Anda di halaman 1dari 20

A.

Jenis Pengujian

Praktikum Pengujian Titik Lembek Aspal pada tanggal 21 Maret


2017 dilaksanakan di Laboratorium Bahan Perkerasan Jurusan Pendidikan
Teknik Sipil dan Perencaan Fakultas Teknik Universitas Negeri
Yogyakarta. Praktikum dilaksanakan dengan cararing dan ball. Hasil
pengujian dapat digunakan untuk menentukan kepekaan aspal terhadap
suhu.

B. Kajian Teori

Kajian teori yang dapat mendukung pembahasan dalam praktikum kali ini
adalah:
1. Titik Lembek Aspal
Titik lembek aspal merupakan suhu pada saat bola baja,
dengan berat tertentu mendesak turun suatu lapisan aspal atau ter yang
tertahan dalam cincin berukuran tertentu, sehingga aspal tersebut
menyentuh pelat dasar yang terletak di bawah cincin pada tinggi
25,4mm akibat kecepatan pemanasan tertentu (SNI 06-2434-1991:1).
Sukirman (1999:72), titik lembek aspal bervariasi antara 30C
sampai dengan 200C, aspal dengan penetrasi yang sama belum tentu
mempunyai titik lembek yang sama. Aspal dengan titik lembek yang
lebih tinggi kurang peka terhadap perubahan temperatur dan lebih
baik untuk bahan pengikat konstruksi perkerasan.
2. Aspal
Sukirman (1999:59-60), mendefinisikan Aspal sebagai material
berwarna hitam atau coklat tua, pada temperatur ruang berbentuk
padat. Jika dipanaskan sampai suatu temperatur tertentu aspal dapat
menjadi lunak/cair sehingga dapat membungkus partikel agregat pada
waktu pembuatan aspal beton atau dapat mengisi pori-pori antar
agregat. Jika temperatur mulai turun, aspal akan mengeras dan
mengikat agregat pada tempatnya (sifat termoplastis). Aspal
merupakan komponen kecil, umumnya hanya 4%-10% berdasarkan

1
berat atau 10%-15% berdasarkan volume, tetapi merupakan
komponen yang relatif mahal.
3. Sifat Aspal
Sukirman (1999:66), dalam bukunya menjelaskan bahwa aspal yang
dipergunakan pada konstruksi perkerasan jalan berfungsi sebagai:
a. Bahan Pengikat, memberikan ikatan yang kuat antara aspal
dengan agregat dan antar aspal itu sendiri
b. Bahan Pengisi, mengisi rongga antar butir agregat dan pori-pori
yang ada pada agregat itu sendiri.
Sukirman (1999:66) dalam bukunya menjelaskan berdasarkan fungsi
tersebut, maka aspal harus memiliki sifat:
a. Daya Tahan (Durability)
Daya tahan aspal adalah kemampuan aspal
mempertahankan sifat asalnya akibat pengaruh cuaca selama
masa pembuatan jalan. Sifat ini merupakan sifat dari campuran
aspal, jadi tergantung dari sifat agregat, campuran dengan aspal,
faktor pelaksanaan dll. Sifat ini dapat diperkirakan melalui
pemeriksaan Thin Film Oven Test (TFOT).
b. Adhesi dan Kohesi
Adhesi adalah kemampuan aspal untuk mengikat agregat
sehingga dihasilkan ikatan yang baik antara agregat dengan aspal.
Kohesi adalah kemampuan aspal untuk tetap mempertahankan
agregat tetap di tempatnya setelah terjadi pengikatan.
c. Kepekaan terhadap Suhu
Aspal adalah material yang termoplastis, berarti akan menjadi
keras atau lebih kental jika temperatur berkurang dan akan lunak
atau lebih cair jika temperatur bertambah. Sifat ini dinamakan
kepekaan terhadap perubahan suhu.
d. Kekerasan Aspal
Aspal pada proses pencampuran dipanaskan dan
dicampur dengan agregat sehingga agregat dilapisi aspal atau
aspal panas yang disiram ke permukaan agregat yang telah
disiapkan pada proses peleburan. Pada waktu proses pengerjaan,
terjadi oksidasi yang menyebabkan aspal menjadi getas
(viskositas bertambah tinggi). Peristiwa perapuhan terus

2
berlangsung setelah masa pelaksanaan selesai. Jadi selama masa
pelaksanaan, aspal mengalami oksidasi dan polimerisasi yang
besarnya dipengaruhi juga oleh ketebalan aspal yang menyelimuti
agregat. Semakin tipis lapisan aspal, semakin besar tingkat
kerapuhan yang terjadi.

C. Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang digunakan dalam Praktikum Pengujian Titik Lembek,
tanggal 21 Maret 2017 di Laboratorium Bahan Perkerasan, Fakultas
Teknik, UNY ialah:
1. Alat
Menurut KBBI, alat merupakan benda yang dipakai untuk melakukan
sesuatu. Alat yang digunakan dalam Praktikum Pengujian Titik
Lembek ialah:
a. Bejana gelas
Gelas kimia tahan pemanasan mendadak dengan diameter dalam
8,5cm dengan tinggi sekurang-kurangnya 12cm, kapasitas 800ml
(SNI 06-2434-1991:1)

Gambar 1. Bejana gelas

b. Bola baja
Dua buah bola baja dengan diameter 9,53mm. Setiap bola memiliki
berat 3,5gram 0,05gram (SNI 06-2434-1991:1). Diletakkan di
atas permukaan aspal sebagai indikator lembek dari aspal.

3
Gambar 2. Bola baja
c. Cincin kuningan
Cincin kuningan digunakan sebagai media peletakan benda uji
(aspal) sebelum diletakkan pada dudukan benda uji.

Gambar 3. Cincin kuningan


d. Kawat kasa
Merupakan pelapis agar bejana gelas tidak bersentuhan langsung
dengan kompor yang panas saat dipanaskan.

Gambar 4.Kawat kasa


e. Dudukan benda uji
Tempat peletakan benda uji saat dimasukkan ke dalam bejana
gelas. Terdapat lempengan dengan lubang tempat peletakan benda
uji, pelat kuningan tempat jatuhnya bola baja dan penutup untuk
melindungi suhu dalam bejana.

Gambar 5. Dudukan benda uji

4
f. Kompor listrik
Kompor listrik adalah perapian yang menggunakan tenaga listrik
sebagai pembangkit panas. Dalam praktikum digunakan sebagai
pemanas bejana gelas berisi benda uji.

Gambar 6. Kompor listrik


g. Cawan aluminium
Cawan digunakan sebagai wadah pemanas untuk melelehkan aspal
yang semula keras menjadi cair sebelum dipindahkan ke cincin
kuningan.

Gambar 7. Cawan aluminium


h. Termometer
Termometer adalah alat pengukur suhu yang menggunakan
air raksa sebagai media pengisinya. Termometer mampu mengukur
suhu yang sangat tinggi, dalam pengujian digunakan termometer
dengan suhu maksimal 200C. Termometer juga sesuai dengan SNI
19-6421-2000 Spesifikasi Standar Termometer (SNI 06-2434-
1991:3). Dalam Praktikum Pengujian Titik Lembek digunakan
untuk mengukur suhu campuran air dengan es dan suhu air es saat
bejana gelas dipanaskan.

5
Gambar 8. Termometer
i. Kain lap
Berfungsi untuk membersihkan sisa aspal yang menempel pada
permukaan alat atau meja praktikum. Digunakan pula sebagai
isolator saat pemanasan aspal.

Gambar 9. Kain lap


j. Sendok
Sendok merupakan alat yang digunakan sebagai pengganti
tangan dalam mengambil sesuatu. Dalam praktikum digunakan
untuk mengaduk aspal ketika dipanaskan, agar dalam benda uji
tidak terdapat udara yang terjebak. Selain untuk mengaduk aspal
saat dipanaskan juga untuk menuangkan aspal cair dari cawan ke
cincin kuningan.

Gambar 10. Sendok


k. Penjepit cawan

6
Penjepit cawan berfungsi untuk menjepit cawan berisi benda uji
yang sedang dipanaskan. Terdiri dari batang besi dan pegangan
yang dilapisi karet sebagai isolator panas.

Gambar 11. Penjepit cawan


l. Piring seng
Diletakkan diatas kompor listrik sebelum meletakkan cawan
aluminium. Berfungsi sebagai penghantar panas dari kompor listrik
ke cawan aluminium.

Gambar 12. Piring seng


m. Stopwatch
Merupakan alat yang digunakan untuk mengukur durasi
atau lamanya waktu suatu kegiatan atau aktivitas tertentu yang
akan diamati. Dalam Praktikum Pengujian Titik Lembek,
stopwatch digunakan untuk mengukur durasi naiknya suhu setiap
5C dan lama terjadinya titik lembek aspal.

Gambar13. Stopwatch

7
n. Palu
Palu dalam Praktikum Pengujian Titik Lembek berfungsi sebagai
alat untuk memecahkan bongkahan es batu menjadi bagian-bagian
yang lebih kecil agar dapat mendinginkan benda uji secara merata.

Gambar 14. Palu


o. Baskom
Baskom merupakan alat yang digunakan untuk meletakkan es yang
telah dipecah dengan palu dan dicampur dengan air.

Gambar 15. Baskom


2. Bahan
Menurut KBBI, bahan merupakan barang yang akan dibuat menjadi
satu benda tertentu. Bahan yang digunakan dalam Praktikum
Pengujian Titik Lembek ialah:
a. Aspal
Menurut Sukirman (2003:26-27), dalam bukunya
menjelaskan aspal adalah material yang pada temperatur ruang
berbentuk padat sampai agak padat, dan bersifat termoplastis. Jadi
aspal akan mencair jika dipanaskan sampai temperatur tertentu, dan
kembali membeku jika temperatur turun. Bersama dengan agregat,
aspal merupakan material pembentuk campuran perkerasan jalan.
Banyaknya aspal dalam campuran perkerasan berkisar antara 4%-
10% berdasarkan berat campuran, atau 10%-15% berdasarkan
volume campuran.

8
Gambar 16. Aspal
b. Minyak tanah (Kerosene)
Minyak tanah atau kerosene adalah bahan bakar minyak jenis
distilat tidak berwarna dan jernih. Kerosene merupakan produk
minyak bumi dengan titik didih antara 150C sampai dengan
300C dan memiliki berat jenis antara 0,79gr/cm-0,83gr/cm pada
60F (Lembaga Minyak dan Gas Bumi, 1999). Dalam praktikum,
kerosene digunakan sebagai pembersih peralatan dan tempat
praktikum dari noda aspal yang menempel.

Gambar 17. Minyak tanah (Kerosene)


c. Es batu
Es batu dipersiapkan maksimal sehari sebelum praktikum
dilaksanakan, agar saat praktikum akan dilaksanakan es sudah
membeku dan siap digunakan. Dalam praktikum digunakan untuk
menurunkan suhu benda uji.

Gambar18. Es batu
d. Air

9
Digunakan sebagai pencampur es agar cepat mencair dan dapat
menurunkan suhu aspal sesuai dengan suhu yang telah ditentukan.

Gambar19. Air

D. Langkah Kerja
Tahapan yang dilaksanakan dalam praktikum kali ini adalah sebagai
berikut:
1. Alat dan bahan yang digunakan disiapkan
2. Aspal dipanaskan hingga mencair sampai suhu 110C sampai 115C
3. Es batu dipecahkan menjadi bagian-bagian kecil
4. Air dan es dicampur hingga suhu 5C
5. Dua buah cincin kuningan diletakkan dalam piring seng
6. Aspal yang sudah mencair dituangkan dalam kedua cincin kuningan
7. Benda uji dinamai B1 dan B2
8. Air dan es dituangkan kedalam piring seng berisi aspal dalam cincin
kuningan
9. Benda uji direndam hingga suhu 5C
10. Benda uji diangkat dari piring seng dan bola baja diletakkan di
masing-masing permukaan benda uji
11. Benda uji dan bola baja diletakkan pada dudukan benda uji. Lubang
pada cincin diletakkan sejajar lubang pada dudukan benda uji
12. Air dan es dengan suhu 5C dituangkan ke dalam bejana gelas
sebanyak 800ml
13. Benda uji dan bola baja diatas dudukan benda uji dimasukkan ke
dalam bejana
14. Kawat kasa diletakkan di atas kompor yang telah dinyalakan
sebelumnya
15. Termometer dimasukkan dalam bejana
16. Bejana gelas beserta isinya dipanaskan diatas kompor, disaat yang
sama stopwatch dinyalakan.
17. Setiap kenaikan suhu 5C waktu dicatat hingga bola baja jatuh ke
permukaan lempeng kuningan
18. Saat bola baja jatuh stopwatch dihentikan, waktu dan suhu dicatat
sebagai titik lembek

10
19. Setelah praktikum selesai alat dan tempat praktikum dibersihkan
dengan minyak tanah dan dikembalikan pada tempatnya.

E. Penyajian Data
Berdasarkan Praktikum Pengujian Titik Lembek Aspal, didapatkan data
sebagai berikut:
1. Tempat pengujian
Pengujian Titik Lembek Aspal dilakukan di Laboratorium Bahan
Perkerasan Jurusan Pendidikan Teknik Sipil dan Perencanaan
Universitas Negeri Yogyakarta
2. Waktu pengujian
Tabel 1. Data waktu pengujian titik lembek aspal

No Keterangan
1 Hari/tanggal : Selasa, 21 Maret 2017
2 Pukul : 07.30-10.50 WIB
3 Cuaca : Cerah
3. Hasil pengujian
Tabel 2. Datapengamatan pengujian titik lembek aspal
No Waktu Suhu (C) Keterangan
B1 B2 B1 B2
1 0 0 5 5 Titik lembek benda
2 2,11 2,11 10 10 uji pertama terjadi
3 3,29 3,29 15 15 dalam waktu 13menit
4 4,26 4,26 20 20 28detik pada suhu
5 5,38 5,38 25 25
55,5C sedangkan
6 6,51 6,51 30 30
benda uji kedua
7 8,07 8,07 35 35
8 9,23 9,23 40 40 terjadi dalam waktu
9 10,39 10,39 45 45 13menit 45detik pada
10 11,59 11,59 50 50 suhu 56,7C
11 13,17 13,17 55 55
12 13,28 13,45 55,5 56,7

F. Pembahasan

Pembahasan dari praktikum yang telah dilaksanakan berdasarkan kajian


teori yang telah disusun adalah:

11
60

50

40

30
Suhu (C)
20

10

0
0 2 4 6 8 10 12 14

Waktu (menit)

Gambar 20. Grafik perbandingan suhu (C) dengan waktu (menit) benda uji 1

60

50

40

30
Suhu (C)
20

10

0
0 2 4 6 8 10 12 14 16

Waktu (menit)

Gambar 21. Grafik hubungan suhu (C) dengan waktu (menit) benda uji 2

Pengujian Titik Lembek merupakan pengujian untuk mencari tahu


suhu pada suatu waktu aspal mulai melembek. Pengujian ini tidak terlepas
dari pengujian sebelumnya yaitu Pengujian Penetrasi Aspal. Pengujian ini
juga dapat digunakan sebagai sarana pengelompokan golongan aspal.
Pengelompokan ini dapat digunakan sebagai acuan dalam pembuatan

12
desain perkerasan jalan terutama suhu yang sesuai dengan penggunaan
aspal tersebut.
Aspal merupakan material yang bersifat termoplastis. Sifat tersebut
memungkinkan aspal untuk mencair pada saat suhu dinaikkan dan
memadat jika suhu diturunkan. Sifat termoplastis aspal terjadi sesuai
dengan pertambahan atau pengurangan suhu secara bertahap. Perilaku
tersebut tergantung dari komposisi unsur penyusunnya. Percobaan ini
dilakukan karena pelembekan bahan aspal tidak terjadi secara langsung
dan tiba tiba pada suhu tertentu, tetapi seiring penambahan suhu.
Dalam percobaan ini, titik lembek ditunjukan saat cairan dalam
bejana gelas mencapai suhu tertentu, aspal mulai melentur. Aspal yang
melentur tidak dapat menahan berat bola baja, akhirnya bola baja
mendesak turun melalui lapisan aspal dalam cincin dan jatuh di atas pelat
kuningan.
Titik lembek aspal berkisar antara 30C 200C. Dalam
pengujian diharapkan titik lembek lebih tinggi dari suhu permukaan jalan
sehingga tidak terjadi pelelehan aspal akibat temperatur permukaan jalan.
Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui perlunya penambahan bahan
khusus pada aspal untuk menanggulangi hal tersebut.
Pengujian dilakukan sebanyak dua kali, sehingga menghasilkan
grafik benda uji 1 dan 2. Kedua grafik menunjukan bentuk awal yang
sama karena keduanya diberi perlakuan sama hingga sesaat sebelum
terjadi titik lembek. Grafik benda uji 1 memiliki jarak lebih pendek di
bagian akhir karena mengalami titik lembek lebih cepat dengan suhu lebih
rendah yaitu pada waktu menunjukan 13menit 28detik suhu 55,5C
dibanding benda uji 2 pada 13menit 45detik suhu 56,7C. Terbukti bahwa
dua aspal dengan nilai penetrasi sama belum tentu memiliki titik lembek
yang sama pula.

Titik lembek kedua benda uji juga memenuhi standar, yaitu antara suhu
30C sampai 200C.

G. Kesulitan Melaksanakan Praktikum

13
Kendala yang dialami saat melaksanakan praktikum adalah:
1. Keterbatasan alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum;
2. Suhu dalam ruangan yang tidak stabil berpengaruh pada hasil
pengamatan;
3. Tidak tersedianya labsheet sebagai panduan dalam pelaksanaan
praktikum;
4. Kondisi ruangan yang kurang kondusif.

H. Kesimpulan
Dari Praktikum Pengujian Titik Lembek yang telah dilaksanakan, dapat
diambil kesimpulan:
1. Kesimpulan secara Teknis
Kesimpulan teknis yang dapat disimpulkan dari praktikum adalah:
a. Cara pengujian dan peralatan yang digunakan telah sesuai dengan
standar peraturan SNI 06-2434-1991.
b. Pengujian Titik Lembek digunakan untuk menentukan titik lembek
aspal yang berkisar antara 30C sampai 200C sesuai dengan SNI
06-2434-1991.
2. Kesimpulan secara Non Teknis
Kesimpulan non teknis yang dapat disimpulkan dari praktikum adalah:
a. Aspal benda uji 1 mengalami titik lembek pada suhu 55,5C dan
benda uji 2 pada suhu 56,7C dengan rata-rata suhu 56,1C. waktu
yang diperlukan benda uji pertama selama 13menit 28detik,
sedangkan untuk benda uji kedua 13menit 45detik.
b. Rata-rata titik lembek aspal adalah 56,1C. Berdasarkan SNI 06-
2434-1991, aspal mengalami titik lembek pada suhu 30C sampai
dengan 200C. hal tersebut menunjukan bahwa aspal telah
memenuhi standar titik lembek yang disyaratkan.

I. Saran-saran
Saran-saran terhadap Praktikum Pengujian Titik Lembek yang telah
dilaksanakan adalah:
1. Untuk mahasiswa

14
a. Membaca dan memahami panduan praktikum sebelum
melaksanakan praktikum;
b. Pembagian jenis pekerjaan tiap individu dalam kelompok agar
lebih efektif dan efisien dalam melaksanakan praktikum;
c. Perawatan terhadap benda uji masing-masing kelompok agar tidak
tertukar.
2. Untuk Jurusan
a. Memperhatikan ketersediaan alat dan bahan dalam kegiatan
praktikum agar sesuai dengan standar praktikum;
b. Meningkatkan ketersediaan ruangan yang memadai dan kondusif
untuk pelaksanaan praktikum.

15
DAFTAR PUSTAKA

http://kbbi.web.id/bahan. Diunduh pada 01 Maret 2017, Jam 15.44 WIB.


http://kbbi.web.id/alat. Diunduh pada 01 Maret 2017, Jam 15.44 WIB.
Lembaga Minyak dan Gas Bumi. (1999). Kamus Minyak dan Gas Bumi
Edisi keempat. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan
Teknologi Minyak dan Gas Bumi (Lemigas)
Sukirman, Silvia. (1999). Perkerasan Lentur Jalan Raya. Bandung: NOVA
Sukirman, Silvia. (2003). Beton Aspal Campuran Panas Edisi pertama.
Jakarta: Granit
Standar Nasional Indonesia 06-2456-1991. (1991). Bahan aspal dan
Metode pengujian penetrasi Badan Standarisasi Nasional,
Standar Nasional Indonesia 06-2434-1991. (1991). Metode Pengujian Titik
Lembek Aspal dan Ter Badan Standarisasi Nasional,
LAMPIRAN

Gambar 1. Pengukuran suhu saat pemanasan aspal

Gambar 2. Penuangan cairan aspal pada cincin kuningan

Gambar 3. Pengukuran suhu rendaman benda uji


Gambar 4. Penuangan air es ke dalam bejana gelas

Gambar 5. Pemanasan bejana gelas berisi benda uji dan bola baja

Gambar 6. Bola baja benda uji 1 jatuh


Gambar 7. Bola baja benda uji 2 jatuh
LEMBAR KONSULTASI

LAPORAN PRAKTIKUM KONSTRUKSI JALAN

Nama : Fitri Miandari

NIM : 14505241071

Kelas : 6B2

Tabel3. Lembar Konsultasi


No. Tanggal Keterangan Paraf

1.

2.

3.

4.

5.

6.