Anda di halaman 1dari 29

TUGAS TERSTRUKTUR IRIGASI DAN DRAINASE

RESUME FLOOD IRRIGATION (IRIGASI PERMUKAAN)

OLEH:
Kelompok 1

Kelas C

Anggota :

Rose Clarita Situmorang (155040201111202)


Eva Merianti Sitorus (155040201111237)
Sanjaya Tarigan (155040201111135)
Denny Sihotang (155040201111318)
Ellysabet Shinta O. (155040201111117)
Pranadini Eka (201702002)
Meilina Rutmini Siahaan (155040201111323)
Bagas Prakoso (155040207111121)
Marco Ferrianto P. (155040200111197)
Jackson A. Sitorus (155040201111229)
Bona William Pasaribu (155040200111174)
Joshua Sitepu (155040200111240)

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

2017
Resume:
FLOOD IRRIGATION/SURFACE IRRIGATION
(IRIGASI PERMUKAAN)

Istilah irigasi permukaan mengacu pada jenis irigasi dimana air mengalir di atas
permukaan tanah dan dikendalikan dengan tujuan memberikan air dengan jumlah yang
diinginkan untuk tanah. Meskipun kemiringan atau kelerengan tanah berperan penting
dalam pergerakan air, namun kemiringan permukaan air lah yang menyebabkan air
mengalir ke tingkat-tingkat permukaan. Faktor lain yang menentukan dalam irigasi ini
adalah batas-batas tampungan air (bendungan). Kemiringan atau kelerengan yang salah
akan membatasi aliran air dan menyebabkan distribusi dan infiltrasi yang tidak merata.
Metode irigasi berupa irigasi permukaan merupakan metode irigasi yang paling
banyak digunakan, dimana lebih 90% lahan pertanian di dunia menggunakan metode
irigasi ini. Bahkan, sistem irigasi permukaan sebenarnya telah digunakan sekitar 5.000
tahun lalu, yaitu di belahan dunia bagian timur. Di Filipina, irigasi permukaan telah
dibangun sekitar 3.000 tahun yang lalu dalam budidaya padi. Irigasi permukaan
dikatakan efisien apabila tata letak dan desain pilihan baik, dilakukan pengolahan tanah,
tingkat kehilangan air saat pendistribusian kecil dan sistem manajemen yang digunakan
efektif. Desain dan manajemen sistem irigasi permukaan biasanya lebih kompleks
daripada sistem irigasi yang lain, karena ada faktor-faktor tambahan, seperti penentuan
penyimpangan tanah dan gradien, dan menentukan pergiliran dari irigasi tersebut.
Beberapa faktor-faktor penting yang mempengaruhi masuknya atau mengalirnya air ke
dalam tanah, yaitu:
1. Jenis tanah
2. Kecenderungan tanah untuk membentuk lempeng atau mengeras dan ketahanan
terhadap erosi
3. Lapisan-lapisan tanah
4. Tingkat air tanah
5. Hambatan aliran karena tanaman
6. Jumlah gulma
7. Kualitas air
8. Praktek-praktek budidaya
9. Pengolahan tanah
10. Gradien
11. Waktu kontak antara air dan tanah
12. Kelerengan
Ada beberapa istilah yang perlu dipahami, yaitu:

1. Fase awal, yaitu aliran irigasi awal yang bergerak ke petakan, cekungan maupun
parit/alur.
2. Waktu fase awal, yaitu waktu minimum yang dibutuhkan untuk aliran awal
bergerak dari awal petakan, parit, atau cekungan ke tempat/titik tertentu.
3. Waktu total fase awal, yaitu waktu minimum yang dibutuhkan fase awal bergerak
dari awal petakan, cekungan, atau parit sampai akhir/ujung.
4. Fase resesi, yaitu aliran irigasi terakhir yang bergerak ke bawah cekungan, parit
atau petakan.
5. Waktu fase resesi, yaitu waktu yang dibutuhkan fase resesi berjalan dari awal
petakan, cekungan atau parit ke titik tertentu.
6. Total waktu fase resesi, yaitu waktu minimum yang dibutuhkan fase resesi berjalan
dari awal prtakan, cekungan atau parit sampai ke akhir/ujung.
7. Waktu kontak, yaitu waktu minimum kontak antara air irigasi dan permukaan tanah.
Ini adalah selang waktu antara fase awal dan fase resesi pada titik tertentu yang
menyediakan kesempatan untuk infiltrasi air ke dalam tanah.
8. Batas waktu, yaitu waktu minimal untuk pengaliran air pada cekungn, parit, atau
petakan.

9. Aliran irigasi, yaitu jumlah air yang mengalir ke petakan, parit, atau cekungan per
satuan waktu[m/h] untuk tujuan irigasi.

Prinsip dalam irigasi permukaan adalah faktor manusia, yaitu petani atau
pekerjanya adalah kunci utama dalam menentukan apakah irigasi efektif dan efisien.
Pola pengairan pada profil tanah dengan irigasi permukaan, curah, dan tetes
diilustrasikan sebagai berikut:
\

Ada beberapa jenis sistem irigasi permukaan, yaitu:

1. Genangan
Sistem genangan dengan daerah persegi, persegi panjang atau lingkaran, tanpa
kemiringan, berbatasan dengan bedengan. untk efisiensi, daerah harus diisi dengan
cepat, sebagian besar digunakan untuk tanaman kebun.
2. Petakan
Petakan adalah kanal lebar atau bidang dengan kelerengan medium berbatasan
dengan bedengan. umumnya untuk tanaman biji-bijian dan pakan ternak
3. Furrow
Sebuah alur berbentuk V dengan kemiringan medium. Tebu, kebun anggur,
sayuran biasanya diairi dengan cara alur-alur.

4. Alur pendek
Sebuah variasi pada irigasi alur adalah untuk membagi alur menjadi bagian-
bagian yang lebih pendek dengan cara membuat blok dari alur-alur pendek. Alur-
alur pendek setiap blok diisi secara individual sampai seluruh tanah teririgasi.
5. Alur petakan
Berbatasan dengan satu atau lebih alur-alur bukan bedengan. alur yang
tergenang secara berkala untuk memungkinkan air mengalir melalui perbatasan.
6. Menggenangi kontur
Sistem irigasi dimana air diarahkan ke dinding kontur dan kemudian tergenang
meluap untuk mengairi padang rumput.
7. Menggenangi bawah tanah
Sistem ini digunakan di Tanzania. menggunakan pipa khusus yang di kubur
sedalam 300 mm. pipa berpori dan melepaskan air ke zona akar. Pipa-pipa yang
diisi dengan air melalui saluran di atas tanah.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IRIGASI PERMUKAAN
1. Tanah
Jenis tanah, meliputi tekstur tanah (liat, pasir, dan lempung) dan hubungan tektur
tanah dengan laju infiltrasi.
Pembentukan kerak dan ketahanan terhadap erosi. Contohnya pengerasan pada
lereng yang curam yang dapat terkikis dengan pengiringan irigasi. Ini akan
meningkatkan laju infiltrasi, tetapi menyebabkan hilangnya tanah.
Batas lapisan. Membatasi lapisan dapat meningkatkan kecepatan dari depan
karena infiltrasi yang sedikit terjadi dibagian atas perbatasan atau alur setelah
titik jenuh dicapai. Air irigasi yang berkurang akan menyerap didaerah lapang
dimana perbatasan lapisan terjadi.
Kadar air tanah. Kadar air tanah yang tinggi biasanya memperlambat laju
infiltrasi sedangkan kadar air tanah yang rendah biasanya meningkatkan laju
infiltrasi.
Pengolahan. Laju infiltrasi dan air yang digunakan meningkat secara signifikan
pada tanah yang baru dibudidayakan.
2. Vegetasi
Tanaman, yaitu kepadatan tanaman, resistensi aliran dan kedalaman infiltrasi,
akar dan material organik, dan resistensi.
Gulma. Mencangkul gulma akan meningkatkan laju infiltrasi akibat gangguan di
permukaan tanah.
3. Air
Metode irigasi
Kualitas air
4. Sistem
Lereng
Persiapan lahan, meliputi pembangunan irigasi atau parit.
Ukuran aliran. Infiltrasi akan berkurang jika jika aliran air besar karena terjadi
pertemuan antara air dan permukaan tanah.
Waktu terhubung. Ketika dirasa kebutuhan air terlalu banyak maka aliran air harus
ditutup, terlalu lama air tergenang juga dapat menyebabkan kerusakan pada aliran air.
Bentuk perbatasan, alur atau cekungan. Bentuk jalur pendistribusian air menentukan
pergerakan air dipermukaan tanah sehingga berhubungan langsung dengan jumlah dan
keseragaman infiltrasi.

Ilustrasi Gambar dari Parameter Kritis


Proses irigasi akan memerlukan waktu panjang karena beberapa faktor yang
mempengaruhinya:
1. Aliran pasokan air yang kecil atau sedikit
2. Lereng yang relatif datar dan tidak rata
3. Tingkat infiltrasi yang tinggi
4. Permukaan aliaran yang kasar karena gundukan dan halangan

Proses irigasi akan cepat jika dipengaruhi oleh beberapa faktor berikut:
1. Aliran pasokan air yang besar atau banyak
2. Lereng yang curam
3. Tingkat infiltrasi rendah
4. Permukaan tidak kasar
PERENCANAAN SISTEM IRIGASI PERMUKAAN
1. Menetapkan Keinginan/Kebutuhan
Sebelum membuat sistem irigasi sebaiknya dilakukan diskusi antar petani karena
masih sering terjadi ketidakpahaman dalam menetapkan kebutuhan yang diinginkan
oleh petani. Penetapan kebutuhan dapat dilakukan dengan menjawab pertanyaan-
pertanyaan seperti dibawah ini:
Apa pengalaman irigasi yang petani miliki?
Dari mana petani memperoleh pengetahuan tentang irigasi pertanian?
Apa tujuan dari sistem irigasi yang direncanakan?
Tanaman apa yang direncanakan untuk ditanam saat ini dan dimasa yang akan
datang? Apa hasil yang di harapakan? Apakah ia (petani) berniat untuk
memasarkan atau menggunakannya?
Daerah mana yang akan di beri irigasi saat ini dan di masa yang akan datang?
Mengapa ia memilih metode irigasi itu?
Dari mana sumber air yang akan digunakan? Bagaimana tingkat konsistensi
ketersediaan air? Apakah ini informasi yang menggunakan perhitungan atau
hanya sekedar perkirakan?
Bagaimana kondisi cuaca daerah yang dipilih untuk pertanian mengenai suhu
maksimum, kondisi angin dan waktu kekeringan?
2. Sumber Air
Apa jenis sumber air irigasi?
Apa sumber tersebut di izinkan atau menghasilkan sumber yang berkelanjutan?
Bagaimana catatan laporan sumber air tersebut dalam jangka waktu yang
panjang atau informasi yang tersedia untuk petani?
Apakah ada larangan penyulingan sumber air? Jika itu adalah bagian dari pola
papan irigasi, bagaimana penyediaan atau sistem penyaluran bekerja?
Pengambilan air dari sungai diatur ketat di daerah kontrol air pemerintah.
Sebuah analisis air harus memenuhi prosedur standar dalam perencanaan sistem
irigasi.

3. Jenis Tanah
Apa jenis tanah yang ada di daerah irigasi yang diusulkan? Apa klasifikasi tanah
sebelumnya, penyelidikan atau survei akan memberikan informasi yang
berguna?
Sangat penting menguji informasi tanah tersebut, setidaknya pada klasifikasi
tekstur dan kedalaman, agar menjadi petunjuk pada rencana
4. Iklim
Mendapatkan curah hujan jangka panjang dan minimum dan suhu maksimum
dari cuaca terdekat stasiun di daerah.
menetapkan angka curah hujan dan suhu dengan petani dan petani lainnya di
daerah.
5. Dilakukan Penelitian Tanaman Budidaya
Diskusikan dengan petani tanaman apa yang akan di tanam.
Menetapkan persyaratan air tanaman dengan program komputer, seperti
SAPWAT atau Green Book, jika dibutuhkan.
Apa persyaratan lain yang dimiliki tanaman?
Seberapa sensitif tanaman terhadap salinitas pada air irigasi dan jika dibutuhkan
pencucian untuk mengurangi alkalinitas, apa saja persyaratannya?
6. Penelitian
Sebuah survei yang tepat pada bidang yang diusulkan dan sekitarnya harus
dilakukan.
Semua infrastruktur, seperti jalan, pagar dan galley alam harus ditunjukkan pada
rencana.
7. Memilih Sebuah Sistem Irigasi Permukaan
Memilih sistem irigasi permukaan tidak sederhana. Ada pertimbangan
mengenai tata letak ibukota, biaya operasi, kompleksitas, pengaruh pada buruh tani,
vandalisme, jenis tanah, jenis tanaman dan topografi.

Selain diatas, perencanaan sistem irigasi permukaan dapat juga dengan


menggunakan tabel berikut sebagai pertimbangan semua faktor memilih sistem yang
optimal untuk petani dan pertanian. Berikut adalah tabel faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi keputusan pemilihan model irigasi permukaan:
Short
Basin Border Furrow
Furrow
Persiapan Rendah Rendah
lahan dengan dengan Biasanya
Rendah
atau biaya moderat moderat rendah
modal gradien gradien
Tidak ada Tidak ada
Biaya Tidak ada Tidak ada
atau atau
energi atau sedikit atau sedikit
sedikit sedikit
cukup baik
Baik
Tinggi dengan
Baik dengan dengan
dengan tata letak
Aplikasi tepat tata praktis tata
tepat tata yang tepat
efisiensi letak dan letak dan
letak dan dan
pengelolaan pengelolaa
pengelolaan manajeme
n
n
Baik Cukup baik
dengan dengan Baik
Sangat baik
Keseragam tepat tepat dengan
dengan
an konstruksi konstruksi tepat
konstruksi
distribusi dan & mengguna
yang tepat
pengelolaa pengelolaa kan
n n
Sebaiknya
datar Moderat
Variasi Variasi
karena dan
Topografi gradien gradien
gradien keseragama
bidang yang yang
membatasi n
yang rasional rasional
kedalaman gradien
tersedia dapat dapat
tanah lebih
ditangani ditangani
danbiaya disukai
peningkatan
Dapat
menyesuai
kan pada
Semua jenis Lempung
Karakteristi Lempung semua
kecuali pasir Lebih baik
k tanah dan ke tanah jenis tanah,
sebaiknya kedalamann
keadaan liat lebih tetapi
lebih dalam ya diatas 1
tanah dari 0,6 m kerugian
dari 1 m m
kendaraan
harus
dibatasi
Lebih
Tanaman
menyukai
Jenis Tanaman Tanaman baris, ideal
tanaman
tanaman umum umum untuk
baris
sayuran
Pemelihara
Setiap Setiap
an Setiap
Setiap tahun tahun, tahun,
Persyarata tahun
intensif sedikit
n
Sederhana.
Dengan
Dibutuhkan
Pengelolaa Sanga Sanga tingkat
efesiensi
n penting penting efesiensi
yang tinggi
tinggi dan
terjangkaui
lalu lintas Dikelola
pertanian dengan Mengham Menghamb
Dikelola
dan keterbatasa bat at
pemasaran n
Tenaga Sedang Sedang Sangat
Iintensif
kerja intensif intensif intensif
IRIGASI BASIN (KOLAM)

Irigasi Basin digunakan di seluruh dunia dan merupakan bentuk tertua dari
irigasi. Contoh dari irigasi basin adalah sawah. Tata letak cekungan pada irigasi basin
harus ke segala arah. Posisi basin harus dipilih sedemikian untuk memastikan minimum
bergerak bumi. Ukuran baskom dan konstruksi, harus praktis untuk mengolah tujuan
dan penggunaan optimal tanah yang tersedia. Penyediaan juga harus dibuat untuk
drainase air surplus, misalnya stormwater. Pada irigasi basin terdapat pintu untuk
membiarkan air masuk atau keluar. Dengan cekungan kecil, punggung dibuka atau pipa
penyedot ditempatkan di atas punggung.
Irigasi basin cocok untuk irigasi semua tanaman, tetapi ada keterbatasan-
keterbatasan dalam irigasi basin, yaitu:
1. Persiapan lahan yang tepat dan mungkin mahal merupakan prasyarat untuk irigasi
basin efektif.
2. Topografi relatif datar mebutuhkan biaya yang rendah tetapi jika teras/topografi
dibangun pada gradien curam akan membutuhkan biaya yang sangat tinggi.
3. Sistem angkut harus mampu membawa aliran cukup besar.
4. Efisiensi irigasi basin sebagian besar tergantung pada kompetensi irrigator,
Misalnya, mengetahui kapan untuk memotong sungai.

Adapun keuntungan yang diperoleh dari penggunaan irigasi basin, yaitu:


1. Biaya energi dapat signifikan dan juga dapat tidak signifikan.
2. Aplikasi keseragaman mungkin 90% atau lebih tinggi dengan konstruksi yang tepat
dan manajemen yang tepat.
3. Laser dapat digunakan untuk membuat permukaan tanah pada tingkat akurat dalam
cekungan irigasi besar. Pada kasus cekungan kecil, peralatan sederhana, seperti
tingkat, dapat digunakan secara efektif.
4. Sebuah tata letak basin terencana yang telah benar dibangun biasanya memiliki
umur yang lebih panjang dan membutuhkan minimal perawatan.
5. Aplikasi keseragaman meningkat karena cekungan mengisi lebih cepat.
6. Sebuah spektrum yang luas dari tanaman, seperti pohon dan baris tanaman, yang
mungkin dibudidayakan pada cekungan irigasi.
7. Merupakan sistem sederhana yang mudah beroperasi dengan tingkat akurasi yang
tinggi.
8. Sistem ini dapat secara otomatis.

Tahap perencanaan dan desain irigasi basin adalah pemilihan, menguji


karakteristik tanah, menentukan karakteristik tanaman, survei, rancangan, estimasi
waktu, menentukan kapasitas dan membuat laporan. Basin irigasi adalah pilihan yang
bagus untuk penggunaan di daerah yang relatif datar. Irigasi ini cocok diaplikasikan
untuk perkebunan permanen, namun tidak disarankan untuk tanah yang rawan erosi dan
petani yang hanya menggunkannya sekali. Karakteristik tanah yang sesuai dengan
penggunaan irigasi basin adalah tanah yang memiliki infiltrasi stabil dan tidak terlalu
cepat. Laju ilfiltrasi air di dalam tanah dapat diuji dengan menggunakan silinder
infiltrometer. Tanah yang memiliki infiltrasi yang rendah, kedalaman cekungan harus
diatur. Pengaturan irigasi ini harus disesuaikan dengan kebutuhan tanaman yang akan
diberikan air irigasi, lalu mebuat laporan dari pengujian lahan yang telah ditentukan
oleh tujuan konstruksi pembangunan.

Konstruksi dalam irigasi basin, yaitu:


1. Pengamatan
Perancang harus tahu daerah baik dan tahu persis di mana sistem irigasi harus
diletakkan.
2. Memotong dan mengisi
Untuk memastikan seragam, cekungan tingkat, tanah harus dipotong dan diisi
pertama. Dengan baskom kecil (<10 m) untuk kelancaran keluar bagian bawah
dengan tingkat tanpa survei atau perhitungan. Dengan cekungan besar (> 10 m)
volume tanah yang dipotong harus menyeimbangkan dengan volume yang harus
diisi. Cekungan harus dibagi menjadi blok-blok persegi panjang dan ketinggian
tempat harus ditentukan dari tengah setiap blok. Spot ketinggian tidak perlu lebih
dekat dari 2 m dan tidak lebih dari 20 m. Tolok ukur harus dimasukkan di setiap
titik ketinggian pengukuran (di tengah blok) untuk menunjukkan tingkat pengisian
atau memotong kedalaman untuk tujuan pembangunan
Vs
1,1 Vt 1,4

di mana:
Vs = tanah Volume dipotong [m]
Vv tanah = Volume diisi [m]
3. Manajemen dan kontrol
Sama seperti pipa, sendi dan emitter sistem irigasi sprinkler telah dipertahankan,
cekungan irigasi dan sistem pasokan juga harus disimpan dalam perbaikan. Tanah
adalah dinamis dan cekungan harus diratakan setiap tahunnya. Bumi bergerak
sangat minimal, tetapi masih penting untuk berkinerja terus. Pemeliharaan tidak
hanya harus dilakukan setiap tahun, tetapi terus-menerus sebagai petani untuk
mengidentifikasi masalah dalam sistem irigasi.
4. Desain contoh irigasi basin
Seorang petani di distrik Cradock memiliki bidang 19 ha yang ia ingin menanam
dengan Luzern. Dia memilihirigasi basin karena sederhana dan terjangkau. Semua
informasi lainnya harus diperoleh oleh desainernya sendiri.
Tanah
Tanah merupakan tanah liat yang relatif homogen dengan kedalaman minimal
1m. Empat lubang profil yang kedalamannya yaitu 1,8 m dan sampel tanah gabungan
dianalisis. Sebuah tes silinder infiltrasi juga dilakukan yang menegaskan bahwa itu
adalah tanah lempung.
Tanaman
Menurut "Perkiraan Persyaratan Irigasi Tanaman di Afrika Selatan" persyaratan
irigasi 6,5 mm / hari selama puncak bulan Desember akan cukup untuk tanaman ini.
Oleh karena itu, NIRd = 6,5 mm / hari. Untuk tujuan penjadwalan crop factor harus
diperhitungkan untuk mengairi tepat sesuai dengan kebutuhan. Kedalaman akar efektif
diasumsikan 1,0 m.
Siklus
Menurut survei tanah kapasitas air tanah adalah WHC 100 = 110 mm/m. Air
yang tersedia, AW = WHC100 ERD (kedalaman akar efektif).
Oleh karena itu: AW = 110 1,0 = 110 mm. Ambil penipisan diijinkan, = 0,5.
Kemudian air tersedia adalah, RAW = AW = 110 0,5 = 55 mm dan sama dengan
persyaratan irigasi nett per siklus, NIRc.
RAW 55
Panjang siklus : tc = NIR = 6,7 = 8.2 hari

Asumsikan panjang siklus 8 hari (panjang praktis - tcp)


Dalam prakteknya, aplikasi per siklus NIRc = NIRd t cp = 6,5 8 = 52 mm (sering
perbedaan ini lebih besar, tetapi masih dapat diterima jika NIRc (praktis) lebih kecil dari
NIRc (teoritis).
Survei
Bidang ini disurvei dengan grid diperlukan dari 25 m 25 m dan peta kontur
ditarik. Informasi lain yang relevan juga harus ditunjukkan pada peta. Interval kontur
adalah 0,25 m.
Tata Letak
Tata letak ini dilakukan dengan aplikasi 50 mm dan panjang siklus 8 hari dalam.
Dalam hal ini diputuskan untuk membagi lapangan menjadi 16 blok, masing-masing
kira-kira ukuran yang sama, dengan dimensi rata-rata 60 m 20 m = 1 200 m 2. Sisi
cekungan tidak paralel karena harus masuk ke dalam kontur tanah. Menurut peta kontur
kedalaman penggalian maksimum akan menjadi sekitar 0,3 m, kecuali untuk blok
segitiga tertinggi.
Cut-off time
Aplikasi kotor minimum untuk tanah lempung dengan panjang baskom 50 m,
nilai n yaitu 0,15, dan aliran irigasi dari 20 m3/h adalah 40 mm. Pilih 20 m3/h per tingkat
inflow meter dengan waktu yang dapat diterima cut-off dari Tc = 6 menit.
Sebuah keseragaman distribusi 90% untuk tingkat, bahkan cekungan diterima, asalkan
pengoperasian waktu cut-off dan aliran irigasi diatas rata-rata.
Desain Irigasi Manual
Qbasin = 20 m3/h per meter 20 m = 400 m3/h.
Volume yang dibutuhkan untuk sebuah aplikasi dari 58 mm adalah:
20 50 58
V= 1000 = 58 m3

V
Untuk itu, cut - off time adalah Tc = Qbasin = 0,145 h = 8,7 menit, yang artinya

lebih panjang dari minimal 6 menit dan karena itu dapat diterima.
Untuk cekungan 75 m panjang aplikasi kotor minimum adalah 51 mm dan cut-off time
adalah 11,5 menit.
Qbasin = 400 m / h, NT = 58 mm
20 70 58
Untuk panjang cekungan 70 m : V = 1000 = 81 m3

V 81 m 3
Kemudian TC = Qbasin = 400 m3 /h = 0,2 h = 12,2 menit, yang merupakan

sebagai minimum mm dan karena itu memuaskan


Untuk 60 m cekungan panjang Tc = 10,44 menit dapat dihitung.
Oleh karena itu, cekungan harus irigasi sesuai dengan panjang. Hal ini juga
menyederhanakan manajemen jika semua cekungan memiliki area dengan ukuran yang
sama.
IRIGASI BORDER (IRIGASI BATAS)

Sistem irigasi ini membutuhkan penggunaan kanal dan/atau pipa, perbatasan,


kondisi tanah dan penggunaan drainase permukaan. Irigasi perbatasan (border)
umumnya digunakan di Afrika Selatan. Hal ini umumnya digunakan untuk tanaman
biji-bijian dan sangat cocok untuk tanaman rumput seperti Luzern. Banyak daerah yang
ditata dengan sistem irigasi border, seperti Vaalharts, Brits dan Fish River Valley.
Gradien lebih panjang biasanya bervariasi antara 1:150 dan 1:1 000. Panjang perbatasan
bervariasi antara 50 m dan 400 m. Lebar batas bervariasi antara 3 m dan 12 m dan harus
sesuai dengan ukuran yang diterapkan. Dengan lapisan atas tanah yang tersedia dapat
menjadi faktor kualifikasi. Hanya setengah dari tanah lapisan atas harus dibuang untuk
menghilangkan silang lereng.
Aliran irigasi, 50-500 m/h, yang dialihkan ke border pada ujung atas. Setelah itu
mengalir di seluruh bagian depan turun ke bagian bawah untuk memungkinkan jumlah
air yang dibutuhkan menginfiltrasi profil tanah. Bagian bawah border bisa ditutup,
terbuka atau ditutup sebagian. Dengan sistem irigasi border tradisional aliran irigasi ini
dialihkan ke border dengan membuka alur angkut saat alur sedang ditumbuk. Sulit
untuk mempertahankan tingkat efisiensi yang tinggi dengan sistem semacam ini, karena
aliran irigasi tidak dapat langsung dipotong. Pintu air dapat digunakan secara efektif
untuk segera memotong aliran irigasi. Pintu air biasa terjadi di kanal beton, tetapi bisa
juga digunakan dalam kanal jika memiliki struktur penahan, seperti beton. Pipa sedot ini
mudah digunakan dan mudah beradaptasi. Laju aliran dapat dikelola atau diubah secara
akurat oleh irrigator selama proses irigasi. Kanal angkut harus minimal 0,2 m lebih
tinggi dari border untuk penyedot untuk bekerja dengan baik.
Tidak ada batasan pada tanaman yang dapat dibudidayakan dalam sistem irigasi
border. Tanaman semi permanen, , dapat dibantu dengan sistem irigasi border tanpa
menghambat lintas pertanian normal. Tanaman dengan kedalaman akar alami paling
sedikit 1 m harus dipertimbangkan. Kelemahan dari irigasi model border, yaitu:
1. Mahalnya persiapan lahan yang diperlukan untuk membangun border yang tepat.
2. Kedalaman tanah lapisan atas juga membatasi karena hanya setengah dari itu dapat
dipotong, terutama jika ada gradien lintas curam.
3. Untuk irigasi yang efektif aliran irigasi harus konstan, dikontrol dan dikelola.
4. Pilihan dalam aplikasi irigasi terbatas. Keterbatasan ini dapat dengan mudah diatasi
dengan menerapkan siklus waktu yang relatif lama (7 hari) dan dengan budidaya
tanaman dengan sistem akar yang dalam.

Keuntungan dari penggunaan irigasi model border,yaitu:


1. Sistem membutuhkan biaya energi sedikit atau tidak ada.
2. Dengan konstruksi yang tepat dan manajemen aplikasi keseragaman (AU) di irigasi
border adalah 80% atau lebih baik.
3. Gradien border dapat dibangun secara akurat dengan bantuan laser tanpa banyak
biaya tambahan dan dalam waktu yang lebih singkat Sistem border yang baik
memiliki umur panjang jika perawatan dasar dilakukan terus.
4. Hujan dimanfaatkan secara optimal dan surplus air hujan dikeringkan dengan aman.
5. Sistem ini bekerja secara otomatis.

Tahapan-tahapan dalam mendesain sistem irigasi border, yaitu:


1. Menetapkan Kebutuhan
Dalam banyak kasus di mana desain sistem irigasi border diwajibkan, adalah
untuk mengupgrade sistem yang ada. Sebuah perkembangan baru dapat memilih sistem
border yang daerah tersebut memiliki gradien sedang dan tanaman berakar dalam,
seperti Luzern. Jika petani siap untuk menjalankan sistem pada standar yang tinggi dan
tidak ada memiliki keterbatasan fisik, irigasi border adalah pilihan yang baik.
2. Karakteristik tanah
Laju infiltrasi tanah merupakan salah satu faktor yang paling penting dalam
irigasi border. Untuk membuat desain sistem irigasi border yang baik adalah perlu untuk
membaca infiltrasi di perbatasannya yang mewakili batas yang akan digunakan.
Pembacaan harus diambil setidaknya tiga kali dengan selang waktu tujuh hari, karena
laju infiltrasi antara tiga irigasi pertama bervariasi secara drastis.

3. Karakteristik Tanaman
Baris tanaman yang ditanam dengan atau melawan arah aliran irigasi, juga
memiliki pengaruh yang nyata. Tanaman seperti lucern dan Kikuyu mampu
meningkatkan aplikasi irigasi border.
4. Survei
Survei sangat penting dilakukan. Ketinggian tempat sebaiknya dilakukan pada
format grid dengan dimensi antara 20 m x 20 m dan 50 m x 50 m di mana gradien
bidang yang seragam. Semua variasi gradien, infrastruktur dan landmark yang mudah
dikenali harus dimasukkan dalam survei. Interval kontur 0,25 m cukup memadai untuk
irigasi border.
5. Tata Letak
Peta kontur lengkap dapat digambarkan dengan tangan, tetapi penggunaan
program komputer lebih disukai karena menyederhanakan pembuatan penyesuaian.
Semua informasi yang diketahui harus ditunjukkan pada peta agar sistem irigasi border
yang akan dibangun baik. Rancangan tata letak dapat dikerjakan dengan informasi dan
perintah yang sudah tersedia dan perintah besarnya.
6. Kapasitas Penetapan
Tata letak akhir yang disepakati, memungkinkan untuk menghitung ukuran
aliran, waktu kenaikan dan kedalaman aplikasi. Rancangan tata letak dapat digunakan
untuk menghitung waktu kemajuan. Jika ini diketahui, kedalaman infiltrasi juga dapat
dihitung. Jika kedalaman infiltrasi tidak sesuai dengan aplikasi yang dibutuhkan,
perubahan harus dibuat dengan panjang batas, gradien atau aliran.
7. Laporan
Laporan biasanya adalah satu-satunya pedoman petani mengenai sistem irigasi
nya.
Laporan harus jelas menunjukkan desain apa yang tersedia.
Spesifikasi lengkap dari peralatan untuk sistem, maupun ekstensi atau perubahan
diatur, harus ditetapkan dalam laporan.
Fungsi yang paling penting dari laporan ini adalah untuk memberikan petani
dengan penjelasan lengkap untuk pemakaian yang optimal dari sistemnya.

Konstruksi dalam irigasi model border, yaitu:


1. Pengamatan
Rencana akhir harus disusun keluar sedemikian rupa, yang berisi semua
informasi yang diperlukan, bahwa hal itu akan mungkin untuk menggunakan rencana
untuk mengamati lapangan.
2. Pemotongan dan Pengisian
Proses pemotongan dan pengisian dimaksudkan untuk meminimalkan gradien
silang, sambil membuat gradien lebih seragam panjang. Menentukan kedalaman
pemotongan dan tingkat pengisian dapat dilakukan seperti yang dijelaskan di bagian
untuk irigasi basin, tapi sayangnya itu agak rumit untuk melakukannya dengan tangan.
Program komputer dapat menyederhanakan tugas tersebut. Prinsip yang sama berlaku
untuk pemotongan dan proses pengisian border dan basin irigasi, dengan pengecualian
untuk gradien konstan dalam kasus irigasi border. Peralatan laser hampir penting untuk
irigasi border, khususnya dimana gradien untuk 1:400 dan datar terjadi. Input modal
atau biaya kontraktor untuk membangun batas dengan cepat dan akurat biasanya
kembali dalam waktu satu atau dua tahun.

Manajemen dan pemeliharaan pada irigasi model border, yaitu pemeliharaan


dari border adalah menjamin bahwa permukaan border tidak berubah karena budidaya.
Kerusakan bubungan juga harus diperbaiki secara berkala. Border harus diperbaiki
setiap tahun, atau sebelum tanaman baru ditanam. Perawatan Harus diperhatikan dengan
pemeliharaan sistem pasokan karena kebocoran biasanya tidak terdeteksi.
Contoh irigasi border atau irigasi batas, yaitu:
Seorang petani di distrik Hartswater memiliki medan 25 ha yang ia ingin tanam
dengan lucern. tanahnya berpasir dan setidaknya mempunyai kedalaman 1,5 m. Dia
ingin menggunakan sistem irigasi perbatasan. Aliran yang tersedia adalah 150 m/h atau
300 m/ h.
Solusi:
Pertama-tama perancang ingin mendirikan besarnya pesanan dan
mengirimkannya ke petani sebelum membuat desain yang akurat yang memerlukan tes
infiltrasi.

Iklim
Persyaratan puncak tanaman dari 8 mm/hari diambil sebagai norma untuk lucern di
daerah ini. Pengaruh hujan tidak diperhitungkan untuk tujuan desain. (Ini tidak berarti
bahwa petani harus meninggalkan keluar dari akun ketika melakukan penjadwalan
irigasi). Kebutuhan irigasi nett per hari (NIRd) karena diasumsikan 8 mm/hari.
Crop
Kedalaman akar alami (NRD) dari tanaman diasumsikan 0,9 m dan penipisan yang
diijinkan (v) 50% / m.
Tanah
Tanah telah dianalisis dan laporan laboratorium menunjukkan bahwa kapasitas air
tanah adalah 100 mm.
Oleh karena itu, kedalaman akar efektif (ERD) adalah 0,9 m dan air yang tersedia
(AW):
AW = SWC ERD
= 100 x 0,9
= 90 mm
Dan air yang segera tersedia (RAW)
RAW = AW
= 90 u0,5
= 45 mm
= RAWc (persyaratan irigasi nett per siklus)
Siklus
Tc =RAW/NIR
=5,6 hari
Tc=6 hari((Siklus praktis sebaiknya harus sedikit lebih pendek atau maksimum 10%
lebih lama)
NIR(Praktis)= 48 mm
Dan kebutuhan irigasi kotor: GIR =NIR/t
=48/0,75
=64 mm

Sistem
- Penataan:
Sebuah tata letak irigasi perbatasan, yang contoh diilustrasikan pada Gambar 15,24,
disarankan. Gunakan perbatasan 200 m panjang dengan gradien rata-rata 1: 300 atau
0,33%. Menurut Tabel 15,13 an-nilai n dari 0,15 diasumsikan. Aliran 30 m3 / h per
meter memberikan aplikasi bruto (GA) dari 60 mm. Dengan Tc = 24 menit, DU> 80 -%,
dan Ta = 60,3 menit. GA adalah sedikit di bawah diperlukan 64 mm, yang perbedaan
tidak signifikan.
- Laju aliran yang diperlukan selama irigasi:
Q= A x 24 x 7 xNIR
2,4 x td x th x x
A= area irigasi(ha)
NIR= persyaratan irigasi nett
td=hari irigasi per minggu
th=jam irigasi per hari
x=efesiensi sistem(fraksi)
Laju aliran ini adalah laju alir yang diperlukan untuk memenuhi persyaratan puncak dan
harus seimbang dengan aliran irigasi.
Diambil A=25ha
td=6hari
th=11jam (11 jam dianggap efektif jika posisinya dibuat
untuk penundaan)
x=0,75-efisiensi sistem untuk batas yang baik
NIR=8mm/hari
Q= 25 x 24 x 7 x 8
2,4 x 6 x 11x 0,75
= 283m3/h
Aliran 300 m3 / h hanya sedikit lebih dari yang dibutuhkan dan diterima.
Harusnya itu tidak seimbang, tata letak dan / atau mungkin aplikasi akan harus diubah.

- Ukuran Batas:
Jika dua aliran 150 m / h digunakan, dua perbatasan 5 m lebar dapat diairi pada saat
yang sama. Katakan bahwa dibutuhkan 30 menit untuk setiap pengaplikasiannya. Oleh
karena itu empat perbatasan yang diairi per jam, 44 per hari dan 264 per minggu.
Termasuk untuk tataruang ini adalah 625 x 2=250 batas dari panjang 200 m dan lebar
5
5 m, memberikan kapasitas keseimbangan yang bagus .
IRIGASI FURROW (IRIGASI ALUR)

Irigasi alur terdiri dari saluran saluran tanah kecil yang dibangun di gradien
konstan. Sistem irigasi ini cocok untuk penggunaan peralatan seperti pipa siphon yang
fungsinya sederhana. Irigasi alur pada dasarnya terdiri dari kanal bumi paralel kecil ke
mana air irigasi dialihkan dan juga biasanya dibuat dengan traktor dan alat lainnya.
Jarak antara alur harus sesuai dengan jarak antara roda traktor. Irigasi alur hanya
sebagian membasahi permukaan tanah. Sekelompok alur dapat menerima air secara
bersamaan dari kanal atau pipa yang mengalir menuruni alur-alur.
Alur harus memiliki gradien moderat seragam dalam arah aliran. Jika
persyaratan ini dapat dipenuhi dengan alur lurus, sejajar, itu akan mempermudah
budidaya. Punggung kontur sayangnya jarang sejajar satu sama lain, tapi dengan inovasi
terbaik dapat dibuat suatu situasi dengan misalnya mengorbankan sedikit dikonsistensi
gradien dan panjang alur. Alur sering hanya diberikan dengan air irigasi dengan
membuka dinding samping dari saluran pasokan bumi. Hal ini hampir mustahil untuk
membagi air yang sama rata dengan menggunakan sistem ini. Dua pipa untuk setiap alur
akan meningkatkan kontrol karena membuat pengurangan aliran. Pipa pintu air dengan
kontrol listrik atau hidrolik yang digunakan pada skala terbatas di Amerika Serikat
membutuhkan biaya modal yang tinggi. Konsep 'cablegation', juga dikembangkan di
Amerika Serikat, terdiri dari pipa dengan outlet dekat bagian atas. Sebuah penyumbat
yang bergerak hilir di bawah tekanan air, tetapi gerakan dikendalikan oleh kabel dalam
pipa. Efeknya adalah bahwa air didistribusikan pada tingkat penurunan melalui outlet ke
alur sebagai penyumbat yang bergerak ke bawah pipa. Namun, biaya sistem kontrol
tinggi.
Tanaman yang tidak terlalu suka air sangat cocok untuk irigasi alur. Biasanya
tanaman ditanam di sepanjang sisi alur, tetapi di daerah yang sangat kering mereka
dapat ditanam di bagian bawah dan di daerah basah dapat ditanam di atas bukit.
Keterbatasan-keterbatasan dalam irigasi model furrow, yaitu:
1. Manajemen harus berkualitas tinggi untuk mencapai tingkat efisiensi yang tinggi.
2. Lalu lintas pertanian terhambat oleh alur.
3. Jika irigasi atau air hujan mengalir di tepi alur atau galian akan menyebabkan
kerusakan yang berlebihan.
4. Sulit untuk membagi air yang sama rata.
5. Akumulasi garam antar alur dapat menyebabkan tanah menjadi air. Sebagai catatan,
air payau adalah campuran antara air tawar dan air laut. Jika kadar garam yang
dikandung dalam satu liter air adalah antara 0,5 sampai 30 gram, maka air ini
disebut air payau. Namun jika lebih, disebut air asin. Air payau ditemukan di
daerah-daerah muara dan memiliki keanekaragaman hayati tersendiri.

Manfaat dari penggunaan irigasi model furrow, yaitu:


1. Alur dapat dibangun sesuai dengan topografi alam.
2. Air irigasi dapat digunakan secara efektif.
3. Alur-alur sendiri merupakan sistem drainase permukaan yang sangat baik untuk
hujan yang berlebihan.
4. Rendah atau tidak ada tingkat energi yang diperlukan untuk mengoperasikan
sistem.
5. Aplikasi relatif kecil biasanya diberikan dengan irigasi alur.

Perancangan sistem irigasi alur/furrow harus memperhatikan beberapa hal, yaitu:


1. Menetapkan kebutuhan
Topografi dan tanaman budidaya merupakan hal penting dalam pembuatan
irigasi alur. Misalnya, jika tanaman budidaya di daerah pegunungan memerlukan alur
dalam irigasinya. Faktor yang terpenting dalam keberhasilan system irigasi alur ini ialah
kemauan petani dalam mengoperasikan system irigasi dengan baik dengan adanya
evaluasi.
2. Karakteristik tanah
Karakteristik tanah berperan cukup penting, seperti jenis tanah, tekstur,
kecepatan infiltrasi, dan analisis air. Contoh dari karakteristik tanah memegang peranan
penting yaitu tanah yang membentuk kerak setelah irigasi pertama, adanya lapisan tanah
yang membatasi irigasi.
3. Sifat Tanaman
Irigasi alur hanya cocok untuk tanaman baris seperti tomat, tebu, kubis, dan
lainnya. Informasi yang terpenting untuk merancang irigasi alur ini ialah kebutuhan air
tanaman dan kedalaman perakaran.
4. Survei
Sebuah desain pra-irigasi tanpa survei yang tepat mustahil utnuk mendapatkan
data yang valid pada suatu lahan. Alasan utama karna dalam melakukan survei kita
harus betul-betul matang persiapannya dan sesuai dengan garis kontur. Oleh karena it
ugaris harus menjadi replica sejati lapangan sebuah survei grid 20 m x 20 m yang
dianjurkan.
5. Tata Letak
Dengan peta kontur yang sudah tersedia, berbagai kemungkinan tata letak dapat
dipertimbangkan. Jika sistem kontur alur yang digunakan dapat memungkinkan untuk
mengairi dari salah kedua ujungnya, dan karena itu kedua belah pihak harus diselidiki
pada setiap bagain lahannya, arah alur yang berbeda bahkan harus dipertimbangkan
dalam kasus di mana alur lurus yang mungkin setelah plaining tanah.
6. Penentuan kapasitas
Keseimbangan akhir antara tanaman, tanah dan air irigasi sekarang bisa
dilakukan.
Ukuran Kanal ditentukan sesuai dengan ditentukan sesuai dengan Saluran dan
pipa yang ukurannya yang sesuai.
7. Laporan
Laporan pada sistem harus cukup lengkap untuk dapat melayani sebagai
panduan untuk petani dan karena itu harus mudah dan jelas dipahami. Semua informasi
tengtang tanah, iklim dan tanaman harus terkandung dalam laporan bersama-sama
dengan rincian lengkap pada sistem.

Konstruksi pada model irigasi alur, yaitu:


1. Mengintai/mengamati Lapang
Kita harus mengamati daerah yang akan kita bangun irigasi. Kita mengamati
daerah yang memiliki kontur yang sulit dan kita harus bisa mengontrolnya. Dengan
pengamatan dan mengontrol yang baik diharapkan dapat melakukan penyesuaian tata
letak dengan baik pula.
2. Memotong dan mengisi
Dalam memotong dan mengisi kita harus tahu benar tentang kontur. Sehingga
kita tidak salah memotong dan mengisi tempat dalam irigasi seperti irigasi pembatas.
Proses pemotongan dan pengisian dimaksudkan untuk meminimalkan gradien lintas,
sementara membuat gradien lebih seragam panjang.
3. Peralatan Laser
Untuk mengintai gradian agar lebih akurat kita dapat menggunakan laser.
4. Manajemen dan pemeliharaan
Pemeliharaan perbatasan adalah memastikan bahwa permukaan perbatasan tidak
berubah karena budidaya.

Contoh desain irigasi alur adalah sebagai berikut:


Seorang petani di Gauteng dekat Kempton Park memiliki bidang 9 ha yang dia
ingin melakukan pengairan. Dia memiliki sebuah lubang bor dari 50 m/h dan ingin
menumbuhkan kubis eksklusif. Dia ingin mengairi tapi belum memutuskan sistemnya.
Sebuah desain sistem irigasi alur adalah pilihan pertamanya.
Solusi:
Tanah
Tanah homogen lempung. Salah satu pit profil dari 1,5 m di tengah lapangan
menunjukkan bahwa tanah kedalaman Hutton (t, 5 m) tanpa lapisan pembatas yang
jelas atau masalah drainase. Analisis tanah menunjukkan bahwa tanah lempung liat
berpasir dengan kandungan liat 18%. Kapasitas air tanah tersedia di tanah
ditentukan di laboratorium menjadi 80 mm/m.
Air
Air dari lubang bor dianalisis dan tidak ada batasan. Tingkat abstraksi air adalah 0,6
u 50 m / h = 300 m / h, yang merupakan laju aliran konstan tersedia
Kebutuhan air tanaman
Menurut para ahli tanaman, kebutuhan puncak kubis di daerah ini adalah 6 mm /
hari dan kedalaman akar 400 mm. Dalam hal ini air tersedia adalah 80 u0,4 = 32
mm.

Laju air
Dimana :
A = daerah yang diirigasi [ha]
NIR = kebutuhan irigasi bersih
td = hari irigasi per minggu
th = jam irigasi per hari [h]
s = efisiensi sistem (fraksi)

laju aliran sumur (Qb):

Dimana td = 7 hari dan th = 24 untuk lubang bor yang memompa ke dalam


bendungan terus-menerus. Ini berarti bahwa petani dalam praktek harus memompa
lubang bor nya pada tingkat 32 m3 / jam.
Laju alir dari bendungan selama irigasi (Qd):

Layout:
Menurut peta kontur yang disediakan oleh petani dan jenis tanah, gradien rata-rata 1:
300 dipilih dengan alur-alur 220-250 m panjang. Alur harus diletakkan di cara paling
praktis. Sebagian dari alur-alur ditempatkan sejajar dengan salah satu tepi lapangan dan
sisanya melengkung bentuk paralel untuk satu sama lain. Gradien dari alur-alur
bervariasi antara 1:270 dan 1:380, yang berada dalam batas-batas. Sebuah efisiensi 75%
digunakan.

Kedalaman irigasi:
Sebuah laju aliran praktis 15 m/h per alur yang dipilih. Menurut laju aliran yang
dibutuhkan dalam diberikan waktu irigasi, harus diairi secara bersamaan. Nilai-nilai
berikut ini berlaku untuk gradien dari 1: 300 dan laju alir 15 m/h (interpolasi):