Anda di halaman 1dari 6

REFORMASI KEUANGAN NEGARA

Diposkan oleh Inspirasi Kecilku on Senin, 21 Juni 2010

sebelum tahun 2003, keuangan negara indonesia masih menggunakan ketentuan perundangan
peninggalan bekolonial belanda yang masih berlaku menurut aturan peralihan UUD 1945.
peraturan peninggalan belanda tersebut antara lain ;
1. Indische Comptabiliteitswet, biasa disingkat ICW stbl 1925 No. 448.

2. Indische Bedrijvenwet, biasa disingkat IBW stbl 1927 No. 419.

3. Regleme voorhet Administratief Beheer, biasa disingkat RAB stbl 1933 No. 381.
sedangkan untuk pemeriksaan pertanggung jawaban keuangan negara juga masih menggunakan
peraturan perundangan belanda yaitu instructie en verdere bepalingen voor de algemeene
Rekenkamer, biasa disingkat IAR stbl 1933 No. 320.
peraturan perundangan yang lama tersebut tidak lagi dipakai karena dianggap tidak lagi mampu
mengikuti dinamika perkembangan kenegaraan di indonesia. oleh karena itu, meski secara formal
paket perundangan peninggalan belanda tersebut masih berlaku, tetapi secara materiil sebagian dari
ketentuan lama tidak lagi digunakan.
beberapa hal yang menjadi dasar diberlakukan peraturan perundang-undangan yang baru sebagai
pengganti peraturan perundang-undangan belanda yang lama adalah adanya beberapa kelemahan yang
timbul dari perangkat perundangan-undangan lama tersebut, antara lain;
kelemahan di bidang peraturan perundang-undangan.

kelemahan di bidang perencanaan dan penganggaran.

kelemahan di bidang perbendaharaan.

kelemahan di bidang auditing.

kelemahan tersebut sebenarnya memang sudah dirasakan sebelumnya, tetapi penggunaannya masih
dilakukan karena solusi yang ditemukan masih bersifat parsial.
kelemahan yang ada dalam aturan lama ditutup dengan membuat aturan baru yang dibuat khusus
untuk mengganti pasal dari aturan lama yang menyebabkan kelemahan. aturan yang lama masih tetap
berlaku, tetapi khusus untuk pasal yang diamandemenkan berlaku ketentuan yang baru.
dan pada saat tahun 2003-2004 pemerintah melakukan perombakan peraturan keuangan negara
dengan mengganti seluruh peraturan yang lama dan pada tahun tersebut bersama dengan DPR
mengeluarkan satu paket peraturan perundang-undangan bidang keuangan yang terdiri dari ;
UU No. 17 Tahun 2003 tentang keuangan negara.
UU No. 1 Tahun 2004 tentang perbendaharaan negara.
UU No. 15 Tahun 2004 tentang pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara.
REFORMASI PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH
A. Latar Belakang Reformasi Keuangan Daerah
1. Pengelolaan keuangan yang tidak akuntabel dan tidak transparan.
2. Pengelolaan keuangan yang berpayung hukum pada peraturan
peninggalan Belanda.
3. Penganggaran yang terdiri dari belanja rutin dan pembangunan sehingga
membuka celah duplikasi pembiayaan.
4. Utang luar negeri dianggap sebagai pendapatan sehingga tidak
memperhatikan keseimbangan antargenerasi.
5. Institusi pemerintah bebas mengelola dana nonbudgetair.
B. Tujuan Reformasi Keuangan Daerah
1. Mencegah dan mempercepat pemberantasan korupsi sehingga tercipta
pemerintahan yang bersih dan bebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme.
2. Mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik.
3. Meningkatkan kepercayaan publik.
C. Fase Reformasi Keuangan Daerah di Indonesia
1. Era pra otonomi daerah dan desentralisasi fiskal (1974 s.d. 1999)
Era pra otonomi daerah merupakan pelaksanaan otonomi ala orde baru
berdasarkan UU No.5 Tahun 1974 yang bersifat:
a. sentralis,
b. top down planning dan budgeting,
c. penggunaan anggaran tradisional,
d. rezim anggaran berimbang,
e. sistem pembukuan tunggal dan akuntansi basis kas.
Selama fase pertama, praktis belum ada sistem akuntansi keuangan daerah
yang baik. Yang ada baru sebatas tata buku. Pengelolaan keuangan daerah
berdasarkan buku Manual Administrasi Keuangan Daerah (MAKUDA) tahun 1981
yang pada esensinya sekedar penatausahaan keuangan atau tata buku. Era
otonomi semu ini berlangsung selama 25 tahun sampai dengan pelaksanaan
otonomi luas dan nyata berdasarkan UU No.22 Tahun 1999 dan UU No.25 Tahun
1999.
2. Era transisi otonomi (2000 s.d. 2003)
Dengan terbitnya UU No.22 Tahun 1999 dan UU No.25 Tahun 1999 maka
pelaksanaan otonomi daerah bersifat:
a. desentralisasi,
b. bottom up planning and budgeting,
c. sistem pembukuan berpasangan dan basis kas modifikasian.
Akan tetapi, era ini dinamakan era transisi karena dalam fase awal
implementasi otonomi daerah ini banyak ditandai dengan:
a. masih belum mantapnya perangkat hukum, kelembagaan, infrastruktur,
dan sumber daya manusia daerah dalam mewujudkan tujuan otonomi
daerah,
b. masih sering terjadi uji coba sistem baru sehingga sering terjadi revisi
peraturan perundangan di bidang pengelolaan keuangan negara/daerah.
3. Era paska transisi (2004 s.d. sekarang)
Era paska transisi adalah masa setelah diberlakukannya paket peraturan
perundangan yang merupakan suatu peraturan menyeluruh dan
komprehensif mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pelaporan, pengauditan,
dan evaluasi kinerja atas pengeloaan keuangan daerah.
D. Dimensi Reformasi Keuangan Daerah
1. Perubahan Kewenangan Daerah
Dengan adanya otonomi daerah lebih bebas untuk mengatur daerahnya
sendiri.
2. Perubahan Prinsip Pengelolaan Anggaran
Perubahan Prinsip Anggaran Tradisional menjadi Anggaran Berbsis Kinerja,
Anggaran Terpadu, dan Anggaran dengan KPJM.
3. Perubahan Prinsip Penggunaan Pinjaman
Perubahan pengakuan pinjaman, dari semula sebagai pendapatan
penerimaan pembangunan menjadi sekadar penerimaan yang bukan
diakui sebagai pendapatan melainkan sebagai utang yang muncul di
neraca.
4. Perubahan Strategi Pembiayaan
Perubahan sumber-sumber pendapatan untuk membiayai pembangunan
daerah, yaitu dengan adanya Dana Alokasi Umum, Dana Bagi Hasil, dan
Dana Alokasi Khusus. Perbedaan utama dengan kondisi sebelumnya adalah
bahwa dengan reformasi ini formula distribusinya menjadi lebih pasti.
Contohnya: Penerimaan Kehutanan yang berasal dari penerimaan Iuran
Hak Pengusahaan Hutan (IHPH) dan Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH)
yang dihasilkan dari wilayah Daerah yang bersangkutan dibagi dengan
imbangan 20% (dua puluh persen) untuk Pemerintah dan 80% (delapan
puluh persen) untuk Daerah.
E. Pokok-pokok Reformasi Keuangan Daerah
1. Reformasi Sistem Pembiayaan (Financing Reform)
Reformasi ini berkaitan erat dengan adanya perubahan kewenangan daerah
dalam pemanfaatan dana perimbangan. Sebelum reformasi, perimbangan
keuangan pusat dan daerah menggunakan sluit post system. Dalam sistem
ini masalah keuangan daerah diatur sangat ketat oleh pemerintah pusat,
pengalokasian dana tidak bisa diganggu gugat. Sejak tahun 1956, secara
konseptual pola hubungan keuangan sistem ini antara pemerintah pusat dan
daerah diterjemahkan dalam 3 hal yang utama, yaitu :
a. Penyerahan sumber pendapatan Negara kepada daerah
b. Pemberian bagian tertentu dari penerimaan berbagai pajak Negara kepada
daerah.
c. Memberi ganjaran, subsidi dan sumbangan kepada daerah
Berdasarkan ini, sumber-sumber pembiayaan daerah meliputi:
a. Pajak daerah dan retribusi
b. Pendapatan hasil perusahaan daerah
c. Pajak negara yang diserahkan kepada daerah
d. Lain-lain (pinjaman, subsidi, penjualan aset, dsb.)
Dengan terbitnya Undang-undang nomor 33 Tahun 2004 maka sistem
perimbangan keuangan pusat dan daerah di Indonesia menganut block grant
system. Berdasarkan sistem ini, sumber-sumber pembiayaan daerah adalah
a. Pendapatan Asli Daerah, yaitu pajak daerah, retribusi daerah, hasil
kekayaan daerah yang dipisahkan, dan lain-lain PAD yang sah.
b. Dana Perimbangan, yaitu Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus, Dana
Bagi Hasil, dll.
c. Lain-lain Pendapatan yang Sah, yaitu hibah, dana daruarat, dana
penyesuaian, dll
Di samping itu, dalam hal terjadi defisit, pemerintah daerah dapat
menggunakan sumber pembiayaan yang berupa SiLPA, Dana Cadangan,
Pinjaman, dll.
2. Reformasi Sistem Penganggaran (Budgeting Reform)
Perubahan-perubahan dalam penganggaran antara lain:
a. penyatuan anggaran negara yang tadinya dibagi dalam dua kelompok,
yaitu anggaran rutin dan anggaran pembangunan.
b. peniadaaan anggaran non-bujeter. Contoh anggaran nonbujeter adalah
anggaran yang berasal dari berbagai kegiatan bisnis yang terafliasi dengan
sebuah institusi tertentu. Lembaga terafliasi tersebut terdiri dari berbagai
bentuk badan usaha milik koperasi karyawan, yayasan dan dana pensiun
yang terafliasi dengan instansi Pemerintah. Sumber lain dari anggaran
nonbujeter adalah pungutan liar penerimaan non pajak yang diatur dan
dikumpulkan sendiri oleh instansi yang bersangkutan tanpa mengacu pada
UU PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak) dan tanpa setahu DPR serta
Kementerian Keuangan.
c. penerapkan paket tiga Undang-Undang di bidang Keuangan Negara tahun
2003- 2004 yang menghasilkan adanya Anggaran Terpadu, Anggaran
Berbasis Kinerja, Kerangka Penganggaran Jangka Menengah. Beberapa ciri
anggaran kinerja adalah adanya:
1) Capaian Kinerja: ukuran prestasi kerja yang akan dicapai (belum ada
analisis kelayakan kinerja dengan biayanya)
2) Indikator Kinerja: Ukuran keberhasilan
3) Analisis Standar Belanja: penilaian kewajaran atas beban kerja dan biaya
yang digunakan untuk melaksanakannya.
4) Standar Satuan Harga: harga satuan setiap unit barang/jasa yang berlaku
di suatu daerah
5) Standar Pelayanan Minimal: tolok ukur kinerja dalam menentukan capaian
jenis dan mutu pelayanan dasar yang merupakan urusan wajib.
3. Reformasi Sistem Akuntansi (Accounting Reform)
a. Perubahan sistem akuntansi dari sistem tata buku tunggal (single
entry system) menjadi sistem tata buku berpasangan (double entry
system)
Reformasi akuntansi merupakan salah satu agenda penting dari reformasi
manajemen keuangan daerah. Aspek yang diperlukan dalam reformasi
akuntansi tersebut adalah perlunya dimiliki standar akuntansi pemerintahan
dan perubahan sistem akuntansi dari single entry menjadi double entry
dipandang sebagai solusi yang mendesak untuk diterapkan. Hal ini
disebabkan penggunaan single entry tidak dapat memberikan informasi yang
komprehensif dan mencerminkan kinerja yang sesungguhnya. Sistem single
entry juga telah ditinggalkan oleh banyak negara maju. Pengaplikasian
pencatatan transaksi dengan sistem double entry ditujukan untuk
menghasilkan laporan keuangan yang lebih mudah untuk dilakukan audit
(auditable) dan pelacakan (traceable) antara bukti transaksi, catatan, dan
keberadaan kekayaan, utang dan ekuitas organisasi. Dengan sistem double
entry, maka pengukuran kinerja dapat dilakukan secara lebih komprehensif.
b. Perubahan basis akuntansi dari basis kas (cash basis) menjadi
basis akrual (accrual basis)
Sebelum reformasi, basis pencatatan transaksi yang digunakan pada hampir
semua lembaga pemerintahan di Indonesia adalah basis kas (cash basis),
yang banyak mengandung kelemahan yang mendasar yaitu tidak
mencerminkan kinerja yang sesungguhnya karena dengan sistem cash basis
tingkat efisiensi dan efektivitas suatu kegiatan, program, atau aktivitas tidak
dapat diukur dengan baik. Perubahan basis akuntansi dari basis kas (cash
basis) menjadi basis akrual (accrual basis) bertujuan agar pemda dapat
menghasilkan laporan keuangan yang lebih dapat dipercaya, akurat,
komprehensif, dan relevan untuk pembuatan keputusan ekonomi, sosial dan
politik.
4. Reformasi Sistem Pemeriksaan (Audit Reform)
Reformasi ini berkaitan erat dengan adanya perubahan jenis audit dan posisi
BPK sebagai lembaga pemeriksa. Jenis audit mengalami perubahan dari
hanya audit keuangan pada era sebelum reformasi menjadi audit keuangan,
audit kinerja, dan audit dengan tujuan tertentu. Adapun terkait dengan posisi
BPK, telah terjadi perubahan dari yang semula dibatasi dalam lingkup objek
auditnya, dibatasi dari segi organisasi, anggaran, maupun personilnya
menjadi sebuah badan pemeriksaan yang bebas dan mandisi sebagaimana
diamanatkan dalam UUD 1945.
5. Reformasi Sistem Manajemen Keuangan Daerah (Financial
Management Reform)
a. Aspek kelembagaan
Pada era orde baru, pengertian pemda adalah kepala daerah dan DPRD.
Artinya tidak terdapat pemisahan secara kongkret antara lembaga eksekutif
dan legistatif. Sedangkan pada era reformasi, pengertian pemda adalah
kepala daerah beserta perangkat lainnya. Pemda yang dimaksut disini adalah
bada eksekutif, sedang badan legislatifnya adalah DPRD. Jadi, terdapat
pemisahan yang nyata antara lembaga legislatif dan eksekutif.
b. Aspek ketentuan pinjaman
Terjadinya perubahan pengakuan pinjaman, dari semula sebagai pendapatan
penerimaan pembangunan menjadi sekadar penerimaan yang bukan diakui
sebagai pendapatan melainkan sebagai utang yang muncul di neraca.
c. Aspek treasury single account
Sebelum adanya reformasi keuangan negara, uang negara disimpan dalam
berbagai rekening yang saling terpisah.Akibatnya, Menteri Keuangan tidak
punya gambaran tentang posisi keuangan negara secara menyeluruh setiap
saat. Rekening Kas Umum Negara adalah rekening tempat penyimpanan
uang negara yang ditentukan oleh Menteri Keuangan selaku Bendahara
Umum Negara untuk menampung seluruh penerimaan negara dan
membayar seluruh pengeluaran negara pada bank sentral.
d. Aspek akuntabilitas
1) Perubahan akuntabilitas vertikal menjadi horizontal
Sebelum reformasi, pemerintah memiliki kedudukan lebih tinggi. Namun,
setelah reformasi rakyat melalui DPRD bersama pemerintah bertanggung
jawab atas pengelolaan anggaran.
2) Perubahan jenis laporan pertanggungjwaban APBD
Jenis laporan pertanggunjawaban sebelum reformasi adalah Perhitungan
APBD, Nota Perhitungan, dan Perhitungan kas dalam pencocokan antara sisa
perhitungan yang dilengkapi dengan lampiran Ringkasan Perhitungan
Pendapatan dan Belanja. Adapun setelah reformasi adalah Laporan
Perhitungan APBD, Nota Perhitungan APBD, Laporan Aliran Kas, dan Neraca
Daerah yang Dilengkapi dengan penilaian kinerja berdasarkan tolak ukur
rencana strategis renstra.
3) Konsep value for money: Ekonomis, Efisien, dan Efektif.
4) Adanya pusat-pusat pertanggungjawaban

Paska Reformasi terdapat pusat-pusat pertanggungjawaban, yaitu: dinas


pendapatan sebagai (revenue center), bagian keungan diperlakukan sebagai
(expense center), dan BUMD Sebagai (profit center).