Anda di halaman 1dari 22

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kesehatan pada anak merupakan salah satu masalah yang banyak terjadi
dalam bidang kesehatan. Dalam profil pengendalian penyakit di Amerika
Serikat melaporkan ada sekitar dua pertiga anak yang mendapatkan bantuan
penyediaan perawatan kesehatan atas alasan kondisi febris akut dalam dua
tahun pertama kehidupannya. Sebagian besar kondisi febris yang terjadi pada
bayi dan anak sembuh tanpa terapi spesifik (Rudolph, 2006).
Menjaga kesehatan anak menjadi perhatian khusus para ibu, terlebih pada
saat pergantian musim yang umumnya disertai dengan berkembangnya
berbagai penyakit. Berbagai penyakit itu biasanya makin mewabah pada
musim peralihan, baik dari musim kemarau ke penghujan begitu sebaliknya.
Terjadinya perubahan cuaca memepengaruhi perubahan kondisi kesehatan
anak, kondisi anak dari sehat ke sakit mengakibatkan tubuh bereaksi untuk
meningkatkan suhu yang biasanya di atas suhu tubuh normal (Mohamad,
2011).
Demam merupakan pengeluaran panas yang tidak mampu untuk
mempertahankan pengeluaran kelebihan produksi panas yang mengakibatkan
peningkatan suhu tubuh abnormal (Avin, 2007). Panas atau demam kondisi
dimana otak mematok suhu diatas setting normal yaitu diatas 38oC. Namun
demikian, panas yang sesungguhnya adalah bila suhu lebih dari 38,5oC, dan
dari meningkatnya suhu tubuh dapat mengakibatkan produksi panas yang
berlebih yaitu di atas kisaran suhu tubuh normal (Purwanti, 2008).
Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengemukakan bahwa jumlah kasus
demam diseluruh dunia mencapai 18-34 juta jiwa, anak merupakan paling
rentang terkena demam, walaupun gejala yang dialami anak lebih ringan dari
dewasa. Di hampir semua daerah, insiden demam banyak terjadi pada anak
usia 5-19 tahun (Suriadi, 2010).
Sebagian besar kondisi febris yang terjadi pada bayi serta anak disebabkan
oleh virus, dan anak sembuh tanpa terapi spesifik (Rudolph, 2006). Demam
yang berhubungan dengan infeksi kurang lebih 29-52%, sedangkan 11-20%
dengan keganasan, 4% dengan penyakit metabolic, 11-12% dengan penyakit lain
(Avin 2007).
Menurut Purwanti (2008) demam dapat mengakibatkan dehidrasi berat
bahkan bisa meninggal karena pada saat demam, terjadi peningkatan
pengeluaran cairan tubuh sehingga dapat menyebabkan dehidrasi serta
mengakibatkan kejang demam pada anak. Berdasarkan uraian di atas dapat
dilihat bahwa jika demam tidak segera ditangani bisa mengakibatkan hal yang
tidak diinginkan, sehingga perawat mempunyai peran penting dalam mengatasi
demam misalnya dengan melakukan tindakan keperawatan secara mandiri dan
pasien dengan demam juga memerlukan pemantauan untuk menghindari halhal
yang tidak diinginkan.
Penanganan pada pasien demam menurut Sukamto (2005) yaitu dengan
cara memakaikan baju yang nyaman, memberi obat penurun panas jika suhu
badan anak lebih dari 39oC, mengompres menggunakan air hangat,
menghindari membangunkan anak yang sedang tidur untuk memberi obat
karena tidur sangat dibutuhkan bagi anak untuk mengumpulkan energi yang
bertujuan untuk melawan infeksi. Pertolongan pertama yang aman bisa
dilakukan oleh ibu dirumah ketika anaknya demam yaitu dengan cara kompres
hangat untuk meurunkan suhu tubuh, Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan
oleh Mohamad, (2011) yang menunjukan hasil bahwa kompres air hangat dapat
menurunkan suhu
tubuh secara efektif. Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka perlu
adanya pembahasan tentang demam dalam proses pemenuhan kebutuhan
termoregulasi.

B. Tujuan Penulis
1. Tujuan Umum
Tujuan umum penulisan makalah ini adalah untuk mendiskripsikan
asuhan keperawatan pemenuhan kebutuhan kenyamanan hipertermi pada An. F di
Ruang Ismail II
2. Tujuan Khusus
a. Mendeskripsikan pengkajian pada pasien dengan kebutuhan pemenuhan kenyamanan
hipertermi
b. Mendeskripsikan diagnosa keperawatan pada pasien dengan kebutuhan
pemenuhan kenyamanan hipertermi
c. Mendeskripsikan intervensi keperawatan dalam upaya pemenuhan
kebutuhan pemenuhan kenyamanan hipertermi
d. Mendeskripsikan tindakan keperawatan pemenuhan kebutuhan
Kenyamanan hipertermi
e. Mendeskripsikan evaluasi tindakan keperawatan pemenuhan kebutuhan kenyamanan
hipertermi
f. Mendeskrisikan analisa tindakan kompres hangat

DAFTAR PUSTAKA
Aden, R. (2010). Seputar Penyakit dan Gangguan Lain Pada Anak.
Yogyakarta: Siklus.
Avin, V. (2007). Perbedaan penurunan suhu klien febris antara kompres
hangat dengan tanpa kompres hangat pada reseptor suhu di Ruang
Anak RSU Dr. Saiful Anwar Malang. Jurnal Ilmu Keperawatan. No
9, Vol 58.
Brunner, D. C., Suddarth, J., H. (2005). Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta:
EGC.
Carpenito, L., Juall. (2009). Diagnosis Keperawatan: Aplikasi Pada Praktik
Klinis. Jakarta: EGC.
Haryani, S., Syamsul, A. (2012). Pengaruh Kompres Tepid Sponge Hangat
Terhadap Penurunan Suhu Tubuh Pada Anak Umur 1-10 Tahun
Dengan Hipertermia. Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan. No
1, Vol 1.
Joanne, M., & Gloria, N. (2012). Nursing Interventions Classification (NIC).
United Syase of America: Mosby Elsevier.
Maryunani, A. (2010). Ilmu Kesehatan Anak Demam Kebidanan. Jakarta:
EGC.
Heardman, T., H. (2012). Nursing Diagnosis Definitions and Classification
2012- 2014, Sumarwati, M., & Subekti, N., B. (alih bahasa), Jakarta:
EGC.
Mohamad, Fatmawati. (2011). Efektifitas Kompres Hangat Dalam
Menurunkan Demam Pada Pasien Thypoid Abdominalis Di Ruang
G1 Lt.2 RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe Kota Gonrontalo, Jurnal
Keperawatan. No 1, Vol 1.
Moorhead, M., Jhonson, M., Maas. (2009). Nursing Outcame Clasification
(NOC). Mosby. P.
Nurwahyuni, I. (2009). Perbedaan Efek Teknik Pemberian Kompres Hangat
Pada Daerah Aksila dan Dahi Terhadap Penurunan Suhu Tubuh pada
Pasien Demam di Ruang Rawat Inap RSUP Dr. Sudirohusodo
Makasar. Jurnal Ilmiah Kesehatan. No 1, Vol 4.
Permatasari, P., Indah. (2012). Perbedaan Ekeftifitas Kompres Air Hangat dan
Kompres Air Biasa Terhadap Penurunan Suhu Tubuh pada Anak
dengan Demam di RSUD Tugurejo Semarang. Jurnal Ilmiah
Keperawatan. No 1, Vol 1.
Potter, P. A., Perry, A. G. (2005). Buku Ajar Fundamental Keperawatan :
Konsep, Proses, dan Praktik. Edisi 4. Volume 1. Jakarta: EGC.
Purwanti, S. (2008). Pengaruh Kompres Hangat Terhadap Perubahan Suhu
Tubuh Pada Pasien Anak Hipertermi di Ruang Rawat Inap RSUD
Dr. Moewardi Surakarta. Jurnal Ilmiah Kesehatan. No 1, Vol 1.
Rohmad W. (2012). Proses Keperawatan Teori dan Aplikasi. Jakarta: Ar-
Ruzz Media.
Rudolph, Pediatrics. (2006). Buku ajar pediatric Rudolph. Edisi 20. Jakarta:
EGC.
Setiawati, Tia. (2009). Pengaruh Tepid Sponge. Jakarta: Fakultas Ilmu
Kedokteran Universitas Indonesia.
Smeltzer, Bare. (2005). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta:
EGC.
Sodokin, M., Kes. (2012). Prinsip Perawatan Demam pada Anak.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Suriadi, R., Yuliani. (2010). Asuhan Keperawatan pada Anak. Edisi 2.
Jakarta: CV. Sagung Seto.
Susanti, Nurlaili. (2012). Efektifitas Kompres Dingin dan Hangat pada
penatalaksanaan Demam. Jurnal Ilmiah Kesehatan. No 1, Vol 1.
Tamsuri, A. (2006). Tanda-Tanda Vital Suhu Tubuh. Jakarta: EGC.

BAB II
A. Konsep Dasar Teori

a. Pengertian

a. Hipertermi adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami atau berisiko untuk
mengalami kenaikan suhu tubuh secara terus-menerus lebih tinggi dari 370C (peroral)
atau 38.80C (perrektal) karena peningkatan kerentanan terhadap faktor-faktor
eksternal (Linda Juall Corpenito)
b. Hipertermi adalah peningkatan suhu tubuh diatas kisaran normal(NANDA
International 2009-2011)
c. Hipertermi adalah peningkatan suhu tubuh yang lebih besar dari jangkauan
normal(Doenges Marilynn E.)

Mekanise kehilangan panas


Radiasi

Mekanisme kehilangan panas tubuh dalam bentuk gel. Panas inframerah (panjang
gelombang 5 20 mm), tanpa adanya kontak langsung

Mekanisme kehilangan panas paling besar pada kulit (60% )

Sebagian besar energi pada gerakan ini dapat dipindahkan ke udara bila suhu
udara lebih dingin dari kulit

Konduksi

Perpindahan panas akibat paparan langsung kulit dengan benda benda yg ada
disekitar tubuh

Proses kehilangan panas dengan mekanisme konduksi sangat kecil sifat isolator
benda menyebabkan proses perpindahan panas tidak dapat terjadi secara efektif
terus menerus

Perpindahan langsung dari badan ke obyek tanpa gerakan : kompres

Evaporasi

Perpindahan panas dengan penguapan (cairan gas)


Selama suhu kulit >> tinggi suhu lingkungan panas hilang melalui radiasi &
konduksi, tetapi ketika suhu lingkungan >> tinggi suhu kulit , tubuh melepaskan
panas dengan evaporasi

@ 1 gram air yg mengalami evaporasi kehilangan panas tubuh sebesar 0,58 kilo
kalori

Kondisi tidak berkeringat, evaporasi berlangsung 450 600 ml/hari kehilangan


panas terus menerus dgn kec. 12 16 kalori/jam

Evaporasi tidak dapat dikendalikan o/k terjadi akibat difusi molekul air secara
terus menerus melalui kulit & sistem pernafasan (IWL)

Konveksi

Perpindahan panas dengan perantaraan gerakan molekul, gas atau cairan.

Kehilangan panas melalui konveksi sekitar 15%

Melalui sirkulasi : kipas angin

b. Etiologi

Dehidrasi

Perubahan mekanisme pengaturan panas sentral yang berhubungan dengan trauma


lahir dan obat-obatan

Infeksi oleh bacteria, virus atau protozoa.

Kerusakan jaringan misalnya demam rematik pada pireksia, terdapat peningkatan


produksi panas dan penurunan kehilangan panas pada suhu febris.

Peningkatan suhu tubuh juga dapat disebabkan oleh meningkatnya produksi panas
andogen (olahraga berat, hepertermia maligna, sindrom neuroleptik, hipertiroiddisme)
pengurangan kehilangan panas atau terpajan lama pada lingkungan bersuhu
tinggi( sengatan panas)

c. Manifestasi Klinis
Suhu tinggi 37.80C (1000F) peroral atau 38.80C (1010F)
Taki kardia
Kulit kemerahan
Hangat pada sentuhan
Menggigil
Dehidrasi
Kehilangan nafsu makan

Fase-fase terjadinya Hipertermi


a. Fase I: awal (awitan dingin atau menggigil)
Peningkatan denyut jantung
Peningkatan laju dan kedalaman pernafasan
Menggigil akibat tegangan dan kontraksi otot
Kulit pucat dan dingin karena vasokontriksi
Merasakan sensasi dingin
Dasar kuku mengalami sianosis karena vasokontriksi
keringat berlebihan
Peningkatan suhu tubuh

b. Fase II: proses demam


Proses menggigil lenyap
Kulit terasa hangat / panas
Merasa tidak panas atau dingin
Peningkatan nadi dan laju pernafasan
Peningkatan rasa haus
Dehidrasi ringan hingga berat
Mengantuk, delirium, atau kejang akibat iritasi sel saraf
Lesi mulut herpetik
Kehilangan nafsu makan ( jika demam memanjang )
Kelemahan, keletihan, dan nyeri ringan pada otot akibat katabolisme protein

c. Fase III: Pemulihan


Kulit tampak merah dan hangat
Berkeringat
Menggigil ringanKemungkinan mengalami dehidrasi

Pada mekanisme tubuh alamiah, demam yang terjadi dalam diri manusia bermanfaat
sebagai proses imun. Pada proses ini, terjadi pelepasan interleukin-1 yang akan mengaktifkan
sel T. suhu tinggi (demam) juga berfungsi meningkatkan keaktifan (kerja) sel T dan B
terhadap organisme pathogen. Namun konsekuensi demam secara umum timbul segera
setelah pembangkitan demam (peningkatan suhu).
Perubahan anatomis kulit dan metabolisme menimbulkan konsekuensi berupa
gangguan keseimbangan cairan tubuh, peningkatan metabolisme, juga peningkatan kadar sisa
metabolisme. Selain itu, pada keadaan tertentu demam dapat mengaktifkan kejang.
d. Pathway demam (hipertermi)
Infeksi atau cedera jaringan

Inflamasi

Akumulasi monosit,
Makrofag, sel T helper dan fibroblas

Pelepasan pirogen endogen (sitokin)

Interleukin-1
Interleukin-6

Merangsang saraf vagus

Sinyal mencapai
Sistem saraf pusat

Pembentukan prostaglandin otak

Merangsang hipotalamus
Meningkatkan titik patokan suhu
(sel point)

Menggigil, meningkatkan suhu basal

Hipertermi

e. Komplikasi

Pengaruh hipertermia terhadap sawar darah otak/ BBB adalah meningkatkan


permeabilitas BBB yang berakibat langsung baik secara partial maupun komplit dalam
terjadinya edema serebral (Ginsberg, et al, 1998). Selain itu hipertermia meningkatkan
metabolisme sehingga terjadi lactic acidosis yang mempercepat kematian neuron (neuronal
injury) dan menambah adanya edema serebral (Reith, et al, 1996). Edema serebral (ADO
Regional kurang dari 20 ml/ 100 gram/ menit) ini mempengaruhi tekanan perfusi otak dan
menghambat reperfusi adekuat dari otak, dimana kita ketahui edema serebral memperbesar
volume otak dan meningkatkan resistensi serebral. Jika tekanan perfusi tidak cukup tinggi,
aliran darah otak akan menurun karena resistensi serebral meninggi. Apabila edema serebral
dapat diberantas dan tekanan perfusi bisa terpelihara pada tingkat yang cukup tinggi, maka
aliran darah otak dapat bertambah (Hucke, et al, 1991).

Dengan demikian daerah perbatasan lesi vaskuler itu bisa mendapat sirkulasi kolateral
yang cukup aktif, kemudian darah akan mengalir secara pasif ke tempat iskemik oleh karena
terdapatnya pembuluh darah yang berada dalam keadaan vasoparalisis. Melalui mekanisme
ini daerah iskemik sekeliling pusat yang mungkin nekrotik (daerah penumbra) masih dapat
diselamatkan, sehingga lesi vaskuler dapat diperkecil sampai daerah pusat yang kecil saja
yang tidak dapat diselamatkan lagi/nekrotik (Hucke, et al, 1991).

f. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan medis yang diberikan yaitu:


Beri obat penurun panas seperti paracetamol, asetaminofen.
Penatalaksanaan keperawatan yang diberikan yaitu:
Beri pasien banyak minum. pasien menjadi lebih mudah dehidrasi pada waktu
menderita panas. Minum air membuat mereka merasa lebih baik dan mencegah
dehidrasi.
Beri pasien banyak istirahat, agar produksi panas yang diproduksi tubuh seminimal
mungkin.
Beri kompres hangat di beberapa bagian tubuh, seperti ketiak, lipatan paha, leher
belakang.

g. Teori asuhan keperawatan

1. Pengkajian
Data Subyektif

Pasien mengatakan badannya panas

Data Obyektif

Suhu tubuh pasien meningkat

Pasien terlihat lemas

Mukosa tampak kering

2. Diagnosa Keperawatan

Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi ditandai dengan:

Pasien mengatakan badannya terasa panas


Mukosa bibir kering
Wajah pasien tampak merah
3. Perencanaan / Intervensi
Rencana Tujuan
Setelah diberikan ASKEP selama 324 jam diharapkan hipertermi dapat
teratasi dengan kriteria hasil:
o Suhu tubuh pasien turun
o Suhu 36-37,5
o Mukosa bibir pasien tidak kering lagi
o Kulit pasien tidak hangat bila disentuh
o Pasien tidak lemas
Rencana Tindakan/intervensi
o Observasi TTV pasien
o Observasi KU pasien
o Berikan kompres hangat
o Berikan minum air putih yang banyak
o Anjurkan pasien untuk memakai baju tipis dan menyerap keringat
o Kolaborasi pemberian obat antipiretik untuk mengetahui perkembangan
pasien
Rasional
o Untuk mengetahui perkembangan pasien, kompres hangat mampu
menurunkan suhu tubuh pasien agar kembali normal
o Mempertahankan keseimbangan cairan tubuh dan mengganti cairan yang
hilang akibat hipertermi
o Untuk mempercepat proses penguapan panas
o Dengan pemberian obat tersebut dapat menetralkan panas tubuh dan
membantu antibody melawan infeksi
4. Pelaksanaan

Sesuai dengan rencana tindakan yang akan diberikan

5. Evaluasi

a. Suhu tubuh pasien turun


b. Suhu 36-37,5
c. Mukosa bibir pasien tidak kering lagi
d. Kulit pasien tidak hangat pada sentuhan
e. Pasien tidak lemas

e. Pemeriksaan Diagnostik

Pemeriksaan Laboratorium :

- Hematologi
- Hemoglobin
- Leukosit
- Hematokrit
- Trombosit
- Eritrosit
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN PADA AN. F DENGAN

MASALAH GANGGUAN PEMENUHAN KENYAMANAN HIPERTERMI

DI RUANG ISMAIL II DI RS ROEMANI SEMARANG

Nama pengkaji : Wirda Alwi

NIM : G3A016001

Tanggal Pengkajian : 26 September 2016

A. Pengkajian

I. Identitas

1. Nama : An. F
2. Umur : 12 thn
3. Jenis kelamin : Laki-laki
4. Alamat : Peterongan Timur
5. Agama : Islam
6. Suku Bangsa : Jawa
7. Diagnosa medis : Febris

Identitas Penanggung Jawab


1. Nama : Ny. E
2. Umur : 33 thn
3. Jenis Kelamin : Perempuan
4. Alamat : Peterongan Timur
5. Pekerjaan : IRT
6. Hubungan dengan pasien : Ibu Kandung

I. Pengkajian
A. Keluhan Utama
Demam
B. Riwayat Kesehatan Sekarang
Pasien datang ke RS Muhammadiyah Roemani diantar oleh keluarganya pada tanggal
25 September 2016 dengan keluhan Panas, mual dan Muntah, An F mengatakan panas
dialami 2 hari yang lalu sebelum masuk RS
C. Riwayat kesehatan masa lalu
Ibu klien mengatakan sebelumnya anaknya tidak pernah dirawat di RS dengan keluhan
yang sama yaitu demam, Klien tidak ada alergi terhadap obat-obatan.
D. Riwayat Kesehatan Keluarga
Ibu pasien mengatan di keluarganya tidak ada yang menderita penyakit yang sama
seperti yang dialami pasien

E. Pengkajian kebutuhan dasar pasien


1. Aktivitas dan latihan
Sebelum sakit kegiatan sehari-hari klien adalah sekolah dan juga bermain
selayaknya anak-anak lain seusianya.
Saat dikaji klien mengatakan tidak bisa melakukan aktivitas lain seperti sekolah
dan juga bermain,klien tampak terbaring lemah di tempat tidur.
2. Istirahat dan tidur
Sebelum sakit klien tidur malam 9 jam dan tidur siang 2 jam
Saat dikaji klien mengatakan tidur malam 7 jam karena klien sering terbangun
dimalam hari saat tidur.
3. Kenyamanan dan nyeri
Ibu klien mengatakan anaknya sering merasa pusing dan sering kali menangis
apabila demam tinggi
4. Nutrisi
Sebelum sakit pola makan pasien bagus tapi saat di RS pasien tidak nafsu makan,
porsi yang di habisklan hanya porsi yang disediakan RS
5. Cairan dan elektrolit
Ibu pasien mengatakan saat sakit pola minum pasien baik,pasien tampak muntah
muntah, ibu pasien mengatakan selama di RS Anaknya muntah 5x, turgor kulit
elastis
6. Oksigenasi
Ibu pasien mengatakan anaknya tidak memiliki riwayat sesak nafas
7. Eliminasi
Ibu pasien mengatakan sebelum sakit dan saat dikaji BAK klien masih baik dan
nnormal
8. Eliminasi Bowel
Ibu klien mengatakan sebelum sakit dan saat di RS BAB klien masih baik 1x
sehari setiap pagi, warna cokelat kekuningan dan bau khas
9. Sensori, persepsi dan kognitif
Ibu klien mengatakan anaknya tidak memiliki gangguan pada sistem sensori,
persepsi dan juga kognitif

F. Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan Umun
Saat dilakukan pemeriksaan fisik di dapat hasil TTV
TD : 100/70 mm/Hg SB : 38,7C SpO2 : 97%
N : 97x/m RR: 26x/m BB : 27 kg

2. Kepala
Bentuk kepala mesocepal,tidak ada jejas, rambut hitam bersih, keadaan mata
konjungtiva tidak anemis, sklera anikterik, hidung tidak tampak adanya abses
ataupun luka dan tidak ada pembesaran polip,keadaan telinga tampak adanya
serumen, semetris, tidak ada gangguan pada pendengaran, keadaan mulut bibir
kering,tidak ada stomatitis, tidak ada gigi berlubang, gigi kuning, keadaan mulut
tampak kotor.
3. Leher
Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid
4. Dada
Paru-paru
Inspeksi : Simetris, tidak ada retraksi dada
Palpasi : teraba getar vokal fremitus
Perkusi : Sonor
Auskultasi : Vesikuler tidak ada suara nafas tambahan
Jantung
Palpasi : Tidak tampak Ictus cordis
Palpasi : Teraba Ictus Cordis
Perkusi : Redup
Auskultasi : S1 S2 reguler
Abdomen
Inspeksi : Tidak tampak oedema ataupun luka
Aus : Bising usus 20x/m
Palpasi : tidak ada nyeri tekan
Perkusi : timpani

Ekstremitas
Atas : Terpasang Infus pada tangan kanan RL 10 tts/m, akral hangat
Bawah : Tidak tampak oedema ataupun luka, akral teraba hangat
G. Pemeriksaan penunjang
Laboratorium

Pemeriksanaan Hasil Satuan Normal


Hematologi
Hemoglobin - Hb 14,9 gr/dL 13,2-15,5
Leukosit - Leukosit /mm3 3800-10600
41000
Hematokrit % 31,0-45.0
- Ht 42,3
Trombosit /mm3 150000-440000
- Trombosit
Eritrosit 171.000/mm3 uL 3,7-5,8%
- Eritrosit 5,59
jt/uL

H. Program Terapi
Ceftriaxone 2x1gr IV
Dexametason 2x1 amp IV
Pamol Oral 6x tab bila panas
RL 10 tts/menit

II. Analisa Data

No Tgl/jam Data Problem Etiologi TTD


1 26/09-2016 DS : Ibu klien mengatakan Hipertermi Proses Infeksi
09.00
anaknya masih panas,
mual dan juga muntah 3x
DO :- Akral teraba hangat, K/u
sedang
- SB 38C
- N 90x/m
- RR 24x/m
- SpO2 97%
- BB 27kg
- Hb 14,9
- Leukosit 41000/mm3
- Ht 42,3 %
- Trombosit
171.000/mm3
26/09-2016 - Eritrosit 5,59 jt/uL Resiko Output yang
kekurangan berlebih (muntah-
DS : Ibu klien mengatakan
volume cairan muntah)
anaknya merasa mual
dan juga muntah 3x
DO :- K/u sedang,klien tampak
lemas
- Tampak klien
memuntahkan makan
yang baru di makan,
- Sementara terpasang
infus cairan RL 10
tts/menit

III. Diagnosa Keperawatan


1. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi ditandai dengan meningkatnya
suhu tubuh
2. Resiko kekurangan Volume cairan berhubungan dengan output berlebih
Data : klien sering mual dan juga muntah-muntah
IV. Intervensi Keperawatan

NO Diagnosa Tujuan dan Kriteria Intervensi Rasional


Keperawatan Hasil
1 hipertermi Setelah dilakukan 1. Monitoring suhu sesering o Untuk mengetahui perkembangan
berhubungan tindakan keperawatan mungkin pasien, kompres hangat mampu
2. Obs. TTV
dengan proses 3x24 jam diharapkan menurunkan suhu tubuh pasien agar
3. Lakukan kompres hangat
infeksi suhu tubuh dalam 4. Anjurkan untuk memakai kembali normal
rentang normal, pakaian yang tipis o Mempertahankan keseimbangan cairan
5. Laksanakan advis tubuh dan mengganti cairan yang
dengan kriteria hasil :
- SB 36-37C pemberian terapi cairan hilang akibat hipertermi
- Akral o Untuk mempercepat proses penguapan
teraba panas
hangat o Dengan pemberian obat tersebut dapat
2
menetralkan panas tubuh dan
Resiko
membantu antibody melawan infeksi
kekurangan
1. Monitoring adanya mual
volume cairan
muntah o Merupakan indikator dari volume
berhubungan Setelah diberikan cairan
2. Pantau vital sign
dengan output tindakan keperawatan 3. Pantau pemberian terapi IV
diharapkan cairan dan 4. Monitoring status hidrasi o Memenuhi kebutuhan cairan tubuh dan
berlebih
elektrolit klien mengganti cairan yang hilang
(membran mukosa dan
(muntah- seimbang, dengan
kriteria hasil : keadekuatan nadi ) o Adanya perubahan pola makan seperti
muntah)
- Turgor kulit nafsu makan berkurang akan dapat
elastis memperburuk status klien karena
- Intake dan intake kurang
output seimbang
- TTV dalam
rentang normal
BP : 120/80
mm/Hg
RR: 15-20x/m
HR: 60-100x/m
SB : 36,5-37C

V. Implementasi

No No. Tgl/jam Implementasi Respon TTD


Dx
1 I 26/09-2016 - Mengkaji keadaan umum klien - klien tampak terbaring lemah di
09.30 - Obs TTV
tempat tidur, K/u sedang
I, II
- Obs. TTV
TD 100/70 mm/Hg
N 97x/m
RR 24x/m
SB 38C
SpO2 97%
I - Anjurkan memberi kompres hangat
- Memberi kompres hangat pada
I - Memberikan obat oral Pamol tab klien
- Ibu klien memberi obat oral
pamol tab pada klien
I, II 12.00 - Kaji SB klien
- Hasil 37,6C
I - Monitoring adanya mual muntah
- Ibu klien mengatakan anaknya

II - Anjurkan untuk memakai pakaian yang muntah 3x

tipis pada klien


- Ibu klien mengganti pakaian
II anaknya dengan pakaian yang
- Kaji status hidrasi lebih tipis
II
- anjurkan klien untuk banyak minum air
putih
I, II - Bibir klien taampak kering
27/09-2016
10.00 - Kaji keadaan Umum klien

I, II 10.30 - Klien kooperatif


- Kaji TTV

- K/u sedang
- Klien tampak terbaring di tempat
II tidur
- Monitoring adanya mual muntah

I,II - Obs TTV


TD 100/60 mm/Hg
- Anjurkan klien untuk banyak minum air
N 78x/m
putih RR 22x/m
II
- Anjurkan klien untuk makan sedikit tapi SB 37C
SpO2 98%
sering
28/09-2016 - Kaji status hidrasi
- Klien mengatakan muntah 1x
I, II 10.30
pada saat klien selesai makan
- Kaji TTV - Klien tampak kooperatif

II
11.30 - Klien tampak kooperatif
Monitoring adanya mual muntah

- Bibir klien tampak kering


- Obs TTV
TD 100/70 mm/Hg
N 77x/m
RR 20x/m
SB 36,4C
-Ibu klien mengatakan anaknya
sudah tidak muntah lagi

VI. Evaluasi

Hari/tgl Respon Perkembangan TTD


Senin/26-09- S : - Ibu klien mengatakan anaknya masih demam
- Ibu klien mengatakan anaknya muntah 3x
2016

O: - K/u sedang, klien tampak terbaring lemas di tempat tidur


- Obs SB 38C N : 90x/m RR 24x/m BB 27kg TD
100/70mm/Hg
- Akral hangat
- Tampak terpasang infus cairan RL 10 tts/m
- Tampak mukosa bibir kering

A: - Masalah belum teratasi

P : - intervensi pertahankan

Selasa/27-09- S : Ibu klien mengatakan anakanmya sudah tidak demam lagi


Ibu klien mengatatakan anaknya msh muntah 1x setelah makan
2016
O : K/u sedang, Obs SB 37C N 77x/m RR 22x/m
Akral teraba hangat
Tampak mukosa bibir kering

A : masalah belum teratasi

P : Intervensi pertankan
Rabu/28-09- S : klien mengatakan anaknya sudah tidak demam lagi
Klien mengatakan tidak muntah lagi
2016
O: K/u sedang, SB 36,4C N 77x/m RR 20x/m
Akral teraba hangat, mukosa bibir kering

A: Masalah teratasi

P: Intervensi pertahankan
ASUHAN KEPERAWATAN PADA AN. F

DENGAN GANGGUAN PEMENUHAN KENYAMANAN


HIPERTERMI

DI RUANG ISMAIL 2 RS ROEMANI MUHAMMADIYAH

SEMARANG
Disusun Oleh :

WIRDA ALWI

G3A016001

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG

2016