Anda di halaman 1dari 6

Septictank, adalah bak untuk menampung air limbah yang digelontorkan

dari WC (water closet), konstruksi septictank ada disekat dengan dinding


bata dan diatasnya diberi penutup dengan pelat beton dilengkapi penutup
control dan diberi pipa hawa T dengan diameter 1 , sebagai
hubungan agar ada udara / oksigen ke dalam septictank sehingga bakteri
bakteri menjadi subur. Sebagai pemusnah kotoran kotoran atau tinja
yang masuk ke dalam bak penampungannya.
Sebagai seorang yang berprofesi sebagai sanitarian atau kesehatan
masyarakat, tentu akan sangat akrab dengan kata septic tank. Bahkan
dahulu diawal melakoni pendidikan kesehatan lingkungan (saat ospek)
nama ini dijadikan nama identitas, disamping nama-nama trend lainnya
seperti bowl, jetting, dan lain-lain, sehingga sekarangpun nama itu
seakan telah menjadi trade mark sanitarian (sebagai mantri kakus).
Berikut adalah informasi yang sebaiknya kita ketahui terkait dengan septic
tank tersebut
Septic tank merupakan cara yang memuaskan dalam pembuangan
ekskreta untuk kelompok kecil yaitu rumah tangga dan lembaga yang
memiliki persediaan air yang mencukupi, tetapi tidak memiliki hubungan
dengan sistem penyaluran limbah masyarakat (Chandra, 2007).

Septic tank merupakan cara yang terbaik yang dianjurkan oleh WHO
tapi memerlukan biaya mahal, tekniknya sukar dan memerlukan tanah
yang luas (Entjang, 2000).
Pembangunan septic tank juga perlu memperhatikan keadaan
tanah, pada kondisi tanah yang terlalu lembab dalam jangka waktu yang
lama, maka tanah tersebut tidak sesuai untuk lokasi septic tank. Pada
tingkat tertentu kelembaban tanah sangat mendukung kehidupan
manusia, tetapi pada tingkat kelembaban tanah yang terlalu tinggi atau
terlalu rendah dapat menimbulkan permasalahan bagi manusia (Asdak,
2004).
Kelembaban tanah perlu diperhatikan karena berdasarkan beberapa
studi disimpulkan bahwa air tanah juga tidak luput dari pencemaran.
Bahan pencemar dapat mencapai aquifer air tanah melalui berbagai
sumber diantaranya meresapnya bakteri dan virus melalui septic
tank (Soegianto, 2005).Pada kondisi tanah kering, gerakan bahan kimia
dan bakteri relatif sedikit, dengan gerakan ke samping praktis tidak
terjadi. Dengan pencucian yang berlebihan (tidak biasa terjadi pada
jamban dan septic tank) perembesan ke bawah secara vertikal hanya
sekitar 3 m. Apabila tidak terjadi kontaminasi air tanah, praktis tidak ada
bahaya kontaminasi sumber air (Soeparman, 2002:49).

Dengan memperhatikan pola pencemaran tanah dan air tanah,


maka hal-hal berikut harus diperhatikan untuk memilih lokasi penempatan
sarana pembuangan tinja (Soeparman, 2002):
1. Pada dasarnya tidak ada aturan pasti yang dapat dijadikan sebagai
patokan untuk menentukan jarak yang aman antara jamban dan
sumber air. Banyak faktor yang mempengaruhi perpindahan bakteri
melalui air tanah, seperti tingkat kemiringan, tinggi permukaan air
tanah, serta permeabilitas tanah. Yang terpenting harus
diperhatikan adalah bahwa jamban atau kolam pembuangan
(cesspool) harus ditempatkan lebih rendah, atau sekurang-
kurangnya sama tinggi dengan sumber air bersih. Apabila
memungkinka, harus dihindari penempatan langsung di bagian
yang lebih tinggi dari sumur. Jika penempatan di bagian yang lebih
tinggi tidak dapat dihindarkan, jarak 15 m akan mencegah
pencemaran bakteriologis ke sumur. Penempatan jamban di sebelah
kanan atau kiri akan mengurangi kemungkinan kontaminasi air
tanah yang mencapai sumur. Pada tanah pasir, jamban dapat
ditempatkan pada jarak 7,5 m dari sumur apabila tidak ada
kemungkinan untuk menempatkannya pada jarak yang lebih jauh.
2. Pada tanah yang homogen, kemungkinan pencemaran air tanah
sebenarnya nol apabila dasar lubang jamban berjarak lebih dari 1,5
m di atas permukaan air tanah, atau apabila dasar kolam
pembuangan berjarak lebih dari 3 m di atas permukaan air tanah.
3. Penyelidikan yang seksama harus dilakukan sebelum membuat
jamban cubluk (pit privy), kakus bor (bored-hole latrine), kolam
pembuangan, dan sumur resapan di daerah yang mengandung
lapisan batu karang atau batu kapur. Hal ini dikarenakan
pencemaan dapat terjadi secara langsung melalui saluran dalam
tanah tanpa filtrasi alami ke sumur yang jauh atau sumber
penyediaan air minum lainnya.
Secara teknis desain atau konstruksi utama septic tank sebagai
berikut :
a. Pipa ventilasi. Pipa ventilasi secara fungsi dan teknis dapat dijelaskan
sebagai berikut :
1. Mikroorganisme dapat terjamin kelangsungan hidupnya dengan
adanya pipa ventilasi ini, karena oksigen yang dibutuhkan untuk
kelangsungan hidupnya dapat masuk ke dalam bak pembusuk,
selain itu juga berguna untuk mengalirkan gas yang terjadi karena
adanya proses pembusukan.

Untuk menghindari bau gas dari septick tank maka sebaiknya pipa
pelepas dipasang lebih tinggi agar bau gas dapat langsung
terlepas di udara bebas (Daryanto, 2005).
2. Panjang pipa ventilasi 2 meter dengan diameter pipa 175 mm dan
pada lubang hawanya diberi kawat kasa (Machfoedz, 2004).
b. Dinding septic tank:
1. Dinding septic tank dapat terbuat dari batu bata dengan plesteran
semen (Machfoedz,2004)
2. Dinding septic tank harus dibuat rapat air (Daryanto, 2005)
3. Pelapis septic tank terbuat dari papan yang kuat dengan tebal
yang sama (Chandra, 2007).
c. Pipa penghubung:
1. Septic tank harus mempunyai pipa tempat masuk dan keluarnya
air (Chandra, 2007).
2. Pipa penghubung terbuat dari pipa PVC dengan diameter 10 atau
15 cm (Daryanto, 2005)
d. Tutup septic tank:
1. Tepi atas dari tutup septic tank harus terletak paling sedikit 0,3
meter di bawah permukaan tanah halaman, agar keadaan
temperatur di dalam septic tank selalu hangat dan konstan
sehingga kelangsungan hidup bakteri dapat lebih terjamin
(Daryanto,2005).
2. Tutup septic tank harus terbuat dari beton (kedap air) (Machfoedz,
2004).
Fungsi Septictank;
1. Sebagai penampungan air limbah & proses penghancuran kotoran
kotora yang masuk, air limbah ini akan mengalir ke rembesan/
sumur peresapan yang jaraknya tidak jauh dari septictank, begitu
juga penempatan septictank tidak terlalu jauh dari WC (water
closet)
2. Hubungan septictank dan rembesan, berupa pipa paralon yang
diujungnya diberi lubang lubang agar aliran air limbah dapat
merata pada lubang rembesannya.
3. Tidak semua saluran air kotor dialirkan ke arah bak septictank, jadi
aliran air limbah yang masuk ke septictank hanya dari WC saja.
Hal yang penting menghitung volume septictank perlu untuk
perencanaan:
Misalkan jumlah penghuni 10 orang. Diperhitungkan setiap orang
membuang air sebanyak 25 l/hari. Diperkirakan kotoran akan hancur habis
dimakan oleh bakteri dalam waktu 3 hari. Berarti volume air buangan
dihitung waktu 3 hari, jadi banyaknya air buangan yang harus ditampung
oleh bak septictank = 10 x 25 x 3 = 750 l.

Dipakai ukuran luas bak = 1,20 x 0,80= 0,96 m2 tinggi air diambil = 1 m,
jadi volume air yang dapat ditampung= 0,96 x 1= 0,96 m3 960 l> 750 l.
Syarat:
Septic tank adalah salah satu bagian penting dari rumah yang
pembuatannya harus memenuhi standar. Memang, sudah ada Standar
Nasional Indonesia (SNI) terkait pembuatan septic tank yang mencakup
sistem, ukuran, dan prosedur pembuatannya.
Tapi tidak semua orang memahami standar dalam pembuatan
penampung buangan untuk seisi rumah ini. Seturut syarat SNI, ukuran
septic tank ditetapkan berdasarkan jumlah penghuni rumah.
Rumah dengan lima penghuni, dibutuhkan septic tank dengan
volume ruang basah 1,2m3, ruang lumpur 0,45m3, dan ruang ambang
batas bebas 0,4m3. Atau dalam ukuran panjang, lebar, dan tinggi sebagai
berikut: 1,6m, 0,8m, dan 1,6m. Dengan ukuran seperti ini, septic tank bisa
bertahan selama 3 tahun tanpa pengurasan.
Yang penting untuk diperhatikan dalam pembuatan septic tank
adalah kekuatan tangki. Tangki harus tahan terhadap asam, dan kedap air.
Tidak boleh ada rembesan dari tangki, sehingga menimbulkan potensi
pencemaran lingkungan. Tangki bisa dibuat dari batu kali, bata merah,
batako, atau beton. Bisa juga menggunakan tangki dari keramik, pvc,
plastik, atau besi.
Selain itu perlu diperhatikan pula jarak tangki dengan bangunan atau
sumur karena sudah ada ketentuannya yakni 1,5m untuk jarak tangki ke
bangunan, 10m untuk jarak tangki ke sumur air bersih, dan 5m untuk
jarak tangki ke sumur resapan air hujan.
Soal kedalaman, septic tank SNI memiliki standar tersendiri dibanding
yang lainnya terutama pada keberadaan bak pembagi dan bidang
resapan. Pada septic tank biasa, air kotor langsung dibuang ke saluran
pembuangan. Sementara pada septic tank SNI terdapat satu fasilitas
tambahan yang berfungsi sebagai bak pembagi. Jadi jangan sembarangan
bikin septic tank.
CARA MENBUAT:
Pembuatan septic tank sebetulnya haruslah memenuhi standar, kita
tidak bisa meremehkan yang satu ini. Standarisasi mengenai hal ini sudah
ada, atau Standar Nasional Indonesia (SNI) mengenai hal ini sudah
dikeluarkan. Standar tersebut mencakup ukuran, sistem, dan prosedur
dalam pembuatannya.
SNI menetapkan ukuran serta dimensi septic tank yang benar harus
berdasarkan jumlah penghuni di sebuah rumah. Untuk rumah tinggal
yang dihuni oleh lima orang,
setidaknya perlukan septic tank yang memiliki volume ruang lumpur
0,45m3, ruang basah sebesar 1,2m3, serta ruang ambang batas bebas
seluas 0,4m3. Itu berarti septic tank dengan ukuran panjang = 1,6m,
lebar = 0,8m, dan tinggi = 1,6m. Dengan kapasitas seperti ini, septic tank
mampu bertahan setidaknya 3 tahun tanpa perlu dikuras.
Satu hal lagi yang perlu dicermati pada disaat membuat septic tank
ialah kekuatan tangki atau dinding ruang tersebut. Dinding harus kuat
serta tahan terhadap zat asam dari limbah domestic itu sendiri, dan kedap
air. Jangan sampai ada rembesan dari celah dinding, hingga menyebabkan
pencemaran terhadap tanah sekitar.
Maka dari itu, tangki atau dinding septic tank dapat dibuat dari bata
merah, batu kali, batako, ataupun beton. Atau bisa juga kita
menggunakan tangki yang terbuat dari pvc (pralon), keramik, plastik,
ataupun plat besi.
Jarak dari tangki dengan bangunanpun ada ketentuan yang harus
diperhatikan. Jarak antara septic tank yang benar ke bangunan minimal
1,5m, sedangkan jarak dari septic tank ke sumur pompa air bersih
minimal 10m, dan untuk jarak septic tank ke sumur resapan air hujan
setidaknya 5m.
Lalu bagaimana mengenai sistem pembuangannya ke saluran
pembuangan kota? Yang membuat standart septic tank SNI dengan septic
tank lainnya ialah pada penambahan fungsi lain untuk menghindari
pencemaran lingkungan. Pada septic tank biasa yang tidak berdasarkan
SNI, air kotor dibuang langsung ke saluran pembuangan kota, tapi septic
tank yang telah lulus uji SNI memiliki satu fasilitas tambahan lagi sebagai
penampung air kotor tersebut untuk kemudian dibuang ke saluran
pembuangan kota.