Anda di halaman 1dari 43

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI.............................................................................................................i
DAFTAR TABEL....................................................................................................ii
DAFTAR GAMBAR..............................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1
BAB II LANDASAN TEORI..................................................................................3
2.1 Pengertian Studi Gerakan..........................................................................3
2.2 Pengertian pengukuran waktu...................................................................3
2.3 Pengukuran Waktu Baku Secara Tidak Langsung.....................................4
2.3.1 Work Factor (WF)............................................................................11
2.3.2 Pengukuran Waktu Cara MTM (Measurement Time Method).........16
2.4 Langkah-langkah dalam Pelaksanaan Pengukuran Waktu Kerja............20
BAB III PENGOLAHAN DATA...........................................................................23
3.1 Pengumpulan Data..................................................................................23
3.1.1 Produk yang diteliti..........................................................................23
3.1.2 Deskripsi kerja.................................................................................25
3.2 Pengolahan Data......................................................................................25
3.2.1 Penentuan Faktor Kelonggaran........................................................25
BAB IV ANALISIS...............................................................................................31
4.1 Analisis Faktor Kelonggaran...................................................................31
4.2 Analisis Waktu Baku dengan Menggunakan Metode Work Factor........32
4.3 Analisis Waktu Baku dengan Menggunakan Metode Measurement Time
Method (MTM)...................................................................................................35
BAB V KESIMPULAN.........................................................................................38

Modul 3 - 1
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Elemen Gerakan THERBLIG.................................................................5
Tabel 2.2 Tabel WF................................................................................................14
Tabel 2.3 Tabel analisis work factor.......................................................................15
Tabel 2.4 Tabel pengukuran waktu........................................................................20
Tabel 2.5 Tabel MTM Reach-R..............................................................................21
Tabel 3.1 Faktor Kelonggaran................................................................................26
Tabel 3.2 Perhitungan waktu baku dengan metode Work Factor..........................27
Tabel 3.3 Lanjutan Perhitungan waktu baku dengan metode Work Factor...........28
Tabel 3.4 Perhitungan waktu baku dengan metode Measurement Time Method
(MTM)...................................................................................................................29
Tabel 3.5 Lanjutan Perhitungan waktu baku dengan Measurement Time Method
(MTM)...................................................................................................................30
Tabel 4.1 Usulan dengan metode work factor........................................................32
Tabel 4.2 Lanjutan Usulan dengan metode work factor........................................33
Tabel 4.3 Usulan dengan Metode Measurement Time Method (MTM).................35
Tabel 4.4 Lanjutan Usulan dengan Metode Measurement Time Method (MTM)..36

Modul 3 - 2
DAFTAR GAMBAR

Gambar 3.1 Badan U-Clamp..................................................................................23


Gambar 3.2 Atap 1.................................................................................................23
Gambar 3.3 Atap gerigi..........................................................................................24
Gambar 3.4 Baut....................................................................................................24
Gambar 3.5 Meteran..............................................................................................24
Gambar 3.6 Obeng.................................................................................................24

Modul 3 - 3
BAB I
PENDAHULUAN

Suatu pekerjaan akan dikatakan diselesaikan secara efisien apabila waktu


penyelesaianya berlangsung paling singkat. Studi gerakan merupakan salah satu
metode pemetaan sistem kerja dengan menganalisis gerakan anggota badan saat
bekerja yang diuraikan dalam elemen-elemen gerakan sehingga dapat
menghilangkan gerakan-gerakan yang tidak efektif, yang pada akhirnya dapat
menghemat waktu kerja maupun pemakaian peralatan dan fasilitas kerja. Oleh
karena itu untuk mendapatkan hasil yang terbaik untuk pengukuran waktu kerja,
tenaga kerja yang efektif dibutuhkan dalam perhitungan waktu kerja yang
bertujuan untuk meningkatkan produktivitas perusahaan.

Studi gerakan adalah analisis terhadap beberapa gerakan bagian badan


pekerja dalam menyelesaikan pekerjaannya, dengan demikian diharapkan agar
gerakan-gerakan yang tidak efektif dapat dikurangkan. Untuk memudahkan
penganalisaan terhadap gerakan-gerakan yang dipelajari, perlu dikenal dahulu
gerakan-gerakan dasar. Metode MTM (Measurement Time Methods) yang
mempunyai keunggulan pre-determaned, ialah metoda ini dapat mendeteksi
waktu penyelesaian suatu pekerjaan dalam suatu metoda yang diusulkan sebagai
alternatif, sebelum metoda kerja tersebut diterapkan atau dijalankan. Metode WF
(Work Factor) Faktor kerja adalah salah satu sistem di antara data sistem-sistem
yang dikembangkan sebagai data waktu gerakan.

Pada penelitian mengenai studi gerakan ini terdiri dari operator yang
melakukan perakitan U-Clamp dengan beberapa komponen seperti badan U-
Clamp, atap 1, atap gerigi, baut, dan alat bantu obeng. Sedangkan operator yang
lainnya merekam kegiatan perakitan dengan menggunakan kamera video. Setelah
selesai merancang produk maka dilakukan penelitian pada saat proses pengerjaan
langkah demi langkah untuk mendapatkan waktu standar untuk proses
produktivitas, memperbaiki metode kerja dengan gerakan yang lebih efektif dan

Modul 3 - 1
efisien. Mengidentifikasikan elemen-elemen gerakan suatu pekerjaan lalu
menganalisis elemen-elemen gerakan yang efektif dan tidak efektif.

Modul 3 - 2
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Studi Gerakan

Studi gerakan merupakan salah satu metode pemetaan sistem kerja dengan
menganalisis gerakan anggota badan saat bekerja yang diuraikan dalam elemen-
elemen gerakan sehingga dapat menghilangkan gerakan-gerakan yang tidak
efektif, yang pada akhirnya dapat menghemat waktu kerja maupun pemakaian
peralatan dan fasilitas kerja.

Studi gerakan memiliki manfaat sebagai berikut:

1. Memperbaiki kemampuan pekerja karena menerapkan metode yang


baik, penggunaan alat yang baik dan menghentikan kegiatan yang tidak
perlu.
2. Mendapatkan waktu baku dari proses pengerjaan di suatu stasiun kerja.
3. Mengurangi kelelahan pekerja dll.
2.2 Pengertian pengukuran waktu
Pengukuran waktu dilakukan untuk mendapatkan waktu baku penyelesaian
suatu pekerjaan. Waktu baku yaitu waktu yang dibutuhkan secara wajar oleh
seorang pekerja normal untuk menyelesaikan suatu pekerjaan yang dijalankan
dalam suatu sistem kerja terbaik.

Secara garis besar teknik-teknik pengukuran waktu baku dibagi kedalam


dua bagian (Sutalaksana, Anggawisastra dan Tjakraatmadja, 2006,hal. 131),
yaitu :

a. Secara langsung
Cara ini disebut demikian karena pengukurannya dilakukan secara
langsung, yaitu ditempat dimana pekerjaan yang bersangkutan dijalankan.
Dua cara yang termasuk didalamnya adalah cara jam henti (Stopwatch
time study) dan sampling pekerjaan (Work sampling).
b. Secara tak langsung

Modul 3 - 3
Cara ini melakukan penghitungan waktu tanpa harus berada di tempat
pekerjaan, yaitu dengan membaca tabel-tabel yang tersedia asalkan
mengetahui jalannya pekerjaan melalui elemen-elemen gerakan. Adapun
yang termasuk kelompok ini adalah data waktu baku dan data waktu
gerakan.

Waktu penyelesaian suatu pekerjaan yang dijalankan dengan suatu sistem


kerja tertentu dapat ditentukan dengan salah satu metode tersebut. Apabila
pengukuran dilakukan terhadap beberapa alternatif sistem kerja, maka alternative
yang dipilih adalah sistem yang membutuhkan waktu penyelesaian tersingkat.
2.3 Pengukuran Waktu Baku Secara Tidak Langsung
Pengukuran waktu secara tidak langsung dilakukan dengan cara
menggunakan tabel yang telah distandarkan, dengan catatan mengetahui setiap
gerakan pekerja ketika melakukan suatu pekerjaan. Metode yang dapat digunakan
dalam pengukuran waktu baku secara tidak langsung ini yaitu studi gerakan.

Studi gerakan adalah analisis yang dilakukan terhadap beberapa gerakan


bagian tubuh pekerja dalam menyelesaikan pekerjaannya. Dengan demikian
diharapkan agar gerakan-gerakan yang tidak perlu dapat dikurangi atau bahkan
dihilangkan sehingga akan diperoleh penghematan baik dalam bentuk tenaga,
waktu pekerja maupun dana (Sutalaksana, Anggawisastra dan Tjakraatmadja,
2006, hal. 102). Gerakan untuk mengefektifkan penerapannya, muncul dari
seorang konsultan Methods Engineering ternama dari Jepang Mr. Shigeo
Singo. Dia mengklasifikasikan Therblig yang telah dibuat oleh Gilbreth menjadi
empat kelompok, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 3.1

Selain itu gerakan-gerakan dapat juga diklasifikasikan dalam dua kategori,


yaitu:

1. Efektif
- Physical Basic Division: Reach, Grasp, Move, Hold, Preposition, Release
- Objective Basic Division: Use, Assemble, Disassemble
2. Inefektif
- Mental atau semimental Basic Division: Search, Select, Position, Inspect,
Plan
- Delay: Avoidable delay, Inavoidable delay, Rest.

Modul 3 - 4
Tabel 2.1 Elemen Gerakan THERBLIG

(Sumber: Sutalaksana, dkk. 2006, hal. 103)

Adapun penjelasan dari 17 elemen gerakan dasar yang diteliti oleh Frank
B. Gilbert dan Istrinya adalah :

1. Mencari (search) lambangnya SH

Elemen gerakan mencari merupakan gerakan dasar pegawai untuk


menemukan lokasi objek, menggunakan mata.

Contoh :
Mencari letak komputer yang akan digunakan mengetik
Menemukan lokasi / letak telepon yang berdering

2. Memilih (select) lambangnya ST

Gerakan untuk menemukan suatu objek yang tercampur menggunakan


tangan dan mata, baru berhenti bila objek sudah ditemukan.

Contoh :
Mencari sebuah file pada tumpukan berkas
Mencari sebuah pena dikumpulkan alat tulis

Modul 3 - 5
3. Memegang (graps) lambangnya G

Gerakan untuk memegang objek, biasanya didahului dengan gerakan


menjangkau dan dilanjutkan dengan gerakan membawa.

Contoh :
Memegang file yang telah ditemukan kemudian membawanya ke meja
kerja.

4. Reach (menjangkau) dilambangkan dengan RT

Gerakan tangan berpindah tempat tanpa beban, baik gerakan mendekati


maupun menjauhi objek.

Contoh :
Menjangkau mouse komputer ketika menggunakan komputer.
Menjangkau benda yang berada sedikit tinggi ketika kita ingin mengambil
file diatas lemari.

5. Membawa (move)

Gerakan berpindah tangan dimana tangan dalam keadaan dibebani.

Contoh:
Membawa laptop ke ruang meeting
Membawa tumpukan file ke ruang arsip.

6. Memegang untuk memakai (hold) dilambangkan dengan huruf H

Gerakan memegang tanpa menggerakan objek yang sedang dipegang.

Contoh:
Menggunakan komputer ketika mengetik
Menghidupkan mesin cetak misalnya printer ketika ingin mencetak berkas.

7. Melepas (release) lambangnya RL

Modul 3 - 6
Terjadi ketika pegawai melepaskan objek yang dipegangnya. Berawal dari
pegawai mulai melepaskan tangannya dari objek dan berakhir bila seluruh jarinya
tidak menyentuh objek lagi.

Contoh:
Menutup telepon
Meletakkan kunci inggris setelah memperbaiki mesin.

8. Mengarahkan (position) dilambangkan dengan P

Didahului oleh gerakan mengangkut dan diikuti oleh gerakan merakit


(assembling). Misalnya memutar, menggeser ketempat yang diinginkan dan
berakhir pada saat objek sudah dirakit atau mulai dipakai.

Contoh:
Menggeser meja kerja ke dekat dinding
Memindahkan printer kedekat komputer kemudian menyambungkannya
dengan komputer.

9. Mengarahkan sementara (preposition) lambangnya PP

Elemen gerak menuju pada tempat sementara. Tujuan mengarahkan


sementara adalah memudahkan pemegangan apabila objek akan dipakai kembali.

Contoh:
Memindahkan pena dari tempat pena dan diletakkan dimeja didekat posisi
kita duduk.
Meletakkan laptop didepan posisi duduk.

10. Pemeriksaan (inspect) lambangnya I

Pekerjaan memeriksa objek untuk mengetahui apakah objek telah memenuhi


syarat tertentu atau belum.

Contoh:
Memeriksa tinta printer
Memeriksa kembali dokumen laporan yang akan diserahkan pada atasan

Modul 3 - 7
11. Perakitan (assamble) lambangnya A

Gerakan untuk menghubungkan satu objek dengan objek lain sehingga


menjadi satu kesatuan.

Contoh:
Menyambungkan mouse pada laptop.
Menyambungkan printer pada komputer.

12. Lepas rakit (dissamble) lambangnya DA

Dua bagian objek dipisahkan dari satu kesatuan.

Contoh:
Melepaskan mouse pada laptop ketika selesai digunakan.
Melepaskan kabel proyektor dari laptop ketika selesai presentasi.

13. Memakai (use) dilambangkan dengan U

Bila satu tangan atau kedua tangan digunkan untuk menggunakan alat.

Contoh:
Mengetik file
Menulis menggunakan pena
Menstempel suatu berkas, dll.

14. Kelambatan yang tidak dapat dihindarkan (un avoidable delay) dilambangkan
dengan UD

Kelambatan disini maksudnya adalah kelambatan yang terjadi diluar


kemampuan pengendalian pegawai.

Contoh:
Ketika ingin mencetak berkas printernya ternyata rusak.

15. Kelambatan yang dapat dihindarkan (avoidable delay) dilambangkan dengan


AD

Modul 3 - 8
Disebabkan oleh hal-hal yang ditimbulkan sepanjang waktu kerja oleh
pegawai baik disengaja maupun tidak.

Contoh:
Pegawai yang sedang mengalami masalah pribadi tidak bisa
berkonsentrasi pada pekerjaannya.

16. Merencana (plan) lambangnya Pn

Merupakan proses mental dimana operator berfikir untuk menentukan


tindakan yang akan diambil selanjutnya.

Contoh:
Seorang pegawai telah selesai mengerjakan suatu pekerjaannya ia
berencana menyerahkannya kepada atasannya.

17. Istirahat untuk menghilangkan fatique (rest to overcome fatique) R

Terjadi pada setiap siklus kerja tetapi secara periodic waktu untuk
memulihkan kembali kondisi badan dari rasa fatique sebagai akibat kerja berbeda-
beda, tidak saja karena jenis pekerjaannya tetapi juga karena pegawainya.

Contoh:
Hari sabtu libur bekerja
Adanya waktu istirahat makan siang yang cukup panjang dari jam 12.00
13.00
Untuk mendapatkan hasil kerja yang baik, sistem kerja harus dirancang
dengan memadukan gerakan-gerakan yang benar dan hemat tenaga (ekonomis).
Prinsip-prinsip gerakan yang demikian disebut Ekonomi Gerakan, dimana
secara garis besar terdiri dari tiga kelompok (Sutalaksana, Anggawisastra dan
Tjakraatmadja, 2006, hal. 120), yaitu:

a. Prinsip Ekonomi Gerakan yang Berhubungan dengan Tubuh Manusia


dan Gerakannya
Berikut adalah perinsip-prinsip ekonomi gerakan yang berhubungan
dengan tubuh manusia dan gerakannya:

Modul 3 - 9
1. Kedua tangan sebaiknya memulai dan mengakhiri secara bersamaan.
2. Kedua tangan sebaiknya tidak menganggur bersamaan kecuali sedang
istirahat.
3. Gerakan kedua tangan akan lebih mudah jika suatu terhadap lainnya
simetris dan berlawanan arah.
4. Gerakan, tubuh atau tangan sebaiknya dihemat. Gerakan hanya bagian
badan yang diperlukan saja untuk melakukan pekerjaan dengan
sebaik-baiknya.
5. Sebaiknya memanfaatkan momentum untuk membantu gerakan.
6. Gerakan yang patah-patah, banyak perubahan arah akan
memperlambat gerakan tersebut.
7. Gerakan balistik akan lebih cepat, menyenangkan dan lebih teliti
daripada gerakan yang dikendalikan.
8. Pekerjaan sebaiknya dirancang semudah-mudahnya dan jika
memungkinkan irama kerja harus mengikuti irama yang alamiah bagi
si pekerjanya.
9. Usahakan sedikit mungkin gerakan mata.

b. Prinsip Ekonomi Gerakan yang Berhubungan dengan Pengaturan


Tata Letak Tempat Kerja
Prinsip ekonomi gerakan dengan pengaturan tataletak tempat kerja ada 8.
Berikut adalah prinsip ekonomi gerakan yang berhubungan dengan
pengaturan tataletak tempat kerja:
1. Sebaiknya diusahakan agar peralatan dan bahan baku dapat diambil
dari tempat tertentu dan tetap.
2. Bahan dan peralatan ditempatkan pada tempat yang mudah, cepat, dan
enak untuk dijangkau.
3. Tempat penyimpanan bahan yang dirancang dengan memanfaatkan
prinsip gaya berat akan memudahkan kerja karena bahan yang akan
diproses selalu siap di tempat yang mudah diambil. Hal ini akan
menghemat tenaga dan biaya.
4. Untuk menyalurkan benda yang telah diproses, sebaiknya dirancang
mekanisme yang disusun sedemikian rupa sehingga gerakan dapat
dilakukan dengan urutan yang terbaik.
5. Bahan dan peralatan kerja sebaiknya disusun sedemikian rupa
sehingga gerakan dapat dilakukan dengan urutan yang terbaik.
6. Tipe dan tinggi kursi sebaiknya memungkinkan operator untuk bekerja
dengan duduk atau sambil berdiri.

Modul 3 - 10
7. Tipe dan tinggi kursi sedemikian rupa sehingga pekerja dapat
mempunyai sikap duduk/postur yang baik dan aman.

8. Tata letak peralatan dan pencahayaan sebaiknya diatur sehingga dapat


membentuk kondisi lingkungan yang baik untuk penglihatan.

c. Prinsip Ekonomi Gerakan yang berhubungan dengan perancangan


peralatan
Ada lima prinsip dalam ekonomi gerakan yang berhubungan dengan
perancangan peralatan, yaitu:
1. Sebaiknya tangan dapat dibebaskan dari semua pekerjaan bila
penggunaan perkakas pembantu atau alat yang dapat digerakkkan kaki
dapat dirancang.
2. Sebaiknya peralatan dirancang Multi Function.
3. Peralatan perlu dirancang agar mudah dipegang dan mudah disimpan.
4. Bila masing-masing jari tangan harus berfungsi beban harus
didistribusikan sesuai dengan kemampuan masing-masing jari.
5. Roda tangan, palang dan peralatan yang sejenis dengan itu, sebaiknya
diatur sedemikian, sehingga beban dapat melayaninya dengan posisi
yang baik serta dengan tenaga yang minimum.
Studi waktu gerakan terdiri atas dua cara pengukuran yaitu:

Work Faktor (WF) Measurement Time Methods (MTM)


2.3.1 Work Factor (WF)
Faktor kerja atau Work Factor adalah salah satu sistem diantara data
sistem-sistem yang dikembangkan sebagai data waktu gerakan. Pada faktor kerja,
suatu pekerjaan dibagi atas elemen-elemen gerak Menjangkau (Reach), Membawa
(Move), Memegang (Grasp), Mengarahkan Sementara(Preposotion), Merakit
(Assemble), Lepas Rakit (Disassasemble), Memakai (Use), Melepaskan
(Realease), Dan Proses Mental (Mental Process), sesuai dengan pekerjaan yang
bersangkutan.

Dalam menentukan waktu penyelesaian, yang diperhatikan adalah bagian


badan yang menggerakannya, faktor kerja yang berlaku dan variabel yang sesuai
untuk gerakannya. Umumnya bagian badan yang bergerak adalah jari atau telapak

Modul 3 - 11
tangan, putaran lengan, lengan dan telapak kaki. Faktor-faktor lain yang
mempengaruhi lamanya waktu gerakan yaitu berat atau hambatan, keadaan
perhentian, pengarahan, kehati-hatian gerakan dan perubahan arah gerak yang
semuanya ini disebut faktor-faktor kerja.

Ada empat variabel yang diperhitungkan disini, yaitu anggota badan yang
digerakan, jarak yang ditempuh, kontrol manusia (manual control) yang
diperlukan dan berat atau tahanan yang menghambat.

Dalam faktor kerja diperhatikan enam faktor anggota badan berikut :


Jari atau Telapak Tangan (F atau H)

Walaupun jari dan telapak tangan merupakan bagian-bagian badan yang


tidak sama, penyelidikan faktor kerja menunjukkan bahwa perbedaan
waktu diantaranya sangat kecil dan dapat diabaikan, sehingga keduanya
dapat dianggap sama.

Yang dimaksud dengan geraan-gerakan jari dan telapak tangan adalah


gerakan bagian-bagian badan ini maupun telapak tangan yang bersumbu
pada pergelangan tangan.

Putaran Lengan (LS)

Yang termasuk disini adalah bila lengan dibawah berputar pada sumbunya
sementara siku ditekuk. Selain itu seluruh tangan berputar pada sumbunya
dengan berpangkal pada bahu dan siku tidak ditekuk, termasuk dalam
gerakan ini. Begitu pula kombinasi antara keduanya.

Lengan (A)

Gerakan lengan terjadi bila lengan bawah bergerak dengan sumbu siku,
seluruh lengan bergerak dengan sumbu bahu atau kombinasi keduanya.

Badan bagian atas (T)

Modul 3 - 12
Gerakan badan bagian atas dapat berupa gerakan kedepan, kebelakang,
kesamping ataupun berputar.

Telapak kaki (F)

Bila telapak kaki bergerak mengerjakan sesuatu, seperti ketika menginjak


pedal gas kendaraan, maka gerakannya disebut gerakan telapak kaki.

Jarak (D)

Yang dimaksud dengan jarak adalah jarak lurus antara titik dimulainya
gerakan sampai titik berhentinya.

Di dalam kerja ada dua gaya yang harus benar-benar diperhatikan yaitu:

Berat atau Tahanan (W)

Dua gaya yang harus diperhatikan adalah tahanan yang harus diatasi dan
berat benda yang dipindahkan, tahanan terjadi, misalnya pada pekerjaan
mendorong sebuah kotak pada sebuah meja, atau menekan sebuah pedal
gas. Penyelidikan kerja menunjukkan bahwa berat atau tahanan, untuk
sekelompok berat tertentu tidak mempunyai perbedaan yang berarti satu
dari lainnya sehungga perbedaan ini dapat diabaikan. Karenanya pengaruh
faktor ini pada waktu gerakan dibagi dalam beberapa kelompok berat.

Kontrol manual

Kontrol terhadap suatu gerakan mempengaruhi lamanya gerakan. Semakin


besar control diperlukan, semakin lama waktu yang dibutuhkannya.

Besar kecilnya kontrol ditentukan oleh beberapa banyak diantara factor


dibawah ini yang tersangkut dalam suatu gerakan :

1. Keadaan Perhentian yang pasti (Definete Stop) Lambang D

Bila letak perhentian suatu gerakan merupakn tempat yang pasti maka
perhentian ini disebut perhentian pasti. Umumnya gerakan jangkau

Modul 3 - 13
yang mendahului gerakan pegang atau angkut yang mendahului gerakan
Pegang atau Angkut yang mendahului gerakan rakit harus berhenti pada
suatu tempat yang pasti.

2. Pengarahan (Steering) Lambang S

Bila letak perhentian suatu gerakan merupakan tempat yang pasti maka
perhentian ini Pengarahan. Seringkali faktor ini terjadi bersama
Perhentian Pasti, dimana untuk suatu gerakan diperlukan faktor
pengarahan.

3. Kehati-hatian (Precaution) Lambang P

Gerakan yang pengerjaannya memerlukan kehati-hatian misalnya untuk


menghindari, atau kontrol lain, mengandung faktor kehati-hatian
didalamnya.

4. Perubahan Arah Gerak (Change Direction) lambang U


Perubahan arah gerak adalah faktor yang tersangkut bila dalam suatu
gerakan terjadi perubahan arah yang cukup tajam.

Data waktu gerakan menurut faktor kerja dapat dilihat dalam tabel. Data
waktu gerakan ini ditabelkan sedemikian rupa sehingga jika suatu gerakan kerja
setelah dapat didefinisikan sesuai dengan empat variabel utama yang telah
diuraikan. Maka waktu penyelesaian pekerjaan yang tepat akan bisa dipilih secara
cepat. Nilai-nilai yang tercantum dalam tabel masih belum termasuk faktor
kelonggaran.

Tabel waktu gerakan kerja mencantumkan waktu-waktu gerakan menurut


anggota badan yang menggerakannya. Pada bagian paling kiri setiap tabel akan
terdapat kolom jarak, yaitu jarak yang harus ditempuh oleh setiap gerakan. Kolom
disebelahnya menunjukkan waktu untuk gerakan tersebut bila gerakannya
merupakan gerakan dasar, yaitu gerakan dengan tidak ada satupun faktor kerja
yang terkait didalamnya.

Modul 3 - 14
Cara Menggunakan Tabel

Tabel Waktu Gerakan Faktor Kerja mencantumkan waktu-waktu gerak


menurut anggota badan yang menggerakannya, contoh pada Gambar 2.3:

Tabel 2.2 Tabel WF


Distance Basic Work Factor
c
1 2 3 4
Moved
a
(L) Leg Measured at Ankle
1 21 30 39 46 53 b
d 2 23 33 42 51 38
3 26 37 48 57 65
4 30 43 55 66 76
Weight Male 8 42 UP - -
in Lbs. Fem. 4 21 Up - -

Keterangan: a = Kolom jarak, yaitu jarak yang ditempuh setiap gerakan.


b = Kolom waktu untuk gerakan (satuan Time Unit)

c = Menyatakan banyaknya faktor kerja yang tersangkut


dalam gerakan.

d = Menyatakan benda

Notasi Umum Cara Faktor Kerja

Notasi Umum : a b c

dimana : a = notasi untuk anggota badan yang bergerak

Modul 3 - 15
b = jarak yang ditempuh

c = menyatakan banyaknya faktor kerja yang tersangkut


dalam gerakan

contoh :

Menjangkau suatu benda sejauh 20 inchi


A 20 D = 80/10000 = 0,0080 menit

Membawa suatu benda seberat 4 pon ke meja kerja yang berjarak 30


inchi
A 30 WD = 119/10000 = 0,0119 menit

Memutar sekrup ke ujung mur sebesar 180 derajat


FS 180 D = 49/10000 = 0,0049 menit

Berikut adalah contoh pembuatan perhitungan waktu baku dengan Work


Factor. Analisa gerakan kerja diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan
mengambil sebuah pena yang terletak di meja kerja, menuliskan sesuatu pada
selembar kertas,mengembalikan lagi pena ke tempatnya dimeja, dan tangan
brgerak kembali ke kertas yang telah ditulis. Pemegang pena (pen holder) dalam
hal ini terletak di meja sejauh 12 inchi dari pusat area penulisan. Dengan analisa
Work-Factor persoalan tersebut dapat diselesaikan sebagai berikut:

Tabel 2.3 Tabel analisis work factor


No
Analisa Waktu
Eleme Deskripsi elemen kerja
Gerakan (menit)
n
1 menjangkau pena sejauh 12" A12D 0.0065
membawa pena menuju kertas yang akan
2 0.5F1
ditulis sejauh 12" 0.0008
menempatkan atau mengarahkan pena kembali
3 A12D
pada kertas yang akan ditulis 0.0065
4 menggoreskan pena membuat tanda X F1SD 0.0029

Modul 3 - 16
menempatkan atau mengarahkan pena kembali
5 F1D
pada kertas yang akan ditulis 0.0023
membawa pena kembali ke pemegang (pen
6 A12D
holder) sejauh 12" 0.0085
mengarahkan pena agar bisa masuk ke dalam
7 0.5FA1
pemegangnya 0.0007
8 memasukan pena ke dalam pemegangnya F1P 0.0023
9 melepaskan pena 0.5F1 0.0008
menggerakan tangan kembali ke kertas sejauh
10 A12D
12" 0.0065
Total Waktu (menit) 0.0378

2.3.2 Pengukuran Waktu Cara MTM (Measurement Time Method)

Dalam metoda MTM, pengukuran waktu dibagi kedalam 7 gerakan yaitu


(Sutalaksana, Anggawisastra dan Tjakraatmadja, 2006, hal: 197):
1. Menjangkau (RE)
2. Mengangkut (M)
3. Memutar ( T )
4. Memegang (G)
5. Melepas (RL)
6. Lepas rakit (D)
7. Gerakan Mata (E)

Berikut adalah penjelasan mengenai 7 gerakan utama pada pengukuran waktu


tersebut serta beberapa gerakan yang biasa dilakukan saat melakukan pekerjaan :
a. Menjangkau (RE)

Menjangkau adalah elemen gerakan dasar yang digunakan bila maksud utama
gerakan adalah untuk memindahkan tangan atau jari ke suatu tempat tujuan
tertentu. Waktu yang dibutuhkan untuk gerakan menjangkau ini bervariasi dan
tergantung pada faktor-faktor seperti keadaan/kondisi tujuan, panjang gerakan,
dan macam gerak jangkauan yang dilakukan. Kelima kelas menjangkau tersebut
adalah sebagai berikut:
Menjangkau kelas A

Modul 3 - 17
Gerakan menjangkau ke arah suatu tempat yang pasti, atau ke suatu obyek di
tangan lain.
Menjangkau kelas B

Gerakan menjangkau ke arah suatu obyek yang tempatnya berada pada jarak
kira-kira tapi tertentu dan diketahui lokasinya.
Menjangkau kelas C
Gerakan menjangkau ke arah suatu obyek yang bercampur aduk dengan
banyak obyek lain.
Menjangkau kelas D
Gerakan menjangkau ke arah suatu obyek yang kecil sehingga diperlukan
suatu alat pemegang khusus.
Menjangkau kelas E
Gerakan menjangkau ke arah suatu sasaran yang tempatnya tidak pasti.

Panjang gerakan menjangkau adalah merupakan lintasan yang sebenarnya, tidak


hanya sekedar berupa garis lurus yang menunjukkan jarak antara dua titik lokasi.
b. Mengangkut (M)
Mengangkut kelas A
Jika gerakan mengangkut merupakan pemindahan obyek dari satu tangan ke
tangan yang lain atau berhenti karena suatu sebab.
Mengangkut kelas B
Jika gerakan mengangkut merupakan pemindahan obyek ke suatu sasaran yang
letaknya tidak pasti atau mendekati.
Mengangkut kelas C
Jika gerakan mengangkut merupakan pemindahan obyek ke suatu sasaran yang
letaknya sudah tertentu/tetap.
Waktu yang dibutuhkan untuk mengangkut dipengaruhi oleh variabelvariabel
seperti kondisi sasaran yang dituju, jarak yang harus ditempuh, jenis atau tipe
pengangkutan, dan faktor-faktor berat, dinamika atau statika obyek. Waktu yang
dibutuhkan untuk mengangkut juga dipengaruhi oleh panjangnya gerakan.

c. Memutar (T)
Memutar adalah gerakan yang dilakukan untuk memutar tangan baik dalam
keadaan kosong atau membawa beban. Gerakan di sini berputar pada tangan,
pergelangan, dan lengan sepanjang sumbu lengan tangan yang ada. Waktu

Modul 3 - 18
dibutuhkan untuk memutar akan tergantung pada dua variabel yaitu derajat
putaran dan faktor berat yang harus dipikul.
d. Crank
Crank ialah gerakan memutar dari jari tangan, tangan, pergelangan tangan dan
lengan. Berbeda dengan turn, gerakan crank terdapat diameter dari putaran,
sebagai contoh memutar stir mobil.
e. Gerakan Menekan (Apply Pressure)
Gerakan menekan (Apply Pressure) ialah pemakaian tekanan pada waktu
pergerakkan. Gerakan yang termasuk dalam gerakan ini, misalnya
mengencangkan sekrup dengan obeng.
f. Memegang (G)
Memegang adalah elemen dasar yang digerakkan dengan maksud utama untuk
menguasai sebuah atau beberapa objek baik dengan jari maupun dengan tangan
untuk memungkinkan melakukan gerakan dasar berikutnya. Hal-hal yang
mempengaruhi lamanya gerakan ini adalah mudah sulitnya dipegang,
bercampur tidaknya dengan objek lain, bentuk objek dan lain-lain.
g. Mengarahkan (Position)
Mengarahkan adalah elemen gerakan dasar yang dilaksanakan untuk
menggabungkan, mengarahkan atau memasangkan satu obyek dengan obyek
lainnya. Gerakan yang ada disini cukup sederhana sehingga tidak
diklasifikasikan seperti elemen-elemen gerakan dasar yang lain. Waktu untuk
gerakan mengarahkan dipengaruhi oleh derajat kesesuaian, bentuk simetris,
dan kemudahan untuk ditangani (handling).
h. Melepas (RL)
Melepas adalah elemen gerakan dasar untuk membebaskan kontrol atas suatu
obyek oleh jari/tangan. Ada dua klasifikasi gerakan melepas, yang pertama
adalah gerakan melepas normal yaitu secara sederhana jari-jari tangan bergerak
membuka dan yang kedua adalah gerakan melepas sentuhan yaitu dimulai dan
diselesaikan penuh sesaat elemen gerakan menjangkau (reach) dimulai tanpa
ada waktu idle. Biasanya gerakan melepas tidak membutuhkan waktu yang
untuk melaksanakannya bila gerakannya terpisah dengan gerakan lainnya.
i. Melepas Rakit (Disassamble atau Disengage)
Lepas rakit adalah elemen gerakan dasar yang digunakan untuk memisahkan
kontak antara satu obyek dengan obyek lainnya. Hal ini termasuk gerakan
memaksa yang dipengaruhi oleh mudah atau tidaknya pada saat gerak lepas
rakit dilaksanakan atau mudah sulitnya obyek dipegang. Waktu yang

Modul 3 - 19
dibutuhkan untuk gerakan lepas rakit akan dipengaruhi oleh tiga variabel
seperti tingkatan hubungan/sambungan dari obyek-obyek yang akan
dipisahkan, kemudian di dalam proses handling, faktor kehati-hatian yang
perlu dipertimbangkan.
j. Gerakan Mata (Eye Movement)
Sebagian besar aktivitas kerja, waktu yang dibutuhkan untuk menggerakkan
dan memfokuskan mata bukanlah merupakan faktor-faktor yang menghambat
sehingga konsekuensinya hal ini tidak akan mempengaruhi waktu untuk
melaksanakan operasi kerja itu sendiri, terkecuali gerakan-gerakan mata yaitu
eye focus time dan eye travel time. Eye focus time (gerakan mata untuk fokus)
akan memerlukan waktu untuk melakukan gerakan fokus pada suatu obyek dan
melihatnya untuk waktu yang cukup lama guna menentukan
karakteristikkarakteristik dari obyek tersebut (obyek dilihat tanpa mengangkat
mata). Selanjutnya eye travel time (gerakan perpindahan mata) dipengaruhi
oleh jarak di antara obyek-obyek yang harus dilihat dengan jalan
menggerakkan mata.
k. Gerakan Anggota Badan, Kaki, dan Telapak Kaki (Body, Leg, Foot)

Gerakan anggota badan lainnya adalah gerakan kaki, telapak kaki serta bagian-
bagian tubuh lainnya lutut, pinggang,dan lain-lain. Di dalam operasioperasi
kerja di industri, seringkali dijumpai bahwa gerakan kerja harus dilakukan oleh
lebih dari satu anggota tubuh pada saat yang sama. Biasanya metode yang
paling efektif untuk melaksanakan suatu operasi kerja dilakukan oleh dua atau
lebih anggota tubuh yang bergerak pada saat bersamaan. Apabila dua atau lebih
gerakan dikombinasikan (overlapping) maka hal ini akan bisa menghemat
waktu penyelesaian kerja dan membatasi gerakan-gerakan kerja. Apabila dua
gerakan dilaksanakan dalam waktu bersmaan hal ini akan disebut sebagai
kombinasi gerakan (gerakan dilakukan oleh anggota tubuh yang sama),
sedangkan bila gerakan-gerakan tersebut dilakukan oleh anggota tubuh yang
berbeda dikenal sebagai gerakan-gerakan simultan (silmutaneous motions).

2.4 Langkah-langkah dalam Pelaksanaan Pengukuran Waktu Kerja


Pendeskripsian gerakan-gerakan kerja dilaksanakan dengan menuliskan
kode-kode tertentu. Satu hal yang tidak efisien kalau harus mendeskripsikan suatu

Modul 3 - 20
gerakan dalam kalimat menjangkau sebuah benda yang terletak di tempat yang
pasti pada jarak 5 inci karena hal ini akan cukup ditulis dengan RSA (dalam waktu
6,5 TMU). Jika simbol-simbol atau kode-kode akan dituliskan, maka cara
penulisan dilakukan dengan menguraikan gerakan-gerakan kerja satu per satu
secara berurutan dari atas ke bawah. Demikian pula apabila gerakan benda kerja
tersebut dilakukan oleh tangan kanan atau tangan kiri harus dituliskan secara
terpisah. Sedangkan waktu (dalam unit satuan TMU) dituliskan di kolom tengah.
Contoh penulisan menggunakan pengukuran waktu metode dapat dilihat pada
Tabel 2.3

Tabel 2.4 Tabel pengukuran waktu


Tangan Tangan
TMU
Kiri Kanan
R12C 14.2
G4A 7.3
M10A 11.3
G3 5.6 G3
5.2 M2C
5.6 P1SSE
2 RL1
Total 57.2

Langkah-langkah tersebut di atas menunjukkan gerakan-gerakan kerja


tangan kiri menjangkau obyek sejauh 12 inci (gerakan menjangkau kelas C) dan
kemudian diikuti dengan gerakan memegang obyek G-4A untuk mengambil
obyek atau benda kerja. Tangan kiri kemudian bergerak membawa obyek dan
dipindahkan ke tangan yang lain (tangan kanan) sejauh 10 inci dan gerakan
membawa dikategorikan kelas A. Suatu transfer dilakukan sehingga akhirnya
obyek dipegang oleh tangan kanan yang membawa obyek sejauh 12 inci ke lokasi
kerja yang pasti, mengarahkan dan akhirnya melepaskan obyek tersebut.

Modul 3 - 21
Pada dasarnya pembacaan tabel baik itu dengan Metode Work Factor
ataupun Measurement Time Methode adalah sama. Tabel waktu MTM
mencantumkan waktu-waktu gerak menurut elemen gerakannya.

Contoh MTM:

Reach - R c d
Tabel 2.5 Tabel MTM Reach-R
Distanc TMU Hand in Case an Description
e Motion

a A B C E A B
Move A. Reach the
or
Inchies object in fixed
D location, or to object
% or 2. 2. 2.0 2.0 1.6 1.6 in other hand or on
less 0 0 which other hand
1 2. 2. 3.6 2.4 2.3 2.3 rest
5 5
2 4. 4. 5.9 3.8 3.5 2.7
0 0
3 5. 5. 7.3 5.3 4.5 3.6 B. Reach to single
b
3 3 object in location
4 6. 6. 8.4 6.8 4.9 4.3 which may vary
1 4 slightly from cycle to
5 6. 7. 9.4 7.4 5.3 5.0 cycle
5 8
6 7. 8. 10. 8.0 5.7 5.7
0 6 1
(Sumber: Sutalaksana, dkk. 2006)

Keterangan: a = Kolom jarak.

b = Kolom waktu untuk gerakan

c = Gerakan yang dilakukan oleh operator

Modul 3 - 22
d = Penjelasan untuk kolom c

Notasi Umum Cara Metode Kerja


Notasi umum : a b c
Dimana : a = elemen gerak yang bekerja
b = jarak yang ditempuh
c = kelas dari gerakan yang bersangkutan

Contoh:
- Menjangkau suatu benda yang terletak ditempat yang pasti dan berjarak
5
R 5 A = 6,5 TMU = 6,5 x 0,0006 menit = 0,0039 menit
- Memegang sebuah benda yang sangat kecil

G 1 B = 3,5 TMU = 3,5 x 0,0006 menit = 0,0021 menit

Waktu untuk setiap elemen-elemen gerak ini ditentukan menurut beberapa


kondisi yang disebut dengan kelas-kelas. Kelas-kelas ini dapat menyangkut
keadaan-keadaan perhentian dan keadaan obyek yang ditempuh. Selain itu, juga
menyangkut tentang sulit mudahnya menangani obyek atau kondisi lainnya. Unit
waktu yang digunakan dalam tabel-tabel ini adalah sebesar perkalian 0.00001 jam
dan satuannya dikenal sebagai TMU. Disini, 1 TMU adalah sama dengan 0.00001
jam atau 0.0006 menit, atau 0,036 detik.

BAB III
PENGOLAHAN DATA

Modul 3 - 23
3.1 Pengumpulan Data
Waktu pelaksanaan penelitian dilaksanakan di hari kamis pada tanggal 30
Maret 2017 di laboratorium analisis perancangan kerja dan ergonomi (APK-E).
Fasilitas yang digunakan berupa meteran, alat perekam video, lembar
pengamatan, meja perakitan dan alat tulis yang digunakan untuk mengabadikan
gerakan yang dilakukan operator dalam melakukan pekerjaannya. Sehingga
didapat komponen komponen gerakan dari operator yang dianalisa dengan studi
gerakan yaitu dengan metode Work Factor (WF) dan metode Measurement Time
Method (MTM) sehingga didapatkan waktu baku operator dalam melakukan
pekerjaannya.

3.1.1 Produk yang diteliti


Pada penelitian ini produk yang diteliti adalah U-Clamp yang terdiri dari
satu alat bantu dan empat komponen yang semuanya terbuat dari bahan dasar
material logam. Berikut adalah komponen-komponen yang digunakan, yaitu:

Badan U-Clamp

Gambar 3.1 Badan U-Clamp


Digunakan sebagai komponen utama / dasar untuk produk U-Clamp
Atap 1

Gambar 3.2 Atap 1


Digunakan untuk melengkapi perakitan yang dipasang diatas badan U-
Clamp.

Atap Gerigi

Gambar 3.3 Atap gerigi

Modul 3 - 24
Digunakan sebagai pelengkap komponen yang dipasang diatas atap 1
Baut

Gambar 3.4 Baut


Baut digunakan untuk mengencangkan seluruh bagian komponen agar
terakit / menyatu dengan kuat
Meteran

Gambar 3.5 Meteran


Digunakan untuk mengukur jarak antara operator yang merakit dengan
objek komponen yang akan dirakit
Obeng

Gambar 3.6 Obeng


Digunakan untuk membantu mengencangkan baut yang dipasang pada
U-Clamp

3.1.2 Deskripsi kerja


Pada penelitian ini kami merancang suatu produk yang memerlukan satu
operator untuk merancang produk dan satu orang untuk mendokumentasikan
dengan menggunakan kamera video. Produk yang akan dirancang yaitu U-Clamp
yang terdiri dari empat komponen, badan U-Clamp, atap 1, atap gerigi, dan baut.
Langkah pengerjaannya mengambil badan U-Clamp terlebih dahulu kemudian
pasangkan dengan atap 1 diatasnya hingga pas, setelah itu pasangkan lagi dengan
atap gerigi diatasnya hingga sejajar dan pas, kemudian masukan baut pada

Modul 3 - 25
masing-masing kedua lubang yang ada dan kuatkan putarannya dengan
menggunakan obeng agar semua komponen-komponen tersebut
terpasang/menyatu dengan kuat.

3.2 Pengolahan Data


Berikut merupakan uraian data dari studi gerakan terhadap aktivitas
operator yang dianalisa dengan metode Work Factor dan metode Measurement
Time Method (MTM).

3.2.1 Penentuan Faktor Kelonggaran

Faktor kelonggaran pengepresan :


A. Tenaga yang dikeluarkan: sangat ringan, bekerja di meja posisi berdiri,
tanpa beban
B. Sikap kerja: berdiri diatas dua kaki, badan tegak ditumpu dua kaki.
C. Gerakan kerja: normal.
D. Kelelahan mata: pandangan terus menerus dengan focus tetap, pekerjaan
yang teliti.
E. Keadaan suhu tempat kerja: normal, suhu 22-28C
F. Keadaan atmosfir: cukup, ventilasi kurang baik, ada bau-bauan (tidak
berbahaya).
G. Keadaan lingkungan yang bai : siklus kerja berulang-ulang antara 5-10
detik.
H. Kebutuhan pribadi: 2,5%

Tabel 3.1 Faktor Kelonggaran

Modul 3 - 26
3.2.1.1 Perhitungan Waktu Baku dengan Metode Work Factor
Berikut perhitungan waktu baku dengan metode work faktor pada saat
operator merakit U-Clamp 1.

Modul 3 - 27
Tabel 3.2 Perhitungan waktu baku dengan metode Work Factor

Modul 3 - 28
Tabel 3.3 Lanjutan Perhitungan waktu baku dengan metode Work Factor

Jadi, Waktu normal yang didapat 4792 TU.

Perhitungan waktu baku berdasarkan metode workfactor (WF) adalah sebagai


berikut:

TU = 0,0001

WB = Wn x TU x (1+i)

= 4792 x 0,0001 x (1+ 0,26)

= 0,6037 Menit

Modul 3 - 29
3.2.1.2 Perhitungan Waktu Baku dengan Metode Measurement Time Method
(MTM)
Berikut perhitungan waktu baku dengan metode Measurement Time
Method (MTM) pada saat operator merakit U-Clamp 1.

Tabel 3.4 Perhitungan waktu baku dengan metode Measurement Time Method (MTM)

Modul 3 - 30
Tabel 3.5 Lanjutan Perhitungan waktu baku dengan Measurement Time Method (MTM)

Jadi, Waktu normal yang didapat 1.098,2 TMU.

Perhitungan waktu baku berdasarkan metode workfactor (WF) adalah sebagai


berikut:

TMU = 0,0006

WB = Wn x TMU x (1+i)

= 1.098,2 x 0,0006 x (1+ 0,26)

= 0,8302 Menit

Modul 3 - 31
BAB IV
ANALISIS

4.1 Analisis Faktor Kelonggaran


Pengamatan pada gerakan operator dalam perakitan U-Clamp yang telah
dijelaskan pada bab sebelumnya mendapatkan faktor kelonggaran 26% yang
terdiri dari beberapa faktor yaitu tenaga yang dikeluarkan sangat ringan, bekerja
di meja posisi berdiri, tanpa beban yang mendapatkan nilai faktor kelonggaran
4%, sikap kerja : berdiri diatas dua kaki, badan tegak ditumpu dua kaki. gerakan
kerja normal yang mendapatkan nilai faktor kelonggaran 1%, pandangan terus
menerus dengan fokus tetap, pekerjaan yang teliti yang mendapatkan nilai faktor
kelonggaran 0%, keadaan suhu tempat kerja normal, suhu 22-28C yang
mendapatkan nilai faktor kelonggaran 5%, keadaan atmosfir cukup, ventilasi baik,
ada bau-bauan (tidak berbahaya) yang mendapatkan nilai faktor kelonggaran 5%,
keadaan lingkungan yang baik siklus kerja berulang-ulang antara 5-10 detik yang
mendapatkan nilai faktor kelonggaran 3% dan kebutuhan pribadi : 2,5%. Oleh
karena itu pengamat memberikan solusi agar memperbaiki suhu ruangan kerja dan
memperbanyak ventilasi udara agar meminimalisir faktor kelonggaran yang di
dapat.

Modul 3 - 32
4.2 Analisis Waktu Baku dengan Menggunakan Metode Work Factor
Setelah dilakukan pengamatan dan perhitungan terhadap kerja operator
dengan metode work factor yang mendapatkan nilai waktu normal 0,4792 menit.
Setelah dilakukan perhitungan waktu baku sebesar 0,6037 menit. Hal ini dianggap
wajar karena waktu baku yang didapatkan lebih besar daripada waktu normal,
dikarenakan waktu baku dikalikan dengan faktor kelonggaran. Hasil ini belum
efektif dikarenakan masih belum seimbangnya gerakan antara tangan kanan dan
tangan kiri dan masih ada idle diantara kedua tangan tersebut. Oleh karena itu
dibutuhkan perbaikan gerakan yang harus dilakukan operator sebagai berikut.

Tabel 4.1 Usulan dengan metode work factor

Modul 3 - 33
Tabel 4.2 Lanjutan Usulan dengan metode work factor

Jadi, Waktu normal yang didapat 4553 TU.

Perhitungan waktu baku berdasarkan metode workfactor (WF) adalah sebagai


berikut:

TU = 0,0001

WB = Wn x TU x (1+i)

= 4553 x 0,0001 x (1+ 0,26)

= 0,5736 Menit

Modul 3 - 34
Hasil waktu baku dari usulan perbaikan perakitan produk U-Clamp 1 lebih kecil
dari hasil waktu baku sebelum usulan perbaikan. Dimana perbandingan waktu
bakunya sebesar 0,6037 Menit dan pada saat usulan perbaikan didapat 0,5736
Menit. Hal itu disebabkan pada perakitan sebelum usulan perbaikan terdapat idle
diawal dan akhir perakitan.

Modul 3 - 35
4.3 Analisis Waktu Baku dengan Menggunakan Metode Measurement
Time Method (MTM)
Setelah dilakukan pengamatan dan perhitungan terhadap kerja operator
dengan metode Measurement Time Method (MTM) yang mendapatkan nilai waktu
normal 1098,2 TMU. Setelah dilakukan perhitungan waktu baku yaitu sebesar
0,8302 menit. Hal ini dianggap wajar karena waktu baku yang didapatkan lebih
besar daripada waktu normal, dikarenakan waktu baku dikalikan dengan faktor
kelonggaran. Hasil ini belum efektif dikarenakan masih belum seimbangnya
gerakan antara tangan kanan dan tangan kiri dan masih ada idle diantara kedua
tangan tersebut. Oleh karena itu dibutuhkan perbaikan gerakan yang harus
dilakukan operator sebagai berikut.

Tabel 4.3 Usulan dengan Metode Measurement Time Method (MTM)

Modul 3 - 36
Tabel 4.4 Lanjutan Usulan dengan Metode Measurement Time Method (MTM)

Jadi, Waktu normal yang didapat 1.059,4 TMU.

Perhitungan waktu baku berdasarkan metode workfactor (WF) adalah sebagai


berikut:

TMU = 0,0006

WB = Wn x TMU x (1+i)

= 1.059,4 x 0,0006 x (1+ 0,26)

= 0,8009 Menit

Modul 3 - 37
Hasil waktu baku dari usulan perbaikan perakitan produk U-Clamp 1 lebih
kecil dari hasil waktu baku sebelum usulan perbaikan. Dimana perbandingan
waktu bakunya sebesar 0,8302 Menit dan pada saat usulan perbaikan didapat
0,8009 Menit. Hal itu disebabkan pada perakitan sebelum usulan perbaikan
terdapat idle diawal dan akhir perakitan.

Modul 3 - 38
BAB V
KESIMPULAN

Bedasarkan pengamatan yang dilakukan terhadap gerakan kerja yang


dilakukan operator dengan metode Work Factor dan Measurement Time Method
(MTM) didapatkan kesimpulan bahwa:
Faktor kelonggaran yang didapatkan menurut pengamatan sebesar 26%
yang menjadi salah satu faktor dalam perhitungan waktu baku.
Waktu normal yang didapat pada metode Work Factor lebih besar dari
usulan perbaikan yang dilakukan oleh penulis sehingga gerakan yang
dilakukan operator kurang efektif.
Waktu normal yang didapat pada metode Measurement Time Method
(MTM) lebih besar dari usulan perbaikan yang dilakukan oleh penulis
sehingga gerakan yang dilakukan operator kurang efektif.
Waktu baku yang didapat pada metode Work Factor lebih besar dari
usulan perbaikan yang dilakukan oleh penulis sehingga gerakan yang
dilakukan operator kurang efektif.
Waktu baku yang didapat pada metode Measurement Time Method
(MTM) lebih besar dari usulan perbaikan yang telah dilakukan sehingga
gerakan yang dilakukan operator kurang efektif.
Setelah dibandingkan antara metode Work Factor dan metode
Measurement Time Method (MTM) dinyatakan metode Work Factor
memiliki waktu yang relatif lebih kecil dibandingkan dengan metode
Measurement Time Method (MTM) dalam satuan menit.

DAFTAR PUSTAKA

Modul 3 - 39
Sutalaksana, Iftikar dkk. 1979. Teknik Tata Cara Kerja, Departemen
Teknik Industri. ITB: Bandung
www.landasanteori.com/2015/07/pengertian-produktivitas-kerja-dan.html
(diakses tanggal 3 April 2017)
https://en.wikipedia.org/wiki/Work_sampling (diakses tanggal 3 April
2017)
http://fadlx.blogspot.co.id/2013/07/perhitungan-waktu-baku.html (diakses
tanggal 3 April 2017)
http://industrialengineeringtelkom.blogspot.co.id/2014/05/studi-gerakan-
motion-study.html (diakses tanggal 3 April 2017)

Modul 3 - 40