Anda di halaman 1dari 6

STRATEGI PENCARIAN SENYAWA BIOAKTIF BARU DARI SUMBER

BAHAN ALAMI TUMBUHAN

Partomuan Simanjuntak
Puslit Bioteknologi-LIPI, Jalan Raya Bogor Km 46, Cibinong 16911
Fakultas Farmasi Universitas Pancasila, Srengsengsawah, Jagakarsa, Jakarta
E-mail: tomujtk@indo.net.id.

Abstract
Plants provide enormous chemical diversity. Advances in bioassay screening, isolation techniques and
structural elucidation have shortened and facilited the process of drug discovery from Indonesian medicinal
plants. It is now general practice among natural product chemist and others field to use some strategy for
investigate bioactive compounds from natural product.

Pendahuluan
Indonesia adalah salah satu negara
tropis yang kaya akan sumber daya alaminya, Gambar 1. Beberapa senyawa bioaktif hasil
baik dari segi flora, fauna maupun isolasi dari sumber daya alam tumbuhan
mikroorganismenya. Kekayaan akan Penemuan tersebut menunjukkan bahwa dunia
keanekaragaman sumber daya alam, khususnya tumbuhan dapat disebut mewakili suatu wadah
tumbuhan sampai saat ini masih perlu digali dan penyimpanan senyawa kimia baru. Dari
dipelajari potensinya. 250.000 500.000 spesies tumbuhan yang
Indonesia memiliki sekitar 40.000 terdapat di dunia ini, hanya sebagian kecil saja
spesies tumbuhan yang tersebar di hutan-hutan yang telah diteliti secara fitokimia, pemeriksaan
tropis dari Sabang sampai Merauke. Ditinjau biologis maupun skrining secara farmakologis.
dari segi ilmu kimia setiap jenis tumbuhan Hasil skrining, isolasi, pemurnian dan
merupakan penghasil puluhan bahkan ratusan elusidasi struktur kimia maupun uji efektivitas
jenis bahan kimia dengan arti kata hutan sebagai bahan obat atau pestisida adalah
merupakan gudang bahan-bahan kimia untuk merupakan hasil penelitian yang telah dilakukan
sebagai sumber obat, pestisida, makanan dan dengan menggunakan strategi pencarian senyawa
sumber bahan aktif lainnya (1). bioaktif baru dari dunia tumbuhan.
Melihat kekayaan di atas, potensi
tumbuhan hutan tropis Indonesia perlu Strategi pencarian senyawa bioaktif baru dari
dikembangkan karena prospek penggunaan sumber daya alam
tumbuh-tumbuhan sebagai sumber bahan bioaktif Peluang untuk memanfaatkan sumber
sangat menjanjikan. Senyawa Taksol (1) daya alami memang sangat besar dan sangat
merupakan salah satu contoh hasil isolasi dari kompleks. Namun eksplorasi yang kurang
tumbuhan Taxus brevifolia (Taxaceae) terencana terutama terhadap tumbuhan dan
memperlihatkan bahwa efektivitasnya sangat penguasaan ilmu seperti bidang botani,
tinggi sebagai obat anti kanker dibandingkan farmakognosi, farmakologi, toksikologi, kimia
dengan beberapa obat sintetik (2,3). Senyawa bahan alam dan lain-lain masih belum terpadu.
Castanospermine (2) merupakan senyawa Maka diperlukan pendekatan untuk memperoleh
penghambat virus HIV yang diperoleh dari sesuatu yang bermanfaat sebagai obat dengan
tumbuhan Castanospemum australe. Azadiraktin pembuatan suatu strategi dalam pencarian
(3) merupakan bahan insektisida yang diperoleh senyawa bioaktif baru dari tumbuhan.
dari tumbuhan Azadirachta indica (4) dan Hostettmann dkk. (1991) dalam tulisannya telah
artemisinin (qinghaosu, 4) yang merupakan obat membuat suatu formulasi yang dapat dilihat pada
anti malaria baru yang diperoleh dari tumbuhan Gambar 2 (7). Formulasinya tersebut meliputi :
tradisional China Artemisia annua (5,6). 1. Seleksi, koleksi, identifikasi tumbuhan dan
preparasi materi tumbuhan
AcO O OH
OH
2. Pemisahan dan ekstraksi dengan pelarut
HO OH

C6H 5OCHN O H yang sesuai dengan analisis awal.


O
C6H 5 O OH
H
OAc
N OH
3. Skrining biologi dan farmakologi dari
OH OCOC 6H5
ekstrak kasar
Castanospermin (2)
Taksol (1) 4. Pemisahan kromatografi konstituen bioaktif
O
CH 3O2C
OH H
murni yang dipandu oleh bioesai.
O
O OH O
O 5. Penentuan struktur
H
O O
O
H
6. Bentuk analisis dan farmakologi senyawa
H O
HO
CH 3O2C
O
OH
murni
Azadirachtin (3) Artemisinin (4)

1
9. Preparasi turunan berguna untuk
mempelajari hubungan aktivitas struktur
7. Uji toksikologi kimia
8. Sintesis parsial dan sistesis total

Sintesis

Penentuan struktur

Tumbuhan obat Ekstrak Senyawa murni Toksikologi

biesai
biesai Modifikasi struktur

biesai

Gambar 2. Skema pencarian senyawa bioaktif dari tumbuhan obat

Seleksi dan koleksi material tumbuhan bertindak sebagai suatu zat insektisida atau anti
Untuk memperoleh senyawa kimia yang mikroorganisme.
bermanfaat dalam waktu singkat, diperlukan Ekstrak dari tumbuhan yang
pemilihan bahan tumbuhan secara hati-hati. ditambahkan dengan air dan dikocok kuat dan
Koleksi secara random merupakan satu cara yang menghasilkan busa menunjukkan adanya
dapat dilakukan, tetapi ini merupakan metode pembentukan senyawaan saponin. Dengan cara
yang sangat mendasar pada penyeleksian ini akan lebih mudah dan cepat untuk mencari
tumbuhan dalam kriteria tertentu. Dengan cara senyawa bioaktif saponin baru.
menduga, tumbuhan obat tradisional dapat Ekstraksi
digunakan untuk mencari senyawa bioaktif Ragam ekstraksi yang tepat tergantung
secara farmakologis (8). Kelompok peneliti dari pada tekstur dan kandungan air bahan tumbuhan
Universitas Osaka, Jepang melakukan eksplorasi yang diekstraksi dan pada jenis senyawa yang
tumbuhan obat tradisional Indonesia dengan cara diisolasi. Umumnya kita perlu membunuh
memperoleh informasi dari dukun setempat, jaringan tumbuhan untuk mencegah terjadinya
kemudian melakukan identifikasi tumbuhan dan oksidasi enzim atau hidrolisis. Melarutkan
selanjutnya ekstraksi, pemurnian, elusidasi dan jaringan daun segar atau kering (atau bagian
uji bioesai terhadap hasil senyawa isolat murni lainnya), bila perlu dipotong-potong dan
(9,10). diekstraksi dalam etanol mendidih adalah suatu
Pemilihan tumbuhan secara cara yang baik untuk mencapai tujuan itu.
kemotaksonomi adalah merupakan suatu Alkohol, bagaimanapun juga adalah pelarut serba
kemungkinan lain. Sebagai contoh, jika suatu guna yang baik untuk ekstraksi pendahuluan.
pencarian senyawa xanton dari suatu tumbuhan Selanjutnya, bahan dapat dimaserasi dalam suatu
yang sedang dilakukan, maka hal tersebut dapat pelarut, lalu disaring. Tetapi hal ini hanya
diusulkan untuk memulai dengan investigasi diperlukan bila kita ingin mengekstraksi secara
kelompok atau keluarga tumbuhan lain yang total.
diketahui mengandung kelas senyawa tersebut Pada prosedur ekstraksi terdapat jalan
dari produk alami seperti dari keluarga pintas yang dapat dipelajari dari pengalaman.
Gentianaceae, Polygalaceae. Misalnya, bila mengisolasi kandungan senyawa
Bidang penelitian senyawa insekisida dari jaringan daun yang larut dalam air,
juga dapat dikatakan sangat menarik. Bila suatu seharusnya senyawa lipid dapat dihilangkan pada
tumbuhan nampak tidak memiliki tanda-tanda tahap dini sebelum pemekatan, yaitu dengan
suatu penyerangan oleh serangga dan tidak dapat mencuci ekstrak berulang-ulang dengan eter
dimakan oleh spesies akibat adanya beberapa minyak bumi. Kenyataannya, bila ekstrak etanol
organisme asing. Hal ini merupakan kesempatan diuapkan dengan penguap berpusing, hampir
baik bagi peneliti untuk mempelajari semua klorofil dan lipid melekat pada dinding
metabolisme yang ada, dimana zat kimia aktif labu. Dengan keterampilan, pemekatan dapat
yang terdapat pada tumbuhan tersebut dapat dilakukan tepat sampai suatu saat tertentu
sehingga larutan air yang pekat dapat dipipet
hampir tanpa mengandung cemaran lemak.

2
Bila kita ingin menelaah profil fitokimia diri sudah tentu berbeda tergantung pada jenis
lengkap dari suatu jenis tumbuhan maka sebelum tumbuhannya (11).
kromatografi, ekstrak kasar perlu difraksionasi
untuk memisahkan golongan utama kandungan
yang satu dari golongan utama lainnya. Analisis
tumbuhan yang mengandung bermacam-macam
golongan senyawa kimia berdasarkan perbedaan
kepolarannya dapat dilakukan dengan cara
prosedur pada Gambar 2. Jumlah dan jenis
senyawa yang dapat dipisahkan menjadi fraksi
tersen

Bagian tumbuhan
(daun,kulit batang, bunga dll)
Ekstraksi dengan Metanol
atau etanol,

Esktrak MeOH/Etanol
Partisi dengan etilasetat-
air = 1 : 1

Lapisan air Lapisan etlasetat

Partisi dengan n-BuOH Diuapkan

Ekstrak etilasetat

Ekstrak air Ekstrak n-BuOH

Gambar 3. Cara umum ekstrak jaringan tumbuhan dan fraksinasi ke dalam golongan pelarut yang berlainan
Metoda-metoda Pemisahan Beberapa teknik pemisahan preparatif
yang sangat penting dalam usaha isolasi dan
Kunci program yang berhasil adalah
pemisahan senyawa kimia dapat dilihat pada
dilibatkannya pencarian komponen tumbuhan
Tabel 1. menunjukkan bahwa pemisahan dapat
bioaktif secara biologi dengan pemilihan teknik
dilakukan berdasarkan fase yang digunakan.
kromatografi untuk memisahkan senyawa-
Tabel 1. Metoda pemisahan preparatif untuk
senyawa murni. Tujuannya adalah untuk
sampel tumbuhan
memperoleh hasil maksimum dengan usaha
minimum (melalui pengurangan waktu dan biaya
Kromatografi fase padat
prosedur pemisahan). Teknik pemisahan
Kromatografi kertas
preparatif dapat memakan banyak waktu,
KLT preparatif, KLT sentrifugal
khususnya bila terdapat campuran senyawa
Kromatografi kolom terbuka
kompleks. Beberapa teknik baru seperti
Kromatografi cair tekanan rendah
Kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT),
Kromatografi kolom bertekanan rendah,
Kromatografi cair spektrometri masa (KCSM),
Kromatografi flash
Kromatografi gas spektrometri masa (KGSM)
Kromatografi Cair kinerja Tinggi (KCKT)
sudah banyak diperkenalkan dan menunjukkan
keunggulan, yaitu analisis yang cepat dan mudah
Kromatografi Cair-cair
untuk memecahkan masalah-masalah pemisahan
Distribusi Craig
yang sulit (12,13). Akan tetapi tidak ada teknik
Droplet Countercurrent Chromatography
yang umum dapat memecahkan setiap masalah
Rotation Locular Countercurrent
dalam teknik isolasi. Setiap metode mempunyai
Chromatography Centrifugal
keunggulan dan keterbatasan, sehingga untuk
Partition Chromatography
memperoleh hasil terbaik dapat dilakukan
kombinasi dua atau lebih metode-metode diatas.
Kromatografi

3
Salah satu teknik kromatografi yang pencarian senyawa bioaktif dari tumbuhan obat
sering dipakai untuk pemisahan suatu zat melalui bioesai adalah uji pendahuluan dengan
campuran adalah Kromatografi Lapis Tipis Brine Shrimp Lethality Test (14). Beberapa
(KLT). KLT ini dapat dipakai dengan dua bioesai yang dapat dilakukan secara sederhana
tujuan, yaitu pertama untuk mencapai hasil dapat dilihat pada Tabel 2.
kualitatif, kuantitatif, atau preparatif. Kedua, Penggunaan kultur sel dalam pencarian
dipakai untuk menjajaki sistem pelarut dan komponen anti kanker yang menggunakan
sistem penyangga yang akan dipakai dalam jaringan sel manusia (Human cell Lines) seperti
kromatografi kolom atau kromatografi cair sel KB dan P388 secara rutin telah banyak
kinerja tinggi (KCKT). Kromatografi kolom dipakai untuk skrining awal dari hasil ekstraksi
adalah kromatografi cair yang dilakukan dalam hingga hasil fraksionasi (15). Jaringan sel
kolom yang merupakan metoda kromatografi tersebut kini hampir seluruhnya dapat digantikan
terbaik untuk pemisahan sampel campuran dalam dengan sel turunan yang dibuat dari variasi tumor
jumlah besar ( > 1 gram). Analisis kromatografi padat pada manusia (16).
kolom ini memerlukan teknik pembuatan fase Elusidasi Struktur Kimia
diam (kolom/adsorpsi) yang tepat. Pembuatan Elusidasi struktur kimia senyawa hasil
kolom ini harus memperhitungkan isolasi ditentukan berdasarkan interpretasi data-
material/sampel yang akan dianalisis dengan data spektroskopi seperti Ultra Lembayung (UL),
homogenitas sampel dan jumlah adsorben yang Infra Merah (IM), Spektrometri massa (SM),
digunakan. Beberapa peneliti di Jepang telah Resonansi Magnet Inti (RMI proton dan karbon)
menggunakan suatu teknik homogenisasi ini (17). Data-data spektroskopi ini masing-masing
yang disebut dengan sistem Mabushi yaitu mempunyai kegunaan spesifik yang saling
homogenisasi sampel dengan celite 535/celite berhubungan satu sama lain dalam
545. mengintrepretasi data. Ultra lembayung
Bioesai menunjukkan adanya gugus kromofor, infra
Hal penting bagi setiap penelitian dalam merah memberikan informasi adanya gugus
mencari senyawa aktif dari tumbuhan yang fungsional seperti hidroksil (OH), karbonil
berhubungan dengan aktivitas biologi adalah (C=O) dan lain-lain, dan spektrometri massa
keharusan melakukan bioesai yang sesuai untuk menyatakan bobot molekul dan fragmentasi
memonitor pengaruh yang dibutuhkan. Untuk (pemecahan) senyawa yang dielusidasi.
mengatasi banyaknya ekstrak komponen maupun Sedangkan RMI (proton dan karbon)
fraksi-fraksi komponen yang optimal, metode memberikan sinyal-sinyal adanya proton dan
fraksionasi yang berpedoman pada bioaktifitas jumlah karbon (CH3, CH2, CH dan C). Data-data
(bioactivity-guided fractionation) sangat lain yang penting diketahui untuk senyawa baru
diperlukan. Sistem pengujian ini harus adalah adanya spektra dua dimensi (2D) RMI
sederhana, dapat berulang, dapat dihasilkan seperti 1H-1H COSY (Correlation Spectroscopy),
1
kembali dan tidak mahal. Bila senyawa aktif H-13C COSY, HMBC (Heteronuclear Multibond
hanya diperoleh pada konsentrasi rendah dalam Connectivity), COLOC (Correlation
ekstrak kasar, bioesai itu harus mempunyai Spectroscopy via Long-range Coupling) dan
sensitivitas deteksi yang cukup tinggi. Hal yang INADEQUATE (Incredible Natural Abundance
perlu diperhatikan juga adalah bahwa kesalahan- Double Quantum Transfer Experiment).
kesalahan harus diminimalkan. Faktor lain yang Kegunaan data dari RMI 2 dimensi ini dapat
berhubungan dengan ekstrak-ekstrak tumbuhan menunjukkan korelasi antara proton dengan
adalah kelarutan sampel dan penemuan pelarut proton lain, proton dengan karbon, dan karbon
yang sesuai dapat mempermudah pemecahan dengan karbon (18,19). Perkembangan teknik
masalah tersebut. spektroskopi ini telah mencapai titik kulminasi
Saat memutuskan untuk melakukan sehingga senyawa isolat yang diperlukan untuk
bioesai, langkah pertama adalah memilih target pengambilan data-data spektra cukup dalam
yang sesuai. Hal ini dapat dilakukan mulai dari jumlah yang sangat kecil (1-5 mg). Untuk
organisme yang lebih rendah (misalnya bakteri, senyawa yang bukan baru, identifikasi senyawa
jamur, serangga, Crustaceae atau Mollusca), dapat dilakukan dengan cepat melalui
sistem subseluler yang diisolasi (seperti enzim, perbandingan berdasarkan data KLT (dengan 3
reseptor atau organel), kultur sel (dari manusia sistem pelarut yang berbeda), KCKT, IM, UV
atau hewan), organ yang diisolasi (dari vertebrata dan RMI 1 dimensi, maupun membandingkan
atau semua jenis hewan). Salah satu teknik dengan data yang ada pada daftar pustaka.

4
Tabel 2. Beberapa bioesai yang banyak digunakan

No Aktivitas Target
1 Antibakteri Bakteri patogen manusia/tumbuhan
(Staphylococcus auerus, E. coli, Erwinia spp.)
2 Antijamur Jamur patogen manusia/tumbuhan
(Candida albicans, Aspergillus spp., Cladosporium spp._
3 Brine shrimp toxicity Artemia salina
4 Crown gall tumor inhibition Sel kentang (S. tuberosum), akar umbi yang ditransformasi
oleh Agrobacterium tumefasciens)
5 Anti mitotic Strongylacentrotus spp.
6 Larvasida Spodoptera spp., Epilachma varivestis
7 Molusidal Biomphalaria glabrata

Penutup 5. Harborne, J.B., 1987. Metode Fitokimia


Strategi pencarian senyawa bioaktif Penuntun Cara Modern Menganalisis
baru untuk obat-obatan dari bahan alami Tumbuhan, ITB, Bandung, 234 239
Indonesia adalah merupakan kunci sukses 6. Hostettmann, K., M. Hamburger, M.
penelitian dan pengembangan obat tradisional Hostettmann, dan A. Marston. New
Indonesia menjadi suatu obat kemoterapi yang Developments in the Separation of Natural
dikenal secara nasional maupun internasional. Products. Dalam Modern Phytochemical
Diperlukannya kerja sama yang baik antara Methods (ed. N.H. Fischer, M.B. Isman dan
berbagai disiplin ilmu seperti kimia bahan alam, H.A.Stafford), Plenum Press, 1991, 1 31
botani, farmakologi, farmakognosi maupun 7. Hostettmann, K., M. Hostettmenn, dan A.
toksikologi adalah suatu keharusan untuk Marston, 1986. Preparative Chromato-
mencapai target ini. Sehingga tidak ada lagi yang graphic Techniques : Application in Natural
penelitian yang mubazir, dimana seorang peneliti Products Isolation, Springer-Verlag, Belin
bidang kimia bahan alam menyatakan telah 8. Huxtable, R.J., The Pharmacology of
menemukan senyawa baru tetapi tidak Extinction, Journal of Ethnopharmacology
mengetahui kegunaan senyawa tersebut, 37, 1992, 1 11
sedangkan seorang peneliti bidang farmakologi 9. Kitagawa, I., dan H. Shibuya,
menemukan suatu senyawa yang berpotensi Pharmacochemical Investigation of
untuk obat tetapi tidak mengetahui struktur kimia Indonesian Medicinal Plants, Dalam
senyawa tersebut. Phytochemistry of Plants Used in
Traditional Medicine (Ed. Hstettmenn et al.)
Daftar Pustaka Clarendon Press-Oxford), 1995, 335 358
10. Kitagawa, I., P. Simanjuntak, K. Hori, N.
1. Croasman, W.R., dan R.M. Carlson, Two Nagami, T. Mahnud, H. Shibuya dan M.
Dimensional NMR Spectroscopy, Kobayashi, Indonesian Medicinal Plant VII.
Application for Chemists and Biochemists, Seven New Clerodane-Type Diterpenoids,
VCH Publishing,1994, 456 p. Peronemins A2, A3, B1, B2, B3, C1, and D1
2. Derome, A.E. 1988. Modern NMR from the Leaves of Peronema canescens
Techniques for Chemistry Research, (Verbenaceae), Chem. Pharm. Bull. 42,
Pergamon Press, 280 p. 1994, 1050-1055
3. Geran, R.I., N.H. Greenberg, M.M. 11. Marston, A. dan K. Hostettmenn, Modern
McDonald, A.M. Schumacher dan B.J. Separation Method, Natural Product
Abbott, Protocols for Screening Chemical Reports 8, 1991, 391 423
Agents and Natural Product Against Animal 12. Mayer, B.N., J.T. Ferigni, L.B.Putnam,
Tumors and Other Biological Systems, D.E.Jacobsen, D.E Nichols, dan J.L.
Cancer Chemotheraphy Reports 3, 1972, 1 McLaughin, Brine Shrimp, A Convenient
103 General Bioassay for Active Plant
4. Gupta, M.M., D.C.Jain, A.K.Mathur, Constituent, Planta Medica 95, 1995.
A.K.Singh, R.K.Verma dan S.Kumar, 1996.
Planta Medica 62, 280 281.

5
13. Rifai, M.A dan J. Anggadiredja, Organic Compounds, John Wiley & Sons,
Keanekaragaman Plasma Nuftah Tumbuhan 1981, 442
Obat Indonesia, Penanganan Penelitian, 17. Swindell, C.S., dan N.E. Krauss,
Pengembangan, Pemanfaatan dan Biologically Active Taxol Analogues With
Pelestariannya, Buletin DRN 30, 1996, 1 40 Delete A Ring Side Substituents and
14. Schroeder, D.R., dan K. Nakanishi, 1987. Variable C-2 Configurated, Med. Chem. 34,
Journal of Natural Product 50, 241 244 1991, 1176 1184
15. Shoemaker, R.J., A. Monks, M.C. Alley, 18. Tan, R.X., W.F. Zheng, dan H.Q. Tang,
D.A. Scudiero, D.L. Fine, T.L. McLamore, Biologically Active Substances from the
B.J.Abbott, K.D. Paull, J.G.Mayo, dan Genus Artemisia, Planta Medica 64, 1998,
M.R.Boyd, Development of Human Tumor 295 302
Cell Line Panels for Use in Disease-oriented 19. Wani, M.C., H.L. Taylor, M.E. Wall, P.
Drug Screening. Dalam Prediction of Coggum and A.T. McPhail, Plant Antitumor
Response to cancer Therapy (Ed. T.C.Hall), Agents VI. The Isolation and Structure of
1988, 265-286) Antitumor of Taxol, A Novel Antileukemic
16. Silverstein, R.M., C. Bassler, dan T.C. and Antitumor Agent from Taxus brevifolia,
Morrill, Spectrometric Identification of J. Am. Soc. 93. 1991, 2321-2327