Anda di halaman 1dari 4

A.

DASAR TEORI
Koefisien restitusi merupakan suatu konstanta yang menyertai dua benda ketika mengalami
tumbukan. Koefisien restitusi dalam peristiwa tumbukan menunjukkan jenis tumbukan dua
benda. Tumbukan itu dapat berupa tumbukan lenting sempurna dengan koefisien restitusi sama
dengan satu (e = 1), tumbukan lenting sebagian dengan koefisien restitusi lebih kecil dari satu
dan lebih besar dari nol (0 < e < 1), dan tumbukan tidak lenting sama sekali dengan koefisien
restitusi sama dengan nol (e = 0).
Besar koefisien restitusi suatu benda sangat bergantung pada kecepatan dua benda sebelum
dan sesudah tumbukan. Untuk benda jatuh bebas, koefisien tergantung pada ketinggian benda
ketika dijatuhkan. Hal tersebut dikarenakan kecepatan benda yang jatuh bebas sangat ditentukan
oleh ketinggian benda dan percepatan gravitasi bumi. Bila sebuah benda dijatuhkan dari
ketinggian h1 lalu setelah dipantulkan lantai akan mencapai ketinggian h2, maka berlaku rumus :

B. TUJUAN PERCOBAAN

1. Menghitung koefisien restitusi antaara :


a. Bola bekel dengan lantai

b. Bola pingpong dengan lantai

c. Bola yang terbuat dari plastisin dengan lantai

C. ALAT DAN BAHAN

1. Bola bekel
2. Bola pingpong

3. plastisin

4. Penggaris

D. LANGKAH KERJA
1. Jatuhkan bola tenis pada ketinggian tertentu (h1) dan ukur ketinggiannya.

2. Ukurlah ketinggian maksimum yang dicapai saat pemantulan pertama (h2)


3. Ulangi kembali langkah 1 dan 2 untuk ketinggian : 10, 20, 30, 40, dan 50.

4. Ulangi kembali langkah 1-3 menggunakan bola pingpong dan bola bekel.

E. DATA HASIL PENGAMATAN


Percobaa Koefisien restitusi
Jenis bola h1 (cm) h2 (cm) Nilai e
n rata-rata
1. 10 8 0.89
2. 20 17 0,92
Bola bekel 3. 30 23 0,87 0,858
4. 40 30 0,75
5. 50 37 0,86
1. 10 9 0,94
2. 20 16 0,89
Bola pingpong 3. 30 21 0,84 0,846
4. 40 25 0,79
5. 50 30 0.77
1. 10 0 0
2. 20 0 0
Bola plastisin 3. 30 0 0 0
4. 40 0 0
5. 50 0 0

F. JAWAB PERTANYAAN

1. Koefisien restitusi rata-rata antara lantai dengan Bola bekel = 0,858


2. Koefisien restitusi rata-rata antara lantai dengan Bola pingpong = 0,846
3. Koefisien restitusi rata-rata antara lantai dengan Bola plastisin = 0
4. Antara bola bekel dan lantai memperoluh nilai restitusi = 0,858. Dengan demikian jenis
tumbukan yang terjadi adala h tumbukan lenting sebagian denga koefisien restitusi (e)
nilainya adalah 0 < e < 1.
5. Antara bola pingpong dan lantai memperoleh nilai restitusi = 0,846. Dengan demikian
jenis tumbukan yang terjadi adalah tumbukan lenting sebagian dengan koefisien restitusi
(e) nilainya adalah 0 < e < 1.
6. Antara bola plastisin dan lantai memperoleh nilai restitusi = 0. Dengan demikian jenis
tumbukan yang terjadi adalh tumbukan tidak lenting sama sekali dengan koefisien
restitusi (e) nilainya adalah 0.
G. KESIMPULAN

1. Tumbukan antara bola bekel, pingpong dan bola plastisin dengan lantai merupakan
tumbukan Tumbukan tidak lenting sama sekali danTumbukan lenting sebagian.
2. >Tumbukan lentin sebagian memiliki karakteristik sebagai berikut.

a. Tidak berlaku hukum kekekalan mekanik.


b. Nelai e adalah 0 < e < 1.
>Tumbukan tidak lenting sama sekali memiliki karakteristik sebagai berikut.

a. Terjadi kehilangan Ek (energi kinetik) sehingga hukum kekekalan mekanik tidak


berlaku.
b. Setelah tumbukan terjadi benda yang terlibat dalam tumbukan akan menyatu dan
bergerak bersama dengan kecepatan yang sama.
c. Nilai e adalah 0.

3. Untuk menentukan koefisien restitusi dapat digunakn rumus :

Dari kekekalan momentum:


mAvA + mBvB = mAvA + mBvB
mA (vA vA) = mB (vB vB) (Persamaan I)
Dari kekekalan energi kinetik:
mAvA2 + mBvB2 = mA (vA)2 + mB (vB)2
mA (vA2 (vA)2 = mB (vB2 (vB))2
mA (vA vA) (vA + vA) = mB (vB vB) (vB + vB)(Persamaan II)
Persamaan II dibagi Persamaan I, sehingga:
(vA + vA) = (vB + vB)
vA vB = vB + vA
e = - ( vA vB)/ vA vB

4. Khusus untuk benda menumbuk lantai, koefisien restitusi dapat di hitung dengan rumus :

Berdasarkan data hasil percobaan, percobaan yang telah kami lakukan termasuk jenis
tumbukan lenting sebagian, karena kecepatan memantul benda lebih kecil daripada kecepatan
awal benda sebelum bertumbukan.
Semakin tinggi bola dijatuhkan, maka semakin tinggi pula pantulan bola tersebut. Sebaliknya,
semakin rendah bola dijatuhkan, maka semakin rendah pula pantulan bola tersebut. Dengan
demikian, tinggi pantulan bola berbanding lurus dengan tinggi awal bola dijatuhkan.