Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM EMBRIOLOGI HEWAN

KEGIATAN 3 ANALISIS SPERMATOZOA

Disusun oleh :
ADITYA WARDANA (K4314001)
Kelompok 1/ Kelas A

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2017
Nama Kegiatan

Judul : ANALISIS SPERMATOZOA


Tujuan :
1. Mengetahui struktur mikroskopis sel sperma melalui apus suspensi sperma
2. Mengetahui pola pergerakan (motilitas) dari spermatozoa
Alat dan Bahan :
Alat Bahan
Cawan petri Sperma marmut
Gelas objek Sperma katak
Mikroskop Sperma merpati
Alat bedah NaCl fisiologis
Jarum pentul Giemsa
Prinsip kerja :
Membunuh hewan uji dan dipotong bagian ventralnya untuk diambil cauda
epididimis. Epididiis dimasukkan ke dalam larutan fisiologis 2 ml dan dipotong halus
sehinga berbentuk suspense. Untuk mengamati motilitas sperma, cairan suspense
epididimis diteteskan pada gelas objek cekung 2 atau 3 tetes. Melihat motilitas sperma di
bawah mikroskop. Mengamati jarak pergerakan (micrometer) setiap detik dan
arah/keadaan gerak spermatozoa. Sebaiknya dilakukan oleh 2 orang mahasiswa untuk
setiap pengamatan motilitas. Untuk pengamatan morfologi, mengambil cairan yang
mengandung spermatozoa yang berasal dari testis, epididimis, atau vasdeferens.
Melarutkan pada NaCl fisiologis kemudian meletakkan cairan pada objek glas yang
bersih. Dengan objek glas yang lain dioleskan setipis mungkin dan fiksasi dengan
melewatkannya di atas api. Mewarnai dengan giemsa atau eosin, selama 3-5 menit.
Mencuci dengan air mengalir. Mengeringkan dan mengamati di bawah mikroskop.
Data pengamatan
Gambar Keterangan Gambar Keterangan
sperma kadal 3b
10

sperma
dara 10x

sperma ikan tidak bisa Sperma tikus


diamati karena masih tidak ada karena
sperma kecil dan belum betina
katak fix terdiferensiasi
40X
Pada praktikum sebenarnya terdapat lima hewan uji. Kelima hewan uji tersebut
merupakan ketiga hewan uji yang telah dijelaskan ditambah dengan Cavia cobaya
(Tikus) dan Carassius auratus (Ikan Mas hias) namun saat pelaksanaan praktikum terjadi
kesalahan yakni Cavia cobaya yang merupakan hewan uji adalah betina pada seluruh
kelompok maka hewan uji tersebut tidak dapat diamaati. Sedangkan Carassius auratus
yang didapat terlalu kecil sehingga tidak dapat teramati organ reproduksinya (belum
terdiferensiasi).

Reproduksi merupakan salah satu mekanisme yang dimiliki oleh makhluk hidup untuk
mempertahankan kelestarian spesiesnya dari kepunahan. Reproduksi ada yang bersifat
aseksual dan ada yang bersifat seksual. Reproduksi seksual membutuhkan individu
jantan dan individu betina untuk melakukan reproduksi. Individu jantan akan
mengeluarkan benih atau spermatozoa yang akan memfertilisasi sel telur atau ovum dari
individu betina.
Spermatozoa yang baik merupakan salah satu faktor dari fertilitas jantan. Spermatozoa
merupakan sisitem sito struktural yang motil dimana pembentukannya memerlukan
kondisi yang sangat baik secara internal dan eksternal agar terbentuk spermatozoa yang
mampu menetrasi sel telur secara sempurna.
Analisis spermatozoa merupakan suatu cara untuk mengevaluasi spermatozoa apakah
cukup fertile untuk memfertilisasi sel telur. Analisis spermatozoa dilakukan melalui
beberapa macam cara misalnya konsentrasi, morfologi, motilitas dan biokimia ejakulat.
Spermatozoa bergerak dari tubulus seminiferus lewat duktus eferen menuju kepala
epididimis. Epididimis merupakan pipa dan berkelok-kelok yang menghubungkan vas
eferensia pada testis dengan duktus eferen (vas deferen). Kepala epididimis melekat
pada bagian ujung dari testis dimana pembuluh-pembuluh darah dan saraf masuk. Badan
epididimis sejajar dengan aksis longitudinal dari testis dan ekor epididimis selanjutnya
menjadi duktus deferen yang rangkap dan kembali ke daerah kepala. Epididimis
berperan sebagai tempat untuk pematangan spermatozoa sampai pada saat spermatozoa
dikeluarkan dengan cara ejakulasi. Spermatozoa belum matang ketika meninggalkan
testikel dan harus mengalami periode pematangan di dalam epididimis sebelum mampu
membuahi ovum (Frandson, 1992).
Jika spermatozoa terlalu banyak ditimbun, seperti oleh abstinensi (tak ejakulasi) yang
lama atau karena sumbatan pada saluran keluar, sel epididimis dapat bertindak
phagocytosis terhadap spermatozoa. Spermatozoa itu kemudian berdegenerasi dalam
dinding epididimis. Pada orang vasektomi, epididimis juga berperan untuk
memphagocytosis spermatozoa yang tertimbun terus-menerus (di samping makrofag).
Terbukti spermatozoa yang diambil dari daerah kaput dan korpus tak fertil, sedang yang
diambil dari daerah kauda fertil; sama halnya dengan spermatozoa yang terdapat dalam
ejakulat (Yatim, 1994).
Spermatozoa adalah sel kelamin (gamet) yang diproduksi di dalam tubulus seminiferus
melalui proses spermatogenesis, dan bersama-sama dengan plasma semen akan
dikeluarkan melalui sel kelamin jantan. Menurut Rugh (1968), spermatozoa yang normal
terbagi atas bagian kepala yang bentuknya bengkok seperti kait, bagian tengah yang
pendek (middle piece), dan bagian ekor yang sangat panjang. Panjang bagian kepala
kurang lebih 0,0080 mm, sedangkan panjang spermatozoa seluruhnya sekitar 0,1226 mm
(122,6 mikron).
Kemampuan bereproduksi dari hewan jantan dapat ditentukan oleh kualitas dan
kuantitas semen yang dihasilkan. Produksi semen yang tinggi dinyatakan dengan volume
semen yang tinggi dan konsentrasi spermatozoa yang tinggi pula. Sedangkan kualitas
semen yang baik dapat dilihat dari persentase spermatozoa yang normal dan motilitasnya
(Hardjopranoto, 1995).
Sebagian besar spermatozoa mengalami kematian dan hanya beberapa ratus yang dapat
mencapai tuba falopii. Spermatozoa yang masuk kedalam alat genitalia wanita dapat
hidup selama tiga hari, sehinnga cukup waktu untukmengadakan konspsei, yaiut
pertemuan inti ovum dengan inti spermatozoa atau disebut juga fertilisasi dan
membentuk zigot (Manuba,1998).
Macam-macam spermatozoa menurut struktur:
Ada 2 kelompok I. Tak berflagellum
II. Berflagellum
Sperma yang tak berflagellum terdapat pada beberapa jenis Evertebrata, yakni
Nematoda, Crustacea, Diplopoda. Yang berflagellumlah yang umum terdapat pada
hewan. Flagellum itu ada yang satu (umum), ada yang dua (jarang) (Prasetyo, 2008).
Sperma yang berflagellum lazim memiliki bagian-bagian: kepala dan ekor.
Kepala sebagai penerobos jalan menuju dan masuk ke dalam ovum, dan membawa
bahan genetis yang akan diwariskan kepada anak cucu. Ekor untuk pergerakan menuju
tempat pembuahan dan untuk mendorong kepala menerobos selaput ovum. Dalam
kepala ada inti dan akrosom. Inti mengandung bahan genetis, akrosom mengandung
berbagai enzim lysis. Akrosom ialah lisosom spermatozoon, untuk melysis lendir
penghalang saluran kelamin betina dan selaput ovum. Seperti halnya lisosom umumnya,
akrosom pun diproduksi oleh alat golgi (Toelihere, 1981).
Ekor berporoskan flagellum. Flagellum ini memiliki rangka dasar, disebut axonema,
dibina atas 9 duplet dan 2 singlet mikrotubul. Ekor mengandung sentriol (sepasang),
mitokondria, dan serat fibrosa (Wongso, 2007).
Macam spermatozoa menurut kromosom kelamin
Sesuai dengan adanya 2 macam kromosom kelamin pada hewan yang bersistem XY
(umum pada Vertebrata), maka dalam spermatozoa jadi haplon pada proses meiosis,
terbentuklah spermatid yang di sepihak hanya mengandung salah satu kedua macam
kromosom itu: X atau Y. Terbentuklah sperma yang hanya mengandung kromosom
kelamin X, disingkat sperma-X; lalu ada sperma yang hanya mengandung kromosom
kelamin Y, disingkat sperma-Y (Yatim, 1996).
Banyak dihasilkan
Spermatozoa dihasilkan terus-menerus tiap hari. Tapi bagi hewan yang memiliki musim
kawin penghasilan itu lebih kentara giat jika tiba musim itu. Ada pula penghasilan
berlangsung terus sebelum musim kawin, lalu dicadangkan. Jika tiba musim kawin
dikeluarkan sekaligus semua, sesuai dengan betina yang waktu itu mengeluarkan pula
semua telurnya sekaligus (Soeminto, 1993)
Gerakan
Ketika masih dalam tubulus seminiferus spermatozoa tak bergerak. Secara berangsur
dalam ductus epididymis mengalami pengaktifan. Ketika keluar dari tubuh kecepatan
spermatozoa dalam medium cairan saluran kelamin betina sekitar 2,5 mm/menit (Yatim,
1996).Sifat gerakan spermatozoa menentukan juga kemandulan seseorang pria. Kalau
gerakan terlalu lambat, lamban atau gerakan itu tak menentu arahnya, maka pembuahan
sulit berlangsun. Ada batas waktu menunggu bagi ovum untuk dapat dibuahi. Kalau
terlambat spermatozoa datang tak susur lagi (Campbell, 2004).
Ketahanan di luar tubuh
Spermatozoa mudah sekali terganggu oleh suasana lingkungan yang berubah.
Kekurangan vitamin E menyebabkan ia tak bertenaga melakukan pembuahan. Terlalu
rendah atau tinggi suhu medium pun akan merusak pertumbuhan dan kemampuan
membuahi. Pada mammalia scrotum memilikisuhu lebih rendah dari suhu tubuh.
Perubahan Ph pun merusak sperma. Terlebih terhadap asam. Keasaman sanggama
(vagina) ternyata dapat menyebabkan kemandulan pula, karena mematikan spermatozoa
yang masuk (Adnan, 2006).
Bagian-bagian Spermatozoa
Kepala Spermatozoa
Satu spermatozoa terdiri atas kepala dan ekor. Kepala lonjong dilihat dari atas
dan pyriform dilihat dari samping, lebih tebal dekat leher dan menggepeng ke ujung.
Panjang kepala 4-5 um, dan lebar 2,5-3,5 um. Sebagian terbesar kepala berisi inti, yang
kromatinnya sangat terkondensasi untuk menghemat ruangan yang kecil, dan untuk
melindungi diri dari kerusakan ketika spermatozoon mencari ovum. Dua pertiga bagian
depan inti diselaputi tutup akrosom berisi enzim untuk menembus dan memasuki ovum
(Yatim, 1994).
Kepala sperma terisi sepenuhnya dengan materi inti, chromosom, terdiri dari
DNA yang bersenyawa dengaan protein. Informasi genetic yang dibawa oleh
spermatozoa di simpan dalam molekul DNA yang tersusun oleh banyak nukleoitida.
Pada mamalia sifat-sifat herediter di dalam inti sperma termasuk penentuan kelamin
embrio (Toelihere, 1981).
Ekor Spermatozoa
Menurut Yatim (1994), ekor sperma dibagi atas :
Leher, bagian penghubung ekor dengan kepala. Tempat melekat ekor ke kepala disebut
implantation fossa, dan bagian ekor yang menonjol disebut capitulum, semacam sendi
peluru pada kepala. Dekat capitulum terletak sentriol depan (proximal), sentriol ujung
(distal) hanya berupa sisa pada spermatozoa matang.
Bagian tengah, memiliki teras yang disebut axonem, terdiri dari 9 duplet mikrotubul
radial dan 2 singlet mikrotubul sentral. Susunan axonem sama dari pangkal ke ujung
ekor. Pada bagian ujung selubung mitokondria ada annulus (cincin), tempat melekat
membran flagellum, dan juga sebagai batas dengan bagian utama.
Bagian utama, depan panjang 45 um, tebal 0,5 um, yang secara berangsur kian gepeng
ke ujung. Sebelah luar ada seludang fibrosa, terdiri dari batang longitudinal atas-bawah,
diselaputi rusuk-rusuk fibrosa setengah lingkaran.
Bagian ujung, panjang 5-7 um, tidak mengandung selaput fibrosa yang berusuk-rusuk,
sehingga ia berstruktur sama dengan flagellum atau cilium. Di daerah ini axonem
berubah komposisinya jadi singlet.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil yang diperoleh, maka diambil beberapa kesimpulan sebagai
berikut :
Katak Kadal Dara
Karakteristik Terdiri atas bagian Terdiri atas bagian Terdiri atas bagian
kepala, leher, dan kepala, leher, dan kepala, leher, dan
ekor. Kepala ekor. Kepala ekor. Kepala
berbenruk bulat berbenruk bulat, leher berbenruk bulat
meruncing, leher berbentuk persegi meruncing, leher
berbentuk persegi panjang yang berbentuk persegi
panjang yang ukurannya lebih kecil panjang yang
ukurannya lebih kecil dari kepala dan lebih ukurannya lebih kecil
dari kepala dan lebih besar dari ekor. Ekor dari kepala dan lebih
besar dari ekor. Ekor sperma berupa besar dari ekor. Ekor
sperma berupa flagellum panjang sperma berupa
flagellum panjang. yang digunakan untuk flagellum agak pendek
pergerakan. yang digunakan untuk
pergerakan.

Motilitas Sperma bergerak Sperma bergerak Sperma bergerak


menggunakan menggunakan menggunakan
flagellum flagellum flagellum
Viabilitas Viabilitas sperma Viabilitas sperma Viabilitas sperma
dipengaruhi oleh suhu dipengaruhi oleh suhu dipengaruhi oleh suhu
dan pH. dan pH. dan pH.

1) Semen terdiri atas spermatozoa dalam plasma seminal yaitu suatu campuran
sekret dari epididimis, vas deferens, vesikula seminalis, prostat, dan kelenjar
bulbouretralis.
2) Spermatozoa merupakan sistem sito kultural yang motil dimana pembentukannya
memerlukan kondisi yang sangat baik secara internal dan eksternal agar
terbentuk spermatozoa yang mampu menetasi sel telur secara sempurna.
3) Analisis spermatozoa digunakan untuk mengetahui apakah individu jantan fertil
atau infertil.
4) Analisa spermatozoa dapat dilakukan dengan beberapa cara, misalnya :
pengamatan konsentrasi, motilitas, dan morfologi.
5) Spermatozoa yang normal harus memiliki kepala bulat lonjong (oval), leher, dan
ekor tunggal.
6) Percobaan analisis spermatozoza ini dilakukan dengan apus suspensi
spermatozoa Rana sp., Columba livia, dan Lacertilia untuk mengetahui motilitas
dan morfologi spermatozoa.
7) Berdasarkan hasil percobaan diperoleh analisis sebagai berikut:
a. Spermatozoa Rana sp.
- Bagian-bagian: kepala, leher, ekor spermatozoa.
- Keabnormalan: tidak dijumpai.
- Motilitas: 0% (spermatozoa tidak bergerak).
b. Spermatozoa Columba livia
- Bagian-bagian: kepala, leher, ekor spermatozoa (yang teramati di bawah
mikroskop hanya berupa eritrosit).
- Keabnormalan: tidak dijumpai (tidak dijumpai spermatozoa sama sekali).
- Motilitas: 0% (tidak ada spermatozoa).
c. Spermatozoa Cavia cobaya
- Bagian-bagian: kepala, leher, ekor spermatozoa.
- Keabnormalan: kepala panjang, satu kepala spermatozoa beberapa
flagella (double body).
- Motilitas: 5% (spermatozoa berhimpitan, hanya sedikit bergerak).
8) Tidak teramatinya spermatozoa di bawah mikroskop disebabkan akibat proses
diseksi dan pengambilan organ vas deferens yang kurang tepat.
Hewan uji yang tidak dapat teramati oragan reproduksinya adalah Carassius auratus dan
Cavia cobaya hal ini dikarenakan hewan uji yang disediakan untuk praktikum adalah
betina dan ukurannya terlalu kecil.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2010. WHO laboratory manual for the examination and processing human semen 5th
Edition. WHO press: Switzerland
Adnan, 2006. Reproduksi dan Embriologi. Makasar : Jurusan Biologi FMIPA UNM Campbell, N.
A.2004. Biologi Edisi ke 5 Jilid III. Jakarta : Erlangga
Bambang. 2007. Srtruktur dan Perkembangan Hewan. Sahyakirti: Jakarta. VI+ 234 hlm.
Campbell, N.A. (2000). Biologi. Jakarta: Erlangga.
DeCherney A.H., Polan, M.L., Lee, R.D., Boyers, S.P. (1997). Seri Skema Diagnositis dan
Penatalaksanaan infertilitas. Jakarta: Binarupa Aksara.
Dindyal, Shiva. 2004. The sperm count has been decreasing steadily for many years in Western
industrialised countries: Is there an endocrine basis for this decrease. Journal of
Urology. 2004 Volume 2 Number 1. (Hons) Imperial College School of Medicine:
London
Fitriani, Kartini Eriani, Widya Sari. 2010. The effect cigarettes smoke exposured causes fertility
of male mice (Mus musculus). Jurnal natural. Vol. 10, No. 2, 2010
Frandson, R. D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak Edisi ke-4. Gadjah Mada Unuversity Press.
Yogyakarta.
Geneser F. (1994). Histologi dan Biologi Sel. (alih bahasa: Arifin Gunawijaya ). Jakarta:
Binarupa Aksara.
Guyton AC. (1997). Fisiologi Kedokteran. (Alih bahasa: Adji Dharma dan P. Lukmanto).
Jakarta: EGC.
Guyton, (2006). Textbook of Medical Physiology. USA: Elsevier
Hardjianto, dkk. 2009. Motility and Viability Rams Spermatozoa. Departemen Kedokteran
Dasar Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga: Surabaya
Hidayaturrahmah. 2007. Waktu Motilitas Dan Viabilitas Spermatozoa Ikan Mas (Cyprinus carpio
L.) Pada Beberapa Konsentrasi Larutan Fruktosa.Universitas Lambung Mangkurat,
Kalimantan Selatan.
Hutapea, Dr. Albert M. 2002. Keajaiban-keajaiban dalam Tubuh Manusia. Gramedia: Jakarta
Jamieson, Barrie GM. 1991. Fish Evolution and Sistematics : Evidence from Spermatozoa.
Cambridge University Press, Cambridge.
Jensen, N.R., M. D. Zuccarelli, S. J. Patton, S. R. Williams, S. C. I reland, dan K. D. Cain.
(2008). Cryopreservation and Methanol Effects on Burbot Sperm Motility and
Egg Fertilization. Volume 70. American Fisheries Society.
Kimball, J.W. (1983). Biologi Jilid 2. Erlangga: Jakarta.
Manuba, Ida Bagus. 1998. Penyakti Kandungan & Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan.
Penerbit buku kedokteran EGC : Jakarta
Nalbandov. (1995). Fisiologi Reproduksi Pada Mamalia dan Unggas. Universitas Indonesia
Press: Jakarta. VII+ 378 hlm.
Nurhayati, Awik P.D. (2004). Perkembangan Hewan. ITS Press: Surabaya
Rugh, R. 1968. The Mouse: Its Reproduction and Development. (Oxford University Press, New
York).
Samsiar, Ramadhan, Ahmad., Tureni, Dewi. (2013). Pengaruh Pemberian Ekstrak Daun
Pegagan (Centella asiatica) terhadap Morfologi Spermatozoa Mencit (Mus
musculus) Galur DDY. e-Jipbiol Vol. 2: 20-23.
Sherwood, Lauralee. (2001). Fisiologi Hewan. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Sistina, Yulia. 2000. Biologi Reproduksi. Fakultas Biologi Unsoed, Purwokerto.
Soeminto. 1993. Dasar dasar Embriologi. Fakultas Biologi Unsoed, Purwokerto.
Soeminto, P. Susatyo, Marhendro. S. 2002. Pembentukan Ikan Jantan Homogamet (XX) lewat
Ginogenesis dan Pemberian Andriol pada Ikan Nilem (Osteochillus hasselti CV).
Dalam Majalah Ilmiah Biologi. Vol. 19 (2), hal. 50-54, Mei 2002
Sukra, Yuhara. (2000). Wawasan Ilmu Pengetahuan Embrio. Direktur Jenderal Pendidikan
Tinggi DEPDIKNAS: Jakarta. 392 hlm.
Sugiyanto. (1996). Perkembangan Hewan. Yogyakarta: UGM Press
Sukra, Yuhara. 2000. Wawasan Ilmu Pengetahuan Embrio. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi
DEPDIKNAS: Jakarta. 392 hlm.

Ternak, B. P., & Box, P. O. (2011). UNTUK PENYIMPANAN SEMEN UNGGAS. Balai Penelitian
Ternak, 16002(April), 145152.
Toelihere. 1981. Fisiologi Reproduksi Pada Ternak. Bandung: Angkasa Wongso, Anton
Wahyu, Hary. (1990). Diktat Asistensi Anatomi Hewan-Zoologi. Yogyakarta: Jurusan Zoologi
UGM.
World Health Organization. 1992. Penuntun Laboratorium WHO untuk Pemeriksaan Semen.
Edisi ke-3. Palembang: Universitas Sriwijaya.
Wongso, Anton Darsono.2007. Membaca Analisis Sperma. http:// klinik andrologi
blogspot.com.diakses tanggal 30 Maret 2017
Yatim, Wildan. 1984. Embriologi untuk Mahasiswa Biologi dan Kedokteran. Tarsito Press,
Bandung.
Yatim, wildan. (1994). Reproduksi dan Embriologi. Bandung: Tarsito Yatim, wildan. 1996.
Histologi. Bandung: Tarsito
Yatim, W. 1994. Reproduksi dan Embryologi. Tarsito. Bandung
Yatim, Wildan. 1996. Histologi. Tarsito: Bandung
Yuwanta,Tri S.U. 2004. Dasar ternak. Kanisius : Jakarta

http://laboratorium-embriologi-fkh-unsyiah.blogspot.co.id/2013/05/laporan-praktikum-v-
pengamatan.html
LEMBAR PENGESAHAN

1 lembar dokumentasi
1 lebar laporan sementara (Log Book)

Surakarta, 30 Maret 2017


Asisten Praktikan

_______________ ________________
NIM. NIM. K4314001
Lampiran (Foto Mikroskop Binokuler)
Spermatozoa Columba livia
Gambar Pengamatan Gambar Searching
3 (Ternak & Box, 2011)
4 2

Keterangan :
1. Kepala sperma
2. Badan sperma
3. Ekor sperma
Keterangan: 4. ujung ekor sperma
1. Spermatozoa https://www.scribd.com/doc/307161752/Laporan-
2. Kepala sperma Resmi-Praktikum-Sperma
3. Badan sperma
4. Ekor sperma
Pembahasan
Karakteristik (bentuk)
Hasil pengamatan:
Terdiri atas bagian kepala, leher, dan ekor. Kepala berbenruk bulat meruncing, leher
berbentuk persegi panjang yang ukurannya lebih kecil dari kepala dan lebih besar dari
ekor. Ekor sperma berupa flagellum agak pendek yang digunakan untuk pergerakan.
Teori:
- Bagian kepala
Kepala sperma burung berbentuk bulat meruncing. Kepala sperma tersusun
atas akrosom dan inti. Kepala sperma ditutup oleh tudung protoplasmic yang disebut
akrosom. Akrosom berfungsi untuk melisis lendir penghalang saluran kelamin betina
dan selaput ovum. Seperti halnya lisosom umumnya, akrosom pun diproduksi oleh
alat golgi (Toelihere, 1981). Inti mengandung bahan genetis yang akan diwariskan
kepada anak cucu.
- Bagiaan leher
Bagian leher merupakan bagian tengah sperma. Bagian ini banyak mengandung
mitokondria yang berfungsi menghasilkan energi untu pergerakan. Menurut Sukra
(2000) menyatakan bahwa, leher sperma berupa bagian dari silia yang terdiri dari
mikrotubulus dan mengandung banyak ATP untuk energi pergerakan ekor. Leher
sperma terdiri atas dua buah fibril pusat yang dikelilingi oleh 9 fibril ganda berupa
sebuah cincin berganda. Cincin tersebut berjalan mulai dari daerah implantasi sampai
ke ujung ekor.
- Bagian ekor
Ekor sperma merpati berporoskan flagellum. Flagellum ini memiliki rangka dasar
yang disebut axonema, tersusun atas 9 duplet dan 2 singlet mikrotubul. Ekor sperma
mengandung sentriol (sepasang), mitokondria, dan serat fibrosa (Wongso, 2007).
Ekor sperma berfungsi untuk pergerakan menuju tempat pembuahan dan untuk
mendorong kepala menerobos selaput ovum.
Viabilitas
Hasil pengamatan
Sperma merpati mati setelah difiksasi di atas bunsen dan diwarnai dengan giemsa.
Teori:
Spermatozoa merpati mudah sekali terganggu oleh suasana lingkungan yang berubah.
Kekurangan vitamin E menyebabkannya tak bertenaga melakukan pembuahan.
Terlalu rendah atau tinggi suhu medium pun akan merusak pertumbuhan dan
kemampuan membuahi. Pada mammalian khususnya marmot, scrotum memilikisuhu
lebih rendah dari suhu tubuh. Perubahan Ph pun merusak sperma. Terlebih terhadap
asam. Keasaman sanggama (vagina) ternyata dapat menyebabkan kemandulan pula,
karena mematikan spermatozoa yang masuk (Adnan, 2006).
Lingkungan dengan suhu tinggi dan asam membuat sperma mati. Bagian yang
tampak di bawah mikroskop hanya berupa eritrosit. Eritrosit burung dara mempunyai
inti sel karena membantu dalam pemenuhan energi. Sel sperma Columba livia
memiliki bentuk kepala silinder memanjang. spermatozoa mati disebut
necrozoospermia (Cheng, 2002).
Sperma pada burung dara memiliki bentuk bulat dengan bagian tepi yang sedikit
memipih. Memiliki bagian tengah atau badan dan bagian ekor. Berikut penjelasannya:
Kepala sperma, berfungsi sebagai penerobos jalan menuju dan masuk ke
dalam ovum serta membawa bahan genetis yang akan diwariskan kepada
keturunannya (Yatim, Wildan. 1990). Kepala sperma bagian dalam terdapat
inti dan akrosom. Inti mengandung bahan genetis, akrosom mengandung
berbagai enzim lysis. Akrosom merupakan lisosom dari spermatozon yang
berfungsi untuk melysiskan lendir penghalang pada saluran kelamin betina
dan selaput ovum. Akrosom ini diproduksi oleh badan golgi (Yatim, Wildan.
1990).
Bagian leher, tampak tebal dan cukup panjang dikarenakan pada bagian ini
mengandung mitokondria yang letaknya berderet atau berbaris yang berfungsi
untuk menyediakan energi pergerakan sperma.
Ekor, berfungsi untuk pergerakan menuju tempat pembuahan dan untuk
mendorong kepala menerobos selaput ovum. Ekor berporoskan flagellum.
Flagellum memiliki rangka dasar disebut aksonema. Ekor mengandung
sentriol (sepasang), mitokondria dan serat fibrosa.
Pada pengamatan yang telah dilakukan tidak diamati adanya pergerakan pada sperma
burung dara. Sperma yang mati menandakan bahwa kondisi yang berada disekitar
sperma tidak mendukung daya hidup sperma. Lingkungan dengan suhu tinggi dan
asam membuat sperma mati. Setelah dilakukan pewarnaan, viabilitas sperma
berwarna merah muda yang menandakan bahwa pewarna giemsa telah diserap oleh
kromosom yang berada dibagian sperma.
sperma kadal / Lacertilia 3b 10
4 Gambar Pengamatan 2 Gambar Searching

Sumber: http://embriologi12.blogspot.co.id/
KETERANGAN:
a. Kepala spermatozoa
b. Leher spermatozoa
c. Ekor spermatozoa/ flagella

Keterangan:
1. Spermatozoa
2. Kepala sperma
3. Badan sperma
4. Ekor sperma
Pembahasan
Berdasarkan hasil percobaan, spermatozoa Lacertilia terlihat sangat jelas baik
pada masing-masing agiannya maupun keabnormalan yang dimilikinya. Bagian pada
spermatozoa Lacertilia yaitu kepala spermatozoa, leher spermatozoa, dan ekor
spermatozoa.
a. Kepala spermatozoa: berfungsi penerobos jalan masuk ke dalam ovum, dan
membawa bahan genetis. Kepala lonjong dari atas dan pyliform dari samping.
Dua pertiga bagian depan inti diselaputi akrosom, berisi enzim untuk menembus
ovum
b. Leher spermatozoa: merupakan bagian penghubung ekor dan kepala. Tempat
melekat ekor ke kepala disebut implantatio fossa.

c. Ekor spermatozoa: untuk pergerakan menuju tempat pembuahan dan untuk


mendorong kepala menerobos selaput ovum Ekor berporoskan flagellum. Ekor
mengandung sentriol (sepasang, mitokondria dan serat fibrosa). Ekor dibagi atas
leher, bagian tengah, bagian utama dan bagian ujung.

Berdasarkan hasil percobaan bentuk kepala sperma bulat agak memanjang,


ujungnya lancip/meruncing serta membengkok kearah samping, leher tampak
tebal/besar, panjang yang karena mitokondria yang berbaris yang memberikan energi
untuk pergerakan sperma. Sperma abnormal ada yang tidak memiliki ekor, berbentuk
lonjong dan lurus mungkin faktor hormonal, nutrisi, obat, akibat radiasi atau oleh
penyakit. Spermatozoa abnormal lain tampak berupa satu sel sperma dengan beberapa
ekor di bagian caudalnya. Semen dianggap normal jika jumlah abnormal hanya 30-
40%. Jika 50% infertile meski konsentrasi normal. Jadi semen yang digunakan dalam
pengamatan ini abnormal (Nalbandov, 1995).
Pada pengamatan morfologi spermatozoa, antara spermatozoa non warna
dengan pewarnaan giemsa tidak terdapat perbedaan yang signifikan, hanya saja
preparat spermatozoa dengan pewarnaan giemsa lebih mencolok dan jelas teramati di
bawah mikroskop dibandingkan dengan preparat non warna. Dengan adanya
pewarnaan giemsa, inti spermatozoa serta sitoplasma sel yag dimilikinya akan
menyerap pewarna giemsa sehingga terlihat lebih jelas saat diamati di bawha
mikroskop.
Pada spermatozoa normal Lacertilia kepala yang mengandung nucleus haploid
ditudungi oleh badan khusus, yaitu akrosom (acrosome). Menurut Campbell (2000),
akrosom mengandung enzim membantu sperma menebus sel telur terletak dibelakang
kepala, sel sperma mengandung sejumlah besar mitokondria (atau sebuah
mitokondria yang besar, pada beberapa spesies) yang menyediakan ATP untuk
pergerakan ekor, yang berupa kepala berbentuk koma tipis, berbentuk oval (seperti
pada manusia), atau berbentuk hampir bulat.
Spermatozoa yang normal terbagi atas bagian kepala, bagian tengah yang
pendek (midpiece) dan bagian ekor yang sangat panjang. Sedangkan untuk
abnormalitas spermatozoa di dalam testis karena kesalahan spermatogenesis atau
spermiogenesis yang disebabkan karena keturunan, penyakit, defisiensi makanan, dan
pengaruh-pengaruh lingkungan yang buruk. Spermatozoa yang memiliki
abnormalitas morfologi kemungkinannya tidak subur (Wahyu, 1990). Gerak
spermatozoa ada empat macam, yaitu gerak lurus cepat, gerak lurus lambat, gerak di
tempat, dan tidak bergerak. Pada motilitas sperma bergerak sebanyak 5%, hal ini
dikarenakan banyaknya spermatozoa yang berhimpitan dan sedikit yang bergerak
(Sugiyanto, 1996).
Morfologi yang terlihat pada mikroskop adalah morfologi dari spermatozoon hidup
dari apusan yang telah dibuat. Apusan ini, tergantung pada beberapa faktor, seperti:
spermiogenesis, transport sperma, pematangan, lamanya di plasma semen, fiksasi,
pewarnaan maupun kualitas mikroskop yang dipergunakan. Pewarnaan dan
pengecatan dengan kualitas tinggi sangat penting ketika melakukan morfologi sperma.
Morfologi berarti merujuk pada bentuk sperma yang telah dilakukan pengecatan.
WHO pada tahun 1988, menyatakan bahwa batasan normal adalah >30% bila kurang
dari itu disebut teratozoospermia, atau dengan strict criteria >15 %. Selain
kuantitas (% yang normal) juga perlu diperhatikan kualitas (bentukbentuk kelainan
yang ada). Adapun faktor yang mempengaruhi daripada perubahan morfologi yaitu:
fungsi testis, makin banyak kepala normal berarti fungsi testis baik (Samsiar, et al.,
2013).
sperma katak fix 40X
Gambar Pengamatan Gambar Searching
1

(Boyle, Chen, & Bamburg, 2001)


Keterangan :
1. Kepala sperma
2. Badan sperma
3. Ekor sperma

Keterangan :
1. Kepala sperma
2. Badan sperma
3. Ekor sperma
Pembahasan
Hasil pengamatan:
Terdiri atas bagian kepala, leher, dan ekor. Kepala berbenruk bulat meruncing, leher
berbentuk persegi panjang yang ukurannya lebih kecil dari kepala dan lebih besar dari
ekor. Ekor sperma berupa flagellum panjang.
Teori:
Sel sperma katak tersusun atas bagian kepala, leher, dan ekor.
- Bagian kepala
Kepala sperma katak berbentuk bulat meruncing. Kepala sperma tersusun atas
akrosom dan inti. Kepala sperma ditutup oleh tudung protoplasmic yang disebut
akrosom. Akrosom berfungsi untuk melisis lendir penghalang saluran kelamin betina
dan selaput ovum. Seperti halnya lisosom umumnya, akrosom pun diproduksi oleh
alat golgi (Toelihere, 1981). Inti mengandung bahan genetis yang akan diwariskan
kepada anak cucu.
- Bagiaan leher
Bagian leher merupakan bagian tengah sperma. Bagian ini banyak mengandung
mitokondria yang berfungsi menghasilkan energi untu pergerakan. Menurut Sukra
(2000) menyatakan bahwa, leher sperma berupa bagian dari silia yang terdiri dari
mikrotubulus dan mengandung banyak ATP untuk energi pergerakan ekor. Leher
sperma terdiri atas dua buah fibril pusat yang dikelilingi oleh 9 fibril ganda berupa
sebuah cincin berganda. Cincin tersebut berjalan mulai dari daerah implantasi sampai
ke ujung ekor.
- Bagian ekor
Menurut Prawihartono (2000: 153), sperma katak memiliki ekor/flagell yang lebih
panjang dibandingkan sperma pada mamalia, karna pada saat fertilisasi, katak
mengeluarkan sperma di dalam air, sehingga sperma dapat bergerak leluasa dalam air
untuk menemukan sel telur yang juga dilepaskan di dalam air. Ekor sperma
berporoskan flagellum. Flagellum ini memiliki rangka dasar yang disebut axonema,
tersusun atas 9 duplet dan 2 singlet mikrotubul. Ekor sperma mengandung sentriol
(sepasang), mitokondria, dan serat fibrosa (Wongso, 2007). Ekor sperma berfungsi
untuk pergerakan menuju tempat pembuahan dan untuk mendorong kepala menerobos
selaput ovum.
Sperma pada Rana sp hampir mirip sperma mamalia, bedanya dari segi morfologi.
Sperma katak bagian kepala lebih panjang jika dibandingkan dengan sperma mamalia.
Kepala sperma terdiri atas protein yang sanagat terkondensasi disebut kromatin atau
kadang-kadang dengan protein sederhana/peptida yang disebut protomin. Jika sel telur
akrosom mencapai sperma maka akrosom akan mengalami reaksi akrosom. Pada
bagian posterior memiliki bagian yang anterior. Daerah ini disebut akrosom equatorial
segment (Kimball, 1983).
Perbedaan antara sperma Rana sp. (Amphibi) dan Tikus (Mamalia) terletak pada
bagian ekornya atau flagell. Sperma Rana sp memiliki flagell lebih panjang
dibandingkan sperma pada mamalia, karna pada saat fertilisasi, katak mengeluarkan
sperma di dalam air, sehingga sperma bergerak leluasa dalam air untuk menemukan
sel telur yang juga dilepaskan di dalam air. Pada mamalia sperma di lepaskan di
dalam vagina dan bergerak menuju sel telur atau ovum. Berdasarkan hasil percobaan,
tidak ditemukan keabnormalan pada spermatozoa Rana sp. Pada motilitas sperma
bergerak sebanyak 0%, dikarenakan saat kegiatan pengamatan tidak dapat dijumpai
adanya spermatozoa yang motil atau bergerak bebas. Pada pengamatan morfologi
spermatozoa, antara spermatozoa non warna dengan pewarnaan giemsa tidak terdapat
perbedaan yang signifikan, hanya saja preparat spermatozoa dengan pewarnaan
giemsa lebih mencolok dan jelas teramati di bawah mikroskop dibandingkan dengan
preparat non warna.
Teori:
Ciri utama spermatozoa adalah motilitas atau daya geraknya. Motilitas sperma
memegang peranan penting sewaktu pertemuannya dengan ovum. Ekor sperma
mengandung semua sarana yang perlu untuk motilitas, dan ekor yang telah terpisah
dari kepala sperma dapat bergerak seperti sediakala. Gelombang-gelombang sperma
yang berenang dalam arah yang sama merupakan suatu ciri khas semen katak yang
belum diencerkan bila dilihat dibawah mikroskop. Kecepatan pergerakan sperma
bervariasi sesuai dengan kondisi medium dan suhu (Toelihere, 1981). Jumlah yang
bergerak maju ialah jumlah spermatozoa semua dikurangi jumlah mati. Dianggap
normal jika motil maju > 40 %. (Yatim, 1994).
Ketika masih dalam tubulus seminiferus spermatozoa tak bergerak. Secara berangsur
dalam ductus epididymis mengalami pengaktifan. Ketika keluar dari tubuh kecepatan
spermatozoa dalam medium cairan saluran kelamin betina sekitar 2,5 mm/menit.
(Yatim, 1996).
Hasil pengamatan:
Sperma katak mati setelah difiksasi di atas bunsen dan diwarnai dengan giemsa.
Teori:
Spermatozoa katak mudah sekali terganggu oleh suasana lingkungan yang berubah.
Terlalu rendah atau tinggi suhu medium akan merusak pertumbuhan dan kemampuan
membuahi. Perubahan Ph pun merusak sperma. Terlebih terhadap asam. Keasaman
dapat mematikan spermatozoa. (Adnan, 2006).