Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM TERMODINAMIKA KIMIA

KONSENTRASI KRITIS MISEL

Nama : Kartika Indah Aulia


NIM : 151810301042
Kelas / Kelompok :A/3
Asisten : Agus Wedi Pratama

LABORATORIUM KIMIA FISIK


JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS JEMBER
2016
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Misel merupakan sebuah kumpulan molekul surfaktan yang terdispersi dalam
koloid cair. Sifat khas misel dalam larutan encer membentuk suatu kumpulan dengan
kepala gugus hidrofilik bersinggungan dengan solven yang mengelilinginya,
mengasingkan ekor gugus hidrofobik didalam pusat misel. Misel hanya terbentuk bila
konsentrasi surfaktan lebih besar daripada konsentrasi kritis misel (kkm) dan temperatur
sistem lebih besar daripada temperatur kritis misel atau temperatur Kraff. Konsentrasi
kritis misel (kkm) merupakan titik penjenuhan surfaktan dalam sistem air.
Banyak kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan fenomena permukaan-
antarmuka. Misalnya proses pembersihan kotoran pada pakaian, dan peralatan rumah
tanggga, menulis pada kertas dengan menggunakan tinta dan lain-lain. Misel yang
terbentuk dapat memengaruhi sifat larutan seoerti tegangan permukaan, viskositas, daya
hantar listrik sehingga dapat dimanfaatkan dengan maksud penelitian.

1.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum konsentrasi kritis misel ini adalah untuk menentukan
konsentrasi kritis misel surfaktan pada pelarut air dan menentukan harga entalpinya.
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Material Safety Data Sheet (MSDS)


2.1.1 Akuades
Akuades atau dihidrogen oksida merupakan senyawa yang terdiri atas Hidrogen (H)
dan Oksigen (O) dengan rumus molekul H2O. Akuades memiliki penampilan fisik cair,
tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa. Akuades memiliki tiitk didih 100 0C ,
tekanan uap 2,3 kPa dan berat molekul sebesar 18,02 g/mol. Akuades tidak berbahaya
dalam kasus kontak kulit, kontak mata, tertelan, maupun inhalasi. Akuades tidak memiliki
ketentuan khusus dalam hal penyimpanan(Anonim, 2016).
2.1.2 Gelatin
Gelatin mempunyai rumus kimia C76H124O29N24. Bahan ini memiliki bentuk fisik
berupa padatan berwarna putih dan tidak berbau. Gelatin mendidih pada suhu 1000C(212F)
dan memiliki berat jenis 1.2 g/m3. Bahan ini mudah larut dalam air panas namun tidak larut
dalam air dingin. Gelatin mudah terbakar pada suhu tinggi. Bahan ini reaktif terhadap
tannin dan folmaldehid. Mata yang terkena gelatin harus segera dibasuh dengan air yang
banyak selama kurang lebih 15 menit, dapatkan pertolongan medis bila terjadi iritasi. Kulit
yang terkena gelatin harus segera dibasuh dengan air dan sabun lalu diolesi dengan pereda
rasa sakit, dapatkan pertolongan medis bila terjadi iritasi (Anonim, 2016).
2.1.3 Kalium klorida
Kalium klorida memiliki rumus kimia KCl. Bahan ini mempunyai bentuk fisik
berupa padatan Kristal berwarna putih dan tidak berbau. Kalium klorida mempunyai berat
molekul sebesar 101.1 g/mol, titik didihnya sebesar 400 0C dan titik lelehnya sebesar 3340C.
Mata yang terkena gelatin harus segera dibasuh dengan air yang banyak selama kurang
lebih 15 menit, dapatkan pertolongan medis bila terjadi iritasi. Kulit yang terkena gelatin
harus segera dibasuh dengan air dan sabun lalu diolesi dengan pereda rasa sakit, dapatkan
pertolongan medis bila terjadi iritasi (Anonim, 2016).

2.2 Dasar Teori


Sejumlah konsentrasi surfaktan yang terlarut dalam air, akan membentuk monomer
dan terkonsentrasi pada permukaan air membentuk lapisan tunggal dimana grup yang
bersifat hidrofil (menyukai air) akan berikatan kebawah permukaan air, sedangkan ekor
hidrokarbon yang bersifat hidrofob akan menjauh dari permukaan air. Konsentrasi
surfaktan yang lebih tinggi menyebabkan terbentuknya agregasi atau asosiasi dari ion-ion
surfaktan berupa sperikal yang merupakan zat aktif permukaan, yang dikenal dengan
misel. Miselisasi terjadi akibat interaksi hidrofobik. interaksi hidrofobik akan menolak atau
menjauhkan ekor hidrokarbon dari surfaktan terhadap air dan akan menghasilkan agregasi,
sedangkan group kepala yang hidrofilik akan tetap berkontak langsung dengan air.
Konsentrasi setimbang dimana monomer surfaktan membentuk misel disebut dengan
konsentrasi kritis misel. Satu misel umumnya akan berisi 50-100 monomer. Terbentuknya
misel membuat larutan akan berubah secara mendadak seperti tegangan-antarmuka,
viskositas, daya hantar listrik dan lainnya (Reeves, 1977).
Penambahan surfaktan secara kontinyu akan menyebabkan suatu keadaan dimana
larutan menjadi jenuh atau tertutupi oleh surfaktan dan adsorbsi surfaktan ke permukaan
tidak terjadi lagi. Misel dalam larutan encer membentuk suatu kumpulan dengan kepala
gugus hidrofilik yang bersinggungan dengan pelarut yang mengelilinginya, sehingga
menjauhkan ekor gugus hidrofobik didalam pusat misel (Atkins, 2006).
Dibawah konsentrasi misel kritis biasanya surfaktan dapat bekerja dengan baik, hal
ini terjadi karena misel dalam molekulnya belum terbentuk, sehingga dapat menjadi
perantara untuk mencampur dua buah larutan yang sulit bercampur. Hal ini sangat penting
untuk menentukan konsentrasi saat suatu zat dapat digunakan sebagai surfaktan atau
pengemulsi yang baik. Konsentrasi misel kritis ditentukan dengan mengukur sifat-sifat
fisika sebagai fungsi konsentrasi, namun dapat pula ditentukan melalui pengukuran
konduktivitas, konduktivitas ekuivalen, tekanan osmosis, dan turbiditas. Metode yang
paling banyak digunakan untuk menentukan nilai konsentrasi misel kritis adalah metode
konduktometri. Prinsip kerja konduktometer yaitu larutan dengan konsentrasi dan suhu
tertentu akandimasuki elektroda sehingga elektroda akan menerima rangsang dari ion-ion
yang menempel atau menyentuhnya, selanjutnya data akan diproses menjadi output yang
keluar pada layar konduktometer (Sukarjo, 2004).
Termodinamika pembentukan misel menunjukkan bahwa entalpi pembentukannya
dalam sistem air mungkin positif (jadi, pembentukan tersebut endotermik) dengan H 1-
2 kl per mol surfaktan. Pembentukan misel di atas, KKM menunjukkan bahwa perubahan
entropi yang menyertai pembentukannya pasti positif, dan pengukuran nilai sekitar 140 JK -
1
mol-1 pada temperatur kamar. Perubahan entalpi (entropi) yang positif walaupun molekul
itu berkumpul menunjukkan adanya kontribusi pelarut pada entropi dan molekul akan lebih
bebas bergerak setelah molekul terlarut terkumpul menjadi kumpulan kecil. Hal ini masuk
akal, karena setiap molekul terlarut individual terkurung dalam pelarut yang teratur, tetapi
setelah misel terbentuk, molekul pelarut hanya perlu membentuk satu kurungan yang lebih
besar. Kenaikan energi ketika gugus hidrofob berkumpul dan mengurangi tuntutan
strukturnya pada pelarut, merupakan asal usul antar aksi hidrofob yang akan menstabilkan
pengelompokkan gugus hidrofob dalam makromolekul biologis. (Atkins, 1999)
Larutan surfaktan dalam air menunjukkan perubahan sifat fisik yang mendadak
pada daerah konsentrasi yang tertentu. Perubahan yang mendadak ini disebabkan oleh
pembentukan agregat atau penggumpalan dari beberapa molekul surfaktan menjadi satu,
yaitu pada konsentrasi kritis misel (CMC) (Atkins, 2006).
Menurut (Sukarjo, 2004) beberapa faktor yang mempengaruhi kkm adalah :
- Untuk deret homolog surfaktan rantai hidrokarbon, nilai kkm bertambah 2x dengan
berkurangnya satu atom c dalam rantai.
- Gugus aromatik dalam rantai hidrokarbon akan memperbesar nilai dan juga kelarutan.
- Adanya garam menurunkan nilai kkm surfaktan ion.
- Penurunan kkm hanya bergantung pada konsentrasi ion lawan, yaitu makin besar
konsentrasinya makin menurun kkm-nya.
kesetimbangan diantara molekul-molekul atau ion-ion misel yang tidak berasosiasi
berlaku hukum aksi massa untuk kesetimbangan miselisasi. Jika c adalah konsentrasi
stoikiometri larutan, x adalah fraksi dari satuan monomer yang diendapkan dan m adalah
jumlah satuan monomer per satuan misel.
mX (X)m
C(1-x) Cx/m

atau ..(1.1)

(Tim Dosen Kimia fisik, 2016).


Pembentukan misel dapat terjadi pada konsentrasi diatas kkm untuk mengetahui
harga kkm yang paling tepat diperlukan tabel entalpi, karena entalpi sangat erat kaitannya
dengan kkm. Jika konstanta kesetimbangan k, dan perubahan energi standar sama dengan
Go, maka untuk miselisasi 1 mol zat pemantap sesuai dengan persamaan :

(1.2)

.(1.3)

Pada kkm x = 0, dan Go = RT ln (kkm), Sehingga:

.(1.4)
Ho = Go + TSo, Go = 0

..(1.5)

dengan mengintegralkan persamaan (1.5) diperoleh persamaan:

..(1.6)

(Tim Dosen Kimia Fisik, 2016).


Kesetimbangan diantara molekul-molekul atau ion-ion dari misel yang
tidak berikatan berlaku hukum aksi massa, dimana C merupakan konsentrasi stoikiometri
larutan, x merupakan fraksi satuan monomer, m merupakan jumlah satuan monomer per
misel. X menjadi semakin kecil pada nilai C tertentu dan sesudah itu naik dengan tepat.
penentuan entalpinya didapat dengan cara membuat grafik ln (kkm) lawan 1/T, sehingga
diperoleh harga sebagai slopenya (Bird, 1993).
BAB 3. METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan


3.1.1 Alat
Beaker glass
Gelas arloji
Voltmeter
Termometer
Gelas ukur
Pipet tetes
Pipet mohr
Labu ukur
Ball semprot
Bunsen
Kaki tiga
Kawat kasa
Neraca
Pipet volume
Batang pengaduk
Corong kaca
Botol semprot
3.1.2. Bahan
Aquades
Gelatin
KCl 0.1 M
3.2 Skema Kerja

Gelatin

ditimbang sebesar 2,000 gram sebanyak dua kali


dilarutkan masing-masing dalam 100 ml akuades sebagai larutan induk
dengan konsentrasi 1%
diambil 10,00 ; 25,0; 50,0; 75 mL dari larutan induk dan diencerkan
pada labu ukur 100 mL sehingga diperoleh konsentrasi 0,1 0,25%;
0,50%; 0,75%
diambil 40 mL dari larutan induk sisa sebagai larutan dengan
konsentrasi 1%
dipipet masing-masing larutan sebanyak 20 mL
diukur daya hantar masing-masing larutan pada temperature kamar
diulangi pengukuran daya hantar semua larutan pada temperature lain,
yakni 35, 40, 45, 50, 55C.
Hasil
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
4.1.1 Hasil Percobaan

Konsentrasi Konduktivitas (ohm cm-1 / S cm-1)


Gelatin (M) 30 oC 35 oC 40 oC 45 oC 50 oC
1% 0,52 0,54 0,56 0,63 0,73
0,75 % 0,41 0,45 0,48 0,51 0,56
0,50 % 0,27 0,29 0,32 0,34 0,39
0,25 % 0,15 0,16 0,17 0,19 0,22

4.1.2 Hasil Pengolahan Data


T (oC) 1/T (K) kkm ln kkm (J/mol)
30 oC 0,00330 1,65 0,5
o
35 C 0,00324 1,68 0,52
40 oC 0,00319 1,7 0,532
45 oC 0,00314 1,81 0,596
50 oC 0,00309 1,97 0,68

4.2 Pembahasan
Percobaan yang dilakukan kali ini adalah mengenai konsentrasi kritis misel. Tujuan
dari pratikum ini adalah untuk menentukan konsentrasi kritis misel surfaktan pada pelarut
air dan menentukan harga entalpinya. Bahan yang digunakan sebagai surfaktan yaitu
gelatin, yang dibuat dengan cara melarutkan dua gram gelatin pada labu ukur 100 mL
sehingga diperoleh larutan gelatin dengan konsentrasi 1% yang selanjutnya diencerkan
kembali sehingga diperoleh larutan gelatin dengan konsentrasi 0.25%, 0.50% dan 0.75%.
Empat larutan dengan konsentrasi berbeda ini kemudian diukur konduktivitasnya dengan
lima temperatur yang berbeda yakni pada suhu 30oC, 35 oC, 40 oC, 45 oC dan 50 oC. Gelatin
yang dilarutkan harus diaduk secara perlahan agar tidak terbentuk busa yang nantinya dapat
menggangu proses pengenceran yang dapat menghasilkan ketidakakuratan hasil. Teknik
menuangkan akuades saat melarutkan gelatin juga harus diperhatikan agar tidak terbentuk
busa, yakni dengan melewatkannya pada dinding dalam erlenmeyer.
Konsentrasi kritis misel merupakan konsentrasi dimana misel mulai terbentuk
(Reeves, 1977). Harga entalpi dari konsentrasi kritis misel dapat diketahui dengan cara
pengolahan data konsentrasi kritis misel pada setiap suhu, dimana ln kkm diperoleh dari
slope grafik antara konduktivitas dan masing-masing suhu. Pengukuran konduktivitas
menggunakan alat yang disebut dengan konduktivitimeter, dimana sebelum melakukan
pengukuran alat ini harus dikalibrasi terlebih dahulu agar hasil yang didapatkan saat
pengukuran mendekati hasil yang sebenarnya. Kalibrasi dilakukan menggunakan larutan 0.1
M KCl yang kemudian diukur konduktivitasnya hingga tertulis 12.88 mS/cm pada
konduktivitimeter. KCl digunakan untuk kalibrasi karena pada suhu kamar konduktivitasnya
telah diketahui dengan pasti yaitu sebesar 12.88 mS/cm. Prinsip kerja konduktometer
adalah bagian konduktor yakni yang dicelupkan dalam larutan akan menerima rangsang
dari ion-ion yang menyentuh konduktor, lalu rangsang ini diproses dan ditunjukkan pada
layar kaca konduktometer berupa angka-angka. Semakin banyak ion yang menyentuh
konduktometer maka akan semakin besar angka yang tertera (semakin besar konduktivitas
suatu larutan).
Gelatin merupakan surfaktan yang mengandung gugus hidrofobik (ekor) dan
hidrofilik (kepala) . Gelatin akan membentuk misel jika terjadi penggabungan ion dalam
gelatin dimana senyawa-senyawa ion tersebut pergerakannya memiliki energi kinetik yang
besar. Misel akan terbentuk jika konsentrasi surfaktan dinaikkan. Titik kkm terjadi karena
adanya titik dimana baik antar muka maupun dalam cairan jenuh dengan monomer (Atkins,
2006). Daya hantar listrik pada misel sangat dipengaruhi oleh banyaknya konsentrasi dan
tingginya suhu larutan, dimana konsentrasi yang tinggi menambah jumlah ion yang bergerak
bebas, demikian pula dengan suhu yang tinggi. Besarnya angka yang tertera pada layar
konduktometer menunjukkan jumlah ion yang menyentuh bagian konduktor.
Berdasarkan data percobaan yang didapatkan, menunjukkan bahwa hasil pengukuran
konduktivitas misel terus meningkat dari konsentrasi 0.25% hingga 1%. Peningkatan
konduktivitas terjadi seiring dengan peningkatan suhu. Hal itu sudah sesuai dengan teori yang
ada dimana semakin besar suhu dan konsentrasi, maka semakin besar nilai konduktivitasnya.
Pemanasan larutan menyebabkan suhu dalam larutan bertambah dan menyebabkan
meningkatnya laju reaksi. Laju reaksi meningkat karena pada suatu senyawa dengan suhu
yang tinggi, partikel dalam senyawa secara tidak langsung mendapatkan tambahan energi
dari luar sistem untuk bergerak, sehingga energi kinetik dari larutan tersebut bertambah
besar dan mengakibatkan pergerakan partikel dalam senyawa semakin besar dan semakin
cepat yang akan mengalami tumbukan dengan konduktor pada konduktometer, sehingga
daya hantar listrik yang terukur juga semakin besar.

GRAFIK KONDUKTIVITAS GABUNGAN


0.8
0.7
0.6 suhu 30
0.5
KONDUKTIVITAS

suhu 35
0.4 suhu 40
0.3 suhu 45
0.2 suhu 50
0.1
0
0.00% 0.20% 0.40% 0.60% 0.80% 1.00% 1.20%
KONSENTRASI

Gambar 4.1 Grafik Konduktivitas Gabungan


Grafik 4.1 menunjukkan bahwa konsentrasi yang semakin tinggi menyebabkan
kenaikan harga konduktivitas suatu larutan. Jumlah ion yang ada dalam larutan sangat
ditentukan oleh konsentrasi dan suhu larutan. Konsentrasi yang tinggi akan membuat ion-
ion semakin cepat bergerak dan menghasilkan tumbukan efektif yang menyebabkan
tingginya konduktivitas. Semakin tinggi konsentrasi suatu larutan, maka ionnya pun akan
semakin banyak yang bertumbukan menghasilkan tumbukan efektif yang dapat
menghatarkan listrik.
Berdasarkan grafik tersebut nilai slope yang dihasilkan pada masing-masing garis
menunjukkan besar ln(kkm) pada suhu yang berbeda. Semakin besar suhu dan konsentrasi,
maka semakin besar nilai slope yang didapat. Nilai konsentrasi kritis misel kkm didapat
dengan cara anti ln(kkm). Besar nilai kkm pada suhu 30C, 35C, 40C, 45C, 50C
berturut-turut adalah sebesar 0,5; 0,52; 0,532; 0,596 dan 0,68. Hal ini menunjukkan jika
semakin besar suhu dan konsentrasi, maka nilai ln(kkm) yang didapat juga semakin besar.
Gradien yang didapat pada grafik pertama (kkm) digunakan untuk mencari harga entalpi
dengan cara membuat grafik ln kkm lawan 1/T sehingga didapat H/R sebagai gradiennya.
Grafik ln kkm dan 1/T
80.00
70.00
60.00 y = -84763x + 327.51

50.00
ln kkm

40.00
ln kkm
30.00
Linear (ln kkm)
20.00
10.00
0.00
0.00305 0.0031 0.00315 0.0032 0.00325 0.0033 0.00335
1/T

Gambar 4.2 Grafik Hubungan ln kkm dan 1/T

Grafik 4.2 menggambarkan hubungan antara ln(kkm) dan 1/T. Fungsi yang
diperoleh dari hubungan dua variable ini adalah y = -84763x + 327.51. Nilai entalpi
ditentukan dengan menggunakan slope dari grafik antara ln kkm lawan 1/T, dimana -84763
merupakan slope atau gradien grafiknya. H dapat dicari dengan mengalikan gradien yang
didapat dengan R (tetapan gas ideal = 8,314 J/mol K). Hasil perhitungan menunjukkan
harga entalpi yang didapat adalah sebesar -6894,3 J/mol. Nilai entalpi yang didapat bernilai
negatif yang berarti reaksi berlangsung secara eksoterm. Perubahan entalpi negatif
menunjukkan adanya interaksi disperse London sebagai gaya pembentukan misel.
BAB 5. PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :
1. Konsentrasi kritis misel dapat diketahui dengan cara membuat grafik antara konduktivitas
lawan konsentrasi dan didapat ln kkm sebagai gradiennya. Sementara harga entalpi dapat
diketahui dengan membuat grafik ln kkm lawan 1/T dan didapat H/R adalah gradienya,
berdasarkan perhitungan data, diperoleh nilai konsentrasi kritis misel pada suhu 30C,
35C, 40C, 45C, 50C berturut-turut adalah sebesar 0,5; 0,52; 0,532; 0,596 dan 0,68
dan nilai entalpi yang didapat sebesar -6894,3 J/mol.

5.2 Saran
Adapun saran yang dapat diberikan pada percobaan konsentrasi kritis misel ini
adalah sebaiknya praktikan lebih mengerti mengenai tata cara pembuatan larutan, karena
hal tersebut merupakan dasar bagi praktikan untuk melakukan praktikum selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2016. MSDS Akuades. [serial online]. http://www.sciencelab.com/msds.php?


msdsId=9924563. [diakses pada 23 Oktober 2016].
Anonim. 2016. MSDS KCl. [serial online]. http://www.sciencelab.com/msds.php?
msdsId=9945934. [diakses pada 23 Oktober 2016].
Anonim. 2016. MSDS Gelatin. [serial online]. http://www.sciencelab.com/msds.php?
msdsId=9925004. [diakses pada 23 Oktober 2016].
Atkins, P.W. 1999. Kimia Fisika Jilid I Edisi IV. Jakarta : Erlangga.
Atkins, P.W. 2006. Physical Chemistry. Oxford : Oxford University press.
Bird, Tony. 1993. Kimia Fisik untuk Universitas. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Reeves, L.R., Harkaway, S.A. 1977. Micellization, Solubilition and Microemulsion, Vol 2.
New York : Mital Plenum Press.
Sukarjo. 2004. Kimia Fisika. Jakarta : PT Rineka Cipta.
Tim Dosen Kimia Fisik. 2016. Petunjuk Praktikum Kimia Fisik 2016. Jember : FMIPA
Universitas Jember.
LAMPIRAN

Konsentrasi 0,25%
M1. V1 = M2. V2
M1. 100 mL = 1%. 25 mL

M1 = = 0,25%

Konsentrasi 0,50%
M1. V1 = M2. V2
M1. 100 mL = 1%. 50 mL

M1 = = 0,50%

Konsentrasi 0,75%
M1. V1 = M2. V2
M1. 100 mL = 1%. 75 mL

M1 = = 0,75%

Diket :
y = -829,25x + 3,2126 (Dari grafik ln kkm lawan 1/T)
m = - 829,25
R = 8,314 J/K mol
Ditanya : ..?
Dijawab
m=
-829,25 =
Grafik Konduktivitas vs Konsentrasi (300C)
0.6
Konduktivitas 0.5
0.4 y = 0.5x + 0.025
0.3 R = 0.9981

0.2
0.1
0
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2
Konsentrasi (%)

y = mx + c
y=0,5x+0,025
log(x/m) = n log C + log K, maka
n = m= 0,5
ln KKM = m
ln KKM= 0,5
KKM = 1,65

Grafik Konduktivitas vs Konsentrasi (35 0C)


0.6
Konduktivitas (Scm-1)

0.5

0.4 y = 0.52x + 0.035


R = 0.9895
0.3

0.2

0.1

0
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2
Konsentrasi (%)

y = mx + c
y=0,52x+0,035
log(x/m) = n log C + log K, maka
n = m= 0,52
ln KKM = m
ln KKM= 0,52
KKM = 1,68
Grafik Konduktivitas vs Konsentrasi (40 0C)
0.7
0.6
0.5
Konduktivitas

0.4 y = 0.532x + 0.05


R = 0.9819
0.3
0.2
0.1
0
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2
Konsentrasi (%)

y = mx + c
y=0,532x+0,05
log(x/m) = n log C + log K, maka
n = m= 0,532
ln KKM = m
ln KKM= 0,532
KKM = 1,7

Grafik Konduktivitas vs Konsentrasi (45 0C)


0.7
0.6
0.5
Konduktivitas

0.4
y = 0.596x + 0.045
0.3 R = 0.9958
0.2
0.1
0
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2
Konsentrasi (%)

y = mx + c
y=0,596x+0,045
log(x/m) = n log C + log K, maka
n = m= 0,596
ln KKM = m
ln KKM= 0,596
KKM = 1,81
Grafik Konduktivitas vs Konsentrasi (50 0C)
0.8
0.7
0.6
Konduktivitas

y = 0.68x + 0.05
0.5
R = 1
0.4
0.3
0.2
0.1
0
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2
Konsentrasi (%)

y = mx + c
y=0,68x+0,05
log(x/m) = n log C + log K, maka
n = m= 0,68
ln KKM = m
ln KKM= 0,68
KKM = 1,97