Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Banyak orang yang sangat sulit untuk memahami konsep manajemen secara teoritis,

sehingga merasa tidak memerlukan bahkan mengabaikannya. Padahal, tanpa disadari,

mereka sebenarnya adalah pelaku (manajer) yang menjalankan proses manajemen dalam

kesehariannya, bahkan menjadi pelaku utama. Contohnya saja, banyaknya pelaku bisnis

jasa pelaksana kontruksi di Indonesia tidak memiliki latar belakang pengetahuan di bidang

manajemen. Sebagian mereka memulai usaha bisnis jasa pelaksana kontruksi karena

alasan kesempatan dan peluang usaha semata. Jadi wajar saja bila banyak di antara mereka

bukanlah manajer professional.


Padahal, pengetahuan di bidang manajemen sungguh sangat diperlukan untuk

meningkatkan performa usaha menuju usaha yang memiliki keunggulan bersaing

(competitive advantage) dan mampu bertahan (survive) dalam menghadapi setiap

perubahan iklim usaha. Jika pelaku bisnis mampu menjalankan usaha dan dapat mencapai

tujuan dan target usaha tanpa latar belakang teori manajemen, itu lebih disebabkan factor

keberuntungan. Sebagaimana ditulis oleh Harold Koontz (1988:9): Executives who

attempt to manage without such management science must trust to luck, intuition, or what

they did in the past.


Melakukan bisnis tanpa pengetahuan manajemen sama artinya dengan mencoba

melaksanakan manajemen tanpa teori dan tanpa pengetahuan yang dibentuk oleh teori itu,

sehingga hasilnya akan sangat bergantung pada nasib, dan hanya mengandalkan naluri,

atau dengan merujuk kepada apa-apa yang telah mereka lakukan di masa lampau. Praktik

bisnis seperti itu cenderung bersifat coba-coba. Padahal, semakin besar suatu proyek,

berarti semakin banyak pula masalah yang harus dihadapi. Apabila tidak ditangani dengan

benar , berbagai masalah tersebut akan mengakibatkan dampak berupa kelambatan


1
penyelesaian proyek, penyimpangan mutu hasil, pembiayaan membengkak, pemborosan

sumber daya, persaingan tak sehat di antara para pelaksana, serta kegagalan untuk

mencapai tujuan dan sasaran yang diinginkan.


Dengan bermula dan bertitik tolak dari permasalah tersebut sebagai masah utama

yang hatus dihadapi pada setiap proyek kontruksi. Maka penulis akan membahas masalah

ini agar pelaksanaan konstruksi dapat berhasil. Dengan memperhatikan tujuan, sasaran dan

teknik-teknik pelaksanaan setiap pekerjaan yang dinyatakan secara jelas dan terinci

melalui sistem manajemen konstruksi.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas rumusan masalah yang dimunculkan ialah sebagai

berikut :
1. Apa pengertian dari manajemen konstruksi ?
2. Apa saja yang perlu di manage dalam pelaksaan sebuah proyek ?
3. Bagaimana sistem manajemen konstruksi agar sehingga sebuah proyek dapat

dikatakan berhasil ?
4. Mengapa manajemen konstruksi itu penting bagi pelaku usaha jasa kontruksi

dalam mengemban sebuah proyek ?


1.3 Tujuan
Maksud dan tujuan yang ingin dicapai oleh penyusun dalam pembuatan makalah ini

adalah :
1. Mengentahui pengertian manajemen konstruksi.
2. Memahami hal-hal yang perlu di manage dalam pelaksaan sebuah proyek .
3. Menjelaskan sistem manajemen konstruksi sehingga proyek tersebut berhasil.
4. Mengetahui pentingnya manajemen konstruksi bagi pelaku usaha jasa

kontruksi dalam menjalankan sebuah proyek.

1.4 Manfaat Penulisan


Manfaat penulisan makalah ini, ialah :
1. Dapat menjelaskan sistem manajemen konstruksi.
2. Dapat menjelaskan pentingnya manajemen konstuksi bagi pelaku usaha jasa

konstruksi.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Hasil Penelitian Relevan


Beberapa data yang diperoleh menunjukkan bahwa manajemen konstruksi itu

sangat penting bagi berjalannya sebuah proyek seperti yang dikemukakan oleh

beberapa ahli diantaranya :

Kritik-kritik dari pengamat ilmu manajemen serta praktisi di lapangan


yang berurusan dengan penyelenggaraan proyek berpendapat bahwa
penggunanaan manajemen klasik yang telah berhasil mengelola kegiatan
operasional rutin dengan lingkungan yang relative stabil dirasakan kurang
mampu atau tidak cukup efektif untuk mengelola suatu kegiatan proyek yang
penuh dengan dinamika dan perubahan cepat sehingga hasilnya pun tidak akan
optimal (Imam Soeharto, 1999:23-24).

3
Perpaduan antara konsep manajemen klasik (fungsional) dengan konsep

pendekatan contingency (situasional) menghasilkan sebuah konsep pengolahan yang

dianggap dapat mengakomodasi kepentingan pengolaan kegiatan yang bersifat

proyek. Dari sini lahirlah bentuk pengelolaan kegiatan yang lebih dinamis dan

bercorak proyek, sehingga disebut dengan manajemen proyek. Project Management

Institute (PMI) di Amerika membuat definisi berikut : Manajemen proyek adalah

ilmu dan seni yang berkaitan dengan memimpin dan mengkoordinasi sumber daya

yang terdiri atas manusia dan material dengan menggunakan teknik pengelolaan

modern untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan, yaitu lingkup, mutu, jadwal,

dan biaya serta memenuhi keinginan para pemangku kepentingan (stakeholder).

Sedangkan menurut H. Kerzner (1982), sebagaimana dikutip Imam


Soeharto (1999:28), manajemen proyek adalah merencanakan, mengorganisasi,
memimpin, dan mengendalikan sumber daya perusahaan untuk mencapai
sasaran jangka pendek yang telah ditentukan. Lebih jauh, manajemen proyek
menggunakan pendekatan system dan hierarki (arus kegiatan) vertical dan
horizontal.

2.2 Landasan Teori


Memulai praktik manajemen secara konseptual dengan menetapkan terlebih

dahulu tujuan usaha yang akan dicapai (goal setting). Kemudian rencanakan

bagaimana cara mencapai tujuan tersebut, siapa saja yang akan melakukan dan

dalam kapasitas sebagai apa, dengan (sumber daya) apa tujuan itu akan dicapai, dari

mana saja sumber daya itu diperoleh, siapa yang melakukan pengendalian agar apa

yang dilakukan sesuai dengan apa yang telah direncanakan, dan setelah tujuan

dicapai untuk apa hasilnya, dan apa sasaran berikutnya. Pertanyaan-pertanyaan itu

memerlukan jawaban yang tidak bias berdiri sendiri, karena merupakan satu

rangkaian aksi yang saling terkait. Jika semua pertanyaan sederhana itu dapat

4
terjawab dengan cara jelas, normative dan terukur, maka sesungguhnya itu adalah

sebuah rangkaian penugasan yang sarat dengan fungsi.

Mengurutkan fungsi-fungsi tersebut secara sistematis. Dimulai dari fungsi

merencanakan (planning), membuat program (programming), mengorganisasi

(organizing), menempatkan personel (staffing), memimpin (leading), memerintah

(commanding), mengarahkan (directing), mengumpulkan sumber daya (assembling

resources), mengkoordinasikan (coordinating), melaksanakan (actuating),

memotivasi (motivating), menyusun pembiayaan (budgeting), membuat pelaporan

(reporting), mengendalikan (supervising), mengawasi (controlling), dan fungsi-

fungsi yang diurut dalam berbagai format dan hierarki itulah yang menjadi landasan

berbagai teori manajemen yang dibuat oleh para pakar tak ubahnya sebuah proses

untuk mencapai suatu tujuan tertentu dengan melibatkan rangkaian fungsi-fungsi

tersebut.

Dari sinilah lahir pemikiran-pemikiran manajemen dalam berbagai definisi.


Harold Koontz (1982), misalnya, membuat definisi manajemen berbasis
fungsi-fungsi; manajemen adalah proses merencanakan (planning),
mengorganisasi (organizing), menyusun personel (staffing), memimpin
(leading) dan mengendalikan (controlling) kegiatan anggota serta sumber daya
lain untuk mencapai sasaran organisasi (perusahaan) yang telah ditentukan.

Bukankah dalam definisinya Harold Koontz telah merangkai beberapa fungsi

seperti yang dijelaskan tersebut. Berdasarkan fungsi-fungsi tersebut Harold Koontz

(1998) menyebutkan lima fungsi dasar para manajer, yaitu : merencanakan

(planning), mengorganisasi (organizing), menyusun personel (staffing), memimpin

(leading) dan mengendalikan (controlling). Manajer bertanggung jawab untuk

mengoordinasikan segala sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan yang telah

ditetapkan. Karena sifat tugasnya adalah koordinatif, maka seorang manajer harus

memiliki kemampuan untuk berkomunikasi, baik di kalangan internal maupun


5
eksternal perusahaan. Manajer harus pula memiliki kemampuan untuk member

respon cepat dan tepat terhadap sebuah masalah. Termasuk melakukan analisis dan

kemudian membuat keputusan untuk memecahkan persoalan tersebut.

Pemikiran manajemen kemudian berevolusi sehingga melahirkan berbagai

pemikir mulai dari Henry Fayol (1841-1925) yang disebut juga sebagai Father of

Modern Operational Management Theory, menyusul kemudian Frederick Winslow

Taylor (1856-1912) disebut sebagai Father of Scientific Management, Henry L.

Gantt (1861-1919), George Elton Mayo (1880-1949), Chester I. Barnard (1886-

1961) penulis The Functions of the Executive, buku yang paling berpengaruh

dalam keseluruhan bidang manajemen. Sementara di Indonesia, pemikir manajemen

fungsional seperti Oey Liang Lee, Sondang P. Siagian dan masih banyak yang lain.

2.3 Metode Analitis


Beberapa pembahasan dan data yang telah terangkum atau tercantum disini

berasal beberapa referensi buku mengenai Manajemen Konstruksi .

6
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Pengertian Manajemen Konstruksi


Manejemen memiliki sebuah kata kunci tujuan, yaitu sesuatu yang harus

dapat dicapai dalam kualitas, kuantitas, dan jangka waktu tertentu, melalui

pemanfaatan, pengelolaan dan menggerakkan sumber daya. Ada banyak tujuan

manusia yang ingin dicapai di dunia ini. Tujuan-tujuan yang bersifat sederhana

mungkin bias diraih secara individual. Akan tetapi, jika tujuan-tujuan itu sangat

kompleks, dalam kapasitas besar, melibatkan banyak sumber daya, dan ditujukan

untuk memenuhi kebutuhan banyak orang (masyarakat) maka untuk mencapainya

7
tentu saja diperlukan suatu organisasi, dengan pengelolaan dan pemberdayaan

sumber daya yang ada.

Sehingga, manajemen konstruksi secara arti sempit adalah mengatur

pengalokasian semua sumber daya proyek agar bangunan selesai terlaksana dengan

cara efisien. Dengan demikian manajemen konstruksi berkenaan erat dengan gambar

bangunan, spesifikasi teknisnya dan teknik penjadwalan.

3.2 Hal-Hal yang Perlu di Manage dalam Pelaksanaan Sebuah Proyek


Setiap pelaksanaan kegiatan memerlukan Rencana Kerja, Jadwal Waktu

Kegiatan, dan Rencana Anggaran yang realistis. Jadwal harus dapat mengungkapkan

secara jelas proses perencanaan menurut urutan yang logis sehingga dapat

menunjukkan pada saat-saat mana harus dilakukan pemeriksaan dan evaluasi dalam

rangka upaya pengendalian biaya dan nilai proyek.

Maka dari itu hal-hal yang perlu di manage banyak sekali diantaranya :

a. Biaya
b. Jadwal
c. Sumber daya
d. Anggaran
e. Pengalokasian
f. Spesifikasi teknis
g. Dll.

3.3 Sistem Manajemen Konstruksi


Upaya dan kegiatan untuk mendirikan sesuatu bangunan merupakan proses

yang panjang, di mana mekanismenya tersusun terdiri dari banyak sekali kegiatan

atau pekerjaan. Kegiatan-kegiatan dalam menyusun suatu suatu interaksi yang

saling kait-mengkait, pengaruh-memperngaruhi, dan sekaligus juga saling

menunjang dalam rangka mencapai tujuan yang sama. Oleh karena sifat pekerjaan

konstruksi yang demikian, manajemen dan organisasi proses secara keseluruhan

8
harus diberlakukan sebagai suatu sistem. Sistem yang dimaksudkan adalah sebagai

kumpulan komponen-komponen kegiatan yang saling berhubungan dan

tergantung, yang harus dikoordinasikan dan dikendalikan sedemikian rupa

sehingga menjadi kesatuan yang menyeluruh.

a. Tahap Pengembangan Konsep


Terdiri atas :
- Menyusun TOR
- Tanggapan TOR
- Diskusi Pembahasan

Pada tahap awal harus dapat mengungkapkan fakta-fakta keadaan di lokasi

proyek baik berupa factor-faktor yang bersifat mendukung maupun

kendalanya. Upaya untuk mengungkapkan fakta dan informasi awal secara

obyektif sebetulnya sudah harus dimulai sejak dari penuangan gagasan ke

dalam Arahan Penugasan atau TOR dan proses tanggapannya. Kemudian

dilanjutkan segera dengan serangkaian komunikasi dan diskusi di antara pihak-

pihak yang terkait. Berpijak pada hasil diskusi tersebut kemudian baru dapat

dibuat dan dikembangkan perencanaannya, yang untuk selanjutnya akan

diterapkan di dalam proses konstruksi. Amat disayangkan bahwa tahap

pelaksanaan pencarian dan penemuan fakta-fakta awal merupakan salah satu

kunci utama dalam upaya mencapai keberhasilan proyek. Biasanya kegagalan

untuk mengungkapkan serta mendapatkan fakta-fakta awal hanya dikarenakan

factor komunikasi dan koordinasi yang tidak lancer semata-mata. Akan tetapi

merupakan keadaan yang lebih parah jika pengabaian akan pentingnya hal

tersebut berpangkal pada wawasan yang sempit tentang arti dan hakekat suatu

perencanaan di bidang kontruksi.

b. Tahap Perencanaan
Terdiri atas :
- Sketsa Rencana
9
- Perancanaan Detail

Keberhasilan proyek konsruksi diawali dan sangat ditentukan dengan

berhasil tidaknya untuk menyusun suatu landasannya, yaitu berupa

perencanaan yang lengkap dan matang. Sehingga dengan sendirinya suatu

perencanaan harus dapat mengakomodasikan seluruh kebutuhan dan

kepentingan pelaksanaan konstruksi, sejak dari hal-hal yang bersifat teknis

termasuk metode kerja sampai dengan dampak yang diakibatkannya. Proses

perencanaan keseluruhan secara umum dibagi menjadi empat tahap

pelaksanaan, yaitu tahap tanggapan terhadap Arahan Penugasan (TOR) atau

seringkali disebut tahap pengajuan proposal, kemudian tahap survai dan

investigasi, tahap penyusunan pra-rencana atau dikenal sebagai sketsa rencana,

serta tahap perencanaan final atau perencanaan detail. Pelaksanaan keempat

tahap kegiatan perencanaan tersebut berurutan degan urutan tetap, tidak bias

diubah, dan kelengkapan serta hasil masing-masing tahap sangat ditentukan

oleh hasil dari tahap sebelumnya. Sehingga agar didapat hasil keseluruhan yang

optimal, pada selang antara masing-masing tahap biasanya diadakan pertemuan

antara pihak-pihak yang terkait untuk berdiskusi, membahas, memperjelas, dan

menegaskan hasil-hasil kegiatannya. Diskusi pembahasan pada dasarnya

adalah untuk melakukan evaluasi dan penilaian terhadap hasil yang dicapai

pada tahap sebelumnya dan sekaligus merancang pelaksanaan kegiatan tahap

berikutnya. Karena sifat kegiatan konstruksi yang terurai dan terpisah-pisah, di

dalam diskusi-diskusi biasanya masih selalu muncul masukan-masukan baru

yang cukup penting untuk diperhatikan, dan patut untuk ditampung dikaitkan

dengan upaya meraih keberhasilan secara keseluruhan.

c. Tahap Pelelangan
10
Terdiri atas :
- Persiapan administrasi
- Prakualifikasi
- Pelelangan
- Pelulusan

Sebelum membahas langkah-langkah pada tahap pelelangan ini, ada

baiknya terlabih dahulu meninjau beberapa hal yang berkaitan dengan latar

belakang diselenggarakannya pelelangan. Seperti diketaui, pekerjaan pada

sector swasta dibiayai sepenuhnya dengan dana swasta. Sumber dana proyek

dikumpulkan dan dikendalikan sepenuhnya baik oleh perorangan, suatu bentuk

kerja sama, atau perusahaan swasta. Dengan demikian pembelanjaan dana

semacam itu dikendalikan oleh suatu lembaga public akan tetapi langsung oleh

pemiliknya berdasarkan pada kepentingan terbaiknya. Sehingga pada sector

swasta, bisnis dapat diwujudkan berdasarkan penawaran bersaing (pelelangan)

atau cara negoisasi dengan pelaksanaan kontraknya dapat menggunakan kedua-

dua system. Sedangkan pada sector public, karena pekerjaan umum dibiayai

dengan menggunakan dana yang diperoleh dari perpajakan, dana masyarakat,

ataupun penerimaan negara lainnya, pertanggung jawab pelaksanaannya harus

diupayakan secermat mungkin. Upaya-upaya untuk mengamankan pelaksanaan

pekerjaan konstruksinya dilakukan dengan berdasarkan pada peraturan-

peraturan dan hanya dapat diserahkan kepada Kontraktor yang diyakini benar-

benar handal secara objektif. Dalam rangka berupaya menghindarkan berbagai

penyimpangan pelakasanaan, hamper semua pekerjaan umum selalu diberikan

berdasar pelelangan melalui persaingan penawaran. Sudah tentu cara tersebut

tidak diberlakukan untuk semua proyek, karena dalam prakteknya peraturan

juga masih mengijinkan menempuh system penunjukan langsung. Terutama

11
dalam menghadapi keadaan darurat, penanggulangan bencana alam, atau

keperluan pekerjaan khusus yang sangat membutuhkan spesialisasi.


Tahap persiapan dalam pelaksanaan lelengan dimulai dengan menyiapkan

daftar kontarktor yang akan diseleksi menurut paket kontrak pekerjaan, tata

cara serta prosedur pelelangan, dan estimasi biaya wajar terperinci untuk setiap

paket. Kemudian dilanjutkan dengan prakualifikasi terhadap para kontraktor

terpilih berdasarkan persyaratan dan criteria kualifikasi. Hasil seleksi

prakualifikasi segera diumumkan kepada kontraktor sekaligus mengundangnya

sebagai peserta lelangan menurut paket kontrak pekerjaan. Sementara itu

disiapkan pelaksanaan lelang pada waktu yang telah ditetapkan dengan

berpedoman pada tata cara dan prosedurnya, termasuk syarat-syarat

administrative. Pada penyelenggaraan lelang dibuat berita acara yang mencatat

segala sesuatu yang bersangkutan dengan pelaksanaannya, termasuk mengenai

peserta dan jumlahnya, catatan mengenai harga penawaran yang diajukan,

sampai dengan kejanggalan atau bentuk penyimpangan yang ditemukan.

Setelah itu dilakukan evaluasi terhadap seluruh penawaran yang diajukan,

melalui analisis secara teliti sesuai dengan prosedur berdasarkan pada peraturan

yang berlaku. Selanjutnya diberikan rekomendasi pelulusan pelelangan untuk

mendapatkan persetujuan dari pemilik atau pemberi tugas, dan kemudian

diumumkan hasilnya kepada para seluruh peserta pelelangan.

d. Tahap Pelaksanaan Konstruksi


Terdiri atas :
- Persiapan Lapangan
- Pelaksanaan
- Pemeliharaan

Tahap konstruksi di lapangan telah dimulai sejak ditetapkannya pemenang

lelang, dan diawali dengan menerbitkan Surat Perintah Kerja (SPK) serta

12
penyerahan lapangan dengan segala keadaannya, yang harus selalu

dipelihara, kepada kontraktor. Kontraktror mengawali kegiatannya dengan

mengeluarkan surat pemberitahuan saat mulai bekerja yang sekaligus

memuat informasi mengenai organisasi dan petugas lapagannya. Kemudian

dimulailah pekerjaan-pekerjaan persiapan berupa pembersihan (site

clearing), pemagaran lapangan, membuat saluran drainasi, mendirikan

kantor lapangan, barak-barak kerja, gudang, membangun instalasi air bersih

dan kotor, daya listrik untuk kerja dan penerangan, telepon, merenacanakan

alokasi lahan untuk tempat bekerja, penempatan alat-alat berat, area terbuka

untuk penimbunan bahan baku, membuat jalan-jalan kerja dan lain

sebagainya. Perlu ditetapkan juga laboratorium pengujian material yang

diperlukan dan melaksanakan survai pengukuran atas keadaan awal

lapangan pada saat diserahkan, baik pengukuran contour ataupun penepatan

kooordinat, yang kemudian diikuti dengan program pengukuran rutin lebih

lanjut. Disamping itu, perlu juga segera mengupayakan izin-izin yang

diperlukan seperti izin bangunan, pemakaian jalan raya untuk alat berat,

penggalian tanah, penggunaan obat keras untuk pengendalian rayap,

pembuangan bongkaran, dan sebagainya. Sementara itu dipersiapkan pula

tata cara dan prosedur penanganan masalah-masalah administratif, seperti

prosedur surat-menyurat, catatan harian dan pelaporannya, pendaftaran

gambar-gambar perencanaan, pembuatan gambar kerja (shop drawings) dan

as built darwings, dan lain-lainya.


Selama proses konstruksi berjalan dilakukan pengendalian dengan selalu

mengikuti lapaora dan evaluasi pekerjaan, termasuk jadwal rencana kerja

yang disiapkan secara teratur dalam waktu periodik harian, mingguan, dan

13
bulanan. Kepada Pemberi Tugas secara teratur harus diberikan laporan

manajerial yang berupa informasi rincian kuantatif memngenai keadaan

proyek yang mutakhir. Biasanya setiap laporan dilengkapi dengan foto-foto

keadaan dan perkembangan lapangan yang disertai pula dengan catatan-

catatan penting seperlunya. Harus diupayakan agar pihak Pemberi Tugas

selalu mengetahui permasalahan yang dihadapi maupun perkiraan yang

akan terjadi, sekaligus disertai usulan atau rencana cara pemecahannya.

Penerapan pelaksanaan pekerjaan yang didasarkan pada rencana kerja dari

waktu ke waktu harus selalu dimonitor, termasuk mengeavaluasi segala

kendala dan hambatan yang dihadapi agar segera dapat diberikan cara

penyelesaiannya. Untuk itu, perlu diadakan rapat-rapat koordinasi secara

periodic dilengkapi dengan risalahnya yang akan mengikat segala ketetapan

yang dibuat. Rapat periodik sangat penting karena kecuali berfungsi

sebagai alat pengendalian dan koordinasi, juga merupakan wahana untuk

selalu menghimpun semangat kebersamaan secara professional. Disamping

itu, kesempatan diskusi dalam rapat dapat pula dipakai untuk saling

membantu dalam bentuk gagasan, saran-saran, ataupun tindakan nyata di

lapangan apabila tumbuhnya keserasian hubungan kerja antar fungsi dari

berbagai stata manajemen yang terlibat selama proses berlangsung, yang

dengan demikian akan sekaligus mendorong terwjudnya semangat tim

proyek.
Setiap proses pelaksanaan kontruksi memerlukan program pengendalian

mutu hasil pekerjaan berdasarkan pada sistem pengendalian yang

menyuluruh. Penerapannya melalui kegiatan-kegiatan pengawasan,

pemeriksaan, pengukuran, dan pengujian laboratorium. Di antara Pemberi

14
Tugas, Perencana, dan pengolola Manajemen Konstruksi harus menyadari

bersama mengenai pelimpahan wewenang kegiatan pengendalian mutu

tersebut. Pengelola Manajemen Konstruksi harus menyadari akan tugas dan

aspirasi dari Konsultan Perencana yang harus diembannya, sedangkan

Perencana juga harus menghormati pelimpahan wewenang Pemberi Tugas

kepada pengelola Manajemen Konstruksi. Pelaksanaan tugas kegiatan

pengendalian mutu pada hakekatnya adalah pemantauan langkah demi

langkah terhadap hasil akhir sesuatu pekerjaan. Pemantauan proses

mencangkup penilaian terhadap metode kerja, keterampilan kerja,

pengadaan material, peralatan, dan tenaga kerja, termasuk keselamatan dan

keamanan kerja. Menjelang akhir proyek biasanya merupakan puncak dari

seluruh kegiatan pada umumnya, termasuk kegiatan pendendalian yaitu

mengikuti secara cermat untuk dapat terpenuhinya seluruh kewajiban

kontraktor melalui daftar pemerikasaan (check list) hasil pekerjaan secara

teliti. Apabila seluruh tugas dan pekerjaan sudah dinyatakan untuk dapat

diterima, maka barulah dapat disiapkan dokumen serah terima.

3.4 Pentingnya Manajemen Konstruksi Bagi Pelaku Usaha Jasa Kontruksi


Bagi sebagian para pelaku bisnis jasa pelakasana konstruksi, apa yang

dikemukakan oleh pakar manajemen itu patut dijadikan bahan untuk berkontemplasi.

Tujuan sebuah usaha tentu berkaitan erat dengan manajemen. Apabila tujuan telah

mampu dirumuskan, maka satu dari rangkaian fungsi manajemen sudah diwujudkan,

15
yaitu penetapan tujuan (goal setting). Itu berarti visi (vision), misi (mission) dan

tujuan (objectives) atau biasa disingkat VMO perusahaan telah berhasil dirumuskan.

Fungsi-fungsi manajemen konstruksi adalah merencanakan,

mengkoordinasikan, dan mengendailikan seluruh proses kontruksi dengan cermat

secara objektif. Tujuan utama manajemen konstruksi adalah mengelola proses

transformasi gambar-gambar dan spesifikasi menjadi bentuk bangunan fisik sehingga

mampu menghasilkan produk dan pelayanan yang merupakan tujuan fungsional

proyek. Upaya transformasi tersebut harus dikerjakan dalam kerangka waktu dan

estimasi biaya yang diperhitungkan dengan mematuhi standar kualitas tertentu.

Dengan melihat begitu banyak fungsi dan tujuan dari manajemen maka dapat

dikatakan bahwa manajemen konstruksi sangat berperan aktif dan harus berjalan

sebaik-baiknya demi keberhasilan sebuah proyek yang dijalankan.

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat dipetik dari pembahasan masalah ini, yaitu :

16
a. Manajemen konstruksi secara arti sempit adalah mengatur pengalokasian

semua sumber daya proyek agar bangunan selesai terlaksana dengan cara

efisien. Dengan demikian manajemen konstruksi berkenaan erat dengan

gambar bangunan, spesifikasi teknisnya dan teknik penjadwalan.


b. Setiap pelaksanaan kegiatan memerlukan Rencana Kerja, Jadwal Waktu

Kegiatan, dan Rencana Anggaran yang realistis.


c. Manajemen secara keseluruhan harus diberlakukan sebagai suatu sistem.

Sistem yang dimaksudkan adalah sebagai kumpulan komponen-komponen

kegiatan yang saling berhubungan dan tergantung, yang harus dikoordinasikan

dan dikendalikan sedemikian rupa sehingga menjadi kesatuan yang

menyeluruh.
d. Begitu banyak fungsi dan tujuan dari manajemen maka dapat dikatakan bahwa

manajemen konstruksi sangat berperan aktif dan harus berjalan sebaik-baiknya

demi keberhasilan sebuah proyek yang dijalankan.

4.2 Saran
Sebagai pelaku bisnis jasa pelaksana kontruksi hendaklah mengetahui dan

memahami akan pentingnya sebuah manajemen. Sebab, dengan pengetahuan di

bidang menejemen sangat diperlukan untuk meningkatkan performa usaha yang

unggul. Maka dari itu seorang manager harus mampu memahami pentingnya sebuah

manajemen dalam mengerjakan sebuah proyek, baik proyek swasta maupun

pemerintahan. Indonesia butuh seorang manager yang mampu mengatur segalanya

dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Agar sebuah proyek tersebut

memberikan mutu dan kualitas yang akan dirasakan bersama demi terwujudnya

tujuan bersama pula.

17
DAFTAR PUSTAKA

Dipohusodo, Istimawan. 1996. Manajemen Proyek dan Konstruksi. Yogyakarta : Kanisius.

H.A, Rusdi. 2014. Aplikasi TI dalam Manajemen Konstruksi. Yogyakarta : Deepublish.

Malik, Alfian. 2010. Pengantar Bisnis Jasa Pelaksana Konstruksi. Yogyakarta : Andi.

18
19