Anda di halaman 1dari 58

56

BAB IV

GAMBARAN UMUM WILAYAH

4.1. Gambaran Umum Kota Ambon

4.1.1. Kondisi Geografis dan Administratif Kota Ambon

Kota Ambon merupakan Ibu Kota Provinsi Maluku. Sesuai Peraturan

Pemerintah Nomor 13 Tahun 1979 luas wilayah Kota Ambon seluruhnya 340,55 km2

dan berdasarkan hasil Survey Tata Guna Tanah tahun 1980 luas daratan Kota Ambon

tercatat 323 km2 yang membujur di sepanjang pantai mengelilingi perairan Teluk

Ambon dan Teluk Dalam. Letak Kota Ambon berada sebagian besar dalam wilayah

pulau Ambon dan secara geografis terletak pada posisi geografis: 3o-4o Lintang

Selatan dan 128-129 Bujur Timur. Kota Ambon memiliki batas wilayah:

Sebelah Barat : Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah

Sebelah Utara : Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah

Sebelah Timur : Kecamatan Salahutu Kabupaten Maluku Tengah

Sebelah Selatan : Laut Banda

Sesuai Perda Kota Ambon Nomor 2 Tahun 2006, Kota Ambon memiliki lima

kecamatan yakni Kecamatan Nusaniwe, Kecamatan Sirimau, Kecamatan Teluk

Ambon, Kecamatan Teluk Ambon Baguala dan Kecamatan Keitimur Selatan.


57

Tabel 2
Luas Kota Ambon Dirinci per Kecamatan

No. Nama Kecamatan Luas (km2)


1 Kecamatan Nusaniwe 51,81
2 Kecamatan Sirimau 24,5
3 Kecamatan Teluk Ambon 132,23
4 Kecamatan Teluk Ambon Baguala 56
5 Kecamatan Leitimur Selatan 58,29
Jumlah 323
Sumber: Kota Ambon Dalam Angka Tahun 2011, Badan Pusat Statistik

Gambar 6
Diagram Luas Kota Ambon Dirinci per Kecamatan
132.23
140
120
100 51.81 56 58.29
80
60 24.5
40
20
0

Sumber: Hasil Analisis Penulis Tahun 2012


58

Gambar 7
Peta Administrasi Kota Ambon

Sumber: Badan Perencanaan Pembangunan Kota Ambon Tahun 2012


59

4.1.2. Kondisi Daratan Kota Ambon


a. Topografi dan Kemiringan Lereng
Kepulauan Maluku merupakan pulau-pulau vulkanis, sehingga secara umum

Kota Ambon memiliki wilayah yang sebagian besar terdiri dari daerah berbukit dan

berlereng terjal. Sebesar 73% dari luas wilayahnya dapat dikategorikan berlereng

terjal, dengan kemiringan di atas 20%. Hanya 17% dari wilayah daratannya yang

dapat diklasifikasikan datar atau landai dengan kemiringan kurang dari 20%.

Topografi Kota Ambon sangat beragam yang di mana terdapat ketinggian antara 0-

800 meter sedangkan untuk kemiringan lerengnya, terdapat kemiringan lereng yang

beragam yakni, 0-8%, 8-15%, 15-25%, 25-40% dan juga >40%.


60

Gambar 8
Peta Topografi Kota Ambon

Sumber: Badan Perencanaan Pembangunan Kota Ambon Tahun 2012


61

Gambar 9
Peta Kemiringan Lereng Kota Ambon

Sumber: Badan Perencanaan Pembangunan Kota Ambon Tahun 2012


62

b. Jenis Tanah dan Batuan

Jenis tanah yang terdapat di Kota Ambon pada umumnya terdapat 6 jenis

tanah yaitu alluvial, regosol, gleisol, kambisol, rendzina dan litosol. Untuk lebih

jelasnya dapat dilihat pada peta jenis Kota Ambon di bawah ini.

Menurut peta geologi Pulau Ambon yang dikeluarkan oleh Direktorat

Geologi Departemen Pertambangan dan Energi. Kondisi geologi Kota Ambon dan

Pulau Ambon pada umumnya dibentuk oleh 3 (tiga) formasi batuan, yaitu:

1. Batuan Aluvium (Qa), yang terdiri dari aluvial pantai, sungai dan rawa yang

berbentuk pasir, lempung, lanau, kerikil, kerakal, dan sisa tumbuhan. Jenis ini

pada dasarnya merupakan lapisan yang subur bagi tanaman pertanian.


2. Batuan Gunung Api Ambon (Tpav), yang berupa material lepas yang terdiri

dari lava andesit, dasit, breksi tuf dan tuf secara fisik lava andesit berwarna

kelabu kehitaman dengan ukuran sangat halus, afanitik dan menunjukkan

struktur aliran, breaksi tuf dan tuf pada umumnya telah lapuk, mengandung

komponen andesit dan desit. Pada umumnya tanah jenis ini digunakan

sebagai kebun campuran, permukiman dan tegalan, sedangkan jenis tanah

batuan gamping, dasit dan metafir banyak terdapat di daerah dengan

kemiringan > 30 % yang biasanya digunakan sebagai kawasan lindung.


3. Batuan Gamping Koral (Q1), yang terdiri dari koloni koral, ganggang dan

bryozoa yang secara fisik berwarna putih-kotor, keras, berongga-rongga yang

terisi kalsit dan pecahan koral.


63

Gambar 10
Peta Jenis Tanah Kota Ambon

Sumber: Badan Perencanaan Pembangunan Kota Ambon Tahun 2012


64

4.1.3. Kondisi Hidro-Oceanografi Kota Ambon


a. Klimatologi
Iklim suatu daerah adalah pola cuaca rata-rata yang dialami, yang diukur

selama selama periode waktu yang lama. Iklim di Kota Ambon adalah iklim laut

tropis dan iklim musim. Iklim laut tropis dipengaruhi oleh lautan dan berlangsung

bersamaan dengan iklim musim barat atau musim utara dan musim timur dan musin

tenggara, yang diselingi oleh musim pancaroba atau musim peralihan. Musim barat

umumnya berlangsung dari bulan Desember hingga Maret yang ditandai dengan

curah hujan yang rendah, dan musim timur berlangsung dari bulan Mei sampai

dengan bulan Oktober yang ditandai dengan curah hujan tinggi, dan diselingi oleh

musim pancaroba pada bulan Nopember yang merupakan transisi ke musim barat.

Sedangkan curah hujan di Kota Ambon selalu bergantian dan berubah setiap

tahunnya.
65

Gambar 11
Grafik Curah Hujan Di Kota Ambon Tahun 2008-2010

Sumber: Kota Ambon Dalam Angka Tahun 2011, Badan Pusat Statistik

Tabel 3
Banyaknya Curah Hujan dan Hari Hujan di Kota Ambon Dirinci per Bulan
Tahun 2006-2010

2006 2007 2008 2009 2010


CH CH CH CH CH
Bulan
HH HH HH HH HH
(mm) (mm) (mm) (mm) (mm)
Januari 179,3 22 140,6 20 252,4 20 191,1 18 165,6 19
Februari 237,0 19 104,0 19 206,4 19 89,0 18 30,8 7
Maret 119,8 15 77,2 17 78,2 17 980,0 13 109,0 16
April 170,2 17 295,5 22 271 24 114,9 15 113,0 17
Mei 379,0 20 254,2 23 643,5 28 358,6 24 353,1 21
Juni 1.385, 30 1.049, 24 736,0 28 228,8 21 814,7 27

9 7
Juli 285,4 27 191,0 26 894,4 29 332,6 28 735,5 24
Agustus 70,4 16 374,1 29 1.296, 30 78,8 15 848,9 28
66

2006 2007 2008 2009 2010


CH CH CH CH CH
Bulan
HH HH HH HH HH
(mm) (mm) (mm) (mm) (mm)
7
September 151,4 15 348,0 15 769,0 24 134,6 11 209,5 25
Oktober 6,6 6 231,6 16 214,0 22 191,9 10 105,8 17
November 18,2 8 117,8 18 119,6 14 79,5 11 159,3 15
Desember 141,4 8 232,0 25 229,4 21 24,0 11 262,2 22
Jumlah 2.583, 231 3.144, 203 3.415, 255 2.803, 195 3.907, 238

5 6 7 8 4
Keterangan: CH= Curah Hujan
mm= millimeter
HH= Hari Hujan
Sumber: Kota Ambon Dalam Angka Tahun 2011, Badan Pusat Statistik

b. Hidrologi

Hidrologi Kota Ambon meliputi kondisi air permukaan dan air tanah. Untuk

selengkapnya, sebagai berikut:

1. Air Permukaan

Air permukaan dalam hal ini adalah air sungai dan mata air. Di Kota Ambon

terdapat beberapa aliran sungai (wai) yang cukup panjang, diantaranya Wai Ruhu

(9,10 Km), Wai Batu Merah (4,25 Km), Wai Tomu (4,20 Km), Wai Batu Gajah (3,10

Km), Wai Tonahitu (6 Km), Wai Lela (7,8) Km), Wai Pia Besar (6 Km), Wai Lawa

(9,5 Km) dan Wai Sikula di Desa Laha yang merupakan aliran sungai terpanjang 15,5

Km. Sungai-sungai tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sumber air baku untuk

mencuci dan mandi, khususnya untuk sungai yang berada diwilayah pedesaan,

sedangkan sungai-sungai yang berada di wilayah perkotaan kondisinya sudah

tercemar karena dimanfaatkan sebagai saluran pembuangan air limbah rumah tangga.
67

Selain sungai, sumber air baku lainnya adalah mata air (ada 8 lokasi), dua

diantaranya sudah dimanfaatkan oleh PDAM Kota Ambon sebagai sumber air baku,

yaitu mata air Wainitu dan Wai Pompa. Wainitu terletak di Kelurahan Wainitu

Kecamatan Nusaniwe untuk daerah pelayanan sekitar pusat kota, sedangkan Wai

Pompa terletak di Desa Halong Kecamatan Teluk Ambon Baguala, untuk daerah

pelayanan sekitar Desa Halong dan Desa Hative Kecil.

2. Air Tanah

Penduduk yang bermukim pada daerah-daerah yang relatif rendah, untuk

kebutuhan sehari-harinya sebagian besar menggunakan air tanah dangkal berupa

sumur gali, sumur pompa tangan atau pompa listrik. Air tanah dangkal pada daerah

datar tersebut memiliki kedalaman muka air tanah yang bervariasi namun relatif

rendah yaitu 1 5 meter. Namun kualitas air tanah dangkal tersebut pada umumnya

kurang baik karena letaknya sangat dekat dengan pantai, maka air tanah dangkal

tersebut kemungkinan terkena intruisi air laut, bahkan sebagian tercemar oleh

bakteri. Sementara untuk air tanah dalam banyak terdapat pada kedalam lebih dari 50

meter dengan kualitas yang cukup baik.


68

Gambar 12
Peta Hidrologi Kota Ambon

Sumber: Badan Perencanaan Pembangunan Kota Ambon Tahun 2012


69

c. Kecepatan Angin

Angin merupakan salah satu parameter menilai dan menafsirkan kondisi yang

akan terjadi di sekitar perairan. Stasiun Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika

wilayah IV Ambon mencatat bahwa pada tahun 2011, bulan agustus memiliki jumlah

kecepatan angin yang besar yaitu 165,5 knot dengan rata-rata 5,4 knot sedangkan

untuk kecepatan angin yang terkecil terjadi di bulan april dengan jumlah kecepatan

89,8 knot dan rata-rata kecepatan angin yaitu 3 knot. Untuk lebih jelasnya dapat

dilihat pada tabel tentang kecepatan angin yang terjadi di Kota Ambon berikut ini.

Tabel 4
Kecepatan Angin Di Kota Ambon Dirinci Perbulan Tahun 2011

Bulan Jumlah (knot) Rata-Rata (knot)


Januari 106,8 3,5
Februari 101,8 3,8
Maret 106,4 3,4
April 89,8 3
Mei 104,6 3,4
Juni 142,6 4,7
Juli 153,3 5
Agustus 165,5 5,4
September 135,5 4,5
Oktober 126,7 4,1
November 144,6 4,8
Desember 150,7 4,8
Sumber: Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisikan Wilayah IV

Stasiun Meterologi Pattimura Ambon Tahun 2011

4.1.4. Kondisi Kependudukan Kota Ambon

Jumlah penduduk Kota Ambon pada pertengahan tahun 2010 berdasarkan

hasil Sensus Penduduk 2010 berjumlah 331.254 jiwa. Jika dibandingkan dengan
70

jumlah penduduk pada tahun 2009 meningkat sangat tajam, yaitu sebesar 16,31

persen. Hal tersebut bisa dijelaskan karena angka pada tahun-tahun sebelumnya

merupakan hasil proyeksi penduduk dengan menggunakan angka Sensus Penduduk

2000dimana angka tersebut kurang dapat mencerminkan keadaan sesunggguhnya

mengingat konflik sosial yang terjadi di Kota Ambon pada tahun 1999serta angka

Survei Penduduk Antar Sensus 2005.

Penduduk masih terkonsentrasi di Kecamatan Sirimau dengan tingkat

kepadatan penduduk sebesar 5.716,9 jiwa per km2. Sementara itu Kecamatan yang

paling jarang penduduknya adalah Kecamatan Leitimur Selatan dengan tingkat

kepadatan penduduk yang hanya sebesar 161,28 jiwa per km2.

Tabel 5
Penduduk Menuru Jenis Kelamin di Kota Ambon Tahun 1990-2010
Tah Laki- Persen Peremp Persen Juml

un Laki tase uan tase ah

(jiwa) (%) (jiwa) (%) (jiwa

)
200 111.16 50,31 109.824 49,69 220.

1 4 988
200 117.36 50,33 115.952 49,70 233.

2 7 319
200 122.72 50,10 122.161 49,90 244.

3 9 890
200 129.58 50,27 128.191 49,73 257.

4 3 774
200 132.32 50,32 130.645 49,68 262.

5 2 967
200 132.15 50,22 130.994 49,78 263.
71

Tah Laki- Persen Peremp Persen Juml

un Laki tase uan tase ah

(jiwa) (%) (jiwa) (%) (jiwa

)
6 2 146
200 136.14 50,06 135.832 49,94 271.

7 0 972
200 141.38 50,26 139.906 49,74 281.

8 7 293
200 142.79 50,14 142.018 49,86 284.

9 1 809
201 165.92 50,09 165.328 49,91 331.

0 6 254
Sumber: Kota Ambon Dalam Angka Tahun 2011, Badan Pusat Statistik
Gambar 13
Grafik Pertumbuhan Penduduk Kota Ambon dari Tahun 2001-2010
350000

300000

250000

200000

150000

100000

50000

0
2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010

Sumber: Hasil Analisis Penulis Tahun 2012


72

Tabel 6
Luas Wilayah Daratan, Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk di Kota
Ambon Dirinci per Kecamatan Tahun 2006-2010
Kecamata Luas Daratan Jumlah Penduduk Kepadata

n n

Penduduk

Tiap km2
2
(km ) Persentas L P J

e (%)
Nusaniwe 51,81 16,05 44.385 45.481 89.866 1.734,53
Sirimau 24,50 7,59 69.984 70.080 140.06 5.716,9

4
Teluk 132,2 40,96 19.641 18.810 38.451 290,79

Ambon 3
T. A. 56 17,35 27.239 26.233 53.472 954.86

Baguala
Leitimur 58,29 18,06 4.677 4.724 9.401 161.28

Selatan
Tahun 323 100 165.92 165.32 331.25 1025.55

2010 6 8 4
2009 323 100 143.86 140.94 284.80 881.761

9 0 9
2008 323 100 141.38 139.90 281.29 870.88

7 6 3
2007 323 100 136.14 135.83 271.97 842.02

0 2 2
2006 323 100 132.15 139.90 263.14 814,7

2 6 6
Sumber: Kota Ambon Dalam Angka Tahun 2011, Badan Pusat Statistik
73

Tabel 7
Jumlah Penduduk Usia Kerja (15 Tahun ke Atas) yang Bekerja Menurut
Lapangan Usaha Utama dan Jenis Kelamin di Kota Ambon Tahun 2010
Lapangan Usaha Utama Laki-Laki Perempuan (jiwa) Jumlah (jiwa)

(jiwa)
Pertanian 8.931 2.811 11.742
Pertambangan dan 846 - 846

Penggalian
Industri Pengolahan 3.742 2.521 6.263
Listrik, Gas dan Air 232 - 232
Konstruksi 6.742 317 7.059
Perdagangan, Hotel dan 13.928 20.482 34.410

Restoran
Transportasi dan 17.873 1.183 19.056

Komunikasi
Keuangan, Persewaan 2.624 879 3.503

dan Jasa Keuangan


Jasa-Jasa lainnya 18.998 20.705 39.703
Jumlah 73.916 48.898 122.814
Sumber: Kota Ambon Dalam Angka Tahun 2011, Badan Pusat Statistik

Gambar 14
Diagram Penduduk Menurut Jenis Pekerjaan di Kota Ambon
74

40000
35000
30000
25000
20000
15000
10000
5000
0

Sumber: Hasil Analisis Penulis Tahun 2012

4.1.5. Tinjauan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Ambon

Prinsip pembagian wilayah pelayanan adalah merata, dan optimasi

pengembangan sentra kegiatan yang ada saat ini. Masing-masing Satuan Wilayah

Pengembangan (SWP) ditetapkan dengan kesatuan fungsi, terdapat batas-batas yang

jelas dari batas administrasi atau batas fisik, dan membutuhkan kesatuan

pengelolaan. Aspek yang membatasi pengembangan ruang Kota Ambon di antaranya

adanya Bandara Pattimura di Laha dan standar keselamatan operasional penerbangan

sehingga kawasan dalam radius pembatasan kegiatan tersebut, dalam struktur ruang

Kota Ambon disebut sebagai SWP Kawasan Khusus yang mencakup sekitar Laha

dan Tawiri.

Mengingat kedalaman materi perencanaan pada RTRW Kota Ambon adalah

rencana umum maka skala pelayanan lingkungan yang dikembangkan diutamakan

pada skala SWP. Sebagai pendukung sistem pusat pelayanan di dalam SWP juga
75

diusulkan konsep pengembangan skala lingkungan pemukiman dan pelayanan unit-

unit secara hirarkis hingga unit terkecil, yaitu dengan pembagian BWK dan unit-unit

pelayanan pemukiman. Masing-masing SWP adalah sebagai berikut :

SWP I Pusat Kota

Kawasan Pusat Kota dan sekitarnya, yaitu mulai dari Taman Makmur di

sebelah barat sampai Galala di sebelah timur, sebagian kawasan teluk Ambon di utara

dan di bagian selatan batas kelurahan Kudamati, Kelurahan Batu Gajah, Kelurahan

Batu Meja, Negeri Soya, Kelurahan Karang Panjang, Negeri Batu Merah terus ke

selatan Negeri Galala. SWP 1 adalah sebagai SWP tersendiri dengan satu kesatuan

fungsional sebagai pemusatan fungsi pelayanan kota primer. Hampir seluruh SWP ini

merupakan kawasan perkotaan dengan fungsi pemerintahan, komersial, perdagangan,

dan jasa serta permukiman. Batas SWP diintegrasikan dengan wilayah perairan/teluk

mengingat peran wilayah perairan terkait erat dengan keberadaan pelabuhan laut

pada kawasan ini. SWP Pusat

Kota ini memiliki potensi lahan datar yang relatif luas, sentral dalam arti

memiliki akses tinggi ke seluruh kota dan adanya kelengkapan prasarana dan sarana

kota. Luas SWP Pusat Kota adalah sekitar 31,28 km2.

SWP II Passo

Kawasan Passo dan sekitarnya dengan wilayah pelayanan cukup meluas

hingga mencakup Teluk Ambon Dalam (TAD) sebagai satu kesatuan mengingat

pengembangan Passo ke depan dan kelestarian TAD sangat erat terkait dan

membutuhkan keterpaduan pengelolaan dan pembangunan. SWP 2 Passo di sebelah

timur berbatasan dengan Teluk Baguala, sebelah barat dengan Desa Poka dan Negeri
76

Galala, sebelah utara dengan daerah pegunungan dan Kabupaten Maluku Tengah,

serta sebelah selatan dengan Kecamatan Leitimur Selatan. SWP ini memiliki potensi

pertumbuhan yang tinggi dan menjadi lokasi transit dari wilayah sekitar melalui

pelabuhan laut penyeberangan di Hitu, Liang dan Tulehu. Di samping itu daerahnya

memiliki lahan datar cukup luas, dekat pantai, dan daya tarik wisata. Luas SWP

Passo adalah sekitar 59,43 km2 dan berorientasi ke pusat SWP di Passo.

SWP III Wayame

Kawasan Rumah Tiga-Poka-Wayame dan sekitarnya, mulai dari Desa Poka di

sebelah timur terus sampai ke Negeri Tawiri di sebelah barat, daerah pegunungan dan

kabupaten Maluku Tengah di utara, dan sebagian kawasan Teluk Ambon yang

berbatasan langsung dengan SWP 1 di selatan. SWP ini merupakan satu kesatuan

dengan fungsi-fungsi pendidikan tinggi, penelitian, pemukiman, wisata, perikanan

dan kawasan budidaya pertanian. SWP ini meliputi pula wilayah perairan/ teluk

sebagai satu kesatuan dengan adanya kebutuhan kesatuan pengelolaan. SWP Rumah

Tiga memiliki potensi pertumbuhan pesat sehubungan dengan lokasinya yang

strategis. Penataan di sekitar jembatan Galala-Poka sangat diperlukan oleh karena

akan menarik perkembangan berbagai kegiatan yang muncul dalam memanfaatkan

akses yang tinggi setelah adanya jembatan baru tersebut. Luas SWP Rumah Tiga-

Poka adalah sekitar 57,1 km2 dan berorientasi ke pusat SWP di Poka.

SWP IV Leitimur Selatan

Kawasan Leitimur selatan dengan batas-batas administrasi kecamatan mulai

dari Negeri Hatalai di sebelah barat sampai Negeri Hutumuri di sebelah timur, Negeri

Soya, Negeri Batu Merah, Negeri Halong, Negeri Passo di Utara, dan laut Banda di
77

selatan. SWP ini adalah satu kesatuan wilayah pengembangan dengan kesamaan

karakteristik sebagai kawasan berbukit bergunung. Akses yang menghubungkan

SWP ini adalah linier mengitari wilayah selatan yaitu ke arah barat dan ke arah timur

untuk mencapai pusat primer kota. Sebagian besar SWP ini adalah merupakan

kawasan kebun campuran dan hutan sekunder. Potensi yang tersimpan pada SWP ini

adalah kebun campuran yang menghasilkan buah-buahan, pohon kayu putih

(Melaleuca Leucadendron) penghasil minyak kayu putih, serta potensi perikanan dan

pariwisata. Luas SWP Leitimur Selatan adalah sekitar 65,07 km 2 dan berorientasi ke

pusat SWP di Negeri Leihari.

SWP V Amahusu-Latuhalat

Kawasan di ujung Barat Jazirah Leitimur yang termasuk sebagian Kecamatan

Nusaniwe. SWP ini merupakan kesatuan kawasan berfungsi sebagai daerah tujuan

pariwisata bahari dan perikanan, berorientasi ke laut dan akses ke kawasan pusat

kota. Selain itu SWP ini juga mempunyai potensi industri bahan bangunan di

antaranya batu bata dan kapur. Sebagian besar SWP adalah kawasan hutan dan kebun

campuran diselingi dengan kawasan industri kecil dan pariwisata. Kawasan ini relatif

berada menjorok ke Laut Banda, sehingga cukup beresiko terhadap bencana tsunami.

Luas SWP 5 adalah sekitar 43,88 km2 serta berorientasi ke pusat SWP di Negeri

Latuhalat.

SWP Kawasan Khusus Bandara

Di dalam pekerjaan penyusunan RTRW Kota Ambon dimana di dalamnya

terdapat kawasan bandar udara, hal ini menjadi pertimbangan khusus mengingat

kawasan ini memiliki ketetapan tersendiri. Keselamatan penerbangan di Bandar


78

Udara Pattimura Ambon akan sangat dipengaruhi oleh lingkungan yang ada. Oleh

karena itu, selain mempersiapkan fasilitas-fasilitas serta sarana dan prasarana yang

memadai bagi keselamatan penerbangan, dibutuhkan pula peran pemerintah untuk

menjalankan fungsi regulasi terhadap Kawasan Keselamatan Operasional

Penerbangan terutama dari sisi penataan ruang agar dibatasi pengembangannya

sehingga tidak ada bangunan yang nantinya akan mengganggu aktivitas lalulintas

udara di Bandar Udara Pattimura Ambon SWP ini membentang dari Negeri Laha,

Negeri Tawiri, Kompleks Bandar Udara Pattimura ke arah Utara sampai dengan

perbatasan Kabupaten Maluku Tengah dengan luas sebesar 66,23 km 2. Untuk lebih

jelasnya lokasi pembagian SWP di atas dapat dilihat pada Gambar 14 Peta Satuan

Wilayah Pengembangan berikut ini.


79

Gambar 15
Peta Satuan Wilayah Pengembangan Kota Ambon

Sumber: Badan Perencanaan Pembangunan Kota Ambon Tahun 2012


80

4.2. Gambaran Umum Kecamatan Sirimau


4.2.1. Kondisi Geografis dan Administratif Kecamatan Sirimau
Berdasarkan pada letak geografis Kecamatan Sirimau terletak pada 3 o-4o

Lintang Selatan (LS) dan 128o-129o Bujur Timur (BT). Secara administrasi

Kecamatan Sirimau berbatasan dengan:

Sebelah Utara : Teluk Ambon

Sebelah Selatan : Desa Hatalai dan Desa Ema (Kec. Leitimur Selatan)

Sebelah Timur : Desa Halong (Kec. Teluk Ambon Baguala)

Sebelah Barat : Kel. Urimessing dan Kel. Silale (Kec. Nusaniwe)

Luas Kecamatan Sirimau setelah Perda Kota Ambon No.2 tahun 2006 adalah

24,5 km2 yang terbagi ke dalam 14 wilayah administrasi kelurahan/desa.

Tabel 8
Luas Kecamatan Sirimau Dirinci per Desa/Kelurahan

No. Nama Desa/Kelurahan Luas (km2)


1 Desa Soya 9,05
2 Kelurahan Waihoka 0,36
3 Kelurahan Karang Panjang 0,84
4 Kelurahan Batu Meja 1,03
5 Kelurahan Batu Gajah 0,75
6 Kelurahan Ahusen 0,2
7 Kelurahan Honipopu 0,27
8 Kelurahan Uritetu 0,32
9 Kelurahan Rijali 0,44
10 Kelurahan Amantelu 1,07
11 Desa Batu Merah 7.24
12 Kelurahan Pandan Kasturi 0,42
13 Desa Hative Kecil 1,87
14 Desa Galala 0,64
Jumlah 24,5
81

Sumber: Kota Ambon Dalam Angka Tahun 2011, Badan Pusat Statistik

Gambar 16
Diagram Luas Lahan Kelurahan/Desa
Kecamatan Sirimau Kota Ambon
10.00 9.05
9.00
7.24
8.00
7.00
6.00
5.00
4.00
3.00 1.87
2.00 0.640.42 1.030.750.841.07
0.440.320.270.20 0.36
1.00
0.00

Sumber: Hasil Analisis Penulis Tahun 2012


82

Gambar 17
Peta Administrasi Kecamatan Sirimau

Sumber: Badan Perencanaan Pembangunan Kota Ambon Tahun 2012


83

4.2.2. Kondisi Daratan Kecamatan Sirimau


a. Topografi dan Kemiringan Lereng
Kepulauan Maluku merupakan pulau-pulau vulkanis, sehingga secara umum

Kota Ambon memiliki wilayah yang sebagian besar terdiri dari daerah berbukit dan

berlereng terjal. Sebesar 73% dari luas wilayahnya dapat dikategorikan berlereng

terjal, dengan kemiringan di atas 20%. Hanya 17% dari wilayah daratannya yang

dapat diklasifikasikan datar atau landai dengan kemiringan kurang dari 20%.

Topografi Kota Ambon sangat beragam yang di mana terdapat ketinggian antara 0-

800 meter sedangkan untuk kemiringan lerengnya, terdapat kemiringan lereng yang

beragam yakni, 0-8%, 8-15%, 15-25%, 25-40% dan juga >40%.

Topografi Kecamatan Sirimau juga beragam yang dimana terdapat ketinggian

antara 0-400 meter sedangkan untuk kemiringan lerengnya, terdapat kemiringan

lereng yang beragam yakni, 0-8%, 8-15%, 15-25% dan 25-40%, namun di kecamatan

sirimau tidak terdapat ketinggian >40%.

Untuk lebih jelasnya dapat di lihat pada peta topografi dan peta kemiringan

lereng berikut ini:


84

Gambar 18
Peta Topografi Kecamatan Sirimau

Sumber: Badan Perencanaan Pembangunan Kota Ambon Tahun 2012


85

Gambar 19
Peta Kemiringan Lereng Kecamatan Sirimau

Sumber: Badan Perencanaan Pembangunan Kota Ambon Tahun 2012


86

b. Jenis Tanah

Jenis tanah yang terdapat di Kecamatan Sirimau sama dengan jenis tanah yang

terdapat di Kota Ambon pada umumnya, yakni terdapat 6 (enam) jenis tanah,

diantaranya yakni: alluvial, regosol, gleisol, kambisol, rendzina dan litosol. Untuk

lebih jelasnya dapat dilihat pada peta jenis tanah Kecamatan Sirimau di bawah ini.
87

Gambar 20
Peta Jenis Tanah Kecamatan Sirimau

Sumber: Badan Perencanaan Pembangunan Kota Ambon Tahun 2012


88

c. Vegetasi

Kecamatan Sirimau memiliki wilayah yang ditumbuhi oleh bermacam-

macam vegetasi. Vegetasi ini antara lain berupa paku-pakuan, rerumputan, bambu,

kasuari, jati, pule ada juga kebun campuran milik rakyat seperti tanaman cengkeh,

kelapa, pala, tanaman buah seperti buah mangga, buah langsat, buah gandaria, buah

durian, buah pisang. Ada juga tanaman semusim seperti ubi kayu, jagung, ubi jalar,

kacang tanah. Ada juga sayur-sayuran seperti sayur sawi dan produksi bumbu-

bumbuan seperti Jahe.

Foto 1. Vegetasi paku-pakuan dan tanaman pisang di Desa Batu Merah


Sumber: Survey Lapangan Tahun 2012

4.2.3. Kondisi Hidrologi Kecamatan Sirimau

Hidrologi di Kecamatan Sirimau meliputi kondisi air permukaan dan air

tanah. Untuk selengkapnya, sebagai berikut.

1. Air Permukaan

Air permukaan dalam hal ini adalah air sungai dan mata air. Di Kecamatan

Sirimau terdapat 4 (empat) aliran sungai (wai) yang mengalir melalui Kecamatan
89

Sirimau dan bermuara di perairan Teluk Ambon. Keempat aliran sungai tersebut

adalah Wai Ruhu, Wai Batu Merah, Wai Tomu dan Wai Batu Gajah.

2. Air Tanah

Penduduk yang bermukim pada daerah-daerah yang relatif rendah, untuk

kebutuhan sehari-harinya sebagian besar menggunakan air tanah dangkal berupa

sumur gali, sumur pompa tangan atau pompa listrik. Air tanah dangkal pada daerah

datar tersebut memiliki kedalaman muka air tanah yang bervariasi namun relatif

rendah yaitu 15 meter. Namun kualitas air tanah dangkal tersebut pada umumnya

kurang baik karena letaknya sangat dekat dengan pantai, maka air tanah dangkal

tersebut kemungkinan terkena intruisi air laut, bahkan sebagian tercemar oleh

bakteri. Sementara untuk air tanah dalam banyak terdapat pada kedalam lebih dari 50

meter dengan kualitas yang cukup baik.

Foto 2. Wai Tomu di Kelurahan Karang Foto 3. Wai Batu Merah di Desa Batu
Panjang Merah
Sumber: Survey Lapangan Tahun 2012
90

Gambar 21
Peta Hidrologi Kecamatan Sirimau

Sumber: Badan Perencanaan Pembangunan Kota Ambon Tahun 2012


91

4.3. Karakteristik Sosial Kependudukan Kecamatan Sirimau


4.3.1. Jumlah dan Kepadatan Penduduk
Laju pertumbuhan penduduk di Kecamatan Sirimau pada tahun 2010 sebesar

28,86 % mengalami kenaikan dari tahun 2009. Dengan jumlah penduduk sebanyak

140.064 jiwa yang tersebar di 4 desa dan 10 kelurahan dengan luas wilayah 24,5

km2, kepadatan penduduk tercatat 5.716,9 jiwa per km 2. Sex ratio penduduk

Kecamatan Sirimau sebesar 99,86 hal ini menunjukan bahwa setiap 100 jiwa

penduduk perempuan terdapat 101 penduduk laki-laki.

Desa/Kelurahan dengan jumlah penduduk terbanyak pada tahun 2010 di

Kecamatan Sirimau adalah Desa Batumerah dengan 58.137 jiwa, diikuti Kelurahan

Batu Meja dengan 9.863 jiwa. Sedangkan Desa Galala adalah desa dengan jumlah

penduduk terendah, yaitu sebanyak 1.452 jiwa.

Pola yang berbeda akan terlihat jika kita mencoba mengamatinya berdasarkan

kepadatan penduduk/km2, dimana desa/kelurahan terpadat adalah Kelurahan

Honipopu dengan kepadatan penduduk 23.255,56 jiwa per km2 dan yang terjarang

penduduknya di Desa Soya dengan kepadatan penduduk hanya 960 jiwa per km2.
92

Tabel 9
Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk Menurut Desa/Kelurahan
di Kecamatan Sirimau Tahun 2006-2010

Kepadata

n
Luas
Jumlah (jiwa)
No Desa/Kelurahan
Penduduk
(km2)
Tiap km2
L P J
1. Desa Soya 9,05 4.308 4.382 8.688 960
2. Kelurahan Waihoka 0,36 2.418 2.388 4.806 13.350
3. Kelurahan Karang Panjang 0,84 3.211 3.344 6.555 7.803,57
4. Kelurahan Batu Meja 1,03 4.800 5.063 9.863 9.575.73
5. Kelurahan Batu Gajah 0,75 3.374 3.534 6.908 9.210,67
6. Kelurahan Ahusen 0,2 1.496 1.703 3.199 15.995
7. Kelurahan Honipopu 0,27 3.306 2.973 6.279 23.255,56
8. Kelurahan Uritetu 0,32 2.400 2.263 4.663 14.571,87
9. Kelurahan Rijali 0,44 3.515 3.411 6.926 15.740,91
10 Kelurahan Amantelu 1,07 3.681 3.618 7.299 6.821,49

.
11. Desa Batu Merah 7.24 29.10 29.03 58.137 8.029,97

6 1
12 Kelurahan Pandan Kasturi 0,42 3.086 3.028 6.114 14.557,14

.
13 Desa Hative Kecil 1,87 4.609 4.566 9.175 4.906,42

.
14 Desa Galala 0,64 676 776 1.452 2.268,75

.
Tahun 2010 24,5 69.98 70.08 140.06 5.716,9

4 0 4
2009 24,5 54.72 53.97 108.69 4.436,65

1 7 8
2008 24,5 53.75 53.54 107.30 4.379,67
93

Kepadata

n
Luas
Jumlah (jiwa)
No Desa/Kelurahan
Penduduk
(km2)
Tiap km2
4 8 2
2007 24,5 52.42 52.58 105.01 4.286,12

1 9 0
2006 24,5 52.51 52.18 104.69 4.273,22

0 4 4
Sumber: Kecamatan Sirimau Dalam Angka Tahun 2011, Badan Pusat Statistik

Gambar 22
Grafik Pertumbuhan Penduduk Kecamatan Sirimau Tahun 2006-2010

160000

140000

120000

100000

80000

60000

40000

20000

0
2006
2007
2008
2009
2010

Sumber: Hasil Analisis Penulis Tahun 2012


94

Gambar 23
Diagram Jumlah Penduduk Dirinci per Desa/Kelurahan
di Kecamatan Sirimau Tahun 2010
58137
60000
50000
40000
30000
20000 9863
8688 91756926 6908655572994806
10000
6114 466362793199
1452
0

Sumber: Hasil Analisis Penulis Tahun 2012

4.3.2. Sosial Budaya

Adapun sosial budaya yang terjadi di Pulau Ambon umumnya dan Di pusat

Kota Ambon pada khususnya terdiri dari berbagai suku, ras dan agama. Yang mana

terlihat begitu banyaknya bahasa daerah yang ada di Pulau Ambon. Disisi budaya

masyarakat Pulau Ambon umumnya dan Di pusat Kota Ambon pada khususnya

dikenal dengan istilah Pela-Gandong. Adat istiadat ini yang berlaku di masyarakat
95

Pulau Ambon, dewasa ini berhubung dengan waktu-waktu, tempat dan pertukaran

generasi. Dari sejarah susunan masyarakat, letak, iklim, struktur rohani masyarakat

telah mengakibatkan adat istiadat cenderung membedakan satu sama lainnya.

Yang dimaksud dengan Pela-Gandong adalah perserikatan antara satu negeri

atau desa lain dalam Pulau Ambon. Disinilah merupakan budaya yang sangat erat di

dalam masyarakat, walaupun berbagai agama tetapi sudah merupakan suatu

perjanjian baik lisan maupun tulisan, dimana para pihak berjanji untuk tunduk pada

perjanjian dimaksud sebagai dasar hukum bagi implementasinya dari waktu ke

waktu.

Harapan terhadap budaya Pela-Gandong ini tidaklah terletak pada masalah

kerukunan hidup umat beragama saja, tetapi walaupun hal itu juga amat berguna,

melainkan lahirnya pemahaman bahwa kelangsungan hidup rukun antara umat

beragama amat bergantung kepada kemampuan untuk belajar sekaligus memberikan

jawaban antisipatif terhadap perkembangan yang sedang dan yang akan dihadapi.

4.3.3. Sirkulasi dan Transportasi

Kondisi sirkulasi dan pergerakan di Pusat Kota Ambon ditunjang oleh

keberadaan jaringan jalan utama yang membentuk pola jaringan linier mengikuti

garis pantai di sepanjang Desa Galala kemudian mendaki mengikuti keadaan kontur

Desa Batu Merah yang merupakan jalan arteri dengan status jalan nasional dan

berakhir di Kelurahan Ahusen dengan panjang jalan arteri kurang lebih 6 km dan

lebar jalan 10-12 meter. Selain itu untuk mendukung pergerakan penduduk dari
96

pusat-pusat permukiman menuju pusat kegiatan seperti pusat pemerintahan, pusat

perdagangan dan jasa serta pendidikan terdapat jaringan jalan lokal dan jaringan jalan

kolektor. Jalan kolektor ini menghubungkan simpul-simpul transportasi yang ada di

Pusat Kota Ambon seperti Pelabuhan Laut Yos Sudarso dan Terminal Mardika dan

tersebar di kawasan pusat Kota Ambon dengan panjang kurang lebih 40,5 km dengan

lebar 6-8 meter. Sedangkan jaringan jalan lokal menghubungkan antar

desa/kelurahan seperti jalan manusella yang menghubungkan desa Batu Merah

dengan Kelurahan Waihoka, total panjang jaringan jalan lokal di Kecamatan Sirimau

yakni kurang lebih 30,16 km dengan lebar 4-6 meter. Untuk lebih jelasnya dapat di

lihat pada Peta Jaringan Jalan Kecamatan Sirimau.

Moda angkutan yang digunakan dalam sirkulasi ini berupa mikrolet (12

penumpang) yang saat ini melayani Pusat Kota Ambon. Pola sirkulasi angkutan

umum di Pusat Kota Ambon adalah seperti gurita dengan satu terminal yang berada

di Pusat Kota Ambon dan beberapa terminal lain di luar terminal yang sudah

ditetapkan oleh pemerintah setempat yang letaknya di sekitar kawasan perdagangan.

Hal inipun berlaku bagi angkutan regional yang menempati terminal yang sama

dengan terminal angkutan dalam kota, angkutan kota ini melayani pergerakan

penduduk dengan tujuan atau tempat-tempat yang ada di Kabupaten Maluku Tengah

dan masih berada di Pulau Ambon itu sendiri.

Penyeberangan Ferry di Kota Ambon sangat mendukung aksesibilitas dan

pergerakan penduduk di dalam Kota Ambon, terutama bagi penduduk yang hendak

berpergian dari kawasan selatan teluk ke kawasan utara teluk begitu juga sebaliknya.
97

Dengan menggunakan penyeberangan ini, waktu yang ditempuh dapat menghemat

1520 menit.

Selain menggunakan angkutan berupa mikrolet dan kapal penyeberangan,

pergerakan untuk jarak dekat, penduduk di Pusat Kota Ambon juga memanfaatkan

jasa angkutan berupa becak yang dapat memuat 2 (dua) penumpang dan ojek.

Angkutan becak sering ditemui di setiap jalan-jalan kecil maupun pada jalan-jalan

utama. Keberadaan angkutan ini sering menimbulkan kemacetan pada ruas-ruas jalan

tertentu misalnya di kawasan perdagangan di Pusat Kota Ambon.

Foto 4. Jaringan jalan arteri di Desa Batu Foto 5. Jaringan jalan kolektor di
Merah Kelurahan Rijali

Foto 6. Jaringan jalan lokal di Kelurahan Waihoka


Sumber: Survey Lapangan Tahun 2012
98
99

Gambar 24
Peta Jaringan Jalan Kecamatan Sirimau

Sumber: Badan Perencanaan Pembangunan Kota Ambon Tahun 2012


100

4.4. Pola Penggunaan Lahan Kecamatan Sirimau

Penggunaan lahan yang ada di Kecamatan Sirimau merupakan sentra primer

yang menjadi kawasan pusat kota. Selain itu, kawasan ini menjadi sentra untuk

melayani kegiatan berskala wilayah atau regional dan skala kota dengan konsentrasi

kegiatan:

a. Pusat pemerintahan baik tingkat provinsi maupun pemerintahan kota


b. Perdagangan, jasa dan fasilitas pariwisata
c. Perhubungan laut dan telekomunikasi
d. Pelayanan jasa ekonomi dan keuangan
e. Perumahan
f. Pendidikan

Dengan adanya konsentrasi kegiatan di Kecamatan Sirimau yang menjadi

pusat kota dan provinsi maka hal ini sangat berimbas kepada tingkat kepadatan

bangunan dan penduduk yang menjadi sangat tinggi sehingga lahan yang ada tidak

dapat memenuhi tingkat kebutuhan lahan yang ada. Hal ini menyebabkan orientasi

penggunaan lahan untuk permukiman semakin besar sehingga lahan-lahan yang

diperuntukkan bagi hutan lindung dan kawasan serapan air semakin berkurang

karena telah digunakan untuk pembangunan. Hal ini menyebabkan bencana alam

yang sering menimpa akibat terganggunya ekosistem yang berfungsi sebagai

pencegah bencana sudah tidak mampu untuk mengatasinya.

Lahan terbangun yang berada di Kecamatan Sirimau telah mencapai kurang

lebih 70% melebihi dari daerah yang dikhususkan sebagai daerah resapan air. Lahan

yang terbangun diadakan tanpa memperhatikan kondisi geografis lahan sehingga


101

pembangunan dilakukan di daerah landai maupun di daerah curam tanpa adanya

tindakan untuk menyeimbangkan kondisi ekosistem yang ada.

Sirkulasi pergerakan dari penduduk Kecamatan Sirimau yang terkesan padat

dengan aksesibilitas yang sangat mendukung dan menjadi pusat provinsi dan pusat

kota menyebabkan Kecamatan Sirimau menjadi lokasi yang sangat stratregis untuk

kemajuan perdagangan, pemerintahan, permukiman dan sebagainya yang telah di

orientasikan pemerintah dalam Rencana Tata Ruang Kota Ambon.

Pola penggunaan lahan di Kecamatan Sirimau terdiri dari agrowisata, hutan

lindung, pekuburan, pelabuhan, perdagangan dan jasa, perkantoran, permukiman,

pertanian dan ruang terbuka hijau. Berdasarkan hasil survey lapangan pada Tahun

2012 memperlihatkan bahwa di Kecamatan Sirimau pola penggunaan lahan

didominasi oleh kawasan permukiman yang tersebar di seluruh Kecamatan Sirimau.

Perkembangan permukiman masyarakat di Kecamatan Sirimau pada

umumnya menyebar dan mengumpul di seluruh Kecamatan Sirimau. Pada kawasan-

kawasan tertentu, permukiman masyarakat berkembang secara cepat dan

menimbulkan tingkat kepadatan yang cukup tinggi, bahkan pada beberapa bagian

kawasan telah berkembang menjadi kawasan kumuh karena tingkat kepadatannya

sangat tinggi yang disertai dengan tidak tersedianya prasarana dan sarana dasar yang

cukup mewadahi dan sanggup menampung semua aktivitas masyarakat yang begitu

tinggi, seperti kondisi jaringan drainase yang buruk, jarak antara bangunan yang

begitu dekat karena sudah tidak ada lagi sempadan bangunan, keberadaan kawasan
102

permukiman di atas laut serta kurangnya daerah resapan dan kawasan ruang terbuka

hijau.

Penggunaan lahan lain yang mencirikan kesemrawutan adalah terminal,

dimana keberadaan terminal-terminal lain diluar terminal yang sudah disiapkan oleh

pemerintah. Keberadaan terminal tersebut berada pada daerah perdagangan atau

tepatnya didepan ruko atau berada di tengah-tengah di antara ruko satu dengan ruko

lain sehingga menimbulkan kemacetan kepadatan lalu lintas di sekitar wilayah

tersebut.

Foto 7. Penggunaan lahan di Kelurahan Foto 8. Penggunaan lahan di Desa Batu


Honipopu Merah
Sumber: Survey Lapangan Tahun 2012

4.4.1. Pola Penggunaan Lahan Kecamatan Sirimau Tahun 2002

Jenis penggunaan lahan pada tahun 2002 merupakan penggunaan lahan yang

digunakan dalam perbandingan dengan peta existing untuk mengukur sejauh mana

perubahan penggunaan lahan pada lokasi penelitian. Luas Kecamatan Sirimau itu

sendiri yakni 24,5 km2 yang terbagi atas 14 desa/kelurahan. Penggunaan lahan tiap

kelurahannya yakni: untuk Desa Batu Merah terdiri dari Lahan Kosong (2,04 km 2),
103

hutan lindung (1,09 km2), pertanian (1,51 km2), pekuburan (0,02 km2), ruang terbuka

hijau (0,02 km2) dan permukiman (2,56 km2). Untuk Desa Galala jenis penggunaan

lahannya terdiri dari lahan kosong (0,05 km2) dan permukiman (0,59 km2). Untuk

Desa Hative Kecil jenis penggunaan lahannya terdiri dari lahan kosong (0,05 km2),

pertanian (1,55 km2) dan permukiman (0,07 km2).

Untuk Desa Soya jenis penggunaan lahannya terdiri dari hutan lindung (7,18

km2), permukiman (1,44 km2) dan agrowisata (0,43 km2). Untuk Kelurahan Ahusen

jenis penggunaan lahannya yakni lahan kosong (0,20 km 2). Untuk Kelurahan

Amantelu jenis penggunaan lahannya yakni lahan kosong (1,07 km 2). Untuk

Kelurahan Batu Gajah jenis penggunaan lahannya terdiri dari lahan kosong (0,05

km2), hutan lindung (0,47 km2) dan permukiman (0,23 km2). Untuk Kelurahan Batu

Meja jenis penggunaan lahannya terdiri dari hutan lindung (0,01 km2) dan

permukiman (1,02 km2).

Untuk Kelurahan Honipopu jenis penggunaan lahannya terdiri dari lahan

kosong (0,15 km2), pelabuhan (0,07 km2), perkantoran (0,03 km2) dan perdagangan

dan jasa (0,03 km2). Untuk Kelurahan Karang Panjang jenis penggunaan lahannya

yakni permukiman (0,84 km2). Untuk Kelurahan Pandan Kasturi jenis penggunaan

lahannya terdiri dari lahan kosong (0,4 km 2) dan ruang terbuka hijau (0,02 km2).

Untuk Kelurahan Rijali jenis penggunaan lahannya yakni lahan kosong (0,44 km 2).

Untuk Kelurahan Uritetu jenis penggunaan lahannya terdiri dari lahan kosong (0,31

km2) dan perkantoran (0,01 km2). Dan untuk Kelurahan Waihoka jenis penggunaan

lahannya terdiri dari lahan kosong (0,22 km2) dan permukiman (0,15 km2).
104

Dari keseluruhan luas penggunaan lahan di Kecamatan Sirimau pada tahun

2002 untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel dan diagram di bawah ini.

Tabel 10
Jenis Penggunaan Lahan di Kecamatan Sirimau Tahun 2002 di Rinci per
Desa/Kelurahan

No
Desa/Kelurahan Jenis Penggunaan Lahan Luas (km2)
.
Lahan Kosong 2.04
Hutan Lindung 1.09
Pertanian 1.51
1 Desa Batu Merah
Pekuburan 0.02
Ruang Terbuka Hijau 0.02
Permukiman 2.56
Lahan Kosong 0.05
2 Desa Galala
Permukiman 0.59
Lahan Kosong 0.25
3 Desa Hative Kecil Pertanian 1.55
Permukiman 0.07
Hutan Lindung 7.18
4 Desa Soya Permukiman 1.44
Agrowisata 0.43
4 Kelurahan Ahusen Lahan Kosong 0.20
6 Kelurahan Amantelu Lahan Kosong 1.07
Lahan Kosong 0.05
7 Kelurahan Batu Gajah Hutan Lindung 0.47
Permukiman 0.23
Hutan Lindung 0.01
\8 Kelurahan Batu Meja
Permukiman 1.02
Lahan Kosong 0.15
Pelabuhan 0.07
9 Kelurahan Honipopu
Perkantoran 0.03
Perdagangan dan Jasa 0.03
10 Kelurahan Karang Panjang Permukiman 0.84
Lahan Kosong 0.40
11 Kelurahan Pandan Kasturi
Ruang Terbuka Hijau 0.02
12 Kelurahan Rijali Lahan Kosong 0.44
13 Kelurahan Uritetu Lahan Kosong 0.31
105

No
Desa/Kelurahan Jenis Penggunaan Lahan Luas (km2)
.
Perkantoran 0.01
Lahan Kosong 0.22
14 Kelurahan Waihoka
Permukiman 0.15
Total 24.50
Sumber: Badan Perencanaan Pembangunan Kota Ambon Tahun 2012

Gambar 25
Diagram Penggunaan Lahan di Kecamatan Sirimau Tahun 2002

Agrowisata; 0.43
Lahan Kosong; 5.17

Hutan Lindung; 8.75


Ruang Terbuka Hijau; 0.04

Pertanian; 3.06
Pekuburan; 0.02
Pelabuhan; 0.07
Perdagangan dan Jasa; 0.03
Permukiman; 6.88 Perkantoran; 0.04

Sumber: Hasil Analisis Penulis Tahun 2012


106
107

Gambar 26
Peta Tata Guna Lahan Tahun 2002 Kecamatan Sirimau

Sumber: Badan Perencanaan Pembangunan Kota Ambon Tahun 2012


108

4.4.2. Pola Penggunaan Lahan Kecamatan Sirimau Tahun 2011

Penggunaan lahan di Kecamatan Sirimau untuk tahun 2011 tiap kelurahannya

yakni: untuk Desa Batu Merah terdiri dari hutan lindung (0,88 km2), pertanian (0,78

km2), pekuburan (0,04 km2), ruang terbuka hijau (0,02 km2), pelabuhan (0,08 km2)

dan permukiman (5,16 km2). Untuk Desa Galala jenis penggunaan lahannya terdiri

dari pelabuhan (0,03 km2) dan permukiman (0,61 km2). Untuk Desa Hative Kecil

jenis penggunaan lahannya terdiri dari pertanian (0,85 km2) dan permukiman (1,02

km2).

Untuk Desa Soya jenis penggunaan lahannya terdiri dari hutan lindung (6,7

km2), permukiman (1,93 km2) dan agrowisata (0,43 km2). Untuk Kelurahan Ahusen

jenis penggunaan lahannya yakni perdagangan dan jasa (0,2 km 2). Untuk Kelurahan

Amantelu jenis penggunaan lahannya yakni permukiman (0,7 km 2), ruang terbuka

hijau (0,09 km2), perkantoran (0,26 km2) dan perdagangan dan jasa (0,02 km2). Untuk

Kelurahan Batu Gajah jenis penggunaan lahannya terdiri dari perdagangan dan jasa

(0,05 km2), hutan lindung (0,25 km2) dan permukiman (0,45 km2). Untuk Kelurahan

Batu Meja jenis penggunaan lahannya terdiri dari perdagangan dan jasa (0,02 km 2)

dan permukiman (1,01 km2).

Untuk Kelurahan Honipopu jenis penggunaan lahannya terdiri dari pelabuhan

(0,07 km2), perkantoran (0,03 km2) dan perdagangan dan jasa (0,18 km2). Untuk

Kelurahan Karang Panjang jenis penggunaan lahannya yakni permukiman (0,84

km2). Untuk Kelurahan Pandan Kasturi jenis penggunaan lahannya terdiri dari

permukiman (0,4 km2) dan ruang terbuka hijau (0,02 km2). Untuk Kelurahan Rijali
109

jenis penggunaan lahannya terdiri dari ruang terbuka hijau (0,02 km2) dan

perdagangan dan jasa (0,42 km2). Untuk Kelurahan Uritetu jenis penggunaan

lahannya terdiri dari ruang terbuka hijau (0,04 km 2), perdagangan dan jasa (0,27 km2)

dan perkantoran (0,01 km2). Dan untuk Kelurahan Waihoka jenis penggunaan

lahannya yakni permukiman (0,37 km2).

Dari keseluruhan luas penggunaan lahan di Kecamatan Sirimau pada tahun

2011 untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel dan diagram di bawah ini.

Tabel 11
Jenis Penggunaan Lahan di Kecamatan Sirimau Tahun 2011 di Rinci per
Desa/Kelurahan

No Jenis Penggunaan Luas


Desa/Kelurahan
. Lahan (km)

Hutan Lindung 0.88

Pertanian 0.78

Pekuburan 0.04

1 Desa Batu Merah Ruang Terbuka Hijau 0.02

Permukiman 5.16

Perdagangan dan Jasa 0.28

Pelabuhan 0.08

Pelabuhan 0.03
2 Desa Galala
Permukiman 0.61

Pertanian 0.85
3 Desa Hative Kecil
Permukiman 1.02

4 Desa Soya Hutan Lindung 6.70

Permukiman 1.93
110

No Jenis Penggunaan Luas


Desa/Kelurahan
. Lahan (km)

Agrowisata 0.43

5 Kelurahan Ahusen Perdagangan dan Jasa 0.20

Permukiman 0.70

Ruang Terbuka Hijau 0.09


6 Kelurahan Amantelu
Perkantoran 0.26

Perdagangan dan Jasa 0.02

Perdagangan dan Jasa 0.05

7 Kelurahan Batu Gajah Hutan Lindung 0.25

Permukiman 0.45

Perdagangan dan Jasa 0.02


8 Kelurahan Batu Meja
Permukiman 1.01

Pelabuhan 0.07

9 Kelurahan Honipopu Perkantoran 0.03

Perdagangan dan Jasa 0.18

Kelurahan Karang
10 Permukiman 0.84
Panjang

Kelurahan Pandan Permukiman 0.40


11
Kasturi Ruang Terbuka Hijau 0.02

Ruang Terbuka Hijau 0.02


12 Kelurahan Rijali
Perdagangan dan Jasa 0.42

Ruang Terbuka Hijau 0.04

13 Kelurahan Uritetu Perkantoran 0.01

Perdagangan dan Jasa 0.27

14 Kelurahan Waihoka Permukiman 0.37


111

No Jenis Penggunaan Luas


Desa/Kelurahan
. Lahan (km)

Total 24.5
Sumber: Badan Perencanaan Pembangunan Kota Ambon Tahun 2012

Gambar 27
Diagram Penggunaan Lahan di Kecamatan Sirimau Tahun 2011

Pertanian; 1.62 Ruang Terbuka Hijau; 0.19Agrowisata; 0.43

Hutan Lindung; 7.82

Pekuburan; 0.04
Permukiman; 12.48
Pelabuhan; 0.18
Perdagangan dan Jasa; 1.44
Perkantoran; 0.3

Sumber: Hasil Analisis Penulis Tahun 2012


112

Gambar 28
Peta Tata Guna Lahan Tahun 2011 Kecamatan Sirimau

Sumber: Badan Perencanaan Pembangunan Kota Ambon Tahun 2012


113

4.4.3. Harga Lahan

Harga lahan yang terlalu tinggi dapat mempengaruhi perubahan suatu lahan

dan menyulitkan pengembangan suatu kota, karena dengan harga lahan yang tinggi

dapat mempengaruhi semua bentuk inventasi yang akan dilakukan.

Di Kecamatan Sirimau harga lahan pada tahun 2002 berkisar antara 0 sampai

dengan 10.000/m2, hal ini dikarenakan pada saat itu Kota Ambon masih dalam

suasana kerusuhan. Namun seiring berjalannya waktu, Kota Ambon juga tidak

pernah lagi ada pertikaian, saat ini harga lahan di Kecamatan Sirimau mengalami

peningkatan berkisar antara 5.000.000/m2 sampai dengan 10.000.000/m2, untuk lahan

yang berada di Pusat Kota, seperti lahan yang berada di Kelurahan Honipopu,

sedangkan untuk lahan yang berada di Desa Batu Merah berkisar antara 25.000/m2

sampai dengan 50.000/m2. Meningkatnya harga lahan di Kecamatan Sirimau karena

kebutuhan akan lahan semakin meningkat untuk pengadaan sarana dan prasarana

yang dibutuhkan di Kecamatan Sirimau sebagai pusat dari Kota Ambon. Adapun

perbedaan harga disebabkan oleh lokasi dari lahan tersebut dekat dengan fasilitas

atau jauh dari fasilitas dan termasuk daerah pusat kota atau pinggiran kota.