Anda di halaman 1dari 4

DIAGNOSIS

DSM-IV

Kriteria Anorexia Nervosa

Eating disorders adalah segala bentuk karakteristik penyimpangan perilaku atau


kebiasaan makan yang sangat parah, mengakibatkan konsumsi dan penyerapan makanan
berubah serta secara signifikan mengganggu kesehatan fisik serta fungsi psikososial (Fairburn
& Walsh, 1995).

Gangguan makan (Eating Disorders) hadir ketika seseorang mengalami gangguan


parah dalam tingkah laku makan, seperti mengurangi kadar makanan dengan ekstrem atau
makan terlalu banyak yang ekstrem, atau perasaan menderita atau keprihatinan tentang berat
atau bentuk tubuh yang ekstrem. Seseorang dengan gangguan makan mungkin berawal dari
mengkonsumsi makanan yang lebih sedikit atau lebih banyak daripada biasa, tetapi pada
tahap tertentu, keinginan untuk makan lebih sedikit atau lebih banyak terus menerus di luar
keinginan (APA, 2005).

Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, 4th Edition (DSM-IV TR)
mengklasifikasikan tiga jenis gangguan makan yaitu anorexia nervosa (AN), bulimia nervosa
(BN), dan eating disorders not otherwise specified (EDNOS). (National Institute of Mental
Health (NIMH), 2007).

Anorexia Nervosa

Menurut DSM-IV, anoreksia nervosa dapat dicirikan sebagai keengganan untuk memiliki
dan mempertahankan berat badan normal, ketakutan yang berlebihan untuk menaikkan berat
badan, dan tidak mengalami menstruasi selama 3 siklus berturut-turut. Anoreksia nervosa
terbagi kepada dua jenis yaitu :

1. Restricting-type
Individu tersebut menurunkan berat badan dengan berdiet saja tanpa makan
berlebihan (binge eating) atau memuntahkan kembali (purging). Mereka terlalu
membatasi konsumsi karbohidrat dan makanan yang mengandung lemak.
2. Binge-eating/purging type
Individu tersebut makan secara berlebihan kemudian memuntahkannya kembali
secara sengaja (APA, 2005).

Diagnosa Anorexia Nervosa

Berikut ini merupakan kriteria untuk diagnosa anorexia nervosa (DSM IV-TR) :

1. Menolak mempertahankan berat badan pada level normal atau sedikit di atas normal.
2. Ketakutan yang intens bahwa berat badan akan naik atau menjadi gemuk.
3. Evaluasi yang tidak tepat terhadap berat badan atau bentuk tubuhnya sendiri, atau
menyangkal keseriusan keadaan berat badannya yang rendah.
4. Amenorrhea pada wanita pascamenarke, yaitu tidak adanya siklus menstruasi selama
tiga bulan berturut-turut.

Gambaran Klinis

Kebanyakan orang dengan anorexia nervosa melihat diri mereka sebagai orang dengan
kelebihan berat badan, walaupun sebenarnya mereka menderita kelaparan atau malnutrisi.
Makan, makanan dan kontrol berat badan menjadi suatu obsesi. Seseorang dengan anorexia
nervosa akan sentiasa mengukur berat badannya berulang kali, menjaga porsi makanan
dengan berhati-hati, dan makan dengan kuantiti yang sangat kecil dan terhadap pada sebagian
makanan (Wonderlich et al, 2005).

Kebanyakan pasien dengan anorexia nervosa juga akan mempunyai masalah psikiatri dan
macam-macam penyakit fisik, termasuk depresi, ansietas, perilaku terasuk (obsessive),
penyalahgunaan zat, komplikasi kardiovaskular dan neurologis, dan perkembangan fisik yang
terhambat (Becker et al, 1999). Gejala lain yang mungkin terlihat dari waktu ke waktu
termasuk penipisan tulang (osteopenia atau osteoporosis), rambut dan kuku yang rapuh, kulit
yang kering dan kekuningan, perkembangan rambut halus dikeseluruhan tubuh (misalnya,
lanugo), anemia ringan, kelemahan dan kehilangan otot, konstipasi berat, tekanan darah
rendah, pernafasan dan pols yang melemah, penurunan suhu tubuh internal; menyebabkan
orang tersebut sering merasa dingin, dan kelesuan (Wonderlich, 2005).

Sebagai akibat dari nutrisi buruk, gangguan endokrin yang melibatkan aksis hipotalamus-
pituitari-gonad timbul, bermanifestasi pada wanita yaitu amenorrea dan pada laki-laki yaitu
kurangnya minat berseksual dan kesuburan. Pada anak-anak yang prapubertas, pubertasnya
lambat dan perkembangan dan pertumbuhan fisiknya terbantut (Chavez dan Insel, 2007).
Gejala metabolik lainnya, seperti lelah dan intoleransi terhadap kedinginan juga disebabkan
oleh gangguan aksis hipotalamus-pituitari-gonad (Kiyohara et al, 1987). Selain itu, resiko
untuk mengalami fraktur tulang berkaitan juga dengan pasien dengan anorexia nervosa
karena saiz tulang yang berkurang dan densitas mineral tulang (Karlsson et al, 2000).

Kadar serum leptin dalam anorexia nervosa yang tidak dirawat adalah rendah (Eckert et
al, 1998). Pada anorexia nervosa juga dijumpai peningkatan kadar kortisol dan kegagalan
deksametason untuk mensupresinya. Kadar thyroid-stimulating hormone (TSH) adalah
normal, tetapi kadar tiroksin dan triiodotironin adalah rendah (Kiyohara et al, 1987). Growth
hormone meningkat, tetapi insulin-like growth factor 1 (IGF-1) yang diproduksi oleh hati,
menurun. Pengurangan densitas tulang diobservasi pada pasien dengan anorexia nervosa
meningkatkan risiko untuk mengalami fraktur dan berkaitan dengan defisiensi berbagai
nutrisi, penurunan sterois gonad dan peningkatan kortisol dan (Karlsson et al, 2000).

Pada pasien dengan tipe tertentu anorexia nervosa, sering dilihat kadar serotonin total,
yang menyokong hipotesis bahwa kadar serotonin otak yang tinggi dapat menyebabkan
perbuatan kompulsif, atau mungkin menginhibisi pusat selera (Tecott, 1995).
DAFTAR PUSTAKA

Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fourth Edition, Text


Revision. Copyright 2000 American Psychiatric Association