Anda di halaman 1dari 58

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM

MIKROPALEONTOLOGI

Disusun Oleh:
Ni Komang Shanti Devi
410014103

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI


SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NASIONAL
YOGYAKARTA
2016
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM MIKROPALEONTOLOGI

Oleh :

Nama : Ni Komang Shanti Devi

No Mahasiswa : 410014103

Diajukan sebagai syarat untuk menyelesaikan Praktikum Mikropaleontologi 2016,


JurusanTeknikGeologiSekolahTinggiTeknologiNasional Yogyakarta.

Yogyakarta, 13 Juni 2016

AsistenPraktikumMikropaleontologi

LABORATORIUM PALEONTOLOGI STRATIGRAFI

JURUSAN TEKNIK GEOLOGI

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NASIONAL

YOGYAKARTA

2016

HALAMAN PERSEMBAHAN
Dalam penyusunan laporan ini penulis telah banyak mendapatkan dukungan dan
bantuan dari orang-orang disekeliling penulis. Oleh karena itu penulis ingin
mempersembahkan laporan ini sebagai bahan ungkapan terima kasih kepada :

1. Kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah memberi kekuatan dan
kesehatan dalam menyelesaikan laporan ini.
2. Kepada orang tua yang telah memberi dukungan dan bantuan baik secara
materi maupun secara spiritual.
3. Kepada dosen pengajar & assisten praktikum Mikropaleontologi yang telah
banyak membantu melalui pengajaran-pengajaran berupa penjelasan-
penjelasannya.
4. Kepada teman-teman satu angkatan yang telah banyak membantu melalui
saran dan kritikanya serta kebersamaannya.
5. Kepada orang-orang yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu.

Yogyakarta, 13 juni 2016

Ni Komang Shanti Devi

KATA PENGANTAR
Puji syukur Saya panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa yang telah memberikan
rahmat dan petunjuknya kepada Saya, sehingga Saya dapat menyusun sebuah laporan
resmi praktikum mikropaleontologi.Saya menyusun laporan ini untuk memenuhi
tugas praktikum mikropaleontologi dan Tidak lupa juga Saya mengucapakan terima
kasih yang tulus kepada :

1 Bapak Dosen mata Kuliah DR. Hita Pandita, S.T.,M.T.

2 Assisten dosen

3 Narasumber.

Karena atas dukungan mereka saya dapat menyelesaikan laporan ini.

Semoga laporan ini bisa bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan saya
pada khususnya, saya menyadari bahwa dalam pembuatan laporan ini masih jauh dari
sempurna,untuk itu saya menerima saran dan kritik yang bersifat membangun demi
perbaikan kearah kesempurnaan. Akhir kata saya ucapkan terimakasih.

Yogyakarta, Mei 2016

Ni Komang Shanti Devi

DAFTAR ISI
LEMBARPENGESAHAN...........................................................................................

LEMBAR PERSEMBAHAN.......................................................................................

KATA PENGANTAR...................................................................................................

DAFTAR ISI.................................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN.............................................................................................

I.1 Latar Belakanng...........................................................................................

I.2 Maksud dan Tujuan.....................................................................................

I.3 Metode.........................................................................................................

BAB II DASAR TEORI...............................................................................................

II.1 Mikropaleontologi......................................................................................

II.1.1 Kegunaan Mikrofosil...............................................................................

II.1.2 Tahapan Peneletian Mikrofosil................................................................

II.2 Foraminifera...............................................................................................

II.2.1 Ciri Fisik..................................................................................................

II.2.2 Cangkang.................................................................................................

II.3 Foraminifera Plangtonik.............................................................................

II.3.1 Morfologi Foraminifera Plangtonik........................................................

II.3.2 Sistematika Foraminifera Plangtonik......................................................

II.4 Foraminifera Bentonik...............................................................................

II.4.1 Morfologi Foraminifera Bentonik...........................................................

II.5 Foraminifera Besar ....................................................................................

II.5.1 Morffologi Foraminifera Besar...............................................................


II.6 Aplikasi Mikropaleontologi........................................................................

II.6.1 Penentuan Umur......................................................................................

II.6.2 Penentuan Lungkungan Pengendapan.....................................................

BAB III PEMBAHASAN.............................................................................................

III.1 Deskripsi Morfologi Foraminifera............................................................

III.2 Deskripsi Foraminifera Plangtonik...........................................................

III.3 Deskripsi Foraminifera Bentonik..............................................................

III.4 Deskripsi Foraminifera Besar...................................................................

BAB IV PENUTUP......................................................................................................

IV.1 Kesimpulam..............................................................................................

IV.2 Daftar Pustaka...........................................................................................

IV.3 Lampiran...................................................................................................
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Foraminifera adalah organisme bersel tunggal (protista) yang mempunyai


cangkang atau test (istilah untuk cangkang internal). Foraminifera diketemukan
melimpah sebagai fosil, setidaknya dalam kurun waktu 540 juta tahun. Cangkang
foraminifera umumnya terdiri dari kamar-kamar yang tersusun sambung-
menyambung selama masa pertumbuhannya. Bahkan ada yang berbentuk paling
sederhana, yaitu berupa tabung yang terbuka atau berbentuk bola dengan satu lubang.
Cangkang foraminifera tersusun dari bahan organik, butiran pasir atau partikel-
partikel lain yang terekat menyatu oleh semen, atau kristal CaCO 3 (kalsit atau
aragonit) tergantung dari spesiesnya. Foraminifera yang telah dewasa mempunyai
ukuran berkisar dari 100 mikrometer sampai 20 sentimeter.

Penelitian tentang fosil foraminifera mempunyai beberapa penerapan yang


terus berkembang sejalan dengan perkembangan mikropaleontologi dan geologi.
Fosil foraminifera bermanfaat dalam biostratigrafi, paleoekologi, paleobiogeografi,
dan eksplorasi minyak dan gas bumi.

a. Biostratigrafi

Foraminifera memberikan data umur relatif batuan sedimen laut. Ada


beberapa alasan bahwa fosil foraminifera adalah mikrofosil yang sangat berharga
khususnya untuk menentukan umur relatif lapisan-lapisan batuan sedimen laut. Data
penelitian menunjukkan foraminifera ada di bumi sejak jaman Kambrium, lebih dari
500 juta tahun yang lalu.

Foraminifera mengalami perkembangan secara terus-menerus, dengan


demikian spesies yang berbeda diketemukan pada waktu (umur) yang berbeda-beda.
Foraminifera mempunyai populasi yang melimpah dan penyebaran horizontal yang
luas, sehingga diketemukan di semua lingkungan laut. Alasan terakhir, karena ukuran
fosil foraminifera yang kecil dan pengumpulan atau cara mendapatkannya relatif
mudah meskipun dari sumur minyak yang dalam.

b. Paleoekologi dan Paleobiogeografi

Foraminifera memberikan data tentang lingkungan masa lampau (skala


Geologi). Karena spesies foraminifera yang berbeda diketemukan di lingkungan yang
berbeda pula, seorang ahli paleontologi dapat menggunakan fosil foraminifera untuk
menentukan lingkungan masa lampau tempat foraminifera tersebut hidup. Data
foraminifera telah dimanfaatkan untuk memetakan posisi daerah tropik di masa
lampau, menentukan letak garis pantai masa lampau, dan perubahan perubahan suhu
global yang terjadi selama jaman es.

1.2. MAKSUD DAN TUJUAN


Adapun maksud dan tujuan dari Pelaksanaan praktikum Mikropaleontologi ini
agar para praktikan mengetahui berbagai jenis mikrofosil foraminifera planktonik
dan bentonik,dan para praktikan bisa mendeskripsikan berbagai genus-genus yang
beragam yang terdapat dalam foraminifera planktonik dan bentonik.
Diharapkan setelah mempelajari dan melihat secara langsung kenampakan
mikrofosil palnktonik dan bentonik para praktikan sudah bisa menguasai atau
lebih memahami berbagai family dan genus serta spesies yang ada dalam
foraminifera planktonik dan bentonik,tentunya praktikan juga bisa menggunakan
berbagai literature dari berbagai macam buku mikrofosil sebagai penunjang
dalam mempelajari mikrofosil lebih mendetail lagi .

1.3 METODE
Metode penetian yang meliputi :
1. Observasi
Observasi adalah pengamatan morfologi rincian mikrofosil dengan
mempergunakan miroskop. Setelah sampel batuan selesai direparasi, hasilnya
yang berupa residu ataupun berbentuk sayatan pada gelas objek diamati di
bawah mikroskop. Mikroskop yang dipergunakan tergantung pada jenis
preparasi dan analisis yang dilakukan. Secara umum terdapat tiga jenis
mikroskop yang dipergunakan, yaitu mikroskop binokuler, mikroskop
polarisasi dan mikroskop scanning-elektron (SEM).

2. Determinasi
Determinasi merupakan tahap akhir dari pekerjaan mikropaleontologis di
laboratorium, tetapi juga merupakan tahap awal dari pekerjaan penting
selanjutnya, yaitu sintesis. Tujuan determinasi adalah menentukan
nama genus dan spesies mikrofosil yang diamati, dengan mengobservasi
semua sifat fisik dan kenampakan optik mikrofosil tersebut.

BAB II

DASAR TEORI

2.1 MIKROPALEONTOLOGI
Mikropaleontologi adalah cabang ilmu paleontologi (paleobotani/ paleozoologi) yang
khusus membahas semua sistem organisma yang berukuran kecil, mikroskopik
sehingga pelaksanaannya harus menggunakan alat bantu mikroskop.MikrofosiL
adalah setiap fosil (biasanya kecil) yang untuk mempelajari sifat-sifat dan strukturnya
paling baik,dilakukan dibawah mikroskop (JONES, 1963). Mikrofosil dapat terdiri
dari sisa-sisa mikroorganisme uniseluler / multiseluler ataupun fragmen-fragmen dari
kegiatan mikroorganisme tersebut. Sebagai contoh yang termasuk mikrofosil adalah :

Golongan binatang : skelet radiolaria, test foraminifera, cangkang ostracoda,


conodonta, byrozoa dan sebagainya.
Golongan tumbuh-tumbuhan : test diatomea, flagellata, polen, dinoflagellata
dan sebagainya.
Dari istilah-istilah diatas, maka yang termasuk dalam mikrofosil bukan saja golongan
binatang/tumbuhan yang berukuran kecil saja, tetap saja fosil-fosil besar/fragmen-
fragmen binatang invertabrata/vertebrata yang untuk mempelajari susunan rangka
strukturnya dibutuhkan pengamatan di bawah mikroskop. Dengan demikian,
mikropaleontologi bukan hanya ilmu yang mempelajari foraminifera, ostracoda,
cocolith, dinoflagellata ataupun codonta saja, tetapi juga mempelajari fosil golongan
organisme lain asalkan pada pengamatan dibutuhkan alat bantu mikroskop.

Cara hidup mikrofosil dapat dibedakan dalam dua golongan besar, yaitu sebagai
berikut :

1. Pellagic, yaitu cara hidup organisme dengan mengambangkan diri atau


mengapung. Cara pellagic ini meliputi:
Nektonik, yaitu organisme yang hidupnya mengambang sehingga dapat
bergerak bebas atau bergerak secara aktif.
Planktonik, yaitu organisme yang hidupnya mengambangkan diri dan
bergerak bergantung pada arah arus atau bergerak secara pasif.
2. Benthonic, merupakan cara hidup organisme yang berada pada dasar
laut.Berdasarkan cara hidupnya maka benthonik dapat dibagi menjadi dua
bagian, yaitu :
a. Sessile yaitu organisme yang hidupnya di dasar laut dengan cara
menambatkan diri terhadap benda-benda disekitarnya.
b. Vagille yaitu organisme yang hidupnya di dasar laut dengan cara merayap.

2.2 Kegunaan Mikrofosil

`Dalam llmu Geologi serta Dunia IndustriMikrofosil seperti Foraminifera


dimanfaatkan untuk menemukan minyak bumi. Oleh karena itu, seorang ahli
paleontologi dapat meneliti sekeping kecil contoh batuan yang diperoleh selama
pengeboron sumur minyak dan selanjutnya menentukan umur geologi dan lingkungan
saat batuan tersebut terbentuk.

Sejak 1920-an industri perminyakan memanfaatkan jasa penelitian mikropaleontologi


dari seorang ahli mikrofosil. Kontrol stratigrafi dengan menggunakan fosil
foraminifera memberikan sumbangan yang berharga dalam mengarahkan suatu
pengeboran ke arah samping pada horison yang mengandung minyak bumi guna
meningkatkan produktifikas minyak.

Selain dapat menentukan daerah prospek minyak, mikrofosil juga digunakan dalam
menentukan kondisi geologi suatu daerah serta dapat menentukan umur batuan suatu
daerah projek. Dan dengan ilmu ini kita juga dapat menentukan sejarah geologi,
menentukan umur dari pada batuan dan lingkungan pengendapannya.

Berdasarkan kegunaannya dikenal beberapa istilah, yaitu :

1. Fosil indeks/fosil penunjuk/fosil pandu

Fosil indeks/fosil penunjuk/fosil pandu yaitu fosil yang dipergunakan sebagai


penunjuk umur relatif. Umumnya fosil ini mempuyai penyebaran vertikal
pendek dan penyebaran lateral luas, serta mudah dikenal. Contohnya:
Globorotalina Tumida penciri N18 atau Miocen akhir.

2. Fosil bathymetry/fosil kedalaman

Fosil bathymetry/fosil kedalaman yaitu fosil yang dipergunakan untuk


menentukan lingkungan kedalaman pengendapan. Umumnya yang dipakai
adalah benthos yang hidup di dasar. Contohnya: Elphidium spp penciri
lingkungan transisi.

3. Fosil horizon/fosil lapisan/fosil diagnostic

Fosil horizon/fosil lapisan/fosil diagnostic yaitu fosil yang mencirikan khas


yang terdapat pada lapisan yang bersangkutan. Contoh: Globorotalia tumida
penciri N18.

4. Fosil lingkunganFosil

Lingkungan yaitu fosil yang dapat dipergunakan sebagai penunjuk lingkungan


sedimentasi. Contohnya: Radiolaria sebagai penciri lingkungan laut dalam.

5. Fosil iklim

Fosil iklim yaitu fosil yang dapat dipergunakan sebagai petunjuk iklim pada
saat itu. Contohnya: Globigerina Pachyderma penciri iklim dingin.

2.1.2 Tahapan Peneletian Mikrofosil

Sebelum melakukan penelitian mikrofosil adapun tahap-tahap persiapan yang


harus dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Sampling
Sampling adalah proses pengambilan sampel dari lapangan. Jika untuk fosil
mikro maka yang diambil adalah contoh batuan. Batuan yang diambil
haruslah batuan yang masih dalam keadan insitu, yaitu batuan yang masih
ditempatnya.
Pengambilan sampel batuan di lapangan hendaknya dengan memperhatikan
tujuan yang akan dicapai. Untuk mendapatkan sampel yang baik diperhatikan
interval jarak tertentu terutama untuk menyusun biostratigrafi. Ada beberapa
hal yang perlu diperhatikan dalam pengambilan sampel di lapangan, yaitu

Jenis batuan
Fosil mikro pada umumnya dapat dijumpai pada batuan berfraksi
halus. Namun perlu diingat bahwa jenis-jenis fosil tertentu hanya
dapat dijumpai pada batuan-batuan tertentu. Kesalahan pengambilan
sampel berakibat pada tidak dijumpai fosil yang diinginkan. Fosil
foraminifera kecil dapat dijumpai pada batuan napal, kalsilutit,
kalkarenit halus, batupasir karbonatan halus. Fosil Foraminifera besar,
dapat dijumpai pada Kalkarenit, dan Boundstone

Metode sampling
Beberapa prosedur sampling pada berbagai tipe sekuen sedimentasi
dapat dilakukan seperti berikut ini :

Splot sampling

Spot Sampling dalah dengan interval tertentu, merupakan metoda


terbaik untuk penampang yang tebal dengan jenis litologi yang
seragam, seperti pada lapisan serpih tebal, batu gamping dan
batulanau. Pada metoda ini dapat ditambahkan dengan channel
sample (parit sampel) sepanjang 30 cm pada setiap interval 1,5
meter.

Channel Sampling(sampel paritan)

Dapat dilakukan pada penampang lintasan yang pendek (3-5 m)


pada suatu litologi yang seragam. Atau pada perselingan batuan
yang cepat, channel sample dilakukan pada setiap perubahan unit
litologi. Splot Sampling juga dilakukan pada lapisan serpih yang
tipis atau sisipan lempung pada batupasir atau batu gamping, juga
pada serpih dengan lensa tipis batugamping.

Kriteria-kriteria yang digunakan dalam pengambilan sampel


batuan, yaitu :

1. Memilih sampel batuan insitu dan bukan berasal dari talus, karena
dikhawatirkan fosilnya sudah terdisplaced atau tidak insitu.

2. Batuan yang berukuran butir halus lebih memungkinkan


mengandung fosil, karena batuan yang berbutir kasar tidak dapat
mengawetkan fosil. Batuan yang dapat mengawetkan fosil antara
lain batulempung (claystone), batuserpih (shalestone), batunapal
(marlstone), batutufa napalan (marly tuffstone), batugamping
bioklastik, batugamping dengan campuran batupasir sangat halus.

3. Batuan yang lunak akan memudahkan dalam proses pemisahan


fosil.

4. Jika endapan turbidite diambil pada endapan berbutir halus, yang


diperkirakan merupakan endapan suspensi yang juga
mencerminkan kondisi normal.
5. Jenis Sampel

Sampel permukaan adalah sampel yang diambil pada suatu


singkapan. Sampel yang baik adalah yang diketahui posisi
stratigrafinya terhadap singkapan yang lain, namun terkadang pada
pengambilan sampel yang acak baru diketahui sesudah dilakukan
analisa umur. Sampel permukaan sebaiknya diambil dengan
penggalian sedalam > 30 cm atau dicari yang masih relatif segar
(tidak lapuk).
Berikut adalah cara-cara atau tahap-tahap yang digunakan dalam
aturan sampling batuan hingga pemisahan fosil dari material asing
yang non-fosil.

Penguraian/pencucian

Langkah-langkah proses pencucian batuan adalah sebagai berikut :

Batuan sedimen ditumbuk dengan palu karet atau palu kayu hingga
berukuran dengan diameter 3-6 mm.

Larutkan dalam larutan H2O2 (hydrogen peroksida) 50% diaduk


dan dipanaskan.

Diamkan sampai butiran batuan tersebut terlepas semua (24 jam)


jika fosil masih nampak kotor dapat dilakukan dengan perendaman
menggunakan air sabun, lalu dibilas dengan air sampai bersih.

Keringkan dengan terik matahari dan fosil siap untuk diayak.

Pemisahan fosil
Cara memisahkan fosil-fosil dari kotoran adalah dengan
menggunakan jarum dari cawan tempat contoh batuan, untuk
memudahkan dalam pengambilan fosilnya perlu disediakan air
(jarum dicelupkan ke air terlebih dahulu sebelum pengambilan),
pada saat pengambilan fosil dari pengotor harus dilakukan dengan
hati-hati, karena apabila pada saat pengambilannya tidak hati-hati
maka fosil tersebut bias jatuh dan bias juga pecah, sehingga tidak
bisa untuk dilanjutkan pendeskripsiannya. Alat-alat yang
dibutuhkan dalam pemisahan fosil antara laian adalah:

1. Cawan untuk tempat contoh batuan

2. Jarum untuk mengambil batuan

3. Kuas bulu halus

4. Cawan tempat air

5. Lem untuk merekatkan fosil

6. Kertas untuk memberi nama fosil

7. Tempat fosil

8. Mikroskop

Kualitas sampel
Kualitas sampel batuan perlu diperhatikan agar fosil mikro yang
didapatkan baik untuk dideterminasi atau dianalisa. Untuk
mendapatkan fosil yang baik maka dalam pengambilan suatu contoh
batuan untuk analisis mikropaleontologi harus memenuhi kriteria
berikut ini:

Bersih

Sebelum merngambil contoh batuan yang dimaksud, kita harus


membersihkannya dari lapisan-lapisan pengotor yang
menyelimutinya. Bersihkan dengan pisau kecil dari pelapukan
ataupun akar tumbuh-tumbuhan, juga dari polen dan serbuk sari
tumbuh-tumbuhan yang hidup sekarang. Khusus untuk sampel
pada analisa Palynologi, sampel tersebut harus terlindung dari
udara terbuka karena dalam udara banyak mengadung polen dan
serbuk sari yang dapat menempel pada batuan tersebut. Suatu cara
yang cukup baik, bisa dilkukan dengan memasukkan sampel yang
sudah dibersihkan tersebut kedalam lubang metal/fiberglass yang
bersih dan bebas karat. Atau dapat juga kita mengambil contoh
batuan yang agak besar, baru kemudian sesaat akan dilkukan
preparasi kita bersihkan dan diambil bagian dalam/inti dari contoh
batuan tersebut.

Representif dan Komplit

Harus dipisahkan dengan jelas antara contoh batuan yang mewakili


suatu sisipan ataupun suatu lapisan batuan. Untuk studi yang
lengkap, ambil sekitar 200-500 gram batuan sedimen yang sudah
dibersihkan. Untuk batuan yang diduga sedikit mengandung
mikrofosil, berat contohnya lebih baik dilebihkan. Sebaliknya pada
analisa nannoplankton hanya dibutuhkan beberapa gram saja untuk
setiap sampelnya.

Pasti
Apabila sampel tersebut terkemas dengan baik dalam suatu
kemasan kedap air (plastik) yang diatasnya tertulis dengan tinta
tahan air, segala keterangan penting tentang sampel tersebut seperti
nomor sampel, lokasi (kedalaman), jenis batuan, waktu
pengambilan dan sebagainya maka hasil analisa sampel tersebut
akan pasti manfaatnya.

Jenis sampel
Secara garis besar, jenis sampel apat dibagi menjadi 2 bagian, yaitu :

Sampel permukaan (surface sample). Adalah sample yang diambil


pada permukaan tanah. Lokasi dan posisi stratigrafinya dapat
diplot dalam peta. Sampel bawah permukaan (sub surface sample).

Sampel bawah permukaan adalah sampel yang diambil dari suatu


pengeboran. Dari cara pengambilannya, sampel bawah permukaan
ini dapat dipisahkan menjadi 4 bagian, yaitu :

1. inti bor (core); seluruh bagian lapisan pada kedalaman


tertentu diambil secara utuh.

2. sampel hancuran (ditch-cutting); lapisan pada kedalaman


tertentu dihancurkan dan dipompa ke luar dan kemudian
ditampung.

3. sampel sisi bor (side-wall core); diambil dari sisi-sisi


dinding bor dari lapisan pada kedalaman tertentu.
4. Setiap pada kedalaman tertentu pengambilan sampel harus
dicatat dengan cermat dan kemungkinan adanya fosil-fosil
runtuhan (caving).

2. Preparasi Fosil
Preparasi adalah proses pemisahan fosil dari batuan dan material pengotor
lainnya. Setiap jenis fosil memerlukan metode preparasi yang. Proses ini pada
umumnya bertujuan untuk memisahkan mikrofosil yang terdapat dalam
batuan dari material-material lempung (matrik) yang menyelimutinya.
Untuk setiap jenis mikrofosil, mempunyai teknik preparasi tersendiri. Polusi,
terkontaminasi dan kesalahan dalam prosedur maupun kekeliruan pada
pemberian label, harus tetap menjadi perhatian agar mendapatkan hasil
optimum. Beberapa contoh teknik preparasi untuk foraminifera & ostracoda,
nannoplankton dan pollen dapat dilakukan dengan prosedur sebagai berikut :

Foraminifera kecil & Ostracoda

Untuk mengambil foraminifra kecil dan Ostracoda, maka perlu dilakukan


preparasi dengan metoda residu. Metoda ini biasanya dipergunakan pada
batuan sedimen klastik halus-sedang, seperti lempung, serpih, lanau,
batupasir gampingan dan sebagainya.

Caranya adalah sebagai berikut, yaitu:

1. Ambil 100 300 gram sedimen kering.

2. Apabila sedimen tersebut keras-agak keras, maka harus dipecah secara


perlahan dengan menumbuknya mempergunakan lalu besi/porselen.

3. setelah agak halus, maka sedimen tersebut dimasukkan ke dalam


mangkok dan dilarutkan dengan H2O2 (10 15%) secukupnya untuk
memisahkan mikrofosil dalam batuan tersebut dari matriks (lempung)
yang melingkupinya.
4. Biarkan selama 2-5 jam hingga tidak ada lagi reaksi yang terjadi.

5. Setelah tidak terjadi reaksi, kemudian seluruh residu tersebut dicuci


dengan air yang deras diatas saringan yang berukuran dari atas ke
bawah adalah 30-80-100 mesh.

6. Residu yang tertinggal pada saringan 80 & 100 mesh, diambil dan
kemudian dikeringkan didalam oven ( 600 C).

7. Setelah kering, residu tersebut dikemas dalam plastik residu dan diberi
label sesuai dengan nomor sampel yang dipreparasi.

8. Sampel siap dideterminasi.

Keterangan gambar:

1. Saringan dengan 30 80 100 mesh

2. Wadah pengamatan mikrofosil.

3. Jarum penguntik.

4. Slide karton (model Jerman, 40 x 25 mm )

5. Slide karton (model internasional, 75 x 25 mm

Foraminifera besar

Istilah foram besar diberikan untuk golongan foram bentos yang memiliki
ukuran relative besar, jumlah kamar relative banyak, dan struktur dalam
kompleks. Umumnya foram besar banyak dijumpai pada batuan karbonat
khususnya batugamping terumbu dan biasanya berasosiasi dengan algae
yang menghasilkan CaCO3 untuk test foram itu sendiri.
Di Indonesia foraminifera bentos besar sangat banyak ditemukan dan bisa
digunakan untuk menentukan umur relatif batuan sedimen dengan
menggunakan zonasi foraminifera bentos besar berdasarkan Adams
(1970), dengan demikian untuk menganalisanya dilakukan dengan
mempergunakan sayatan tipis. Prosedurnya adalah sebagai berikut :

Contoh batuan yang akan dianalisis disayat terlebih dahulu dengan


mesin penyayat/gurinda. Arah sayatan diusahakan memotong struktur
tubuh foraminifera besar yang ada didalamnya.

Setelah mendapatkan arah sayatan yang dimaksud, contoh tersebut


ditipiskan pada kedua sisinya.

Poleskan salah satu sisi contoh tersebut dengan mempergunakan bahan


abrasif (karbondum) dan air.

Setelah itu, tempel sisi tersebut pada objektif gelas (ukuran


internasional 43 x 30 mm) dengan mempergunakan Kanada Balsam.

Tipiskan kembali sisi lainnya hingga contoh tersebut menjadi


transparan dan biasanya ketebalan sekitar 30-50 m.

Setelah ketebalan yang dimaksud tercapai, teteskan Kanada Balsam


secukupnya dan kemudian ditutup dengan cover glass. Beri label.

Sampel siap dideterminasi

Nannoplankton

Pengamatan dilakukan di bawah mikroskop optik. Dapat dilakukan


dengan dua metode preparasi, yaitu:
Quick smear-slide/metode poles

Smear slide/metode suspense

1. Ambil satu keping contoh batuan segar sebesar 10 gr., bersihkan


dari kotoran yang menempel dengan sikat halus.

2. Cungkil bagian dalam dari sampel tersebut dan letakkan cukilan


tersebut di atas objektif gelas.

3. Beri beberapa tetes aquades untuk melarutkan batuannya dan ratakan.

4. Buang kerikil-kerikil yang kasar yang tidak larut.

5. Panaskan dengan hot plate objektif gelas tersebut hingga larutan


tersebut kering.

6. Setelah kering, bersihkan/tipiskan dengan cover glass supaya lebih


homogen dan tipis.

7. Biarkan mendingin, beri label, sampel siap dideterminasi.

Smear Slide / Metode suspensi

Membutuhkan waktu yang lama, namun hasilnya lebih baik.


1. Ambil contoh batuan dengan berat 10-25 gr. Bersihkan dan usahakan
diambil dari sampel yang segar.

2. Larutkan dalam tabung gelas dengan aquades dan sedikit Natrium


bikarbonat (Na2Co3).

3. Masukkan tabung tersebut kedalam ultrasonik vibrator 1 jam


tergantung pada kerasnya sampel.

4. Saring larutan tersebut dengan mesh 200, kemudian tampung


suspensi dan butiran halusnya kedalam bejana gelas.

5. Biarkan suspensi tersebut mengendap.

6. Teteskan 1-2 tetes pipet kecil dari larutan tersebut di atas gelas
objektif dan panaskan dengan hot plate.

7. Setelah kering teteskan kanada balsam dan dipanaskan hingga lem


tersebut matang dan tutup dengan cover glass.

8. Dinginkan dan beri label.

9. Sampel siap dideterminasi.

Polen

Untuk melepaskan pollen/spora dari mineral-mineral yang


melimgkupinya, dapat dilakukan dengan beberpa tahap preparasi yang
mebutuhkan ketelitian dan ditunjang oleh fasilitas laboratorium yang
lengkap, seperti cerobong asap, ruang asam, tabung-tabung reaksi,
sentrifugal dan sebagainya. Beberapa larutan kimia yang dibutuhkan
adalah: HCl, HF, KOH, dan HNO3
3. Observasi
Observasi adalah pengamatan morfologi rincian mikrofosil dengan
mempergunakan miroskop. Setelah sampel batuan selesai direparasi, hasilnya
yang berupa residu ataupun berbentuk sayatan pada gelas objek diamati di
bawah mikroskop. Mikroskop yang dipergunakan tergantung pada jenis
preparasi dan analisis yang dilakukan. Secara umum terdapat tiga jenis
mikroskop yang dipergunakan, yaitu mikroskop binokuler, mikroskop
polarisasi dan mikroskop scanning-elektron (SEM).

4. Determinasi
Determinasi merupakan tahap akhir dari pekerjaan mikropaleontologis di
laboratorium, tetapi juga merupakan tahap awal dari pekerjaan penting
selanjutnya, yaitu sintesis. Tujuan determinasi adalah menentukan namagenus
dan spesies mikrofosil yang diamati, dengan mengobservasi semua sifat fisik
dan kenampakan optik mikrofosil tersebut.

Deskripsi

Berdasarkan observasi yang dilakukan pada mikrofosil, baik sifat fisik


maupun kenampakan optiknya dapat direkam dalam suatu deskripsi
terinci yang bila perlu dilengkapi dengan gambar ilustrasi ataupun
fotografi. Deskripsi sangat penting karena merupakan dasar untuk
mengambil keputusan tentang penamaan mikrofosil yang bersangkutan.

Ilustrasi

Pada tahap ilustrasi, gambar dan ilustrasi yang baik harus dapat
menjelaskan berbagai sifat khas tertentu dari mikrofosil itu. Juga, setiap
gambar ilustrasi harus selalu dilengkapi dengan skala ataupun ukuran
perbesarannya.

Penamaan

Seorang sarjana Swedia Carl Von Line (17071778) yang kemudian


melatinkan namanya menjadi Carl Von Linnaeus membuat suatu hukum
yang dikenal dengan Law Of Priority, 1958 yang pada pokoknya
menyebutkan bahwa nama yang telah dipergunakan pada suatu individu
tidak dipergunakan untuk individu yang lain.

Nama kehidupan pada tingkat genus terdiri dari satu kata sedangkan
tingkat spesies terdiri dari dua kata, tingkat subspecies terdiri dari tiga
kata. Nama-nama kehidupan selalu diikuti oleh nama orang yang
menemukannya. Contoh penamaan fosil sebagai berikut:

Globorotalia menardi exilis Blow, 1998, arti dari penamaan adalah


fosil hingga subspesies diketemukan oleh Blow pada tahun 1969
Globorotalia ruber elogatus (DOrbigny), 1826, arti dari n. sp adalah
spesies baru.
Pleurotoma carinata Gray, Var Woodwardi Martin, arti dari penamaan
adalah Gray memberikan nama spesies sedangkan Martin
memberikan nama varietas.
Globorotalia acostaensis pseudopimaBlow, 1969,s arti dari n.sbsp
adalah subspecies.
Dentalium (s.str) ruteniMartin, arti dari penamaan adalah fosil
tersebut sinonim dengan dentalium rutteni yang diketemukan Martin.
Globorotalia of tumd, arti dari penamaan ini adalah penemu tidak
yakin apakah bentuk tersebut betul Globorotalia tumida tetapi dapat
dibandingkan dengan spesies ini.
Spaeroidinella aff dehiscen, arti dari penamaan tersebut adalah fosil
ini berdekatan (berfamily) dengan sphaeroidinella dehiscens. (aff =
affiliation)
Ammobaculites sp, artinya mempunyai bermacam-macam spesies
Recurvoides sp, artinya spesies (nama spesies belum dijelaskan)

2.2 FORAMINIFERA

Secara umum tubuh tersusun oleh protoplasma yang terdiri dari endoplasma dan
ectoplasma. Alat gerak berupa Pseudopodia (kaki semu) yang berfungsi juga untuk
menangkap makanan. Berdasarkan cara hidup dan Ukuran foraminifera
dikelompokkan menjadi dua, yaitu: Foraminifera Besar dan Foraminifera Kecil.

Siklus
perkembangbiakan:

Foraminifera dapat berkembangbiak dengan dua cara, yaitu seksual dan aseksual
dan terjadi saling bergantian.Hasil dari dua caraperkembangbiakan tersebut
menghasilkan dua bentuk tubuh

(dimorphisme), yaitu:

Megalosfeer dan Mikrosfeer.Megalosfeer


dicirikanproloculus besar.Mikrosfeer
proloculus kecil.
2.2.1 CiriFisik

Secara Umum tubuh tersusun oleh


protoplasma yang terdiri dari endoplasma
dan ectoplasma. Alat gerak berupa
pseudopodia (kaki semu) yang berfungsi juga untuk menangkap makanan.

2.2.2 Cangkang

Cangkang Foraminifera tersusun oleh: dinding, kamar, proloculum, septa,


sutura, dan aperture.

Dinding: lapisan terluar dari cangkang, dapat tersusun dari zat-zat


oraganik maupun material asing.
Kamar: bagian dalam foraminifera dimana protoplasma berada.
Proloculum: kamar pertama pada cangkang foraminifera
Septa: Sekat-sekat yang memisahkan antar kamar
Aperture: Lobang utama pada cangkang foraminifera yang berfungsi
sebagai mulut atau juga jalan keluarnya protoplasma.
Komposisi dinding test :

Hyalin : sifat dinding relatif jernih.


Agglutinated (arenaceous) : kenampakandinding kasar dan berbintil-
bintil dari butiran mineral atau pecahan cangkang.
Porselin : Kenampakan halus, putih, danmengkilat seperti porselin.
Dinding cangkang foraminifera berdasarkan pada resen fauna adalah:

Dinding Chitin/tektin: Bentuk dinding paling primitip. Berupa zatorganik


menyerupai zat tanduk, fleksibel dan transparan, berwarnakuning dan tidak berpori.
Contoh: Miliolidae.

Dinding aglutin/Arenaceous: dinding disusun oleh material asing. Jika penyusunnya


hanya butir-butir pasir disebut arnaceous, jika material mika dsb., disebut aglutin.

Dinding Gampingan: Terdiri dari empat tipe dinding, yaitu:

Dinding porselen, tidak berpori, berwarna opak dan putih, Contoh:


Quinqueloculina.
Dinding hyalin, bersifat bening dan transparan serta berpori. Contoh:
Globigerinidae dan Nodosaridae.
Dinding Granular, terdiri kristal-kristal kalsit yang granular, dalam sayatan
tipis tampak gelap.
Dinding yang kompleks, terdapat pada golongan Fusulinidae.
Susunan dan Bentuk Cangkang

Berdasarkan jumlah kamar, dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:

Monothalamus, hanya terdiri dari satu kamar


Polythalamus, tersusun oleh jumlah kamar yang banyak.
Monothalamus:
Berdasarkan bentuknya dibagi menjadi beberapa: bulat, botol, tabung,
kombinasi botol dan tabung, planispiral, dsb.
Polythalamus:
Berdasarkan susunan kamar terdapat 3 jenissusunan kamar, yaitu:

Uniserial, berupa satu baris susunan kamar


yangseragam,contoh:Nodosaria, danSiphonogenerina.
Biserial, berupa dua baris susunan kamar yang berselang-seling,
contoh: Bolivina dan Textularia.
Triserial, berupa tiga baris susunan kamar yang berselang-seling,
contoh: Uvigerina dan Bulimina.
Berdasarkan keseragaman susunan kamardikelompokkan menjadi:

Uniformed test: jika disusun oleh satu jenis susunan kamar, misal
uniserial saja atau biserial saja.
Biformed test: jika disusun oleh dua macamsusunan kamar yang
berbeda, misal diawalnya triserial kemudian menjadi biserial. Contoh:
Heterostomella.
Triformed test: terdiri dari tiga susunan kamar yang berbeda. Contoh:
Valvulina.
Aperture

Merupakan lobang utama pada cangkang yang biasanya terdapat pada bagian
kamar terakhir.Aperture berfungsi untuk keluarnya protoplasma dan memasukkan
makanan.Tidak semua foraminifera mempunyai aperture terutama foraminifera besar.
Aperture merupakan salah satu kunci untuk mengenali genus dari foraminifera. Dapat
dibedakan berdasarkan:

Bentuk
Posisi
Sifat
Bentuk Aperture

Bulat sederhana, terletak diujung kamar terakhir. Contoh: Lagena,


Bathysiphon, dan Cornuspira.
Memancar (radiate), berupa lobang bulat dengan kanal-kanal yang
memancar dari pusat lobang. Contoh: Nodosaria, Dentalina, Saracenaria, dan
Planularia.
Phialine, berupa lobang bulat dengan bibir dan leher. Contoh: Uvigerina,
Amphicoryna dan Marginulina.
Crescentic, berbentuk tapal kuda atau busur panah. Contoh: Nodosarella,
Pleurostomella, dan Turrilina.
Virguline/bulimine, Berbentuk seperti koma (,) yang melengkung. Contoh:
Virgulina, Bulimina, dan Cassidulina.
Slit like, berbentuk sempit memanjang. Contoh: Sphaerodinella,
Sphaerodinellopsis, Pulleniatina.
Ectosolenia, aperture yang mempunyai leher pendek. Contoh Ectosolenia dan
Oolina.
Entosolenia, aperture yang mempunyai leher dalam (internal neck). Contoh:
Fissurina, Entosolenia.
Multiple, beberapa lobang bulat, kadang berbentuk saringan (cribrate) atau
terdiri dari satu lobang dengan beberapa lobang kecil (accessory). Contoh:
Elphidium, Globigerinoides, Cribrohantkenina.
Dendritik, berbentuk seperti ranting pohon, terletak pada septal- face.
Contoh: Dendritina.
Bergigi, berbentuk lobang melengkung dimana pada bagian dalamnya
terdapat sebuah tonjolan (single tooth). Contoh: Quinqueloculina dan Pyrgo.
Berhubungan dengan umbilicus, berbentuk busur, ceruk ataupun persegi,
kadang dilengkapi dengan bibir, gigi-gigi, atau ditutupi selaput tipis (bula).
Contoh: Globigerina, Globoquadrina, dan Globigerinita.
Posisi Aperture

Aperture terminal, yaitu aperture yang terletak pada ujung kamar


yangterakhir. Contoh: Cornuspira, Nodosaria, Uvigerina.
Aperture on apertural face, yaitu aperture yang terdapat pada bagian kamar
yang terakhir. Contoh: Cribohantkenina, Dendritina.
Aperture peripheral, yaitu aperture yang memanjang pada bagian tepi (peri-
peri). Contoh: Cibicides.
Aperture umbilical, aperture yang terletak pada umbilikus (sumbu
perputaran). Sebagian besar plangtonik memiliki aperture ini.
Sifat Aperture

Aperture primer, yaitu aperture utama, biasanya terdapat di kamar akhir.


Aperture sekunder, yaitu aperture lain yang dijumpai juga di kamar
terakhir.
Aperture asesori, yaitu aperture yang merupakan hiasan saja, terletak di luar
kamar terakhir.
Hiasan atau Ornamentasi

Ornamentasi adalah struktur-struktur mikro yang menghiasi bentuk fisik dari


cangkang foraminifera. Ornamentasi ini kadang-kadang sangat khas untuk cangkang
foraminiferatertentu, sehingga dapat dipergunakan sebagai salah satu criteria dalam
klasifikasi.

Keel, selaput tipis yang mengelilingi bagian periphery. Contoh: Globorotalia,


Siphonina.
Costae, galengan vertikal yang dihubungkan oleh garis- garis sutura yang
halus. Contoh: Bulimina, Uvigerina.
Spine, duri-duri yang menonjol pada bagian tepi kamar. Contoh: Hantkenina,
Asterorotalia.
Retral processes, merupakan garis sutura yang berkelok- kelok, biasa
dijumpai pada Amphistegina.
Bridged sutures, garis-garis sutura yang terbentuk dari septa yang terputus-
putus. Biasa dijumpai pada Elphidium.
Reticulate, dinding cangkang yang terbuat dari tempelan material asing
(arenaceous).
Punctate, bagian permukaan luar cangkang yang berpori bulat dan kasar.
Smooth, permukaan cangkang yang halus tanpa hiasan.

2.3 Foraminfera Plangtonik


Jumlah spesies foraminifera plangtonik sangat kecil jika dibandingkan dengan
ribuan spesies dari golongan bentonik.Meskipun jumlah spesiesnya sangat sedikit,
golongan ini mempunyai arti penting, terutama dalam penentuan umur
batuan.Golongan ini tidak peka terhadap perubahan lingkungan, sehingga bagus
untuk korelasi stratigrafi.Sifat hidupnya adalah mengambang pada air laut, dengan
kedalaman terbaik 630 meter.Foraminifera plangtonik resen diketemukan hidup
melimpah pada daerah tropis sampai subtropis. Memiliki dua jenis perputaran yaitu
sinistral dan dektral.

Untuk dapat mengelompokkan foraminifera perlu memperhatikan beberapa ciri fisik,


seperti:

Jenis dinding
Bentuk cangkang
Aperture
Hiasan pada cangkang

Ciri fisik secara umum dari foraminifera plangtonik adalah:

Bentuk test biasanya adalah bulat.


Susunan kamar pada umumnya adalah trochospiral, beberapa planispiral.
Komposisi test berupa gampingan dan hyalin.
Ekologi

Air dingin (Zona Kutub): Globigerina pachyderma, Globorotalia dutertrei.


Zona temperat: Globigerina bulloides, Globorotalia inflata, Globorotalia
canariensis.
Zona tropis subtropis: Globigerinoides rubber, Globigerinoides
sacculiferus, Globigerinoides conglobata.
Air hangat (Zona tropis): Orbulina universa, Globigerina eggeri,
Globigerinella aequilateralis, Globorotalia menardii, Globorotalia tumida,
Pulleniatina obliqueloculata.
Bandy (1960) membuat suatu kesimpulan:

Di daerah perairan tropis golongan plangton banyak dan jenisnya sangat


berbeda.
Di daerah perairan yang beriklim sedang, populasi plangton secara relatif
adalah jarang, dengan spesies yang berbeda-beda.
Di daerah sub kutub, spesiesnya sangat sedikit, tetapi jumlah individu
sangat banyak.
Globorotalia yang besar-besar dengan kell, sangat khas bagi temperatur di
atas 17oC, sebaliknya yang tidak mempunyai kell banyak diketemukan pada
suhu 9oC.

2.3.1Morfologi Foraminifera Plangtonik

Susunan kamar

Planispiral, terputar pada satu bidang, semua kamar terlihat, pandangan dan
jumlah kamar ventral dan dorsal sama.
Trochospiral, terputar tidak pada satu bidang, tidak semua kamar terlihat,
pandangan ventral dan dorsal berbeda.
Pada pandangan ventral jumlah kamar yang terlihat adalah putaran kamar
terakhir, terlihat adanya aperture utama, terlihat adanya umbilicus.Sedangkan
pada pandangan dorsal biasanya seluruh kamar bisa terlihat, terlihat adanya
putaran, kamar awal terlihat.

Bentuk

Dibedakan menjadi dua yaitu bentuk kamar dan bentuk test.Bentuk kamar dapat
globular, rhomboid menyudut, atau kerucut menyudut. Bentuk test dapat membulat
atau ellips.
Suture

Dalam penentuan genus foraminifera, suture sangat berguna.Suture dapat tertekan


atau tidak.Pendeskripsian meliputi pandangan dorsal maupun ventral.

Jumlah Kamar dan Putaran

Jumlah kamar sangat mempengaruhi penamaan, untuk itu perlu dilakukan,


terutama pada kamar terakhir.Selain itu perlu diperhatikan pula pertambahan ukuran
kamar, apakah berangsur atau berubah mendadak. Perlu diperhatikan pula arah
putaran apakah searah jarum jam (dekstral) atau berlawanan arah jarum jam
(sinistral).

Aperture

Aperture Primer:
Interiomarginal umbilical: aperture yang terdapat pada bagian umbilical atau
pusat putaran.
Interiomarginal umbilical ekstra umbilical: aperture yang memanjang dari
umbilical sampai peri-peri (tepi).
Interiomarginal ekuatorial: aperture yang terletak di daerah ekuator, biasanya
pada putaran yang planispiral. Biasanya terlihat pada pandangan samping.
Aperture Sekunder
Adalah lubang yang lain dari aperture primer dan lebih kecil, atau lubang
tambahan dari aperture primer.
Dari 50 famili yang ada pada Foraminifera, hanya 3 famili yang hidup sebagai
Foraminifera kecil plangtonik, yaitu: famili Globigerinidae, Hantkeninidae, dan
Globorotaliidae.

2.3.2Sistematika Foraminifera Plangtonik

1. Famili Globigerinidae
Trochoid, aperture umbilikal, pada kamar terakhir cenderung planispiral, test
tersusun zat gampingan, permukaan test kasar berstruktur cancellate, sebagian besar
memiliki duri-duri halus, aperture biasanya besar. Muncul sejak Kapur Awal sampai
sekarang. Genus yang masuk dalam famili ini adalah: Globigerina, Globigerinoides,
Globigerinatella, Globigerinella, Globogerinelloides, Hastigerina, Hastigerinella,
Orbulina, Pulleniatina, Sphaeroidinella, Candeina, dan Candorbulina.

Genus: Globigerina dOrbigny 1826


Test terputar trochoid, kamar globular, komposisi gampingan, aperture pada
bagian ventral membuka ke umbilical dan berbentuk koma. Muncul: Kapur
Resen.
Genus: Globigerinoides Cushman, 1927
Secara fisik hampir menyerupai globigerina, namun memiliki aperture
sekunder/tambahan pada bagian dorsal.Muncul: Tersier Resen.
Genus: Hastigerina Thomson, 1876
Pada awal putaran trochoid, pada kamar akhir planispiral-involute, gampingan
kuat, memiliki ornamen duri yang kasar dan pipih serta memusat pada
kamarnya.Muncul: Miosen Resen.
Genus: Orbulina dOrbigny, 1839
Test pada awalnya menyerupai Globigerina, namun dalam perkembangan
kamar terakhir menutupi hampir semua kamar-kamar sebelumnya. Tidak
mempunyai aperture yang nyata.Muncul: Miosen Resen.
Genus: Pulleniatina, Cushman, 1927
Test pada awalnya menyerupai Globigerina, dengan dinding cancellate serta
spine halus, involute, aperture lonjong busur pada dasar kamar Muncul:
Tersier Akhir Resen.
Genus: Sphaeroidinella Cushman, 1927
Test pada awalnya menyerupai Globigerina,dinding cancellate kasar dengan
spine halus. Dua atau Tiga kamar terakhir terpisahkan dengan jelas.Muncul:
Miosen Resen.
2. Famili Globorotalidae
Trochoid rendah, bentuk test ellips bikonvek planokonvek, dengan
bentuk kamar beberapabulat sebagian rhomboid.Aperture umbilical ekstra
umbilikal (dari umbilikal sampai peri-peri),berbentukbusur.Test
tersusunzatgampingan, permukaan test halus, sebagianbesar memiliki duri-
duri halus. Jumlah kamarakhir (pandangan ventral) lebih dari 4.
Susunan Kamar

Planispiral : terputar pada satu bidang, semua kamar terlihat, pandangan dan
jumlah kamar ventral dan dorsal sama.
Trochospiral : terputar tidak pada satu bidang, tidak semua kamar terlihat.
Pandangan ventral dan dorsal berbeda.
Muncul sejak Kapur Awal sampai sekarang.Merupakan perkembangan dari
Globotruncana.Genus yang masuk dalam famili ini adalah:Globorotalia,
Globotruncana, Globorotalites, Globorotalia, Globotruncana, Globorotalites,
Rotalipora, Cribrogloborotalia, Cycloloculina, dan Sherbonina.
Hiasan atau Ornamentasi

Keel, selaput tipis yang mengelilingi bagian periphery. Contoh: Globorotalia,


Siphonina.
Costae, galengan vertikal yang dihubungkan oleh garis- garis sutura yang halus.
Contoh: Bulimina, Uvigerina.
Spine, duri-duri yang menonjol pada bagian tepi kamar. Contoh: Hantkenina,
Asterorotalia.
Retral processes, merupakan garis sutura yang berkelok- kelok, biasa dijumpai
pada Amphistegina.
Bridged sutures, garis-garis sutura yang terbentuk dari septa yang terputus-
putus. Biasa dijumpai pada Elphidium.
Reticulate, dinding cangkang yang terbuat dari tempelan material asing
(arenaceous).
Punctate, bagian permukaan luar cangkang yang berpori bulat dan kasar.
Smooth, permukaan cangkang yang halus tanpa hiasan.

3. Famili Hantkeninidae
Test pada awalnya trochoid atau planispiral, pada tahapan akhir planispiral
involute. Dinding cangkang tersusun oleh gampingan, dengan permukaan
kasar.Aperture pada bagian bawah kamar terakhir berbentuk busur. Hiasan berupa
tanduk berukuran sama atau lebih besar dari kamarnya.

Muncul sejak Kapur Awal sampai Oligosen.Berdasarkan


bentukperputarankamarnyamemiliki kedekatan dengan Globigerinella.Genus yang
masuk dalam famili ini adalah:Shackoina, Hantkenina, dan Cribrohantkenina.

2.4 FORAMINFERA BENTHONIK

Jumlah spesies foraminfera bentonik sangat besar.Golongan ini mempunyai arti


penting, terutama dalam penentuan lingkungan pengendapan.Golongan ini sangat
peka terhadap perubahan lingkungan, sehingga bagus untuk analisa lingkungan
pengendapan.

Secara umum cukup mudah untuk membedakan antara foraminifera bentonik


dengan foraminifera plangtonik. Foraminifera bentonik memiliki cirri umum sebagai
berikut:

Test/cangkang berbentuk bulat, beberapa agak prismatik.


Susunan kamar sangat bervariasi.
Komposisi test gamping hyaline, arenaceous, silikaan.
Hidup di laut pada dasar substratum.
2.4.1Morfologi Foram Benthonik

Susunan Kamar :

Berdasarkan jumlah kamar, dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:

Monothalamus, hanya terdiri dari satu kamar


Polythalamus, tersusun oleh jumlah kamar yang banyak.
Monothalamus :

Tersusun oleh satu kamar, dapat dibedakan atas bentuknya:

Bulat: contoh Saccamina


Botol: Lagena
Tabung: Bathysiphon
Terputar planispiral: Ammodiscus

Polythalamus :

Berdasarkan susunan kamar terdapat 3 jenissusunan kamar, yaitu:

Uniserial, berupa satu baris susunan kamar yangseragam,contoh:Nodosaria,


danSiphonogenerina.
.Biserial, berupa dua baris susunan kamar yang berselang-seling, contoh:
Bolivina dan Textularia.
Triserial, berupa tiga baris susunan kamar yang berselang-seling, contoh:
Uvigerina dan Bulimina.

Berdasarkan keseragaman susunan kamardikelompokkan menjadi:

Uniformed test: jika disusun oleh satu jenis susunan kamar, misal uniserial
saja atau biserial saja.
Biformed test: jika disusun oleh dua macamsusunan kamar yang berbeda,
misal diawalnya triserial kemudian menjadi biserial. Contoh: Heterostomella.
Triformed test: terdiri dari tiga susunan kamar yang berbeda. Contoh:
Valvulina.
Bentuk :

Dibedakan menjadi dua yaitu bentuk kamar dan bentuk test.Bentuk kamar dapat
globular, rhomboid menyudut, atau kerucut menyudut. Bentuk test dapat membulat
atau ellips.

(Gambar )

2.5 FORAMINIFERA BESAR

Istilah foram besar diberikan untuk golongan foram bentos yang memiliki
ukuran relative besar, jumlah kamar relative banyak, dan struktur dalam kompleks.
Umumnya foram besar banyak dijumpai pada batuan karbonat khususnya
batugamping terumbu dan biasanya berasosiasi dengan algae yang menghasilkan
CaCO3 untuk test foram itu sendiri.

Di Indonesia foraminifera bentos besar sangat banyak ditemukan dan bisa digunakan
untuk menentukan umur relatif batuan sedimen dengan menggunakan zonasi
foraminifera bentos besar berdasarkan Adams (1970).

Dalam perkembangannya di Indonesia banyak dikembangkan oleh Vlerk &


Umbgrove (1972) yaitu mengklasifikasi umur foram berdasar klasifikasi huruf.
Klasifikasi ini sangat popular karena menggunakan huruf-huruf (Ta-Tb),
klasifikasinya sangat terbuka, cukup didasarkan pada genus-genus foraminifera besar
saja. Selain itu juga ada klasifikasi huruf oleh Adam (1970,1984).

2.5.1 Klasifikasi Foraminifera Besar

Ordo foraminifera ini memiliki bentuk yang lebih besar dibandingkan dengan
yang lainnya. Sebagian besar hidup didasar laut degan kaki semu dan type
Letuculose, juga ada yang hidup di air tawar, seperti family Allogromidae. Memiliki
satu kamar atau lebih yang dipisahkan oleh sekat atau septa yang disebut suture .
aperture terletak pada permukaan septum kamar terakhir. Hiasan pada permukaan test
ikut menentukan perbedaan tiaptiap jenis. Foraminifera besar benthonik baik
digunakan untuk penentu umur. Pengamatan dilakukan degan mengunakan sayatan
tipis vertical, horizontal, atau, miring di bawah miroskop. Pemberian sitematik
foraminifera benthonik besar yang umum ( A. Chusman 1927).:

Famili Discocyclidae
Genus Aktinocyclina : kenampakan luar bulat, tidak berbentuk bintang, di
jumpai rusak rusak yang memancar.
Genus Asterocyclina : kenampakan luar seperti bintang polygonal, dijumpai
rusak rusak radier.
Genus Discocyclina : kenampakam luar merupakan lensa, kadang bengkok
menyerupai lensa, kadang bengkok menyerupai pelana, kelilingnya bulat
degan/ tanpa tonggak tonggak.

Famili Camerinidae
Genus Asslina : kenampakan luar pipih (lentukuler) discoidal, test besar
ukuran 2 50 mm, di jumpai tonggak tonggak.
Genus Cycloclypeus : kenampakan luar seperti lensa dan kamar sekunder
yang siku siku terlihat dari luar.
Genus Nummulites : kenampakan luar seperti lensa, terputar secara
planispiral, hanya putaran terluar yang terlihat, pada umumnya licin.

Famili Alveolinelliadae
Genus Alveolina : kenampakan luar berbentuk telur/slllips (fusiform), panjang
kurang lebih 1 cm.
Genus Alveolinella : bentuk sama degan Alveolina panjang sumbunya 0,5
1,5 cm serta ada suatu kanal (pre septa). Celah celahnya tersusun menjadi 3
baris dan tersusun bergantian, tetapi sambung menyambung.
Famili Miogpsinidae
Genus Miogypsian : kenampakan luar terbentuk segitiga, lonjong hingga
bulat, kadang seperti bintang/pligonal, permukaan papilliate, sering di jumpai
tongkak.
Genus Miogypsinoides ; kenampakan luar terbentuk segitiga, lonjong dan
kulit luarnya datar.

Famili Calcarinidae
Genus Biplanispira : kenampakan luar pipih hingga seperti lensa, discoidal,
hampir bilateral simetri dengan/tanpa tonggak.
Genus Pellatispira : kenampakan luar seperti lensa (lentikuler) dan bulat
sering dijumpai tonggak.
Famili Orbitoididae
Genus Lepidocyclina : kenampakan seperti lensa (lentiluler) pipih cembung,
discoidal, permukaan test papilate, halus reticulate, pinggirnya bisa bulat,
kadang seperti batang atau polygonal.

2.5.2Kegunaan Foraminifera Bentos Besar

Kegunaan foraminifera bentos besar dalam geologi sangat banyak, antara lain
seperti :

Menentukan umur relative batuan sedimen menggunakan biozonasi


foraminifera bentos besar.
Menentukan lingkungan pengendapan batuan sedimen.

2.5 APLIKASI MIKROPALENTOLOGI

Mikrofosil khususnya foraminifera memiliki nilai kegunaan dibidang geologi


yang sangat tinggi. Hal ini disebabkan oleh sifat keterdapatannya yang dapat
dijumpai dihampir semua batuan sedimen yang mengandung karbonat. Penggunaan
data yang sering digunakan adalah untuk penentuan umur termasuk penyusunan
biostratigrafi dan penentuan lingkungan pengendapan.

II.5.1 PenentuanUmur

Penentuan umur batuan foraminifera dan mikrofosil yang lain memiliki beberapa
keuntungan, yaitu :

Mudan, murah dan cepat.


Didukung oleh publikasi yang banyak.
Banyak digunakan diberbagai eksplorasi minyak bumi.
Keterdapatannya pada hamper semua batuan sedimen yang mengandung
unsur karbonat.
Biozonasi
Terdapat beberapa satuan biostratigrafi seperti : Zona kumpulan
(Assemblage), Zona Interval, dan Zona Kelimpahan (Abudance/Acme).

Zona kumpulan, yaitu penentuan biozonasi yang didasarkan atas


sekumpulan beberapa takson yang muncul bersamaan (Gambar 6.1). pada
penarikan ini tidak memperlihatkan umur dari masing-masing takson.
Kegunaan zona kumpulan ini untuk penentuan lingkungan pengendapan.
Penamaan zona diambil dari satu atau lebih takson yang menjadi penciri
utamanya. Misal : zona Amphistegina Lesonii.
Zona Interval, yaitu penentuan biozonasi berdasarkan kisaran stratigrafi
dari takson-takson tertentu. Penarikan batas dilakukan dengan melihat
kemunculan akhir dari satu atau lebih takson yang ada. Pada batas bawah
ditarik berdasarkan kemunculan awal dari suatu takson yang muncul paling
akhir, sedangkan batas atas ditarik berdasarkan kemunculan akhir dari
suatu takson yang paling dahulu punah (Gambar 6.1).
Zona kelimpahan, yaitu penentuan biozonasi yang didasarkan atas
perkembangan jumlah maksimum dari suatu takson yang terdapat pada
lapisan batuan. Zona kelimpahan dapat digunakan untuk petunjuk
kronostratigrafi dari tubuh lapisan batuan (Gambar 6.1).
Zona Selang (Barren Interval),yaitu penentuan biozonasi yang
didasarkan pada selang antara dua biohorison. Batas bawah atau atas suatu
Zona Selang ditentukan oleh horison oemunculan awal atau akhir takson-
takson penciri (Gambar 6.1).
Beberapa biozonasi yang sudah disusun di Indonesia, yaitu :

Biozonasi Forminifera Besar


Biozonasi ini mempunyai kelemahan berupa keberlakuannya yang bersifat
local. Hal ini disebabkan distribusi foraminifera besar yang tidak
cosmopolitan. Biozonasi ini membagi Zaman Tersier dalam beberapa zona
yang dinotasikan dalam huruf Ta (Tersier Awal) sampai Th (Tersier Akhir).
Biozonasi Foraminifera kecil Plangtonik
Banyak digunakan, karena sifat foraminifera kecil plangtonik yang
cosmopolitan. Dapat untuk korelasi Regional jarak jauh. Seluruh biozonasi
foraminifera plangtonik menggunakan datum pemunculan awal/akhir.

2.5.2 Penentuan Lingkungan Pengendapan

Salah satu kegunaan dari mikrofosil khususnya foraminifera adalah untuk


penentuan lingkungan pengendapan purba. Yang dimaksud dengan lingkungan
pengendapan adalah tempat dimana batuan sedimen tersebut terendapkan, dapat
diketahui dari aspek fisik, kimiawi dan biologis. Aspek biologis inilah yang disebut
dengan fosil.
Untuk dapat mengetahui lingkungan pengendapannya dapat menggunakan
fosil foraminifera kecil benthik. Beberapa fosil penciri lingkungan pengendapan
adalah :

Habitat air payau: mengandung foraminifera arenaceous seperti:


Ammotium,Trochammina,dan Miliammina.
Habitat Laguna: fauna air payau masih dijumpai ditambah dengan
Ammonia dan Elphidium.
Habitat Pantai Terbuka: Lingkungan dengan energy yang kuat.
Didominasi oleh fauna berukuran besar seperti: Elphidium spp., Ammonia
becarii dan Amphistegina.
Zona Neritik Dalam (0-30m): Elphidium, Eggerella advena dan
textularia.
Zona Neritik Tengah (30-100m): Eponides, Cibicides, Robulus, dan
Cassidulina.
Zona Neritik Luar (100-200m): Bolivina, Marginulina, Siphonina dan
Uvigerina.
Zona Bathyal Atas (200-500m): Uvigerina spp., Bulimina, Valvulineria,
Bolivina dan Gyroidina soldanii.
Zona Bathyal Tengah (500-1000m): Cyclammina, Chilostomella,
Cibicides, wuellerstorfi dan Cibicides rugosus.
Zona Bathyal Bawah (1000-2000m): Melonis barleeanus, Uvigerina
hispida, Uvigerina peregrine dan Oridorsalis umbonatus.
Zona Abyssal (2000-5000m): Melonis pompiloides, Uvigerina
ampulacea, Bulimina rostrata, Cibicides mexicanus, dan Eponides
tumidulus.
BAB III
PEMBAHASAN

DESKRIPSI FOSIL HASIL PRAKTIKUM DI LABORATORIUM

DESKRIPSI MORFOLOGI FORAMINIFERA

Pandangan Ventral Pandangan Dorsal PandanganSamping

KeteranganGambar :
Filum : Protozoa 1. arperture
Klas : Sarcodina
Ordo : Foraminifera
Superfamili: Astrohizoidea
Famili : Rhabdamminidae
Genus : Bathysiphon
Spesies : Bathysiphon sp.
Deskripsi :
a. Dinding : Gampingan hyaline
b. BentukKamar : Tabung
c. SusunanKamar : Monothalamus
d. JumlahKamar : 1 kamar dari pandang samping
e. Aperture : Sederhana
f. Hiasan : Smooth
g. Jenis : Foraminifera Bentonik

DESKRIPSI MORFOLOGI FORAMINIFERA

Pandangan Ventral Pandangan Dorsal PandanganSamping

KeteranganGambar :

Filum : Protozoa 1. arperture


Klas : Sarcodina 2. kamar
Ordo : Foraminifera 3. costae
Superfamili: Nodosariacea
Famili : Nodosariidae
Genus : Nodosaria
Spesies : Nodosariasp
Deskripsi :
a. Dinding : Gamping hyalin
b. BentukKamar : Bulat
c. SusunanKamar : Polythalamus-Uniserial
d. JumlahKamar : 4 kamar dari samping
e. Aperture : Sederhana
f. Hiasan : Costae
g. Jenis : Foraminifera Bentonik

DESKRIPSI MORFOLOGI FORAMINIFERA

Pandangan Ventral Pandangan Dorsal PandanganSamping

KeteranganGambar :

Filum : Protozoa 1. arperture


Klas : Sarcodina 2. kamar
Ordo : Foraminifera
Superfamili: Globothalamea
Famili : Rotaliida
Genus : Bolivina
Spesies : Bolivina sp.

Deskripsi :
a. Dinding : Gamping hyalin
b. BentukKamar : Elips
c. SusunanKamar : Polythalamus
d. JumlahKamar : 16 kamar dari samping
e. Aperture : Sederhana
f. Hiasan : Smooth
g. Jenis : Foraminifera Bentonik

DESKRIPSI FORAMINIFERA BESAR

Sayatan vertical

KeteranganGambar :

Filum : Protozoa 1. kamar


Klas : Sarcodina 2. dinding
Ordo : Foraminifera 3. sutura
Famili : Discocyclinidae 4. Kamar lateral
Genus : Discocylina
Spesies : Discocylinasp
Deskripsi :
Jenis sayatan : axial
Kamar : lateral

Bentuk test : Diskoid

Jumlah putaran : Banyak

Arah putaran :-

DESKRIPSI FORAMINIFERA BESAR

Sayatan Horizontal

KeteranganGambar :

Filum : Protozoa 1. Kamar embrional


Klas : Sarcodina 2. Kamar equatorial
Ordo : Foraminifera
Famili : Discocyclinidae
Genus : Discocylina
Spesies : Discocylinasp
Deskripsi :
Jenis sayatan : Ekutorial

Kamar : Ekutorial

Bentuk test : Diskoid


Jumlah putaran : 14

Arah putaran : sinistral

DESKRIPSI FORAMINIFERA BESAR

Sayatan Horizontal

KeteranganGambar :

Filum : Protozoa 1. Kamar embrional


Klas : Sarcodina 2. Kamar equatorial
Ordo : Foraminifera
Famili : Camerinidae
Genus : Nummulites
Spesies : numulitessp

Deskripsi :
Jenis sayatan : ekuatorial

Jenis Kamar : embrional , ekuatorial


Bentuk test : Fusiform

Jumlah putaran :7

Arah putaran : dexstral

BAB IV

KESIMPULAN

Setelah melakukan pengamatan secara mikroskopis dari berbagai macam


mikrofosil serta kenampakannya dalam mikroskop maka praktikan dapat
menyimpulkan bahwa Foraminifera dari kelompok planktonik memiliki bentuk yang
tidak terlalu bervariasi cenderung tersusun oleh beberapa kamar saja sehingga dalam
membedakan foraminifera planktonik masih lebih mudah di banding bentonik.
Susunan kamar dari plankton juga tidak terlalu rumit di banding dengan susunan
kamar benthos.
Dalam kehidupannya organisme ini ada yang hidup di dasar laut dengan cara
menambat di berbagai material yang ada dalam laut serta ada juga yang bergerak
secara pasif.
Dari kehidupan organism ini kitabisa mengetahui bahwa planktonik yang hidup serta
bergerak secara pasif ukuran serta bentuk tubuhnya tidak terlalu beragam,berbeda
dengan bentos yang hidup secara menambat di dasar secara harfiah memperoleh
makanan yang cukup dan dapat bergerak dengan mudah sehingga ukuran tubuhnya
lebih bervariasi dan tersusun ole berbagai bentuk kamar dan kedudukan aperture yang
berbeda antara satu genus dangan genus yang lain.
Susunan kamar foraminifera plankton dominan membulat hanya di bedakan dari
pandangan ventral serta dorsal dan samping,sedangkan dalam bentos susunan kamar
ada yang membulat ada pula yang keliatan memanjang.
Bentuk test dari foraminifera juga sangat beragam ada yang berukuran
tabular,irregular,zig-zag,conical,spherical dan masih banyak lagi.
Septa dan suture dalam foraminifera juga sangat beragam bentuknya terutama yang
ditemui pada foraminifera bentonik,aperture hampir sangat umum di jumpai pada
semua foraminifera serta menjadi hal yang tidak lepas dari susunan organisme
mikrofosil.

DAFTAR PUSTAKA

Pandita Hita, 2010.Buku Panduan Praktikum Mikropaleontologi.Jurusan


Teknik Geologi Sekolah Tinggi Teknologi Nasional.Yogyakarta.
www.alfonsussimalango.blogspot. /mikropaleontologi-
biostratigafi.com
www.scribd.com
Belajar Foraminifera dalam Penentuan umur Geologi
Adisaputra, M.K. 1992. Penentuan Umur Berdasarkan Biometri dan
Lingkungan Penegndapan Foraminifera Besar Tersier-Kuarter. Pusat
Pengembangan Geologi Kelautan.
www.foraminifera.ac.uk
LAMPIRAN