Anda di halaman 1dari 11

KANKER KOLOREKTAL

Kanker kolorektal adalah neoplasma malignan yang terjadi pada saluran


kolon, rektum, dan anal. Kanker kolorektal merupakan tiga kanker yang paling
umum terjadi pada lelaki dan perempuan dewasa di USA. Pada tahun 2005,
diperkirakan 145.290 kasus baru terdiagnosis, dimana 104.950 kasus melibatkan
kolon dan 40,340 melibatkan rektum. Baik untuk lelaki dan perempuan dewasa,
kanker kolorektal merupakan salah satu dari tiga kanker yang menyebabkan
kematian di USA. Diperkirakan 56.290 kematian terjadi selama tahun 2005.
Secara keseluruhan, kematian dan kejadian yang berhubungan dengan kanker
kolorektal telah menurun selama 30 tahun belakangan.

Berbagai faktor yang berhubungan dengan perkembangan kanker


kolorektal antara lain susceptibility genetik, elemen lingkungan dan pilihan gaya
hidup. Secara keseluruhan, sekitar 37% individidu yang mengalami kanker
kolorektal menjalani prosedur pembedahan yang bertujuan untuk penyembuhan.
Sekitar 37% individu dapat disembuhkan dengan menjalani pembedahan dengan
terapi radiasi, kemoterapi, atau keduanya. Tingkat penyembuhan dipengaruhi
oleh tingkat invasi tumor ke dalam jaringan atau organ yang berbatasan dan
keberadaan metastase.

Metode terapi untuk kanker kolorektal meliputi pembedahan, raditerapi,


kemoterapi, immunoterapi, dan terapi yang menargetkan molekul. Pembedahan
merupakan prosedur terpenting dan definitif, sementara terapi radiasi dapat
digunakan untuk meningkatkan kesembuhan setelah pembedahan dan untuk
menurunkan gejala dan komplikasi yang berhubungan dengan perkembangan
penyakit. Kemoterapi digunakan sebagai terapi adjuvan dan juga untuk terapi
pada perkembangan penyakit yang lebih lanjut.

Epidemiologi

Kejadian terbesar kanker kolorektal terjadi di area industri seperti Amerika


Utara, Eropa Utara dan Eropa Barat, Australia dan Selandia Baru. Kejadian
terendah terjadi di India dan area yang belum terlalu berkembang lainnya seperti
Amerika Selatan dan Afrika. Kejadian kanker kolon terjadi paling banyak pada
laki-laki, dimana terjadi 44,3 kasus per 100.000 populasi, dibandingkan dengan
perempuan pada rate 34,8 per 100.000. kanker rektum lebih jarang terjadi,
kejadiannya sebesar 19,1 dan 11,6 per 100.00 untuk laki-laki dan perempuan.
Kanker kolon dan ektum adalah malignansi yang paling sering terjadi ketia
diantara laki-laki dan perempuan kulit putih dan Afrika-Amerika, kedua pada
Hispanik, Indian Amerika/Alaska, dan perempuan Asia/Pasifik. Keseluruhan
insiden kanker kolon dan kanker rektal di USA telah menurun sejak 1992 pada
rata-rata 0,7% tiap tahunnya. Penurunan ini terutama pada laki-laki dan
perempuan kulit putih, meskipun tingkat kejadian pada laki-laki dan perempuan
Afrika-Amerika menurun secara perlahan.

Usia diagnosis rata-rata adalah 72 tahun. Kurang dari 5% lebih muda dari
44 tahun. Resiko individu meningkat seiring dengan peningkatan usia. 70% kasus
berkembang pada dewasa dengan usi lebih dari 65 tahun. Stage penyakit hampir
sama, meskipun ada kecenderungan adanya stage lebih akhir sedikit lebih besar
pada Afrika-Amerika.

Sekitar 10% kematian karena kanker merupakan kanker kolon atau


rektum. Diperkirakan 56.029 individu meninggal karena kanker di USA pada
tahun 2005, meskipun ada penurunan mortalitas baik kanker kolon maupun
rektal yang teramati 20 tahun terakhir. Untuk perempuan, penurunan kematian
kanker kolorektal telah terjadi sejak 1950, sementara kematian pada laki-laki
tidak menurun hingga akhir 1970. Trend kematian yang teramati ini sama
dengan di negara lain. Faktor yang berkontribusi terhadap keseluruhan tingkat
kematian ini adalah penurunan tingkat kejadian, skrining yang lebih awal, dan
terapi yang lebih baik dan dapat ditoleransi.

Patofisiologi

Perkembangan neoplasma kolorektall merupakan proses yang berkaitan dengan


genetik dan perubahan fenotip dari struktur epitel usus besar dan fungsinya,
sehingga menyebabkan pertumbuhan sel yang tidak teratur, proliferasi dan
pertumbuhan tumor. Mutasi yang terjadi di dalam epitel kolon menghasilkan
replikasi sel atau peningkatan kerusakan sel. Perubahan genetik tersebut bisa
berupa aktivasi mutasi dan inaktivasi gen penekan tumor. Adenokarsinoma
terjadi sekitar lebih dari 90% di usus besar.

Anatomi dan fungsi usus besar

Usus besar terdiri dari sekum: ascending, transverse, descending dan kolon
sigmoid, serta rektum. Pada orang dewasa, panjangnya sekitar 1,5 m dan
memiliki diameter dari 8 cm di sekum hingga 2 cm di kolon sigmoid. Fungsi
ususu besar adalah untuk menerima 500 sampai 2000 mL isi ileum per hari.
Absorbsi cairan dan solut terjadi di kolon kanan atau segmen proksimal hingga
ke tengah di kolon transverse dengan pergerakan dan penyimpanan di kolon kiri
dan segmen distal di kolon. Sekresi mukus dari sel goblet ke lumen usus
melumasi permukaan mukosa dan memfasilitasi pergerakan feses terdehidrasi.
Mukus juga melindungi dinding lumen dari bakteri dan iritan kolon seperti asam
empedu.

Empat lapisan jaringan mulai dari lumen luar, membentuk usus besar
adalah mukosa, submukosa, muskularis eksterna, dan serosa. Terdapat sistem
kapiler kaya limfatik di submukosa dan muskularis eksterna. Saluran limfatik
tidak mencapai hingga ke dalam mukosa. Muskularis eksterna terdiri dari otot
halus sirkular dan tiga ikatan usus halus longitudinal. Kontraksi otot-otot berikut
menggerakkan material kolon ke saluran anal. Lapisan paling luar kolon, serosa,
mensekresikan cairan yang bisa menyebabkan kolon bergerak dengan mudah di
sekitar struktur dalam peritoneum. Serosa menutup aspek anterior dan lateral di
sepertiga bagian atas rektum. Sepertiga yang lebih rendah terletak di
ekstraperitoneal dan dikelilingi oleh jaringan fibrofatty dan juga organ-organ dan
struktur-struktur lain. Permukaan epitel mukosa kolon mengalami pembaruan
turin, dan penggantian sempurna sel epitel terjadi setiap 4 hingga 8 hari.
Replikasi sel normalnya terjadi di sepertiga bawah crypts, kelenjar tubular di
dalam mukosa usus. Sel kemudian matang dan berdiferensiasi menjadi sel globet
atau sel absorsi ketika sel tersebut berpindah ke lumen usus besar. Jumlah total
sel epitel relatif konstan karena jumlah sel berpindah dari crypt seimbang
dengan jumlah eksfoliasi sel dari permukaan mukosa. Proses dua fase ini kritis

Untuk transformasi malignansi sel epitel. Jumlah titik tidak normal dari crypt
meningkat seiring dengan usia. Ketika sejumlah sel abnormal terakumulasi pada
puncak crypt dan mulai menonjol ke dalam aliran pengiriman feses, kontak
dengan mutagen feses bisa menyebabkan mutasi sel lebih jauh dan kadang-
kadang hingga pembentukan adenoma.

Pembentukan tumor kolorektal

Pembentukan neoplasma kolorektal adalah proses multi-step dari


beberapa perubahan genetik dan fenotip dari struktur dan fungsi epitel
usus besar yang normal sehingga menyebabkan pertumbuhan sel tak
terkendali, proliferasi dan perkembangan tumor. Karena kebanyakan
kanker kolorektal berkembang secara sporadis, dengan tanpa disposis
bawaan atau keluarga, usaha-usaha yang dilakukan ditujukan untuk
mengindentifikasi perubahan ini dan mempelajari apakan deteksi
perubahan tersebut dapat meningkatkan deteksi kanker dan/atau hasil
terapi.
Gambar di bawah ini adalah ringkasan dari model adenoma-
carcinoma. Sekuens adenoma-carcinoma perkembangan tumor
menggambarkan akumulasi mutasi di dalam epitel kolon. Elemen kunci
dari proses ini termasuk hiperproliferasi sel epitel untuk membentuk
neoplasma kecil yang jinak atau adenoma dengan bantuan gen sel mutasi.
Mutasi ini terjadi lebih awal dan sering pada kasus sporadik adenoma dan
kanker kolorektal. Mutasi somatik harus terjadi setidaknya pada empat
atau lima gen sehingga bisa membentuk malignansi.

Manifestasi klinis

Tanda dan gejala kanker kolorektal dapat bervariasi, tidak kentara dan tidak
spesifik. Pasien kanker kolorektal stage awal seringkali tidak bergejal, dan
adanya lesi hanya bisa dideteksi dengan prosedur skrining. Tanda paling umum
kanker kolorektal adalah adanya darah di feses, tetapi dengan adanya
perubahan pada kebiasaan usus besar, ketidaknyamanan abdomen, rasa
tertekan pada abdomen bisa menjadi tanda peringatan. Tanda dan gejala yang
tidak umum terjadi termasuk mual, muntah, dan jika disertai anema parah bisa
terjadi kelelahan. Sekitar 20% pasien dengan kanker kolorektal mengalami
metastasis. Tempat utama kejadian metastasis adalah hati, paru-paru dan
tulang.

Pencegahan dan skrining

Pencegahan primer bertujuan untuk mencegah kanker kolorektal pada populasi


yang beresiko. Hingga saat ini, satu-satunya strategi untuk mengurangi resiko
tersebut adalah kemoprevensi dengan celecoxib pada orang-orang dengan
keluarga menderita polyposis adenomatous. Adapun pencegahan sekunder
bertujuan unyk mencegah malignansi pada populasi yang sudah menunjukkan
adanya proses awal penyakit. Pencegahan sekunder ini berkisar antara
menghilangkan polip pre-kanker secara kolonoskopik yang terdeteksi saat
skrining kolonskopi hingga kolektomi total untuk individu yang beresiko tinggi.

Guideline dari American Cancer Society untuk individu beresiko rata-rata


termasuk tes darah feses tahunan, dimulai pada usia 50 tahun dan pengujian
kolon tiap 5 atau 10 tahun tergantung prosedur yang dipilih.

Diagnosis

Ketika dicurigai adanya karsinoma, perlu dilakukan pengkajian riwayat kesehatan


pribadi dan keluarga serta pengujian fisik. Keseluruhan usus besar harus
dievaluasi dengan kolonoskopi atau sigmoidoscopy dengan double-contrast
barum enema. Tes laboratorium harus dilakukan termasuk hitung darah lengkap,
prothrombin time, activated partial thromboplastin time, tes fungsi hati dan
ginjal, dan serum carcinoembryonic antigen (CEA). Serum CEA dapat dijadikan
sebagai marker untuk memonitor respon kanker kolorektal terhadap treatment,
tetapi seringkali tidak sensitif dan tidak spesifik untuk kanker kolorektal stage
awal.

Radiografi yang dilakukan meliputi x-ray dada, scan tulang, computed


tomography scan pada dada dan abdomen, positron emission tomography,
ultrasonography, magnetic resonance imaging. Deteksi tumor menggunakan
immunodetection yang memanfaatkan tumor-directed antibodies digunakan
untuk mendeteksi lokasi dan tingkat penyakit ekstrahepatik. Tes ini juga berguna
untuk mengindetifikasi metastasis atau kekambuhan penyakit pada pasien
dengan CEA yang meningkat.

Stage kanker koloektal harus ditentukan pada saat diagnosis, untuk mendeteksi
prognosis dan untuk mengembangkan pilihan terapi. Stage tersebut ditentukan
berdasarkan ukuran tumor primer (T 1-4), keberadaan dan tingkat keterlibatan
nodul limpa (N 0-2), dan adanya metastasis (M).

Stage I meliputi adanya invasi tumor pada submukosa (T1) atau


muskularis propia (T2) dan tidak ada nodul limpa
Stage II meliputi adanya invasi tumor melalui propia muskular kedalam
subserosa, atau ke dalam jaringan nonperitonealized peicolic atau
perirectal (T3) atau secara langsung menginvasi organ lain atau struktur
lain dan/atau perforasi di peritonium visceral (T4) dan tidak ada nodul
limpa.
Stage III termasuk T1-4 dan adanya nodul limpa
Stage IV meliputi semua T, N dan metastasis.

Tatalaksana terapi
a. Tujuan terapi

Tujuan terapi tergantung pada stage penyakit. Penyakit pada stage I, II, III masih
berpotensi untuk disembuhkan, sehingga tujuan terapinya adalah untuk
memberantas mikrometastasis. 20 sampai 30 % dengan metastasis dapat
disembuhkan jika metastasis resectable. Kebanyakan penyakit pada stage Iv
tidak bisa disembuhkan, terapi paliatif diberikan untuk mengurangi gejala,
menghindari komplikasi dan memperpanjang ketahanan.

b. Prinsip umum terapi

Terapi dilakukan dengan pembedahan, terapi radiasi, kemoterapi dan


biomodulator. Terapi adjuvant diberikan setelah penghilangan tumor dilakukan
dengan sempurna. Tujuan diberikan terapi adjuvant adalah untuk mengeliminasi
residu lokal atau metastasis. Terapi adjuvant berbeda untuk kanker kolon dan
kanker rektal karena kondisi alami dan pola kekambuhannya berbeda. Kanker
rektal lebih susah untuk diangkat karena batasannya luas, sehingga kekambuhan
lokal lebih sering terjadi daripada kanker kolon. Terapi tambahan berupa
radioterapi plus kemoterapi merupakan standar untuk kanker rektal stage II dan
III. Adjuvant kemoterapi merupakan standar untuk kanker kolon stage III dan
dapat dipertimbangkan untuk kolon kanker stage II yang beresiko tinggi. Terapi
adjuvant tidak diindikasikan untuk kanker kolorektal stage I karena kebanyakan
pasiendapat disembukan dengan pembedahan pengangkatan tumor saja.

Terapi neoadjuvant diberikan sebelum pembedahan untuk menyusutkan tumor,


sehingga bisa diangkat. Radioterapi neoadjuvant juga dapat mencegah
kekambuhan lokal. Kemoterapi merupakan terapi primer untuk metastatic
colorectal cancer (MCC). Pilihan terapi biasanya serupa untuk metastasis kanker
kolon dan rektum.

c. Pembedahan

Pembedahan untuk menghilangkan tumorprimer merupakan terapi pilihan untuk


kebanyakan pasien dengan tumor yang bisa dioperasi. Pembedahan untuk
kanker kolon umumnya melibatkan pengangkatan tumor dan limfoadenektomi
lokal. Pembedahan untuk kanker rektal tergantung pada area yang terserang.
Mesikpun kurang dari 33% pasien memerlukan kolostomi permanen, seringkali
terjadi kekambuhan dari komplikasi seperti retensi urine, impotensi, dan
kekambuhan lokoregional. Komplikasi bedah yang umum untuk kanker kolon dan
kanker rektal termasuk infeksi, kebocoran anastomatik. Obstruksi, adhesi, dan
sindrom malabsorbsi. Pengobatan metastase pada beberapa pasien dapat
meningkatkan ketahanan terhadap penyakit. Pengobatan metastase di bagian
hati dapat berujung pada kesembuhan. Kemoterapi adjuvant dapat diberikan
tetapi diperlukan penentuan regimen optimal terlebih dahulu.

d. Terapi radiasi

Terapi radiasi dapat diberikan bersama dengan pembedahan untuk mencegah


kekambuhan lokal kanker rektal, atau sebelum pembedahan dengan tujuan
menyusutkan tumor rektal sehingga bisa dioperasi. Selain itu juga bisa diberikan
sebagai terapi lanjutan dan pada kondisi metastasis untuk meredakan gejala.
Terapi radiasi adjuvant tidak memiliki peran signifikan dalam kanker kolon karena
kekambuhan yang terjadi biasanya di luar pelvis.

Efek samping merugikan yang berhubungan dengan terapi radiasi antara lain
depresi hematologi, disuria, diare, kram abdomen, dan proktitis. Gejala kronis
bisa bertahan selama berbulan-bulan setelah terapi radiaso dan bisa melibatkan
diare, proktitis, enteritis, obstruksi usus kecil, kekakuan perineal dan
penyembuhan luka menjadi lambat.

e. Kemoterapi
1. Fluoropirimidin

Fluorourasil (5-FU) merupakan agen kemoterapetik yang secara luas digunakan


untuk kanker rektal. Leucovorin (asam folat) biasanya ditambahkan ke 5-FU
untuk meningkatkan respon. Metode pemberian akan mempengaruhi aktivitas
klinis dan toksisitas. 5-FU diberikan dalam IV bolus tiap minggu atau tiap hari
selama 5 hari setiap bulannya atau dengan infus IV kontinu.

Evaluasi efikasi menunjukkan infus kontinu 5-FU lebih baik tetapi tidak ada
regimen kombinasi dengan leucovorin yang terbukti lebih baik dalam hal
meningkatkan ketahanan pasien. Infus IV kontinu 5-FU secara umum ditoleransi
dengan baik tetapi berhubungan dengan palmar-plantar erythrodysethesia atau
hand-foot syndrome. Toksisitas kulit ini dapat merugikan secara akut, tetapi
bersifat reversibel dan tidak mengancam nyawa. Pemberian IV bolus
berhubungan dengan leukopenia, yang mana hal itu berhubungan dengan dosis
dan dapat mengancam nyawa. Kedua metode dapat menyebabkan beberapa
insiden yang sama seperti mukositis, diare, mual, muntah dan alopesia. Pada
kasus yang jarang terjadi, pasien yang kekurangan dihidropirimidine
dehidrogenase, yang bertanggung jawab terhadap katabolisme 5-FU, mengalami
toksisitas parah termasuk kematian setelah pemberian 5-FU. Capecitabine,
prodrug oral dai 5-FU memiliki efikasi dan profil keamanan yang sama dengan
infus IV 5-FU

2. Irinotecan

Irinotecan adalah inhibitor topoisomerase. Diare onset awal dan lambat serta
neutropenia adalah toksisitas bergantung dosis dari irinotecan. Diare onset awal
terjadi 2-6 jam setelah pemberian dan ditandai dengan lakrimasi, diaforesis,
kram abdomen, kemerahan, dan/atau diare. Gejala kolinergik ini merespon
terhadap atropine IV atau subkutan 0,25 1 mg. Diare onset lambat terjadi 1
hingga 12 hari setelah pemberian, terjadi 3 hingga 5 hari dan dapat menjadi
fatal. Diare onset lambat memerlukan loperamid dosis tinggi dimulai dengan 4
mg setelah feses lembek atau berair, diikuti 2 mg setiap 2 jam hingga bebas
gejala selama 12 jam.

3. Oxaliplatin

Oxaliplatin memiliki mekanisme yang sama dengan cisplatin, tetapi tidak seperti
platinum lainnya, oxiplatin memiliki toksisitas ginjal, toksisitas darah, mual dan
muntah minimal. Oxaliplatin berhubungan dengan neuropati. Neuropati akut
dapat pulih dalam 2 minggu, biasanya terjadi pada perifer dan dipercepat
dengan hawa dingin. Neuropati persisten bersifat kumulatif dan ditandai
paresthesia, dysesthesia, hypoesthesias.

4. Antibodi monoklonal

Bevacizumab adalah antibodi monoklonal humanized yang melawan vascular


endothelial growth factor. Bevacizumab dihubungkan dengan hipertensi yang
dapat diatasi dengan mudah oleh agen antihipertensi oral. Bevacizumab juga
dihubungkan dengan perforasi GI. Kasus ini jarang terjadi, tetapi berpotensi
menjadi fatal, adanya komplikasi mengharuskan evaluasi yang tepat untuk nyeri
abdomen yang berhubungan dengan muntah atau konstipasi.

Cetuximab adalah antibodi monoklonal chimeric yang melawan reseptor


epidermal growth factor. Kejadian merugikan yang umum termasuk ruam kulit
seperti jerawat, asthenia, letargi, malaise dan kelelahan. Panitumumab adalah
antibodi monoklonal manusia yang melawan reseptor epidermal growth factor.
Kejadian merugikan yang umum termasuk toksisitas dermatologi, kelelahan,
nyeri abdomen, mual, diare.

f. Terapi adjuvant untuk kanker kolon

Dampak terapi adjuvant pada pasien stage II menurut penelitian masih belum
jelas. Meskipun tidak ada kesepakatan antar praktisi, pendekatan untuk
treatmen kanker stage II dan stage III adalah sama. Kemoterapi adjuvant secara
signifikan menurunkan resiko kekambuhan kanker dan kematian pada kanker
kolon stage III. Pemilihan regimen adjuvan berdasarkan pada faktor spesifik
pasien termasuk status, kondisi komorbid, dan preferensi pasien tergantung
pada faktor gaya hidup. Kebanyakan pasien dengan performa yang baik akan
menerima oxaliplatin dengan kombinasi bersama 5-FU dan leucovorin. Regimen
5-FU/leucovorin saat ini memiliki penggunaan yang terbatas tetapi dapat
diterima pada pasien yang tidak dapat menerima oxaliplatin dan tidak bisa
menoleransi capecitabine oral.
Berikut ini adalah pilihan adjuvant untuk kanker kolon:

g. Terapi adjuvan dan neoadjuvant untuk kanker rektal

Tujuan radioterapi adjuvant untuk kanker rektal adalah untuk mengurangi


kekambuhan tumor lokal setelah pembedahan, memelihara spinchter, dan
dengan radioterapi praoperasi, untuk meningkatkan kemampuannya untuk
dihilangkan. 5-FU meningkatkan efek sitotoksik radioterapi. Dibandingkan
dengan pembedahan saha, kombinasi adjuvant 5-FU dan radioterapi
menurunkan kekambuhan tumor dan meningkatkan ketahanan pada kanker
rektal stage II dan stage III.

Untuk lesi yang yang dapat diangkatn, infus 5-FU pascaoperasi ditambah
radioterapi direkomendasikan. Untuk tumor yang tidak dapat diangkat, 5-FU
atau capecitabine neoadjuvant (praoperasi) diikuti dengan pembedahan
direkomendasikan. Semua pasien yang menerima kemoterapi praoperasi harus
menerima kemoterapi pascaoperasi, baik dengan atau tanpa radioterapi.

h. Terapi untuk metastase kanker kolorektal

Saat ini, kebanyakan MCRC (metastatic colorectal cancer). Kemoterapi awal


diberikan dengan tujuan paliatif, untuk menurunkan gejala, meningkatkan
kualitas hidup dan memperpanjang ketahanan. Secara umum, plihan terapi
adalah sama untuk kanker metastase kanker kolon dan rektum. Baik irinotekan
dan oxaliplatin adalah first-line untuk MCRC. Regimen ini meningkatkan tingkat
respon dan ketahanan tanpa progesi penyakit. Penambahan bevacizumab ke
regimen 5-FU meningkatkan efikasi dibandingkan kemoterapi saja dan empat
regimen dipertimbangkan first-line untuk MCRC.

Monoterapi capecitabine cocok untuk first-line pada pasien yang tidak


menoleransi kemoterapi IV. Capecitabine menghasilkan respon superior dan
ketahanan yang bisa dibandingkan dengan 5-FU dan leucoborin dalam pooled
analysis. Capecitabine saat ini sedang dievaluasi dengan kombinasi dengan
irinotecan atau oxaliplatin. Faktor paling penting pada ketahanan pasien
bukanlah regimen kemoterapi awal tetapi memastikan bahwa pasien menerima
tiga obat aktif (5-FU, irinotecan dan oxaliplatin) pada titik tertentu pada
rangkaian terapi.
Terapi second-line atau terapi penyelamatan tergantung pada tipe dan respon
treatment sebelumnya, tempat dan tingkat penyakit dan faktor pasien serta
preferensi terapi. Regimen dengan sekuens optimal belum ditentukan. Jika
penyakit berkembang pada pasien yang menggunakan bevacimuzab, data tidak
mendukung untuk diteruskan penggunaannya. Cetuximab, baik diberikan
tunggal maupun kombinasi dengan irinotecan dapat digunakan pada pasien
yang mengalami progesi penyakit pada penggunaan irinotecan. Monoterapi
cetuximab dapat dipertimbangkan sebagai terapi penyelamatan pada pasien
yang susah disembuhkan dengan oxaliplatin. Panitumumab disetujui untuk
digunakan pada terapi MCRC yang tidak lagi merespon ke terapi sebelumnya
dengan 5-FU, irinotecan atau oxaliplatin. Pasien yang gagal dengan terapi
standar untuk MCRC sebaiknya dimotivasi untuk mengikuti percobaan klinis.

i. Evaluasi hasil terapi

Tujuan monitoring adalah untuk mengevaluasi keuntungan terapi dan untuk


mendeteksi kekambuhan. Pasien yang menjalani pembedahan pengangkatan,
dengan atau tanpa terapi adjuvant membutuhkan follow up rutin. Pasien harus
dievaluasi untuk mengantisipasi efek samping seperti diare, mual, muntah, nyeri
di mulut, kelelahan dan demam. Pasien harus dimonitor dengan ketata untuk
efek samping yang membutuhkan intervensi agresif seperti diare yang diinduksi
irinotecan dan perforasi yang diiunduksi bevacizumab. Pasien harus dievaluasi
untuk efek samping terapi spesifik lain seperti neuropati yang diinduksi
oxaliplatin, kemerahan kulit yang diinduksi cetuximab dan panitumumab, dan
hipertensi yang diinduksi bevcizumab dan proteinuria.

Kurang dari setengah pasien mengalami gejala kekambuhan seperti sindrom


nyeri, perubahan habit usus besar, pendarahan rectal atau vaginal, massa pelvic,
anoreksia dan penurunan berat bada. Parameter kualitas hidup harus dimonitor,
khususnya pasien pada metastase.