Anda di halaman 1dari 26

1

2
PAKET HAPALAN SEJARAH (1)
Zaman Kerajaan & Penjajahan
Indonesia mulai berkembang pada zaman kerajaan Hindu-Buddha berkat hubungan dagang
dengan negara-negara tetangga maupun yang lebih jauh seperti India, Tiongkok, dan wilayah Timur
Tengah. Agama Hindu masuk ke Indonesia diperkirakan pada awal tarikh Masehi, dibawa oleh para
musafir dari India antara lain: Maha Resi Agastya, yang di Jawa terkenal dengan sebutan Batara Guru
atau Dwipayana dan juga para musafir dari Tiongkok yakni musafir Budha Pahyien.
Agama Budha disebarluaskan ke Indonesia oleh para bhiksu yakni Darmaduta, pada abad 5M,
sedangkan mengenai pembawa agama Hindu ke Indonesia terdapat 4 teori sebagai berikut :
Teori ksatria (masuknya agama Hindu disebarkan oleh para ksatria)
Teori waisya (masuknya agama Hindu disebarkan oleh para pedagang yang berkasta waisya)
Teori brahmana (masuknya agama Hindu disebarkan oleh para brahmana)
Teori campuran (masuknya agama Hindu disebarkan oleh ksatria, brahmana, maupun
waisya)

Kerajaan Hindu - Buddha


Kerajaan Kutai (Hindu, Abad ke-4 M)
1. Pendiri : Kudungga
2. Raja :
a. Asmawarman
b. Mulawarman
3. Sejarah:
Kutai Martadipura adalah kerajaan bercorak Hindu di Nusantara yang memiliki bukti sejarah
tertua. Berdiri sekitar abad ke-4. Kerajaan ini terletak di Muara Kaman, Kalimantan Timur,
tepatnya di hulu sungai Mahakam. Diperkirakan kerajaan kutai merupakan kerajaan Hindu
tertua di Indonesia. Kerajaan ini dibangun oleh Kudungga.
Peninggalan terpenting kerajaan Kutai adalah 7 Prasasti Yupa, dengan huruf Pallawa dan
bahasa Sansekerta, dari abad ke-4 Masehi. Salah satu Yupa mengatakan bahwa Maharaja
Kundunga mempunyai seorang putra bernama Aswawarman yang disamakan dengan Ansuman
(Dewa Matahari). Aswawarman mempunyai tiga orang putra. Yang paling terkemuka adalah
Mulawarman.
Dari yupa diketahui bahwa pada masa pemerintahan Mulawarman, Kerajaan Kutai
mengalami masa keemasan. Wilayah kekuasaannya meliputi hampir seluruh wilayah
Kalimantan Timur. Rakyat Kutai hidup sejahtera dan makmur.
Kerajaan kutai berakhir saat raja kutai yang bernama maharaja dharma setia tewas dalam
peperangan di tangan raja kutai kartanegara ke-13, aji pangeran anum panji mendapa.

3
Kerajaan Tarumanegara (HinduTahun 358 669 M)
Tarumanagara atau Kerajaan Taruma adalah sebuah kerajaan yang pernah berkuasa di wilayah
barat pulau Jawa pada abad ke-4 hingga abad ke-7 M.

1. Sumber : berita cina, i-tsing dan hui ning


2. Sejarah :
Kerajaan Tarumanegara didirikan oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman pada tahun 358,
yang kemudian digantikan oleh putranya, Dharmayawarman (382 395). Maharaja
Purnawarman adalah raja Tarumanegara yang ketiga (395 434 M). Menurut Prasasti Tugu
pada tahun 417 ia memerintahkan penggalian Sungai Gomati dan Candrabaga sepanjang
6112 tombak (sekitar 11 km).

3. Prasasti :
i. Prasasti Kebon Kopi, dibuat sekitar 400 M (H Kern 1917), ditemukan di perkebunan kopi
milik Jonathan Rig, Ciampea, Bogor
ii. Prasasti Tugu, ditemukan di Kampung Batutumbu, Desa Tugu, Kecamatan Tarumajaya,
Kabupaten Bekasi, sekarang disimpan di museum di Jakarta. Prasasti tersebut isinya
menerangkan penggalian Sungai Candrabaga oleh Rajadirajaguru dan penggalian Sungai
Gomati sepanjang 6112 tombak atau 12km oleh Purnawarman pada tahun ke-22 masa
pemerintahannya.Penggalian sungai tersebut merupakan gagasan untuk menghindari
bencana alam berupa banjir yang sering terjadi pada masa pemerintahan Purnawarman,
dan kekeringan yang terjadi pada musim kemarau.
iii. Prasasti Cidanghiyang atau Prasasti Munjul, ditemukan di aliran Sungai Cidanghiyang yang
mengalir di Desa Lebak, Kecamatan Munjul, Kabupaten Pandeglang, Banten, berisi pujian
kepada Raja Purnawarman.
iv. Prasasti Ciaruteun, Ciampea, Bogor
v. Prasasti Muara Cianten, Ciampea, Bogor
vi. Prasasti Jambu, Nanggung, Bogor
vii. Prasasti Pasir Awi, Citeureup, Bogor

Kerajaan Sriwijaya (Budha, Tahun 683 700 M)


1. Sumber : Berita Arab (Zabag, Sabay, Sribusa), Berita India, Berita Cina (I-Tsin), Candi Muara
Takus
2. Raja
a. Dapunta Hyang / Sri Jayanasa
b. Balaputeradewa, masa Puncak kejayaan Sriwijaya. Balaputeradewa merupakan anak dari
Raja Kerajaan Mataram Lama, Samaratungga namun dikalahkan oleh Pramoewardhani yang
dibantu oleh Raka I pikatan.
c. Sanggrama Wijayatumangan
3. Prasasti, menggunakan bahasa Melayu Kuno
i. Kedukan Bukit, tentang Dapunta Hyang yang menduduki Jambi
ii. Telaga Batu, tentang kutukan Raja-Raja
iii. Talang Tuwo, tentang pembuatan taman srikestra
iv. Kota Kapur, tentang penaklukan Bumi Jawa
v. Karang Berahi, tentang penguasaan terhadap Jambi

4
vi. Ligor
vii. Nalanda
4. Sebab Keruntuhan
i. Serangan kerajaan Cholamandala dari India. Sri Sanggrama Wijayatumangan ditahan
ii. Pembangkangan Kerajaan Melayu
iii. Berdirinya Kerajaan Majapahit dengan ekspedisi Srimelayu. Sehingga perdagangan di
Sriwijaya menurun

Kerajaan Mataram Lama (Tahun 730 M)


1. Dinasti Syailendra (Buddha)
1. Raja
i. Raja Bhanu, Raja Wisnu
ii. Raja Indra
iii. Raja Samaratungga, Raja Samaratungga adalah Raja yang membangun Borobudur, Mendut,
Sewu. Raja Samaratungga merajai Kerajaan Mataram Lama sehingga Kerajaan bercorak
Buddha.
iv. Raja Balaputeradewa (anak dari Raja Samaratungga). Balaputeradewa tidak setuju atas
pernikahan Pramoerwadhani dengan Raka I Pikatan, sehingga mereka bertikai dan
Balaputeradewa kalah kemudian pergi ke kerajaan Sriwijaya.
v. Raja Pramoerwadhani (anak dari Raja Samaratungga)

2. Prasasti
i. Prasasti Kalasan
ii. Prasasti Kelurak
iii. Prasasti Ratu Boko
iv. Prasasti Nalanda

2. Dinasti Sanjaya (Hindu)


1. Raja
i. Sanjaya, terdaapat dalam Prasasti Canggal
ii. Rakai Panangkaran, terdapat dalam Prasasti Kalasan, Ia membangun Candi Kalasan yang
bercorak Buddha, disini terlihat Kerajaan Mataram Lama berada dibawah pengaruh Dinasti
Syeilendra
iii. Raka I Pikatan, dalam kekuasaannya Hindu dan Buddha hidup berdampingan, dinasti
syailendra berada dibawah dinasti sanjaya. Di jaman ini, dibangun Candi Prambanan yang
bercorak Hindu
iv. Dyah Balitung, puncak kerajaan mataram
v. Mpu Sindok, Raja Terakhir Mataram lama. Ia memindahkan kerajaan ke Jawa Timur dan
memulai Kerajaan baru.

2. Prasasti
i. Prasasti Canggal
ii. Prasasti Balining
iii. Kitab Parahyangan

5
Kerajaan Medang Kamulan
1. Raja
a. Mpu Sindok, Sebagai pengganti Mataram Lama, Mpu sindok memindahkan kerajaan ke Jawa
Timur yang dikenal dengan Kerajaan Medang Kamulan dengan Dinasti Isana.
b. Dharmawangsa Teguh, di masanya dikenal Pralaya Medang, yang menyerang kerajaan
Sriwijaya. Namun Sriwijaya balas menyerang dan menghancurkan Medang Kamulan.
c. Airlangga, merupakan menantu dari Dharmawangsa Teguh. Airlangga memulihkan kembali
nama kerajaan dengan menaklukkan Kerajaan kecil. Hal ini terdapat pada Kitab
Arjunawiwaha oleh Mpu Kanwa. Setelah ini Kerajaan dibagi dua karena adanya perebutan
antara Putra Airlangga (Mapanji) dan Putra Dharmawangsa Teguh (Samarawijaya)
2. Kerajaan Janggala
a. Merupakan kerajaan hasil pembelahan dari Medang Kamulan. Dipimpin oleh Putra
Airlangga, Mapanji Garasakan.
b. Pada masa Raja Jayabaya (raja dari Kerajaan Panjalu / Kediri) Kerajaan Janggala ditaklukkan
dan dikuasai oleh Kerajaan Panjalu/Kediri
3. Kerajaan Kediri (Kerajaan Panjalu)
a. Merupakan kerajaan hasil pembelahan dari Medang Kamulan. Dipimpin oleh Putra
Dharmawangsa, Samarawijaya.
b. Raja
i. Samarawijaya
ii. Sri Bameswara
iii. Jayabaya, Kediri mencapai puncak kejayaan di Raja Jayabaya, karena pertentangan
dengan Kerajaan Janggala berhasil diselesaikan. Hal ini terdapat dalam Kitab
Bharatayudha oleh Mpu Sedan dan mpu Panuluh
iv. Kertajaya, merupakan raja terakhir. Kertajaya dianggap melanggar agama oleh para
Brahmana. Brahmana pun meminta bantuan kepada Ken Arok. Kertajaya dikalahkan
oleh Ken Arok, dan runtuhlah kerajaan Kediri
c. Prasasti
i. Sirah Kering
ii. Ngantang
iii. Jarring
iv. Kamulan

Kerajaan Singhasari
Kerajaan Singhasari berasal dari sebuah daerah bernama Tumapel, setelah Ken Arok
membunuh Tunggul Ametung (pemimpin Tumapel), Ken Arok mendirikan kerajaan Singhasari.
1. Raja
a. Ken Arok, Ken Arok berakhir karena dibunuh oleh Anusapati, yang merupakan anak dari
Tunggul Ametung oleh Keris yang sama yang digunakan oleh Ken Arok untuk membunuh
Tunggul Ametung
b. Anusapati, Anusapati mempunyai hobi menyabung ayam. Ia dibunuh oleh Tohjaya, anak
dari Ken Arok dan Ken Umang juga dengan keris yang sama. Dengan sebuah keris. Menurut
Kitab pararaton oleh Mpu Gandring. Peristiwa bunuh membunuh ini adalah sumpah dari
Mpu Gandring yang juga dibunuh oleh Ken Arok.

6
c. Tohjaya, Tohjaya pun mengalami hal yang sama, yaitu dibunuh oleh Wisnuwardhana yang
merupakan anak dari Anusapati.
d. Wisnuwardhana / Ranggawuni, bersama Mahisa Cempaka ia memerintah Kerajaan
e. Kertanegara, merupakan Raja terakhir Singhasari dan anak dari Wisnuwardhana. Ia mengirim
ekspedisi Pamalayu untuk menyerang Kerajaan Melayu dan Sriwijaya.
2. Keruntuhan Kerajaan Singhasari.
Adanya pemberontakan Jayakatwang (dari Kediri). Namun salah seorang panglima, Raden
Wijaya berhasil menyelamatkan diri. Disaat yang sama muncul Pasukan Mongol yang awalnya
juga ingin menghancurkan Singhasari, namun dengan tipu daya Raden Wijaya, pasukan mongol
berhasil membantunya mengalahkan Jayakatwang.

Kerajaan Majapahit
Setelah mengalahkan Jayakatwang dan juga mengusir pasukan mongol, Raden Wijaya mendirikan
Kerajaan Majapahit
1. Raja
a. Raden Wijaya / Kertarajasa Jayawardhana, Raden Wijaya mempunyai empat istri. Didalam
tubuh kerajaan banyak pergolakan yang didalangi oleh mahapatinya karena ketidakpuasan
jabatan.
b. Jayanegara, merupakan kemenakan dari Raden Wijaya. Dalam pergolakan, Jayanegara
sempat berseteru dengan Pasukan Kuti namun diselamatkan oleh Bhayangkara Gajah Mada.
Namun setelah itu Jayanegara dibunuh oleh Tanca, tabib Istana.
c. Tribhuanattunggadewi, juga merupakan anak dari Raden wijaya bersama istrinya, Gayatri.
Pada saat pemerintahannya, Gajah Mada diangkat menjadi patih dan bersumpah bahwa ia
tidak akan berhenti sampai nusantara bersatu dibawah panji majapahit, Sumpah ini dikenal
dengan nama Sumpah Palapa.
d. Hayam Wuruk (Gelar : Sri Rajasanegara) pelopor jaman keemasan Majapahit. Namun
keruntuhan Majapahit juga disebabkan oleh Hayam Wuruk yang ingin memperistri Dyah
Pitaloka (Kerajaan Sunda) yang dikenal dengan peristiwa Bubat. Setelah Hayam Wuruk
wafat, tidak ada lagi pemimpin yang cakap dalam Majapahit, sehingga Majapahit runtuh.
2. Prasasti
a. Prasasti Butak
b. Kitab Harsawijya
c. Kitab Pararaton
d. Kitab Negarakertagama

b. Kerajaan Islam
Setelah keraajaan-kerajaan Hindu-Buddha surut, mulai berdiri kerajaan-kerajaan Islam di tanah
air kita. Agama Islam mulai masuk ke Indonesia pada abad ke-13 M. Agama dan kebudayaan Islam
masuk Indonesia melalui para pedagang yang berasal dari Arab, Persia, dan Gujarat (India), dan Cina.
Agama Islam berkembang dengan pesat di tanah air. Hal ini dapat dilihat dengan berdirinya
kerajaan-kerajaan Islam Berikut ini beberapa contoh kerajaan Islam yang pernah berdiri di Indonesia.

7
Kerajaan Samudera Pasai
Samudera Pasai merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia. Letaknya di daerah
Lhokseumawe, pantai timur Aceh. Raja-rajanya adalah Sultan Malik as-Saleh, Sultan Muhammad
yang bergelar Malik Al-Tahir (1297-1326), Sultan Akhmad yang bergelar Malik Az Zahir (1326-1348)
dan Zainal Abidin. Pada pertengahan abad ke-15 Samudra Pasai mengalami kemunduran karena
diserang oleh Kerajaan Aceh.

Kerajaan Aceh
Kerajaan Aceh didirikan oleh Sultan Ibrahim pada tahun 1514. Aceh bekembang pesat setelah
Malaka dikuasai Portugis. Para pedagang Islam memindahkan kegiatan berdagang dari Malaka ke
Aceh. Aceh mencapai kejayaannya pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1635).
Karena menjadi pusat agama Islam, Aceh sering disebut Serambi Mekah.

Kerajaan Demak
Kerajaan Demak terletak di pantai utara Jawa Tengah, didirikan Raden Patah pada tahun 1478.
Demak merupakan kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa. Demak menjadi pusat kegiatan Wali
Songo. Raden Patah mempunyai putera bernama Adipati Unus yang mendapat julukan Pangeran
Sabrang Lor. Pada masa pemerintahan Sultan Trenggono, Demak menyerang Sunda Kelapa, Banten,
dan Cirebon. Ketiga daerah dapat direbut tahun 1526. Ketika menyerang Panarukan, Sultan
Trenggono tewas dalam pertempuran.

Kerajaan Mataram
Kerajaan Mataram mencapai puncak kejayaan pada masa Sultan Agung. Beliau banyak berjasa
dalam bidang kebudayaan dan agama. Beliau mengarang Serat Sastra Gending yang berisi filsafat
Jawa, menciptakan penanggalan tahun Jawa, dan memadukan unsur Jawa dan Islam, seperti
penggunaan gamelan dalam perayaan Sekaten untuk memperingati Maulud Nabi.

Kerajaan Banten
Banten dikuasai Demak setelah direbut Falatehan. Kerajaan Banten dipimpin putra Falatehan
yang bernama Hasanuddin. Dia berhasil mengusir Portugis dari Sunda Kelapa pada tahun 1527. Di
bawah pemerintahannya, Banten menyebarkan agama Islam ke pedalaman Jawa Barat. Selain itu,
Banten berhasil menguasai Lampung. Kerajaan Banten mencapai puncak kejayaan pada masa
pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1682).

Kerajaan Gowa-Tallo (Makasar)


Kerajaan Gowa-Tallo terletak di Sulawesi Selatan. Pada tahun 1605, agama Islam masuk ke
kerajaan Gowa-Tallo melalui seorang ulama dari Minangkabau bernama Dato ri Bandang. Karaeng
Tunigallo adalah raja Gowa pertama yang memeluk agama Islam. Gelar Karaeng Tunigallo adalah
Sultan Alauddin. Kerajaan Gowa Tallo mencapai kejayaan pada masa pemerintahan Sultan
Hassanuddin (1653-1669).

Kerajaan Ternate dan Tidore


Kerajaan Ternate dan Tidore letaknya berdekatan. Keduanya menganut agama Islam sejak abad
ke-16. Ajaran Islam dibawa oleh para pedagang dari Malaka dan Jawa. Raja-rajanya antara lain Zainal

8
Abidin (1486-1500), Sultan Baabullah, Sultan Hairun, dan Sultan Nuku. Kerajaan-kerajaan lain di
sekitar Ternate seperti kerajaan Tidore, Bacan, dan Jailolo mengikuti Ternate memeluk agama Islam.
Raja-rajanya memakai gelar sultan dan nama-nama Arab.

Zaman Penjajahan
Pengertian Kolonialisme dan Imperialisme
Kolonialisme adalah suatu usaha untuk melakukan sistem permukiman warga dari suatu Negara
diluar wilayah Negara induknya atau Negara asalnya.
Imperialisme adalah usaha memperluas wilayah kekuasaan atau jajahan untuk mendirikan
imperium atau kekaisaran.
Bangsa Portugis dan Spanyol
Bangsa Spanyol mulai menjelajahi samudera kea rah Timur pada abad 15-16.
a. Vasco da Gama (1497-1498)
b. Bartholomeus Diaz (1486)
c. Pedro Alvares Cabrel (1500)
d. Alfonso dAlbuquerque (1505)
e. Franciscus Xaverius (1550)
f. Cristophorus Columbus(1492)
g. Magellan del Cano (1519)
h. Ferdinand Cortez (1519)
i. Francisco Pizarro (1522-1532)

Bangsa Inggris
Pada masa pemerintahan Ratu Elizabeth I, sekitar tahun 1607, telah terjadi perpindahan
penduduk secara besar-besaran dari Inggris ke Amerika Utara. Pelaut Inggris yang terkenal adalah Sir
Francis Drake (1577-1580)

Bangsa Belanda
Pelaut Belanda, yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman, mengikuti jejak pelaut Eropa lainnya
dalam menelusuri daerah-daerah sepanjang pantai barat Afrika dan Asia Selatan, serta berhasil
mendarat di pelabuhan Banten pada tahun 1596. VOC berdiri pada tahun 1602.

Bangsa Perancis
Beberapa alasan penjelajahan samudera yang dilakukan oleh bangsa adalah sebagai berikut.
a. Mencari daerah penghasil rempah-rempah secara langsung.
b. Mencari harta, serta mencari emas dan perak (gold).
c. Menyebarkan agama Nasrani (gospel).
d. Mencari keharuman nama, kejayaan, dan kekuasaan (glory).

Kolonialisme dan Imperialisme Barat di Indonesia


Bentuk praktik Kolonialisme dan Imperialisme seperti menguasai perdagangan secara tunggal
(monopoli) dan merampas atau menjelajah suatu negeri.

9
1. Bangsa Portugis Menjajah Indonesia
Pada tahun 1512, bangsa Portugis yang dipimpin oleh Fransisco Serrao mulai berlayar menuju
Kepulauan Maluku. Bahkan pada tahun 1521, Antonio de Brito diberi kesempatan untuk
mendirikan kantor dagang dan beneng Santo Paolo di Ternate sebagai tempat berlindung dari
serangan musuh. Orang-orang Portugis yang semula dianggap sebagai sahabat rakyat ternate
berubah menjadi pemeras dan musuh.

2. Bangsa Spanyol Menjelajah Indonesia


Pelaut Spanyol berhasil mencapai Kepulauan Maluku pada tahun 1521 setelah terlebih dahulu
singgah di Filipina disambut baik oleh rakyat Tidore. Bangsa Spanyol dimanfaatkan oleh rakyat
Tidore untuk bersekutu dalam melawan rakyat Ternate. Maka pada tahun 1534, diterbitkan
perjanjian Saragosa (tahun 1534) yang isinya antara lain pernyataan bahwa bangsa Spanyol
memperoleh wilayah perdagangan di Filipina sedangkan bangsa Portugis tetap berada di
Kepulauan Maluku.

Bangsa Belanda Menjajah Indonesia


Proses penjajahan bangsa Belanda terhadap Indonesia memakan waktu yang sangat lama, yaitu
mulai dari tahun 1602 sampai tahun 1942. Penjelajahan bangsa Belanda di Indonesia, diawali oleh
berdirinya persekutuan dagang Hindia Timur atau Vereenigde Oost Indische Campagnie (VOC).

Masa VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie)


Penjelajahan Belanda, Cornelisde Houtman, mendarat kali pertama di Indonesia pada tahun
1596. Pada tahun 1598, bangsa Belanda mendarat di Banten untuk kali kedua dan dipimpin oleh
Jacob Van Neck. Upaya Inggris untuk mengatasi persaingan dagang yang semakin kuat diantara
sesama pendatang dengan mendirikan dan menyaingi persekutuan dagang Inggris di India dengan
nama East India Company (EIC). Pada tahun 1619, kedudukan VOC dipindahkan ke Batavia (sekarang
Jakarta) dan diperintah oleh Gubernur Jenderal Jan Pieter Zoon Coen ditujukan untuk merebut
daerah dan memperkuat diri dalam persaingan dengan persekutuan dagang milik Inggris (EIC) yang
sedang konflik dengan Wijayakrama (penguasa Jayakarta) disebut sebagai zaman kompeni. VOC
memperoleh piagam (charter), secara umum, menyatakan bahwa VOC diberikan hak monopoli
dagang di wilayah sebelah timur Tanjung Harapan. Pada abad ke-18, VOC mengalami kemunduran
dan tidak dapat melaksanakan tugas dari pemerintah Belanda. Factor penyebab kemunduran VOC
adalah sebagai berikut :
Banyaknya jumlah pegawai VOC yang korupsi.
Rendahnya kemampuan VOC dalam memantau monopoli perdagangan.
Berlangsungnya perlawanan rakyat secara terus-menerus dari berbagai daerah di Indonesia.
Pada tanggal 31 Desember 1799, VOC resmi dibubarkan dan pemerintah Belanda (saat itu
republik Bataaf) mencabut hak-hak VOC. Pada tahun 1806, terjadi perubahan politik di Eropa hingga
republik Bataaf dibubarkan dan berdirilah Kerajaan Belanda yang diperintah oleh Raja Louis
Napoleon.

10
Masa Deandels (1808-1811)
Belanda pada saat itu, mengangkat Herman Willem Daendels (1808) sebagai gubernur jenderal
Hindia Belanda. Daendels dikenal sebagai penguasa yang disiplin dan keras sehingga mendapatkan
sebutan Marsekal Besi atau jenderal Guntur. Langkah-langkah yang ditempuh Daendels
Melakukan pembangunan fisik
o Membangun pabrik senjata.
o Membangun benteng pertahanan.
o Menarik penduduk pribumi untuk menjadi tentara.
o Membangun pangkalan armada laut di Anyer dan Ujung Kulon.
o Membangun jalan raya dari Anyer (Banten) sampai Panarukan (Jawa Timur) sepanjang
1.000 km, yang kemudian terkenal dengan sebutan Jalan Raya Daendels.
Melakukan pembangunan ekonomi
o Memungut pajak hasil bumi dari rakyat (contingenten).
o Menjual tanah negara kepada pihak swasta asing.
o Mewajibkan rakyat Priangan untuk menanam kopi (Preanger Stelsel).
o Mewajibkan rakyat pribumi untuk menjual hasil panennya kepada Belanda dengan harga
murah (verplichte leverentie).
Akhirnya, pada tahun 1811, Herman Willem Daendels digantikan oleh Gubernur Jenderal
Janssens.

Masa Janssens
Tugas sebagai Gubernur Jenderal, Janssens ternyata tidak secakap Daendels (baik dalam
memerintah maupun dalam mempertahankan wilayah Indonesia). Janssens ternyata tidak siap
untuk mengimbangi kekuatan dan serangan Inggris, sehingga Janssens menyerah pada 18
September 1811 dan dipaksa untuk menandatangani perjanjian di Tuntang (Salatiga).

Bangsa Inggris Menjajah Indonesia (1811-1816)


Pemerintah Inggris mulai menguasai Indonesia sejak tahun 1811 pemerintah Inggris
mengangkat Thomas Stamford Raffles (TSR) sebagai Gubernur Jenderal di Indonesia. Ketika TSR
berkuasa sejak 17 September 1811, ia telah menempuh beberapa langkah yang dipertimbangkan,
baik di bidang ekonomi, social, dan budaya. Penyerahan kembali wilayah Indonesia yang dikuasai
Inggris dilaksanakan pada tahun 1816 dalam suatu penandatanganan perjanjian. Pemerintah Inggris
diwakili oleh John Fendall, sedangkan pihak dari Belanda diwakili oleh Van Der Cappelen. Sejak
tahun 1816, berakhirlah kekuasaan Inggris di Indonesia.

Masa Sistem Tanam Paksa


Pemerintah Belanda untuk menutup kekosongan kas keuangan negara, satu di antaranya adlah
dengan menerapkan aturan tanam Paksa (Cultuurstelsel). Tanam paksa berasal dari bahasa Belanda
yaitu Cultuurstelsel (sistem penanaman atau aturan tanam paksa). Aturan tanam paksa di Indonesia
adalah Johannes Van Den Bosch
Isi Aturan Tanam Paksa
Tuntutan kepada setiap rakyat Indonesia agar menyediakan tanah pertanian untuk
cultuurstelsel tidak melebihi 20% atau seperlima bagian dari tanahnya untuk ditanami jenis
tanaman perdagangan.

11
Pembebasan tanah yang disediakan untuk cultuurstelsel dari pajak, karena hasil tanamannya
dianggap sebagai pembayaran pajak.
Rakyat yang tidak memiliki tanah pertanian dapat menggantinya dengan bekerja di
perkebunan milik pemerintah Belanda atau dipabrik milik pemerintah Belanda selama 66
hari atau seperlima tahun.
Waktu untuk mengerjakan tanaman pada tanah pertanian untuk Culturstelsel tidak boleh
melebihi waktu tanam padi atau kurang lebih 3 (tiga) bulan
Kelebihan hasil produksi pertanian dari ketentuan akan dikembalikan kepada rakyat
Kerusakan atau kerugian sebagai akibat gagal panen yang bukan karena kesalahan petani
seperti bencana alam dan terserang hama, akan di tanggung pemerintah Belanda
Penyerahan teknik pelaksanaan aturan tanam paksa kepada kepala desa
Pelaksanaan Aturan Tanam Paksa
Tanam paksa sudah dimulai pada tahun 1830 dan mencapai puncak perkembangannya hingga
tahun 1850. Pada tahun 1860, penanaman lada dihapuskan. Pada tahun 1865 dihapuskan untuk
menanam nila dan teh. Tahun 1870, hampir semua jenis tanaman yang ditanam untuk tanam paksa
dihapuskan, kecuali tanaman kopi. Pada tahun 1917, tanaman kopi yang diwajibkan didaerah
Priangan juga dihapuskan.

Reaksi terhadap Pelaksanaan Aturan Tanam Paksa


Antara tahun 1850-1860, terjadi perdebatan. Kelompok yang menyetujui terdiri dari pegawai-
pegawai pemerintah dan pemegang saham perusahaan Netherlandsche handel
maatsschappij (NHM). Pihak yang menentang terdiri atas kelompok dari kalangan agama dan
rohaniawan
Pada tahun 1870, perekonomian Hindia Belanda (Indonesia) mulai memasuki zaman liberal
hingga tahun 1900.

Masa Liberalisme
Politik Pintu Terbuka di Indonesia berlangsung antara tahun 1870 hingga tahun 1900, periode
ini disebut sebagai zaman berpaham kebebasan (liberalisme). Pemerintah Hindia Belanda
memberlakukan peraturan seperti Undang-undang Agraria (Agrarische Wet) dan Undang-undang
Gula (Suiker Wet).
Undang-undang Agraria (Agrarische Wet)
Undang Agraria berisi pernyataan bahwa semua tanah yang terdapat di Indonesia adalah milik
pemerintah Hindia Belanda.
Undang-Undang Gula (Suiker wet)
Undang-undang gula berisi pernyataan bahwa hasil tanaman tebu tidak boleh diangkut ke luar
wilayah Indonesia dan hasil panen tanaman tebu harus di proses di pabrik-pabrik gula dalam negeri.
Pada akhir abad ke-19, ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia semakin maju, termasuk
kemajuan dibidang kesehatan.

Pengaruh Kolonialisme dan Imperialisme Barat di Berbagai Daerah di Indonesia.


Kolonialisme dan Imperialisme mulai merebak di Indonesia sekitar abad ke-15, yaitu diawali
dengan pendaratan bangsa Portugis di Malaka dan bangsa Belanda yang dipimpin Cornelis de
Houtmen pada tahun 1596, untuk mencari sumber rempah-rempah dan berdagang.

12
Perlawanan Rakyat terhadap Portugis
Kedatangan bangsa Portugis ke Semenanjung Malaka dan ke Kepulauan Maluku merupakan
perintah dari negaranya untuk berdagang.
a. Perlawanan Rakyat Malaka terhadap Portugis
Pada tahun 1511, armada Portugis yang dipimpin oleh Albuquerque menyerang Kerajaan
Malaka. Untuk menyerang kolonial Portugis di Malaka yang terjadi pada tahun 1513 mengalami
kegagalan karena kekuatan dan persenjataan Portugis lebih kuat. Pada tahun 1527, armada
Demak di bawah pimpinan Falatehan dapat menguasai Banten, Sunda Kelapa, dan Cirebon.
Armada Portugis dapat dihancurkan oleh Falatehan dan ia kemudian mengganti nama Sunda
Kelapa menjadi Jayakarta (Jakarta)
b. Perlawanan rakyat Aceh terhadap Portugis
Mulai tahun 1554 hingga tahun 1555, upaya Portugis tersebut gagal karena Portugis
mendapat perlawanan keras dari rakyat Aceh. Pada saat Sultan Iskandar Muda berkuasa,
Kerajaan Aceh pernah menyerang Portugis di Malaka pada tahun 1629.
c. Perlawanan Rakyat Maluku terhadap Portugis
Bangsa Portugis kali pertama mendarat di Maluku pada tahun 1511. Kedatangan Portugis
berikutnya pada tahun 1513. Akan tetapi, Tertnate merasa dirugikan oleh Portugis karena
keserakahannya dalam memperoleh keuntungan melalui usaha monopoli perdagangan
rempah-rempah.
Pada tahun 1533, Sultan Ternate menyerukan kepada seluruh rakyat Maluku untuk
mengusir Portugis di Maluku. Pada tahun 1570, rakyat Ternate yang dipimpin oleh Sultan
Hairun dapat kembali melakukan perlawanan terhadap bangsa Portugis, namun dapat
diperdaya oleh Portugis hingga akhirnya tewas terbunuh di dalam
Benteng Duurstede. Selanjutnya dipimpin olehSultan Baabullah pada tahun 1574. Portugis
diusir yang kemudian bermukim di Pulau Timor.

Perlawanan Rakyat terhadap Belanda (VOC)


Persekutuan dagang Hindia Timur milik pemerintah Belanda di Indonesia adalah Vereenigde
oost Indische Compagnie (VOC) yang berdiri tahun 1602.
a. Perlawanan Rakyat Mataram
Perlawanan Rakyat Mataram Pertama dilakukan pada bulan Agustus 1628 yang dipimpin oleh
Tumenggung Bahurekso. Perlawanan Rakyat Mataram Ke dua dilaksanakan tahun 1629 dan dipimpin
oleh Dipati Puger dan Dipati Purbaya. Pasukan Mataram tetap menyerbu Batavia dan berhasil
menghancurkan benteng Hollandia, dilanjutkan ke benteng Bommel tetapi belum berhasil.
Perlawanan rakyat selanjutnya dipimpin oleh Trunojoyo, putra Bupati Madura. Namun setelah
Trunojoyo tertangkap dan dijatuhi hukum mati (tahun 1679), Kerajaan Mataram selalu mendapat
pengaruh dari pemerintah Hindia Belanda.
Perlawanan Untung Suropati, Untung Suropati adalah putra Bali yang menjadi prajurit kompeni
di Batavia antara tahun 1686 sampai 1706, pada 1706, wilayah pertahanan Untung Suropati diserbu
oleh Kompeni Belanda. Untung Suropati gugur di Bangil dan Amangkurat III atau Sunan Mas
tertangkap, diasingkan ke Sri Langka.
Perlawanan Pangeran Mangkubumi dan Mas Said, Tahun 1749, Pangeran Mangkubumi (adik
dari Pakubuwana II) bekerjasama dengan Mas Said (Pangeran Samber Nyawa) melakukan
perlawanan terhadap pakubuwana II dan VOC. Pada tahun 1751, pasukan kompeni yang dipimpin

13
Mayor De Clerx, dapat dihancurkan. Perlawanan Mangkubumi dan Mas Said diakhiri dengan
Perjanjian Giyanti (tahun 1755) dan Perjanjian Salatiga (tahun 1757).

b. Perlawanan Rakyat Banten


Perlawanan rakyat Banten dibangkitkan oleh Abdul Fatah (Sultan Ageng Tirtayasa) dan putranya
Pangeran Purbaya. Tahun 1659, perlawanan rakyat Banten mengalami kegagalan. 1683, VOC
menerapkan politik domba (devide et impera) antara Sultan Ageng Tirtayasa dengan putranya yang
bernama Sulatan Haji. Sultan Haji yang dibantu oleh VOC dapat mengalahkan Sultan Ageng Tirtayasa
menghasilkan kompensasi. 1750, terjadi perlawanan rakyat banten terhadap Sultan Haji.

c. Perlawanan Rakyat Makassar


Perlawanan terhadap kolonialisme Belanda dilakukan oleh Kerajaan Gowa dan Tallo, yang
kemudian bergabung menjadi Kerajaan Makassar. Kerajaan Makassar, mencapai puncak
kejayaannya pada masa pemerintah Sultan Hasanuddin tahun 1654-1669. Pertempuran pertama
terjadi pada tahun 1633. Pada tahun 1654 diawali dengan perilaku VOC yang berusaha menghalang-
halangi pedagang yang akan masuk maupun keluar Pelabuhan Makassar mengalami kegagalan.
Pertempuran ketiga terjadi tahun 1666-1667, pasukan kompeni dibantu olehpasukan Raja Bone (Aru
Palaka) dan pasukan Kapten Yonker dari Ambon. Angakatan laut VOC, yang dipimpin
oleh Spleeman. Pasukan Aru Palaka mendarat di Bonthain dan berhasil mendorong suku Bugis agar
melakukan pemberontakan terhadap Sultan Hasanudin. Penyerbuan ke Makassar dipertahankan
oleh Sultan Hasanudin. Sultan Hasanudin terdesak dan dipaksa untuk menandatangani perjanjian
perdamaian di Desa Bongaya pada tahun 1667.
Faktor penyebab kegagalan rakyat Makassar adalah keberhasilan politik adu domba Belanda
terhadap Sultan Hasanudin dengan Aru Palaka membantu Trunojoyo dan rakyat Banten setiap
melakukan perlawanan terhadap VOC.

d. Perlawanan rakyat Maluku


Perlawanan di Ternate
Pertama pada tahun 1635 yang dipimpin oleh Kakiali. 1 646 kembali terjadi perlawanan rakyat
Ternate terhadap VOC, yang dipimpin oleh Telukabesi. Pada tahun 1650, rakyat Ternate yang
dipimpin oleh Saidi mengalami kegagalan.
Perlawanan di Tidore
Tidore dipimpin oleh Kaicil Nuku atau Sultan Nuku. Perlawanan fisik dan perundingan berhasil
mengusir Belanda, mengusir Kolonial Inggris dari Tidore.
Perlawanan oleh Patimura
Bulan Mei 1817, meletus perlawanan rakyat Maluku di Saparua yang dipimpin olehThomas
Mattulessy atau Kapitan Pattimura. Benteng kompeni Duurstede di Saparua diserbu dan direbut
rakyat Maluku. Meluas hingga ke Ambon dan ke pulaupulau sekitarnya, dikuasai oleh Kapitan
Pattimura, Anthony Rybok, Paulus-paulus Tiahahu, Martha Christina Tiahahu, Latumahina, Said
Perintah dan Thomas Pattiwael, kewalahan perlawanan rakyat Pattimura pada tahun 1817
mendantangkan pasukan Kompeni dari Ambon yang dipimpin oleh kapten Lisnet.
Oktober 1817, menyerang rakyat Maluku secara besar-besaran, menangkap Kapitan Pattimura
(tahun 1817) dihukum mati pada tanggal 16 Desember 1817.

14
Reaksi-reaksi Rakyat Indonesia Terhadap Kolonialisme Belanda dalam Bentuk Perang
Besar

a. Perang Padri (1821-1837)


Terjadi di Sumatera Barat atau di tanah Minangkabau. Perselisihan antara kaum Padri dengan
kaum Adat yang kemudian mengundang campur tangan pihak Belanda.
Perang Padri pertama (tahun 1821-1825) dan perang Padri kedua (tahun 1830-1837)
1) Perang Padri Pertama
Kaum Padri dipimpi oleh Datok Bandaro bertempur melawan kaum Adat yang dipimpin
oleh Datuk Jati. Setelah Datuk Bandaro meninggal dunia, pucuk pimpinan dipegang oleh Malim
Basa (Tuanku Imam Bonjol) dan dibantu oleh Tuanku Pasaman, Tuanku Nan Renceh, Tuanku
Nan Cerdik, dan Tuanku Nan Gapuk. Tahun 1821, kaum Padri menyerbu pos Belanda di
semawang dan mengacaukan kedudukan Belanda di daerah Lintau. Belanda membangun
benteng nama Firt van der Capllen. Pada 1825, kedudukan Belanda mulai sulit karena harus
berhadapan dengan kaum Padri dan juga harus menghadapi pasukan Diponegoro.
November 1825, Belanda dan Kaum Padri menandatangani perjanjian damai yang berisi tentang
pengakuan Belanda atas beberapa daerah sebagai wilayah kaum Padri dan untuk sementara
peperangan gelombang pertama berakhir.
2) Perang Padri Gelombang ke Dua
1829, di daerah pariaman. 1830, kaum Adat mulai banyak membantu kaum Padri dan kedua
kaum tersebut menyadari bahwa perlunya kerja sama. Perang antara rakyat Minangkabau
melawan penjajah Belanda.
1831, penyerangan terhadap belanda di daerah Muarapalam. 1832, dipimpin oleh Tuanku Nan
Cerdik dan Tuanku Imam Bonjol melakukan penyerangan pos Belanda di Mangopo. 1833, terjadi
pertempuran besar di daerah Agam. 1834 hingga tahun 1835, pemerintah Belanda mulai
mengepung benteng Bonjol. Pada tanggal 25 Oktkober 1837, benteng pertahanan Kota Bonjol
jatuh ke tangan Belanda. Imam Bonjol diasingkan ke Cianjur, kemudian dipindahkan ke
Minahasa hingga wafat dan dimakamkan di Pineleng.

b. Perang Diponegoro
Di lingkungan istana terdapat golongan yang memihak Belanda, banyak juga yang menentang
Kolonial Belanda, seperti Pangeran Diponegoro (putra Sultan Hamengku Buwono III). Kecurigaan
yang berlebihan ini pada akhirnya menimbulkan permusuhan dan peperangan yang disebut perang
Diponegoro.
1) Penyebab Umum Perang Diponegoro
Semakin menderitanya rakyat akibat kerja rodi dan berbagai macam pajak
Semakin sempitnya wilayah Kerajaan Mataram akibat dikuasai Belanda.
Selalu ikut campurnya Belanda dalam urusan pemerintahan Kerajaan Mataram.
Masuknya budaya barat ke dalam keraton yang bertentangan dengan ajaran agama.
Kecewanya kaum bangsawan akan aturan Van der Capellen yang melarang usaha
perkebunan swasta di wilayah Kerajaan Mataram.
Munculnya pejabat Kerajaan Mataram yang membantu pihak Belanda demi keuntungan
pribadi.
2) Penyebab Khusus Perang Diponegoro

15
Dipengaruhi oleh persoalan pribadi. Terjadi pada tahun 1825, tindakan sewenang-wenang
Belanda yang telah memasang tonggak untuk membangun jalan raya yang melintasi makam leluhur
Pangeran Diponegoro tanpa izin. Perang antara Pangeran Diponegoro dengan Belanda dibantu oleh
Kasunanan Surakarta, Mangkunegaran, dan Kesultanan Yogyakarta.
Menggunakan strategi atau siasat perang gerilya, pusat pertahanan yang selalu berpindah-
pindah seperti di Gua Selarong, Dekso, lereng Gunung Merapi, dan Bagelan(Purworejo). Terbukti
bahwa pada tahun 1825 sampai 1826, pasukan diponegoro memperoleh kemenangan hingga dapat
merebut daerah Pacitan, Purwodadi, dan Klaten.
Penggunaan sistem Benteng Stelsel oleh Belanda mempersulit pergerakan pasukan Diponegoro
dan hubungan komunikasi antar pasukan. Pada tahun 1828, Kiai Mojo bersedia untuk diajak
berunding oleh pihak Belanda namun gagal dan justru ia ditangkap dan diasingkan ke Minahasa
sampai wafat pada tahun 1849. Jendral De Kock mengajak berunding Sentot Alibasa
Prawirodirjo, Tetapi selalu mengalami kegagalan. Pada tahun 1829, Sentot Alibasa Prawirodirjo
menyerah, ia dituduh memihak kaum Padri sehingga akhirnya ia diasingkan ke Cianjur dan
kemudian dipindahkan ke Bengkulu hingga wafat pada tahun 1855.
Pangeran Mangkubumi menyerah pada tahun 1829 dan putranya sendiri yang bernama
Dipokusumo beserta patihnya menyerah pula pada tahun 1830. Jendral de kock ditanggapi positif
oleh Pangeran Diponegoro dan disepakati bersama bahwa perundingan akan dilaksanakan pada
tanggal 28 Maret 1830 di kota Magelang. Pangeran Diponegoro dibawa ke Semarang dan Batavia
kemudian diasingkan lagi ke Manado. Ia kembali dipindahkan ke Makassar hingga wafat pada
tanggal 8 januari 1855

c. Perlawanan rakyat Aceh (1873-1904)


Aceh merupakan salah satu kerajaan di Indonesia yang kuat dan masih tetap bertahan hinga
abad ke-19. Berdasarkan Traktat London tahun 1824 bangsa Inggris dan Belanda yang sudah pernah
berkuasa di Indonesia harus saling sepakat untuk menghormati keberadaan kerajaan Aceh.
Pada bulan Maret 1873, perangnya ke Kutaraja atau Banda Aceh di bawah pimpinan Jendral
Kohler, berusaha merebut dan menduduki ibu kota dan Istana Kerajaan Aceh. Kerajaan Aceh
berhasil, tetapi dalam pertempuran tersebut Jendral Kohler tewas tertembak. Mengawali terjadinya
perang Aceh yang berkepanjangan mulai tahun 1873 sampai 1904. pasukan Belanda melaksanakan
operasi Konsentrasi Stelsel sambil menggertak para pemimpin Aceh agar menyerah. Beberapa
pimpinan utama Aceh seperti Teuku Cik Di Tiro, Cut Nya Din, Panglima Polim, dan Cut Meutia
(bersama-sama dengan rakyat Aceh) untuk melancarkan serangan umum.
Setelah Teuku Cik Di Tiro sebagai pemimpin utama Aceh Wafat. Pucuk pimpinan dilanjutkan
oleh Teuku Umar dan Panglima Polim. Pada tahun 1893, Teuku Umar beserta pasukannya
memanfatkan kelengahan Belanda dengan tujuan mendapatkan senjata. Disambut baik dan
mendapat gelar Teuku Johan pahlawan. Pada tahun 1896, Teuku Umar bergabung kembali dengan
rakyat Aceh dengan membangun markas pertahanan Meulaboh.
Peristiwa Teuku Umar yang berhasil menyiasati Belanda dipandang sebagai kesalahan
besarDeykerhoff sebagai gubernur militer. Digantikan oleh Jendral Van Heutsz. Belanda memeberi
tugas kepada Dr. Snock Hurgronje untuk menyelidiki perilaku masyarakat Aceh. Dr. Snock
Hurgronje dalam menjalankan tugasnya menggunakan nama smaran, yaitu Abdul gafar.
Untuk mengalahkan Aceh, lebih cepat dan tepat, Belanda menggunakan Strategi sebagai berikut :
menghancurkan dan menangkap seluruh pemimpin dan ulama dari pusat
membentuk pasukan gerak cepat (marschose marechausse)

16
semua pemimpin dan ulama yang tertangkap harus menandatangani perjanjian
setelah melakukan operasi militer, Belanda mengikuti kegiatan perdamaian rehabilitasi
(pasifikasi)
bersikap lunak terhadap para bangsawan.
Atas usulan Dr. Snock Hurgronje, pemerintah Belanda memberi tugas kepada Jendral militer
Van Heutsz. Pada tahun 1899, pasukan gerak cepat pimpinan Van Heutsz melakukan penyerangan.
Belanda menyandera keluarga raja dan keluarga Panglima Polim. Perlawanan Aceh berikutnya
dilanjutkan oleh Cut Meutia, tetapi perlawanan ini dapat dipadamkan dan pada tahun 1904 perang
Aceh dinyatakan berakhir.
d. Perlawanan rakyat Bali
Keinginan Belanda untuk menguasai Bali dimulai sejak tahun 1841 dan seluruh raja di Bali
dipaksa menandatangani perjanjian yang isinya agar raja di Bali mengakui dan tunduk kepada
pemerintah Belanda.
Keinginan Belanda untuk menguasai Bali selalu tidak berhasil karena Bali masih bersifat
konservatif (masih berlaku adat/ tradisi). Pada tahun 1844, kapal Belanda terdampar di pantai
Buleleng dan dikenakan hukum tawan karang, yaitu setiap kapal yang terdampar di pantai
kekuasaan kerajaan akan menjadi hak milik kerajaan tersebut. Belanda turut campur urusan
kerajaan di Bali dengan mengajukan tuntutan dengan isi sebagai berikut.
Membebaskan Belanda dari hukum Tawan Karang.
Kerajaan Bali mengakui pemerintahan Hindia Belanda.
Kerajaan Bali melindungi perdagangan milik pemerintah Belanda.
Semua raja di Bali harus tunduk terhadap semua perintah colonial Belanda.
Sehingga pada tahun 1846 Belanda menyerang wilayah Bali Utara dan memaksa Raja
Buleleng untuk menandatangani perjanjian perdamaian
Benteng Kerajaan Buleleng agar dibongkar.
Pasukan Belanda ditempatkan di Buleleng.
Biaya perang harus ditanggung oleh Raja Buleleng.
Pada tahun 1848, raja-raja di Bali tidak lagi mematuhi kehendak Belanda. Pos-pos pertahanan
Belanda di Bali diserbu dan semua senjata dirampas oleh gusti Jelantik. Pada tahun 1849, pasukan
belanda datang dari Batavia untuk menyerbu dan menguasai seluruh pantai Buleleng dan menyerbu
benteng Jagaraga. Sejak runtuhnya Kerajaan Buleleng, perjuangan rakyat Bali mulai lemah.
Meskipun demikian, Kerajaan Karangasem dan Klungkung masih berusaha melakukan perlawanan
terhadap Belanda.
e. Perlawanan Rakyat Palembang (1819-1825)
Sultan Badaruddin dahulu pernah menjadi Sultan Palembang dan kemudian diturunkan secara
paksa oleh pemerintah Inggris ketika masih berkuasa di Indonesia yaitu digantikan oleh Sultan
Najamuddin. Tahun 1819 Sultan Badaruddin selalu menghalangi setiap kapal Belanda yang
memasuki sungai Musi. Pada tahun 1821, Belanda dapat menguasai ibukota Palembang dan
menangkap Sultan Badaruddin. Sultan Badaruddin diasingkan ke Ternate. Perlawanan rakyat
Palembang sering terjadi pada tahun 1825.
f. Perlawanan Rakyat Banjar (1859-1863)
Yang menjadi daya tarik Belanda untuk menguasai Kalimantan Selatan yang saat itu diperintah
oleh Sultan Hidayat. Untuk menguasai Banjarmasin adalah dengan melakukan operasi militer pada
tahun 1859. Dalam pertempuran itu, Sultan Hidayat tertangkap oleh Belanda dan diasingkan ke

17
Cianjur, Jawa Barat. Upaya Belanda untuk menguasai Banjamasin mengalami kesulitan rakyat berupa
untuk mempertahankan wilayahnya dan setiap kapal Belanda yang memasuki pedalaman
Banjarmasin (melalui Sungai Barito) akan dibakar oleh rakyat setempat. Pada tahun 1863, pasukan
Belanda melancarkan serangan bertubi-tubi ke seluruh wilayah Banjarmasin, sehingga Pangeran
Antasari gugur.
g. Perlawanan Rakyat Tapanuli (1878-1907)
Sekitar tahun 1873, bangsa Belanda mulai memasuki daerah Tapanuli Utara dengan alasan
memadamkan aktivitas pejuang-pejuang Padri dan para pemimpin dari Aceh. Pada tahun 1878,
Belanda mulai melancarkan gerakan militernya untuk menyerang daerah Tapanuli, sampai pada
akhirnya meletuslah Perang Tapanuli. Perang Tapanuli yang diawali dengan operasi militer yang
dilakukan oleh Jenderal Van Daalen di pedalaman Aceh tahun 1903-1904. Serdadu Belanda yang
mulai berdatangan di daerah di Sumatera Utara dibendung oleh rakyat Tapanuli yang dipimpin
oleh Raja Sisingamangaraja XII.

Politik Etis
Pencetus politik etis (politik balas budi) ini adalah Van Deventer. Van Deventer
memperjuangkan nasib bangsa Indonesia dengan menulis karangan dalam majalah De Gids yang
berjudul Eeu Eereschuld (Hutang Budi).
Menurut Van Deventer, ada tiga cara untuk memperbaiki nasib rakyat tersebut yaitu
memajukan ;
Edukasi (pendidikan)
Irigasi (pengairan)
Emigrasi (perpindahan penduduk)

Usulan Van Deventer tersebut mendapat perhatian besar dari pemerintah Belanda. Dalam
bidang irigasi (pengairan) diadakan pembangunan dan perbaikan. Emigrasi juga dilaksanakan oleh
Pemerintah Belanda bukan untuk memberikan penghidupan yang layak serta pemerataan
penduduk. Jelaslah bahwa pemerintah Belanda telah menyelewangkan politik etis. Usaha-usaha
yang dilaksanakan baik edukasi, irigasi dan emigrasi dan kemiskinan rakyat Indonesia dapat
memperbaiki jika bangsa Indonesia bebas merdeka dan berdaulat.

Organisasi Pergerakan Nasional


Organisasi/GeraDibent Tempat Tokoh Keterangan
kan uk
Budi Utomo 20 Mei Dr. Wahidin Sudirohusodo, Akhirnya melebur dengan
1908 dr. Sutomo PBI menjadi Gerindra
Sarekat Dagang Tahun Surakarta Haji Samanhudi
Islam 1911 (Jawa
Tengah)
Sarekat Islam Tahun Surabaya H. Oemar Said (H.O.S) SI akhirnya terbagi menjadi
1912 (Jawa Cokroaminoto 2, SI Merah (basis PKI,
Timur) pencetus : Semaun) dan SI
Putih (Cokroaminoto)

18
Muhammadiyah 18- Yogyakarta K.H. Ahmad dahlan Bergerak di bidang
Nov- Pendidikan, Sosial Budaya
12
Indische Partij 25-Des Bandung Tiga serangkai (E.F.E. Suwardi Suryadiningrat
1912 (Jawa Douwes dekker/Dr. sempat membuat tulisan
Barat) Danudirja Setiabudi, Raden yang menggemparkan
Mas Suwardi dengan judul "Alks Ik Een
Suryaningrat/Ki Hajar Nederlander Was / Jika aku
Dewantara, Dr. Cipto seorang Belanda"
Mangunkusumo)
Indische Okt- Belanda Noto Suroto Merupakan cikal bakal dari
Vereeniging 1908 Perhimpunan Indonesia
Perhimpunan Tahun Drs. Mohammad Hatta, Mr. Majalah : Hindia Putra, lalu
Indonesia (PI) 1925 Ahmad Subardjo, Sukiman, menjadi Indonesia
Ali Sastroamijoyo, Sunaryo, merdeka
Sartono, Iwa
Kusumasumantri
Pemuda 20-Feb
Bandung Sartono, Sunaryo, Sutan
Indonesia 1927(Jawa Syahrir, Suwiryo
Barat)
Partai Nasional 4 Juli Bandung Ir. Sukarno Berasal dari Aglemen
Indonesia (PNI) 1927 (Jawa Studies Club. Karena
Barat) dianggap berbahaya para
pemimpinnya sempat
ditangkap, disaat itu
Ir.Soekarno menyuarakan
pidatonya yang berjudul
"Indonesia Menggugat"
Partai Indonesia 30- Mr. Sartono, Ir. Sukarno Sebagai pengganti dari PNI
(Partindo) Apr-31 yang telah bubar
Pendidikan Tahun Drs. Mohammad Hatta, Pemimpin yang tidak
Nasional 1931 Sutan Syahrir setuju PNI bubar,
Indonesia (PNI kemudian mendirikan PNI
Baru) Baru
Taman Siswa 3 Juli Yogyakarta R.M. Suwardi
1922 Suryaningrat/Ki Hajar
Dewantara
Partai Indonesia TahunSurabaya Sutomo
Raya (Parindra) 1935 (Jawa
Timur)
Gerakan Rakyat 24 Mei Jakarta Dr. Adnan Kapau Gani, Mr.
Indonesia 1937 Sartono, Mr. Wilopo, Mr.
(Gerindo) Mohammad Husni Thamri,
Amir Syarifuddin

19
Gabungan Tahun Jakarta Sutarjo Kartohadikusumo Gabungan antara Parindra,
Politik Indonesia 1939 Gerindo, PSII dan
(GAPI) Pasundan. Membentuk
Kongres Rakyat Indonesia
yang menuntut adanya
Indonesia Berparlemen
Trikoro Dharmo 7
Maret
1915
Perhimpunan Tahun
Pelajar-Pelajar 1926
Indonesia (PPPI)
Kongres 30 Jakarta Muhammad Tabrani, Hasil : Menanamkan
Pemuda I April Sumarto, Muhammad semangat persatuan,
2 Mei Yamin, bahder Djohan, namun antara organisasi
1926 Pinintoan pemuda belum bisa
dibentuk persatuan karena
masih kedaerahan.
Menyetujui diadakannya
Koongres Pemuda II
Kongres 27, 28 Jakarta Sugondo Joyopuspito, Joko Hasil : Sumpah Pemuda.
Pemuda II Okt Marsaid, Muhammad Pertama kalinya lagu
1928 Yamin, Amir Syarifuddin Indonesia Raya
dikumandangkan didepan
publik
Kongres 22-25 Yogyakarta
Perempuan Des
Indonesia I 1928
Partai Tahun
Perempuan 1928
Indonesia (PPI)
Partai Tahun
Perhimpunan 1929
Istri Indonesia
(PPII)

20
PENDUDUKAN JEPANG DI INDONESIA
Perang Pasik meletus setelah Jepang mengebom pangkalan laut Amerika Serikat di Pearl
Harbour. Terjadilah Perang Pasifik atau Perang Asia Timur Raya. Serangan ini terjadi pada 8
Desember 1941. Kemudian, negara-negara dalam Blok Sekutu menyatakan perang terhadap Jepang.
Perang ini disebut dengan perang Asia Timur Raya. Dengan cepat Jepang menyerbu dan menduduki
Daerah yang dikuasai Inggris, Perancis, dan Amerika Serikat. Yakni Indochina, Myanmar, Filipina, dan
Malaysia. Jepang menjajah Indonesia selama 3,5 tahun.
Pada 8 Maret 1942, Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang di Kalijati, Subang (Jawa
Barat). Penyerahan kekuasaan dari Belanda kepada Jepang dilakukan oleh Letnan Jenderal N.
Terpoorten kepada Letnan Jenderal Hitoshi Imamura. Dengan demikian, berakhirlah kekuasaan
Belanda di Indonesia.
Setelah menguasai Indonesia, Jepang membagi wilayah Indonesia menjadi tiga wilayah
pertahanan. Wilayah I (Jawa dan Madura), wilayah II (Sumatra dan kepulauan di sekitarnya), dan
wilayah III (Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Bali, dan Nusa Tenggara).

Sebab dan akibat pengerahan tenaga romusha oleh jepang terhadap penduduk indonesia
a. Sebab-sebab Pengerahan Tenaga Romusha
Pada Perang Dunia II, Jepang berada di bawah pemerintahan militer. Semua kebijakan politik,
ekonomi, dan sosial, ditujukan untuk kepentingan perang melawan sekutu. Untuk kepentingan itu
Jepang memerlukan banyak sumber daya alam dan tenaga manusia. Untuk memenuhi tenaga
manusia, Jepang menerapkan sistem kerja paksa di negara jajahannya. Orang-orang dipaksa bekerja
untuk kepentingan Jepang yang dinamakan romusha.

b. Akibat Pengerahan Tenaga Romusha


Pengerahan tenaga romusha menyebabkan penduduk Indonesia berkurang akibat meninggal
dunia. Penderitaan itu meninggalkan rasa ketakutan bagi mereka yang pernah mengalaminya.
Pendudukan Jepang di Indonesia membawa malapetaka bagi rakyat Indonesia. Propaganda dan
janji-janji Jepang hanya tipuan belaka. Selama dijajah Jepang, rakyat Indonesia semakin miskin,
bodoh, dan menderita.

ORGANISASI BENTUKAN JEPANG


a. Gerakan Tiga A
Gerakan Tiga A merupakan organisasi pertama yang didirikan Jepang. Organisasi ini didirikan
pada 29 April 1942 sebagai tempat untuk menghimpun rakyat Indonesia dalam menghadapi
kekuatan Barat. Gerakan Tiga A dipimpin oleh Mr. Samsudin. Arti Gerakan Tiga A adalah Jepang
Pelindung Asia, Jepang Pemimpin Asia, dan Jepang Cahaya Asia.

b. Majelis Ala Indonesia (MIAI) dan Majelis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi)
Majelis Ala Indonesia (MIAI) dan Majelis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi) adalah
organisasi-organisasi Islam yang didirikan oleh Jepang.

21
c. Pusat Tenaga Rakyat (Putera)
Pusat Tenaga Rakyat (Putera) didirikan pada 16 April 1943. Organisasi ini dipimpin oleh empat
serangkai, yaitu Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan K.H. Mas Mansyur.
Tujuan pembentukan organisasi ini adalah untuk mengajak tokoh-tokoh Indonesia membantu
Jepang dalam berperang dengan sekutu. Bantuan tersebut dapat berupa tenaga atau pemikiran.

d. Jawa Hokokai (Himpunan Kebaktian Jawa)


Jawa Hokokai (Himpunan Kebaktian Jawa) didirikan pada 8 Januari 1944. Organisasi ini dipimpin
langsung oleh pejabat-pejabat Jepang. Jawa Hokokai terdiri atas berbagai macam hokokai profesi,
antara lain Izi Hokokai (Himpunan Kebaktian Dokter), KJawa Hokokaiyoiku Hokokai (Himpunan
Kebaktian para Pendidik), Fujinkai (Organisasi Wanita), Keimin Bunka Syidosyo (Pusat Budaya), dan
Hokokai Perusahaan.

ORGANISASI MILITER BENTUKAN JEPANG

a. Seinendan (Barisan Pemuda),


Seinendan dibentuk pada tanggal 29April 1943. Anggotanya terdiri dari para pemuda yang
berusia antara 14-22 tahun. Mereka dididik militer agar dapat menjaga dan mempertahankan tanah
airnya dengan kekuatan sendiri. Akan tetapi tujuan yang sebenarnya ialah mempersiapkan pemuda
untuk dapat membantu Jepang dalam menghadapi tentara Sekutu dalam Perang Asia Timur Raya.
b. Keibodan (Barisan Pembantu Polisi),
Keibodan dibentuk pada tanggal 29 April 1943. Anggotanya terdiri atas para pemuda yang
berusia antara 26-35 tahun, dengan tugas seperti penjagaan lalu lintas, pengamanan desa dan lain-
lain. Barisan ini di Sumatra disebut Bogodan, sedangkan di Kalimantan dikenal dengan nama Borneo
Konan Hokokudan.
c. Heiho (Pembantu Prajurit Jepang),
Anggota Heiho ditempatkan dalam kesatuan tentara Jepang sehingga banyak dikerahkan ke
medan perang.
d. Fujinkai ( Barisan Wanita).
Fujinkai dibentuk pada bulan Agustus 1943. Anggotanya terdiri atas para wanita berusia 15
tahun ke atas. Mereka juga diberikan latihan-latihan dasar militer, dengan tugas untuk membantu
Jepang dalam perang.
e. Jibakutai ( Barisan Berani Mati).
Jibakutai dibentuk pada tanggal 8 Desember 1944. Barisan ini rupanya mendapatkan inspirasi
dari pilot Kamikaze yang sanggup mengorbankan nyawanya dengan jalan menumbukkan
pesawatnya kepada kapal perang musuh.
f. Pembela Tanah Air (PETA),
PETA dibentuk pada 3 Oktober 1943. Calon perwira PETA mendapatkan pelatihan di Bogor.
Tujuan didirikannya PETA adalah untuk mempertahankan wilayah masing-masing. Tokoh-Tokoh
Pergerakan Nasional.

22
Organisasi dan Gerakan di Masa Pendudukan Jepang
Organisasi/Gerakan Dibentuk Tokoh Tujuan

Gerakan Tiga A 29-Apr-42 Mr. Syamsudin Menggerakkan rakyat Indonesia untuk


mendukung Jepang melawan sekutu.
Semboyan Gerakan Tiga A:
- Nippon Cahaya Asia
- Nippon Pemimpin Asia
- Nippon Pelindung Asia
PUTERA (Pusat 9 Maret Empat serangkai Mengerahkan tenaga rakyat Indonesia
Tenaga Rakyat) 1943 (drs. Mohammad guna membantu Jepang berperang
Hatta, Ki Hajar melawan Sekutu.
Dewantara, Ir.
Sukarno, K.H. Mas
Mansyur
Jawa 8 Januari Orang-orang Menarik simpati rakyat dengan
Hokokai/Himpunan 1944 Jepang, Ir. Sukarno, memanfaatkan para tokoh Indonesia.
Kebaktian Jawa Hasyim Ashari Anggota :
- Fujinkai/ Barisan Wanita
- Keimin Bunka Syidoso/ Pusat
Kebudayaan
- Izi Hokokai/ Himpunan Kebaktian
Para Dokter
- Kyoiku Hokokai/ Himpunan
Kebaktian Para Pendidik
- Himpunan Kebaktian Perpustakaan
Cuo Sangi In/Badan 05-Sep-43 Ir. Sukarno - Mengajukan usul kepada
Pertimbangan Pusat pemerintah Jepang
- Menjawab pertanyaan pemerintah
Jepang mengenai masalah politik
- Memberi saran pemerintah Jepang
mengenai tindakan yang perlu
dilakukan
Masyumi K.H. Mas Mansyur, Untuk memikat golongan Islam
K.H. Hasyim Asyari
Heiho/Pembantu Memanfaatkan pemuda Indonesia
Prajurit menjadi prajurit jepang
PETA/Pembela 3 Oktober Gatot mangkupraja Memberi latihan militer pemuda
Tanah Air 1943 Indonesia untuk membantu tentara
Jepang menghadapi serangan Sekutu

23
PERLAWANAN DAERAH-DAERAH TERHADAP JEPANG
a. Perjuangan Melawan Jepang di Aceh
Perlawanan rakyat Aceh terjadi di Cot Plieng. Perlawanan ini dipimpin oleh Teuku Abdul Jalil. Ia
adalah seorang guru mengaji. Peristiwa ini berawal dari sikap tentara Jepang yang bertindak
sewenang-wenang. Rakyat diperas dan ditindas. Jepang berusaha membujuk Teuku Abdul Jalil untuk
berdamai. Namun, Teuku Abdul Jalil menolaknya. Akhirnya, pada 10 November 1942 Jepang
menyerang Cot Plieng.

b. Perjuangan Melawan Jepang di Sukamanah (Singaparna)


Perlawanan ini bermula dari paksaan Jepang melakukan Seikeirei. Yakni
penghormatan kepada kaisar Jepang. Penghormatan ini dilakukan dengan cara
menghadap ke arah timur laut (Tokyo) dan membungkukkan badan. Cara ini
dianggap oleh K.H. Zaenal Mustofa sebagai tindakan musyrik (menyekutukan
Tuhan). Tindakan ini melanggar ajaran agama Islam. Akibat penentangan itu,
Jepang mengirim pasukan untuk menggempur Sukamanah. Akhirnya
meletuslah pertempuran pada 25 Februari 1944 setelah salat Jumat. K.H.
Zaenal Mustofa berhasil ditangkap. Ia ditahan di Tasikmalaya, kemudian
dibawa ke Jakarta untuk diadili. Ia dihukum mati dan dimakamkan di Ancol. Pada 10 November 1974
makamnya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Tasikmalaya.

c. Perlawanan Tentara Pembela Tanah Air (Peta) di Blitar


Pada mulanya, pasukan Peta bertugas mengawasi romusha yang
membuat pertahanan di daerah Pantai Blitar Selatan. Mereka melihat
sendiri betapa berat pekerjaan romusha dan sengsara hidupnya.
Ditambah lagi keadaan masyarakat yang sangat menderita. Pada 14
Februari 1945, berkobarlah perlawanan Peta di Blitar. Perlawanan ini
dipimpin oleh Syodanco Supriyadi, Muradi, Suparyono, dan Bundanco
(komandan regu) Sunanto, Sudarmo, Halir Mangkudidjaya. Adapula
dr. Ismail sebagai sesepuhnya. Setelah membunuh orang-orang
Jepang di Blitar, mereka meninggalkan Blitar. Sebagian menuju lereng Gunung Kelud. Sebagian lagi
ke Blitar Selatan. Sayang, perlawanan mereka mengalami kegagalan.
Bulan Februari 1945 pasukan Sekutu berhasil merebut Pulau Iwo Lima di Jepang. Sejak saat itu
kekuatan tentara Jepang semakin lemah. Untuk menarik simpati rakyat Indonesia, Jepang
mengizinkan Indonesia untuk mengibarkan bendera Merah Putih di samping bendera Jepang. Lagu
kebangsaan Indonesia Raya boleh dikumandangkan setelah lagu Kebangsaan Jepang Kimigayo .

24
25
26