Anda di halaman 1dari 10

Prosiding Pekan Serealia Nasional, 2010 ISBN : 978-979-8940-29-3

Peningkatan Produktivitas Jagung Melalui


Pemberian Pupuk N, P, K dan pupuk Kandang
pada Lahan Kering di Maluku

M. P. Sirappa1) dan Nasruddin Razak2)


1) Peneliti pada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Maluku
2) Peneliti pada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Selatan
Jl. Chr. Soplanit Rumah Tiga-Ambon, Telp. 0911-322664
Email: mpsirappa_64@ymail.com

Abstrak
Kajian penggunaan pupuk tunggal NPK dan pupuk kandang dilaksanakan di Kabupaten Seram
Bagian Barat pada tahun 2009. Percobaan disusun berdasarkan rancangan acak kelompok dengan
tiga ulangan. Pengkajian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pupuk tunggal NPK dan pupuk kan-
dang terhadap pertumbuhan dan hasil dari tiga varietas jagung. Petak kajian berukuran 15 m x 16 m,
jarak tanam 75 cm x 40 cm, 2 tanaman/lubang. Dosis pupuk yang digunakan adalah 300 kg Urea,
200 kg SP-36, 50 kg KCl, dan 2 t pupuk kandang/ha. Varietas yang ditanam adalah Bima-3 Bantimu-
rung, Srikandi Kuning, dan Bisi-2. Hasil kajian menunjukkan bahwa varietas Srikandi Kuning dan
Bima-3 Bantimurung cukup toleran terhadap cekaman lingkungan (kekeringan). Penggunaan pupuk
tunggal NPK yang dikombinasikan dengan pupuk kandang memberikan rata-rata hasil jagung lebih
tinggi dari rata-rata hasil jagung nasional dan hasil jagung di Maluku. Varietas hibrida Bima-3 Ban-
timurung memberikan rata-rata hasil pipilan kering tertinggi (8,71 t/ha), menyusul Srikandi Kuning
(6,42 t/ha), dan Bisi-2 (4,50 t/ha). Pengembangan Bima 3 Bantimurung sangat potensial diintegrasi-
kan dengan ternak karena tanaman tetap hijau sampai panen dan mempunyai biomas yang cukup
tinggi, sedangkan Srikandi Kuning sangat sesuai untuk dikonsumsi karena mempunyai kandungan
protein tinggi.

Kata Kunci: Pemupukan, pupuk tunggal NPK, pupuk kandang, jagung komposit dan

Pendahuluan hara secara alami dan pemulihan hara yang


Upaya peningkatan produksi jagung sebelumnya dimanfaatkan untuk padi sawah
melalui intensifikasi maupun ekstensifikasi irigasi (Dobermann dan Fairhurst, 2000; Witt
selalu diiringi penggunaan pupuk, terutama dan Dobermann, 2002). Konsep serupa juga
pupuk anorganik, untuk memenuhi kebutuhan digunakan untuk rekomendasi pemupukan
hara tanaman. Pada prinsipnya, pemupukan dengan penekanan khusus pada pemahaman
dilakukan secara berimbang, sesuai kebutu- potensi hasil dan senjang hasil sebagai dasar
han tanaman dengan mempertimbangkan ke- perbaikan rekomendasi pengelolaan hara
mampuan tanah menyediakan hara secara yang bersifat spesifik lokasi (Dobermann et al,.
alami, keberlanjutan sistem produksi, dan ke- 2003). Pengelolaan hara spesifik lokasi beru-
untungan yang memadai bagi petani. paya menyediakan hara bagi tanaman secara
Pemupukan berimbang adalah penge- tepat, baik jumlah, jenis, maupun waktu pem-
lolaan hara spesifik lokasi, bergantung pada beriannya, dengan mempertimbangkan kebu-
lingkungan setempat, terutama tanah. Konsep tuhan tanaman, dan kapasitas lahan dalam
pengelolaan hara spesifik lokasi mempertim- menyediakan hara bagi tanaman (Makarim et
bangkan kemampuan tanah menyediakan al., 2003)

277
Prosiding Pekan Serealia Nasional, 2010 ISBN : 978-979-8940-29-3

Penggunaan bahan organik perlu men- Maluku, 2008) jika dibandingkan dengan
dapat perhatian yang lebih besar, mengingat potensi hasil atau hasil yang diperoleh di
banyaknya lahan yang telah mengalami de- tingkat penelitian (5 10 t/ha) dengan pene-
gradasi bahan organik, di samping mahalnya rapan inovasi teknologi (Departemen Pertani-
pupuk anorganik (urea, ZA, SP36, dan KCl). an, 2008). Rendahnya hasil tersebut diduga
Penggunaan pupuk anorganik secara terus- karena potensi hasil benih yang digunakan
menerus tanpa tambahan pupuk organik da- rendah, disamping teknologi budidaya yang
pat menguras bahan organik tanah dan me- diterapkan belum optimal. Jagung di Maluku
nyebabkan degradasi kesuburan hayati tanah. merupakan makanan pokok bagi sebagian
Tanaman jagung membutuhkan mini- penduduk terutama di kabupaten Maluku
mal 13 jenis unsur hara yang diserap melalui Tenggara Barat (Alfons et al., 2004; Susanto
tanah. Hara N, P, dan K diperlukan dalam jum- dan Sirappa, 2005), dan menempati urutan
lah lebih banyak dan sering kekurangan, se- kedua terluas yang diusahakan.
hingga disebut hara primer. Hara Ca, Mg, dan S Beberapa permasalahan dalam budi-
diperlukan dalam jumlah sedang dan disebut daya jagung di lahan kering yang menyebab-
hara sekunder. Hara primer dan sekunder kan produktivitas rendah, selain karena faktor
lazim disebut hara makro. Hara Fe, Mn, Zn, Cu, abiotis dan biotis, juga disebabkan karena tek-
B, Mo, dan Cl diperlukan tanaman dalam jum- nik budidaya masih tradisional, menggunakan
lah sedikit, disebut hara mikro. Sedangkan 3 varietas potensi hasil rendah, populasi tana-
unsur lainnya yaitu C, H, dan O diperoleh dari man rendah, dan penggunaan pupuk yang be-
air dan udara. lum optimal (Balitsereal, 2006). Penggunaan
Tidak semua pupuk yang diberikan ke varietas unggul baru, baik komposit maupun
dalam tanah dapat diserap oleh tanaman. hibrida yang berdaya hasil tinggi, berumur
Menurut Patrick dan Reddy (1976), nitrogen genjah, tahan hama dan penyakit utama, to-
yang dapat diserap tanaman jagung hanya se- leran lingkungan marjinal, dan mutu hasil se-
kitar 55-60%, P sekitar 20% (Hagin dan suai dengan selera konsumen merupakan sa-
Tucker, 1982), K antara 50-70% (Tisdale dan saran yang diinginkan (Puslitbangtan, 2006).
Nelson, 1975), sedangka S sekitar 33% Badan Litbang Pertanian telah meng-
(Morris, 1987). Tanggapan tanaman terhadap hasilkan teknologi budidaya jagung dalam
pupuk yang diberikan bergantung pada jenis upaya meningkatkan produktivitas, yaitu ber-
pupuk dan tingkat kesuburan tanah. Karena dasarkan pengelolaan tanaman dan sumber-
itu, takaran pupuk berbeda untuk setiap lo- daya terpadu (PTT). PTT adalah suatu model
kasi. Hara N, P dan K merupakan hara yang atau pendekatan dalam mengutamakan pe-
sangat dibutuhkan tanaman jagung untuk ngelolaan tanaman, lahan, air dan organisme
tumbuh dan berproduksi, dimana untuk setiap pengganggu tanaman (OPT) secara terpadu
ton biji yang dihasilkan, tanaman jagung me- dan bersifat spesifik lokasi. Dengan demikian
merlukan 27,4 kg N, 4,8 kg P dan 18,4 kg K teknologi yang diterapkan dengan pendekatan
(Cooke, 1985). PTT bersifat sinergistik dan spesifik lokasi
Produktivitas jagung di Maluku rata- dengan melibatkan petani secara partisipatif.
rata masih rendah yaitu 2,30 t/ha (BPS Prov.

278
Prosiding Pekan Serealia Nasional, 2010 ISBN : 978-979-8940-29-3

Salah satu komponen teknologi PTT sil analisis tanah. Pupuk urea diberikan tiga
jagung yang cukup berperan dalam pening- kali, yaitu 100 kg umur 5-10 hst, 150 kg umur
katan hasil tanaman adalah varietas, terutama 30 hst dan 50 kg umur 45 hst.
bila dikombinasikan dengan komponen tekno-
logi lainnya, seperti pemupukan. Penggunaan Parameter yang diamati adalah :
pupuk secara berimbang dengan mempertim- 1. Komponen pertumbuhan dan hasil tana-
bangkan kemampuan tanah menyediakan ha- man, meliputi: tinggi tanaman saat panen,
ra dan kebutuhan hara oleh tanaman adalah bobot tongkol berkelobat dan tanpa kelo-
suatu konsep pengelolaan hara yang spesifik bot, jumlah baris biji/tongkol, bobot 1000
lokasi. biji, hasil pipilan kering/tongkol, dan hasil
Kajian ini bertujuan untuk mengetahui per hektar.
pengaruh pemberian pupuk tunggal N, P, K 2. Data dukung lainnya (serangan hama/
dan pupuk kandang terhadap pertumbuhan penyakit dan iklim)
dan hasil jagung komposit dan hibrida pada Data agronomis ditabulasi dan diana-
lahan kering di Maluku. lisis secara statistik dengan menggunakan
program sistem SAS, dan perbedaan antar per-
Bahan dan Metode lakuan dengan uji Duncan.
Kajian ini dilakukan pada lahan kering
milik petani di desa Waihatu, Kairatu, kabu- Hasil dan Pembahasan
paten Seram Bagian Barat pada tahun 2009. Keadaan Tanah dan Ilim
PRA dilakukan sebelumnya untuk mengetahui Jenis tanah pada lokasi kajian terma-
teknologi budidaya jagung yang dilakukan pe- suk Aluvial. Hasil analisis tanah dengan meng-
tani dan permasalahan usahatani jagung pada gunakan perangkat uji tanah kering (PUTK)
lahan kering di Seram Bagian Barat. menunjukkan status hara fosfat (P) rendah,
Percobaan disusun berdasarkan ran- dan kalium (K) tinggi, serta C organik rendah,
cangan acak kelompok dengan 3 kali ulangan. dan pH tanah agak masam. Tingkat kesuburan
Luas petak kajian adalah 15 m x 16 m untuk tanahnya tergolong rendah. Takaran pupuk
setiap varietas. Sebanyak 3 varietas yang di- untuk status hara tersebut adalah urea 350 kg,
gunakan dalam kajian ini yaitu Bima-3 Ban- SP-36 200 kg, KCl 50 kg, pupuk kandang 2.000
timurung, Srikandi Kuning dan Bisi-2. Jarak kg, dan kapur 500 kg/ha (Setyorini et al.,
tanam jagung 75 cm x 40 cm (2 tanaman/ 2007).
lubang). Benih jagung dimasukkan dalam lu- Curah hujan selama penelitian ber-
bang tanam kemudian ditutup dengan tanah. langsung tergolong rendah, terutama bulan
Pupuk kandang setara dengan 2 t/ha disebar Agustus sampai Oktober kurang dari 100 mm/
secara merata pada petakan pada saat pengo- bulan dengan hari hujan 8-10 hari hujan
lahan tanah terakhir. Pemupukan dilakukan (Tabel 1). Keadaan ini akan berpengaruh ter-
secara tugal di samping tanaman dengan jarak hadap pertumbuhan dan hasil tanaman
sekitar 5-7 cm dari batang tanaman. Dosis pu- jagung, terutama pada fase kritis jika terjadi
puk yang digunakan adalah 300 kg urea, 200 kekeringan. Kekeringan didefenisikan sebagai
kg SP-36, dan 50 kg KCl/ha sesuai dengan ha- suatu keadaan dimana terjadi kekurangan air

279
Prosiding Pekan Serealia Nasional, 2010 ISBN : 978-979-8940-29-3

Tabel 1. Curah hujan dan hari hujan selama penelitian berlangsung, SBB tahun 2009

Bulan (mm)
Uraian
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

CH 236,9 132,7 135,7 213,6 98,3 208,1 190,7 90,8 17,6 48,4 - -

HH 20 15 14 18 17 13 26 10 8 7 - -
Sumber : Stasiun Klimatologi Kairatu (2009)

dalam tanah dan tanaman, dalam periode yang Pertumbuhan dan Hasil Tanaman
berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan Komponen pertumbuhan tanaman
dan perkembangan tanaman. Dahlan (2001) yang diukur pada kajian ini adalah tinggi tana-
melaporkan bahwa untuk dapat tumbuh de- man saat panen dan tinggi letak tongkol dari
ngan baik, tanaman jagung memerlukan curah permukaan tanah. Varietas Srikandi Kuning
hujan rata-rata 25 mm/minggu. memberikan tinggi tanaman dan tinggi letak
Banzinger et al. (2000) melaporkan tongkol tertinggi dan berbeda nyata diband-
bahwa jika tanaman jagung mengalami ceka- ingkan dengan Bisi-2, namun tidak berbeda
man kekeringan pada fase berbunga atau nyata dengan Bima-3 Bantimurung (Tabel 2).
pengisian biji, maka hasilnya hanya sekitar 30- Keadaan ini menunjukkan bahwa varietas Sri-
60% dari hasil kondisi normal, sedangkan jika kandi Kuning dan Bima-3 Bantimurung lebih
cekaman kekeringan terjadi pada fase pem- toleran terhadap cekaman lingkungan keke-
bungaan sampai panen, maka hasilnya sekitar ringan dibandingkan dengan varietas Bisi-2.
15-30% dari hasil tanaman yang tidak men- Menurut Balitsereal (2006), ada dua
galami cekaman kekeringan. permasalahan utama dalam budidaya jagung
yaitu (1) faktor abiotis, meliputi ketersediaan

Tabel 2. Rata-rata tinggi tanaman jagung pada saat panen dan tinggi letak tongkol
di desa Waihatu, SBB*

Tinggi Tinggi letak tongkol dari


Perlakuan/Varietas 7anaman (cm) Rerata permukaan tanah (cm) Rerata
I II III I II III

Bima-3 Bantimurung 165,20 196.00 183.00 181.40 b 56,80 74,00 73.40 68,07 b

Srikandi Kuning 188,40 198,00 195,80 194,20 ab 83,40 60,60 78,00 74,00 ab

Bisi-2 145,60 145,60 152,20 147,80 c 49,40 52,60 50,00 50,67 c

Rerata 166,40 179,87 177,00 174,47 63,20 62,40 67,13 64,25


Keterangan : * Rata-rata dari 5 tanaman contoh
Angka rata-rata pada kolom yang sama yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata
pada uji Duncan

280
Prosiding Pekan Serealia Nasional, 2010 ISBN : 978-979-8940-29-3

hara dalam tanah kurang, cekaman air teru- petak ubinan, dan bobot biji per hektar disaji-
tama kekeringan, serta kekurangan bahan or- kan pada Tabel 3.
ganik tanah, dan (2) teknik budidaya, meliputi Dari hasil pengukuran beberapa pa-
penggunaan varietas potensi hasil rendah, rameter komponen hasil tanaman diketahui
populasi tanaman rendah, dan takaran pupuk bahwa varietas Bima-3 Bantimurung memiliki
rendah. komponen hasil tanaman rata-rata lebih tinggi
dibandingkan varietas Srikandi Kuning dan
Hasil Tanaman Bisi-2 (Tabel 3). Penggunaan pupuk tunggal
Komponen hasil tanaman jagung meli- NPK yang dikombinasikan dengan pupuk kan-
puti panjang tongkol berkelobot, lingkar tong- dang menghasilkan rata-rata bobot pipilan
kol, bobot tongkol berkelobot, bobot tongkol biji per hektar dari tiga varietas sebesar 6,54
tanpa kelobot, jumlah baris/tongkol, bobot biji t/ha.
per tongkol, bobot 1000 biji, bobot biji per

Tabel 3. Rata-rata komponen hasil dari 3 varietas jagung pada saat panen1)

Varietas
Komponen Hasil Bima-3 Ban- Srikandi Rerata
Bisi-2
timurung Kuning

Panjang tongkol berkelobot (cm) 32,47 ab 30,87 b 26,47 c 29,94

Lingkar tongkol (cm) 14,53 ab 13,83 b 11,50 c 13,29

Bobot tongkol berkelobot (g) 350,00 a 270,00 b 126,67 c 248,89

Bobot tongkol tanpa kelobot (g) 233,33 a 155,00 b 76,33 c 154,89

Jumlah baris/tongkol 12,93 b 14,40 ab 12,93 b 13,42

Bobot 1000 biji (g) 311,70 ab 285,53 b 217,30 c 271,57

Bobot biji/tongkol (g) 181,44 a 128,36 b 84,44 c 131,41

Bobot biji/petak (kg) 2) 8,13 a 5,75 b 3,78 c 5,89

Bobot biji/hektar (ton) 3) 8,71 a 6,42 b 4,50 c 6,54

Keterangan : Angka rata-rata pada baris yang sama yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda
nyata pada uji Duncan
1) : Rata-rata dari 5 tongkol jagung yang dipilih secara proporsional (terbesar-terkecil dalam

petak sampel) dan dari 3 ulangan


2) : Ubinan 2,5 x 2,5 m
3) : Konversi hasil ubinan (k.a. 20%)

281
Prosiding Pekan Serealia Nasional, 2010 ISBN : 978-979-8940-29-3

Hasil pipilan kering tertinggi diper- Hasil penelitian Sirappa et al. (2002)
oleh pada varietas Bima 3 Bantimurung (8,71 mendapatkan bahwa pemupukan nitrogen
t/ha), dan berbeda nyata dengan varietas Sri- dengan takaran 120 kg N/ha atau setara de-
kandi Kuning (6,42 t/ha) dan Bisi 2 (4,50 t/ ngan 260 kg Urea/ha pada lahan kering de-
ha), seperti terlihat pada Tabel 3. Hasil jagung ngan kadar N total sangat rendah sampai se-
yang diperoleh dari ketiga varietas ini jauh dang dan jenis tanah Inceptisols, mampu
lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata memberikan hasil pipilan jagung 67 t/ha.
hasil jagung di Maluku (2,30 t/ha). Hal terse- Selanjutnya Sirappa et al. (2003) dan Sirappa
but berkaitan dengan penggunaan pupuk se- dan Tandisau (2004) melaporkan bahwa hasil
cara berimbang dengan berdasarkan status jagung tertinggi pada tiga jenis tanah (Entisol,
hara dan kebutuhan tanaman, disamping Inceptisols dan Vertisols) masing-masing
penggunaan pupuk kandang. diperoleh pada pemupukan dengan takaran
Penggunaan pupuk kandang (kotoran 120 kg N, 80 kg P2O5 dan 80 kg K2O/ha atau
ayam) pada perlakuan ini mempunyai peran- setara dengan 260 kg urea, 220 kg SP36, dan
an sangat penting terhadap pertumbuhan dan 130 kg KCl/ha.
hasil tanaman, terutama peranannya dalam Pemupukan berimbang merupakan
hal meningkatkan kapasitas pengikatan dari pengelolaan hara spesifik lokasi, bergantung
tanah dalam menyimpan air. Hal ini terlihat pada lingkungan setempat, terutama tanah.
dari hasil jagung yang cukup tinggi meskipun Menurut Dobermann et al. (2003), konsep pe-
berada pada kondisi cekaman lingkungan ngelolaan hara spesifik lokasi mempertim-
(kekeringan) selama kegiatan berlangsung, bangkan kemampuan tanah menyediakan ha-
yaitu curah hujan hanya berkisar antara 18-91 ra secara alami dan pemulihan hara yang se-
mm/bulan (Tabel 1) dan hanya dibantu bebe- belumnya dimanfaatkan tanaman. Konsep se-
rapa kali penyiraman dengan menggunakan rupa juga digunakan untuk rekomendasi pe-
mesin pompa. mupukan yang baru pada tanaman jagung
Selain pupuk, penggunaan varietas dengan penekanan khusus pada pemahaman
unggul dengan penerapan teknologi PTT potensi hasil dan senjang hasil sebagai dasar
mampu meningkatkan hasil jagung dan efi- perbaikan rekomendasi pengelolaan hara spe-
siensi input produksi (Suryana et al., 2008). sifik lokasi. Pengelolaan hara spesifik lokasi
Hasil penelitian Balitsereal pada lahan kering berupaya menyediakan hara bagi tanaman
menunjukkan bahwa penerapan model PTT secara tepat, baik jumlah, jenis, maupun wak-
pada jagung varietas Lamuru dapat membe- tu pemberiannya, dengan mempertimbangkan
rikan hasil 6-6,5 t/ha, pada lahan kering ma- kebutuhan tanaman dan kapasitas lahan da-
sam dengan menggunakan varietas Sukma- lam menyediakan hara bagi tanaman.
raga memberikan hasil 5,56 t/ha, dan pada Menurut Olson dan Sander (1988), be-
lahan sawah tadah hujan dengan varietas berapa faktor yang mempengaruhi keterse-
Lamuru dan Srikandi Kuning-1 mampu mem- diaan hara dalam tanah untuk dapat diserap
berikan hasil sekitar 67 t/ha (Balitsereal, tanaman antara lain adalah total pasokan ha-
2006). ra, kelembaban tanah dan aerasi, suhu tanah,
dan sifat fisik maupun kimia tanah. Keseluru-

282
Prosiding Pekan Serealia Nasional, 2010 ISBN : 978-979-8940-29-3

han faktor ini berlaku umum untuk setiap un- gulma pada lahan yang diusahakan keberada-
sur hara. Kelembaban tanah dan aerasi meru- an gulma yang dibiarkan tumbuh pada suatu
pakan faktor yang berpengaruh terhadap pro- pertanaman dapat menurunkan hasil 20 %
duksi jagung sehingga hasil jagung yang sampai 80 %. Lebih lanjut dijelaskan bahwa
diperoleh masih di bawah potensi hasilnya pupuk kandang dari kotoran ayam memberi-
(10 t/ha), meskipun sudah jauh lebih tinggi kan pengaruh yang lebih baik dibanding pu-
dibandingkan rata-rata hasil jagung nasional puk kandang lainnya.
(3,6 t/ha) dan hasil jagung di Maluku (2,30 t/ Penurunan hasil terbesar dapat terjadi
ha). apabila tanaman mengalami kekurangan air
Pola serapan hara tanaman jagung pada fase pembungaan, bunga jantan dan
dalam satu musim mengikuti pola akumulasi bunga betina muncul, dan pada saat terjadi
bahan kering sebagaimana dijelaskan oleh Ol- proses penyerbukan. Penurunan hasil terse-
son dan Sander (1988). Sedikit N, P, dan K di- but disebabkan oleh kekurangan air yang
serap tanaman pada pertumbuhan fase vege- mengakibatkan terhambatnya proses pengi-
tatif, dan serapan hara sangat cepat terjadi sian biji karena bunga betina/tongkol menge-
selama fase vegetatif dan pengisian biji. Unsur ring, sehingga jumlah biji dalam tongkol ber-
N dan P terus-menerus diserap tanaman sam- kurang. Hal ini tidak terjadi apabila kekurang-
pai mendekati matang, sedangkan K terutama an air terjadi pada fase vegetatif. Kekurangan
diperlukan saat silking. Sebagian besar N dan air pada fase pengisian/pemben-tukan biji
P dibawa ke titik tumbuh, batang, daun, dan juga dapat menurunkan hasil secara nyata aki-
bunga jantan, lalu dialihkan ke biji. Sebanyak bat mengecilnya ukuran biji. Kekurangan air
2/3-3/4 unsur K tertinggal di batang. Dengan pada fase pemasakan/pemata-ngan sangat ke-
demikian, hara N dan P terangkut dari tanah cil pengaruhnya terhadap hasil. Tanaman ja-
melalui biji saat panen, sedangkan K terangkut gung yang mengalami cekaman kekeringan
melalui jerami (batang). Pengembalian limbah pada fase berbunga atau pengisian biji, hasil-
jerami jagung sangat penting sebagai pemasok nya sekitar 30-60% dari hasil kondisi normal,
hara K. sedangkan jika cekaman kekeringan terjadi
Penggunaan pupuk anorganik secara pada fase berbungan sampai panen, hasilnya
terus-menerus tanpa tambahan pupuk or- 15-30% dari hasil tanaman yang tidak meng-
ganik dapat menguras bahan organik tanah alami cekaman kekeringan (Ban-zinger et al.,
dan menyebabkan degradasi kesuburan hayati 2000).
tanah. Oleh karena itu, penggunaan bahan or- Menurut FAO dalam Aqil et al. (2007),
ganik atau pupuk kandang terutama pada la- jagung merupakan tanaman dengan tingkat
han kering sangat penting, mengingat banyak- penggunaan air sedang, berkisar antara 400-
nya lahan yang telah mengalami degradasi 500 mm/musim. Namun demikian, budidaya
bahan organik, disamping mahalnya pupuk jagung terkendala oleh tidak tersedianya air
anorganik. Namun menurut Mayadewi (2007), dalam jumlah dan waktu yang tepat. Dooren-
pemakaian pupuk kandang perlu mempertim- bos dan Pruitt dalam Aqil et al. (2007) mela-
bangkan jenis yang tepat, karena pupuk kan- porkan bahwa kebutuhan air untuk tanaman
dang dapat menyebabkan berkembangnya tiap hari atau tiap dekade dapat ditentukan

283
Prosiding Pekan Serealia Nasional, 2010 ISBN : 978-979-8940-29-3

dengan mengetahui beberapa informasi awal pada fase pembungaan memberikan respons
seperti kebutuhan air tiap musim, umur tana- positif, dimana tanaman mampu memberikan
man dan luas lisimeter yang digunakan. Ber- hasil yang cukup tinggi walaupun masih di
dasarkan persamaan tersebut diketahui bah- bawah potensi produksi atau hasil rata-rata.
wa kebutuhan air untuk tanaman jagung tiap Dari tiga varietas yang digunakan, va-
hari adalah 1.290 ml. rietas Bima-3 Bantimurung dan Srikandi Ku-
Ketepatan pemberian air sesuai de- ning merupakan dua varietas yang lebih tole-
ngan tingkat pertumbuhan tanaman jagung ran terhadap kondisi cekaman kekeringan,
sangat berpengaruh terhadap produksi. Pe- yang ditunjukkan oleh pertumbuhan dan hasil
riode pertumbuhan tanaman yang membu- tanaman yang lebih tinggi dan berbeda nyata
tuhkan adanya pengairan dibagi atas lima dibandingkan dengan varietas Bisi-2. Varietas
fase, yaitu fase pertumbuhan awal (selama 15- Bima-3 Bantimurung cukup potensial diinte-
25 hari), fase vegetative (25-40 hari), fase grasikan dengan ternak karena varietas terse-
pembungaan (15-20 hari), fase pengisian biji but tetap hijau saat panen dan mempunyai
(35-45 hari), dan fase pematangan (10-25 biomas yang cukup tinggi, sedangkan Srikandi
hari). Menurut Aqil et al. (2007), frekuensi Kuning sangat cocok dikembangkan untuk
pemberian air bagi tanaman jagung dalam pemenuhan kebutuhan sebagai makanan po-
satu musim tanam berkisar antara 2-5 kali. kok karena mempunyai kandungan protein
Dalam kondisi tidak ada hujan dan ket- cukup tinggi, yaitu protein 10,38%, lisin
ersediaan air irigasi sangat terbatas, maka 0,477%, dan triptofan 0,093%.
pemberian air bagi tanaman dapat dikurangi
dan difokuskan pada periode pembungaan Kesimpulan
dan pembentukan biji. Tanaman jagung lebih 1. Penggunaan pupuk tunggal NPK yang
toleran terhadap kekurangan air pada fase dikombinasikan dengan pupuk kandang
vegetatif dan fase pematangan/masak. memberikan hasil pipilan jagung lebih
Aqil et al. (2007) melaporkan bahwa tinggi dari rata-rata hasil jagung nasional
dengan irigasi yang tepat waktu dan jumlah dan Maluku.
tepat, maka diharapkan akan didapatkan hasil 2. Varietas Bima-3 Bantimurung memberi-
jagung 6-9 t/ha (kadar air 10-13%), dengan kan hasil pipilan kering tertinggi (8,71 t/
efisiensi penggunaan air 0,8-1,6 kg/m3. Wa- ha), menyusul Srikandi Kuning (6,42 t/ha),
laupun secara teoritis tanaman masih mampu Bisi-2 (4,50 t/ha).
mendapatkan air dari tanah dalam kondisi 3. Varietas Bima-3 Bantimurung dan Sri-
kadar lengas tanah sudah melewati titik layu kandi Kuning merupakan varietas yang
permanen, namun sedikit demi sedikit ke- cukup toleran terhadap cekaman lingkun-
mampuan mentranspirasikan air akan berku- gan (kekeringan).
rang seiring menutupnya stomata sebagai re- 4. Varietas Bima 3 Bantimurung sangat po-
spon terhadap kekurangan air. Hasil kajian ini tensial diintegrasikan dengan ternak
juga menunjukkan bahwa pemberian air me- karena tanaman tetap hijau sampai panen
lalui pompanisasi dengan menggunakan alkon dan mempunyai biomas yang cukup tinggi,
pada saat tanaman dalam kondisi kekeringan sedangkan Srikandi Kuning sangat sesuai

284
Prosiding Pekan Serealia Nasional, 2010 ISBN : 978-979-8940-29-3

untuk dikonsumsi karena kandungan pro- Tanaman Terpadu (SL-PTT) Jagung.


tein cukup tinggi. Departemen Pertanian. 38 p.
Dobermann, A. and T. Fairthurts. 2000. Rice
Daftar Pustaka Nutrient Disorders and Nutrient Man-
agement. Internasional Rice Research
Alfons, J. B., M. Pesireron, A.J. Rieuwpassa, Institute (IRRI). Los Banos.192p.
Rein E. Senewe, dan Florentina Wat-
kaat. 2004. Pengkajian Peningkatan Dobermann, A., T. Arkebauer, K.G. Cassman,
Produktivitas Tanaman Pangan Tradi- R.A. Drijber, J.L. Lindquist, J.E. Specht,
sional di Maluku. Laporan Akhir BPTP D.T. Walters, H. Yang, D. Miller, D.L.
Maluku. Binder, G. Teichmeier, R.B. Ferguson
and C.S. Wortmann. 2003. Understand-
Aqil, M., I.U. Firmansyah, dan M. Akil. 2007. ing Corn Yield Potential in Different
Pengelolaan Air Tanaman Jagung. Environments. p. 67-82. In: L.S. Mur-
http://balitsereal.litbang.deptan. - phy (Ed.). Fluid focus: the third dec-
go.id/ind//bjagung/duatujuh.pdf ade. Proceedings of the 2003 Fluid Fo-
Balitsereal. 2006. Deliniasi Percepatan Pe- rum, Vol. 20. Fluid Fertilizer Founda-
ngembangan Teknologi PTT Jagung tion, Manhattan, KS.
pada Beberapa Agroekosistem. Bahan Mayadewi, Ni Nyoman Ari. 2007. Pengaruh
Padu Padan Puslitbangtan dengan Jenis Pupuk Kandang dan Jarak Tanam
BPTP. Bogor, 13-14 Maret 2006. balit- terhadap Pertumbuhan Gulma dan Ha-
sereal Maros, 14 hal. sil Jagung Manis. Agritrop, 26 (4) : 153
Banzinger, M., S. Mugo, and G.O. Edmeades. 159. Fakultas Pertanian Universitas
2000. Breeding for Drought Tolerance Udayana Denpasar Bali Indonesia.
in Tropical Maize-Convensional Ap- Makarim, A. K., I.N. Widiarta, S. Hendarsih, dan
proach and Challenges to Molecular S. Abdurachman. 2003. Panduan Tek-
Approaches. In: Ribaut, J. M. and D. Po- nis Pengelolaan Hara dan Pengenda-
land (Eds). Molecular Approaches for lian Hama Penyakit Tanaman Padi Se-
the Genetic Improvement of Cereals cara Terpadu. Puslitbangtan. 37 p.
for Stable production in Water Lim-
ited Environments, A Strategic Plan- Morris, R.J. 1987. The Importance and Need
ning Workshop Held at CIMMYT, El For Sulfur in Crop Production in Asia
Batan, Mexico, 21-25 June 1999, Mex- and The Pacific Region. In Proceding of
ico DF CIMMYT, p.69-72. Symposium on Fertilizer, Sulphur Re-
qurements and Sources in Developing
BPS Provinsi Maluku. 2008. Maluku Dalam Countries of Asia and Pacific. Bangkok.
Angka 2008. Badan Pusat Statistik
Provinsi Maluku. Patrick, W. H., JR and K.R. Reddy. 1976. Rate of
Fertilizer Nitrogen in a Flooded Soil.
Cooke, G.W. 1985. Fertilizing for Maximum Soil. Svi. Soc. Proc. 40:678-681.
Yield. Granada Publishing Lmt. Lon-
don. P. 75-87. Olson, R.A. and D.H. Sander. 1988. Corn Pro-
duction. In Monograph Agronomy
Dahlan, M. 2001. Pemuliaan Tanaman untuk Corn and Corn Improvement. Wiscon-
Ketahanan terhadap Kekeringan. sin. p.639-686.
Dalam Proc. International Conference
on Agricultural Development NTT, Puslitbangtan. 2006. Inovasi Teknologi Ung-
Timor Timur, and Maluku Tenggara. gulan Tanaman Pangan Berbasis Agro-
Kupang, 11-15 Desember 2001. ekosistem Mendukung Primatani.
Badan Litbang Pertanian, Puslit-
Departemen Pertanian. 2008. Panduan Pelak- bangtan.
sanaan Sekolah Lapang Pengelolaan

285
Prosiding Pekan Serealia Nasional, 2010 ISBN : 978-979-8940-29-3

Setyorini, D., Nurjaya, L.R. Widowati, dan A. Tanaman Jagung pada Lahan Kering.
Kusno. 2007. Petunjuk Penggunaan Jurnal Tanah dan Air, 4 (1) :11-19.
Perangkat Uji Tanah Kering Versi 1,0. Suryana, A., Suyamto, Zubachtirodin, Map-
Balai Penelitian Tanah. BB Litbang paganggang S. Pabbage, S. Saenong,
SDLP, Badan Litbang Pertanian, Depar- dan I Nyoman Widiarta. 2008. Pandu-
temen Pertanian. 24 p. an Pelaksanaan Sekolah Lapang Pe-
Sirappa, M.P. and P. Tandisau. 2004. Critical ngelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT)
Values and Corn Yield Response to N, P Jagung. Departemen Pertanian. 38 p.
and K Fertilization in the South Su- Susanto, A.N. dan M.P. Sirappa. 2005. Prospek
lawesi Dry Land. Jurnal Agrivigor, 3 dan Strategi Pengembangan Jagung
(3) :233-240. Jurusan Budidaya Perta- untuk Mendukung Ketahanan Pangan
nian, Fakultas Pertanian dan Kehu- di Maluku. Jurnal Litbang Pertanian,
tanan Universitas Hasanuddin. 24 (2) :70-79.
Sirappa, M.P., N. Razak dan H. Tabrang. 2002. Tisdale, S.L., W.L. Nelson, and J. D. Beaton.
Pengaruh Pemupukan Nitrogen terha- 1985. Soil Fertility and Fertilizer.
dap Hasil Jagung pada Berbagai Kelas Macmillan Publishing Company, New
N Tanah Inceptisols Jeneponto. Jurnal York. Fourth Edition.
Agrivigor, 2 (1) :72-77. Jurusan Budi-
daya Pertanian, Fakultas Pertanian Witt, C. and A. Dobermann. 2002. A Site-
dan Kehutanan Universitas Hasanud- Specific Nutrient Management Ap-
din. proach for Irrigated Lowland Rice in
Asia. Better Crops Int. 16:20-24.
Sirappa, M.P., P. Tandisau dan A.N. Susanto.
2003. Penentuan Status Hara dan
Dosis Rekomendasi Pupuk K untuk

286