan ternak yang menerapkan biosekuriti mutlak diperlukan.
19

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Shantosi. 2015. Penyebab, pencegahan dan Pengobatan Diare pada Ternak.
[Online]. Tersedia di https://www.agrinak.com/2015/05/penyebab-
pencegahan-dan-pengobatan.html (diakses 03 Maret 2017, jam 22.00 WIB)

Anderson, Kevin. 2015. Coccidiosis, the Most Common Cause of Diarrhea in


Young Goats. [Online]. Tersedia di https://content.ces.ncsu.edu/coccidiosis-
the-most-common-cause-of-diarrhea-in-young-goats (Diakses 10 Maret
2017, pukul 16.40)

Charlotte, Clifford-Rathert. Goat Diseases And Farm Herd-Health Safety. 2008.


Lincoln University Press., South Carolina.

Giadinis, N.D., Symeoudakis, S., Papadopoulos, E., Lafi, S.Q. & Karatzias, H.
2012. Comparison of two techniques for diagnosis of cryptosporidiosis in
diarrhoeic goat kids and lambs in Cyprus, [Online]. Tropical animal health
and production, 44:7 doi 10.1007/s11250-012-0106-4. Tersedia di
https://proquest.com (diakses 03 Maret 2017, jam 22.30 WIB)

Denie, Heriyadi. 2002. Sistem Perbibitan Ternak Ruminansia. Fakultas Peternakan


Universitas Padjadjaran. Bandung.

Khezri, M. & Khezri, O. 2013. The prevalence of Cryptosporidium spp. in lambs


and goat kids in Kurdistan, Iran. [Online]. Veterinary World, 6:12 doi:
10.14202/vetworld.2013.964-977. Tersedia di https://proquest.com (diakses
03 Maret 2017, jam 22.30 WIB)

Mileski, A. and P. Myers. 2004. Capra Hircus Animal Diversity. [Online] Tersedia
di http://animaldiversity.ummz.umich.edu (diakses 3 Maret 2017, pukul
21.10 WIB)

Mohammad Abu, B. S., Maqbool, A., Umbreen, J. K., Lateef, M., & Ijaz, M. 2015.
Prevalence, water borne transmission and chemotherapy of cryptosporidiosis
in small ruminants. [Online] Pakistan Journal of Zoology, 47:6. Tersedia di
https://proquest.com (diakses 03 Maret 2017, jam 22.30 WIB)

Sjamsul Bahri, R. M. A. Adjid, Beriajaya, & April H Wardhana. 2004. Manajemen


Kesehatan Dalam Usaha Ternak Kambing. Lokakarya Nasional Kambing
Potong 2004. Bogor. 79-95

Soepeno, Arimiadi, B, Setiai dan J. Manurung. 1993. Sistem usaha tani ternak di
daerah padat penduduk (Jawa Barat). Prosiding Pengolahan Dan
Komunikasi Hasil-hasil Penelitian 27-29 Januari. Balai Penelitian Ternak.
Bogor. 118-127
20

Subekti, S., S. Mumpuni., S. Koesdarto & H. Puspitawati. 1996. Ilmu Penyakit


Nematoda. Fakultas Kedokteran Hewan. Universitas Airlangga. Surabaya.

Sutama, I Ketut. 2007. Pengembangan Kambing Perah: Suatu Alternatif


Peningkatan Produksi Susu dan Kualitas Konsumsi Gizi Keluarga di
Pedesaan. Seminar Nasional H ari Pangan Sedunia XXVII, Bogor. 116-124.

Thompson, K. 2004. Goat Health And Management. Boer Briefs: 1-2.

Williamson, G dan W.J.A. Payne.1993. Pengantar Ilmu Peternakan di Daerah


Tropis. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta (diterjemahkan oleh
S.G.N. D Darmaja).