Anda di halaman 1dari 52

114

BAB V

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

5.1. Analisis Fisik Kawasan

5.1.1. Letak Geografis

Kecamatan Sirimau mempunyai posisi penting karena merupakan pusat

segala kegiatan yang ada di Propvinsi Maluku baik pemerintahan perdagangan dan

jasa. Dilihat dari posisi geografis wilayah Kecamatan Sirimau dengan perkembangan

kegiatan di wilayahnya, tentunya akan mempengaruhi potensi dan penataan kegiatan

di wilayah lainnya yang terkait. Beberapa kelebihan yang dimiliki Pusat Kota Ambon

adalah sebagai berikut :

a. Dapat mengakses ke Provinsi Maluku maupun provinsi di luar

Maluku dengan cepat karena posisinya sebagai pusat kegiatan.

b. Dapat mengakses wilayah Kota Ambon bagian Utara dan Timur

maupun bagian barat dengan mudah dan lancar karena memiliki

kelengkapan sarana dan prasarana transportasi yang memadai.

Melihat dari letak dan fungsi Kecamatan Sirimau sebagai kawasan

pemerintahan dan perdagangan jasa, maka perlu dilakukan suatu penataan lahan di

Kecamatan Sirimau yang telah menimbulkan kesemrawutan di suatu sudut pusat kota

dan mengingat lokasi yang merupakan pusat kota dari Kota Ambon.
115

Dari letak geografis, maka Kota Ambon merupan kawasan lalu lintas

pelayaran nasional dan internasional, sehingga menjadikan modal besar untuk

membangun wilayah Kota Ambon pasca konflik kerusuhan.

5.1.2. Topografi dan Kemiringan Lereng

Berdasarkan data DEM Maluku yang diperoleh dari Bakosurtanal, dapat

disimpulkan bahwa Kecamatan Sirimau terletak di kemiringan lereng yang berkisar

kurang lebih 0-100% dan ketinggian kontur berkisar dari 0-400 meter dari

permukaan laut. Hal ini menyebabkan terbatasnya lahan yang datar di Kecamatan

Sirimau sehingga pembangunan dilakukan oleh warga, walaupun di lahan yang

sebenarnya tidak boleh dibanguni. Hal ini berakibat kepada penggunaan lahan yang

cenderung melakukan penebangan terhadap habitat vegetasi yang berfungsi untuk

penyerapan air tanah dan pengikisan tanah (erosi) dan pengerukan terhadap lereng

untuk meratakan permukaan tanah. Selain itu bertambahnya aktivitas akibat

pembangunan permukiman mengakibatkan bertambahnya beban konstruksi dan

getaran yang kuat berupa peralatan berat dan kendaraan bermotor dapat

menyebabkan longsor di daerah yang terjal dan curam.


116

Gambar 29
Longsor di Kelurahan Karang Panjang Kecamatan Sirimau

Sumber: liputan6.com

5.1.3. Jenis Tanah

Jenis tanah yang terdapat di Kecamatan Sirimau terdapat 6 (enam) jenis

tanah, yakni:

1. Tanah alluvial adalah tanah yang temasuk dalam kelas entisol, dimana tanah

ini bertekstur lempung berpasir. Alluvial adalah jenis tanah yang pada

umumnya terdapat di sepanjang aliran sungai. Sifat tanah ini sangat

dipengaruhi oleh material yang dikandung oleh sungai yang melaluinya

namun demikian jenis tanah ini sangat cocok untuk lahan pertanian.
2. Tanah kambisol adalah tanah yang termasuk dalam kelas inceptisol dan

bertekstur lempung serta lempung berpasir. Kambisol adalah tanah yang

terbentuk pada batuan induk peridotit dan bahan lepas. Tanah ini memiliki

warna merah gelap sampai cokelat gelap kemerahan.


117

3. Tanah rendzina adalah tanah yang tergolong dalam tanah yang memiliki

tekstur lempung. Rendzina adalah merupakan tanah padang rumput yang tipis

berwarna gelap, terbentuk dari kapur lunak, batu-batuan mergel dan gips.

Pada umumnya memiliki kandungan Ca dan Mg yang tinggi dengan pH

antara 7,5-8,5 dan peka terhadap erosi. Jenis tanah ini kurang bagus untuk

lahan pertanian, sehingga dibudidaya-kan untuk tanam-tanaman keras

semusim dan palawija.


4. Tanah litosol adalah tanah yang termasuk dalam kelas entisol, dimana tanah

ini bertekstur lempung berpasir. Litosol adalah jenis tanah yang masih muda

yang terdapat di daerah dangkal (sekitar 45 cm di bawah permukaan tanah).

Jenis tanah ini berbentuk seperti batuan padat.


5. Tanah gleisol adalah tanah yang termasuk dalam inceptisol, dimana tanah ini

bertekstur lempung. Gleisol adalah tanah yang terbentuk di daerah cekungan

yang dipengaruhi oleh air yang berlebihan. Jenis tanah ini memiliki sifat

berwarna cokelat gelap dan kelabu serta memiliki struktur yang kasar.
6. Tanah regosol adalah tanah yang termasuk dalam kelas entisol, dimana tanah

ini bertekstur lempung berpasir. Regosol adalah hasil erupsi gunung berapi,

bersifat subur, berbutir kasar, berwarna keabuan, kaya unsur hara, pH 6-7,

cenderung gembur, kemampuan menyerap air tinggi dan mudah tererosi.

Persebaran jenis tanah ini di Indonesia terdapat di setiap pulau yang memiliki

gunung api, baik yang masih aktif ataupun yang sudah mati, banyak

dimanfaatkan untuk lahan pertanian.

5.1.4. Klimatologi
118

Iklim yang terjadi di Pusat Kota Ambon sama dengan iklim yang terjadi

semua wilayah Kota Ambon dimananya adalah iklim laut tropis dan iklim musim.

Sehubungan dengan itu iklim Pusat Kota Ambon sangat dipengaruhi oleh lautan dan

berlangsung bersamaan dengan iklim musim, yaitu musim barat atau utara dan

musim timur atau tenggara. Pergantian musim selalu diselingi oleh musim pancaroba

yang merupakan transisi dari kedua musim tersebut

Curah hujan di Kota Ambon dari tahun 2006-2010 yang paling rendah yakni

pada tahun 2006 dengan jumlah curah hujan 2.583,5 mm dari 231 hari hujan.

Sedangkan yang paling tinggi yakni pada tahun 2010 dengan jumlah curah hujan

mencapai 3907,4 mm dari 238 hari hujan.

Untuk curah hujan perbulannya dari tahun 2006-2010 yang paling rendah

terjadi pada bulan oktober dengan jumlah curah hujan perbulannya yakni 6,6 mm

dari 6 hari hujan kemudian untuk tahun 2007 terjadi pada bulan maret dengan jumlah

curah hujan perbulannya yakni 77,2 mm dari 17 hari hujan kemudian pada tahun

2008 juga terjadi pada bulan maret dengan jumlah curah hujannya perbulannya hanya

78,2 mm dari 17 hari hujan kemudian untuk tahun 2009 pada bulan desember dengan

jumlah curah hujan hanya 24 mm dari 11 hari hujan sedangkan pada tahun 2010

paling rendah terjadi pada bulan februari dengan jumlah curah hujannya hanya 30,8

mm dari 7 hari hujan.

Untuk curah hujan perbulannya dari tahun 2006-2010 yang paling tinggi

terjadi pada bulan juni dengan jumlah curah hujan perbulannya mencapai hingga
119

1.385,9 mm dari 30 hari hujan kemudian untuk tahun 2007 juga terjadi pada bulan

juni dengan jumlah curah hujan perbulannya mencapai 1.049,7 mm dari 24 hari

hujan kemudian pada tahun 2008 terjadi pada bulan Agustus dengan jumlah curah

hujan perbulannya mencapai 1.296,7 mm dari 30 hari hujan kemudian pada tahun

2009 terjadi pada bulan Maret dengan jumlah curah hujan mencapai 980 mm dari 13

hari hujan sedangkan pada tahun 2010 paling tinggi terjadi pada bulan Juni dengan

jumlah curah hujan mencapai 848,9 mm dari 28 hari hujan.

Secara umum Provinsi Maluku memiliki tingkat kerawanan yang rendah

sampai tinggi, untuk bencana banjir dikarenakan jumlah curah hujan yang tinggi.

Untuk Kecamatan Sirimau yang di lalui oleh 4 aliran sungai dalam kondisi yang

semakin sempit akibat pola penggunaan lahan di sekitarnya yang mengadakan

pembangunan sampai daerah sempadan, selain itu hutan yang semakin sempit akibat

permintaan lahan yang semakin meningkat akibat bertambahnya penduduk, hal ini

menyebabkan berkurangnya daerah resapan air yang diperlukan untuk dapat

mencegah terjadinya banjir. Akibat dari berkurangnya daerah resapan air dan kondisi

morfologi kota yang bergunung dan curam menyebabkan setiap musim hujan daerah

Pusat Kota Ambon akan mengalami banjir yang merupakan kiriman air dari gunung.

Gambar 30
Kondisi Banjir di Desa Batu Merah Kecamatan Sirimau
120

Sumber: liputan6.com

5.1.5. Hidrologi

Berdasarkan hasil survei lapangan yang terkait dengan kondisi hidrologi

Kecamatan Sirimau terbagi dalam 2 jenis yaitu, air permukaan yakni air sungai dan

air tanah dibawah permukaan yakni air tanah dangkal dan air tanah dalam.

Penduduk yang bermukim di sepanjang jalur sungai pada awalnya

memanfaatkan sungai untuk keperluan mandi dan cuci. Namun dengan semakin

menurunnya kualitas air sungai, penggunaan tersebut semakin berkurang. Saat ini

sungai lebih banyak digunakan sebagai saluran drainase dan tempat pembuangan

limbah rumah tangga, yang jika tidak dikendalikan akan semakin memperburuk

kualitas air sungai. Sedangkan sumber air baku yang potensial digunakan adalah

sumber air yang terletak di Kecamatan Nusaniwe yang sudah dikelola oleh pihak

PDAM untuk daerah pelayanan sekitar pusat Kota Ambon.

5.2. Analisis Sosial-Budaya Masyarakat


121

Peristiwa konflik sosial yang terjadi, telah memberikan pelajaran berharga

bagi masyarakat Kota Ambon dalam membina hubungan interaksi sosial-budaya

dalam masyarakat. Kehidupan kebersamaan dan persaudaraan dalam masyarakat

yang didukung oleh semangat budaya orang maluku, kususnya budaya orang Ambon,

merupakan pilar-pilar sosial budaya yang harus terus dikembangkan. Untuk

mewujudkan hal tersebut, diperlukan upaya-upaya sebagai berikut:

Pendidikan generasi muda yang terpadu dan multi-kelompok agar

mempercepat kebersamaan antar warga Kota Ambon.

Peningkatkan interaksi sosial budaya melalui kegiatan lomba, olah raga dan

kesenian.

Menciptakan ruang publik yang cukup banyak dan luas untuk kegiatan

interaksi sosial antar masyarakat

Penegakan keamanan, ketertiban, hukum yang adil dan transparan bagi para

pelanggar hukum.

5.3. Analisis Demografi Penduduk

Analisis untuk proyeksi penduduk menggunakan teori bunga berganda untuk

memproyeksikan jumlah penduduk sampai tahun 2020. Persamaan teori bunga

berganda, yaitu:

Pt = Po (1 + r)n
122

P2010 = P2006 (1 + r)5


140064 = 104694 (1 + r)5
(1 + r)5 = 1.34
Pt = Po (1 + r)n Pt = Po (1 + r)n
P201 P202
5 = P2010 (1 + r)5 0 = P2015 (1 + r)5
P201 P202
5 = 140064 (1 + r)5 0 = 187686 (1 + r)5
P201 P202
5 = 187.686 jiwa 0 = 251.499 jiwa

Berdasarkan hasil perhitungan di atas maka dapat diprediksikan jumlah

penduduk sampai tahun 2020 pada tabel di bawah ini.

Tabel 12
Proyeksi Penduduk Tahun 2015 dan 2020 di Kecamatan Sirimau

Tahun Jumlah Penduduk Kepadatan Penduduk

(jiwa) tiap km2


2006 104.694 4.273,22
2007 105.010 4.286,12
2008 107.302 4.379,67
2009 108.698 4.436,65
2010 140.064 5.716,9
2015 187.686 7.660,65
2020 251.499 10.265,27
Sumber: Hasil Analisis Penulis Tahun 2012

Gambar 31
Proyeksi Penduduk Tahun 2015 dan 2020 di Kecamatan Sirimau
123

300000

250000

200000

150000

100000

50000

0
2006
2007
2008
2009
2010
2015
2020

Sumber: Hasil Analisis Penulis Tahun 2012

Dengan demikian maka pertumbuhan penduduk untuk proyeksi waktu 5

tahun dan 10 tahun mengalami pertumbuhan yang sangat pesat dimana pada tahun

2015, penduduk Kecamatan Sirimau berjumlah 187.686 jiwa dengan kepadatan

penduduk 7.660,65 km2 sedangkan untuk tahun 2020, jumlah penduduk Kecamatan

Sirimau menjadi 251.499 jiwa dengan kepadatan penduduk 10.265,27 km2.

5.4. Analisis Perubahan Penggunaan Lahan

Penggunaan lahan dikatakan berubah jika terjadi peralihan penggunaan dari

yang sebelumnya dengan saat ini, dengan indikasi terjadinya selisih luas penggunaan

lahan masing-masing dan terjadinya perubahan penggunaan lahan berdasarkan


124

pengamatan lapangan yang tertuang dalam peta (overlay peta tahun 2002 dan tahun

2011).

Guna mencapai hal tersebut maka disajikan gambaran tentang kondisi

penggunaan lahan pada tahun 2002 dan kondisi penggunaan lahan pada tahun 2011

yang kemudian disajikan dalam bentuk tabel dan gambar (peta) sebagai bahan dalam

proses analisis overlay peta.

5.4.1. Kondisi Penggunaan Lahan

Jenis Penggunaan lahan pada tahun 2002 merupakan penggunaan lahan yang

digunakan dalam perbandingan dengan peta existing untuk mengukur sejauh mana

perubahan penggunaan lahan pada lokasi penelitian. Luas Kecamatan Sirimau itu

sendiri yakni 24,5 km2 yang terbagi atas 14 desa/kelurahan. Untuk Desa Batu Merah

yang mendominasi penggunaan lahan yakni lahan kosong (0,24 km 2), untuk Desa

Galala yang mendominasi penggunaan lahan yakni permukiman (0,59 km 2), untuk

Desa Hative Kecil yang mendominasi penggunaan lahan yakni pertanian (1,55 km2).

Untuk Desa Soya yang mendominasi penggunaan lahan yakni hutan lindung

(7,18 km2), untuk Kelurahan Ahusen penggunaan lahannya hanyalah lahan kosong

(0,2 km2), untuk Kelurahan Amantelu penggunaan lahannya hanyalah lahan kosong

(1,07 km2), untuk Kelurahan Batu Gajah yang mendominasi penggunaan lahan yakni

hutan lindung (0,47 km2), untuk Kelurahan Batu Meja yang mendominasi
125

penggunaan lahan yakni permukiman (1,02 km2), untuk Kelurahan Honipopu yang

mendominasi penggunaan lahan yakni lahan kosong (0,15 km2).

Untuk Kelurahan Karang Panjang penggunaan lahannya hanyalah

permukiman (0,84 km2), untuk Kelurahan Pandan Kasturi yang mendominasi

penggunaan lahan yakni lahan kosong (0,4 km2), untuk Kelurahan Rijali penggunaan

lahannya hanyalah lahan kosong (0,44 km2), untuk Kelurahan Uritetu yang

mendominasi penggunaan lahan yakni lahan kosong (0,31 km2) dan untuk Kelurahan

Waihoka yang mendominasi penggunaan lahan yakni lahan kosong (0,22 km2).

Penggunaan lahan tahun 2002 secara keseluruhan untuk Kecamatan Sirimau

di dominasi oleh penggunaan lahan Hutan Lindung dengan luas keseluruhannya

yakni 8,75 km2 dengan persentase luasan yakni 35,73 %. Hutan lindung ini tersebar

di beberapa desa/kelurahan diantaranya yakni Desa Batu Merah, Desa Soya,

Kelurahan Batu Gajah dan Kelurahan Batu Meja.

Untuk penggunaan lahan kosong di Kecamatan Sirimua tahun 2002 tersebar

di berbagai macam desa/kelurahan dengan luas keseluruhannya yakni 5,17 km2

dengan persentase luasan yakni 21,11 %. Lahan kosong ini tersebar hampir di semua

desa/kelurahan yang ada di Kecamatan Sirimau diantaranya yakni Desa Batu Merah,

Desa Galala, Desa Hative Kecil, Kelurahan Ahusen, Kelurahan Amantelu, Kelurahan

Batu Gajah, Kelurahan Honipopu, Kelurahan Pandan Kasturi, Kelurahan Rijali,

Kelurahan Uritetu dan Kelurahan Waihoka dengan luasan yang berbeda-beda tiap

desa/kelurahannya. Hal ini disebabkan karena persitiwa konflik antar umat beragama
126

yang terjadi di Kota Ambon dari tahun 1999-2002, sehingga menyebabkan banyak

orang yang mengungsi dan tidak tinggal di daerah-daerah pusat Kota karena di pusat

Kota merupakan puncak kerusuhan.

Tabel 13
Jenis Penggunaan Lahan di Kecamatan Sirimau Tahun 2002

N Jenis Penggunaan Lua Persenta

o. Lahan s se (%)

(km
2
)
1. Agrowisata 0,43 1,75
2. Hutan Lindung 8,75 35,73
3. Pekuburan 0,02 0,08
4. Pelabuhan 0,07 0,29
5. Perdagangan dan 0,03 0,12

Jasa
6. Perkantoran 0,04 0,16
7. Permukiman 6,88 28,09
8. Pertanian 3,06 12,49
9. Ruang Terbuka 0,04 0,16

Hijau
10 Lahan Kosong 5,17 21,11

.
Total 24,5 100
Sumber: Badan Perencanaan Pembangunan Kota Ambon Tahun 2012

Jenis Penggunaan lahan pada tahun 2011 di Kecamatan Sirimau yang terbagi

atas 14 desa/kelurahan. Untuk Desa Batu Merah yang mendominasi penggunaan

lahan yakni permukiman (5,16 km2), untuk Desa Galala yang mendominasi
127

penggunaan lahan yakni permukiman (0,61 km 2), untuk Desa Hative Kecil yang

mendominasi penggunaan lahan yakni permukiman (1,02 km2).

Untuk Desa Soya yang mendominasi penggunaan lahan yakni hutan lindung

(6,7 km2), untuk Kelurahan Ahusen penggunaan lahannya hanyalah perdagangan dan

jasa (0,2 km2), untuk Kelurahan Amantelu yang mendominasi penggunaan lahan

yakni permukiman (0,7 km2), untuk Kelurahan Batu Gajah yang mendominasi

penggunaan lahan yakni permukiman (0,475km2), untuk Kelurahan Batu Meja yang

mendominasi penggunaan lahan yakni permukiman (1,01 km2), untuk Kelurahan

Honipopu yang mendominasi penggunaan lahan yakni perdagangan dan jasa (0,18

km2).

Untuk Kelurahan Karang Panjang penggunaan lahannya hanyalah

permukiman (0,84 km2), untuk Kelurahan Pandan Kasturi yang mendominasi

penggunaan lahan yakni permukiman (0,4 km2), untuk Kelurahan Rijali yang

mendominasi penggunaan lahan yakni perdagangan dan jasa (0,42 km 2), untuk

Kelurahan Uritetu yang mendominasi penggunaan lahan yakni perdagangan dan jasa

(0,27 km2) dan untuk Kelurahan Waihoka penggunaan lahannya hanyalah

permukiman (0,37 km2).

Penggunaan lahan tahun 2002 secara keseluruhan untuk Kecamatan Sirimau

di dominasi oleh penggunaan lahan permukiman dengan luas keseluruhannya yakni

12,48 km2 dengan persentase luasan yakni 50,94 %. Permukiman ini tersebar hampir

di semua desa/kelurahan yang ada di Kecamatan Sirimau yakni Desa Batu Merah,
128

Desa Galala, Desa Hative Kecil, Desa Soya, Kelurahan Amantelu, Kelurahan Batu

Gajah, Kelurahan Batu Meja, Kelurahan Karang Panjang, Kelurahan Pandan Kasturi

dan Kelurahan Waihoka terkecuali Kelurahan Ahusen, Kelurahan Honipopu,

Kelurahan Rijali dan Kelurahan Uritetu dikarenakan 4 (empat) kelurahan ini berada

di daerah pusat Kota sehingga yang mendominasi penggunaan lahannya yakni

perdagangan dan jasa.

Tabel 14
Jenis Penggunaan Lahan di Kecamatan Sirimau Tahun 2011

N Jenis Penggunaan Lua Persenta

o. Lahan s se (%)

(km
2
)
1. Agrowisata 0,43 1,76
2. Hutan Lindung 7,82 31,96
3. Pekuburan 0,04 0,16
4. Pelabuhan 0,18 0,73
5. Perdagangan dan 1,44 5,88

Jasa
6. Perkantoran 0,3 1,22
7. Permukiman 12,4 50,94

8
8. Pertanian 1,62 6,61
9. Ruang Terbuka 0.19 0,78

Hijau
Total 24,5 100
Sumber: Badan Perencanaan Pembangunan Kota Ambon Tahun 2012

5.4.2. Perubahan Penggunaan Lahan


129

Jenis perubahan penggunaan lahan di Kecamatan Sirimau dari tahun 2002

sampai pada tahun 2011 terdiri dari agrowisata, hutan lindung, pekuburan,

pelabuhan, perdagangan dan jasa, perkantoran, permukiman, pertanian, ruang terbuka

hijau dan lahan kosong secara kuantitas dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
130

Tabel 15
Perubahan Penggunaan Lahan dan Luas Perubahannya
di Kecamatan Sirimau Tahun 2002-2011 di Rinci per Desa/Kelurahan

Teknik Series
Lua Lua
No Desa/Keluraha
Jenis Penggunaan Lahan s Jenis Penggunaan s
. n
Tahun 2002 (km Persentas Lahan Tahun 2011 (km Persentas

) e (%) ) e (%)
Hutan Lindung 0,88 3,59
Hutan Lindung 1,09 4,43
Permukiman 0,21 0,84
Pertanian 0,78 3,16
Pertanian 1,51 6,16
Permukiman 0,73 2,99
Desa Batu Pekuburan 0,02 0,08 Pekuburan 0,04 0,15
1
Ruang Terbuka Hijau 0,02 0,10 Ruang Terbuka Hijau 0,02 0,10
Merah
Permukiman 2,56 10,43 Permukiman 2,56 10,43
Perdagangan dan Jasa 0,28 1,13
Lahan Kosong 2,04 8,33 Pelabuhan 0,08 0,32
Permukiman 1,68 6,86
Pelabuhan 0,03 0,13
Lahan Kosong 0,05 0,18
2 Desa Galala Permukiman 0,02 0,08
Permukiman 0,59 2,41 Permukiman 0,59 2,41
3 Desa Hative Lahan Kosong 0,25 1,02 Permukiman 0,25 1,02
131

Teknik Series
Lua Lua
No Desa/Keluraha
Jenis Penggunaan Lahan s Jenis Penggunaan s
. n
Tahun 2002 (km Persentas Lahan Tahun 2011 (km Persentas

) e (%) ) e (%)
Pertanian 0,85 3,46
Pertanian 1,55 6,34
Kecil Permukiman 0,70 2,88
Permukiman 0,07 0,27 Permukiman 0,07 0,27
Hutan Lindung 6,70 27,33
Hutan Lindung 7,18 29,31
Permukiman 0,49 1,98
4 Desa Soya
Permukiman 1,44 5,87 Permukiman 1,44 5,87
Agrowisata 0,43 1,76 Agrowisata 0,43 1,76
Kelurahan
5 Lahan Kosong 0,20 0,83 Perdagangan dan Jasa 0,20 0,83
Ahusen
Permukiman 0,70 2,86
Kelurahan Ruang Terbuka Hijau 0,09 0,35
6 Lahan Kosong 1,07 4,36
Perkantoran 0,26 1,08
Amantelu
Perdagangan dan Jasa 0,02 0,07
Lahan Kosong 0,05 0,21 Perdagangan dan Jasa 0,05 0,21
Kelurahan Batu Hutan Lindung 0,25 1,01
7 Hutan Lindung 0,47 1,92
Permukiman 0,22 0,91
Gajah
Permukiman 0,23 0,95 Permukiman 0,23 0,95
8 Kelurahan Batu Hutan Lindung 0,01 0,03 Hutan Lindung 0,01 0,03
132

Teknik Series
Lua Lua
No Desa/Keluraha
Jenis Penggunaan Lahan s Jenis Penggunaan s
. n
Tahun 2002 (km Persentas Lahan Tahun 2011 (km Persentas

) e (%) ) e (%)
Permukiman 1,00 4,08
Meja Permukiman 1,02 4,16
Perdagangan dan Jasa 0,02 0,09
Lahan Kosong 0,15 0,60 Perdagangan dan Jasa 0,15 0,61
Kelurahan Pelabuhan 0,07 0,29 Pelabuhan 0,07 0,29
9
Honipopu Perkantoran 0,03 0,11 Perkantoran 0,03 0,11
Perdagangan dan Jasa 0,03 0,13 Perdagangan dan Jasa 0,03 0,13
Kelurahan
10 Permukiman 0,84 3,41 Permukiman 0,84 3,41
Karang Panjang
Kelurahan Lahan Kosong 0,40 1,63 Permukiman 0,40 1,63
11
Ruang Terbuka Hijau 0,02 0,09 Ruang Terbuka Hijau 0,02 0,09
Pandan Kasturi
Ruang Terbuka Hijau 0,02 0,08
12 Kelurahan Rijali Lahan Kosong 0,44 1,78
Perdagangan dan Jasa 0,42 1,70
Kelurahan Perkantoran 0,01 0,05 Perkantoran 0,01 0,05
13 Ruang Terbuka Hijau 0,04 0,17
Uritetu Lahan Kosong 0,31 1,27
Perdagangan dan Jasa 0,27 1,11
14 Kelurahan Lahan Kosong 0,22 0,89 Permukiman 0,22 0,89
Permukiman 0,15 0,59 Permukiman 0,15 0,59
133

Teknik Series
Lua Lua
No Desa/Keluraha
Jenis Penggunaan Lahan s Jenis Penggunaan s
. n
Tahun 2002 (km Persentas Lahan Tahun 2011 (km Persentas

) e (%) ) e (%)
Waihoka
Total 24,5 100 Total 24,5 100
Sumber: Hasil Analisis Penulis Tahun 2012
135

Terlihat pada tabel di atas perubahan penggunaan lahan yang terjadi di

Kecamatan Sirimau dari tahun 2002 sampai 2011 di rinci per Desa/Kelurahan.

Dengan menggunakan software Arc Gis 9,3 terlihat perubahan yang terjadi, total

poligon yang ada setelah melakukan overlay antara peta penggunaan lahan tahun

2002 dan peta penggunaan lahan tahun 2011 yakni 47 poligon.

Untuk Desa Batu Merah terjadi perubahan penggunaan lahan hutan lindung

dari 1,09 km2 berubah menjadi 0,88 km2 dan permukiman 0,21 km2. Penggunaan

lahan pertanian dari 1,51 km2 berubah menjadi 0,78 km2 dan permukiman 0,73 km2.

Penggunaan lahan pekuburan dari 0,02 km2 berubah menjadi 0,04 km2. Penggunaan

lahan kosong dari 2,04 km2 berubah menjadi perdagangan dan jasa 0,28 km2,

pelabuhan 0,08 km2 dan permukiman 1,68 km2. Sedangkan untuk penggunaan lahan

ruang terbuka hijau dan permukiman yang ada di Desa Batu Merah tidak mengalami

perubahan dari tahun 2002 sampai tahun 2011.

Untuk Desa Galala terjadi perubahan penggunaan lahan kosong dari 0,05 km2

berubah menjadi pelabuhan 0,03 km2 dan permukiman 0,02 km2. Sedangkan untuk

penggunaan lahan permukiman yang ada di Desa Galala, tidak mengalami

perubahan. Untuk Desa Hative Kecil terjadi perubahan penggunaan lahan kosong

seluas 0,25 km2 menjadi permukiman. Penggunaan lahan pertanian dari 1,55 km 2

mengalami pengurangan karena berubah menjadi permukiman seluas 0,7 km 2.

Sedangkan untuk penggunaan lahan permukiman yang ada di Desa Hative Kecil,

tidak mengalami perubahan.


136

Untuk Desa Soya terjadi perubahan penggunaan lahan hutan lindung dari

7,18 km2 berubah menjadi 6,7 km2 dan permukiman 0,49 km2. Sedangkan untuk

penggunaan lahan permukiman dan agrowisata yang ada di Desa Soya tidak

mengalami perubahan. Untuk Kelurahan Ahusen terjadi perubahan penggunaan lahan

kosong seluas 0,2 km2 berubah menjadi perdagangan dan jasa. Untuk Kelurahan

Amantelu terjadi perubahan penggunaan lahan kosong seluas 1,07 km2 berubah

menjadi permukiman 0,7 km2, ruang terbuka hijau 0,09 km2, perkantoran 0,26 km2

dan perdagangan dan jasa 0,02 km2.

Untuk Kelurahan Batu Gajah terjadi perubahan penggunaan lahan kosong

seluas 0,05 km2 berubah menjadi perdagangan dan jasa. Penggunaan lahan hutan

lindung dari 0,47 km2 mengalami pengurangan sehingga berubah menjadi 0,25 km 2

dan permukiman 0,22 km2. Sedangkan untuk penggunaan lahan permukiman yang

ada di Kelurahan Batu Gajah tidak mengalami perubahan. Untuk Kelurahan Batu

Meja terjadi perubahan penggunaan lahan permukiman dari 1,02 km 2 berubah

menjadi 1 km2 dan perdagangan dan jasa 0,02 km2. Hal ini disebabkan karena

beberapa warga Batu Meja merubah fungsi rumahnya menjadi ruko (rumah-toko).

Sedangkan untuk penggunaan lahan hutan lindung yang ada di Kelurahan Batu Meja

tidak mengalami perubahan.

Untuk Kelurahan Honipopu terjadi perubahan penggunaan lahan kosong

seluas 0,15 km2 berubah menjadi perdagangan dan jasa. Sedangkan untuk

penggunaan lahan pelabuhan, perkantoran dan perdagangan dan jasa, tidak

mengalami perubahan. Untuk Kelurahan Karang Panjang tidak mengalami perubahan

dari tahun 2002-2011, penggunaan lahannya masih berupa permukiman. Untuk


137

Kelurahan Pandan Kasturi terjadi perubahan penggunaan lahan kosong seluas 0,4

km2 berubah menjadi permukiman. Sedangkan untuk penggunaan lahan ruang

terbuka hijau tidak mengalami perubahan.

Untuk Kelurahan Rijali terjadi perubahan penggunaan lahan kosong seluas

0,44 km2 berubah menjadi ruang terbuka hijau 0,02 km 2 dan perdagangan dan jasa

0,42 km2. Kelurahan Rijali yang sebelumnya tidak ada aktivitas penggunaan

lahannya pada tahun 2002 di karenakan masih dalam suasana konflik kerusuhan dan

juga berada di daerah Pusat Kota sehingga tidak ada aktivitas, namun pada tahun

2011 sudah ada aktivitas.

Untuk Kelurahan Uritetu terjadi perubahan penggunaan lahan kosong seluas

0,31 km2 menjadi ruang terbuka hijau 0,04 km2 dan perdagangan dan jasa 0,27 km2.

Sedangkan untuk penggunaan lahan perkantoran tidak mengalami perubahan. Untuk

Kelurahan Waihoka terjadi perubahan penggunaan lahan kosong seluas 0,22 km 2

berubah menjadi permukiman. Sedangkan untuk eksisiting penggunaan lahan

permukiman sejak tahun 2002 tidak mengalami perubahan hingga tahun 2011.

Dari tabel 15 di atas dan analisis tentang perubahan penggunaan lahan yang

terjadi di Kecamatan Sirimau dari tahun 2002-2011 namun di jabarkan per

Desa/Kelurahannya di atas, sehingga bisa diketahui secara rinci perubahan

penggunaan lahan yang terjadi. Berikut ini akan di sajikan tabel 16 tentang

perubahan penggunaan lahan namun secara umum penggunaan lahannya dan juga

diagram perbandingan penggunaan lahan di Kecamatan Sirimau tahun 2002-2011.


138

Tabel 16
Perubahan Penggunaan Lahan dan Luas Perubahannya
di Kecamatan Sirimau Tahun 2002-2011

Penggunaan Lahan Teknik Series Luas (km2) Luas

Perubahan

(km2)
200 2011 2002 2011

2
Agrowisata Ada Ada 0,43 0,43 0
Hutan Lindung Ada Ada 8,75 7,82 -0,93
Pekuburan Ada Ada 0,02 0,04 +0,02
Pelabuhan Ada Ada 0,07 0,18 +0,11
Perdagangan dan Jasa Ada Ada 0,03 1,44 +1,41
Perkantoran Ada Ada 0,04 0,3 +0,26
Permukiman Ada Ada 6,88 12,4 +5,6

8
Pertanian Ada Ada 3,06 1,62 -1,44
Ruang Terbuka Hijau Ada Ada 0,04 0.19 +0,15
Lahan Kosong Ada Tidak Ada 5,17 0 -5,17
Sumber: Hasil Analisis Penulis Tahun 2012

Gambar 32
Diagram Perbandingan Perubahan Penggunaan Lahan Tahun 2002 dan 2011
Di Kecamatan Sirimau
139

14

12

10

6
Tahun 2002
4 Tahun 2011

Sumber: Hasil Analisis Penulis Tahun 2012

Terlihat pada tabel dan diagram batang di atas terdapat penggunaan lahan

yang tidak mengalami perubahan, seperti misalnya agrowisata yang sejak tahun

2002-2011 masih tetap dengan luasan 0,43 km2, hal ini disebabkan karena agrowisata

ini terus dipertahankan, obyek wisata yang berada di Desa Soya itu berada Gunung

Sirimau, memiliki panorama yang indah yang dikenal sejak zaman penjajahan

Belanda.

Terlihat juga penggunaan lahan untuk lahan kosong di Kecamatan Sirimau

dari 5,17 km2 menjadi tidak ada sama sekali. Pada tahun 2002 terdapat banyak lahan

kosong di karenakan pada saat itu terjadi dikarenakan konflik antar umat beragama

yang terjadi di Kota Ambon pada tahun 1999-2002 silam, menyebabkan banyak

rumah warga, ruko dan juga lahan kosong hingga 5,17 km 2 atau sebesar 21,11% dari

total penggunaan lahan di Kecamatan Sirimau. Namun saat ini pembangunan terus
140

menerus terjadi sehingga menyebabkan lahan kosong di Kecamatan Sirimau menjadi

tidak ada lagi.

Perubahan penggunaan lahan di Kecamatan Sirimau paling besar terjadi

untuk penggunaan lahan permukiman dari 6,88 km2 menjadi 12,48 km2, bertambah

sebanyak 5,6 km2. Hal ini disebabkan karena Kecamatan Sirimau merupakan pusat

dari Kota Ambon, berbagai macam aktivitas terjadi di Kecamatan Sirimau. Pusat

perkantoran, pusat perdagangan dan jasa sehingga masyarakat berbondong-bondong

untuk tinggal di Kecamatan Sirimau. Dampaknya ialah pertambahan jumlah

penduduk, sehingga memerlukan penambahan permukiman.

Berdasarkan pada hasil analisis yang dilakukan dengan membandingkan

overlay peta pada penggunaan lahan tahun 2002 dan peta penggunaan lahan tahun

2011, terlihat bahwa di Kecamatan Sirimau terjadi perubahan penggunaan lahan yang

mendasar dan merupakan perubahan fungsi dominan terjadi pada penggunaan lahan

kosong menjadi lahan permukiman, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada peta hasil

overlay berikut ini.


141

Gambar 33
Peta Hasil Overlay Kecamatan Sirimau

Sumber: Hasil Analisis Penulis Tahun 2012


142

Gambar 34
Peta Rencana Kecamatan Sirimau

Sumber: Badan Perencanaan Pembangunan Kota Ambon Tahun 2012


143

Perubahan penggunaan lahan dapat mengacu pada 2 hal yang berbeda yaitu

penggunaan lahan sebelumnya atau Rencana Tata Ruang. Perubahan yang mengacu

pada penggunaan sebelumnya adalah suatu penggunaan baru atas lahan yang berbeda

dengan penggunaan lahan sebelumnya, sedangkan perubahan yang menggacu pada

Rencana Tata Ruang adalah penggunaan baru atas tanah (lahan) yang tidak sesuai

dengan yang di tentukan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah yang disahkan.

Penggunaan lahan di Kecamatan Sirimau yang direncanakan untuk

agrowisata yakni 0,43 km2, hutan lindung 5,82 km2, pelabuhan 0,18 km2,

perdagangan dan jasa 6,29 km, perkantoran 0,3 km 2, permukiman 9,03 km2, ruang

terbuka hijau 0,09 km2, penyangga 2,02 km2 dan kawasan pertahanan keamanan 0,34

km2. Untuk lebih jelasnya dapat di lihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 17
Penyimpangan Lahan Yang Terjadi di Kecamatan Sirimau

No. Jenis Penggunaan Rencana Penyimpangan

Penggunaan Lahan (km2) (km2)

Lahan Tahun 2011

(km2)
1 Agrowisata 0,43 0,43 0
2 Hutan Lindung 7,82 5,82 -2
3 Pekuburan 0,04 0 - 0,04
4 Pelabuhan 0,18 0,18 0
5 Perdagangan dan 1,44 6,29 4,85

Jasa
6 Perkantoran 0,3 0,3 0
7 Permukiman 12,48 9,03 - 3,45
8 Pertanian 1,62 0 - 1,62
9 Ruang Terbuka 0.19 0,09 - 0,1
144

No. Jenis Penggunaan Rencana Penyimpangan

Penggunaan Lahan (km2) (km2)

Lahan Tahun 2011

(km2)
Hijau
10 Penyangga 0 2,02 2,02
11 Kawasan 0 0,34 0,34

Pertahanan

Keamanan
Sumber: Hasil Analisis Penulis Tahun 2012

Dapat dilihat pada tabel di atas penyimpangan yang terjadi di Kecamatan

Sirimau. Untuk agrowisata dan perkantoran sesuai dengan yang direncanakan, tidak

menyimpang sedikitpun. Untuk agrowisata penggunaan lahannya sebesar 0,43 km 2

sedangkan di dalam rencana juga sebesar 0,43 km 2. Ini berarti untuk agrowisata tidak

mengalami penyimpangan, hal ini dikarenakan agrowisata tetap dibiarkan sesuai

kondisi existingnya dahulu, karena ini merupakan obyek wisata yang indah.

Sedangkan perkantoran yang ada di Kecamatan Sirimau yang di rencanakan sebesar

0,3 km2 sedangkan saat ini juga sebesar 0,3 km2, sehingga dapat disimpulkan saat ini

perkantoran di Kecamatan Sirimau sudah cukup sehingga yang direncanakan maupun

existing yang ada sudah sesuai.

Untuk penyangga dan juga kawasan pertahanan keamanan yang terdapat

dalam rencana penggunaan lahan di Kecamatan Sirimau, belum terealisasikan sampai

pada tahun 2011. Penyangga yang di maksud di sini ialah kawasan yang boleh di

banguni namun bersyarat, dikarenakan berada pada ketinggian, diperbolehkan


145

membangun namun apabila memang sudah tidak ada lahan di Kecamatan Sirimau.

Sedangkan untuk kawasan pertahanan keamanan di sini ialah kawasan yang

disiapkan bagi aparat kepolisian, militer, dll, sengaja disiapkan dikarenakan

dikhawatirkan terjadi konflik antar umat beragama di Kota Ambon seperti yang

pernah terjadi pada tahun 1999-2002 silam.

Penyimpangan yang paling besar terjadi untuk penggunaan lahan

permukiman, yang di mana direncanakan hanya sebesar 9,03 km 2 namun saat ini

telah mencapai 12,48 km2. Hal ini dikarenakan penduduk Kecamatan Sirimau yang

terus bertambah tiap tahunnya, sehingga kebutuhan akan rumahpun meningkat.

Kemudian untuk perdagangan dan jasa yang direncanakan sebesar 6,49 km 2

namun saat ini hanya 1,44 km2. Kecamatan Sirimau dijadikan sebagai pusat

perdagangan dan jasa untuk Kota Ambon dan sekitarnya dikarenakan Kecamatan

Sirimau merupakan pusat dari Kota Ambon, ditambah juga dengan adanya Pelabuhan

Yos Sudarso dan juga pelabuhan fery yang menghubungkan Kecamatan Sirimau

dengan Kecamatan Teluk Ambon sehingga akses ke Kecamatan Sirimau tidak terlalu

sulit untuk di jangkau.

5.5. Analisis Faktor-Faktor Penyebab Perubahan Penggunaan Lahan di


Kecamatan Sirimau
Bentuk dan struktur perubahan penggunaan lahan pada lokasi penelitian yaitu

Kecamatan Sirimau dimana perubahannya dipengaruhi oleh faktor berikut:

5.5.1. Kependudukan
146

Penduduk merupakan modal terbesar didalam memacu lajunya perkembangan

suatu daerah. Peran serta penduduk yang merupakan sumber daya yang tidak ternilai

jumlahnya akan sangat membantu didalam pergerakan suatu pembangunan dalam

proses pertumbuhan perekonomian suatu kawasan/ kota.

Didalam pembangunan, penduduk merupakan indikator utama karena

kedudukanya selain sebagai pelaku juga sebagai penerima atau objek dari

pembangunan itu sendiri. Sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi

perkembangan ruang terutama dalam kaitanya dengan penggunaan lahan maka

jumlah dan pertumbuhan penduduk perlu mendapat kajian dalam proses penelitian

ini.

Meningkatnya tingkat pertumbuhan penduduk mendorong pula untuk

memanfaatkan lahan sebagai wadah untuk melakukan aktivitas, termasuk tempat

untuk bermukim. Meningkatnya pertumbuhan penduduk telah membawa dampak

bagi terjadinya perubahan fungsi lahan di Kecamatan Sirimau. Perkembangan

penduduk di Kecamatan Sirimau dari tahun 2006-2010 terus mengalami

pertambahan, yang di mana pertambahan penduduk paling banyak terjadi pada tahun

2009-2010, jumlah penduduk pada tahun 2009 yakni 108.698 jiwa sedangkan pada

tahun 2010 bertambah hingga mencapai 140.064 jiwa, penduduk Kecamatan Sirimau

bertambah sebanyak 31.366 jiwa.

Dengan menggunakan teori bunga berganda untuk memproyeksikan jumlah

penduduk sampai tahun 2020, diketahui jumlah penduduk Kecamatan Sirimau pada

tahun 2015 sekitar 187.686 jiwa sedangkan pada tahun 2020 sekitar 251.499 jiwa.
147

Dikarenakan jumlah penduduk di Kecamatan Sirimau yang nantinya akan terus

bertambah, maka sekiranya perlu dilakukan penataan penggunaan lahan yang baik

dan benar.

Foto 9 Permukiman di Desa Batu Merah Foto 10 Permukiman di Kelurahan


Pandan Kasturi
Sumber: Survey Lapangan Tahun 2012

5.5.2. Tumbuhnya Pusat-Pusat Kegiatan

Adapun faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan penggunaan lahan

disebabkan tumbuhnya pusat-pusat kegiatan di Kecamatan Sirimau. Kecamatan

Sirimau merupakan titik pusat pengembangan aktifitas pemerintahan, perdagangan

dan pelayanan jasa. yang masing-masing faktor tersebut merupakan daya tarik untuk

melakukan aktifitas sehingga sebagian penggunaan lahan mengalami perubahan

misalnya lahan kebun campuran yang berubah menjadi lahan perkantoran yang

merupakan pusat aktifitas pemerintahan di Kecamatan Sirimau yang merupakan

perkembangan konstribusi yang besar bagi pertumbuhan Kecamatan Sirimau.


148

Perubahan penggunaan lahan di Kecamatan Sirimau karena adanya

perubahan kebutuhan akan fasilitas umum seiring dengan perkembangan jumlah

penduduk selama 10 tahun terakhir yakni tahun 2002 sampai pada tahun 2011.

Foto 11 Kantor Balai Kota Ambon di Foto 12 Hotel Manise di Kelurahan


Kelurahan Honipopu Uritetu
Sumber: Survey Lapangan Tahun 2012

5.5.3. Harga Lahan

Harga lahan merupakan refleksi dari nilai lahan yang merupakan perwujudan

dari kemampuan sehubungan dengan penggunaan lahan tersebut, jadi dengan

demikian dapat dikatakan bahwa harga lahan dapat merupakan indeks bagi tingkat

intensitas penggunaan lahan.

Harga lahan di Kecamatan Sirimau yang pada saat tahun 2002 masih berkisar

antara 0 sampai dengan 10.000/m2 pada tahun 2011 berkisar antara 5.000.000/m2

sampai dengan 10.000.000/m2 untuk lahan yang berada di pusat Kota, sedangkan

untuk lahan yang berada di daerah yang agak jauh dari pusat Kota, seperti di Desa

Batu Merah harga lahan berkisar antara 25.000/m 2 sampai 50.000/m2. Hal ini
149

disebabkan karena lahan yang berada di pusat Kota Ambon dan juga Kota Ambon

yang saat ini sedang dalam perkembangan untuk menjadi lebih baik setelah peristiwa

kerusuhan antar umat beragama yang menimpa Kota Ambon dari tahun 1999-2002

silam.

5.5.4. Kebijakan Pemerintah

Pada RTRW Kota Ambon, Kecamatan Sirimau diperuntukkan sebagai

kawasan perkotaan dengan fungsi pemerintahan, komersial, perdagangan, dan jasa

serta permukiman. Hal inilah yang sedang terjadi di Kecamatan Sirimau yang artinya

berjalan sesuai dengan peruntukkannya, akan tetapi saat ini jumlah perumahan-

perumahan baru semakin meningkat dan diiringi dengan pembangunan fasilitas-

fasilitas pendukung sarana perumahan tersebut yang cukup besar. Sehingga jumlah

permukiman telah melebihi yang sudah di rencanakan. Peraturan tentang tata ruang

Kota Ambon ini sudah di Perdakan yakni Perda no. 24 tahun 2012 pada tanggal 23

Juli 2012.

5.5.5. Jenis Mata Pencaharian

Jenis mata pencaharian yang ada di Kota Ambon digolongkan dalam 9

(sembilan) lapangan usaha utama yakni pertanian; pertambangan dan penggalian;

industri pengolahan; listrik, gas dan air; konstruksi; perdagangan, hotel dan restoran;

transportasi dan komunikasi; keuangan, persewaan dan jasa keuangan dan jasa-jasa

lainnya.
150

Pengaruh jenis mata pencaharian terhadap penggunaan lahan misalnya

apabila penduduk Kecamatan Sirimau berprofesi sebagai pegawai di Kantor Walikota

atau penjual di Pasar Mardika Batu Merah, secara otomatis, mereka akan memilih

untuk tinggal di daerah sekitar tempat kerja mereka. Kecenderungan manusia untuk

tinggal di sekitar tempat kerja sehingga menyebabkan Kecamatan Sirimau menjadi

sangat padat karena masyarakat Kota Ambon berbondong-bondong untuk memilih

bertempat tinggal di Kecamatan Sirimau, karena merupakan pusat dari Kota Ambon.

Foto 13 Pedagang Ikan Pasar Mardika, Foto 14 Pedagang Sayur Pasar Mardika,
Desa Batu Merah Desa Batu Merah
Sumber: Survey Lapangan Tahun 2012

5.5.6. Jaringan Jalan

Jaringan jalan yang terdapat di Kecamatan Sirimau dibagi dalam 3 jenis yakni

jaringan jalan arteri, jaringan jalan kolektor dan jaringan jalan lokal. Jaringan jalan

arteri dengan panjang kurang lebih 6 km dan lebar antara 10-12 meter, dari Desa

Galala hingga Kelurahan Ahusen. Jaringan jalan kolektor dengan panjang kurang

lebih 40,5 km dan lebar 6-8 meter yang tersebar di seluruh wilayah Kecamatan

Sirimau, terutama di kawasan Pusat Kota Ambon dan jaringan jalan lokal dengan

panjang kurang lebih 30,16 km dengan lebar jalan 4-6 meter.


151

Kebiasaan masyarakat yang membangun di sepanjang jaringan jalan yang

ada, sudah menjadi kebiasaan dari dulu, mengikuti pola jaringan jalan atau bisa

disebut pola linier. Hal ini juga terjadi di Kecamatan Sirimau, penduduk lebih senang

tinggal di sepanjang jalan utama, sehingga menyebabkan kepadatan yang terjadi

sepanjang jalan utama.

Jalan merupakan prasarana dasar yang sangat berpengaruh terhadap

perkembangan suatu daerah, karena dengan adanya jalan, aksesibilitas masyarakat

menjadi mudah, secara otomatis suatu daerah akan berkembang. Dengan adanya

jaringan jalan di Kecamatan Sirimau, secara otomatis masyarakat akan memilih

untuk tinggal di sepanjang jalan sehingga menyebabkan kepadatan di sepanjang jalan

yang ada di Kecamatan Sirimau sehingga berpengaruh terhadap penggunaan lahan

yang ada.

Foto 15 Permukiman di sekitar Jaringan Foto 16 Permukiman di sekitar Jaringan


Jalan di Kelurahan Amantelu Jalan di Desa Batu Merah
Sumber: Survey Lapangan Tahun 2012

Dari hasil quistioner tanggapan responden terhadap perubahan penggunaan

lahan yang terjadi di Kecamatan Sirimau terhadap 100 orang warga didapatkan hasil

yakni sebanyak 51 orang memilih faktor kependudukan, 40 orang memilih faktor

tumbuhnya pusat-pusat kegiatan, 31 orang memilih faktor harga lahan, 29 orang


152

memilih faktor kebijakan pemerintah, 15 orang memilih faktor jenis mata

pencaharian dan 13 orang memilih faktor jaringan jalan, untuk lebih jelasnya dapat di

lihat pada grafik dan tabel di bawah ini:

Gambar 35
Diagram Faktor-Faktor Penyebab Perubahan Penggunaan Lahan di
Kecamatan Sirimau Kota Ambon

60

50

40

30

20
Total
10

Sumber: Hasil Analisis Penulis Tahun 2012


153

Tabel 18
Hasil Questioner Faktor-Faktor Penyebab Perubahan Penggunaan Lahan di Kecamatan Sirimau Kota Ambon

No. Nama Responden Faktor-Faktor Penyebab Perubahan Penggunaan Lahan


1 Fany Marasabessy Tumbuhnya Pusat-Pusat Kegiatan, Harga Lahan dan Jaringan Jalan
2 Pandu Tumbuhnya Pusat-Pusat Kegiatan
3 Nur Sri Hermanty Sermaf Kependudukan dan Tumbuhnya Pusat-Pusat Kegiatan
4 Yuniar Waliulu Tumbuhnya Pusat-Pusat Kegiatan
5 Yamin Ipa Tumbuhnya Pusat-Pusat Kegiatan
6 Sahril Lesi Kependudukan, Tumbuhnya Pusat-Pusat Kegiatan
7 Hamza Sitania Kebijakan Pemerintah
8 Syirul Latip Soulisa Kependudukan
9 Sukran Latuconsina Harga Lahan
10 Dharmawati Renwarin Kependudukan
11 Narmin Adnan Kebijakan Pemerintah
12 Tri Siwi Nasrulyati Tumbuhnya Pusat-Pusat Kegiatan
13 Husen Elly Kependudukan dan Harga Lahan
14 M. Faldi A. Mussa Kependudukan dan Kebijakan Pemerintah
15 Hasmia Rumaday Tumbuhnya Pusat-Pusat Kegiatan
16 Salsa Zahra Harga Lahan
17 Ismanto Dinopawe Kependudukan
18 Galih Ramadhan Tumbuhnya Pusat-Pusat Kegiatan
19 Maharani Lamani Kependudukan dan Harga Lahan
20 Rafika Harga Lahan, Kebijakan Pemerintah dan Jaringan Jalan
21 Hapsa Marasabessy Harga Lahan, Kebijakan Pemerintah dan Jaringan Jalan
22 Rusli La Ode Harga Lahan
154

No. Nama Responden Faktor-Faktor Penyebab Perubahan Penggunaan Lahan


23 Irawati Lesi Kependudukan dan Tumbuhnya Pusat-Pusat Kegiatan
24 Abua Salampessy Tumbuhnya Pusat-Pusat Kegiatan
25 Hidayat Saimima Harga Lahan
26 Abu Saleh Baadia Harga Lahan
27 Ardhila Kebijakan Pemerintah
28 Tina Amnah Kependudukan
29 Faldi Raharusun Kependudukan
30 Wattimena Harga Lahan
31 Zulfa Husainy Tuasikal Harga Lahan
32 Dian Apriyanti Masuku Kependudukan
33 Iskandar Pattimura Kebijakan Pemerintah
34 Astuti Asgar Kependudukan
35 Arief Rahman T. Kependudukan, Harga Lahan dan Jenis Mata Pencaharian
36 Umar Tumbuhnya Pusat-Pusat Kegiatan, Harga Lahan dan Kebijakan Pemerintah
37 Hadija Marasabessy Kependudukan dan Kebijakan Pemerintah
38 Rifa Talaohu Kependudukan dan Kebijakan Pemerintah
39 Zenra Al-Khatiri Kependudukan, Kebijakan Pemerintah dan Jaringan Jalan
40 Hayudin Karepesina Kependudukan, Tumbuhnya Pusat-Pusat Kegiatan dan Kebijakan Pemerintah
41 Asrul Kebijakan Pemerintah
42 Sryanti Elys Kependudukan dan Jenis Mata Pencaharian
43 Uphy Marasabessy Kependudukan dan Kebijakan Pemerintah
44 Ridwan Kebijakan Pemerintah
45 Siti Sakinah Waraiya Tumbuhnya Pusat-Pusat Kegiatan
46 Fitri Yani Rumadan Tumbuhnya Pusat-Pusat Kegiatan dan Kebijakan Pemerintah
47 Halim Daties Kebijakan Pemerintah
155

No. Nama Responden Faktor-Faktor Penyebab Perubahan Penggunaan Lahan


48 Hanifa Lessy Tumbuhnya Pusat-Pusat Kegiatan
49 Hi. Bennunur Jenis Mata Pencaharian
50 Ika Nurhayati Tumbuhnya Pusat-Pusat Kegiatan
51 Siti Munarni Tumbuhnya Pusat-Pusat Kegiatan
52 Rahmidian Rumew Kependudukan dan Kebijakan Pemerintah
53 Al Fath Latuconsina Kependudukan dan Tumbuhnya Pusat-Pusat Kegiatan
54 A. Samra Oman Tuaputty Kependudukan dan Kebijakan Pemerintah
55 Ari Latupono Kebijakan Pemerintah dan Jaringan Jalan
56 Ahmad Tuanaya Kependudukan dan Tumbuhnya Pusat-Pusat Kegiatan
57 M. Taufan Natesh Kependudukan, Tumbuhnya Pusat-Pusat Kegiatan dan Jaringan Jalan
58 Eyat Marasabessy Harga Lahan dan Jaringan Jalan
59 Syanril Mahu Tumbuhnya Pusat-Pusat Kegiatan
60 Mita Sasmi Febiana Tumbuhnya Pusat-Pusat Kegiatan dan Jaringan Jalan
61 Ridwan Patty Jenis Mata Pencaharian
62 Wais Wattimena Tumbuhnya Pusat-Pusat Kegiatan
63 Abdullah Latupono Harga Lahan dan Jenis Mata Pencaharian
64 Ratna Tuanany Kependudukan, Harga Lahan dan Jaringan Jalan
65 Abd. Ajr. S Kebijakan Pemerintah
66 Amir Latuconsina Kependudukan, Kebijakan Pemerintah dan Jenis Mata Pencaharian
67 Usman Syarif Tumbuhnya Pusat-Pusat Kegiatan
68 Nurlaila Rumakway Kependudukan
69 Saripa Marasabessy Kependudukan
70 Fitri Ayu Namadullah Kependudukan
71 Rajab Salampessy Tumbuhnya Pusat-Pusat Kegiatan
72 Arfan Maruapey Kependudukan
156

No. Nama Responden Faktor-Faktor Penyebab Perubahan Penggunaan Lahan


73 Husain Slamet Tumbuhnya Pusat-Pusat Kegiatan
74 Rusdin Tutupoho Kependudukan dan Jenis Mata Pencaharian
75 Kalsum Usemahu Tumbuhnya Pusat-Pusat Kegiatan, Harga Lahan dan Jaringan Jalan
76 Abd. Wahab Tumbuhnya Pusat-Pusat Kegiatan, Harga Lahan dan Jenis Mata Pencaharian
77 Munawir Tumbuhnya Pusat-Pusat Kegiatan, Harga Lahan dan Jenis Mata Pencaharian
78 Rahim Latar Kependudukan, Harga Lahan dan Jenis Mata Pencaharian
79 Faridah Bahanan Kependudukan, Harga Lahan dan Kebijakan Pemerintah
80 Amira Kependudukan, Tumbuhnya Pusat-Pusat Kegiatan dan Jaringan Jalan
81 M. Saleh Kependudukan, Harga Lahan dan Jaringan Jalan
82 Ainun Harga Lahan, Kebijakan Pemerintah dan Jaringan Jalan
83 Maman Arman Kependudukan, Tumbuhnya Pusat-Pusat Kegiatan dan Kebijakan Pemerintah
84 Wa Ati Kependudukan dan Jenis Mata Pencaharian
85 Alexander Talakua Kependudukan
86 Priska Manuhutu Kependudukan dan Harga Lahan
87 Abdul Hamid Kependudukan dan Jenis Mata Pencaharian
88 Sapriyanti Tualeka Kependudukan
Kependudukan, Tumbuhnya Pusat-Pusat Kegiatan, Harga Lahan, Kebijakan Pemerintah dan Jenis Mata
89 Siti Dwijayanti
Pencaharian
90 Rian Andalusia Kependudukan dan Tumbuhnya Pusat-Pusat Kegiatan
91 La Ana Jenis Mata Pencaharian
92 Bastian Tito Kependudukan, Tumbuhnya Pusat-Pusat Kegiatan, Harga Lahan dan Kebijakan Pemerintah
93 Sedek Kependudukan, Harga Lahan dan Kebijakan Pemerintah
94 Wa Rifa Sumbagio Tumbuhnya Pusat-Pusat Kegiatan dan Kebijakan Pemerintah
95 Fandi Talaohu Kependudukan dan Tumbuhnya Pusat-Pusat Kegiatan
157

No. Nama Responden Faktor-Faktor Penyebab Perubahan Penggunaan Lahan


96 Halimah Kependudukan dan Jenis Mata Pencaharian
97 Amrolah Latupono Kependudukan, Tumbuhnya Pusat-Pusat Kegiatan dan Harga Lahan
98 Hapsah Usemahu Kependudukan, Tumbuhnya Pusat-Pusat Kegiatan dan Harga Lahan
99 Sugianto Tumbuhnya Pusat-Pusat Kegiatan dan Harga Lahan
10
Rahmat Tuasalamony Kependudukan
0
Sumber: Hasil Analisis Penulis Tahun 2012
158

Dari hasil questioner didapatkan bahwa faktor yang paling berpengaruh

terhadap perubahan penggunaan lahan yang terjadi di Kecamatan Sirimau Kota

Ambon yakni faktor kependudukan. Jumlah responden yang memilih faktor

kependudukan ini adalah 51 orang. Pertambahan jumlah pendudukan yang setiap

tahunnya mengalami peningkatan di Kecamatan Sirimau sejak tahun 2006 sampai

2010 dan setelah di proyeksikan hingga tahun 2020 jumlah penduduk Kecamatan

Sirimau diperkirakan sekitar 251.499 jiwa. Pertambahan jumlah penduduk

berdampak kepada perubahan penggunaan lahan di karenakan semakin banyak

penduduk, artinya kebutuhan akan rumah juga pasti semakin banyak, dengan

semakin banyaknya kebutuhan masyarakat akan rumah, akan berdampak kepada

penggunaan lahan yang ada.

5.6. Analisis Dampak Perubahan Penggunaan Lahan di Kecamatan


Sirimau
Terdapat beberapa dampak dari perubahan penggunaan lahan yang terjadi di

Kecamatan Sirimau, yakni: lingkungan menjadi rusak, aksesiblitas menjadi lancar,

naiknya harga lahan, pendapatan masyarakat meningkat, lingkungan menjadi tidak

aman, perubahan tatanan sosial, lingkungan menjadi lebih baik, aksesibilitas menjadi

tidak lancar, menurunnya harga lahan, pendapatan masyarakat menurun dan

lingkungan menjadi tidak aman. Dengan metode questioner, diketahui dampak apa

yang paling dominan menyebabkan terjadinya perubahan penggunaan lahan di

Kecamatan Sirimau Kota Ambon, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada diagram

dan tabel berikut ini:


159

Gambar 36
Diagram Dampak Perubahan Penggunaan Lahan
di Kecamatan Sirimau Kota Ambon

50
45
40
35
30
25
20
15
10
5
0

Sumber: Hasil Analisis Penulis Tahun 2012


160

Tabel 19
Hasil Questioner Dampak Perubahan Penggunaan Lahan Di Kecamatan Sirimau Kota Ambon

No. Nama Responden Dampak Perubahan Penggunaan Lahan


Lingkungan Menjadi Rusak, Harga Lahan Naik, Aksesibilitas Tidak Lancar dan Lingkungan Jadi Tidak
1 Fany Marasabessy
Aman
2 Pandu Aksesibilitas Lancar, Lingkungan Jadi Aman dan Harga Lahan Menurun
3 Nur Sri Hermanty Sermaf Aksesibilitas Lancar dan Perubahan Tatanan Sosial
4 Yuniar Waliulu Harga Lahan Naik
5 Yamin Ipa Harga Lahan Naik
6 Sahril Lesi Aksesibilitas Lancar dan Lingkungan Menjadi Baik
7 Hamza Sitania Lingkungan Menjadi Rusak
8 Syirul Latip Soulisa Lingkungan Jadi Aman dan Lingkungan Menjadi Baik
9 Sukran Latuconsina Aksesibilitas Lancar, Lingkungan Menjadi Baik dan Harga Lahan Menurun
10 Dharmawati Renwarin Aksesibilitas Tidak Lancar dan Lingkungan Jadi Tidak Aman
11 Narmin Adnan Aksesibilitas Lancar
12 Tri Siwi Nasrulyati Lingkungan Menjadi Rusak, Aksesibilitas Tidak Lancar dan Lingkungan Jadi Tidak Aman
13 Husen Elly Lingkungan Menjadi Rusak, Pendapatan Meningkat dan Pendapatan Menurun
14 M. Faldi A. Mussa Aksesibilitas Tidak Lancar
15 Hasmia Rumaday Harga Lahan Naik
16 Salsa Zahra Lingkungan Jadi Tidak Aman
17 Ismanto Dinopawe Lingkungan Menjadi Rusak dan Harga Lahan Naik
18 Galih Ramadhan Lingkungan Menjadi Rusak
19 Maharani Lamani Harga Lahan Naik, Perubahan Tatanan Sosial dan Aksesibilitas Tidak Lancar
20 Rafika Lingkungan Menjadi Rusak, Perubahan Tatanan Sosial, Aksesibilitas Tidak Lancar dan Lingkungan Jadi
161

No. Nama Responden Dampak Perubahan Penggunaan Lahan


Tidak Aman
21 Hapsa Marasabessy Harga Lahan Naik, Pendapatan Meningkat, Lingkungan Jadi Aman dan Perubahan Tatanan Sosial
22 Rusli La Ode Lingkungan Menjadi Rusak
23 Irawati Lesi Harga Lahan Naik dan Perubahan Tatanan Sosial
24 Abua Salampessy Lingkungan Menjadi Rusak dan Aksesibilitas Tidak Lancar
25 Hidayat Saimima Lingkungan Menjadi Rusak, Pendapatan Meningkat dan Harga Lahan Menurun
26 Abu Saleh Baadia Lingkungan Jadi Tidak Aman
27 Ardhila Lingkungan Menjadi Rusak, Aksesibilitas Tidak Lancar dan Lingkungan Jadi Tidak Aman
28 Tina Amnah Lingkungan Menjadi Rusak
29 Faldi Raharusun Aksesibilitas Tidak Lancar
30 Wattimena Perubahan Tatanan Sosial dan Aksesibilitas Tidak Lancar
31 Zulfa Husainy Tuasikal Aksesibilitas Lancar dan Lingkungan Menjadi Baik
32 Dian Apriyanti Masuku Aksesibilitas Lancar dan Lingkungan Menjadi Baik
Lingkungan Menjadi Rusak, Harga Lahan Naik, Aksesibilitas Tidak Lancar dan Lingkungan Jadi Tidak
33 Iskandar Pattimura
Aman
34 Astuti Asgar Lingkungan Menjadi Rusak dan Pendapatan Meningkat
35 Arief Rahman T. Harga Lahan Naik, Perubahan Tatanan Sosial dan Aksesibilitas Tidak Lancar
Lingkungan Menjadi Rusak, Harga Lahan Naik, Aksesibilitas Tidak Lancar dan Lingkungan Jadi Tidak
36 Umar
Aman
37 Hadija Marasabessy Perubahan Tatanan Sosial, Lingkungan Menjadi Baik dan Lingkungan Jadi Tidak Aman
38 Rifa Talaohu Lingkungan Menjadi Rusak dan Lingkungan Jadi Tidak Aman
Pendapatan Meningkat, Aksesibilitas Tidak Lancar, Harga Lahan Menurun dan Lingkungan Jadi Tidak
39 Zenra Al-Khatiri
Aman
162

No. Nama Responden Dampak Perubahan Penggunaan Lahan


Lingkungan Menjadi Rusak, Lingkungan Jadi Aman, Perubahan Tatanan Sosial dan Aksesibilitas Tidak
40 Hayudin Karepesina
Lancar
41 Asrul Perubahan Tatanan Sosial
42 Sryanti Elys Lingkungan Menjadi Rusak dan Perubahan Tatanan Sosial
43 Uphy Marasabessy Lingkungan Menjadi Rusak, Perubahan Tatanan Sosial dan Lingkungan Jadi Tidak Aman
44 Ridwan Lingkungan Menjadi Rusa
45 Siti Sakinah Waraiya Aksesibilitas Tidak Lancar
46 Fitri Yani Rumadan Aksesibilitas Tidak Lancar
47 Halim Daties Lingkungan Menjadi Rusak, Aksesibilitas Tidak Lancar dan Lingkungan Jadi Tidak Aman
48 Hanifa Lessy Aksesibilitas Lancar
49 Hi. Bennunur Perubahan Tatanan Sosial
50 Ika Nurhayati Lingkungan Menjadi Rusak
51 Siti Munarni Lingkungan Menjadi Rusak
Lingkungan Menjadi Rusak, Aksesibilitas Tidak Lancar, Pendapatan Menurun dan Lingkungan Jadi
52 Rahmidian Rumew
Tidak Aman
53 Al Fath Latuconsina Lingkungan Menjadi Rusak
54 A. Samra Oman Tuaputty Lingkungan Menjadi Rusak, Aksesibilitas Tidak Lancar dan Lingkungan Jadi Tidak Aman
55 Ari Latupono Harga Lahan Naik, Pendapatan Meningkat dan Lingkungan Menjadi Baik
56 Ahmad Tuanaya Harga Lahan Naik, Pendapatan Meningkat, Perubahan Tatanan Sosial dan Aksesibilitas Tidak Lancar
57 M. Taufan Natesh Aksesibilitas Lancar dan Perubahan Tatanan Sosial
58 Eyat Marasabessy Lingkungan Menjadi Rusak, Harga Lahan Naik dan Perubahan Tatanan Sosial
59 Syanril Mahu Pendapatan Meningkat
60 Mita Sasmi Febiana Lingkungan Menjadi Rusak dan Harga Lahan Naik
163

No. Nama Responden Dampak Perubahan Penggunaan Lahan


61 Ridwan Patty Harga Lahan Naik dan Perubahan Tatanan Sosial
62 Wais Wattimena Perubahan Tatanan Sosial
63 Abdullah Latupono Harga Lahan Naik dan Aksesibilitas Tidak Lancar
Harga Lahan Naik, Perubahan Tatanan Sosial, Aksesibilitas Tidak Lancar dan Lingkungan Jadi Tidak
64 Ratna Tuanany
Aman
65 Abd. Ajr. S Lingkungan Menjadi Rusak
66 Amir Latuconsina Lingkungan Jadi Aman, Perubahan Tatanan Sosial dan Lingkungan Menjadi Baik
67 Usman Syarif Pendapatan Meningkat
68 Nurlaila Rumakway Harga Lahan Naik
69 Saripa Marasabessy Pendapatan Meningkat
70 Fitri Ayu Namadullah Pendapatan Meningkat
71 Rajab Salampessy Aksesibilitas Lancar
72 Arfan Maruapey Aksesibilitas Lancar, Pendapatan Meningkat dan Harga Lahan Menurun
73 Husain Slamet Lingkungan Menjadi Rusak dan Harga Lahan Naik
74 Rusdin Tutupoho Harga Lahan Naik dan Lingkungan Menjadi Baik
Lingkungan Menjadi Rusak, Harga Lahan Naik, Aksesibilitas Tidak Lancar dan Lingkungan Jadi Tidak
75 Kalsum Usemahu
Aman
Lingkungan Menjadi Rusak, Harga Lahan Naik, Aksesibilitas Tidak Lancar dan Lingkungan Jadi Tidak
76 Abd. Wahab
Aman
Lingkungan Menjadi Rusak, Harga Lahan Naik, Aksesibilitas Tidak Lancar dan Lingkungan Jadi Tidak
77 Munawir
Aman
78 Rahim Latar Lingkungan Menjadi Rusak, Harga Lahan Naik, Perubahan Tatanan Sosial dan Aksesibilitas Tidak
164

No. Nama Responden Dampak Perubahan Penggunaan Lahan


Lancar
Lingkungan Menjadi Rusak, Harga Lahan Naik, Perubahan Tatanan Sosial dan Lingkungan Jadi Tidak
79 Faridah Bahanan
Aman
Lingkungan Menjadi Rusak, Perubahan Tatanan Sosial, Aksesibilitas Tidak Lancar dan Lingkungan Jadi
80 Amira
Tidak Aman
Lingkungan Menjadi Rusak, Perubahan Tatanan Sosial, Aksesibilitas Tidak Lancar dan Lingkungan Jadi
81 M. Saleh
Tidak Aman
Lingkungan Menjadi Rusak, Harga Lahan Naik, Perubahan Tatanan Sosial dan Lingkungan Jadi Tidak
82 Ainun
Aman
Lingkungan Menjadi Rusak, Aksesibilitas Lancar, Harga Lahan Naik, Pendapatan Meningkat,
83 Maman Arman
Lingkungan Menjadi Aman dan Perubahan Tatanan Sosial
Pendapatan Meningkat, Lingkungan Menjadi Aman, Perubahan Tatanan Sosial dan Lingkungan
84 Wa Ati
Menjadi Baik
85 Alexander Talakua Harga Lahan Naik, Pendapatan Meningkat dan Perubahan Tatanan Sosial
Lingkungan Menjadi Rusak, Aksesibilitas Tidak Lancar, Harga Lahan Menurun dan Pendapatan
86 Priska Manuhutu
Menurun
87 Abdul Hamid Lingkungan Jadi Tidak Aman, Perubahan Tatanan Sosial dan Lingkungan Menjadi Baik
88 Sapriyanti Tualeka Harga Lahan Naik
89 Siti Dwijayanti Aksesibilitas Lancar, Harga Lahan Naik, Pendapatan Meningkat, Lingkungan Jadi Aman dan
165

No. Nama Responden Dampak Perubahan Penggunaan Lahan


Lingkungan Menjadi Baik
90 Rian Andalusia Aksesibilitas Lancar, Harga Lahan Naik, Pendapatan Meningkat dan Lingkungan Jadi Aman
91 La Ana Lingkungan Jadi Aman, Perubahan Tatanan Sosial, Lingkungan Menjadi Baik dan Pendapatan Menurun
Lingkungan Menjadi Rusak, Aksesibilitas Tidak Lancar, Harga Lahan Menurun, Pendapatan Menurun
92 Bastian Tito
dan Lingkungan Jadi Tidak Aman
Lingkungan Menjadi Rusak, Harga Lahan Naik, Perubahan Tatanan Sosial, Aksesibilitas Tidak Lancar
93 Sedek
dan Lingkungan Jadi Tidak Aman
94 Wa Rifa Sumbagio Aksesibilitas Lancar, Lingkungan Jadi Aman dan Lingkungan Menjadi Baik
Lingkungan Menjadi Aman, Harga Lahan Naik, Perubahan Tatanan Sosial, Aksesibilitas Tidak Lancar
95 Fandi Talaohu
dan Lingkungan Jadi Tidak Aman
96 Halimah Lingkungan Menjadi Rusak, Harga Lahan Naik dan Perubahan Tatanan Sosial
Lingkungan Menjadi Rusak, Harga Lahan Naik, Perubahan Tatanan Sosial, Aksesibilitas Tidak Lancar
97 Amrolah Latupono
dan Lingkungan Jadi Tidak Aman
98 Hapsah Usemahu Lingkungan Menjadi Rusak, Harga Lahan Naik dan Pendapatan Menurun
Lingkungan Menjadi Rusak, Perubahan Tatanan Sosial, Aksesibilitas Tidak Lancar dan Lingkungan Jadi
99 Sugianto
Tidak Aman
10 Lingkungan Menjadi Rusak, Harga Lahan Naik, Perubahan Tatanan Sosial, Aksesibilitas Tidak Lancar
Rahmat Tuasalamony
0 dan Lingkungan Jadi Tidak Aman
Sumber: Hasil Analisis Penulis Tahun 2012
166

Anda mungkin juga menyukai