Anda di halaman 1dari 49

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Bunga merupakan alat reproduksi seksual. Suatu bunga yang


lengkap mempunyai daun kelopak, daun mahkota, benang sari, putik, dan
daun buah. Bunga terdiri atas bagian yang fertil, yaitu benang sari dan daun
buah, serta bagian yang steril yaitu daun kelopak dan daun mahkota
(Sumardi, 1993). Bunga tersusun atas bagian-bagian bunga. Daun-daun
bunga melekat pada ujung sumbu yang disebut dasar bunga (receptaculum).
Hiasan bunga yakni kelopak dan tajuk (mahkota) merupakan dua karangan
yang paling bawah. Kelopak (calyx) terdiri dari sejumlah daun kelopak atau
sepal (sepalum) yang berwarna hijau dan menutup bunga ketika masih
kuncup. Tajuk (corolla) terdiri dari sejumlah daun tajuk atau petal (petalum)
berwarna cerah. Hiasan bunga yang terdiri satu macam daun saja disebut
tenda bunga (perigonium) dan setiap helai daun disebut tepal. Daun bunga
yag akan menghasilkan sel kelamin jantan adalah benangsari (stamen),
seluruh benangsari disebut andresium dan bagian bunga yang disebut putik
(pistillum) yag tersusun oleh daun buah (carpellum) akan menghasilkan sel
kelamin betina, keseluruhan putik disebut ginesium. (Hidayat, 1994)

Setiap organ bunga tersusun atas beberapa sel. Pada kelopak (calyx),
Sepalum pada umumnya berwarna hijau dan memiliki struktur anatomi
sebagai berikut: bagian terluar dibatasi oleh epidermis atas dan bawah, di
antara keduanya terdapat sel-sel parenkimatis. Mahkota (corolla), struktur
anatomi dari petalum juga mirip dengan daun tetapi warnanya ditentukan
oleh kandungan pigmen yang terdapat di dalam sel-sel epidermis.
Benangsari, Lapisan terluar kepala sari disebut eksotesium, diikuti oleh
endotesium, lapisan tengah, dan tapetum. Lapisan-lapisan tersebut
membatasi ruang sari. Tapetum berfungsi memberi makan jaringan
sporogen, mempengaruhi perkembangan polen. Polen, Dinding luar polen
terdiri dari 2 lapis, dinding luar yang terdiri dari kutin yang strukturnya
kasar disebut eksin dan dinding dalam yang tipis terdiri dari pektin dan
selulosa disebut intin. Putik disusun dari 1 atau lebih daun buah (karpela).
Setiap karpela terdiri dari 3 bagian yang disebut dengan kepala putik
(stigma), tangkai kepala putik (stilus), dan bakal buah (ovarium). (Abdillah,
2012)
Pada putik terdapat bakal buah (ovarium) yang nantinya akan
berkembang menjadi buah setelah terjadi pembuahan yaitu meleburnya inti
generatif dengan inti sel telur. Struktur buah turut menentukan penyebaran
bijinya, serta merupakan ciri yang amat bermanfaat dalam klasifikasi
tumbuhan. (Hidayat, 1994)

Berdasarkan uraian diatas, penulis ingin mengetahui struktur


morfologi dan anatomi dari Bunga Karamunting (Melastoma
malabathrium) dan struktur dari buah mengkudu (Morinda citrifolia) yang
berada disekitar Universitas Negeri Malang. Objek yang digunakan berbeda
karena pada Bunga Karamunting (Melastoma malabathrium) belum ada
tanda-tanda pembentukan buah.

Rumusan Masalah

1. Bagaimana struktur morfologi Bunga Karamunting (Melastoma


malabathricum) ?
2. Bagaimana struktur anatomi Bunga Karamunting (Melastoma
malabathricum) ?
3. Bagaimana struktur mengkudu (Morinda citrifolia)?

Tujuan
1. Mengidentifikasi dan mendeskripsikan struktur morfologi Bunga
Karamunting (Melastoma malabathricum).
2. Untuk mengetahui struktur anatomi Bunga Karamunting
(Melastoma malabathricum).
3. Untuk mengetahui struktur Buah mengkudu (Morinda citrifolia)
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

BUNGA

A. Morfologi Bunga
Jika memerhatikan susunan suatu bunga, mudahlah diketahui
bahwa bunga adalah penjelmaan suatu tunas (batang dan daun daun) yang
bentuk, warna, dan susunannya disesuaikan dengan kepentingan tumbuhan,
sehingga pada bunga dapat berlangsung penyerbukan dan pembuahan, dan
akhirnya dapat dihasilkan alat alat perkembangbiakan. Tunas yang
mengalami perubahan bentuk menjadi bunga biasanya batangnya lalu
berhenti pertumbuhannya, contohnya tangkai dan dasar bunga, sedang daun-
daunnya sebagian tetap bersifat seperti daun, hanya bentuk dan warnanya
saja yang berubah, dan sebagian lagi mengalami metamorfosis menjadi
bagian bagian yang memainkan peranan dalam dalam peristiwa
peristiwa yang akhirnya akan menghasilkan calon individu baru.
Berhubungan dengan berhentinya pertumbuhan batang, maka ruas ruas
menjadi amat pendek, sehingga bagian bunga yang merupakan
metamorfosis daunnya tersusun amat rapat satu sama lain, bahkan biasanya
bagian bagian tadi tampaknya seakan akan tersusun dalam lingkaran
lingkaran (Tjitrosoepomo, 1985). Berdasarkan susunan dan bagian- bagian
bunga dibedakan:
a. Bunga yang bagian bagiannya tersusun menurut garis spiral
(acyclis).
b. Bunga yang bagian bagiannya tersusun dalam lingkaran
lingkaran (cyclis).
c. Bunga yang sebagian bagian bagiannya duduk dalam lingkaran,
dan sebagian lain terpancar atau menurut garis spiral (hemicyclis).

Jumlah Bunga dan Tata Letaknya pada Suatu Tumbuhan

Menurut Tjitrosoepomo (1985) Pada suatu tumbuhan, ada kalanya


hanya terdapat satu bunga saja,t etapi umumnya pada suatu tumbuhan dapat
ditemukan banyak bunga.tumbuhan yang hanya menghasilkan satu bunga
saja biasanya bunga itu terdapat pada ujung batang, jika bunganya
banyak,dapat sebagian bunga bunga tadi terdapat dalam ketiak katiak
daun dan sebagian pada ujung batang batang atau cabang- cabang. Jadi
menurut tempatnya pada tumbuhan, kita dapat membedakan:

a. Bunga pada ujung batang (flos terminalis)


b. Bunga di ketiak daun (flos lateralis atau flos axillaris)

Menurut Hidayat (1994) Sehubungan dengan posisi bunga terhadap


bunga lain dibedakan tiga macam yaitu:
a. Bunga terletak tersebar dan terdapat sendiri-sendiri (flores sparsi).
b. Tumbuhan hanya membenuk satu kuntum bunga (planta uniflora).
c. Berkumpul membentuk suatu rangkaian dengan susunan yang
beraneka ragam (bunga majemuk atau inflorescentia).

Berbagai tipe perbungaan

Menurut Tjitrosoepomo (1985) perbungaan (bunga majemuk)


dibedakan tiga kelompok yaitu :
a. Bunga majemuk tak terbatas (inflorecentia racamosa) yaitu bunga
majemuk yang ibu tangkainya dapat tumbuh. Bunga bunga pada
buna majemuk ini mekar berturt turut dari bawah ke atas.
b. Bunga majemuk berbatas (inflorescentia cymosa) yaitu bunga
majemuk yang ujung ibu tangkainya selalu ditutup dengan suatu
bunga, jadi ibu tangkai mempunyai pertubuhan yang terbatas. Ibu
tangkai ini dapat pula bercabang cabang, dan cabang cabang tadi
seperti ibu tangkainya juga selalu mendukung suatu bunga pada
ujungnya. Pada bunga majemuk yang berbatas bunga yang mekar
dulu ialah bunga yang terdapat di sumbu pokokatau ibutangkainya
c. Bunga campuran (inflorescentia mixta), yaitu bunga majemuk yang
memperlihatkan baik sifat sifat bunga majemuk terbatas maupun
sifat buga majemuk tak terbatas.

Perbungaan rasemosa
Menurut Hidayat (1994) perbungaan rasemosa dibedakan antara
sumbu utama yang tak bercabang serta yang bercabang.
a. Sumbu utama yang tak bercabang
Tandan adalah perbungaan yang terdiri dari sumbu utama yang
panjang dengan kuntum bunga bertangkai melekat padanya.
Bulir adalah bunga duduk pada sumbu yang panjang.
Untai merupakan bulir dengan bunga uniseksual yaitu bunga yang
memiliki benang sari saja pada bunga jantan atau putik saja pada
bunga betina.
Tongkol adalah bulir yang memiliki tangkai dan rakis tebal dan
berdaging.
Cawan memiliki dasar perbungaan yang lebar dan datar seperti
cawan. Dapat dibedakan menjadi bunga tepi, ditepi perbungaan dan
bunga tabung yang terdapat di tengah cawan. Bunga tabung
memiliki benang sari dan putik, sehingga dapat menghasilkan buah.
Payung adalah perbungaan dengan sumbu utama amat pendek dan
tangkai bunga sama panjang melekat pada ujung sumbu utama.
Gundung adalah serupa tandan, tetapi dengan semua kuntum bunga
berada pada bidang datar yang sama, hal ini karena tangkai bunga
tidak sama panjang.
Bonggol. Pada perbungaan ini sumbu utama bersama amat pendek
dan baisanya melebar dan menebal, Kuntum bunga bersama
membentuk kesatuan yang berbentuk bola atau sedikit memanjang.
Bunga periuk terjadi bila dasar bunga berdaging serta berongga,
tanpa daun pembalut. Dalam rongga itu terdapat kuntum bunga,
sehingga tidak terlihat dari luar
Gmbar..

b. Sumbu utama bercabang sekali atau berulang kali

Malai. Sumbu utama bercabang berulang kali. Cabang-cabang di


sebelah bawah lebih panjang dan lebih banyak mengalami
percabangan dibanding cabang dibagian atas sumbu.
Malai rata. Cabang paling bawah lebih panjang dari cabang yang
berada diatas sehingga semua bunga berada pada bidang sama yang
rata.
Perbungaan dengan pola dasar berulang atau majemuk, seperti
payung majemuk, bulir majemuk dan tongkol majemuk.
Gambar..
Perbungaan samosa
Menurut Hidayat (1994) merupakan Perbungaan simpodial, bunga
mekar dari tengah ke tepi, atau dari atas kebawah. Perbungaan ini dapat
dibedakan menjadi 3 macam, yaitu :
Pleiokasium atau anak payung bercabang banyak
Dikasium atau anak payung menggarpu bercabang dua
Monokasium atau anak payung menggarpu bercabang satu
Bunga sekrup (bostrys)
Bunga tangga (cincinus)
Sabit (drepanium)
Kipas (rhipidium)
Gambar ..
Sifat Bunga
Menurut Hidayat (1994) sifat bunga berdasarkan :
a. Kelengkapan daun bunga dibedakan :
Bunga lengkap jika kelopak tajuk, benang sari dan putik semua
ditemukan pada bunga.
Bunga tak lengkap jika salah satu bagian bunga atau lebih tidak
ditemukan.
b. Kelengkapan alat kelamin
Bunga berkelamin dua, bunga banci yaitu kedua alat kelamin
ditemukan pada satu bunga.
Bunga berkelamin satu dapat dibedakan menjadi :
-Bunga jantan dengan hanya benangsari seperti pada pepaya
-Bunga betina yaitu bunga tanpa benangsari dan yang ada hanya
putik seperti pepaya betina
-Bunga tak berkelamin yaitu bunga tanpa benangsari atatupun
putik seperti pada bunga pita.
c. Berdasarkan variasi bunga pada tumbuhan
Berumah satu yaitu bunga jantan maupun bunga betina terdapat
pada tanaman yang sama.
Berumah dua yaitu bunga jantan dan bunga betina masing-
masing terdapat pada tanaman yang berlainan namun dalam jenis
yang sama.
Tumbuhan poligami yaitu pada satu tumbuhan terdapat bunga
jantan, bunga betina dan bunga banci secara bersama.

Diagram bunga dan rumus bunga


Menurut Hidayat (1994) Diagram bunga merupakan alat bantu yang
amat penting. Diagram adalah gambar proyeksi bunga pada bidang datar
yang letaknya tegaklurus terhadap sumbu bunga. Bagian bunga dinyatakan
dengan tanda sebagai berikut:
a. Hiasan bunga dinyatakan dalam bentum sabit
b. Benangsari dengan elips atau gambar penampang melintang
kepalasari.
c. Putik dengan penampang melintang melalu bakal buah dan
tempatnya dibagian paling dalam
d. Brakte atau brakteola digambar seperti sabit kecil
e. Bagian belakang tempat bunga muncul dinyatakan dalam lingkaran
kecil.

Menurut Rosanti (2013), secara berturut-turut,


pembuatan rumus bunga adalah sebagai berikut:
a. Kelamin bunga
Jika bunga tersebut memiliki putik sekaligus
benang sari maka bunga tersebut termasuk bunga
banci (hemaphrodite) dilambangkan dengan , jika
bunga tersebut hanya memiliki putik maka bunga
tersebut termasuk bunga betina, dilambangkan
dengan . jika bunga hanya memiliki benang sari
saja maka disebut bunga jantan, dilambangkan
dengan .
b. Menentukan Simetri Bunga
Menurut (Tjitrosomo, 1985) macam-macam simetri
pada bunga yaitu:
Asimetris atau tidak simetris, jika pada bunga tidak
dapat dibuat satu bidang simetri dengan jalan
apapun juga.
Setangkup tunggal (monosimetris ), jika pada
bunga hanya dapat di buat satu bidang simetri saja
yang membagi bunga tadi menjadi dua bagian
yang setangkup. Sifat ini biasanya ditunjukkan
dengan lambang (anak panah).
Beraturan atau bersimetri banyak (polysimetris)
yaitu jika dapat dibuat banyak bidang simetri untuk
membagi bunga itu dalam dua bagiannya yang
setangkup, ditunjukkan dengan lambang *
(bintang).
c. Menghitung bagian bunga
Kelopak, yang dinyatakan dengan huruf K singkatan
kata kalix (calix), yang merupakan istilah ilmiah untuk kelopak.
Tajuk atau mahkota, yang dinyatakan dengan huruf C singkatan
kata corolla (istilah untuk mahkota bunga).
Benang-benang sari yang dinyatakan dengan huruf A singkatan
kata androecium (istilah ilmiah untuk alat-alat jantan pada
bunga).
Putik yang dinyatakan dengan huruf G singakatan
kata gymnaecium (istilah untuk alat betina pada bunga).

Tata letak daun dalam bunga


Menurut Hidayat (1994) tata letak daun dalam bunga dibedakan
menjadi :
a. Siklik yaitu daun bunga semua dalam karanan (lingkaran).
b. Asiklis yaitu daun bunga dalam spiral.
c. Hemisiklis yaitu sebagian daun bunga tersusun dalam lingkaran
namun yang lain tidak.

Bagian Bunga
a. Dasar Bunga
Menurut Tjitrosoepomo (1985) dasar bunga biasanya menebal
atau melebar dan memperlihatkan bermacam-macam bentuk,
misalnya:
Rata, hingga semua bagian duduk sama tinggi diatas dasar
bunga, berturut-turut dari luar ke dalam
Seperti cawan, daun-daun kelopak dan tajuk bunga duduknya
seakan-akan pada tepi bangunan seperti cawan tadi, sedang putik
ditengah pada bagian dasar bunga yang lebih rendah letaknya
dari pada tempat duduknya kelopak dan tajuk bunga.
Bentuk mangkuk, juga dalam hal ini kelopak dan tajuk bunga
lebih tinggi letaknya dari pada putik. Bakal buahnya terletak di
bagian dasar bunga yang legok dan sebagian bakal buah
berlekatan dengan pinggir dasar bunga.
Menyerupai kerucut, hingga putik yang ada di tengah-tengah
duduknya paling tinngi, juga disini duduknya bakal buah
dikatakan menumpang (superius).

b. Kelopak
Menurut Tjitrosoepomo (1985) Kelopak tersusun atas bagian-
bagian yang dinamakan daun kelopak (sepal). Pada bunga daun-
daun kelopak mempunyai sifat yang berbeda-beda.
Berlekatan , menurut banyak sedikitnya bagian yang berlekatan
(panjang pendeknya pancung-pancung di bagian atas kelopak)
dibedakan 3 macam kelopak yaitu:
- Berbagi jika hanya bagian kecil daun-daun saja berlekatan ,
pancung-pancungannya panjang lebih dari separoh panjang
kelopak.
- Bercanggap jika bagian yang brelekatan kira-kira meliputi
separoh panjangnya kelopak, jadi kira-kira pancung-pancungnya
separohnya.
- Berlekuk jika bagian yang berlekatan melebihi separoh panjang
kelopak, jadi pancung-pancungnya pendek saja.
Lepas atau bebas jika daun-daun kelopak yang satu dengan yang
lainnya benar terpisah-pisah tidak berlekatan.

c. Mahkota (tajuk)
Menurut Tjitrosoepomo (1985) Mahkota tersusun atas bagian-
bagian yang dinamakan daun mahlota (petal). Seperti pada kelopak
mahkota juga mempunyai sifat yang berbeda-beda:
Berlekatan dapat dibedakan menjadi 3 bagian :
- Tabung atau buluh tajuk.
- Pinggiran tajuk.
- Leher tajuk.
Lepas atau bebas, Jika daun tajuk terpisah-pisah, dan dapat di
bedakan menjadi:
- Kuku daun tajuk ialah bagian yang tidak lebar seringkali
menebal dari yang lainnya.
- Helaian daun tajuk yaitu bagian leher dan biasanya tipis.
Daun daun tajuk tidak ada sangat kecil sehingga tidak tertarik
perhatian.

d. Benang sari (stamen)


Menurut Tjitrosoepomo (1985) benangsari dapat dibagi menjadi
3 bagian yaitu:
Tangkai sari yaitu bagian yang bentuknya seperti benang dengan
penampang melntang yang umumnya berbentuk bulat.
Kepala sari(anthera), bagian yang berada di ujung.
Penghubung ruang sari merupakan bagian lanjutan tangkai sari.

Ada 3 macam duduknya benang sari:


Benang sari jelas duduk pada dasar bunga.
Benang sari tampak seperti duduk diatas kelopak.
Benang sari tampak seperti duduk diatas mahkota.

Gambar. letak duduknya benangsari (Tjitrosoepomo, 1985)

Berdasarkan jumlahnya benang sari dapat digolongakan menjadi


3 yaitu:
Benang sari banyak , jika terdapat 20 benang sari
Benang sari 2x lipat jumlah daun tajuknya . ada 2 kemungkinan
mengenai duduk benang sari terhadap tajuk yaitu
`Diplostemon yaitu benang-benang sari tersusun dalam
lingkaran luar duduk berseling dengan daun-daun tajuk.
Obdiplastemon yaitu benang-benang sari tersusun dalam
lingkaran dalam duduk berseling dengan daun-daun tajuk
Benang sari sama banyak dengan daun tajuk atau kurang dapat di
bagi menjadi 2 yaitu:
Episepal yaitu benang sari berhadapan dengan daun-daun
kelopak.
Epipetal yaitu benang sari berhadapan dengan daun-daun
mahkota.

e. Putik
Menurut Tjitrosoepomo (1985) berdasarkan banyaknya daun
buah yang menyusun sebuah putik , putik dapat di bedakan dalam:

Putik tunggal (jika tersusun atas sehelai daun buah saja)


Putik majemuk ( terjadi dari dua daun buah atau lebih)

f. Bakal Buah (ovarium)


Menurut Tjitrosoepomo (1985) Bakal buah adalah bagian putik
yang membesar, dan biasanya terdapat di tengah tengah dasar
bunga. Dalam bakal buah terdapat calon biji atau bakal biji ( Ovulum
).bagian yang merupakan pendukung bakal biji disebut tembuni.
Menurut letaknya terhadap dasar bunga kita membedakan :
Bakal buah menumpang ( superus ), yaitu jika bakal buah duduk
diatas dasar bunga sedemikian rupa, sehingga bakal buah tadi
lebih tinggi, sama tinggi atau bahkan mungkin lebih rendah dari
pada tepi dasar bunga, tetapi bagian samping bakal buah tidak
pernah berlekatan dengan dasar bunga.
Bakal buah setengah tenggelam ( hemi inferus ), yaitu jika bakal
buah duduk pada dasar bunga yang cekung, jadi tempat duduk
bakal buah selalu lebih rendah dari pada tepi dasar bunga, dan
bagian dinding bakal buah itu berlekatan dengan dasar bunga
yang berbentuk mangkuk atau piala.
Bakal buah tenggelam ( inferus ), seperti pada b, tetapi seluruh
bagian samping bakal buah berlekatan dengan dasar bunga yang
berbentuk mangkuk atau piala tadi.
Gambar. duduknya bakal buah (Tjitrosoepomo, 1985)

Berdasarkan jumlah ruang yang terdapat dalam suatu bakal buah,


bakal buah dapat dibedakan dalam :
Bakal buah beruang satu ( unilicularis ), tersusun atas satu daun
buah saja.
Bakal buah beruang dua ( bilocularis ), tersusun atas dua daun
buah.
Bakal buah beruang tiga ( trilocuralis ) bakal buah ini terjadi dari
tiga daun buah yang tepinya melipat kedalam dan berlekatan
sehingga terbentuklah bakal buah dengan tiga sekat.
Bakal buah beruang banyak ( multilocularis ), yaitu bakal buah
yang tersusun atas banyak daun buah yang berlekatan dan
membentuk banyak sekat, dan dengan demikian terjadilah
banyak ruang ruang.

g. Tembuni (plasenta)
Menurut Tjitrosoepomo (1985) Bagian bakal buah yang
menjadi pendukung bakal biji atau menjadi tempat duduknya bakal
biji dinamakan tembuni ( Placenta ).
Menurut letaknya tembuni dibedakan dalam :
Marginal ( Marginalis ), jika letaknya pada tepi daun buah.
Laminal ( Laminalis ), bila telaknya pada helaian daun buah.
Untuk bakal buah yang hanya terdiri atas satu ruang , maka
kemungkinan letak tembuninya adalah :
Pariental ( Parientalis ), yaitu pada bakal bakal buah yang jika
diperhatikan pula bagaimana letaknya pada daun buah dapat di
bedakan lagi dalam dua macam :
-- Pada dinding di tepi daun buah ( parientalis-marginalis)
- Pada dinding di helaian daun buah ( parientalis-laminalis)
Sentral ( centralis atau axilis ), yaitu di pusat atau diporos, bila
tembuni terdapat ditengah- tengah rongga bakal buah yang beruang
satu.
Aksilar ( axillaris ), yaitu di sudut tengah, bila tembuni terdapat
pada bakal buah yang beruang lebih dari pada dua dan tembuni tadi
terdapat dalam sudut pertemuan daun daun buah yang melipat
kedalam dan merupakan sekat sekat bakal buah
Gambar..

B. Anatomi Bunga
Menurut Abdillah (2012) Struktur anatomi dari bagian-bagian
bunga:
Struktur Anatomi kelopak (Calyx)
Calyx terdiri dari beberapa sepalum yang kedudukannya paling luar.
Sepala dapat saling berlekatan bahkan ada yang berbentuk tabung bagian
bawah bersatu dan bagian atas terpisah, ada pula yang saling terlepas
sehingga tampak satu-persatu. Sepalum pada umumnya berwarna hijau dan
memiliki struktur anatomi sebagai berikut: bagian terluar dibatasi oleh
epidermis atas dan bawah, di antara keduanya terdapat sel-sel parenkimatis.
Idioblas berupa sel minyak, kristal, dan lendir ditemukan dalam jaringan
parenkima sepalum. Berkas pengangkut yang terdapat dalam sepala bertipe
kolateral tetapi berukuran kecil-kecil. Tipe berkas pengangkut konsentris
memiliki kedudukan xilem dan floem sering berubah-ubah sehingga dari
yang bertipe konsentris amfivasal menjadi amfikribal. Berkas pengangkut
tersusun dalam satu garis sehingga mirip dengan struktur anatomi daun.
Kloroplas yang berwarna hijau dapat ditemukan tersebar dalam sel-sel
parenkima sepalum. Perhiasan bunga pada beberapa tumbuhan tidak
terdiferensiasi sehingga kelopak dan mahkota tidak dapat dibedakan.
Perhiasan bunga, jika tidak berdiferensiasi menjadi kelopak dan
mahkota disebut dengan tenda bunga yang biasanya memiliki warna yang
beragam dan tidak berwarna hijau.

Struktur Anatomi mahkota (Corolla)


Corola terdiri dari beberapa petalum. Petalum biasanya berwarna
karena diperlukan untuk menarik agensia penyerbukan seperti serangga,
manusia, dan lain-lain. Struktur anatomi dari petalum juga mirip dengan
daun tetapi warnanya ditentukan oleh kandungan pigmen yang terdapat di
dalam sel-sel epidermis. Parenkima sepalum memiliki ruang antar sel yang
luas, dan mengandung idioblas yang berupa sel minyak, sel getah, sel lendir,
dan idioblas kristal yang berisi kristal kalsium oksalat. Pigmen dalam
mahkota bunga terdapat dalam vakuola atau plastida. Susunan berkas
pengangkut petalum sama dengan sepalum.. Epidermis yang menyusun
daun mahkota ada yang membentuk tonjolan-tonjolan yang disebut papila.
Papila menyebabkan sepalum terasa halus ketika diraba.

Struktur Anatomi Benang Sari


Lapisan terluar kepala sari disebut eksotesium, diikuti oleh
endotesium, lapisan tengah, dan tapetum. Lapisan-lapisan tersebut
membatasi ruang sari. Eksotesium kadangkadang berlignin atau berkutin
sehingga kaku. Sel induk mikrospora terdapat di dalam lokulus yang
dikelilingi oleh tapetum. Endotesium dari benang sari masih mengalami
penebalan sehingga disebut juga dengan lamina fibrosa. Dinding sel
endotesium memanjang secara radial dan membentuk dinding tangensial
dalam, pita serabut berkembang ke atas dan ujung yang dekat dengan
dinding sel luar setiap sel. Perkembangan pita-pita serabut menyebabkan
endotesium bersifat higroskopik oleh karena itu endotesium berperan dalam
pembukaan anthera yang masak. Sel-sel endotesium yang berdinding tipis
terdapat di sepanjang daerah pembukaan kepala sari.
Daerah tempat membukanya kepala sari disebut stomium.
Pembukaan anther disebabkan karena hilangnya kadar air dari sel-sel
endotesium yang berdinding tebal yang menyebabkan endotesium yang
berdinding tipis robek sehingga ruang sari terbuka. Lapisan terdalam dari
dinding kepala sari berkembang menjadi satu lapis tapetum. Sel tapetal
memiliki sitoplasma yang penuh dan inti yang nyata. Inti sel tapetum
mungkin membelah sekali atau lebih kemudian bersatu sehingga terbentuk
poliploidi. Tapetum berfungsi memberi makan jaringan sporogen,
mempengaruhi perkembangan polen, dan memberi ornamen pada dinding
polen. Tapetum ada 2 macam meliputi tapetum sekretorik dan amoeboid.
Tapetum sekretorik mengeluarkan zat-zat ke ruang polen, dan sel-selnya
tetap utuh. Tapetum amoeboid, sel-sel nya mengalami disintegrasi, isi selnya
keluar berada di sekeliling mikrospora dan polen.

Struktur anatomi polen


Dinding luar polen terdiri dari 2 lapis, dinding luar yang terdiri dari
kutin yang strukturnya kasar disebut eksin dan dinding dalam yang tipis
terdiri dari pektin dan selulosa disebut intin. Polen berdasarkan ornamen
dari dinding eksin dibedakan menjadi psilate yang eksinnya rata (psilate).
Polen memiliki celah sebagai tempat keluarnya buluh serbuk. Celah polen
ada yang sederhana dan kompleks. Celah yang panjang disebut kolpi sedang
celah yang pendek dan bulat disebut porus. Tipe polen berdasar bentuk
celahnya dibedakan menjadi 4 yaitu monocolpate, tricolpate, colporate dan
triporate.
Polen kelompok tumbuhan Monokotil umumnya memiliki satu celah
panjang (monocolpate) sedang pada Dikotil terdapat tiga celah panjang
(tricolpate). Celah yang kompleks, pada daerah sentral terdapat porus dan di
daerah luar ada celah panjangnya, disebut colporate. Setiap polen memiliki
2 kutub yang berlawanan, sisi proksimal terdapat di tengah permukaan yang
dekat dengan sumbu sedang sisi distal terdapat di tengah permukaan yang
jauh terhadap pusat tetrad. Ukuran polen bervariasi antara 10 mikron sampai
lebih dari 200 mikron.
Struktur anatomi putik
Putik merupakan alat reproduksi betina pada bunga. Putik disusun
dari 1 atau lebih daun buah (karpela). Karpela merupakan modifikasi daun-
daun yang membawa ovulum yang disebut juga dengan megasporofil. Putik
yang sederhana hanya terdiri satu karpelum saja dan putik yang kompleks
terdiri dari 2 atau lebih karpela. Masing-masing karpela dapat terlepas satu
sama lain yang disebut apriocarpous atau melekat satu sama lain disebut
sincarpus. Setiap karpela terdiri dari 3 bagian yang disebut dengan kepala
putik (stigma), tangkai kepala putik (stilus), dan bakal buah (ovarium).
Stigma merupakan bagian bunga yang menerima polen sehingga memiliki
struktur yang berbagai macam.
Stilus ada yang masif dan berongga, dan ovarium ada yang bersekat
dan ada yang tidak bersekat. Sekat yang berasal dari karpelum disebut
septum komplektus atau sekat asli sedang septum yang berasal dari
perluasan karpelum disebut septum inkomplektus atau semu. Ovarium dapat
terdiri dari satu daun buah atau lebih yang membentuk satu ruangan atau
lebih. Buluh serbuk yang masuk melalui stilus yang berongga melewati
dinding dalam stilus sedang pada stilus yang kompak buluh serbuk
menerobos ruang antar sel untuk menuju ke mikropil. Tipe berkas
pengangkut dalam stilus mungkin sama atau terbalik, misalnya pada
tumbuhan yang memiliki berkas pengangkut konsentris amfivasal di dalam
batang dapat berubah menjadi konsentris amfikribal dalam stilus.
Lapis bagian terluar struktur anatomi ovarium disusun oleh
epidermis yang terdiri dari satu lapis, disusul oleh beberapa sel parenkimatis
yang di dalamnya terdapat idioblas minyak, kristal, lendir, dan getah. Di
dalam dinding karpelum ditemukan ruang ovarium yang berisi ovulum.

BUAH

Jka penyerbukan pada bunga telah terjadi dan kemudian diikuti pula
oleh pembuahan, maka bakal buah akan tumbuh menjadi buah, dan bakal
biji yang terdapat dalam bakal buah akan tumbuh menjadi biji.
(Tjitrosoepomo, 1985).

Ikhtisar tentang buah

Menurut Tjitrosoepomo (1985) buah pada tumbuhan umumnya


dapat dibedaan menjadi dua golongan, yaitu:

a. Buah semu atau buah tertutup, yaitu jika buah itu terbentuk dari
bakal buah beserta bagian-bagian lain pada bunga itu, yang malahan
menjadi bagian utama dari bunga ini, sedang buah yang
sesungguhnya kadang-kadang sembunyi. Adapun bagian-bagian
bunga yang seringkali ikut tumbuh dan menyebabkan terjadinya
buah semu, misalnya :
Tangkai bunga, dimana tangkai bunga menjadi besar, tebal,
berdaging dan merupakan bagian buah yang dapat dimakan pula,
sedangkan buah yang sesungguhnya lebih kecil, berkulit keras
terdapat pada ujung bagian yang membesar ini. Contohny pada
jambu mete
Dasar bunga bersama, biasa pada suatu bunga majemuk. Dasar
bunga ini membesar dan membulat, tebal berdagin, menyelubungi
sejumlah besar buah-buahan yang sesungguhnya, yang tidak tampak
dari luar. Bagian ini juga seringkali dimana. Contoh pada buah Lo
Dasar bunga, biasanya ada bunga tunggal. Dasar bunga yang
akemudia menjadi berdaging tebal dan merupakan bagian yang
dapat dimakan. Contoh pada buah arbe
Kelopak bunga, kelopak terus menjadi badan yang menyelubungi
buah yang sebenarnya. Contoh pada buah ciplukan
Tenda bunha dan ibu tangkai, biasanya pada bunga majemuk. Ibu
tangkai ung dan semua tenda bunga majemuk ini akhirnya tumbuh
sedemikian rup, sehingga seluruh perbungaan seakan hanya menjadi
satu buah saja. Cotohnya apda buah nangka.
b. Buah sejati atau buah telanjang, yang melulu terjadi dari bakal buah
dan jika ada bagian bunga lainnya yang masih tinggal pada bagian
ini tidak merupakan bagian buah yang berarti.

Penggolongan Buah Semu


Menurut Tjitrosoepomo (1985) buah semu dapat dibedakan dalam:
a. Buah semu tunggal, yaitu buah semu yang terjadi dari satu bunga
dengan satu bakal buah. Pada bunga ini selain bakal buah ada bagian
lain bunga yang ikut membentuk buah.
b. Buah semu ganda, jika pada satu bunga terdapat lebih daripada
daripada satu bakal buah yang bebas satu sama lain dan kemudian
masng-masing dapat tumbuh menjadi buah.
c. Buah semu majemuk, yaitu buah semu yang terjadi dari
bungamajemuk, tapi seluruhnya dari luar tampak seperti buah saja.
Pnggolongan Bunga Sungguh (Buah Sejati)

Menurut Tjitrosoepomo (1985) buah sejati dapat dibedakan dalam 3


golongan:
a. Buah sejati tunggal, ialah buah sejati yang terjadi dari satu bunga
dengan satu bakal buah saja. Buah ini dapat berisi satu biji atau
lebih, dapat pula tersusun dari satu atau nanuak daun buah dengan
satu atau banyak ruangan.
b. Buah sejati ganda, yang terjadi dari satu buga dengan beberapa bakal
buah yang bebeas satu sama lain, dan masing-masing bakal buah
menjadi satu buah.
c. Buah sejati majemuk, yaitu buahg yan berasal dari suatu bunga
majemuk, yang masing-masing bunganya mendukung satu bakal
buahm tetapi setelah menjadi buah tetap berkumpul, sehinga
seluruhnya tampak seperti satu buah saja.

Buah Sejati Tunggal


Menurut Tjitrosoepomo (1985) buah sejati tunggal dapat dibedakan
lagi dalam dua golongan , yaitu :
a. Buah sejati tunggal yang kering yaitu buah sejati tungga yang bagian
luarnya keras dan mengayu seperti kulit yang kering.
b. Buah sejati tunggal yang berdaging, ialah jika dinding buahnya
menjadi tebal dan berdaging. Dinding (pericarpium) seringkali
dengan jelas dibedakan dalam tiga lapisan yaitu :
Kulit luar (epicarpium), merupakan lapisan tipis, tetapi seringkali
kuat atau kaku seperti kulit, dengan permukaan yang licin.
Kulit tengah (mesocarpium) biasanya tebal berdaging atau
berserabut dan jika lapisan ini dapat dimakan, maka lapisan inilah
yang dinamakan daging buah (sarcocarpium).
Kulit luar (endocarpium), yang berbatasan dengan ruang yang
mengandung bijinya, seringkali cukup tebal dank eras.

Ikhtisar Buah Sejati Tunggal yang Kering


Menurut Tjitrosoepomo (1985), Bunga sejati tunggal yang kering
dapat dibedakan lagi dalam:
a. Bunga sejati tunggal kering yang hanya mengandung satu biji,
biasanya buah ini kalau masak tidak pecah (indehiscens).
Buah padi (caryopsis), yang dinamakan buah padi adalah buah
berdinding tipis, mengandung satu biji dan kulit buah berlekatan
dengan kulit biji, sedang kulit biji ini kadang-kadang berlekatan pula
dengan bijinya.
Buah kurung (achenium), yaitu buah berbiji satu, tidak pecah,
dinding buahnya tipis, berdampingan dengan kulit biji, tetapi tidak
berlekatan.
Buah keras (nux), seperti buah kurung, yang seringkali hanya
dibedakan dari buah kurung karena buah ini mempunyai kulit buah
yang kaku atau keras berkayu. Ada pula yang membedakan dengan
buah kurung menurut sifat bakal buah asalnya, kalau semula berasal
dari bakal buah yang beruang banyak tetapi kemudian semua ruang
lebur menjadi satu disebut buah keras.
Buah keras bersayap (samara), seperti buah keras, tetapi pada kulit
buah terdapat suatu alat tambahan berupa saya, yang menyebabkan
buah dapat berterbangan jika tertiup angin.
b. Buah sejati tunggal kering yang mengandung banyak (leboh dari
satu) biji, dan jika masak dapat dipecah menjadi beberapa bagian
buah (mericarpia) atau pecah sedemikian rupa hingga biji terlepas
(dapat meninggalkan buahnya).
Buah berbelah (schiwcarpium, Buah ini mempunyai dua ruang atau
lebih, tiap ruang berisi satu biji. Jika buah masak, buah pecah
menjadi beberapa bagian dan tiap bagian buah empunyai sifat
seperti suatu buah kurung atau buah keras, jadi biji tetap dalam
ruangan, tidak dapat keluar. Mengingat jumlahnya ruangan (jika
dipevah menjadi beberapa bagian buah), buah terbelah dapat
dibedakan lagi dalam:
Buah berbelah dua (diachenium), jika masak menjadi dua
bagian buah, masing-masig bersifat sebagai suatu buah
kurung yang hanya mengandung satu biji didalamnya.
Buah berbelah tiga (triachenium), jika masak pecah menjadi
tiga bagian buah saja.
Buah berbelah empat (tetrachenium), kalau masak pecah
menjadi empat bagian buah.
Buah berbelah banyak (polychenium), jika masak pecah
menjadi sejumlah (banyak ) baguan buah, yang amsing-
masing bersifat seperti buah kurung.
Buah kendaga (rhegma). Buah ini mempunyai sifat seperti buah
berbelah, tetapi tiap bagian buah kemudian pecah lagi, sehingga
dengan itu biji dapat terlepas dari biliknya. Tiap bagian buah
terbentuk dari sehelai daun buah, jadi buah ini tersusun atas
sejumlah daun bua yang sesuai dengan jumlah ruangan (kendaga)
yang terdapat dalam buah itu. Menurut kendaganya buah ini dapat
dibedakan lagi dalam:
Buah berkendaga dua (dicoccus). Buah ini jika masak pecah
menjadi dua bagian buah, masing-masing pecah lagi dan
mengeluarkan satu biji
Buah berkendaga tiga (tricoccus), kalau masak pecah
menjadi tiga bagian, masing-masing pecah dan
mengeluarkan satu biji.
Buah berkendaga lima (pentacoccus), seperti diatas dengan
lima bagian bua, masing-masing satu biji.
Buah berkendaga banyak (polycoccus), jika bah mempunyai
sifat-sifat seperti diatas, tetapi jika masak dapat menjadi
beberapa bagian buah, masing-masing dengan satu biji yang
dapat dikeluarkan.
Buah kotak yaitu suatu buah kering sejati tunggal yang
mengandung banya biji, terdiri atas satu atau beberapa daun buah,
jika masak lalu pecah, tetapi kulit buah yang pecah itu sampai
lama melekat pada tangkai buah. Buah kotak dapat dibedakan
dalam:
Buah bumbu (follicus), buah ini tersusun atas sehelai daun
buah, mempunyai satu ruang dengan banyak biji
didalamnya, jarang sekali hanya mempunyai satu biji. Jika
sudah masak, buah pecah , menurut salah satu kampuhnya,
biasanya pecah menurut kampuh perutnya.
Buah polong (legume), Buah ini terbentu dari satu daun
buah pula dan mempunyai satu ruangan atau lebih (karena
adanya sekat-sekat semu). Jika sudah masak, buah iniBuah
polong yang sifatnya menyimpang dari kedua tipe diatas,
yaitu:

a) Buah masak di dalam tanah dan apabila sudah masak,


buah tidak pecah, misalnya kacang tanah (Arachis hypogaea
L).
b) Buah yang mempunyai kulit berdaging, apabila buah
masak, buah tidak akan pecah, misalnya buah asam
(Tamarindus indica L).
c) Buah yang mempunyai susunan seperti buah batu dengan
tiga lapisan kulit buah, hanya mempunyai satu ruang dan satu
biji, apabila buah sudah masak, buah tidak pecah, misalnya
pada buah pohon gayam (Inocarpus edulis Forst).
d). Buah lobak atau polong semu (Siliqua). Buah ini
tersusun atas dua daun buah, mempunyai satu ruangan
dengan dua tembuni pada perlekatan daun buahnya yang
dispisahkan oleh sekat semu. Buah dengan susunan seperti
ini umum terdapat pada warga suku Cruciferae atau sawi-
sawian (Brassicaceae).
Buah kotak sejati ( capsula ). Buah ini terjadi dari dari dua daun
buah atau lebih dan mempunyai ruangan yang jumlahnya sesuai
dengan banyaknya daun buah. Buah ini jika sudah masak juga
membuka, hingga biji yang ada di dalamnya dapat keluar.

Ikhtisar Buah Sejati Tunggal Berdaging

Buah yang termasuk golongan ini umumnya tidak pecah jika sudah
masak walaupun ada pula yang jika telah masak kemudian pecah, misalnya
buah Pala ( Myristica fragrans Houtt )

Kita membedakan buah sejati tunggal berdaging sebagai berikut.

Buah buni ( bacca ), yang disebut buah buni adalah buah dindingnya
mempunyai dua lapisan ialah lapisan luar yang tipis agak menjangat
atau kaku seperti kulit ( berulang ) dan lapisan dalam yang tebal, lunak
dan berair, seringkali dapat dimakan. Biji bijinya terdapat bebas dalam
bagian yang lunak itu. Buah buni dapat terjadi dari satu atau beberapa
ruang. Buah buni yang berdinding tebal dan dapat dimakan misalnya :
Buah papaya ( Carica papaya L. ), buah belimbing ( Averrhoa
carambola L. ), sawo manila ( Achras zapota L. ), dll.
Yang kulit buahnya tidak begitu tebal, seringkali mempunyai sifat agak
kaku seperti kulit, tidak lunak dan tidak berdaging, biji terdapat bebas
didalamnya, misalnya :
Buah duku ( Lansium domesticum Corr. ), buah rambutan ( Nephelium
lappaceum L. )
Dari buah ini dapa kita makan bukan kulit buah yang sebelah dalam,
melainkan salut bijinya ( arillus )
Buah Mentimun ( pepo ). Buah ini ditinjau dari sudut susunannya tidak
jauh berbeda dengan buah buni. Biasanya kulit buah yang dibagian luar
lebih tebal dan kaku , ruangan buah selain berisi biji biji dalam jumlah
yang besar masih mempunyain bagian yang kosong.
Buah ini terjadi dari tiga daun buah yang tepinya melipat ke dalam
dan merupakan sekat sekat sejati, tetapi ujung daun buah itu
melipat lagi ke arah dinding buah, sehingga ruang ruang yang
terjadi dari tengah tengah buah terbagi oleh sekat sekat yang
tidak sempurna. Dengan demikian masing masing terbagi dua lagi
oleh sekat yang tidak sempurna. Jika buah telah masak sekat sekat
lenyap, hingga buah hanya mempunyai satu ruangan saja dengan
rongga yang kosong di tengahnya.
Buah mentimun kita dapati pada jenis jenis tumbuhan yang
tergolong suku Cucurbitaceae; misalnya : mentimun sendiri (
Cucumis sativus L. ), waluh ( Cucurbita moschata Duch. ),
semangka ( Citrullus vulgaris Schrad. ), juga pada tumbuhan yang
tergolong suku dalam Passifloraceae, misalnya : markisah (
Passiflora quadrangularis L. ), buah negri ( Passiflora edulis
Sims. ), dll.
Buah jeruk ( hesperidium ). Buah ini dapat pula dianggap sebagai
suatu variasi buah buni. Kulit buah mempunyai 3 lapisan, yaitu :
- Lapisan luar yang kaku menjangat dan mengandung banyak
kelenjar atsiri., yang mula mula hijau, tetapi jika buah masak
warnanya berubah menjadi kuning atau jingga. Lapisan ini
disebut lapisan flavedo,
- Lapisan tengah yang seperti sepon, terdiri atas jaringan bunga
karang yang biasanya berwarna putih, dinamakan albedo.
- Dan kemudian suatu lapisan dalam yang bersekat - sekat hingga
membentuk beberapa ruangan. Dalam ruangan ruangan ini
terdapat gelembung gelembung yang berair dan bijinya
terdapat bebas, diantara gelembung gelembung ini.
Buah jeruk kita dapati pada semua angggota marga jeruk (
Citrus sp. ), misalnya jeruk besar ( Citrus maxima Merr. ),
jeruk keprok ( Citrus nobilis Lour. ), jeruk nipis ( Citrus
aurantifolia Swingle ), dan semua jeruk lainnya.
Buah batu ( drupa ). Buah ini mempunyai kulit buah yang terdiri atas
tiga lapisan kulit yaitu
- Kulit luar ( exocarpium atau epicarpium ), yang tipis menjangat,
biasanya licin mengkilat
- Kulit buah tengah ( mesocarpium ), yang tebal berdaging atau
berserabut , kalau berdaging seringkali dapat dimakan.
- Kulit dalam ( endocarpium ), yang cukup tebal, keras, dan
berkayu. Lapisan ini amat kuat dan kadang kadang amat keras
seperti batu, karena adanya lapisan inilah buah disebut buah
batu. Buah batu kita dapati pada pohon mangga ( Mangifera
indica L. ), yang kulit tengahnya tebal berdaging dan dapat
dimakan,
Buah delima. Kulit buah yang merupakan lapisan kaku seperti kulit
atau hampir mengayu, lapisan dalamnya tipis, licin. Buah ini
mempunyai beberapa ruaang dengan biji biji yang mempunyai
salut biji ( arillus ) bebas dalam ruang ruang tadi, misalnya pada
delima ( Punica granatum L. )
Buah apel ( pomum), seperti buah batu dengan kulit yang dalam
tipis, tetapi cukup kuat, seperti kulit, kulit tengah tebal, lunak dan
berair biasanya dapat dimakan. Buah ini mempunyai beberapa
ruangan, tiap ruang mengandung satu biji. Buah ini mempunyai
beberapa ruangan, tiap ruang mengandung satu biji. Buah yang
demikian terdapat pada pohon apel ( Pyrus malus L. ), pohon per (
Pyrus communis L. ).

Buah Sejat Ganda


Buah sejati ganda adalah buah yang terjadi dari satu bunga
dengan banyak bakal buah yang masing masing bebas, kemudian
tumbuh menjadi buah sejati, tetapi kesemuanya tetap berkumpul
pada satu tangkai.
Menurut sifat masing masing buah yang berkumpul tadi, buah
sejati ganda dapat dibedakan menjadi :
a. Buah kurung ganda, misalnya pada mawar ( Rossa hybrid
Hort. ). Dalam badan yang berasal dari dasar bunganya yang
berbentuk periuk terdapat banyak buah buah kurung.
b. Buah batu ganda. Pada jenis jenis rubus ( Rubus fraxinifolius
Poir. ) bunganya mempunyai banyak bakal buah, yang kemudian
masing masing tumbuh menjadi buah batu.
c. Buah bumbung ganda, berasal dari bunga dengan beberapa bakal
buah yang masing masing tumbuh menjadi buah bumbung,
terdapat pada pohon cempaka ( Michelia champaka L. ) .
d. Buah buni ganda, seperti di atas tetapi bakal buah berubah
menjadi buah buni, misalnya srikaya ( Annona squamosal L. ).

Buah Sejati Majemuk

Buah sejati majemuk berasal dari suatu bunga majemuk, jadi


merupakan kumpulan banyak buah, yang masing masing berasal
dari satu buah saja.

Sama halnya dengan buah sejati ganda kita dapat


membedakan :

a. Buah buni majemuk, jika bakal buah masing masing bunga


dalam bunga majemuk membentuk satu buah buni, seperti
terdapat misalnya nenas ( Ananas comous Merr.). pada
pembentukan buah ikut pula mengambil bagian daun daun
pelindung dan daun dau tenda bunga , sehingga
keseluruhannya nampak sebagai satu buah saja.
b. Buah batu minyak, yang misalnya terdapat pada pandan (
Pandanus tectorius Sol. ) pada pandan rangkaian bunga
betinanya setelah mengalami penyerbukan / pembuahan, berubah
menjadi buah batu majemuk, yang masih kelihatan sebelah
luarya, bahwa kelompokan batu itu adalah kumpulan buah.
Masing masing mempunyai kulit buah dengan tiga lapisan
seperti buah kelapa, yaitu dengan lapisan tengah yang
berserabut, hingga dapat terapung dan dapat dipencarkan oleh
air.
c. Buah kurung majemuk, terdapat misalnya pada bunga matahari
( Helianthus annuus L. ). Bunga tumbuhan ini merupakan bunga
majemuk yang terdiri atas bunga bunga mandul di tepi dan
bunga subur di tengah , dan karena tiap bunga yang subur di
tengah, dan karena tiap bunga yang subur itu setelah
penyerbukan / pembuahan berubah menjadi sebuah buah kurung,
maka seluruh bunga akan berubah menjadi suatu buah kurung
majemuk.

BIJI

Biji berkembang dari bakal biji (Ovule) yang telah dibuahi. Biji ini
merupakan alat perkembangbiakan yang utama pada tumbuhan berbiji,
karena biji mengandung calon tumbuhan baru atau disebut dengan lembaga.
Pada Angiospermae terjadi pembuahan ganda, dimana sel telur akan dibuahi
oleh sel sperma didalam kantung embrio dan akan menjadi zigot serta
terjadi juga pembuahan kedua oleh sel sperma lain dengan inti sekunder
yang ada ditengah kantung embrio dan akan berkembang menjadi
endosperm sekunder. Sedangkan pada Gymnospermae memiliki endosperm
primer yang berisi jaringan gametofit betina yang haploid dan berisi
cadangan makanan juga (Hidayat, 1994).

Awalnya biji duduk pada bentukan seperti tangkai atau papan yang
keluar dari tembuni (placenta). Bentukan itu sebagai pendukung biji, yang
disebut tali pusar dan bagian biji yang melekat dengan tali pusar diebut
pusar biji. Jika sudah matang secara fisiologis biji akan putus dengan tali
pusarnya, hal ini akan menyebabkan biji terlepas dari tembuni. Namun, pada
beberapa macam tumbuhan, tali pusar ini tidak akan putus saat sudah
matang tetapi ikut tumbuh berubah sifatnya menjadi salut atau selaput biji
(arrilus), yang akan menyelubungi biji secara utuh atau sebagian. Salut
bijinya dapat dibedakan menjadi: (1) Berdaging atau berair, dan seringkali
dapat dimakan. (2) Menyerupai kulit dan hanya menutupi sebagian biji
(Tjitrosoepomo, 1985).

Secara umum bagian biji memiliki susunan yang tidak berbeda


dengan bakal biji dan bagiannya dapat dibedakan menjadi:

A. Kulit biji (Spermodermis ; testa)

Kulit biji berkembang dari selaput bakal biji (integumentum), dari hal ini
biasanya lapisan kulit biji dari tumbuhan Angiospermae terdiri atas dua
lapisan: (1) lapisan kulit luar (testa); bagian ini memiliki sifat yang beragam
seperti tipis, kaku seperti kulit, keras seperti kayu. Serta kulit biji ini juga
memiliki warna dan tekstur yang beragam pula, seperti berwarna merah,
hijau, coklat, dengan tekstur licin atau keriput. (2) lapisan kulit dalam
(tegmen); biasanya tipis seperti selaput dan biasa dikenal dengan sebutan
kulit ari (Tjitrosoepomo, 1985).

Lapisan pada kulit biji dapat dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu:
(Tjitrosoepomo, 1985)

1. Kulit luar (sacrotesta); biasanya tebal berdaging, ketika masih muda


berwarna hijau dan kemudian akan berubah warna menjadi kuning,
coklat, atau merah (berbeda dengan warna semula).
2. Kulit tengah (sclerotesta); merupakan lapisan yang kuat dan keras,
berkayu, menyerupai kulit dalam (endocarpium).
3. Kulit dalam (endotesta); biasanya tipis seperti selput dan melekat erat
dengan inti biji.
Kulit biji bagian luar sering dijumpai bagian-bagian lain, seperti:
(Tjitrosoepomo, 1985)

1) Sayap (ala); memudahkan biji untuk diterbangkan oleh angin.


2) Rambut atau bulu (coma); merupakan penonjolan sel-sel kulit luar biji
yang berbentuk seperti rambut-rambut halus, dan berfungsi
memudahkan biji untuk diterbangkan oleh angin.
3) Salut biji (arillus); merupakan perkembangan dari tali pusar yang
tidak lepas dari biji.
4) Salut biji semu (arillodium); mirip dengan salut biji, namun tidak
berasal dari tali pusar, tetapi tumbuh dari bagian sekitar liang bakal
biji (micropyle).
5) Pusar biji (hilus); bagian luar kulit biji yang berlekatan dengan tali
pusar dengan tekstur kasar dan warna berlainan dengan bagian lain
kulit biji.
6) Liang biji (micropyle); liang kecil bekas jalan masuknya buluh serbuk
ke dalam bakal biji pada peristiwa pembuahan. Bagian tepi dari liang
biji biasanya akan tumbuh menonjol disebut karunkula.
7) Bekas berkas pembuluh pengankut (chalaza); tempat pertemuan
integumen dengan nuselus.
8) Tulang biji (raphe); terusan tali pusar pada biji, pada umumnya sulit
untuk terlihat atau sulit diamati.

B. Tali pusar (Funiculus)

Tali pusar merupakan bagian yang menghubungkan antara biji dengan


tembuni (plasenta), jadi merupakan tangkainya biji. Jika biji masak,
biasanya akan terputus dengan tali pusarnya dan pada bijinya hanya nampak
bekasnya yang dikenal dengan pusar biji. Namun, ada pula tali pusar yang
tidak putus dengan biji, tetapi tubuh menutupi biji menjadi salut biji.

C. Inti biji atau isi biji (Nucelus seminis)

Dalam inti biji terdapat lembaga atau embriyo dan putih lembaga atau
albumen atau sering disebut dengan endosperm.

Lembaga (Embryo)
Merupakan calon individu baru, setelah biji memperoleh syarat-syarat
tertentu. Lembaga sudah menunjukkan tiga bagian utama tubuh
tumbuhan, yaitu: (a) akar lembaga (radicula); merupakan akar utama
pada tumbuhan muda, dan selalu mengarah ke micropil. (b) daun
lembaga (cotyledon); daun pertama yang akan tumbuh. (c) batang
lembaga (cauliculus); bakal batang tubuh tumbuhan.
Putih lembaga atau albumen (Endosperm)
Merupakan suatu jaringan yang berfungsi untuk menyimpan cadangan
makanan bagi lembaga. Bagian albumen dapat dibedakan menjadi dua,
yaitu (a) putih lembaga dalam (endospermium). (b) putih lembaga luar
(perispermium).
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

Waktu dan tempat pengamatan


Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Struktur Perkembangan
Tumbuhan Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam Universits Negeri Malang. Penelitian dilakukan sekitar Oktober-
Desember.

Objek pengamatan
Objek penelitian ini adalah Bunga Karamunting (Melastoma
malabathricum) yang sudah mekar dan masih kuncup dan juga Buah
Mengkudu yang diperoleh disekitar Universitas Negeri Malang.

Alat dan bahan


Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah mikroskop cahaya
binokuler, mikroskop stereo, silet, pipet, kaca benda, kaca penutup dan
jarum pentul.

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Bunga


Karamunting (Melastoma malabathricum) dan Buah Mengkudu

Prosedur penelitian
1) Mendeskripsikan dan mengidetifikasi morfologi Bunga Karamunting
(Melastoma malabathricum).

Menyiapkan Bunga yang akan diamati

Mengamati lalu diidentifikasi dan dideskripsi tata letak


bunga pada tumbuhan, tipe perbungaan, tangkai
perbungaan, sifat bunga, Tata letak daun dalam bunga,
Bagian bunga meliputi dasar bunga, kelopak, mahkota,
benangsari, bakal buah dan plasenta, Dasar Bunga
2) Mengetahui struktur anatomi morfologi Bunga Karamunting
(Melastoma malabathricum).

Menyiapkan Bunga yang akan diamati

Mengiris secara membujur dan melintang tangkai bunga,


secara melintang pada mahkota bunga, secara melintang
pada kelopak bunga, secara melintang benangsari, dasar
bunga untuk mengetahui jumlah karpel, secara membujur
kuncup bunga.

Mengamati setiap irisan dibawah mikroskop cahaya


binokuler, untuk mengamati morfologinya dapat diamati
dibaah mikroskop stereo.

3) Mengamati struktur Buah


BAB IV

HASIL PEMBAHASAN

1) Morfologi Bunga Karamunting (Melastoma malabathricum).

Hasil Keterangan
a.Tata Letak Merupakan flos
Bunga pada terminalis dimana
Tumbuhan bunga tumbuh
pada ujung batang
atau cabang

b.Tipe Merupakan tipe


Perbungaan perbungaan
majemuk tak
terbatas dimana
bunga mekar dari
bawah ke atas

c.Sifat Berdasarkan
bunga kelengkapan
bunga termasuk
bunga lengkap
karena memiliki
kelopak bunga,
mahkota,
benangsari dan
putik.
Berdasarkan
kelengkapan
alat kelamin
termasuk bunga
kelamin dua
karena memiliki
benangsari dan
putik dalam satu
bunga
Berdasarkan
variasi bunga
pada tumbuhan
termasuk
tumbuhan
karena dalam
satu tumbuhan
terdapat bunga
banci secara
bersamaan.
d.Tangkai Tipe malai rata
perbungaan dimana Cabang
paling bawah
lebih panjang dari
cabang yang
berada diatas
sehingga semua
bunga berada
pada bidang sama
yang rata.

e.tata letak Termasuk siklik


karena daun bunga
daun dalam
semua dalam
bunga karangan
(lingkaran).
-lingkaran 1 adanya
kelopak
-lingkaran 2 adanya
mahkota
-lingkaran 3 adanya
benang sari
-lingkaran 4 putik

f.Dasar Dasar bunga


bunga berbentuk cawan

g.Kelopak Kelopak bunga


bunga berjumlah 5 dan
bersifat berbagi
yaitu hanya
bagian kecil
daun-daun saja
berlekatan ,
pancung-
pancungannya
panjang lebih dari
separoh panjang
kelopak.

h.Mahkota Mahkota bunga


bunga berjumlah 5 dan
bersifat lepas
bebas dimana
daun tajuknya
terpisah

i.Benangsari Berdasarkan
jumlahnya
benang sari
termasuk
Benang sari
2x lipat
jumlah daun
tajuknya
yaitu
berjumlah 20
Berdasarkan
duduknya
benang sari
yaitu duduk
pada dasar
bunga.
Susunan
stamennya
yaitu sejajar
dengan yang
lainnya.
j. Putik Putik berjumlah 1
Termasuk putik
majemuk/
kompleks karena
memiliki lebih
dari 2 daun buah
(karpel)
k. Bakal Bakal buah
buah menumpang pada
dasar bunga

l.Plasenta Tipe plasenta


adalah aksilar
dimana plasenta
terdapat pada
sudut pertemuan
daun daun buah
yang melipat
kedalam dan
merupakan sekat
sekat bakal
buah.
m. Rumus Calyx = 5
Bunga Corolla = 5
Andrecium = 10
Gynosium dengan
jumlah karpel 5
dan bakal buah
yang menumpang
pada dasar bunga
n.Diagram Hijau = kelopak
Bunga bunga berjumlah
5
Merahmuda =
mahkota bunga
berjumlah 5
Disebelah dalam
mahkota =
benangsari
berjumlah 10
Lingkaran paling
dalam = putik
yang memiliki 5
daun buah
2) Struktur Anatomi Bunga Karamunting (Melastoma
malabathricum).

Hasil Keterangan
a. Tangkai Membujur Terdiri dari
bunga epidermis dan
parenkim. Terdapat
berkas pembuluh

Melintang

b. Daun Melintang Terlihat adanya


mahkota trikoma
(petal)

c. Daun Terlihat adanya


kelopak trikoma
(sepal)
d. Kepala Kepala sari saat
benangsar sudah dewasa
i

e. polen Bidang akuatorial


lebih panjang
dibandingkan
dengan yang polar

f. putik Terdapat 5 ruang dan


plasentanya
merupakan tipe
aksilaris

3) Struktur Buah Mengkudu (Morinda citrifolia)

Hasil Keterangan
a. Tergolong buah Buah Sejati

b. Penggolongan Buah sejati


buah Sejati majemuk
c.penggolongan Buah batu
Buah sejati majemuk
majemuk
BAB V

PEMBAHASAN

1) Morfologi Bunga Karamunting (Melastoma malabathricum).

a. Tata Letak Bunga pada Tumbuhan


Berdasarkan hasil pengamatan, tata letak bunga pada tumbuhan
Melastoma malabathricum merupakan flos terminalis karena tumbuh
diujung batang, Didukung dari pernyataan Tjitrosoepomo (1985) bunga
dikatakan flos terminalis jika terdapat pada ujung batang.

b. Tipe Perbungaan
Berdasarkan hasil pengamatan, tipe perbungaan Melastoma
malabathricum merupakan bunga majemuk tak terbatas, karena bunga
mekar dari bawah ke atas. Didukung dari pernyataan Tjitrosoepomo (1985)
bunga majemuk tak terbatas yaitu bunga majemuk yang ibu tangkainya
dapat tumbub terus, dengan cabang-cabang yang dapat bercabang lagi atau
tidak dan mempunyai susunan acropetal dan bunga-bunga pada majemuk ini
mekar berturut-turut dari bawah ke atas.

c. Sifat bunga
Berdasarkan hasil pengamatan, sifat bunga berdasarkan kelengkapan
bunga termasuk termasuk bunga lengkap karena memiliki kelopak bunga,
mahkota, benangsari dan putik. Didukung dari pernyataan Hidayat (1994)
dikatakan bunga lengkap jika kelopak tajuk, benang sari dan putik semua
ditemukan pada bunga. Sifat bunga berdasarkan kelengkapan alat kelamin
termasuk termasuk bunga kelamin dua (bunga banci). Menurut Hidayat
(1994) bunga banci yaitu kedua alat kelamin ditemukan pada satu bunga.
Berdasarkan variasi bunga pada tumbuhan termasuk tumbuhan karena
dalam satu tumbuhan terdapat bunga banci secara bersamaan.

d. Tangkai perbungaan

Berdasarkan hasil pengamatan, tangkai perbungaan pada melastoma


malabathricum adalah malai rata karena cabang paling bawah lebih panjang
dibandingkan yang atas. Didukung oleh pernyataan Hidayat (1994) pada
malai rata, Cabang paling bawah lebih panjang dari cabang yang berada
diatas sehingga semua bunga berada pada bidang sama yang rata.

e. Tata letak daun dalam bunga


Tata letak daun dalam bunga, tata letak daun dalam bunga
Melastoma Malabthricum yaitu siklik. Pada lingkaran 1 terdapat kelopak,
lingkaran 2 terdapat mahkota, lingkaran 3 terdapat benangsari dan
longkaran 4 putik. Didukung oleh Hidayat (1994) tata letak daun Siklik
yaitu daun bunga semua dalam karanan (lingkaran).

f. Dasar Bunga
Berdasarkan hasil pengamatan, dasar bunga Melastoma
Malabthricum berbentuk seperti cawan. Menurut Tjitrosoepomo (1985) ,
daun-daun kelopak dan tajuk bunga duduknya seakan-akan pada tepi
bangunan seperti cawan tadi, sedang putik ditengah pada bagian dasar
bunga yang lebih rendah letaknya dari pada tempat duduknya kelopak dan
tajuk bunga
g. Kelopak Bunga
Berdasarkan hasil pengamatan, Kelopak bunga Melastoma
Malabthricum berjumlah 5 dan bersifat berbagi yaitu hanya bagian kecil
daun-daun saja berlekatan , pancung-pancungannya panjang lebih dari
separoh panjang kelopak.

h. Mahkota Bunga
Berdasarkan hasil pengamatan, Mahkota bunga Melastoma
Malabthricum berjumlah 5 dan bersifat lepas bebas dimana daun tajuknya
terpisah

i. Benangsari
Berdasarkan hasil pengamatan, benangsari Melastoma
Malabthricum Berdasarkan jumlahnya benang sari termasuk Benang sari 2x
lipat jumlah daun tajuknya yaitu berjumlah 20, Berdasarkan duduknya
benang sari yaitu duduk pada dasar bunga dan Susunan stamennya yaitu
sejajar dengan yang lainnya.

j. Putik
Berdasarkan hasil pengamatan, putik Melastoma Malabthricum
Putik berjumlah 1 dan termasuk putik majemuk/ kompleks karena memiliki
lebih dari 2 daun buah (karpel). Menurut Tjitrosoepomo (1985) dikatakan
putik majemuk jika terdiri dari dua daun buah atau lebih.

k. Bakal buah
Berdasarkan hasil pengamatan, bakal buah Melastoma
Malabthricum adalah menumpang. Menurut Tjitrosoepomo (1985) Bakal
buah menumpang ( superus ), yaitu jika bakal buah duduk diatas dasar
bunga sedemikian rupa, sehingga bakal buah tadi lebih tinggi, sama tinggi
atau bahkan mungkin lebih rendah dari pada tepi dasar bunga, tetapi bagian
samping bakal buah tidak pernah berlekatan dengan dasar bunga.

l. Plasenta
Berdasarkan hasil pengamatan, tipe plasenta Melastoma
Malabathricum adalah aksilar dimana plasenta terdapat pada sudut
pertemuan daun daun buah yang melipat kedalam dan merupakan sekat
sekat bakal buah.

m. Rumus Bunga
Dari hasil analisis, rumus bunga dapat diartikan merupakan bunga
yang hemaprodit, bersimetri banyak, memiliki jumlah Calyx = 5, Corolla =
5, Andrecium = 10, Gynosium dengan jumlah karpel 5 dan bakal buah yang
menumpang pada dasar bunga. Menurut Rosanti (2013), secara
berturut-turut, pembuatan rumus bunga adalah menentukan
kelamin bunga, menentukan simetri bunga dan menghitun
bagian bunga

n. Diagram Bunga

Dari hasil analisis, diagram bunga Melastoma


malabathricum pada lingkaran luar dan berwarna hijau
adalah kelopak bunga yang berjumlah 5 dengan sebagian
kecil saja berlekatan yaitu tepi daun kelopak, lingkaran ke
dua yaitu terdapat mahkota bunga berjumlah 5 dengan
keadaan lepas atau bebas, lingkaran ke tiga yaitu
benangsari berjumlah 20 dengan posisi sejajar satu sama
lain dan ingkaran paling dalam adalah putik dengan jumlah
daun buah sebanyak 5.

2) Struktur Anatomi Bunga Karamunting (Melastoma


malabathricum).
a. Tangkai Bunga
Pada hasil pengamatan menunjukkan bahwa pada irisan membujur
tangkai bunga terdapat sel epidermis dan sel parenkinm dimana tengahnya
terdapat berkas pembuluh. Pada irisan melintang tangkai bunga terlihat sel-
sel epidermis yang tersusun rapat dan sel parenkim dibawahnya. Menurut
Majumder, et al (2015) pada Melastoma malabathricum terdapat 1-3 lapis
sel epidermis, pada permukaan luar epidermis ekstensi yang bersegmen.
Ekstensi ini dibentuk dengan lapisan memanjang. Sel kolenkim mengalami
lignifikasi. Daerah korteks dibentuk dari 10-12 lapis sel parenkim. Pada
titik tengah wilayah korteks terdapat pembuluh vascular yang berbentuk
cincin.
b. Daun mahkota (petal)
Pada hasil pengamatan menunjukkan bahwa pada irisan melintang
daun mahkota terlihat adanya trikoma. Menurut Majumder, et al (2015)
pada irisan melintang mahkota Melastoma malabathricum terlihat adanya
dua lapisan epidermis yaitu lapisan dalam dan lapisan luar pada daun
mahkota. Di antara dua lapisan epidermis terdapat 5-6 lapisan sel parenkim.
c. Daun kelopak (sepal)
Pada hasil pengamatan menunjukkan bahwa pada irisan melintang
daun kelopak terlihat adanya trikoma. Menurut Majumder, et al (2015) pada
irisan melintang calix Melastoma malabathricum bahwa permukaan bagian
dalam kelopak yang berdekatan dengan corolla terbentuk dari sel-sel
epidermis radial memanjang. Sel epidermis sekitar 1-2 lapisan membentuk
garis dan melindungi 5-7 lapisan sel parenkim. Epidermis luar ditutupi oleh
ekstensi bersegmen yang terbentuk dari jaringan colleenchymatous yang
mengalami lignifikasi. Ekstensi yang bersegmen ini biasanya adalah
trikoma.
d. Kepala sari
Pada pengamatan yang dilakukan yaitu mengiris secara melintang
kepala sari dewasa. Pada pengamatan kali ini, hasil tidak begitu terlihat
karena dalam pemotongan kurang tipis. Menurut Majumder, et al (2015)
pada irisan melintang androecium Melastoma malabathricum digambarkan
bahwa lapisan epidermis yang dibatasi oleh satu lapisan sel ovoidal. Di
bawah epidermis 7-8 lapisan sel parenkim ditemukan diatur dalam bentuk
kompak. Pada akhir lapisan parenkim, terdapat berkas pembuluh. Setiap
potongan melintang melalui individu antera, terdiri dari dua lobus khas &
setiap lobus terdiri dari beberapa serbuk sari.
e. Pollen
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa serbuksari (pollen) yang
dimiliki Melastoma malabathricum memiliki ukuran aksis pollar (P) lebih
kecil dibandingkan ukuran diameter equatorial (E). Menurut Chantaranothai
(1997) pada spesies Melastoma malabathricum ukuran aksis pollar x
equatorial pollen adalah 20x21, dan perbandingan P/E adalah 0,9. Diperkuat
oleh pendapat Erdtman (1943) tipe polen berdasarkan perbandingan aksis
polar dengan diameter equatorial 0,88-1,00 merupakan tipe oblate
spheroidal.
Apertura merupakan suatu penipisan atau modifikasi dinding spora
atau polen yang berfungsi sebagai jalan keluarnya isi spora atau pollen.
Apertura dapat berupa alur (colpi) atau pori, dimana susunan alur atau pori
merupakan kriteria penting dalam klasifikasi (Davis, 1999). Menurut
Chantaranothai (1997) tipe pollen Melastoma malabathricum berdasarkan
aperture yaitu tipe 3-zonocolporate. Berdasarkan simetrinya pollen
Melastoma malabathricum merupakan bilateral simetri. Bilateral simetri
merupakan polen yang mempunyai dua bidang simetri. Vertical dan aksis
ekuatorial tidak sama panjang (Erdtman, 1952)
f. Putik
Hasil pengamatan pada putik terlihata danya 5 ruang dan
plasentanya merupakan tipe aksilaris. Menurut Chantaranothai (1997) pada
irisan melintang putik (gynoeciu) Melastoma malabathricum terdapat satu
lapisan sel longitudinal memanjang. Terdapat 7-8 lapisan epidermis yang
tersusun rapat dan 5-6 lapisan sel parenkim. Pada potongan melintang pada
ovarium terdapat 5 ruang sehingga disebut penta-lokulus. Masing-masing
lokulus terdiri dari 25 ovula.

3) Struktur Buah Mengkudu (Morinda citrifolia L)

Klasifikasi buah mengkudu menurut Krauss, BH (1993) :


Domain: Eukarya
Kingdom: Planteae
Phylum: Magnoliophyta
Class: Magnoliopsida (dicot)
Order: Rubiales
Family: Rubiaceae
Genus: Morinda
Species: Morinda citrifolia

Bunga tersusun majemuk, perbungaan bertipe bongkol bulat,


bertangkai 14 cm, tumbuh di ketiak daun penumpu yang berhadapan
dengan daun yang tumbuh normal. Bunga banci, mahkota bunga putih,
berbentuk corong, panjangnya bisa mencapai 1,5 cm. Benang sari tertancap
di mulut mahkota. Kepala putik berputing dua. Bunga itu mekar dari
kelopak berbentuk seperti tandan. Bunganya putih, harum. (Heyne, 1987)

Gambar. Bunga Mengkudu (Google image)


Buah Mengkudu (Morinda citrifolia) merupakan buah sejati dimana
perkembangannya dari bakal buah. Menurut Tjitrosoepomo (1985) buah
sejati atau telanjang yang terjadi dari bakal buah dan jika ada bagian bunga
lainnya yang masih tinggal pada bagian ini tidak merupakan bagian buah
yang berarti. Buah mengkudu juga digolongkan menjadi Bunga sejati
majemuk. Menurut Tjitrosoepomo (1985) Buah sejati majemuk, yaitu buah
yang berasal dari suatu bunga majemuk, yang masing-masing bunganya
mendukung satu bakal buahm tetapi setelah menjadi buah tetap berkumpul,
sehinga seluruhnya tampak seperti satu buah saja. Dan Buah mengkudu
digolongkan dalam buah batu majemuk. Menurut Hidayat (1994) buah batu
majemuk jika pad amajemuk setiap buah membentuk batu. Diperkuat oleh
pendapat Bangun & Sarwono (2002) Buah mengkudu merupakan buah
batu.Daging buah tersusun dari buah-buah batu berbentuk pyramid,
berwarna cokat kemerahan. Setelah lunak, daging buah banyak mengandung
air.
Daftar rujukan
Abdillah, M.M. 2012. Anatomi Tumbuhan (Text Book). Malang: University
of Malang Press
Hidayat, B. Estiti. 1994. Morfologi Tumbuhan. Bandung: ITB. Bandung
Krauss, BH. 1993. Plants in Hawaiian Culture. Honolulu: University of
Hawaii Press
Sumardi, Issrep. 1993. Struktur Perkembangan Tumbuhan. Jogjakarta:
UGM
Tjitrosoepomo, G. 1985. Morfologi Tumbuhan. Jogjakarta: Gadjah mada
University Press
Zhengyi W, Raven PH, Hong DY. 2007. Flora of China (Vol. 13)
(Clusiaceae through Araliaceae) St. Louis, Mo, USA: Missouri
Botanical Garden Press;