Anda di halaman 1dari 25

BAB II TINJAUAN

PUSTAKA

II.1 Dasar Teori

Pengertian Destilasi
Distilasi atau penyulingan adalah suatu
metode pemisahan bahan kimia berdasarkan
perbedaan kecepatan atau kemudahan menguap
(volatilitas) bahan.

Dalam penyulingan, campuran zat dididihkan


sehingga menguap, dan uap ini kemudian
didinginkan kembali ke dalam bentuk cairan. Zat
yang memiliki titik didih lebih rendah akan menguap
lebih dulu.

Metode ini termasuk sebagai unit operasi


kimia jenis perpindahan massa. Penerapan proses
ini didasarkan pada teori bahwa pada suatu larutan,
masing-masing komponen akan menguap pada titik
didihnya. Model ideal distilasi didasarkan pada
Hukum Raoult dan Hukum Dalton.

Destilasi pada proses pemurnian untuk


senyawa cair yaitu proses yang didahului dengan
penguapan senyawa cair kemudian mengembunkan
uap yang terbentuk yang akan ditampung dalam
wadah yang terpisah untuk mendapatkan destilat.
Destilasi pada senyawa padat yaitu proses yang
didahului dengan penguapan senyawa cair dengan
memanaskannya, kemudian mengemunkan uap
yang terbentuk yang akan ditampung dalam wadah
yang terpisah untuk mendapatkan distilat (senyawa
cair yang murni). Dasar pemisahan dengan destilasi
adalah perbedaan titik didih dua cairan atau lebih.

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


II - 2

BAB II TINJAUAN
PUSTAKA
Jika campuran dipanaskan maka komponen yang
titik didihnya lebih rendah akan menguap lebih dulu.
Dengan mengatur suhu secara cermat, kita dapat
menguapkan dan kemudian mengembunkan
komponen demi komponen secara bertahap.

Untuk memurnikan senyawa cair dimana zat


pencampurnya berupa senyawa yang titik didihnya
rendah dan tidak berbeda jauh dengan titik didih
senyawa yang akan dimurnikan dilakukan proses
destilasi bertingkat. Senyawa organik lain yang akan
dimurnikan dimasukkan kedalam labu destilasi yang
dilengkapi dengan kolom fraksinasi. Proses yang
terjadi pada destilasi adalah perubahan fase cair
menjadi fase uap atau fase gas dengan pendidihan,
kemudian gas-gas tersebut mengembun. Tahap
terpenting pada destilasi ialah pendidihan dan
kondensasi pengembunan, tetapi destilasi bukan
merupakan dua urutan penguapan dan kondensasi.
Destilasi biasa digunakan untuk memisahkan dua
zat atau lebih dan mempunyai perbedaan titik didih
cukup besar. Contoh destilasi adalah pembuatan air
minum dari air laut.

Sejarah Destilasi

Destilasi pertama kali ditemukan oleh


kimiawan Yunani sekitar abad pertama masehi yang
akhirnya perkembangannya dipicu terutama oleh
tingginya permintaan akan spritus. Hypathia dari
Alexandria dipercaya telah menemukan rangkaian
alat untuk Destilasi dan Zosimus dari Alexandria-lah

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


II - 3

BAB II TINJAUAN
PUSTAKA
yang telah berhasil menggambarkan secara akurat
tentang proses Destilasi pada sekitar abad ke-4
Bentuk modern Destilasi pertama kali ditemukan
oleh ahli-ahli kimia Islam pada masa kekhalifahan
Abbasiah, terutama oleh Al-Razi pada pemisahan
alkohol menjadi senyawa yang relatif murni melalui
alat alembik, bahkan desain ini menjadi semacam
inspirasi yang memungkinkan rancangan Destilasi
skala mikro, The Hickman Stillhead dapat terwujud.
Tulisan oleh Jabir Ibnu Hayyan (721-815) yang lebih
dikenal dengan Ibnu Jabir menyebutkan tentang uap
anggur yang dapat terbakar, ia juga telah
menemukan banyak peralatan dan proses kimia
yang bahkan masih banyak dipakai sampai saat
kini. Kemudian teknik penyulingan diuraikan dengan
jelas oleh Al-Kindi (801-873).

Prinsip Destilasi

Prinsip dasar dari Destilasi ini adalah zat yang


memiliki titik didih lebih rendah akan lebih mudah
menguap ke atas, sedangkan titik didih lebih tinggi
akan lebih mudah menjadi cair turun ke bawah
dalam keadaan tekanan dan suhu yang sama. maka
fase uap yang terbentuk akan mengandung
komponen yang lebih menguap dalam jumlah yang
relatif lebih banyak dibandingkan dengan fase cair.

Jadi ada perbedaan komposisi antara fase cair


dan fase uap, dan hal ini merupakan syarat utama
supaya pemisahan dengan Destilasi dapat
dilakukan. Kalau komposisi fase uap sama dengan
komposisi fase cair , maka pemisahan dengan jalan
Destilasi tidak dapat dilakukan.

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


II - 4

BAB II TINJAUAN
PUSTAKA
Aplikasi Prinsip Destilasi

Sebagai contoh, proses penyulingan darii


larutan garam yang dilakukan di laboratorium,
sebagaimana ditunjukkan pada gambar 4.60.

Pada gambar tersebut, terlihat, larutan garam

(NaCl) dimasukkan pada labu destilat yang sudah


dirangkai dengan alat destilasi lainnya, yang dimana
pada bagian atas dari labu tersebut dipasang alat
pengukur suhu atau thermometer.

Larutan garam (NaCl) di dalam labu


dipanaskan dengan menggunakan pembakar
Bunsen. Setelah beberapa saat, larutan garam di
dalam labu yang dipanasi akan mendidih dan
sebagian akan menguap. Uap yang dihasilkan dari
pemanasan larutan garam (NaCl) dilewatkan
kondensor, dan akan terkondensasi yang ditampung
pada erlemeyer. Cairan pada erlemeyer merupakan
destilat sebagai air murni. Harus dipastikan air

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


II - 5

BAB II TINJAUAN
PUSTAKA
pendingin pada kondensor dialirkan terlebih dahulu
sebelum proses kondensasi. Dengan tujuan untuk
menghindari alat pecah akibat panas dari uap yang
mengalir pada kondensor.

Pada operasi Destilasi, terjadinya pemisahan


didasarkan pada gejala bahwa bila campuran cair
ada dalam keadaan setimbang dengan
uapnya,komposisi uap dan cairan berbeda. Uap
akan mengandung lebih banyak komponen yang
lebih mudah menguap, sedangkan cairan akan
mengandung lebih sedikit komponen yang mudah
menguap. Bila uap dipisahkan dari cairan, maka uap
tersebut dikondensasikan.

Selanjutnya akan didapatkan cairan yang


berbeda dari cairan yang pertama, dengan lebih
banyak komponen yang mudah menguap
dibandingkan dengan cairan yang tidak teruapkan.
Bila kemudian cairan dari kondensasi uap tersebut
diuapkan lagi sebagian,akan didapatkan uap dengan
kadar komponen yang lebih mudah menguap lebih
tinggi.

Untuk menunjukkan lebih jelas uraian


tersebut, berikut digambarkan secara skematis:

1. Keadaan Awal
Mula-mula, pada cairan terdapat campuran A dan B,
dimana karakteristik dari komponen-komponen
tersebut adalah komponen A lebih mudah menguap
(volatil) dibanding komponen B.Komposisi dari
kedua komponen tersebut dinyatakan dengan fraksi
mol.Untuk fase cair komponen A dinyatakan dengan
xA, sedangkan komponen B dinyatakan dengan Xb.

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


II - 6

BAB II TINJAUAN
PUSTAKA
2. Campuran diuapkan sebagian, uap dan cairannya
dibiarkan dalam keadaan setimbang.

3. Uap dipisahkan dari cairannya dan dikondensasi;

Sehingga akan didapat dua cairan, cairan I dan


cairan II. Cairan I mengandung lebih sedikit
komponen A (lebih mudah menguap) dibandingkan
cairan II.

Metode ini merupakan termasuk unit operasi kimia


jenis perpindahan massa. Penerapan proses ini
didasarkan pada teori bahwa pada suatu larutan,
masing-masing komponen akan menguap pada titik
didihnya. Model ideal Destilasi didasarkan pada
Hukum Raoult dan Hukum Dalton.

Sebagai contah pada industry antara lain ,


Proses Destilasi dalam kilang minyak bumi
merupakan proses pengolahan secara fisika yang
primer yang mengawali semua proses-proses yang
diperlukan untuk memproduksi BBM dan Non-BBM.
Proses Destilasi ini dapat menggunakan satu kolom
atau lebih menara Destilasi, misalnya residu dari
menara Destilasi dialirkan ke menara Destilasi
hampa atau ke menara Destilasi bertekanan.

Umumnya proses Destilasi dalam skala


industri dilakukan dalam menara, oleh karena itu
unit proses dari Destilasi ini sering disebut sebagai
menara Destilasi (MD). MD biasanya berukuran 2-5
meter dalam diameter dan tinggi berkisar antara 6-
15 meter. Masukan dari MD biasanya berupa cair
jenuh (cairan yang dengan berkurang tekanan
sedikit saja sudah akan terbentuk uap) dan memiliki

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


II - 7

BAB II TINJAUAN
PUSTAKA
dua arus keluaran, arus yang diatas adalah arus
yang lebih volatil (lebih ringan/mudah menguap)
dan arus bawah yang terdiri dari komponen berat.

Menara Destilasi terbagi dalam 2 jenis


kategori besar, yaitu:

1. Menara Destilasi tipe Stagewise,

Menara destilasi ini dari banyak plate yang


memungkinkan kesetimbangan terbagi-bagi dalam
setiap platenya, dan

2. Menara Destilasi tipe Continous

Menara destilasi ini terdiri dari packing dan


kesetimbangan cair-gasnya terjadi di sepanjang
kolom menara.

Dalam hal ini adalah destilasi fraksinasi. Mula-


mula minyak mentah dipanaskan dalam aliran pipa
dalam furnace (tanur) sampai dengan suhu
370C. Minyak mentah yang sudah dipanaskan
tersebut kemudian masuk kedalam kolom fraksinasi
pada bagian flash chamber (biasanya berada pada
sepertiga bagian bawah kolom fraksinasi). Untuk
menjaga suhu dan tekanan dalam kolom maka
dibantu pemanasan dengan steam (uap air panas
dan bertekanan tinggi).

Minyak mentah yang menguap pada proses


destilasi ini naik ke bagian atas kolom dan
selanjutnya terkondensasi pada suhu yang berbeda-
beda. Komponen yang titik didihnya lebih tinggi
akan tetap berupa cairan dan turun ke bawah,
sedangkan yang titik didihnya lebih rendah akan

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


II - 8

BAB II TINJAUAN
PUSTAKA
menguap dan naik ke bagian atas melalui sungkup-
sungkup yang disebut sungkup gelembung. Makin
ke atas, suhu yang terdapat dalam kolom fraksinasi
tersebut makin rendah, sehingga setiap kali
komponen dengan titik didih lebih tinggi akan
terpisah, sedangkan komponen yang titik didihnya
lebih rendah naik ke bagian yang lebih atas lagi.

Demikian selanjutnya sehingga komponen


yang mencapai puncak adalah komponen yang
pada suhu kamar berupa gas. Komponen yang
berupa gas ini disebut gas petroleum, kemudian
dicairkan dan disebut LPG (Liquified Petroleum Gas).

Fraksi minyak mentah yang tidak menguap menjadi


residu. Residu minyak bumi meliputi parafin, lilin,
dan aspal. Residu-residu ini memiliki rantai karbon
sejumlah lebih dari 20.

Fraksi minyak bumi yang dihasilkan


berdasarkan rentang titik didihnya antara lain
sebagai berikut :

1. Gas
Rentang rantai karbon : C1 sampai C5
Trayek didih : 0 sampai 50C

2. Gasolin (Bensin)
Rentang rantai karbon : C6 sampai C11
Trayek didih : 50 sampai 85C

3. Kerosin (Minyak Tanah)


Rentang rantai karbon : C12 sampai C20
Trayek didih : 85 sampai 105C

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


II - 9

BAB II TINJAUAN
PUSTAKA
4. Solar
Rentang rantai karbon : C21 sampai C30
Trayek didih : 105 sampai 135C

5. Minyak Berat
Rentang ranai karbon : C31 sampai C40

Trayek didih : 135 sampai 300C

6. Residu
Rentang rantai karbon : di atas C40
Trayek didih : di atas 300C

Fraksi-fraksi minyak bumi dari proses destilasi


bertingkat belum memiliki kualitas yang sesuai
dengan kebutuhan masyarakat, sehingga perlu
pengolahan lebih lanjut yang meliputi proses
cracking, reforming, polimerisasi, treating, dan
blending.

Macam-macam Destilasi

1. Destilasi berdasarkan prosesnya terbagi menjadi


dua, yaitu :

a. Destilasi kontinyu

b. Destilasi batch

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


II - 10

BAB II TINJAUAN
PUSTAKA
2. Berdasarkan basis tekanan operasinya terbagi
menjadi tiga, yaitu :

a. Destilasi atmosferis

b. Destilasi vakum

c. Destilasi tekanan

3. Berdasarkan komponen penyusunnya terbagi


menjadi dua, yaitu :

a. Destilasi system biner

b. Destilasi system multi komponen

4. Berdasarkan system operasinya terbagi menjadi


dua, yaitu :

a. Single-stage Distillation

b. Multi stage Distillation

Selain pembagian macam destilasi, dalam


referensi lain menyebutkan macam macam
destilasi, yaitu :

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


II - 11

BAB II TINJAUAN
PUSTAKA

1. Destilasi sederhana

Biasanya destilasi sederhana digunakan


untuk memisahkan zat cair yang titik didih nya
rendah, atau memisahkan zat cair dengan zat padat
atau miniyak. Proses ini dilakukan dengan
mengalirkan uap zat cair tersebut melalui kondensor
lalu hasilnya ditampung dalam suatu wadah, namun
hasilnya tidak benar-benar murni atau bias
dikatakan tidak murni karena hanya bersifat
memisahkan zat cair yang titik didih rendah atau zat
cair dengan zat padat atau minyak.

2. Destilasi bertingkat (fraksionasi)

Proses ini digunakan untuk komponen yang


memiliki titik didih yang berdekatan.Pada dasarnya
sama dengan destilasi sederhana, hanya saja
memiliki kondensor yang lebih banya sehingga
mampu memisahkan dua komponen yang memliki
perbedaan titik didih yang bertekanan. Pada proses
ini akan didapatkan substan kimia yang lebih murni,
kerena melewati kondensor yang banyak.

Fungsi distilasi fraksionasi adalah


memisahkan komponen-komponen cair, dua atau
lebih, dari suatu larutan berdasarkan perbedaan
titik didihnya. Distilasi ini juga dapat digunakan
untuk campuran dengan perbedaan titik didih
kurang dari 20 C dan bekerja pada tekanan
atmosfer atau dengan tekanan rendah. Aplikasi dari
distilasi jenis ini digunakan pada industri minyak
mentah, untuk memisahkan komponen-komponen
dalam minyak mentah

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


II - 12

BAB II TINJAUAN
PUSTAKA
Perbedaan distilasi fraksionasi dan distilasi
sederhana adalah adanya kolom fraksionasi. Di
kolom ini terjadi pemanasan secara bertahap
dengan suhu yang berbeda-beda pada setiap
platnya. Pemanasan yang berbeda-beda ini
bertujuan untuk pemurnian distilat yang lebih dari
plat-plat di bawahnya. Semakin ke atas, semakin
tidak volatil cairannya.

3. Destilasi Azeotrop

Azeotrop adalah campuran dari dua atau


lebih komponen yang memiliki titik didih yang
konstan. Azeotrop dapat menjadi gangguan yang
menyebabkan hasil distilasi menjadi tidak maksimal.
Komposisi dari azeotrope tetap konstan dalam
pemberian atau penambahan tekanan. Akan tetapi
ketika tekanan total berubah, kedua titik didih dan
komposisi dari azeotrop berubah. Sebagai
akibatnya, azeotrop bukanlah komponen tetap,
yang komposisinya harus selalu konstan dalam
interval suhu dan tekanan, tetapi lebih ke campuran
yang dihasilkan dari saling mempengaruhi dalam
kekuatan intramolekuler dalam larutan

Azeotrop dapat didistilasi dengan


menggunakan tambahan pelarut tertentu, misalnya
penambahan benzena atau toluena untuk
memisahkan air. Air dan pelarut akan ditangkap
oleh penangkap Dean-Stark. Air akan tetap tinggal
di dasar penangkap dan pelarut akan kembali ke
campuran dan memisahkan air lagi. Campuran
azeotrop merupakan penyimpangan dari hukum
Raoult.

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


II - 13

BAB II TINJAUAN
PUSTAKA
Digunakan dalam memisahkan campuran
azeotrop (campuran campuran dua atau lebih
komponen yang sulit di pisahkan), biasanya dalam
prosesnya digunakan senyawa lain yang dapat
memecah ikatan azeotrop tsb, atau dengan
menggunakan tekanan tinggi.

4. Destilasi Vakum (Destilasi Tekanan Rendah)


Destilasi vakum biasanya digunakan jika
senyawa yang ingin didistilasi tidak stabil, dengan
pengertian dapat terdekomposisi sebelum atau
mendekati titik didihnya atau campuran yang
memiliki titik didih di atas 150 C. Metode distilasi
ini tidak dapat digunakan pada pelarut dengan titik
didih yang rendah jika kondensornya menggunakan
air dingin, karena komponen yang menguap tidak
dapat dikondensasi oleh air. Untuk mengurangi
tekanan digunakan pompa vakum atau aspirator.
Aspirator berfungsi sebagai penurun tekanan pada
sistem distilasi ini.

Destilasi ini digunakan untuk zat yang tak


tahan suhu tinggi atau bisa rusak pada pemansan
yang tinggi. Sehingga dengan menurunan tekanan
maka titik didih juga akan menurun, maka destilasi
yang tadinya harus dilakukan pada suhu tinggi tetap
dapat dilakukan pada suhu rendah dengan
menurunkan tekanan.

5. Refluks / Destrusi

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


II - 14

BAB II TINJAUAN
PUSTAKA
Refluks/destruksi ini bisa dimasukkan dalam
macam macam destilasi walau pada prinsipnya
agak berkelainan. Refluks dilakukan untuk
mempercepat reaksi dengan jalan pemanasan
tetapi tidak akan mengurangi jumlah zat yang ada.
Dimana pada umumnya reaksi- reaksi senyawa
organik adalah lambat maka campuran reaksi
perlu dipanaskan tetapi biasanya pemanasan akan
menyebabkan penguapan baik pereaksi maupun
hasil reaksi. Karena itu agar campuran tersebut
reaksinya dapat cepat, dengan jalan pemanasan
tetap jumlahnya tetap reaksinya dilakukan secara
refluks.

6. Destilasi Kering

Prinsipnya memanaskan material padat untuk


mendapatkan fasa uap dan cairnya. Contohnya
untuk mengambil cairan bahan bakar dari kayu atau
batu bata.

7. Destilasi Uap

Distilasi uap digunakan pada campuran


senyawa-senyawa yang memiliki titik didih

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


II - 15

BAB II TINJAUAN
PUSTAKA
mencapai 200 C atau lebih. Distilasi uap dapat
menguapkan senyawa-senyawa ini dengan suhu
mendekati 100 C dalam tekanan atmosfer dengan
menggunakan uap atau air mendidih. Sifat yang
fundamental dari distilasi uap adalah dapat
mendistilasi campuran senyawa di bawah titik didih
dari masing-masing senyawa campurannya. Selain
itu distilasi uap dapat digunakan untuk campuran
yang tidak larut dalam air di semua temperatur, tapi
dapat didistilasi dengan air. Aplikasi dari distilasi
uap adalah untuk mengekstrak beberapa produk
alam seperti minyak eucalyptus dari eucalyptus,
minyak sitrus dari lemon atau jeruk, dan untuk
ekstraksi minyak parfum dari tumbuhan.

Campuran dipanaskan melalui uap air yang


dialirkan ke dalam campuran dan mungkin
ditambah juga dengan pemanasan. Uap dari
campuran akan naik ke atas menuju ke kondensor
dan akhirnya masuk ke labu distilat.

Efektivitas Distilasi
Secara teori, hasil distilasi dapat mencapai
100% dengan cara menurunkan tekanan hingga
1/10 tekanan atmosfer. Dapat pula dengan
menggunakan distilasi azeotrop yang menggunakan
penambahan pelarut organik dan dua distilasi
tambahan, dan dengan menggunakan penggunaan
cornmeal yang dapat menyerap air baik dalam
bentuk cair atau uap pada kolom terakhir. Namun,
secara praktek tidak ada distilasi yang mencapai
100%.

Destilasi Skala Industri


Umumnya proses distilasi dalam skala
industri dilakukan dalam menara, oleh karena itu

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


II - 16

BAB II TINJAUAN
PUSTAKA
unit proses dari distilasi ini sering disebut sebagai
menara distilasi (MD). Menara distilasi biasanya
berukuran 2-5 meter dalam diameter dan tinggi
berkisar antara 6-15 meter. Masukan dari menara
distilasi biasanya berupa cair jenuh, yaitu cairan
yang dengan berkurang tekanan sedikit saja sudah
akan terbentuk uap dan memiliki dua arus keluaran,
arus yang diatas adalah arus yang lebih volatil
(mudah menguap) dan arus bawah yang terdiri dari
komponen berat. Menara distilasi terbagi dalam 2
jenis kategori besar :

1. Menara Distilasi tipe Stagewise, menara ini


terdiri dari banyak piringan yang memungkinkan
kesetimbangan terbagi-bagi dalam setiap
piringannya.

2. Menara Distilasi tipe Continous, yang terdiri


dari pengemasan dan kesetimbangan cair-gasnya
terjadi di sepanjangkolom menara.

Destilasi Sederhana

Pembagian destilasi telah dibahas secara


ringkas pada halaman-halaman sebelumnya. Namun
dalam makalah ini akan dibahas lebih spesifik
mengenai Destilasi Sederhana. Destilasi sederhana
atau destilasi biasa adalah teknik pemisahan kimia
untuk memisahkan dua atau lebih komponen yang
memiliki perbedaan titik didih yang jauh. Suatu
campuran dapat dipisahkan dengan destilasi biasa
ini untuk memperoleh senyawa murninya. Senyawa
senyawa yang terdapat dalam campuran akan

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


II - 17

BAB II TINJAUAN
PUSTAKA
menguap pada saat mencapai titik didih masing
masing.

Gambar 1. Alat Destilasi Sederhana

Gambar di atas merupakan alat destilasi atau


yang disebut destilator. Yang terdiri dari
thermometer, labu didih, steel head, pemanas,
kondensor, dan labu penampung destilat.
Thermometer Biasanya digunakan untuk mengukur
suhu uap zat cair yang didestilasi selama proses
destilasi berlangsung. Seringnya thermometer yang
digunakan harus memenuhi syarat:
a. Berskala suhu tinggi yang diatas titik didih zat
cair yang akan didestilasi.
b. Ditempatkan pada labu destilasi atau steel head
dengan ujung atas reservoir HE sejajar dengan pipa
penyalur uap ke kondensor. Labu didih berfungsi

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


II - 18

BAB II TINJAUAN
PUSTAKA
sebagai tempat suatu campuran zat cair yang akan
didestilasi .

Steel head berfungsi sebagai penyalur uap


atau gas yang akan masuk ke alat pendingin
( kondensor ) dan biasanya labu destilasi dengan
leher yang berfungsi sebagai steel head. Kondensor
memiliki 2 celah, yaitu celah masuk dan celah
keluar yang berfungsi untuk aliran uap hasil reaksi
dan untuk aliran air keran. Pendingin yang
digunakan biasanya adalah air yang dialirkan dari
dasar pipa, tujuannya adalah agar bagian dari
dalam pipa lebih lama mengalami kontak dengan air
sehingga pendinginan lebih sempurna dan hasil
yang diperoleh lebih sempurna. Penampung destilat
bisa berupa erlenmeyer, labu, ataupun tabung
reaksi tergantung pemakaiannya. Pemanasnya juga
dapat menggunakan penangas, ataupun mantel
listrik yang biasanya sudah terpasang pada
destilator.

Pemisahan senyawa dengan destilasi


bergantung pada perbedaan tekanan uap senyawa
dalam campuran. Tekanan uap campuran diukur
sebagai kecenderungan molekul dalam permukaan
cairan untuk berubah menjadi uap. Jika suhu
dinaikkan, tekanan uap cairan akan naik sampai
tekanan uap cairan sama dengan tekanan uap
atmosfer. Pada keadaan itu cairan akan mendidih.
Suhu pada saat tekanan uap cairan sama dengan
tekanan uap atmosfer disebut titik didih. Cairan
yang mempunyai tekanan uap yang lebih tinggi
pada suhu kamar akan mempnyai titik didih lebih
rendah daripada cairan yang tekanan uapnya
rendah pada suhu kamar.

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


II - 19

BAB II TINJAUAN
PUSTAKA
Jika campuran berair didihkan, komposisi uap
di atas cairan tidak sama dengan komposisi pada
cairan. Uap akan kaya dengan senyawa yang lebih
volatile atau komponen dengan titik didih lebih
rendah. Jika uap di atas cairan terkumpul dan
dinginkan, uap akan terembunkan dan komposisinya
sama dengan komposisi senyawa yang terdapat
pada uap yaitu dengan senyawa yang mempunyai
titik didih lebih rendah. Jika suhu relative tetap,
maka destilat yang terkumpul akan mengandung
senyawa murni dari salah satu komponen dalam
campuran.

Dalam diskusi yang lalu disinggung mengenai


bagaimana aplikasi dari destilasi sederhana ini.
pada bab sebelumnya dibahas bahwa aplikasi
destilasi secara umum yaitu pada pengolahan
minyak mentah, namun itu dengan destilasi vakum
atau fraksional. Destilasi sederhana digunakan
untuk pemurnian senyawa yang biasanya telah
diekstraksi. Misalnya ekstraksi padat-cair dan.pada
sintesis kloroform. Pada dasarnya prinsip atau
metode pemisahannya sama. Sintesis koroform
tanpa ekstraksi, dengan mereaksikan kaporit dan
aseton yang akan menghasilkan kloroform.

Mula mula kaporit dihaluskan


menggunakan lumpang porselen dengan
penambahan akuades sedikit demi sedikit. Hal ini
bertujuan untuk memperluas permukaan kaporit
sehingga mudah bereaksi. Setelah halus kaporit
dituangkan ke dalam labu destilasi. Kemudian
dimasukkan aquades ke dalam penampung
destilasi. Aquades berfungsi untuk mengurangi
penguapan destilat. Selanjutnya aseton dituang ke
dalam corong pisah dan diencerkan dengan

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


II - 20

BAB II TINJAUAN
PUSTAKA
aquades yang berfungsi sebagai media reaksi.
Selanjutnya aseton diteteskan ke dalam labu
destilasi yang berisi kaporit. Dilanjutkan dengan
pemanasan pada suhu 60 C. Campuran yang
menguap mengandung kloroform dan air. Uap ini
mengalir melewati tabung kondensor dan
mengembun. Embun ini mencair dan mengalir ke
dalam penampung destilat yang telah berisi
aquades. Destilat didinginkan di dalam baskom
berisi es untuk mengurangi penguapan klorofom.
Klorofom yang masih mengandung air dipisahkan
dengan penambahan NaOH dalam corong pisah
sehingga terbentuk lapisan dimana klorofom lapisan
bawah karena masa jenisnya lebih kecil. Kloroform
selanjutnya diteteskan kedalam CaCl anhidrat untuk
mengikat air pada kloroform dan disaring.

Pada diskusi kemarin juga ditanyakan


mengapa hasil klorofom yang diperoleh sangat
sedikit. Alasan pertama, pada dasarnya chloroform
merupakan senyawa yang volatile dengan titik didih
yang rendah yaitu 60 C oleh karenanya pemanasan
harus konstan dan dijaga. Bila melewati titik
didihnya maka klorofom akan habis menguap dan
terlarut ke dalam larutannya. Yang kedua adalah
pada proses pemisahan pada corong pisah dimana
klorofom belum semuanya turun ke bawah sehingga
ketika dipisahkan pun hasilnya sedikit.

Ditanyakan pula pada diskusi tersebut


mengenai perubahan fase tampak. Maksud dari fase
tampak ialah perubahan fase senyawa itu jelas.
Yaitu kloroform atau senyawa lain yang kita inginkan
dalam suatu campuran dalam fase cair itu
menguap sehingga senyawa tersebut dalam fase

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


II - 21

BAB II TINJAUAN
PUSTAKA
gas kemudian terkondensasi menjadi embun lalu
menetes menjadi air ( fase cair kembali ).

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


II - 22

BAB II TINJAUAN
PUSTAKA

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


II - 23

BAB II TINJAUAN
PUSTAKA

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


II - 24

BAB II TINJAUAN
PUSTAKA

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


II - 25

BAB II TINJAUAN
PUSTAKA

LABORATORIUM KIMIA FISIKA