Anda di halaman 1dari 27

Filsafat Pendidikan Menurut John Locke dan John Dewey

(Oleh: Koko Istya Temorubun, ss)

Pendahuluan

Dalam tugas ini kami membahas pertama-tama tentang pemikiran-pemikiran John Locke dan
John Dewey seputar manusia dan dunia pendidikan dari segi filsafati. Pemikiran John Locke dan
John Dewey tentang filsafat pendidikan berangkat dari pemikirannya tentang manusia. Karena
itu sebelum membahas mengenai pandangan mereka tentang pendidikan terlebih dahulu kami
menguraikan sedikit tentang manusia sebagai bagian dari pokok pemikirannya tentang filsafat
pendidikan.

Berdasarkan pandangan mereka kami mencoba melihat relevansinya bagi peranan guru dalam
proses mengajar dan peranan siswa dalam proses belajar.

I. Filsafat Pendidikan Menurut John Locke dan John Dewey

1. John Locke

1.1. Pokok Pikiran Filosofis John Locke

Pemikiran filosofis John Lucke menampilkan perhatiannya yang begitu besar bagi kondisi
natural alam dan manusia. Maksudnya John Lucke menampilkan sistem pemikiran filosofis yang
berbasis pada kondisi natural. Pemikiran Lucke tentang alam dan manusia ditempatkannya dalam
konteks pengalaman sebagai dasar dari perkembangan hidup manusia.

Locke mengaskan bahwa tak ada realitas lain yang lebih tinggi dari pada dunia empiris. Dunia
itu berisi kualitas-kualitas primer yang menjadi dasar dan pembentuk manusia. Tanpa sustratum
material yang ada dalam alam, manusia tak dapat membayangkan adanya kualitas-kualitas
sekunder yang ditangkap oleh pancaindra dan yang direfleksikan oleh akal budi. Tak ada realitas
lain yang lebih tinggi dari pada dunia indrawi. Hal ini berarti, alam menjadi sumber pengalaman
dan pengetahuan manusia. Semua pengetahuan manusia dapat tergantung pada penglihatan
aktualnya dan pengalaman indrawinya dengan obyek-obyek material. Dalam kontak tersebut,
pancaindra menangkap obyek-obyek itu, dan dengan bantuan akal budinya, obyek-obyek itu
dianalisa dan direfleksikan. Oleh sebab itu, bagi John Locke sendiri, menolak adanya faktifisasi
obyek meterial, identik dengan menyangkan eksistensi pengetahuan.

Pandangan Locke tentang manusia berangkat dari penolakannya terhadap teori innatisme[1] yang
mengakui adanya ide-ide bawaan dari diri manusia. Ia berpendapat bahwa manusia tidak dapat
menghasilkan pengetahuannya dari dirinya sendiri.[2] Ketika lahir, manusia bagaikan kertas
putih yang baru dan belum terisi. Dalam dirinya tidak ada ide yang diwariskan oleh Allah, tak
ada ide tentang kebenaran moral dan kebaikan,[3] bahkan kecenderungan atau kebiasaan-
kebiasaan bawaan. Akal budi masih kosong. Namun dalam situasi yang kosong itu, manusia
sadar bahwa ia tidak bisa menghasilkan sesuatu yang berguna bagi eksistensinya. Dalam usaha
untuk mewujudkan eksistensinya tersebut, manusia mulai membangun kontak dengan
lingkungan sekitarnya dan membentuk dalam dirinya pengalaman-pengalaman akan setiap obyek
yang dihadapinya. Konsekuensinya, akal budi manusia mulai terisi dan ia menjadi person yang
rasional.

Penolakan Locke atas ide bawaan mendukung usaha individu dalam kebutuhannya untuk
mendapatkan pengetahuan dari pengalaman.[4] Menurutnya, seorang dapat menjadi budak atau
bebas ditentukan oleh hak-hak kodrati seperti hak hidup, kebebasan dan hak milik.[5] Dengan
demikian, Locke menampilkan karakter dasar manusia sebagai makhluk rasional dan moral.[6]
Menurut Locke, secara kodrati manusia itu baik dan tanpa cela. Dalam kondisi alamiahnya itu, ia
menjadi person yang bebas untuk menentukan dirinya dan menggunakan hak miliknya tanpa
tergantung pada kehendak orang lain.[7] Namun dalam kebebasannya tersebut, manusia harus
tinggal dan membentuk satu masyarakat politis, di mana seluruh anggotanya memiliki hak dan
kebebasan yang sama. Serentak juga ia sadar bahwa semua manusia sama. Dalam kebersamaan
tersebut, mereka mempercayakan kekuasaan kepada penguasa dengan syarat bahwa hak-hak
kodrati itu dihormati oleh penguasa-penguasa tersebut[8] dengan tujuan untuk mencapai
kebahagiaan hidup.

1.2. Pandangan John Locke Tentang Pendidikan

A. Tujuan Pendidikan

Dalam pandangannya tentang filsafat ilmu pengetahuan, Locke mengemukakan tentang beberapa
tujuan dari pendidikan, yakni pertama, pendidikan bertujuan untuk mencapai kesejahteraan dan
kemakmuran setiap manusia (bangsa). Oleh sebab itu, sebagai bagian akhir dari pendidikan,
pengetahuan hendaknya membantu menusia untuk memperoleh kebenaran, keutamaan dan
kebijaksanaan hidup.[9] Kedua, pendidikan juga bertujuan untuk mencapai kecerdasan setiap
individu dalam menguasai ilmu pengetahuan sesuai dengan tingkatannya. Dalam konteks itu,
Locke melihat pengetahuan sebagai usaha untuk memberantas kebodohan dalam hidup
masyarakat.[10] Setiap manusia diarahkan pada usaha untuk mengembangkan potensi-potensi
yang ada dalam dirinya. Ketiga, pendidikan juga menyediakan karakter dasar dari kebutuhan
manusia untuk menjadi pribadi yang dewasa dan bertanggungjawab.[11] Dalam arti ini,
pengetahuan dilihat oleh John Locke sebagai sarana untuk membentuk manusia menjadi pribadi
yang bermoral.[12] Seluruh tingkah laku diarahkan pada usaha untuk membentuk pribadi
manusia yang baik, sesuai dengan karakter dasar sendiri sejak diciptakan. Keempat, pendidikan
menjadi sarana dan usaha untuk memelihara dan membaharui sistem pemerintahan yang ada.[13]

B. Hakekat Pendidikan

Menurut Locke, seluruh pengetahuan pada hakekatnya berasal dari pengalaman. Apa yang kita
ketahui melalui pengalaman itu bukanlah obyek atau benda yang hendak kita ketahui itu sendiri,
melainkan hanya kesan-kesan pada pancaindra kita. Dalam bukunya An Essay Concerning
Human Understanding, Locke berpendapat bahwa ide datang dari dua sumber pengalaman, yaitu
pengalaman lahiria (sensation) dan pengalaman badaniah (reflektion).[14] Kedua pengalaman ini
saling menjalin. Locke melukiskan bahwa pikiran sebagai sesuatu lembaran kosong yang
menerima segala sesuatu dari pengalaman. Materi-materi diperoleh secara pasif melalui
pancaindra dan dengan aktivitas pikiran materi-materi itu disusun menjadi suatu jaringan
pengetahuan yang disebutnya sebagai reflection.[15] Materi-materi yang berada di luar kita
menimbulkan di dalam diri kita gagasan-gagasan dari pengalaman lahiriah. Oleh Locke,
gagasan-gagasan ini diberdakan atas gagasan-gagasan tunggal (simple ideas) dan gagasan-
gagasan majemuk (complex ideas). Gagasan-gagasan tunggal muncul kepada kita melalui
pengalaman, tanpa pengolahan secara logis sedangkan gagasan-gagasan majemuk timbul dari
perpaduan gagasan-gagasan tunggal.

C. Metode Pendidikan

Pada dasarnya Locke menolak metode pangajaran yang biasa disertai dengan hukuman. Baginya,
tata krama dipelajari melalui teladan dan bahasa dipelajari melalui kecakapan.[16] Dengan
demikian metode yang ditawarkan Locke adalah pelajaran melalui praktek. Metode harus
membawa para murid kepada praktek aktivitas-aktivitas kesopanan yang ideal sampai mereka
menjadi terbiasa.[17] Anak-anak pertama-tama belajar melalui aktivitas-aktivitas yang
dilakukan, baru kemudian tiba pada pengertian atau pengetahuan atas apa yang ia lakukan.

D. Kurikulum Inti

John Locke menegaskan kurikulum harus diarahkan demi kecerdasan individual, kemampuan
dan keistimewaan anak-anak dalam menguasai pengetahuan dan bukan pada pengetahuan yang
biasa diajarkan dengan hukuman yang sewenang-wenang. Kurikulum bagi kaum miskin
hendaknya difokuskan pada ibadat yang teratur demi memperbaiki kehidupan religius dan moral,
pada kerajinan tangan dan ketrampilan pertanian, pada pendidikan kesenian, dengan suatu
maksud bahwa para murid harus belajar membaca, menulis dan mengerjakan ilmu pasti.[18]

Menurut Locke perkembangan kepribadian yang baik terdiri dari tiga bagian: kebajikan,
kebijaksanaan dan pendidikan. Pendidikan ini mencakup membaca, menulis dan ilmu
menghitung, bahasa dan kesusastraan, pengetahuan alam, pengetahuan sosial dan kesenian.[19]
Ia juga menekankan studi geografi, aritmatika, astronomi, geometri, sejarah, etika, dan hukum
sipil.

2. John Dewey

2.1. Pandangan Filosofis John Dewey[20]

Pandangan Dewey tentang manusia bertolak dari konsepnya tentang situasi kehidupan manusia
itu sendiri. Manusia adalah makhluk sosial, sehingga segala perbuatannya, entah baik atau buruk
akan diberi penilaian oleh masyarakat. Akan tetapi di lain pihak, manusia menurutnya adalah
yang menciptakan nilai bagi dirinya sendiri secara alamiah. Masyarakat di sekitar manusia
dengan segala lembaganya, harus diorganisir dan dibentuk sedemikian rupa sehingga dapat
memberikan perkembangan semaksimal mungkin. Itu berarti, seorang pribadi yang hendak
berkembang selain berkembang atas kemungkinan alamiahnya, perkembangan juga turut
didukung oleh masyarakat yang ada disekitarnya.
Dewey juga berpandangan bahwa setiap pribadi manusia memiliki struktur-struktur kodrati
tertentu. Misalnya insting dasar yang dibawa oleh setiap manusia. Insting-insting dasar itu tidak
bersifat statis atau sudah memiliki bentuk baku, melainkan sebagai fleksibel. Fleksibelitasnya
tampak ketika insting bereaksi terhadap kesekitaran. Pokok pandangan Dewey di sini sebenarnya
ialah bahwa secara kodrati struktur psikologi manusia atau kodrat manusia mengandung
kemampuan-kemampuan tertentu. Kemampuan-kemampuan itu diaktualisasikan sesuai dengan
kondisi sosial kesekitaran manusia. Bila seseorang berlaku yang sama terhadap kondisi
kesekitaran, itu disebabkan karena kebiasaan, cara orang bersikap terhadap stimulus-stimulus
tertentu. Kebiasaan ini dapat berubah sesuai dengan tuntutan kesekitarannya.

2.2. Pandangan John Dewey Tentang Pendidikan

A. Hakekat Pendidikan

Dewey menjadi sangat terkenal karena pandangan-pandangannya tentang filfsafat pendidikan.


Pandangan-pandangan yang dikemukakan banyak mempengaruhi perkembangan pendidikan
modern di Amerika. Ketika ia pertama kali memulai eksperimennya di Universitas Chicago, ia
mulai mengkritik tentang sistem pendidikan tradisional yang bersifat determinasi. Sekarang ini,
pandangannya tidak berlaku di Amerika tetapi juga di banyak negara lain di seluruh dunia.[21]

Bagi Dewey, kehidupan masyarakat yang berdemokratis adalah dapat terwujud bila dalam dunia
pendidikan hal itu sudah terlatih menjadi suatu kebiasaan yang baik. Ia mengatakan bahwa ide
pokok demokratis adalah pandangan hidup yang dicerminkan dengan perluanya pastisipasi dari
setiap warga yang sudah dewasa dalam membentuk nilai-nilai yang mengatur hidup bersama. Ia
menekankan bahwa demokrasi merupakan suatu keyakinan, suatu prinsip utama yang harus
dijabarkan dan dilaksanakan secara sistematis dalam bentuk aturan sosial politik.[22]
Sehubungan dengan hal tersebut maka Dewey menekankan pentingnya kebebasan akademik
dalam lingkungan pendidikan. Ia dengan secara tidak langsung menyatakan bahwa kebebasan
akademik diperlukan guna mengembangkan prinsip demokrasi di sekolah yang bertumpuh pada
interaksi dan kerja sama, berdasarkan pada sikap saling menghormati dan memperhatikan satu
sama lain; berpikir kreatif menemukan solusi atas problem yang dihadapi bersama, dan bekerja
sama untuk merencanakan dan melaksanakan solusi. Secara implisit hal ini berarti sekolah
demokratis harus mendorong dan memberikan kesempatan kepada semua siswa untuk aktif
berpartisipasi dalam pengambilan keputusan, merancang kegiatan dan melaksanakan rencana
tersebut.

B. Fungsi dan Tujuan Pendidikan.

Dewey sangat menganggap penting pendidikan dalam rangka mengubah dan membaharui suatu
masyarakat. Ia begitu percaya bahwa pendidikan dapat berfungsi sebagai sarana untuk
peningkatan keberanian dan pembentukan kemampuan inteligensi. Dengan itu, dapat pula
diusahakan kesadaran akan pentingnya penghormatan pada hak dan kewajiban yang paling
fundamental dari setiap orang. Baginya ilmu mendidik tidak dapat dipisahkan dari filsafat.
Maksud dan tujuan sekolah adalah untuk membangkitkan sikap hidup yang demokratis dan
untuk mengembangkannya. Pendidikan merupakan kekuatan yang dapat diandalkan untuk
menghancurkan kebiasaan yang lama dan membangun kembali yang baru.
C. Kurikulum Inti

Bagi Dewey, lebih penting melatih pikiran manusia untuk memecahkan masalah yang dihadapi,
dari pada mengisinya secara sarat dengan formulai-formulasi secara sarat teoritis yang tertib.[23]
Pendidikan harus pula mengenal hubungan yang erat antara tindakan dan pemikiran, antara
eksperimen dan refleksi. Pendidikan yang merupakan kontiunitas dari refleksi atas pengalaman
juga akan mengembangkan moralitas dari anak-anak didik. Dengan demikian belajar dalam arti
mencari pengetahuan, merupakan suatu proses yang berkesinambungan. Dalam proses ini, ada
perjuangan yang terus menerus untuk membentuk teori dalam konteks eksperimen dan
pemikiran.

Ia juga mengkritik sistem kurikulum yang hanya ditentukan dari atas tanpa memperhatikan
masukan-masukan dari bawah.

D. Metode Pendidikan

Untuk memahami pemikiran John Dewey, kita harus berusaha untuk memahami titik-titik lemah
yang ada dalam dunia pendidikan itu sendiri. Ia secara realistis mengkritik praktek pendidikan
yang hanya menekankan pentingnya peranan guru dan mengesampingkan peranan para siswa
dalam sistem pendidikan. Penyiksaan fisik dan indoktrinasi dalam bentuk penerapan doktrin-
doktrin menghilangkan kebebasan dalam pelaksanaan pendidikan.

Dewey mengadakan penelitiannya mengenai pendidikan di sekolah-sekolah dan mencoba


menerapkan teori pendidikannya dalam praktek di sekolah-sekolah. Hasilnya, ia meninggalkan
pola dan proses pendidikan tradisional yang mengandalkan kemampuan mendengar dan
menghafal. Sebagai gantinya, ia menekankan pentingnya kreativitas dan keterlibatan siswa
dalam diskusi dan pemecahan masalah.[24]

II. Relevansi bagi Peranan Guru dan Siswa

A. Peranan Guru

A.1. Guru sebagai mediator dan fasilitator

Menurut Locke dan Dewey, yang penting bagi seorang guru adalah melatih pikiran siswa untuk
memecahkan masalah yang dihadapi, dari pada mengisinya secara sarat dengan formulai-
formulasi, teori-teori. Guru tidak boleh membuat penyiksaan fisik yang sewenang-wenang
terhadap siswa dan mengindoktrinir mereka dengan doktrin-doktrin. Sebab dengan demikian
hanya akan menghilangkan kebebasan dalam pelaksanaan pendidikan. Dewey memprotes cara
belajar dengan mengandalkan kemampuan mendengar dan menghafal. Yang penting yakni guru
mendampingi siswa dalam berkreativitas dan berdiskusi dalam menyelesaikan masalah.

Dengan demikian seorang guru harus berperan sebagai mediator atau fasilitator yang membantu
proses belajar seorang siswa. Oleh kerena itu, seorang guru memiliki tiga tugas utama:
1. Guru menyediakan pengalaman belajar yang memungkinkan siswa menyusun rancangan
belajar. Seorang guru memungkinkan siswanya untuk menjalankan proses belajar atau
membentuk pengertiannya sendiri. Yang perlu diperhatikan di sini adalah guru
menyediakan pengalaman belajar bagi siswa itu sendiri. Mengajar dalam bentuk ceramah
bukanlah menjadi tugas utama seorang guru.

2. Guru memberikan kegiatan-kegiatan yang membangkitkan rasa ingin tahu siswa dan
membantu siswa untuk mengekspresikan gagasan-gagasannya atau mengkomunikasikan
ide ilamiah mereka. Dengan kata lain, guru memberi semangat kepada siswa untuk
berpikir, mencari pengalaman baru. Bahkan guru perlu memberikan pengalaman konflik.
Pengalaman konflik yang dimaksudkan yakni pemaparan mengenai sebuah kasus atau
persoalan yang perlu dipecahkan sendiri oleh siswa tersebut. Guru harus menyemangati
siswa.

3. Guru memonitor atau mengevaluasi apakah proses berpikir siswa dan cara
mengekspresikan pikiran berhasil atau tidak. Guru mempertanyakan apakah pengetahuan
siswa cukup untuk memecahkan persoalan-persoalan yang akan dihadapi.

Sangatlah penting bahwa seorang guru tidak pernah mengatakan bahwa pandangannya
merupakan kebenaran tunggal. Selalu terbuka kemungkinan terhadap perembangan baru. Guru
yang baik seharusnya tidak mengajukan solusi yang tunggal tanpa argumen terhadap satu
persoalan. Artinya menawarkan jawaban tetapi siswa diminta untuk menemukan jawaban-
jawaban alternatif.

Mengajar bukan dimaksudkan memindahkan (mentransfer) pengetahuan dari guru kepada siswa.
Mengajar merupakan kegiatan membantu siswa untuk mengembangkan pemikirannya sendiri.
Mengajar merupakan bentuk pastisipasi guru dalam proses membentuk pengertian siswa.
Dengan kata lain, aktivitas mengajar merupakan suatu bentuk dari proses belajar. Mengajar yang
baik hanya menjadi mungkin kalau si pengajar berpikir dengan baik. Berpikir yang baik
merupakan syarat mutlak yakni mempunyai pengertian yang jernih dan susunan pengertian yang
teratur. Belajar dalam pengertian ini dimasudkan sebagai usaha seseorang untuk berpikir secara
konstruktif. Proses berpikir jauh lebih penting dari pada sekedar berusaha untuk mendapatkan
jawaban. Siswa dibantu untuk berpikir, siswa berusaha untuk mencari jawaban sendiri.

A.2. Penguasaan bahan

Peran guru sangat menentukan penguasaan bahan yang luas dan mendalam. Guru perlu
mempunyai pandangan yang sangat luas mengenai pengetahuan tentang bahan yang akan
diajarkan. Penguasaan bahan memungkinkan seorang guru mengerti macam-macam jalan dan
model untuk sampai pada suatu pemecahan persoalan tanpa terpaku pada suatu model.

Guru yang berperan sebagai diktator selalu menganggap jalan yang ia berikan atau
pemikirannya satu-satunya yang benar. Cara ini akan mematikan kreatifitas dan pemikiran para
siswa. Sangat perlu bahwa seorang guru, selain menguasai bahan juga mengerti konteks bahan
itu. Misalnya seorang guru fisika, perlu mengerti bagaimana suatu teori fisika berkembang dalam
sejarah. Pemahaman historis ini akan meletakan suatu pengatahuan dalam konteks yang lebih
mudah dipahami dari pada bila terlepas begitu saja.

A.3. Strategi mengajar

Mengajar adalah suatu seni yang dituntut bukan hanya penguasaan teknik melainkan juga intuisi.
Beberapa ciri mengajar yang perlu diperhatikan oleh seorang guru adalah:

1. Orientasi. Murid diberikan kesempatan untuk mengembangkan motivasi dalam


memperlajari suatu topik. Murid diberikan kesempatan untuk mengadakan observasi
terhadap topik yang hendak dipelajari.

2. Elicitasi. Siswa dibanu untuk mengungkapkan idenya secara jelas dengan berdiskusi,
menulis dan lain-lain. Siswa diberi kesempatan untuk mendiskusikan apa yang
diamatinya dalam bentuk tulisan, gambar atau poster.

3. Penggunaan ide dalam banyak situasi. Ide atau pengetahuan yang telah dibentuk oleh
siswa perlu diaplikasikan dalam bermacam-macam situasi yang dihadapi. Hal ini akan
membuat pengetahuan siswa lebih lengkap.

4. Review, bagaimana ide itu berubah. Dapat terjadi bahwa dalam aplikasi pengetahuannya
pada siatuasi yang dihadapi sehari-hari, seorang perlu merevisi gagasannya, entah
menambah keterangan atau mengubahnya.

A. 4. Evaluasi proses belajar

Dalam mengevaluasi cara belajar siswa, seorang guru tidak dapat mengevalusi apa yang sedang
dibuat siswa atau apa yang mereka katakan. Yang harus dibuat guru adalah menunjukkan kepada
siswa apa yang mereka pikirkan itu tidak cocok atau tidak sesuai untuk persoalan yang dihadapi.
Guru tidak menekankan kebenaran tetapi kebehasilan suatu usaha/operasi. Tidak ada gunanya
mengatakan siswa itu salah karena hanya merendahkan motivasi belajar.

Kepada siswa diberikan suatu persoalan yang belum pernah ditemui sebelumnya, amati
bagaimana mereka menyelesaikan persoalan itu. Pendekatan siswa terhadap persoalan itu lebih
penting dari pada jawaban akhir yang diberikannya. Dengan mengamati cara konseptual yang
dipakai siswa, guru dapat menangkap bagaimana jalannya konsep mereka.

A. 5. Hubungan guru dan siswa

Guru bukanlah orang yang tahu segala-galanya dan siswa bukanlah yang belum tahu dan karena
itu harus diberitahu. Dalam proses belajar siswa aktif mencari tahu dengan membentuk
pengetahuannya, guru hanya membantu agar pencarian itu berjalan dengan baik. Guru dan siswa
bersama-sama membangun pengetahuan. Hubungan mereka lebih sebagai mitra yang bersama-
sama membangun pengetahuan.

B. Peranan Siswa:
Kegiatan belajar merupakan kegiatan yang aktif dimana pelajar membangun sendiri
pengetahuannya. Pelajar membentuk pengertiannya dan memberi makna pada pengalamannya.
Hal itu berarti seorang siswa bertanggung jawab atas hasil belajarnya. Karena ia sendirilah yang
menjalankan proses penalaran dalam bentuk pengertian dan makna.

Belajar oleh seorang siswa merupakan suatu proses organik, bukan proses mekanik. Proses
organik dalam arti suatu proses yang hidup, yang aktif, yang terus berkembang. Proses dimana
seorang siswa mengadakan penemuan-penemuan baru melalui penelitian. Berbeda dengan
proses mekanik dimana seorang hanya mengumpulkan data, fakta, definisi. Ciri proses mekanik
adalah statis.

Sungguh penting setiap siswa dalam proses belajarnya mempunyai pengalaman tentang
menyusun hipotesis dan menguji hipotesis (melalui penelitian). Sungguh penting siswa
mempunyai pengalaman tentang memecahkan pengalaman, dialog, mengekspresikan pikiran
melalui tulisan, gambar dan lain-lain, termasuk pengalaman refleksi. Semua pengalaman ini
dapat dikembangkan melalui dua hal, pertama karya tulis: dalam menyusun karya seorang siswa
diharapkan untuk mengembangkan pikirannya tentang pokok persoalan yang dipilihnya. Proses
pelaksanaannya dibuat secara idividual.

Kedua, studi kelompok: dalam studi kelompok semua siswa diharapkan mengembangkan
pikirannya secara kolektif. Pandangan atau pendapat setiap orang menjadi masukan bagi yang
lain untuk memperkaya pengetahuannya. Dalam dialog diharapakan mendengarkan pembicaraan
orang lain. Yang penting bukanlah pembicaraan itu benar atau tidak, melainkan bagaimana saya
mendengar dan mengerti pembicaraan itu atau tidak. Sesudah mendengarkan pembicaraan orang
lain barulah menanggapi. Melalui studi kelompok seorang siswa harus masuk dalam bingkai
pemikiran atau pengalaman orang lain.

III. Kesimpulan

Telah disadari bahwa sistem pendidikan kita kurang memberikan ruang gerak bagi perserta didik
untuk mengembangkan secara lebih khusus bakat-bakat yang ada dalam diri peserta didik.
Konsekwensi siswa hanya menjadi yang taat pada perintah atau larangan sehingga
pendidikan yang semestinya membebaskan dan mendewasakan ratio manusia, malah menjadi
ruang yang mengurung ratio manusia dalam kemapanan-kemapanan teori. Dan inilah dikritik
oleh John Dewey. Menurut Locke, dalam kondisi tersebut, ratio manusia tidak bisa menjalankan
daya refleksinya, sehingga ia cenderung terkurung dalam kebiasaan-kebiasaan dan tradisi lama,
serta komleksitas ide-ide, tanpa disertai dengan pengalaman dan ketrampilan-ketrampilan
khusus. Maka jalan keluar yang terbaik ialah melepaskan ratio dari kemapanan-kemapanan
tersebut, yakni dengan mengubah sistem pendidikan yang kompleks tersebut.

Mengajar merupakan proses membantu seseorang untuk membentuk pengetahuannya sendiri.


Mengajar bukanlah mentransfer pengetahuan dari orang yang sudah tahu (guru) kepada yang
belum tahu (siswa) atau kebiasaan menghafal, melainkan membantu seseorang agar dapat
membentuk sendiri pengetahuannya lewat kegiatannya terhadap suatu obyek yang ingin
diketahui. Dalam hal ini penyediaan prasarana dan situasi yang memungkinkan dialog secara
kritis harus dikembangkan.
Dalam proses ini seorang guru bertugas sebagai mitra yang aktif bertanya, merangsang
pemikiran, menciptakan persoalan, membiarkan siswa mengungkapkan gagasan dan konsepnya.
Yang terpenting adalah menghargai dan menerima pemikiran siswa apapun menguasai bahan
secara luas dan mendalam sehingga dapat lebih mudah menerima gagasan dan pendapat siswa
yang berbeda.

Demikianlah untuk memperoleh mutu pendidikan yang baik diperlukan para pendidikan yang
memiliki profesionalitas dalam mengajar serta mendampingi siswa dalam proses belajar.

Daftar Pustaka

Frederick Mayer, A History of Modern Philosophy (New York: American Book Company, 1951).

Harun Hadiwijoyono, Sari Filsafat Barat (Yogyakarta: Kanisius, 1980)

J. Montong, Sejarah Filsafat Semesta (Traktat Kuliah STF-Seminari Pineleng, 1989)

J. Ohoitimur, Aliran-Aliran Utama Filsafat Barat Kontemporer (Traktat Kuliah STF-Seminari


Pineleng, 2003)

J. W. Yolton, John Locke and The Way of Ideas (Oxford: The Oxford University Press, 1968)

Jacob E Safra (Cairman of TheBoard), The New Encyclopedia Britannica Seventeen Edition
(Chicago: Encyclopedya Britannica, Inc., 2002).

James Gordon Clapp, Locke, John, The Encyclopedia of Philosophy, edited by Paul Edwards
(ed.), Volume III and IV (New York: Simon and Schuster and Prencite Hall International, 1996).

L. C. Deighton (ed.), The Encyclopedya of Education, volume VI (New York: The Macmillan
Company and The Free Press, 1971)

M. Cranston, John Locke (London: Longmans, 1969), p. 12.

N. Tarcov, Lockes Education for Liberty (Chicago: The University of Chicago Press, 1969)

Paul Suoarno, Filsafat Konstruktivisme Dalam Dunia Pendidikan (Yogyakarta: Kanisius, 1997).

Richard J. Berstein, Dewey John,

William Bayd, The History of Western Education.

Zamroni M.A. Pendidikan Untuk Demokrasi: Tantangan Menuju Civil Society (Yogyakarta:
Bigraf Publishing, 2001)
[1] Innatisme ditolak karena dinilai kebenarannya sulit dipastikan; prinsipnya didasarkan pada
kebenaran yang belum dibuktikan oleh pengalaman (lih. J. Montong, Sejarah Filsafat Semesta
(Traktat Kuliah STF-Seminari Pineleng, 1989), hlm. 89.

[2] Harun Hadiwijoyono, Sari Filsafat Barat (Yogyakarta: Kanisius, 1980), hlm. 36.

[3] J. W. Yolton, John Locke and The Way of Ideas (Oxford: The Oxford University Press, 1968),
p. 26-27.

[4] N. Tarcov, Lockes Education for Liberty (Chicago: The University of Chicago Press, 1969),
p. 83.

[5] M. Cranston, John Locke (London: Longmans, 1969), p. 12.

[6] Lih. Yolton, John Locke and The Way of Ideas, p. 26-27.

[7] J. Ohoitimur, Aliran-Aliran Utama Filsafat Barat Kontemporer (Traktat Kuliah STF-
Seminari Pineleng, 2003), hlm. 77.

[8] Cranston, John Locke, p. 12-13.

[9] James Gordon Clapp, Locke, John, The Encyclopedia of Philosophy, edited by Paul
Edwards (ed.), Volume III and IV (New York: Simon and Schuster and Prencite Hall
International, 1996), hlm. 501. terkutip dalam N. Tarcov, p. 198.

[10] Trcov, Lockes Education for Liberty, p. 198.

[11] Yolton, John Locke and The Way of Ideas, p. 16.

[12] Ibid., p. 26-27.

[13] L. C. Deighton (ed.), The Encyclopedya of Education, volume VI (New York: The
Macmillan Company and The Free Press, 1971), p. 20.

[14] Jacob E Safra (Cairman of TheBoard), The New Encyclopedia Britannica Seventeen Edition
(Chicago: Encyclopedya Britannica, Inc., 2002), p. 35.

[15] William Bayd, The History of Western Education, p. 287.

[16] M. Cranston, John Locke, p. 16.

[17] Daighton (ed.), The Encyclopedia of Education, p. 22.

[18] Ibid., p. 20.

[19] Ibid., p. 21-22.


[20] Richard J. Berstein, Dewey John, hlm. 384-385. Bdk. J. Ohoitimur, Aliran-Aliran Utama
Filsafat Barat Kontemporer (Traktat Kuliah SFT-SP), hlm. 76-79.

[21] Frederick Mayer, A History of Modern Philosophy (New York: American Book Company,
1951), hlm. 548.

[22] Zamroni M.A. Pendidikan Untuk Demokrasi: Tantangan Menuju Civil Society (Yogyakarta:
Bigraf Publishing, 2001), hlm. 30-31.

[23] Bdk. J. Ohoitimur, Aliran-Aliran Utama Filsafat Barat Kontemporer (Traktat Kuliah SFT-
SP), hlm. 79.

[24] Frederick Mayer, A History of Modern Philosophy (New York: American Book Company,
1951), hlm. 535.

https://leonardoansis.wordpress.com/goresan-pena-sahabatku-yono/filsafat-pendidikan-
menurut-john-locke-dan-john-dewey/

FILSAFAT NILAI PRAGMATISME JOHN DEWEY

Sunday, 30 November 20140 komentar


Oleh : Syafieh, M. Fil. I

A. PENDAHULUAN
Akhir abad XIX atau memasuki abad XX di Amerika berkembang sebuah aliran filsafat yang
begitu besar dampaknya bagi perkembangan negara tersebut sehingga mengubah cara pandang
rakyat Amerika salah satunya di bidang pendidikan yang disebut pragmatisme. Tokoh
pragmatisme pertama adalah Charles Sander Peirce kemudian diikuti oleh William James
kemudian terakhir adalah John.
Pragmatisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa yang benar ialah apa yang
membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantaraan akibat-akibatnya yang bermanfaat secara
praktis. Pegangan pragmatisme adalah logika pengamatan. Aliran ini bersedia menerima segala
sesuatu, asal saja membawa akibat yang praktis. Pengalaman-pengalaman pribadi diterimanya
asal bermanfaat. Rasionalitas dalam pragmatisme telah direduksi menjadi yang berguna, yang
bermanfaat, atau yang berfungsi.
Secara teoritis, gerakan pragmatisme berawal dari upaya formulasi yang dilakukan oleh Charles
Sanders Peirce , meskipun kemudian pragmatisme dikembangkan oleh William James . Secara
metodologis, pragmatisme akhirnya berhasil diserap oleh bidang-bidang kehidupan sehari-hari
Amerika Serikat berkat kerja keras John Dewey. Dewey memusatkan perhatiaanya pada
masalah-masalah yang menyangkut etika, pemikiran sosial dan pendidikan. Memang ada begitu
banyak pandangan-pandangan para filsuf yang berhubungan dengan bidang pragmatisme ini,
akan tetapi ketiga tokoh di atas yang populer dan banyak dibicarakan dalam pengembangan
pragmatisme. Peirce dipandang sebagai penggagas pragmatisme, James sebagai pengembangnya
dan Dewey sebagai orang yang menerapkan pragmatisme dalam pelbagai bidang kehidupan.
Makalah ini membahas tentang epistemologi pragmatisme dari John Dewey di mana tokoh yang
terakhir dalam aliran pragmatisme ini lebih suka menyebut pragmatisme dengan istilah
instrumentalisme yang pemikirannya terpengaruh oleh pendahulunya yaitu Hegel, Darwin, dan
James.

B. PENGERTIAN DAN SEJARAH FILSAFAT PRAGMATISME


Pragmatisme (dari bahasa Yunani: pragma, artinya yang dikerjakan, yang dilakukan, perbuatan,
tindakan) merupakan sebutan bagi filsafat yang dikembangkan oleh William James (1842
1910) di Amerika Serikat. Menurut filsafat ini, benar tidaknya suatu ucapan, dalil atau teori
semata-mata bergantung pada manusia dalam bertindak. Dengan kata lain, suatu teori adalah
benar if it works ( apabila teori dapat diaplikasikan), sehingga pertanyaan yang muncul bukanlah
what is tetapi what for. Istilah pragmaticisme ini diangkat pada tahun 1865 oleh Charles S. Pierce
(1839-1914) sebagai doktrin pragmatisme.
Istilah pragamatisme sebenarnya diambil oleh Charles S. Pierce dari Immanuel Kant. Kant
sendiri memberi nama "keyakinan-keyakinan hipotesa tertentu yang mencakup penggunaan
suatu sarana yang merupakan suatu kemungkinan real untuk mencapai tujuan tertentu. Manusia
memiliki keyakinan-keyakinan yang berguna tetapi hanya bersifat kemungkinan belaka,
sebagaimana dimiliki oleh seorang dokter yang memberi resep untuk menyembuhkan penyakit
tertentu. Tetapi Kant baru melihat bahwa keyakinan-keyakinan pragmatis atau berguna seperti itu
dapat di terapkan misalnya dalam penggunaan obat atau semacamnya.
Pragmatisme sebagai suatu gerakan dalam filsafat lahir pada akhir abad ke-19 di Amerika.
Karena itu sering dikatakan bahwa pragmatisme merupakan sumbangan yang paling orisinal dari
pemikiran Amerika terhadap perkembangan filsafat dunia. Pragmatisme dilahirkan dengan tujuan
untuk menjebatani dua kecenderungan berbeda yang ada pada saat itu. Kedua kecenderungan
yang mau dijembatani itu yakni, pertantangan yang terjadi antara yang spekulatif dan yang
praksis. Tradisi pemikiran yang spekulatif bersumber dari warisan filsafat rasionalistik
Descartes dan berkembang melalui idealisme kritis dari Kant, idealisme absolut Hegel serta
sejumlah pemikir rasionalistik lainnya.
Warisan ini memberikan kepada rasio manusia kedudukan yang terhormat kerena memiliki
kekuatan instrinsik yang besar. Warisan ini pulalah yang telah mendorong para filsuf dan
ilmuwan-ilmuwan membangun teori-teori yang mengunakan daya nalar spekulatif rasio untuk
mengerti dan menjelaskan alam semesta. Akan tetapi, di pihak lain ada juga warisan pemikiran
yang hanya begitu menekankan pentingnya pemikiran yang bersifat praksis semata (empirisme).
Bagi kelompok ini, kerja rasio tidak terlalu ditekankan sehingga rasio kehilangan tempatnya.
Rasio kehilangan kreativitasnya sebagai instrumen khas manusiawi yang mampu membentuk
pemikiran dan mengarahkan sejarah. Hasil dari model pemikiran ini yakni munculnya ilmu-ilmu
terapan. Termasuk di dalamnya yakni Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK).
Menurut teori klasik tentang kebenaran, dikenal dua posisi yang berbeda, yakni teori
korespondensi dan teori koherensi. Teori korespondensi menekankan persesuaian antara si
pengamat dengan apa yang diamati sehingga kebenaran yang ditemukan adalah kebenaran
empiris. Sedangkan teori koherensi menekankan pada peneguhan terhadap ide-ide apriori atau
kebenaran logis, yakni jika proposisi-proposisi yang diajukan koheren satu sama lain.
Secara filosofis, pragmatisme berusaha untuk menjebatani dua aliran filsafat tradisional ini. Atas
salah satu cara, pragmatisme menyetujui apa yang menjadi keunggulan dari empirisme. William
James mengatakan bahwa Pragmatisme yang diajarkannya, merupakan nama baru bagi
sejumlah cara berpikir lama. Dan dia sendiri pun menganggap pemikirannya sebagai kelanjutan
dari Empirisme Inggris, seperti yang dirintis oleh Francis Bacon (1561-1626), yang kemudian
dikembangkan oleh Thomas Hobbes (1558-1679) dan John Locke (1632-1704). Pragmatisme
telah mempengaruhi filsafat Eropa dalam berbagai bentuknya, baik filsafat Eksistensialisme
maupun Neorealisme dan Neopositivisme.
Dengan demikian Pragmatisme dapat dikategorikan ke dalam pembahasan mengenai teori
kebenaran (theory of truth), sebagaimana yang nampak menonjol dalam pandangan William
James, terutama dalam bukunya The Meaning of The Truth (1909). Pada awal
perkembangannya, pragmatisme lebih merupakan suatu usaha-usaha untuk menyatukan ilmu
pengetahuan dan filsafat agar filsafat dapat menjadi ilmiah dan berguna bagi kehidupan praktis
manusia. Sehubungan dengan usaha tersebut, pragmatisme akhirnya berkembang menjadi suatu
metoda untuk memecahkan berbagai perdebatan filosofis-metafisik yang tiada henti-hentinya,
yang hampir mewarnai seluruh perkembangan dan perjalanan filsafat sejak zaman Yunani kuno.
Melihat apa yang ingin dijembatani ini, pragmatisme mengangkat nilai-nilai positif yang ada
pada kedua tradisi tersebut. Prinsip yang dipegang kaum pragmatis yakni: tidaklah penting
bahwa saya menerima teori ini atau itu; yang penting ialah apakah saya memiliki suatu teori atau
nilai yang dapat berfungsi dalam tindakan.
Karena itulah pragmatisme diartikan sebagai suatu filsafat tentang tindakan. Itu berarti bahwa
pragmatisme bukan merupakan suatu sistem filosofis yang siap pakai yang sekaligus
memberikan jawaban terakhir atas masalah-masa1ah filosofis. Pragmatisme hanya berusaha
menentukan konsekwensi praktis dari masa1ah-masalah itu, bukan memberikan jawaban final
atas masa1ah-masalah itu.
Membicarakan pragmatisme sebagai sebuah paham dalam filsafat, tentu tidak dapat dilepaskan
dari Charles S. Pierce, William Jamess dan John Dewey. Meskipun ketiga tokoh tersebut sama-
sama dimasukkan dalam kelompok aliran pragmatisme, namun diantara ketiganya memiliki
fokus pembahasan yang berbeda. Charles S. Pierce lebih dekat disebut filosof ilmu, sedangkan
William James disebut filosof agama dan John Dewey dikelompokkan pada filosof sosial.
Pragmatisme Dewey merupakan sintensis pemikiran-pemikiran Charles S. Pierce dan William
James.
Kekhususan filsafatnya terutama berdasarkan pada prinsip naturalisme empiris atau empirisme
naturalis. Istilah naturalisme ia terangkan sebagai pertama-tama bagi Dewey akal budi
bukanlah satu-satunya pemerosesan istimewa dari realitas obyektip secara metafisis. Pokoknya
Dewey menolak untuk merumuskan realitas berdasar pada pangkalan perbedaan antara subyek
yang memandang obyek. Dewey lebih mau memandang proses intelektual manusia sebagaimana
berkembang dari alam.
Menurut Dewey, akal budi adalah perwujudan proses tanggap antara rangsangan dengan
tanggapan panca indera pada tingkat biologis. Rangsangan tersebut aslinya dari alam, manusia
mula-mula bertindak menurut kebiasaan-kebiasaan yang telah ada. Setelah refleksinya bekerja, ia
mulai berhenti dan tidak mau hanya asal beraksi saja terhadap lingkungan. Mulailah ia
mempertanyakan lingkungan alam itu. Selama itu pulalah proses tanggapan berlangsung terus.
Berkat proses ini, terwujud adanya perubahan dalam lingkungan. Dewey menyebut situasi
tempat manusia hidup sebagai situasi problematis. Cara manusia bertindak dalam situasi
problematis ini tidak hanya fisik belaka tetapi juga kultural. Maka bila seseorang dalam
menghadapi situasi problematis dan terdorong untuk berpikir dan mengatasi soal di dalamnya,
pertimbangan moral ia buat sebagai rencana untuk memungkinkan tindakannya, walaupun akal
budi sudah mengarah ke tindakan, tindakan itu sendiri belum muncul. Baru setelah orang
bertindak dalam situasi problematisnya, tindakannya benar-benar mewujud.
`Dari dasar di atas, Dewey mempunyai gagasan tentang sifat naturalistis sebagai perkembangan
terus-menerus hubungan organisme dengan lingkungannya. Dari pandangan tersebut bisalah
kita menggolongkan Dewey sebagai seorang empiris karena ia bertitik tolak dari pengalaman dan
kembali kepengalaman. Si subyek bergumul dengan situasi problematika yang real empiris dan
memecahkannya sedapat mungkin sehingga menghasilkan perubahan-perubahan. Pengalaman
sendiri boleh dikatakan sebagai transaksi proses doing dan undergoing, suatu hubungan aktif
antara organisme dengan lingkungannya. Dewey tidak membedakan antara subyek dengan
obyek, antara tindak dengan benda material.
John Dewey mengembangkan lebih jauh mengembangkan Pragmatisme James. Jika James
mengembangkan Pragmatisme untuk memecahkan masalah-masalah individu, maka Dewey
mengembangkan Pragmatisme dalam rangka mengarahkan kegiatan intelektual untuk mengatasi
masalah sosial yang timbul di awal abad ini. Dewey menggunakan pendekatan biologis dan
psikologis, berbeda dengan James yang tidak menggunakan pendekatan biologis
Meskipun berbeda-beda penekanannya, tetapi ketiga pemikir utama Pragmatisme menganut garis
yang sama, yakni kebenaran suatu ide harus dibuktikan dengan pengalaman.

C. JOHN DEWEY: RIWAYAT HIDUP DAN KARYANYA


1. Riwayat Hidup John Dewey
John Dewey adalah seorang filsuf dari Amerika, teoretikus, reformator pendidikan dan kritikus
sosial yang lahir di Burlington, Vermont dalam tahun 1859, tepatnya pada tanggal 20 Oktober.
Dewey kecil adalah seorang yang gemar membaca namun tidak menjadi seorang siswa yang
brilian di antara teman-temannya ketika itu. Ia masuk ke Universitas Vermont dalam tahun 1875
dan mendapatkan gelar B.A. Ia kemudian melanjutkan kuliahnya di Universitas Jons Hopkins, di
mana dalam tahun 1884 ia meraih gelar doktornya dalam bidang filsafat di universitas tersebut.
Di universitas terakhir ini, Dewey pernah mengikuti kuliah logika dari Pierce, orang yang
menggagas munculnya pragmatisme. Disinilah beliau bersentuhan dengan filsafat pragmatism.
Walaupun demikian, pengaruh terbesar datang dari guru dan sahabatnya George Sylvester
Morris, seorang idealis yang sangat bersemangat mengajarkan filsafat Hegel sehingga Dewey
pun menjadi pengikut filsafat idealisme tersebut. Setelah menyelesaikan doktornya, pada tahun
1884 hingga 1886, beliau mengajar filsafat dan psikologi di Universitas Michigan atas undangan
Morris. Dari tahun 1884 samai 1888, Dewey mengajar pada Universitas Michigan dalam bidang
filsafat.
Tahun 1889 ia pindah ke Universitas Minnesota. Akan tetapi pada akhir tahun yang sama, ia
pindah ke Universitas Michigan dan menjadi kepala bidang filsafat. Tugas ini dijalankan sampai
tahun 1894, dimana ia pindah ke Universitas Chicago yang membawa banyak pengaruh pada
pandangan-pandangannya tentang pendidikan sekolah di kemudian hari. Salah satu keberatan
Dewey terhadap program dan metode pendidikan saat itu adalah bahwa mereka gagal
memperhitungkan penemuan psikologi tentang aktivitas belajar. Di Universitas Chicago beliau
menjabat sebagai kepala departemen filsafat, psikologi dan pedagogi. Ia berpaling dari filsafat
Hegel ke teori yang meyakini bahwa pengalaman sehari-hari dan pengalaman ilmiah
menyiapkan landasan penting bagi realitas maupun pemikiran. William James kemudian
memproklamirkan Chicago University yang berada di bawah pengaruh Dewey, sebagai mazhab
filsafat yang baru.
Masa di Chicago mungkin adalah masa keemasannya. Di sinilah Dewey menjadi terkenal dalam
bidang pendidikan. Sedemikian kuat ketertarikannya pada bidang ini sampai-sampai ia
menegaskan bahwa semua filsafat adalah filsafat pendidikan. Ia kemudian mendirikan
Laboratory School yang kelak dikenal dengan nama The Dewey School. Di pusat penelitian ini
ia pun memulai penelitiannya mengenai pendidikan di sekolah-sekolah dan mencoba
menerapkan teori pendidikannya dalam praksis sekolah-sekolah. Hasilnya, ia meninggalkan pola
dan proses pendidikan tradisional yang mengandalkan kemampuan mendengar dan menghafal.
Sebagai ganti, ia menekankan pentingnya kreativitas dan keterlibatan murid dalam diskusi dan
pemecahan masalah. Selama periode ini pula ia perlahan-lahan meninggalkan gaya pemikiran
idealisme yang telah mempengaruhi sejak pertemuan dengan Morris. Jadi selain menekuni
pendidikan, ia juga menukuni bidang logika, psikologi dan etika.
Pengalaman Dewey tidak hanya berhenti sampai di Universitas Chicago. Karena bertentangan
dengan rektor mengenai manajemen pembiayaan departemen pendidikan, Dewey meninggalkan
Chicago dan hijrah ke Universitas Columbia di New York. Terakhir ia berkarya sebagai dosen di
Universitas Colombia dalam tahun 1904. Di universitas ini, Dewey berkarya sebagai seorang
profesor filsafat sampai ia pensiun pada tahun 1929. Setelah pindah ke New York, Dewey
kerapkali menulis di berbagai media massa antara lain the New Republic. Beliau juga terlibat
dalam berbagai organisasi seperti the American Civil Liberties Union di mana dia adalah pendiri
dan ketuanya; dan Asosiasi Professor Universitas Amerika sebagai pendiri dan presiden
pertamanya.
Dalam periode ini, Dewey banyak mengadakan perjalanan antara lain ke negara-negara Eropa
serta Jepang, Cina, Meksiko, dan Rusia. Di Jepang, misalnya, ia memberikan kuliah-kuliah
dalam bentuk ceramah yang kemudian akan menjadi dasar pengembangan filsafat
rekunstruksinya. Dalam tahun 1924, ia juga berkunjug ke Turky untuk mengadakan rekunstruksi
terhadap sistem pendidikan yang dijalankan di sana. Hal yang sama juga dilakukan dalam
kunjugannya ke Meksiko dan Rusia dalam tahun 1928.
Sejak ia berhenti dari universitas Colombia, ia aktif dalam pengembangan filsafat dan
melanjutkan karya-karya dokrinnya. Dengan pelbagai usaha dan kerja yang dilakukannya selama
masih bekerja di universitas-universitas maupun setelah itu, ia kemudian dikenal sebagai seorang
yang mengembangkan filsafat secara baru di Amerika. Pemikirannya banyak mempengaruhi
perkembangan filsafat, politik, pendidikan, religiusitas dan kesenian di Amerika.
Pada November 1951 tulang pinggulnya patah dan gagal disambung kembali dengan baik. Pada
1 Juni 1952 Dewey wafat akibat pneumonia meninggalkan 6 orang anak kandung dan 2 orang
anak angkat. Beliau adalah tokoh yang sangat dihormati semasa hidupnya dilihat dari banyaknya
undangan ceramah yang datang dari bebagai negara dan bangsa.

2. Karya-Karya John Dewey


Sudah sedikit disinggung di atas bahwa karya-karya Dewey banyak mempengaruhi corak
berpikir Amerika. Pengaruh ini juga banyak berasal dari buku-buku atau karya-karya yang
dihasilkannya. Bukunya yang pertama yakni Psychology yang diterbitkan dalam tahun 1891.
Dalam tahun 1891, bukunya Outlines of a Critica Theory of Etics diterbitkan. Tiga tahun
kemudian, 1894, terbit lagi The Study Of Etics: A Syllabus. Ketika ia berkarya di Universitas
Chicago, berturut-turut ia menerbitkan My Pedagogic Creed (1897), The School and Society
(1903), dan Logical Conditions of a Scientific Treatment of Morality (1903). Ia juga banyak
menghasilkan uku-buku ketika berada di Universitas Colombia seperti Ethics (1908), How We
Think (1910), The Influence of Darwin and Other Essays in Contemporary Thought (1910),
School of Tomorrow (1915), Democraty and Education (1916), Essays in Experimental Logic
(1916), Recunstruction in Philosophy (1920), Human Nature and Conduct (1922), Experience
and Nature (1925), The Quest for Certainty (1929), Art as Experience (1934), A Common Faith
(1934), Experience and Education (1938), Logic: The Theory of Inquiry (1938), Theory of
Valuation (1939), Education Today (1940), Problem of Men (1946), dan Knowing and The
Known (1949).
Nampak jelas dari tulisan-tulisan Dewey bahwa ia menaruh minat besar pada bidang logika,
metafisika dan teori pengatahuan. Tetapi perhatian Dewey di bidang pragmatisme terutama
dicurahkan pada realitas sosial daripada kehidupan individual. Hal ini nampak dalam tema-tema
bukunya: pendidikan, demokrasi, etika, agama, dan seni.

D. KONSEP DEWEY TENTANG PENGALAMAN DAN PIKIRAN


Konsep kunci dalam filsafat Dewey adalah pengalaman. Pengalaman (Experience) adalah salah
satu kata kunci dalam filsafat instrumentalisme. Filsafat Dewey adalah mengenai (about) dan
untuk (For) pengalaman sehari-hari. Pengalaman adalah keseluruhan drama manusia dan
mencakup segala proses saling memengaruhi (take and give) antara organisme yang hidup
dalam lingkungan sosial dan fisik. Dewey menolak orang yang mencoba menganggap rendah
pengalaman manusia atau menolak untuk percaya bahwa seseorang telah berbuat demikian.
Dewey mengatakan bahwa pengalaman bukannya suatu tabir yang menutupi menusia sehingga
tidak melihat alam. Pengalaman adalah satu-satunya jalan bagi manusia untuk memasuki rahasia-
rahasia alam.
Bagi Dewey, pengalaman sebagai suatu yang bersifat personal dan dinamis adalah satu kesatuan
yang mengultimatumkan suatu interelasi. Tidak ada pengalaman yang bergerak secara terpisah
dan semua pengalaman itu memainkan suatu kompleksitas sistem yang organik. Menurutnya,
pemikiran kita berpangkal dari pengalaman-pengalaman dan menuju pengalaman-pengalaman.
Gerak itu dibangkitkan segera dan kita dihadapkan dengan suatu keadaan yang menimbulkan
persoalan pada dunia sekitarnya, dan gerak itu berakhir dalam beberapa perubahan dalam dunia
sekitar atau dalam dunia kita. Pengalaman yang langsung bukanlah soal pengetahuan, yang
terkandung di dalamnya pemisahan subyek dan obyek, pemisahan antara pelaku dan sarananya.
Di dalam pengalaman itu keduanya bukan dipisahkan, tetapi dipersatukan. Apa yang dialami
tidak dipisahkan dari yang mengalaminya sebagai satu hal yang penting atau yang berarti.
Jikalau terdapat pemisahan di antara subyek dan obyek hal itu bukan pengalaman, melainkan
pemikiran kembali atas pengalaman tadi. Pemikiran, itulah yang menyusun sasaran
pengetahuan. Atas dasar ini pula, Dewey merumuskan tujuan filsafat sebagai memberikan garis-
garis pengarahan bagi perbuatan dalam kenyataan hidup. Oleh karena itu, filsafat tidak boleh
tenggelam dalam pemikiran-pemikiran metafisis yang tidak bermanfaat. Dalam konteks ini,
filsafat digunakan sebagai dasar dan fungsi sosial.
Pokok pandangan ini muncul sebagai kritiknya atas pokok dari filsafat jaman sebelumnya yang
mengemukakan pandangan tentang realitas dan fungsi pengetahuan yang membingungkannya.
Menurutnya, kaum empiris telah beranggapan bahwa pikiran selalu menunjuk pada obyek-obyek
dari alam, dan bahwa setiap ide selalu berhubungan dengan suatu realitas. Dengan kata lain,
pengetahuan seakan-akan dibentuk setelah subyek berhadapan dengan atau memandang sesuatu
di luar dirinya. Inilah yang disebut a spectator theory of knowledge. Menurut teori ini, subyek
pengetahuan bertindak bagaikan seorang penonton yang hanya dengan memandang sudah
mendapatkan ide tentang obyeknya. Inilah pandangan kaum rasionalis. Menurut pandangan ini,
rasio merupakan suatu instrumen untuk memperhatikan apa yang tetap dan pasti pada alam.
Alam dan rasio adalah dua hal yang terpisah dan berbeda.
Dewey beranggapan bahwa baik apa yang dikembangkan oleh kaum empiris maupun kaum
rasionalis terlalu statis di satu pihak dan terlampau mekanistik di lain pihak. Atas pengaruh
Hegelian, Dewey mengakui bahwa antara manusia dan lingkungan alamiahnya terdapat
dialektika yang konfliknya terselesaikan dalam pengalaman. Hal ini disebabkan karena setiap
pengalaman adalah kekuatan yang berdaya guna. Maksudnya, pengalaman merupakan
pertemuan antara manusia dengan lingkungan alam yang mengitarinya dan itu membawa
manusia pada pemahaman yang baru. Pengalaman juga bersifat dinamis karena lingkungan juga
bercorak dinamis. Inteligensi pada hakikatnya merupakan kekuatan yang dimiliki manusia untuk
menghadapi lingkungan hidup yang terserap dalam pengalamannya. Dalam konteks ini, berpikir
adalah suatu aktivitas inteligensi yang lahir karena adanya pengalaman manusia dan bukan suatu
akivitas yang terisolasi dalam pikiran semata.
Berdasarkan pendangannya tentang hubungan pengalaman dan corak berpikir di atas, Dewey
membagi aspek pemikiran dalam dua aspek. Pada mulanya aspek pimikiran selalu berada dalam
a) situasi yang membingkungkan dan tidak jelas, b) situsi yang jelas di mana masalah-masalah
terpecahkan. Menurutnya, aktivitas berpikir selalu merupakan sarana untuk memecahkan
masalah-masalah. Hal ini mengandaikan bahwa aktivitas inteligensi lebih luas dari sekedar
aktivitas kognitif, yaitu meliputi keinginankeinginan yang muncul dalam diri subyek ketika
berhadapan dengan kesekitarannya. Inilah yang disebut Dewey teori instrumentalia tentang
pengetahuan. Yang dimaksudkan dengan teori instrumentalisme adalah suatu usaha untuk
menyusun suatu teori yang logis dan tepat dari konsep-konsep, pertimbangan-pertimbangan,
penyimpulan-penyimpulan dalam bentuknya yang bermacam-macam, dengan cara pertama-tama
menyelidiki bagaimana pikiran berfungsi dalam penentuan-penentuan yang berdasarkan
pengalaman, yang mengenai konsekuensi-konsekuensi di masa depan. Teori ini juga yang
mendorongnya untuk menyebut sistemnya dengan istilah instrumentalisme daripada disebut
sebagai pragmatisme.
Dunia yang ada sekarang ini, yakni dunia pria dan wanita, dunia sawah dan pabrik, dunia
tumbuhan dan binatang, dunia yang kita hiruk pikuk dan bangsa-bangsa yang berjuang, adalah
dunia pengalaman kita. Kita harus berusaha memakainya dan kemudian berusaha membentuk
suatu masyarakat diamana setiap orang dapat hidup dalam kemerdekaan dan kecerdasan.
Dalam perjalanan pengalaman seseorang, pikiran selalu muncul untuk memberikan arti dari
sejumlah situasi-situasi yang terganggu oleh pekerjaan diluar hipotesis atau membimbing kepada
perbuatan yang akan dilakukan. Kata Dewey, kegunaan kerja pikiran tidak lain hanya merupakan
cara jalan untuk melayani kehidupan. Makanya, ia dengan kerasnya menuntut untuk
menggunakan metode ilmu alam (Scientific Method) bagi semua lapangan pikiran, terutama
dalam menilai persoalan akhlak(etika), estetika, politik dan lain-lain. Dengan demikian, cara
penilaian bisa berubah dan bisa disesuaikan dengan lingkungan dan ebutuhan hidup.
Menurut Dewey yang dimaksud dengan Scientific Method ialah cara yang dipakai oleh
seseorang sehingga bisa melampaui segi pemikiran semata-mata pada segi amalan. Dengan
demikian, suatu pikiran bisa diajukan sebagai pemecahan suatu kesulitan (to solve problematic
situation), dan kalau berhasil maka pikiran itu benar.
Dengan demikian, pengalaman merupakan salah satu kata kunci dalam filsafat instrumentalisme.
Pengalaman tidak akan bisa terlepas, karena pengalaman berintegrasi dengan alam dan
kehidupan manusia. Pengalaman tidak bisa kita lupakan karena, pengalaman bisa menjadi tolak
ukur kita untuk melangkah ke depan dengan lebih baik. Pandangan John Dewey dalam
pemikiran dan pengalaman ada istilah yang disebut instrumental. Dewey merumuskan esensi
instrumentalisme pragmatis sebagai to conceive of both knowledge and practice as means of
making good excellencies of all kind secure in experienced existence. Demikianlah, Dewey
memberikan istilah pragmatisme dengan instrumentalism, operationalism, functionalism, dan
experimentalism. Yang dimaksudkan dengan teori instrumentalisme adalah suatu usaha untuk
menyusun suatu teori yang logis dan tepat dari konsep-konsep, pertimbangan-pertimbangan,
penyimpulan-penyimpulan dalam bentuknya yang bermacam-macam, dengan cara pertama-tama
menyelidiki bagaimana pikiran berfungsi dalam penentuan-penentuan yang berdasarkan
pengalaman, yang mengenai konsekuensi-konsekuensi di masa depan. Teori ini juga yang
mendorongnya untuk menyebut sistemnya dengan istilah instrumentalisme daripada disebut
sebagai pragmatisme.

E. KONSEP DEWEY TENTANG MANUSIA DAN LINGKUNGAN SOSIALNYA


Padangan Dewey tentang manusia bertolak dari konsepnya tentang situasi kehidupan manusia itu
sendiri. Manusia adalah makhluk sosial, sehingga segala perbuatannya, entah baik atau buruk,
akan diberi penilaian oleh masyarakat. Akan tetapi di lain pihak, manusia manurutnya adalah
yang menciptakan nilai bagi dirinya sendiri secara alamiah. Masyarakat di sekitar manusia
dengan segala lembaganya, harus diorganisir dan dibentuk sedemikian rupa sehingga dapat
memberikan perkembangan semaksimal mungkin. Itu berarti, seorang pribadi yang hendak
berkembang selain berkembang atas kemungkinan alamiahnya, perkembangannya juga turut
didukung oleh masyArakat yang ada di sekitarnya.
Dewey juga berpandangan bahwa setiap pribadi manusia memiliki struktur-struktur kodrati
tertentu. Misalnya insting dasar yang dibawa oleh setiap manusia. Insting-insting dasar itu tidak
bersifat statis atau sudah memiliki bentuk baku, melainkan sangat fleksibel. Fleksibilitasnya
tampak ketika insting bereaksi terhadap kesekitaran. Pokok pandangan Dewey di sini sebenarnya
ialah bahwa secara kodrati struktur psikologis manusia atau kodrat manusia mengandung
kemampuan-kemampuan tertentu. Kemampuan-kemampuan itu diaktualisasikan sesuai dengan
kondisi sosial kesekitaran manusia. Bila seseorang berlaku yang sama terhadap kondisi
kesekitaran, itu disebabkan karena kebiasaan, cara seseorang bersikap terhadap stimulus-
stimulus tertentu. Kebiasaan ini dapat berubah sesuai dengan tuntutan kesekitarannya.
Dewey juga berbicara tentang kejahatan (evil) manusia. Kejahatan bukanlah sesuatu yang tidak
dapat dirubah. Sebaliknya, kejahatan merupakan hasil dari cara tertentu manusia yang dibentuk
dan dikondisikan oleh budaya. Oleh karena itu, syarat mutlak untuk mengatasi kejahatan adalah
mengubah kebiasaan-kebiasaan masyarakat, yaitu kebiasaannya dalam berpikir dan bereaksi
terhadap kesekitaran.

F. KONSEP DEWEY TENTANG DEMOKRASI DAN PENDIDIKAN


Dewey memandang bahwa tipe dari pragmatismenya diasumsikan sebagai sesuatu yang
mempunyai jangkauan aplikasi dalam masyrakat. Pendidikan dipandang sebagai wahana yang
strategis dan sentral dalam upaya kelangsungan hidup dimasa depan. Pendidikan nasional
Amerika, Menurut Dewey, hanya mengajarkan muatan-muatan yang sudah usang (out of date)
dan hanya mengulang-ngulang sesuatu yang sudah lampau, yang sebenarnya tidak layak lagi
diajarkan kepada anak didik. Pendidikan yang demikian hanya mengebiri intelektualitas anak
didik. Dalam bukunya Democracy and Education (1961), Dewey menawarkan suatu konsep
pendidikan yang adaptif and progresif bagi perkembangan masa depan.
Dewey elaborated upon his teory that school reflect the community and be patterned after it so
that when children graduate from school they will be properly adjusted to asumse their place in
sociaty.
Kutiapan diatas dapat dipahami secara bebas bahwa pendidikan harus mampu membekali anak
didik sesuai dengan kebutuhan yang ada pada lingkungan sosialnya. Sehingga, apabila anak
didik telah lulus dari lembaga sekolah, ia bisa beradaptasi dengan masyarakat.
Untuk merealisasikan konsep tersebut, Dewey menawarkan dua metode pendekatan dalam
pengajaran. Pertama, problem solving method. Dengan metode ini anak dihadapkan pada
berbagai situasi dan masalah-masalah yang menantang, dan anak didik diberi kebebasam
sepenuhnya. untuk memecahkan suatu maslah-masalah tersebut sesuai dengan perkembangan
kemampuannya. Dalam proses belajar mengajar model ini guru bukan hanya satu-satunya
sumber, bahka kedudukan seorang guru hanya membantu siswa dalam memecahkan kesulitan
yang dihadainya. Dengan metode semacam ini, dengan sendirinya pola lama yang hanya
mengandalkan guru sebagai satu-satunya pusat informasi (metode pedagogy) diambil alih
kedudukan oleh metode andragogy yang lebih menghargai perbedaan individu anak didik.
Kedua, learning by doing, konsep ini diperlukan untuk menjembatani kesenjangan antara dunia
pendidikan dengan kebutuhan dalam masyarakat. Supaya anak didik bisa eksis dalam masyarakat
bila telah selesai menyelesaikan pendidikannya. Maka, mereka dibekali keterampilan-
keterampilan prkatis sesuai dengan kebutuhan masyarakat sosialnya.
Dari uraian diatas dapat saya simpulkan bahwa pendidikan progresif menurut John Dewey dalah
pendidikan yang mampu membekali peserta didik agar bisa menyesuaikan, berpartisipasi
maupun eksis dalam masyarakat. John Dewey menawarkan 2 metode pendekatan dalam
pengajaran dengan cara problem solving method dan learning by doing. Metode problem solving
method lebih menekankan tantangan dan kebebasan kepada peserta didik, dan guru bukan satu-
stunya yang menjadi sumber. Metode learning by doing peserta didik dituntut agar dapat
berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat. Selain dituntut, peserta didik juga dibekali beberapa
materi atau keterampilan agar mereka ketika keluar atau lulus dari sekolahnya dapat
menyesuaikan dengan lingkungannya maupun masyarakatnya.
Dewey sangat menganggap penting pendidikan dalam rangka mengubah dan membaharui suatu
masyarakat. Ia begitu percaya bahwa pendidikan dapat berfungsi sebagai sarana untuk
peningkatan keberanian dan disposisi inteligensi yang terkonstitusi. Dengan itu, dapat pula
diusahakan kesadaran akan pentingnya pengormatan pada hak dan kewajiban yang paling
fundamental dari setiap orang. Gagasan ini juga bertolak dari gagasannya tentang perkembangan
seperti yang sudah di bahas sebelumnya. Baginya ilmu mendidik tidak dapat dipisahkan dari
filsafat. Maksud dan tujuan sekolah adalah untuk membangkitkan sikap hidup yang demokratis
dan untuk mengembangkannya. Pendidikan merupakan kekuatan yang dapat diandalkan untuk
menghancurkan kebiasaan yang lama, dan membangun kembali yang baru. Bagi Dewey, lebih
penting melatih pikiran manusia untuk memecahkan masalah yang dihadapi, daripada
mengisisnya secara sarat dengan formulasi-formulasi secara sarat teoretis yang tertib.
Pendidikan harus pula mengenal hubungan yang erat antara tindakan dan pemikiran, antara
eksperimen dan refleksi. Pendidikan yang bertolak dan merupakan kontuinitas dari refleksi atas
pengalaman juga akan mengembangkan moralitas dari anak didik. Dengan demikian, belajar
dalam arti mencari pengetahuan, merupakan suatu proses yang berkesinambungan. Dalam proses
ini, ada perjuangan terus-menerus untuk membentuk teori dalam konteks eksperimen dan
pemikiran.
Bagi Dewey, kehidupan masyarakat yang berdemokrtatis adalah dapat terwujud bila dalam dunia
pendidikan hal itu sudah terlatih menjadi suatu kebiasaan yang baik. Ia menyatakan bahwa ide
pokok demokrasi adalah pandangan hidup yang dicerminkan dengan perlunya partisipasi dari
setiap warga yang sudah dewasa dalam membentuk nilai-nilai yang mengatur kehidupan
bersama. Ia menekankan bahwa demokrasi merupakan suatu keyakinan, suatu prinsip utama
yang harus dijabarkan dan dilaksanakan secara sistematis dalam bentuk aturan sosial politik.
Dari pernyataan ini, bagi Dewey demokrasi bukan sekedar menyangkut suatu bentuk kehidupan
bersama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Demokrasi berarti setiap
orang mengalami kebebasannya untuk berkreasi dan mengungkapkan pengalaman humanitasnya
dalam partisipasi bersama. Untuk tujuan ini, maka sekolah menjadi medium yang
mengungkapkan bagaimana hidup dalam suatu komunitas yang demokratis. Dewey selalu
mengatakan bahwa sekolah merupakan suatu kelompok sosial yang kecil (minoritas); yang
menggambarkan atau menjadi cerminan dari kelompok sosial yang lebih besar (mayoritas). Ia
menegaskan bahwa sosialisasi nilai-nilai demokratis harus dilaksanakan oleh sekolah yang
demokratis. Dan ini diusahakan antara lain dengan menekankan pentingnya kebebasan akademik
dalam lingkungan pendidikan. Ia dengan secara tidak langsung menyatakan bahwa kebebsan
akademik diperlukan guna mengembangkan prinsip demokrasi di sekolah yang bertumpu pada
interaksi dan kerjasama, berdasarkan pada sikap saling menghormati dan memperhatikan satu
sama lain; berpikir kreatif menemukan solusi atas problem yang dihadapi bersama, dan
bekerjasama untuk merencanakan dan melaksanakan solusi. Secara implisit hal ini berarti
sekolah yang demokratis harus mendorong dan memberikan kesempatan kepada semua siswa
untuk aktif berpartisipasi dalam pengambilan keputusan, merencanakan kegiatan dan
melaksanakan rencana tersebut.

G. PROBLEM ESTETIKA
Penedekatan Dewey pada seni berbeda dengan para Idealis. Dia tidak prihatin dengan segala
usaha untuk menemukan suatu yang lebih dahulu sebagai standar yang indah dalam analisa para
genius . Maksud utama dari seni ini adalah memberikan suatu ilmu sosiologi dan penjelasan
empiris dari setiap subyek. Seni tidak berakhir dalam pencarian lewat diri sendiri. Itu dibuat
dengan fungsi untuk menjadikan suatu kehidupan indah. Kekeliruan teori dari estetika yang
klasik adalah pembagian antara seni dan ilmu, antara seni dan moral.
Dalam pendidikan seni, pengaruh Dewey telah masuk didalamnya. Dia membiarkan partisipasi
ilmu lain pada seni untuk dipelajari oleh para pelajar.
Pada zaman Dewey, terdapat reaksi yang bertentangan dengan semangat yang ada dalam seni.
Banyak kritik yang diberikan terhadap konsep seni pada abad pertengahan dan zaman
renessance. Paham industrialis memunculkan kembali apa yang terjadi pada zaman klasik
dimana moral dan seni disatukan.
Dewey lebih percaya para ahli seni tidak hanya berada dalam sekolah-sekolah dan museum
tetapi berada juga di pabrik dan di rumah-rumah. Dengan cara ini hal pokok dari seni adalah
berkehendak menemukan apa yang menjadi bagian dari harian hidup manusia.

H. ANALISIS KRITIS KEKUATAN DAN KELEMAHAN PRAGMATISME


Didalam aliran pragmatisme terdapat kekuatan maupun kelemahannya. Kekuatan dan
kelemahannya sebagai berikut:
1. Kekuatan Pragmatisme
a. Kemunculan pragmatisme sebagai aliran filsafat dalam kehidupan kontemporer, khususnya
di Amerika Serikat, telah membawa kemajuan-kemajuanyan yang pesat baik dalam pengetahuan
maupun teknologi. Pragmatisme telah berhasil membumikan dari corak yang bersifat Tender
Minded yang cenderung berfikir metafisi, idealis, abstrak, intelektualis, dan cenderung berfikir
hal-hal yang memikirkan atas kenyataan, matrealis, dan didasrkan atas kebutuhan-kebutuhan
disini(dunia), bukan nanti diakhirat. Dengan demikian, filsfat pragmatisme mengarahkan
aktivitas manusia untuk hanya sekadar mempercayai(belief) pada hal-hal yang sifatnya rill,
indrawi, dan yang manfaatnya bisa dinikmati secara praktis-pragmatis dalam kehidupan sehari-
hari.
b. Pragmatisme telah berhasil mendorong berfikir yang liberal, bebas dan selalu menyangsikan
segala yang ada. Berangkat dari sifat skeptis tersebut, pragmatisme telah mampu mendorong dan
memberi semangat pada seseorang untuk berlomba-lomba membuktikan suatu konsep melalui
penelitian-penelitian, pembuktian-pembuktian, dan eksperimen-eksperimen sejingga muncullah
temuan baru dalam dunia ilmu pengetahuan dan teknologi yang mampu mendorong secara
dahsyat terhadap kemajuan dibidang sosial dan ekonomi.
c. Sesuai dengan coraknya yang sekuler, pragmatisme tidak mudah percaya pada
kepercayaan yang mapan. Suatu kepercayaan dapat diterima apabila terbukti kebenaranya
lewat pembuktian yang praktis sehingga pragmatisme tidak mengakui adanya sesuatu yang
sakral dan mitos. Dengan coraknya yang terbuka, kebanyakan kelompok pragmatism merupakan
pendukung terciptanya demokratisasi, kebebasan manusia, dan gerak-gerakan progresif dalam
masyarakat modern.
2. Kelemahan Pragmatisme
a. Karena pragmatisme tidak mau mengakui sesuatu yang bersifat metafisika dan kebenaran
absolut (kebenaran tunggal), hanya mengakui kebenaran apabila terbukti secara ilmiah, dan
percaya bahwa dunia ini mampu dibikin manusia sendiri, secra tidak langsung pragmatisme
sudah mengingkari sesuatu yang trensendental. Kemudian pada perkembangan lanjut,
pragmatisme sangat mendewakan kemampuan akal dalam upaya mencapai kebutuhan
kehidupan, maka sikap-sikap semacam ini menjurus kepada sikap Ateisme.
b. Karena yang menjadi kebutuhan utama dalam filsafat pragmatisme adalah sesuatu yang
nyata, dan langsung dapat dinikmati hasilnya oleh manusia, maka pragmatisme menciptakan
pola pikir masyarakat yang materealis. Manusia berusaha secra keras untuk memenuhi
kebutuhan-kebutuhan yang bersifat ruhanyah, maka dalam otak masyarakat pragmatisme telah
dihinggapi oleh penyakit materealisme.
c. Untuk mencapai tujuan materealisme, manusia mengejarnya dengan berbagai cara, tanpa
memperdulikan lagi bahwa dirinya merupakan anggota dari masyarakat sosialnya. Ia bekerja
tanpa mengenal waktu hanya sekadar memenuhi kebutuhan materinya, maka dalam struktur
masyarakatnya manusia hidup semakin egois individualis. Dari sini, masyarakat pragmatisme
menderita penyakit humanisme.
Dengan demikian, bahwa di Negara Amerika serikat atau seluruh dunia yang menganut paham
filsafat John Dewey dan William James kebanyakan mengarah kearah materealis, ateis, dan
dehumanis.Paham pragmatisme mendewakan akal. Padahal akal itu terbatas, maka hal inilah
yang tidak disadari oleh pakar ilmuan barat, pada hakikatnya yang dilakuakn manusia pasti ada
campur tangan tuhan.

I. PENUTUP
Satu hal yang harus digarisbawahi adalah bahwa pragmatisme merupakan filsafat bertindak.
Dalam menghadapi berbagai persoalan, baik bersifat psikologis, epistemologis, metafisik,
religius dan sebagainya, pragmatisme selalu mempertanyakan bagaimana konsekuensi
praktisnya. Setiap solusi terhadap masalah apa pun selalu dilihat dalam rangka konsekuansi
praktisnya, yang dikaitkan dengan kegunaannya dalam hidup manusia. Dan konsekuensi praktis
yang berguna dan memuaskan manusia itulah yang membenarkan tindakan tadi.
Dalam rangka itulah, kaum pragmatis tidak mau berdiskusi bertele-tele, bahkan sama sekali tidak
menghendaki adanya diskusi, melainkan langsung mencari tindakan yang tepat untuk dijalankan
dalam situasi yang tepat pula. Kaum pragmatis adalah manusia-manusia empiris yang sanggup
bertindak, tidak terjerumus dalam pertengkaran ideologis yang mandul tanpa isi, melainkan
secara nyata berusaha memecahkan masalah yang dihadapi dengan tindakan yang konkret.
Karenanya, teori bagi kaum pragmatis hanya merupakan alat untuk bertindak, bukan untuk
membuat manusia terbelenggu dan mandeg dalam teori itu sendiri. Teori yang tepat adalah teori
yang berguna, yang siap pakai, dan yang dalam kenyataannya berlaku, yaitu yang mampu
memungkinkan manusia bertindak secara praktis. Kebenaran suatu teori, ide atau keyakinan
bukan didasarkan pada pembuktian abstrak yang muluk-muluk, melainkan didasarkan pada
pengalaman, pada konsekuansi praktisnya, dan pada kegunaan serta kepuasan yang dibawanya.
Pendeknya, ia mampu mengarahkan manusia kepada fakta atau realitas yang dinyatakan dalam
teori tersebut.
Pragmatisme mempunyai dua sifat, yaitu merupakan kritik terhadap pendekatan ideologis dan
prinsip pemecahan masalah. Sebagi kritik terhadap pendekatan ideologis, pragmatisme
mempertahankan relevansi sebuah ideologi bagi pemecahan, misalnya fungsi pendidikan.
Pragmatisme mengkritik segala macam teori tentang cita-cita, filsafat, rumusan-rumusan abstrak
yang sama sekali tidak memiliki konsekuansi praktis. Bagi kaum pragmatis, yang penting bukan
keindahan suatu konsepsi melainkan hubungan nyata pada pendekatan masalah yang dihadapi
masyarakat.
Sebagai prinsip pemecahan masalah, pragmatisme mengatakan bahwa suatu gagasan atau
strategi terbukti benar apabila berhasil memecahkan masalah yang ada, mengubah situasi yang
penuh keraguan dan keresahan sedemikian rupa, sehingga keraguan dan keresahan tersebut
hilang.
Dalam kedua sifat tersebut terkandung segi negatif pragmatisme dan segi-segi positifnya.
Pragmatisme, misalnya, mengabaikan peranan diskusi. Justru di sini muncul masalah, karena
pragmatisme membuang diskusi tentang dasar pertanggungjawaban yang diambil sebagai
pemecahan atas masalah tertentu. Sedangkan segi positifnya tampak pada penolakan kaum
pragmatis terhadap perselisihan teoritis, pertarungaan ideologis serta pembahasan nilai-nilai yang
berkepanjangan, demi sesegera mungkin mengambil tindakan langsung.
Dalam kaitan dengan dunia pendidikan, kaum pragmatisme menghendaki pembagian yang tetap
terhadap persoalan yang bersifat teoritis dan praktis. Pengembangan terhadap yang teoritis akan
memberikan bekal yang bersifat etik dan normatif, sedangkan yang praktis dapat mempersiapkan
tenaga profesional sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Proporsionalisasi yang teoritis dan
praktis itu penting agar pendidikan tidak melahirkan materialisme terselubung ketika terlalu
menekankan yang praktis. Pendidikan juga tidak dapat mengabaikan kebutuhan praktis
masyarakat, sebab kalau demikian yang terjadi berarti pendidikan tersebut dapat dikatakan
disfungsi, tidak memiliki konsekuansi praktis.

DAFTAR PUSTAKA
Armin, Adi, Richard Rorty, (Jakarta:Teraju, 2003)

Abdullah, Muhammad, Makalah Pragmatisme: Sebuah Tinjauan Sejarah Intelektual Amerika.

Dewey, John, Experience and Education, terj. Ireine V. Pontoh, (Indonesia Publishing, 2009)
Dewey, John, Experience and Education, dalam Great Book of Western World (USA:
Encyclopedia Britanica Inc, 1996)

Hadwijono, Harun, Sari Sejarah Filsafat Barat ( Yogyakarta: Kanisius, 1994)

Hanafi, A. Ikhtisar Sejarah Filsafat Barat, (Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1981)

Maksum, Ali, Pengantar Filsafat , Cetakan Keenam, ( Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2012)

Mayer, Frederick, A History of Modern Philosophy (New York: American Book Company, 1951)

Muhadjir, Noeng, Filsafat Ilmu Positivisme, Postpositivisme, PostModernisme, (Yogyakarta:


2001)

Richard J. Bernstein, Dewey John, dalam The Encyclopedia of Philosophy.

Samuel, E. Stumpf, Philosophy: History and Problems, third edition (New York: McGraw-Hill
Book Company, 1983)

Sahakian, William. S. History Of Phylosophy,(New York: Baner and Boble, 1986)

Stroh, W. Guy, American Philosophy, ( Princenton: Duven Nostrand Company, Inc h, 1968)

Titus, Harold H. Persoalan-Persoalan Filsafat, ( Jakarta: Bulan Bintang, 1984)

Ohoitimur, J. Aliran-Aliran Utama Filsafat Barat Kontemporer (Pineleng: Traktat Kuliah, 2003)

Zamroni, Pendidikan Untuk Demokrasi: Tantangan Menuju Civikl Society, (Yogyakarta:


BIGRAF Publishing, 2001)

https://syafieh.blogspot.com/2014/11/filsafat-nilai-pragmatisme-john-dewey.html

2. JOHN DEWEY

A. Biografi John DeweY


John Dewey adalah seorang filsuf dari Amerika Serikat, yang termasuk Mazhab
Pragmatisme. Selain sebagai filsuf, Dewey juga dikenal sebagai kritikus sosial dan pemikir
dalam bidang pendidikan.
Dewey dilahirkan di Burlington pada tahun 1859. Setelah menyelesaikan studinya di
Baltimore, ia menjadi guru besar dalam bidang filsafat dan kemudian dalam bidang pendidikan
pada beberapa universitas. Sepanjang kariernya, Dewey menghasilkan 40 buku dan lebih dari
700-an artikel. Dewey meninggal dunia pada tahun 1952.
Menurut Dewey, tugas filsafat adalah memberikan pengarahan bagi perbuatan nyata
dalam kehidupan. Oleh karena itu, filsafat tidak boleh tenggelam dalam pemikiran-pemikiran
metafisik belaka. Filsafat harus berpijak pada pengalaman, dan menyelidiki serta mengolah
pengalaman tersebut secara kritis. Dengan demikian, filsafat dapat menyusun suatu sistem nilai
atau norma.

B. Pokok Pikiran Filosofis John Dewey


Pandangan Dewey tentang manusia bertolak dari konsepnya tentang situasi kehidupan
manusia itu sendiri. Manusia adalah makhluk sosial, sehingga segala perbuatannya, entah baik
atau buruk akan diberi penilaian oleh masyarakat. Akan tetapi di lain pihak, manusia menurutnya
adalah yang menciptakan nilai bagi dirinya sendiri secara alamiah. Masyarakat di sekitar
manusia dengan segala lembaganya, harus diorganisir dan dibentuk sedemikian rupa sehingga
dapat memberikan perkembangan semaksimal mungkin. Itu berarti, seorang pribadi yang hendak
berkembang selain berkembang atas kemungkinan alamiahnya, perkembangan juga turut
didukung oleh masyarakat yang ada disekitarnya.
Dewey juga berpandangan bahwa setiap pribadi manusia memiliki struktur-struktur
kodrati tertentu. Misalnya insting dasar yang dibawa oleh setiap manusia. Insting-insting dasar
itu tidak bersifat statis atau sudah memiliki bentuk baku, melainkan sebagai fleksibel.
Fleksibelitasnya tampak ketika insting bereaksi terhadap kesekitaran. Pokok pandangan Dewey
di sini sebenarnya ialah bahwa secara kodrati struktur psikologi manusia atau kodrat manusia
mengandung kemampuan-kemampuan tertentu. Kemampuan-kemampuan itu diaktualisasikan
sesuai dengan kondisi sosial kesekitaran manusia. Bila seseorang berlaku yang sama bersikap
terhadap kondisi kesekitaran, itu disebabkan karena kebiasaan, cara orang terhadap stimulus-
stimulus tertentu. Kebiasaan ini dapat berubah sesuai dengan tuntutan kesekitarannya.
C. Pandangan John Dewey Tentang Pendidikan
1. Hakekat Pendidikan
Dewey menjadi sangat terkenal karena pandangan-pandangannya tentang filfsafat
pendidikan. Pandangan-pandangan yang dikemukakan banyak mempengaruhi perkembangan
pendidikan modern di Amerika. Ketika ia pertama kali memulai eksperimennya di Universitas
Chicago, ia mulai mengkritik tentang sistem pendidikan tradisional yang bersifat determinasi.
Sekarang ini, pandangannya tidak berlaku di Amerika tetapi juga di banyak negara lain di
seluruh dunia.
Bagi Dewey, kehidupan masyarakat yang berdemokratis adalah dapat terwujud bila
dalam dunia pendidikan hal itu sudah terlatih menjadi suatu kebiasaan yang baik. Ia mengatakan
bahwa ide pokok demokratis adalah pandangan hidup yang dicerminkan dengan perluanya
pastisipasi dari setiap warga yang sudah dewasa dalam membentuk nilai-nilai yang mengatur
hidup bersama. Ia menekankan bahwa demokrasi merupakan suatu keyakinan, suatu prinsip
utama yang harus dijabarkan dan dilaksanakan secara sistematis dalam bentuk aturan sosial
politik.
Sehubungan dengan hal tersebut maka Dewey menekankan pentingnya kebebasan
akademik dalam lingkungan pendidikan. Ia dengan secara tidak langsung menyatakan bahwa
kebebasan akademik diperlukan guna mengembangkan prinsip demokrasi di sekolah yang
bertumpuh pada interaksi dan kerja sama, berdasarkan pada sikap saling menghormati dan
memperhatikan satu sama lain; berpikir kreatif menemukan solusi atas problem yang dihadapi
bersama, dan bekerja sama untuk merencanakan dan melaksanakan solusi. Secara implisit hal ini
berarti sekolah demokratis harus mendorong dan memberikan kesempatan kepada semua siswa
untuk aktif berpartisipasi dalam pengambilan keputusan, merancang kegiatan dan melaksanakan
rencana tersebut.
2. Fungsi dan Tujuan Pendidikan.
Dewey sangat menganggap penting pendidikan dalam rangka mengubah dan membaharui
suatu masyarakat. Ia begitu percaya bahwa pendidikan dapat berfungsi sebagai sarana untuk
peningkatan keberanian dan pembentukan kemampuan inteligensi. Dengan itu, dapat pula
diusahakan kesadaran akan pentingnya penghormatan pada hak dan kewajiban yang paling
fundamental dari setiap orang. Baginya ilmu mendidik tidak dapat dipisahkan dari filsafat.
Maksud dan tujuan sekolah adalah untuk membangkitkan sikap hidup yang demokratis dan
untuk mengembangkannya. Pendidikan merupakan kekuatan yang dapat diandalkan untuk
menghancurkan kebiasaan yang lama dan membangun kembali yang baru.
3. Kurikulum Inti
Bagi Dewey, lebih penting melatih pikiran manusia untuk memecahkan masalah yang
dihadapi, dari pada mengisinya secara sarat dengan formulai-formulasi secara sarat teoritis yang
tertib. Pendidikan harus pula mengenal hubungan yang erat antara tindakan dan pemikiran,
antara eksperimen dan refleksi. Pendidikan yang merupakan kontiunitas dari refleksi atas
pengalaman juga akan mengembangkan moralitas dari anak-anak didik. Dengan demikian
belajar dalam arti mencari pengetahuan, merupakan suatu proses yang berkesinambungan.
Dalam proses ini, ada perjuangan yang terus menerus untuk membentuk teori dalam konteks
eksperimen dan pemikiran. Ia juga mengkritik sistem kurikulum yang hanya ditentukan dari
atas tanpa memperhatikan masukan-masukan dari bawah.
4. Metode Pendidikan
Untuk memahami pemikiran John Dewey, kita harus berusaha untuk memahami titik-titik
lemah yang ada dalam dunia pendidikan itu sendiri. Ia secara realistis mengkritik praktek
pendidikan yang hanya menekankan pentingnya peranan guru dan mengesampingkan peranan
para siswa dalam sistem pendidikan. Penyiksaan fisik dan indoktrinasi dalam bentuk penerapan
doktrin-doktrin menghilangkan kebebasan dalam pelaksanaan pendidikan.
Dewey mengadakan penelitiannya mengenai pendidikan di sekolah-sekolah dan mencoba
menerapkan teori pendidikannya dalam praktek di sekolah-sekolah. Hasilnya, ia meninggalkan
pola dan proses pendidikan tradisional yang mengandalkan kemampuan mendengar dan
menghafal. Sebagai gantinya, ia menekankan pentingnya kreativitas dan keterlibatan siswa
dalam diskusi dan pemecahan masalah.
http://senjaplb.blogspot.co.id/2013/07/pemikiran-para-ahli-tentang-pendidikan.html

psikologi
Kamis, 10 April 2008

teori john dewey

A Pemikiran John Dewey Tentang Pendidikan

1. Pengalaman dan Pertumbuhan

Pemikiran John Dewey banyak dipengaruhi oleh teori evolusi Charles Darwin (1809-
1882) yang mengajarkan bahwa hidup di dunia ini merupakan suatu proses, dimulai dari
tingkatan terendah dan berkembang maju dan meningkat. Hidup tidak statis, melainkan
bersifat dinamis. All is in the making, semuanya dalam perkembangan. Pandangan Dewey
mencerminkan teori evolusi dan kepercayaannya pada kapasitas manusia dalam
kemajuan moral dan lingkungan masyarakat, khusunya malalui pendidikan.

Menurut Dewey, dunia ini penciptaannya belum selesai. Segala sesuatu berubah, tumbuh,
berkembang, tidak ada batas, tidak statis, dan tidak ada finalnya. Bahkan, hukum moral
pun berubah, berkembang menjadi sempurna. Tidak ada batasan hukum moral dan tidak
ada prinsip-prinsip abadi, baik tingkah laku maupun pengetahuan.
Pengalaman (experience) adalah salah satu kunci dalam filsafat instrumentalisme.
Pengalaman merupakan keseluruhan aktivitas manusia yang mencakup segala proses
yang saling mempengaruhi antara organisme yang hidup dalam lingkungan sosial dan
fisik. Filsafat instrumentalisme Dewey dibangun berdasarkan asumsi bahwa pengetahuan
berpangkal dari pengalaman-pengalaman dan bergerak kembali menuju pengalaman.
Untuk menyusun kembali pengalaman-pengalaman tersebut diperlukan pendidikan yang
merupakan transformasi yang terawasi dari keadaan tidak menentu ke arah keadaan
tertentu. Pandangan Dewey mengenai pendidikan tumbuh bersamaan dengan kerjanya di
laboratorium sekolah untuk anak-anak di University of Chicago. Di lembaga ini, Dewey
mencoba untuk mengupayakan sekolah sebagai miniatur komunitas yang menggunakan
pengalaman-pengalaman sebagai pijakan. Dengan model tersebut, siswa dapat melakukan
sesuatu secara bersama-sama dan belajar untuk memantapkan kemampuannya dan
keahliannya.

Sebagai tokoh pragmatisme, Dewey memberikan kebenaran berdasarkan manfaatnya


dalam kehidupan praktis, baik secara individual maupun kolektif. Oleh karenanya, ia
berpendapat bahwa tugas filsafat memberikan garis-garis arahan bagi perbuatan. Filsafat
tidak boleh tenggelam dalam pemikiran metafisik yang sama sekali tidak berfaedah.
Filsafat harus berpijak pada pengalaman dan menyelidiki serta mengolah pengalaman
tersebut secara aktif dan kritis. Dengan cara demikian, filsafat menurut Dewey dapat
menyusun norma-norma dan nilai-nilai.

2. Tujuan Pendidikan

Dalam menghadapi industrialisasi Eropa dan Amerika, Dewey berpendirian bahwa sistem
pendidikan sekolah harus diubah. Sains, menurutnya, tidak mesti diperoleh dari buku-buku,
melainkan harus diberikan kepada siswa melalui praktek dan tugas-tugas yang berguna. Belajar
harus lebih banyak difokuskan melalui tindakan dari pada melalui buku. Dewey percaya
terhadap adanya pembagian yang tepat antara teori dan praktek. Hal ini membuat Dewey
demikian lekat dengan atribut learning by doing. Yang dimaksud di sini bukan berarti ia menyeru
anti intelektual, tetapi untuk mengambil kelebihan fakta bahwa manusia harus aktif, penuh minat
dan siap mengadakan eksplorasi.

Dalam masyarakat industri, sekolah harus merupakan miniatur lokakarya dan miniatur
komunitas. Belajar haruslah dititiktekankan pada praktek dan trial and error. Akhirnya,
pendidikan harus disusun kembali bukan hanya sebagai persiapan menuju kedewasaan, tetapi
pendidikan sebagai kelanjutan pertumbuhan pikiran dan kelanjutan penerang hidup. Sekolah
hanya dapat memberikan kita alat pertumbuhan mental, sedangkan pendidikan yang sebenarnya