Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN FITOKIMIA I

PERCOBAAN I
PEMBUATAN SIMPLISIA

OLEH :

NAMA : VIA SILVANA


NIM : O1A1 14 058
KELAS :B
KELOMPOK : VI (ENAM)
ASISTEN : RIZKY AUDINA SYAHRIR

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2016

PERCOBAAN I
PEMBUATAN SIMPLISIA
A. Tujuan Praktikum
Diharapkan mahasiswa dapat mengetahui cara pembuatan sampel atau
simplisia yang baik.
B. Teori Umum
Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat
yang belum mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali dikatakan
lain, berupa bahan yang telah dikeringkan (Depkes RI, 1995).
Menurut Materia Medika Indonesia simplisia dibedakan menjadi
tiga, yaitu; simplisia nabati, simplisia hewani, dan simplisia pelican
(mineral). Simplisia nabati adalah simplisia yang berupa tumbuhan utuh,
bagian tumbuhan atau eksudat tumbuhan. Eksudat tumbuhan ialah isi sel
yang secara spontan keluar dari tumbuhan atau isi sel yang dengan cara
tertentu dikeluarkan dari selnya, atau senyawa nabati lainnya yang dengan
cara tertentu dipisahkan dari tumbuhannya dan belum berupa senyawa
kimia murni (Depkes RI, 1995 dalam Saifudin, Rahayu, & Teruna,
2011).
Simplisia sebagai produk hasil pertanian atau pengumpulan dari
tumbuhan liar (wild crop) memiliki kandungan kimia yang tidak
terjamin selalu konstan karena adanya variabel bibit, tempat tumbuh,
iklim, kondisi (umur dan cara) panen, serta proses pasca panen dan
preparasi akhir. Variasi kandungan senyawa dalam produk hasil panen
tumbuhan obat disebabkan oleh beberapa aspek sebagai berikut.
Standardisasi dalam kefarmasian tidak lain adalah serangkaian
parameter, prosedur dan cara pengukuran yang hasilnya merupakan
unsur-unsur terkait paradigma mutu kefarmasian, mutu dalam artian
memenuhi syarat standar (kimia, biologi dan farmasi), termasuk jaminan
(batas-batas) stabilitas sebagai produk kefarmasian umumnya. Dengan
kata lain, pengertian standardisasi juga berarti proses menjamin bahwa
produk akhir obat (obat, ekstrak atau produk ekstrak) mempunyai nilai
parameter tertentu yang konstan dan ditetapkan terlebih dahulu. Terdapat
dua faktor yang mempengaruhi mutu ekstrak yaitu faktor biologi dari
bahan asal tumbuhan obat dan faktor kandungan kimia bahan obat
tersebut. Standardisasi ekstrak terdiri dari parameter standar spesifik dan
parameter standar non spesifik (Depkes RI, 2000).
C. Bahan
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini yaitu:
- Sampel/simplisia Serai
D. Alat
Alat yang dgunakan dalam percobaan ini yaitu:
- Gunting/pisau atau cutter
E. Prosedur Kerja

Simplisia

- Dipisahkan serai dengan daun dan akarnya


- Dikumpulkan batangnya dalam satu wadah
- Dilakukan sortasi basah
- Dicucui bersih dibawah air mengalir
- Ditimbang berat basahnya
- Dikeringkan dibawah sinar mtahari
- Dilakukan sortasi kering
- Ditimbang beratnya setelah kering

Hasil pengamatan
F. Hasil Pengamatan
1. Tabel Pengamatan

No Nama Sampel Bobot Bobot


Basah Kering
1. Batang serai 650 gram 200 gram

2. Gambar
Foto Tanaman Foto Simplisia
LABORATORIUM FITOKIMIA LABORATORIUM FITOKIMIA
JURUSAN FARMASI JURUSAN FARMASI
UNIVERSITAS HALU OLEO UNIVERSITAS HALU OLEO

Nama Tanaman : Serai Nama Tanaman : Serai


Nama Latin : Cymbopogon Nama Latin : Cymbopogon
cutratus citratus
G. Pembahasan
Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang
belum mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali dinyatakan lain, berupa
bahan yang telah dikeringkan. Simplisia dapat berupa simplisia nabati, simplisia
hewani dan simplisia pelikan (mineral).
Proses Pembuatan Simplisia yaitu (1) Pengumpulan bahan baku,
dipengaruhi oleh waktu pengumpulan, dan juga teknik pengumpulan. (2) Sortasi
basah, memiliki tujuan untuk membersihkan dari benda-benda asing seperti tanah,
kerikil, rumput, bagian tanamn lain dan bahan yang rusak. (3) Pencucian simplisia
dengan menggunakan air, sebaiknya memperhatikan sumber air, agar diketahui
sumber air tersebut mengalami pencemaran atau tidak. (4) Pengubahan bentuk
simplisa seperti perajangan, pengupasan, pemecahan, penyerutan, pemotongan.
(5) Pengeringan dilakukan sedapat mungkin tidak merusak kandungan senyawa
aktif dalam simplisia. Tujuan pengeringan yaitu agar simplisia awet, dan dapat
digunakan dalam jangka waktu yang lama. (6) Sortasi kering, bensa-benda asing
yang masih tertinggal, dipisahkan agar simplisia bersih sebelum dilakukan
pengepakan. (7) Pengepakan dan penyimpanan untuk mencegah terjadinya
penurunan mutu simplisia.
Percobaan ini kami menggunakan batang serai dimana tanaman ini
bermanfaat untuk mengobati sakit kepala atau pusing dan juga migrain,
menurunkan kadar kolestrol dalam darah dan juga melancarkan dan menjaga
sistem pencernaan. Penyiapan simplisia dilakukan dengan langkah pertama yaitu
memisahkan daun dan akar dari batangnya lalu batang serai, kemudian dicuci
dengan air mengalir, lalu dipotong kecil-kecil dan kemudian dijemur. Hasil
penimbangan sebelum dikeringkan yaitu 650 gram dan setelah dikeringkan
beratnya menjadi 200 gram.
H. Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan
bahwa cara pembuatan sampel atau simplisia yang baik terdiri dari tahapan
pengumpulan bahan baku, sortasi basah, pencucian, perajangan, pengeringan,
sortasi kering, dan pengepakan atau penyimpanan.
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan RI. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Derektorat


Jendral Pengawasan Obat dan makanan : Jakarta. Hal: 7, 1221-1223.

Departemen Kesehatan RI. 1995. Materia Medika Indonesia Jilid IV.


Derektorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan : Jakarta. Hal: 182-
185.

Saifudin, A., Rahayu, & Teruna. 2011. Standardisasi Bahan Obat Alam. Graha
Ilmu : Yogyakarta.