Anda di halaman 1dari 18

DAFTAR ISI

Pendahuluan

A. Latar
Belakang ..................................................................................
........ 2

B. Rumusan
Masalah ....................................................................................
. 2

Pembahasan

A. Pengertian Defisiensi
Serat ....................................................................... 3

B. Epidemiologi Defisiensi
Serat .................................................................. 3

C. Patologi Defisiensi
Serat ........................................................................... 5

D. Patofisiologi Defisiensi
Serat .................................................................... 6

E. Manifestasi Klinik Defisiensi


Serat .......................................................... 10

Penutup

A. Kesimpulan ...............................................................................
................. 13

B. Kritik dan
Saran ........................................................................................
. 13

1 | Defisiensi Serat
Daftar
Pustaka .........................................................................................
......... 14

2 | Defisiensi Serat
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Serat pangan sempat cukup lama diabaikan sebagai faktor


penting dalam gizi makanan. Hal ini disebabkan karena serat
pangan tidak menghasilkan energi. Selain itu, kekurangan serat
tidak menimbulkan gejala spesifik seperti halnya yang terjadi
pada kekurangan zatzat gizi tertentu. Serat pangan menjadi
populer setelah dipublikasi dalam penelitian Dennis Burkit dan
Hugh Trowell di Inggris pada tahun 1970-an yang menyatakan
diet kaya serat akan membantu melindungi tubuh dari berbagai
penyakit yang berkembang di negara-negara maju seperti
diabetes melitus, jantung koroner, penyakit divertikulosis,
obesitas dan kanker usus besar. Serat pangan adalah makanan
berbentuk karbohidrat kompleks yang banyak terdapat pada
dinding sel tanaman pangan. Serat pangan tidak dapat dicerna
dan diserap oleh saluran pencernaan manusia, tetapi memiliki
fungsi yang sangat penting bagi pemeliharaan kesehatan,
pencegahan penyakit dan sebagai komponen penting dalam
terapi gizi (Astawan & Wresdiyati, 2004).

Soekarto (2001) menyatakan bahwa ada dua jenis serat


makanan yang dibedakan berdasarkan karakteristik kelarutannya
dalam air panas, yaitu serat yang dapat larut (soluble dietary
fiber, SDF) dan serat yang tidak dapat larut (insoluble dietary
fiber, IDF). Serat makanan yang tidak larut (IDF) merupakan
komponen terbesar (sekitar 70%) penyusun serat makanan dan
sisanya (sekitar 30%) adalah komponen serat makanan yang
dapat larut (SDF).

B. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian defisiensi serat ?

3 | Defisiensi Serat
2. Bagaimana epidemiologi defisiensi serat ?

3. Apa saja patologi dari defisiensi serat ?

4. Bagaimana patofisiologi defisiensi serat ?

5. Bagaimana manifestasi klinik defisiensi serat ?

4 | Defisiensi Serat
PEMBAHASAN

A. Pengertian Defisiensi Serat

Defisiensi serat atau kekurangan serat adalah suatu


keadaan yang diakibatkan oleh kurangnya asupan zat gizi serat
dari makanan sehingga berdampak pada timbulnya masalah
kesehatan.

Istilah serat makanan (dietary fiber) harus dibedakan


dengan istilah serat kasar (crude fiber) yang biasa digunakan
dalm analisa proksimat bahan pangan. Serat kasar adalah
bagian dari pangan yang tidak dapat dihidrolisis oleh bahan-
bahan kimia yang di-gunakan untuk menentukan kadar serat
kasar yaitu asam sulfat (H2SO4 1.25%) dan natrium hidroksida
(NaOH 1.25%). Sedang serat makanan adalah bagian dari
bahan pangan yng tidak dapat dihidrolisis oleh enzim-enzim
pencernaan.

Definisi terbaru tentang serat makanan yang


disampaikan oleh the American Association of Cereal
Chemist (AACC, 2001) adalah merupakan bagian yang dapat
dimakan dari tanaman atau karbohidrat anaalog yang resisten
terhadap pencernaan dan absorpsi pada usus halus dengan
fermentasi lengkap atau partial pada usus besar. Serat makanan
tersebut meliputi pati, polisakharida, oligosakharida, lignin dan
bagian tanaman lainnya.

B. Epidemiologi Defisiensi Serat

Ketidakseimbangan konsumsi makanan disebabkan karena


kurangnya pengetahuan dan perilaku yang tidak tepat dalam
memilih makanan sehari-hari (Notoatmodjo, 2007). Misalnya
masalah gizi pada dewasa muda berpangkal pada kegemaran
mengkonsumsi makanan yang tidak lazim (faddisme) dan lupa

5 | Defisiensi Serat
makan. Kesibukan yang menyebabkan remaja dan dewasa muda
memilih makan diluar atau hanya menyantap kudapan. Remaja
dan dewasa muda belum sepenuhnya matang, baik secara fisik,
kognitif dan psikososial. Perilaku remaja dan dewasa muda yang
tidak perduli dalam hal ketidakseimbangan gizi seperti jenis
asupan makanan kesehariannya dapat mengakibatkan
bermacam gangguan fungsi tubuh antara lain konstipasi
(Arisman, 2004).

Berdasarkan The Food and Nutrition Board of The National


Academy of Sciences Research Council, kebutuhan serat untuk
dewasa muda putra adalah 38 g/hari sedangkan untuk dewasa
muda putri sebanyak 25 g/hari (Anderson dan Young, 2003). Hasil
riset puslitbang gizi Depkes RI (2001) dalam Astawan &
Wresdiyati (2004), menunjukkan rata-rata konsumsi serat pangan
penduduk Indonesia adalah 10,5 g/hari. Angka ini menunjukkan
bahwa penduduk Indonesia baru memenuhi kebutuhan seratnya
sekitar sepertiga dari kebutuhan ideal sebesar 30 g setiap hari.
Konsumsi serat tidak terkait dengan tempat penduduk tinggal (di
kota/desa), melainkan lebih pada masalah status ekonomi dan
pengetahuan. Faktor lain yang mempengaruhi adalah
ketersediaan makanan yang berserat serta pola dan kebiasaan
makan (Soerjodibroto, 2004).

Penelitian yang dilakukan oleh Soerjodibroto (2004), pada


remaja di Jakarta bahwa sebagian besar (50,6%) remaja
mengkonsumsi serat kurang dari 20 gram per hari. Rata-rata
asupan serat pada siswa laki-laki 11 7,34 gram per hari dan
pada siswa perempuan 10,2 6,62 gram per hari. Hasil
penelitian mengenai pengetahuan gizi tentang serat yang
dilakukan oleh Siagian (2004) pada remaja di SMU Bogor
menunjukkan bahwa ada hubungan antara tingkat pengetahuan
gizi dengan konsumsi serat pada remaja SMU Bogor. Penelitian

6 | Defisiensi Serat
tentang asupan serat yang dilakukan Krismamela pada tahun
2008 di Fakultas Kedokteran Universitas Lampung, diketahui
bahwa terdapat 142 responden (88,75%) yang mengkonsumsi
makanan berserat kurang dari angka kecukupan serat yang
dianjurkan oleh Departemen Kesehatan RI dan 18 responden
(11,25%) yang mengkonsumsi makanan berserat sesuai dengan
angka kecukupan serat yang dianjurkan oleh Departemen
Kesehatan RI, yaitu 25-38 gram per hari.

Fakultas Kedokteran Universitas Lampung merupakan salah


satu Fakultas Kedokteran yang terkenal bagus di provinsi
Lampung, jumlah mahasiswa pada angkatan 2008-2011 adalah
470 oang. Peneliti melakukan survei awal dengan cara
wawancara kepada mahasiswa angkatan 2008 2011 yang
berjumlah 22 orang. Mahasiswa tersebut tediri dari angkatan
2008 sebanyak 5 orang, angkatan 2009 sebanyak 4 orang,
angkatan 2010 sebanyak 9 orang dan angkatan 2011 sebanyak 4
0rang. Mahasiswa tersebut 11 orang tinggal di kos-kosan dan 11
orang tinggal dirumah dengan orang tua. Peneliti mengajukan
pertanyaan tentang jenis makanan berserat untuk mengetahui
secara kasar pengetahuan mahasiswa. Peneliti menanyakan
tentang kepada mahasiswa yang tinggal dikos-kossan dan yang
tingal dirumah, pertanyaan tersebut adalah apakah anda tahu
pengertian makanan berserat, apakah anda tahu manfaat dari
makanan berserat dan apakah anda tahu jenis-jenis makanan
berserat. Dari wawancara didapatkan bahwa sebagian besar
mahasiswa memiliki pengetahuan yang baik tentang jenis
makanan berserat. Selain itu peneliti menanyakan tentang
kebiasaan mengkonsumsi makanan berserat. Hasilnya
menunjukkan hanya sebagian kecil yang terbiasa mengkonsumsi
makanan berserat.

7 | Defisiensi Serat
C. Patologi Defisiensi Serat

Pada masa lalu, serat makanan hanya dianggap sebagai


sumber energi yang tidak tersedia (non-available energi source)
dan hanya dikenal mempunyai efek pencahar perut. Namun
berbagai penelitian telah melaporkan hubungan antara konsumsi
serat dan insiden timbulnya berbagai macam penyakit
diantaranya kanker usus besar, penyakit kadiovaskular dan
kegemukkan (obesitas).
Beberapa penelitian membuktikan bahwa rendahnya kadar
kholesterol dalam darah ada hubungannya dengan tingginya
kandungan serat dalam makanan. Secara fisiologis, serat
makanan yang larut (SDF) lebih efektif dalam mereduksi plasma
kholesterol yaitu low density lipoprotein (LDL), serta
meningkatkan kadar high density lipoprotein (HDL).
Berikut merupakan penyakit penyakit akibat defisiensi serat:

1. Sembelit
Sembelit yaitu sebuah keadaan dimana anda akan
mengalami kesulitan dalam melakukan buang air besar.
Sembelit bisa mengakibatkan rasa tak nyaman dibagian
lambung & perut anda, seolah perut anda terasa penuh.
Untuk mencegah terjadinya sembelit, maka harus
menerapkan pola hidup sehat terutama dengan
mengkonsumsi makanan yang berserat tinggi seperti biji-
bijian, sayur-sayuran, buah-buahan, olahraga secara teratur &
rajin minum air putih.
2. Kenaikan berat badan
Serat memiliki fungsi utama dalam mengikat lemak
sehingga mudah dicerna & dibuang dari tubuh. Dikala anda
mengalami kondisi kekurangan serat, maka dapat dipastikan ,
lemak dalam tubuh akan sulit keluar & mengendap maka
dapat mengalami kegemukan.

8 | Defisiensi Serat
Selain itu, serat juga memiliki sifat yang mudah
mengenyangkan, maka tak dapat terstimulasi untuk makan
berlebihan yang dapat menyebabkan kenaikan berat badan.
3. Kadar gula tidak stabil
Ternyata salah satu pemicu dari munculnya penyakit diabetes
adalah kekurangan serat. Selain itu, kekurangan asupan serat
akan menimbulkan dampak tak stabilnya gula darah dalam
tubuh yang artinya akan berpengaruh kepada kesehatan
tubuh secara umum.
4. Muncul gangguan pencernaan
Serat memiliki peran & fungsi penting dalam proses
pencernaan. Gejala-gejala pencernaan yang mungkin akan
timbul ketika kekurangan asupan serat yaitu wasir, diare,
radang usus, sakit perut, susah buang air besar, usus buntu,
radang lambung.
5. Resiko wasir mengancam
Selain faktor keturunan & terlampaui banyak duduk,
penyebab utama wasir yang lain idalah kurang serat. Wasir
adalah keadaan dikala pembuluh vena di sekitar anus
mengalami peradangan. Itulah yang menimbulkan rasa sakit
luar biasa saat buang air besar.

D. Patofisiologi Defisiensi Serat

1. Penyakit-penyakit di Kolon
Beberapa penyakit yang kebanyakan muncul dipengaruhi oleh
peningkatan kadar serat konsumsi keseharian, dinamakan
konstipasi, diare, diverticulitis dan kanker kolorektal (Mahan
and Stump, 2003). Selulosa diet yang cukup telah lama diakui
sebagai faktor dalam mencegah konstipasi. Baik serat-serat
yang larut dan tidak larut bertambah untuk meningkatkan
kepadatan feses sampai absorpsi air dan penambahan bahan
yang tidak tercerna. Gas yang dihasilkan selama fermentasi
serat terlarut memberikan kontribusi untuk menggerakan
feses melalui usus besar. Tanpa air yang cukup, selulosa

9 | Defisiensi Serat
cenderung menghasilkan feses yang kering. Oleh karena
itu,kombinasi selulosa dan pectin direkomendasikan sebagai
bagian terbesar dalam pembentukan feses dan memperlancar
feses karena efek bulk forming laxative (Mahan and Stump,
2003).
2. Penyakit Kardiovaskuler

Fraksi larut pada serat makanan, jika diberikan dalam jumlah


besar dapat mengurangi kolesterol darah. Bakteri mengurangi
serat larut untuk asam lemak rantai pendek yang muncul
untuk menghambat sintesis kolesterol dalam hati (Mahan and
Stump, 2003).

3. Diabetes
Serat larut air, terutama pektin dan gum, menimbulkan efek
hipoglikemik dengan menunda pengosongan lambung,
memperpendek waktu transit usus, dan mengurangi
penyerapan glukosa. Mereka juga dapat memperlambat
hidrolisis pati (Mahan and Stump, 2003).
4. Defekasi
Defekasi adalah proses pengeluaran kotoran atau pengeluaran
tinja dari rektum. Defekasi normalnya muncul 3 kali sehari
sampai 3 kali seminggu. Kurang dari 3 kali seminggu
diindikasikan konstipasi dan lebih dari 3 kali sehari
diindikasikan diare (Tresca, 2009). Kolon dalam keadaan
normal menyerap sebagian garam dan H2O. Natrium adalah
zat yang paling aktif diserap dan Clmengikuti secara pasif
penurunan gradien listrik serta H2O mengikuti secara osmotis.
Bakteri di kolon mensintesis sebagian vitamin yang dapat
diserap oleh kolon, tetapi dalam keadaan normal jumlahnya
tidak bermakna, kecuali pada kasus vitamin K (Sherwood,
2001). Melalui penyerapan garam dan H2O terbentuk massa
feses yang padat. Dari 500 ml bahan yang masuk ke kolon
setiap harinya, kolon dalam keadaan normal menyerap sekitar

10 | D e f i s i e n s i S e r a t
350 ml, meninggalkan 150 g feses untuk dikeluarkan dari
tubuh setiap hari. Bahan feses terdiri dari 100 g H2O dan 50 g
bahan padat yang terdiri dari selulosa, bilirubin, bakteri, dan
sejumlah kecil garam. Produkproduk sisa utama yang
diekskresikan di feses adalah bilirubin. Konstituen feses
lainnya adalah residu makanan yang tidak diserap dan bakteri-
bakteri yang pada dasarnya tidak pernah menjadi bagian dari
tubuh (Sherwood, 2001). 2.2.2.Proses Defekasi Pada sebagian
besar waktu, rektum tidak berisi feses. Sebagian hal ini akibat
dari kenyataan bahwa terdapat sfingter fungsional yang lemah
sekitar 20 cm dari anus pada perbatasan antara kolon sigmoid
dan rektum. Disini terdapat juga sebuah sudut tajam yang
menambah resistensi terhadap pengisian rektum (Guyton and
Hall, 2007). Bila pergerakan massa mendorong feses masuk ke
dalam rektum, segera timbul keinginan untuk defekasi,
termasuk refleks kontraksi rektum dan relaksasi sfingter anus
(Guyton and Hall, 2007).
Pendorongan massa feses yang terus-menerus melalui
anus dicegah oleh konstriksi tonik dari (1) sfingter ani
internus,penebalan otot polos sirkular sepanjang beberapa
sentimeter yang terletak tepat di sebelah dalam anus, dan (2)
sfingter ani eksternus, yang terdiri dari otot lurik volunter yang
mengelilingi sfingter internus dan meluas ke sebelah distal.
Sfingter eksternus diatur oleh serabut-serabut saraf dalam
nervus pudensus, yang merupakan bagian dari sistem saraf
somatis dan karena itu di bawah pengaruh volunter, dalam
keadaan sadar atau setidaknya bawah sadar, sfingter
eksternal biasanya terus-menerus mengalami konstriksi
kecuali bila ada impuls kesadaran yang menghambat konstriksi
(Guyton and Hall, 2007). Biasanya, defekasi ditimbulkan oleh
refleks defekasi. Satu dari refleksrefleks ini adalah refleks
intrinsik yang diperantarai oleh sistem saraf enterik setempat

11 | D e f i s i e n s i S e r a t
di dalam dinding rektum. Hal ini dapat dijelaskan sebagai
berikut: Bila feses memasuki rektum, distensi dinding rektum
menimbulkan sinyal-sinyal aferen yang menyebar melalui
pleksus mienterikus untuk menimbulkan gelombang peristaltik
di dalam kolon desenden, sigmoid, dan rektum, mendorong
feses ke arah anus. Sewaktu gelombang peristaltik mendekati
anus, sfingter ani internus direlaksasi oleh sinyal-sinyal
penghambat dari pleksus mienterikus. Jika sfingter ani
eksternus juga dalam keadaan sadar dan berelaksasi secara
volunter pada waktu yang bersamaan, terjadilah defekasi
(Guyton and Hall, 2007).
Untuk komposisi feses, normalnya feses terdiri atas tiga
perempat air dan seperempat bahan-bahan padat yang
tersusun atas 30 persen bakteri mati, 10 sampai 20 persen
lemak, 10 sampai 20 persen bahan inorganik, 2 sampai 3
persen protein,dan 30 persen serat-serat makanan yang tidak
dicerna dan unsur-unsur kering dari getah pencernaan, seperti
pigmen empedu dan sel-sel epitel yang terlepas (Guyton and
Hall, 2007).
5. Konstipasi
Konstipasi adalah frekuensi yang tidak teratur atau susah
dalam pengeluaran buang air besar/kotoran. Satu penilaian
objektif mendefinisikan konstipasi/sembelit sebagai suatu
keadaan di mana: (1)Buang air besar kurang dari tiga kali
dalam seminggu, sedangkan orang tersebut telah
mengkonsumsi serat cukup tinggi, (2) Lebih dari tiga hari
tanpa ada buang air besar, atau (3) Buang air besar setiap hari
tetapi kurang dari 35 gram (Mahan and Stump, 2003).
Penyebab-Penyebab Konstipasi Sistemik
Efek samping dari tindakan pengobatan
Abnormalitas metabolik dan endokrin,seperti
hipotiroid,uremia,dan hiperkalsemia
Kurang beraktifitas/olahraga

12 | D e f i s i e n s i S e r a t
Mengabaikan atau menahan keinginan/dorongan buang air
besar
Penyakit vaskular pada usus
Penyakit neuromuskular sistemik sehingga terjadi defisiensi
otot volunter
Kurang mengkonsumsi atau diet rendah serat
Hamil

Penyebab-Penyebab Konstipasi (lanjutan)

Gastrointestinal Penyakit-penyakit yang ada di saluran


gastrointestinal atas
Celiac sprue
Tukak duodenal (duodenal ulcer)
Kanker lambung (gastric cancer)
Cystic fibrosis Penyakit-penyakit yang ada di usus besar:
Kegagalan proses pendorongan di sepanjang usus besar
(colon inertia)
Kegagalan proses perlintasan sampai struktur anorektal
(outlet obstruction) Irritable bowel syndrome Fisura anal
atau Hemoroid Penyalahgunaan laxative/obat pencahar.
Sumber: Food,Nutrition and Diet Therapy (W.B.Saunders,
2003).
Patofisiologi Konstipasi
Ketika serat cukup dikonsumsi, kotoran/feses akan menjadi
besar dan lunak karena serat-serat tumbuhan dapat menarik
air, kemudian akan menstimulasi otot dan pencernaan dan
akhirnya tekanan yang digunakan untuk pengeluaran feses
menjadi berkurang (Wardlaw, Hampl, and DiSilvestro, 2004).
Ketika serat yang dikonsumsi sedikit, kotoran akan menjadi
kecil dan keras. Konstipasi akan timbul, dimana dalam proses
defekasi terjadi tekanan yang berlebihan dalam usus besar.
Tekanan tinggi ini dapat memaksa bagian dari dinding usus
besar (kolon) keluar dari sekitar otot, membentuk kantong
kecil yang disebut divertikula. Hemoroid juga bisa sebagai
akibat dari tekanan yang berlebihan saat defekasi (Wardlaw,
Hampl, and DiSilvestro, 2004).

13 | D e f i s i e n s i S e r a t
Hampir 50% dari pasien dengan penyakit divertikular atau
anorektal, ketika ditanya, menyangkal mengalami
konstipasi/sembelit. Namun, hampir semua pasien ini memiliki
gejala ketegangan atau kejarangan defekasi (Basson, 2010).
Hemoroid adalah dilatasi varises pleksus vena submukosa
anus dan perianus. Dilatasi ini sering terjadi setelah usia 50
tahun yang berkaitan dengan peningkatan tekanan vena di
dalam pleksus hemoroidalis (Kumar, Cotran, and Robbin,
2007). Faktor resiko hemoroid antara lain faktor mengedan
pada buang air besar yang sulit, pola buang air besar yang
salah, peningkatan tekanan intra abdomen karena tumor,
kehamilan, usia tua, konstipasi kronik, diare kronik atau akut
berlebihan, hubungan seks perianal, kurang minum air, kurang
makanan berserat, kurang olahraga dan imobilisasi
(Simadibrata, 2006)

E. Manifestasi Defisiensi Serat

Asupan serat yang rendah menyebabkan beberapa


gangguan kesehatan seperti konstipasi, sembelit, dan pada
akhirnya berdampak pada penyakit yang lainya. Akibat
kekurangan asupan serat sangat terlihat pada gangguan
pencernaan. Salah satu penyakit akibat kekurangan serat yaitu
konstipasi. Akibat konstipasi ini dapat menimbulkan beberapa
keluhan seperti berikut :
1. Kesulitan memulai atau menyelesaikan buang air besar.
2. Mengejan keras saat buang air besar.
3. Massa feses yang keras dan sulit keluar.
4. Perasaan tidak tuntas saat buang air besar .
5. Sakit pada daerah rektum saat buang air besar.
6. Adanya pembesaran feses cair pada pakaian dalam.
7. Menggunakan bantuan jari- jari untuk mengeluarkan feses.

14 | D e f i s i e n s i S e r a t
8. Menggunakan obat-obat pencahar untuk bisa buang air besar
1

Kekurangan serat tak larut yang mampu berikatan dengan


air dan merangsang terjadinya gerak peristaltic dapat
menyebabkan feses tertahan di dalam usus dan terus
meningkatkan absorpsi air pada feses. Akibatnya, feses menjadi
keras dan susah untuk dikeluarkan. keadaan yang berlanjut akan
menyebabkan terjadinya kanker kolon.

Reabsorpsi asam empedu diperlambat dengan adanya


serat larut sehingga meningkatkan kehilangan kolesterol melalui
feses dan mengurangi kadar kolesterol darah( Joan Webster-
Gandy ,2014). Keadaan defisiensi serat larut dapat menyebabkan
tingginya kolesterol dan meningkatkan gula darah dalam tubuh.
Bagi penderita diabetes keadaan ini sangat tidak dianjurkan,
karena akan memperparah keadaan penderita. Kadar gula yang
semakin tinggi kemungkinan berpengaruh pada lamanya
penyembuhan luka penderita diabetes dan kerja ginjal yang
semakin berat.

Dalam sebuah penelitian (Handjani, dkk., 2009) dikatakan


bahwa kekurangan serat dapat meningkatkan kematian akibat
penyakit degeneratif seperti diabetes mellitus, jantung koroner,
stroke dan lain-lain. Terjadinya serangan jantung koroner
dikarenakan kolesterol tubuh yang meningkat dan menyumbat
pembuluh darah sehingga menyebabkan jantung mengalami
kontraks secara tiba-tiba dan berujug pada kematian. Keadaan
yang sama juga dapat menyebabkan terjadinya stroke.
Meningkatnya kadar kolesterol dikarenakan rendahnya serat
yang mampu membawa kolesterol keluar bersama feses. Sebuah
penelitian menyebutkan bahwa serat makanan yang larut (SDF)

1 http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/31596/4/Chapter%20II.pd

15 | D e f i s i e n s i S e r a t
lebih efektif dalam mereduksi plasma kholesterol yaitu low
density lipoprotein (LDL), serta meningkatkan kadar high density
lipoprotein (HDL). Makanan dengan kandungan serat kasar yang
tinggi juga dilaporkan dapat mengurangi bobot badan (Bell, et
al., 1990).

16 | D e f i s i e n s i S e r a t
PENUTUPAN

A. Kesimpulan

Defisiensi serat atau kekurangan serat adalah suatu


keadaan yang diakibatkan oleh kurangnya asupan zat gizi serat
dari makanan sehingga berdampak pada timbulnya masalah
kesehatan. Salah satu penyebab ketidakseimbangan konsumsi
makanan adalah karena kurangnya pengetahuan dan perilaku
yang tidak tepat dalam memilih makanan sehari-hari. Misalnya
masalah gizi pada dewasa muda berpangkal pada kegemaran
mengkonsumsi makanan yang tidak lazim (faddisme) dan lupa
makan. Kesibukan yang menyebabkan remaja dan dewasa muda
memilih makan diluar atau hanya menyantap kudapan. Sehingga
kebutuhan tubuh terhadap zat gizi tidak bisa terpenuhi secra
maksimal, sehingga akan menyebabkan defisiensi zat gizi
tertentu salah satunya serat. Defisiensi serat dapat
menyebabkan penyakit-penyakit pada tubuh, diantaranya
sembelit, kenaikan berat badan, kadar gula tidak stabil, muncul gangguan
pencernaan, resiko wasir mengancam dan masih banyak lagi.

B. Kritik dan Saran

Penulis menyadari dalam pembuatan makalah ini masih banyak kekurangan.


Kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan, demi kebaikan dari
makalah ini. Penulis berharap makalah ini dapat digunakan pembaca dapat
memahami dari pada defisiensi serat dan penyakit- penyakit yang ditimbulkannya.

17 | D e f i s i e n s i S e r a t
DAFTAR PUSTAKA

Arisman.2004. Gizi Dalam Daur Kehidupan. Buku Ajar Ilmu


Gizi.Jakarta: Kedokteran EGC.
Handajani, Adianti, Betty R., Herti, M. 2009. Faktor-Faktor yang
Berhubungan dengan Pola Kematian pada Penyakit
Degeneratif di Indonesia. Pusat Penelitian dan
Pengembangan Sistem dan Kebijakan Kesehatan, Badan
Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Jl. Indrapura 17
Surabaya.
Kartasapoetro, G; Marsetyo. 2003. Ilmu Gizi: Korelasi Gizi,
Kesehatan, dan Produktivitas Kerja. Cetakan IV. Jakarta.:
Rineka Cipta.
Khomsan, Ali. 2004. Peranan Pangan dan Gizi untuk Kualitas
Hidup Manusia. Jakarta.:Grasindo.
Mahan, Stump. 2003. Patofisiologi Kesehatan. Jakarta : Penerbit
Gramedia Pustaka Utama.

Sediaoetama, Achmad Jaeni. 2000. Ilmu Gizi untuk Mahasiswa


dan Profesi. Cetakan IV. Jakarta Timur: Dian Rakyat.

Winarno, F.G. 1986. Air untuk Industri Pangan. Gramedia Pustaka


Utama. Jakarta
Winarno, F.G. 2002. Kimia Pangan dan Gizi. Cetakan IX. . Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.
Wirakusumah, Emma S. 2004. Buah dan Sayur untuk Terapi.
Cetakan X. Jakarta: Penebar Swadaya.
Wresdati, Astawan. 2004. Patofisiologi Penyakit. Yogyakarta : Tiga
Putra.

18 | D e f i s i e n s i S e r a t