Anda di halaman 1dari 34

Konstruksi Sarang Laba-Laba

(KSLL)

Disusun oleh :

Paul Ngamelubun (130214809)

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL

FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ATMA JAYA YOGYAKARTA

2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah tentang Konstruksi Sarang Laba-Laba ini
dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga penulis berterima kasih pada
semua pihak yang telah membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan dengan sebagaimana
mestinya.

Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya
laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi penulis sendiri maupun orang yang
membacanya. Sebelumnya penulis mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang
kurang berkenan dan penulis memohon kritik dan saran yang membangun dari Anda demi
perbaikan makalah ini di waktu yang akan datang.

Yogyakarta,16 Juni 2016

Penulis
DAFTAR ISI

Halaman Judul

Kata Pengantar

Daftar Isi

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

1.2 Rumusan Masalah

1.3 Maksud Dan Tujuan

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Tinjauan Pustaka

2.2 Pengertian Pondasi KSLL

2.3 Alat-Alat Dan Bahan

2.4 Metode Konstruksi KSLL

2.5 Keuntungan Dan Kerugian KSLLL

2.6 Perhitungan KSLL

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Lampiran

Daftar Pustaka
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada perencanaan pembangunan gedung bertingkat tinggi harus diperhatikan beberapa


aspek penting, seperti lingkungan, sosial, ekonomi, serta aspek keamanan. Semua struktur
bangunan yang ada di atas tanah didukung oleh sistem pondasi pada permukaan tanah. Pondasi
merupakan bagian dari suatu sistem rekayasa yang meneruskan beban yang ditopang dan terletak
dibagian bawah. Pemilihan sistem pondasi yang digunakan pada dasarnya merupakan studi
alternatif ekonomis. Hal-hal yang ikut dipertimbangkan tidak hanya material dan tenaga kerja,
tetapi juga faktor-faktor lain seperti pengendalian air dan tanah, pengendalian kerusakan pada
bangunan didekatnya dan waktu yang digunakan untuk membangun.

Yang terpenting dari semua aspek diatas adalah aspek keamanan, dimana gedung diharapkan
terjamin keutuhan strukturnya selama umur rencana termasuk didalamnya penentuan jenis
pondasi yang digunakan. Suatu sistem pondasi harus dapat menjamin dan harus mampu
mendukung beban bangunan di atasnya, termasuk gaya-gaya luar seperi gaya angin, gempa dan
lain-lain. Jika terjadi kegagalan konstruksi pada pondasi, misalnya dapat terjadi hal-hal seperti
kerusakan pada dinding (retak dan miring), lantai (pecah, retak dan bergelombang), penurunan
atap dan bagian-bagian bangunan lain. Untuk itu pondasi haruslah kuat, stabil dan aman agar
tidak mengalami kegagalan konstruksi, karena akan sulit untuk memperbaiki suatu sistem
pondasi. Jika bangunan akan dibangun di daerah dengan daya dukung tanah relatif rendah atau
tinggi bangunan yang tanggung (tidak tinggi ataupun rendah atau) diharapkan kombinasi Pondasi
Sarang Laba-Laba mampu menjadi salah satu solusi yang tepat. Karena, jika menggunakan
pondasi dalam, misalnya dengan tiang pancang, maka harga bangunan akan naik hingga 30%,
sedangkan jika digunakan pondasi dangkal harus mempertimbangkan resiko penurunan
bangunan secara tidak merata (irregular differential settlement) ditambah dengan total settlement.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dalam yang terdapat pada pembahasan ini antara lain :

1. Apa itu konstruksi sarang laba-laba?

2. Apakah alat dan bahan yang diperlukan untuk membuat KSLL?

3. Bagaimana metode konstruksinya ?

1.3 Maksud Dan Tujuan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah memaparkan penjelasan tentang konstruksi
sarang laba-laba yang diciptakan oleh anak bangsa dan informasi tentang struktur pondasi sarang
laba-laba, baik itu keunggulannya, keistimewaannya dan lain sebagainya.

BAB II

PEMBAHASAN
2.1 Tinjauan Pustaka

Pengertian Umum

Semua konstruksi yang direkayasa untuk bertumpu pada tanah harus didukung oleh
suatu pondasi. Pondasi ialah bagian dari Konstruksi bangunan yang bertugas meletakkan
bangunan dan meneruskan beban bangunan atas (upperstructure/superstructure) ke dasar
tanah yang cukup kuat mendukungnya (Rudy Gunawan 1999).

Untuk tujuan itu pondasi bangunan harus diperhitungkan dapat menjamin kesetabilan
bangunan terhadap beratnya sendiri, beban beban berguna dan gaya gaya luar seperti

tekanan angin, gempa bumi dan lain lain tidak boleh terjadi penurunan pondasi setempat
ataupun penurunan pondasi yang merata lebih dari batas tertentu.

Klasifikasi Tanah

Tanah mempunyai peranan yang penting pada suatu lokasi pekerjaan konstruksi.
Tanah adalah pondasi pendukung suatu bangunan. Mengingat hampir semua bangunan itu
dibuat diatas atau dibawah permukaan tanah maka perlu dibuatkan pondasi yang dapat
memikul beban bangunan itu. Jika tanah itu cukup keras dan mampu untuk memikul
beban maka pondasi dapat dibangun langsung diatas tanah, bila dikhawatirkan tanah akan
rusak atau turun akibat gaya yang bekerja diperlukan suatu alat/konstruksi untuk
meneruskan gaya tersebut kelapisan tanah yang mampu memikul gaya itu sepenuhnya.

Masalah masalah teknik seperti yang tersebut diatas yang sering dijumpai oleh ahli
ahli teknik sipil, harus dipertimbangkan sedalam- dalamnya, yakni untuk meramal dan
menen- tukan kemampuan daya dukung tanah beserta kemungkinan dalamnya penurunan
yang akan terjadi disebabkan oleh gaya yang bekerja. Untuk mengadakan peramalan dan
peni laian teknis di perlukan pengertian yang mendalam mengenai karateristik mekanis
dari tanah disertai referensi kondisi tanah yang telah diadakan pembangunan guna
mengatasi ma salah yang sedang dihadapi.

Klasifikasi tanah diperlukan untuk memberikan gambaran sepintas mengenai sifat


sifat tanah dalam menghadapi perencanaan dan pelaksanaan. Untuk menentukan dan
meng klasifikasi tanah diperlukan suatu pengamatan dan percobaan lapangan agar
diperoleh hasil klarifikasi yang obyektif.

Daya Dukung Tanah Daya dukung tanah adalah kemampuan tanah memikul beban
tanpa terjadi kerun tuhan akibat menggeser. Untuk mengetahui daya dukung tanah
diperlukan penelitian terhadap tanah dengan membawa contoh tanah asli kelaboratorium
untuk menentukan kekuatan gesernya meliputi konstanta kekuatan geser C (kohesi) dan
sudut perlawanan geser ().

Daya dukung tanah dapat dihitung dengan teori Terzaghi yang dinyatakan dengan rumus:

q = c.N + .D.Nq + ..B.N

(1) dimana: q = daya dukung keseimbangan,

B = lebar pondasi,

D = dalam pondasi,

= berat jenis tanah,

C = kohesi,

= sudut perlawanan geser.

Jenis Pondasi

Ditinjau dari beban yang bekerja maka pondasi dapat dibagi atas seperti di bawah ini.
Beban yang horizontal, pondasi yang menahan beban horizontal dikenal sebagai
konstruksi dinding penahan tanah. Beban yang vertikal, pondasi yang menahan beban
vertical pada umumnya pondasi bangunan yang umum kita kenal yaitu konstruksi bagian
bawah dari rumah rumah tinggal, gedung.

Ditinjau dari dimana beban itu dipikul oleh tanah maka pondasi dibagi atas: Pondasi
dangkal, sebagai pondasi yang mendukung bebannya secara langsung kedalamannya
berkisar antara Df/B2-3 m, Pondasi dalam, sebagai pondasi yang meneruskan beban
bangunan ketanah keras atau batuan yang terletak relative jauh dari permukaan,
kedalamannya berkisar antara Df/B 5 m

Dalam suatu perencanaan pemilihan type pondasi harus memperhatikan beberapa


faktor diantaranya: fungsi bangunan atas (upperstructure) yang akan dipikul oleh pondasi,
Besarnya beban dan beratnya bangunan atas. Keadan tanah dimana bangunan tersebut
akan didirikan, Biaya pondasi dibandingkan dengan bangunan atas.

2.2 Pengertian Pondasi KSLL

Pondasi Konstruksi Sarang Laba-Laba (KSLL) merupakan sistem pondasi bangunan


bawah yang kokoh dan ekonomis, dengan memamfaatkan tanah sebagai bagian dari struktur
pondasi. Sistem pondasi ini ditemukan pada tahun 1976 oleh Ir. Ryantori dan Ir. Sutjipto
dengan mendapatkan paten nomor 7191, lisensi dan pengembangan oleh PT. Katama
Suryabumi. Sistem pondasi ini mulai diterapkan di proyek-proyek sejak tahun 1978. Pondasi
ini merupakan pondasi dangkal konvensional, kombinasi antara sistem pondasi plat beton
pipih menerus dengan sistem perbaikan tanah.

Pondasi KSLL merupakan kombinasi konstruksi bangunan bawah konvensional yang


merupakan perpaduan pondasi plat beton pipih menerus yang di bawahnya dikakukan oleh
rib-rib tegak yang pipih tinggi dan sistem perbaikan tanah di antara rib-rib. Kombinasi ini
menghasilkan kerja sama timbal balik yang saling menguntungkan sehingga membentuk
sebuah pondasi yang memiliki kekakuan (rigidity) jauh lebih tinggi dibandingkan sistem
pondasi dangkal lainnya. Dinamakan sarang laba-laba karena pembesian plat pondasi di
daerah kolom selalu berbentuk sarang laba-laba. Juga bentuk jaringannya yang tarik-menarik
bersifat monolit yaitu berada dalam satu kesatuan. Ini disebabkan plat konstruksi didesain
untuk multi fungsi untuk septic tank, bak reservoir, lantai, pondasi tangga, kolom praktis dan
dinding. Rib (tulang iga) KSLL berfungsi sebagai penyebar tegangan atau gaya-gaya yang
bekerja pada kolom. Pasir pengisi dan tanah dipadatkan berfungsi untuk menjepit rib-rib
konstruksi terhadap lipatan puntir.
2.3 Alat-Alat Dan Bahan

Pembuatan Pondasi KSLL dilakukan dalam beberapa tahap. Tentu dalam pengerjaannya
memerlukan alat dan bahan yang berbeda pula.

Tahap-tahap dalam pengerjaan pondasi KSLL adalah sebagai berikut:

1) Pekerjaan Galian Tanah

Alat yang digunakan dalam penggalian tanah adalah cangkul (tenaga manusia) atau
mesin pengeruk (tenaga mesin).

2) Pekerjaan Lantai Kerja untuk Rib dan Beton Dekking

Bahan dalam pembuatan rib dan betton dekking menggunakan campuran 1:5. Yaitu dengan
perbandingan 1 Semen : 5 Pasir.
3) Pekerjaan acuan untuk rib

Alat yang digunakan adalah kawat dan palu. Sedangkan bahan untuk acuan yang digunakan
berupa balok kayu 4/6, multipleks, serta bahan lain seperti paku, juga kayu bundar sebagai
penopang acuan.

4) Pekerjaan pembesian untuk rib

Alat yang digunakan dalah kawat bendrat. Kemudian bahan yang dibutuhkan adalah beton
untuk beugel rib dan tulangan pokok rib, selimut beton 3 cm.
5) Pekerjaan pengecoran untuk rib

Pengecoran dilakukan secara manual, dengan alat mini mixer (molen), gerobak artco,
skopang, mesin vibrator. Mini mixer (molen) dipakai untuk mengaduk campuran semen,
pasir, koral dan air. Gerobak artco dipakai untuk menjadi wadah dari hasil pengadukan dan
untuk membawa hasil pengadukan ke tempat pengecoran. Skopang dipakai untuk meratakan
beton yang telah dituang. Mesin vibrator dipakai untuk memadatkan adonan beton dalam
pengecoran. Bahan-bahan yang digunakan untuk adukan beton adalah semen, pasir dan koral,
dan air. Semen yang digunakan adalah jenis dan merk yang bermutu baik yaitu Tipe 1, karena
semen tipe 1 merupakan jenis semen yang cocok untuk berbagai macam aplikasi beton
dimana syarat-syarat khusus tidak diperlukan. Pasir beton yang digunakan dengan butir-butir
yang bersih dan bebas dari bahan-bahan organik, lumpur dan lain sebagainya. Koral yang
digunakan juga bersih dan bermutu. Koral untuk pengecoran rib digunakan koral/steenslag
ukuran , sedangakan untuk pengecoran plat bisa digunakan koral/steenslag 2/5. Serta air
yang digunakan adalah air tawar yang bersih.
6) Pekerjaan urugan dan pemadatan pada tanah dan pasir

Alat yang digunakan adalah Tamping Rammer. Sedangkan bahannya adalah tanah bekas
galian atau tanah yang didatangkan dari luar pekerjaan urugan pasir dan pemadatan.
7) Pekerjaan pembesian untuk pelat penutup

Alat yang digunakan adalah alat berat dan bahan yang digunakan adalah besi tulangan yang
berdiameter 10 m dengan mutu BJTP 30, tulangan yang berbentuk jaring laba-
laba dan tulangan stek.

8) Pekerjaan lantai kerja untuk plat penutup

Alat yang digunakan adalah molen dan mesin pengecor. Bahan yang digunakan adalah
membuat adukan lantai kerja dengan campuran 1 PC 5 PS setebal 3cm.

9) Pekerjaan pengecoran beton pelat penutup

Alat yang digunakan adalah truk mixer yang berkapasitas 5 m dan truk pompa. Spesifikasi
bahan dan aturan yang digunakan pada pekerjaan sama seperti pada pengecoran rib.
2.4 Metode Konstruksi KSLL

Pondasi KSLL yang ditemukan pada tahun 1975 oleh Ir.Ryantori dan Ir.Sutjipto telah
memiliki hak paten dari tahun 2004 yang kemudian dipegang oleh PT KATAMA
SURYABUMI sebagai pemegang paten dan pelaksana khusus pondasi KSLL. Oleh karena
itu, untuk memanfaatkan teknologi ini diperlukan kerja sama dengan pemegang hak paten.
Haryono dan Maulana (2007:25) menyimpulkan sesuai dengan definisinya, maka Konstruksi
Sarang Laba-Laba terdiri dari 2 bagian konstruksi, yaitu :

1. Konstruksi beton

Konstruksi beton pondasi KSLL berupa pelat pipih menerus yang dibawahnya
dikakukan oleh rib-rib tegak yang pipih tetapi tinggi. Ditinjau dari segi fungsinya, rib-rib
tersebut ada 3 macam yaitu rib konstruksi, rib settlement dan rib pengaku (Hilhami,
2011:17). Rib konstruksi yaitu rib yang berfungsi sebagai penyebar beban dari suatu
bangunan. Kemudian rib settlement yaitu rib yang berfungsi sebagai tumpuan utama
beban bangunan. Sedangakan rib pengaku yaitu rib yang berfungsi sebagai pembagi dan
pengikat atau pengaku terhadap rib-rib yang lain. Bentuknya bisa digambarkan sebagai
kotak raksasa yang terbalik (menghadap kebawah). Penempatan / susunan rib-rib tersebut
sedemikian rupa, sehingga denah atas membentuk petak-petak segitiga dengan hubungan
yang kaku (rigid).
Gambar 2.1 Konstruksi Sarang laba-laba

Keterangan :

1a - pelat beton pipih menerus

1b - rib konstruksi

1c - rib settlement
1d - rib pembagi

2a - urugan pasir dipadatkan

2b - urugan tanah dipadatkan

2c - lapisan tanah asli yang ikut terpadatkan

Sumber : Laporan Tugas Akhir, Ratna Sari Cipto Haryono dan Tirta Rahman Maulana

2. Perbaikan tanah / pasir

Rongga yang ada diantara rib-rib / di bawah pelat diisi dengan lapisan tanah / pasir yang
memungkinkan untuk dipadatkan dengan sempurna. Untuk memperoleh hasil yang
optimal, maka pemadatan dilaksanakan lapis demi lapis dengan tebal tiap lapis tidak lebih
dari 20 cm, sedangkan pada umumnya 2 atau 3 lapis teratas harus melampaui batas 90%
atau 95% kepadatan maksimum (Standart Proctor) (Wesley, 2010:512). Adanya perbaikan
tanah yang dipadatkan dengan baik tersebut dapat membentuk lapisan tanah seperti lapisan
batu karang sehingga bisa memperkecil dimensi pelat serta rib-ribnya. Sedangkan rib-rib
serta pelat KSLL merupakan pelindung bagi perbaikan tanah yang sudah dipadatkan
dengan baik.

Metode pelaksanaan KSLL adalah sebagai berikut (Hilhami, 2007):

(1) Pekerjaan Galian Tanah

Pekerjaan galian tanah untuk lubang pondasi setelah papan bowplank dengan
penandaan sumbu dan ketinggian setelah dikerjakan. Galian tanah tahap I : seluruh luasan
untuk pondasi KSSL digali sampai kedalaman dan lebar tertentu. Galian tanah tahap II :
dikerjakan setelah galian tanah tahap I untuk pekerjaan rib settlement (rib anti
penurunan), sepanjang jalur rib settlement digali dengan lebar tertentu dari tepi ke tepi
dan dari kedalaman tertentu sehingga menjamin keleluasaan pemasangan pembesian,
acuan dan keamanan pekerjaan. Kemudian dilakukan juga penggalian tanah pada posisi
kolom. Sagel, Kole dan Kusuma (1997:20) menyimpulkan bahwa untuk penggalian
perlu dibuat rencana. Sudut kemiringan dari suatu lereng (kelandaian) merupakan
bagian penting dari penggalian skala besar, terutama ditentukan oleh kelandaian alami
dari jenis-jenis tanah kering.

(2) Pekerjaan Lantai Kerja untuk Rib dan Beton Dekking

Dibawah rib konstruksi maupun rib settlement dibuatkan lantai kerja, dengan
tujuan untuk mencapai efisiensi yang tinggi, yang memiliki fungsi ganda yaitu sebagai
lantai kerja dan sebagai penahan acuan rib. Lantai kerja dibuat dengan ketebalan tertentu
dengan campuran 15. Beton dekking dibuat diatas lantai kerja sebagai pembatas antara
rib dengan lantai kerja.

(3) Pekerjaan Acuan untuk Rib

Bahan untuk acuan yang digunakan berupa balok kayu 4/6, multipleks, serta
bahan lain seperti paku, juga kayu bundar sebagai penopang acuan. Konstruksi acuan
dibuat setinggi 190 cm untuk rib settlement dan 130 cm untuk rib konstruksi. Acuan
dipasang sesuai ketebalan rib dan ditopang serta diikat kuat sehingga baik ukuran, bentuk
maupun posisi rib-rib tidak berubah selama pengecoran berlangsung. Acuan dibersihkan
dari segala kotoran dan siap untuk dilakukan pengecoran rib. Acuan bisa dibuka 36 jam
setelah pengecoran beton.

(4) Pekerjaan Pembesian untuk Rib

Memilih mutu besi beton untuk beugel rib dan tulangan pokok rib. Beberapa besi
dirakit diluar acuan kemudian dipasang dalam acuan yang telah disiapkan, selanjutnya
dipasang beugel rib. Besi beton diikat kuat dengan kawat bendrat, sehingga besi tersebut
tidak berubah tempat selama pengecoran dan diberi jarak dari papan acuan atau lantai
kerja dengan pemasangan selimut beton 3 cm. Dalam pemasangan besi terjadi
pertemuan- pertemuan dengan prinsip dan sistem hubungan pembesian pada pertemuan
tersebut antara rib dengan rib (baik rib konstruksi, rib sattlement maupun rib pembagi),
rib dengan kolom, dan rib dengan plat penutup.
(5) Pekerjaan Pengecoran untuk Rib

Membuat adukan beton, dengan bahan semen, pasir dan koral, serta air dengan
mini mixer (molen), selanjutnya adukan beton ditampung dalam gerobak artco. Setelah
itu dituang dalam tempat yang akan di cor dan diratakan dengan skopang. Kemudian
mesin vibrator dihidupkan dan selangnya diarahkan pada beton. Lalu kepala mesin ini
dimasukkan ke dalam adonan dan digetarkan di sekitar area tersebut selama kurang lebih
sepuluh detik. Arena pergetaran antara 30-40 meter persegi. Jadi penggunaan alat ini
dipindah-pindahkan sesuai luasan yang dibutuhkan. Pada saat memindahkan, mesin
dimatikan terlebih dahulu. Selama dalam masa pengeringan selalu dibasahi selama
minimal 1 minggu.

(6) Pekerjaan Urugan dan Pemadatan

Untuk pengurugan kembali lubang galian pondasi, digunakan tanah bekas galian
atau tanah yang didatangkan dari luar. Urugan tanah dipadatkan lapis demi lapis dengan
Tamping Rammer dengan ketebalan tertentu. Pemadatan dilakukan setelah beton rib
berumur 3 hari. Pemadatan dilaksanakan sampai tanah tidak tampak turun lagi pada saat
pemadatan. Pemadatan juga dilakukan di sekeliling tepi luar pondasi selebar minimum
1,5 m, juga dilaksanakan lapis demi lapis.

(7) Pekerjaan Urugan Pasir dan Pemadatan

Setelah pekerjaan urugan tanah dan pemadatan selesai, selanjutnya dilakukan


pengurugan pasir tepat diatas tanah yang telah dipadatkan. Pemadatan dilakukan dengan
Tamping Rammer lapis demi lapis dengan ketebalan tertentu. Untuk urugan lapis I,
dituntut kepadatan minimal 90% dari kepadatan optimal. Untuk urugan lapis II, dituntut
kepadatan minimal 95% dari kepadatan optimal (Standar Proctor). Pada saat melakukan
pengurugan tanah atau pasir, mengingat beton yang masih muda, maka dijaga agar tinggi
urugan antara petak yang bersebelahan tidak lebih dari ketebalan tiap lapis tadi.

(8) Pekerjaan Lantai Kerja untuk Plat Penutup


Setelah kepadatan pengurugan pasir dites dan melampaui batas persyaratan yang
ditentukan, maka sebelum pekerjaan pembesian plat penutup dilaksanakan, seluruh
luasan diberi lapisan lantai kerja dengan campuran 1 PC 5 PS setebal 3cm.

(9) Pekerjaan Pembesian untuk pelat Penutup

Besi tulangan yang digunakan berdiameter 10 m dengan mutu BJTP 30.


Pemasangan besi langsung dilakukan diatas lantai kerja, tepat pada tempat akan ditulangi.
Untuk penulangan pelat sekitar kolom, terlebih dahulu dipasang tulangan yang berbentuk
jaring laba-laba. Sedangkan untuk penulangan pelat tepat sepanjang jalur rib, terlebih
dahulu dipasang tulangan stek yang menghubungkan dan mengikat erat antara rib dengan
pelat yang dipasang zig-zag.

(10) Pekerjaan Pengecoran Beton Pelat Penutup

Pengecoran beton pelat penutup dilakukan dengan Truck Mixer yang berkapasitas
5 m dan truk pompa untuk mempermudah dan mempercepat proses pengecoran.
Pengecoran dilakukan secara bertahap, mengingat pekerjaan rib dan perbaikan tanah pada
bagian lain belum selesai.. Pengecoran dilakukan berdasarkan ketebalan pelat lantai yang
disyaratkan adalah 11 cm.

2.5 Keuntungan Dan Kerugian KSLLL

Keuntungan Pondasi sarang laba-laba :

Sistem pondasi yang tahan gempa dan telah terbukti

Dapat diaplikasi untuk gedung bertingkat 2-10 lantai


Menggunakan lebih sedikit alat-alat berat dan bersifat padat karya, lebih ekonomis karena
terdiri dari 80% tanah dan 20% beton bertulang

Ramah lingkungan karena dalam pelaksanaan hanya menggunakan sedikit menggunakan


kayu dan tidak menimbulkan kerusakan bangunan serta tidak menimbulkan kebisingan
disekitarnya.

Hemat waktu dalam pengerjaannya dan dapat dilaksanakan secara industri (pracetak),

Potensi Aplikasi, Telah diaplikasikan dalam pembangunan gedung-gedung bertingkat 2-


10 lantai, terminal peti kemas. Landasan pesawat (apron taxiway, runway) terutama di
daerah rawan gempa

Berpotensi digunakan sebagai pondasi untuk tanah lunak dengan mempertimbangkan


penurunan yang mungkin terjadi dan tanah dengan sifat kembang susut yang tinggi

Mampu memperkecil penurunan bangunan karena dapat membagi rata kekuatan pada
seluruh pondasi dan mampu membuat tanah menjadi bagian dari struktur pondasi

KSSL memiliki kekuatan lebih baik dengan penggunaan bahan bangunan yang hemat
dibandingkan dengan pondasi rakit (full plate) lainnya

Kerugian Pondasi sarang laba-laba :

Curah hujan yang begitu tinggi merupakan kendala yang paling utama karena
menyangkut kinerja di lapangan seperti kondisi tempat KSLL menjadi becek yang
mengakibatkan mobilitas kerja terhambat, tanah dan pasir yang merupakan bagian dari
struktur KSLL menjadi lunak dan sulit untuk dipadatkan sehingga uji kepadatannya
membutuhkan waktu pengeringan.

Solusi jika tejadi permasalahan :

Menambahkan base course pada lahan kerja pondasi KSLL sehingga mobilitas kerja
tidak terhambat.
Mengganti sebagian material tanah yang merupakan bagian dari struktur dengan base
course atau sirtu, sehingga pemadatannya lebih mudah.

Sistem buka tutup pada waktu pengambilan tanah dan pemadatannya.

Memakai pawang hujan sebagai antisipasi mengurangi curah hujan

2.6 Perhitungan KSLL

2.6.1Ketebalan Ekivalen Pada Konstruksi Sarang Laba-Laba

Didalam perhitungan tebal ekivalen Konstruksi Sarang Laba-Laba pengaruh dari perbaikan
tanah = 0
2.6.2 Perkiraan Daya Dukung Tanah

Untuk Konstruksi Sarang Laba-Laba, perkiraan kapasitas daya dukung tanah ditentukan
berdasarkan perumusan :
2.6.3 Perhitungan Tegangan Tanah Maksimum Yang Timbul
2.6.4 Perhitungan Rib Konstruksi
2.6.5 Perhitungan Pelat
2.6.6 Kontrol KSLL
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil pembahasan tersebut, maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai
berikut :

1. Persyaratan umum yang harus sebuah pondasi antara lain : Pondasi harus
mempunyai bentuk, ukuran dan struktur sedemikian rupa sehingga tanah dasar mampu
memikul gaya-gaya yang bekerja dan Struktur pondasi harus cukup kuat sehingga tidak
pecah akibat gaya yang bekerja.

2. Klasifikasi pondasi dibagi menjadi tiga macam yaitu pondasi dalam (deep foundation)
dan pondasi dangkal (Shallow Foundation).

3. KSLL memiliki kekakuan (rigidity) jauh lebih tinggi dibandingkan sistem pondasi
dangkal lainnya
LAMPIRAN
DAFTAR PUSTAKA

http://www.slideshare.net/nurhayatirahman9/kerja-praktek-konstruksi-sarang-labalaba-ksll-
balaikota-pusat-pemerintahan-tangerag-selatan

http://kontemporer2013.blogspot.com/2013/08/pondasi-sistem-konstruksi-sarang-laba-
laba.html

https://filbertreginald.wordpress.com/2010/12/07/pondasi-ksll-karya-anak-bangsa-
indonesia/

http://blogguesiponsipil.blogspot.com/2014/10/pondasi-sarang-laba-laba.html

google.co.id