Anda di halaman 1dari 45

SIKLUS PEMBAKARAN DAN PENANGANAN LIMBAH GAS

HASIL PEMBAKARAN PADA PLTU PANGKALAN SUSU

LAPORAN KERJA PRAKTEK


DI
PT INDONESIA POWER UJP PANGKALAN SUSU

Oleh
SUWANDI SAPUTRA
NIM: 1220301022

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO PRODI INSTRUMENTASI


OTOMASI INDUSTRI
POLITEKNIK NEGERI LHOKSEUMAWE

2
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN KERJA PRAKTEK

PT. INDONESIA POWER UJP PANGKALAN SUSU


LANGKAT SUMATERA UTARA
3 AGUSTUS 31 AGUSTUS 2015

DISETUJUI OLEH :

MOCHAMAD RAVI HIDAYAT ANDI AGUNG BAWONO


PEMBIMBING LAPANGAN MANAGER HAR

MENGETAHUI

SENTOT KRISTANTO FARDIN HASIBUAN


MANAGER ADM GENERAL MANAGER

3
NILAI PRAKTEK KERJA LAPANGAN

Nama Mahasiswa : Suwandi Saputra


NIM : 1220301022
Jurusan/prodi : Teknik Elektro/ Instrumentasi dan Otomasi Industri
Lembaga Pendidikan : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Telah melaksanakan Praktek Kerja Lapangan di PT.indonesia power UJP


Pangkalan Susu mulai tanggal 03 Agustus 2015 sampai dengan 31 agustus 2015
dengan hasil sebagai berikut :
A. Nilai praktek kerja lapangan

No. KriteriaPenilaian Nilai


1 Keaktifan dan Kedisiplinan
2 Wawasan
3 Tugas Khusus
4 Laporan
5 Tanggung Jawab

B. Penyerahandan Pengembalian
1. Telah Menyerahkan Laporan : Ya / Tidak
2. Telah Mengembalikan Perlengkapan Safety : Ya / Tidak
3. Telah Menyerahkan Badge Acces Elektronik : Ya / Tidak

Demikianlah keterangan ini kami perbuat untuk digunakan seperlunya.

Mengetahui,

Mochamad Ravi Hidayat


Pembinbing lapangan

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb

4
Puji dan syukur saya panjatkan atas kehadirat Allah SWT. Atas segala limpahan
berkat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan kerja praktek dan
dapat menyusun laporan pelaksanaan kerja praktek dengan judul siklus
pembakaran dan penanganan limbah gas hasil pembakaran pada pltu Pangkalan
Susu di PT Indonesia Power Unit Jasa Pembangkitan Pangkalan Susu. Laporan
ini diSusun sebagai hasil akhir kerja praktek yang dilaksanakan mulai tanggal 03
agustus 2015 sampai dengan 31 Agustus 2015.
Laporan Kerja Praktek ini diSusun sebagai salah satu syarat yang harus
dipenuhi untuk menyelesaikan Program Studi D-IV pada Jurusan Teknik Elektro
Politeknik Negeri Lhokseumawe. Melalui kerja praktek ini penulis dapat melihat
langsung dunia kerja.
Selama proses pelaksanaan Kerja Praktek, penulis banyak mendapatkan
bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Dalam kesempatan ini, penulis ingin
mengucapkan terimakasih kepada yang telah membantu pelaksanaan dan
penyususnan Laporan Kerja Praktek ini, khususnya kepada :
1. Bapak Muhammad Ikhwanus sebagai Ketua Jurusan Teknik Teknik Elektro.
2. Ibu Misbahul Jannah sebagai Dosen Pembimbing Laporan yang telah
memberikan bimbingan dan masukan dalam penyusunan laporan ini.
3. Bapak Fardin Hasibuan sebagai General Manager PT Indonesia Power UJP
Pangkalan Susu.
4. Bapak Sentot Kristanto sebagai Manager Administrasi PT Indonesia Power
UJP Pangkalan Susu.
5. Bapak Iwan Setiono sebagai Manager Enjiniring PT Indonesia Power UJP
Pangkalan Susu.
6. Bapak Abubakar Siddiq sebagai Manager Operasi PT Indonesia Power UJP
Pangkalan Susu.
7. Bapak Andi Agung sebagai Manager Pemeliharaan PT Indonesia Power UJP
Pangkalan Susu.
8. Bapak Reo Yanuar Hadi Sebagai Ahli Madya Enjiniring Kontrol Insturmen
di PT Indonesia Power UJP Pangkalan Susu.

5
9. Bapak Mochamad Ravi Hidayat Sebagai Supervisor Pemeliharaan Kontrol
Instrumen sekaligus pembimbing kerja praktek saya di PT Indonesia Power
UJP Pangkalan Susu.
10. Bapak Heri Priagusno selaku Supervisor Pemeliharaan Listrik di PT
Indonesia Power UJP Pangkalan Susu.
11. Bapak Prima Radiansyah & Bapak Benna Randy Santana selaku teknisi
senior kontrol instrument yang telah memberikan ilmu yang bermanfaat buat
penulis selama di PT Indonesia Power UJP Pangkalan Susu.
12. Bapak Benny Hartono Sihombing & Syamsul Anwar Selaku Teknisi senior
di PT Indonesia Power UJP Pangkalan Susu.
13. Bapak Govin Hasiando Marpaung, Oktarino Simbolon & Petrus Canisius
Adi Putra selaku Teknisi Kontrol dan Instrumen di PT Indonesia Power UJP
Pangkalan Susu yang telah memberikan banyak ilmu yang bermanfaat dan
yang selalu menemani penulis dengan suasan sehari-hari penuh canda tawa
selama kerja praktek ini.
Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah
membantu penyusun dan mohon maaf atas segala kesalahan yang pernah
dilakukan selama mengikuti Kerja Praktek ini baik disengaja atau tidak disengaja.
Penulis menyadari bahwa penyusunan ini laporan ini masih banyak
kekurangan. Oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik membangun
untuk menyempurnakan laporan selanjutnya yang akan dihadapi dimasa yang
akan datang. Akhir kata, semoga laporan ini dapat menjadi sesuatu yang
bermanfaat bagi penulis dan bagi pembaca pada umumnya.
Wassalamualaikum Wr. Wb.

Pangkalan Susu, Agustus 2015

Suwandi Saputa
NIM. 1220301022
DAFTAR ISI

6
HALAMAN SAMPUL.................................................................................. i
HALAMAN PENGESAHAN....................................................................... ii
LEMBARAN NILAI KERJA PRAKTEK..................................................... iii
KATA PENGANTAR.................................................................................... iv
DAFTAR ISI.................................................................................................. vi
DAFTAR GAMBAR..................................................................................... viii
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah......................................................... 1
1.2. Rumusan Masalah.................................................................. 2
1.3. Batasan Masalah..................................................................... 2
1.4. Maksud dan Tujuan Kerja Praktek......................................... 2
1.5. Metode Penulisan................................................................... 4
1.6. Sistemmatika Penulisan.......................................................... 5
BAB II TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN
2.1. Sejarah Singkat PT Indonesia Power..................................... 6
2.2. Profil PT Indonesia Power UJP Pangkalan Susu.................... 6
2.3. Visi, Misi, Moto, Building Block Indonesia Power Way....... 7
2.4. Makna, Bentuk dan Warna Logo............................................ 10
2.5. Lokasi Perusahaan.................................................................. 11
2.6. Struktur Organisasi Perusahaan.............................................. 11
2.7. Tugas Pokok Organisasi......................................................... 13
BAB III DASAR TEORI
3.1 Siklus Pembakaran dan Penanganan Limbah Gas Hasil
Pembakaran pada PLTU.......................................................... 17
3.1.1 Teori dasar siklus pembakaran pada PLTU................... 17
3.1.2 penanganan gas hasil pembakaran pada PLTU............. 17
3.1.3 siklus pembakaran pada PLTU...................................... 18
3.1.4 Skema Siklus Pembakaran dan Penanganan
Limbah Hasil Pembakaran pada PLTU ..................... 19
3.2. Komponen pada Siklus Pembakaran PLTU .......................... 19
3.2.1. Boiler............................................................................ 19
3.2.2. Coal yard...................................................................... 20

7
3.2.3. Coal bunker.................................................................. 20
3.2.4. Coal feeder................................................................... 21
3.2.5. Mill (Pulverizer)........................................................... 22
3.2.6. APH (Air Preheater).................................................... 24
3.2.7. Wind Box...................................................................... 25
3.2.8. PA Fan (Primary Air Fan)............................................. 26
3.2.9. FD Fan (Forced Draft Fan)........................................... 28
3.2.10. ID Fan(Induced Draft Fan)......................................... 29
3.2.11. ESP (Elektro Static Precipitator)................................ 29
3.2.12. Fly Ash Silo................................................................ 31
3.2.13. SSC............................................................................. 31
3.2.14. Bottom Ash Silo......................................................... 32
3.2.15. Stack (Cerobong)........................................................ 33
BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN
4.1. Siklus pembakaran pada PLTU Pangkalan Susu
Saat Start Up.......................................................................... 34
4.2. Siklus Pembakaran Lanjutan Menggunakan Batubara........... 34
4.2. Sistem Penanganan Gas Hasil Pembakaran........................... 35
BAB IV PENUTUP
5.1. Kesimpulan............................................................................. 37
5.2. Saran....................................................................................... 37
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................... 38
LAMPIRAN................................................................................................... 39

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Informasi PLTU Pangkalan Susu


Gambar 2.2. Logo PT Indonesia Power
Gambar 2.3. Lokasi PLTU Pangkalan Susu
Gambar 2.4. Layout PLTU Pangkalan Susu
Gambar 2.5. Struktur Organisasi PT Indonesia Power UJP Pangkalan Susu

8
Gambar 3.1. Skema Siklus Pembakaran dan Penanganan Limbah Hasil
Pembakaran
Gambar 3.2. Boiler pada PLTU Pangkalan Susu
Gambar 3.3. Coal Bunker
Gambar 3.4. Coal Feeder di PLTU Pangkalan Susu
Gambar 3.5. Skema Coal Feeder
Gambar 3.6. Mill pada PLTU Pangkalan Susu
Gambar 3.7. Skema dan komponen Cool Mill/ Pulverizer
Gambar 3.8. Air Pre Heater
Gambar 3.9. Wind Box pada PLTU
Gambar 3.10. Primary Air Fan (PA Fan)
Gambar 3.11. Forced Draft Fan(FD Fan)
Gambar 3.12. Induced Draft Fan pada PLTU
Gambar 3.13. Proses Elektrosasi
Gambar 3.14. Elektro Static Precipitator (ESP)
Gambar 3.15. Fly Ash Silo
Gambar 3.16. SSC
Gambar 3.17. Bottom Ash Silo
Gambar 3.18. Stack/Cerobong

9
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 latar belakang
Batubara memiliki berbagai penggunaan yang penting di seluruh dunia.
Penggunan yang paling penting adalah untuk membangkitkan tenaga listrik,
seperti pada pembangkit listrik PLTU Pangkalan Susu yang memanfaatkan
batubara sebagai bahan bakar utama sehingga menghasilkan polusi limbah gas
dari hasil pembakaran
Salah satunya industri yang menghasilkan limbah adalah pembangkit
listrik tenaga uap (PLTU). PLTU Pangkalan Susu merupakan pembangkit
listrik yang mengandalkan energi dari uap untuk menghasilkan energi listrik.
Pembangkit listrik ini menggunakan bahan bakar batubara, minyak atau gas
sebagai sumber energi primer

Selain menghasilkan listrik yang bermanfaat bagi manusia, PLTU


berbahan bakar batubara juga menghasilkan aneka limbah yang dapat
mencemari lingkungan. Proses pembakaran batubara pada unit pembangkit
uap (boiler) menghasilkan dua jenis abu, yaitu abu terbang (fly ash) dan abu
dasar (bottom ash). Komposisi abu batubara yang dihasilkan terdiri dari 10 -
20 % abu dasar, sedang sisanya sekitar 80 - 90% berupa abu terbang.
Beberapa logam berat juga terkandung dalam abu batubara seperti Cu, Pb,
Zn, Cd, dan Cr.
Dalam hal ini penulis mengambil Bab tentang SIKLUS
PEMBAKARAN DAN PENANGANAN LIMBAH GAS HASIL PEMBAKARAN
PADA PLTU PANGKALAN SUSU sebagai materi yang didalami di PLTU
Pangkalan Susu selama sebulan.

1.2 Rumusan masalah

1
Dari latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan beberapa
permasalahan antara lain :
1. Apakah Siklus Pembakaran dan Penanganan Limbah Gas Hasil
Pembakaran pada PLTU Pangkalan Susu itu.
2. Bagaimana Prinsip keja pada penanganan limbah Gas Hasil Pembakaran
pada PLTU Pangkalan Susu.
3. Peralatan-peralatan apa saja yang ada pada sistem bahan bakar PLTU
Pangkalan Susu secara garis besar.
4. Bagaimana penanganan limbah gas pembakaran pada PLTU Pangkalan
Susu?

1.3 Batasan Masalah


Untuk menghindari pembahasan yang terlalu luas, maka penulis akan
membatasi pembahasan laporan ini dengan hal-hal sebagi berikut :
1. Pembatasan tentang Siklus Pembakaran dan Penanganan Limbah Gas
Hasil Pembakaran pada PLTU Pangkalan Susu .
2. Pembahasan pada siklus pembakaran dan penanganan limbah gas hasil
pembakarannya.
3. Pembahasan garis besar alat-alat pada sistem bahan bakar, dan
penanganan limbah gas pembakaran
4. penangannan limbah gas pembakaran pada PLTU Pangkalan Susu.

1.4 Maksud dan Tujuan Kerja Praktek


Kerja praktek ini merupakan salah satu mata kuliah wajib yang ada di
kurikulum akademik Jurusan Teknik Elektro Politeknik Negeri
Lhokseumawe. Maksud dan tujuan pelaksanaan kerja praktek ini adalah
untuk memenuhi syarat untuk meraih gelar Sarjana Teknik, di Jurusan Elektro
Politeknik Negeri Lhokseumawe.
Secara khusus tujuan kerja praktek ini adalah :

1. Bagi Mahasiswa
a. Untuk memperoleh pengalaman secara langsung penerapan ilmu
pengetahuan dan teknologi yang didapat dalam dunia pendidikan pada
dunia industri.
b. Untuk melatih kemampuan analisa permasalahan yang ada di lapangan
berdasarkan teori yang telah diperoleh.

2
c. Untuk menambah wawasan tentang dunia kerja sehingga nantinya
ketika terjun ke dunia kerja dapat menyesuaikan diri dengan cepat.
2 . Bagi institusi pendidikan
a. Menjalin kerjasama antara perguruan tinggi dengan dunia industri.
b. Mendapatkan bahan masukan tentang sistem pengajaran yang lebih
sesuai dengan lingkungan kerja.
c. Untuk meningkatkan kualitas dan pengalaman lulusan yang
dihasilkan.
3 . Bagi perusahaan
a. Membina hubungan baik dengan pihak institusi perguruan tinggi dan
mahasiswa.
b. Untuk merealisasikan partisipasi dinia usaha terhadap pengembangan
dunia pendidikan.

Tujuan yang ingin dicapai dari pelaksanaan kerja praktek ini adalah :
a. Mengerti siklus pembakaran pada PLTU Pangkalan Susu
b. Mengerti cara kerja penanganan gas hasil pembakaran pada PLTU
Pangkalan Pusu
c. Mengamati secara langsung proses pembakaran bahan bakar dan
penanganan limbahnya
d. Mengamati macam-macam proses dalam siklus pembakaran pada PLTU
Pangkalan Susu.
e. Mengetahui peralatan-peralatan dalam siklus pembakaran dan penangaan
limbah gas hasil pembakaran pada PLTU Pangkalan Susu

1.5 Metodologi Penulisan


Metode yang digunakan dalam Kerja Praktik ini dibagi ke dalam
beberapa rangkaian kegiatan, yaitu :
1. Orientasi
Orientasi bertujuan untuk mengenal, mengetahui dan mempelajari
kegiatan yang terdapat pada bagian atau departemen yang dikunjungi
selama Kerja Praktik.
2. Observasi (pengamatan) Pokok Bahasan
Obsevasi atau pengamatan terhadap pokok bahasan bertujuan agar
mahasiswa dapat melihat dan menemukan suatu permasalahan yang
terdapat pada bagian atau instansi yang dikunjungi selama Kerja Praktik
sesuai dengan disiplin ilmu yang dimiliki.

3
Bidang-bidang yang menjadi pengamatan atau observasi dalam kegiatan ini
adalah :
a. Sistem pembakakaran dan penangannan gas buang yang ada di instansi.
b. Teknologi peralatan-peralatan yang digunakan.
Selanjutnya data yang didapat akan diolah menjadi laporan sesuai dengan
bidang masing-masing peserta Kerja Praktik.
c. Konsultasi dan Diskusi
Konsultasi ini dapat dilakukan dengan dosen pembimbing dan
pembimbing dilapangan. Sedangkan diskusi dapat dilakukan dengan para
teknisi dan rekan-rekan kuliah atau rekan-rekan selama sesama peserta
Kerja Praktik. Kegiatan ini akan memberikan masukan yang berguna
dalam menyelesaikan dan menyempurnakan laporan Kerja Praktik.
d. Studi Pustaka
Berupa pengumpulan literatur dan pendapat para ahli sebagai data
pelengkap.

1.6 Sistematika Penulisan


Dalam penulisan laporan kerja praktek ini, penulis membagi dalam 5 bab,
yaitu :
BAB I : Pendahuluan
Bab ini membahas tentang latar belakang penulisan, maksud dan tujuan
kerja praktek, waktu dan tempat pelaksaaan kerja praktek, batasan masalah,
metode pengumpulan data, dan sistematika penulisan.

BAB II : Profil PT Indonesia Power


Bab ini membahas tentang sejarah dan perkembangan PT Indonesia
Power Unit Jasa Pembangkitan Pangkalan Susu, visi, misi, motto dan tujuh
nilai perusahaan PT Indonesia Power (IPHAPPPI), makna, bentuk, warna
logo dan lokasi perusahaan serta bagan Susunan jabatan pada Unit Jasa
Pembangkitan PLTU Pangklan Susu.

BAB III : Dasar Teori


Teori-teori yang digunakan dalam menyelesaikan laporan ini akan
dibahas dalam bab ini.

4
BAB IV : Analisa & Pembahasan

BAB V : Penutup
Bab ini berisi kesimpulan dan saran penulis terhadap materi yang
penulis tuliskan dalam laporan ini.

Daftar Pustaka
Berisi buku acuan yang digunakan dalam penulisan laporan kerja
praktek ini.

BAB II
TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN

2.1 Sejarah singkat PT Indonesia Power


Sebagai Perusahaan yang bergerak di pembangkitan tenaga listrik serta
jasa operasi dan pemeliharaan pembangkit, PT Indonesia Power memegang
peran penting dalam kelistrikan di Indoneia sejak dibentuknya pada tanggal 3
Oktober 1995.
Dengan berawal pada pengolahan pembangkit listrik di Jawa Bali, saat
ini Indoneia Power telah melakukan pengembangan bisnis jasa operasi
pemeliharaan di seluruh Indonesia baik melalui pengelola sendiri, melalui
anak perusahaan, maupun melalui usaha patungan.
PT Indonesia Power mengelola 5 unit pembangkitan (UP), yaitu UP
Suralaya, UP Semarang, UP Perak Grati, UP Saguling, Dan Mrica, 1 Unit jasa
pemeliharaan (UJH), 6 unit Jasa Pembangkitan (UJP), yaitu UJP Banten 1
Suralaya, UJP Banten 2 Labuan, UJP Pangkalan Susu, serta 3 Unit
pembankitan dan jasa pembangkitan (UPJP), yaitu UPJP Priok, UPJP Bali
dan UPJP Kamojang.
Untuk memastikan seluruh proses yang ada di perusaahan terkelola
dengan baik dan sesuai prinsip Eika bisnis yang sehat, PT Indonesia Power
telah mengimplementasikan integrated managemen Sistem yang mencakup

5
ISO 9001, ISO 14001, OHAS 18001, ISO 28000, SMK3, SMP, PAS 55 dan
kriteria baldrige, yang dievaluasi setiap tahun melalui Audit internal dan
eksternal untuk perbaikan kinerja perusahaan.

2.2 Profil PT Indonesia Power UJP Pangkalan Susu


PLTU Pangkalan Susu dibangun diatas area seluas 105 Ha, berlokasi di
desa tanjung pasir kecamatan Pangkalan Susu kabupaten langkat Propinsi
Sumatera Utara. Sekitar 120 Km dari Medan, PLTU Pangkalan Susu satu dari
Proyek Percepatan Diversifikasi Energi (PPDE) tahap 1 terutama untuk
wilayah Sumatera bagian Utara, produksi Energy listrik disalurkan melalui
transmisi 275 Kv dari unit pembangit ke Gardu Induk Binjai dan interkoneksi
dengan sistem 150 Kv Sumatera bagian Utara di Gardu Induk Binjai.
PLTU Pangkalan Susu dengan daya terpasang 2x200 MW. Direncanakan
COD PLTU Pangkalan Susu pada 15 Februari untuk unit 2 dan 15 April 2014
untuk unit 1.
Peralatan utama PLTU Pangkalan Susu khususnya turbin dan generator
dipasok oleh pabrikan Tiongkok, Beijing Beizhong dengan kontraktor
Guandong Power Engineering Corporation (GPEC), speksifikasi Boiler
untuk suplai batubaranya 4200 kcal/kg, temperature uap 540 C & tekanannya
13,43 MPa, sedangkan turbin bekerja pada temperature uap 535 C dan
tekanannya 12,75 Mpa beroperasi pada netto 200 MW.

6
Gambar 2.1. Informasi PLTU Pangkalan Susu

2.3 Visi, Misi, Motto & Building Block Indonesia Power Way
2.3.1 Visi :
Menjadi perusahaan energi terpercaya yang tumbuh berkelanjutan.
2.3.2 Misi :
Menyelenggarakan bisnis pembangkitan tenaga listrik dan jasa terkait
yang bersahabat dengan lingkungan.
2.3.3 Building Block Indonesia Power Way

a. Moto
Trust Us For Power Excellent

7
b. Tujuan
Terdepan dalam penyediaan energi listrik berbagai jenis pembangkit
dengan kinerja excellent melalui proses prima oleh SDM profesional yang
menjamin terwujudnya long run sustainable company
c. The Way We Do Business
1. Leadership Excellence
2. Business Process Excellent
3. People Excellence
4. Learning Organization
5. Customer & supplier Relationship
6. Stakeholder & Social responsibility
d. The Way We Act
1. Proaktif & pantang menyerah
2. saling percaya & bekerja sama
3. Fokus pada perbaikan proses & hasil
4. Fokus pada pelanggan
5. Mengutamakan Safety & Green
e. The Way We Think
Tujuh Nilai Perusahaan PT INDONESIA POWER (IP-HaPPPI).
a. Integritas.
Sikap moral yang mewujudkan tekad untuk memberikan yang terbaik
kepada perusahaan.
b. Profesional.
Menguasai pengetahuan, keterampilan, dan kode etik sesuai bidang.
c. Harmoni.
Serasi, Selarat, Seimbang dalam :
Pengembangan kualitas pribadi.
Hubungan dengan stakeholder (pihak terkait)
Hubungan dengan lingkungan hidup.
d. Pelayanan prima.
Memberikan pelayanan yang memenuhi kepuasan melebihi harapan
stakeholder.
e. Peduli.
Peka tanggap dan bertindak untuk melayani stakeholder serta memelihara
lingkungan sekitar.

8
f. Pembelajar.
Terus menerus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, serta kualitas
diri yang mencakup fisik, mental, sosial, agama dan kemudian berbagai
dengan orang lain.
g. Inovatif.
Terus menerus dan berkesinambungan menghasilkan gagasan baru
dalam usaha melakukan pembaharuan untuk penyempurnaan baik proses
maupun produk dengan tujuan peningkatan kerja.

2.4 Makna Bentuk dan Warna Logo


Logo mencerminkan identitas dari PT Indonesia Power sebagai Power
Untility Company terbesar di indonesia.

Gambar 2.2. Logo PT Indonesia Power


2.4.1 Bentuk
a. Kerena nama yang kuat, Indonesia ditampilkan dengan menggunakan
jenis huruf yang tegas dan kuat, FUTURA BOOK/REGULER dan
FUTURA BOLD.
b. Aplikasi kilatan petir pada huruf O melambangkan TENAGA
LISTRIK yang merupakan lingkup usaha utama perusahaan.
c. Titik/bulatan merah (Red Dot) diujung kilatan petir merupakan simbol
perusahaan yang telah digunakan sejak masih bernama PLN PJB . titik
ini merupakan simbol yang digunakan sebagian besar materi komunikasi
perusahaan dengan sombol kecil ini, diharapkan identitas perusahaan
dapat langsung terwakili.
2.4.2 Warna.
a. Merah.
Di aplikasikan pada kata Indonesia, menunjukan identitas yang
kuat dan kokoh sebagai pemilik seluruh sumberdaya untuk memproduksi
tenaga listrik guna dimanfaatkan di Indonesia, dan juga di luar negeri.
b. Biru.

9
Diaplikasikan pada power, dasar warna biru mengambarkan sifat
pintar dan bijaksana, dengan diaplikasikan pada kata power maka warna
ini menunjukan produk tenaga listrik yang dihasilkan perusahaan
memiliki ciri:

2.5 Lokasi Perusahaan


PT Indonesia Power UJP Pangkalan Susu Pembangkitan Sumatera
Bagian Utara berlokasi di Desa Tanjung Pasir Kecamatan Pangkalan Susu,
Kabupaten Langkat, Propinsi Sumatera Utara. Sekitar 120 km dari Medan (3
jam dari bandara terdekat - KNIA Medan). dibangun diatas area seluas 105
Ha, berkapasitas 2 x 220 MW.

Desa
Tanjung
Pasir

Kecamat
an
Pangkala
n Susu

PLTU Pangkalan Susu Kabupat


dibangun diatas
area seluas 105 Ha,enberlokasi di Desa
LangkatPangkalan
Tanjung Pasir, Kecamatan
Susu, Kabupaten Langkat, Sumatera
Utara. Sekitar 120 kmSumater
dari Medan (3
a Utara
jam dari bandara terdekat - KNIA Medan).
Gambar 2.3. Lokasi PLTU Pangkalan Susu.

10
Gambar 2.4. Layout PLTU Pangkalan Susu

2.6 Struktur Organisasi Perusahaan


PT Indonesia Power Unit Jasa Pembangkitan Pangkalan Susu, secara
structural puncak pimpinannya dipegang oleh seorang General Manager yang
dibantu oleh Manager Operasi, Manager Pemeliharaan, Manager Enjiniring,
Manager Administrasi. Secara lengkap struktur organisasinya, diperlihatkan
pada bagan di bawah ini.

General
Manager

Manager operasi Manager


Pemeliharaan Ahli tata kelola Manager Enjineering Manager Administrasi
pembangkitan

Supervisor senior
Supervisor senior Supervisor senior Supervisor senior
Perencanaan &Pengendalian
Perencanaan Kinerja & SDM &
Operasi
Pengendalian Kesetariatan
Ahli muda perencanaan & Ahli muda
Pemeliharaan &
evaluasi operasi kinerja Unit Ahli muda
Inventori
Ahli muda Ahli muda Pengembanga
Ahli muda kinerja Operasi
perencanaan & SMT, KM & n SDM
Supervisor senior Operasi AD evaluasi Kinerja Ahli muda
Supervisor Operasi Unit 1 Pemeliharaan Ahli muda Kesetariatan &
Ahli muda fasilitas
Inventori Sistem Ahli muda
Operator senior C.Room U1
kontrol informasi kinerja Unit
Supervisor Operasi Unit 2 Supervisor Condition based
senior maintenance & Supervisor senior
Operator senior C.Room U2 Reliability
Supervisor Keuangan
Supervisor Operasi Unit Alat Bantu Pemeliharaan Ahli muda Ahli muda
Mesin *Ahli madya enjineering akuntasi &
Teknisi senior mesin Predictive
Operator senior Alat Bantu (A-D) boiler & Auxiliary Perpajakan
turbin & Auxilary Maintenance
Ahli
*Ahlimuda
madya enjineering
Teknisi senior mesin Supervisor senior
Reliability
turbin & Auxiliary
boiler & Auxilary Logistik
Supervisor senior Coal & Ash *Ahli madya enjineering
Handling Teknisi senior mesin kontrol instrumen pelaksana
Supervisor coal & ash BOP& Bengkel *Ahli madya enjineering senior
Handling Supervisor Pemeliharaan listrik pengadaan
Supervisor senior K3, Kimia & Listrik *Ahli madya Enjineering
Lingkungan coal & Ash Handling Supervisor Gudang
Teknisi senior listrik
*Ahli madya enjineering 11
Balance of Plant
*Ahli madya enjineering
pengendalian kontrak
*Ahli madya enjineering
manajemen Resiko
Ahli muda K3 &
Supervisor Pemeliharaan
lingkungan
Kontrol & instrumen

Ahli muda Kimia


Gambar 2.5. Struktur Organisasi
Teknisi senior KontrolPT
& Indonesia Power UJP Pangkalan Susu
instrumen

2.7 Tugas Pokok Organisasi


1. Tugas pokok bagian operasi adalah sebagai berikut :
a. Merencanakan, memonitor dan mengendalkan Rencana Kerja dan
Anggaran Bagian operasi tahunan dan jangka panjang,
b. Menyusun dan mengembangkan sistem prosedur tata kelola
manajemen asset dan basic communication antara asset owner, asset
manager dan asset operator terkait pengoperasian pembangkit,
instalasi pelabuhan, instalasi bahan bakar, instalasi abu, instalasi alat
berat, laboratorium PLTU, K3 dan lingkungan,
c. Mengelola sumber daya dan biaya operasi pada bagian operasi secara
efektif dan efisien,
d. Menyusun kebutuhan dan mengelola inventori (kualitas dan kuantitas)
energi primer,
e. Merencanakan, menyusun jadwal dan mengendalikan kegiatan
pengoperasian pembangkit, instalasi bahan bakar, instalasi abu,
instalasi pelabuhan, instalasi alat berat dan laboratorium PLTU untuk
menjamin pencapaian standar dan peningkatan keandalan dan efisiensi
bagian operasi.
f. Mengelola, memonitor dan mengendailkan eksekusi pengoperasian
pembangkit, instalasi bahan bakar dan instalasi abu coal dan ash
handling.
g. Merencanakan, mengidentifikasi, memonitor dan mengendalikan
kegiatan K3 dan lingkungan di unit bisnis
h. Merencanakan, memonitor dan mengendalikan kegiatan analisis kimia,
Pemantauan dan Pengelolaan kualitas lingkungan dan laboratorium
unit pembangkit,
i. Membina kompetensi pengoperasian pembangkit, instalasi bahan
bakar, instalasi abu, instalasi peiabuhan, aiat berat dan laboratorium
PLTU,
j. Mengelola resiko dan K3 bagian operasi
k. Melaksanakan rekomendasi kegiatan task execution (continuous
improvmen) bagian operasi,
l. Tugas-tugas lain yang diatur dalam perjanjian induk antara PT PLN
(persero) dengan perusahaan termasuk addendum.
m.
2. Tugas pokok Bagian Pemeliharaan adalah sebagali berikut :

12
a. Merencanakan, memonitor dan mengendalkan Rencana Kerja dan
Anggaran Bagian Pemeliharaan tahunan dan jangka panjang
b. Menyusun dan mengembangkan sistem prosedur tata kelola
manajemen aset dan basic communication antara asset owner, asset
manager, dan asset operator terkait kegiatan pemeliharaan peralatan
pembangkit, inslatasi pelabuhan, instalasi bahan bakar, instalasi abu,
alat berat, bengkel dan sipil;
c. Mengelola sumber daya dan biaya pada bagian pemeliharaan secara
efektif dan efisien;
d. Merencanakan menyusun jadwal, menganalisa kebutuhan dan
mengendalikan kegiatan pemeliharaan mesin-mesin pembangkit
instalasi bahan bakar dan instalasi abu (coal dan ash handling),
instalasi pelabuhan, alat berat, bengkel dan sipil untuk menjamin
pencapaian standar dan peningkatan keandalan dan efisiensi bagian
pemeilharaan,
e. Merencanakan dan menganalisa penyiapan kebutuhan pemeliharaan
outage secara optimal,
f. Mengembangkan data base inventori, daftar riwayat dan realisasi
Pemeliharaan unit Pembangkit;
g. Merencanakan, memonitor dan mengendalikan rencana stock/material
cadang, kebutuhan pengadaan material, yang paling ekonomis dengan
menerapkan sistem inventori untuk dan manajemen material secara
baik,
h. Membuat laporan mengenai hasil inspeksi unit pembangkit, realisasi
fisik program pemeliharaan, serta realisasi pemakaian anggaran
pemeliharaan dan investasi untuk di jadikan bahan evaluasi bagi
peningkatan kualitas pemeliharaan dan optimalisasi biaya
pemeliharaan pada tahun-tahun mendatang,
i. Membina kompetensi sumber daya manusia bagian pemeliharaan,
j. Mengelola resiko dan K3L bagian pemeliharaan,
k. Melaksanakan rekomendasi kegiatan task execution (continuous
improvmen) bagian pemeliharaan,
l. Tugas-tugas lain yang diatur dalam perjanjian induk antara PT PLN
(Persero) dengan perusahaan temasuk addendum.

3. Tugas pokok Bagian Pemeliharaan adalah sebagai berikut :


a. Merencanakan, memonitor dan mengendalikan Rencana Kerja dan
Anggaran Unit Bisnis dan Bagian Enginering,
b. Menyusun dan mengembangkan sistem prosedur tata kelola
manajemen asset dan basic communication antara asset owner, asset
manager, dan asset operator terkait kegiatan enginering pembangkit,
c. Mengelola kegiatan rebility management dan efficiency management,

13
d. Mengelola sumber daya utuk kegiatan reliabilty yang meliputi
1. Audit (assessment) dan prioritas pemeliharaan peralatan unit
pembangkit (MPI dan SERP),
2. Failure Mode and Effect Analysis (FMEA),
3. Root Cause Failure Analysis (RCFA)
4. Failure Defense Task (FDT),
5. Task Execution
e. Merekomendasikan kegiatan Task Execution (Continuous
Improvement) beserta KPI-nya serta melakukan evaluasi
implementasinya, meliputi :
1. Perbaikan dan perbaikan berkelanjutan sistem Prosedur dan
Instruksi Kerja Pengeloaan Jasa O&M
2. Perubahan desain dari peralatan dan proses produksi
3. Perubahan task preventive maintenance, task predictive dan
proactive maintenance.
4. Perbaikan kuailtas dan kuantitas ketersediaan material kegiatan
O&M
5. Overhaul cycle extention Peralatan Pembangkit
6. Life extention Peralatan pembangkit, termasuk analisis Cost
Benefit.
f. Mengelola kegiatan update data pemeliharaan peralatan pembangkitan
untuk keperluan analisa keandalan peralatan iebih lanjut,
g. Mengelola kegiatan Condition Based Maintenance Peralatan utama,
mengevaiuasi dan membuat Work Package program pemeliharaan
serta memberikan rekomendasi:
h. Melaksanakan kajian dan pelayanan teknis enginering penyelesaian
masalah pembangkit,
i. Merencanakan, menganalisa dan mengevaluasi penyiapan
kebutuhan sistem informasi guna memenuhi kebutuhan sistem
informasi manajemen yang tepat, akurat serta real time sehingga
menunjang kebutuhan informasi dalam pengamblian keputusan serta
pemantauan kinerja unit pembangkitan,
j. Mengelola kontrak bisnis jasa O & M,
k. Mengawasi mutu barang dan jasa unit bisnis,
l. Mengelola kegiatan monitoring, evaiuasi dan pelaporan kinerja serta
kondisi pembangkit,
m. Mengelola sistem manajemen terpadu unit bisnis,
n. Membina dan mengelola knowledge management dan inovasi di unit
bisnis,
o. Mengkoordinir kegiatan kajian dan pengelolaan resiko unit bisnis,
Membina kompetensi enginering,
p. Mengelola risiko dan K3L dibagian enginering,

14
q. Tugas-tugas lain yang diatur dalam perjanjian induk antara PT PLN
(PerSero) dengan perusahaan termasuk addendum.

4. Tugas pokok bagian administrasi adalah sebagai berikut :


a. Merencanakan, memonitor dan mengendalikan Rencana Kerja dan
Anggaran Bagian Administrasi,
b. Melaksanakan analisis Organisasi dan Perencanaan SDM tahunan dan
pengadaan tenaga kerja,
c. Menyusun dan mengembangkan sistem Prosedur dan basic
communication antara asset owner, asset manager, dan asset operator
terkait kegiatan bagian administrasi,
d. Menyusun dan mengelola perencanaan suksesi dan pengembangan
kompetensi pegawai,
e. Mengelola administrasi dan biaya kepegawaian serta biaya
administrasi unit bisnis,
f. Mengelola internalisasi budaya perusahaan dan kepatuhan terhadap
kode etik dan Code Of Conduct GCG Perusahaan;
g. Mengelola kegiatan hubungan industrial, kesekretariatan, fasilitas dan
perijinan di unit bisnis,
h. Mengkoordinir penyusunan, melakukan monitoring dan evaluasi
Pencapaian Target Kinerja (Key Performance Indicators) pegawai,
i. Mengelola dan menganalisa anggaran, keuangan dan perpajakan unit
bisnis;
j. Mengelola transaksi keuangan dan menyusun laporan keuangan,
k. Menyusun rencana dan kegiatan pengadaan barang dan jasa unit bisnis
serta pengembangan data base pengadaan;
l. Menyelenggarakan kegiatan pergudangan serta material handling-nya
untuk semua material milik unit bisnis,
m. Berkoordinasi dengan asset manager dalam mengelola kegiatan
administrasi unit bisnis,
n. Mengelola resiko dan kegiatan K3L bagian administrasi,
o. Tugas-tugas lain yang diatur dalam perjanjian induk antara PT PLN
(Persero) dengan Perusahaan termasuk addendum

BAB III
DASAR TEORI

15
3.1 Siklus Pembakaran dan Penanganan Limbah Gas Hasil Pembakaran
pada PLTU
3.1.1 Teori Dasar Siklus Pembakaran pada PLTU
Dalam pembakaran ada 3 komponen yang disebut segitiga api dan harus
terpenuhi agar pembakaran itu sempurna yaitu bahan bakar, panas dan
pemicu. Dan di PLTU proses pembakarannya ada dua yaitu menggunakan
High Speed Disel (HSD) untuk proses Start Up dan bahan bakar padat yaitu
batubara untuk sekunder supaya biaya operasionalnya lebih murah dan
mengurangi konsumsi BBM untuk pembakaran. Proses pembakaran pada
PLTU terjadi didalam Boiler untuk memanaskan air menjadi uap yang
digunakan sebagai penggerak turbin.
Pembakaran yang digunakan pertama menggunakan BBM sebagai start
up untuk menghasilkan panas yang cukup. Setelah segitiga api sudah
terpenuhi baru pergantian bahan bakar BBM yang diseprotkan
menggunakan oil gun diganti dengan batubara yang berbentuk serbuk yang
ditiupkan dengan udara bertekanan. Dan oil gun ditarik secara bertahap
karena batubara sulit untuk terbakar dengan mudah.

3.1.2. Penanganan Gas Hasil Pembakaran pada PLTU


Penanganan limbah bagi suatu industri sangat penting karena bila
tidak ada penanganan limbah dapat mengganggu keseimbangan ekosistem
sekitar industri tersebut. Limbah yang biasanya dihasilkan idustri yang
memerlukan pembakaran dalam proses produksinya biasanya berupa Debu,
CO2, dan Senyawa lainnya.
Dalam hal ini ada banyak cara penanganan limbahnya untuk sistem
pembakarannya dengan metode spray, Elektroda ataupun yang lainnya.
Seperti contohnya metoda spray dengan cara diatas cerobong dengan di
spray air supaya debu dan asap hasil pembakaran bisa terlarut kebawah dan
ikut terbawa air, supaya asap yang dihasilkan tidak menyebar ke langit
sehingga mencemari udara sekitar.

3.1.3 Siklus Pembakaran pada PLTU

3.1.3.1 Siklus Pembakaran pada PLTU Menggunakan HSD

16
( High Speed Diessel )
Siklus pembakaran menggunakan HSD biasanya digunakan pada proses
start up karena untuk pemanasan awal, apabila proses pembakarannya
mengunakan HSD ( High Speed Diessel ) maka akan membengkak
dioperasional dan juga untuk saat ini, bahan bakar minyak (BBM) didunia
akan segera habis dan cadangan minyak didunia tinggal beberapa tahun
lagi. Jadi pembangkit menggunakan HSD sebagai start up saja, karena
untuk menjaga cadangan energi dan menghemat biaya operasional pada
pembangkitan.

3.1.3.2 Siklus Pembakaran pada PLTU Menggunakan Batubara


Siklus pembakaran menggunakan batubara adalah proses pembakaran
sekunder karena batubara tidak bisa terbakar langsung dengan mudah dalam
proses pembakaran batubara perlu perlakuan berbeda dengan bahan bakar
minyak ataupun gas. Kenapa dinamakan proses sekunder karena dalam
pembakaran batubara membutuhkan panas yang cukup. Oleh karena itu
dalam pembakaran batubara memerlukan panas yang cukup terlebih dahulu.
Saat ini batubara sangat populer karena mempunyai kelebihan, mampu
menghasilkan panas yang tinggi dan sangat cocok untuk bahan bakar
pemanas dan juga karena jumlah batubara untuk saat ini sangat banyak
dibandingkan BBM ataupun BBG. Di Indonesia banyak terdapat tambang
batubara sehingga tidak perlu hawatir kekurangan suplai bahan bakar
untuk pembangkitan dan untuk biaya operasionalnya lebih murah
dibandingkan dengan bahan bakar yang lain.
3.1.4 Skema Siklus Pembakaran dan Penanganan Limbah Hasil
Pembakaran pada PLTU Pangkalan Susu

17
Gambar 3.1. Skema Siklus Pembakaran dan Penanganan Limbah
Hasil Pembakaran

3.2 Komponen pada Siklus Pembakaran PLTU Pangkalan Susu


3.2.1 Boiler

Boiler adalah salah satu komponen penting di dalam PLTU


Pangkalan Susu yang berfungsi sebagai tempat terjadinya pembakaran
dan tempat pengubahan air menjadi uap untuk memutar turbin.
Boiler pada PLTU Pangkalan Susu menggunakan bahan bakar utama
batubara, karena untuk mengurangi konsumsi BBM. Didalam
boiler banyak sekali terjadi siklus, yaitu proses pembakaran bahan
bakar, proses penguapan air menjadi uap yang digunakan untuk
memutar turbin.
Pada boiler yang digunakan di PLTU Pangkalan Susu proses
pembakarannya menggunakan sistem start up dengan menggunakan
solar yang di semprotkan keboiler menggunakan oil gun Proses
pembakarannya membutuhkan udara yang disuplai dari Forced Draft
Fan (FD Fan) yang di by pass melalui wind box, didalam boiler ada
pemicu/pematik yang digunakan untuk menyulut api. Setelah segitiga
api terpenuhi dan panas juga sudah terpenuhi makan akan dimasukkan
serbuk batubara yang ditiupkan Primary Air Fan (PA Fan) dari Mill

18
menuju Furnace boiler secara bertahap satu persatu sampai
menggunakan bahan bakar batubara sepenuhnya.

Gambar 3.2. Boiler pada PLTU Pangkalan Susu


3.2.2 Coal yard

Coal yard Yaitu tempat untuk penampung sementara batubara


yang berasal dari Tongkang ( Jetty PLTU ) yang akan digunakan
untuk bahan bakar pada pembangkitan PLTU.

3.2.3 Coal bunker


Untuk menampung sementara dari coal yard yang dikirim
menggunakan Conveyor dan meneruskan ke Coal Feeder

19
Gambar 3.3. Coal Bunker
3.2.4 Coal feeder
Berfungsi untuk mensuplai mill dan mengatur jumlah batubara
yang akan masuk ke mill, agar batubara tidak langsung dimasukan ke
mill, sehingga proses masuknya batubara secara bertahap kedalam
mill. Dibawah ini gambar Coal Feeder :

Gambar 3.4. Coal Feeder di PLTU Pangkalan Susu

20
Gambar 3.5. Skema Coal Feeder

3.2.5. Mill (Pulverizer)


Pulverizer atau juga disebut mill berfungsi untuk menggiling
atau menghancurkan batubara menjadi ukuran yang kecil menjadi
ukuran serbuk,sehingga memudahkan dalam proses pembakarannya.
Karena batubara itu sulit untuk terbakar, batubara tersebut
dihancurkan hingga menjadi serbuk untuk mempermudah dalam
proses pembakaran. Di mill batubara digiling menjadi serbuk batubara
dengan Grinding Roll. Dan hasil dari mill berupa serbuk batubara
ditiup dengan udara udara panas bertekanan dari Primary Air Fan (PA
Fan) menuju boiler untuk proses pembakaran. Dan sisa gilingan yang
berupa batu ataupun batubara yang jelek kemudian dibuang melalui
Scraper. Dibawah ini merupakan gambar dan skema Cool Mill.

21
Gambar 3.6. Mill pada PLTU Pangkalan Susu

Gambar 3.7. Skema dan komponen Cool Mill/ Pulverizer

22
Bagian-Bagian Mill/Pulverizer :
a. Lube Oil Sistem
Berfungsi untuk mensirkulasi oli pendingin bearing.
b. Sealing Air Fan
Berfungsi untuk melindungi innerpart supaya serbuk batubara
tidak masuk ke Spring Mill. Sealing Air Fan (SA Fan) mengambil
udara dari Primary Air Fan (PA Fan) pada cool air.
c. Innerting Steam
Berfungsi untuk menurunkan suhu didalam mill supaya tidak
terjadi ledakan.
d. Scrapper
Berfungsi untuk membuang Pyrite ( batubara sisa penggilingan).
e. Grinding
Berfungsi untuk menggiling batu bara dari Coal Feeder.
f. Heat Exchanger
Berfungsi untuk mendinginkan oli dari lube oil supaya tidak
teruapkan.
g. Bowl
Berfungsi untuk wadah/tempat menggiling batu bara.

3.2.6. APH (Air Preheater)


Berfungsi untuk memanaskan udara pembakaran untuk supply
boiler yaitu udara dari Primary Air Fan (PA Fan) dan Forced Draft
Fan (FD Fan). Disini juga untuk melewatkan udara hasil pembakaran
dari boiler yang dihisap oleh Induced Draft Fan (ID Fan), yang
berfungsi sebagai pemanas udara Primary Air Fan (PA Fan) dan
Forced Draft Fan (FD Fan).

23
Gambar 3.8. Air Pre Heater

Bagian-bagian pada Air Preheater yaitu :


a. Plat Berjajar Didalam Air Pre Heater (APH)
Berfungsi sebagai menyerap panas dari udara hasil pemanasan
boiler supaya panasnya merata.
b. Motor Penggerak
Berfungsi sebagai menggerakkan plat-plat yang ada di Air Pre
Heater (APH) supaya penyerapan panas merata dan motor bergerak
dengan kecepatan 4 Rpm.

3.2.7. Wind Box


Berfungsi untuk menampung udara pembakaran dari Forced
Draft Fan (FD Fan) dan mengatur jumlah udara yang masuk ke boiler
melalui Furnace Boiler.

24
Gambar 3.9. Wind Box pada PLTU

3.2.8. PA Fan (Primary Air Fan)


Berfungsi untuk supply udara primer ke boiler dan juga untuk
meniupkan serbuk batubara dari mill ke furnace boiler sebagai bahan
bakar pembakaran. Dan Primary Air Fan (PA Fan) di by pass menjadi
dua bagian yaitu menjadi cooling air fan dan hot air fan. Yang hot air
fan masuk terlebih dahulu masuk ke Air Pre Heater (APH). Setelah
keluar dari Air Pre Heater hot air fan di mix(campur) dengan cool air
fan, selanjutnya diteruskan ke mill untuk meniupkan serbuk batubara
ke furnace boiler. Cool air fan di mix(campur) dengan hot air fan
supaya tidak terjadi combusting di mill karena udara terlalu panas.

25
Gambar 3.10. Primary Air Fan (PA Fan)
Bagian-bagian pada Primary Air Fan (PA Fan) yaitu :
a. Lube Oil Circulation Sistem
Berfungsi sebagai sistem untuk mendinginkan / mensirkulasi
oli pendingin bearing.
b. Filter udara
Berfungsi sebagai penyaring udara yang masuk ke Primary Air
Fan agar sampah tidak ikut masuk kedalah Primary Air Fan (PA Fan).
c. Heat Exchanger
Berfungsi sebagai mendinginkan oli dari lube oil supaya tidak
teruapkan.
d. Motor
Berfungsi untuk menarik udara atmosfir sehingga supply udara
pembakaran boiler, dan juga untuk meniupkan serbuk batubara yang
sebelumnya sudah digiling terlebih dahulu di mill.

26
3.2.9. FD Fan (Forced Draft Fan)
Berfungsi sebagai supply udara pembakaran yang sekunder,
sebelum digunakan sebagai udara pembakaran, udara dari atmosfir
kemudian dihisap oleh Forced Draft Fan (FD Fan) masuk ke Air Pre
Heater (APH) dahulu. Di Air Pre Heater, udara dari Forced Draft
Fan (FD Fan) dipanaskan terlebih dahulu dan setelah itu masuk ke
Wind Box untuk ditampung, Kemudian disalurkan ke furnace boiler
untuk digunakan sebagai udara pembakaran.

Gambar 3.11. Forced Draft Fan(FD Fan)


Bagian-bagian pada Forced Draft Fan (FD Fan) yaitu :
a. Hidrolik Oil Sistem
Berfungsi sebagai sistem Hidrolik untuk moving blade. Untuk
mengatur besarnya udara dari atmosfir masuk kedalam.
b. Heat Exchanger
Berfungsi untuk mendinginkan oli dari lube oil supaya oli tidak
teruapkan.
c. Hidrolik
Berfungsi untuk membuka dan menutup blade yang digerakkan
oleh motor untuk mengatur jumlah udara yang masuk pada
pembakaran dalam boiler.

3.2.10. ID Fan(Induced Draft Fan)

27
Berfungsi untuk menghisap udara hasil pembakaran dari
boiler. Tetapi udara hasil pembakaran dari boiler tersebut
dimanfaatkan terlebih dahulu di ekonomiser dan juga Air Pre Heater
(APH) yang berguna untuk memanaskan udara pembakaran yang akan
masuk ke boiler. Setelah itu baru udara yang keluar dari Air Pre
Heater dilewatkan ke Elektro Static Precipitator (ESP) baru setelah
itu dibuang ke udara melalui Stack/Cerobong.

Gambar 3.12. Induced Draft Fan pada PLTU

3.2.11. ESP (Elektro Static Precipitator)


Elektro Static Precipitator berfungsi sebagai menangkap debu-
debu hasil pembangkaran (Fly Gas) dengan teknik pengumpulan
elektrostatik. Dengan memberikan muatan negative pada partikel-
partikel debu yang dilakukan oleh suatu elektroda pemberi muatan
negatif (Negative Discharge Elektrode) yang kemudian partikel ini
ditarik oleh suatu elektroda pengumpul yang bermuatan positif
(Positive Collector Electode) yang kemudian dirontokkan sehingga
partikel debu yang menepel akan jatuh ke hopper dengan cara
Rapping (dipukul dan digetarkan) atau dengan cara washing (dicuci
dengan air), agar diharapkan gas buang lebih bersih dan cukup aman
untuk dibuang melalui Stack/Chimney, untuk lebih jelas dapat dilihat
pada gambar dibawah ini.

28
Gambar 3.13. Proses Elektrosasi

Gambar 3.14. Elektro Static Precipitator (ESP)

3.2.12. Fly Ash Silo


Berfungsi menanmpung debu hasil pembakaran dari Elektro Static
Precipitator (ESP) dengan air compresor. Setelah debu hasil pembakaran
terkumpul biasanya di ambil oleh perusahaan lain untuk dimanfaatkan
kembali seperti campuran semen.

29
Gambar 3.15. Fly Ash Silo

3.2.13. SSC
Berfungsi untuk menampung abu berat (Bottom Ash) yang turun
langsung dari hasil pembakaran di boiler. SSC ini berada dibawah boiler
untuk menampung bottom ash langsung dari boiler dan kemudian baru di
tampung ke Bottom Ash Silo.

Gambar 3.16. SSC


3.2.14. Bottom Ash Silo
Berfungsi untuk menampung abu berat hasil pembakaran kemudian
baru di buang ke penampungan abu.

30
Gambar 3.17. Bottom Ash Silo

3.2.15. Stack (Cerobong)


Berfungsi untuk membuang Flue Gas hasil pembakaran, setelah
dibersihkan di Elektro Static Precipitator (ESP) baru dibuang ke Atmosfir.
Pembuangan Flue Gas ini masih dibantu oleh Induced Draft Fan yang
terletak tepat disamping Stack guna mempermudah Dispersi penyebaran
gasnya dan juga untuk mengurangi penyebaran limbah ke sekitar.

31
Gambar 3.18. Stack/Cerobong

32
BAB 1V
ANALISA DAN PEMBAHASAN

Siklus Pembakaran pada PLTU Pangkalan Susu


4.1. Siklus pembakaran pada PLTU Pangkalan Susu Saat Start Up
Pada proses start up / memulai produksi untuk menggerakkan turbin,
PLTU menggunakan High Speed Diessel (HSD) dalam proses
pembakarannya. Pertama bahan bakar High Speed Diessel(HSD) dari HSD
Tank dialirkan menuju furnace Boiler menggunakan pompa bahan bakar.
Setelah itu bahan bakar High Speed Diesel (HSD) disemprotkan
menggunakan Oil Gun untuk proses pembakaran. Setelah panas sudah
mencukupi, atau generator telah menghasilkan daya sebesar 15 hingga 30
MW, artinya bahan bakar pada Boiler sudah siap untuk pergantian dengan
bahan bakar batubara. Proses pertukarannya dengan cara menarik satu persatu
oil gun dari furnace boiler dan diganti secara perlahan dengan batubara yang
ditiupkan oleh Primary Air Fan (PA Fan).
Mengapa menggunakan High Speed Diessel (HSD) pada saat Start Up
karena bahan bakar High Speed Diessel (HSD) ini mudah untuk terbakar
dengan cepat. Karena hanya membutuhkan bahan bakar High Speed Diessel
(HSD), udara yang bertekanan dan pematik/pemicu api. Pada proses Start Up
di PLTU Pangkalan Susu ataupun PLTU lainnya, prosesnya hampir terjadi
minimal samapi 8 jam, itu yang paling tercepat dan paling lama sampai 12
jam dan waktu Start Up tergantung pada pencapaian panas daloam Boiler
dan generator, apakah generator dapat cepat menghasilkan daya keluaran
seberas 15 hingga 30 MW, jika generator sudah menghasilkan daya sebesar
15-30 MW maka secara perlahan High Speed Diessel (HDS) akan diganti
dengan bahan bakar batubara. itu hanya untuk proses Start Up.

4.2. Siklus Pembakaran Lanjutan Menggunakan Batubara


Siklus pembakaran menggunakan bahan bakar batubara ini digunakan setelah
pada start up selesai dan menghasilkan panas yang cukup untuk pembakan

33
menggunakan batubara. Pertama batubara dari coal yard atau penampungan
sementara dari tongkang atau jetty. Kemudian dengan conveyor di supplykan
ke coal bunker diteruskan ke coal feeder untuk mengatur besarnya batubara
yang akan digiling di mill. Di mill batu bara digiling menggunakan Grinding
Roll menjadi serbuk batu bara untuk bahan bakar lanjutan setelah proses Start
Up menggunakan bahan High Speed Diessel (HSD). Setelah digiling dan
menjadi serbuk batu bara kemudian ditiup oleh Primary Air Fan (PA Fan)
menuju ke furnace boiler.
Untuk proses pembakaran di boiler menggunakan batubara tidak bisa secara
langsung di masukkan secara sekaligus karena sifat batubara tidak bisa
terbakar secara langsung walaupun dibakar dengan api. Karena batubara
membutuhkan panas yang cukup besar supaya bisa terbakar. Proses
pembakarannya dengan cara High Speed Diessel (HSD) yang disemprotkan
oleh Oil Gun ditarik satu dahulu diganti dengan serbuk batubara yang
ditiupkan oleh Primary Air Fan (PA Fan). Apabila setelah dimasukkan
panasnya turun kita menunggu dulu sampai panasnya terpenuhi kembali, baru
Oil Gun selanjutnya ditarik dari Furnace Boiler dan diganti dengan bahan
bakar batubara dan begitu seterusnya.

4.3. Sistem Penanganan Gas Hasil Pembakaran


Hasil pembakaran di boiler menghasilkan udara hasil pembakaran dan
Bottom Ash. Untuk penanganan Bottom Ash pada PLTU Pangkalan Susu ada
penampung dibawah Boiler yang bernama SSC yang berfungsi untuk
mendinginkan, abu hasil pembakaran dengan cara di spray air abunya dan
kemudian baru di tampung ke Bottom Ash Silo, setelah itu baru di buang
Bottom Ash Storage.
Sedangkan untuk penanganan gas hasil pembakarannya pada PLTU
Pangkalan Susu ada Elektro Static Precipitator (ESP) yang berfungsi
menangkap debu-debu hasil pembakaran (Fly Ash) dengan sistem elektrosasi.
Udara hasil pembakaran ini dihisap oleh Induced Draft Fan (ID Fan)
kemudian dimanfaatkan terlebih dahulu untuk memanaskan kembali uap di

34
ekonomiser dan juga memanaskan udara pembakaran untuk pembakaran pada
Boiler di Air Pre Heater (APH) setelah itu baru ke Elektro Static Precipitator
(ESP). Di Elektro Static Precipitator (ESP) udara hasil pembakaran di
elektrosasi dengan cara mengalirkan aliran arus listrik disepanjang plat besi
supaya debu-debu hasil pembakaran (Fly Ash) menempel pada dinding-
dinging plat datar tersebut dan gas-gas yang tidak mengandung debu itu akan
keluar melalui Stack / Cerobong yang dibantu dengan Induced Draft Fan (ID
Fan).

Gambar 3.19. Proses Elektrosasi

Sedangkan debu-debu (Fly Ash) yang menempel pada dinding-dinding


plat datar pada Elektro Static Precipitator (ESP) kemudian di rontokkan dan
jatuh ke hopper dengan cara di Rapping (dipukul ataupun digetarkan).
Setelah jatuh ke Hopper, kemudian di tiupkan dengan udara Air Compressor
menuju ke Fly Ash Silo. Debu-debu sisa hasil pembakaran ini kemudian
dimanafaatkan oleh perusahaan semen untuk bahan campuran semen.

35
BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
Dari uraian materi dan observasi selama Praktek Kerja Lapangan
dapat disimpulkan :
1. Pada PLTU Pangkalan Susu menggunakan dua siklus pembakaran
yaitu siklus pembakaran Start Up menggunakan High Speed Diessel
(HSD) dan siklus pembakaran Sekunder dengan menggunakan batu
bara.
2. Proses penanganan limbah gas menggunakan proses elektrosasi.
3. Untuk kapasitas PLTU Pangkalan Susu membangkitkan daya sebesar
2x200 MW.

5.2. Saran
Selama melaksanakan praktek kerja lapangan industri kurang lebih 4
minggu di PLTU Pangkalan Susu penulis mendapatkan banyak
pengalaman dan pengetahuan baru, maka demi kemajuan bersama
penulis ingin menyampaikan beberapa saran sebagai berikut :
1. Untuk dapat mengetahui dan mengamati dengan cepat dan akurat
proses yang terjadi dilapangan, diperlukan akses data-data dan sumber
informasi, sehingga akan menghasilkan sistem operasi yang tepat.
2. Untuk mendapatkan informasi yang lebih akurat, perlu dilakukan
pengecekan pada alat yang digunakan pada unit desalinasi, sehingga
tidak terjadi kekeliruan yang tidak diinginkan.

DAFTAR PUSTAKA
http://id.shvoong.com/exact-sciences/physics/2286324-cara-kerja-pltu-
batubara/#ixzz1wfoM55lS
Nur Ahmad Widodo. "Sistem Proteksi Suhu Pada Boiler Di Pltu 1 Jatim Pacitan".
20 Maret 2015.

36
Dharmes Agus tantiyono, Boiler Fundamental PLTU PAITON 7&8, 2009

37