Anda di halaman 1dari 12

BAB II

PEMBAHASAN

Cekungan sedimen adalah bagian dari kerak bumi yang dapat berperan
sebagai tempat akumulasi lapisan-lapisan sedimen yang relatif lebih tebal dari
sekitarnya, dimana akumulasi batuan sedimen ini dapat berperan sebagai tempat
pembentukan dan akumulasi minyak dan gas bumi. Cekungan Jawa Timur ini
merupakan zona lemah akibat tumbukan atau penunjaman Lempeng Samudera
Australia ke arah barat laut di bawah lempeng Asia. Kemudian karena adanya
pemindahan jalur zona tumbukan yang terus-menerus ke arah selatan Indonesia, maka
sekarang ini Cekungan Jawa Timur Selatan terbentuk sebagai cekungan depan busur
(fore arc basin).

Gambar 2. Cekungan Jawa Timur Bagian Selatan

2.1. Kerangka Tektonik Kepulauan Indonesia


Sejarah tektonik Cekungan Jawa Timur tidak dapat dipisahkan dari sejarah
tektonik Kepulauan Indonesia dan sejarah tektonik Pulau Jawa. Konfigurasi
tektonik Kepulauan Indonesia masa kini yang komplek merupakan hasil interaksi
sejak Neogen tiga lempeng litosfer utama: Lempeng Laut Filipina (Philippine Sea
plate) yang bergerak (10 cm/th) kearah NNW; Lempeng Indo-Australia (Indo-
Australian plate) yang bergerak (8 cm/th) ke arah NNE, dan Lempeng Erasia
(Eurasian plate) yang stasioner, bergerak jauh lebih lambat ke arah SE (4 cm/th).

Gambar 3. Kerangka tektonik wilayah Kepulauan Indonesia (Simandjuntak & Barber, 1996).

Interaksi lempeng-lempeng yang membentuk Kepulauan Indonesia


menghasilkan berbagai tipe jalur orogen (orogenic belts). Simandjuntak & Barber
(1996) mengenali enam tipe jalur orogeny.

Gambar 4. Tipe-tipe jalur orogen Neogen Indonesia (Simandjuntak & Barber, 1996).
1. Orogen Sunda (Sunda Orogeny) di Jawa dan Nusa Tenggara: melibatkan
subduksi lempeng samudera dengan arah tegaklurus, menghasilkan jalur
orogen tipe Andean beserta palung, komplek akresi, cekungan depan-busur
(forearc basin), busur magmatik dimana gunungapi tumbuh di tepi kontinen
Sundaland.
2. Orogen Barisan (Barisan Orogeny) di Sumatra: dengan arah konvergen
miring (oblique convergence) sehingga menghasilkan sistem sesar mendatar
Sumatra pada busur magmatiknya, dan sepanjang sesar ini pula suatu segmen
kerak kontinen bergerak ke arah utara di sepanjang bagian barat Sundaland.

3. Orogen Talaud (Talaud Orogeny) di bagian utara Laut Maluku: konvergensi


busur magmatik oceanic Sangihe dan Halmahera dengan Lempeng Laut
Maluku.

4. Orogen Sulawesi (Sulawesi Orogeny) di Sulawesi timur: tumbukan blok-blok


mikrokontinen dengan sistem subduksi di sepanjang tepi timur Sundaland.

5. Orogen Banda (Banda Orogeny) di Kepulauan Banda, di wilayah antara Pulau


Sumba dan Tanimbar: tumbukan antara tepi utara kontinen Australia dengan
sistem subduksi di sepanjang bagian selatan Busur Banda.

6. Orogen Melanesia (Melanesian Orogeny) di Pulau Papua: suatu tahapan lebih


lanjut tumbukan tepi utara kontinen Australia dengan busur magmatik pada
Lempeng Laut Filipina yang dimulai pada Miosen Awal.

Aktifitas orogen di sebagian besar jalur-jalur orogen ini dimulai pada kala Miosen
Tengah dan proses orogenik masih tetap berlangsung sampai sekarang.

2.2. Kerangka Tetonik Pulau Jawa


Pulau Jawa berada di tepi tenggara Daratan Sunda (Sundaland). Pada Daratan
Sunda ini terdapat dua sistem gerak lempeng; Lempeng Laut Cina Selatan di utara
dan Lempeng Samudera Hindia di selatan. Lempeng Laut Cina
Selatan (Eurasia) bergerak ke tenggara sejak Oligosen (Longley, 1997),
sedangkan Lempeng Samudera Hindia yang berada di selatan bergerak ke
utara sejak Mesozoikum dan menunjam ke bawah sistem busur kepulauan
Sumatra dan Jawa (Liu dkk., 1983).
Pulau jawa yang terlihat saat sekarang adalah akibat adanya pergerakan dua
lempeng yang bergerak saling mendekat dan mengalami tabrakan, dimana proses
tersebut relatif bergerak menyerong (oblique) antara lempeng samudra hindia
pada bagian barat daya dan lempeng Benua Asia bagian tenggara (eurasian),
dimana lempeng samudra hindia akan menyusup ke lempeng asia tenggara. Pada
zone subduksi akan dihasilkan palung jawa (Java trench) dengan pergerakan
relatif 7 cm/tahun. Pada zone subduksi terdiri dari Acctionary Complex yang
materialnya secara garis besar dari lantai samudra india pada busur muka Jawa.
Fase tektonik awal terjadi pada Mesozoikum ketika pergerakan Lempeng
Indo-Australia ke arah timurlaut menghasilkan subduksi dibawah Sunda
Microplate sepanjang suture Karangsambung-Meratus, dan diikuti oleh fase
regangan (rifting phase) selama Paleogen dengan pembentukan serangkaian horst
(tinggian) dan graben (rendahan). Aktivitas magmatik Kapur Akhir dapat diikuti
menerus dari Timurlaut Sumatra Jawa-Kalimantan Tenggara. Pembentukan
cekungan depan busur (fore arc basin) berkembang di daerah selatan Jawa Barat
dan Serayu Selatan di Jawa Tengah. Mendekati Kapur Akhir-Paleosen, fragmen
benua yang terpisah dari Gondwana, mendekati zona subduksi
Karangsambung- Meratus. Kehadiran allochthonous micro-continents di
wilayah Asia Tenggara telah dilaporkan oleh banyak penulis (Metcalfe,
1996). Basement bersifat kontinental yang terletak di sebelah timur zona subduksi
Karangsambung-Meratus dan yang mengalasi Selat Makasar teridentifikasi di
Sumur Rubah- 1 (Conoco, 1977) berupa granit pada kedalaman 5056
kaki, sementara didekatnya Sumur Taka Talu-1 menembus basement diorit.
Docking (mera-patnya) fragmen mikrokontinen pada bagian tepi timur Sundaland
menyebabkan matinya zona subduksi Karang-sambung-Meratus dan
terangkatnya zona subduksi tersebut menghasilkan Pegunungan Meratus.

Gambar 5. Rekonstruksi tektonik Pulau Jawa akhir kapur-paleogen

Evolusi tektonik tersier Pulau Jawa memasuki periode Eosen (Periode


Ekstensional /Regangan). Periode ini terjadi Antara 54 jtl-45 jtl (Eosen), dimana
di wilayah Lautan Hindia terjadi reorganisasi lempeng ditandai dengan
berkurangnya secara mencolok kecepatan pergerakan ke utara India.
Aktifitas pemekaran di sepanjang Wharton Ridge berhenti atau mati tidak lama
setelah pembentukan anomali 19 (atau 45 jtl). Berkurangnya secara mencolok
gerak India ke utara dan matinya Wharton Ridge ini diinterpretasikan sebagai
pertanda kontak pertama Benua India dengan zona subduksi di selatan Asia dan
menyebabkan terjadinya tektonik regangan (extension tectonics) di sebagian besar
wilayah Asia Tenggara yang ditandai dengan pembentukan cekungan-
cekungan utama (Cekungan-cekungan: Natuna, Sumatra, Sunda, Jawa Timur,
Barito, dan Kutai) dan endapannya dikenal sebagai endapan syn-rift. Pelamparan
extension tectonics ini berasosiasi dengan pergerakan sepanjang sesar regional
yang telah ada sebelumnya dalam fragmen mikrokontinen. Konfigurasi struktur
basement mempengaruhi arah cekungan syn-rift Paleogen di wilayah tepian
tenggara Sundaland (Sumatra, Jawa, dan Kalimantan Tenggara).

Gambar 6. Rekonstruksi tektonik Pulau Jawa pada Eosen

Pada jaman Eosen itu juga disertai oleh pengangkatan terhadap jalur
subduksi,sehingga di beberapa tempat tidak terjadi pengendapan. Pada saat
ituterjadi pemisahan yang penting antara bagian utara Jawa dengan cekungannya
yang dalam dari bagian selatan yang dicirikan oleh lingkungan pengendapan
darat, paparan dan dangkal. Proses pengangkatan tersebut berlangsung hingga
menjelang Oligosen akhir. Proses yang dampaknya cukup luas (ditandai oleh
terbatasnya sebaran endapan marin Eosen-Oligosen di Jawa dan wilayah paparan
Sunda), dihubungkan puladengan berkurangnya kecepatan gerak lempeng Hindia-
Australia (hanya 3 cm/tahun). Gerak tektonik pada saat itu didominasi oleh sesar-
sesar bongkah, dengan cekungan-cekungan terbatas yang diisi oleh endapan aliran
gayaberat (olistotrom dan turbidit).

Oligosen Akhir-Miosen Awal, terjadi gerak rotasi yang pertama sebesar 20 ke


arah yang berlawanan dengan jarum jam dari lempeng Sunda (Davies, 1984).
Menurut Davies, wilayah-wilayah yang terletak di bagian tenggara lempeng atau
sekitar Pulau Jawa dan Laut Jawa bagian timur, akan mengalami pergeseran-
pergeseran lateral yang cukup besar sebagai akibat gerak rotasi tersebut. Hal ini
dikerenakan letaknya yang jauh dari poros rotasi yang oleh Davies diperkirakan
terletak di kepulauan anambas. Akibat gerak rotasi tersebut, gejala tektonik yang
terjadi wilayah pulau Jawa adalah:
a) Jalur subduksi Kapur-Paleosen yang mengarah barat-timur berubah
menjadi timur timurlaut-barat baratdaya (ENE-WSW)
b) Sesar-sesar geser vertical (dip slip faults) yang membatasi cekungan
cekungan muka busur dan bagian atas lereng (Upper slope basin), sifatnya
berubah menjadi sesar-sesar geser mendatar. Perubahan gerak dari pada
sesar tersebut akan memungkinkan terjadinya cekungancekungan pull
apart khususnya di Jawa Tengah utara dan Laut Jawa bagian timur,
termasuk Jawa Timur dan Madura. Menjelang akhir Miosen Awal, gerak
rotasi yang pertama daripada lempeng Mikro Sunda mulai berhenti.
c) Miosen Tengah terjadi percepatan pada gerak lempeng Hindia-Australia
dengan 5-6 cm/th dan perubahan arah menjadi N200E pada saat
menghampiri lempeng Mikro Sunda. Pada Akhir Miosen Tengah, terjadi
rotasi yang kedua sebesar 20-25, yang dipicu oleh membukanya laut
Andaman (Davies, 1984)

2.3. Cekungan Jawa Timur Bagian Selatan


Konfigurasi basement Cekungan Jawa Timur dikontrol oleh dua trend struktur
utama, yaitu trend NE SW yang umumnya hanya dijumpai di mandala Paparan
Utara dan trend W E yang terdapat di Mandala Tinggian Sentral dan Cekungan
Selatan. Akibat tumbukan lempeng selama Tersier Awal, Cekungan Jawa Timur
terangkat dan mengalami erosi. Deretan perbukitan berarah NE SW terbentuk di
6 sepanjang tepi Tenggara Paparan Sunda akibat pemekaran busur belakang. Dari
Utara ke Timur, kenampakan struktur utama dalam wilayah tarikan ini adalah
Busur Karimunjawa, Palung Muria, Busur Bawean, dan Tinggian Tuban-Madura
Utara. Pengangkatan pada waktu Oligosen Awal menghentikan proses-proses
pengendapan dan menyebabkan erosi yang luas. Periode selanjutnya adalah
periode tektonik tenang dan akumulasi endapan karbonat hingga Miosen Awal.
Periode terakhir adalah periode tektonik kompresi mulai dari Miosen Akhir
hingga sekarang. Sesar-sesar normal yang membentuk horst dan graben
teraktifkan kembali sehingga menghasilkan struktur-struktur terbalik (inverted
relief) (Hamilton, 1979).

Gambar 7. Evolusi Subduksi Pulau Jawa


Cekungan Jawa Timur terbagi menjadi dua, yaitu cekungan Jawa Timur
Bagian Utara dan Cekungan Jawa Timur bagian selatan. Kedua cekungan ini
terbentuk akibat proses subduksi, yang menjadi pembeda antara kedua cekungan
ini yaitu, cekungan Jawa Timur bagian Utara terletak pada jalur bacak arc
sedangkan cekungan Jawa Timur bagian selatan terletak pada jalur fore arc.
Berikut produk-produk yang terbentuk akibat proses subduksi :
a) Outer arc (busur luar)
Pada subduksi antara lempeng samudra hindia dengan lempeng
Eurasia di selatan pulau jawa tidak terbentuk pulau-pulau lepas pantai
namun hanya berupa punggungandibawah permukaan laut, hal ini dapat
terjadi karena adanya pengaruh kecepatan lempeng yang akan
mempengaruhi tektonik, pola sedimentasinya serta struktur pada daerah
atas zone subduksinya.
b) Fore arc basin (cekungan didepan zona subduksi)
Terbentuk sepanjang batas tumbukan lempeng yang letaknya dekat
dengan zone penunjaman dan letaknya antara busur luar non vulkanik
(outer arc) dan busur vulkanik. Pada pulau jawa, fore arc basin
membentang luas pada lempeng benua dan terbentuk pada akhir paleogen
berupa sedimen recent dan terjadi karena proses pemekaran lantai samudra
pada oligecen dan diikuti dengan uplift dan erosi secara regional.
c) Vulcanic active arc (Busur vulkanik aktif)
Merupakan jajaran gunungapi yang terbentuk akibat adanya
perpanjangan zone subduksi sunda arc system. Akibat tumbukan dua
lempeng tersebut akan mengakibatkan berkurangnya gerak lempeng
hindia-australia ke utara, sehingga akan mengakibatkan adanya adanya
gerak berlawanan jarum jam (gerak rotasi) dari lempeng dataran sunda
sehingga akan terbentuk jalur sesar naik (thrust) dari sebelah barat jawa
dan bergerak relatif ke utara (Berbaris sampai Kendeng Thrust) dan
diperpanjang hingga bali (Bali Thrust) dan sampai Flores (Flores trhust).
Pada miosen tengah lempeng mengalami percepatan hingga akan terjadi
pembentukan busur magma di sebelah selatan jawa dan pengaktifan
kembali sesar-sesar disertai dengan kegiatan volkanisme (berupa intrusi
dan pembentukan gunung api).
d) Back arc basin (cekungan dibelakang zona subduksi)
Disebelah utara busur jawa dan pada laut jawa cekungan busur
belakng ., pada lempeng benua dihasilkan pada paparan sunda dan
lempeng samudtra padasebelah utara bali dan flores> Cekungan pada
paparan sunda dibentuk pada palageogen akhir sebagai rift basin dan
kemudian pada Neogen akhir prosesnya dipengaruhi oleh tekanan pada
sunda orogency dan selanjutnya terdeformasi menjadi tight hingga
lipatannya membentuk isoclinal. Yang termasuk pada Cekungan busur
dalam (back arc basin) ialah Cekungan Jawa barat (meliputi Cekungan
sunda di sebelah barat, Cekungan belintang di timur laut, dan Cekungan
cirebon di bagian timur) dan Cekungan Jawa timur (meliputi Cekungan
jawa tengah bagian utara dan Cekungan madura.

Gambar 8. Produk Subduksi Pulau Jawa


Cekungan Jawa Timur Bagian Selatan terletak di selatan Pulau Jawa.
Cekungan ini berbatasan dengan Pegunungan Selatan pada bagian selatan dan
Zona Kendeng pada bagian utara. Cekungan Jawa Timur Bagian Selatan
merupakan cekungan yang terletak di depan busur magmatisme atau di bagian
fore arc pada jalur subduksi.

Gambar 9. Cekungan Muka Busur

Sedimen terendapkan pada sistem subduksi ini lebih dikuasai oleh endapan
silisiklastik yang umumnya berupa batuan gunungapi berasal dari busur
gunungapi. Endapan ini dapat berupa pasir dan lumpur yang terendapkan pada
paparan, lumpur dan endapan turbit terendapkan dalam air yang lebih dapam pada
lereng, cekungan, dan parit. Sedimen pada parit dapat berupa endapan terigen
yang terangkut oleh arus turbit dari daratan, bersamaan dengan sedimen dari
lempeng samodra yang tersubduksikan. Ini umumnya membentuk kompleks
akrasi. Batuan campuraduk (melange) dapat terbentuk pada daerah akrasi ini,
yang dicirikan oleh percampuran dari batuan berbagai jenis yang tertanam pada
masa dasar yang mengkilap (sheared matrix).